Uji Nyali

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.


A gift for fiqueligia (afi).


Musim panas belumlah panas, apabila uji nyali tiada diidekan minimal sehari sekali.

Orang-orang mana pernah menanyakan kenapa uji nyali dihadirkan pada musim panas, selama mereka tahu berburu adrenalin di antara bunga-bunga merah jambu jelas-jelas cemen. Agensi Detektif Bersenjata yang apalagi diisi anak muda pun tak mau ketinggalan, akan sesuatu yang seolah-olah sudah menjelma tradisi. Tepat pukul sepuluh malam semuanya berkumpul di pemakaman Yokohama, dengan membawa senter sebagai satu-satunya senjata.

"Sungguh. Kenapa bisa-bisanya aku terjebak dalam ide konyol ini?"

Yang merutuk itu diberi nama Kunikida Doppo oleh orang tuanya. Mengenakan kaus biru motif nyiur, serta celana selutut cokelat pucat, Kunikida juga membawa senter ditambah baterai cadangan, ponsel pun dicas penuh yang sengaja dimatikan agar awet, seolah-olah dia paling niat malahan.

"Kupikir akan seru, tetapi siapa sangka yang mengusulkan ide ini ..." Netra hazzle Tanizaki Juunichiro mengarah pada Edogawa Ranpo yang asyik mengobrol dengan Fukuzawa Yukichi. Detektif berperawakan bocah itulah pencetusnya. Padahal semua sepakat Ranpo tipikal pembenci horor.

"Ketularan bodohnya si Dazai paling."

"Omong-omong Dazai-san ke mana? Enggak kelihatan daritadi," tanya Miyazawa Kenji yang sibuk celingak-celinguk. Jam tangannya Kunikida cek. Dua puluh menit sudah berlalu membuatnya tambah mencak-mencak.

"Lagi-lagi dia telat. Kebiasaan banget!"

"Atsushi sama Kyouka-chan juga telat, lho. Tumben banget, 'kan?"

Kebenaran dari pernyataan Tanizaki Naomi dapat dijamin seratus persen. Baik Kunikida maupun Juunichiro mengangguk-angguk. Namun, tampaknya trio yang baru dibicarakan ini panjang umur, dan Haruno yang menunjuk ke arah gerbang adalah yang pertama kali menemukan. Kunikida siap menyembur. Caci maki sudah ada, tetapi seolah-olah tertelan lagi mendapati penampilan mereka yang absurd; di luar karakter sekali.

"Semuanya sudah berkumpul, ya. Kalau begitu ayo kita mu–"

Kotak undian nyaris jatuh gara-gara Ranpo melotot berlebihan, andaikata Fukuzawa terlambat sigap. Dazai Osamu hanya tersenyum konyol, Nakajima Atsushi tertawa penuh keterpaksaan, sedangkan Izumi Kyouka paling kalem.

"Kalian itu mau bersih-bersih, masak, atau apa? Kok bawa-bawa garam, bawang putih, sapu lidi, sama bambu kuning, sih?" Tanpa ragu jua Kyouka memperlihatkan jimat, beserta botol air suci yang separuhnya Dazai minum. Kunikida tepuk jidat. Kebodohan mereka yang kompak untuk ber-cosplay macam dukun jelas bikin geleng-geleng.

"Maaf soal itu, Ranpo-san."

"Bisa langsung mulai enggak? Berat tahu gendong bambu."

Bambu kuning yang dipasangi bawang putih kian menggelitik perut. Setidaknya pula Kunikida sedikit terhibur, dan sejenak melupakan kekesalannya. Ranpo kemudian menjelaskan pasangan uji nyali ditentukan berdasarkan undian. Tangan kanan Atsushi semakin Kyouka rangkul erat-erat, selagi dirinya sibuk merogoh peruntungan–semoga bersama Atsushi, harus dengan Atsushi, kalau tak demikian, kenapa tidak dibuat bersama Atsushi?

"Bagaimana, Kyouka-chan?"

Kertas dibuka dengan jantung yang berdebar-debar. Aura horor seketika memancar dari sekujur tubuh, tatkala netra Kyouka membaca nama Dazai tertera di sana. Ia meremukkannya. Melotot kepada Dazai, seakan-akan selanjutnya tulang si brunette yang dihancurkan.

"Jika ada yang menukar aku bisa tahu, lho."

Niat tersebut yang barusan tercetus di benak terpaksa Kyouka urungkan. Kenji menghampiri Atsushi riang. Di tempatnya Kunikida bersyukur dia tak bareng Dazai, sementara Ranpo mesem-mesem saja karena mengantongi nama Fukuzawa–detektif nomor satu di dunia hanya mengungkap trik-trik kotor tanpa menggunakannya, sehingga memang Ranpo super beruntung.

"Kau. Bawa ini juga." Sekantong mawar dicampur melati, kertas-kertas mantra, dan sapu lidi diserahkan sekaligus pada Dazai. Rapalan yang Kyouka hafalkan sehari sebelum uji nyali diulangnya. Dazai dan Atsushi mengangguk-angguk pasrah daripada diamuk.

"Kita kembali ke titik ini lagi, ya. Ayo berangkat!"

Ranting kayu Ranpo gunakan untuk menandai lokasi tempatnya berdiri. Mereka berpencar ke berbagai arah mata angin. Yosano Akiko sempat menengok lagi, membuat Naomi yang merupakan pasangannya kebingungan.

"Ada apa, Sensei?"

"Sepertinya perasaanku saja. Tidak perlu dipikirkan."

Tanda X yang Ranpo gambar menghilang bagai dilumat bumi, ketika angin bahkan tidak berembus untuk sekadar iseng saja.


Namanya juga pemakaman makanya hanya ada nisan di mana-mana, tetapi mengetahui perbedaan antara kuburan di malam hari dengan waktu siang, Kyouka semakin gagal habis pikir.

Perbedaan tersebut mencolok setiap sendi tubuhnya. Pisau yang biasanya mendekam di sarung pun terus Kyouka todongkan, dan sedikit saja mendengar suara ia menengok dengan ganas. Memang kasihan serangga-serangga yang menjadi korban kebuasan Kyouka. Punggung Dazai pun jangan ditanya bagaimana nasibnya, yang gara-gara membawa bambu sampai-sampai sempat berlari-lari jadi berdenyut-denyut.

