Naruto by Masashi Kishimoto.
...
..
.
Tatapan dari kedua mata itu kosong, seolah tak ada kehidupan di dalam sana. Wanita itu duduk di atas ranjang rumah sakit dengan tatapan yang sangat kosong, bibirnya terus tertutup tak mengatakan apapun. Kepalanya terbayang sebuah kejadian yang sangat tragis menimpa dirinya serta sosok yang dia cintai.
Helai rambutnya satu persatu turun saat dia menundukkan kepalanya, isakan tangis mulai keluar dari wanita itu, tubuhnya bergetar saat itu juga.
Detik berikutnya, teriakan keras keluar dari wanita itu
Naruto langsung masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi, dia langsung merengkuh wanita berambut putih pucat itu mencoba untuk menenangkannya. Hati Naruto seolah teriris saat melihat wanita itu menangis di dalam pelukannya. Dia tak tahan dengan tangisan kesedihan itu.
"Menma, kau disini kan? Kau tak akan pergi kan?"
Tubuh Naruto seolah mendapatkan sengatan kejut. "Ya, aku ada disini, tenanglah... Shion." Kedua netra biru itu menatap rambut putih pucat milik Shion, ada sebuah penyesalan yang mendalam saat dia membohongi wanita itu. "Aku disini untuk menjagamu, Shion."
"Terima kasih, Menma."
Beberapa menit berselang, Naruto menidurkan Shion di atas ranjang rumah sakit, dia pun duduk di samping ranjang itu sembari mengelus surai putih itu dengan lembut, Shion sudah mulai tidur saat ini, dia mencoba untuk membuatnya senyaman mungkin saat ini.
Mental Shion masih terguncang akibat sebuah kejadian dimana Kakak kembarnya yang bernama Menma tewas dalam sebuah kecelakaan tunggal. Shion sendiri ada di sana, bersama dengan tunangannya itu. Naruto tak menyangka jika kakaknya akan meninggalkan dirinya secepat ini.
Padahal baru saja kemarin dia bertemu dengan sang kakak.
"Adik, bisakah kau berjanji padaku?"
"Janji apa Kak?"
"Tolong kau bahagiakan Shion, jaga dia sepenuh hati jika aku tak ada di sampingnya."
"Oi, kau jangan berbicara seperti itu! Kau seperti akan meninggal saja."
Menma tertawa, dia langsung memeluk adiknya itu. "Kalau aku tak bercanda seperti ini, aku tak akan bisa akrab denganmu, adik."
"Baiklah, aku akan menepati janjimu! Jika kau keluar kota saja loh."
"Kau adik yang baik Naruto, aku benar-benar menyayangimu."
"Aku juga kak!"
Keduanya pun melakukan Bro-fist untuk yang terakhir kalinya sebelum Menma dan Shion terkena sebuah kecelakaan.
Naruto terus menatap wajah cantik yang saat ini tengah tertidur, dia tak tahu harus bagaimana lagi sekarang, apakah dia akan menjaganya seperti yang janjinya pada Menma, atau..
"Mentalnya sudah sangat drop. Dia sangat Depresi sekarang."
"Dokter Tsunade?"
Wanita dengan rambut persis dengan Shion itu berdiri dibelakang Naruto. "Anakku sangat mencintai Menma, apa mungkin dia akan bisa berpaling dari Menma? Jagalah dia seperti kakakmu yang menjaga Shion, bocah. Kau adalah orang yang sangat kupercaya sama seperti Menma dan Ayahnya Shion."
"Apa...boleh?"
"Seperti katamu waktu itu, Menma sudah memberikanmu amanat untuk menjaganya dan aku akan memberimu amanat untuk menjaga Shion."
"Tapi aku menganggap Shion sebagai Kakakku sendiri."
"Cobalah sebelum mengatakan hal itu, bocah."
Tsunade mengacak rambut kuning Naruto, dia tersenyum tipis menatap pria itu, lalu pergi meninggalkan keduanya.
