.
.
.
Boku no Hero Academia not mine
90 days by cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
.
.
.
Enjoy!
Chapter 4 : Nightmare
Day 4 :
San Fransisco, USA
Gadis berambut hitam itu sudah beberapa kali melihat atasannya menghela napas sembari memandangi ponsel pintar di tangan. Tingkah itu menarik keingintahuannya sehingga ia melepaskan pandangan sejenak dari layar monitor dan memilih untuk mengamati pemuda itu. Dengan dibatasi kaca, kedua manik hitamnya mengikuti bagaimana pemuda dengan rambut yang dicat sebagian merah dan putih itu berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan sebelum akhirnya mengambil tempat di sofa.
Lama pemuda itu duduk diam sambil memandangi ponselnya. Sikap diamnya membuat ketertarikan si gadis lenyap sehingga ia kembali mengalihkan perhatian pada layar monitor dan tak menggubrisnya lagi. Ia tak menduga bahwa beberapa saat kemudian pintu di ruangan kaca akan terbuka dan menampilkan pemuda berambut merah kelabu yang tadi mondar mandir di ruangannya. Berjalan mendekat pada mejanya, pemuda itu mengangkat tangan dan menunjukkan layar ponsel yang menjadi sumber masalah.
"Sepertinya handphoneku rusak."
Alis si gadis terangkat mendengar perkataan tak biasa yang meluncur dari mulut pemuda di hadapannya. Tak punya pilihan, ia pun menatap layar hitam kelam yang ditunjukkan oleh sang atasan sebelum akhirnya menjawab, "Oh? Apanya yang rusak, Todoroki-san?"
Sesaat, layar hitam itu dihadapkan kembali ke arah si pemuda. Kedua manik yang berbeda warna itu menatap layar yang gelap sebelum akhirnya berkata, "Entahlah."
Keluhan tak berdasar itu membuat manik hitam si gadis menatapnya dengan penuh arti, sebelum perhatiannya kembali teralih ke layar komputernya. Masih sambil mengetik, gadis itu berkata, "Kelihatannya tidak ada masalah pada handphonemu."
"Yang benar?" Pemuda itu berkata sembari memutar-mutar handphone di tangannya. Ia mengangkat alis dan kembali bergumam, "Tapi kenapa setiap kali aku menelepon tidak ada suaranya?"
"Menelepon?" Gadis itu ikut mengulangi perkataannya. "Apa pulsa… Tidak, ponselmu tidak menggunakan sistem prabayar. Apa mungkin speakernya yang rusak?"
"Oh! Mungkin juga," ucap pemuda itu sambil menunjuknya. "Apa kau tahu orang yang dapat memperbaikinya, Yaoyorozu-san?"
"Kau harus membawanya ke service centre," jawab gadis itu sambil mengetik di keyboard. Tak lama kemudian gadis itu menjawab, "Paling tidak butuh beberapa hari untuk memperbaiki. Apa selama itu kau punya handphone cadangan yang dapat digunakan, Todoroki-san?"
Menggelengkan kepala, pemuda itu berkata, "Tidak ada."
"Kalau begitu tidak bisa secepat itu diperbaiki," jawab sang sekretaris yang dipanggil Yaoyorozu itu. "Aku khawatir ada banyak jalur komunikasi penting yang masuk bila kau mematikan komunikasimu begitu saja."
"Benar juga," keluh pemuda itu sembari menghela napas, "bagaimana kalau Izuku tiba-tiba menghubungiku?"
Alis gadis itu terangkat mendengar nama yang tiba-tiba disebutkan oleh si pemuda. "Yang kumaksud bukan Midoriya-san, Todoroki-san. Maksudku, bagaimana kalau ada telepon penting dari partner bisnis atau ayahmu?"
"Tidak masalah, mereka bisa menghubungiku di kantor, lagipula telepon dari mereka tidak bermasalah seperti Izuku," jawab pemuda itu.
Dengan kerutan yang semakin dalam, si gadis kembali berkata, "Maksudnya?"
"Tidak ada masalah dengan telepon ayah atau pun yang lain, aku masih bisa mendengar suara mereka," jelas pemuda itu. "Hanya suara Izuku saja yang tidak bisa kudengar."
Perkataan pemuda itu membuat sekretaris utama Endeavor Group mengerjapkan mata beberapa kali. Ia menatap pemuda itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya berkata, "Kurasa… masalahnya bukan pada ponselmu, Todoroki-san."
"Bukan?" pemuda itu berkata dengan nada tidak percaya.
Dengan sedikit enggan, sang sekretaris menjawab, "Saya tidak mau ikut campur dalam urusan pribadi Anda. Tapi kalau Anda memaksa, saya akan mengatakan pendapat saya."
"Katakan saja."
