Title : Married Without Dating

Author : lilily

Pairing : YeWon

Genre : Family Romance

Disclaimer : in our world, YeWon is REAL!

Warning : bahasa non-baku and typos eveywhere

Summary : Stranger, they are stranger who who trapped on a bond that called marriage, marriage without dating, will their marriage could work out?

.

.

.

=Chapter Dua=

.

.

.

.

.

Siwon kembali keruangannya dengan perasaan yang bercampur aduk, apa dia sudah mengambil keputusan yang tepat? apa ia tidak akan menyesali keputusan ini nantinya?

menikahi putra dari atasannya yang tidak ia kenal secara langsung sebelumnya, seseorang yang mempunyai kehidupan bebas ala barat sana, seseorang yang sama sekali bukan tipenya.

"aku hanya bisa beharap sikap aslimu tidak seburuk yang diberitakan selama ini, setidaknya aku berharap kau bisa berubah setelah menikah denganku nanti, menjadi Yesung yang dipercayai ayahmu" Siwon bermonolog sendiri.

.

.

"Yuri ssi, apa Choi sajangnim sudah kembali?"

"sudah manajer Lee, dia sudah berada di ruangannya sekarang"

"oh oke terima kasih"

Donghae langsung memasuki ruangan Siwon tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Siwon sepertinya tengah tenggelam bersama pikirannya, ia bahkan tak sadar saat Donghae masuk dan terlonjak kaget saat Donghae menepuk pundaknya pelan, membuat Donghae terkekeh melihat reaksi Siwon.

"kau mengagetkanku saja, bisa tidak kalau masuk itu ketuk pintu dulu?" kesal Siwon.

"ne sajangnim, saya minta maaf"

Siwon hanya memutar bola matanya mendengar candaan Donghae.

"ada apa kau kemari? bukankah ini masih jam kerja?"

"aku penasaran, ada meeting dadakan apa kau dengan Presdir Kim berdua saja dan lama sekali? meeting keluarga huh?"

"tsk"

"serius Siwon, kau tidak mengutarakan soal yang semalam pada presdir kan?"

"kenapa memangnya kalau iya?"

"Siwon..."

"tidak, aku tidak membahas soal itu, aku hanya menanyakan soal alasan presdir melakukan semua ini"

"lalu?"

"kurang lebih sama seperti yang kau katakan semalam, Presdir sudah merencanakan ini sejak lama"

"benar kan? presdir pasti sudah mempertimbangkannya dengan matang, presdir tidak mungkin sembarangan saja untuk menikahkan anaknya"

"apa aku sudah mengambil keputusan yang benar?"

"kau sudah menyetujuinya?"

"ya, aku tidak tega untuk menolak permintaan Presdir, dia sudah begitu baik padaku selama ini"

"kau sudah mengambil keputusan yang paling tepat Siwon ah, kau akan membuat seisi dunia iri padamu, the great Kim-"

"kau mulai lagi, aku hanya bisa berharap Yesung tak seburuk yang aku pikirkan selama ini" Siwon memotong ucapan Donghae cepat sebelum ia kembali memuja Yesung bak seorang fanboy.

.

.

.

.

.

Yesung tengah berciuman panas dengan seorang gadis yang menjadi teman kencannya untuk malam ini di sebuah bar tempat tongkrongan favoritnya hampir setiap malam saat handphonenya kembali berdering untuk yang kesekian kalinya malam itu, memaksa yesung untuk melepaskan tautan bibirnya sejenak dengan sang 'pacar'.

Ia menatap hp nya kesal, Appanya terus terusan menelepon dari tadi. bukannya Yesung tidak mau berbicara dengan Appanya, hanya saja ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan Appanya tersebut, ia selalu menelepon dengan topik yang sama selama seminggu ini.

"Appaaaaa aku kan sudah bilang ada acara dengan teman temanku malam ini, kenapa Appa menelepon terus?" Yesung akhirnya menjawab panggilan Appanya dengan kesal.

