"Sasuke, kemarilah. Ibu akan mendongengkan kisah The Dark Fairy untukmu."

Sasuke kecil mengangguk antusias dan naik ke ranjang besar seraya menelungkup di samping sang ibu. Mikoto tertawa kecil, gemas melihat tingkah lucu sang buah hati sebelum berdehem untuk mulai bercerita.

"Suatu hari, di hutan pinus, hiduplah para peri yang memiliki kekuatan ajaib. Ada peri yang memberikan serbuk bunga agar bunga-bunga cepat mekar, ada peri yang membantu hewan-hewan kecil berlatih mencari makan, dan lain sebagainya. Namun, di antara peri-peri luar biasa tersebut, ada satu peri yang tidak memiliki kekuatan apa pun. Karena menjadi satu-satunya peri tanpa kekuatan, peri itu sangat terkenal di antara penghuni hutan. Meski demikian, peri itu sangatlah baik. Dia membantu banyak peri melaksanakan tugas mereka. Sampai kemudian, seorang peri berteman dengan anak manusia. Awalnya, pertemanan mereka membawa kebahagiaan. Para peri diundang ke permukiman penduduk dan dijamu makanan yang lezat. Namun, setelah tahu para peri itu memiliki kekuatan ajaib, penduduk desa berlomba-lomba menawan para peri untuk mewujudkan keinginan mereka. Saat menolak, sayap para peri dirobek dan mereka dibuang ke tungku pembakaran."

Suara teriakan tertahan terdengar dari bibir mungil Sasuke. "Mengerikan! Jahat sekali mereka, Bu!"

"Iya, mereka sangat jahat. Mereka dikendalikan keserakahan sampai-sampai tega berbuat begitu. Ibu lanjutkan lagi ceritanya, ya."

Tubuh mungil Sasuke merapat pada sang ibu.

"Mengetahui kejadian tragis yang menimpa peri lainnya, peri yang tidak memiliki kekuatan apa pun pergi ke desa. Dia berusaha mencari teman-temannya. Namun, sang peri tersesat dan justru masuk ke dalam penjara di dalam kastil kerajaan. Di sana, ada seorang penyihir jahat yang gemar membuat ramuan untuk meracuni penduduk. Penyihir itu berjanji akan membantu sang peri dengan syarat, sang peri harus mengambilkan kunci sel penjara dari kantong penjaga dan membantu sang penyihir meloloskan diri. Sang peri mengiyakan. Dia membantu penyihir itu bebas dan sebagai gantinya, sang penyihir memberikan sebuah kantung berisi serbuk berwarna hitam. Sang penyihir menyuruh sang peri untuk terbang berkeliling desa sambil menebarkan serbuk hitam tersebut. Sang peri menurut tanpa tahu serbuk apakah itu. Setelah menyemaikan serbuk tersebut, penduduk desa keracunan dan meninggal satu per satu. Para peri lain bisa diselamatkan dan desa itu menjadi desa tanpa penduduk setelahnya."

Tubuh Sasuke menggigil ketakutan. "Bukankah itu berarti peri tadi sudah menjadi pembunuh?"

Mikoto mengusap kepala sang anak.

"Demi menolong para peri lainnya, sang peri rela menempuh jalan kejahatan. Ironisnya, setelah tahu bahwa sang peri membunuh seluruh penduduk desa, peri lain justru menghakimi peri itu dan menjulukinya dengan nama The Dark Fairy. Pada akhirnya, peri tersebut meninggalkan hutan pinus dan mengembara seorang diri."

"K-kasihan sekali peri itu, Bu."

"Kau tahu hikmah cerita tadi, Sasuke?"

Sasuke menelengkan kepala.

"Jadilah manusia yang menolong sesama. Andaikan ada satu saja penduduk desa yang menyelamatkan para peri, peri tadi tidak perlu membunuh seisi desa dan mendapat julukan The Dark Fairy."

Sasuke menguap, membuat Mikoto refleks mencubit pelan pipi gembil anak bungsunya itu. "Sasuke harus janji untuk menjadi manusia yang mencegah seseorang untuk berbuat jahat, ya. Berjanjilah pada Ibu."

Kisah itu ditutup dengan dengkuran halus dari sang bocah kecil. Siapa sangka, kisah itu akan menjadi kisah terakhir yang Sasuke dengar sebelum seluruh anggota keluarganya dibunuh seseorang yang tidak dikenal dan orang tersebut masih buron hingga saat ini.


Meski begitu pelan, suara peluru terdengar di antara keheningan malam hari ini, membelah beberapa ilalang hingga menemukan sang mangsa yang kini sudah terperangkap. Tak lama kemudian, suara tubuh yang ambruk terdengar, menindih ranting-ranting kecil yang lantas patah. Cairan merah menyebar, mengoles warna hijau yang semula mewarnai rerumputan. Suara derap langkah bersahut-sahutan dan uluran beberapa tangan menyeret barang bukti ke pengasingan.

Tak seorang pun kecuali sang algojo dan pengikutnya yang tahu peristiwa berdarah malam itu. Berita kehilangan menjadi perbincangan di stasiun TV dan wartawan berita silih mencari penjelasan untuk diliput, serta sirine mobil kepolisian yang berkumandang menjadi pemandangan yang terjadi beberapa hari setelahnya. Satu bulan masa pencarian, pencarian orang hilang akhirnya menemukan titik terang. Namun, hanya jasad yang tersisa tanpa nyawa. Pejabat itu ditemukan di pinggir sungai dan tak ada satu pun bukti pembunuhan ditemukan. Oleh karenanya, kasus pencarian orang hilang ditutup dengan simpulan bunuh diri.

Tokuma.

Nama itu lantas mencuat di kalangan para agen rahasia. Dia tertangkap kamera tersembunyi tengah berada di dekat sungai tempat ditemukannya Danzo dalam kondisi tewas. Seperti yang beberapa ahli ucapkan, Danzo bukan mati bunuh diri. Pria egosentris itu mana mungkin memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Jika bisa dibilang, dia bahkan rela mengorbankan banyak harta dan nyawa demi hidup abadi.

Hari demi hari berlalu dan agen rahasia yang terdiri dari polisi elit itu menemukan sebuah fakta mencengangkan.

Naruto © Masashi Kishimoto

(I don't take any profit by publishing this fict)

Oneshot

SasuHina

Romance/Bloody/Thriller/Friendship/Hurt-Comfort

The Dark Fairy

(Oneshot Version)

Kendati dipenuhi banyak orang, ruangan cukup besar dengan nuansa victorian itu begitu sunyi. Tak seorang pun berani mengeluarkan bebunyian. Mereka menelan suara, tak mau mengusik suasana hati sang ketua yang terlihat berawan semenjak pertemuan digelar. Ketua mereka, yang mereka sebut dengan nama samaran "Lavender" jarang sekali membawa senjata selain pemuda berambut panjang yang disebut "Taube". Bagi mereka, ketua cabang organisasi kejahatan ini, Taube adalah wujud jelmaan senjata bagi sang ketua. Taube adalah tameng dan pedang. Setiap eksekusi bagi anggota kejahatan yang ketahuan berkhianat akan diselesaikan oleh tangan dinginnya.

Namun, kali ini, tampaknya sang ketua sendiri sudah tidak bisa menahan kekecewaan sampai-sampai datang membawa sebuah pedang. Penampakan pedang yang tak pernah absen dari jemari sang ketua membuat mereka mengulum kata rapat-rapat.

Organisasi ini semula hanyalah klan yakuza biasa, diketuai oleh pasangan klan Hyuuga. Setelah Hyuuga Hisashi dan sang istri terbunuh, klan Hyuuga di bawah pimpinan Taube bermetamorfosis menjadi organisasi kejahatan yang terstruktur. Bangunan bergaya Jepang kuno disulap sang pemuda menjadi bangunan bergaya victorian, seolah hendak menghapus total jejak kepemimpinan Hyuuga Hiashi dan menciptakan gaya kepemimpinan yang jauh berbeda. Awalnya, tentu saja mereka ragu. Terlebih, Taube merahasiakan identitasnya. Mereka bahkan tak tahu siapa Taube sebenarnya. Tangan kanan Hiashi ataukah darah dagingnya? Taube selalu mengenakan topeng noh dengan corak merpati di bagian dahi kanan, serupa nama samarannya.

