Gundam Seed Destiny © Sunrise

A/N: setting cerita terjadi beberapa tahun setelah Second Bloody Valentine War.

.

.

.

Suasana duka di pemakaman yang diiringi oleh rintikan hujan, seolah-olah memperlihatkan bumi yang sedang menangisi kepergian seseorang.

Seorang gadis tanpa dinaungi payung, berdiri di hadapan makam seseorang. Mata karamel gadis itu menampakkan kesedihan yang amat sangat mendalam. Pandangannya kosong. Bahkan kilauan cahaya yang biasa terpancar dari kedua matanya kini seakan meredup.

Entah sudah berapa lama gadis itu berdiri di depan makam tersebut. Tak sedikitpun ia berniat beranjak pergi, meski dingin sudah merasuk dalam raganya. Ia seperti tak perduli jika tubuhnya akan tergolek lemah karena terus berdiri di sana. Sengaja dibiarkannya hujan mengguyur seluruh tubuhnya.

Mungkin momen seperti inilah yang ia butuhkan, di saat air matanya sudah tak bisa keluar lagi, maka hujanlah yang menggantikannya untuk menangis. Ya... Menangisi kepergian seseorang yang sangat berarti baginya.

.

.

.

Rain in My Heart © Panda Nai

Enjoy it...

ORB, 1 tahun yang lalu.

"Aku baik-baik saja, Kira. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku."

"Ya aku tahu. Kuharap kau tidak bekerja terlalu banyak, Cagalli. Aku tidak mau jika kau menjadi sakit."

"Kira, tenang saja. Aku ini sangat kuat. Lagi pula ada Athrun disini menjagaku. Kau masih saja seperti ibu-ib─"

"Cagalli... Maaf, kurasa cukup sampai sini saja. Ada yang harus ku kerjakan. Sampai jumpa nanti di ORB, aku menyayangimu."

Tuut..tuut..tuut...

"Hh, Kira. Selalu saja seperti itu." Ucap Cagalli sambil menutup teleponnya.

Akhir-akhir ini, Kira jadi jarang sekali menghubunginya melalui video call. Selalu saja melalui email atau melalui telepon. Cagalli sangat paham dengan kesibukan Kira mendampingi Lacus sebagai Chairwoman di PLANTs. Tapi tidakkah ia tahu, kalau Cagalli sangat merindukan saudara kembarnya tersebut?

Ingin rasanya ia pergi berkunjung sebentar untuk melihat keadaan saudara lelakinya disana. Tapi apa daya, pekerjaannya juga sangat menumpuk di ORB. Cagalli mendecak kesal, semua ini membuatnya menjadi frustasi sendiri.

.

.

.

Kira memegangi kepalanya setelah ia menutup percakapannya dengan Cagalli. Entah mengapa rasanya kali ini kepalanya terasa sakit sekali seperti mau meledak. Kira segera membuka laci mejanya dan mengambil sebotol kapsul dan meminumnya satu.

"Hh, kenapa jadi seperti ini?" Ucapnya yang lalu menatap sebuah foto di atas mejanya.

"Ugh!"

Tiba-tiba kepala Kira berdenyut keras, hingga ia mengerang kesakitan dan akhirnya tumbang dari kursinya.

Bruk!

"Maaf... Cagalli." Mata ungu Kira terlihat mengeluarkan setetes air sesaat sebelum hilang kesadaran.

.

.

.

Cagalli terlihat mondar-mandir di ruang kerjanya, sesekali ia berhenti sejenak untuk berpikir kemudian kembali berjalan lagi sambil memegangi dagunya.

Athrun yang baru saja memasuki ruangan untuk menyerahkan laporan harian hanya bisa terdiam melihat tingkah Cagalli. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu tahu kalau Cagalli sedang memikirkan sesuatu.

"Kau sedang apa Cagalli?" Tanya Athrun yang sepertinya tak didengar oleh Cagalli.

Cagalli masih saja sibuk sendiri dengan pikirannya, terus saja mondar-mandir sampai akhirnya ia menabrak Athrun yang sudah berdiri di depannya.

"Aduh!" Cagalli hampir saja terjatuh jika Athrun tak menangkapnya.