"Apabila Anda tidak dapat mendengar suara Midoriya-san maka ada beberapa dugaan yang muncul," ucap sang sekretaris. Ia menaikkan satu persatu jarinya dan kembali melanjutkan berkata, "Satu, dia tidak dapat mendengar suara Anda. Dua, fungsi bicara di ponsel Midoriya-san yang rusak. Atau ketiga, dia memang tidak ingin bicara dengan Anda. Menurut Anda, yang mana yang paling memungkinkan dari ketiga kemungkinan tersebut?"
Tanpa ragu-ragu Todoroki menjawab, "Kemungkinan pertama dan kedua."
"Oh?" Sekretarisnya berkata dengan nada tertarik. "Kenapa bukan kemungkinan ketiga?"
Sembari mengangkat bahunya, pemuda itu kembali berkata, "Entahlah. Menurutku begitu."
Jawaban tak bertanggung jawab ala Todoroki Shouto itu kembali mendapat tatapan tajam dari sang sekretaris. Namun kali ini, gadis itu memilih untuk tidak mengungkapkan pendapatnya dan berkata, "Kalau begitu, semoga dugaan Anda benar."
Todoroki Shouto pun mengangguk kecil mendengar jawaban sekretarisnya itu. Hanya saja, walaupun sudah berdiskusi dan sudah menjawab sendiri masalahnya, pemuda satu itu masih tidak yakin dengan jawabannya. Mungkin karena itulah ia masih belum beranjak dan tetap berdiri di depan meja sekretarisnya.
"Apa sebaiknya aku pulang dan mengecek kondisinya?"
Jemari yang tengah menari di atas keyboard itu berhenti sejenak berhubung kedua manik pemiliknya tengah diarahkan kembali pada Shouto. Dengan nada tegas dan monoton, gadis itu berkata, "Sebaiknya Anda tidak melakukannya."
Ekspresi pemuda dengan warna rambut berbeda itu sedikit membuat gentar sang sekretaris. Gadis itu ingin segera berpaling, namun ia menahan diri dan tetap menatap dua manik berbeda warna yang diarahkan padanya.
"Kau tidak berhak mengaturku…"
"Memang tidak," jawab sang sekretaris, berusaha untuk tetap tenang, "saya di sini hanya membantu mengatur jadwal Anda. Bila Anda pulang, semua jadwal yang telah disusun akan berantakan dan saya tidak yakin berapa banyak peluang bisnis yang lenyap bila Anda melakukannya."
"Persetan dengan bisnis," umpat pemuda itu. "Aku tidak peduli dengan bisnis Ayah."
"Ya," jawab gadis itu. "Tapi tanpa Ayah Anda, Anda bukanlah siapa-siapa, Todoroki-san."
Kedua manik berbeda warna itu memicing mendengar jawaban gadis itu. "Apa… kau bilang?"
"Semua yang Anda dapatkan selama ini adalah berkat ayah Anda," jelas sang sekretaris. "Apa menurut Anda, Midoriya-san tidak mempertimbangkan semua itu saat bersama Anda?"
"Jangan coba-coba…"
"Kalau Anda tidak percaya, silakan saja katakan bahwa Anda sudah bukan bagian dari Endeavor Group," usul gadis itu. "Mungkin ini bisa menambah sedikit pengenalan Anda akan gadis yang Anda pikirkan itu."
Pemuda yang merupakan ahli waris Endeavor Group itu terdiam selama beberapa saat mendengar ucapan panjang lebar dari sekretarisnya. Ia tetap bergeming di tempat hingga akhirnya ia membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke ruangannya yang berada di balik pintu kaca. Begitu ia sudah berada di dalamnya, kakinya menuju sofa yang ada di ruangan dan menghempaskan dirinya di sana.
Satu tangannya mengangkat ponsel miliknya dan menyalakan layarnya. Ia menatap foto yang ada di layar tersebut dan menyentuhkan jemarinya pada ponsel. Untuk beberapa saat ia hanya menyapukan jemarinya pada layar seraya bergumam, "I…zuku…"
Tentu saja tak ada jawaban dari layar yang dipandanginya itu. Si gadis yang berada dalam layar tersebut masih tetap memandang ke arah lain, tidak sadar walaupun Shouto tengah memanggilnya berkali-kali. Sama seperti semua teleponnya yang tak pernah diangkat oleh si gadis.
Walaupun begitu, Shouto tetap mendekatkan ponsel itu ke bibirnya. Ia mengecup pelan benda yang diklaimnya 'rusak' beberapa menit yang lalu itu sebelum memandangi layarnya kembali, memandang dalam diam gadis yang tertangkap oleh layar kameranya.
"Izuku…," panggilnya untuk kesekian kalinya sambil menatap layar, "aku ingin bertemu denganmu… sangat ingin bertemu."
