Aku tidak ingin pergi.Karena itu aku akan tetap ada disini.

Hoseok memandangi jendela kelasnya yang terbuka. Matahari musim gugur menghantam wajahnya tak ada ampun. Angin lembab mulai menyusup ke seluruh ruang, dingin. Namun dia tak mempedulikan anginnya, jaketnya, maupun rambutnya yang mulai berantakan.

Musim dingin tinggal menghitung hari. Dan mungkin kelulusan juga tak akan terasa dekatnya nanti. Semuanya berputar cepat. Rasanya seperti kemarin dia baru tertawa layaknya orang gila, bernafas tanpa rasa berat dan lupa dunia, lupa waktu.

Jackson melempar pandang padanya dalam.

Dia bahkan tak sampai hati menepuk pundak Hoseok dengan riang. Dia bahkan tak punya nyali memutus lamunan kawannya yang terlena melihat awan musim gugur yang tak ada bagusnya.

Poninya ia biarkan memanjang sampai musim ini, menutupi hampir setengah wajahnya kalau tidak ia sibak sering-sering. Rahangnya semakin tegas. Dan kerap mereka temukan namja itu memasang sorot layaknya ikan mati.

Sorot mata khawatir sering terarah pada Jung Hoseok sejak awal semester dimulai. Semua anak- yang menyayanginya dan tidak benar-benar takut melihat dia dan perubahannya. Namun Hoseok sendiri sudah memutuskan. Dan semuanya memilih menghormati namja itu dan pilihannya.

Namun sehormat apapun mereka terhadap batasan yang dibuat Hoseok, apa yang diperbuatnya tak lolos begitu saja dari hati.

Tidak ada yang bisa mengabaikan Hoseok.

Dan perasaan sakitnya.

Jika semua orang berpikir kalau Kim Seokjin, dan si bungsu Taehyung serta ibu mereka adalah orang yang paling merasa kehilangan atas absensi Namjoon, maka mereka tentu belum melihat Jung Hoseok yang ini. Mereka belum melihat Jung Hoseok dan lamunan-nya.

"Ya. Jung Hoseok!"

Hoseok segera menepik semua lamunannya, memandangi ketua kelas mereka lurus dengan wajah sepolos tupai. Matanya berkedip cepat, berusaha fokus.

"Ya?"

"Kau dipanggil ke ruang konseling."

Air wajah namja itu langsung berubah, menyorotkan prihatin pada Hoseok.

Hoseok membalasnya dengan senyum cerah, pamer deretan giginya yang super rapi.

"Oke! Thanks pesannya!"

Dan dia melesat pergi dengan ceria, langkah ringan seakan dia hanya pergi ke kantin, bukan ke ruang konseling.

Mereka yang berpikir keluarga Kim begitu hancur , belum melihat Jung Hoseok yang ceria seakan tidak terjadi apapun. Belum melihat Hoseok yang menanggapi semua hal begitu enteng. Belum melihat Jung Hoseok yang terus kembali ke ruang kelas lama mereka, duduk di bangkunya yang sama seperti tahun lalu, sepulang sekolah, dan melamuni meja di sebelahnya.

Senyum Hoseok tidak sebagus dulu lagi

; (Semi-Colon)

(C) SC 2018-2020

NamJin/ HopeJin / BTS

.

.

.

Warning :

BIG TRIGGER TENTANG MENTAL STATE. BUAT YANG LAGI GAK BAIK-BAIK AJA, TOLONG PASTIKAN KALIAN OKAY UNTUK BACA INI, PLIS.

((kalau ada yang ke trigger, maaf, aku gak bermaksud nyakitin kalian pakai topik ini, tapi aku mau pemikiranku sampai ke kalian, mungkin caranya payah si pake fic but--))

hati-hati, ini kontennya agak susah dipahamin *aku aja yg tulis gapaham*? :'))

P.s.um, mungkin kalau ada yang penasaran...bisa baca Deep in Your Heart dulu, FFKU DUA TAUN LALU HAHAHA, karena ini Sequelnya (?)

.

.

.

XXX

"Halo, hyung!"

Seokjin menyorot matanya ke arah pintu depan mini market, dahinya berkerut ringan.

Hoseok datang lagi.

"Kenapa ada disini, Hoseok-ah?"

Padahal, seingatnya baik sekolah maupun rumahnya, tak ada yang searah dengan minimarket.

Saat ini Seokjin bekerja di mini market. Setelah menolak pilihan appa-nya, dan menerima surat lulus, mengumpulkan nyawa dan merenung begitu lama perihal hidupnya, Seokjin memutuskan untuk mengisi kesibukan dengan kerja ringan. Butuh waktu dua bulan untuknya memutuskan, apakah dia perlu mengurung diri dari kehidupan sosial, bunuh diri dengan semua keberaniannya, atau melanjutkan hidup dalam rasa entah-apa-yang-dia-rasa.

Dan itu bukan hal yang mudah untuk dia lewati, sampai menemukan sedikit distraksi untuk mengganggu pemikiran ampasnya.

"Seperti biasa. Roti. Aku mau satu dengan ham dan keju ya, hyung!"

Hoseok memesan dengan senyum seribu watt. Matanya tertarik sampai habis. Seokjin langsung merasa disorot bohlam lampu pijar dari jarak dekat, membuatnya cepat-cepat berbalik dan mengambilkan roti panggang-makanan siap saji di lemari pendingin, menghangatkannya dengan microwave.

Dia menghela napas dalam sebelum memutar kenopnya, menunggu dengan kaku.

Hoseok menyorot matanya serius ke arah Seokjin. Memperhatikan timer microwavenya.

"Itu microwave."

Dan setelahnya, bunyi bip kencang mengagetkan Seokjin. Namja itu sempat melompat sedikit, namun setelahnya langsung menarik gagang pintu microwave cepat, mengambil roti Hoseok sedikit bergetar.

"Itu microwave..."

Seokjin berbalik kearah Hoseok, memandangnya kabur-kaburan. Sedikit bergetar, yang lebih tua cepat-cepat memberikan dia roti isinya dan menunduk. Namja itu menghela napas pelan.

"Ya..."

Seokjin masih takut.