"Jika kau masih disini, aku akan memukul pipimu, Kak." Air mata Naruto meluncur mulus melewati pipinya. "Sialan kau, Kak!" Dia menangis dalam diam saat itu juga.
...
..
...
Hari berikutnya, Naruto telah menyelesaikan dokumen perusahaan milik Ayahnya, dia tinggal mengirimkan detail dokumen itu pada Minato yang ada dikantor melalui laptopnya. Sesekali dia melihat Shion yang sedang berinteraksi dengan Ibunya, Kushina Namikaze, kedua wanita itu terlihat bahagia, tetapi Naruto bisa melihat jika keduanya sedang bersedih.
Topeng yang menutupi wajah mereka itu seolah bisa mengelabui semua orang, kecuali Naruto serta Minato tentunya. Kedua pria itu bisa melihat bagaimana sedihnya kedua wanita itu.
"Mau aku suap lagi Shion?"
Shion mengangguk cepat, dia membuka mulutnya untuk menerima potongan apel yang akan memasuki mulutnya itu. Kushina tersenyum melihat calon menantunya itu mau menuruti permintaannya, dia mengambil sepotong apel untuk diberikan pada Shion.
"Enak sekali, Ibu."
"Benar kan?"
"Um, ini enak sekali."
Bahkan interaksi seperti itu membuat Naruto meringis, dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan kepedihan yang dilihatnya di sana.
"Menma, apel yang dikupas Ibu enak loh, apa kau tak mau memakannya?"
"Iya aku akan memakannya sebentar lagi."
Shion memasang wajah cemberut. "Ayolah, kita makan sama-sama!"
"Na-Menma, turuti permintaan Shion!"
Naruto tertegun sejenak, dia langsung menatap wajah sang Ibu yang berubah menjadi sedih setelah mengatakannya. "Baiklah." Pria itu meletakkan laptopnya pada meja dan beranjak dari tempat duduknya, dia berdiri disamping Kushina dan mengambil sepotong apel untuk dimakannya. "Hmm, enak sekali."
"Benar kan?! Apel Ibu emang enak sekali."
Naruto menepuk bahu Kushina pelan, membuat sang empunya itu menatap dirinya. Naruto mengangguk kecil seolah tahu apa yang akan Kushina katakan setelah ini. Pria itu meraskan bahwa bahu Kushina bergetar menahan tangisnya.
"Ibu, aku sudah berjanji padanya."
"Berjanji apa Menma?" tanya Shion penasaran.
"Ah, aku berjanji dengan Ayah untuk membelikannya sebuah dasi baru."
"Huh, dasi mulu. Aku dong yang dipikirkan, dasar."
Naruto tersenyum kikuk mendengarnya, dia sendiri tak masalah jika dirinya itu di anggap Menma oleh Shion, karena mereka berdua kembar. Shion akan terkecoh dengan wajah mereka berdua yang mirip, kecuali jambang yang ada di kedua sisi telinganya.
"Oh ya, kau memotong rambutmu?"
Naruto lupa, Menma suka sekali memanjangkan rambutnya. "Iya, suasana baru. Lebih enak pendek, sejuk sekali rasanya."
Shion memasang wajah aneh saat melihat Naruto. "Malah mirip Naruto." Wanita itu tertawa kecil melihat gaya rambut dari Naruto. "Tapi masih terlihat tampan kok."
Tawa kikuk kembali keluar dari mulut Naruto. Sementara Kushina menatap sedih interaksi antara keduanya.
...
..
...
Seminggu berlalu, Shion masih berada di ranjangnya. Dia diam tak mengatakan apapun seperti saat itu, kedua matanya seolah tak ada kehidupan. Naruto menatapnya dari sebelah ranjang itu, tatapan Naruto sangatlah sedih. Memory itu kembali terbayang untuk yang kesekian kalinya.
"Menma, apakah aku bisa pergi ke surga?"
Naruto tertegun mendengar pertanyaan dari Shion. "Apa maksudmu?"
"Bisakah aku bertemu dengan seseorang di surga sana? Apakah bisa aku bertemu? Lalu bagaimana caranya agar aku bisa kesana?"