.
.
.
Day 6 :
Shizuoka, Japan
Kehangatan matahari pagi menembus kamar gadis yang tengah berbaring nyaman di dalam selimutnya, memaksanya untuk membuka mata. Awalnya ia masih ingin menempelkan kepalanya dan tetap terbuai dalam mimpi. Namun udara hangat yang memasuki kamarnya sudah mencapai batas yang dapat ditanggungnya sehingga ia terpaksa menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya.
Selama beberapa saat mata si gadis mengerjap-ngerjap berusaha membiasakan diri dengan keadaan sekelilingnya. Ia mengamati ruangan yang bersih, dengan perabotan berwarna putih dan lantai yang juga didominasi dengan warna serupa. Untuk beberapa saat ia hanya diam dan mengamati sebelum memutuskan untuk turun dari ranjang.
Kakinya menepuk-nepuk lantai keramik di bawahnya selama beberapa kali hingga akhirnya mencapai sandal yang ia letakkan di samping ranjang. Melangkah perlahan, gadis itu berjalan menuju ke pintu keluar sembari menguap menahan kantuk. Begitu ia sudah berada di dekat pintu, si gadis pun memutar kenop dan menarik pintu hingga terbuka.
"Selamat pagi, Midoriya-san."
Sapaan selamat pagi dari suara yang tak dikenalnya membuat gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali. Di hadapannya, seorang gadis berambut hitam panjang dengan bola mata lebar dan poni menutupi dahi yang mengenakan seragam pelayan tengah membalas tatapan matanya. Cukup lama mereka berpandang-pandangan sebelum akhirnya Izuku membalas sapaannya.
"O-ohayou…," ucapnya gugup.
"Ohayou," balas si pelayan sekali lagi, "saya harap tidur Anda semalam cukup nyenyak, Midoriya-san."
Mengangguk dengan gugup, Izuku kembali berkata, "Y-ya, terima kasih."
Si pelayan pun mengangguk singkat sebelum berkata, "Ngomong-ngomong, sarapan sudah tersedia. Apa Anda mau mencicipinya dahulu?"
"A… eh…"
"Atau Anda mau berkeliling dulu?"
"I-itu…," ucap gadis yang diberi pertanyaan bertubi-tubi itu, "b-bagaimana dengan Katsuki?"
"Bakugou-san sepertinya masih berada di ruang keluarga." Gadis berambut hitam itu menjawab. "Ah, maaf lupa memperkenalkan diri. Saya Asui Tsuyu, pelayan yang bertugas mengurus villa ini."
"O-oh, salam kenal, Tsuyu-san," jawab Izuku sambil membungkukkan kepalanya. "Ng, namaku… "
"Bakugou-san sudah menceritakan garis besarnya pada saya," potong si pelayan sebelum Izuku menyebutkan namanya. "Anda kehilangan ingatan dan tidak dapat mengingat siapa diri Anda."
Izuku kembali mengangguk mendengar penjelasan si pelayan. "Tsuyu-san…"
"Tsuyu saja cukup," jawab gadis yang sepertinya sebaya dengannya itu. "Tidak perlu sungkan pada saya, selama Anda di sini, Anda dan Bakugou-san adalah majikan saya. Jangan ragu-ragu untuk memanggil apabila Anda membutuhkan bantuan."
"Y-ya," jawab Izuku masih sedikit canggung. "Aku… akan memanggilmu bila membutuhkan sesuatu."
Gadis pelayan itu pun menunjukkan seulas senyum di hadapannya dan berkata, "Senang mendengarnya. Kuharap Anda kerasan selama berada di Villa ini."
Membalas senyumannya Izuku pun berkata, "Terima kasih."
Si pelayan mengangguk singkat. Menyadari bahwa tak ada lagi yang ingin disampaikannya, ia pun berkata, "Kalau begitu, saya permisi dulu."
Sekali lagi Izuku mengangguk dan pelayan berambut hitam yang mengenakan rok panjang hingga semata kaki itu pun berlalu meninggalkannya. Izuku masih sempat mengamati sosoknya hingga si pelayan menghilang di balik tikungan. Begitu pelayan sudah tak tampak lagi sosoknya, barulah ia kembali melangkahkan kakinya di koridor.
Dengan langkah pelan, gadis itu menyusuri koridor hingga menemukan anak tangga yang menuju ke ruang keluarga. Namun bukannya langsung menuruninya, gadis itu malah berdiri sejenak di puncak anak tangga dan mencari-cari sosok yang dibicarakannya dengan si pelayan. Ketika ia menemukan rambut lancip yang mencuat dari balik sofa, barulah ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
Sembari memegangi handrail, Izuku menuruni anak tangga hingga tiba di ruang keluarga dan berjalan mendekat pada sofa. Jejak langkahnya meninggalkan bunyi berderit pelan pada parquette walnut di belakangnya, namun sosok yang duduk di sofa itu tak kunjung menoleh. Penasaran, Izuku pun mengendap-endap hingga akhirnya tiba di hadapan sosok tersebut.
