Mungkin kau tidak akan dengar kisah ini dari siapapun. Mungkin kau tidak akan tahu dan terlarut dalam kesedihan. Ya, aku tahu. Salahku juga.

Hyung, kau perlu tau. Aku sangat, sangat menginginkan ini. Tolong jangan menyesali apapun.

Aku selalu ingin pergi.

Kau tidak memotong atau merampas apapun.

XXX

Deep in Your Heart : Special Chapter

Namjoon POV (1/2)

by. chii

p.s.

selamat... menangis?

yes, ini bakalan sedih, kyk, sedih dan drama dan sinetron ala ala. so yes, pokoknya aku berharap ini cukup sedih(?)

ohh, nomor yg ada di awal section itu... ada artinya :)

oh warning : kalo ada yg di awal paragraf tanda (*) dan tulisan setelahnya italic, itu Trigger Warning, diakhiri sama tanda (*)

Buat reader... yang sensitif trhdp topik2 self-harm, suicide dan sejenis, mohon jangan membaca ini ya :( aku jg bakal berusaha kroscek-in yang trigger2 lainnya.

aku g pernah kasi t/w sblmnya, tp ntah ngapa, aku rasa haruusnya aku kasi ya ? stlh baca ulang diyh 1-16 :(

XXX

7.

Namjoon tidak pernah tidak membenci Seokjin.

Sejak awal dia tau Seokjin yang 'membangkitkan' penyakit sialan dalam tubuhnya dan membuat ini semakin parah, dia tidak pernah menyukai Seokjin.

Kakaknya kasar, mulutnya seperti makan sampah. Dan namja itu kerjanya cuma siap-siap main tangan kalau lihat wajahnya. Namjoon sangat ingin membalas Seokjin sejak dulu, entah itu memukuli kepalanya sampai berdarah atau bahkan mendorong dia jatuh dari tangga, apapun.

Dia tumbuh dengan kebencian bertahun-tahun yang mengakar di hatinya, sialan, bunga hasil apa yang dia tanam berbalik menyerang dia habis-habisan.

Ini bermula waktu Namjoon mengambil dokumen ayahnya yang tertinggal, dan mengintip satu map lain yang menjungkir-balikkan dunianya.

XXX

7.

Namjoon bahkan tak bisa mengatur ekspresi dan emosi.

Berapa hari lalu, dia menemukan fakta ngeri kalau seseorang dirumah ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan keluarga Kim.

Sesaat setelah pandang ayahnya, ada suatu hasrat dimana ia ingin teriak, memaki, bahkan juga mungkin menyalahkan kenapa sang ayah menyembunyikan kertas omong kosong itu dalam ruang kerjanya. Jujur bahkan sebenarnya Namjoon ingin meminta penjelasan, melihat bagaimana reaksi pria itu kala dia tahu, putranya menemukan surat adopsi atas namanya dan nama sang ayah.

Namun jangankan untuk mengeluarkan pertanyaan, Namjoon bahkan tak bisa berpikir jernih untuk sesaat. seperti ada sekumpulan kabut memenuhi kepalanya, terus menggumpal terbang-terbang disana dan berputar tanpa ada kejelasan.

Namjoon tak bisa tidak menampilkan wajah curiga pada setiap orang, sampai ibunya terheran-heran dan terus menanyai apa yang dia rasakan sampai memasang wajah seperti itu. Namjoon tak menjawab, hanya menggeleng dan bilang tidak, lalu cepat-cepat buang muka dari mereka semua, baik orangtuanya, Seokjin maupun adiknya yang polos.

Dia butuh jawaban, namun tak ada nyali untuk bertanya. Lantas, jawaban apa yang kira-kira harus dia tunggu?

Bagaimana kalau jawaban yang ia butuhkan ternyata tak pernah ada, hanya ekspektasi dibalik kenyataan yang terlalu menyedihkan sampai ditutupi seperti itu? Bagaimana kalau ia akan menghancurkan segalanya, bahkan dirinya sendiri dan keluarganya hanya dengan perkataan 'Aku ini anak siapa' dan membuat ibu ayahnya sakit hati luar biasa?

Bagaimana kalau kemarin itu Namjoon hanya salah lihat, yang ada di amplop itu bukan namanya.

Mungkin nama saudaranya yang lain.

Namjoon terus memikirkan itu tanpa henti. Otaknya yang baru berkembang mengenai dunia luar dan segala macam kekejamannya yang aneh-aneh terasa baru ditembak peluru dan dipaksa dijahit. Sakit kepala memikirkan hal itu.

Namjoon tahu jelas dia tak mungkin mengatakan Taehyung anak adopsi ayahnya. Dia lihat dengan mata kepalanya sendiri adiknya itu keluar setengah mati susahnya di akhir tahun dari perut ibunya.