"Ada apa denganmu?" Tanya Athrun yang saat ini sedang menahan tubuh Cagalli agar tidak terjatuh.

Cagalli diam sejenak melihat Athrun. Bibirnya membuka perlahan tanpa suara. Beberapa detik berikutnya ia spontan langsung memeluk Athrun, hingga mereka berdua jatuh terduduk di lantai.

"Athrun! Sekarang juga pergilah ke PLANTs!" Ucap Cagalli pada Athrun dengan tegas.

"Haaa?!" Athrun tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Cagalli. "...maksudmu? Kenapa aku harus pergi ke sana?"

Cagalli memegang kedua tangan Athrun. "Iya, kau akan ke PLANTs Athrun."

"Untuk apa?" Raut wajah Athrun masih saja menampakkan kebingungan.

"Sudahlah, jangan membantah! Ini perintah, segera pergi dan temui Kira di sana."

Hampir selama 10 detik terdiam Athrun akhirnya mengerti, ternyata Cagalli sedang merindukan Kira yang berada di PLANTs. Dia pun tersenyum pada Cagalli.

"Baiklah, jika itu yang kau inginkan."

Cagalli membalas senyuman Athrun dan memeluknya dengan lembut. "Terima kasih, Athrun. Akan kuurus surat cuti untukmu."

.

.

.

Lacus dengan terburu-buru berlari menyusuri koridor rumah sakit ternama di PLANTs. Saat Lacus telah sampai di sebuah ruangan, ia dengan segera membuka pintunya dan masuk kedalamnya.

"Kira!"

Lacus merasa napasnya terhenyak saat melihat kondisi Kira sang Ultimate Coordinator yang terbaring lemah di kasur dengan wajah yang sangat pucat.

"Ah, anda sudah tiba, Lacus-sama." Ucap seorang dokter yang sedari tadi ada di ruangan.

"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Lacus sembari mendekat ke arah Kira.

Terlihat raut wajah yang begitu tegang dari keduanya. "Tolong persiapkan diri Anda."

Degup jantung Lacus menderu begitu cepat menanti hasil yang akan diberikan padanya, sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi pada kekasih tercintanya.

"General Yamato menderita kanker otak tahap akhir. Hal ini tentu dapat mengganggu kinerja otak dan sistem pergerakan tubuhnya. Penyebabnya masih belum diketahui, tapi ada beberapa sel tubuh yang bereaksi berlebihan."

"Ya tuhan!" Tangis Lacus pun pecah setelah mendengar hasil tes laboratorium milik Kira. "Tapi, bukankah koordinator lebih stabil terhadap penyakit?"

Sang dokter menggeleng pelan, "Saya pikir begitu. Tapi perubahan gen yang terjadi secara signifikan membuat tubuh General Yamato menjadi sangat rentan terkena penyakit."

Lacus membisu. Pandangannya teralih pada Kira yang sedang lelap di atas ranjang perawatan.

"Kira." Air matanya kembali mengalir. Digenggamnya jemari Kira yang terlihat mulai kurus.

Mengapa ia tidak menyadarinya selama ini? Mengingat Kira tidak pernah sedikitpun mengeluh kesakitan. Pria itu selalu bersikap seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apapun. Selama beberapa bulan ini, Kira masih menjalankan tugas militer dengan sangat baik.

Mata Lacus membulat teringat suatu hal. Suatu hari, saat mereka sedang beristirahat bersama. Menyesap teh hangat di ruangan Lacus.

Kira pernah berkata padanya...

PLANTs, 2 bulan yang lalu.

Lacus tersenyum saat Kira datang dengan membawa dua buah cangkir teh hangat ke dalam ruangannya. "Apa itu untukku?"

Kira mengangguk dan mengambil tempat untuk duduk di samping Lacus. Mata ungunya menilik beberapa dokumen yang agak berserakan di atas meja kerja Lacus. Sepertinya gadis itu sedang memilah-milah dokumen perencaan latihan gabungan militer Plants dan pihak bumi. Bibir Kira tersenyum lebar manakala ia teringat sesosok gadis yang saat ini pasti sedang gila bekerja sampai lupa waktu.

"Lacus."

"Ya, Kira."