Masih mengenakan kaus merah berkerah V yang sama dengan yang dilihatnya semalam, Bakugou Katsuki terduduk di sofa dengan sebuah televisi yang masih menyala. Dengan mata terpejam sementara kepala disandarkan miring pada lengan sofa, pemuda itu terlelap hingga tidak menyadari kehadiran Izuku. Hal ini membuat si gadis mengangkat alis karena biasanya pemuda itu selalu lebih dulu terbangun darinya.
"Katsuki?"
Tidak ada gerakan. Kedua kelopak mata si pemuda tetap terpejam sekalipun gadis itu sudah memanggilnya. Namun, bukan Izuku namanya kalau ia menyerah setelah sekali mencoba. Kali ini, gadis itu pun memanggilnya sekali lagi dengan suara lebih keras.
"Katsuki..?"
Izuku menunggu, tapi hasilnya tetap nihil. Katsuki masih terlelap di atas sofa sekalipun suaranya sudah jauh lebih keras dibandingkan suara televisi. Bila demikian lelapnya pemuda itu tidur, Izuku ragu bahwa pemuda itu akan terbangun dalam waktu dekat.
'Mungkin Katsuki kelelahan,' pikirnya ketika melihat pemuda itu tak juga terbangun. Gadis itu pun akhirnya mengambil tempat di sampingnya dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Begitu sudah duduk dengan nyaman, gadis itu pun menoleh ke samping dan mengamati pemuda berambut runcing yang tengah memejamkan matanya.
Seolah menyadari bahwa dirinya tengah diamati, pemuda yang masih terlelap itu tiba-tiba mengerutkan dahinya. Sikapnya membuat si gadis yang asyik mengamatinya pun mengangkat alis keheranan. Ia bingung karena melihat kerutan diiringi dengan ekspresi kesakitan yang begitu gamblang di wajah si pemuda. Karenanya, ia pun mencoba menyentuhkan telunjuknya pada dahi pemuda itu, berharap dengan demikian ia dapat menghilangkan kerutan di dahi si pemuda.
Selama beberapa saat gadis itu bertahan dan menyentuhkan jarinya, namun kerutan di dahi pemuda itu tak kunjung lenyap. Dahinya pun ikut berkerut dan kembali memandangi si pemuda dengan bingung. Bahkan satu telapak tangannya sudah disentuhkan pada dahi si pemuda, sementara telapak tangan yang lain berada di dahinya sendiri, berharap dengan demikian ia dapat menemukan jawabannya. Namun bukan itu jawabannya, pemuda itu tidak demam.
Izuku pun bingung.
Kalau bukan demam, lalu apa? Kenapa dahi pemuda ini tetap berkerut dan ekspresinya seperti orang kesakitan? Apakah pemuda ini tengah bermimpi buruk? Atau jangan-jangan ada penyakit lain yang tak diketahuinya?
"Deku…"
Manik zamrud Izuku melebar mendengar ucapan yang meluncur dari bibir pemuda itu. Walaupun tidak ingat, entah kenapa kata itu sedikit familiar di benaknya. Entah di mana, ia pernah mendengar kata itu.
"Jangan pergi, Deku…"
Nama orang-kah itu?
"Jangan…"
Hatinya mencelos dan ia ingin bertanya. Siapa itu Deku? Siapa yang meninggalkan pemuda ini hingga membuatnya berekspresi kesakitan seperti itu?
"Kumohon…"
Kenapa… pemuda ini memohon pada 'Deku' itu untuk tidak meninggalkannya? Memangnya… 'Deku' itu siapa? Kenapa nama itu meluncur dari bibir suaminya dan bukan namanya?
Izuku mengerutkan dahinya dan ia menundukkan kepala. Entah mengapa, sedikit kekecewaan kembali mampir di wajahnya. Terkadang saat bersama pemuda ini, perasaan itu menyeruak tanpa bisa ia kendalikan walaupun pemuda ini sudah berusaha yang terbaik untuk dirinya.
Kali ini pun begitu.
Ia tahu pemuda ini punya perasaan yang besar padanya. Ia tahu pemuda ini sangat memerhatikannya lebih dari apa pun dan ia pikir, mungkin karena orang ini adalah suaminya. Makanya ia tak mau banyak berpikir waktu itu.
Namun ia tak mengerti.