Namjoon tahu sejak awal dia ingin menuduh Seokjin.

Dia tahu hanya Seokjin yang bisa ia tuduh dan ia jadikan rasa lega. Namjoon tak pernah tahu bagaimana Seokjin lahir. Anak itu tentu lahir duluan karena ia kakaknya. Namjoon juga tak pernah tahu Seokjin itu bagaimana karena memang sejak dia dijahili sama kakaknya, Namjoon perlahan menjauh. Dia tidak mau menambah masalahnya sendiri. Sudah cukup dia merasa sebal karena tubuhnya yang sulit diajak kompromi di setiap saat. Mengurusi Seokjin hanya akan menambah beban dan membuat dia merasa dia itu sial sekali.

Kembali pada tekadnya, Namjoon sangat penasaran dengan apa yang disembunyikan keluarga ini.

Dia ingin memastikannya sekali lagi.

Bukan,

Dia harus memastikannya sekali lagi.

Itu jam sebelas, dan Namjoon dengan kakinya yang kedinginan tergopoh-gopoh naik keatas. Sebelum naikpun dadanya sudah berdebar lantaran gelisah berlebih. Tiap naik dua tangga dan memacu kaki lebih keatas, rasanya makin mencekik. Tapi Namjoon tahu hal seperti ini lazim karena dia sendiri sedang berdebar, dan dia bertekad harus memastikannya baik-baik.

Dan menerima apapun yang ada diatas sana.

Matanya beradaptasi cepat dengan kegelapan ruangan, meraba-raba sakelar lampu dan masuk kedalam tanpa menutup pintu. Semua orang telah tidur malam begini, pasti. Dia tak perlu khawatir. Ayahnyapun sudah masuk kamar sejak sejam lalu.

Posisi dokumennya telah berubah. Itu yang Namjoon sadari. Tak ada lagi map warna-warni ditumpukan, tak ada lagi map coklat ditumpuk asal. Matanya hanya menangkap ruang kerja yang bersih dan map tersusun rapi sesuai alphabet

Butuh waktu baginya untuk menemukan deretan map warna yang disusun acak dibagian atas, dimana dia tak bisa meraih satupun dari map itu.

Diacak. Susunannya dipindah. Semuanya tidak bisa dia jangkau.

Ayahnya sudah tahu.

Tangan ringkihnya berhenti berusaha meraih rentetan map biru targetnya. Matanya menyorot kebawah sambil memikirkan kemungkinan bila ayahnya sudah tahu semua ini. Pria itu terlatih menganalisa kasus dan dituntut teliti dalam mengurusi apapun, tentu menangkap Namjoon bukan hal sulit.

"Aku tahu kau akan kembali kemari."

Mendengar suara berat ayahnya yang berdengung tenang membuat darahnya terasa disedot habis secara instan.

"Surat apa yang kau baca, dan kenapa membacanya?"

Namjoon tidak mengerti kenapa ayahnya terdengar marah. Ia juga tak paham kenapa dia takut setengah mati saat ayahnya datang. Bahkan harusnya pria itu yang takut setengah mati dia mintai penjelasan, dan Namjoon adalah pihak yang marah.

Namun disini dia, tergugu, menyusun kata diotaknya tanpa menemukan titik selesai.

"Kim Namjoon, aku bertanya padamu. Dokumen apa yang kau baca?"

Butuh keheningan lama yang menyusup diantara mereka. Namjoon tahu ayahnya berusaha mengontrol diri agar dia tidak terlampau terkejut. Namun memikirkan kata-kata apa yang harus keluar dari bibirnya saja sudah membuat sakitnya merambat sampai ketiak kiri.

Namjoon berusaha tenang, berusaha menanamkan kalau dia tak salah, berusah terdengar memaksa atas jawaban. Dia harus menunjukkan tekadnya. Toh, dia tak salah. Jika harus disembunyikan, diapun akan menyembunyikan.

"A-aku... aku baca surat adopsi."

Mengatakan kejujuran ragu-ragu, Namjoon memberanikan diri mematap ayahnya yang tajam, namun dibaliknya kosong seperti bola tanpa isi.

"Karena kertasnya jatuh, dan aku membacanya, surat adopsi anak... surat adopsi appa atas seorang anak."

Namjoon tak menyebutkan namanya. Dia ingin melihat reaksi sang ayah dan menyerang kembali. Melihat wajah stagnan ayahnya yang tidak berubah, sedingin kolam, tidak ada amarah, membuat Namjoon diyakinkan tanpa suara.

Dia tak salah baca

Yang ada di atas kertas itu benar. Itu namanya.

Ayahnya sampai membeku memandangi dia. Berarti dia tak salah.

"Aku... bukan anak appa, ya?"