Ketika mereka mengira Taube akan mengambil alih kursi pemimpin, Taube justru memperkenalkan seorang gadis dengan topeng kitsune bercorak lavender di sisi kiri. Peluh membasahi pelipis mereka kala itu. Bagaimana mungkin mereka bisa mempercayakan karier mereka di dalam organisasi pada dua bocah belia yang tak jelas identitasnya itu?

Namun, keduanya membuktikan bahwa mereka pantas menyandang status pemimpin dan wakil pemimpin. Melalui perintah mereka, organisasi ini bahkan semakin melanglang buana dan dipercaya mengemban lebih banyak misi.

"Tokuma," suara sang ketua terdengar mengintimidasi melalui celah topeng kitsune yang dikenakannya. "Ada pesan terakhir?"

Tokuma berusaha tersenyum meskipun sirat ketakutan sarat dari wajahnya. "A-apa maksud Anda? Aku tidak mengerti."

"Kau kembali ke lokasi pembunuhan Danzo, bukan? Aku sudah melarang siapa pun kembali ke sana, kecuali Ai. Apakah kau sadar bahwa kau sudah menempatkan organisasi ini dalam bahaya?"

Hendak mengelak dengan berbohong, sosok seorang pemuda berambut merah bertopeng polos dengan tulisan kanji "ai" di dahi kiri melangkah maju.

"Apakah kau mencari ini?" sang pemuda berambut merah bata menunjukkan sebuah dompet. "Kau bermaksud menguras harta Danzo dan hanya karena alasan bodoh seperti itu kau nyaris membahayakan Lavender dan organisasi ini?"

"Bagaimana mungkin kau berhasil menemukannya?"

"Di antara semua anggota, aku memiliki pengalaman untuk menemukan sandi dan mencari harta karun. Kau sudah tidak bisa mengelabui kami, Tokuma."

"Ketua! Jangan percaya padanya!" Tokuma masih membela diri. Tangan kirinya terlihat merogoh sesuatu di balik jas hitam yang dia kenakan.

Sejurus kemudian, Tokuma mengeluarkan sebuah pistol dan mulai menembaki siapa pun secara membabi buta. Beberapa anggota bersembunyi di balik perabotan, sementara sisanya terkena tembakan di beberapa bagian tubuh.

Sang pemuda berlari mendekati pemuda dengan nama samaran "Ai" sembari menodongkan moncong pistol ke dahi sang target. Namun, ketika jaraknya dan Ai tinggal beberapa inci, sabetan pedang menghentikan aksi sang pemuda.

Tokuma berteriak kesakitan. Matanya membelalak ketika tangannya yang menggenggam pistol kini terjatuh dan memancarkan cairan berwarna merah segar.

"ARGH! KAU SUDAH GILA!" teriaknya pada sosok sang ketua yang menebas tangan kanannya.

"Sepertinya kau tidak punya pesan terakhir, ya. Tenang saja. Keluargamu akan mendapat uang santunan cukup besar untuk menyambung hidup," ucap sang ketua dingin sebelum menebas leher sang bawahan yang telah mengkhianati perintahnya tersebut.

Kepala Tokuma yang masih menatap nyalang menggelinding ke kaki Taube. Sang pemuda berambut panjang memandang tanpa ekspresi. Ujung sepatunya di arahkan ke mulut Tokuma yang masih menganga, berniat menendang kepala bawahan yang sudah membuatnya jijik itu layaknya bola sepak.

Namun, tangan putih milik sang ketua terlebih dahulu menutupi kepala tersebut dengan kain putih dan mendekapnya.

"Matilah dengan tenang, Tokuma."


Uchiha Sasuke, pemuda yang baru saja pindah ke SMA Konoha, pertama kali bertemu Hyuuga Hinata secara tidak sengaja. Dia baru saja mengurus segala tetek-bengek yang diperlukan untuk membuatnya sah menjadi murid SMA Konoha bersama dengan Uzumaki Naruto, pemuda pirang blasteran yang mengaku sebagai sahabat karib Sasuke. Sahabat karib. Sasuke berdecak. Sahabat karib macam apa yang membuatnya harus mengurusi persoalan perpindahan pemuda Uzumaki itu juga, sedangkan pemuda yang dimaksud malah sedang berleha-leha.

Kala itu, hari sudah senja dan Sasuke tak ingin membuang waktu berlama-lama berada di gedung sekolah. Toh, sekolah ini bukanlah tempat permanen yang akan dia datangi. Dia hanya berada di sini untuk menjalankan misi. Sasuke adalah anggota divisi Zero. Divisi kepolisian yang bertugas untuk melaksanakan misi-misi rahasia. Tentu saja Sasuke dan Naruto yang masih remaja bukanlah anggota resmi divisi. Keduanya masih merupakan calon anggota dan hanya diperbantukan. Semua ini berkat nama Uchiha dan Uzumaki, serta peran Uchiha Itachi yang merekomendasikan dia dan Naruto untuk ikut membantu sebagai asisten.

Sasuke dan Naruto tidak pernah merasakan tinggal di suatu tempat secara permanen. Mereka bahkan berganti sekolah dalam rentang waktu yang sangat sering.

"BERANINYA KAU MENDEKATI GAARA!"

Suara nyaring perempuan terdengar dari arah halaman belakang, membuat Sasuke bergegas menghampiri. Dilihatnya beberapa gadis tengah mengerubungi seorang gadis berambut indigo panjang. Sasuke terbelalak. Sasuke tahu gadis ini tengah dijadikan bulan-bulanan gadis lainnya dan dari yang dia dengar, alasan penindasan ini karena ditenggarai masalah percintaan. Cemburu? Sepertinya. Nama "Gaara" tadi tentu milik seorang laki-laki.

Sasuke masih mencoba membaca situasi. Haruskah dia muncul dan membantu sang gadis? Tidak. Sasuke ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya jika dia tidak berbuat apa-apa. Sasuke ingin tahu apa yang akan gadis di tengah itu lakukan jika penindasan ini berlanjut. Akankah dia kabur? Akankah dia membalas? Akankah dia menangis dan menjilat sepatu para gadis seperti yang diminta?

Tidak memperoleh reaksi apa pun dari sang korban, beberapa gadis mendekat. Salah seorang dari mereka bahkan mengeluarkan sebuah pisau kecil. Sasuke terperangah ketika seorang gadis melukai pipi korbannya dan meninggalkan bekas luka goresan memanjang. Sadar bahwa yang mereka lakukan melewati batas, Sasuke menampakkan diri, membuat barisan para gadis penindas itu membubarkan diri dan lari pontang-panting.

"Kau baik-baik saja?"

Sosok sang gadis menengadah, ekspresinya memancarkan rasa terkejut dengan presensi sang Uchiha.

Inikah sosok asli Lavender? Sasuke tidak bisa percaya dengan informan yang telah menguak informasi identitas Lavender. Lavender, ketua organisasi kejahatan yang paling ternama di dunia belakang rupanya adalah seorang gadis SMA dengan nama Hyuuga Hinata. Semenjak tim pencari informasi menyebar usai menemukan nama "Tokuma" yang tertangkap kamera beberapa waktu lalu, sedikit demi sedikit informasi mengenai organisasi pembunuh sadis para petinggi negara berhasil diendus. Tak main-main, mereka mengantongi beberapa nama yang diduga sebagai Lavender. Nama-nama tersebut adalah Haruno Sakura, Yamanaka Ino, Rei Temari, dan yang terakhir Hyuuga Hinata. Keempat nama tersebut masuk dalam daftar orang yang harus diawasi dan mengantar Sasuke pada misi penyamaran di SMA Konoha ini.