"Istirahat sebentar, yuk. Capek banget."

"Mau istirahat di mana? Lagi pula ini kuburan. Nanti para hantu marah pada kita kalau tidak sopan."

"Jalan-jalan juga tidak sopan, kok. Sekalian saja makanya." Bertepatan dengan kesesatan tersebut Kyouka berhenti berjalan. Idenya disetujui, bukan? Dazai hampir tersenyum secara sempurna, jika saja Kyouka tak menengok ke belakang dengan tatapan seram.

"Bagaimana kalau tanah tempat kita beristirahat nanti terbelah, atau diikuti seumur hidup gara-gara dia marah?"

"Makam Odasaku enggak akan begitu, kok. Ayo kita cari~"

Rasa lelah yang Dazai emban membuatnya ogah mengalah, lalu agar lebih pasti Dazai memimpin jalan sembari menggenggam tangan Kyouka. Namun, masalah yang Dazai kira segera berakhir ternyata malah membawakan beban baru. Rasa-rasanya mereka hanya berputar-putar. Pusara yang pada tanah merahnya sebuket lily tidur di atasnya menjadi patokan, dan keduanya terus-terusan balik ke sana.

"Aneh. Padahal aku yakin sama jalannya."

"Berhenti berputar-putar. Kau menakutiku sekarang."

Tengkuk yang tidak gatal Dazai garuk. Menyadari gemetar di tubuh Kyouka kian melemaskan langkah sang gadis, Dazai memaksanya duduk beristirahat di tempat mereka berdiri. Untuk lebih menenangkannya Dazai mengelus-elus punggung Kyouka. Memicing curiga ke arah pohon di pinggir kiri yang sebelum-sebelumnya tak pernah ada di mana pun.

Apa kau pikir itu bisa menghentikanku, Manusia?

Bahu Kyouka dipegang erat-erat. Angin yang tahu-tahu berembus terasa seperti taring binatang buas, menyebabkan kulit mereka pedih, sekaligus mual oleh firasat buruk. Dazai merasa ada yang mendekat sangat cepat. Seakan-akan muncul kilat yang mengarah ke punggungnya, walaupun di belakang sana hanya tampak jalan yang ujungnya diselimuti kegelapan.

"AWAS, KYOUKA-CHAN!"

Refleks dari Dazai membuatnya mendorong Kyouka supaya tengkurap. Tubuhnya yang lebih jangkung melindungi Kyouka yang tiarap sambil berusaha menutup telinga. Sesuatu yang mungkin menyerupai tangan berusaha mengangkat mereka. Hanya saja ia kesusahan, bahkan tak bergerak barang sejengkal.

"Berat ... sekali ... pasti gara-gara bambu kuningnya."

"Aku tidak tahu siapa kau, tapi kami akan pergi dari sini. Kau bisa memegang ucapanku."

Tali yang mempertahankan bambu copot begitu saja. Tinju seberat satu kilogram terasa menghantam perut Dazai mengakibatkannya terhempas, berguling-guling, barulah terhenti ketika dia membentur nisan secara acak. Dazai membeliak sendiri, menyaksikan serumpun daun terbang mengeluarkan sepasang tangan putih transparan. Pada akhirnya ia berhasil mengangkat Kyouka. Susah payah Dazai berdiri untuk merebutnya kembali.

"Ulurkan tanganmu, Kyouka-chan!"

Pohon tanpa batang itu semakin jauh membawa Kyouka terbang ke atas. Dazai tetap mati-matian mempercepat larinya, sambil menggapai-gapai berharap masih sempat.

"KYOUKA-CHAN!"

Ketakutan yang melihat-lihat hati Kyouka, dan nyaris menguasainya itu, tersingkir oleh teriakan Dazai yang secara tak langsung berdoa Kyouka jangan kalah. Sentakan keras menyadarkannya. Kyouka mengulurkan tangannya yang mana pun agar Dazai mampu meraih. Mereka pun naik bersama-sama menembus langit malam yang membekukan.

"Merepotkan sekali. Akan kupotong tangannya jika be–", "Jika kau berani melakukannya aku pasti memotong tanganku sendiri lebih dulu." Kyouka menyelang ancaman payah itu tanpa gentar. Pisau yang digenggamnya di sebelah kanan diacungkan ke bagian kiri, menguatkan bahwa Kyouka tak segan jatuh dari ketinggian, atau kehilangan satu anggota badan.

"Terserah kau saja selama kau diam. Aku tak bisa membiarkanmu kehilangan tangan soalnya."

Menggunakan cara yang gaib pohon rindang tanpa batang itu menyedot Kyouka serta Dazai, membuat keduanya terjebak masuk ke dalam pohonnya dengan daun-daun di sekeliling sebagai pelindung. Bagaimanapun senjata Kyouka diayunkan untuk menebasnya tiada yang berarti. Saat Dazai sadari pula kertas-kertas mantra di saku trench coat-nya lenyap entah ke mana, botol air suci yang terkapar nelangsa di jalan, mungkin disebabkan angin aneh yang tiba-tiba bertiup tadi.

"Bagaimana ini?"

Lagi-lagi tangan Kyouka bergetar, lantas Dazai menggenggamnya tanpa melihat Kyouka, lurus sekali, dan Kyouka mengikutinya meskipun di depan sana masih gelap.


Pengelihatan makhluk-makhluk halus menjadi kasus khas musim panas yang tampaknya, menulikan Ranpo dari kisah-kisah tersebut supaya ia tak ingin membuktikannya menjadi agenda menggiurkan di waktu belakangan.

Pohon gaib yang menyembunyikan mereka di balik dedaunan setangguh besi menjatuhkan Dazai dan Kyouka, pada lantai kayu yang merupakan bagian dari beranda sebuah rumah tradisional Jepang.

Begitu sulit untuk bangun dengan kepala yang pening berat, tetapi samar-samar siluman yang menculik keduanya menapakkan kaki ke lantai. Shōji putih polos digeser olehnya. Dalam posisi rebah yang melelahkan Dazai berusaha melirik, agar minimal ia memiliki gambaran tersendiri. Pekarangan depan yang berumput tampak menyambut. Sepasang toro turut menyala yang berada di kiri-kanan jalan setapak yang dihias batu koral, yang mengarahkan ke pintu masuk.