Tetap mengatakannya santun, Namjoon menahan panas yang menjalar dibagian bawah kantung matanya. Berharap sang ayah menyangkal, atau marah padanya karena dia berkata sembarangan.

Namun yang ia dapat hanya keheningan dan ekspresi yang sama.

"Sekarang aku sudah tau. Terserah... kenapapun itu. Tapi, apa appa bisa tetap menjadikannya rahasia?"

Namjoon sendirilah yang paling menyesal, karena ia terlalu ceroboh dan ingin ikut campur urusan orang, lalu membuat dirinya sendiri dihantui.

XXX

7.

Hal kedua yang paling dia benci adalah kenyataan bahwa ia bahkan tak ada hak untuk mengontrol tubuhnya sendiri.

Dokter selalu bilang,

"Tenangkan dirimu, dan jangan banyak pikiran. Semua akan baik-baik saja."

Bilang omong kosong ini dengan wajah seolah-olah mengerti apa yang ada di kepalanya. Namjoon tak paham berapa banyak kata itu terlempar dan berapa banyak dia membuang uang ayahnya karena bolak-balik rumah sakit.

Kenapa dia sangat lemah, kenapa juga dia harus seperti ini. Kenapa juga dia memikirkan banyak hal yang seharusnya tak dia pikirkan dan mestinya jadi urusan orangtuanya.

Makin lama dia sendiri juga tidak mengerti tubuh dan kinerja jantungnya. Bukan hanya merasa terbebani dengan rasa sakit yang sebentar. Seiring berjalannya waktu, semua terasa begitu berat buatnya, dan terasa berkepanjangan.

Dokter Jung bilang ia harus rutin minum obat mulai saat itu. Namjoon menolak. Biar dia sudah jadi remaja, tentunya obat adalah hal yang paling menyebalkan dan sulit ditelan.

Mengerikan.

Namjoon tak terlalu suka pada kenyataan dia selalu jadi yang menyusahkan semua orang. Dia selalu benci bagaimana melihat ayah ibunya kesulitan mengatur keuangan. Karena mau bagaimana juga, dia mengerti jelas, mereka melalui ini sama sulitnya dengan dia.

Namun tetap meminta yang terbaik buatnya.

Padahal yang membiayaipun juga bukan ayah kandungnya.

Namjoon tak pernah menyinggung itu didepan appanya lagi. Setelah tahu dia memang 'diadopsi' , Namjoon berusaha menutup mata dan menganggap semuanya tetap sama, biarpun semuanya terasa mengganjal. Dia tak ingin membahas apapun biar dalam hatinya dia merasa ini tak benar.

Terkadang dia pikir dalam kepalanya sendiri, apa Seokjin tahu hal ini? Apa Seokjin tahu bahkan mereka tidak satu-ibu satu-bapak, sehingga dia tak perlu menganggap Namjoon saudara karena mereka memang bukan saudara? Apa Seokjin selama ini menjelaskan terang-terangan kalau mereka bukan dan tidak akan pernah jadi saudara?

Kalau ia, apa perasaan Seokjin waktu tahu hal ini pertama kali?

Apa orang itu juga merasakan sakit ?

Namjoon tidak pernah mengerti kenapa dia terus dihantui pertanyaan ini sekalipun dia tak pernah bicara pada Seokjin selebih dari mengajaknya makan malam.

XXX

6.

Tahun ini jadi pertama kalinya Namjoon mengerti apa itu kematian, secara nyata.

Ibunya Hoseok.

Kecelakaan, waktu pulang tugas malam. Namjoon dan keluarganya dipanggil ke rumah sakit pagi buta, namun saat dia sampai, wanita itu sudah kaku, dingin ada di ruang mayat.

Ibunya hampir pingsan melihat sobatnya begitu. Orang pertama yang didekapnya adalah Jiwoo. Membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya biar wajahnya sudah bengap.

Hoseok tidak mengeluarkan suara apapun waktu itu, dia diam saja, bahkan saat Namjoon menepuknya. Hoseok menangis, dia tau. Hoseok menangis dan tidak mengeluarkan suara apapun.

Ibunya pergi tanpa berpesan sama sekali, ibunya pergi tiba-tiba. Padahal, pagi kemarin dia masih menyiapkan sarapan untuk satu rumah.

Namjoon tidak mengerti apa yang harus dia perbuat. Dia tak terlalu paham apa yang harus dia katakan. Dia hanya diam, membiarkan Hoseok menangis didepannya tanpa suara.

Tidak ada sengukan atau apapun, Hoseok hanya bergetar dalam diam. Namun rasanya itu lebih pedih daripada Jiwoo yang histeris.

Dadanya sesak. Tapi ini bukan waktunya dia mengeluh.

Dadanya sesak, pikirnya berjalan kemana-mana. Orang pertama yang dia ingat perihal ini adalah Seokjin.

