Deskripsi Singkat :

Sasuke Uchiha butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus berseru di benaknya. Tentang apa itu perdamaian, kebahagiaan... dan cinta.

A slightly short essay.

Credits to Naruto, Masashi Kishimoto (2000).

.

Jawaban

.

SATU hal.

Uchiha Sasuke tidak pernah menyadarinya sebelum hari itu. Peluh yang bercucuran dan aliran darah yang terpompa deras dari jantung, terpacu oleh adrenalin yang dikendalikan oleh kata dendam.

Dia tak pernah sekalipun memikirkan.

Sasuke mungkin sudah tidak ingat akan hangatnya pelukan seorang ibu. Adapun, ia menyimpannya jauh di dalam basemen memori yang mungkin sudah usang dan berdebu. Ada kala di saat ia ingin menghancurkan basemen itu - basemen berisi memori indah yang pernah ia lalui - mengosongkan lalu mengisinya dengan dendam, kebencian. Yang menurutnya bisa menjadikannya lebih kuat, jauh lebih kuat, memenuhi semesta.

Ia tidak pernah tahu bahwa lama kemudian, memori kecil itu akan membuncah dan kembali terlintas di otaknya, mengirimkan sinyal dari dalam benaknya.

Uchiha Sasuke yang sebenarnya hanyalah anak lelaki kecil ingusan yang selalu mengharapkan pelukan ibunya, senyuman dari ayahnya, dan tak lagi diserukan "lain kali, ya" dari kakaknya.

Uluran tangan, senyuman, dan pelukan. Sesederhana itu yang diinginkan lelaki kecil berambut biru malam itu dari orang-orang yang dicintainya.

Kehangatan.

.

Hati yang rapuh, perasaan yang dilempar ke sana kemari seperti bola kasti. Sasuke sudah cukup menjadi boneka permainan para pemburu dunia. Berikrar tentang kuasa, berkilah mengenai dunia ideal yang sejatinya hanya fana.

Matanya melihat terlalu jauh, mungkin terlalu akbar baginya, hingga ia menutup mata pada hal-hal yang selama ini sudah ada di sisinya.

Hal yang selama ini selalu ia damba.

Terkadang terlalu fokus dengan hal-hal yang besar sehingga melupakan tujuan yang sederhana, itulah yang menjerumuskannya ke dalam kegelapan.

Hatinya benar-benar tidak bisa ia topang sendirian, kesepiannya membludak dan itu menyiksanya, matanya yang diselimuti kabut dari melihat kebenaran, dan kabut-kabut itu yang menyangga dan menyeret hatinya dalam keabsahan yang palsu.

Padahal selama ini ia terus mencari kebenaran, tanpa tahu apa yang ia dambakan dari kebenaran itu.

Kebenaran absolut itu... tidak ada.

Adapun, tidak akan bisa memuaskan hatimu.

.

Tidak banyak hal yang membuatnya bahagia.

Sesungguhnya, apa kebahagiaan itu?

Perasaan yang mententramkan hatinya? Sesuatu yang membuatnya merasa cukup?

Tidak ada hal yang bersifat kekal soal itu.

.

Lalu apa itu perdamaian?

Apakah perdamaian bisa bersifat kekal, atau hanya sementara? Sasuke terus-menerus memutar hal itu di otaknya.

Ide tentang perdamaian yang sempurna.

Sepanjang ia terus menebaskan pedangnya, membuat segel di tangannya, dan menghabiskan chakranya, ia terus berpikir bagaimana untuk mencapai perdamaian yang absolut.

Apakah perdamaian adalah jika tidak ada konflik? Tidak ada perbedaan pendapat? Tidak ada yang saling menghalangi karena berbeda tujuan? Pikirannya terus berkelana sepanjang ia melangkah.

Apakah akan ada dunia yang damai ketika aku menghancurkan dan membangun kembali segalanya?

Tetapi mengapa langkahku bergetar karenanya?

.