Kenapa terkadang ada kesedihan yang muncul setiap kali Izuku menelusuri manik merah delima itu? Kenapa terkadang kedua manik itu beralih darinya dan kenapa terkadang pemuda itu menghindarinya dibanding memilih untuk berada di sampingnya? Bukankah… pemuda ini adalah suaminya? Kenapa… pemuda ini malah menjauhinya?
Apakah… karena 'Deku' itu? Apakah sebetulnya… bukan dirinyalah yang dilihat oleh pemuda itu? Apakah jangan-jangan 'Deku' lah yang diinginkan pemuda itu dan bukan dirinya?
Ah! Kalau begitu, Izuku bisa mengerti mengapa manik semerah delima itu terkadang menyerukan kesedihan saat ia menatapnya. Ia mengerti kenapa pemuda ini terkadang berkesan menghindarinya dan menjaga jarak sekalipun mereka adalah suami istri. Sekarang, Izuku mengerti itu.
Karena dirinya bukan 'Deku'. Karena dia 'Izuku'. Karena dia bukan istrinya, dia….
"Izuku…," pemuda itu kembali berkata, "Izuku…"
Manik hijau zamrud Izuku melebar dan menatap pemuda yang masih memejamkan matanya itu. Sesuatu yang basah mengalir dari pelupuk mata si pemuda, sehingga ia menyentuhkan tangan dan menghapusnya. Untuk sesaat semua kekhawatirannya lenyap dan ia menunggu, berharap untuk mendengar namanya disebut sekali lagi.
Dan harapannya pun terkabul saat itu juga.
"Jangan pergi… Izuku…"
.
.
.
Bagi Katsuki, gadis itulah yang lebih dulu menyukainya. Gadis itu lebih dulu menyatakan perasaan padanya dan ia hanya menerima perasaan gadis itu. Berarti seharusnya si gadis tetap menyukainya dan tidak berpindah pada orang lain 'kan?
Tapi kenapa? Kenapa ketika Katsuki mengatakan bahwa ia tidak suka gadis itu bersama dengan pemuda lain, atau setiap kali Katsuki marah ketika pemuda lain mengajaknya bicara, gadis itu menunjukkan wajah sedih? Kenapa jadi Katsuki yang salah padahal gadis itulah yang mengkhianatinya? Kenapa gadis itu yang meninggalkannya padahal gadis itulah yang lebih dulu mencintainya?
Katsuki tidak mengerti.
Salahkah ia bila ingin mempertahankan miliknya? Salahkah ia bila menjaga kepunyaannya? Salahkah ia bila terpaksa menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkan gadis itu? Salahkah ia bila ia membuat gadis itu hanya melihat padanya seorang?
Tidak. Menurut Katsuki tindakannya sudah benar. Gadis itulah yang menyukainya duluan jadi secara otomatis gadis itu mengakui kepemilikannya atas gadis itu. Justru gadis itulah yang salah karena mengkhianati Katsuki dan berpaling darinya. Gadis itulah yang salah karena meninggalkannya.
Tapi… entah sejak kapan Katsuki mulai ragu.
Sungguhkah ia punya hak atas gadis itu? Sungguhkah ia berhak menjauhkannya dari pemuda lain dan melarangnya bicara dengan mereka? Sungguhkah ia layak mengklaim dirinya sebagai pemilik gadis itu dan membatasi semua aktivitasnya?
Tidak. Mungkin ia tidak berhak. Justru yang dilakukannya malah membuatnya semakin salah. Justru karena itulah mimpi buruk Katsuki dimulai.
Sebagai akibatnya, manik hijau zamrud yang sebelumnya bersinar ketika menatapnya kini mulai kehilangan cahayanya seiring dengan waktu berlalu. Senyum merekah yang biasanya dilihat Katsuki setiap kali mereka bertemu mulai digantikan dengan bibir yang mengerut menahan amarah. Perkataan manja yang biasanya Katsuki dengar berubah menjadi ucapan singkat yang hanya diungkapkan ketika ia bertanya. Semua hal indah yang sebelumnya Katsuki rasakan berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui hidupnya dan semakin parah setiap harinya.
Entah sejak kapan mimpi buruk itu membuat Katsuki terbangun di tengah malam dan menemukan pipinya basah sementara mulutnya menjerit-jerit memanggil nama gadis itu. Entah sudah berapa banyak pil penenang yang harus ia telan setiap kali ia teringat akan mimpi buruk itu. Mimpi buruk yang membuatnya takut untuk memejamkan mata dan menemukan gadis itu di dalam mimpinya.
Takut. Katsuki sangat takut. Ia tidak mau lagi melihat mimpi buruk yang sama. Ia tidak mau lagi terbangun dengan ketakutan setiap kalinya. Ia ingin pergi. Ia ingin melarikan diri.
Tapi Katsuki tahu, ia tidak bisa.
