On Off
.
Sequel Kiss Me on The Mouth
.
Oh Sehun x Zhang Yixing
with
Wu Yifan x Kim Jongin
.
.
.
Yixing mengganti bajunya dengan polo t-shirt hitam yang dibungkus dengan sweater v-neck tebal berwarna hijau army. Beberapa rekan kerjanya sudah memakai mantel tebal, bersiap untuk makan malam bersama. Katanya perpisahan sebelum liburan imlek yang cukup panjang.
"Serius tidak ikut Ge?" Zitao bertanya untuk kesekian kalinya.
"Sehun mengajakku untuk makan malam di luar." Yixing memakai mantel hitam yang cukup tebal sebelum menyampirkan tas gendongnya di punggung.
"Dengan pakaian seperti ini?" Luhan bertanya dengan wajah terkejut. "Kalian memang sudah menikah tapi.. serius Xing." dengan cara yang cukup dramatisir Luhan menggelengkan kepalanya.
"Tempat makan malam kami tidak cocok didatangi dengan setelan formal." Yixing tertawa dengan pelan dengan reaksi teman kerjanya. Maklum ia kan memang menikah dengan seorang anggota keluarga Wu yang cukup dipandang.
"Kali ini ku akui kau terlihat lebih bahagia setelah menikah dengan Sehun." Xiumin tersenyum dengan tulus.
"Terimakasih."
Yixing harus memarkirkan mobilnya cukup jauh dari tempat makan. Ia butuh beberapa menit untuk berjalan, memasuki gang sempit hingga memasuki restoran yang semakin lama semakin ramai saja. Baru saja dia masuk, pemilik restoran langsung menyapanya dengan ramah.
"Suamimu sudah menunggu di dalam." Nyonya pemilik kedai memberi kode dan menunjuk meja yang selalu menjadi tempat favorite Sehun.
"Kau sudah datang dari jam berapa?" Yixing duduk di hadapan Sehun sambil melepaskan mantelnya.
"Baru." Sehun menjawab dengan singkat.
Setiap sebulan sekali Sehun selalu mengajaknya ke restoran ini. Sehun tidak pernah mengatakan alasannya dengan jelas. Tapi Yixing bisa menangkap kalau dulu mendiang nenek Sehun akan mengajaknya kesini dan menghadiahkannya tangculiji (babi goreng tepung asam manis) jika Sehun menempati ranking pertama di sekolahnya. Sehun bahkan memberikan investasi yang cukup besar hingga membuat restoran ini memiliki beberapa ruang vip yang cukup mewah. Anehnya, Sehun tidak tertarik mencoba dan tetap duduk di posisi yang sama. Meja di tengah ruangan yang dikelilingi oleh hingar bingar pengunjung restoran ini.
Mereka berdua bahkan tidak perlu memesan. Karena pemilik dan pegawai kedai ini sampai hafal apa saja yang akan dipesan oleh Sehun.
"Apa kalian ingin memesan yang lain?"
"Boleh aku pesan wonton?" Yixing bertanya pada Sehun yang tampak sedang kesal.
Sehun hanya mengangguk meski kemudian pria ini menatap Yixing dengan tajam. Yixing tidak paham, Sehun marah karena ia memesan tidak sesuai template seperti biasanya atau.. Tidak, dulu juga ia pernah memesan ceker ayam dan Sehun biasa saja.
"Aku berbuat salah?" Yixing bertanya dengan raut wajah bingung.
"Apa yang ibu katakan padamu?" Sehun bertanya dengan tajam.
Oh, karena alasan itu. Yixing juga heran, akhir-akhir ini ia menjadi lumayan dekat dengan ibu mertuanya.
"Ibu mengundang kita untuk liburan di rumah." Yixing bingung apa anehnya dengan undangan ini. Karena reaksi Sehun benar-benar berlebihan.
"Kau menyetujuinya?" Sehun bertanya dengan gigi gemeretak. Jika Yixing langsung menyetujuinya, wajar sikap Sehun seperti ini. Ada yang tengah menahan amarah di sini.
"Aku bilang, aku akan tanyakan dulu padamu." Yixing tahu, seburuk apa hubungan Sehun dengan keluarganya. Ia tidak mungkin menolak secara langsung. Jadi biar anak kandungnya saja yang menolak.
"Kau tahu kan kalau di sana ada Yifan?!"
"Jadi yang kau khawatirkan itu Yifan?" Yixing betulan terkejut loh. "Perjanjian kita juga berlaku untukku." Yixing menggelengkan kepalanya dengan takjub. Wah, mood Sehun memburuk karena pikiran buruknya sendiri.
"Jika aku selingkuh kau bisa meninggalkanku, tapi jika kau yang selingkuh aku akan memenjarakanmu," Sehun sedang tidak bercanda sobat. "Kau keluar dari pekerjaanmu dan hanya diam di rumah." Sehun selalu serius untuk masalah hukum menghukum. "Bagaimana?"
Yixing mengerjapkan matanya berulang-ulang. Ia betulan menikah dengan pria yang memiliki darah psikopat sepertinya. Meski sedikit terlambat, Yixing menganggukan kepalanya. Layaknya flash kamera. Raut wajah muram Sehun berubah total.
"Setelah makan, mungkin ada baiknya kita mampir ke kedai sebelah." Ucap Yixing sambil menunjuk kedai es krim yang hingga saat ini belum pernah ia datangi.
Selain penasaran, Yixing rasa es krim juga bisa mendinginkan kepala seseorang. Khususnya untuk dirinya sendiri. Kalau Sehun, emang sifat dasarnya saja mudah panas.
..On Off..
"Sakit!" teriak Yixing sambil memukul dahi Sehun dengan sendok yang seharusnya ia gunakan untuk mengaduk kopi. "Kau kenapa sih?" Entah kenapa rasanya de javu.
Yixing tidak sengaja meninggikan suaranya. Dan membuat kakak Sehun, Yifan mengintip dapur dengan penasaran. Duh, untung Yixing yang menghadap pintu dapur.
"Mengambil kesempatan dalam kesempitan?" Sehun menarik dagu Yixing dengan kasar.
"Tolong jelaskan padaku, kesempatan yang mana?" Yixing menatap tajam mata Sehun.
"Aku melihatmu dan kakakku di dapur," Sehun tidak sabaran dan terlihat jelas mata Yixing melebar. "Kau membuatkannya kopi?"
"Tidak," sanggah Yixing dengan cepat. "Kau yang memintaku untuk membuatkanmu kopi dan kebetulan dia juga sedang membuat kopi," Yixing menemukan mata Sehun penuh keraguan. "Jangan bilang, kau berpikir aku masih mengharapkan Yifan," Yixing menghela nafas sambil menunjukkan cincinnya. "Aku tidak sepertimu yang suka menggoda wanita dan menyembunyikan cincinmu."
Yixing kadang masih bingung dengan kelakuan Sehun yang senang membuat seseorang menangis. Sehun menggoda para wanita hanya untuk menghancurkan harapan si wanita padanya. Sampai sekarang Yixing bingung dengan hobi aneh Sehun. Mungkin Yixing juga tidak akan kaget jika Sehun memiliki budak sex. Lagi pula, Yixing sudah terlanjur terjebak dan malas untuk keluar. Suka-suka Sehun saja lah.. Tidak, Yixing berbohong, dia pasti juga akan hancur. Lebih baik ia tidak tahu sama sekali.
"Dan aku berhasil, kau cemburu." Sehun menatap dalam mata Yixing.
Oh, Sehun melakukannya juga untuk membuat Yixing menderita. Kesenangan Sehun benar-benar menyebalkan.
"Aku tahu kau hanya bermain-main dengan mereka," Yixing mengambil sendok lain untuk mengaduk kopi. "Dan kau mungkin akan mengurungku jika aku meminta cerai."
"Kau mengenalku dengan baik." Sehun justru mengecup dahi Yixing dengan dalam.
Mereka hanya tengah melakukan kunjungan keluarga seperti orang pada umumnya. Menginap beberapa malam hingga perayaan imlek. Ini semacam tradisi tetap di keluarga Sehun. Dan ibunya selalu bilang, biasanya anak keduanya ini tidak pernah mau ikut.
"Jangan menatapnya seperti itu." Yixing harus memperingati Sehun beberapa kali agar tidak menatap Jongin seperti singa siap menerkam.
"Kau satu-satunya yang tidak gentar dengan tatapanku." Sehun berbisik lirih yang justru terdengar seperti desahan.
Perkataan Sehun justru membuat Yixing membalas tatapan Sehun. Tatapan tajam Sehun berubah menjadi tatapan kelaparan. Yixing tersenyum tipis dengan perubahan tatapan Sehun. Kadang, Yixing membiarkan Sehun mengontrol segalanya, karena Sehun gila kontrol hingga batas yang tidak wajar.
"Kalian tidak berniat mengadopsi seorang anak?" Nyonya rumah memulai obrolan makan malam dengan tema yang mengejutkan.
Yixing mengalihkan tatapannya dan menatap ibu mertuanya dengan bingung. Yifan dan Jongin mungkin bisa melakukannya. Tapi Sehun?
"Ide bagus." Celetukan Sehun sukses membuat semua orang terdiam. Termasuk Yixing. "Kau ingin anak perempuan atau laki-laki?" seringai Sehun membuat Yixing memutar bola matanya dengan refleks. "Aku serius, sayang." Sehun menarik dagu Yixing dengan cepat.
"Perempuan." Yixing dengan perlahan menjauhkan dagunya dari tangan Sehun.
"Kenapa?" Sehun bertanya menggunakan nada menusuk yang mengejutkan. "Kenapa kau memilih perempuan?"
"Rasanya lebih menyenangkan jika suasana rumah tidak hanya berisi pria saja." Yixing mengungkap alasan dengan cepat namun membuat Sehun muram. Oke, apa Yixing salah bicara?
"Kau sudah mulai bosan denganku?" bisik Sehun dengan nada penuh tekanan dan terselip amarah.
"Tidak." Yixing yang sudah mulai terbiasa dengan sikap Sehun, jadi ia hanya perlu mengusap paha pasangannya ini dengan pelan. "Siapa yang bisa bosan melihat tingkahmu yang ajaib?" Bosan mungkin tidak tapi bisa jadi ia berubah muak dan lelah.
"Kalau Yifan dan Jongin bagaimana?" sang ibu yang takut jika meja makannya dibalik oleh anak keduanya, memilih untuk bertanya pada anak sulung.
Yixing betulan tidak tertarik dengan rencana Yifan dengan pasangan barunya. Tapi adiknya yang brengsek ini selalu membuat gara-gara. Yixing berkali-kali merasa tolol karena menerima lamaran Sehun. Orang tolol mana yang mau menikah dengan Sehun?
"Kau tadi berusaha sangat keras ya," Sehun baru keluar dari kamar mandi saat Yixing masih mengeringkan rambutnya. "Kau dengar tidak rencana luar biasa kakakku?"
"Tidak." Yixing seriusan sibuk memusatkan pikirannya pada makanan di piringnya tadi. Bohong, ia mendengar dengan jelas jika Yifan akan melakukan program bayi tabung. Tidak masalah perempuan atau laki-laki. Dia berencana akan menjadikan anak itu sebagai penerus perusahaan keluarga.
"Mau aku ulang?"
"Tidak." Yixing menjawab dengan tegas.
"Demi meneruskan perusahaan ia ingin mendidik seorang anak.." Sehun melirik Yixing yang mencekram hair dryer dengan tangan bergetar. Seperti ini level kebrengsekan Sehun, dia mengancam Yixing untuk tidak kembali bersama Yifan tetapi terus mengusik masa lalu. "Oh, apa itu merupakan rencana kalian berdua?" Sehun mulai memanas-manasi Yixing yang tengah mencabut kabel padahal rambutnya masih basah. "Saat menceritakannya, kakakku terus menatapmu, sayang kau malah menunduk."
Yixing beranjak berdiri dan mendekat pada Sehun. Yixing kesal dengan senyuman culas yang Sehun tunjukan.
"Kau pasti menahan diri untuk tidak menghajar kakakmu," Yixing membisik dengan nada provokatif. "Apa jadinya kalau saat itu aku pun membalas tatapan kakakmu?"
Sehun secara cepat mendorong tubuh Yixing ke arah dinding, hanya dengan tangan kanan dan hampir mencekik leher Yixing. Yixing tentu terkejut dan anehnya lebih memilih untuk menarik kerah kaos polos hitam Sehun. Tindakan Yixing justru membuat Sehun tersenyum dengan aura mengancam.
"Kau ingin membuatku sama gilanya denganmu?" rahang Yixing bergetar. Kedua matanya kini berkaca-kaca.
Sehun benar, menerima undangan ibunya merupakan keputusan buruk.
..On Off..
Yixing baru keluar dari dalam kolam renang indoor saat seseorang menarik tangannya. Yifan pelaku yang membuat tubuhnya sedikit terhuyung.
"Sehun kan yang memaksamu?!" Yifan bertanya dengan tajam. Yixing mengerutkan dahinya, tidak mengerti. "Tattoo di punggungmu."
Yixing membulatkan matanya. Ia baru sadar kalau ia punya tato bertinta hitam yang cukup besar. Berbentuk setengah lingkaran, simbol yin dengan aksen tribal. Yixing belum menjawab tapi Yifan menatap tubuhnya yang memiliki luka merah dan gigitan di beberapa tubuhnya dengan wajah marah. Terutama gigitan baru di pinggang kanannya. Serius, saking biasanya ia berenang di rumah, ia lupa dengan penampakan tubuhnya sekarang. Tapi buat apa Yifan peduli?
"Dia juga menyiksamu kan?!" Yifan bertanya dengan gigi gemerutuk.
"Sepertinya kau salah paham." Yixing memundurkan langkahnya tepat saat Sehun datang dengan sebuah tas plastik putih. Ia tak mau membuat keributan tidak perlu. Jadi dengan susah payah, akhirnya Yixing bisa terbebas dari cengkraman Yifan.
Sehun tampak berkeringat, berbeda dengan Yixing yang lebih suka berenang. Sehun lebih suka jogging dan membuat tubuhnya basah karena keringat.
"Kau belum puas menyiksa Jongin dan sekarang kau menyiksa Yixing?!" Yifan bertanya dengan berang pada Sehun yang tengah menjilat es krimnya. Yifan menerjang tubuh Sehun hingga membuat es krimnya jatuh.
Sehun hanya berdecak pelan. Dibanding menatap Yifan, Sehun lebih tertarik menatap tubuh Yixing yang basah. Sehun tersenyum miring dan menatap Yifan dengan cara yang sama.
