Celah
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, semi-nsfw, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
Jam pulang sekolah pukul satu siang. Tiga kali dentingan bel seolah-olah terdengar selama-lamanya.
Tas punggung yang kelengkapannya telah diyakini, atau langkah yang cenderung dituntun ketidaksabaran, pemandangan membereskan buku-buku atau apa pun itu sudah lama berlalu, menyisakan seorang anak saja.
Matanya adalah sepasang laut. Merefleksikan biru langit khas musim panas, mencermati tempat duduk Dazai Chuuya tepat di samping jendela. Ia tengah menunggu suara pintu kelas yang dibuka. Namun, yang dinantikannya justru dilewatkan begitu saja, entah Chuuya sadar tapi sengaja iseng, atau memang ia tak mengetahui kedua sahabatnya tengah menghampiri dengan heran.
"Oi, Chuuya! Liat langit aja serius banget." Bahunya ditinju pelan oleh Tachihara Michizo. Alih-alih membalas tatapan sepasang amber, atau lebih lanjut lagi melakukan hal serupa, Chuuya tetap bersikukuh pada biru langit yang awannya menipis.
"Diem, bego. Entar langitnya runtuh gara-gara lo."
"Hah?! Kok jadi gue yang kena? Lapangan lagi kosong, nih." Ajakan berkelahi yang diselimuti amarah sesaat itu langsung Chuuya ladeni dengan memelototi Tachihara. Di samping Tachihara bocah yang lebih kalem bernama Nakajima Atsushi gelagapan. Kapan, sih, kedua orang ini berhenti sedikit-sedikit bertengkar?
"Ma-maksud Tachihara-kun, Akutagawa udah dibawa ke UKS, dan mamanya udah dateng buat menjemput. Kita jadi makan kakigori bareng, 'kan?"
Kakigori melon. Semangka dingin yang langsung dipotong. Bagian terbaiknya adalah AC pada suhu delapan belas derajat. Bohlam imajiner menyala-nyala di atas kepala Tachihara, seperti, "Kenapa aku baru sadar?".
"Oh, iya! Hampir lupa gue. Ayo ke rumah Atsushi. Kalo biru langit doang, mah, lo bisa liat di halaman belakang nanti. Pas kita jalan juga keliatan."
"Maaf. Enggak dulu. Sebenernya hari ini dia pulang cepet." Tas hitam miliknya Chuuya pakai. Baru hendak menyembur dengan menyebut cewek kelas sebelah, dikira Tachihara sudah jadian, mulutnya dibekap duluan oleh Atsushi yang tersenyum mempersilakan.
"Titip salam, ya, ke kakakmu. Kapan-kapan ajak dia makan kakigori bareng."
Sebelah tangannya Chuuya angkat. Sayup-sayup pula terdengar Tachihara yang memprotes, kenapa pipi Chuuya memerah kalau itu menemui kakaknya sendiri? Entahlah Atsushi menjawab apa. Chuuya pergi ke gedung lain. Menaiki tangga ke lantai dua, satu kali belok kiri, mencari kelas VIII-3 yang tampaknya masih ramai oleh percakapan yang berseliweran.
"Dazai! Adikmu mencarimu, tuh," seru Nikolai Gogol yang kebagian piket menyapu lantai. Dari balik pintu geser Chuuya mendesis. Memicing sebal ke arah Nikolai yang bersiul tanpa rasa dosa.
"Chuuya? Mana?" Tubuh mungil adiknya bersembunyi, tatkala mata kakaknya mulai mencari-cari. Semua salah si badut tolol (Nikolai). Sigma yang membersihkan papan tulis sekadar tertawa menyaksikan
"Jangan pura-pura tidak tahu begitu. Aku sama Fyodor juga ingin bertemu Chuuya-kun."
Mata delima yang hanya tahu memikirkan makna beralih menatap Shibusawa Tatsuhiko, seolah-olah Fyodor Dostoyevsky berkata, "Jangan sembarangan membawa-bawa namaku". Dazai Osamu menatap Shibusawa datar. Berlalu begitu saja yang di depan kelas masih iseng-iseng celingak-celinguk mencari Chuuya.
"Mana? Enggak ada, tuh. Kayaknya Nikolai-kun harus pakai kacamata–"
"Tertangkap kau, Dazai! Jangan harap bisa lepas."
Jari-jari yang juga mungil memeluk pinggang Dazai. Buru-buru menggenggam tangan kakaknya itu, untuk kabur bersama-sama dari Shibusawa yang melayangkan pelukan. Rambut ala model sampo milik Shibusawa ditarik Fyodor. Acungan jempol cuma-cuma Dazai berikan atas kerja bagusnya, walau Fyodor sebenarnya balas dendam. Di luar gedung SMP keduanya mengatur napas. Dazai menatap benci pada matahari terik yang membakar kulit.
"Tingkahmu aneh-aneh aja lagian. Masa malu ketemu Kakakmu sendiri?"
"Habisnya temenmu yang rambutnya putih serem. Untung kau belum dimakan."
"Kalo takut bisa kujemput padahal, tapi untung juga Chuuya dateng duluan. Dari jam pelajaran fisika ngomongin UMA terus. Capek."
Mana Chuuya tahu apa itu UMA, dan ditanyakan pun palingan Dazai klise, "Nanti juga paham pas SMP", kira-kira begitulah jawabannya. Namun, dengan anehnya Chuuya justru tertarik akan kata capek yang Dazai pakai. Ia pun mencuri-curi melirik mata kakao Dazai, menatap ke sembarang arah jika ketahuan, berulang-ulang, membikin Dazai tak tahan untuk menaikkan sebelah alis.
