.
.
.
Boku no Hero Academia not mine
90 days by cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
.
.
.
Enjoy!
Chapter 5: Special Place
Day 9:
Shizuoka, Japan
Sejak dulu, Katsuki tidak pernah memiliki perasaan apa pun pada gadis itu. Gadis berambut hijau dengan manik hijau zamrud itu hanyalah tetangga dan teman masa kecilnya. Bukan siapa-siapa dan takkan jadi siapa-siapa.
Hanya saja, ibu Katsuki menaruh perhatian pada gadis yang hanya dibesarkan oleh ayah dan neneknya itu. Sang ibu kerap kali mengajak anak itu bermain di rumah mereka atau memberikannya makanan bagi gadis kecil itu. Saat ulang tahun memberikan hadiah, membelikannya permen atau menghiburnya saat sedang sedih. Kadang-kadang Katsuki sampai bingung siapa anak ibunya sebenarnya. Pasalnya, ia yang anak ibunya saja tidak pernah disayang sampai seperti itu.
Tapi walaupun Katsuki sadar ibunya begitu dekat dengan gadis itu, tidak pernah sekalipun perasaannya berubah menjadi sesuatu yang lain. Bagi Katsuki anak itu hanya teman main, bukan sesuatu yang akan berubah menjadi kekasih. Makanya ia tak pernah membayangkan hari di mana gadis itu menyatakan perasaan padanya.
"Kacchan, ini minumnya," kata gadis itu sambil menyerahkan minuman pada sang Ace sepakbola itu. "Ah, handuknya juga..."
"Minggir!" Katsuki berkata sambil menyingkirkan gadis berambut hijau favorit Ibunya. "Aku tidak butuh!"
"Tapi Kacchan habis pertandingan 'kan haus, juga..."
"Buatku saja, Midoriya!" Pemuda lain yang juga salah satu anggota klub sepakbola mengambil minuman yang ada di tangan si gadis dan mengguncang isinya. "Aku jauh lebih kehausan dari pada Ace kita."
"S-Shinsou-kun," kata gadis itu dengan terbata-bata. "Tapi ini milik Kacchan, punyamu sudah kuletakkan di bangku…"
"Tak apa 'kan?" Shinsou berkata lagi sambil mengangkat botol yang direbutnya dari tangan Midoriya. "Bakugou sepertinya tidak membutuhkannya."
"T-tapi..."
"Minggir kau, Shinsou!" Bakugou berkata sambil mendorong wajah pemuda yang tengah merangkul manajer tim mereka. "Ini milikku!"
"Hm? Memangnya ada namamu di sana?"
"Tidak, tapi manajer sudah bilang begitu," jawabnya sambil menenggak isi minuman tersebut sampai habis di hadapan Shinsou. Ia juga langsung membuangnya di tong sampah dan sudah hendak berlalu dari sana. Namun Katsuki menghentikan langkahnya dan kembali berbalik, "Kenapa kau diam saja, Deku?"
"O-Oh!" Midoriya atau yang dipanggilnya Deku bergegas menyusulnya, "T-Tunggu aku, Kacchan!"
Katsuki mendecak sedikit mendengar perkataan gadis itu. Sembari menggerutu ia menunggu hingga gadis itu tiba di sisinya, baru ia mulai melangkah. Mereka terus berjalan dalam diam, hingga akhirnya tiba di dekat keran air.
"Dasar deku!" Katsuki berkata sambil menjalankan keran. "Kalau kau tidak mau berada di dekatnya, katakan dengan tegas! Jangan ragu-ragu begitu! Makanya ia selalu mengambil kesempatan 'kan?"
"T-Tapi Kacchan.."
"Kau itu tidak pernah jelas suka atau tidak," lanjut pemuda berambut ash blonde itu, "makanya kau sering sekali didekati olehnya. Seharusnya kau lebih jelas mengatakan suka atau tidak! Bukan gugup seperti cacing begini!"
Gadis itu tidak langsung berkomentar. Ia menundukkan kepalanya hingga Katsuki yang tengah mencuci muka pun mengangkat kepala untuk melihatnya. Baru saja Katsuki ingin menegur, gadis itu berkata, "Jadi aku boleh mengatakannya?"
"Hah?"
"Suka," ucap gadis yang merupakan teman sepermainannya sedari ia masih kanak-kanak, "a-aku boleh mengatakannya?"
"Hah?" Katsuki berkata sembari menyipitkan mata. "Ya, katakan saja! Bukankah sudah kubilang bahwa…"
"Aku," ujar gadis itu sembari menatap Katsuki dengan manik hijau zamrud dan pipi yang sedikit kemerahan, "... sangat menyukai, Kacchan... Sangat suka."