Dia masih menyedihkan, padahal jelas-jelas yang berbunyi benda penghangat di hadapannya, padahal jelas-jelas bunyi keduanya beda. Bahkan saking menyedihkannya, Seokjin tidak menggunakan dering ponsel yang monoton, cenderung lagu dengan alunan musik rock agar dia tahu itu alarmnya. Dia masih sama kakunya merespon semua benda yang berbunyi keras-keras. Dan Hoseok tahu jelas sejak kapan ini dimulai.

Seokjin semakin mengubur wajahnya. Dia paham Hoseok akan menangkap dia. Dan dia tak mau.

Hoseok meremat tangan Seokjin-yang masih menggenggam bungkus rotinya. Dia menunduk, hampir menaruh dadanya di meja kasir untuk mencapai titik sejajar dengan pandangan Seokjin. Matanya yang bulat menyorot pada iris Seokjin dalam-dalam, kemudian tersenyum cerah didepannya.

"Gomawo hyung!"

Seokjin tersenyum miris.

Hoseok sudah berkali-kali mengatakan itu di depannya, namun Seokjin tak pernah lupa bagaimana perasaan dia setiap kali Hoseok mengatakan itu. Hal sederhana, memang. Namun dia merasa dadanya penuh, seakan disiram terlalu banyak hal yang tak sepantasnya dia terima. Ini hanya roti. Hoseok bahkan membayarnya, namun dia mendapat balasan yang terlalu banyak.

"Aku tidak melakukan apapun-"

"Kau memanggang roti. Itu sudah melakukan sesuatu."

Dan Hoseok juga merapal hal ini seperti mantra.

Sejak awal, bukan, sejak semuanya selesai buat Seokjin, Hoseok selalu ada disana. Dia menaruh garis start di hadapannya, seakan meminta Seokjin memulai hal yang baru. Hoseok selalu ada di sampingnya. Tidak mendorong dia dari belakang, atau bahkan maju selangkah untuk menarik dia keluar. Hoseok di sampingnya. Hoseok memantau dia tepat disampingnya.

Dan sejujurnya, Seokjin tidak berharap Hoseok ada di sampingnya.

"Aku taruh uangnya disini ya, hyung. Aku pulang. Nanti kita bicara kalau shiftmu sudah selesai saja. Kalau kau mau, hubungi aku."

Namja itu melesat keluar dari minimarket, melahap rotinya cepat-cepat. Seokjin hanya bisa diam, melaksanakan tugasnya dan terbengong menghadapi minimarket yang sepi.

Seokjin berharap Hoseok meninggalkan dia saja.

Karena dia sudah tidak mau memulai apapun. Dia sudah tak ingin mengisi apapun. Seokjin tidak pantas mendapatkan apapun.

XXX

"Oh--"

Manusia Emo pucat itu mencegatnya di pinggir jalan, wajahnya datar semulus aspal. Hoseok tersenyum melihat dia dengan pakaian tebal- tampang sudah siap musim dingin biarpun setiap hari dia sendiri adalah salju itu.

"Yoongi--"

BUK

Bogem ringan mendarat di kepalanya, menghantam dia pelan.

"Jangan tersenyum. Aku geli."

"Sialan."

Hoseok menarik bibirnya sebal, ingin sekali marah. Tangannya sudah siap memukul kepala yang lebih pendek keras-keras, kalau saja dia tidak takut sama wajahnya. Yoongi memandang dia bengis, moodnya terlihat tidak baik, dan kantung matanya tebal minta ampun. Namja itu sepertinya baru pulang dari universitasnya, terlihat dari dia yang bawa banyak berkas.

"Kenapa memanggilku kemari, hyung?"

"Hm. Kau, kenapa mengikuti permintaanku bertemu disini?"

Lalu keduanya hening.

Hoseok sudah naik darah sampai ubun-ubun. Dia tidak mau melepasnya saja. Bertengkar dengan Yoongi adalah hal terakhir yang dia mau belakangan ini. Dia tidak bisa menang. Sekalipun dia menang, dia tidak benar-benar menang. Tidak ada resolusi, tidak juga disebut kompromi.

Mereka duduk bersisian di ayunan, memandang lurus jalan yang lenggang didepan. Langit sudah gelap, udara sudah makin dingin namun belum ada tanda-tanda keduanya mau angkat kaki dari tempat.

Taman, taman bermain biasa, dekat rumah sakit.

"Apa yang kau lakukan hari ini?"

Pertanyaan basi. Gamblang. Yoongi rasanya sedang penat ikut kuliah, butuh omongan santai.

"Makan, nafas. Sekolah. Persiapan ujian. Kau tahu rutinitas kelas tiga-"

"Kau tidak kelas persiapan ujian, aku juga tahu."

Hoseok diam. Dia benar-benar tidak mau bertengkar dengan Yoongi. Serius. Orang ini ada di daftar blacklist pertamanya.

"Uh- Jackson-"

"Kau menemui Seokjin."

Yoongi menembaknya telak. Tepat di sasaran. Dan Hoseok tidak mengelak.

"Aku menemui Seokjin-hyung."

Dia mengulang itu, jujur. Pasrah. Nadanya cerah, wajahnyapun sama cerah. Yoongi diam saja dan tidak membalasnya sama sekali.

Dia sudah tahu gaya-gaya Hoseok setelahnya.

"Well, dia cukup baik kali ini- sepertinya. Kuharap dia bisa cepat pulih.. atau setidaknya bisa tersenyum. Yah, walau ini bukan hal mudah-"

Yoongi masih diam.

Dia menyesap kaleng kopi di tangannya, memandangi gedung di sebrang jalan datar.

"Aku tidak ingin Seokjin tersenyum."

Dan Hoseok langsung membatu. Tape-nya seperti macet. Dia diam sebentar, kemudian menghela napas dalam-dalam.

"Oke. Aku berhenti membicarakan ini. Kenapa memanggilku kemari, hyung?"

Dan Yoongi tidak menjawab.

Jadinya Hoseok yang mengisi keheningan dengan mengambil bagian yang lebih tua juga.

Hoseok terus mengoceh, terus. Terus. Mengoceh apapun. Seakan dia cerita hal manis dan seru. Sampai rasa kopi di lidahnya begitu menggelikan.

