Hope you like this fiction :)


Hidup kadang-kadang bisa menjadi sangat lucu. Besar di panti asuhan dan mengetahui bahwa orang tuamu tidak menginginkanmu, bekerja siang malam untuk membiayai sekolah sendiri. Setelah lulus sekolah dan diterima bekerja di sebuah pusat perbelanjaan besar dikira semua penderitaan selesai, ternyata malah terkena PHK, belum juga satu bulan bekerja. Sehun menghela nafas menghentikan pikiran mengenai nasib buruknya. Mati saja lah, pikirnya. Sehun memperhatikan sekitarnya, saat ini dia berada diatas jembatan yang sangat terkenal di kota Seoul, suasana lebih sepi dari biasanya. Hell, mana ada orang yang mau keluar di tengah pandemi begini.

Dengan perlahan Sehun menghadapkan badannya ke pagar pembatas jembatan, apakah kamu makan dengan baik? Sehun membaca salah satu kalimat pencegah bunuh diri dihadapannya, dia mendengus. Apa yang mengganggu pikiranmu? Sehun membaca satu lagi yang ada disebelah kanannya, lalu pikiran-pikiran tentang masalahnya kembali menghantui, Sehun menghembuskan nafasnya perlahan. Dia menaikki pagar pembatas jembatan, bukankah setiap manusia didunia ini diciptakan dengan tujuan masing-masing? Pikirnya. Apa Tuhan menciptakanku hanya untuk diriku sendiri? Karena sepertinya aku hanya jadi beban untuk orang lain. Mati saja lah, lagi-lagi otaknya bekata.

Sehun menghela lagi nafasnya, dia sudah siap sekali ingin melompat sebelum seseorang memeluknya tepat di betis dan menariknya turun dari pembatas jembatan, membuat keduanya terjatuh di trotoar dengan punggung Sehun yang membentur wajah siapapun orang yang menariknya turun.

Dengan cepat Sehun melepaskan tangan orang tersebut dan menyingkirkan tubuhnya dari tubuh orang yang menariknya tadi. Sehun mengulurkan tangannya untuk membantu orang yang menariknya. Setelah mereka duduk berhadapan akhirnya Sehun bersuara, "Mr. Kim?"

Sementara orang yang dipanggil tadi sedang menyentuh belakang kepalanya dan merasakan benjolan kecil disana, meringis lalu berkata, "Kau mengenalku?"

"Aku salah satu mantan karyawanmu." Tanpa sadar Sehun melengkungkan ujung bibirnya kebawah.

Sehun mengingat kejadian hari ini, pagi tadi dia terbangun seperti biasa untuk bekerja, karena Sehun bekerja sebagai merchandiser bagian sayuran pada supermarket maka dia harus datang lebih pagi dan memastikan sayuran yang didistribusikan hari ini segar. Selain itu Sehun juga harus memastikan display sayurannya tertata dengan baik. Sampai supermarket, Sehun terkejut karena merchandiser lain biasanya tidak datang sepagi ini, tapi dia bisa melihat kalau hampir semua orang di manajemen supermarket pun datang lebih awal pagi itu. Morning parade yang biasanya hanya dipimpin oleh supervisornya pun jadi dipimpin langsung oleh orang yang sedang meringis di depannya sekarang. Sehun ingat dia berbicara tentang keadaan ekonomi yang kurang baik karena pandemi, bilang kalau supply barang akan susah didapatkan sampai pada akhirnya meminta maaf karena harus memberhentikan hubungan kerja mereka berkaitan dengan akan ditutupnya supermarket tempat Sehun bekerja. Sehun sempat tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, tapi melihat teman-teman wanitanya menangis karena kehilangan pekerjaan, Sehun pun menghela nafasnya, ingin sih menangis juga, tapi dia kan laki-laki, sudah tidak punya kerjaan menangis pula. Apa kata yang lain?

Hari itu menjadi hari terakhir dibukanya supermarket, Sehun tetap bekerja seperti biasa, tapi teman-temannya terlihat sangat sedih. Bahkan ada yang menyusun produk di display sambil menangis. Untung atau sialnya hari itu tidak banyak pengunjung, sekali lagi, hell siapa yang mau keluar rumah saat pandemi begini. Supermarket seperti tempat Sehun bekerja pun lama-lama akan tergantikan dengan online market.

"-hey?" Sehun tersadar dari lamunannya saat tangan orang tadi melambai tepat di depan wajahnya.

"Maaf?"

Orang tersebut menghela nafas, "Ayo minum." Orang itu berbicara.

Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak minum alkohol." Untuk makan saja pas-pasan, jadi daripada untuk beli alkohol lebih baik ditabung untuk bayar sewa tempat tinggalnya.

"Terserah. Aku butuh es untuk belakang kepalaku, nanti akan kubelikan ramen juga untukmu." Katanya sambil berdiri dan menepuk belakang celananya untuk membersihkan debu yang ada disana.