Seokjin dan bagaimana dulu dia menghadapi kematian... ibunya.

Sesak.

XXX

6.

"Namjoon, belakangan, kondisimu menurun drastis. Apa ada yang mengganggu pikiran?"

Namjoon menatap Dokternya dengan tenang. Dia diminta menghadap yang lebih tua sendiri, setelah pria itu mengusir ibunya. Sebelum mengatakan itu, ahjussi ini sudah memastikan dia kalau baik adanya buat dia bicara, ada masalah apa dipikirannya.

"Apa Namjoon-ah tidak mau berbagi dengan ahjussi?"

Dokter Jung tersenyum pada dia, terlepas dari kejadian beberapa bulan lalu. Dia tetap menatap Namjoon lembut terlepas dari kepergian sang istri yang dia cintai.

"Apa ahjussi baik-baik saja?"

Mendengar pertanyaan polos Namjoon, pria itu terkejut sedikit. Dia menepuk kepala bocah dihadapannya, kemudian mengangguk yakin.

"Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir, Namjoon. Kehilangan memang sedih, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun kalau memang sudah waktunya, kan?"

Namjoon tidak menjawab, larut dalam pikirannya sendiri.

Dalam hatinya dia mencemooh karena orang dewasa terlihat baik-baik saja dengan hal seperti ini.

Pria tua itu memandangnya khawatir.

"Namjoon-ah khawatir dengan Hoseok soal masalah ini?"

Namjoon mengangguk.

Dan dokternya tersenyum melihat penuturan jujur bocah itu.

"Hoseok terlihat... Tidak baik."

"Hoseok masih terpukul, dan itu hal yang lumrah dia rasakan. Tolong beri dia waktu, nde? Hoseok akan baik-baik saja nanti, Namjoon-ah, terus ada disampingnya, ya?"

Namjoon mengangguk, tidak menatap mata yang lebih tua sama sekali.

Hoseok sedang terpukul. Karena itu dia terasa berbeda.

Dan Seokjin selalu bersikap seperti itu, seperti saat ibunya meninggal. Itu terus berlanjut dan semakin parah semakin hari.

Dia takut Hoseok akan menjadi sama dengan Seokjin.

Bukan.

Dia takut dia membuat Hoseok jadi sama seperti Seokjin kalau dia tetap bersama dengannya.

"Namjoon-ah!"

Namjoon menampik pikirannya, menatap dokter itu dengan raut wajah yang sulit diartikan. Pria itu membalas dia, bertambah khawatir.

Dan keduanya diam, sampai Jihye kembali ke kamar konsultasi, setelah sesi dinyatakan habis.

Namjoon menyimpan pertanyaan yang tak pernah berani dia ucapkan waktu itu.

Kalau dia mati, efek apa yang akan membekas pada Seokjin atau Hoseok? Apa orangtuanya tidak akan kenapa-kenapa?

XXX

5.

Setiap hari, kerjanya dia hanya memikirkan bagaimana Hoseok dan perkembangannya saat ini, sampai kepalanya pening sendiri.

Hoseok menjadi lebih dingin, jauh. Dia seperti banyak menyimpan rasa.

Persis seperti Seokjin.

Namjoon benci dengan opininya yang menyamakan dua orang itu. Mereka berdua berlawanan, Hoseok tidak seperti Seokjin. Dia ingin mempercayai itu. Hoseok orang baik, dan dia akan tetap jadi baik.

Dan benar, Hoseok perlahan pulih setelah dia menerima kematian ibunya, lapang dada, lupakan dendam.

Namjoon senang melihat kawannya membaik. Dia senang bisa bersama Hoseok yang dulu lagi dan menjalani sekolah menengahnya dengan dia.

Saat semua dipikir membaik, penyakitnya membuat ulah.

Dia mulai lelah harus terus menerus menjadikan kontrol sebagai hal normal yang rutin dilakukan. Adalah hal yang normal menggunakan infus, dan hal yang normal meminum obat dalam jumlah banyak. Dia benci obat dan kewajibannya untuk mengkonsumsi itu seakan itu makanan utama yang tak boleh dilewatkan.

Dia mulai lelah waktu banyak orang memandang dia iri, kasihan dan mengolok-olok dia yang di spesialkan di sekolah.

Dia mulai mengerti rasanya di caci maki, bahkan secara tak langsung.

Keadaan rumah juga tidak membantu. Seokjin semakin sering membuat masalah. Terakhir, dia mengada-ngada soal ujiannya dan bolos lama sekali sampai di skors dan ibunya dipanggil. Namjoon heran dengan kelakuan Seokjin, kenapa dia begitu dan apa yang ada di pikirannya.