"Hey. Kau memiliki ide untuk kabur?" Penerbangan barusan kemungkinannya menguras habis tenaga Kyouka, begitu pun Dazai, hingga menggerakkan jari bagai mengendalikan batu. Usai ditanyai pemuda jangkung itu tertawa hambar. Menggeleng sebagai jawaban klise.

"Sayangnya mustahil~ Manusia seperti kita enggak mungkin, 'kan, lompat dari ketinggian ratusan ribu meter?"

"Yasha Shirayuki?"

"Entahlah. Berefek pun tetap saja tidak bisa turun. Kalau kita melawan yang ada malah dijatuhkan dari sini."

Rumah tradisional ini dibangun di atas pohon. Sekalipun batangnya kukuh yang dapat dipanjat, harus berapa lama untuk tiba di daratan? Shōji digeser lagi. Si penculik mendatangkan teman-temannya yang lain guna membawa Kyouka serta Dazai masuk ke dalam. Rambut mereka berupa daun, sementara kulitnya merupakan cokelat kayu. Isi rumahnya lebih mencengangkan. Luas dengan aneka perabot tradisional, terutama koleksi katana yang berjejer di tembok.

"Sebentar~ Kalian mau membawa Kyouka-chan ke mana?" Pasukan siluman yang berjumlah enam dibagi menjadi masing-masing tiga, dan mengambil arah berlawanan. Bukannya memperoleh balasan Dazai kena tendang lagi. Kyouka menggertakkan gigi merutuki ketidakberdayaannya.

"Diam saja dan ikuti kami. Sungguh manusia yang tidak tahu diuntung."

Kertas putih yang lentur itu yang membelenggu tangan Dazai ditarik lagi, membuat raganya terpaksa pasrah untuk diseret ke mana saja. Sekelompok siluman ini membawanya menuruni tangga. Membuka jeruji besi yang sudah berkarat, lantas melempar Dazai masuk tanpa melepaskan ikatannya.

"Ya ampun~ Siluman seperti kalian benar-benar tidak tahu, ya, cara memperlakukan manusia?"

"Bukankah kalian juga melakukan hal seperti ini terhadap manusia lainnya? Aku pernah melihatnya, lho, pas Sugi-sama menyuruhku membeli jepit rambut, jangan bohong kau. Justru kami lebih baik karena menyeretmu. Kau tak bisa berjalan, 'kan, setelah dibawa oleh Kumo?"

Kedua temannya sudah meninggalkan penjara bawah tanah, menyisakan satu siluman saja untuk Dazai ajak berbincang. Rumah para makhluk halus berbeda 180 derajat dengan manusia, jelasnya. Wajar jika Dazai merasa tenaganya terkuras gila-gilaan. Barang-barang selemah garam, bawang putih, apalah, mana berhasil menghadapi youkai di bawah naungan pohon ini. Saking kuatnya energi pohon ini pula, barulah manusia macam mereka dapat melihat penampakan.

"Iya, sih, tapi jangan menyeret Kyouka-chan seperti itu, dong. Perempuan harus diperlakukan dengan lembut dan penuh cinta."

"... tidak bisa ku mengerti. Untuk youkai seperti kami perempuan atau laki-laki sama saja." Youkai, kah? Tetap saja sukar dipercaya yang oleh karena itu, Ranpo mengadakan uji nyali di kuburan. Siluman pohon tersebut tahu-tahu menunduk. Anggota tubuhnya yang mungkin juga kayu gemetar, mengingatkan Dazai bagaimanapun caranya ia harus lolos.

"Menundukkan kepala kepada manusia sangatlah memalukan. Namun, kami melakukannya demi Sugi-sama. Karena itu izinkan kami meminjam anakmu sebentar saja."

Anak ... nya? Kata itu terkesan asing yang Dazai eja dalam hati. Apakah maksudnya Kyouka, walaupun para youkai ini sesungguhnya salah paham? Belum mengeluarkan setitik penjelasan, bibir Dazai dikunci rapat oleh sebuah cerita yang agaknya panjang. Dazai hanya memiliki kesempatan untuk mendengarkan. Menyimak baik-baik betapa siluman sekalipun mempunyai hal terpenting untuk dijaga.

"Yang paling mendekati Tsumugi-sama hanyalah anakmu. Mohon pengertiannya, Manusia."

"Ceritamu itu aku memahaminya. Soal temanmu yang membawa kami secara paksa kurasa bisa dimaafkan~"

"Berarti kalau begitu–", "Memang bisa dimaafkan, tapi tidak semudah itu~ Jika menurut kalian Kyouka-chan adalah anakku, maka ..." Jalinan kertas yang berfungsi sebagai borgol terobek-robek. Melewati sela-sela terali besi Dazai mencengkeram tangan siluman tersebut–ternyata memang kayu yang keras sekali, tetapi apabila Dazai gagal bertahan semuanya berakhir di sini.

"Kalian bisa membuat putriku yang kuat itu menangis. Dia takut hantu soalnya."

Hantu yang ada tetapi tidak ada selalu menjadi mimpi buruk masa kecil, dan Kyouka tak seharusnya duduk-duduk santai sembari memegang segelas teh hijau jika begitu.

Di tengah serangkaian penerangan mengenai horsetail–tanaman mirip bambu yang dibesarkan di sekitar kolam koi–yang katanya Kyouka-lah yang menyarankan untuk memilikinya, Kyouka menoleh ke arah langit, atau seharusnya di sanalah langit, karena rumah tradisional ini dikelilingi awan pekat.

Pada halaman belakang dari sebuah rumah tradisional di atas pohon Jomon Sugi ini, ternyata bunga-bunga, bonsai, bahkan koi, dapat hidup selayaknya di dunia manusia. Sesosok pohon tua yang wujudnya mengikuti manusia itu, dan kulitnya kadang-kadang terkelupas, berhenti berkisah tatkala menemukan Kyouka melamun. Beliau yang dipanggil Sugi-sama mengikuti arah pandang Kyouka, menatap Kyouka lagi, bergantian, namun tetap gagal dipahaminya.