Tidak. Tidak mungkin gadis di depannya ini Lavender. Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Lagipula, jika Hinata adalah Lavender, dia pasti akan menunjukkan perlawanan. Ketua organisasi sekaliber itu tidak mungkin tidak mempelajari beladiri, bukan? Hinata tak akan membiarkan dirinya dilukai. Lavender tidak senaif itu.

Sasuke menarik napas dan mencoba menghentikan analisisnya. Gadis di depannya terluka dan dia seharusnya memikirkan kondisi sang gadis terlebih dahulu. Bukankah tugasnya nanti sebagai polisi adalah mengayomi?


"Namaku Uchiha Sasuke. Mulai saat ini, aku akan menjadi murid pindahan di kelas ini." Sasuke kembali melangkah mundur, membuat dirinya sejajar dengan Naruto yang telah memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Beberapa pasang mata milik para gadis tak teralih dari sosoknya dan Naruto, seakan mereka telah menemukan incaran untuk menikmati masa remaja selama tiga tahun ke depan.

Oniks mengabsen seluruh isi kelas, terlebih empat nama yang dia ingat baik-baik dalam otaknya. Matanya lantas berhenti untuk memindai lekat sosok gadis bermata mutiara yang duduk di barisan depan. Gadis yang memberikan senyuman lembutnya pada Sasuke sebagai pertanda ungkapan terima kasih atas jasa Sasuke hari kemarin.

Hyuuga Hinata. Putri bungsu dari Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hikari. Ayah, ibu, dan adik bungsunya meninggal secara tragis dalam sebuah kecelakaan, menyisakan Hinata yang kini hidup berdua bersama sepupunya yang juga sebatang kara, yakni Hyuuga Neji. Pekerjaan Hiashi dituliskan sebagai akuntan di catatan kependudukan milik keluarga Hyuuga. Tidak ada yang ganjil dari informasi keluarga tersebut selain kematian Hiashi, Hikari, dan Hanabi yang disebut penuh konspirasi.

'Konspirasi, ya,' getir Sasuke membatin. Bukankah kehidupannya dan Itachi saat ini bagai pinang dibelah dua dengan Hinata dan kakak sepupunya? Mereka harus ditinggalkan orang terkasih di usia belia dan menjalani hidup di atas tumpuan kaki sendiri tanpa orang dewasa yang mengarahkan ke mana mereka harus melangkah dengan pasti.

Sasuke ingat betul ketika pembunuhan itu terjadi ayah dan ibunya pamit untuk bertemu dengan seseorang. Tak ada firasat apa pun selain oleh-oleh yang dijanjikan Fugaku untuk Sasuke yang kala itu masih kanak-kanak.

Namun, mereka tak kembali. Ketika Sasuke dipertemukan kembali dengan Mikoto dan Fugaku, mereka telah berubah menjadi abu dan dimasukkan dalam sebuah wadah. Sasuke masih ingat ekspresi Itachi. kakaknya baru saja dilantik menjadi anggota kepolisian, hendak meneruskan kiprah sang ayah.

Berduka, kakaknya mangkir dari tugas selama beberapa hari dan menghabiskan waktu dengan menenggak vodka. Jika Sasuke ketahuan mengintip, Itachi akan melemparkan botol minuman keras yang telah kosong ke sisi Sasuke, mengusir sang bocah dari memperhatikan pemandangan tak pantas itu lebih lama.

Itachi baru bangkit beberapa hari setelahnya. Pemuda dengan rambut diikat satu itu tiba-tiba membuka pintu kamar Sasuke dengan gusar. Matanya memancarkan kecemasan dan dia mendekap tubuh mungil Sasuke dengan erat.

"Syukurlah kau baik-baik saja, Sasuke. Apa selama beberapa hari ini kau makan? Ya Tuhan. Aku tidak menyadari keberadaanmu. Aku gelap mata. Aku melupakan segalanya tanpa menyadari bahwa aku masih memilikimu. Kau adalah satu-satunya ikatan keluarga yang kumiliki, Sasuke."

Itulah yang Itachi bisikkan tepat di telinga Sasuke sebelum akhirnya kembali bekerja. Setelahnya, Itachi menjalani peran ganda sebagai sosok kakak dan sosok orangtua bagi Sasuke. Dia akan memastikan semua keperluan Sasuke terpenuhi, menyiapkan makan, dan akan datang menghadiri rapat orangtua untuk membahas sekolah yang akan Sasuke pilih.

Sasuke baru tahu belakangan ini bahwa alasan Itachi bangkit adalah untuk mencari dalang di balik terbunuhnya Fugaku dan Mikoto. Maka saat itu, Sasuke pun memutuskan mengikuti jejak sang kakak. Dia akan terus bertahan hidup untuk menemukan pembunuh orangtuanya dan membalas perbuatan mereka.

Sadar masih saling pandang dengan Hinata, Sasuke mengulaskan senyuman.

'Nasib kita begitu mirip, Hinata,' pikirnya.


Hinata bukanlah orang bodoh. Jika dia bodoh, maka bisa dipastikan bahwa dia tidak akan bertahan hidup saat ini. Bukti bahwa dia adalah perempuan yang cerdas tepampang jelas dari caranya membesarkan organisasi hingga terkenal di dunia belakang. Semua ini tak lain dia lakukan untuk membuat dunia takluk kepadanya dan memancing dalang di balik kematian orangtua dan adiknya keluar dari persembunyian.

Hinata masih ingat kala itu ayah, ibu, dan Hanabi tengah berada di luar kota. Sebagai pemimpin tertinggi dalam organisasi, tentu ada anak buah yang senantiasa mengawasi mereka. Hinata tahu bahwa keluarganya adalah keluarga yakuza, bukan keluarga biasa. Namun, Hinata selalu bisa bernapas lega dan menjalani kehidupan normal adalah karena Hiashi berusaha semampu yang dia bisa untuk menjaga rahasia keluarga Hyuuga.

Sang gadis tahu bahwa ayahnya telah menghabisi begitu banyak orang agar Hinata bisa hidup secara normal. Tiap kali ada saksi mata yang hendak mengungkapkan fakta bahwa Hyuuga adalah keluarga yakuza, saksi mata itu akan lenyap seketika.

Hinata tahu sang ayah membasuh tangannya dengan tinta hitam demi Hinata.

Karena itulah, Hinata tak keberatan bermandikan tinta yang sama hitamnya demi menguak kematian orangtua dan adiknya, bahkan Neji dan Hinata telah bersumpah untuk memberikan hukuman setimpal bagi dalang di balik kematian mereka.

Empat mobil yang terlibat kecelakaan, semuanya memiliki hubungan dengan Hyuuga. Dengan kata lain, seluruh anak buah Hiashi yang menyamar untuk melindungi Hiashi semuanya dihabisi dengan kedok kecelakaan dan Hinata tak akan pernah memaafkan siapa pun pelakunya.

"Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto adalah agen rahasia yang diterjunkan untuk memata-matai kau, Sakura, Ino, dan Temari. Berhati-hatilah." Neji sempat mewanti semalam tadi, mengejutkan Hinata yang telah bertemu Sasuke terlebih dahulu lewat kebetulan.

Sai, dokter kepolisian, yang merupakan mata-mata dari organisasi Hinata, telah berpesan agar Hinata tidak melonggarkan kewaspadaan. Semenjak kasus Tokuma yang mendatangi lokasi perkara dilacak kepolisian, para agen berhasil mengendus hingga ke SMA Konoha. Selain itu, Sai meretas akun milik Shikamaru. Agen yang pernah memacari kekasihnya saat ini, Ino, dan kini mencari informasi dengan memacari Temari diam-diam.

Picik, bukan? Demi sebuah informasi, pemuda berkepala nanas itu menaruh persahabatan di antara Temari dan Ino di ujung tanduk.

Hinata tahu bahwa dia tidak boleh lengah. Salah berbicara dan bertindak, mereka pasti akan curiga. Namun, menarik diri dari dua murid pindahan itu pun justru akan memancing kecurigaan.