Sehun mengikutinya yang sekarang sudah berjalan pelan, "Siapa namamu?" Tanyanya lagi.

"Namaku Oh Sehun, Mr. Kim." Sehun menjawab pelan.

"Panggil Jongin saja, aku bukan lagi atasanmu." Sehun mengangguk tanpa peduli Jongin melihatnya atau tidak.

Mereka berjalan pelan melewati jembatan, tidak ada yang memulai obrolan lagi tapi keheningan yang dirasakan bukan keheningan yang canggung. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, tidak terlintas sedikit pun untuk memulai obrolan lagi.


Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah minimarket, "Kau bisa tunggu disini, aku akan kedalam untuk membeli ramen." Sehun hanya mengangguk dan duduk di kursi yang disediakan disana.

Kalau dipikir lagi sebetulnya Sehun tidak perlu untuk mengikuti Jongin kesini hanya untuk sebungkus ramen. Faktanya dia bahkan makan ramen hampir setiap hari. Sehun menghela nafas lagi, entah untuk ke berapa kalinya hari ini.

Lalu Jongin datang dan meletakkan dua mangkuk ramen dihadapannya. Jongin duduk lalu mengeluarkan dua botol air mineral dan kimchi dari kantung plastik yang dibawanya. "Makanlah dulu. Kau kelihatan sangat...kurus." Jongin memelankan suaranya di kata terakhir.

Mereka makan dengan tenang sampai Jongin memutuskan untuk memecah keheningan, "Aku minta maaf."

"Untuk apa?" Sehun bertanya disela kunyahannya, membuat Jongin sedikit mengernyit tidak nyaman.

"Kau tadi berniat melompat dari jembatan karena kena PHK kan?" Sehun masih menampilkan muka bingungnya, jadi Jongin meneruskan. "Aku yakin semua ini pasti sulit dicerna olehmu, jadi aku akan menjelaskan pelan-pelan ya. Jadi tolong dengarkan saja dulu. Aku harus mengeluarkan ini dari sistem pikiranku." Jongin berkata sambil menempelkan bungkusan kecil es batu di belakang kepalanya.

Sehun mengangguk saja, mau bagaimana pun orang di depannya ini adalah mantan bossnya kan?

"Aku Kim Jongin, anak pertama dari pemilik KMart. Aku dilahirkan dengan doktrin kalau aku akan meneruskan supermarket yang dibangun oleh kakekku. Dari kecil aku berjalan diatas karpet merah ke sekolah terbaik, tempat kursus terbaik, aku hanya diberikan yang terbaik. Umurku masih 20 tahun ketika ayahku meninggal dan aku harus menggantikannya, aku belum siap. Aku harus belajar banyak hal nyata dalam waktu yang bersamaan sehingga aku lebih sering mengacaukannya dibanding menyelesaikan masalah yang ada. Puncaknya di tahun ini, kemampuan beli masyarakat menurun, orang-orang juga lebih memilih belanja online daripada datang ke supermarket, cash flow perusahaan yang sudah hancur dari tahun kemarin akhirnya collapse di tahun ini, aku harus mengakui kegagalanku dan menutup supermarket yang sudah dibangun oleh kakek dan ayahku dengan susah payah, memberhentikan ribuan karyawan, menjadi aib untuk keluarga." Jongin menghela nafasnya, "Memberhentikan ribuan karyawan berarti menghancurkan hidup banyak keluarga, aku dapat mencegahmu bunuh diri, tapi yang lain?" Jongin menggeram kesal.

Sehun menelan ramen terakhirnya dan meminum air mineralnya. "I would be a bitch kalau aku malah lebih banyak menceritakan masalahku, tapi kurasa kau juga harus dengar karena aku butuh mengeluarkan ini dari sistem pikiranku." Sehun melanjutkan ketika Jongin hanya menanggapi dengan mengarahkan pandangannya pada Sehun dan meneruskan ramennya yang tertunda tadi. "Aku mau melompat dari jembatan bukan hanya karena di PHK, tapi hidupku memang sudah susah dari kecil. Aku besar di panti asuhan, bekerja keras untuk hidup dan membiayai diriku sendiri sampai akhirnya lulus sekolah lalu diterima bekerja di supermarketmu, ku kira penderitaanku berakhir, tapi sepertinya Tuhan tidak mau melihatku senang, itu pun kalau dia memang ada, jadi dia memutuskan ku untuk jadi pengangguran. Aku tidak punya keluarga, aku tidak punya teman karena punya teman berarti ada tambahan pengeluaran untuk makan bersama atau hanya sekedar keluar bersama and I can't afford that." Jongin berhenti mengunyah dan hanya memperhatikan Sehun. "Aku memutuskan kalau mati akan lebih baik, kau tahu, untuk malam ini saja aku tidak tahu mau tidur dimana."

Jongin selesai dengan ramennya dan berkata, "Rumahku tidak jauh dari sini, kalau kau mau kau bisa tinggal denganku dulu, kau bisa pergi kapan pun kau siap." Jongin berdiri tanpa mendengarkan jawaban Sehun.