"Ada apa, Tsumugi? Kau merasa sakit lagi?"

Rasanya seperti Kyouka mendengar suara Dazai, meski kelihatannya sebatas firasat Kyouka saja. Suka atau benci dia menggeleng. Tersenyum simpul ke arah Sugi-sama yang wajahnya teduh.

"Tidak. Tolong lanjutkan ceritanya."

"Syukurlah kau sembuh. Setidaknya di saat-saat terakhir sebelum kematianku, aku ingin Tsumugi melihat kolam ikan koi ini."

Tiada bosan-bosannya Kyouka memuji kolam yang dibangun untuk Tsumugi, Kyouka adalah Tsumugi sekarang; sebagai keindahan yang luar biasa. Sugi-sama kembali mengingatkan Kyouka agar meminum tehnya. Sugi-sama yang senyumannya tenang, tawanya lembut, dan perhatian sekali, lama-kelamaan membikin Kyouka tak enak hati dibandingkan ngeri.

"Apa membuatkanmu kolam ikan koi sudah cukup untuk memaafkanku? Sampai sekarang hati manusia masih sulit kupahami."

Kalau Kyouka diam lagi yang bukan mencermati kata-katanya, Sugi-sama akan cemas yang menambah perasaan mati kutu pada diri Kyouka. Jujur saja Kyouka bingung. Berpura-pura sebagai Tsumugi mungkin semakin sulit, setelah nasihat-nasihat yang pernah Kyouka terima berpendar sayup-sayup. Dijelaskan bagaimanapun itu Kyouka tetap tengah menipu. Kata anak buahnya yang demi membahagiakan Sugi-sama, tidak adakah cara yang lain yang lebih bagus?

"Bahkan jika kau tidak mau memaafkanku, keputusan itu tetap kuterima. Tsugumi akan menggantikanku setelah ini. Apa Tsumugi berniat melanjutkan petualanganmu?"

"Tentang itu–" Jejak langkah menginterupsi suara Kyouka. Mereka sama-sama berpikir Kumo atau siluman lainnya mempunyai urusan, sampai Kyouka melihat kaki manusia ditutupi kimono biru yang asing, "Tsumugi-chan, tidak, Kyouka-chan, bakalan pulang bersamaku ke dunia manusia, Sugi-sama~ Maaf atas gangguannya."

"Manusia ... lainnya?"

"Bayi manusia yang dulu Anda pungut sebenarnya anakku, dan dia sudah kuberi nama yaitu Kyouka. Kami baru saja bertemu di pemakaman secara kebetulan. Tolong kembalikan dia."

Sirat di mata Kyouka menatap Dazai dengan ketidakpahaman, mengapa ia harus berbohong seperti ini? Sepasang titik hitam yang merupakan mata Sugi-sama seolah-olah lenyap. Wajahnya yang juga kayu ternyata tidak sekaku itu dalam menampilkan kesedihan. Murni, bahkan jauh lebih jernih dibandingkan yang manusia perlihatkan, yang cenderung dibumbui sandiwara atau tujuan-tujuan tertentu.

"Boleh aku tahu kenapa kau membuang anakmu?" Inilah yang Kyouka takutkan. Kakinya spontan berdiri yang mula-mula ingin menghampiri Dazai, akan tetapi urung dengan cepat. Kyouka hanya tak kuasa melihat mata Dazai. Tatapan halus itu seperti berucap, "Biar aku yang menggantikanmu berbohong", karena Dazai tahu Kyouka diam-diam sakit.

"Anda menyukai manusia, bukan? Mungkin selama ini Anda beruntung karena bertemu yang baik terus-menerus. Namun, ada juga manusia yang jahat sepertiku, Sugi-sama. Makanya aku membuang Kyouka-chan saat masih bayi."

"Kau tidak akan membuang Tsumugi lagi?"

"Lagi pula aku sudah menyesali perbuatanku. Sugi-sama boleh memegang perkataanku."

Keluarga manusia menjemput Tsumugi. Pria disebut ayah, sedangkan perempuan adalah ibu, lalu sesudah ini keduanya tinggal bersama tanpa terpisahkan lagi, Sugi-sama memahami yang satu ini, sehingga ia diam saja. Tangannya yang keras, tetapi hangat berkat kehidupannya yang ia hargai setiap alirannya, mengelus-elus rambut lembayung Kyouka.

"Keluarga manusia, ya ... boleh aku melihatnya sedikit?"

"Maksudnya?" Serius, bahwa Dazai tidak paham artinya, meski ia berpikir mereka tak bisa pulang secepatnya. Sugi-sama sampai memohon. Kulitnya terlepas lagi kala bersimpuh dengan kepala yang menyentuh lantai.

"Izinkan aku melihat hal-hal yang biasanya dilakukan oleh keluarga manusia. Kumohon."

Kacau.

Saking bertambah runyamnya gara-gara Kyouka mengangguk-angguk menyetujui permintaan itu, Dazai mengacak-acak rambutnya sendiri. Diselamatkan dari berbohong mestinya Kyouka tahu agar menolak saja, karena ia hanya menjalankan sebuah keluarga sebagai kepura-puraan. Dazai menuju ke arah mereka. Duduk di samping Kyouka yang sekilas dahi Dazai jadi mengerut.

"Di sini ada obat?"

"Ada. Memangnya kenapa, Tsumugi?"

"Tadi anak buahmu memukul Ayahku. Perutnya sakit."

"Kumo, ya? Dia ada bilang padaku akan membawa Tsumugi. Kurasa dia menyangka Ayahmu sebagai penjahat. Tolong maafkan Kumo." Mumpung peluangnya terlihat Dazai sebenarnya ingin berkata, "Pulangkan kami kalau begitu", hanya saja menjadikan Kyouka musuh lebih mengerikan. Padahal anak ini masih takut. Kenapa Kyouka jadi mau melibatkan diri ke dalam kerepotan?

"Di mana letak obatnya?"

"Washitsu. Di sana ada Hana yang berjaga. Tanyakan saja padanya."

Bekas tinju dari siluman barbar itu memang sinting, tetapi Dazai lebih kagum ketika Kyouka menyadari ia menahan perih. Berjenis-jenis tanaman herbal Kyouka tumbuk di sebuah cobek. Merasa sudah sesuai instruksi Hana, youkai pohon perempuan yang baru pernah Kyouka temui, kimono yang entahlah Dazai temukan darimana buru-buru hendak Kyouka lepas.