"Jika suatu hari nanti aku ingin meminta libur cuti. Apa kau akan memberikan izin?"

"Eh, kau ingin cuti?" Lacus menurunkan cangkirnya, tak jadi meminum teh hangat buatan Kira.

Kira nampak mengulum bibir. Ekspresi wajahnya nampak sangat kaku. "Aku berniat untuk pulang ke ORB."

Senyum Lacus mengembang. Tidak biasanya Kira mengajukan libur padanya. "Apa kau sedang merindukan Cagalli-san?

Mata Kira tertutup sejenak. "Ya, aku sangat merindukan, Cagalli."

Lacus menutup kedua matanya, hatinya berdegup kencang. Entah mengapa perasaanya menjadi sangat gusar saat mengingat hari itu. Apakah ini alasan Kira ingin pergi ke ORB? Jika saja Lacus mengetahuinya lebih cepat. Tangan lembut Lacus membelai wajah Kira secara perlahan.

"Kumohon bertahanlah. Para dokter akan berusaha untuk mencari obatnya. Jika kau sembuh, kita akan pergi ke ORB bersama-sama." Air matanya jatuh dan mengenai pipi Kira.

.

.

.

"Apa yang membuatmu kemari ke sini lagi haa?!" Ucap Shinn dengan nada yang sedikit sinis pada Athrun, ketika ia baru saja sampai di PLANTs.

"Hei, Shinn. Apa begitu caramu menyambut seorang tamu?" Lunamaria menyikut lengan Shinn dengan kuat. Ya ampun, sikap Shinn masih saja belum berubah.

Athrun tersenyum melihat teman-teman lamanya sewaktu ia berada di ZAFT. Mereka datang untuk menyambut Athrun di PLANTs. "Hm, apa aku salah jika ingin pulang ke kampung halamanku? Lagi pula ini hari liburku."

Kening Shinn berkerut. "Libur? Yang benar saja?"

Lunamaria dengan sigap kembali menyikut Shinn hingga ia memekik keras. Athrun tersenyum lebar melihat tingkah dua sejoli ini.

Di tengah momen reuni yang membahagiakan itu tiba-tiba dering ponsel Lunamaria mengalihkan perhatian.

"Ya, Meyrin."

"Onee-chan. Ketua Clyne meminta agar upacara pergantian kru tahunan ditunda sementara."

"Benarkah? Kenapa ditunda?"

Lunamaria bisa mendengar suara napas Meyrin yang tertahan. Matanya menyipit menyadari perubahan nada bicara dari adiknya.

"Kau tak tahu? Penundaan terjadi karena Yamato-san tidak bisa menghadiri acaranya. Yamato-san saat ini sedang menjalani perawatan di rumah sakit."

Mata luna terbelalak, dengan perasaan ragu ia menoleh ke arah Athrun. Senior yang ia banggakan ini baru saja tiba di Plants. Apakah Athrun sudah tahu kondisi Kira?

"Athrun, kau yakin kemari untuk berlibur?" tanya Lunamaria saat ia telah memutus sambungan telepon dengan Meyrin.

"Maksudmu?"

"Kupikir kau datang kemari untuk menjenguk Kira-san. Saat ini Kira-san sedang berada di rumah sakit."

Athrun membulatkan kedua matanya begitu mendengar kabar tersebut. Lidahnya menjadi kelu seketika.

.

.

.

Athrun dengan cepat berlari di dalam koridor rumah sakit. Pikirannya menjadi kacau dan tak tahu lagi harus berbuat apa setelah ia mendengar kabar tentang Kira. Apa yang akan terjadi bila Cagalli mengetahui hal ini? Athrun membatin sejenak. Apa yang harus ia katakan pada Cagalli?

Begitu sampai di depan kamar pasien bernomor 401, dengan segera Athrun membuka pintunya. Di sana terlihat Kira sedang terbaring lemah dengan Lacus yang senantiasa menungguinya.

Athrun memasuki ruangan itu dengan langkah yang sedikit goyah. Wajahnya nampak sangat syok. Begitu pun dengan Lacus yang langsung terkejut dengan kehadiran Athrun secara tiba-tiba. Gadis merah muda itu bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Athrun ada di sini? Apakah Athrun bersama Cagalli?