Yoongi meremas kalengnya kuat-kuat.

Dan mengeluarkan tawa yang begitu jenaka.

Hoseok bingung. Sadar dia salah bicara.

"Kau terdengar goblok."

"Aku goblok. Ya. Terima kasih pengingatnya."

Hoseok pasrah saja. Dia ikut apa mau Yoongi. Dan Namja itu diam memandangnya, tatapan matanya tidak bisa dia tebak. Tidak, Hoseok tidak mau menebaknya.

"Hoseok--"

Yoongi memejamkan matanya, mengusap wajah keras-keras. Rasanya kantuk lebih mudah dia patahkan daripada si batu Hoseok satu ini. Dia benar-benar membuatnya pening, sialan. Anak itu benar-benar jadi masalah besar.

"Apa, sih. Jangan menatapku begitu."

Namja itu mengerutkan dahi dalam-dalam. Setengah mentangkat bibirnya kesal. Sialan Yoongi, memanggil dia malam-malam namun tidak jelas bicara apa.

"Sudah ah, aku pulang saja kalau kau tidak mau bicara. Annyeong, hyung."

Hoseok langsung berdiri, meninggalkan Yoongi sendirian di ayunan, dan melangkahkan kakinya kearah jalan pulang. Secepat yang dia bisa.

"Hoseok!"

Si pucat itu memanggilnya tegas, suaranya berat. Hoseok langsung berbalik, menanggapi anak itu dengan kerutan di dahinya. Dia jadi sebal dengan Yoongi yang seperti ini.

Dan pertanyaan Yoongi selanjutnya membuat dia tidak yakin untuk bisa tetap tersenyum.

"Sudah menangis?"

Hoseok tidak pernah menangis bahkan waktu mereka melepas Namjoon. Dia terus tersenyum dan terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang bisa mengartikan senyumnya.

Hanya Yoongi yang paham kalau Hoseok tidak baik-baik saja.

XXX

Seokjin pulang tengah malam, rumahnya sudah gelap. Namja itu sudah biasa dengan hal ini beberpa bulan belakangan, dan dia juga lebih suka pulang waktu sudah tidak ada orang begini. Awal-awal dia dibuat risih karena Jihye menunggu dia sampai tidur di meja makan, padahal wanita itu butuh tidur di tempat nyaman. Awal-awal dia juga dibuat risih ayahnya karena dia tidak menyeret istrinya ke kamar, malah kadang masih nonton televisi tengah malam. Dia seperti dikekang.

Tapi akhirnya mereka melepas Seokjin juga.

Seokjin merebahkan tubuh di sofa, merenggangkan ototnya sebentar sebelum naik ke kamar. Pulang tengah malam lebih melelahkan, tentunya.

Seokjin tidak memikirkan apa-apa.

Tidak mau, lebih tepatnya.

Dia diam sebentar disana, menikmati suasana rumahnya yang damai tidak ada suara barang sebentar, sampai dia haus.

Kaki jenjangnya langsung berdiri, meraba-raba dalam gelap ke arah dapur. Meneguk segelas air dan mencuci gelasnya, sebelum memutuskan kalau dia harus naik lalu mandi, dan tidur.

Matanya menyorot pada pintu lain di lantai itu.

Dan kunci didepan pintunya.

Ah. Jihye mungkin saja tidur disana. Mungkin sedang menyesap semua sisa-sisa memori yang tertinggal. Seokjin membiarkan pintu itu dan kuncinya, melaluinya seakan tidak tahu apapun, dan naik keatas.

Dia turun lagi tak lama setelahnya, belum mandi. Hanya berganti pakaian, dan berdiri didepan pintu kamarnya.

Kamar adiknya.

Nafasnya berat waktu memandang pintu ini, dan kuncinya. Dia memutar anak kunci dan membuka kenop pintu, menemui ruangan gelap yang bahkan tak menyala lampunya, tak diisi presensi hidup.

Biar gelap, Seokjin seakan melihat semuanya dengan jelas.

Semua bayangan yang pernah menghuni kamar ini.

Cepat-cepat dia menyalakan steker lampu, masuk lebih dalam, dan mengusaikan tugasnya, menyeret Jihye yang kemungkinan menangis di ranjang anaknya--

Namun ternyata tidak ada siapapun.

Seokjin menghela napas, sedikit tertawa. Rupanya dia terlalu berangan-angan kalau ibu sambungnya kemungkinan ada disini. Jihye tidak mungkin lagi tidur disini. Dia hanya terlalu khawatir ibu sambungnya terpuruk.

Tau mungkin, dia tak mau wanita itu sama terpuruknya dengan dia.

TUK

Pahanya menyenggol ponsel yang ada di sudut meja belajar, membuat benda persegi panjang itu terjatuh kebawah dan layarnya menyala terang.

Ah.

Namja itu mengambil ponsel yang jatuh, membanting dirinya ke ranjang dan melakukan aksi cari matinya berikut ; membuka ponsel Namjoon.

Dia belum pernah melakukan ini sebelumnya, tapi seperti kata Taehyung, Namjoon tak terlalu bergantung pada ponselnya. Harusnya tak masalah melihat ini.

Biarpun dia akan terus teringat yang lebih muda.

Galerinya penuh beberapa foto blur, kemungkinan langit-langit rumah sakit, langit sore dari jendela rumah sakit, dan beberapa foto dari foto cetak yang dijepret ulang secara amatir. Foto-foto terakhir yang Namjoon ambil kurang lebih kompilasi foto cetak yang dijepret ulang, soal-soal pelajaran beserta jawabnnya, dan foto-foto blur.

Namjoon tak pandai memotret, sepertinya. Banyak foto yang diambil berulang agar jelas, sisanya tak fokus atau malah terpotong.

Lucu juga, mengetahui namja itu niat memotret ulang semua foto cetak yang ada di album rumah.

Ada foto bocahnya dirumah sakit yang bermain lego dengan Hoseok, foto bocahnya dengan Taehyung yang masih belum lengkap giginya, foto Namjoon waktu dapat penghargaan, foto Taehyung waktu masuk SD, beberapa foto Seokjin di masa kecilnya dengan sang ibu, foto waktu pertama kali Namjoon masuk sekolah menengah-- disini masih ada Seokjin yang cemberut-- dan sisanya foto keluarga mereka yang selalu absen kehadiran Seokjin.