"Obatnya hanya bertahan lima menit. Lebih dari itu nanti busuk."

"Tetap saja jangan tiba-tiba mau melepasnya. Kyouka-chan membuatku jantungan."

Memar yang menjadi kehitam-hitaman mendorong Kyouka untuk melotot. Lukanya makin menusuk akibat Kyouka kurang lembut memperlakukannya. Salah perban Dazai juga yang gara-gara benda putih itu Kyouka harus membukanya duluan, baru bisa mengoleskan obat.

"Harusnya kau bilang dari awal."

"Habis, ya ... keadaan kita benar-benar tidak memungkinkan. Lagian lukanya enggak bikin tulang patah, kok. Segini, mah, kecil~"

"Sebelumnya maaf, Ayahnya Tsumugi. Luka yang disebabkan oleh youkai bisa sangt berbahaya, terutama bagi manusia yang tidak memiliki kekuatan spiritual yang kuat. Meskipun hanya youkai lemah, jika dibiarkan mungkin Anda bisa mati tanpa sepengetahuan siapa pun."

"Tuh, dengar! Bagaimana jadinya coba jika aku tidak sadar? Memangnya Ayah mau mati dengan cara seperti ini? Kesakitan dan seorang diri?"

Nada bicara Kyouka terdengar mengeluarkan riak, antara ia terlalu menghayati perannya, sungguhan marah, atau tidak sengaja Dazai menghidupkan yang "mati". Selesai mengobatinya Kyouka kembali duduk manis. Kurang mampu mengikuti alurnya Sugi-sama menatap mereka bergantian. Dari Kyouka ia merasai kedongkolan; kesenduan yang aneh yang juga jengkel, sementara Dazai bingung tujuh keliling.

"Lukanya sudah diobati, bukan? Kenapa kalian jadi aneh?"

"Kadang-kadang antara ayah-anak memang pernah bertengkar. Sugi-sama memangnya tidak pernah?"

"Pohon ini, Jomon Sugi, adalah yang tertinggi dari semua pohon yang ada. Manusia hanya akan melihatnya sebagai pohon biasa berumur paling tua. Mereka tidak tahu ada sebuah rumah yang dibangun di atasnya, atau pohon ini ternyata bertumbuh hingga menembus awan."

"Selain diriku ada youkai pohon lainnya, dan terdapat dua kubu yang sudah bertarung berabad-abad untuk memperebutkan wilayah kekuasaan. Diriku berada pada posisi netral. Selama perang berlangsung aku sering berkunjung ke dunia manusia, dan tanpa sengaja menemukan bayi perempuan."

"Bayi itu memiliki tangan yang hangat yang membuatku terpikat padanya. Walau merawat manusia sangatlah sulit, tapi aku menikmati setiap detiknya. Namun, semakin Tsumugi bertambah besar, aku juga sibuk mendamaikan kedua belah kubu. Kami jarang bermain, atau bahkan tak pernah."

"Membawa manusia ke dunia youkai pun sebenarnya bukanlah hal baik. Apabila suatu hari nanti Tsumugi balik ke dunia manusia, dia tidak bisa benar-benar hidup layaknya manusia. Oleh karena itu, kalau kami bertemu lagi aku memutuskan minta maaf."

Melihat telapak tangannya sekarang ini Sugi-sama sadar, waktu yang ia habiskan dengan Tsumugi terlalu sebentar, banyak kekurangannya, tetapi tak berkesempatan sempurna. Kapan pun itu Dazai bisa merasai kehangatan di rambut, telinga, ekspresi, mata, serta tangan Kyouka jika ia berpikir mulai melupakannya. Masih tersimpan pun Dazai dapat memperbaharuinya agar semakin kuat. Bahwa mereka akan bersama terpisah sekalipun, karena merekalah keluarga.

"Kenapa begitu?"

"Manusia yang hidup di dunia youkai, dan mampu beradaptasi, lama-kelamaan akan seperti youkai. Umur Tsumugi mencapai ratusan tahun. Dia tidak bisa tua lagi. Mungkin pula sesekali kau menemukan Tsumugi tiba-tiba tak terlihat."

Dazai pikir bisa-bisanya youkai, sesuatu yang tak kasatmata sejenis itu, sekarang ini justru memiliki penyesalan yang terlalu nyata yang dengan bertamu kepada matanya saja, baik Dazai maupun Kyouka bisa menyentuh hatinya. Namun, meskipun tak menyukainya secara penuh Dazai bukanl sekejap membencinya, terlebih sewaktu dari tangan besarnya yang kulitnya kian kosong tersebut, Dazai memperoleh tepukan teguh.

"Maaf soal itu, Ayahnya Tsumugi. Untuk manusia seperti kalian, tua bersama-sama adalah hal yang penting, bukan? Tapi aku malah merenggutnya. Mungkin benar kata anak buahku, menyukai manusia bukanlah hal baik."

"Kebanyakan manusia justru ingin seperti itu, Sugi-sama. Makhluk yang lemah seperti kami takut dengan kematian."

Terutama perginya sosok-sosok berharga, dibandingkan ngeri terhadap diri sendiri yang mengucapkan seulas perpisahan, setidaknya menurut Dazai serta Kyouka.

Desiran yang mati pada dadanya sesaat hidup, dan masih tertinggal dalam sungai darahnya sampai kini. Tadi itu ketika Kyouka marah ia sudah membuktikan kebisuan Dazai–bukanlah semata-mata larut dalam sandiwara, atau Kyouka hiperbola, melainkan gadis yang masih empat belas tahun tersebut hanya enggan kehilangan Dazai; berharga atau tidaknya tak diukur dari seberapa banyak mereka bertukar ucap, tetapi karena Dazai ada; terlihat di depan matanya.

Dazai berharga, karena ia mengenal Kyouka, begitu pun sebaliknya, walaupun terbatas sekali; kendatipun kata "mengenal" belum mau menjadi "mengenali" yang lebih luas dan hangat.