"Kau bahkan membuat Yixing menatto tubuhnya!" Yifan benar-benar marah. Tapi Sehun malah menarik kaos hitamnya.
Sehun sejak dulu sebenarnya sudah memiliki tattoo jangkar di dada kirinya. Dengan berani Sehun mendatangi Yifan dan membalikkan tubuhnya.
"Yixing yang mendesain sendiri tattoonya, keren kan?" punggung Sehun kini pun terdapat tattoo yang sama dengan Yixing. Berbentuk setengah lingkaran, simbol 'yang' dengan aksen tribal pekat. Sekaligus juga menunjukkan bekas cakaran di punggung serta pinggang, dan gigitan di bahu Sehun. "Yixing tidak selembut yang kau kira."
Sehun menggelengkan kepalanya sambil melalui Yifan. Mendekati Yixing yang menggosok pelan pergelangan tangannya. Sehun bisa melihat lebam merah mengelilingi pergelangan tangan Yixing. Sehun mengubah tujuannya dengan cepat. Yifan bahkan tidak sempat untuk menarik nafas saat Sehun mencekram kaos yang dikenakan Yifan.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh Yixing-ku?!" Geram Sehun yang membuat Yixing dengan cepat mencekram tangan Sehun. Salah satu tangan Yixing menahan tubuh Yifan.
"Aku baik-baik saja," Yixing berkata dengan lembut pada Sehun. "Lepaskan cengkramanmu," Yixing menarik tangan Sehun dengan perlahan. "Kau menyakiti tanganmu sendiri."
Tampramen Sehun yang buruk membuat tangan kanannya sering terluka. Sehun memang tidak pernah memukul Yixing tapi dia lebih suka memukul benda yang ada di sekitarnya saat bertengkar dengan Yixing. Terakhir kali mereka bertengkar, serpihan kaca menancap di punggung tangan Sehun.
Tanpa memperdulikan Yifan, Yixing lebih fokus menatap lengan Sehun yang berdenyut. Es krim yang katanya untuk Yixing berubah peran malah menjadi kompresan untuk tangan Sehun. Dan Sehun tidak bisa melepaskan tatapan tajamnya pada Yifan. Sampai akhirnya Yixing menarik dagu Sehun. Alhasil Sehun malah menatap Yixing dengan marah.
"Kau marah padaku juga?" Yixing membalas tatapan Sehun. "Bukankah lebam ini menunjukkan aku berusaha keras untuk melepas cengkraman kakakmu?" Yixing menunjukkan tanda kemerahan di pergelangan tangannya.
Sehun memejamkan matanya. Menghirup udara sedalam-dalamnya. Mencoba mengontrol emosinya. Jika tidak berhasil, Sehun akan melempar apa pun yang ada disekelilingnga. Tapi kali ini Yixing menyentuh dada Sehun dengan lembut dan membuat Sehun terkejut hingga membuka kelopak matanya. Yixing sendiri malah tersenyum simpul.
Tangan kiri Sehun meraih tangan Yixing yang memegang dadanya. Sehun selalu punya sisi mengejutkan. Misalnya kali ini Sehun mengecup dalam pergelangan tangan Yixing.
"Nanti aku akan meminta seseorang untuk membelikanmu es krim."
Perkataan Sehun kali ini justru membuat Yixing tertawa dengan keras.
"Kau milikku." Sehun menatap tajam mata Yixing yang tidak menunjukkan rasa terkejut sama sekali.
"Iya, aku milikmu."
..On Off..
Sehun yang tidak suka bersosialisasi hanya duduk di taman. Tidak merasa keberatan sama sekali, saat anggota keluarga yang lain memilih untuk bermain mahyong bersama dan saling bertukar kata. Sehun lebih memilih merokok. Hingga ibu mertua Yixing menyarankannya untuk menemani Sehun.
"Apa sebegitu tidak nyamannya?" Yixing duduk disamping Sehun yang langsung mematikan puntung rokoknya.
Yixing tidak merokok tapi juga tidak keberatan jika Sehun merokok. Namun Sehun sedang mengurangi jumlahnya perhari. Yixing terkesan dengan sikap Sehun, karena ia refleks mematikan rokoknya jika Yixing mendekat.
"Semenjak aku pindah ke salah satu rumah kakekku di Wuhan, mereka sudah seperti orang asing untukku," Sehun menggeserkan tubuhnya saat Yixing memilih duduk di sampingnya sambil memangku sepiring potongan apel. "Baru sekarang aku ikut acara konyol ini."
"Setelah menikah denganku?" Yixing tertawa sebelum menyuapkan apel ke mulutnya dan mulut Sehun. "Menurutku keluargamu cukup menyenangkan."
"Bahkan setelah memilih untuk menikah denganku?" Sehun membuka mulutnya saat Yixing menyodorkan garpu dengan potongan apel di atasnya. Hingga hari ini Yixing tetap menjadi anggota keluarga yang memiliki jumlah gosip, nyinyiran dan sindiran terbanyak. Meski tidak diucapkan secara langsung karena sifat dasar Yixing yang ramah. "Aku tidak pernah membayangkan akan berada di rumah ini di akhir tahun bersamamu."
"Aku juga." Yixing mengingit apel yang entah keberapa.
"Dulu kau pasti berpikir akan ke sini dengan Yifan."
Jujur saja, Yixing memang berharap bisa menikah dengan Yifan. Tapi..
"Aku tidak berpikir sejauh itu," Yixing berkata dengan jujur. "Jika minggu lalu, ibu tidak memberitahuku, aku tidak akan tahu keluarga Wu memiliki acara keluarga setiap akhir tahun."
Yixing menaruh piring kosong di atas meja kecil berdampingan dengan asbak. Tanpa ragu ia memeluk pinggang Sehun dan menyenderkan kepalanya di dada pria bertattoo jangkar itu. Sehun sendiri langsung mengusap kepala Yixing dengan tangan kirinya yang tidak terluka sama sekali.
Sebenarnya kadang, Sehun selalu heran. Kenapa Yixing suka sekali memeluknya.
"Aku masih tidak terima harus dibuang ke tempat macam itu hanya karena mereka mengira aku yang mencuri gelang ibuku," Sehun menghela nafas dengan pelan saat Yixing diam-diam melebarkan mata saking terkejutnya. "Dan butuh lima tahun untuk mereka menyadari bukan aku yang mencuri tapi asisten ibuku sendiri," Sehun bahkan mengecup pucuk kepala Yixing. "Cara mereka meminta maaf dan mengatakan alasan kenapa aku yang dituduh mencuri membuatku kesal, hanya karena aku pernah mengambil kartu kredit Ayahku."
Kini Yixing menyampirkan tangan kanannya di bahu Sehun sebagai alas untuk dagunya. Dan tangan kiri Sehun merosot menuju pinggang Yixing. Rasanya Yixing ingin bilang, pantas saja kau yang dituduh. Tapi masalahnya, gelang macam apa yang dicuri hingga membuat Sehun dikirim ke rumah lain kakeknya untuk dididik.
"Dan kau makin berulah?" Yixing berucap dengan percaya diri.
"Apa yang kau harapkan pada anak 15 tahun tanpa pengawasan orang tua?" Sehun bertanya dengan begitu bangga. "Aku sampai dikira anak yatim piatu karena yang menjadi wali adalah nenekku," untuk yang satu ini, Sehun selalu berubah murung setiap membicarakan mendiang neneknya. "Setiap semester aku harus pindah sekolah, tapi pada akhirnya aku bosan," Sehun menatap Yixing yang ternyata mendengar dengan penuh perhatian. "Aku mencoba untuk memperhatikan setiap pelajaran, dan aku terkejut, ternyata aku cukup pintar," Sehun menyeringai saat Yixing tertawa. "Saat nilaiku membaik dan catatan hitamku berkurang, orang tuaku mengizinkanku untuk kembali ke sini."
"Kau kembali?"
"Tentu tidak," Sehun mendengus dengan cara yang menyebalkan. "Melihat nilaiku, keluarga ini dengan seenaknya menyuruhku untuk sekolah di luar negeri," Sehun kali ini benar-benar menatap Yixing. "Kau tahu siapa yang mengusulkan ide itu?"
"Kakakmu?" tebak Yixing, perlu alasan yang begitu dalam hingga Sehun membenci kakaknya.
"Iyap, setelah menjadi orang pertama yang menuduhku mencuri," Sehun mengangguk dengan takjub. "Aku memilih jurusan administrasi bisnis dan bertemu denganmu di sana," Tidak seperti biasanya, Sehun tidak pernah berbicara sepanjang ini. "Dan keluarga ini memunculkan sisi kompetitif pada kedua calon pewaris perusahaan."
"Astaga, pelik ya?" Yixing tidak tahu jika keluarga ini tidak sadar diam-diam sedang membuat monster. "Siapa yang melakukannya?"
"Kakekku."
Yixing melirik pelan sang kakek yang baru saja datang ke ruang tengah dan memang terlihat menyeramkan. Yixing mendadak kikuk sendiri setiap sang kakek menatapnya. Belum lagi, beliau merupakan orang pertama yang tidak setuju jika Sehun dan Yixing menikah hingga saat ini.
"Kakekmu menyeramkan ya?" bisik Yixing yang membuat Sehun tersenyum miring. "Tatapannya itu seperti.." Yixing secara tiba-tiba menatap Sehun yang tengah menatapnya juga. "Kau belajar dari kakekmu ya?"
Sehun justru mengangkat dagu Yixing dan mengigit bibir atas Yixing. Yang diserang refleks membalas dengan menggigit hidung Sehun. Tentu saja Sehun terkejut, pria berkulit pucat itu sampai memundurkan wajah dan mengerutkan dahinya. Reaksi Sehun yang seperti ini malah membuat Yixing tertawa. Suara tertawa Yixing yang renyah membuat Sehun menyerang wajah Yixing dengan kecupan. Yixing tidak bisa kabur karena pinggangnya dipeluk erat oleh Sehun. Yang bisa Yixing lakukan hanya mendorong wajah Sehun untuk menjauh.
..On Off..
"Aku tahu, kau tidak benar-benar mencintai cucukku."
Yixing merasa jantung hampir copot. Kepala keluarga Wu mendekati Yixing yang tengah duduk di samping kolam ikan besar. Ini malam kedua ia menginap di rumah besar keluarga Wu. Yixing mencoba memberanikan diri untuk menatap kakek Sehun yang memiliki tatapan bak pisau dapur. Ya ampun, padahal ia sedang mengalami insomnia, jangan sampai ia juga akan mendapatkan migren malam ini.
"Apa alasanmu menyetujui lamaran Sehun?" pria renta yang sebenarnya masih bisa berjalan tegap itu duduk di samping Yixing. Tanpa basa basi sama kali, seperti bertanya kenapa tengah malam Yixing duduk di dekat kolam ikan yang remang, "Dia tidak akan mendapatkan harta warisan lebih besar dari Yifan," pria itu bisa melihat reaksi Yixing yang menghela nafas. Yixing sudah biasa dicap mata duitan dan terobsesi menjadi bagian dari keluarga Wu karena setelah dibuang Yifan, ia malah menerima lamaran adik mantan kekasihnya. "Dia juga bukan pria sebaik Yifan."
"Karena Sehun egois," Yixing menatap kolam ikan dengan lekat, menghindar untuk menatap langsung pria yang kini juga merupakan kakeknya. "Karena Sehun juga membenci Yifan." Rahang Yixing mengeras setiap ia mengingat kejadian dimana Yifan meminta untuk mengakhiri hubungannya.
"Kau menggunakan Sehun untuk membalas dendam?"
"Tidak," Yixing mengumpulkan kekuatannya untuk menoleh pada sang kakek. "Aku memang ambisius tapi bukan orang yang culas," Yixing tahu perkataannya cukup tolol untuk diutarakan. "Aku mungkin belum mencintai Sehun tapi sedang dalam proses menerima semua hal yang ada di dalam diri Sehun."
"Omong kosong."
"Memang," Yixing mendengus dengan pelan. Yixing juga bingung kalimat sampah macam itu bisa-bisanya keluar. "Kelakuan Sehun bahkan jauh lebih menyebalkan dan selalu sukses membuatku kesal," Yixing tidak tahu mengapa ia mengatakan hal ini. "Tapi Sehun tidak pernah menyakitiku dan membuatku terluka."
"Aku dengar kau memiliki banyak luka di tubuhmu."
Yixing tersenyum tipis sebelum menatap kepala keluarga Wu dengan geli. "Apa gaya bercinta kami sedikit berlebihan?" memang, Yixing tidak punya rasa malu sama sekali. "Tentu Anda juga mendengar Sehun memiliki luka yang tidak jauh berbeda denganku."
Sang kakek berdeham dengan keras.
"Aku dengar Sehun juga masih suka bermain dengan wanita."
"Untuk membuatku marah dan cemburu," Yixing berkata dengan begitu sangat percaya diri. "Sekarang dia tidak pernah melakukannya lagi setelah melihatku mengamuk dan hampir menghancurkan rumah," Yixing bahkan ingat saat Sehun tertawa dengan senang berbanding terbalik dengan dua wanita yang tampak ketakutan. "Bukankah itu daya tarik dari Sehun?"
Sang kakek menghela nafas, terlalu bingung untuk menebak jalan pikiran menantu anaknya. "Kau masih memiliki niat untuk meninggalkan cucuku?"
"Kalau dia berulah lagi," Yixing berkata dengan jujur sambil mengangkat kedua bahunya. "Tapi itu hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga," Yixing malas membayangkan apa yang akan Sehun lakukan. "Aku tahu Sehun benar-benar mencintaiku masalahnya hanyalah aku."
"Kau sadar dengan ucapanmu kan?" kali ini justru sang kakek yang tertawa dengan cara yang menyebalkan. Persis seperti Sehun.
"Biarkan waktu yang membuatku akhirnya mencintainya." Hoho, Yixing merinding dengan jawabannya sendiri.
"Kalau tidak berhasil?"
"Aku sudah terlanjur terbiasa hidup dengannya," Yixing rasa kebanyakan pasangan yang sudah menikah akan berada di tahap ini. "Apa itu buruk?"
"Tapi kau pernah meninggalkan Sehun." Tuduh sang kakek.