Ia tahu, seharusnya ia tidak jatuh cinta pada gadis yang memiliki manik hijau zamrud itu. Ia tahu seharusnya ia membiarkan saja gadis berambut hitam dengan wajah berbintik-bintik itu didekati pemuda lain dan bukan mengekangnya. Seharusnya ia tidak peduli pada gadis itu, tapi ia tahu lebih baik dari siapapun bahwa ia tidak mungkin melakukannya.
Ia sudah terlanjur terpesona pada senyuman secerah matahari yang pernah dilihatnya. Terlanjur menyukai semua kecerobohan dan terlanjur mendambakan semua tutur kata manja yang pernah diucapkan gadis itu. Makanya ia berusaha bertahan, berusaha mencari sekalipun semua hal tersebut sudah tak bersisa lagi untuknya. Gadis yang ia cintai, sudah bukan gadis yang dulu mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, ia takkan bersikap acuh saat melihat senyum yang ditunjukkan padanya. Takkan mengabaikan ketika tutur kata yang manja itu memanggil namanya, juga takkan melayangkan tangannya setiap kali mereka beradu pendapat.
Ia akan menjaga dan memperhatikan gadis itu. Ia akan memberikan bunga setiap hari bila gadis itu menginginkannya. Meluangkan waktunya untuk bertemu gadis itu setiap harinya, membelikan apa pun yang gadis itu sukai juga mengantarkan gadis itu ke mana pun yang ia inginkan. Ia akan melakukan semuanya sebelum segalanya menjadi tak berarti lagi, sebelum ia kehilangan gadis itu.
"Maaf, Kacchan…"
'Tidak, tidak Deku...'
"Maaf…"
'Tidak! Jangan begini! Kumohon! Satu kesempatan lagi. Berikan aku satu kesempatan lagi…'
"Maaf…"
Katsuki membuka matanya secara tiba-tiba. Napasnya terengah-engah bagaikan orang yang habis berolahraga berat. Tangannya dingin sementara keringat mengalir membasahi dahinya dan mulutnya terbuka seolah tengah mengucapkan sesuatu.
Telinganya menangkap suara televisi yang menyala di ruang keluarga, sementara matanya menangkap pemandangan hijau membentang yang terlihat dari sofa yang didudukinya. Menyadari di mana dirinya berada, berangsur-angsur ia pun mulai mengendalikan diri dan mengatur napasnya.
Selama ia mengatur napas, Katsuki merasakan nyeri yang familiar pada bahu kirinya. Awalnya ia mencoba mengabaikannya, namun akhirnya Katsuki pun penasaran sehingga menggerakkan kepalanya ke bahu kiri yang menyebabkan rasa ngilu itu. Dan ia pun terkejut ketika menemukan sumber rasa sakit itu.
Katsuki bingung. Bukankah gadis itu menjauhinya? Bukankah gadis itu melarikan diri darinya dan pergi bersama pemuda lain? Bukankah gadis ini yang tidak memberikan kesempatan pada Katsuki untuk mengulang semuanya lagi? Tapi kenapa gadis ini tahu-tahu ada di sampingnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Katsuki? Kenapa…
Oh! Tunggu! Tunggu dulu! Nyaris saja ia lupa.
Gadis ini 'kan kehilangan seluruh ingatannya. Memorinya lenyap seluruhnya dan tak ada satu pun yang dapat diingatnya. Bagi si gadis, dia adalah suaminya dan karena itu gadis ini bisa berada di sampingnya. Karena gadis ini tidak dapat mengingatnya maupun semua perbuatan yang pernah dilakukannya.
Tersenyum puas, Katsuki pun menyentuhkan jemarinya pada pipi gadis itu dan mengusapnya lembut.
"Izuku…," ucapnya sambil merengkuh kepala gadis itu dalam pelukannya, seolah tak ingin melepaskannya. Biarlah selamanya mereka seperti ini. Biarlah selamanya gadis itu kehilangan ingatannya. Biarlah…
Lamunannya buyar ketika mendengar suara lemah memanggil namanya. Tersentak, Katsuki pun mengangkat kepalanya sedikit dan menemukan kedua manik sehijau zamrud tengah menatapnya. Masih terlihat mengantuk sang pemilik pun kembali berkata,
"Kat… suki?"
Alis pemuda itu melengkung menunjukkan senyumannya ketika namanya disebut. Dengan pandangan yang masih tertuju pada gadis itu, Katsuki pun berkata, "Ohayou, Izuku…"
Mendengar sapaan selamat pagi pemuda itu, senyum merekah di wajah Izuku. Untuk sesaat, lengkungan yang manis itu bertahan di bibirnya sementara ia mengucapkan salam yang sama.
"Katsuki tidur nyenyak?"
