Kalo kalian mendengar nama Jean dan Eren, pasti hal yang terpikirkan oleh kalian adalah keributan, musuh, berantem, dan berisik. Ya itu wajar sih. Seantero sekolah pun sudah tahu dengan kebiasaan yang satu itu. Bahkan katanya, sehari tanpa mendengatkan bacotan Jean dan Eren, bagaikan makan gado-gado tanpa kuah kacang, atau Indomie tanpa telor. Hambar.
Tapi dibalik itu, pasangan teman seperbangsatan ini juga terkenal akan keakraban dan kekompakan mereka yang kadang sampai bikin Pak Levi stress 9 keliling.
Bahkan terkadang, keakraban mereka ini sering kali dianggap sebagai bentuk keromantisan antar teman.
Mereka sih yang ngaku teman. Kalau kalian tanya ke siapa pun yang ada di sekolah itu, pasti 99,9999999% penghuni di sana akan menjawab, "Romantis ala pasangan tolol."
Seperti sekarang. Jean dan Eren sedang ada praktek masak. Kebetulan juga mereka satu kelompok. Tidak tahu saja jika saat ini mereka sudah menjadi tontonan teman sekelasnya karena interaksi mereka yang dinilai biasa namun tak biasa.
"Jan, rasanya udah pas gak?" Eren menjulurkan sesendok kuah kare kepada sang partner.
Jean mencicip. "Hmm... kayaknya udah. Tinggal tunggu rada kentalan dikit."
"Oke."
Kali ini gantian, Jean yang mengambil sedikit adonan krim kue pada jari telunjuknya dan mengarahkannya pada mulut Eren. "Menurut lu manisnya pas gak?"
Eren sempat mendelik sesaat. "Pake sendok dong, anjir, jorok banget lu!"
"Alah, biasanya juga lo nyomotin bekal gue pake tangan."
Iya juga sih, pikir Eren. Ia pun mengemut jari telunjuk Jean tanpa pikir panjang, meski tidak lama. Telinganya seolah tuli akan jeritan tertahan para gadis atau pun bisikan jahil dari anak cowok di kelas.
"Udah cukup sih. Tapi warnanya masih terlalu pucat. Tambahin pewarna aja setetes lagi," balasnya tak lama setelah Jean mengusap sudut bibir Eren yang terkena noda krim.
"Sip."
Selain di saat-saat tak terduga seperti cuplikan di atas, Jean dan Eren juga sering berinteraksi diluar dari kebiasaan bacot mereka ketika berada di roof top sekolah atau perpusatakan.
"Jeeaaannn..."
Nahkan. Kebiasaan unik namun biasa dari seorang Eren Jaeger kepada partner kelahinya ini, adalah merengek.
Jean kadang suka tidak habis pikir dengan tingkah polah bocah beralis tebal ini. Padahal usia mereka sudah 17 tahun lho, tapi tuh anak masih aja suka ngerengek! Anehnya lagi, kenapa cuma sama Jean?!
"Jeeeaaaannn ihhh... gue ngantuuuk!"
"Selesaiin dulu, goblok!"
"Gak sanggup lagi gue, Jan, sumpah!" Eren menjatuhkan kepalanya pada pundak Jean. "Gue semalam begadang ngerjain tugasnya si guru kurang gizi itu sampe jam 2. Terus pagi sampe siang tadi kan gue disuruh latihan voli buat pertandingan minggu depan. Ini tulang gue rasanya mau keriput."
"Keropos ya tolol, mana ada tulang keriput." Jean mendengus. "Lagian siapa suruh lu ngerjain satu malam, udah tahu tugasnya dikasih dari minggu maren."
"Ya kan lupaaa..."
Kepala eren yang mulanya berada di pundak, kini beralih pada paha Jean. Padahal empunya belum mengizini, tapi doi sudah tiduran aja di sana sambil selonjoran kaki.
"Heh monyet, terus lu suruh gue yang ngerjain sisanya sendirian gitu?!"
"Dih su'udzon! Bangunin aja gue 30 menit lagi. Kalo gak, bagian gue tinggalin aja, biar gue kerjain di rumah. Janji deh gue selesaiin malam ini."
"Ck. Lo tuh emang suka banget ya ngerepotin gue." Meski begitu, tindakannya yang kini tengah mengelusi kepala Eren berbanding terbalik dengan apa yang ia ucapkan barusan.
"Iya iya, Eren emang anak baik."
"Najis!"