Seperti, hey. Apa dia tidak bisa tidak membuat orang rumah khawatir ?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Namjoon, dan dia selalu mencari waktu yang tepat untuk bicara, biarpun tidak pernah ketemu. Ya, Seokjin kan, selalu menghindari dia.

Sampai Namjoon menemukan kesempatan emas, hanya dia dan Seokjin yang ada dirumah, kedua orangtuanya pergi.

Namjoon pikir itu kesempatan satu-satunya untuk bicara dengan Seokjin baik-baik, tapi ternyata orang itu pergi setelah kedua orangtuanya pergi. Namjoon mengejarnya, bahkan melupakan Taehyung dirumah. Pikirnya, tak apa, toh hanya sebentar. Dia memanggil yang lebih tua terus, pelan-pelan mengikutinya. Tapi Seokjin tidak menoleh.

Ternyata dia pergi jauh sekali.

Orang itu pergi ke arah stasiun kereta. Namjoon sudah mau lari dan meneriaki dia untuk pulang sekarang, tapi waktu melihat dia membeli bunga, pikirannya langsung terhenti.

Seokjin membeli bunga putih. Untuk siapa?

Dia memutuskan untuk mengikuti Seokjin, biarpun tampangnya masih pakai baju rumah dan mungkin dikira gelandangan, dia tetap mengikuti Seokjin.

Hal yang membuat dia terkejut berikutnya adalah, mereka berakhir di pemakaman.

Pemakaman, entah siapa.

Namja itu naik ke atas, dan Namjoon mengikuti dengan susah payah. Dia jarang pergi ke pemakaman, eommanya selalu melarang karena tempat tersebut melelahkan.

Namjoon menebak, ini makam kerabat Seokjin atau terparah, ibunya.

Namjoon bersembunyi, tidak mau mendekati Seokjin atau ketahuan mengikuti dia. Dia baru keluar waktu Seokjin turun.

Namjoon menghadapnya.

Dan Seokjin langsung membelalakkan mata, ekspresinya yang tadi sendu langsung berubah kaget, marah. Dia melepas headsetnya barbar.

"Kau--"

Saat Seokjin sadar ponselnya berbunyi, dia mengutuk. Namja itu mengambilnya, melihat nama ayahnya dan mereka berdua langsung membeku.

XXX

5.

"NAMJOON YANG MENGIKUTIKU, MANA KUTAHU DIA BEGITU?"

"HANYA ANAK TOLOL YANG TIDAK SADAR DIA DIIKUTI, KIM SEOKJIN! KAU MELAKUKANNYA SENGAJA-"

"BICARA SAMA SETAN, APPA TIDAK AKAN PERCAYA APAPUN KALAU AKU YANG BICARA, KAN? TANYA SAMA NAMJOON SANA-"

Lalu berikutnya Seokjin ditampar, dia sampai tersungkur ke sofa dan terlihat menyedihkan.

"A, Appa-"

"Aku tidak memintamu bicara, Namjoon."

Namjoon diam. Ayahnya tidak memperbolehkan dia bicara. Padahal, dia ingin mengaku kalau memang dia yang pergi. Dan meninggalkan Taehyung sendirian dirumah.

"Pergi kemana kau, Kim Seokjin?"

"Memangnya appa percaya kalau aku yang bicara? Konyol!"

Dan Seokjin nyaris ditampar lagi, kalau saja ibunya tidak buru-buru lari ke arah mereka dan menghentikan monster ayahnya. Namjoon mematai bagaimana sang ibu melempar tubuh kecilnya kehadapan Kim Seokmin, ayahnya, dan berusaha menenangkan dia.

"KURANG AJAR MULUTMU, SEOKJIN!"

Namjoon berbalik menyorot Seokjin, setidaknya ingin minta maaf. Sebenci-bencinya dia pada Seokjin , Namjoon paham karena ulahnyalah sang hyung tertangkap, dan dia harus mengakui salahnya.

Tapi yang didapat dari Seokjin hanya wajah bengis, tangan yang mengepal erat seperti niat menonjoknya, dan mata sembab. Pipinya bengkak, dan Seokjin terlihat benar-benar tidak tertolong.

"Apa? Lalu kenapa? Menjelaskan juga appa tidak mau dengar! Yang kau peduli cuma anak itu, kan? Kalau aku tidak pulang juga, kau tidak akan peduli!"

"SUDAH! BERHENTI SEMUANYA!"

Ibunya mengambil alih, menatap bengis ketiga laki-laki dihadapannya dan mengatur napasnya.

"Namjoon, masuk ke kamar. Seokjin juga. Sekarang!"

Sempat ragu menatap ibunya, Namjoon pergi, menapakkan kaki masuk ke dalam kamarnya, sebelum dia lihat Kim Seokjin berlari ke luar rumah dan diteriaki habis-habisan.