Situasi serba salah ini membuat Hinata mengambil keputusan secara acak.


Sasuke, untuk pertama kali dalam hidupnya, bersyukur karena memiliki teman bermulut besar (secara harfiah dan kiasan) seperti Naruto. Berkat kemampuan berkomunikasinya, sang pirang kini dekat dengan Sakura meskipun percakapan keduanya tidak jauh dari pertengkaran dan adu argumen. Namun, toh, Sasuke bisa menggunakan kesempatan ini untuk menggali informasi lebih dalam soal Hinata.

Satu yang Sasuke sadari dari sang gadis adalah kesepian. Adakalanya ketika pulang sekolah, Sasuke memperhatikan tubuh ringkih Hinata yang berpisah jalan dengan tiga temannya yang lain. Sinar jingga mentari yang jatuh memayungi tubuh mungil Hinata seolah menambah kesan gadis yang kesepian.

Sasuke paham betul rasanya menjadi Hinata. Pulang ke rumah tanpa mendengar ucapan "selamat datang" dan makan di meja makan cukup besar sendirian ketika Itachi tidak bisa pulang.

Hari ini, hujan turun begitu deras membasahi kota. Sasuke memilih melewatkan hari liburnya di pos polisi sebelum akhirnya pulang sebelum petang. Kala itulah, Sasuke tanpa sengaja melihat Hinata yang berdiri di tengah taman kota yang saat itu sepi. Gadis itu tidak membawa payung, tidak juga terlihat menghindari hujan. Sebaliknya, gadis itu diam saja ketika butiran air membasahi tubuhnya.

Sasuke seharusnya tidak mengedepankan rasa iba, bukan? Bagaimanapun, Hinata adalah salah satu orang yang diduga sebagai Lavender. Sasuke tidak seharusnya terbawa perasaan hanya karena dia dan Hinata senasib, bukan?

Namun, entah kenapa, Sasuke tidak bisa menghentikan kakinya yang justru berlari menyongsong sang gadis.

"Hinata! Apa yang kau lakukan? Hujan-hujanan sendirian di tengah taman seperti ini."

Barulah ketika bola matanya dan bola mata Hinata berserobok, Sasuke paham bahwa air hujan ini menyamarkan air mata yang berlinang di pipi Hinata. Gadis ini pasti berusaha tegar, menahan tangis di rumah dan di sekolah agar tidak membuat orang terdekatnya khawatir dan ikut larut dalam kesedihan.

Sasuke menarik tubuh Hinata, membenamkan sang gadis dalam sebuah dekapan seraya membawa sang gadis ke tempat berteduh.

Mereka tidak saling bicara, Sasuke hanya meminjamkan pelukan untuk Hinata dan gadis itu pun tampak tidak berniat memulai sebuah pembicaraan. Ketika rembulan mulai nampak dan hujan kian reda, Sasuke melepas Hinata pergi. Aroma sang gadis masih menguar membekas di jaket yang Sasuke kenakan dan entah kenapa, aroma itu membuat pikirannya menjadi tenang.


Setelah kehujanan entah berapa lama, Hinata tumbang dan dinyatakan tidak masuk keesokanharinya. Tentu ini adalah konsekuensi yang Hinata tuai setelah membiarkan tubuhnya kedinginan dalam waktu lama. Menawarkan diri menjenguk Hinata, Sasuke justru ditinggal sendirian untuk pergi dengan hanya dibekali lokasi yang sudah dikirim ke ponselnya.

Di sebuah kediaman tradisional Jepang itulah Sasuke bertemu dengan Neji. Sosok pemuda berambut panjang yang merupakan murid di sekolah lain, rekan satu sekolah Shikamaru. Satu pertanyaan yang terbersit di kepala Sasuke adalah kenapa Neji tidak masuk ke sekolah yang sama dengan Hinata? Bukankah dengan demikian Hinata akan memiliki teman berangkat dan pulang?

Ketika Sasuke menyerahkan sekeranjang buah dan melontarkan pertanyaan dalam otaknya, Neji hanya mengangkat sebelah alis, menunjukkan senyuman penuh nada cemooh.

"Apa urusannya denganmu?"

Ya, Sasuke tak punya urusan apa pun, baik dengan Hinata maupun Neji. Ucapan Neji seolah memperjelas posisi Sasuke sebagai "orang luar" dalam hidup Hinata, yang semestinya tak berhak mempertanyakan, apalagi mengkomplain sesuatu dalam kehidupan yang Hinata dan Neji jalani.

"Aku mencemaskannya."

Bola mata Neji terbelalak mendengar pengakuan yang lolos keluar dari mulut Sasuke.

Mereka berdua tengah berada di kamar Hinata dengan sang gadis terbaring di atas ranjang. Sasuke menyentuh dahi sang gadis barusan dan terasa panas. Hinata demam. Neji bilang, dia sampai harus izin tidak masuk untuk merawat Hinata.

Seakan mempertanyakan bagaimana Hinata bisa kehujanan di hari libur, Sasuke memberitahukan kejadian kemarin saat dia menemukan Hinata berdiri di tengah taman seorang diri, menikmati hujan dan kesepian yang beradu.

"Aku melihatnya kemarin secara tidak sengaja. Hinata berada di tengah taman sendirian. Ketika mendekat, aku tahu dia menangis dan memanfaatkan hujan untuk menyembunyikan air mata dan suara isakannya. Seorang diri, dia memikul kesepian itu."

Neji menatap Sasuke, memastikan bahwa Sasuke berkata benar. Bahwa sang pemuda bertemu Hinata secara kebetulan dan bukannya membuntuti sang gadis. Tidak menemukan kebohongan, Neji menghela napas. Neji tahu bahwa Sasuke pasti memperoleh informasi bahwa baik dia maupun Hinata adalah sebatang kara.

Neji ingin percaya pada instingnya bahwa ada secercah harapan untuk Hinata.

Maka, sebelum Sasuke pamit, Neji menyampaikan kalimat yang tidak bisa tidak melekat di ingatan Sasuke.

"Aku memilih sekolah yang berbeda dari Hinata agar Hinata terbiasa tanpaku jika suatu saat aku menghilang dari kehidupan Hinata."

Neji melanjutkan dalam hati. 'Jika saat itu tiba, aku harap aku bisa menitipkan Hinata padamu, Uchiha.'


"Kau harus membunuh Sakura, Hina-chan?"

Ino menggenggam tangan Hinata erat. Ino adalah anak dari Yamanaka Inoichi, teman Hyuuga Hiashi yang mengetahui rahasia keluarga Hyuuga. Layaknya buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Ino menjadi sahabat karib Hinata dan menjadi salah sedikit orang di sekolah ini, selain Gaara, yang mengetahui identitas Hinata sebagai Lavender.

Putri tunggal Yamanaka itu tidak menjauhi Hinata sekalipun dia mengetahui fakta bahwa di bawah perintah Hinata, ada banyak pembunuhan sadis yang terlaksana. Ayahnya, Inoichi, memiliki bisnis yang tak kalah kotor dari Hyuuga. Di dunia depan, ayahnya adalah seorang pegawai kantoran biasa, tapi di balik itu, Inoichi adalah pemasok senjata untuk Hyuuga.

Kini, Ino harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya harus membunuh sahabatnya yang lain.

"Haruno Kizashi, ayah Sakura, menentang pemerintahan Kaguya dan berpihak pada Jigen. Seseorang dari pihak Kaguya menyewa organisasiku untuk membunuh Sakura sebagai dorongan telak bagi Kizashi untuk mundur dari kursi jabatannya. Selain itu, Neji bilang, dengan terbunuhnya Sakura, kecurigaan padaku, kau, dan Temari akan berkurang."

Tangan Ino terasa gemetaran, membuat Hinata balas genggam dengan erat.

"Seandainya saja kita terlahir di dunia yang lebih berbaik hati pada kita," gumam Ino sembari memeluk sang sahabat.