Sementara Sehun terlihat berpikir, Jongin bangkrut, Sehun pengangguran, kalau kisah mereka jadi drama pasti ratingnya akan sangat tinggi. Manusia sangat suka melihat orang yang menderita hidup bersama kan? "Kau mau ikut tidak?" Terdengar suara Jongin yang memanggilnya.

Tanpa pikir panjang lagi Sehun pun berdiri dan berjalan cepat ke arah Jongin yang meneruskan jalannya masih sambil memegang es batu di belakang kepalanya.


Rumah yang dimaksud Jongin adalah apartemen kecil yang tidak jauh berbeda dengan tempat Sehun diusir sore tadi. Tapi karena ini apartemen ditengah kota jelas harganya jauh berbeda dengan apartemen Sehun yang terletak dipinggir kota.

"Kau benar-benar bangkrut ya?" Sehun benar-benar bertanya, tidak ada sedikitpun nada meledek atau sarkasme dalam kalimat yang diucapkannya.

Jongin mendengus, "Kau bisa istirahat dulu, ada air mineral di kulkas kalau kau mau. Aku akan mandi duluan." Sehun dapat melihat Jongin memasuki satu-satunya ruangan yang terlihat disini, jelas sekali itu kamarnya.

Lagi, Sehun duduk dan memikirkan apa yang terjadi hari ini. Apa yang kulakukan ini benar? Apa menumpang di tempat mantan atasannya ini sesuatu yang benar? Aku tidak punya bakat, tidak ada ambisi untuk hidup, surely not even a single fucking clue about anything. Kalau tadi aku melompat saja kira-kira apa yang akan terjadi? Apa ada yang akan menangis jika aku mati? Apa mereka akan mengingat wajahku? Apa mereka bahkan tahu siapa aku? Sadar atau tidak air mata sudah mengalir di pipinya. Kenapa aku sedih?

"Sehun?" Tiba-tiba sudah ada Jongin di hadapannya dengan rambut basah dan piyama yang menggantikan kemejanya tadi. Jongin mengambil tempat disebelah Sehun dan mengusap punggung Sehun pelan, "Menangislah dulu, habis itu mandi. Kau butuh banyak istirahat."

Sehun bahkan tidak berusaha menghentikan tangisannya setelah itu, dia menangis mengingat masa kecilnya yang tidak pernah tahu kasih sayang orang tua, penuh dengan bully hanya karena dia tinggal di panti asuhan, dia menangis mengingat kalau dia sakit dia hanya akan tidur dan minum air hangat sampai sakitnya hilang lalu bisa kembali bekerja untuk meneruskan kehidupannya, mengingat dia hanya bekerja untuk bisa hidup di hari berikutnya selama lebih dari sepuluh tahun, aku lelah, pikirnya. "Aku mau mandi." Sehun berkata dengan suara paraunya.

"Baiklah," Jongin berkata sambil menggiring Sehun masuk ke kamarnya, "kamar mandinya disini, sebentar ku ambilkan handuk bersih dulu." Jongin bergegas berjalan ke lemarinya dan mengeluarkan handuk bersih, "Ini." Katanya sambil memberikan handuk pada Sehun. "Baju piyamamu akan ku letakkan di atas kasur ya, aku akan menunggumu diluar atau kau bisa langsung tidur saja, aku tahu hari ini sangat melelahkan untukmu." Sehun hanya mengangguk dan berjalan ke dalam kamar mandi.

Jongin menghela nafasnya, dia berjalan keluar kamar dan menutup pintunya pelan. Jongin butuh bir dingin untuk sedikit menenangkan pikirannya. Jadi Jongin mengambil satu botol bir di kulkasnya dan meminumnya di kursi yang tadi ditempati Sehun sambil menangis. Tiga bulan ini adalah masa terberat dalam 24 tahun dia hidup di dunia, dia ingat direksi memaksanya untuk mengajukan pinjaman ke bank agar supermarketnya tetap bisa beroperasi tapi Jongin tidak menyetujuinya, bukan itu yang diajarkan oleh kakek dan ayahnya. Mereka tidak membangun bisnis dari dana pinjaman bank dan Jongin tidak ingin merubah kebiasaan itu. Dia ingat meminta pendapat pada ibu nya dan beliau bilang kalau beliau percaya apa pun keputusan Jongin, itu adalah keputusan terbaik. Kalau pun mereka harus jatuh miskin setidaknya mereka masih punya satu sama lain. Maka dari itu Jongin yakin untuk tetap menjual saham walaupun dengan harga murah agar dia bisa memberikan pesangon untuk semua karyawannya. Setidaknya dia tidak perlu meminjam ke bank kalau dengan cara itu, karena sisa kekurangannya bisa dia ambil dari aset warisan yang ayahnya berikan pada Jongin.

"Terima kasih." Jongin mendengar Sehun berkata sambil duduk di sebelahnya.