Yixing menatap kakeknya ini dengan heran. "Semua orang akan melakukan hal yang sama, jika berada di posisiku," tapi kemudian Yixing mengangguk pelan, keluarga ini tahu ia pernah pergi meninggalkan Sehun tapi tidak tahu apa alasan sebenernya. "Aku menemukan suamiku bersama dua wanita di ranjang dan bertelanjang bulat," Jongin tahu Kepala Keluarga Wu ini akan menatapnya dengan terkejut. "Dan hal itu ternyata yang justru membuat cucumu berlutut padaku."
Ia pergi setelah memergoki Sehun bermain dengan dua wanita yang membuat Yixing naik pitam dan menghancurkan semua perabotan rumah. Mengamuk seperti orang kerasukan. Padahal umur pernikahan mereka baru berjalan selama enam bulan. Stressnya Yixing macam apa coba?
Sehun mungkin tertawa saat Yixing mengeluarkan kemarahannya. Namun Sehun tiba-tiba panik saat Yixing pergi begitu saja tanpa pamit sama sekali. Sehun menemukannya hanya dalam jangka waktu empat hari. Itu waktu yang cukup singkat jika tempat ia kabur itu adalah Australia.
"Bagaimana rasanya saat Sehun memohon padamu? Kau menyukainya?" Nada sinis itu sedikit membuat Yixing tidak nyaman.
Halah~ ternyata percuma ia memberikan pejelasan kenapa ia kabur sampai sejauh itu. Kakek Sehun memang sejak awal tidak menyukainya.
"Tidak sama sekali," ia tidak suka saat Sehun memohon dan berlutut padanya dengan tatapan menyedihkan. Sehun tahu Yixing cukup berani untuk melakukan apa pun agar ia terlepas dari kehidupan Sehun. "Karena aku tahu rasanya."
"Jika cucukku yang meninggalkanmu, apa kau akan melakukan hal yang sama?"
"Tidak," Yixing berkata dengan tegas. "Aku pernah ditinggalkan oleh cucu pertamamu dan pernah memohon dengan cara yang jauh lebih menyedihkan," Setiap Yixing ingat kejadian itu, Yixing selalu mengumpati dirinya sendiri. "Aku akan membiarkan Sehun pergi, harga diriku sudah terlalu lelah untuk melakukannya lagi."
"Kau terdengar menyedihkan.." dengus sang kakek yang terdengar sarkas. "Mencoba menjadi orang yang paling menyedihkan?"
"Buatku Jongin jauh lebih menyedihkan," Yixing tersenyum dengan lebar kali ini. "Dia memiliki suami yang baik tapi tidak mencintainya," Yixing tidak keberatan saat sang kakek menatapnya dengan tajam. "Jelas aku jauh lebih beruntung, Sehun mencintaiku dan aku bersyukur akan hal itu."
"Aku tetap tidak percaya padamu."
"Tidak apa-apa," Yixing juga tidak berharap lebih pada kakek satu ini. "Toh, itu tidak akan merubah apa pun."
"YIXING?!"
Seruan menggelegar itu membuat Yixing beranjak berdiri dan melambaikan tangannya. Sehun bisa membuat semua orang terbangun kalau berteriak macam itu. Sehun berjalan dengan tergesah-gesah namun berhenti dengan cara mendadak saat seseorang di samping Yixing ikut berdiri.
"Kalian berdua sedang apa?" Sehun bertanya dengan khawatir. Jangan sampai kakeknya mempengaruhi Yixing dan membuat Yixing kembali meninggalkannya.
"Hanya sebuah introgasi singkat," Yixing menjawab dengan terlampau jujur hingga membuat sang kakek melotot meski pada akhirnya hanya bisa menghela nafas. "Aku pergi terlalu lama ya?" Yixing terkejut dengan keringat yang keluar dari pelipis Sehun. Yixing refleks langsung mengusap keringat Sehun dengan lengan panjangnya. "Kau tidak membangunkan semua orang kan?"
Melihat cara Sehun menatap Yixing, membuat sang kakek sedikit jengah. "Kau berlebihan nak." Keluh sang kakek sambil berlalu begitu saja melewati Sehun.
"Maaf aku tidak bisa tidur," Yixing menemukan mata Sehun yang tampak kelelahan. "Dan aku takut membangunkanmu."
"Lain kali bangunkan saja aku."
..On Off..
"SEHUN!" tidak tahan dengan tingkah Sehun. Yixing tentu berteriak dengan keras. "SEHUN!"
"Kau bilang kau tidak suka jogging, jadi kau harus berenang." Alasan absurd Sehun membuat kepala Yixing pening.
Yixing sebenarnya tahu kenapa Sehun memaksanya untuk berenang. Karena peristiwa kemarin, Yixing jadi sedikit sungkan dan malas untuk kembali berenang di rumah keluarga Wu. Dan Sehun paling tidak suka ketika sifat tidak enakan Yixing keluar, menurut Sehun itu hanya akan mempersulit hidup Yixing. Dan ya, harus diakui, pendapat Sehun ada benarnya juga.
Yixing sudah berusaha keluar dari kolam renang. Dan kembali gagal karena di dorong oleh Sehun. Kelakuan Sehun sudah seperti pembullyan anak sekolahan. Terpaksa Yixing berenang beberapa kali putaran sebelum akhirnya Sehun mengizinkannya untuk naik ke permukaan. Yixing malu karena beberapa ponakannya terbangun dan menonton aksi penindasan macam ini.
"Kemari." Sehun mengulurkan tangannya.
Mungkin Sehun lengah, tapi Yixing selalu pandai dalam menggunakan kesempatan yang ada. Jadi Yixing menarik keras tangan Sehun. Apa Sehun marah? Tentu saja.
"Baju joggingku basah!" decak Sehun dengan kesal. Oh, Sehun paling tidak suka dikerjai macam ini.
"Baju tidurku juga!" balas Yixing.
Sehun tidak berkata apa-apa hanya keluar dari kolam renang dan pergi begitu saja meninggalkan Yixing sendirian. Saking sudah terbiasanya, Yixing lebih memilih menerima handuk dari ponakannya yang manis sebelum mengejar Sehun.
"Apa Paman Sehun marah?" Salah satu anak dari sepupu Sehun bertanya dengan khawatir.
"Sedikit."
"Paman Sehun benar-benar menyeramkan." Anak laki-laki berusia sekolah menengah pertama berkomentar yang langsung disetujui oleh yang lainnya.
Kurang lebih terdapat enam ponakan berusia sekolah yang Yixing dapatkan setelah menikah dengan Sehun. Tentu saja ponakannya ini hasil dari pernikahan beberapa sepupu Sehun. Keluarga yang cukup besar untuk ukuran keturunan keluarga Tiongkok sebenarnya. Jika terlalu lama ia meladeni para keponakannya, kemarahan Sehun akan semakin parah. Jadi Yixing buru-buru berjalan menuju kamarnya. Dan sesekali meminta maaf pada para pelayan yang terpaksa mengepel karena jejak Sehun.
Yixing mendengar suara shower yang menyala. Seperti dugaan Yixing, pintu kamar mandi tidak terkunci. Tanpa ragu, Yixing membuka kamar mandi dan menemukan Sehun bertelanjang bulat di bawah guyuran shower.
"Apa kau marah?" Yixing menatap pakaian jogging Sehun yang berserakan.
"Aku paling tidak suka dipermalukan." Sehun menatap Yixing dengan tajam melalui pantulan cermin yang hampir tertutup uap.
Inilah Sehun yang selalu berterus terang. Seharunya Yixing menunjukkan rasa bersalah. Tapi sayangnya tidak sama sekali. Yixing justru tersenyum kecil sambil membuka seluruh bajunya. Dan masuk ke dalam wilayah Sehun. Tentu saja si pria berkulit pucat memutarkan tubuhnya untuk berhadapan langsung pada Yixing yang tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
"Aku hanya balas dendam," Yixing berkata sambil meraih kedua tangan Sehun. "Aku tidak berniat mempermalukanmu, kebetulan saja tadi ponakanmu berkumpul," Dan mengarahkan kedua tangan Sehun untuk menangkup bokongnya. "Aku baru tahu, kau bisa semenggairahkan ini saat marah dan terguyur air."
Sehun tersenyum miring dengan kedua tangan meremas bongkahan pantat Yixing. Si pria berlesung pipi itu tersentak karena cengkraman Sehun yang terlalu keras.
"Kau pikir aku semurah hati itu?" Sehun berbisik dengan jari-jari yang mulai menggoda lubang anal Yixing. "Kau memberikan tubuhmu agar aku tidak marah?"
"Kau menolak tawaranku?" Yixing mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun.
Yixing bermaksud untuk mencium Sehun. Tapi dasar pria jual mahal. Sehun menolak dengan cepat. Jadi, Yixing langsung mengarah pada leher Sehun. Ia sengaja membuat tanda merah yang tidak terlalu pekat di bawah rahang. Salah satu tangannya bahkan dengan tidak tahu malunya turun untuk menggoda penis Sehun.
Yixing mengigit bibirnya sendiri saat melihat wajah Sehun memerah. Jari-jari Sehun yang awalnya menggoda kini benar-benar masuk ke dalam lubang anal Yixing. Sontak saja Yixing langsung terkesiap.
Sehun bukan tipe orang yang penyabar. Jadi saat Sehun membalikkan badan Yixing untuk mengahap dinding yang basah dan mengakat paha kanannya. Yixing tahu sensasi macam apa yang akan ia dapatkan.
..On Off..
Yixing duduk di sofa ruang tengah yang dikuasai oleh ponakannya. Para anak perempuan sibuk dengan kutek dan obrolan sekolahnya. Anak lelaki sibuk dengan bolanya dan bermain dengan Jongin. Yixing memilih untuk menemani dan menanggapi para gadis. Yixing baru saja akan beranjak berdiri saat Jongin dan Yifan jalan beriringan dan duduk tidak jauh dari Yixing. Sialnya orang tertua di rumah ini malah duduk di samping Yixing. Membuat Yixing mengurungkan niatnya.
"Aku masih tidak bisa melihat apa yang bagus darimu, hingga Yifan dan Sehun menyukaimu," bisikan kakek satu ini sukses membuat Yixing melebarkan kedua matanya. "Ucapanmu benar, Yifan memang baik tapi tidak mencintai Jongin," helaan nafas selanjutnya cukup terdengar keras di telinga Yixing. "Dan membuat keduanya sulit berinteraksi satu sama lain."
Yixing tidak mau ambil pusing. Dan ia pun terlalu malas untuk berbicara mengenai topik macam ini. Jadi Yixing hanya merespon dengan anggukan kepala. Meski Yixing sedikit berburuk sangka jika kakeknya ini tengah memancingnya.
Beruntungnya Sehun datang tepat waktu. Pria berkulit pucat itu membawakan kakeknya teh hangat. Dan menyodorkan sekaleng coke pada Yixing. Sebelum Yixing meraih kaleng minuman tersebur, Sehun dengan mudah membuka terlebih dahulu. Sehingga Yixing bisa langsung meminumnya.
"Terimakasih." Ucap Yixing sebelum meminum cokenya.
Bukan Yixing yang bergeser untuk duduk lebih dekat dengan Sehun. Tetapi suaminya ini menarik pinggangnya untuk mendekat. Tingkah Sehun membuat sang kakek terang-terangan melirik Yixing.
"Aku dengar kalian bertengkar tadi pagi," Sang kakek malah menemukan Sehun tersenyum miring dan Yixing tertawa kaku. "Kalian sepertinya mudah bertengkar dan mudah berbaikan," gelengan kepala itu cukup membuat keduanya saling mengunci mulut. "Bagaimana keadaan perusahaanmu?" Sang kakek memulai obrolan dengan tema lain yang membuat Yixing ingin kabur rasanya.
"Semakin baik."
Sehun selalu membuat jawaban yang membuat lawan bicaranya susah untuk memperpanjang topik.
"Apa rencanamu tahun depan?"
"Invasi," Sehun dengan penuh percaya diri menjawab. "Dan mengadopsi seorang anak perempuan." Kali ini si pria kasar menatap Yixing dengan dalam.
Yang ditatap malah hampir tersedak karena minuman kaleng yang tidak sehat. "Serius?" Tentu saja Yixing terkejut. Sehun mengangguk pelan sambil memberikan tab berisi daftar panti asuhan pada Yixing. "Aku rasa kita tidak perlu terburu-buru," Yixing menemukan Sehun malah menatapnya dengan tidak setuju. "Kita ini masih harus saling kompromi, jangan menambah korban kemarahanmu dulu."
"Wu Yixing." Panggil Sehun dengan nada dingin.
"Wu Sehun," balas Yixing yang sukses membuat Sehun kesal bukan main. "Aku tidak mau ada satu jiwa yang terluka karena ulah kita berdua."
"Baiklah.." gumam Sehun yang justru membuat Sang Kakek terkejut. Sehun bisa dikendalikan dengan mudah oleh Yixing.
Lagi, Sehun tiba-tiba saja mengecup pucuk kepala Yixing. Perlakuan Sehun kadang membuat Yixing sedikit membandingkannya dengan Yifan. Mungkin Yifan tidak kasar tapi juga tidak sevulgar Sehun. Namun Sehun dengan prinsip ke-masa bodohan-nya membuat Yixing sedikit malu.
"Kita diperhatikan semua orang, Hun." Bisik Yixing saat Sehun tengah asik memainkan rambut Yixing. Beberapa ponakannya bahkan menatap Sehun dengan takjub.
"Oh.." Sehun tersenyum miring sebelum membalas perkataan Yixing. "Kau lebih suka orang lain melihatku menjambak rambutmu?" Sehun dengan sifat yang super random jelas membuat Yixing meringis.
Yixing hanya menggelengkan kepalanya. Sehun tidak bisa jauh-jauh dari kata atau tindakan kekerasan. Wajar kan Yixing sedikit khawatir pada anak adopsinya nanti. Mungkin nanti ia juga akan membuat anaknya mengikuti kelas bela diri. Tapi yang lebih penting, panti asuhan mana yang mau menerima calon orang tua yang pernah menorehkan namanya di buku hitam karena tindakan kekerasan seksual.
Suasana berisik ruang tengah, tiba-tiba sedikit hening karena salah satu keponakan Sehun yang cantik memainkan sebuah piano yang ada di ruang tengah. Gadis cantik ini terlihat murung sejak pagi.
Now the day bleeds into nightfall,
(Kini hari yang menyakitkan memasuki malam)
and you're not here, to get me through it all
(dan kau tidak disini untuk membantuku melewati semua ini)
I let my guard down, and the you pull the rug
(Aku lengah dan kemudian kau tiba-tiba pergi)
I was getting kinda used to being someone you loved
(Aku sudah mulai terbiasa menjadi seseorang yang kau cintai)
Lagu itu sontak mebuat Yixing diam-diam mencuri lihat Jongin yang tengah duduk bersama Yifan, mereka tengah mengobrol dengan mertuanya. Ia pernah memakai lagu ini untuk menyindir Yifan saat mereka berdua tengah bertengkar. Dan situasi tidak menyenangkan datang. Yixing tidak sengaja bertukar pandang dengan Yifan.