Ketika tubuh Sakura tiba-tiba terjatuh usai menyantap bekal makan siangnya, Hinata tidak bisa tidak melakukan sesuatu. Seisi sekolah dibuat panik ketika mulut sang gadis berambut merah muda itu mengeluarkan busa.

Hinata menarik tangan Sakura, menyuruhnya untuk bertahan hidup. Naruto sigap membopong tubuh sang gadis masuk ke ambulans yang beberapa waktu lalu dipanggil Hinata.

Kejadian ini tentu saja membuat geger pihak sekolah, kepolisian, dan Kizashi. Pria berambut nila itu tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang operasi. Tangisan tak terbendung di wajah lelahnya. Kondisi politik dalam negeri tengah memanas dan menyeret dirinya. Kini, sang anak menjadi target pembunuhan dan tengah berjuang bertahan hidup di sela kondisi kritisnya.

Ino mendekap Hinata dan Temari yang tak henti memanjatkan doa agar Sakura bisa melewati masa kritisnya. Di sisi ketiga gadis, Sasuke dan Naruto berdiri.

Gigi sang pemuda pirang bergemeletuk menahan murka. Dia mengutuk siapa pun yang berniat mencelakakan Sakura dengan meracuninya. Naruto berjanji dia akan membawa sang pelaku ke tiang pancungan.

"Aku tidak akan memaafkan siapa pun pelakunya," gertak sang pemuda, menunjukkan kemarahan yang amat langka dia perlihatkan.

Ketika lampu ruang operasi padam dan pintu terbuka, berpasang-pasang mata memandang sang dokter dengan ekspresi gelisah, harap-harap cemas.

Sampai akhirnya, dokter bernama Karin itu buka suara.

"Haruno Sakura bisa melewati masa kritis. Dia selamat."

Isak tangis penuh haru memenuhi ruangan. Mereka semua memanjatkan rasa syukur atas keajaiban ini. Menurut sang dokter, takaran racun yang masuk ke dalam tubuh Sakura tidak cukup banyak. Sanggup membahayakan nyawa sang gadis, tapi tidak cukup untuk menghilangkan nyawanya.


Berkat kemampuan berkomunikasi Naruto yang membuatnya lekas dekat dengan seseorang,

Sasuke menarik napas panjang. Misi penyamaran ini jauh lebih sulit dibanding perkiraannya. Bagaimana dia bisa mencurigai empat gadis itu? Mereka terlihat begitu normal. Gadis yang berbincang dengan sesamanya, mengunjungi kafe dengan panganan menggoda, dan sesekali berlibur bersama. Mereka berempat bukanlah tipikal gadis yang mampu menarik pelatuk senjata api dan menghunuskan senjata ke jantung korban.

Sasuke yang terlebih dahulu mengenal Hinata merapat pada sang gadis. Sesuai misi, Naruto akan mendekati Sakura dan Sasuke akan mendekati Hinata. Shikamaru, salah seorang agen, yang tengah menyamar menjadi murid di sekolah lain telah memungut banyak informasi dengan menjadi kekasih Rei Temari sekaligus mantan kekasih Yamanaka Ino.


Kejadian tersebut membuat kecurigaan bahwa Lavender ada di antara Hinata, Sakura, Ino, dan Temari berkurang drastis. Naruto bahkan berniat mencabut laporan dugaan Lavender jika saja Shikamaru tidak menghentikan tindakan Naruto yang dianggapnya gegabah.

"Jangan mengambil keputusan ketika marah, sedih, dan senang. Dinginkan kepalamu. Itu bukan yang selalu diajarkan senior kita?"

Sasuke berusaha menghindari kontak mata dengan Naruto. Tepat kemarin, Sasuke tanpa sengaja menarik tangan Hinata dan menemukan serbuk berwarna putih di dekat pergelangan baju gadis berambut indigo itu. Dengan sengaja Sasuke menempelkan telunjuknya untuk menyapu serbuk tersebut dan melakukan pengecekan mengenai serbuk apakah itu.

Orang biasa tentu akan mengira serbuk tersebut berasal dari sisa-sisa kapur atau debu. Namun, Sasuke kemarin melihat Hinata masuk ke kelas saat kelas sedang kosong. Sasuke hendak pergi ke kantin untuk membeli minuman persiapan jam olahraga ketika Hinata yang belum berganti pakaian ke pakaian olahraga berdiri di ambang pintu.

Ketika berkunjung ke laboratorium, Sasuke meminta Hayashi untuk mengetes kandungan serbuk tersebut dan hasilnya akurat; serbuk itu adalah sianida.

Sama seperti Naruto yang melanggar misi dengan mendahulukan perasaan, Sasuke tidak bisa meloloskan informasi ini pada siapa pun atau dugaan akan tertuju pada Hinata. Sasuke masih tidak yakin bahwa Hinata-lah yang meracuni Sakura. Bisa saja Hinata dijebak dan bisa saja tanpa sengaja pergelangan baju Hinata menempel pada serbuk sianida yang ada pada tubuh Sakura.


Sasuke selalu berusaha menyangkal segala analisis yang mengarahkan Lavender pada sosok Hinata. Hinata yang sebaik itu bukanlah Lavender. Sasuke akan membuktikannya, membuktikan bahwa gadis yang kini menyandang status sebagai kekasihnya itu bukanlah pembunuh berdarah dingin.

Ya, dia dan Hinata adalah sepasang kekasih. Sasuke mengajak Hinata berpacaran seminggu lalu. Tepat setelah Hayashi mengungkapkan bahwa serbuk yang Sasuke bawa adalah sianida. Sasuke ingin berada lebih dekat dengan gadis berambut indigo itu. Dia ingin melindungi Hinata dari segala fitnah yang mungkin terarah pada gadis itu.

Terlebih, Sasuke ketagihan melihat senyuman bahagia Hinata. Mereka pergi berkencan beberapa hari lalu, tepat tiga hari setelah Sakura keluar dari rumah sakit. Awalnya, mereka memutuskan untuk membesuk Sakura berbarengan. Sepulangnya dari kediaman Haruno, mereka berdua memutuskan untuk berkeliling. Ketika Sasuke memperoleh kesempatan ikut undian, hadiah yang Sasuke dapatkan dari takarakuji kayu itu adalah cincin mainan berwarna biru navy.

Sasuke menyematkan cincin mainan itu di jari manis Hinata.

"Kelak, aku akan menyematkan cincin emas asli di jari manismu."

Saat itulah, Hinata menunjukkan senyuman lebar. Pipinya terlihat merah dan gembil saat senyuman lebar itu merekah di wajahnya. Mata sang gadis sampai menyipit, menyembunyikan dua kelereng mutiara di baliknya.


Neji menyibak tirai, mengamati dari kejauhan Sasuke yang baru saja mengantarkan Hinata pulang. perasaannya berkecamuk dan untuk kali pertama, Neji menjadi emosional. Terakhir kali sang pemuda gagal membunuh perasaannya sendiri adalah ketika orangtuanya gugur demi melindungi keluarga Hyuuga. Kala itu, Neji masih begitu kecil dan dia sudah harus menjadi sebatang kara.

Ketika Neji menangis sesenggukan dalam pelukan Hiashi, Hinata melangkah maju. Gadis kecil itu memberikan Neji setangkai bunga, berharap Neji tersenyum kembali. Namun, sang bocah terus menangis, membuat Hinata kebingungan.

Saat Hiashi, Hikari, dan Hanabi berpulang, Neji tidak meninggalkan sisi Hinata barang sejengkal pun, barang sekejap pun. Neji sudah lebih dulu paham pengalaman ditinggalkan seorang diri oleh keluarga dan Hinata saat itu menawarkan rumah lain untuk Neji huni. Namun, Neji sadar, tak ada jaminan bahwa dia akan terus hidup. Nyawa anggota keluarga Hyuuga terancam dan Hinata memilih untuk mengambil alih urusan keluarga Hyuuga sampai ke bagian tergelap dan terdalam.

