Petra dan Rivaille mendadak khawatir ketika Clara—putrinya—pulang sangat terlambat dari jam biasanya ia pulang.


Many Kinds of Moment: Ackerman Family

© Phee Anee

.

Rivaille Ackerman, Petra Ral.

OC!Clara Ackerman (Little daughter)

.

Rivetra

.

Warn: OOC!

.

Modern!AU

.

Romance(?), Drama(?)

.

Collection; Oneshoot

.

Disclaimer: Shingeki no Kyojin belong to Hajime Isayama

.

Typo(s)

Mohon A/N nya di baca ya..

Happy Reading~


Perempuan berambut coklat itu baru saja keluar dari kamar mandi yang berada dikamarnya. Ia melihat ke arah jam digital yang berada di atas nakas. Angka 5:32 pm dengan jelas dilihatnya. Hari sudah petang tetapi gadis kecilnya belum juga pulang, rasa khawatir mulai merayapi hatinya. Perasaannya mendadak tidak enak.

Beep beep beep

Suara pintu yang terbuka mengalihkan fokusnya. Ia bergegas keluar dari kamar, Petra—perempuan berambut coklat—melihat suaminya baru saja pulang dan sedang melepas sepatunya. Ia menghampiri lelaki bersurai hitam tersebut dengan rasa khawatir yang masih memenuhi pikiran.

Rivaille mengernyitkan kening, "Ada apa?" Rupanya raut khawatir di paras istrinya itu tak luput dari pandangan matanya. Petra yang sedang membantu melepas jas suaminya itu menatap sebentar netra hitam tersebut dan menggeleng pelan. "Aku hanya khawatir. Sudah jam segini, Clara belum pulang."

"Apa?" Suasana mendadak hening. Lelaki itu melihat arlojinya, "Baiklah, sekarang kita masuk dulu." Rivaille mengelus puncak kepala yang bermahkotakan surai coklat tersebut dengan lembut dan direspon dengan anggukan dari Petra.

Mereka mulai melangkahkan tungkainya. "Biasanya walaupun Clara ada latihan juga tidak pernah sampai selarut ini, tidak ada yang bisa dihubungi. Karena setahuku hari ini tidak ada jadwal wali kelasnya, dan juga kenapa aku bisa-bisanya tidak tahu kontak pelatihnya. Bagaimana kalau Clara—"

"Hey, Petra. Tenanglah. Clara pasti baik-baik saja."

DRRT! DRRT! DRRT!

Suara getaran ponsel yang berada saku lelaki bersurai hitam itu mengalihkan perhatian keduanya. Rivaille segera mengambil ponsel disakunya dan melihat siapa yang menghubunginya.

Armin Arlert is calling you..

Tak perlu waktu lama, gerakannya menjadi terlalu cepat hanya untuk sekedar menjawab sebuah panggilan.

"..."

"Bukan masalah. Ada apa, Arlert?"

"..."

"Apa!? Dimana putriku sekarang!?"


Gadis kecil berambut coklat itu berjalan menyusuri lorong sekolahannya yang sudah sepi semenjak beberapa jam yang lalu. Bukan hal umum memang, bagi siswi yang setara junior high school seperti dirinya baru saja pulang dihari yang menjelang sore seperti ini. Gadis itu menatap langit sejenak dan kemudian melihat arloji di pergelangan tangannya. Ia melanjutkan langkah kakinya.

"Oh tidak. Mama pasti akan mengomel jika aku pulang tidak tepat waktu."

"Hey, kau." Clara—gadis kecil berambut coklat—terpaksa menghentikan langkahnya ketika menyadari ada yang menghalangi jalannya. Clara melihat ada sesosok gadis yang lebih tinggi darinya itu menatapnya sengit. Oh, senior ternyata.

"Kau berbicara denganku?" Clara menunjuk dirinya sendiri, menghasilkan decihan perempuan yang ada dihadapannya.

"Oh, lihatlah orang ini. Benar-benar tidak sopan, aku muak melihatmu."

Clara mengernyitkan keningnya, "Kalau begitu menyingkirlah. Tidak ada yang menyuruhmu untuk melihatku." Gadis dihadapannya terdiam penuh emosi. Clara yang melihatnya abai dan melanjutkan langkahnya melewati seniornya yang berdiri dihadapannya.