Ia tahu ia gentar saat menatap mata biru itu, karena ia melihat segalanya.

Ketika satu bogem mendarat keras di wajahnya, Sasuke mengingat satu keinginan kecilnya.

Ketika satu teriakan melengking di langit lepas, ia mengingat satu hal yang didambakannya.

Ia membenci Naruto karena hal itu. Ia ingin membinasakan Naruto dengan tujuan itu.

Agar ia bisa membakar semua kenaifan yang masih tersegel di hatinya. Agar ia kosong. Siap kembali memulai dunia baru yang ideal seutuhnya.

Monokrom. Hitam.

Namun bocah kyuubi itu terus mendesaknya dengan cahaya.

.

Jika Naruto mengaku bisa melihat isi hatinya dengan saling bertukar pukulan, itu benar.

Bahwa bagian dari dirinya akan terus merasuki jiwa Sasuke saat ekstraksi chakra mereka bertemu dan saling menghancurkan.

Dua jiwa yang ingin mengubah takdir, dan dua eksistensi yang ingin menulis kembali takdir mereka sendiri, bukan berdasar riwayat suratan.

Maka dua imaji chakra itu saling menabrakkan diri di genggaman tangan bersegel pemegang takdir.

Bahkan jika hari ini semuanya mati, mereka tidak akan mau kembali dipanggil ke dunia.

.

Kebenaran sejati itu tidak ada... perdamaian itu tidak kekal bahkan jika kau mencapai nirwana.

Dan kebahagiaan itu?

.

Sasuke tenggelam dalam hampa. Saling menabrakkan muatan chakra memang bukan ide terbaik, tapi adalah skenario yang paling ideal dalam situasi itu.

Ia berpikir Naruto akan memperlihatkan segalanya saat ia menubrukkan rasengan itu, tapi nyatanya saat ini ia tidak melihat ataupun merasakan apapun.

Apakah ini... kematian?

Ia tidak menerima getaran maupun cahaya, tapi itu membuat pertanyaan muncul kembali dari dalam benaknya.

Apa itu kebahagiaan?

Apa itu hidup?

Apa itu... cinta?

Nuraninya terus berseru. Di dalam ruang hampa, suara-suara itu begitu memekakkan telinganya dan menyesakkan dadanya. Ia tidak pernah begitu membenci dirinya yang selalu bertanya, tidak pernah sebesar hari ini. Nuraninya terus menghujamnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ingin didengarnya, menstimulasi ingatannya yang ingin ia musnahkan, memompa jantungnya berlebihan hingga aliran darahnya mau membludak -

"- suke-kun?"

"...Sasuke-kun?"

Suara seorang wanita. Ibunya kah?

Bukan, ia tidak mengingat ibunya punya suara semuda ini.

Ibunya selalu bersuara rendah dan dewasa. Suara ini begitu ringan dan -

Sebelum ia sadari, gumpalan cahaya dari kecil mulai membesar dan menampakkan sedikit wujud, walaupun redup Sasuke bisa mengidentifikasinya.

Uluran tangan.

Sasuke yakin ini hanyalah bagian dari permainan ilusi yang dikerjakan dalam otaknya, tapi pendaran cahaya itu semakin meluas - tidak bertambah terang tapi bertambah jelas wujudnya - dan ia menangkap kilas yang sangat familiar baginya.

Kibaran rambut merah muda.

.

Apapun itu, Sasuke bisa merasakan tangannya meraih udara, mengangkat di luar perintah alam bawah sadarnya. Dan matanya yang mulai basah, dan bulir cairan yang meluncur di pipinya.

Ia tidak lagi mendengar benaknya yang berisik menyerukan pertanyaan dan memenuhi indra pendengarannya.

Kerongkongannya kering, suaranya mungkin akan terdengar lemah dan parau, tapi pita suara itu bergema ringan dengan suara setengah bercampur udara.

"Sakura..."

.