"Yuk, pulang. Ngapain lama-lama di–", "Pe-perutku laper! Ayo kita makan dulu," potong Chuuya sigap yang tanpa aba-aba, tangan Dazai ditariknya lagi menuju lestoran cepat saji terdekat. Dazai bilang makan mi saja di rumah, terus Chuuya balas belum ada rasa hamburger.
Perut adiknya terdengar seperti gemuruh. Ujung-ujungnya dibandingkan mengotot mencoba mi variasi terbaru, Dazai tertawa renyah melihat Chuuya menggebu-gebu demi hamburger. Lestoran cepat saji dekat sekolah mereka tampak surut keramaiannya. Tempat duduk di samping jendela yang merupakan favorit Chuuya dihampiri, lantas keduanya duduk berseberangan membaca-baca menu.
"Aku mau cheese burger XL. Kalo Dazai?"
"Masa manggil diri sendiri? Mulai sekarang panggilanmu orang aneh, ya."
"O-orang aneh apaan? Cepet pesen. Keburu rame gimana?" Wajah Chuuya merah padam mendengar Dazai cekikikan, dan guna mengurangi rasa malu Chuuya memalingkan muka. Bukan semata-mata demi hamburger Chuuya rela melewatkan makan siang. Sekarang ini ia sudah tidak mampu menahan senyumannya, menambah rasa penasaran pada Dazai.
"Masalahnya aku belum tau mau memesan apa~ Daritadi aku cuma kepikiran pengen makan mi, tahu, atau jika tidak harusnya kita pulang dulu ke apartemen. Makan hamburger pake kepiting kalengan kayaknya enak."
"Berarti bisa pesen dari sana, dong."
"Bener juga~ Jadinya buat apa kita ke lestoran? Hitung-hitung dapet promo juga."
Chuuya mendengkus. Bibirnya mengerucut, selagi tangan kirinya meremas tangan kanan yang bergetar yang berada di bawah. Merasa sudah berlebihan Dazai beranjak bangun. Mengantre di barisan ketiga yang mana satu-satunya pelanggan telah selesai dilayani, lalu bercakap-cakap sebentar. Daripada memikirkan kakaknya yang bego Chuuya memandang langit lagi. Menggerutu gara-gara ia bingung, senyumannya lenyap ke mana?
"Selamat menikmati tiga cheese burger XL, dan satu coca-cola jumbo~ Lalu selamat, karena di pembelian ketiga Kakak mendapatkan kartu Blue Eyes White Dragon~"
"Blue Eyes White Dragon?!" Kartu yang dijadikan hadiah eksklusif itu dengan cepat memekarkan senyuman Chuuya, tetapi menyadarinya ia bergegas melunturkannya. Gestur melipat tangan masih dipertahankan. Matanya dipejamkan saja biar tak berbelok ke sana-sini.
"Padahal gak perlu repot-repot. Siapa juga yang pengen kartunya?"
"Nikolai-kun bilang kartu ini kalo dijual bisa menghasilkan lima puluh ribu yen. Apa aku jual sa–"
"Karena Dazai sangat ingin memberikannya padaku, jadi kuterima aja. Jika kakakku yang bego nangis nanti repot." Secepat kilat kartunya dimasukkan ke dalam saku celana. Bungkus hamburger pun dibuka yang tanpa tunggu-tunggu lagi, langsung Chuuya lahap penuh antusias.
Rambut Chuuya diacak-acak, karena yang menangis hanyalah dia apabila Dazai serius. Salah satu hamburger yang dipesan Chuuya belah dua. Diberikan kepada Dazai yang bisa-bisanya hanya membeli spaghetti–begitu sedikitnya memang kenyang apa? Dagingnya pun untuk Dazai. Tak tanggung-tanggung Chuuya mengasih dua sekaligus, sama kejunya.
"Salahmu kerempeng banget. Ditinju sekali juga mental ke bulan."
Mula-mula Dazai mengerjap-ngerjap. Sejurus kemudian tertawa lagi menyaksikan Chuuya hanya memakan roti tambah selada, entahlah rasanya bagaimana. Mereka juga banyak mengobrolkan hal-hal riang. Chuuya juga menyampaikan pesan dari Atsushi, agar lain kali menikmati kakigori bersama-sama, tetapi mengesalkannya Dazai malah berpikir Chuuya mengode–malu-malu bahwa usai menghabiskan hamburger, dengan rakusnya masih menginginkan es.
"Alatnya seingetku ada di dapur. Palingan habis ini kita berkunjung sebentar ke supermarket, terus pu–", "Ka-kau ini gimana? Kita belum ke game center." Lagi-lagi Chuuya memotong dengan nada putus-putus di awal. Hamburger terakhir Chuuya kunyah tergesa-gesa. Sisa daging yang belum Dazai sentuh dimasukkan ke dalam mulut kakaknya, dan Chuuya kembali mengajak Dazai ...
... Berlari
Mungkin berlari, seolah-olah Chuuya mengajaknya berpaling dari sesuatu yang dapat Chuuya lihat sebagai mimpi buruk, sementara Dazai tidak demikian. Namun, Chuuya itu sendiri sengaja tak terlalu mendeskripsikannya, selain hanya ingin bersenang-senang dengan kakaknya seperti biasa.
"Main motor-motoran asik, lho. Gimana kalo kita lomba biar lebih seru? Atau jangan-jangan Dazai takut?"
"Kalau mau nyombong pas udah gede aja. Tubuh Chuuya kecil, jadi sombongnya juga kecil."