Katsuki yang tengah memegang kran sampai tak bisa berkata-kata mendengar ucapannya. Manik merah delima pemuda itu melebar sementara tangannya yang tengah memegangi kran sampai kaku di tempat. Beberapa saat lamanya ia mematung hingga akhirnya bibirnya bergetar dan memperdengarkan tawa sinis.
"Apa aku tidak salah dengar?" Ia berkata dengan nada mencemooh. "Kau menyukaiku?"
Manik hijau zamrud itu awalnya tertuju padanya, namun cara bicara Katsuki membuat gadis itu kehilangan nyali. Memalingkan wajah, si gadis terus tertunduk dan mengalihkan pandangan. Bahkan ia hanya dapat mengangguk kuat-kuat sambil mengangkat sedikit kepalanya ketika menjawab pertanyaan Katsuki.
"I-iya," jawab si gadis dengan terbata-bata dan wajah yang merah padam. "Aku... suka Kacchan. Sangat... suka."
Pengulangan kalimat itu membuat Katsuki kembali mendenguskan napas. Ia menatap gadis yang mengenakan seragam olahraga di depannya itu, menatapnya dari ujung kepala dan ujung kaki lalu berkata, "Lalu? Kau berharap apa? Kau berharap kita pacaran?"
"E-eh... itu..."
"Mana mungkin!" Katsuki dengan cepat menjawab sendiri pertanyaannya. "Walaupun kau gadis terakhir di Bumi ini pun, aku takkan berpacaran denganmu, Deku."
Manik hijau zamrud teman kanak-kanaknya itu terkejut ketika mendengarnya. Ia hendak mengucapkan sesuatu namun dengan tiba-tiba gadis itu mengatupkan kembali mulutnya. Pandangannya beralih dan gadis itu pun menunduk, tidak ingin membantah.
"Hei, Deku!" Katsuki kembali memanggil dan mendekat pada gadis itu, "Jangan bermimpi! Jangan kira karena selama ini kau bisa mengobrol denganku, maka kau punya kesempatan!"
Airmata si gadis nyaris mengalir turun dari pipi, namun dengan susah payah ia menahannya. Ia tetap bertahan di tempat, mendengarkan seluruh ucapan pemuda yang disukainya itu. Ia tahu pemuda itu memang bermulut kasar dan kejam, tapi berulang kali ia menguatkan diri sendiri bahwa Katsuki hanya malu untuk bersikap jujur. Namun biarpun sudah berpikir seperti itu, kenyataannya tidak semudah yang ia pikirkan. Jujur saja, saat ini ia sama sekali tidak merasa bahwa pemuda itu hanya malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Baginya ini seperti perasaan pemuda itu yang sesungguhnya.
"K-Kacchan...," katanya pelan, berusaha agar tidak mengeluarkan isak tangis. "K-Kejam..."
"Hah?" Pemuda itu membalasnya dengan tidak peduli. "Kejam? Aku 'kan hanya mengatakan yang sebenarnya. Memangnya kalau kau menyukaiku, lantas aku pun harus menyukaimu?"
"T-Tidak, t-tapi... kau 'kan bisa mengatakannya baik-baik?"
"Mengatakan baik-baik?" Katsuki mengulangi ucapannya. "Untuk? Agar kau semakin jatuh hati padaku?"
"I-itu..."
"Merepotkan!" Pemuda berambut ashblonde itu mendecak kesal sambil berjalan melewati si gadis. "Lebih baik aku mengatakan tidak dari awal sebelum kau terlanjur berharap macam-macam padaku!"
"A-aku tidak berharap macam-macam!" Gadis itu berkata dengan suara mencicit. "Aku... aku hanya ingin Kacchan tahu, bahwa aku menyukai Kacchan. Hanya itu..."
"Benar hanya itu?" Pemuda itu membalas ucapannya dengan sinis. "Kau yakin tidak berharap apa pun setelahnya?"
"T-tidak..."
"Kalau begitu kenapa kau mengatakannya padaku?" Pemuda itu bertanya. "Kalau kau tidak mengharapkan jawaban apa pun, seharusnya kau tetap merahasiakan perasaanmu. Tidak perlu memberitahuku, 'kan?"
"Bukankah... Kacchan yang bilang untuk menyatakan dengan tegas apa yang kusukai dan tidak?" Gadis itu kembali bertanya. "Aku sedang mengatakannya."
"Tapi bukan padaku!" Pemuda itu balas membentaknya. "Katakan pada si Shinsou itu! Bukan aku!"