"Apa-apaan sih dia? Tidak tahu apa aku sedang lelah. Lagipula kenapa—argh!" Sesaat sebelum mencapai ujung koridor dan menuruni tangga, ia merasakan rambut sebahunya digenggam dan ditarik dengan keras, gadis yang lebih tua darinya itu menubrukkan tubuhnya ke dinding sebelum akhirnya mencengkram kerah bajunya tak kalah erat. Astaga, kendati dia menguasai beladiri, tubuh Clara bahkan jauh lebih kecil dari sosok gadis didepannya. Lagipula kalau tidak salah ingat orang ini juga mengikuti klub beladiri yang sama dengannya.

Gadis didepannya tertawa. "Begini saja kemampuan keluarga Ackerman yang di agung-agungkan itu? Ayo balas aku." Cengkraman di leher Clara terasa lebih kuat dari sebelumnya.

"Lepas."

"Cih, aku tidak tahu apa sebenarnya yang dilihat pelatih darimu. Kau tahu gara-gara dirimu aku jadi tak bisa mengikuti kompetisi tahun ini."

"Jadi hanya karena ini, senior?"

"Hanya!?"

"Kau hanya perlu berlatih lebih keras lagi kurasa" Clara berujar dengan tenang. Dia bahkan tidak berniat membalas atau melawannya balik, karena apa yang ia pelajari bukan untuk hal-hal seperti ini, lagipula mereka berdua adalah perempuan. Tidak elit rasanya jika sampai menggunakan kekerasan.

"Kamu benar-benar membuatku kesal. Hanya karena kamu keluarga Ackerman, kamu selalu saja bersikap seenaknya."

Clara mengernyitkan keningnya lagi, ia berfikir atas ucapan dari seniornya itu, "Tidak ada hubungannya." Kedua tangan gadis berambut coklat itu mencoba menyingkirkan tangan seniornya.

"Kamu tahu Clara, selama ini kamu memang selalu merampas kebahagiaan orang lain, ya? Apa tak bisa sekali saja membiarkan orang lain bahagia!? Semuanya saja kau ambil! Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh orang lain, pada akhirnya kau ambil juga! Enak ya jadi anak orang kaya dan berpengaruh. Oh baik, aku yakin setelah ini kamu juga akan mengadu pada papamu itu kan!? Aku sudah tahu tabiatmu."

Clara hanya terdiam mendengarkan perkataan seniornya itu. Mengadu apanya? Siapa yang mengadu? Perkataan orang didepannya ini benar-benar tak ia pahami. Baiklah, yang harus ia lakukan sekarang adalah menganggap bahwa apa yang dia dengar merupakan seseorang yang sedang melampiaskan kemarahan padanya. Tak apa ia sudah mulai terbiasa. Clara terdiam, sampai ia merasa tubuhnya ditarik dengan paksa dari tempatnya.

"Kenapa diam saja, hah!? Kamu meremehkanku!? Aku bahkan tidak takut denganmu." Clara membulatkan matanya saat ia merasa tubuhnya di dorong hingga ujung tangga. "Tunggu! Ini berbahaya!" Satu tangannya memegang ujung pegangan tangga, sudut matanya bisa melihat dasar tangga di bawah sana.

"Kalau sudah seperti ini tidak bisa dibiarkan." Clara berujar dalam hati. Ia mencoba melepaskan tangan yang mencengkram kuat kerah bajunya hanya dengan satu tangannya, dan entah bagaimana usahanya pun membuahkan hasil, segera saja ia mendorong menjauh seniornya. Clara merasa bahwa tubuhnya kali ini tidak bisa bergerak sesuai keinginannya, mungkin saja akibat lelah saat latihan beladiri tadi. Ia tidak tahu. Hey, dia hanya seorang gadis biasa dan juga umurnya baru menginjak 12 tahun. Baru saja ia menyeimbangkan dirinya, sekarang ia merasakan tubuhnya terdorong lagi.

Kali ini ia hanya bisa pasrah.

Pasrah ketika ia merasakan tubuhnya telah tergelincir dan menghantam beberapa anak tangga.