Ah, benar juga. Jika kalian belum tahu, maka akan saya beri tahu satu hal. Fakta bahwa Eren itu sebenarnya sangat manja jika sudah berduaan dengan Jean. Padahal jika ada orang lain di sana, ia pasti akan bertindak sebagai anak laki-laki kuat yang mandiri. Beda banget kalo udah ditinggalin berdua sama Jean.
"JAN ANJIR MATI LAMPU!"
"Tahu goblok, gak usah teriak, kita satu kamar!"
"PETIR JAN, PETIIRR!!"
"Iya gue juga denger, gue enggak budeg ya!"
"GELAAAP JEAN!!"
"Gue tahu nyet, mata gue masih berfungsi dengan baik."
Eren merengut memandang kegelapan di hadapannya. "Gue tidur di kasur lu ya?"
Jean memutar bola mata jengah. Sebenarnya hal seperti ini sudah tidak asing lagi. Bagaimana pun juga, mereka sudah bersama sejak TK. Sudah bukan keanehan lagi bila ia melihat sosok Eren yang penakut dalam kegelapan. Ditambah lagi di luar sana tengah hujan deras dan banyak petir.
"Yaudah sini, buru!"
Eren langsung melompat dari kasur dan berlari menuju kasur milik teman satu kamarnya. Mereka sekolah di sekolahan yang ada asramanya, jadi tidak usah heran.
Ketika si manik emerald memeluk tubuh yang lebih jangkung, Jean merasa tidak asing dengan bentuk pakaian yang dipakai Eren sekarang.
"Eh nyet, lu pake kaos basket gue ya?!"
"Hehe... minjam ya, baju gue baru aja di laundry."
"Sialan. Lain kali izin dulu kek!"
"Dih, harusnya lu gak usah kaget dong. Lu kan juga sering minjam kaos kaki gue sampe jadi melar semua gara-gara dipaksain ke kaki lo yang gede itu!"
"Bukan gede, tapi penuh otot. Emangnya elu, badan cungkring banget udah kayak lidi berjalan."
"Bangsat."
Eren tiba-tiba saja memukul dada Jean sedikit keras. "Enggak usah raba-raba paha gue juga ya, kuda mesum!"
"Dih, kayak baru pertama aja. Lagian, lu tadi pake celana sependek ini pas nge-laundry?"
"Iyalah."
Ctak!"Anjing, sakit goblok!" Eren memisuh. Jitakan Jean itu tidak main-main kuatnya.
"Kan udah dibilang, lu cuma boleh pake celana pendek kalo ada gue atau keluarga lu. Atau Mikasa sama Armin."
"Kan baju gue pada dicuci, lu mau gue telanjang kaki?"
Tidak, jangan sampai. Jean tidak mau.
"Anjing, enggak usah cari-cari kesematan buat remas pantat gue juga, kuda mesum!"
"Salah sendiri." Jean menghela napas. Tangannya yang tadi digunakan untuk meremas pantat Eren pun beralih fungsi untuk menepuk-nepuk pelan bokong semok itu. "Udah sana tidur, besok jam pertama ada si orang tua bontet."
Eren tidak membalas. Sepertinya sudah nyaman dengan servis yang Jean berikan. Matanya perlahan-lahan mulai memejam. Tangannya pun semakin erat memeluk tubuh yang lebih besar.
Cup!
Jean mengecup bibir itu singkat. "Oyasumi."
"Oyasumi."
Ya, mereka memang hanya teman. Setidaknya untuk saat ini.
Meski begitu, mereka berdua sadar jika mereka saling membutuhkan satu sama lain, dan memiliki peran penting dalam kehidupan ini.
#omake
"Kuda, sadar woy!"
Jean bergumam tidak jelas. Tangannya semakin erat memeluk pinggang sang teman. "Bentar lagi..."
"Bentar laginya lu tuh bisa 30 menit."
"Hmmm..." Jean menggesekkan ujung hidungnya pada ceruk leher Eren. "Gue kok suka lihat lu pake kaos gue ya? Apalagi yang ada tulisan nama gue di belakang."
"Itu karena gue ganteng, pake apa aja cocok."
"Dih." Jean memasukkan sebelah tangannya ke dalam kaos Eren dan mulai meraba pinggang kecil itu. "Badan lo ramping banget sih kayak cewek. Pake baju kegedean gini berasa liat kurcaci."
"Sialan."
"Sering sering pake kaos gue, kalo bisa enggak usah pake calana lagi. Sempakan aja. Atau telanjang kaki juga boleh."
"Ngomong mesum lagi, titit lo gue jadiin titit yakiniku."