"Tapi... yang kusukai itu Kacchan," ujar gadis itu dengan suara yang makin pelan. "Bukan... Shinsou-kun..."
Kembali mendecak sebal, Katsuki akhirnya bertanya, "Suka, suka, memangnya suka yang kau sukai itu seperti apa sih?"
Baru saja gadis itu hendak menjelaskan, salah satu anggota tim yang lain mendekati sang Ace. Tidak menyadari situasi yang tengah terjadi, dengan santainya anggota tim berambut kuning cemerlang itu merangkul sahabatnya dan berkata, "Sedang apa kalian di sini? Kapten sudah memanggil daritadi lho!"
Sama-sama terkejut, namun berbeda reaksi. Katsuki mencoba menyingkirkan sahabatnya, sementara Midoriya memanggil namanya dengan sopan.
"Kaminari-kun..."
Pemuda yang dipanggil Kaminari itu menunjukkan cengirannya sedikit ketika mendengar namanya disebut. Ia sudah hentak melontarkan lelucon bodoh ketika melihat kejanggalan di wajah sang manajer. Menahan lidahnya, pemuda itu malah berkata, "Kau kenapa, Midoriya? Matamu merah."
"O-oh?" Midoriya menjawab sambil mengerjapkan matanya, tindakan yang membuat Kaminari semakin curiga. "Aku baik-baik saja."
"Oh ya?" Pemuda yang baru datang itu mendekat dengan tatapan menyelidik. Satu tangannya diletakkan di bawah dagu dan ia mendekat pada gadis itu, "Kau sepertinya habis menangis."
"T-tidak," gadis itu berusaha berpaling dari pemuda berambut kuning cemerlang itu, "hanya perasaanmu saja, Kaminari-kun."
Menggelengkan kepala, Denki berkata dengan yakin, "Tidak, aku yakin kau habis menangis."
Semakin Midoriya mengelak, pemuda yang merupakan sahabat sang Ace itu malah semakin penasaran. Ia mendekatkan diri pada gadis itu dan memicingkan mata untuk menilai. Hingga akhirnya ia mendapatkan kesimpulan dan mencoba mengutarakannya.
"Jangan-jangan Ace berkata kasar lagi,ya?"
"T-ti..."
Melihat Midoriya berusaha menutupinya, Kaminari semakin yakin dengan hipotesanya. Ia pun menyikut sahabatnya dan dengan gaya sok menasehati ia berkata, "Jangan begitu, Bakugou! Nanti lama-lama pacarmu kabur!"
"Hah?"
Satu tatapan sinis Bakugou Katsuki ditambah dengan nada menantangnya langsung menutup mulut Kaminari Denki dengan sempurna. Ia mundur perlahan sambil bersembunyi di belakang sang manajer. Bahkan pemuda itu sempat-sempatnya berbisik, "Pacarmu galak sekali."
"Pacar?" Katsuki mengulang kata-kata itu dengan sinis. "Siapa yang pacar?"
Alis Kaminari terangkat dan ia menatap sahabatnya dari balik punggung si gadis. "Bukannya kalian berdua memang berpacaran?"
"Hah?" Katsuki mendengus mendengarnya. "Apa kau buta? Memangnya aku cocok dengan gadis kutu buku ini? Mana sudi aku berpacaran dengan perempuan jelek ini?"
"Err..." Sang sahabat melirik ke arah gadis yang dijadikan tameng sementara olehnya. Melihat gadis itu tertunduk dengan bibir bergetar, pemuda berambut kuning terang itu berkata, "Kurasa Midoriya tidak seperti yang kau maksud, Bakugou."
"Hoo, menurutmu begitu?" Katsuki berkata dengan nada mencemooh. Senyum sinisnya terkembang dan sembari melangkahkan kakinya menjauh, pemuda itu berkata, "Kalau begitu kau saja yang berpacaran dengannya."
"Lho?" Kaminari bingung dan mengejar sahabatnya itu. "Tunggu, Bakugou! Kau mau ke mana? Hei!"
Mengikuti sahabatnya, Kaminari pun melangkahkan kaki untuk menyamai langkah pemuda yang sudah berjalan cukup jauh. Keduanya meninggalkan gadis berambut hijau yang masih terus menundukkan kepala sembari menggigit bibir bawahnya tanpa disadari oleh kedua pemuda itu. Bahkan gumamannya pun tak dapat lagi didengar oleh dua pemuda yang sudah berlalu darinya itu.
"Aku bodoh sekali." Gadis itu bergumam sambil menggerakkan tangannya dan menghapus airmata yang tak dapat dibendungnya lagi."Kenapa… aku menyukai orang seperti itu?"