Entah ia berhalusinasi atau tidak tetapi ia melihat seniornya nyaris tersenyum dengan apa yang dilihatnya. Tentu saja, Clara tahu bahwa ia akan melarikan diri. Dipikirannya sekarang hanya satu, semoga ia masih bisa berdiri dan dapat segera pulang.

Tetapi...

Pemikirannya hanya menjadi sebuah pemikiran. Karena di dasar tangga, Clara hanya bisa merasakan sakit di sekujur tubuh kecilnya, yang bahkan ia sendiri ragu jika ia bisa berdiri. Memang tenaga seseorang yang sedang emosi itu tidak main-main ya

"Ma.."


DRRT! DRRT! DRRT!

Armin Arlert is calling you..

"Halo, Selamat sore, tuan Ackerman, mohon maaf saya menghubungi anda pada jam seperti ini."

"Bukan masalah. Ada apa, Arlert?"

"Saya ingin mengabarkan bahwa saya menemukan Clara tidak sadarkan diri di sekolah. Saya mengira bahwa ia terjatuh dari tangga."

"Apa!? Dimana putriku sekarang!?"

"Saya telah membawanya ke rumah sakit terdekat."

.

.

.

Setelah menerima panggilan dari Armin Arlert selaku salah satu pengajar di Oberschule bagian Gymnasium tempat Clara menimba ilmu, sepasang suami istri itu segera menuju rumah sakit yang telah diberitahu sebelumnya. Setelah semuanya selesai mereka urus, sekarang Clara sudah dipindah ruangkan dari instalasi gawat darurat ke ruangan rawat inap. Ucapan dari dokter yang menangani putrinya kembali terngiang.

"Orang yang membawa putri anda kemari mengatakan bahwa ia sepertinya terjatuh dari tangga, dan saya juga berpikir demikian dilihat dari cideranya, bisa jadi Clara terjatuh dari ujung tangga atas."

"Lalu bagaimana keadaannya, dok?"

"Bahu kiri putri anda mengalami dislokasi, dan untuk sementara putri anda tidak boleh melakukan aktivitas yang berat, untuk selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memeriksa barangkali terdapat cidera di kepalanya. Saat dibawa kesini putri anda tidak sadarkan diri sepertinya akibat syok, untuk sekarang kami membiarkan ia beristirahat dengan memberikan obat tidur dosis rendah dan pereda nyeri. Clara akan segera dipindahkan ke ruangan. Kalau begitu saya permisi."

Petra menghela nafas dan tangannya menyingkirkan rambut yang menghalangi kening putri cantiknya. Otaknya masih tidak bisa berfikir dengan benar, Clara bukan anak yang seceroboh itu untuk bisa terjatuh dari tangga. Tetapi yang namanya kecelakaan bisa datang kapan saja bukan. Petra menoleh saat merasakan kepalanya diusap dengan lembut.

"Petra tidurlah dulu, sekarang sudah hampir tengah malam, biar aku yang menjaganya."

"Tapi.."

"Kita bicarakan ini besok saja ya. Nah, sekarang kau juga harus beristirahat."

"Kau juga pasti lelah kan, kau saja yang istirahat. Aku masih ingin menjaga Clara." Tangan suaminya itu masih setia berada di pucuk kepalanya.

"Aku lebih bisa begadang dibanding kau Petra, yang ada nanti di kamar ini bisa ada dua bed pasien, kau mau?" Petra hanya diam mendengar ucapan suaminya itu. Melihat raut teman hidupnya itu, Rivaille mencondongkan tubuhnya dan mengecup singkat bibir istri manisnya itu. "Jangan membantah."

.

.

.

Pagi telah menjelang, Clara belum juga terbangun dari tidurnya. Di ruangan serba putih itu sekarang hanya ada Rivaille saja. Petra telah diperintahkan untuk pulang olehnya dan ia mengutus tetangganya, yaitu Nifa untuk menjemput Petra pulang. Barangkali akan mengambil beberapa keperluan yang memang diperlukan. Rivaille juga meminta kepada istrinya itu untuk beristirahat terlebih dahulu di rumah karena demi apapun juga ia tidak tega melihatnya.

KRIET

Pintu ruang rawat terbuka secara perlahan dan terlihat sosok perempuan berambut hitam legam memasuki ruangan.

"Luar biasa sekali kau bisa masuk."