"kau selalu ada acara dengan temanmu tiap malamnya Yesung ah, Appa perlu bicara denganmu, Appa janji tidak akan lama, sebentar lagi Appa juga akan ada meeting"

"Appa fokus saja pada meetingnya jangan menggangguku! Clik!" Yesung langsung memutuskan sambungan telepon dengan Appanya. Yesung kembali meraih dagu sang pacar dan melanjutkan ciuman panas mereka yang sempat terhenti. Malam itu, keduanya berakhir di sebuah hotel, ya kalian bisa tebak sendiri kan apa yang terjadi? Well begitulah kehidupan Yesung, ia pasti akan selalu membawa teman kencannya ke hotel dan bercinta semalaman.

.

.

.

Drrrrt...

Drrrrt...

Yesung terbangun karna hp nya yang terus terusan bergetar dari tadi, Yesung sudah bisa menebak, pasti Appanya lagi.

"halo"

"Yesung ah kau baru bangun? Kau tidak mengikuti kuliahmu lagi hari ini?"

"Appa, bukankah disana sudah malam? Kenapa malah menelepon kesini? Sebaiknya Appa segera beristirahat dan tidur"

Mr Kim terkekeh pelan diseberang sana mendengar putranya yang lagi lagi berkilah untuk tidak berbicara dengannya.

"Yesung ah, ini peringatan terakhir dari Appa, kalau kau masih menolak juga untuk pulang Appa akan membawamu pulang secara pak-"

"Appa! Aku sudah telat! Aku harus buru buru ke kampus! Sudah ya, beep.. beep"

Yesung langsung memutuskan sambungan telepon sebelum Ayahnya sempat menyelesaikan ucapannya.

"hffffftt... kenapa Appa ngotot sekali memintaku untuk pulang? Menyebalkan!" rutuk Yesung.

"honey whats wrong? why are you screaming at your phone?"

"oh? Did i woke you up baby? I'm sorry, it's my dad"

"is he asking you to comeback to Korea again?"

"yes"

"so? Are you leaving?"

"i don't know"

"i'm going to miss you"

"me too ofcourse, but i don't have any plan to leave soon, i won't comeback just because my dad ask me to, don't worry baby, i will stay"

"..."

"hey... don't be sad like this baby, let's just check out here and have a breakfast outside"

.

.

.

"baby please drop me home after this okay? I have class to attend at noon"

"sure, let me pay for our meals first, just wait here okay?"

Yesung segera berjalan menuju meja kasir untuk membayar sarapannya bersama sang pacar.

"sorry sir, your card was blocked"

"eh? Are you sure? Please check it once again"

"i did sir, but the result still same, your card was blocked"

"try this one" Yesung mengeluarkan kartu kreditnya yang lain, walau ia sudah bisa menebak hasilnya akan sama, Appanya pasti dalang dibalik semua ini.

"it was blocked too"

"try this one"

"this one"

"another one"

Sampai Yesung mengeluarkan kartu kreditnya yang kelima, semua hasilnya masih sama.

"it's all blocked sir"

"arrghhh Appaaaaa! Kenapa kau melakukan semua ini padaku! shit shit shit!" Yesung mengumpat kesal dalam hati, Appanya benar benar keterlaluan memblokir semua kartu yang ia punya.

"i'm sorry sir, is there another card? or you could just pay it cash"

Yesung mengecek dompetnya untuk melihat apakah ia memiliki uang cash atau tidak, ia bukan tipe yang suka menyimpan uang cash di dompetnya, dan yeah hasilnya seperti yang sudah ia duga, ia hanya memiliki uang cash 5 dollar di dompetnya.

"sial!" Yesung kembali mengumpat kesal dalam hati.

"please wait a moment miss" Yesung meninggalkan meja kasir dan kembali menghampiri sang pacar.

"what's took you so long huh? Are you flirting with the cashier?"

"ofcourse not baby, there is a problem, do you bring your card with you?"

"whats wrong?"