Mengucapkannya justru membuat airmatanya kembali mengalir sehingga ia harus berupaya ekstra keras untuk menghapusnya. Namun bukannya semakin reda, airmatanya malah semakin deras jatuhnya. Lebih parahnya lagi, gadis itu merasakan tenggorokannya tercekat saat berusaha menahan tangisnya. Tak sanggup lagi, pundak mungilnya pun bergetar dan ia jatuh berlutut di samping keran. Menutup mulutnya, gadis itu berusaha agar tak ada seorang pun yang mendengar suaranya. Bersembunyi di belakang keran, gadis itu berharap agar tak ada yang menyadari kehadirannya. Walaupun pada akhirnya semua upayanya sudah terlanjur diketahui oleh dua pemuda yang sebelumnya meninggalkannya.
Menatap pemuda berambut ashblonde yang sedang menyandarkan punggung di balik dinding, Kaminari berkata, "Kau... tidak perlu bilang begitu, tahu!"
Pemuda yang diajaknya bicara hanya berkata, "Berisik!"
"Tidak perlu sampai menghinanya begitu 'kan? Dia itu teman masa kecilmu."
Katsuki mendecak dan mengacak-acak rambutnya. Ia mulai menarik punggungnya dari dinding dan berjalan menjauh. Namun perkataan Kaminari kembali menahan langkahnya.
"Dia juga bukan perempuan jelek seperti yang kau bilang," kata pemuda itu hingga membuat Katsuki melirik tajam padanya. "Banyak rekan satu tim kita yang mengincarnya, tapi mereka mengira tidak punya kesempatan karena kau selalu ada di sampingnya. Kalau mereka tahu bahwa kalian tidak ada hubungan apa-apa..."
"Hah?!"
Mendengarnya, Kaminari pun menelan ludah, namun sepertinya ia masih tidak memahami keinginan sahabatnya. "Apa sebaiknya kukatakan saja?"
"Bukan urusanku!"
"Kalau begitu, boleh kukatakan pada Shinsou?"
Manik merah membelalak dan menatapnya dengan tatapan yang seolah hendak menelannya bulat-bulat. "Kubunuh kau!"
Alis si pemuda berambut kuning pun terangkat mendengarnya. Alih-alih takut, pemuda itu malah tersenyum dan mendekati Katsuki sembari merangkulnya. Dengan senyum mengejek di wajah, Kaminari berkata, "Dasar tidak jujur!"
Kali ini Katsuki tidak menanggapinya. Ia hanya mendecakkan lidahnya sembari melangkahkan kaki. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat, pemuda berambut ash blonde itu menoleh ke belakang dan memerhatikan sosok yang bersembunyi di balik tembok keran.
Dahinya berkerut dan ekspresi matanya menunjukkan sedikit penyesalan kala itu. Namun ketika Kaminari menanyakannya, ia menggelengkan kepala dan terus berjalan. Menekan perasaannya, Katsuki berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
'Tidak apa,' batinnya sambil berusaha mengenyahkan perasaan tidak nyaman itu. 'Deku pasti tidak apa-apa. Ia sudah terbiasa mendengar kata-kata kasarku. Ia tahu, aku tidak bermaksud seperti itu, 'kan?'
Ya. Katsuki berbohong. Ia bukan tak menyukainya, ia hanya tak ingin disandingkan dengan gadis pilihan ibunya. Katakanlah itu kekanakan, tapi Katsuki tidak mau mengakui bahwa ia punya perasaan pada gadis itu. Terlebih pada teman satu tim yang setiap kali menjodoh-jodohkan mereka. Ia tak suka disamakan dengan gadis yang tak bisa melakukan apa pun itu.
Walau begitu, Katsuki sadar bahwa ia sendiri memberi perhatian lebih dari yang diakuinya pada gadis itu. Ia tahu bahwa dengan melakukannya, tempatnya akan selalu tersedia, tempat istimewa yang hanya dapat diisi olehnya. Gadis itu menyukainya dan memberinya tempat khusus yang takkan dapat direbut oleh pemuda lain. Karena itu walaupun kata-katanya kasar dan perangainya buruk, gadis itu pasti akan memaafkannya, bukan? Karena dia… istimewa bagi gadis itu.
"Ka...tsuki?"
Suara yang memanggil namanya itu membuat Katsuki tersadar dari lamunannya. Sesaat, ia mengerjapkan mata dan menatap manik hijau zamrud yang tengah diarahkan padanya. Ketika pandangan mata mereka bertemu, ia pun balas memanggil nama gadis itu.