"Hal mudah, lagipula di ruangan ini kan hanya kau sendiri." Lelaki dewasa yang sedang melipat kedua tangannya itu, tidak membalas perkataan si perempuan berambut hitam pendek yang barusan memasuki ruangan.

"Bagaimana kondisinya?"

"Seperti yang kau lihat, bahunya cidera dan hasil pemeriksaan cidera di kepalanya belum keluar."

"Ku dengar Clara terjatuh dari tangga. Bagaimana bisa?"

Perbincangan keduanya harus kembali terintrupsi ketika seseorang kembali masuk keruangan anak semata wayangnya itu.

"Yo! Rivaille, Mikasa." Hange berjalan mendekati bed yang ditiduri oleh Clara. Rivaille menurunkan kedua tangan yang dilipat dan berdiri disamping ranjang Clara, tangannya secara otomatis mengelus pucuk kepala anaknya dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Hange dan Mikasa bahkan nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Aku tidak yakin jika Clara terjatuh dari tangga akibat kecelakaan semata." Kedua perempuan disana terdiam mendengarkan apa yang lelaki Ackerman itu katakan.

"Maksudmu ada yang mencelakainya?" Perempuan Ackerman itu berujar.

"Mungkin saja."

"Tempat kejadian itu bahkan tidak ada CCTV."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Sudah kubilang itu hal mudah."

"Sampai saat ini juga aku masih belum percaya jika anakmu itu terjatuh akibat kecelakaan yang tidak disengaja, aku sempat kaget mendengarnya apalagi ia sampai mengalami dislokasi bahu." Hange menatap gadis kecil yang masih tertidur itu dengan raut sedih.

"Kak, kira-kira berapa lama cidera seperti ini pulih?" Ucapan Mikasa barusan membuat Rivaille melirik ke pada perempuan berambut coklat tua itu.

"Hmm.. Berapa ya? Mungkin sekitar 2-3 minggu dan untuk pemulihan penuh bisa hingga 4 bulan. Tetapi itu tergantung kondisi pasien, sih." Beberapa detik hening dan Rivaille kembali menatap anaknya.

"Mikasa, tolong cari tahu pelakunya." Mikasa bahkan tidak terkejut ketika kakak laki-lakinya itu berujar demikian

"Oi, Rivaille apa kau yakin? Jika pun iya bukankah kemungkinan mereka masih anak-anak?" Hange berucap panik.

"Aku hanya ingin tahu apakah ini murni kecelakaan atau ada yang mencelakainya." Tanpa mereka sadari bahwa Clara sebenarnya sudah terbangun dan mendengar segala percakapan orang dewasa diruangan itu. Niat hati ingin kembali tidur saja ketika merasakan usapan di kepalanya, tetapi perkataan dari papanya itu benar-benar diluar dugaannya. Kenapa mereka ingin tahu sampai sejauh itu? Lagipula seniornya melakukan ini juga pasti ada alasan tertentu. Duh, Clara ingin menangis saja rasanya.


Petra yang baru saja datang di ruangan anaknya siang itu tersenyum lega dan segera menghampiri putrinya itu dengan langkah tergesa.

"Clara, mama sangat khawatir tahu. Kenapa bisa sampai jatuh dari tangga begini sih?" Petra memeluk anaknya dengan hati-hati.

"Hehehe, maaf Ma."

Rivaille yang melihat interaksi keduanya hanya tersenyum. Ia mendekati istrinya, "Petra, aku akan pulang, ada sesuatu yang harus diurus. Kau tidak apa disini sendiri setidaknya sampai sore nanti?"

"Oh, iya tidak masalah. Kalau begitu hati-hati."

"Hati-hati, Pa." Sepeninggalnya lelaki berparas datar itu, tiba-tiba saja raut wajah Clara berubah murung.

"Ma, maaf telah membuat kalian khawatir."

"Tidak perlu meminta maaf, sayang. Kami merasa khawatir karena kami sayang kepadamu, kami tidak ingin hal buruk menimpamu. Ini semua kecelakaan kan? Tidak ada yang bisa mengiranya."

"Ya Ma, ini kecelakaan karena keteledoranku kok." Clara meneteskan air matanya sehingga membuat Petra panik melihatnya.