Jongin mengangkat bahunya, "Aku hanya melakukan apa yang saharusnya kulakukan."

"Itu alasanmu menyelamatkanku?"

"Apa kau mengharapkan ada alasan lain?" Jongin meminum birnya lagi.

"Kau harusnya membiarkan ku saja." Lalu Sehun melihat ekspresi bingung Jongin, "I really appreciate what you did back then. Tapi aku sudah sangat siap sekali tadi dan sekarang aku bingung harus bagaimana melanjutkan hidup."

"Kau butuh istirahat, berpikir tengah malam setelah hari yang berat tidak akan menghasilkan pikiran yang baik." Jongin menegak habis birnya. "Ayo tidur."

"Aku bisa tidur disini." Jawab Sehun ragu. Jelas sekali Jongin tidak menggunakan pemanas diruang tamunya.

"Lalu mati kedinginan?" Jongin mendengus, "Tempat tidurku cukup untuk kita berdua dan kita berdua sudah sangat lelah hari ini, jadi aku tidak ingin berdebat lagi. Kau bisa memikirkan cara lain untuk mati besok." Jongin menaruh botol kosongnya di atas meja makan dan berjalan memasuki kamarnya.

Sekali lagi Sehun tidak tahu apa ini tindakan yang benar tapi kakinya sudah berjalan mengikuti Jongin memasuki kamarnya. "Selamat malam." Jongin berkata sambil mematikan lampu kamarnya dan tidur disebelah kanan tempat tidur.

Sehun menutup pintu kamar Jongin lalu berbaring di sebelah kiri tempat tidur Jongin. "Selamat malam Jongin."

Malam itu pertama kalinya Jongin suka mendengar namanya disebut oleh orang lain selain ibunya.


Sehun terbangun keesokan paginya karena mencium harum masakan, seperti bacon dan telur, karena sarapan bukan hal yang biasa Sehun lakukan dan makanan seperti itu terlalu mewah untuk Sehun, jadi Sehun tidak yakin. Disampingnya Jongin masih tertidur, Sehun memperhatikan kalau sedang tidur begini wajah Jongin terlihat lebih muda, tidak ada guratan cemas di dahinya yang jelas sekali banyak berpikir mengenai masa depan.

Sehun memilih untuk bangun dan mengambil air di dapur. Di dapur Jongin dia melihat ada wanita yang sedang memasak. "Selamat pagi." Sapa Sehun. Sehun belum tahu apa relasi wanita ini dengan Jongin, jadi dia harus sesopan mungkin mengingat wanita ini bisa masuk ke apartemen Jongin tanpa membangunkan Jongin.

"Selamat pagi, kau pasti Sehun ya?" Wanita itu mengelap tangannya pada apron yang melekat dibadannya. "Aku ibunya Jongin." Lalu mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Sehun yang langsung Sehun sambut dengan cepat. "Jongin memberi tahu ibu kalau temannya menginap tadi malam. Mengingat Jongin hanya tinggal sendiri pasti dia tidak bisa membuatkan kalian berdua sarapan yang benar."

Sehun tertawa canggung, "Jadi merepotkan Bi."

Ibu Jongin mengibaskan tangannya, "Teman Jongin sudah ku anggap anakku sendiri, lagi pula Jongin jarang punya teman." Katanya lagi.

Aku juga bukan temannya, pikir Sehun. "Apa ada yang bisa kubantu Bi?"

"Bisa tolong ambilkan piring Sehunna? Sebentar lagi telurnya matang." Sehun mengangguk dan mengambilkan piring yang diminta, "Kau bisa memanggilku ibu, semua teman Jongin sudah kuanggap sebagai anak sendiri." Ibu Jongin memang mengucapkannya dengan nada yang santai, tapi bagi Sehun, bisa memanggil orang lain dengan sebutan ibu tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

"Baik Bu." Sehun membalas pelan.

"Ibu sudah datang?" Terdengar suara Jongin dari pintu kamarnya.

"Kau ini, sudah tahu punya tamu dirumah. Kenapa tidak bangun lebih dulu dari tamumu? Ibu jadi merepotkan Sehunna karena anak Ibu masih tidur dan tidak bisa dimintai tolong." Tipikal ibu sekali, masih pagi sudah marah-marah.

Tapi Jongin hanya tersenyum dan menghampiri Ibunya lalu mengecup pipi ibunya cepat, "Aku memberikan waktu agar Ibu dan Sehun bisa lebih dekat. Bukankah aku anak yang baik?"

Sementara Ibu Jongin mendengus, Sehun jelas tidak mengerti apa yang Jongin bicarakan. "Ibu masih harus ke bank setelah ini. Jadi pastikan kalian makan dengan baik, nanti siang ibu akan kembali dan membawakan kalian bahan makanan." Ibu Jongin menghela nafas, "Bagaimana kau bisa membiarkan kulkasmu hanya berisi bir dan air mineral Jongin?" Jongin hanya memberikan senyuman khasnya, jelas sekali tidak ada alasan untuk menjawab pertanyaan Ibunya.