"Mulai~" celetuk Sehun tepat saat Yixing mengalihkan tatapannya. "Padahal mau aku hitung sampai tiga."
Yixing mengutuk dalam hati. Sehun itu perpaduan antara posesif dan sadis yang memiliki perbandingan 50:50.
"Aku tidak sengaja," Gumam Yixing yang kembali berkonsentrasi dengan tabnya. "Sepertinya kita hanya punya peluang di panti asuhanku." Padahal tadi Yixing yang bilang untuk tidak terburu-buru.
"Mengalihkan pembicaraan?" Sehun mengejek dengan cara menyebalkan.
"Oh, ayolah~" desah Yixing memelas. Hingga mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Yixing bahkan merengek di samping kakek Sehun.
"Kau pikir aku akan luluh jika kau bersikap seperti ini?" Sehun berkata macam itu padahal tangannya sibuk merapihkan rambut Yixing. "Dan aku yakin dia akan mendatanginmu."
..On Off..
Sehun tidak seperti biasanya menerima tawaran ayahnya untuk bermain catur. Ayah kandungnya itu sudah berusaha dengan susah payah membuka obrolan. Tapi Sehun hanya menjawab dengan singkat dan menatap bidak catur dengan serius. Yixing yang tidak paham dengan permainan catur, memilih untuk diam di taman, tidak jauh dari posisi Sehun dan ayah mertuanya.
"Aku serahkan padamu," Suara lembut yang sudah lama tidak Yixing dengar membuatnya menoleh. "Rumah yang sudah sejak lama kita rencanakan."
Yixing tidak mengerti. Lagi pula rumah itu dibeli menggunakan uang Yifan. Jadi Yixing hanya mengerutkan dahi.
"Barangmu masih ada di sana."
"Aku sudah tidak butuh lagi."
"Bahkan sweater favoritmu juga?"
"Sudah bukan favoritku lagi."
Seingat Yixing itu hanya sweater yang dibelikan Yifan saat mereka pertama kali bertukar kado. Yifan tidak juga beranjak pergi. Dan membuat Yixing berinisiatif untuk pergi.
"Apa kau bahagia?" Yifan tiba-tiba saja bertanya.
"Ya." Jawab Yixing dengan singkat. Dibandingkan menatap Yifan, Yixing lebih memilih menatap Sehun yang juga tengah mengamatinya.
"Aku tidak." Aku Yifan dengan helaan nafas.
"Aku turut menyesal."
"Kau berubah, kau bukan Yixing yang penuh perhatian lagi."
"Itu bukan urusanku lagi," Yixing mendengus dan berkata dengan ketus. "Kau hanya kakak iparku sekarang, tugas itu hanya Jongin yang boleh melakukannya." kali ini Yixing menatap Yifan dengan tatapan mengkasihani.
"Aku sudah terlalu terbiasa menjadi pria yang kau cintai," gumam Yifan yang terdengar jelas oleh Yixing. Yifan selalu tahu dimana titik lemah Yixing. Pria berlusung pipi ini bahkan tanpa sadar menahan nafasnya. "Kadang aku mengunjungi rumah kita."
Jika Yifan mengatakannya beberapa bulan yang lalu. Yixing mungkin akan tersentuh. Tapi satu tahun merupakan waktu yang lama juga bagi Sehun untuk membuat Yixing berpaling. Dulu Yixing mungkin memohon dengan menyedihkan tapi sekarang setiap melihat Yifan dan Jongin saja rasanya cukup memuakan karena tindakannya dulu.
"Jika kau ada masalah, mungkin kau bisa mengunjunginya sesekali."
Yixing melebarkan kedua matanya. Perkataan Yifan seperti ajakan untuk berselingkuh.
"Waktu satu tahun merupakan waktu yang cukup lama," Yixing bergumam dengan pelan. Yixing mencoba mengatur nafasnya dengan perlahan. "Untuk memaklumi keputusanmu dan menerima ketulusan Sehun."
"Tulus?" Yifan tertawa dengan jengah. "Dia bahkan berselingkuh di belakangmu." Entah dari mana Yifan tahu berita ini.
"Oh, masalah itu," Yixing mengangguk dengan masam. "Kami sudah sepakat, jika hal itu terulang lagi kami akan berpisah."
"Percaya pada Sehun merupakan hal terbodoh yang pernah aku dengar."
"Berharap padamu juga merupakan hal terbodoh yang pernah aku lakukan."
"Kalian berdua bisa membuat semua orang salah paham." Intrupsi dari kepala keluarga Wu membuat keduanya tersentak kaget. Terutama Yifan yang buru-buru memasukkan kembali kunci rumahnya.
..On Off..
"Apa ku bilang, dia pasti akan menemuimu," Sehun menghampiri Yixing yang tengah berjongkok untuk merapihkan koper. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin pulang." Yixing sepenuhnya setuju pada Sehun kali ini.
"Apa yang dia katakan padamu?" Sehun menarik tangan Yixing untuk menghentikan kegiatannya.
Tapi Yixing menolak untuk berbicara. Sehun awalnya berpikir Yixing hanya akan marah. Kalau begini reaksinya, maka ada sesuatu yang salah.
Sehun menarik pinggang Yixing untuk berdiri. Lagi, pasangannya itu memberontak. Dan membuat Sehun membanting tubuh Yixing ke atas kasur. Sehun hanya perlu menekan Yixing. Tepatnya memaksa Yixing untuk berbicara.
"Apa yang membuatmu goyah?" Sehun bertanya dengan sangat tenang. Tidak seperti biasanya.
Yixing tidak juga menjawab dan masih mencoba untuk bangkit. Namun Sehun kembali mendorong Yixing. Kali ini bahkan sampai mencekram kedua tangan Yixing.
"Apa yang dia tawarkan?" suara Sehun masih sama tenangnya namun terdapat nada mendesak.
"Kunci rumah," gumam Yixing dengan mata berkaca-kaca. "Dia bilang dia tidak bahagia dengan Jongin," Yixing menemukan raut wajah Sehun yang mengeras. "Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, Hun." Ucapan Yixing yang kontradiktif membuat dirinya sendiri meneteskan air mata.
Sehun dengan tidak terduga mengigit leher Yixing hingga membuat pasangannya ini terkesiap.
"Aku tidak tahu jika kau selemah ini." Bisik Sehun yang kini mulai menjilat bekas gigitannya.
"Aku tidak mau menjadi sepertimu," Yixing mengucapkan kata yang cukup membuat Sehun tersentak kaget. "Bermain di belakangku tanpa rasa bersalah sama sekali."
Sehun menaikan sebelah alisnya. Oh, hampir saja Sehun salah paham. Sehun melepas cengkramannya namun menarik keras Yixing. Pasrah, Yixing kini sudah berada di posisi duduk berhadapan dengan Sehun.
"Tawaran yang cukup menarik," Sehun akui itu. "Dia juga cukup berani menawarkan hal itu di sini," Sehun menatap keadaan Yixing yang terlihat berantakan. "Pantas saja dia begitu sangat percaya diri," Sehun mengusap kasar bibir Yixing. "Dia tahu kau masih mengharapkannya."
Yixing tidak bisa berkelit apalagi membantah. Karena Sehun benar, ia diam-diam mengharapakan Yifan kembali padanya. Tapi status keduanya membuat harapan itu hanya akan menjadi malapetaka bila terwujud.
"Jadi mau versi kasar atau lembut?" Sehun memberikan sebuah tawaran.
"Apa?"
"Kau tidak paham?" Sehun tersenyum mesum.
"Suami macam apa kau ini?!" teriak Yixing sambil memberontak.
Sehun menghela nafas pelan. Dan menjambak rambut Yixing. Dia melakukannya untuk mempermudah bibirnya meraup bibir Yixing. Hanya butuh beberapa kuluman hingga membuat Yixing sesak nafas.
"Sinting!" erang Yixing.
"Kau itu senyum saja jelek apalagi menangis." Sehun bercanda tapi Yixing menanggapinya dengan serius.
"Jadi kau suka padaku karena apa? Pantatku?!" Tapi Yixing mendadak mendesah karena Sehun menjilat lehernya tiba-tiba. Meski Yixing dengan keras mendorong tubuh Sehun.
"Kau menerimaku karena wajahku?" Sehun malah berbalik tanya.
"Setidaknya itu hal positif yang kau punya karena sifatmu yang minus."
"Tapi kenapa kau lebih suka disodok dari belakang?" Sehun bertanya dengan raut wajah penasaran. "Kau malu melihat wajahku?" Sehun bahkan memajukan wajahnya.
"Oh, itu perkara lain," Yixing menjawab dengan kikuk. "Kenapa kita malah membicarakan hal mesum seperti ini?!" Yixing dengan keras kembali mendorong dada Sehun.
"Untuk mengalihkan pikiranmu," Sehun menghela nafas pura-pura menyerah sambil menggelengkan kepala. "Karena tidak berhasil, kita praktek saja."
Sehun itu punya daya kejut luar biasa. Sebelum Yixing menolak. Sehun sudah membuat tubuh Yixing terlentang dengan kedua tangan tercengkeram hanya menggukan tangan kiri Sehun. Tangan lainnya sibuk membuka celana Yixing. Keahlian Sehun selalu membuat Yixing bertanya-tanya. Keahlian macam ini Sehun dapatkan dari mana?
"Selain kasus kekerasan aku juga pernah hampir terkena kasus percobaan pemerkosaan," cuman Sehun yang bisa mengatakan hal macam itu dengan santai. "Padahal aku tidak bernar-benar ingin memperkosanya," Sehun menatap tubuh Yixing yang mulai menggeliat. "Dan cuman kau ini yang bertingkah tidak mau, tapi diam-diam menikmatinya."
"Kalau aku menolak, kau akan mengikatku lagi." Keluh Yixing bersamaan dengan tangan Sehun yang melepas cengkramannya.
"Ide bagus."
Beberapa menit setelahnya hanya terdengar suara desahan dan lengguhan yang keluar dari mulut Sehun. Karena kondisi Yixing kali ini sudah macam korban pemerkosaan di video porno ala jepang. Tidak hanya kedua tangannya yang terikat, mata dan mulutnya pun di tutup oleh kain yang seharusnya dipergunakan untuk sarung bantal dan guling. Yixing benar-benar pasrah dimasuki dari belakang oleh Sehun yang begitu sangat bersemangat. Brengseknya Sehun adalah Yixing dipaksa 'keluar' hanya dengan stimulus dari penis Sehun yang menghujam lubang anal Yixing.
Sehun menekan penisnya kuat-kuat kemudian berhenti dengan seenaknya saat sadar punggung Yixing sudah basah karena keringat. Sehun mengeluarkan penisnya, dan membalikkan tubuh Yixing dengan berhati-hati. Wajah Yixing sudah macam tomat rebus. Secara perlahan Sehun membuka satu persatu ikatannya. Mulai dari tangan, mata hingga mulut. Tapi ada satu hal yang membuat Sehun tersenyum miring, penis Yixing masih menegang.
"Belum puas?" goda Sehun.
Yixing menyipitkan matanya untuk menyesuaikan cahaya. Dengan terengah Yixing berkata, "Aku yang seharusnya bilang seperti itu." Karena kali ini Sehun melebarkan kedua kaki Yixing di atas pahanya. Bersiap untuk kembali menghujam titik erotis Yixing.
Saat Yixing ingin meraih penisnya. Sehun dengan sigap menepis tangan Yixing. Mengarahkan kedua tangan Yixing untuk memeluk lehernya.
"Aturan mainnya tidak berubah." Kali ini Sehun bahkan mengusap surai Yixing. Dan mengecup pelan dahi Yixing.
Gerakan Sehun kali ini jauh berbeda. Sekarang gerakannya jauh lebih pelan dan lembut. Yixing tidak protes sama sekali, justru memaksa Sehun untuk semakin mendekat. Sehun menyetujui permintaan Yixing. Dan membuat Sehun memeluk erat tubuh Yixing. Sesekali Sehun mengulum bibir Yixing yang mulai membengkak.
"Cerdas." Puji Sehun saat menyadari kenapa Yixing memintanya untuk mendekat dan memeluk dengan erat.
Posisi mereka saat ini membuat Yixing bisa menggesekkan penisnya dengan perut six-pack Sehun. Yixing bahkan mengunci posisi Sehun dengan kedua kaki yang menyilang mengitari pinggang Sehun.
"Mulai frustasi?"
Pertanyaan menyebalkan Sehun membuat Yixing tanpa berpikir panjang menekan leher Sehun. Lalu meraup bibir tipis Sehun dengan kesal. Sehun terkejut karena Yixing merupakan orang yang bisa belajar dengan cepat. Yixing bahkan bisa menirukan cara Sehun mencium bibirnya.
Sehun yang awalnya ingin berlaku lembut berubah pikiran. Ia bisa gila kalau Yixing berubah binal macam ini. Yixing sampai menjerit saat Sehun menggerakan pinggulnya dengan cepat secara tiba-tiba. Bahkan Sehun dengan baik hatinya mengocok penis Yixing. Salah satu tangan Sehun sampai harus membekap mulut Yixing yang terus menjerit.
Yixing mengeram dan tidak bisa megontrol tubuhnya. Pinggangnya terangkat hingga membuat penis Sehun terlepas. Yixing bahkan menyingkirkan tangan Sehun dan menggantinya dengan punggung tangannya sendiri, ia tidak mau mengigit tangan Sehun. Ini pelepasan yang cukup lama hingga membuat tubuhnya gemetaran. Sehun menikmati prosesnya. Saat tubuh Yixing masih gemetaran. Sehun melepas kondomnya dan melesak begitu saja ke dalam lubang anak Yixing yang masih berdenyut.
Yixing yang sadar bahwa suhu penis Sehun jauh lebih panas. Langsung menatap Sehun dengan terkejut. Sehun tidak pernah sekali pun melepas kondomnya. Sehun termasuk orang yang sangat higienis.
"Hangat." Erang Sehun sambil menggerakan pinggulnya.
Yixing tergagap karena bisa merasakan lebih jelas urat-urat penis Sehun yang berkedut. Sehun menarik penisnya dengan cepat dan menghujam dengan perlahan. Sehun terus melakukan gerakan macam itu dan tidak menghiraukan tangan Yixing yang dengan leluasa mengocok penisnya sendiri.