"Oi, Shion! Apa yang kau-"
"Apakah bisa aku kesana Menma?! Katakan, jangan memberikan pertanyaan seperti itu! Apakah aku bisa kesana? Ke surga dimana Menma yang asli berada!"
"..."
"Aku ingin pergi kesana! Aku ingin bertemu Menma! Di-dia segalanya bagiku!"
"Tapi Shion, aku Men-"
"Kau bukan Menma, kau Naruto! Kau bukan Menma!"
"..."
"Aku menginginkan Menma! Bisakah kau bawa aku ke tempat Menma?! Bisakah Naruto? Tolonglah! Aku ingin bertemu dengan Menma."
Naruto melihat wajah sedih itu, mental Shion sudah sangat hancur saat ini. Pria itu langsung merengkuh tubuh lemah Shion membuat wanita itu menangis sejadi-jadinya. Naruto tak peduli jika pakaian kerjanya basah akan air mata dari Shion, dikepalanya hanya ada janjinya pada Menma untuk membahagiakan Shion.
Naruto sendiri tak kuasa untuk menahan tangisnya, dia memeluk Shion erat sambil menitikkan air matanya. "Kau tahu, Menma memberikanku sebuah perintah." Naruto menjeda penjelasannya itu. "Dia menginginkan aku untuk menjagamu sepenuh hati di saat dia tak ada disampingmu."
"..."
"Dia seolah tahu akan kematian yang akan menimpanya, dia memikirkan kebahagiaanmy Shion, dia sangat menyayangimu di atas sana."
"..."
"Dia kakakku yang idiot, tapi dia sangatlah penyayang."
"..."
"Kau harus tegar, kami disini untuk membahagiakanmu, Shion."
"..."
"Aku akan menepati janji Menma untuk membuatmu bahagia."
"..."
"Itu adalah janjiku seumur hidup!"
"Menikahlah...denganku..."
"Apa?"
Shion mendorong pelan tubuh Naruto, kedua matanya berkilat tajam menatap netra biru yang dimiliki oleh pria itu. "Jika kau ingin membahagiakan aku, menikahlah denganku!" Naruto bisa melihat sebuah kebahagiaan kecil dari kedua mata Shion.
Pria itu mencoba untuk menenangkan dirinya, helaan napas keluar dari mulutnya, air mata yang mengalir itu mulai diseka. "Jika itu adalah jalan terbaik, aku akan menepatinya."
Shion pun mengangkat kedua tangannya, dia mengalungkannya pada leher Naruto lalu mendorong kepala pirang itu mendekati dirinya. Wanita itu mencium Naruto dengan sepenuh kasih.
Naruto sendiri sudah siap, dia membalas ciuman yang diberikan oleh Shion padanya.
...
..
...
Shion terbangun dari tidurnya, dia menatap langit-langit kamar itu sesaat, lalu melihat ke sampingnya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis saat mendengar sebuah dengkuran halus yang keluar dari mulut pria di depannya, dia mengelus pipi yang dihiasi oleh kumis kucing itu dengan lembut.
Hatinya mulai kembali berbunga setelah beberapa hari lalu melaksanakan sebuah pernikahan sederhana yang dihadiri oleh beberapa kerabat saja.
Baginya, Menma adalah segalanya, tapi pria di depannya itu bisa menjadi pengganti Menma. Dia akan berusaha mencintai pria di depannya itu.
"Maafkan aku yang tak bisa mencintaimu, tapi akan aku coba untuk mencintaimu selamanya."
"Kau tak harus mencintaiku, Shion. Aku sudah senang setelah bisa memenuhi salah satu amanat Menma."
Shion tersenyum, dia mencium bibir Naruto. "Um, jadi kau akan menerimaku?"
"Dengan sepenuh hati, tentunya."
"Terima kasih Naruto."
"Sama-sama, Shion."
...
..
.
Remake Cerita Memory di saat gw sedang nggak ada ide saat menulis Uchiha Naruto.
Terima kasih sudah menikmati cerita buatan gw.
Bye!