Lalu, foto keluarganya, Ayahnya, Seokjin dan Ibunya.

Seokjin memicingkan mata. Mungkin dia salah lihat.

Jemarinya mengetuk foto itu, melebarkannya sampai dia paham betul wajah siapa yang ada di dalamnya.

Foto keluarganya, sang ayah, ibunya dan dia yang tersenyum bahagia.

Namjoon menyimpannya di galeri, bersebelahan dengan foto pernikahan Jihye dengan Ayahnya.

Seokjin tertawa melihatnya. Dadanya sesak.

"Dasar tolol, Namjoon."

Kenapa dia simpan foto itu bersebelahan?

Ah, Seokjin sebaiknya tidak berpikir apapun. Mungkin anak itu juga tak sengaja membuat ini. Dia tak paham mau Namjoon apa, mungkin memang anak itu saja yang mau tahu soal ibunya. Entahlah. Seokjin sebaiknya tidak berpikir.

Bagaimana perasaanmu waktu memotret ini?

Seokjin mengutuk dirinya dan pikirannya sendiri, cepat-cepat mematikan ponsel itu dan menutup matanya. Jam berpikir berlebihannya dimulai, dan dia harus cepat-cepat memutus itu sebelum dia jadi benar-benar gila.

"Kalau posisi kita dibalik, apa yang akan kau buat sekarang, Namjoon?"

Dan dia tak sadar dia tidak berhenti menangis sampai pagi.

XXX

'Bisa kita bertemu di kafe X sebentar hari Jumat nanti? Kapan shift kerjamu kosong hari itu?'

Sebuah pesan dari Yoongi menuntun Seokjin ke tempat kopi yang cukup sepi di pinggir jalan dekat Universitas si pucat. Tempatnya kecil dan ditata apik. Sepertinya ini tempat nongkrong namja itu, melihat bagaimana suasananya remang-remang dengan lampu kuning yang kuno, dan bau kopi yang kuat.

Seokjin memicingkan mata waktu melihat menu yang tertera. Tidak terlalu mahal, hanya tidak dia mengerti saja. Jenis kopi yang spesifik, nama dan pengucapan bahasa asing membuat dia tak percaya diri. Dia berakhir memesan satu dengan menunjuk menu, dan sang waitress mengerjakan pesanannya sementara dia menunggu di konter.

Yoongi datang kemudian, langsung memesan dengan fasih, kemudian menunggu disebelahnya, sebelum keduanya memilih tempat duduk dalam hening.

Yoongi belum bicara. Dia masih diam seperti biasanya. Wajahnya ngantuk dan tasnya penuh kertas serta buku. Yoongi melepas jaketnya, menyampirkan kain itu di lengan kursinya.

"Aku memanggilmu kemari ingin bicara soal... Namjoon."

Dan Seokjin terasa diserang.

Sialan Yoongi, tidak pakai aba-aba, tidak pakai pembukaan terlebih dulu.

Seokjin mengeratkan kepalan tangannya, menelan salivanya sendiri dan berusaha menampilkan wajah setenang mungkin. Yoongi ingin membicarakan temannya, itu wajar. Mungkin dia ingin menanyakan beberapa hal soal keadaan rumah seperti Hoseok, basa-basi. Mungkin. Mengingat, anak ini juga dekat dengan Namjoon.

"Y-ya?"

Sial. Dia bergetar.

"Santai saja, Seokjin. Aku tidak pandai memilih kata-kata, jadi sebelumnya, maaf kalau agak pedas."

Dan Yoongi tersenyum lembut kearahnya, membuat dia yakin baru saja si pucat kesurupan. Inginnya dia cepat-cepat pulang, dia semakin takut dengan yang lebih muda.

Anak itu menyodorkan sepotong kartu nama. Seokjin mengambilnya ragu.

"Bukan bermaksud apapun. Tapi, kalau memang ada beberapa hal yang tak bisa kau bicarakan pada kami, atau keluargamu, coba hubungi dia. Orang ini cukup membantuku. Dan kuharap dia juga bisa membantumu."

Psikolog.

Nama seorang psikolog.

"Tolong jangan marah, aku sungguh tak bermaksud apapun."

Seokjin diam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar bahkan dari kepalanyauntuk Yoongi. Dirinya sendiri membatin, terperanjat.

Oh. Se-kacau itu aku terlihat.

"Belakangan, banyak hal sulit yang terjadi. Aku paham. Aku juga tidak menyalahkanmu untuk semua yang terjadi ataupun imbasnya. Toh, kita tidak bisa apa-apa. Aku ingin kau juga paham, Seokjin. Aku bukan pendeta disini, aku tidak akan membicarakan takdir atau apa, tapi aku ingin kau menanggap yang sudah terjadi itu pilihan dari orang yang bersangkutan.

Apa yang Namjoon buat, apa yang Namjoon tinggalkan bahkan sampai Namjoon begitu juga, itu pilihannya. Aku ingin kau menghormati pilihan dia, dan menghormati dirimu sendiri juga "

Seokjin tercengang.

"Ap-apa? Maksud-"

"Kau paham Seokjin. Tolong ingat apa yang kubilang baik-baik."

Seokjin semakin tercengang, kemudian membubuhkan tawa pada sarkasmenya.

"Jadi mati itu pilihan buat dia ya? Sakit seperti itu? Lucu, Yoongi."

"Seokjin, bukan-"

"Yoongi, Namjoon sakit. Kau tahu lebih daripadaku soal itu. Namjoon sakit, dan hidupnya itu punya jangka waktu. Mungkin dia bertahan sampai lulus kalau aku tidak memotong waktunya, kemarin itu. Mungkin anak itu bisa dengan bangga bawa surat lulus atau mungkin nanti pakai toga waktu wisuda-"

"Namjoon memilih untuk meraihmu dengan waktunya. Jika kau tidak paham apa maksudku, kujelaskan. Si tolol itu sok-sokan menghampirimu dan berusaha membangkitkan Kim Seokjin yang bersedih, dan itu yang perlu kau hargai biarpun tidak keren sama sekali. Itu maksudku."