"uhm... all my card were blocked, guess it's my dad"

"what?! Your dad are being serious this time, here just use my card"

"i'm sorry baby, i shouldn't ask you to pay for our meal"

"nah it's okay, you have always pays for everything before, hurry take it and send me home"

"okay"

Yesung kembali ke meja kasir dengan kartu kredit sang pacar, ini benar benar memalukan bagi Yesung, tapi ia sudah tak punya pilihan lain, ia harus membuat perhitungan dengan Appanya setelah ini.

Usai membayar semuanya Yesung segera mengantar sang pacar pulang, dan segera kembali ke apartementnya, ia langsung mendial nomor Appanya, ia sudah siap untuk mengamuk sejadi jadinya.

"tuuuttt"

"tuuuutt"

"tuuuuutt"

"Argh sial! Appa pasti sengaja tidak mengangkat telepon dariku!"

Yesung membanting hp nya ke kasur, sudah berkali kali Yesung menelfon nomor Appanya namun tak pernah diangkat, sepertinya ia lupa kalau di Korea saat ini tengah malam hari, tentu saja Appanya sedang beristirahat, atau memang benar Appanya sengaja tak menjawab panggilan darinya.

.

.

Yesung membuka matanya begitu merasakan hpnya bergetar disisi bathub, saking kesalnya dengan sang Appa yang tidak menjawab panggilan darinya Yesung memutuskan untuk berendam mendinginkan hati dan pikirannya, ia bisa meledak kepanasan menahan kesal.

"Appa!"

"woah ada apa Yesungie? Tumben sekali kau menelepon Appa duluan? Appa sempat kaget begitu bangun dan menemukan begitu banyak missed call darimu, apa kau baik baik saja disana?"

"appa tidak usah bersikap sok tidak tahu apa apa, appa sengaja kan melakukan semua ini? Kenapa appa tega sekali?"

"melakukan apa Yesung ah? Appa tidak mengerti maksudmu"

"pokoknya aku tidak mau tahu, sekarang juga aktifkan kembali semua kartu kreditku!"

"kenapa dengan kartu kreditmu?"

"Appa!"

Tuan Kim terkekeh pelan mendengar teriakan frustasi putranya, ia memang senang sekali menggoda Yesung, putranya sangat ampuh untuk digoda disaat saat seperti ini.

"jangan hanya tertawa, palli Appaaaaaa!

"Appa tidak bisa Yesung ah"

"mwo?!"

"kemblilah dulu ke rumah, Appa akan mengaktifkan kembali semua kartu kreditmu kalau kau sudah di rumah"

"shireo!"

"semua keputusan ada di tanganmu"

"Appa! kau tidak mungkin serius melakukan semua ini kan?"

"mmm... mungkin"

"Appaaa kalu aku kembali ke korea lalu kuliahku disini bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkan kuliahku begitu saja kan?"

"tidak usah menjadikan kuliahmu sebagai alasan, Appa sudah menghubungi profesormu, katanya kau sangat jarang masuk ke kelas, bahkan dalam minggu ini saja kau tidak pernah menghadiri kelas, kalau kau masih ingin kuliah kau bisa melanjutkannya disini saja"

Yesung jadi terdiam, ia ternyata sudah ketahuan Appanya kalau sering membolos, sebenarnya Yesung memang tidak tertarik untuk belajar, ia hanya hobi menghamburkan uang Appanya saja.

"kenapa diam? Kau mencari alasan untuk berkilah lagi hmm? Sudahlah Appa sudah cukup sabar membiarkanmu berkeliaran diluar sana selama ini, cukup sabar membiarkan media mengekspos hobi hura huramu selama ini, tapi kali ini Appa tidak akan membiarkannya lagi, tingkahmu sudah makin berimbas terhadap image perusahaan, Appa tidak bisa tinggal diam lagi"

"Appa... aku minta maaf, aku janji tidak akan membolos lagi dan juga tidak akan banyak tingkah lagi, aku janji akan memastikan tidak ada paparazzi yang menyoroti kehidupanku lagi, aku akan lebih berhati hati, please beri aku kesempatan sekali lagi, aku masih ingin disini, aku sudah terlanjur suka suasana New York"