Sesedikit apa pun Kyouka tahu mengenai Dazai, hanya namanya saja pun, Dazai adalah seseorang yang memilih berada di sekeliling Kyouka meski jauh. Jauh pun Dazai tak menjauh lagi. Kata-kata itulah yang telah dipercaya, sehingga Dazai memang bodoh–tadi dipikirnya Kyouka berlebihan, bukan? Tanpa semua ini, Dazai yakin belum tentu ia tahu yang Kyouka pikirkan mengenainya.

"Benarkah? Terkadang saat melihat manusia yang kukenal mati, lalu orang-orang di sekitarnya menangis, aku selalu berkata kepada mereka, 'kematian tidaklah buruk. Kematian adalah sebuah batas, dan sebenarnya baik, karena berkat itu manusia memiliki batas dalam berjuang, terluka, kehilangan, mencari, menemukan, supaya pada akhirnya manusia bisa merasa cukup'."

"Bila mereka tahu yang mengucapkannya adalah youkai, pasti aku dibenci habis-habisan, bukan? Kalian juga. Kata-kata itu lagi-lagi keluar dari mulutku. Waktuku benar-benar tinggal sedikit."

Menahan dua manusia ini berlama-lama pun tidaklah bagus. Dengan kakinya yang telanjur patah sebelah Sugi-sama mencoba berdiri, nyaris jatuh apabila Kyouka terlambat mencegah. Sugi-sama kembali didudukkan. Giliran tangan Dazai yang Kyouka tarik, lantas bagaikan sulap Kyouka memunculkan bola temari yang berdebu sekaligus usang.

"Pinjam sebentar. Katanya Tsumugi senang bermain temari."

"Terus kenapa mengajakku?" Perihal lukanya sembuh maupun kritis Dazai acuh tak acuh, dan memilih Dazai untuk mengeksekusi kecemerlangan Kyouka merupakan ide buruk. Sejak kapan Dazai pandai berolahraga? Temari di genggaman Kyouka betul-betul mimpi buruk.

"Main bareng. Aku belum pernah bermain dengan Ayah."

"Hmm iya, sih, tapi Ayahmu ini payah banget soal beginian~ Bahkan aku enggak yakin bisa menendang bolanya."

"Payah pun Ayah tetaplah Ayah, dan tidak bisa ataupun boleh tergantikan. Nanti pasti kau bisa, karena kau tidak sendirian lagi."

Tanpa aba-aba Kyouka menendang temari bercorak ramai tersebut, tetapi Dazai bergeming di tempat membiarkannya lewat. Kyouka berlari untuk mengambilnya berapa kali pun itu. Melakukan hal serupa yang akhirnya Dazai berusaha balas menandang, walau gagal total membuat bolanya menggelinding ke mana saja.

"Sekarang Ayah coba tendang."

"Sungguhan, nih?"

"Pelan-pelan saja. Yang penting fokus."

Percobaan pertama geta yang Dazai pakai menggantikan pantofel terlempar, dan tercemplung ke dalam kolam ikan koi. Kyouka berseru jangan memedulikannya. Gagal pun sudah bagus. Semakin banyak kegagalan pula, barulah Dazai bisa mendapatkan dirinya yang terbaik. Berkali-kali Dazai tetap mencoba. Jatuh terduduk, kepeleset, atau meleset. Lucu juga melihat Kyouka terus menyemangatinya di hadapannya.

"Sedikit lagi! Pasti bisa!"

Selalu mendengarnya membuat Dazai tidak berani mengeluh. Mendesak Kyouka, bahwa berjuta-juta kali dicoba pun memang mustahil. Di tempatnya menonton Sugi-sama tercenung. Kimono yang dipinjamkan, supaya manusia seperti mereka mampu beradaptasi dengan dunia youkai, sudah kotor oleh tanah yang tanpa Sugi-sama sadari, matanya yang hanya seukuran titik menitikkan air mata.

"... Nanti kau pasti bisa, karena tidak sendirian lagi."

Senyuman Kyouka terang sekali. Entah Dazai percaya atau tidak, kakinya benar-benar menendang bola temari tersebut. Mainan kerajinan tangan itu sungguh-sungguh bergerak, bergulir dengan gemulai ke arah Kyouka yang balik menendangnya, dan sangat payah pun Kyouka membanggakan Dazai–pada ujungnya pula, Dazai tak lagi melakukan apa-apa sendirian.

"Tsumugi ..."

Mereka seperti masa lalu dari Sugi-sama yang telah tertinggal, dan sekarang ia tidak bisa kembali ke sana, ataupun menciptakannya lagi dengan Tsumugi yang bersenang-senang bersama ayahnya. Namun, walaupun begitu Sugi-sama melengkungkan senyumannya. Ia tersenyum. Terakhir, tanpa ada yang pertama lagi, menyebabkan keluarga di depannya sesak; kesakitan menyaksikan Sugi-sama patah dan menyerpih.

"Jangan sedih. Justru aku bahagia bisa pergi seperti ini. Akhirnya aku bisa memahami manusia, setelah hidup sangat lama."

"Setidaknya dengarkan ini! Permainannya tadi memang payah. Namun ... namun ketika aku berkelana, lalu terjebak dalam sebuah pesawat, Ayahku menyelamatkanku agar aku jangan menyerah. Jangan pasrah, karena dia ada di sisiku, sekalipun aku tak melihatnya."

"Ayah memang tak sempurna, karena ia sudah membuangku di masa lalu. Tapi karena itu juga aku menyayanginya. Soalnya dia ... dia meninggalkanku, dan kembali padaku tanpa akan terpisah lagi."

Di penghujung kisahnya Kyouka membungkukkan badan. Mungkin diam-diam ia mengambil waktu untuk mengubah ekspresinya, saat menunduk seperti ini, agar tiada yang melihat Kyouka melepaskan sesuatu yang berat, menyakitkan, bahkan melukai, dan sebenarnya itu mempengaruhinya, walaupun Dazai yang di sisinya tahu.

(Seumpama, tahu pun selama Dazai tidak melihatnya, Kyouka tak akan menambah-nambahi apa pun yang kurang penting).

"Terima kasih banyak atas waktunya. Terima kasih juga sudah mengizinkanku berkelana. Berkat itu aku bertemu Ayahku lagi."