"Hey, Clara kenapa menangis? Apa ada yang sakit? Perlu mama panggilkan dokter?" Clara hanya mengangguk kecil dan menghapus air mata dengan tangan yang tidak memakai sling. Mengusap jejak air mata yang entah kenapa keluar dengan sendirinya. "Tapi tidak usah memanggil dokter, cukup mama saja."

Mendengar perkataan putrinya itu membuat Petra ingin sekali memeluknya dengan erat. Tetapi ia tidak bisa melakukannya atau Clara bisa kesakitan, yang bisa ia lakukan adalah memeluknya dari samping dengan lembut, dan mengelus belakang kepala anaknya. Jarang sekali anaknya bersifat manja seperti ini semenjak mulai memasuki sekolah. Dia anak yang cerdas, mandiri, pemberani, dan untuk anak seusianya, anak semata wayangnya ini tergolong sangat jarang sekali menangis. Ia bahkan nyaris tidak pernah melihatnya. Hal tersebut yang membuat Petra terkejut ketika baru saja ia melihat anaknya mengeluarkan air mata di hadapannya.

Gadis berusia 12 tahun itu bahkan tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang terang-terangan membencinya seperti itu. Selama ini ia menyadari bahwa banyak orang yang melayangkan pandangan tidak suka terhadapnya. Tapi sampai sekarang pun ia masih merasa kebingungan, kenapa mereka membencinya? Kenapa banyak orang yang bahkan tidak ingin berteman dengannya? Apakah ia pernah melakukan kesalahan kepada mereka yang tidak ia sadari? Sepertinya memang seperti itu. Hal tentang merebut kesempatan orang lain sudah banyak masuk ke pendengarannya. Tapi untuk sekarang sepertinya sudah keterlaluan, bukti nyatanya terjadi kemarin. Ia merasa tatapan senior itu benar-benar seperti ingin membunuhnya.

Tapi untuk apa dan kenapa? Hanya kata kenapa yang selama ini tidak pernah terjawab, dan lagi kenapa mereka semua selalu membawa-bawa marganya. Kemudian, percakapan ayahnya, aunty Mikasa, dan dr. Hange kembali ia ingat. Rasa panik mulai menghinggapi hatinya, apa yang akan ayahnya lakukan kepada seniornya itu, jika ia berhasil mengetahuinya? Senior itu bahkan tidak salah apapun, ia hanya kesal kepadanya dan ia anggap itu ...wajar? Ya, wajar. Sekarang yang harus Clara lakukan adalah meyakinkan kedua orangtuanya kalau kejadian ini adalah sebuah kecelakaan. Hati kecilnya merasa kesal jika ia dianggap sebagai perusak kebahagiaan orang lain.

"Mama.."

"Ya, sayang?"

"Bagaimana caranya untuk berhenti merusak kebahagiaan orang lain, Ma? Tolong ajari aku ya, Ma..."

.

.

.

TBC/END?


A/N

Halooo semuaaa.

Lama sekali ya aku tidak update hehehe. Semoga masih ada yang bersedia baca fanfic ini, karena seperti yang kita tahu sendiri kapal ini telah lama karaamm ㅠㅠ.

Mohon maaf ya sebelumnya, aku benar benar sibuk di perkuliahan. Dan sekarang aku sudah lulus kuliah, nih. Oh iya, Selain itu, aku merasa kemampuan ku menulis benar-benar turun drastis, jadi sebenarnya aku tidak percaya diri untuk mempublish ini.

Tapi, sepertinya untuk mengisi waktu luang sambil menunggu ujikom, akan ku sempatkan update. Karena memang aku lagi kangen banget sama Rivetra :') Oh iya, terima kasih atas dukungan dan semangatnya di kolom review. Luv u all~

Disini Clara sudah 12 tahun cieee, dan kalau ada yang bertanya-tanya kok 12 tahun sudah SMP. Itu karena yang aku tahu sekolah dasar di Jerman, hanya sampai kelas 4, dan lulus ketika umur 10-11 tahun. Makanya aku kasih keterangan Clara itu setara Junior High School.

Kalau begitu terima kasihhh semua. Aku sadar kok fanfic ini banyak kekurangan..

Ditunggu feedbacknya berupa kritik, saran, komentarnya di kolom Review..