.

.

.

ORB, dua bulan kemudian...

Cagalli merasa sedikit gusar dengan permainan yang ada di depannya. Hh, ternyata bermain catur ataupun kartu seorang diri sama sekali tak bisa menghilangkan rasa bosannya setelah menyelesaikan beberapa perkerjaan. Ada apa ini? Batinnya menjerit kesal. Matanya memicing tajam menatap sbuah pigura yang menampilkan gambar dirinya, Athrun, Lacus dan Kira. Seingatnya ia hanya memberi waktu cuti selama seminggu untuk Athrun. Tapi apa yang terjadi? Sudah dua bulan lebih Athrun pergi ke PLANTs dan tak sedikit pun kabar datang darinya.

"Athrun bodoh! Apa dia lagi-lagi membelot ke ZAFT?" Cagalli melempar bijih catur ke segala arah.

"Aaarrgghh. Cukup, kesabaranku habis". Cagalli dengan kasar membuka Laptopnya dan mulai mengetik sebuah email pada Ahrun, karena ia yakin mencoba menelepon pria itu akan sia-sia. Athrun tak pernah mau mengangkatnya.

Belum sampai 5 menit, sebuah balasan email diterima oleh Cagalli. Dibukanya email tersebut dan dibaca perlahan.

Pengirim: Athrun Zala

Maafkan aku Cagalli, aku saat ini sedang sibuk di PLANTs. Ada sesuatu yang harus aku bantu di sini, selengkapnya akan ku ceritakan jika aku sudah kembali ke ORB. Dan mengenai Kira, dia saat ini baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Cagalli memegang dahinya. "Alasan bodoh macam ini? Apa kau ingin membuat militer kacau karena laporan anehmu ini?" Gadis itu mengumpat keras.

Cagalli lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati jendela. Perasaannya saat ini menjadi sangat kalut, ada sedikit kekhawatiran di hatinya. Sepertinya Athrun merahasiakan sesuatu darinya.

"Hh, apa aku harus memperpanjang jatah cuti Athrun?"

.

.

.

Athrun termangu menatap layar ponsel. Ada sedikit rasa bersalah dihatinya, terlebih lagi saat ia berbohong pada Cagalli mengenai kondisi Kira. Athrun tak bisa berkata jujur, sebab Kira melarangnya dengan tegas.

PLANTs, sebulan yang lalu.

Saat itu Athrun sedang mendampingi Kira menjalani pengobatan. Kini mereka berdua sudah kembali ke ruang perawatan setelah sesi kemoterapi yang dijalani oleh Kira.

"Athrun, apa tidak apa-apa jika kau ada di sini? Kau sudah hampir satu bulan berada di sini, tidakkah ka─"

"Cagalli!" Athrun menginterupsi perkataan Kira dengan menyebut nama seseorang yang saat ini menunggu di bumi.

"─aku akan mengabarinya mengenai kondisimu saat ini, Kira. Aku lelah membohonginya."

"Jangan beritahu dia, Athrun."

"Ki-kira..."

Kira menghela napasnya sejenak dan memandang langit biru yang terlihat begitu damai dari jendela kamarnya. Kira lalu memandang Athrun dengan sebuah senyuman yang terukir di bibirnya. "Aku, membenci setiap tetes air mata yang keluar dari matanya, Athrun."

Athrun terdiam mendengar perkataan Kira.

"Aku tidak ingin mengusiknya dengan keadaanku yang seperti ini. Dan aku tidak ingin membuatnya mengkhawatirkanku. Dia punya tanggung jawab besar di ORB."

Athrun merasa bila air matanya sudah mengalir lagi membasahi kedua pipinya. "Tapi, Kira."

"Aku mohon padamu, Athrun." Ucap Kira sembari tersenyum. Entah sejak kapan, air mata Kira juga hampir mengalir dari kedua matanya.

"Baiklah, Kira. Aku berjanji."