Alis pemuda itu kembali terangkat mendengar pertanyaannya. Sembari menguap, pemuda itu pun berkata, "Mungkin?"
"Mungkin?" gadis itu mengulangi keragu-raguan Katsuki. Selama sesaat gadis itu terdiam, sebelum kembali berkata, "Apa Katsuki bermimpi buruk?"
Si pemuda terdiam sebentar dan akhirnya mengangguk. "Ya."
Gadis di sampingnya mengerjapkan mata selama beberapa saat sebelum berkata, "Mimpinya… seperti apa?"
Seperti sebelum-sebelumnya Katsuki lebih dulu diam sebelum bicara. Hanya saja, kali ini durasinya sedikit lebih panjang hingga membuat si gadis merasa telah salah mengajukan pertanyaan. Tapi pada akhirnya, pemuda itu membuka mulutnya dan berkata, "Aku bermimpi… orang yang kucintai meninggalkanku."
"Orang yang…", ulang gadis itu, "Katsuki cintai?"
Pemuda yang ditanyainya itu hanya mengangguk, namun tak berniat mengatakan apa pun lagi. Bahkan pemuda itu sudah beranjak dari sofa yang ditempatinya dan akan berjalan menuju ke tangga. Sebelum itu terjadi, Izuku pun langsung membulatkan tekadnya dan mengejar pemuda itu.
Tangannya berhasil meraih pemuda itu dan menahannya di tempat. Ketika pandangan si pemuda tertuju padanya, ia pun berkata, "Katsuki!"
Manik merah Katsuki terkejut ketika melihat gadis itu mengejarnya dan memegangi tangannya. Ia tak menyangka bahwa gadis itu akan menanggapi serius ucapannya, sehingga alisnya kembali berkerut meminta agar si gadis melanjutkan ucapan.
Dan sepertinya gadis itu paham karena tiba-tiba mulutnya terbuka dan ia berkata, "Kupikir… itu takkan terjadi."
"Ng?"
"Orang yang Katsuki cintai," ujar gadis itu sambil memegangi tangannya, "takkan meninggalkan Katsuki. Aku… yakin."
Ucapan Izuku membuat pemuda itu tertegun di tempat, tak dapat berkata-kata. Selama beberapa saat, manik semerah delima itu hanya menatapnya, seolah hendak mengucapkan ribuan kata namun tak ada sepatah pun yang bisa didengarnya. Izuku hanya diizinkan menduga-duga melalui pantulan manik semerah delima yang kelopaknya sedikit bergetar saat menatapnya.
"Benarkah?"
Izuku mengerjapkan matanya mendengar perkataan itu dan ia menganggukkan kepalanya.
Ketika ia melakukannya, pemuda yang berdiri di hadapannya itu memberinya tatapan lembut dengan senyum yang menawan. Untuk pertama kalinya, jantungnya berdegup kencang saat manik hijau zamrudnya bertemu dengan manik merah si pemuda.
"Syukurlah," itu sambil menundukkan kepala dan menyentuhkan dahinya pada dahi Izuku. "Syukurlah…"
"Kat… suki?"
"Kurasa," ucap pemuda itu, "aku takkan bermimpi buruk lagi mulai sekarang."
Sesaat Izuku mengerjap-ngerjapkan matanya dan ia pun tersenyum ketika memahami ucapannya. Gadis itu sudah hendak melingkarkan kedua tangannya di tubuh pemuda itu ketika rasa sakit yang membutakan menyerang kepalanya. Hal itu membuatnya terdiam selama beberapa saat sementara jemarinya memijat-mijat kepalanya.
"Izuku?"
Izuku mengerjap-ngerjapkan mata. Rasa sakit yang datang tiba-tiba itu sudah lenyap dan sekarang ia tak merasakan apa pun.
"Ada apa?"
Mendengar pertanyaan Katsuki, gadis itu pun menggelengkan kepalanya. Sambil menunjukkan senyumnya yang biasa, gadis itu pun berkata, "Tidak. Tidak ada apa-apa."
"Kau yakin?"
Gadis itu mengangguk dan Katsuki pun tidak bertanya lagi. Pemuda berambut lancip itu menjauhkan dirinya sedikit dari si gadis dan berbalik untuk merenggangkan tubuhnya. Selama ia melakukannya, gadis itu memicingkan mata dan memijat-mijat dahinya.
"Aneh," gumam gadis itu, "kenapa tadi aku ingin memanggilnya 'Kacchan'?"
.
.
.