"terlalu suka kehidupan bebas yang tidak ada seorangpun yang akan mngontrolmu, begitu? Sudah Appa tidak akan tertipu dengan janji palsumu lagi, kau selalu mengucapkan hal yang sama tiap kali Appa menegurmu, tapi hasilnya apa? Kau melakukannya lagi dan lagi, dan kau masih saja tak pernah serius mengikuti kuliahmu"

"tapi kali ini aku benar benar serius Appa, beri aku kesempatan kali ini saja, kalau aku masih terbukti membolos atau media memberitakan hal buruk mengenaiku lagi setelah ini, aku janji tanpa Appa mintapun aku akan pulang"

"baiklah kalau kau memang bersikeras"

"jinja?! Appa gomawooooo"

"hmmm..."

"jadi jadi kapan Appa akan mengaktifkan kartu kreditku lagi? Appa bisa mengaktifkannya sekarang?"

"wah kau terdengar atusias sekali, Appa akan mengaktifkannya sesegera mungkin"

"kapan Appa?"

"begitu kau sampai di rumah"

"Appa!"

Tuan Kim kembali terkekeh pelan, ah ini benar benar menyenagkan.

"Arrrrgggh Appa sangat menjengkelkan! Appa keterlaluan!"

"Tiket pesawat sudah Appa pesan, silahkan cek emailmu, Appa mengambil penerbangan malam biar kau bisa siap siap dulu, atau mungkin ingin pamit dulu dengan teman temanmu, Appa tunggu kau di rumah, kalau sampai besok siang kau belum datang juga, Appa akan meyuruh orang orang Appa disana untuk menyeretmu pulang, semua keputusan ada di tanganmu"

"tapi Appa-"

"Appa sudah hampir terlambat ke kantor, sudah ya Yesungie, silahkan bersiap siap, semakin cepat kau sampai di rumah, semakin cepat juga kau akan mendapatakan kartu kreditmu kembali" Tuan Kim langsung memutuskan sambungan telepon dengan putranya, yang membuat Yesung mengerang frustasi, dan menghancurkan isi kamarnya karena mengamuk, kesal. Appanya benar benar tak main main kali ini, Yesung tau lebih dari siapapun bagaimana sifat Appanya tersebut, kalau sudah sampai dipuncak keputusannya, siapapun tak akan mampu membantahnya, Yesung tak pernah rela, tapi ia tahu untuk kali ini ia harus pulang, setidaknya untuk mendapatkan kartu kreditnya kembali, ia juga tak mungkin bertahan hidup disini tanpa kartu kartu itu, hell ia hidup dengan menghamburkan uang, ia takkan mungkin bias bertahan hidup tanpa uang.

.

.

.

.

Siwon baru saja keluar ruang rapat bersama Presdir Kim sehabis menghadiri agenda rapat bulanan bersama para pemegang saham dan juga stake holders perusahaan, mereka membahas rencana jangka panjang perusahaan untuk memperluas pasar dengan membuka cabang dim akin banyak Negara.

Dan juga, tadi beberapa dari pemegang saham mengemukakan keluhan mengenai sorotan media terhadap kehidupan Yesung sebagai pewaris tunggal perusahaan, sebagian besar khawatir pemberitaan tersebut bisa mempengaruhi harga saham perusahaan.

Dan untuk pertama kalinya, secara blak blakan Presdir Kim di hadapan para pemegang saham membuat pernyataan bahwa bukan Yesung, putra tunggalnya yang akan mewarisi perusahaan, jadi para pemegang saham tidak perlu khawatir terhadap image apapun yang udah terlanjur melekat pada Yesung diluar sana selama ini, ia akan mempercayakan perusahaan pada Siwon, Direktur muda kepercayaannya, yang kinerjanya diperusahaan sudah tidak perlu diragukan lagi, dan juga dengan latar belakang yang bersih, jadi tidak ada yg perlu di khawatirkan. Dan tentu saja pernyataan Presdir Kim tersebut membuat semua orang yang ada disana kaget dan juga lega disaat yang bersamaan. Mereka kaget kenapa bisa Presdir Kim mewariskan perusahaan pada orang lain, namun mereka merasa lega karena siapapun tidak bisa meragukan kemampuan Siwon dalam mengelola perusahaan, penjualan meningkat pesat sejak ia memegang kendali perusahaan.