Lidahnya merapalkan nama itu seperti mantra yang setiap hari ia ucapkan, lentur dan ringan. Mata zamrud itu memenuhi memorinya, terasa seperti ia tengah melihatnya setiap saat, tapi juga selalu dipenuhi nostalgia. Mata itu juga sama sepertinya, berurai air mata, tapi guratnya seperti bulan sabit yang melengkung ke atas. Mata jtu, seperti seluruh bagian tubuhnya yang lain juga, menyambutnya dengan hangat dan membimbing tangannya yang kasar penuh gores luka menuju genggamannya.

"Kembali, Sasuke-kun..."

Hangat. Yang Sasuke rasakan saat merasakan genggam tangannya. Nyaman, saat kehangatan itu menyelimuri sekujur tubuhnya. Air matanya tak kunjung mereda, namun hatinya tak lagi sesak.

Dan hatinya tak lagi bertanya.

Karena ia merasa tak perlu lagi bertanya.

Ia merasa cukup.

Tidak butuh apapun lagi.

Hanya butuh memejamkan mata, dan merasakannya di sekujur tubuhnya...

" dan menggumamkan kata 'cinta' "

.

"Kau sudah bangun."

Suara serak dan berat Naruto menyambutnya ketika ia kembali membuka mata, dan melihat birunya langit yang sekilas mengingatkan akan biru matanya.

"Aku pikir aku sudah mati."

Mereka tertawa dan melanjutkan konversasi kecil yang lama tak tertukar namun akrab di antaranya, celoteh dan ledekan kecil yang membuat mereka kembali ke wujud masing-masing saat masih berusia dua belas dan berjalan bersampingan.

"Jika kau hilang kesadaran lagi maka kau akan mati."

"Bertahanlah sampai Sakura dan Kakashi-sensei datang."

.

"Naruto-kun! Sasuke-kun!"

Suara itu. Sasuke mengerjapkan mata dan merasakan sedikit gurat senyum menyimpul di ujung bibirnya.

"Sakura..."

Apa kau yang melakukannya?

"Diam, aku sedang berkonsentrasi."

Kau yang membuatku masuk ke dalam pikiranmu.

"Maafkan aku..."

Aku selalu melibatkanmu...

"Untuk apa?"

Aku tidak mempermasalahkannya.

"Semuanya..."

Aku tidak seharusnya memberimu genjutsu sejauh itu.

"Kau benar-benar... Shannaro..."

Diam dan terima saja tanganku...

"...baka."

.

Manik mata yang berkilau zamrud itu mulai menjadi sesuatu yang kembali familiar baginya.

Kilauan yang selalu ia curi saat ia membukakan jendela di samping tempat tidurnya, ataupun saat mengganti bunga suisen di botol kaca di mejanya.

Rautnya tidak seindah yang ada di dalam alam pikirannya, seringkali lesu, kelelahan karena terlalu banyak bekerja. Lengkungannya hanya datang sesekali, bisa dihitung dengan jemari miliknya.

Namun iris zamrud itu tetap kemerlapan setiap kali melihatnya.

Sasuke, seperti pada masalnya pemilik nama Uchiha, seperti yang dituliskan dalam prasasti kediamannya, adalah seseorang yang berlebih dalam merasakan.

Terdalam dalam mencintai.

Dan itu tergambar saat ia menatap jernih hijau matanya.

Apa itu perdamaian?

Apa itu kebahagiaan?

Apa itu cinta?

Butuh hujaman pukulan yang tak terhitung jumlahnya dan tangisan seorang gadis yang menyerukan kebodohannya, untuk menyadari itu semua.

Bahwa itu semua... hanya ada di dalam hatinya.

Hanya hati yang tenang yang bisa menemukannya.

.

selesai

.

Word count : 1.284

A/N :

Jadi 1 jurus rasengan = 1 trigger Bucinsuke Uchiha. Terima kasih Uzumaki Naruto, sang pahlawan kita. LOL

Anyway, R&R?