Kesal mendengarnya Chuuya melepaskan pegangan, dan bertujuan menginjak kaki Dazai yang dihindari dengan mulus. Kejar-kejaran berlangsung sebentar. Berlari-lari di tengah cuaca yang panasnya menggelegar jelas-jelas ide buruk, ditambah lagi tanpa mengizinkan Dazai menarik napas Chuuya seketika membawanya masuk–banyak bocah SD layaknya Chuuya yang asyik bergerombol, untuk menontoni temannya berjoget atau main tembak-tembakan.
"Istirahat sebentar, Chuuya. Bisa-bisa aku mati meleleh."
"Lemah amat? Tapi enggak apa-apa, deh, motor-motorannya juga lagi dipake."
Ada remaja berusia di sekitar jenjang SMA tengah memainkannya, disaksikan pacar perempuannya yang jelita dengan tahi lalat di bawah mata, sementara motor-motoran satunya lagi dalam perbaikan. Anak kecil tetaplah anak kecil, ketika Chuuya menggembungkan pipi kala Dazai menepuk-nepuk kepalanya. Tentu Chuuya senang bahkan terlampau bahagia. Bahwa ternyata kakaknya tidak marah, padahal sedari tadi Chuuya terkesan memaksa.
"Tenang, Chuuya. Ke mana pun kamu mau pergi aku pasti ikut. Enggak perlu buru-buru makanya."
Paling-paling bocah sebelas tahun ini hanya sesederhana ingin bermain dengan kakaknya, dan memang Dazai terlalu berpikir (atau berlindung di balik alasan barusan). Tidak bisa balapan jadinya. Punggung Chuuya tetap Dazai dorong supaya pergi saja, daripada tiba-tiba ubanan saking banyaknya memusingkan sesuatu.
"Bisa naik enggak? Susu yang kamu minum lari ke mana, deh?" Kasihan sekali kakinya tidak sampai-sampai. Setiap maju selangkah untuk menolong Chuuya, bocah yang bersangkutan pasti mati-matian menolak.
"Diem! Umurku masih sebelas tahun. Masih bisa tumbuh."
"Waktunya abis duluan buat kamu naik ke motor. Bahaya kalo kita didemo. Bayangkan, deh, gara-gara Chuuya bikin antrean panjang, kita di-black list dari game center ini."
Konyol. Sebodoh-bodohnya nilai ujian Chuuya di sekolah, pemikiran Dazai terlalu dangkal apabila yakin Chuuya bakalan ketipu. Membikin antrean panjang mana mungkin terusir, harusnya. Iya, mestinya baik-baik saja. Sewaktu Chuuya limbung Dazai memanfaatkannya untuk menggendong Chuuya. Mendudukkan adiknya ini di atas motor-motoran berukuran besar, dan sempat melamun Chuuya berakhir berkedip-kedip keheranan.
"Lihat, 'kan, motornya bisa kunaikin?! Asal berusaha semut juga bisa, kok."
"Percaya diri banget~ Yakin bisa mengendalikannya?"
"Bisa naik berarti bisa mengendarainya, dong."
Kali ini Dazai lebih menahan ketawanya, daripada seorang kakak yang selalu salah di mata adiknya dituding lagi, sebagai penyebab menguapnya antusiasme. Chuuya betul-betul bersemangat hingga mengebut. Motor-motor yang dikendalikan mesin permainan kadang kala ditabrak, atau lintasannya Chuuya hajar saja sampai avatarnya berkurang nyawanya, tetapi ia menyeringai puas tiba di garis akhir dalam waktu tiga menit.
"Sekarang giliranmu. Entar yang kalah harus menuruti permintaan dari yang menang."
Mainannya tambah aneh saja. Perlahan-lahan tetapi pasti Dazai nyaris mengumpulkan seluruh poin, meskipun waktu tempuhnya lima menit, membuat Chuuya setengah tercengang setengah masih bangga. Karena masing-masing unggul dalam satu aspek mereka sepakat menganggapnya seri. Dazai yang memperoleh giliran menentukan permainan menunjuk mesin untung-untungan, dan memang begitulah cara Chuuya menyebutnya dari dulu.
"Sederhana aja. Kita taruhan siapa yang bener. Masing-masing punya kesempatan buat pasang angka tiga kali. Menurutku bolanya bakal masuk ke lubang nomor lima, dua puluh, atau 55."
"Seribu. Pasti dapet seribu."
Pandangan Chuuya berbinar-binar sewaktu memercayainya. Tombol merah besar untuk melepaskan bola ditekan kuat-kuat, lalu mereka menontoninya bergulir dalam tabung kaca yang semakin lama semakin lambat. Chuuya sudah mengusap-usap tangan berdoa. Menyorakinya agar masuk pada lubang berangka seribu, harus seribu, meski ujug-ujug dikatai tuli oleh Chuuya gara-gara angka lima yang terpilih.
"Beruntungnya diriku~ Mendapat seribu pada permainan kayak gini terlalu mustahil, sih." Lima buah tiket Dazai tarik dari mesinnya. Diserahkan kepada Chuuya yang suka atau benci, harus puas dengan dua buah buah permen.
"Harusnya kau berdoa bersamaku biar dapet seribu."
"Mau dituker apa emangnya?"
"... katanya taurus keberuntungannya bagus, terus, ya ... gitu." Penuh kepercayaan diri Chuuya pun menerima Dazai yang ingin mengadu nasib, tetapi macam yang tampak Chuuya kalah sekaligus dikhianati secara telak. Mungkin pula ramalan gemini baik-baik semua. Kemarin malam Chuuya lupa mengeceknya, agar ia mendapat kecupan selamat tidur dari Dazai, hanya saja jika begitu seharusnya baik-baik saja.
"Zodiak, kok, dipercaya? Omong-omong Chuuya harus mengabulkan satu permohonanku~ Aku benar-benar gak sabar."