Seokjin tercengang.

Dia masih tercengang, menatap Yoongi yang datar, emosinya mulai naik.

"Tolong jangan bodoh. Dia berusaha membuatmu lebih hidup, bukan membuatmu jadi boneka mati. Hhh...kalian berdua sama saja tololnya-"

Yoongi terlihat pusing, padahal Seokjin yang harusnya pusing disini. Anak itu mengerti apa soal dirinya?

"Hyung! Aku sudah bawa-"

Suara familiar itu membuat Seokjin menoleh, dan langsung mengerutkan dahi.

Jackson, dan Hoseok.

"Seokjin-hyung-"

"Ya, ya. Duduk, Hoseok. Sini kalian berdua."

Yoongi memanggil keduanya santai, menyesap americanonya tanpa dosa dan memejamkan mata. Seokjin ingin marah melihat betapa Yoongi begitu tenang dengan ini semua, maupun kedua pendatang baru yang menurut sama dia. Bahkan mereka berdua belum selesai bicara, namun sekarang ada orang lain?

Apa-apaan orang ini?

"Jadi, seperti yang kubilang, aku membicarakan soal Namjoon."

Kali ini, Yoongi mengarahkan itu pada Hoseok.

"Yoongi-hyung, apa-apaan--"

"Aku bilang pada Seokjin untuk ikut konseling-"

"Apa?! Hyung--"

"Kau juga, kalau butuh, silahkan, Hoseok."

Lalu suasana jadi gelap, tak nyaman. Hanya Yoongi yang tetap nyaman.

"Hyung. Ini bukan bahan bercanda. Ini tidak lucu, hyung."

Hoseok membalas tegas, matanya menyorot Yoongi dalam-dalam, seakan penuh dendam.

"Aku tidak bercanda, tentunya. Aku rasa itu alternatif solusi."

"Apa-apaan... Solusi? Memangnya apa-"

"Masalahnya, Seokjin tidak mau bicara pada salah satupun dari kita. Dia bahkan tidak peduli dengan pemikirannya dan memendam semua saja, apa itu sehat? Aku tahu itu tidak sehat."

Seokjin mengepalkan tangannya dibawah meja, matanya mulai kabur.

Yoongi menebaknya tepat sekali.

"Kalau kau tidak bisa sabar dan membiarkan Seokjin-hyung punya waktunya sendiri, kau tidak perlu repot-repot urus kami semua, Min Yoongi."

"Oh, tentu aku tau kau akan tunggu sekian lama dan Seokjin tidak akan bicara juga, bukan begitu, Seokjin?"

Yoongi sukses membungkam semuanya. Bukan karena mulutnya terlalu sadis, tapi juga karena dia terlalu pandai menebak semuanya, terkesan mengerikan, terkesan orang ini seperti orakel.

Mereka diam disana hampir lima menit, sampai Seokjin rasanya mau memahat ubin dan pergi ke bawah tanah.

"Dengar, aku serius peduli soal ini. Tolong perhatikan baik-baik apa kau perlu bantuan atau butuh batasan untuk diri sendiri, dan bertindak."

Yoongi mengambil jeda, menatap Seokjin yang sudah mau kabur pulang sedari tadi. Dia mengeluarkan jurus terbaiknya untuk menahan yang lebih tua.

"Namjoon selalu berharap ini berakhir bahagia seperti dongeng."

Yoongi menghabiskan kopinya, kemudian melipat tangannya di dada.

Ah, sialan. Dia bawa-bawa nama adiknya.

"Seperti cerita klise yang ujungnya hangat. Dia memulai, tapi tidak berbasil menyelesaikannya."

Namja pucat itu menyorot matanya pada yang lain, menebar senyum tipis. Wajahnya melunak.

Sialan.

"Tidak bisakah kita yang menyelesaikannya dengan cara sendiri?"

Pemuda itu menopangkan dagunya di tangan, memperlihatkan bagian dalam tangannya yang kotor, penuh bekas mengerikan yang tak pernah berhasil Seokjin buat di lengannya. Banyak, berjejer rapi seperti itu sebuah barkode.

Seokjin mungkin tak terlalu mengenal Yoongi. Tapi dia kenal jelas benda apa yang jadi grafir di kulit mulusnya itu.

Seokjin jadi yang pertama berdiri setelah hening merambat terlalu lama, dia tidak memandang mereka atau mengucap salam sama sekali, langsung pergi begitu saja. Yoongi tetap tenang soal itu, menatap Hoseok yang diam dan Jackson yang mengejar Seokjin, kemungkinan mengantarnya sampai pulang.

Dan Hoseok diam, berpikir larut dalam heningnya sebelum Yoongi bersua.

"Dan siapapun jelas tidak berharap sahabatnya berakhir pura-pura bahagia, tentu."

XXX

Hoseok menemui Seokjin pada akhirnya, empat hari setelah Yoongi menyerang mereka. Namja itu terlihat kacau, Hoseok melihat dengan mata kepalanya sendiri soal Seokjin dan kantung matanya, rambutnya yang berantakan, dan dia yang tak fokus selama bekerja hingga dipulangkan karena izin sakit.

Nyatanya, Hoseok menunggui dia di depan mini market, meminta izin untuk mengantarnya pulang. Seokjin menolak untuk bicara, apapun. Karena dia tidak bisa dan tidak mau berpikir. Hoseok menghormati itu.

Dan mereka sama-sama diam saja, berjalan seperti keduanya bisu.

Sedikit rasa tak enak menyerang Seokjin. Hoseok sudah repot-repot datang menemui dia, pastinya anak itu mau membicarakan ulah Yoongi yang menyerang mereka dua hari lalu dan sekarang menghilang dibalik tumpukan tugas.

Seokjin bingung mau berkata apa, sekalipun dia membuka pembicaraan. Otaknya sibuk mengurusi pemikiran dia sendiri, apa yang mau dia lakukan dan saat ini, apa yang harus dia lakukan dengan Hoseok.

"Apa percakapan terakhir Namjoon denganmu?"