Menggunakan sisa kekuatannya Sugi-sama yang sudah melapuk, tetapi jiwanya belum benar-benar menyatu dengan surga, menyentuh kepala Kyouka yang dari tangan itu sesuatu mengalir membasahi Kyouka. Syukurlah ia mengingatnya. Syukurlah meskipun tak bisa kembali, atau menciptakan, Sugi-sama tahu ia tidak akan lupa.

Syukurlah anak-anak manusia ini memberitahukannya apa itu mengenang, karena youkai pun tak berkuasa untuk pulang ke masa lalu, atau berabad-abad bersama dengan manusia yang waktunya sebentar sekali, makanya Sugi-sama tinggal jangan melupakannya.

Lalu untuk Dazai, tuan Jomon Sugi tersebut membisikkan sesuatu yang menyebabkannya membeliak. Sugi-sama melambai-lambai. Bentuk yang ia pelajari dari manusia itu merupakan favoritnya. Hati manusia yang dapat bermacam-macam perasaannya, untuk Sugi-sama paling kuat sekaligus rapuh, tetapi indah, ketika tangan melambai-lambai diiringi air mata.

Ternyata bisa kuat dan lemah seperti itu, karena ada harapan untuk perpisahan yang tidak berlangsung selamanya, di tengah kesedihan, ya ...

"Ayah! Ayo kita bermain bola temari. Kumo membelikannya untukku."

"Bola temari?"

"Tinggal ditendang-tendang saja, kok. Akan kuajari cara mainnya."

Dibanding semua hal-hal berbau manusia, bola temari adalah yang paling sulit Sugi-sama mengerti, karena sudah ia tendang dan malah ia yang jatuh, tetapi Tsumugi saat itu paling mudah Sugi-sama mengerti.

Bahwa Tsumugi tersenyum, karena dia mempunyai bola temari yang cantik beserta Sugi-sama–satu-satunya sosok yang dapat Tsumugi panggil sebagai ayah.

Angka sebelas yang begitu cepat sampainya dalam kehidupan Tsumugi, lantas mendorong perempuan berambut lembayung itu untuk berpetualang di dunia manusia. Sugi-sama yang baik mengizinkannya. Sugi-sama yang arif pun tak pernah tahu, sebenar-benarnya Tsumugi meninggal akibat pandemi di suatu daerah yang dikunjunginya–umurnya empat belas seperti Kyouka, ketika ia mengenang Sugi-sama yang sekarat di puncak pinus Jomon Sugi.

Dahulu sayang sekali Sugi-sama tak bisa melambai kepada Tsumugi, karena Tsumugi sendiri yang bilang mereka pasti berjumpa lagi. Namun, andai saja Sugi-sama tahu perpisahan yang ia sampaikan bukanlah kepada Tsumugi, bukankah ia pasti menyesal tidak melambai sewaktu Tsumugi mau dewasa di dunia manusia?

Jari-jari Dazai iseng meraba-raba telinga kanannya yang tadi dibisikkan sesuatu, dan menatap Kyouka yang masih memperhatikan serambi halaman belakang. Teriakan Kumo tertangkap pendengaran. Bahu Kyouka ditepuk pelan yang seolah-olah belum cukup, Dazai juga menaikkan ujung bibir Kyouka biar tersenyum lagi.

"Barusan Sugi-sama bilang kepadaku, 'jagalah Tsumugi-mu. Aku akan bertemu dengan Tsumugi-ku, sekalian meminta maaf karena sangat lama'."

"Kelihatannya sedari awal Sugi-sama sadar kamu bukan Tsumugi-chan. Kita dibiarkan menjadi keluarga, sepertinya memang karena Sugi-sama mencintai manusia."

Lagi-lagi membisu

"Padahal kalau Kyouka-chan jujur, kamu tidak perlu–", "Pertama-tama kau berbohong, dan tentu saja aku tak menyukainya, ditambah lagi kebohonganmu sangat buruk." Menyindir Dazai, kah, bahwasanya kali ini dustanya yang sempurna terbongkar secara mulus? Seruan Kumo yang menjadi-jadi membuat Kyouka melangkah duluan. Dazai mengekori di belakang dengan tanda tanya yang utuh.

"Lain kali jangan berbohong kau melakukan sesuatu yang jahat, seperti membuang seseorang. Percayalah kau itu orang baik. Aku, dan semua orang juga selalu yakin."

"Maaf, maaf. Spontanitas~ Ada sesuatu yang membuatku kesal lagi? Selesaikan saja mumpung kita masih di sini."

"Tadi juga aku ada bertanya apakah kau ingin mati kesakitan dan seorang diri, 'kan? Tolong jangan begitu juga. Ayah maupun ibuku tidak pernah menginginkannya. Berdua pun tetap saja mereka kesakitan, gara-gara serangan musuh."

"Youkai pohon itu mengajariku, kita dapat memilih kematian kita sendiri. Selama kau hidup, berpikirlah untuk mati dengan tenang di suatu tempat yang dikelilingi teman-temanmu. Terwujud atau tidak, kau tetap memperoleh hal yang baik walau kurang sesuai keinginan."

Perspektif yang bersua itu sukses mengejutkan Dazai. Sejenak termenung sampai Kumo kian mengoceh, keluarga yang membikinnya iri ini terlalu lama di daerah kekuasaan Sugi-sama. Usai bertransformasi menjadi gumpalan daun Kumo turun secepat mungkin. Kelucuan terjadi lagi di mana Kyouka dan Dazai berbarengan meminta Kumo menurunkan keduanya di makam Odasaku.

"Sudah selesai marahnya?"

"Untuk sekarang cukup. Nanti kuberitahu lagi kalau ada."

"Baiklah~ Berarti sekarang giliranku marah kepadamu. Niat Kyouka-chan memang baik tidak mau membiarkanku menanggungnya seorang diri, jadinya kamu ikut dalam permainanku, tapi Kyouka-chan, lain waktu jangan ikut-ikutan lagi apa pun alasannya."

"Enggak sepenuhnya berbohong, kok. Tetap benar walau aku bilang berkelana. Sebelum ke agensi, kan, aku di Port Mafia pertama-tama. Berkelana dulu baru ke agensi. Kau yang menyelamatkanku di pesawat juga sungguhan."