Sehun dan Jongin mendudukan diri mereka di meja makan, "Ibu tidak ikut sarapan dengan kami?" Sehun bertanya.

"Ibu sudah sarapan sebelum kesini. Makanlah dengan tenang." Ibu Jongin menepuk pundak Sehun dan Jongin lalu melepaskan apron yang digunakannya dan mengambil tas tangannya, "Ibu pergi dulu ya. Kalau bisa sebelum ibu kembali kalian sudah harus selesai membersihkan tempat ini. Lihatlah Jongin, banyak debu menempel di televisimu." Sehun sudah berdiri untuk mengantarkan Ibu Jongin keluar sebelum Ibu Jongin berkata, "Makanlah dengan tenang Sehunna, ibu belum setua itu untuk berjalan keluar pintu dengan bantuan." Dengan itu Ibu Jongin pun pergi.

"Maaf kalau membuatmu tidak nyaman, Ibuku memang suka seenaknya begitu." Jongin berkata.

Ingin sekali Sehun menjawab, setidaknya kau masih punya ibu, tapi dia tidak ingin menghancurkan mood baik yang sudah ditinggalkan ibu Jongin pagi ini, "Kurasa aku hanya belum terbiasa." Akhirnya kalimat itu yang dia pilih.

"Jadi aku akan membersihkan kamar dan kamar mandi lalu dapur dan ruang tamu akan kuserahkan padamu?" Jongin bertanya dengan tidak yakin, bagaimanapun mereka baru kenal kurang dari 24 jam.

Sehun mendengus, "Untuk hari ini aku setuju. Yang selanjutnya kita harus membaginya dengan lebih adil." Jongin tertawa mendengarnya dan Sehun dibuat bingung karena perutnya terasa aneh melihat Jongin tertawa, bukan rasa tidak nyaman, justru sebaliknya, membuat Sehun ingin melihat tawa Jongin lagi.


Kekhawatiran Sehun mengenai apa yang harus dilakukan dengan hidupnya tidak pernah terjadi. Awalnya Sehun banyak mengobrol dengan Ibunya Jongin, membantu Ibu Jongin memasak, walaupun tidak banyak tapi dia berusaha membantu. Sampai suatu hari di bulan pertama Sehun tinggal bersama Jongin, Ibunya Jongin mengajak Sehun membuat kue. Pada hari pertama kue buatan Sehun tidak mengembang, tapi entah mengapa Sehun masih berusaha membuat kue di malam harinya, bahkan ketika Ibunya Jongin sudah pulang.

Dibulan kedua Sehun tinggal bersama Jongin, Jongin memutuskan untuk menjual saja apartmentnya dan kembali kerumah warisan yang ditinggalkan ayahnya. Awalnya Sehun sempat khawatir, dia mau tinggal dimana lagi kan? Sampai Ibunya Jongin bicara, "Dirumah nanti kau akan sekamar lagi dengan Jongin, tidak apa-apa kan Sehunna?" Sehun mengangguk pelan, diam-diam dia menghembuskan nafasnya lega. Pindah ke rumah Jongin membuat Sehun lebih sering lagi membuat kue, kali ini dia bahkan belajar membuat berbagai macam dessert. Sementara Jongin sudah bekerja di sebuah hotel yang pemiliknya merupakan teman baik Ayahnya dulu. Setelah masa pandemi selesai, semua orang seakan berlomba-lomba untuk liburan, hal ini berimbas langsung pada tempat kerja Jongin, Jongin bisa tiga hari berturut-turut tidak pulang ke rumah saking sibuknya sebagai asisten housekeeping manager. Kalau sudah begini biasanya Sehun yang akan bolak-balik mengantarkan Jongin makanan dan baju ganti.

Sehun yang sering mengantarkan makanan untuk Jongin lalu teman-teman Jongin mencoba kue buatan Sehun, berakhir jadi Sehun membuka pesanan dessert yang akan diantar setiap jam makan dibulan ketiganya tinggal bersama Jongin. Kalau dipikir membuat dessert atau kue kadang melelahkan sekali, ditambah lagi dia harus mengantarnya di setiap jam makan, tetapi Sehun sangat senang melakukannya. Sehun senang membuat kue, Sehun senang membuat dessert, terlebih lagi Sehun senang ketika orang lain suka dengan makanan yang dibuatnya. Manager F&B di hotel Jongin menawarkan Sehun untuk bekerja disana, karena kebetulan bagian pastry mereka sedang cuti melahirkan, tapi Sehun menolak halus ajakaan tersebut. Ibu Jongin bilang, "Kalau kau sibuk juga, lalu yang menemaniku dirumah siapa?" Jongin juga sempat berusaha membujuk Sehun, tapi Sehun tetap menolak, dia sendiri sebenarnya tidak merasa cocok kalau harus bekerja dibawah tekanan seperti itu.