Yixing kembali mengeluarkan spermanya. Dan memancing penis Sehun untuk segera keluar. Sehun menyerah. Kedua tangannya mencekram kepala Yixing. Sehun menaruh bibirnya di dahi Yixing sedangkan penisnya langsung menghujam anus Yixing dengan cepat dan dalam.
Yixing menggeram karena untuk pertamakalinya merasakan cairan panas mengenai dinding anusnya. Yixing bahkan sampai meremas kadua tangan Sehun. Keduanya terengah dengan nafas berat. Sehun menempekan kedua dahi mereka dan tertawa dengan puas. Cara tertawa Sehun yang aneh membuat Yixing mengerutkan dahi meski mulutnya ikut tersenyum. Yixing juga tidak mengerti kenapa Sehun menyerangnya dengan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajahnya. Ia terlalu lemas untuk memberontak.
"Sejak dulu aku ingin mencobanya," ucap Sehun sambil mengeluarkan penisnya dari lubang anal Yixing. "Wow~" mata Sehun berbinar saat cairan putih kental keluar dari anus pasangannya. "Siapa sangka aku akan melakukannya di rumah orang tuaku sendiri." Lagi, Sehun tertawa puas dengan suara renyah.
Sehun menatap wajah Yixing karena pasangannya ini tidak merespon ucapannya. Tapi ternyata Yixing hanya menunggu saat yang tepat untuk berkata.
"ME. SUM." Yixing berkata hanya dengan gerakan bibirnya.
"Kau menyukainya, jangan berdusta." Tuduh Sehun yang justru membuat Yixing tertawa.
"Menjijikan!" erang Yixing pada akhirnya karena cara Sehun menatapnya, tepatnya menatap lubang analnya yang basah. "Jangan melihat bokongku!" keluh Yixing sambil menutup lubang analnya dengan kedua tangannya.
"Menjijikan kalau itu orang lain," gumama Sehun yang berusaha kerasa menyingkirkan tangan Yixing. "Karena kau orangnya, mana mungkin aku jijik." Pekataan Sehun tidak mengubah reaksi Yixing sama sekali.
"Kenapa?" Yixing menuntut dengan kedua tangan yang lagi-lagi di cengkram.
"Karena aku mencintaimu."
Entah itu spontanitas atau apa. Perkataan Sehun membuat Yixing terdiam. Sehun sendiri malah tiba-tiba mengecup bibirnya dan pergi begitu saja ke dalam kamar mandi. Selama ia tinggal bersama Sehun bahkan saat Sehun memohon padanya untuk kembali. Yixing tidak pernah mendengar kata cinta dari Sehun. Jadi wajar dong, Yixing terkejut setengah mati. Meski kedua ujung bibirnya tidak bisa untuk tidak terangkat untuk tersenyum.
..On Off..
Yixing harus mandi sebelum makan malam berkat kelakuan mesum Sehun. Si pelaku kini tengah menikmati sebatang rokok di beranda kamar. Kamar Sehun ternyata berhadapan langsung dengan taman yang dirawat langsung oleh tangan ayahnya.
"Sehun.." panggil Yixing sambil menarik lembut dagu Sehun. Yixing memasuk sesuatu ke dalam mulut Sehun melalui mulutnya.
Awalnya ia hanya ingin mentransfer perment mint rasa strawberry. Tapi Sehun menahan piggang Yixing dan memaksanya untuk duduk di pangkuan Sehun. Alhasil Yixing harus menikmati lumatan Sehun. Sehun paling pandai memainkan lidahnya. Permen yang ia berikan terus berubah posisi diantara mulutnya dan mulut Sehun.
Yixing mendorong pelan dada Sehun. "Kita harus siap-siap untuk makan malam." Bisik Yixing sambil beranjak berdiri.
"Permen ini maksudnya apa?"
"Itu rokok ketigamu hari ini."
Sehun membulatkan matanya dan bergumam dengan cara yang cukup dramatis. "Aku tidak bisa merokok setelah makan malam," Sehun buru-buru mematikan rokoknya yang masih setengah. "Dulu bukannya kau merokok?"
Yixing mengangguk.
"Berhenti karena Yifan?"
Yixing kembali mengangguk dan refleks menghindari tatapan Sehun.
"Aku akan berhenti untukmu."
Yixing langsung menoleh dengan cepat. Tapi kemudian Sehun langsung memeluk dirinya sendiri dengan tubuh merinding. Ekspresi wajah Sehun jelek sekali.
"Kata-kataku tadi menjijikan ya?"
Yixing hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sehun maunya apa sih, tiba-tiba bilang cinta, tiba-tiba mengatakan hal semanis itu. Kemudian menunjukkan wajah tidak suka. Dasar aneh.
Yixing baru saja duduk di meja makan saat semua orang menatapnya dengan khawatir.
"Paman, apa kau baik-baik saja?" salah satu keponakannya yang paling suka bermain piano bertanya dengan khawatir. "Kata Paman Sehun, migrenmu kambuh."
"Oh ya, migrenku sudah sembuh," Yixing menatap Sehun dengan penuh tanda tanya. "Sehun merawatku dengan baik."
"Migrenmu biasanya kambuh karena stress," entah dari mana keberanian Yifan berasal. "Aku bisa jamin kau pasti sering mengalami migren."
Yifan benar, ia akan mengalami migren jika sedang stress. Tapi sudah lama sekali ia tidak mengalami migren. Dan ia tidak suka saat anggota keluarga yang lain menatap Sehun sebagai penyebab migrennya.
"Sudah lama sekali migrenku tidak kambuh." Dan sebenarnya tadi itu hanya bualan Sehun. "Sehun selalu punya cara untuk membantuku keluar dari stress." Ia bisa melihat Sehun menatapnya dengan tajam. Sehun tipe orang yang tidak suka dipuji di depan umum. Tapi Yixing hanya tersenyum dengan cara yang membuat Sehun menghela nafas.
"Untuk kali ini aku kecolongan," Sehun akhirnya mengikuti permainan Yixing. "Dan aku cukup terkejut mendengar penyebabnya." kali ini Sehun menatap Yifan dengan cara sedikit berlebihan.
Sehun adalah orang yang pandai mengatur suasana menjadi menegangkan dan gelap. Kali ini Yixing membiarkan Sehun mengotrol suasan itu sesuka hatinya. Belum lagi saat Sehun tersenyum miring pada Jongin yang tampak sekali ikut tertekan. Meski Yixing tidak menyukai Jongin, tapi ia sedikit merasa kasihan pada pria berkulit tan itu. Jadi Yixing menepuk paha Sehun, supaya Sehun berhenti menatap Yifan dan Jongin.
"Ada apa dengan kalian?" sang kepala keluarga yang baru saja datang terkejut dengan suasana menegangkan.
Yixing diam-diam menghela nafas dengan lega karena ia menghentikan Sehun tepat pada waktunya. Sehun tersenyum kecil melihat ekspresi Yixing. Tanpa perlu ditanya, kepala keluarga ini tahu siapa penyebabnya.
"Kalian.." gumam sang kakek yang hanya bisa menghela nafas. "Kau tadi sangat pucat, kau baik-baik saja?"
Yixing menjawab dengan anggukan, saking terkejutnya. Yixing menatap Sehun yang malah menaikan sebelah alisnya.
"Sangat jelas terlihat," Sehun mengangguk pelan. Mengerti maksud tatapan Yixing. "Aku pikir kau hamil tadi." gurau Sehun.
Cara bercanda Sehun membuat Yixing memukul paha suaminya dengan keras. Hingga semua anggota keluarga yang lain terkejut.
"Aduh!" keluh Sehun yang justru tertawa melihat raut wajah Yixing. Dibanding suaranya, mereka lebih terkejut karena Yixing berani memukul Sehun.
..On Off..
Yixing sedikit terkejut saat Sehun berkata ingin mengajaknya berjalan-jalan di Beijing. Sebagian besar toko-toko tutup karena ditinggal mudik oleh penduduknya untuk merayakan imlek. Tapi ada satu tempat yang terlihat gelap namun sebenarnya di dalamnya terlihat cukup hingar bingar. Club malam.
"Biasanya jauh lebih ramai," Sehun menarik tangan Yixing menuju meja panjang di depan seorang bartender yang sibuk mengelap gelasnya. Sepertinya mereka terlalu pagi untuk datang. "Aku pertama kali bertemu dengan Jongin di tempat ini," ucap Sehun yang membuat Yixing menoleh dengan terkejut. "Hanya tiba-tiba teringat saja."
"Oh?! Aku pikir kalian bertemu di pesta para eksekutif muda," Yixing sering sekali diajak Sehun untuk datang ke pesta kolega perusahaan suaminya ini. "Wow~ sepertinya kau menemukan harta karun." Gumam Yixing pelan. Sehun bisa menemukan seorang pewaris perusahaan di club malam macam ini, hebat.
"Sekarang harta karun itu diambil oleh kakakku." Sehun menatap Yixing yang tengah duduk di salah satu bar stool di samping Sehun.
"Aku turut menyesal mendengarnya."
"Kau tidak cemburu?!"
"Itu yang kau harapkan?" Yixing tertawa dengan pertanyaan ketus Sehun. "Sedikit."
"Aku pernah memberikan pilihan pada Jongin," Sehun tidak seperti biasanya membawa nama Jongin. "Sekarang aku juga akan memberikanmu sebuah pilihan yang sama," Sehun kali ini terdengar lebih serius. "Jika kau tidak benar-benar ingin bersamaku, kau bisa meninggalkan aku."
"Setelah kau mengatakan kau mencintaiku?" Yixing tidak akan pernah lupa akan hal itu. "Kau mengizinkanku untuk pergi?" Yixing bertanya hanya untuk memastikan. Sehun menganggukkan kepalanya. Yixing bisa melihat raut khawatir Sehun. Meski Yixing ragu arti dari khawatir yang Sehun tunjukkan. "Aku tidak terlalu peduli dengan masa lalumu dengan Jongin, tapi kau tiba-tiba membicarakannya dan tanpa menjelaskan apa pun, kau malah memberikan tawaran yang menarik," Yixing mengetuk pelan meja bar yang masih sepi. "Oke, kalau begitu."
"Apa maksudmu?" Sehun tidak menangkap jawaban Yixing sama sekali.
"Biar aku pikirkan dengan baik pilihan yang tepat atas tawaranmu." Entah kenapa rasanya Yixing ingin mendorong kepala Sehun agar menghantam meja bar hingga berdarah. Otaknya tiba-tiba merasa mendidih. Yixing kok merasa Sehun sedang membuangnya dengan cara yang begitu halus.
"Sehun?!" panggil seseorang yang membuat keduanya menoleh. "Oh, hai Yixing, sudah lama tidak bertemu."
Chanyeol, teman kuliah sekaligus rekan bisnis Sehun. Bisa dibilang Chanyeol merupakan orang kepercayaan Sehun. Mereka berdua bekerjasama untuk membangun perusahaan. Pada saat Sehun terkena masalah dan harus dipenjara beberapa bulan karena kasus penganiayaan. Chanyeol adalah orang yang mengendalikan perusahaan dan membuat perusahaan tetap berdiri dengan kokoh.
"Kau masih tidak setuju?" Chanyeol entah mengapa mengeluarkan pertanyaan yang langsung membuat Sehun menghela nafas dengan malas. "Dude, aku dan Jongin sudah menyelesaikan dokumennya, kami hanya perlu tanda tanganmu saja."
"Dokumen apa?" Yixing terpancing hanya karena ada nama Jongin di dalamnya.
"Pemulihan nama baik," Chanyeol buru-buru menjelaskannya. "Oh ayolah, suamimu bukan orang macam itu, dia mungkin brengsek tapi bukan penjahat yang akan melukai kekasihnya sendiri," Chanyeol kembali menatap Sehun yang hanya mengamati Yixing. "Kau hanya perlu menandatangi dokumennya dan menghadiri satu persidangan, aku jamin itu."
Lagi, Yixing merasa sedikit tersinggung mendengar cara penjelasan Chanyeol. Meski Chanyeol mungkin benar, ia tidak begitu mengenali Sehun. Kalau Jongin sampai ikut turun tangan untuk pemulihan nama baik, maka kasus kekerasan itu memang tidak ada. Oke, logikanya, untuk apa Jongin melaporkan tindakan kekerasan jika pada akhirnya akan mencabut laporan yang pelakunya sudah menjalani masa hukuman. Pemulihan nama baik mungkin akan membantu perusahaan Sehun untuk kembali mendapatkan investor yang kabur. Tapi, kenapa baru sekarang?
"Tolong bujuk suamimu, ini juga akan menguntungkanmu." Chanyeol menepuk bahu Yixing yang justru malah ditepis dengan keras oleh Sehun.
"Jaga ucapanmu." Sehun menatap bengis Chanyeol.
Oh, Yixing terkejut. Ternyata Chanyeol memiliki pemikiran yang sama dengan orang lain tentangnya. Tapi Chanyeol hanya menunjukkan wajah heran, seolah berkata. Apa yang salah dengan ucapanku? Raut wajah itu yang membuat Sehun berdiri hendak menghajar Chanyeol. Sayangnya dihadang oleh Yixing meski dengan setengah hati. Untuk beberapa alasan, marah pada pandangan Chanyeol bukan lagi hal penting.
"Jangan membuat keributan," Yixing menggenggam tangan kanan Sehun dan menuntun suaminya untuk kembali duduk. "Apa yang membuatmu tidak setuju?" Yixing tidak tahu kebenarannya. Tapi ini tugasnya menjadi bagian dari kehidupan Sehun. "Mungkin ini terdengar sia-sia karena kau sudah menjalani hukuman padahal kau tidak menyakiti Jongin sama sekali," demi Tuhan, Yixing tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. "Tapi pemulihan nama baik jelas memiliki dampak positif untukmu, bahkan Jongin pun ikut membantumu."
Sehun hanya diam dengan tarikan nafas yang begitu berat. Oke, Sehun merasa bersalah pada Yixing. Karena kasus ini pun merubah hidup Yixing. Sehun bahkan memaksa Yixing untuk diam di sisinya. Dan luar biasanya, Yixing rela melakukan hal itu. Sehun sempat berpikir Yixing hanya ingin membalas dendam. Tapi Yixing bahkan tidak melakukan apa pun pada hubungan pernikahan Yifan dan Jongin. Bagi Sehun, Yixing merupakan manusia terumit yang pernah ia temui.