Namjoon tahu Seokjin akan dendam padanya gara-gara ini. Harusnya dia minta maaf. Tapi bahkan mengeluarkan sepatah kata saja, Namjoon tidak bisa.

XXX

3.

Sejak itu, semua hal menyedihkan jadi dia hubungkan dengan Seokjin.

Namjoon paranoid, sepertinya. Dia merasa bersalah. Harusnya dia mengakui kesalahan depan ayahnya atau bahkan membela Seokjin. Harusnya dia bilang kalau dia yang salah meninggalkan Taehyung dirumah dan tidak menarik Seokjin pulang.

Hyungnya waktu itu babak belur, ini pertama kalinya dia lihat Seokjin babak belur dan tidak sinis waktu makan pagi. Anak itu bahkan tidak bicara apapun padanya, makin buat Namjoon merasa bersalah.

Mungkin ini waktunya buat dia minta maaf karena selalu memojokkan Seokjin.

Namjoon selalu berpikir begitu, dia harus minta maaf pada Seokjin dan menjaga dia dari ayahnya. Tapi pada kenyataannya, bertahun-tahun lewat, dia bahkan tidak berani bicara pada kakaknya seutas permohonan maaf. Entah gengsi, entah takut respon Seokjin yang akan didapatnya.

Dia hanya bisa melihat Seokjin dan memandangnya dari jauh, perhatikan semua kelakuannya dan sakit hati sendiri kalau berpikir Seokjin jangan-jangan menderita karena dia. Terngiang dikepalanya, dia hanya anak angkat ayahnya, dia tak ada sangkut-pautnya dengan keluarga Kim.

Namjoon merasa seperti ada boks besar yang bertumpuk dihadapannya dan membatasi dia dengan keluarganya. Isinya tak tahu apa, namun boks itu membatasinya.

Memikirkan ini membuatnya sakit sendiri.

Peringatan final yang membuat dia yakin kalau Seokjin dalam bahaya adalah kakak tingkatnya, Min Yoongi.

Waktu itu Namjoon di inapkan dirumah sakit karena ulah bodohnya yang berenang waktu karyawisata. Dia lupa diri, dan dimaki habis-habisan soal ini.

Min Yoongi dan dia tak kenal satu dengan yang lain, sebelumnya. Tidak sebelum orang itu masuk ruang gawat darurat bersimbah darah, dan Namjoon anehnya malam itu berkeliaran diluar bangsal, entah angin apa. Saat melihat pelataran belakang ruang gawat darurat, heboh besar sedang terjadi. Namjoon mengenali seragam SMA Seokjin, tentu saja. Dan dia mengekori orang-orang itu, menyelinap bersama tiang infusnya dan masuk ke dalam kepanikan mereka. Namjoon sudah ahli dan kenal jelas seluk beluk ruang gawat darurat, sampai pintu-pintu alternatifnya. Dan dia benar-benar niat mencari tahu.

Dia ikut campur urusan orang, lagi.

Min Yoongi waktu itu tidak banyak berbeda dengan sesudah-sudahnya. Dia masih namja pucat yang mengerikan, hanya saja malam itu lebih menyedihkan.

Kakak dari anak itu mondar mandir tidak karuan, panik melihat adiknya terkapar dengan lengan bagian dalam yang habis disayat-sayat. Dua luka besar menganga di kedua tangannya, membuat Namjoon merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuh, padahal dia hanya lihat dari jauh.

*

Mungkin Namjoon hanya lihat dari jauh sambil mengumpat-umpat, tapi dia menangkap jelas semua prosedur yang mereka lakukan pada tubuh kurus Min Yoongi. Namja itu membuka matanya, dan Namjoon sendiri sejujurnya ngeri dengan keadaan Min Yoongi.

Tapi Min Yoongi, yang kepalanya sudah terkulai lemas, menatap kosong tirai disampingnya dan tersenyum sinis.

Seakan dia menikmati rasa sakit yang didapat.

XXX

Dan entah keajaiban apa, berikutnya yang Namjoon tahu, dia dan Yoongi ada di satu bangsal kelas dua. Mereka hanya berdua di ruangan itu, Namjoon dekat dengan toilet, dan Yoongi di ujung dekat jendela. Mereka tidak pernah bicara, hanya Jihye yang beberapa kali menawarkan buah pada anak yang seumuran putranya itu, dibalas bisu oleh Yoongi.

Karena dia mengintip malam-malam waktu Yoongi masuk, Namjoon jadi merasa canggung.

Kalau malam dia terbangun, dia melihat Yoongi masih terjaga, memandangi kedua tangannya yang dibebat perban heboh dan kantung transfusi darah yang membuat punggung tangannya bengkak. Jika tak salah ingat, Yoongi mendapat banyak kantung di tiga hari pertamanya, dan anak itu mengumpat semua isi kebun binatang dihari keempatnya.