Seokjin melepaskannya gamang, membuat Hoseok membatu sebentar, terhenti.

Dan dia langsung tahu kesalahannya.

"Tidak perlu dijawab kalau-"

"Tidak apa."

Seokjin semakin tak enak hati. Mungkin itu hal yang privasi. Sedetik kemudian dia baru berpikir, jika ditanya kembali, dia juga kurang lebih akan mengeluarkan ekspresi yang sama dengan Hoseok.

"Namjoon merengek soal donor organ, masih. Lalu, dia bilang padaku untuk tidak terlalu sedih dengan keadaannya. Katanya, itu...normal."

Ah. Ternyata si bodoh itu benar-benar tidak memikirkan dirinya sendiri.

"Hem... Begitu ya."

Lalu hening kembali menyusup diantara mereka berdua.

Seokjin memang pemutus pembicaraan terbaik, dia yakin dia tidak punya bakat berkomunikasi. Bahkan sepertinya dia memilih topik yang salah sampai suasana jadi lebih dingin daripada sebelumnya.

Sampai didepan rumah keluarga Kim, Hoseok tidak bersuara.

"Gomawo sudah repot-repot sampai kemari. Istirahatlah, Hoseok."

Seokjin mengucapkannya tulus, memandang Hoseok didepan pagar rumahnya yang rendah dan tersenyum tipis. Sorot mata yang lebih muda masih melekat padanya, bahkan setelah Seokjin ingin masuk.

"Hyung."

Hoseok menghentikannya dengan satu panggilan lembut, tegas. Seokjin berbalik kearahnya santai, melemparkan wajah datar padanya, sebelah alis terangkat.

Dan Hoseok diam disana, memandangi dia cukup lama.

"Ho-"

"Aku menyukaimu."

Lalu Seokjin diam.

Dan Hoseok diam. Mereka berdua diam, membatu bersama, terkejut bersamaan, membiarkan Seokjin kebingungan dan rasanya ingin mengumpat. Terakhir kali ada yang mengaku menyayanginya, semua tidak berakhir baik.

"Sebaiknya jangan-"

"Aku paham. Aku tidak mengharapkan balasan apapun dari Seokjin-hyung, kok. Aku hanya ingin kau tau saja."

Hoseok membalasnya dengan senyum cerah, menatap Seokjin tulus dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Aku tidak mengatakan ini untuk mengisi posisi Namjoon. Aku mengatakan ini sebagai diriku sendiri. Bukan seorang kawan yang diminta Namjoon untuk menjagamu atau Taehyung."

Lalu hening panjang. Seokjin terpaku di depan rumahnya, bingung harus berkata apa, bingung harus berbuat apa. Kepalanya penuh umpatan kenapa dia dicintai banyak orang.

"Hoseok. Jangan-"

"Awalnya aku benci denganmu. Tapi Namjoon membuka mataku kalau Seokjin-hyung tidak salah dan hanya butuh orang lain untuk mengasihi dia. Dan aku ingin jadi bagian dati itu, hanya tak paham bagaimana caranya."

Dan tak paham bagaimana bisa aku mencintai orang yang sama dengan Namjoon, bahkan tertangkap basah.

"Aku menetapkan batas biar tidak terang-terangan mencintaimu, karena kau tahu... Namjoon juga-"

Hoseok menghentikan perkataannya saat pintu pagar ditutup, dan Seokjin yang berdiri di baliknya, meremat teralis dengan tangan bergetar, wajah kosong.

"Bisakah kita tidak membicarakan ini-"

Seokjin tidak mau mendengar Hoseok dan pengakuannya. Dia tidak suka mendengar kata-kata seperti itu, dia tak pantas.

Sementara Hoseok tersenyum, meremat tangannya agar dia tidak pergi dari tempat biarpun Seokjin mengerutkan dahi dan terlihat mau pecah begitu.

"Hyung-"

"Aku rasa Hoseok lebih tahu aku tidak menyukai hal ini. Dan maaf, aku tidak pernah bisa membalas semua kebaikan atau perasaanmu. Jangan mencintaiku, Hoseok. Dari semua orang, tolong jangan mencintaiku. Aku tidak paham cara membalas yang kau maksud itu apa, atau bahkan mengertipun tidak. Jadi tolong jangan-"

Seokjin jujur dengan bingungnya. Dia tau itu akan mengagetkan Hoseok, tapi dia harus mengucapnya.

Hoseok mendekatkan wajahnya, membuat Seokjin panik dan menutup mata. Dia masih meremat teralis, makin kuat.

Namja itu menyisakan jarak kurang dari tiga senti diantara wajah mereka. Dia tidak melakukan apapun pada Seokjin. Dia hanya menempelkan dahinya dengan yang lebih tua, mengatupkan kedua tangan di pipi Seokjin yang mengurus dan berbagi sisa respirasi di udara dingin.

"Aku bahkan tidak meminta dibalas, Seokjin-hyung bodoh. Jangan kaku begitu."

Dan dia menepuk pipi Seokjin kuat-kuat.

Seokjin kaget, tentu. Sisa-sisa lemak di pipinya membuat wajahnya bergetar. Pipinya pasti merah sekarang. Dan Hoseok menatapnya seakan itu bukan masalah, tersenyum seribu watt yang buat dia silau setengah mati, mau memejamkan mata saja rasanya.

Hoseok melepaskannya, membuat Seokjin reflek mundur berapa langkah. Hoseok terhitung baru saja menyerangnya secara fisik sekarang, dan wajarnya dia gemetar seperti bagaimana Namjoon melakukan itu dulu. Namun dia tidak.

"Hah, lega juga mengatakannya."

Hoseok sudah kembali santai, menggosokkan tangannya yang dingin satu sama lain dan tersenyum ringan, Seokjin menangkap betapa ringan anak itu tersenyum sekarang.

"Aku bukan menembakmu, Seokjin-hyung. Aku bukan tipe yang menembak seperti itu, santai saja."

Bahkan Hoseok bisa langsung bercanda.

"Yah, sedih sih, ditolak mentah-mentah bahkan belum menembak. Tapi aku memang tidak pernah berharap Seokjin-hyung mau balas mencintaiku. Toh, aku maunya kau terbuka dan mengeluarkan semua bebanmu. Kalau jadi teman lebih nyaman untukmu, aku ingin jadi teman saja."