"Coba kau pikirkan lagi," Yixing menepuk pelan tangan Sehun yang kini meremas tangannya. "Kau tidak akan mengalami kerugian apa pun," Yixing kini menatap Chanyeol yang menganggukkan kepalanya. "Chanyeol dan Jongin sudah melakukan hal sejauh ini untukmu, ya aku tahu kau sudah menolaknya," Yixing tersenyum saat Sehun ingin membantah. "Mereka peduli padamu, bukankah tidak sopan jika menolak pengorbanan dari rasa peduli mereka untukmu."
"Baiklah." Jawab Sehun pelan.
"Wah! Kau memang cocok untuk menjadi seorang diplomat." Chanyeol menatap takjub pada Yixing yang anehnya malah terdengar seperti ejekan bagi Yixing.
Selanjutnya, Chanyeol membicarakan dokumen apa saja yang harus ditandatangani. Apa yang kira-kira akan terjadi di persidangan. Sehun memunggungi Yixing karena Chanyeol duduk di sisi lain Sehun. Yixing hanya bisa menatap sekeliling club yang sedikit ramai. Ia pun sesekali harus pura-pura mengusap leher atau membersihkan kemejanya dengan tangan kanan yang sudah tersemat cincin di jari manisnya. Itu karena beberapa pria terlihat akan mendekat. Tanpa sadar Yixing menguap pelan. Baru kali ini ia merasa bosan saat berada di sebuah club malam.
"Minuman gratis untuk pengunjung pertama." tawar sang bartender dengan senyuman khas seorang pembisnis.
"Terimakasih," Yixing menyesap beernya tanpa bertanya. Tapi ia sadar akan sesuatu dan membuatnya menatap bartender dengan senyuman menyelidik. "Kau mendengar pembicaraan kami?" Yixing bertanya tanpa basa-basi dan membuat pemuda di depannya ini menaikan alis dengan kikuk. "Sejak kapan?"
"Pilihan." Bisik bartender yang membuat Yixing menganga.
"Sekarang aku tidak heran jika di film-film, detektif akan mencari bartender untuk mengorek sebuah informasi," cara Yixing tertawa tanpa keberatan sama sekali membuat si bartender terkejut. "Apa yang menarik dari club ini? Selain banyak pria tampan berkeliaran."
"Kadang, beberapa dj dan penyanyi ternama perform di sini." Dengan wajah bangga si bartender mulai mempromosikan tempat kerjanya.
"Mereka cukup berani ya?" Yixing mengangguk dengan kagum. "Apa mereka tidak takut disorot media?"
"Perform bukan sebuah kejahatan." Lagi, si bartender membuat sebuah pendapat yang membuat Yixing mengangguk pelan.
"Kau benar." Yixing kembali menyesap minumannya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Sehun bertanya dengan nada terganggu.
"Kau tahu suamimu tengah mengalami masalah dan kau malah bercengkrama dengan bartender." Chanyeol juga menunjukkan wajah sama kesalnya.
"Aku pikir kalian tidak ingin melibatkanku," Yixing menatap Chanyeol dan Sehun dengan terkejut. "Tapi aku penasaran, apa Yifan tahu?"
"Pria macam dia mana mungkin setuju," Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Jongin bahkan melakukannya dengan diam-diam," Chanyeol menatap Yixing yang hanya mengangguk pelan. "Kau pikir Yifan itu pria yang baik seperti kebanyakan orang pikirkan?"
Yixing ingin sekali bertanya, apa yang membuat Chanyeol begitu tidak menyukainya. Apa karena ia mantan Yifan yang menerima lamaran Sehun. Tapi Yixing hanya menunjukkan wajah tidak mengerti.
"Menurutmu Yifan orang yang seperti apa?" Yixing akui delapan tahun tidak menjadikannya serba mengetahui Yifan. Yixing akui Yifan merupakan orang yang sangat kompetitif, ia juga sering menemukan Yifan melakukan cara yang kurang pantas untuk menggulingkan rivalnya. Ia tahu, Yifan tidak menyukai Sehun seperti Sehun yang juga tidak menyukai Yifan. "Apa Yifan yang membuat skandal ini?"
"Bukan," Sehun menjawab dengan pelan. "Kakakku tidak melakukannya."
"Tapi dia memanfaatkan kasus ini, berlagak seperti pahlawan yang menawarkan diri menyelamatkan orang yang sebenarnya tidak perlu ditolong," Chanyeol mengatakannya dengan penuh penekanan yang membuat Yixing terkejut. "Dan kau malah menerima Sehun begitu saja, aku pikir kau akan balas dendam pada Yifan, ternyata tidak sama sekali."
"Kenapa aku harus balas dendam?" Yixing bertanya balik. "Apa aku harus membalas Yifan kemudian mencampakan Sehun?"
"Mencampakan Sehun." Chanyeol tertawa pelan. "Kau pikir kau diperebutkan oleh dua Tuan Muda Wu?"
Yixing memiringkan kepalanya. Yifan kemarin menawarkan hubungan berbahaya dengan memberikannya kunci rumah. Selain itu buat apa Sehun mencari dan memohon padanya hingga menyusul sampai ke Australia. Apa ia salah paham? Eh, kalau diingat-ingat tadi Sehun juga memberikannya sebuah pilihan untuk meninggalkan semua hal yang berkaitan dengan Keluarga Wu. Pemikiran Chanyeol juga tidak ada salahnya.
"Kau kabur ke Australia dan kemudian kembali pada Sehun." Chanyeol bahkan berkata dengan nada sarkas yang justru membuat Yixing mengerutkan dahi.
"Apa kau tahu alasanku pergi ke Australia?" Yixing bertanya dengan nada heran. Tunggu, lagi pula tidak mungkin Sehun menceritakan masalah rumah tangganya sampai sedetail ini kan?
"Apa itu penting?" Chanyeol balas bertanya sambil mengibas tangan kanannya.
"Pantas saja kau terlihat sangat tidak menyukaiku." Yixing tertawa dengan pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Oke, silahkan lanjutkan pembicaraan kalian yang terputus." Yixing tersenyum lebar sambil mengambil gelas beernya. Woh! Rasanya ia ingin mengamuk.
Yixing jadi memiliki beberapa skenario di kepalanya. Mungkin, Sehun berpikir Yixing hanyalah korban yang tidak tahu apa-apa dan dengan lugunya menerima tawaran Sehun. Mungkin, Sehun juga berharap ia akan menghancurkan rumah tangga Yifan dan Jongin. Atau berdasarkan cerita Chanyeol, kalau Jongin juga membantu Sehun untuk memulihkan nama baik. Mungkin, Sehun juga ingin kembali pada Jongin. Oleh karena itu Sehun memberikan tawaran macam itu pada Yixing. Apa pun skenarionya, akhir cerita terburuk untuk Yixing adalah kembali dicampakan. Meski sebenarnya kalau ia mau, ia bisa kembali juga pada Yifan. Tapi.. sepertinya ia juga harus memikirkan peluang. Seperti mulai mencari tempat lain untuk bekerja. Kalau ia benar-benar keluar dari lingkaran keluarga Wu. Akan lebih baik, jika ia juga tidak bekerja di anak perusahaan keluarga Wu.
Tanpa sadar Yixing menganggukkan kepalanya dan menghabiskan sisa beernya dengan sekali tegukan. "Boleh aku pesan lagi?" tanya Yixing tiba-tiba pada Sehun.
Sehun mengangguk dan bertanya dengan sedikit bingung. "Apa yang kau pikirkan?"
Yixing mengambil gelas keduanya dan menyesapnya sedikit. "Peluang."
"Peluang Sehun bisa memulihkan namanya?" Chanyeol bertanya dengan sangsi. "Kau tidak perlu memikirkannya, peluang Sehun cukup besar."
"Oh, aku memang tidak memikirkannya," Yixing berkata dengan jujur. "Aku percaya pada kalian berdua, kau dan Jongin pasti sudah memikirkannya dengan matang."
Bagi Yixing sekarang, hidupnya lebih penting. Semenjak ia dicampakan Yifan, semenjak ia dipermalukan di acara pernikahan mantan kekasihnya, semenjak ia tinggal bersama Sehun, semenjak karirnya ternyata berubah lebih cemerlang, semenjak ia dicap sebagai pria culas yang tergila-gila dengan keluarga Wu. Ia semakin mengerti bersikap egois kadang juga diperlukan, besikap untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu sebelum menolong orang lain juga penting. Karena ia butuh survive di dunia yang kejam ini.
"Ternyata kau sama saja seperti Yifan," Gumam Chanyeol yang kali ini ditambah dengan helaan nafas pelan. Lagi, Sehun menarik kerah Chanyeol dengan tidak terima. "Kau terkena rayuannya juga?" Chanyeol menatap Sehun dengan kecewa.
"Sudah.. Sudah.." Yixing menepuk pelan bahu Sehun. Sikap Sehun yang seperti inilah yang membuat Yixing berpikir Sehun itu mencintainya dengan sangat. "Aku tidak mau diusir dan kalian sepertinya belum menyelesaikan perkara pemulihan namamu."
"Kenapa kau selalu diam saja ketika orang lain menghinamu?" Sehun akhirnya bertanya dengan jengah pada Yixing yang kembali menyesap beernya. Yixing menoleh dengan gelas beer yang masih bersarang di bibirnya. "Aku tahu kau terluka dan kau selalu bersikap masa bodoh."
"Karena itu tidak penting." Yixing mengusap mulutnya dengan ibu jarinya. Ia pernah berusaha menjelaskan apa yang terjadi tapi percuma. Jadi ya sudahlah..
"Kenapa tidak penting?" Sehun terlihat begitu kesal.
Yixing menoleh pada Chanyeol sebelum menjawab. "Karena eksistensi dia tidak mempengaruhi hidupku."
"Eksistensi dia bisa mempengaruhi orang yang dekat denganmu." Terdengar berbelat-belit tapi Sehun benar. Jika pemikiran Chanyeol mempengaruhi orang terdekat Yixing, maka akan terdampak pada kehidupan Yixing. "Dia tidak tahu kalau kau pergi ke Australia karena aku bermain dengan dua wanita sekaligus di rumah kita dan dia juga tidak tahu kalau kau kembali padaku setelah aku memohon padamu untuk kembali." Sehun kini menatap Chanyeol dengan mata memerah karena menahan amarah.
"Kau tidak boleh mengumbar aib rumah tangga kita di depan umum," keluh Yixing saat melihat raut wajah Chanyeol dan beberapa orang yang mencuri dengar terkejut. "Baiklah, aku ingin bertanya padamu, apa penilaianmu terhadapku berubah setelah mendengar pendapat Chanyeol?" Yixing mengajukan pertanyaan yang membuat Sehun menggelengkan kepalanya. "Maka itu tidak penting selama kau percaya padaku." Yixing bahkan sampai harus menjentikan jarinya dengan cara yang cukup berlebihan.
Sehun menundukkan wajahnya dan tertawa pelan. Yixing sampai harus menarik dagu Sehun. Pria berlesung pipi itu bisa melihat mata suaminya yang berkaca-kaca. Oh, baru kali ini Yixing melihat ekspresi Sehun macam ini. Yixing juga terkejut saat Sehun turun dari bar stoolnya hanya untuk merengkuh tubuh Yixing.
"Aku tarik kembali tawaranku tadi," Sehun berbisik dengan pelan. "Jangan tinggalkan aku."
Yixing menepuk pelan bahu Sehun sambil berkata, "Aku juga mencintaimu," perkataan Yixing tentu saja membuat Sehun terkejut. "Cepat selesaikan pembicaraan kalian, aku ingin pulang." Yixing melepas rengkuhan Sehun hanya untuk kembali meraih gelas beernya.
"Baiklah.." Sehun malah meraih tangan kiri Yixing untuk ia genggam dengan kedua tangannya. Mungkin takut, Yixing tiba-tiba kabur. Sifat posesif Sehun kembali muncul. Dan seperti biasa, Yixing tidak mempermasalahkannya sama sekali.
"Selamat kau baru saja menonton film pendek mengenai kehidupan rumah tangga," celetuk Yixing pada bartender yang tengah mengelap gelas di hadapannya. Si bartender berusaha keras untuk tidak menunjukkan reaksi apa pun. "Untung saja belum terlalu banyak pengunjung." Hela Yixing yang membuat si bartender akhirnya tersenyum tipis.
Yixing baru beberapa detik beranjak berdiri langsung terduduk lagi. Sehun sendiri refleks membantu Yixing untuk duduk. Takut pasangannya ini oleng karena salah duduk.
"Sepertinya aku mabuk," Yixing berkata dengan terkejut. "Semoga orang tuamu sudah tidur."
Sehun mengusap pelan bahu dan mengecup pucuk kepala Yixing. "Aku lupa kalau daya toleransimu itu rendah," Sehun mencoba mengangkat tubuh Yixing yang kembali oleng. "Kau bisa berjalan? Aku tidak akan melepaskanmu."
"Salah siapa coba?" keluh Yixing.
"Iya, aku." Sehun berjalan dengan perlahan yang diikuti oleh Chanyeol.
Baru kali ini Chanyeol melihat Sehun seperhatian itu. Tapi setelah melihat sendiri bagaimana Yixing bersikap. Seharusnya Chanyeol sudah mendapat beberapa kali pukulan dari Sehun. Namun Yixing selalu sukses mencegah Sehun. Sebagai rasa permintaan maaf, Chanyeol menawarkan diri untuk mengantar Sehun dan Yixing pulang.
Rupanya Chanyeol menyewa seorang supir untuk mengantar ketiganya pulang. Katanya ia takut tiba-tiba tertidur di tengah perjalanan karena ia sempat minum segelas anggur tadi. Alhasil, Sehun dan Yixing duduk di belakang.
"Aku ingin membuat sebuah pengakuan padamu," Yixing bersandar pada Sehun yang hanya diam tidak bereaksi apa pun. "Aku menerimamu karena aku memang butuh seseorang untuk bisa melupakan Yifan," Yixing bisa mendengar suara nafas Sehun yang terdengar berat. "Aku tidak keberatan menikah denganmu, aku pikir kau hanya ingin membuat Yifan marah dan kemudian menceraikanku," Yixing juga bisa merasakan tangan Sehun meremas lengannya. "Aku tidak tahu kenapa aku malah pergi ke Australia," kekeh Yixing dengan suara parau. "Tapi aku sempat berpikir, kau melakukan itu agar aku duluan yang meminta cerai darimu."