"Tau, kok, tau. Emang harusnya zodiak gak usah dipercaya. Kau boleh minta apa pun asalkan jangan ngerjain PR-mu, atau ..."
"Atau apa? Aku juga gak sejahat itu, kok, sampai tega minta aneh-aneh."
"... jangan minta pulang ke rumah. Bisa?"
Memang enggan dipikirkannya, sehingga Dazai memeluk Chuuya tanpa pertimbangan apa-apa. Namun, rengkuhan dari kakaknya itu merasai kehadirannya seumpama enigma–terlalu samar, banyak yang luput, kata-kata saja tidak punya untuk setidaknya menjelaskan, mengapa ia ada sebagai perasaan yang seperti ini?
Keluar dari game center menjadi pilihan, ketika Chuuya mengakui ia sebatas ingin bermain motor-motoran. Pada akhirnya Dazai menyerahkannya kepada Chuuya–ke mana mereka pergi, selama rumah bukan destinasi. Di luar sini Chuuya justru memandangi senja yang berkabar di kejauhan. Menatapnya dengan sendu, marah, kecewa, sedikit cemas, di mana dunia seperti itu yang disaksikan oleh anak sekecil Chuuya,
"Keliling-keliling aja gimana? Siapa tau ada yang menarik."
Tawaran Dazai diterima tanpa protes yang dibuat beraneka ragam. Garizah membawa mereka ke pusat perbelanjaan Yokohama. Bertahan di tengah hiruk pikuk yang bukannya menyurut, melainkan kian mendesak membuat Dazai menggenggam tangan Chuuya–gawat, bukan, jika adiknya menjadi orang hilang? Pikiran Dazai juga terasa acak. Kacau, sampai tidak sadar sewaktu Chuuya tahu-tahu berhenti tanpa peringatan.
"Chuuya?"
Etalase yang rutin dibersihkan dengan sabun dan cinta menampilkan sepeda-sepeda gagah berharga jutaan yen. Chuuya terpaku di hadapannya tanpa berkedip. Tiada perlu menjelaskan mengapa ia berhenti di sini, dan Dazai tersenyum karena ia paham begitu saja.
"Sepedanya bagus, bukan? Suatu hari nanti mau membelinya?"
"Gak juga. Sepeda yang kau perbaiki untukku lebih hebat." Iseng-iseng mengintip ke dalam kamarnya, di sana Chuuya menemukan Dazai sibuk mempelajari panduan praktis memperbaiki sepeda. Kakaknya yang jenius adalah kebanggaan, tetapi Chuuya agak membencinya yang bukan berarti iri.
"Bututnya enggak berkurang sedikit pun, meski udah diperbaiki. Punya Tachihara-kun bagus, 'kan? Kalau Chuuya menabung pasti terbeli, kok. Kubantu dikit, deh, gimana?"
"Buat apaan? Siapa juga yang perlu sepeda baru?! Lagian ... lagian aku melihatnya ... karena ada di etalase. Cuci mata bukan berarti mau beli!"
"Beneran membelinya pun ... mending untukmu. Jadinya gak perlu minta sama dia," sambung Chuuya separuh terisak. Tangan adiknya dalam genggamannya ini gemetar. Dazai pun spontan meremas jemari Chuuya
"Kapan-kapan kita balik lagi ke sini. Ayo."
Berjalan tanpa arah ternyata melegakan. Dua botol air mineral dingin dibeli seolah-olah perjalanan masih panjang, sembari melihat-lihat dalam tempo selambat mungkin–barisan jam antik, selebaran cupcake berdiskon lima puluh persen, kedai kebab yang baru bersaing, sulap jalanan sepi peminat; mereka menontoninya bersama figur anak perempuan yang kedua tangannya digandeng lengkap
"Kangen?" tanya Dazai mendapati pandangan Chuuya lari ke arah keluarga batih di samping kanan. Mendengarnya Chuuya mencibir Dazai, sekalian mencubit pinggang kakaknya yang berbeda tiga tahun dengannya ini.
"Sok tau! Dasar Dazai bego."
"Sangat kangen, dong?"
"Apalagi i–"
Cubitan kedua yang lebih galak nyaris tereksekusi, dan terima kasih kepada Akutagawa yang berpapasan dengan pertunjukan keliling ini. Ibunya menyapa melalui senyuman. Dazai membalas seala kadar, sementara Chuuya berbahagia untuk Akutagawa yang tampak membaik dari kepanasan yang dideritanya di sekolah.
"Mana Gin? Biasanya kalian bareng." Adik perempuan Akutagawa yang menginjak bangku kelas empat SD itu unik dengan maskernya, rambut hitam yang diikat model spiked bun, juga pendiam akut. Saat di klub karate Chuuya pernah mengajak Gin berlatih bareng. Kemampuannya bagus apalagi dewasa nanti.
"Gin cedera pas latihan. Istirahat dulu dua minggu."
"Sampaikan salamku padanya, ya. Bulan Juli nanti Gin ikut turnamen pertamanya, 'kan? Bilang juga ke dia gue bakal dateng, sama si Dazai." Sejenak atensi Akutagawa mengamati si sulung lamat-lamat. Siswa kelas dua SMP itu masih bercakap dengan ibunya. Tersenyum canggung tatkala dihadiahkan sebuah boks putih yang mengalami penolakan, tetapi maju terus supaya diterima.
"Enggak ada niatan buat balik ke klub karate? Gin nanyain lo terus."
"Ba-balik? Balik, ya ... itu, mah, gampang. Nanti gue kabarin lagi."