Namjoon bersyukur mendengar Yoongi bicara waktu itu.

"Um, hei, hyung.."

Namjoon memulai percakapan di hari keempat, memanggil Yoongi tanpa menyerah dari pagi sampai subuh. Yoongi pura-pura tidur, dia tahu. Yoongi tidak pernah memejamkan mata selama dia tahu disini, dan waktu dipanggil orang, dia langsung pura-pura tidur.

"Min Yoongi-ssi?"

"Yoongi-ssi? Aku tahu kau dengar?"

"Yoongi-hyung?"

Namjoon tidak menyerah memanggil, sampai Yoongi membuka mata pukul dua pagi, membalas Namjoon dengan kerlingan tajam sementara yang lebih muda masih mengantuk karena baru terjaga.

"Ah! Kau bangun!"

Namjoon terkejut waktu Yoongi membalas tatapannya. Dia langsung sadar dan memposisikan dirinya senyaman mungkin, sementara Yoongi siap pura-pura tidur lagi.

"Aku tahu kau tidak tidur. Lagipula jika iya, seharian ini kerjamu tidur, Yoongi-ssi. Saatnya bangun, jangan tidur terlalu lama!"

Yoongi berniat mengacuhkan suara serak Namjoon, dan kembali pura-pura tidur, sebelum lampu menyala terang benderang dan menyakiti mata kecilnya, juga Kim Namjoon disamping ranjangnya.

Sialan perbuatan Namjoon itu, kepalanya jadi pening luar biasa. Yoongi refleks menutup matanya dengan lengan, double sial, selang infusnya tertarik cukup kencang.

"BANGSAT!"

Namjoon langsung cepat-cepat memegang tangan Yoongi yang dia jauhkan dari tubuhnya sendiri, mengelus bagian yang tertarik dengan pijatan kecil disekitarnya. Implusif, tentu. Dia paham betapa sakitnya kalau benda itu tertarik tanpa sengaja, sampai Yoongi gemetar dan menjauhkan tangannya pula.

Rupanya dia masih merasakan sakit.

Nafas Yoongi memburu, menahan diri untuk tidak teriak waktu ngilu merajam tangannya tanpa ampun. Sialan, benda itu kecil, namun sanggup membuat bulu kuduknya meremang lebih parah dibanding luka kemarin.

Namjoon masih melakukan refleknya, sampai Yoongi menarik tangannya dan mengerling bocah yang lebih muda.

"Apa maumu, bocah sialan?"

Wow.

Luarbiasa sekali mulut orang ini.

Namjoon rasanya ingin marah, dia mau menekan tangan Yoongi saja sampai orang itu rasanya mau mampus. Dia pikir Min Yoongi hanya akan mengumpat dibelakang orang, namun ternyata dia mengumpat tepat didepan wajah orang yang berusaha ramah dan mengajaknya bicara? Hebat.

Namjoon tentunya akan emosi besar kalau dia tidak ingat Dokter Jung melarang dia, bahkan untuk emosi.

"Maaf jika aku menggangu, aku hanya pikir, kau butuh teman bicara, Yoongi-ssi."

Ucapannya langsung berubah formal, dan Namjoon tersenyum padanya.

"Aku tidak suka orang banyak omong. Jadi, aku tidak suka bicara juga."

Lalu hening menusuk mereka berdua, lama sekali.

Dan Namjoon kesal mendengarnya. Yoongi menyindir dia. Jadi dia tekan saja tangan Yoongi.

"ARGH BANGSAT!!!YYA!!"

Yoongi tidak berdaya. Dia sungguh tidak berdaya selain dengan mulutnya.

"Aku tetap merasa kau butuh teman bicara, Min Yoongi-ssi."

Namjoon waktu itu, selain keras kepala, juga anak yang penasaran.

XXX

Sejak saat itu, Namjoon tidak menyerah mendekati Yoongi, membiarkan namja itu semakin dingin pada dia.

Hoseok bahkan mendesis terang-terangan dan ribut dengan Yoongi waktu orang itu tidak bisa 'ngerem' mulutnya, dan sejenis. Namjoon selalu menahan Hoseok, tentu. Yoongi masih berstatus pasien, dan dia tidak boleh diapa-apakan, bahkan Namjoon kemarin dapat teguran karena iseng padanya.

Yoongi sama sekali tidak curiga dengan Namjoon yang tahu lukanya, dia tidak peduli.

Namjoon tidak tahu jelas diagnosa Yoongi. Tapi dia selalu lihat bibi dari klinik psikologi mengunjungi dia. Yoongi tidak bicara apa-apa selain memaki, tentu. Dan kadang Namjoon merasa kasihan dengan ahjumma itu. Mau menasehatipun, dia tak tahu harus omong apa.