Ini sudah bulan ke empat Sehun tinggal bersama Jongin. Jongin sudah terbiasa bangun dengan aroma manis kue ataupun dessert yang dibuat Sehun. Seperti pagi ini Jongin bangun dengan aroma manisnya apple pie yang dibuat Sehun, tanpa sadar membuatnya tersenyum. Jongin kadang berpikir, kalau malam itu dia tidak kesana mungkin Sehun tidak akan ada disini dan hidupnya tidak akan semanis sekarang. Dengan cepat Jongin mengalihkan pikirannya itu. Jongin bergegas mandi sebelum berangkat kerja, karena hari ini dia harus menggantikan managernya meeting dengan manager dari divisi lain.

"Selamat pagi." Jongin menyapa Ibunya dan juga Sehun yang sedang sibuk di dapur seperti biasa. Jongin sendiri sudah siap dengan kemeja kerjanya yang terdapat lambang hotel tempatnya bekerja dibagian saku.

"Pagi Jongin. Aku membuatkanmu setup roti tawar cokelat untuk sarapan. Kau sarapan dirumah kan?" Sehun terlihat mengeluarkan setup yang dikatakannya tadi dari kulkas.

Jongin menganggukan kepalanya, "Apa kalian juga sudah makan?" lalu mendudukan dirinya di meja makan.

"Tentu saja belum. Kami kan menunggu tuan muda bangun dari tidurnya." Kali ini Ibu Jongin yang menjawab.

Sehun dan Jongin hanya tertawa mendengarnya. Mereka sarapan di meja makan dengan tenang sampai Ibu Jongin berkata, "Ibu harus ke Busan selama dua minggu. Kalian tidak apa-apa kan kalau ku tinggal sendiri?"

"Memang ada apa dengan Bibi?" Jongin bertanya, setahu dia sih hubungan Ibunya ini dengan kakak perempuannya kurang baik, jadi Jongin merasa heran saja kalau Ibunya mau berlama-lama disana.

"Pamanmu baru saja meninggal." Sehun dan Jongin menghentikan makannya, "Mau bagaimanapun dia kakakku, aku pernah ada di posisinya jadi kupikir aku bisa membantunya sedikit. Hitung-hitung memperbaiki hubungan ku dengannya."

Jongin mengangguk, "Mau kuantar Bu?"

Ibunya mendengus, "Kau saja susah sekali izin untuk cuti, jadi jangan sok-sokan menawarkan diri untuk mengantarku." Jongin hanya tersenyum lebar mendengarnya, bagaimanapun dia suka pekerjaannya sekarang, sayang sekali kalau harus berhenti karena banyak cuti.

"Atau ibu mau aku saja yang antar?" Kali ini Sehun yang menawarkan.

"Tidak perlu Sehunna, kau sudah cukup kerepotan dengan mengantar semua makanan itu dengan motor kecilmu, Ibu bisa naik bis sendiri." Berbeda sekali nada yang digunakan untuk bicara dengan Sehun.

Jongin mendengus, "Sebenarnya siapa yang anaknya?" Sehun hanya tertawa mendengarnya, karena Sehun tahu Jongin tidak benar-benar kesal padanya.

"Kau jangan lembur terus, kau juga harus sesekali menemani Sehun. Ibu perhatikan kalian sudah tidak pernah pergi bersama lagi. Sehun bahkan lebih sering belanja sendiri sekarang, kau juga hanya tidur saja kalau libur, bagaimana ibu mau punya cucu kalau kau begini terus." Ibu Jongin kalau sudah bicara itu bisa panjang sekali. Entah kapasitas oksigen dalam paru-parunya lebih besar dari rata-rata manusia atau bagaimana.

"Ibu kan sudah punya Sehun, kenapa Ibu tidak minta pada Sehun saja? Aku kan hanya bisa membuat, Sehun saja tidak pernah memberiku jatah, bagaimana aku bisa memberikan ibu cucu?" Jongin membalas tidak kalah panjang.

Sementara muka Sehun sudah memerah, Ibu Jongin berdiri dan menarik kuping Jongin keras, "Dasar anak nakal, jatah saja yang ada dipikiranmu, nikahi dulu anak ibu, baru minta jatah."

"Aduh sakit bu, sakit." Jongin berusaha melepaskan tangan Ibunya, "Jongin sedang menabung, habis itu baru Jongin nikahi." Mendengar itu Ibunya pun langsung melepaskan tangannya dari kuping Jongin.

"Begitu baru benar, awas saja kalau ingkar janji." Ibu Jongin menunjuk Jongin dengan garpunya.

Sehun berdeham, "Aku akan mengambilkan buah dulu."

"Ibu saja yang ambilkan." Sementara Sehun bingung, dia saja tidak mengerti apa yang dikatakan Jongin dan Ibunya tadi.

"Kalau kau tidak sibuk kita bisa jalan-jalan hari sabtu nanti." Jongin berkata.

"Kau tidak bekerja?" Sehun bertanya.