Sejak saat itu, Athrun menghindari Cagalli, baik dari telepon yang tidak pernah ia angkat dan juga email yang jarang sekali ia balas. Ia paham Cagalli akan sangat murka padanya. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Athrun merasa enggan untuk meninggalkan Kira namun ia merasa sesak memikirkan perasaan Cagalli. Belum lagi posisinya di kemiliteran ORB bisa terancam karena ketidakhadirannya. Athrun tak peduli! Jika ini untuk Kira, maka ia tak akan berkompromi.

"Maafkan aku, Cagalli."

.

.

.

Setelah sekian lama menjalani perawatan, hari ini Kira diijinkan untuk keluar sebentar dari rumah sakit. Tentunya atas permintaan khusus darinya, yang menginginkan agar ia diberikan kebebasan menghirup udara di luar sejenak. Terlalu lama di ruang perawatan membuat Kira merasa sedikit jenuh.

"Baiklah, General Yamato. Hanya hari ini saja saya mengizinkan anda untuk keluar, meski saya kurang yakin untuk memberi izin."

Kira tersenyum mendengar ucapan sang dokter, ia lalu berdiri dan mencoba untuk berjalan dengan kekuatannya sendiri. "Lihat, apa aku kurang meyakinkanmu dokter?"

Sang dokter menghela napasnya sejenak, "Kau baru 2 bulan lebih menjalani perawatan, meski hasilnya memang terlihat. Tapi saya masih ragu."

"Percayalah padaku, dokter. Jika sesuatu terjadi, aku berjanji akan segera kembali kemari."

Melihat keteguhan Kira, mau tak mau sang dokter pun menyerah dan memberikan ijin.

Kira segera bersiap untuk beranjak pergi dari ruang perawatannya. Setelah semua sudah beres, ia pun meninggalkan dokter yang berdiri di dalam ruang perawatn sambil memandang sendu punggung Kira.

"Aku rasa, memang kau tidak ingin kembali lagi kesini, General Yamato."

.

.

.

"Hai semua." Sapa Kira yang baru saja keluar dari rumah sakit dan membuat Lacus serta Athrun terkejut kebingungan.

"Kira, mengapa kau ada di sini? Kami baru saja ingin menjengukmu." Protes Lacus dengan nada yang khawatir.

"Aku tidak apa-apa. Hari ini dokter mengijinkanku untuk keluar." Ucap Kira yang diselingi tawa.

Tapi Athrun tak percaya begitu saja pada Kira. Lantas Athrun pun berjalan mendekati Kira. "Baiklah, jika kau memang diberi izin. Aku ingin bertemu dengan dokter yang menanganimu untuk mengecek kebenarannya. Seharusnya kau belum boleh keluar dari sini."

Athrun hendak memasuki rumah sakit, namun kira dengan cepat menarik lengannya dan menyuruhnya untuk mengikutinya. "Sudah kukatakan, Athrun. Percayalah padaku."

Athrun pun akhirnya dengan pasrah mengikuti keinginan Kira.

Mereka semua memasuki mobil dan berjalan menuju seuatu tempat.

"Baiklah, Kira. Kau ingin kemana sekarang?" Tanya Athrun pada Kira yang saat itu sedang melamun.

"Kira." Panggil Lacus.

"Oh, iya. Ada apa Lacus?"

Lacus menatap Kira dengan sedikit cemas.

"Aku ingin pergi ke danau yang ada di sudut kota Aprilius." Ucap Kira dengan segera agar Lacus tidak memandanginya terus seperti itu.

Athrun lalu mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang Kira inginkan.

.

.

.

Cagalli dengan segera memasuki ruang kerjanya dan menyambar laptopnya setelah ia mendapat telepon dari Athrun. Kata Athrun, hari ini Kira ingin melihat wajah dan berbicara padanya melalu video call. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa melihat wajah saudara kembarnya itu.

Cagalli langsung menyambut panggilan video call dari Kira untuknya. Betapa bahagianya ia begitu melihat wajah kira, namun Cagalli merasa ada yang sedikit berbeda.

Mengapa Kira terlihat sangat kurus?

"KIRA!"

"Hai, Cagalli. Bagaimana kabarmu?"

"Kira... Ada apa denganmu? Wajahmu terlihat kurus sekali. Apa kau kurang makan haa?" Omel Cagalli yang hanya ditanggapi kira dengan senyuman.