Boks besar yang ibunya Akutagawa suruh membukanya di rumah ada di tangan. Chuuya menghela napas karena akhirnya mereka terlepas, lantas menyeret Dazai menjauh dari kesederhanaa sulap yang mencapai klimaks. Senja yang mengambang benar-benar matang. Mungkin tinggal menghitung menit hingga terbenam, membuat Chuuya mendesah atas fakta malam sebentar lagi menguasai langit.
"Odasaku-sensei mengkhawatirkanmu juga, Chuuya." Debu yang menempel pada rambut adiknya Dazai bersihkan. Warnanya pun jingga menyerupai senja yang teramat sempurna ini, dan sesederhana itulah cara Dazai untuk tersenyum setiap harinya.
"Satu bulan udah berlalu. Basi banget baru diungkit sekarang."
"Tiap ada kesempatan aku berusaha nanya, lho. Tiba-tiba keluar padahal baik-baik aja di sana, dan Chuuya seneng dilatih sama Odasaku-sensei. Mana mungkin Kakakmu ini gak bingung?"
"... bosen."
"Masa? Kerjaanmu aja ceritain aktivitas di klub karate melulu. Ditanyain pelajaran langsung ubah topik."
"Gara-gara cerita tiap hari makanya bosen! Dazai cerewet."
Air muka Chuuya mengusut lagi, usai nada suaranya yang meninggi kepada Dazai mengeraskan galur ekspresinya. Dazai hanya tersenyum. Selalu saja tersenyum, entah dia bisa melakukan yang lain atau tidak. Mereka duduk-duduk di bangku taman dekat lampu jalan.
"Bohongmu jelek, Chuuya. Adikku itu orangnya jujur. Sampai kau harus berbohong berarti kau mengalami sesuatu yang serius. Apa salah aku khawatir?"
Manik-manik kaca menyebar dalam mata Chuuya. Kepalanya tertunduk lesu yang enggan Dazai ganggu gugat lagi, atau mungkin Chuuya betul-betul menangis. Benar sekali Chuuya itu berdusta. Chuuya pasti dicap buruk, dan ia tak bangga, tetapi apabila yang dipercayainya benar bahwa berbohong dapat sedikit melindungi Dazai, maka tidak apa-apa Chuuya belum menjadi adik yang baik lagi.
Kenangan lantas datang dengan sendirinya. Mengetuk pintu hati Chuuya, dibiarkan masuk tanpa ia yang berteriak-teriak agar menghilang saja, karena mungkin tersakiti atau tiada bedanya.
Kegiatan klub karate pada hari Selasa, Rabu, dan Jumat, membuat Chuuya pulang malam tiga kali dalam seminggu. Keamanan mereka sudah dijamin Oda-sensei. Tentram sekali walaupun lelah sehabis latihan amat menempel, tetapi keringat serta rasa pegal itu merupakan kekuatan Chuuya untuk menyemangati Dazai yang bebannya lebih berat, selaku siswa SMP.
Sampai suatu hari yang Chuuya ingat betul adalah Jumat, kekuatannya lenyap sama sekali membuat Chuuya ditinggalkan oleh cerita-ceritanya; sendirian.
Bel apartemen ditekan. Chuuya memang sengaja menunggu dibukakan Dazai, apalagi dia membawa biskuit buatan ibu Akutagawa. Entah kenapa Dazai agak lama. Sebenarnya Chuuya tak masalah, sehingga berinisiatif melakukannya sendiri. Ternyata Dazai datang, tetapi kehadiran kakaknya malah menghilangkan semua yang Chuuya miliki hari itu.
"M-maaf ... Chuuya ... tadi ... ada urusan."
Rasanya aneh mendengar suara Dazai putus-putus. Semakin janggal ketika Chuuya menemukan Dazai dalam balutan kimono wanita, tampak dipakai buru-buru, ditambah lagi wajahnya merah sekali. Saking paniknya Chuuya berlari masuk mengambil termometer sekalian kompres demam instan. Menyuruh Dazai duduk yang cara berjalannya bahkan tertatih-tatih; seakan-akan ingin ambruk entah beban apa yang ditahannya.
"Kau kenapa?"
Menjadi pertanyaan yang terlampau rumit yang sampai detik ini, terus Chuuya pendam seolah-olah Dazai bakalan ke neraka jika Chuuya berani-beraninya mengungkitnya.
"Bentar lagi aku kelas enam. Mau fokus belajar aja."
Tiada selarik respons dari Dazai. Telunjuknya mengarah pada tempat rental komik, di mana pemiliknya yang berusia paruh baya setia melambai-lambai memanggil seseorang.
"Daritadi dia memanggilmu terus. Fokus belajar darimananya coba?"
Hati Chuuya seperti ditohok anak panah. Bermenit-menit melamun demi menyangkal Dazai terasa sia-sia, lalu Natsume Souseki yang mengelola usaha rental ini kena amuk. Seingat Dazai ia pernah ke sini beberapa kali. Beliau juga memiliki buku-buku sastra klasik yang Dazai lihat-lihat–mungkin membeli satu buah adalah keputusan bagus, meski Dazai merasa sendu; waktu membacanya tersedia tidak, ya?
"Shiga ... Naoya?"
"Orang-orang memanggilnya dewa novel. An'ya Kouro adalah karyanya yang paling terkenal." Dari kover yang terpasang Dazai perlahan-lahan mengalihkan pandangan, dan menemukan Chuuya membawa setumpuk komik. Merasa lucu akan tingkahnya Dazai tertawa.
"Katanya mau belajar buat kelas enam nanti."
"De-deket tanggal ujiannya juga bisa. Kau sendiri mau beli buku itu? Buatan dewa novel pasti bagus."