Jongin menggelengkan kepalanya, "Giliran manager yang masuk setelah aku menggantikannya hari ini."

"Baiklah." Hanya itu jawaban Sehun. Sementara Ibu Jongin tertawa melihat kecanggungan mereka.


Hari sabtu yang dijanjikan pun tiba. Mood Jongin sudah sangat baik sekali pagi itu, dia bangun dengan harum manis dari tiramisu yang sedang dibuat Sehun, lalu sarapan dengan garlic bread yang juga buatan Sehun sambil melakukan video call dengan Ibunya yang tidak pernah berhenti menggoda dia dan Sehun masalah kencan mereka hari ini. Tapi sepertinya hanya Jongin yang menganggap mereka akan berkencan hari ini. Karena saat Sehun sedang menyiapkan pesanan yang akan dibawa ke hotel nanti sebelum berkencan, Chanyeol datang.

Chanyeol itu salah satu bawahan Jongin di hotel. Jongin tahu kalau Chanyeol tipe orang yang akan dengan mudah akrab dengan siapa saja, yang Jongin tidak tahu adalah Chanyeol seakrab itu dengan Sehun sampai membuat Sehun mengundangnya di acara kencan mereka berdua. Sehun hanya berkata, "Oh Chanyeol sudah datang? Katanya dia juga belum pernah ke taman bermain itu Jong, jadi ku ajak saja sekalian, tidak apa-apa kan?" dengan polosnya. Inginnya Jongin menjawab Tidak apa-apa asal dia tidak mengganggu kita nanti saat aku ingin menyatakan perasaanku padamu, tapi dia hanya bisa menjawab "Tidak apa-apa."

Karena Chanyeol tidak membawa kendaraan, jadilah saat ini Jongin yang menyetir. Tempat pemberhentian pertama mereka adalah hotel. Sesampainya di hotel, Chanyeol dengan segera membantu Sehun sedangkan Jongin diminta untuk menunggu saja di mobil. Jongin mendengus, moodnya benar-benar hancur, dia merasa seperti supir sekarang.

Berada di taman bermain tidak memperbaiki mood Jongin sama sekali, Sehun yang merasa Jongin tidak bahagia pun memutuskan untuk pulang saja. Cemburu sebenarnya bukan Jongin sekali. Dia terlahir sebagai anak tunggal, dia terbiasa mendapat apa yang orang lain tidak punya, dia tidak pernah berbagi punyanya. Tapi Chanyeol ini salah satu anak buahnya, Jongin punya reputasi yang harus dijaga. Salahnya juga mengenalkan Sehun hanya sebagai teman yang tinggal dirumahnya, Sehun pun bukan orang yang menuntut lebih jadi dia tidak pernah mempermasalahkannya. Lagipula memang itu kenyataannya kan?

Jongin langsung mengantarkan Chanyeol ke rumahnya karena Jongin tidak mau makan malamnya dan Sehun diganggu lagi. Jongin juga takut kesabarannya habis dan lepas kendali lalu merusak reputasi yang sudah susah payah dibangunnya untuk menggantikan reputasinya sebagai anak gagal dari keluarga Kim.

"Kau mau kita pergi ke tempat lain sebelum pulang?" Sehun bertanya setelah pindah ke tempat duduk disebelah Jongin.

Jongin menggeleng, "Tidak apa-apa kalau kau malas masak, kita bisa drive thru di restoran biasa."

Sehun memang dasarnya bukan orang yang banyak menuntut, jadi dia mengiyakan apa yang Jongin putuskan.


Mereka memakan makan malam sambil menonton serial Get even, karena Sehun suka sekali series seperti 13 Reasons Why, Elite, dia tidak bisa menonton series berat seperti Dark sementara Jongin berusaha menyukai apa yang Sehun sukai.

Setelah selesai makan mereka meneruskan acara menonton sampai Sehun memecah keheningan, "Aku minta maaf." Katanya.

Jongin mengerutkan keningnya, "Untuk apa?"

Terlihat sekali Sehun menutupi kegugupannya, "Kau terlihat tidak nyaman sejak kita berada di hotel tadi, pasti pergi ke tempat kerja di hari libur sangat menghancurkan mood mu kan?"

Jongin termenung, dia menghela nafasnya, mencoba tenang sebelum menjelaskan pada Sehun, "Bukan begitu, kau mengajak orang lain, tanpa sepengetahuanku, di kencan pertama kita. Atau hanya aku yang menganggap tadi itu kencan karena jelas sekali kau clueless." Jongin menekankan setiap kata-katanya.

Sehun seperti ingin mengatakan sesuatu tapi kemudian menutup lagi mulutnya, kalau dia minta maaf lagi kira-kira Jongin marah tidak ya? "Aku minta maaf. Tidak pernah ada yang mengajakku berkencan sebelumnya." Jongin mendengus, lalu kembali memperhatikan tontonannya.