"Apa kau menjawab panggilanku hanya untuk membahas hal ini? Oh ayolah, aku merindukanmu."

Cagalli tersenyum mendengar perkataan Kira. "Ya, aku juga merindukanmu Kira, sangat merindukanmu." Saking terharunya air mata Cagalli hampir saja jatuh membasahi pipinya.

"Hei, apakah itu air mata bahagia? Jika bukan, segeralah berhenti menangis!"

"Aku, tidak menangis, Kira. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak menangis lagi, bukan?" Cagalli segera menghapus genangan air mata di pelupuknya sembari tersenyum pada Kira.

"Aku tahu itu. Hei, besok aku akan kembali ke ORB."

"Benarkah? Apa kau akan pulang ke ORB? Berapa lama kau akan berada di ORB, Kira?" Cagalli tak dapat menahan kebahagiaannya.

"Ya, begitulah. Berapa lama? Hmm, tentu saja selama yang kamu inginkan." Ucap Kira yang tentu saja membuat Cagalli sangat gembira.

"Aku akan menunggumu, Kira."

Sementara itu di Plants.

Selagi Kira berbincang dengan Cagalli, Lacus yang berdiri tak jauh dari posisi Kira nampak tak kuasa menahan tangisannya. Tangannya mencengkram kuat roknya sementara Athrun menepuk pelan bahunya, berusaha agar Lacus menjadi tenang.

.

.

.

"Cagalli."

Suara Athrun memecah keheningan pada Cagalli yang saat ini masih setia berdiri di hadapan makam. Tubuh gadis itu sudah sangat basah diguyur hujan.

"Ayo kita pulang. Kau bisa sakit jika berada di sini terus." Athrun kemudian memayungi Cagalli agar tidak terkena dinginnya hujan.

Cagalli sudah terlalu lama berdiri di pemakaman tanpa berlindung di bawah naungan payung. Mata bengkaknya terpejam beberapa detik. Ia terdiam mengingat sebuah tragedi setahun lalu yang menghancurkan hatinya. Cagalli menganggukkan kepalanya, dan pergi berjalan meninggalkan pemakaman bersama Athrun.

Sudah setahun sejak kepergian Kira. Perilaku Cagalli tidak menampakkan sedikitpun perubahan. Urusan kenegaraan kontan dilimpahkan pada bangsawan dan para dewan. Mereka sangat memaklumi kondisi mental Cagalli. Untuk gadis muda seperti Cagalli, berkali-kali ditinggalkan oleh keluarga tentu tidaklah mudah. Cagalli masih saja terlihat murung, dan hujan dihatinya masih saja belum reda. Cagalli bahkan pernah nekat kabur dari mansionnya untuk pergi ke pemakaman. Mungkin saat ini, ia masih belum bisa merelakan sepenuhnya kepergian Kira yang dinilainya begitu mendadak.

"Hei, besok aku akan kembali ke ORB."

Kata itu kembali terngiang diingatannya. Hari di mana Kira berkata akan kembali pulang. Kira memang kembali, tapi hal itu malah membuat luka yang sangat mendalam bagi Cagalli.

Hari itu, ketika Cagalli mendapat kabar dari Athrun yang mengatakan bahwa Kira sedang dalam perjalanan pulang ke ORB. Hatinya teramat gembira dan sangat antusias. Namun kegembiraan itu perlahan menjauh, lantaran bukan sebuah pelukan hangat yang ia terima dari Kira, melainkan sebuah peti mati. Cagalli yang sangat syok sempat pingsan dan tak sadarkan selama 2 hari.

Tapi, meski begitu... jauh dilubuk hatinya, ia yakin bahwa Kira akan selalu bersamanya, menemani langkahnya di setiap saat. Meskipun ia tidak terlihat lagi.

The end

Cerita ini telah mengalami perubahan penulisan, menyesuaikan EYD dan tata cara penulisan yang semestinya

Untuk plot, masih tetap sama. Hanya ditambahkan beberapa scene agar plotnya jadi dapat.

Thank you, Ritsuchii a.k.a Erehmi yang telah memberikan koreksi. Panda always love Ritsuchii. And i really miss her.

Publish: 06 November 2012

Edited: 22 Agustus 2020