"Buku panduan bunuh diri tetap yang terbaik, sih~ Cuma kepikiran aja jadi penulis kayaknya seru. Cita-cita Chuuya di masa depan apa?"
"Beli rumah yang gede buat kita berdua. Punya motor sendiri supaya ke mana-mana enak. Buat sekarang pakai sepeda dulu. Pas udah gede nanti, kemudian aku punya SIM, Dazai tinggal bilang mau ke mana. Sekarang juga boleh, sih, tapi sepeda enggak secepat motor."
Motor yang mengubah sunyi menjadi ramai. Kecepatan yang tidak membuat manusia terbang, tetapi mengendarainya sudah cukup mewujudkan kebebasan. Selesai membeli buku dan Natsume memberitahu, Chuuya harus mengembalikannya bulan depan, toko ditutup tepat di pukul setengah enam sore. Sinar merah kejingga-jinggaan telah memudar seutuhnya. Hanya ada malam yang gelap yang otomatis menyalakan lampu-lampu jalan.
"Suka atau benci kita harus pulang, Chuuya."
"Boleh makan malam di luar?"
"Kantongku kering~ Lagi pula membaca komik lebih enak di kamar. Bukunya juga ingin kubaca, Chuuya. Ayo pulang." Uang saku yang disimpannya di dalam tas Chuuya perlihatkan kepada Dazai. Kira-kira cukup untuk membeli dua hot dog. Dibandingkan menerimanya Dazai justru mendorong tangan Chuuya, disusul gelengan lembut yang mempertegas tindakannya.
"Tabung aja. Mulai dari sekarang simpen uangnya buat beli motor. Enam tahun itu cepat, Chuuya."
"Kelamaan."
"Chuuya?"
"Kubilang kelamaan! Emangnya Dazai mau pulang apa? Jangan kira aku bisa dibodohi terus-terusan."
"Dibodohi gimana? Aku enggak–"
Sebuah tamparan mendarat mulus meninggalkan warna merah yang pedih. Dazai menyentuh bagian yang digampar. Mengelusnya, menggigit bibir seiring ia membelainya sendiri, tetapi masih tersenyum membuat Chuuya benci. Kedua tangannya memukul-mukul dada Dazai. Meneriakinya bego, kakak tertolol di dunia, tetapi bodoh pun kenapa Dazai tidak dengan entengnya mengatakan, "Ayo kabur dari sini bersamaku"?
"Tuh, kan! Lagi-lagi kau menghindar. Menungguku punya motor sendiri terlalu lama. Kapan kita kaburnya coba kalo gitu? Sepeda juga lambat, terus Atsushi bilang padaku kereta sangat cepat."
Semenjak Chuuya menemukan Dazai membukakan pintu dengan tidak karuan tanpa merasa damai, ia memutuskan keluar klub karate demi menjaga kakaknya yang terlalu lembut. Dazai sendiri mati-matian menahan Chuuya yang hendak ke stasiun. Melepas paksa pegangan Chuuya pada pergelangan tangan Dazai, walaupun sebagai gantinya Dazai harus menghadapi Chuuya yang kesakitan.
"Mau, Chuuya. Aku mau pulang ke rumah."
"Bohong! Bohong! Bohong! Aku aja gak mau pulang lagi. Masa iya kau enggak merasakan hal yang sama? Padahal kau yang paling banyak merasakan penderitaan."
"Menderita apaan coba? Di rumah Chuuya aman. Enggak akan kedinginan, kepanasan, pas lelah bisa tidur di kasur yang empuk, baca komik, main gim di ponsel, laper tinggal pesen makanan, kita juga bisa ngobrol-ngobrol di ruang tamu sambil nonton televisi, ada AC, semua itu gak bisa diberikan oleh orang tua kita."
"Orang tua kita ataupun dia sama aja! Dazai gak mau tinggal berdua bareng aku? Biar aku aja yang kabur kalo gitu. Pasti kau mencariku nanti."
"Bukan gitu, Chuuya. Umurku belum tujuh belas. Berhasil kabur pun kita mau ke mana emangnya? Orang tua kita punya utang miliran yen, dan semua saudara pasti takut buat menampung. Dibawa ke panti asuhan juga dia pasti dateng buat menjemput. Jangan bilang padaku kau mau menggelandang atau apa."
"Menggelandang kayaknya lebih baik daripada tinggal sama setan."
"Jangan sembarangan! Banyak rentenir berkeliaran. Kalo motivasimu ikut karate supaya bisa melawan mereka, mending gak usah dilanjut lagi."
Sekali-kali memang Dazai harus memberitahu dengan keras. Melihat Chuuya berkaca-kaca, atau menangis sambil kelepasan berkata ia membenci Dazai; sakit hati; tetapi ternyata Dazai masih terlalu takut ditemukan luka yang itu, sehingga Chuuya dipeluknya erat-erat agar tidak ketahuan, Dazai merasa lemah padahal dia yang pertama-tama membentak.
"Jatuhnya aku tidak melakukan apa-apa untukmu, padahal aku kakakmu. Udah cukup, ya, jalan-jalannya. Masih ada besok, minggu depan, bulan depan, bahkan tahun depan. Bersemangatlah, oke? Besok liburan musim panas juga dimulai."
Ingin protes pun bibir Chuuya dikunci rapat-rapat oleh genggaman Dazai yang sebenarnya gemetar. Kurang lebih setengah jam berjalan kaki mereka tiba di sebuah apartemen elit yang sepinya awet. Pintu diketuk tiga kali. Sesosok pria dengan setelan jas putih yang menutupi kemeja
"Chuuya-kun, Osamu-kun. Kalian ke mana saja malam-malam begini baru pulang? Aku cemas, lho."