"Malam kau menemukanku di jembatan adalah malam dimana aku benar-benar menyerah untuk meneruskan hidup, karena tujuanku menjalani hidup hanya untuk diriku sendiri, aku tidak pernah sekalipun berani bermimpi bahwa aku bisa bersantai seperti kebanyak orang lainnya, punya teman, berkencan, menikah, aku tidak pernah berpikir sejauh itu." Jongin meliriknya sekilas, "Ketika kau menawarkan untuk tinggal bersamamu pun kau bilang kalau aku boleh pergi kapan saja, saat itu aku tahu bahwa kau adalah orang yang akan meneruskan hidupnya apa pun yang terjadi, kau berbeda denganku, aku sudah menyerah bahkan sebelum berjuang. Setiap malam aku merasa gelisah, mengira-ngira kapan kau dan ibu akan memintaku keluar dari rumah ini, jadi aku merubah tujuan hidupku. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan selalu membantu Ibumu apa pun yang terjadi sekaligus menjadi orang yang selalu ada di sampingmu, berharap kalian membutuhkanku jadi aku tidak akan pernah diusir dari sini. Sampai suatu hari Ibumu menanyakan mengenai perasaanku padamu, apa kau menyukaimu? Apa aku ingin berkencan atau menikah denganmu? Dia bilang akan sangat menyenangkan kalau aku jadi menantunya, kau tahu manusia suka sekali berangan-angan, jadi aku membayangkan jika itu terjadi dan aku merasa aku bisa menjalani hidup seperti orang normal, lalu aku melihatmu di hotel berbicara dengan manager, dengan customer disana, aku sadar kalau kau masih orang yang sama, orang yang akan meneruskan hidupnya apa pun yang terjadi, jadi aku menekan angan-anganku untuk diriku sendiri dan mencegahnya tumbuh terlalu besar. Aku takut tidak bisa mengendalikannya dan berakhir dengan aku diusir dari sini. Aku tidak bisa lagi membayangkan hidup tanpa kau dan ibumu. Rasanya aku di malam saat kau menemukanku di jembatan akan siap kembali lagi jika itu terjadi."

"Aku bukan orang yang bisa mengungkapkan perasaanku dengan benar." Kata Jongin pelan, "Selama mengenalmu pun baru dua kali kita bisa bicara mengenai apa yang kita rasakan begini." Jongin memusatkan perhatiannya pada Sehun. "Awalnya aku terlalu fokus menata hidupku sampai Ibuku mengingatkanku untuk membangun keluargaku sendiri, benar katamu kalau Ibu ingin kau yang jadi menantunya. Dari situ aku juga sadar untuk menjalani hidup tanpamu lagi sepertinya tidak mungkin, kau menilaiku terlalu tinggi. Malam saat aku bertemu denganmu adalah malam dimana aku juga akan menyerah untuk hidup, tapi mendengar ceritamu membuatku sadar kalau masih banyak yang bisa kuperjuangkan. Aku berjanji untuk membuatmu bahagia. Tadinya mungkin hanya sebagai teman, tapi saat ini," Jongin berhenti sebentar, bingung untuk mengungkapkannya, "aku bahkan sudah menabung untuk pernikahan kita karena aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Jadi tunggulah sebentar lagi, aku akan menikahimu setelah tabunganku cukup ya?"

Wajah Sehun sudah memerah, apa tadi Jongin melamarku? "Kau tidak perlu menjawab sekarang, aku tahu masih banyak yang harus kau pikirkan, tenang saja, aku tidak akan mendesakmu sampai tabunganku sudah benar-benar terkumpul."

"Setelah apa yang ku ucapkan tadi apa kau masih butuh jawaban?" Tanya Sehun. "Kalau boleh, aku tidak mau pesta besar. Aku hanya ingin pemberkatan sederhana saja."

Jongin mencerna apa yang dikatakan Sehun, "Ibu tidak akan senang kalau hanya sederhana saja." Entah kenapa malah itu jawaban Jongin.

Sehun terlihat berpikir, "Apa kita video call ibu saja? Untuk menanyakan ini."

Sehun terlihat serius sekali, "Sebentar Sehun, jadi kau menerimaku kan? Bagaimana mengatakannya ya, yang jelas aku mencintaimu dan berharap bisa meneruskan hidup bersamamu."

"Ya ya ya, aku menerimamu. Jadi kita mau menelpon ibu tidak?" Sehun menjawab cepat.

"Besok kita susul saja, aku masih mau menikmati waktu dengan tujuan hidupku." Jongin merangkul bahu Sehun agar duduk lebih dekat dengannya.

"Jongin," panggil Sehun yang hanya dijawab dengan deheman oleh Jongin, "maafkan aku ya karena sudah mengacaukan kencan pertama kita." Jongin hanya tertawa mendengarnya, siapa yang peduli dengan kencan pertama kalau selanjutnya mereka masih bisa melakukan kencan-kencan yang lain kan?


How?

It's been a long time since I write about them

This is what happened when I think too much about death lol

Stay safe guys, I miss you

XOXO