Seokjin rasa ini salah. Hoseok seharusnya tidak mengeluarkan respon seperti ini.

"Aku mau Seokjin-hyung tau, kau pantas dicintai, ya, bukan selalu secara romantis. Kau punya hak, kok. Jadi, tolong juga lakukan itu untuk dirimu sendiri, sebelum orang lain melakukannya."

Seokjin tercekat.

Dia mengigit lidahnya sendiri.

Hoseok masih tersenyum dihadapannya, kali ini lebih lembut. Dia tetap menjaga jarak dengan yang lebih tua, menatapnya lurus tepat di mata.

"Sepertinya itu yang mau Namjoon tunjukkan padamu, Hyung."

Hoseok menyorot matanya ke blokade jalan, menyimpan lagi kedua telapak tangannya yang mulai membeku di saku jaket. Mengucapkan selamat tinggal pada Seokjin yang diam didepan pagar, otaknya mampet dan tak bisa lancar berpikir.

Jika mau menghitung, dia inginnya menghitung Hoseok menyerang dia, tidak beda dari Yoongi, tapi ini rasanya berbeda.

Hangat.

Seperti Namjoon kembali memeluknya dari belakang kuat-kuat.

Seokjin cepat-cepat masuk kerumahnya, masuk ke kamar yang lebih muda dan melemparkan dirinya ke ranjang Namjoon.

Sialan Hoseok, Yoongi dan orang-orang itu.

Kenapa mereka memberikan dia pernyataan seakan dia pantas dicintai? Kenapa mereka memaksanya berpikir kalau dia pantas mencintai, bahkan kepada dirinya sendiri?

Padahal Seokjin pikir akan lebih mudah kalau dia terus beranggapan tidak tahu apapun dan tidak peduli apapun.

Kenapa semua orang menganggap dia penting saat dia sendiri bahkan mau melempar hidupnya jauh-jauh dari kehidupan?

Sialan.

Seokjin jadi kecewa pada dirinya sendiri.

Atas ketidaksanggupannya mengerti, ketidakpahamannya berbuat, kepada dirinya yang membatasi untuk tak membalas atau mengucap.

Sialan.

Dari semua hal yang ditinggalkan, Seokjin meratap karena adiknya meninggalkan orang-orang yang mencintai dia kepada Seokjin, padahal dia tak pantas menerima apapun dan tidak baik buatnya menerima apapun.

Rasanya sesak, tapi hangat.

'Sialan, Namjoon.'

XXX

Hari itu, Hoseok tidak berhenti menggabiskan uangnya dengan terus naik bus berputar-putar, duduk di dekat jendela.

Dia mengatakannya pada Seokjin.

Dia menyukai Seokjin.

Setelah berpikir keras empat hari soal itu, Hoseok berakhir melewati batasnya yang dia garisi mati-matian. Selama ini yang terpikir darinya hanya bagaimana cara biar namja itu merasakan cinta yang dia dapatkan. Selama ini Hoseok sibuk mengatur itu, kepada Namjoon, kepada kakaknya dan adiknya.

Kalau dipikir mungkin dia terobsesi dengan Namjoon atau apalah itu.

Hoseok menutup bibirnya dan memangku wajah di jendela bus. Untung moda ini cukup sepi, mengingat hari juga sudah malam.

Sejam pertama dia mengutuk betapa goblok dia terang-terangan bicara dan melewati batasnya sendiri, bahkan Hoseok berkali-kali ingin putar balik dan menjelaskan, hingga dia sadar tidak ada yang bisa dijelaskan lagi kalau dia mengeluarkan semuanya segamblang itu.

Hingga akhirnya dia menerima kenyataan dia tak bisa menarik kembali apa yang sudah keluar.

Hoseok menghela napas, menyandarkan kepala di jendela yang kotor, menenangkan kepalanya di kaca dingin itu. Matanya terpejam. Dia mulai mengantuk dan ini mungkin jadi putaran terakhirnya dengan bus kota.

'Jangan memikirkan aku, Hoseok. Maaf selama ini memberi terlalu banyak beban dengan hal-hal aneh yang kubuat.'

Selama ini dia selalu mengikuti arus Namjoon kemana.

Dan menetapkan semua peraturan untuk tidak menyakiti Namjoon atau siapapun diluar lingkarannya. Tapi dia lupa memikirkan porsinya sendiri.

'...jangan mencintaiku, Hoseok. Aku tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan atau perasaanmu.'

Hoseok tahu, kok, kalau dekat dengan Seokjin akan terus membuat orang itu terngiang soal presensi Namjoon. Dia tahu kolerasinya dengan Namjoon sangat kuat dalam kepala Seokjin, dan namja itu tentu tidak bisa mencintainya biarpun mereka menarik pelatuk yang sama di otak Seokjin.

Hoseok paham dari dulu, sekalipun mencintai Seokjin dia tak akan dibalas.

"Hhhah..."

Dia ditampari kenyataan kalau sekuat apapun dia berusaha, Namjoon dalam kepala Seokjin adalah Namjoon, bukan dirinya dan tidak akan bisa dia substitusikan. Hoseok cuma pemain tambahan, dan sekarang saatnya dia berhenti, kembali menjalankan peran utama dalam ceritanya.

Seperti yang Yoongi bilang.

Namjoon tidak mengikat dia dengan apapun. Sekalipun anak itu ingin menitipkan sesuatu, dia ingin semua lepas dari bayang-bagang dia dan menjadi pribadi mereka sendiri, terlepas dari namanya.

Itu yang terus membuat dia menjauh di akhir ceritanya, paham kalau dia tak kuasa menentukan akhir bahagia dengan caranya sendiri.

Si bodoh Kim Namjoon dan pemikirannya yang membuat dia sakit hati. Padahal, Hoseok tidak pernah berpikir seperti itu.

Sakit juga, ternyata.

Mengetahui kalau dia tidak paham betul maunya Namjoon dan malah egois mengintepretasikan keinginannya, padahal dia kira dengan ini Namjoon bahagia.