.

.

"Presdir, saya merasa ada yang tidak benar disini"

"apa maksud kamu Siwon?"

"mengenai rapat tadi, saya rasa tidak seharusnya anda berbohong pada mereka"

"saya berbohong soal apa?"

"pewaris, saya mengerti mereka khawatir, tapi saya percaya mereka hanya perlu kita beri keyakinan bahwa image Yesung ssi tidak akan mempengaruhi perusahaan"

"saya tidak berbohong soal itu"

"mwo?! Maksud anda…. Presdir, anda tidak mungkin serius kan?" Siwon benar benar tidak bisa menyembunyikn keterkejutannya, tadi di ruang rapat saat Presdir Kim secara tiba tiba membuat pernyataan bahwa ia yg akan mewarisi perusahaan, ia tetap tenang saja karena ia piker Presdir Kim hanya berbohong untung menenangkan para pemegang saham yang mengeluhkan soal kelakuan putranya di luar sana"

"saya sangat serius, dan saya berharap kamu bersedia melakukannya Siwon"

"tapi Presdir-"

"kita bicara di ruanganku saja"

.

.

.

Sementara itu…

.

Yesung baru saja menginjakkan kakinya di Incheon Airport, setelah menempuh penerbangan yang panjang dan melelahan dari New York, ia kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya setelah hampir lima tahun menghabiskan di Amerika, Yesung tak pernah sekalipun pulang ke Seoul selama 5 tahun ini, Mr Kim lah selalu berkunjung kesana kalau ia ingin bertemu dengan putra tunggalnya tersebut. Namun hari ini ia terpaksa harus kembali, Appanya menggunakan trik yang licik-menurut yesung untuk menyeretnya pulang.

Ia langsung menyetop sebuah taksi dan memintanya untuk langsung mengantarkannya ke perusahaan, ia harus bertemu dengan Appanya sesegera mungkin.

.

.

"Yesung tidak pernah tertarik dengan perusahaan, ia sudah mengatakan ribuan kali kalau ia tidak akan pernah mau mengurus perusahaan, ia bahkan tidak pernah serius menekuni kuliahnya, ia hanya tertarik untuk menghamburkan uang, aku juga tidak akan memberikan perusahaan untuk dihancurkannya"

Jelas Presdir Kim pada Siwon setelah keduanya berada di ruangannya, ia tahu Siwon akan kaget mengetahui soal pewaris perusahaan tadi, jadi ia memutuskan untuk menjelaskan semuanya, tentang putranya yang tak tertarik dengan perusahaan, tentunya Mr Kim tidak akan memberikan perusahaan begitu saja pada Siwon, sebagai imbalannya, Siwon harus meniahi putranya, ia mempercayakan Siwon untuk menjaga putranya.

Keduanya masih terus berbincang mengenai perusahaan, saat tiba tiba pintu ruangan Presdir Kim dibuka dengan kasar, dan diiringin teriakan lantang.

"Appa! Kita harus bicara sekarang juga! Aku tidak terima alasan meeting atau apapun itu, pokoknya kita harus bicara sekarang!" sembur Yesung begitu ia masuk, ia sudah kesal dari kemaren, kesal dari bandara tadi, dan sekretaris Appanya diluar tadi makin membuatnya kesal karena melarangnya masuk menemui sang Appa dengan alasan Appanya sedang ada meeting di dalam.