(t.b.c)
Author's note :
Holla all, weekend sudah nyaris berakhir, untunglah nggak ketinggalan ngapdet XD
Aniway :
Fujoshi desu XD : baru mau memperingatkan, eh uda telat, keburu diledakin duluan :P Dibilang orang sabar, sepertinya lebih ke menyesal kayaknya, Fujocchi. Makanya sekarang Kacchan berniat berubah #ngeles #oi
Btw, berhubung kamu dan beberapa review yang masuk juga request Shouto, akhirnya saya munculin doi :P dan kalo secara materi, ada dua sudut pandang buat ngeliat mereka. Kalau dari total jumlah kekayaan sepertinya Shouto yang menang karena ada bekingan Om Endeavor. Tapi kalau secara individual, Kacchan jauh lebih banyak duitnya karena doi cari sendiri sampe akhirnya berhasil dapet jabatan tinggi. Kamu pilih yang mana hayoh? #samamatrenya :P
Dan, ehem, Izuku dibilang yatim piatu cuman supaya Kacchan gampang nyuliknya sih :P kalo masih ada mami papinya, susah dong culik anak orang XD
Hikaru Rikou : eh? Oh? Silakan! #nyodorintisu… ane…nggak berniat bikin baper, serius, tapi… kayaknya malah makin baper deh, sekarang juga ane jadi baper….TTATT moga2 ke depannya kita maki baper… #eh?
Lol, siap2 perang dunia ketiga kalo mereka bertiga disatuin di satu tempat.
Miharu348 : hm… sepertinya belum dalam waktu dekat :P baru hari keenam, Todo uda muncul, nggak sampe 90 hari dong :P
Fajrikyoya : hidup fujoshi2 matre XD Cheers! Btw, sama nih, saya juga nungguin Todo muncul, tapi ini masih hari keenam TTATT seperti kata pepatah : jalan masih panjang :P
Deablue : Holla Dea, salam kenal :D menjawab pertanyaan kamu, mungkin… karena akhirnya rada Tododeku kamu berhasil mencapai ff ini setelah sekian lama ff ini bersembunyi?
Nah, seperti yang kamu bilang, Izuku mungkin memang sedikit tertekan dan… bingung sebenernya. Kalo jadi Izuku, tiba-tiba ilang ingetan terus ada cowok ngaku2 suami, tapi si suami kayak agak menjaga jarak, kira-kira begitu perasaan dia sekarang. Nggak ngerti, tapi dia berusaha nyari tahu, walopun terkadang doi jadi agak tertekan :D Sementara Baku sendiri, lebih ke menyesal sampe dia berbuat hal-hal yang bahkan nggak kayak dirinya :P
kyunauzunami : holla Kyu, kadang di ff ini saya bingung ngebedain pendukung Bakudeku dan Tododeku, tapi I love you all soalnya saya juga pecinta dua2nya :P dan… berhubung Todo masih lama munculnya, mari kita berbaper ria ama Kacchan dulu ya? #nasibnyadigantung #authordiledakinamakingExplodo
: lol, holla Zzich (semoga panggilannya bener, ya? Atau ada nama panggilan yang lebih diinginkan?) Iyah, Kacchan melembek, dia ngalah, walaupun nggak tahu bertahan sampe kapan dia bisa ngalah :P
Wkwkwk, Todo masih ditahan ama Momo-san di USA sana, belom tau kapan baliknya. Kalau balik, Om Enji yang ngamuk dan bisa-bisa Todo dicoret dari ahli waris. Kan bahaya itu? Bagaimana kelangsungan hidup Nak Izuku, nanti? #dasarfujomatre :P
And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
Sedikit tambahan, karena saya uda janji mau munculin request dari Kyuu, jadi saya coba buat sedikit 'behind the scene' nya 90 Days. Tapi sepertinya… ah… silakan dinikmati sajalah :P
Omake :
K (katsuki) : pemuda tampan, sukses, pemilik posisi tinggi di perusahaan, tapi masih kurang dari si Halfie?
Ar ( Author) : err… ya?
K: ganti skenarionya!
Ar : t-tapi...
S (Shouto) : pewaris Endeavor Group, perusahaan bernilai triliunan, tapi tidak bisa apa-apa tanpa si Tua Bangka itu?
Ar : tua Bangka itu maksudnya…?
S : ganti!
Ar : ta…tapi…
I (Izuku) : gadis kehilangan ingatan, mantan pacar Bakugou Katsuki dan disebut-sebut sebagai tunangan pewaris Endeavor Group…
Ar: Ya, ya Izuku-san. Tidak perlu diganti 'kan? Peranmu sudah sesuai 'kan? Sudah cocok 'kan?
I : Author-san…
Ar : Ya?
I : aku ini laki-laki, kau tahu?
Ar : Lalu?
(hening sesaat)
I : ... Detroit…
K :… Howitzer…
S : … Ice…
Ar: (lari pake kecepatan cahaya ga pake ngelirik ke belakang lagi dan nggak mau tau di belakang ada apa)