Sakit juga,

Mengucapkan semua kejujuran dari mulutnya kepada Seokjin, dan ditolak mentah-mentah.

Sakit juga,

Menyadari kalau dia selama ini sama tololnya dan mengacaukan dirinya sendiri sebegitu dalam.

Hatinya terus bersorak dia mencintai Seokjin, dia juga menyayangi Namjoon. Dia ingin mereka bahagia. Lalu ada suara lain yang berbisik keras padanya, kalau dia melupakan porsinya sendiri dan hidup tidak menjadi dirinya.

Hoseok menutup wajahnya, membiarkan bisikan itu menghantui dia, menahan nafas sampai tercekat sendiri dan menelan semua segukannya. Membiarkan pipinya basah sendiri dan tidak mau berhenti.

Dia terlalu terlambat untuk menyadari, dia juga menyakiti dirinya sendiri.

Dan sekarang bagian ini sudah usai, harus dilepas sekuat apapun dia akan rindu.

XXX

Pada akhirnya mereka memilih banyak hal sendiri.

Hari-hari yang terlewatkan sudah tidak tercatat lagi, semua terasa mengalir begitu saja seperti air. Suasana perlahan meleleh, masing-masing bisa mengeluarkan diri mereka sendiri seiring waktu.

Taehyung masuk sekolah asrama, ini jadi perdebatan panjang nan drama luar biasa dari Jihye dan ayahnya, dan anak itu sendiri, bahkan menyangkut Jimin. Anak itu masuk asrama sejak sekolah menengah dan pulang rutin seminggu sekali, selalu membawa cerita-cerita seru kepada Seokjin. Dia tersenyum tulus, benar-benar lepas seakan mereka memang dekat sejak dulu.

Hoseok melanjutkan pendidikan psikologi, ini mengejutkan dan tidak. Seakan Seokjin sendiri sudah mencium bau-bau anak itu mau kerja di bidang kesehatan. Semua orang mendukung kuat Hoseok, membuat dia makin membara dan mencari beasiswa kemana-mana. Waktunya tidak panjang untuk persiapan universitas, tapi Hoseok berhasil mendapatkannya dan mereka pesta daging waktu anak itu dapat satu. Kemudian, pindah kota untuk melanjutkan studi pilihannya itu.

Jackson tak lanjut kuliah. Dia melanjutkan bisnis kecil ayahnya dan bolak-balik Hongkong-Korea. Anak itu selalu bilang bisnis kecil, tapi hampir tiap berapa bulan kerjanya bolak-balik dua negara seperti konglomerat. Sampai saat ini, tidak ada yang tau sebenarnya perusahaan apa dan se-kaya apa keluarganya, dan tidak ada juga yang peduli.

Yoongi, melanjutkan kuliah, tentunya. Mereka sering bertemu di toko kopi, omongannya ringan, seputar sambat soal professor dan sistem kuliahnya, atau anak-anak organisasi yang sama anjingnya dengan orang kampus. Kadang kalau Yoongi sedang gila, dia akan mengajak Seokjin melakukan hal-hal lucu seperti memancing atau berkebun--yang entah kenapa juga membuatnya tenang. Selera Yoongi kuno, memang. Tapi melihat anaknya emo begitu, jadi lucu melihatnya.

Lalu, Seokjin,

Tetap jadi Seokjin.

Rutin mengunjungi orang-orang mati, hening lama didepan pusara mereka, lalu pulang tanpa suara, sendirian. Dia menjaga jarak dari semuanya, melakukan semua hal sesuka hatinya, masih menjalani hidupnya.

Beberapa kali dia mendaftarkan diri jadi relawan kegiatan sosial. Tidak dapat apa-apa, memang. Tapi kadang dia menyukai itu, terutama kalau ada anak-anak.

Dia masih sering berganti-ganti kerja. Mulai dari kasir sampai pramuniaga, atau apapun yang menerima dia kerja dan menghasilkan uang untuk membantunya hidup sendiri. Seokjin belum sanggup beli apartemen sendiri, masih tinggal dengan orangtuanya biarpun sudah melewati umur legal, dan keduanya juga tak masalah dengan itu. Seokjin bersyukur ayahnya tidak marah waktu tau dia tak bisa memenuhi ekspektasi untuk hidup sebagaimana keren nya sebagai perwira. Dia bersyukur ayahnya terus menanyakan apa dia mau kuliah atau kursus pelatihan. Dia bersyukur ayahnya juga tidak mendesak dia.

Termaksud menerima bahwa Seokjin mau membantu diri sendiri dengan sesi-sesi di akhir pekan.

Kadang Seokjin masih berputar pada pikirannya sendiri.

Namun sedikit banyak dia mulai mengerti.

Tidak pernah terpikir Namjoon akan muncul dikepalanya dan menyiratkan hal seperti ini padanya.

Menjalani hidup, maksudnya.

Soal rasa ingin tahu apa yang akan dia buat esok pagi. Soal pemikiran untuk menyusun jadwal hari ini, atau percaya kalau dia boleh melakukan dua hal itu sebagai kebiasaan normal dan mengambil jeda untuk nafasnya, tidak peduli berapa lama.

Aku ingin melihat jalan yang kalian pilih tanpa mengikatkan seorangpun pada yang lain.

Aku ingin kalian berdiri di garis yang kalian ukir sendiri.

Soal pengertian bahwa ini belum usai dan masih selalu ada waktu untuk memperbaiki.

XXX

; (Semi-Colon)

Tanda yang dipergunakan untuk mengganti sebuah kata hubung. Sebuah pemisah akan bagian yang telah usai diikuti bagian yang terus berjalan jadi satu kesatuan.

Sebuah tanda magis yang mengakhiri, namun menunjukkan kelanjutan.

Sebuah tanda yang digunakan penulis akan indikasi, bahwa kalimat belum usai, bahwa cerita yang tersisa belum terbenam.

Sebuah harapan dibalik akhir akan dimulai suatu frasa baru;

a/n

huawfrfrfepspspspspspspspspssss author notenya... terpisah guys aku mau ngerant , hehehe

silahkan... yang pernah baca diyh di tahun 2017-2018 lalu, dipersilahkan waktu dan tempatnya untuk menggaruk saya.

Regards,

chii.