Sejak saat itulah, Neji mendidik Hinata untuk meredam emosinya. Neji mendidik gadis kecil yang menangis ketika melihat seekor kupu-kupu mati, gadis kecil yang berwajah muram ketika melihat bunga-bunga layu, menjadi pemimpin organisasi berdarah dingin.

Neji tahu, meskipun sebagai Lavender tangan dingin Hinata tak perlu diragukan, Hinata tetaplah Hinata. Perhatiannya pada orang lain bukanlah akting semata.

Ketika Uchiha Sasuke muncul dan mendekati Hinata, Neji tahu bahwa seharusnya dia menjadi waspada. Sasuke adalah agen rahasia yang diutus untuk memata-matai Hinata dan mencari waktu saat Hinata lengah sehingga memperlihatkan sisi Lavender-nya.

Namun, mempelajari latar belakang kehidupan Sasuke, Neji mengerti bahwa mereka berdua senasib.

Suatu hari, Hinata kembali ke rumah dalam kondisi basah kuyup. Dia sengaja kehujanan. Neji mempertanyakan alasan kenapa Hinata berbuat bodoh seperti itu.

Jawaban Hinata membuat Neji kehilangan kata-kata.

"Aku hanya berpikir, apakah hujan bisa memudarkan kesedihanku sedikit saja."

Saat suara tawa terdengar begitu merdu dari Hinata ketika mendengarkan lelucon garing Sasuke, dada Neji terasa berbuncah. Sudah lama Hinata tidak memperlihatkan raut muka berseri seperti itu.

Seharusnya Neji tidak membiarkan Hinata berpacaran dengan Sasuke, bukan?

Di antara banyaknya pemuda di luar sana, ketika ada Gaara yang lebih aman untuk dijadikan kekasih, kenapa Hinata justru berpacaran dengan Sasuke?

Awalnya, Neji pikir Hinata mengikuti alur permainan Sasuke untuk melumpuhkan sang pemuda. Namun, melihat ekspresi dua muda-mudi tersebut, Neji sadar bahwa mereka berdua benar-benar saling jatuh cinta.


Semakin lama menjadi kekasih Hinata, Sasuke dibuai oleh kebaikan hati sang gadis. Dia yang hatinya begitu rapuh dan mudah menangis. Dia yang selalu mengusap punggung tangan Sasuke ketika sang pemuda mulai mengawang-awang di dalam pikirannya sendiri. Dia yang memberikan dekapan kapan pun Sasuke merasa dingin.

Tidak mungkin Hinata adalah Lavender, bukan?

Tidak mungkin Hinata mencoba membunuh Sakura, bukan? Bagaimanapun, Hinata-lah yang paling pertama menelepon ambulans, seakan tak ingin sang gadis terbunuh.

Keraguan di hati Sasuke terjawab beberapa minggu setelahnya. Dia dan Hinata pergi ke sebuah museum. Tak Sasuke ketahui seorang perampok yang tengah buron bersembunyi di sana. Sasuke mampu menghafal banyak wajah dalam pencarian buronan dan wajah Boro, pria yang berpura-pura tengah mengamati sebuah lukisan tersebut, tidak mungkin Sasuke salah kenali.

"Hinata, tunggu di sini."

Sang pemuda menghampiri Boro, menepuk pundah pria berbadan besar tersebut sembari menyapa dengan, "Angkat tanganmu dan jangan lakukan perlawanan, Boro-san."

Boro terbelalak, pria besar itu lantas berusaha mempelanting tubuh Sasuke, menjatuhkan sang Uchiha. Saat Sasuke merogoh pistol di balik jaket yang dia kenakan, Boro yang juga mempersenjatai dirinya dengan pistol kecil lebih dulu menembak tangan Sasuke, membuat pistol yang hendak Sasuke raih jatuh.

"Ceroboh sekali," ejek sang perampok sembari mengarahkan pelatuk ke dahi Sasuke.

Sebelum pelatuk sempat ditarik, Hinata berlari dan merebut pistol yang tergeletak, menembak tangan Boro seperti saat Boro menembak tangan Sasuke sesaat tadi.

Sang pria mengerang kesakitan. Momen tersebut Hinata merebut satu pistol di tangan Boro. Belum sempat mencerna situasi, Boro dihadiahi tendangan di leher yang membuatnya jatuh terduduk.

"Karma itu nyata," sinis Hinata, sebelum mengarahkan dua pistol di tangannya ke arah sang kriminal.

Oniks Sasuke sulit berkedip menyaksikan kejadian di depannya. Kenapa?

Kenapa kini Sasuke tak lagi meragukan bahwa Hinata adalah Lavender?

Gerakan itu, sorot mata yang dingin itu, untuk kali pertama Sasuke lihat dari Hinata. Sasuke tidak mengantongi bukti lain. Belum ada bukti bahwa Hinata membunuh atau memimpin organisasi. Sasuke belum melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Namun, tidak semua orang, terlebih seorang gadis, bisa terbiasa memegang pistol dan mendaratkan tendangan pada sosok pria yang bertubuh jauh lebih besar darinya.

Mata Sasuke dan Hinata berserobok. Ketika sirine keamanan berbunyi dan beberapa sekuritas datang. Setelah Boro diamankan petugas, tanpa berbasa-basi, Hinata menghampiri Sasuke dan menemaninya pergi ke klinik terdekat untuk memperoleh penanganan.

Sasuke mengamati tangan kanannya yang kini dibalut perban. Di sisi kiri, Hinata turut mengamati tangannya dalam diam. Haruskah Sasuke memberanikan diri bertanya soal identitas Hinata sebagai Lavender? Haruskah Sasuke membawa topik yang paling ingin dihindarinya itu ke permukaan?

Jika Hinata benar-benar Lavender, apa yang harus Sasuke perbuat?


Neji dan Gaara dengan busana formal tengah menghadap sosok seorang wanita berambut putih. Sosok yang memiliki peran penting dalam pemerintahan di negara ini. Sosok yang menyewa organisasi Hinata untuk melenyapkan putri tunggal Haruno Kizashi, yang berakhir gagal total.

Sang Taube berusaha meyakinkan bahwa misi itu gagal bukan karena kesalahan pihaknya, bukan karena kesalahan Hinata. Namun, Kaguya bukanlah wanita yang bisa ditipu daya seperti itu. Alih-alih percaya, bibir merah Kaguya mengguratkan senyuman yang membuat wajahnya semakin menyerupai penyihir dalam dongeng.

"Jangan bercanda, Taube-san dan Ai-san. Organisasi kalian jarang sekali gagal melaksanakan misi. Aku selalu memercayai kalian dan apa yang kudapat? Kekecewaan. Aku tidak akan main-main lagi. Kalian tahu? Melihat anaknya diincar seperti itu tidak membuat pria tua Bangka itu menyerahkan posisinya dalam pemerintahan. Jangankan mundur, dia justru semakin semangat menyudutkan pihakku. Ini pertama kali aku menanggung rasa malu seperti ini."

Gaara menggerakkan ekor matanya, melihat Neji yang biasanya tampak tenang kini mulai terlihat gelisah. Gaara tahu, Neji telah mengkonfrontasi Hinata soal alasan kenapa Hinata sengaja menggagalkan upaya pembunuhan Sakura. Neji tahu, Hinata tidak akan sanggup melaksanakan misi tersebut. Namun, wanita penyihir di hadapannya ini seolah ingin menguji pendirian Lavender, seolah ingin memosisikan Lavender di antara dua pilihan; hidupnya atau hidup sahabatnya. Neji ingin sekali menyumpah serapah wanita iblis di depannya ini.

"Pergi dari hadapanku." Kaguya mengibaskan tangan, memperlihatkan kuku-kuku panjang nan runcing semerah bibirnya, mengusir dua tangan kanan sang Lavender.


Neji seharusnya tahu bahwa dia tidak boleh menganggap enteng ancaman Kaguya dan pada akhirnya, sang pemuda tahu bahwa wanita iblis itu tidak pernah memberikan gertakan kaleng. Identitas Sai sebagai agen ganda terkuak, membuatnya diamankan dan yang terparah, disiksa untuk menguak siapa orang yang memerintahkannya menjadi agen ganda.