"Bohong, lah, tetap. Kita ini bukan ayah-anak tahu. Jadi takut aku dikutuk ayahmu yang betulan."

"Selama kalian tinggal bersama, ya, namanya keluarga, dasar manusia bego!" bentak Kumo yang sebagai balasannya ia dengan tega hati menyebabkan guncangan. Kepala Dazai dan Kyouka bergoyang-goyang. Diam-diam keduanya sepakat protesnya saat turun saja.

"Oke, oke. Ada satu hal lagi yang membuatku marah padamu. Ketika Kyouka menundukkan tubuh dan kepalamu untuk berterima kasih pada Sugi-sama, jangan kira aku enggak tahu Kyouka-chan berpikir yang kau rasakan enggak penting."

"..." Garis lengkung usil terbit di bibir Dazai. Kemenangan sudah pasti di tangannya, sehingga dengan penuh kebahagiaan Dazai mengacak-acak rambut Kyouka.

"Mau menyembunyikannya agar tak ada yang terluka, atau kamu merasa tidak penting, tunjukkan saja, oke? Kesedihannya bertambah pun memangnya kenapa? Bentar lagi juga berlalu, karena seperti itulah Agensi Detektif Bersenjata."

"..."

Apa berlebihan? Tetapi bukan Dazai Osamu namanya kalau gampang kehabisan ide.

"Omong-omong kimono yang kamu pakai bagus~ Warnanya violet, bunga-bunga, itu membuat Kyouka-chan sangat cantik. Para youkai juga mengepang rambutmu. Sering-seringlah tampil berbeda seperti ini~"

"Telat."

"Tidak ada kata telat dalam memperbaiki kepanganmu, 'kan? Hampir lepas, nih."

"Bisa melihat memangnya?"

"Mataku bagus, lho~ Mumpung kita dekat purnama juga?"

Kira-kira berapa hari berlalu hingga purnama tampak lagi, mengingat dunia youkai dan manusia mengandung aliran waktu yang berlainan? Berturut-turut sudah Kyouka sepemikiran dengan Dazai. Mereka memang tak mengindahkannya ketika Kyouka telanjur menikmati Dazai menyugar rambutnya, sementara Dazai sendiri senang-senang saja sepanjang keduanya selamat.

"Walaupun sebentar, terima kasih sudah menjadi putriku. Keluarga adalah sesuatu yang menyenangkan, ya, ternyata."

"Aku juga. Terima kasih sudah berpikiran untuk menjadi ayahku. Memiliki seorang ayah memang menyenangkan. Berkatmu juga hantu tidak se-mengerikan bayanganku ternyata."

Kemudian damai, yang saking damainya juga mereka justru tertidur. Kumo menitipkan selamat tinggal dengan mengembalikan bawang putih yang disitanya dari keluarga aneh ini, dan Kyouka boleh memiliki bola temari yang Tsumugi tinggalkan.

"Diriku pasti kembali. Semua cerita yang aku kumpulkan dari dunia manusia harus ayah dengarkan."

Ingatan Sugi-sama mengalir lagi, memperlelap Kyouka serta Dazai yang juga berjanji, tak akan melupakan bersama Sugi-sama.


Tamat.


Omake:


Bangun-bangun di pusara Odasaku, anggota yang lain telah mengerubungi Dazai serta Kyouka yang sempat-sempatnya mengutarakan selamat pagi.

Matahari pagi terbit dengan ceria di ufuk timur. Kesulitan menahannya lagi Atsushi menjadi yang pertama-tama bertanya kabar, disusul Kunikida yang langsung marah-marah, sedangkan Ranpo berusaha menyela untuk menceritakan sesuatu. Tanda X yang Ranpo buat menghilang secara misterius, ujarnya, hampir saja mereka terpencar semalaman, yang ujung-ujungnya balik ke topik, darimana saja kedua mantan Port Mafia ini?

"Kimono itu kalian dapatkan darimana? Dazai-san juga kotor banget."

"Anggaplah kami jalan-jalan ke negeri dongeng, kemudian bertemu kuda poni warna-warni yang sangat lucu~"

Jawaban Dazai yang tidak menyambung dengan pertanyaan Atsushi sekadar membuatnya menggaruk dagu, Kunikida masih lanjut mencereweti ini-itu, dan kebetulan Kenji menemukan bola temari. Semua mendadak bertanya-tanya punya siapakah itu? Tangan Kyouka bergerak lebih gesit dibanding mulutnya, jadinya dia mengambilnya balik.

"Ini punyaku. Oleh-oleh dari negeri dongeng."

"Pasien untuk perawatan super spesialku langsung bertambah dua, ya. Kalian harus bersiap-siap."

Firasat buruk yang menjalar kuat membuat Kyouka lari, selagi di belakangnya Dazai ikut kabur sembari mengoceh, "Tunggu aku!". Yosano terbahak-bahak menyaksikan Dazai mengenakan sebelah geta saja. Beranggapan itulah perawatan spesial yang dimaksud, Kenji mengajak Yosano tos yang diladeni tanpa banyak pikir.

"Menghilang tiga hari pun mereka tampak baik-baik saja. Berhentilah marah-marah, Kunikida."

"Negeri dongeng tetap saja merupakan alasan yang bodoh! Kenapa pula Kyouka ikut-ikutan?" ambek Kunikida yang bertanya-tanya, tidakkah keduanya tahu seisi agensi khawatir berat? Di samping Kunikida senyuman Juunichiro hadir. Naomi juga membantu menenangkan, apalagi Kyouka bersama Dazai.

"Pulang, yuk. Permenku ketinggalan di kantor."

"Ranpo-san enggak mau bertanya, apa Dazai-san sama Kyouka-chan diculik siluman atau bagaimana?"

"Fantasi dengan horor itu berbeda, Kenji-kun. Yang aku suka adalah fantasi. Horor hanya selingan untuk membuktikan hantu enggak ada. Tanda yang tiga hari lalu kubikin juga pasti terhapus akibat angin."

Semuanya takzim mendengarkan saja, padahal sewaktu tandanya hilang, ditambah Kyouka dan Dazai menghilang yang tersisa bambu kuning yang Dazai gendong, Ranpo setengah mampus ketakutan menduga-duga memang diculik siluman.