Yixing terdiam cukup lama bingung melanjutkan perkataannya. Sehun sendiri juga hanya diam. Yixing yakin Sehun tidak tidur karena keduanya saling bertatapan melalui kaca spion.
"Kemudian kau malam memohon kepadaku untuk kembali," Yixing melepas kontak matanya dengan Sehun hanya untuk melirik keadaan di luar yang mulai turun hujan. "Aku mulai berpikir, mungkin sebenarnya kau hanya ingin mengetesku," Yixing tahu Sehun selalu saja mencoba untuk membuat Yixing cemburu atau marah. "Dan hal itu juga membuatku berpikir, apa kau mulai mencintaiku?"
Sehun tetaplah Sehun yang tidak mungkin menjawab dengan gamblang. Sehun malah mengecup pucuk kepalanya untuk kesekian kalinya. Dan itu juga merupakan sebuah jawaban.
..On Off..
Yixing cukup terkejut saat diajak pergi sepagi ini setelah sarapan. Mereka berdua bertemu dengan Jongin dan Chanyeol. Seperti tebakalan Yixing, Jongin kikuk bukan main. Sehunnya sendiri terlihat mendengarkan namun pikirannya entah kemana. Hanya Chanyeol yang tampak semangat.
"Sebenarnya kita berkumpul di sini untuk apa sih?" Yixing yang berusaha untuk menjadi penonton akhirnya gerah juga. "Kau ingin melepas gugatan tanpa merusak citramu sebagai korban, citra keluargamu sebagai pelapor dan citra suamimu sebagai pahlawan di situasi ini," Yixing belajar sarkas dari Sehun. "Jatuhnya malah terdengar Sehun memaksamu untuk menarik gugatan."
Tidak ada yang berkomentar.
"Oke, kita reka adegan tanpa memandang status," Yixing menghela nafas pelan, dia bisa berkata seperti ini karena ia tidak punya kepentingan. Toh statusnya tidak akan berubah, menikah dengan mantan narapidana pelaku kekerasan seksual. "Chanyeol memperkosaku dan kau menjadi saksinya," Yixing tahu perkataannya akan membuat tiga orang ini terkejut. "Padahal Chanyeol tidak memperkosaku dan kau salah paham, kira-kira salah siapa sampai Chanyeol bisa dipenjara?"
"Aku?" Jongin mengatakannya dengan nada lelah.
"Bukan, tapi kita semua salah. Polisi tidak akan hanya menanyaimu sebagai saksi, tapi juga Chanyeol sebagai pelaku dan aku sebagai korban," Yixing melirik Sehun yang tampak memalingkan wajah. "Pelakunya tidak mau menjelaskan, korban malu untuk menjelaskan, saksi tetap dengan pendirian, kemudian Sehun datang sebagai sosok yang ingin menebus dosa sahabatnya." Entah kenapa Yixing justru ingin tertawa untuk kalimat terakhir yang ia buat sendiri.
"Saat Chanyeol sudah keluar dari penjara selama 3 bulan, singkat sekali masa tahananmu," Yixing tahu ini komentar sarkas yang tidak terlalu penting. "Setahun kemudian aku datang untuk menghapus gugatan dengan alasan aku malu untuk mengakui cerita yang sebenarnya, Chanyeol menjawab kalau dia tidak mau membuatmu malu, Jongin yang sebagai saksi diwajarkan karena dia salah paham karena tidak ada yang mau memberikan penjelasan, dan Sehun justru berakhir sebagai badut pertunjukan," Yixing tetawa dengan keras kali ini dan Sehun justru tersenyum melihat Yixing tertawa sambil bertepuk tangam. "Kasihan sekali suamimu." Gumam Yixing pada Jongin, tidak lebih tepatnya pada Yifan.
"Sepertinya kau sedikit kelewatan." Chanyeol berkata dengan hati-hati. Padahal dia sempat tertawa sebelum berdeham keras karena keburu sadar pria disampingnya tampak kesal.
"Kau akan mengerti jika ada di posisiku." Yixing menghela nafas pelan. "Kekasihmu diam-diam menyiapkan pernikahannya dengan orang lain setelah sudah siap dia baru memutuskanmu, dan adiknya yang baru keluar penjara mendatangimu," Yixing menatap Sehun yang mengulum bibirnya. "Aku pikir dia mau menjelaskan atau meminta maaf, dia malah mengajakku berkecan," Yixing menepuk dahinya berkali-kali. "Kau pikir aku langsung menerimanya? Ya tidak lah!"
"Tapi akhirnya kau menerima Sehun juga." Chanyeol berkomentar dengan nada heran
"Saat orang sibuk membicarakan pernikahan mereka berdua, dan pura-pura bersimpati padaku. Orang ini terus-terusan datang," Yixing sampai bingung dulu kok ia mau-maunya pasrah tidur dengan Sehun. "Tidak kau saja yang heran, Yeol. Aku saja berpikir aku sudah terlalu gila menerima dia."
"Hei, kalau kau menikah dengan kakakku, hidupmu flat tidak ada pergejolakan," Sehun melirik Jongin yang sejak tadi merasa terpojok. "Denganku hidupmu macam rollercoaster."
"Rollercoaster enak ada pengaman, aku itu terjun bebas tanpa parasut."
"Tapi kan aku sudah menyiapkan landasan besar, empuk bukan main, supaya tulangmu tidak remuk."
Yixing mengerjapkan matanya. "Terserah Hun terserah." Yixing menyerah kalau masalah debat macam ini.
Chanyeol yang melihat pertengkaran tertawa dengan tidak terkendali. Jongin sendiri tanpa sadar tersenyum mendengarnya sambil menggelengkan kepala.
"Kalian kalau bertengkar macam ini?" Chanyeol takjub bukan main. "Lucu sekali."
"Kau belum liat kalau dia sudah marah sampai melempar barang." Sehun yang bersuara.
"Ya sama sepertimu paling," celetuk Chanyeol. "Sudah berapa kali aku ganti perabotan kantor gegara kelakuan bar-barmu."
"Aku sampai menyingkirkan barang-barang berbahan kaca atau keramik," Yixing ikut berkomentar. "Foto saja aku cetak di atas kayu, eh tetap saja patah di tangan dia," Yixing berdecak pelan yang membuat Sehun mencubit pelan pinggang Yixing. "Tapi Yeol kau seharusnya lihat saat dia pulang ke rumah marah-marah karena project kalian gagal, niatnya dia mau mengambil kursi untuk di lempar, sayangnya dia lupa kalau kursinya dari kayu jati yang luar biasa berat," Yixing bahkan sampai meragakan bagaimana Sehun kesusahan mengangkat kursi kayu jati yang baru ia beli dengan nafas berat dan akhirnya menyerah. "Tahu dia bilang apa? 'kok berat sih Xing,' Aku yang awalnya mau menenangkannya malah tertawa terbahak-bahak." Yixing kali ini tertawa jauh lebih lepas.
"Heh! Mau sampai kau mempermalukan suamimu sendiri?!" Sehun sampai harus menarik tangan Yixing agar diam.
"Tapi itu lucu, Jongin saja tertawa," Yixing sampai harus menghapus air matanya. "Chanyeol kalau tetawa tidak terkontrol ya?" sudah menggelegar mukanya sampai merah begitu. "Oke kita balik ke topik awal."
"Tadi siapa duluan yang melenceng dari topik?" Sehun menggerutu.
"Aku berusaha mencairkan suasana."
"Dengan menjadikan suamimu sendiri sebagai lelucon?" pertanyaan Sehun tentu saja membuat Yixing terdiam. "Luar biasa memang kau ini."
"Tapi serius Hun, itu lucu loh!" Yixing terkekeh pelan.
"Xing, jangan mulai."
"Oke, aku diam."
"Kau tidak berniat meminta maaf padaku?"
"Tidak."
"Oke, tunggu balasanku di rumah."
"Eh?! Iyaaaa, maaf.. maaf.." Yixing langsung menguncang tangan Sehun. "Hun ih! Gitu ya mainannya, yang fair dong! Parah!"
"Berisik!"
Yixing hanya bisa mencibir kalau Sehun sudah di mode macam ini.
..On Off..
Suasana rumah sedikit sepi entah karena apa. Padahal biasanya ponakannya sudah bangun dan membuat keributan. Melihat piano yang kosong membuat Yixing tertarik untuk mendekat.
"Kau bisa memainkannya?" Sehun bertanya dengan sangsi.
Pertanyaan Sehun memang selalu membuat orang yang mendengarnya darah tinggi. Jadi Yixing lebih memilih menunjukkannya langsung.
"Oh, sepertinya aku pernah mendengar lagu ini."
Yixing tersenyum mengejek dan berhenti sesaat sebelum memulai bagian reffnya. Tapi Sehun masih belum menangkap lagu yang dimainkan Yixing. Hingga ponakan yang selalu sibuk dengan penampilannya datang. Dan tiba-tiba menyanyikan salah satu partnya.
I'm still hurting. I'm hurting inside
(Aku masih terluka. Aku terluka di dalam sini)
I'm so scared to fall in love. But if it's you the I'll try
(Aku sangat takut untuk jatuh cinta. Tapi jika itu kau maka akan ku coba)
"Itu dia!" seru Yixing tanpa menghentikan jari-jarinya.
Namun ponakan yang lain datang sambil berteriak kencang. Hingga Yixing menghentikan dentingan pianonya. "Kenapa Paman tidak pernah bilang kalau Paman bisa bermain piano?!" Ah, ini ponakan Sehun yang sering memainka piano. Gadis ini, dengan rambut berantakan bercakak pinggang di hadapan Yixing menuntut sebuah penjelasan.
Sehun padahal tengah menikmati permainan piano Yixing dan ponakannya. Ketika tiba-tiba seseorang menarik kerahnya. Dan melemparakan beberapa kertas ke wajahnya.
"Apa maksudmu?!" geraman Yifan membuat beberapa ponakannya berlari menjauh. "Kau memaksa Jongin untuk melakukan ini semau?"
"Ada apa ini?" Yixing bertanya sambil memungut salah satu kertas yang dilempar Yifan. "Oh?" Yixing menemukan dokumen untuk pemulihan nama Sehun. "Kenapa kau tidak langsung bertanya pada Jongin?"
"Suami brengsekmu ini pasti sudah memaksa Jongin!" Yifan menatap Yixing dengan geram.
"Jaga ucapanmu!" Yixing memperingati Yifan dengan tidak kalah kesal.
"Ini bukan urusanmu!"
"Oh, jelas ini urusanku juga," Yixing tidak mau kalah dengan Yifan. Kini Yixing bahkan memukul legan Yifan untuk melepas cengkramannya dari Sehun yang sejah tadi memilih diam. "Kau pikir aku tidak tahu apa-apa?" Yixing tersenyum kecil. Ya, memang ia tidak tahu apa-apa. Tapi ayo berpura-pura tahu segalanya.
Kali ini justru kerah Yixing yang dicengkram oleh Yifan. Bahkan sebelum Sehun melepaskannya. Yixing dengan sekuat tenaga mendorong dada Yifan dan menatap Yifan dengan berani. Yixing muak menjadi korban, sekali-kali ia juga ingin menjadi pelaku. Menghajar Yifan sepertinya bukan sesuatu yang sulit.
"F*ck!" umpat Yixing sambil mengibas tangannya. Rasa sakit dipunggung tangannya sepadan dengan tubuh Yifan yang terhuyung dan sukses membuat pipi Yifan lebam.
Sehun yang menjadi saksi keributan hanya bisa tersenyum dibalik telapak tangan kanannya. Ia tidak tahu Yixing akan bertindak sejauh ini. Ia dengan santainya memungut semua dokumen yang Yifan lempar. Ia menghela nafas sebelum akhirnya merobek semuanya. Paling Chanyeol hanya akan memakinya.
"Kenapa kau robek?!" Jongin yang sejak tadi menjadi pengamat dari kejauhan tiba-tiba bertanya dengan histeris. Oh, Sehun lupa, tidak hanya Chanyeol yang susah payah, Jongin juga.
"Aku tidak mau membuat tangan Yixing lebih sakit karena ini." Sehun menjawab dengan nada super lugu yang selalu sukses membuat Yixing ingin menggeplak kepala suaminya sendiri.
Sehun dengan senang hati mengopres punggung tangan Yixing. "Sakit kan?" tanya Sehun pada Yixing yang masih meringis. "Tapi, puas kan?"
Yixing mengangguk setuju.
"Aku kaget kau meninjunya dengan sekuat tenaga."
"Aku anggap itu balas dendam."
"Aku benar-benar menikahi orang yang begitu sangat baik."
"Kenapa kau sobek?"
"Tidak akan ada gunanya," jawab Sehun sambil tersenyum. "Hasil visum tetap membuktikan kalau Jongin mengalami kekerasan," Sehun masih saja tersenyum saat Yixing mengerutkan dahi. "Tidak sepertimu yang membalasku, dia tipe orang yang pasrah."
Yixing hanya bisa diam dan menatap Sehun yang sibuk mengopres tangannya. Yixing heran kenapa Sehun menjelaskannya dengan nada riang. Sehun bahkan tidak berusaha untuk menutup senyuman lebar di wajahnya.
"Kau senang karena aku menghajar wajah kakakmu ya?" pertanyaan Yixing tentu langsung membuat senyuman Sehun menghilang. "Parah!" Gumam Yixing sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku puas setelah melihatmu puas mehantam wajah kakakku." Sehun mengakuinya dengan nada, apa ada yang salah dengan alasannya?
"Lama kelamaan justru aku yang malah terbawa pengaruh dengan sikapmu." Yixing menghela nafas dengan pelan.
"Menjadi orang yang selalu berusaha terlihat baik-baik saja itu lebih melelahkan, dibandingkan berusaha terlihat apa adanya." Ucapan Sehun kali ini ada benarnya juga.
Dan aksinya tadi membuat ponakannya menatapnya dengan takut. Yixing sukses menjadi pasangan Sehun yang bisa sama galaknya. Haha
"Bisa kalian jelaskan?" Orang tertua di keluarga Wu mulai bertanya saat seluruh ponakannya keluar dari ruang makan. "Tidak ada yang mau bicara?"
"Karena semua sudah selesai." Sehun yang menjawab setelah meneguk segelas air putih.
Yixing hanya melirik Yifan yang justru menatapnya dengan tatapan terluka. Sontak saja Yixing mengerutkan dahi, buat apa Yifan berlagak menjadi seorang korban?
"Sifatmu makin lama makin mirip dengan Sehun." Yifan berkata dengan wajah mengkasihani.