Sampai di malam terakhirnya tidur disana, Yoongi membuka jendela dan membiarkan Namjoon menggigil karena angin malam.

"Yoongi-ssi--"

Dan langsung terpaku, menatap namja itu duduk disana memejamkan matanya tenang dan merebahkan tubuhnya.

Refleks tercepat Namjoon adalah bangun, menggenggam kaki Yoongi kuat-kuat dan menariknya masuk biar kepala yang lebih tua terantuk jendela keras sekali.

Namjoon, dan infusnya yang sudah copot, tangannya yang robek dan Yoongi yang terlentang di lantai, keduanya seperti baru ditabrak truk troli besar.

Yoongi meronta, tentu. Dia berusaha melepaskan diri namun Namjoon memeluknya erat-erat.Wajah Yoongi berkerut, dia menendang Namjoon jauh-jauh dari tubuhnya dan berteriak, menangis.

"APA SIH MAUMU, KIM NAMJOON?! JANGAN MENGHALANGIKU TERUS, BANGSAT! URUSI SAJA PENYAKITMU SENDIRI!"

Namjoon tidak tahu harus jawab apa, dia masih terkejut dan mati-matian meraih nafasnya. Pikirannya semrawut, hatinyapun tak kalah beda.

Lalu dia berhenti, dan Namjoon baru berani memandangnya.

Namjoon tak tahu Yoongi dan masalahnya. Dia tak tahu kenapa dia se niat itu kepada Yoongi. Dia tak tahu kenapa orang itu masalahnya , depresi dan mau bunuh diri, tapi bayangan tubuhnya yang terlempar dari jendela rumah sakit tidak membuatnya merasa baik. Bayangan Yoongi yang akan tersenyum sarkas mengetahui hidupnya mau berakhir bukan senyum yang baik, dan bayangan Seokjin yang melakukan itu sambil berteriak padanya kalau dia bocah sialan bukan hal yang baik juga.

Yoongi dan mulutnya mengingatkan dia tentang Seokjin.

"J-jangan gegabah, Yoongi-ssi... Mungkin saat ini kau sedang dalam masalah besar, tapi percayalah-"

"APA?! KAU TAHU APA SIH, SOAL DIRIKU! KENAPA IKUT CAMPUR MASALAH ORANG?! DENGAR, AKU MATI ATAU TIDAK ITU TIDAK AKAN MENGUBAH APAPUN! KENAPA KAU MENGHALANGIKU, HAH?! SIAPA KAU BERANI MENGHALANGIKU-"

"AKU TIDAK TAHU APA-APA! TAPI INI SALAH!"

Min Yoongi tercengang. Anak ini menuduhnya melakukan salah atau dosa apa-

"Ap-"

"Kau masih punya kesempatan buat menyembuhkan dirimu sendiri! KAU PUNYA KESEMPATAN BUAT ITU! ORANG LAIN KHAWATIR DENGANMU! TIDAKKAH KAU PUNYA MATA BUAT MELIHATNYA?! KAU BISA MELAKUKAN SESUATU SELAIN MATI, MIN YOONGI!"

Min Yoongi terdiam.

Dia tidak pernah berpikir dia punya kesempatan, atau dia berhak diperhatikan begitu.

Atau dia punya pilihan.

Yoongi buntu, nafasnya sama berat dengan Kim Namjoon, dan wajahnya sudah merah. Dia malu, tentu. Menangis didepan bocah satu ini.

Yoongi, si mulut sampah, diteriaki begitu saja rasanya sudah diterima. Murah sekali dia, pikirnya. Yoongi tak boleh semudah itu berubah pikiran.

Namun Namjoon membisikkan suatu hal yang tidak pernah akan dia lupakan sebelum suster-suster itu memisahkan mereka, dan menegur Namjoon yang melukai dirinya sendiri, karena Yoongi.

"Hyung, kalau kau tidak sayang hidupmu, bisakah itu diberikan padaku?"

Itu kata-kata penutup sebelum Namjoon rebah, tidak sadarkan diri, dan keributan bergulir ke seluruh penjuru ruang. Min Yoongi, sang tertuduh, diungsikan ke ruang praktik seorang dokter yang tak dia ingat namanya. Tidak berhenti termenung, menangis, tidak mulai bersuara juga.

Min Yoongi tertampar dengan mudahnya. Namjoon tak pernah tau. Dan Yoongi tak pernah tau pula,

Waktu itu Namjoon mulai menyadari,

Dia mau hidup.

Dia lelah hidup.

XXX

a/n

lamaku tak menulis pakai bbrp bahasa korea... waktu edit ini (draft dari taob lalu?) aku selalu terbayang appa adalah bison terbang di ALTA (avatar aaang) ;-;

appa, yipyip.