Televisi menyiarkan siaran langsung ketika sosok Sai dicambuk berkali-kali sampai sang pemuda membeberkan maksud sebenarnya menjadi agen ganda.

Kala itu, Neji memikirkan sosok Ino. Apa yang Ino rasakan saat ini?

Bahkan jika Ino berniat membongkar rahasia organisasi demi menyelamatkan Sai, baik Neji maupun Hinata, tak akan menyalahkan gadis pirang itu.


"Hyuuga Hinata adalah Lavender. Hyuuga Neji adalah Taube. Rei Gaara adalah Ai. Sudah dipastikan mereka adalah tiga pimpinan tertinggi. Yamanaka Ino membeberkan semuanya."

Sasuke memandangi sebuah ruangan berkaca. Dia melihat Ino menangis sesenggukan sembari memeluk sosok kekasihnya yang terluka di sana-sini saat diinterogasi. Kenapa Sasuke merasa marah pada gadis berambut pirang itu? Kenapa Sasuke ingin memutar balik waktu dan menutup mulut Ino.

Kenapa Ino harus membeberkan rahasia Hinata?

Sasuke sadar betul Sai akan mati jika terus-terusan menutup mulut dan kepolisian tahu betapa rapat bibir sang dokter terkunci, menunjukkan bahwa dia lebih loyal pada pihak organisasi ketimbang pihak kepolisian. Sasuke pun paham, jika dia ada di posisi Ino, dia pasti akan melakukan hal yang sama.

Kini, karena ulah Ino, kepolisian akan segera meluncurkan penyergapan ke kediaman Hyuuga.

Naruto memalingkan muka dari Sasuke, seakan sang pemuda pirang tak ingin bertukar kata dengannya. Naruto tahu bagaimana perasaan Sasuke pada Hinata. Meski banyak orang mengatakan bahwa dia bodoh, toh, Naruto adalah anak inspektur yang pernah memimpin penyerangan pada organisasi terkenal berpuluh tahun lalu. Pemuda pirang itu pasti bisa membaca situasi.

Naruto pasti ingin meyakinkan dirinya bahwa Sasuke memang tidak tahu mengenai identitas Lavender yang ternyata adalah Hinata—dan bukannya secara sengaja ikut pura-pura tidak tahu.

Akankah Naruto menyalahkan Hinata atas percobaan pembunuhan Sakura? Akankah Kizashi dan Sakura memaafkan Hinata?

"Sasuke." Sasuke menoleh mendengar namanya dipanggil salah seorang senior dengan masker menutupi sebagian wajah. Dialah Kakashi.

"Betapa sial nasibmu. Kekasihmu ternyata memang benar adalah Lavender."

Sasuke terdiam. Kakashi adalah sahabat Itachi, orang yang juga Sasuke anggap sebagai kakak keduanya, sebagai guru, dan senior yang dia hormati. Apakah Kakashi akan menceramahinya panjang lebar dan menyuruh Sasuke tutup mata soal perasaannya pada Hinata?

Beberapa lembaran ditepukkan ke dada Sasuke tiba-tiba, membuat Sasuke refleks mundur.

"Bacalah dokumen ini sebelum kau ikut melakukan penyergapan ke kediaman Hyuuga. Pemerintah dan kepolisian menutupinya selama ini, soal kematian orangtuamu. Itachi sudah membacanya terlebih dahulu dan pemuda itu menolak untuk membahas hal ini denganku. Aku menemukan dokumen ini di ruangan rahasia, di dalam sebuah brankas. Aku dipercaya oleh pimpinan untuk menyimpan sandi brankas tersebut dan aku sadar, kau serta Itachi berhak mengetahui kenyataan ini."


"Maafkan tindakan anakku, Lavender-sama." Inoichi membungkuk dalam-dalam di depan Hinata, Neji, dan Gaara.

"Angkat kepalamu, Inoichi-san."

Inoichi tampak ragu-ragu sebelum akhirnya mendongakkan kepala dan memandang lurus sosok ketua organisasi. Hinata mengulaskan senyuman maklum. Tak ada kemarahan di wajahnya, yang ada hanyalah wajah lelah seorang gadis belia yang sudah menempuh jalan hidup berliku.

"Aku tidak akan pernah marah padamu atau Ino. Kalian berdua sudah berjasa banyak padaku."

Dengan itu, Hinata memberitahukan bahwa kepolisian telah membekuk sebagian besar anggota organisasi yang berpencar ke beragam lokasi di Jepang, sedangkan sisanya telah kabur ke luar negeri. Hinata masih tetap berada di sini karena tanggung jawabnya sebagai ketua. Dia tidak bisa meninggalkan kediaman ini. Toh, pergi ke mana pun, rumah dalam arti sesungguhnya bagi Hinata telah dirampas oleh kematian.

Toh, kabur ke mana pun, hidupnya akan tetap menderita.

Ketika sirine polisi terdengar nyaring dan bersahutan di luar sana, Hinata tahu bahwa kediamannya telah dikepung.

Neji dan Inoichi bersembunyi di lantai dua, sedangkan Hinata ditarik Gaara bersembunyi di kebun belakang. Ketika ratusan anggota polisi bersenjata menyebar dan menendangi perabotan di kediaman sang Hyuuga satu per satu, Hinata tahu inilah akhir hidupnya.


Sasuke berlari ke lantai dua, berharap pada Tuhan agar dialah yang menemukan Hinata terlebih dahulu. Beberapa rekan anggota kepolisian dan trainee sepertinya memenuhi kediaman Hyuuga, membuka setiap pintu yang ada, menyibakkan setiap kain yang ada, dan menendangi perabotan.

Pemilik oniks memilih masuk ke dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti gudang.

Sampai sebuah telapak tangan membekap mulutnya dan membuat sang pemuda sontak mengarahkan senjata laras panjang kepada siapa pun di belakang tubuhnya.

"Ini aku, Uchiha."

Bukanlah wajah Hinata yang kemudian dia dapati, melainkan wajah sang sepupu, Neji, yang kini berdiri berhadapan dengannya.

Tangan Sasuke menarik kerah kemeja putih yang Neji kenakan dan mendorong tubuh sang pemuda hingga menabrak dinding.

"Kenapa kau menyeret Hinata dalam kehidupan seperti ini?! Kenapa kau tidak melarang Hinata?! Kenapa kau tidak mencegahnya …?"

"Kau tidak akan mengerti, Uchiha."

"Aku tidak mengerti! Yang aku mengerti dari diriku sendiri adalah aku ingin membahagiakan Hinata! Andai saja aku bertemu dengannya lebih cepat, aku tidak akan membiarkan ini semua terjadi. Namun, semuanya sudah terlambat."

Neji baru saja membuka mulut ketika bunyi tembakan terdengar dari kebun belakang. Sadar siapa yang memilih bersembunyi di sana saat ini, Neji mendorong tubuh Sasuke dan berlari ke sumber suara.


"Menyerahlah, Lavender!"

Salah seorang anggota kepolisian menembakkan peluru yang tidak tepat mengenai sasaran. Gaara mendekap Hinata, sebelah tangan sang pemuda menggenggam pistol yang diarahkan pada beberapa anggota kepolisian di hadapannya.

"Kami menemukan Lavender dan Ai—"

Sang petugas yang tengah menelepon tumbang. Pelatuk di tangan Gaara terarah padanya. sang pemuda dengan nama samaran "Ai" itu mulai melepaskan tembakan ke beberapa anggota.

Ketika puluhan senjata menyongsongnya, Gaara berteriak pada Hinata.

"Pergilah, Lavender-sama! Hiduplah! Aku tidak menyesal mengabdikan diriku untukmu selama ini."

"Gaara-kun? GAARA-KUN!"

Bunyi tembakan silih terdengar sebelum sosok sang pemuda berambut merah bata tumbang di hadapan Hinata.