"Maaf, Mori-san. Keasyikan jalan-jalan."
Muak yang tak tertahankan membuat Chuuya menerobos masuk tanpa mengucapkan salam. Mori Ougai, kerabat dari ayah Dazai yang berbaik hati menampung dua bersaudara tersebut, menutup pintu apartemen sekaligus menguncinya. Beliau yang berprofesi sebagai dokter mengomentari buku yang Dazai beli. Berbincang-bincang seru sementara dibandingkan menimbrung, Chuuya memelototi Mori atas-bawah.
"Awas, Chuuya-kun. Ada sofa di depan–"
Perutnya menabrak sofa menyebabkan Chuuya meringis. Namun, dia yang tak kapok-kapok kembali memperhatikan Mori yang berjalan di belakang, dan kali ini keningnya membentur tembok. Setibanya di depan pintu kamar mandi Chuuya langsung menarik Dazai supaya masuk. Memaksanya melepaskan seragam membuat Dazai tambah bertanya-tanya.
"Ambil baju ganti dulu, dong. Gara-gara kebentur kepalamu miring, nih."
"Pake baju yang lama aja, kemudian ganti di kamar. Cepet mandi. Bau asem tau."
Selama mandi tiada seorang pun bertukar kata. Andaikata beberapa saat lalu Dazai tak sembarangan melarang-larang Chuuya, pasti akan disindirnya tingkah Chuuya yang absurd. Dazai yang dari kecil mandinya cepat tahu-tahu selesai, sedangkan Chuuya yang lengah jadi terbata-bata. Gayung yang airnya hanya seperempat membasahi rambut Chuuya. Langkahnya sudah bergegas lagi menyusul Dazai yang berbalik, hanya untuk menyentil kening adiknya.
"Rambutmu masih banyak busa. Biasanya juga Chuuya mandi paling lama padahal."
"Pasti kau mau bohong, ka–"
Cermin membenarkan omongan Dazai. Busa putih menyelip di antara rambut Chuuya, membikin sang korban mencak-mencak waktunya terbuang lagi.
"Lap tubuhmu sampai kering nanti. Anak kecil gampang masuk angin soalnya."
"Ucapkan itu pada dirimu sendiri, Dazai bego! Abis ini bantu aku mengerjakan PR matematika. Harus dikumpul besok kata Kunikida-sensei. Nanti gak diterima."
"Heee?! Besok? Ngapain dikerjain padahal? Kunikida-sensei itu antara terlalu baik sama rajin, deh." Mustahil sekali dua kali Chuuya lupa menuntaskan PR, apalagi matematika, dan Kunikida akhir-akhir ini mengizinkan telat mengumpulkan menilik nilai Chuuya jelek. Bisa-bisanya teringat tugas mana mungkin Chuuya dapat kabur secara spontan. Lucu sekali ujung-ujungnya ia balik gara-gara kelupaan telah diwanti-wanti.
"Pokoknya bantuin! Jadi Dazai mau aku gak naik kelas?"
"Iya, iya~ Sana bersihkan dulu rambutmu."
Tinggal sedikit lagi, ulang Chuuya kepada jantungnya yang berdebar-debar bahwa ia akan berhasil.
Dalam sekali guyuran Chuuya membilas busa nakal tersebut. Mengelap tubuhnya cepat-cepat, memakai baju yang lama, seolah-olah hanya untuk menemukan Dazai yang lagi-lagi diajak mengobrol oleh Mori. Jejak air yang malas Dazai bersihkan tampak membuat seragam putihnya basah. Kulitnya tercetak jelas yang Mori raba-raba dari bahu, sampai mungkin menyentuh-nyentuh dada.
"Mau apa kau?! Dazai udah janji bakal bantuin aku kerjain PR."
"Hanya menasihatinya, kok. Seperti yang Chuuya-kun lihat pakaian Osamu-kun basah. Gawat jika dia masuk angin, bukan?"
"Dikata enggak apa-apa. Ini juga mau ganti, kok. Kalian heboh amat." Dazai menatap keduanya malas secara bergantian. Membuatnya mendengarkan mereka justru memperbesar kemungkinan masuk angin, bukan? Mori dan Chuuya pun diam yang menunduk berbarengan.
"Omong-omong Chuuya, sebelum ngerjain PR makan malam dulu. Tunggu aku di ruang makan. Jangan ke mana-mana atau tempuramu kuambil~ Kalo bisa, sih, coba kerjain sendiri dulu. Nomor satu sampai tiga gak pernah Kunikida-sensei buat yang sulit-sulit."
"Ba-bareng aja."
"Diriku bukan anak-anak lagi. Umurmu udah sebelas tahun masa takut makan sendiri? Chuuya juga belum ganti baju, lho."
Keringat dingin membanjiri dari atas sampai bawah tubuh Chuuya. Belum sempat membatahnya Dazai duluan ke kamar, sementara Mori membuka pintu toilet. Dengan pasrah Chuuya mengenakan piyama. Menuju ruang makan yang sepi. Lamat-lamat memandangi tempura yang menjadi menu makan malam–masakan Mori. Duduk di atas kursi. Penasaran akan boks putih yang ibu Akutagawa beri, sehingga Chuuya membukanya tanpa semangat.
"Kue stroberi, toh. Jadi keinget–"
"Bagaimana, ya, jika aku memasukkannya ke dalam sini? Muat, kok, Osamu-kun."
Sepasang bola mata Chuuya membulat. Kartu yang Dazai dapatkan untuknya terjatuh yang kurang Chuuya pedulikan, selain bergegas mengeluarkan isi perut. Kepalanya makin pusing saat muntah. Pandangan yang berbayang-bayang. Limbung ke kanan-kiri sampai berhenti akibat membentur pintu, dan kakinya lemas menciptakan kesan lumpuh.