Siwon yang sempat terlonjak kaget karena pintu yang tiba tiba terbuka dengan kasar diiringi teriakan lantang Yesung, hanya bisa terpaku-diam, memperhatikan Yesung dari ujung rambut sampai unjung kaki, ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan Kim Yesung, si trouble maker yang selalu dibicarakan orang orang tersebut.

"manis" inner Siwon tanpa sadar.

Sementara Yesung, sepertinya ia tidak mempedulikan keberadaan siapapun disana, pandangannya hanya tertuju dan terfokus pada Appanya, ia terlihat seperti siap meledak kapan saja, membuat Siwon sedikit ciut.

"ah.. Yesung ah, kau sudah sampai? Kenapa langsung kesini, pulanglah kerumah dan istirahat dulu, kau pasti lelah setelah menempuh penerbangan jauh"

Jawab Presdir Kim tenang, ia sama sekali tak terlihat was was dengan aura devil yang menguar dari tubuh Yesung.

"aku tidak akan pergi dari sini sebelum Appa mengembalikan semua kartuku, aku sudah mengikuti kemamuanmu, aku sudah pulang, sekarang tepati janjimu atau aku akan hancurkan ruangan ini!"

"oke oke, kau duduklah dulu, bukankah kau sangat lelah?"

"Appa tidak perlu berbasa basi dan berbelit belit, lakukan saja sesuai dengan janjimu"

"Appa berjanji akan mengaktifkannya kembali kalau kau sudah berada di rumah, dan sekarang kau masih belum di rumah"

"Appa!"

Mr Kim kembali terkekeh pelan, di telepon ataupun secara langsung, menggoda putranya sampai membuatnya kesal benar benar menyenangkan.

"Siwon kau kembalilah ke ruanganmu dulu, nanti kita bicarakan lagi, maaf atas keributan ini"

"baiklah Presdir, saya permisi dulu"

Setelah membungkuk hormat pada Presdir Kim dan mengangguk sekilas pada Yesung yang masih belum mengalihakn pandangannya dari sang Appa, Siwon berjalan keluar, dan kembali ke ruangannya dengan senyuman tipis tercetak di bibirnya, sebenarnya ia pun ingin ikut tertawa melihat bagaimana Presdir Kim menggoda putranya, dan betapa imutnya reaksi kesal Yesung.

ah sepertinya keputusannya untuk menerima tawaran Presdir Kim kemaren bukanlah keputusan yang buruk.

.

.

.

.

.

=to be continued…=

.

.

Chapter 3 yang supeeeerr telat datang ;) ada yang masih ingat dengan cerita ini? Walau mungkin udah pada lupa, moga masih pada mau baca dan masih berkenan ngasih review yaaaa, maaf banget updatenya lama gini, kemaren tuh ceritanya pas lily lagi semangat semangatnya nulis ff ini, seorang teman ngasih drama korea, yang akhirnya lily tonton, keterusan, sampe nonton beberapa drama, dan akhirnya ide buat lanjutan ceritanya ilang sendiri ;(

Tapi sekarang mood nulis lily udah balik, dan janji updatenya nggak bakal semolor ini lagi, lily bikin jadwal paliiiing lama lily bakal usahakan buat update dua minggu sekali, nah kalo misalnya dalam dua minggu lily masih belom update apa apa juga, coba di cek aja di blog lily (foryewon dot wordpress dot com) yaaaaa, soalnya kadang lily suka susah ngakses ffn, jadi misalnya kalo dalam dua minggu lily nggak bisa akses ffn, lily bakal publish update disana aja, tapi selagi ffn masih bisa diakses, ff nya masih bakal tetep lily post disini ^^

oh iya, soal dialog english Yesung diatas, lily minta maaf itu kalo grammarnya eror dan englishnya ancur -_- tapi lily sengaja bikin dialognya dalam english karna ceritanya disana cewek yang jadi teman kencan Yesung itu gadis asli sana, dan tidak bisa berbahasa korea ;)

Oke sekian cuap cuapnya, makasih buat yang masih mau baca dan masih berkenan ngasih review,

See you~~~