Yixing sontak membelalakan matanya dan tanpa sadar memajukan tubuhnya. Tapi Sehun malah tertawa pelan mendengar perkataan Yifan.
"Justru itu sifat asli Yixing," Sehun masih saja terkikik melihat ekspresi Yifan yang berubah bengis. Sehun sampai harus menghirup oksigen dengan kuat agara tawanya terhenti. "Masih mau memperpanjang?" tanya Sehun yang kini malah menatap Jongin.
"Sebenarnya Sehun tidak denga sengaja menyakitiku." Jongin akhirnya berbicara dengan suara lirih. Tapi pilihan kata Jongin malah memperburuk keadaan.
"Jadi maksudmu Sehun tidak sadar sedang menyakitimu?!" Yifan bertanya dengan nada meninggi.
"Dia yang minta sebenarnya.." bisik Yixing pelan dan justru dengan seenaknya menyendok puding. Ia mulai muak dengan semua ini.
Tapi Yixing kaget melihat aura kelam Sehun. Yixing langsung menggenggam tangan kanan Sehun yang mengepal. Dan itu yang membuat Sehun menoleh pada Yixing. Pasangan hidupnya ini malah tersenyum tipis, memintanya untuk menenangkan diri. Untuk sekian kalinya Yixing akui kalau Sehun benar, tidak ada gunanya rencana Chanyeol untuk mengembalikan nama baik Sehun jika cara Jongin menjawab seperti itu. Jongin punya pride yang terlalu besar untuk mengaku kalau luka yang ia dapatkan merupakan hasil dari perpaduan fetish keduanya.
"Lalu kenapa kau menonjok wajah Yifan?" sang kakek bertanya pada Yixing.
"Sudah sejak lama aku ingin menghajarnya." Yixing berkata dengan lugas. Sehun sebenarnya memang punya peran besar untuk membuat Yixing bisa bersikap seperti ini.
"Kenapa?"
"Aku rasa aku tidak perlu menceritakan alasannya," Yixing menatap kepalan tangannya yang masih memerah. "Bisa dibilang ini hanya akumulasi."
"Kenapa kau tidak mencegahnya?" kali ini kakek menanyakan Sehun.
"Justru Yixing yang mencegahku," Sehun menjawab dengan wajah menyeringai. "Kalau aku orangnya, bukankah lukanya akan jauh lebih parah?"
Yixing dengar terang-terangan menatap Sehun dengan mulut menganga. Suaminya itu paling pintar membuat keadaan makin runyam. Yifan yang berlagak korban malah tampak menjadi benar-benar seperti korban yang rapuh. Hampir saja Yixing akan bertepuk tangan dengan keras.
"Kalian berdua itu benar-benar pasangan yang serasi." gumam Sang Kakek.
"Terimakasih." Sehun menyahut dengan cepat.
"Itu bukan pujian."
"Oh."
Yixing sampai menundukkan kepalanya karena ingin tertawa. Sehun sempat-sempatnya mempermainkan kakeknya sendiri. Tanpa sadar Yixing mencubit paha Sehun.
"Kau yakin ini selesai?" tanya sang kakek sambil memegang hasil robekan Sehun.
"Harusnya aku bakar tadi." Gumam Sehun pelan.
"Belum." Jongin menjawab. "Sehun tidak salah."
Yixing menyandarkan tubuhnya. Wah, drama akan di mulai. Tapi Sehun tetaplahh Sehun. Manusia ini malah memakan pudingnya dengan tenang. Persis seperti yang Yixing lakukan tadi. Yixing lupa Sehun itu manusia yang paling malas melakukan hal macam ini.
"Yixing!" panggil ibu mertuanya yang membuat Yixing menoleh. Yixing paham maksud ibu kandung suaminya ini.
"Kau yakin?" tanya Yixing yang hanya mendapatkan lirikan mata dingin dari Sehun. "Jawab kalau begitu."
Sehun hanya mengeluarkan pematiknya dan menaruhnya di atas meja. Kemudian berdiri dan meninggalkan meja makan. Sehun bahkan meninggalkan Yixing yang masih menatap pematik Sehun dengan penasaran.
"Oh!" Gumam Yixing sambil menyalakan pematik yang diberikan Sehun.
Yixing sedikit meringis saat seluruh anggota keluarga menghela nafas dengan lega. Ya, semuanya. Termasuk Jongin. Yixing jadi curiga Jongin betulan dipaksa melakukan ini, tapi oleh Chanyeol. Dengan terang-terangan Yixing menatap semua orang. Terutama pada sang kepala keluarga. Yixing tidak bisa untuk tidak tersenyum miris pada orang paling tua di keluarga ini. Memunjukkan raut wajah kecewa sebelum ia meninggalkan meja makan.
Persetan dengan tuduhan kalau dia tidak mencintai Sehun. Mereka semua ini apa?! Munafik.
Yixing duduk di ujung ranjang. Menatap Sehun yang duduk diberanda kamar sambil menatap tabnya. Sehun bukan tipe orang yang senang ditanya apa kau baik-baik saja? Atau tipe orang yang dipeluk saat suasana hatinya tengah buruk. Yixing hanya perlu menunggu dan memberikan ruangan untuk Sehun.
Yixing menegakkan kepalanya dari majalah yang ia baca karena suara pintu kamarnya di kunci. Sehun mendatangi Yixing yang duduk di pinggir ranjang sambil melepas kaos tebal yang sejak tadi ia pakai. Yixing juga pasrah saja saat Sehun tanpa aba-aba menarik wajahnya. Mengajaknya melakukan perang lidah. Bibir keduanya berpisah hanya karena Sehun mengangkat kaos Yixing untuk sama-sama bertelanjang dada.
Tidak sampai itu. Yixing hanya perlu mengikuti alur Sehun. Membiarkan pria ini melakukan sensukanya. Seperti menarik celana dan boxer milih Yixing sekaligus. Setelahnya Sehun baru menelanjangi diri sendiri. Dengan sekali gerakan. Yixing sudah duduk dipangkuan Sehun.
Suara tube yang dibuka membuat Yixing duduk berlutut dan mengangkangi kedua kaki Sehun. Lidah Sehun bermain di pusar Yixing berbarengan dengan jari-jarinya memainkan lubang anal Yixing. Sedangkan Yixing lebih memilih untuk mengusap kepala Sehun dan sesekali mengecup pucuk kepalanya. Tentu saja Yixing mengeluarkan desahan tipis yang membuat telinga Sehun memerah.
Kali ini Yixing yang bertindak, turun dari ranjang untuk berlutut dan membuka mulutnya. Sehun dengan cepat mencekram kepala Yixing denga keras. Dan memasukkan penisnya karena sudah diberi izin. Suara desahan dan erangan Sehun yang kini mendominasi.
Merasa cukup. Dengan gerakan tangan Sehun meminta Yixing untuk kembali naik ke atas ranjang. Yixing kembali mengangkangi kedua kaki Sehun yang kini dengan keadaan penis Sehun yang menegang. Yixing melumuri penis Sehun dengan cairan bening dari tube. Dengan hati-hati Yixing mengarahkan penis Sehun masuk ke dalam lubang analnya. Yixing mendesah panjang saat mencoba memasukkan semua penis Sehun. Dan Sehun sediri hanya memegang pinggang Yixing yang bergerak. Yixing sesekali mendesah kencang saat Sehun tiba-tiba mengontrol gerakan pinggangnnya. Sehun selalu suka dengan pemandangan macam ini. Membiarkan Yixing memegang kontrol sebelum akhirnya ia ubah posisi mereka.
Sehun mendorong tubuh Yixing dan mengangkat paha Yixing. Mereka sudah sering melakukan kegiatan macam ini. Tapi kali ini rasanya berbeda. Tubuh Yixing seperti tersengat listrik saat Sehun menatap dalam matanya. Yixing betulan mendesah saat Sehun menggerakkan pinggulnya dengan dalam.
"Sehun~" lirihnya. Yixing jarang menyebut namanya dengan cara seperti ini. Suara desahan macam itu membuat mata Sehun melebar. Gerakan teratur tadi tidak bertahan lama. Kini Sehun bergerak dengan tidak teratur dan cepat. Hingga suara desahan Yixing menjadi begitu ambigu, antara menikmati sekaligus kesakitan.
"Sehun te.. Ah!" teriak Yixing saat gerakan Sehun semakin menggila dengan deru nafas menderu. Sehun merasa fokus matanya mengabur. Hingga membuat Yixing membelalakan matanya. Yixing merasa pipinya basah bukan karena keringat atau matanya. Tapi mata Sehun.
"Hei!" seru Yixing sambil menepuk kedua pipi Sehun. Tapi Sehun tidak juga berhenti. Alasan itu yang membuat Yixing menarik leher Sehun, mengecup pelan bibir Sehun.
Yixing mengusap pelan kedua sudut mata Sehun dan kembali melumat pelan bibir Sehun. Tindakan Yixing membuat gerakan Sehun sedikit melamban. Karena keduanya merasakan sengatan ganjal. Tubuh Yixing meremang, Sehun bisa merasakannya. Saat tubuh Yixing bergetar, Sehun tahu pelapasan kekasihnya ini sudah di ujung tanduk. Sehun juga tidak berusaha untuk menutup mulut Yixing yang terus mendesah histeris karena gerakan Sehun yang kembali brutal. Ekpresi wajah Yixing yang menemui pelepasannya yang justru membuatnya sudah tidak bisa menahan hasratnya.
Sehun kembali melakukannya. Mengeluarkan penisnya, melepas kondomnya dan melesak masuk ke dalam anus Yixing. Tentu saja Yixing menjerit, cairan putihnya bahkan mengotori perut Sehun. Tapi Sehun bahkan mengotori lubang anal Yixing yang berkedut hangat.
Biasanya Sehun akan pergi begitu saja untuk membersihkan tubuhnya. Tapi kali ini ia ingin menikmati ekpresi Yixing yang terengah dan tengah berusaha mengotrol nafasnya sampai tenang. Sehun mengusap surai Yixing yang basah sebelum mendaratkan kecupan dalam di dahi Yixing. Kebiasaan Sehun tidak juga berubah.
"Aku akan memberikan semua yang kau mau," bisik Sehun. "Jadi jangan sekali pun berpikir untuk meninggalkanku."
Perkataan Sehun cukup membuat jantung Yixing berdetak dengan kencang.
..On Off..
"Kita makan siang di luar saja ya?" Sehun yang biasanya memberikan perintah, kali ini meminta persetujuan Yixing. Mungkin karena aktivitas mereka setelah sarapan.
"Oke." Jawab Yixing dengan singkat.
"Apa yang kau pikirkan?" Sehun bertanya dengan heran karena Yixing sejak tadi hanya diam.
"Tidak ada." Dusta Yixing.
Yixing hanya berpikir, bisa-bisanya ia dan Sehun melakukan melakukan aktivitas macam itu di pagi hari, setelah sarapan, dan di rumah mertuanya sendiri. Belum lagi, selama mereka menginap, tidak hanya sekali melakukannya di sini. Benar-benar pasangan sinting.
"Yakin?" Sehun betulan penasaran.
Yixing hanya mengangguk sambil membuka toples berisi biji kopi dan memasukkannya ke dalam grinder. Ia memilih tombol untuk menggiling kopi dengan hasil paling halus. Karena Sehun lagi suka-sukanya dengan espresso. Sehun betul-betul berpindah haluan dari kopi instant menjadi kopi ribet macam ini. Sehun bisa menyeduhnya tanpa gula sama sekali berbeda dengan Yixing yang setidaknya meggunakan krimer atau susu kental manis.
Yixing yang tengah sibuk dengan alat espresso rumahan kini hanya perlu menunggu dengan menaruh cangkir kecil di tempat yang telah disediakan.
"Apa?" Yixing lama-lama risih juga kalau ditatap macam itu oleh Sehun.
Tapi ini Sehun, bukannya menjawab malah mencium bibir Yixing dengan seenaknya. Mentang-mentang rumah sedang sepi. Keponakannya yang lain pergi ke taman hiburan. Sebagai pasangan yang tidak punya anak. Tentu saja mereka memilih untuk tidak ikut. Alasan lainnya jelas karena situasi saat mereka sarapan. Mana tega Yixing merusak acara ponakannya untuk bersenang-senang.
Sehun itu kadang kalau berciuman bisa kasar dan tidak beretika. Menghisap kasar lah, mengigit lah, sampai Yixing tidak bisa menarik nafas. Kadang, Yixing sampai harus mendorong pelan tubuh Sehun untuk berhenti.
"Kebiasaan!" wajah Yixing memerah bukan malu tapi sesak nafas. Kalau diterusin bisa biru wajah Yixing.
Sehun tanpa rasa bersalah hanya tersenyum tipis. Merengkuh tubuh Yixing yang sibuk meracik kopinya sendiri. Menambah gula aren, susu kental manis, susu full cream dan lain sebagaianya. Yang selalu membuat Sehun merasa, kopi yang disukai Yixing itu pasti rasanya manis bukan main.
"Sesuai dengan orangnya kan?" tanya Yixing pada Sehun yang menaruh dagunya di pundak kiri Yixing. "Mulutku manis dan mulutmu pahit."
Kekehan itu yang membuat Sehun mengigit leher Yixing. Tidak benar-benar mengigit karena Yixing justru tertawa dengan reaksi Sehun. Yixing yang awalnya tertawa langsung terdiam. Sehun medongakkan kepalanya dan menemukan pasangan lainnya. Oh ya, Sehun lupa bukan hanya ia saja yang tidak memiliki anak. Sehun penasaran dengan ekspresi Yixing, dan malah ia yang terkejut karena Yixing tersenyum dengan ramah. Entah lah, ini jenis senyuman yang sedikit ambigu, perpaduan antara ramah dan culas. Hingga membuat Yifan dan Jongin memilih untuk pergi.
De'javu dulu ia sepertinya pernah mengalami hal ini juga. Bedanya dulu Yixing sedang menangis tapi kali ini tidak. Pasangannya ini justru tengah tersenyum lebar. Dan Sehun tidak tahan untuk tidak mengecup bibir Yixing. Dan selalu, Yixing akan selalu menunjukkan wajah terkejut andalannya.
"Butuh berapa lama sampai kau terbiasa?" tanya Sehun yang hanya membuat Yixing tersenyum tipis.
Yixing sontak membalas kecupan Sehun. Kali ini justru Sehun yang terkejut.
"Kau juga, kapan kau akan terbiasa?"
Sial.
.
.
.
END
.
.
.
Panjang ya?
Semoga kalian gak bosen bacanya. Ha ha