"HINATA!" Neji dan Inoichi berlari menghampiri sang gadis. Di belakang mereka berdua, Sasuke mengekor.

Di antara barisan anggota kepolisian yang mulai berdatangan mengerumuni pemimpin organisasi, sosok seorang gadis berambut sebahu berlari memeluk sosok bersimbah darah.

"GAARA!" Temari menjerit kencang, mendekap tubuh dingin sang adik.

Bola mata Hinata membulat melihat jasad Gaara yang kini terbujur kaku dalam pelukan Temari. Sang gadis menangis kencang, tak kuasa menahan nestapa melihat adik semata wayangnya harus berakhir di tangan polisi sebagai kriminal.

Hinata sudah lelah dengan semua ini. Karenanya, dia berdiri, mendekap erat sang sepupu sebentar sebelum akhirnya berkata sembari tersenyum getir, "Ayo, kita menyerah, Neji-nii."

Neji dan Inoichi membisu sebelum akhirnya ikut berdiri dan mengangkat tangan.

Namun, pihak kepolisian seakan tak percaya bahwa tiga orang kriminal kelas kakap itu akan menyerah tanpa perlawanan dan bermaksud untuk menembak mati mereka di sini. Suara senapan yang dikokang terdengar bergantian sebelum ratusan moncong senjata terarah pada ketiganya.

"Sasuke harus janji untuk menjadi manusia yang mencegah seseorang untuk berbuat jahat, ya. Berjanjilah pada Ibu."

Teringat pesan terakhir sang ibu, Sasuke melangkah ke depan sosok Hinata, Neji, dan Inoichi sembari membentangkan tangan. Di luar dugaan, Naruto, Kakashi, dan Shikamaru yang semula berada di barisan samping turut membuang senjata dan berdiri di sisi Sasuke sembari membentangkan tangan.

Tak hanya di situ, barisan polisi itu dikejutkan dengan kemunculan sosok tiga orang yang mendorong beberapa polisi untuk ikut membentangkan tangan di hadapan Hinata, Neji, dan Inoichi. Sosok itu adalah sosok Sakura, Kizashi, dan Ino.

Temari meletakkan jasad sang adik ke rerumputan perlahan sebelum memutuskan berdiri dan ikut berbaris melindungi Hinata, Neji, dan Inoichi.

Pemandangan ini disaksikan banyak orang, terekam banyak kamera, dan ditonton oleh banyak manusia di penjuru dunia. Sosok ketika tiga kriminal dilindungi. Atas aba-aba dari Jiraiya, mereka menurunkan senjata dan berbondong mengamankan tiga kriminal serta menggotong jasad Gaara.

Sebelum dibawa masuk ke mobil polisi, Temari, Sakura, dan Ino menghampiri Hinata. Gadis berbola mata mutiara itu berusaha memberanikan diri menghadapi ketiga sahabatnya. Temari melangkah maju. Air mata belum mengering dari pipinya.

Ketika Temari mengangkat tangan, Hinata terima jika Temari akan menampar atau memukulnya. Bagi Hinata, dia pantas mendapatkannya. Dirinya pasrah jika Temari memutuskan untuk membencinya seumur hidup.

Namun, Hinata keliru. Tangan Temari terkulai. Gadis berkuncir tiga itu justru memberondong Hinata dengan pelukan. Tangis Temari kian pecah ketika Hinata balas memeluk sang gadis dan meminta maaf.

Hinata memalingkan wajah untuk menatap Sakura.

"Aku minta maaf, Sakura-chan. Akulah yang menaruh racun ke dalam bekalmu dan nyaris membunuhmu."

Di luar dugaan, Sakura ikut memeluk Hinata, diikuti oleh Ino yang turut memeluk ketiga sahabatnya itu. Sirine mobil polisi masih berbunyi, mengisi gelapnya malam ketika organisasi milik Lavender dinyatakan bubar.


Setelahnya, Itachi membongkar kematian orangtuanya yang ternyata menyeret nama keluarga Hyuuga, ke media massa. Dari sanalah diketahui bahwa Hyuuga adalah klan yakuza yang membantu kepolisian di balik layar. Hiashi dan Fugaku adalah sahabat karib, tapi berpura-pura saling tidak mengenal. Beberapa tahun lalu, kepolisian diteror serangkaian penyerangan, banyak anggota hingga atasan yang harus meregang nyawa dan dalangnya justru adalah pimpinan tertinggi negara, yakni Kaguya.

Wanita yang menghalalkan segala cara itu merasa terancam dengan gerak-gerik kepolisian terhadapnya dan mengutus banyak organisasi kejahatan untuk menyebar teror. Hiashi dan Fugaku yang mengendus kejahatan Kaguya membuat sebuah rencana dan berniat membuka kedok sang wanita.

Namun, wanita itu picik. Dia mengadu domba kepolisian dengan Hiashi dan Fugaku, bahkan mengkambinghitamkan Fugaku dengan mencapnya sebagai pengkhianat. Kaguya-lah yang menjebak keduanya untuk bertemu dan menghabisi mereka pada saat bersamaan di lokasi yang berbeda, bahkan sebelum dua sahabat karib itu bisa bertemu untuk yang terakhir kalinya.

Hiashi dan Fugaku meninggalkan banyak barang bukti, yang baru setahun lalu berhasil diketahui Kakashi dan Obito, dua penyamar terbaik yang dimiliki kepolisian. Sampai akhirnya, baru tahun ini, keduanya bisa mengungkap bukti-bukti kuat terkait kejahatan Kaguya untuk menjebloskan sang wanita ke dalam penjara.

Beberapa jam setelah Hinata, Neji, dan Inoichi ditangkap, anggota polisi lain mendatangi Kaguya dan sang wanita dilengserkan dari kursi jabatannya. Sebagai gantinya, negara menyambut pemimpin negeri yang baru, yaitu Toneri, atas usulan parlemen.

Sakura, Ino, dan Temari sudah mengetahui cerita itu melalui Naruto, yang menjadi alasan kenapa sang pemuda pirang tidak bisa menaruh dendam pada Hinata. Mereka sadar, masa lalu Hinata sangat suram dan mereka tidak ada dalam masa lalu gelap sang gadis.

Mereka, termasuk banyak orang, memaafkan tindakan kejahatan yang dilakukan Hinata, Neji, dan Inoichi. Namun, tetap, hukum harus ditegakkan. Sel tahanan menanti ketiganya.


"Selamat pagi, Sasuke-san. Hendak menjenguk Hinata-san lagi, ya?" goda seorang petugas resepsionis ketika melihat kedatangan Sasuke.

Langkah Sasuke terkayuh melewati sel demi sel. Sesampainya di sebuah sel berisikan gadis familiar dengan busana terusan berwarna putih, Sasuke menghentikan langkahnya.

"Aku datang, Hinata."

Inoichi akan menjalani masa hukuman penjara selama tiga puluh tahun. Neji akan menjalani masa hukuman lima puluh tahun.

Hinata?

Hinata akan menjalani masa di dalam kurungan penjara selama empat puluh tahun, ditambah masa rehabilitasi tiga tahun. Bukan waktu yang sebentar memang. Sasuke tahu, rambut Hinata mungkin sudah beruban ketika keluar dari penjara dan dia bukan lagi gadis muda seperti saat ini. Namun, Sasuke telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menanti Hinata keluar dari penjara, tak peduli seberapa lama pun waktu yang berlalu. Sasuke tak pernah ragu. Dia tidak keberatan pergi kemari setiap hari untuk menemui Hinata sampai sang gadis bebas. Kotak kecil berisikan cincin yang selalu dia bawa-bawa dalam sakunya adalah bukti bahwa jemari manis Hinata-lah yang akan menjadi tempat cincin tersebut disematkan kelak.

"Aku akan menunggu sampai kau keluar dari jeruji tahanan ini, Hinata," sumpah sang pemuda.

Hinata tersenyum haru di balik jeruji besi dan memberikan anggukan.

"Tunggu aku, ya."

Tamat

Thank you so much for reading this fict!

(Grey Cho, 2020)