"Dazai ... Dazai ..."
Putus asa sekali. Sepanjang Chuuya berusaha berdiri lagi ingatan itu mengambang, mengenai Dazai dan Mori yang berada di meja makan, kue stroberi raib, diberikan pada Dazai, hancur lebur, menjadi banyak krim saat Chuuya temukan yang baunya amis, serta terlalu lengket. Chuuya ingat memakannya sesuap. Rasanya campur aduk, dimuntahkan, hendak memberitahu Dazai, saat ditemui Dazai justru dipaksa menghabiskan semuanya ...
Oleh Mori.
Krim putih aneh itu akhir-akhir ini sering Chuuya temukan. Mungkin salahnya juga yang takut bertanya kepada Dazai. Namun, apabila begini Chuuya mempunyai dalih mengapa ia belum duluan.
"DAZAI! DAZAI!"
Mengetuk-ngetuk pintu kamar Dazai ternyata tidak berguna, ketika disentuh sedikit saja sudah terbuka. Takut-takut Chuuya mengintip. Perutnya masih bergejolak yang terasa melilit, lalu kepalanya tak sengaja menyundul pintu disebabkan hilang keseimbangan, sementara kaki kanan Chuuya berusaha menapaki lantai supaya bertahan.
"Ah, Chuuya-kun mau menjemput Osamu-kun makan malam, ya. Katanya lapar. Makanya kuberi makan duluan."
Kaki Chuuya terpaku, seolah-olah selama-lamanya ia akan menyaksikan pemandangan di hadapannya ini, ke mana pun Chuuya melarikan diri. Dazai yang diizinkan selesai oleh Mori menjilat sudut bibirnya dengan tenang. Ia masih memakai seragam yang basah, tetapi kancingnya terbuka seluruhnya, membuat Dazai (sengaja) berpikir Chuuya yang menatapnya itu khawatir kepadanya, berujung mati kutu.
"Lama, ya? Diam-diam Chuuya itu manja juga ternyata~"
Tidak. Gelengan Chuuya sebenarnya menandakan ia menolak melihat ke bawah, walaupun tawa Dazai menggambarkan Chuuya kurang sudi dipanggil manja. Suaranya menjelma ketiadaan. "Apa yang terjadi?", "Kenapa dia memasukkannya ke dalam mulutmu?", "Krim aneh yang kau telan itu?", tetapi dari semua pertanyaan yang berderet dan mengantre, Chuuya paling ingin membantah Dazai, meski menjadi hal terakhir yang dapat Chuuya perbuat.
"Bicaralah sesuatu. Chuuya marah pa–? Eh? Kok nangis? Chuuya kenapa? Chuuya?"
Sekadar mengatainya tolol pun tak sanggup. Tangisan Chuuya mungkin meleleh, karena ia takut Dazai tidak akan pernah mengetahui Chuuya merasa berterima kasih. Walaupun di hadapan Mori sosok kakaknya itu kakinya seolah-olah dibelenggu, atau setiap inci tubuhnya digerakkan sekaligus dimiliki Mori, justru Dazai yang sebegitu pasrahnya sudah melakukan terlalu banyak; melindungi Chuuya tanpa perlu menjelaskannya.
"Perutnya mungkin sangat lapar. Di luar kalian makannya sedikit, ya? Baik Osamu-kun maupun Chuuya-kun masih dalam masa pertumbuhan padahal."
Namun ... namun untuk yang satu ini saja, yaitu tetap normal, mempertahankan alur sehari-hari yang selayaknya keluarga berbahagia, setelah apa yang baru terjadi, Chuuya tidak ingin Dazai melakukannya.
"Besok ... Dazai ... besok pasti bisa."
"Bisa, kok, bisa~ Tugasmu bakalan diterima, dan Kunikida-sensei kaget Chuuya dapet seratus. Benar, 'kan, Mori-san?"
"Kemampuan Osamu-kun tidak perlu diragukan lagi, sih. Olimpiade matematika di musim panas nanti juga Osamu-kun pasti menang telak."
"Terlalu memuji, ah. Jadi malu~"
Besok adalah percobaan Chuuya yang ke sekian untuk mengajak Dazai kabur, atau minimal Dazai bebas dari belenggu yang memenjarakannya. Puluhan tahun harus dilakukannya pun Chuuya tidak akan kalah, dari rasa lelah yang memintanya berhenti.
Tidak ada yang sia-sia bahkan dari seribu satu usaha yang gagal, dan Chuuya memercayainya demi Dazai.
Tamat.
FYI:
UMA: Unusual Market Activity (shibu kuker banget ya).
A/N: Langsung ngebet bikin fic ini abis berburu doujin di nh****i yang sebenernya juga, ga ada hubungan sama sekali dgn ide ini. tadinya mau diikutin ke event BSR, karena ambil tema musim panas juga, tapi kurasa ini menyalahi deh makanya publish di luar waktu event (ketentuannya harus fluff). ya ini fluff sih, cuma aku bingung masuk happy ending atau gak wkwkw. adegannya pun sengaja aku samarin banget biar rate masih aman. kalo aku bener2 pengen bikin nsfw-nya, kurasa bakal dibikin dari sudut pandang dzi sebagai kakak. padahal ide ini simple banget, tapi entah kenapa aku paling semangat eksekusi yang ini.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. kalo kalian bingung sama adegan morizai di ruang makan ... ya sapa juga yang mau jelasin. biarlah kalian bertanya2 aja kira2 ngapain.