Terlihat lemah dan rapuh, gadis itu mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya bergerak terlebih dulu dan berputar untuk menatap sekelilingnya. Manik kehijauannya berputar mengitari seluruh sudut ruangan hingga akhirnya kembali pada manik merah Katsuki. Dan ia pun berkata, "Di... mana?"
Menyentuhkan tangannya di atas tangan gadis yang masih berbaring di atas ranjang itu, Katsuki pun menjawab, "Kamarmu."
Dahi gadis berambut hijau itu berkerut mendengar pertanyaan pemuda yang duduk di pinggir ranjang. Masih tidak mengerti, gadis itu pun menggelengkan kepalanya dan kembali berkata, "Kenapa... Katsuki ada di kamarku? Apa... yang terjadi?"
"Kau jatuh pingsan," jawab pemuda itu sambil melepaskan sejenak tangan gadis itu. Satu tangannya disentuhkan ke atas dahi si gadis sementara tangannya yang lain ke dahinya sendiri. "Tidak demam, tapi sebelumnya kau memegangi kepalamu seolah kesakitan."
"O-oh," ucap gadis yang tengah berbaring itu sembari menyentuh kepalanya. Saat ini ia tak merasakan apa-apa tapi belakangan ini kepalanya sering berdenyut menyakitkan. "Lagi-lagi, ya?"
Katsuki tidak mengiyakan. Manik semerah delimanya memandangi gadis itu dengan tatapan menyelidik. Ia tahu, intensitas sakit kepala gadis itu semakin meningkat dan ia semakin cemas setiap kali sakit kepala itu terjadi. Ia khawatir.
Menyentuh kepalanya, gadis berambut hijau itu berkata, "Belakangan ini kepalaku sering sakit dan bersamaan dengan itu biasanya ada kepingan gambar yang muncul di kepalaku."
Sudah pasti inilah yang akan terjadi. Layaknya puzzle, gadis ini tengah mengumpulkan kembali kepingan ingatannya. Hanya saja, bukan ini yang diinginkan Katsuki. Ia justru berharap agar ingatan gadis itu tidak pernah kembali, agar gadis itu tak mengingat lagi dirinya yang dulu.
Namun tentu saja gadis itu tak menyadarinya. Gadis itu mengira bahwa ia mengharapkan agar ingatan gadis itu cepat kembali. Bahkan sembari memijat-mijat kepalanya, gadis itu berkata, "Maaf, Katsuki. Kalau saja... aku bisa lebih cepat mengingatmu."
Tak langsung menjawab, pemuda yang duduk di tepian ranjang itu menundukkan kepalanya dan tetap bungkam. Sikapnya rupanya cukup menarik perhatian Izuku, sehingga gadis itu mengangkat alis dan menggerakkan kepalanya. Saat itu barulah Katsuki kembali bergerak dan menggelengkan kepalanya.
Tangannya menyentuh pipi gadis itu dan berkata, "Sudah kukatakan sebelumnya, kau tidak perlu terburu-buru mengingatku."
Gadis itu mengerjapkan mata, namun dengan segera ia menggelengkan kepala. "Katsuki terlalu memanjakanku."
"Bukan itu, aku..."
"Padahal punya perasaan sebesar itu…" kata si gadis sambil menggelengkan kepalanya, "melihatku seperti ini pasti menyakitkan untuk Katsuki."
Tidak. Sama sekali tidak. Ia justru berharap gadis itu tidak mengingatnya. Ia berharap gadis itu melupakan masa lalunya.
"Makanya, kuharap ingatanku segera kembali," lanjut si gadis, "agar aku bisa cepat-cepat membalas perasaan Katsuki."
Mendengar perkataan gadis di hadapannya, Katsuki tidak dapat menahan diri. Kelopak matanya bergetar sementara ia menatap gadis itu. Bibirnya berkedut sedikit dan alisnya menekuk sementara ingatannya memutar kembali kenangan saat gadis itu mengungkapkan perasaannya padanya.
"Perasaan…," ucap pemuda itu sembari menelan ludah dan tenggorokannya tercekat, "yang besar?"
Izuku mengerjapkan matanya. "Ya?"
Katsuki tidak meneruskan lagi ucapannya. Ia hanya menatap Izuku sementara tangannya menyentuh wajah gadis itu. Ia menyentuh pipi si gadis itu dan membingkai wajahnya dengan kedua tangan.
Gadis ini, gadis yang lebih dulu menawarkannya perasaan yang besar. Gadis yang dulu telah menawarkan tempat yang spesial, yang hanya dapat diisi olehnya. Tapi apa yang ia lakukan waktu itu?
"I...zuku..."
Walaupun kau gadis terakhir di Bumi ini pun, aku takkan berpacaran denganmu, Deku."
Betapa bodohnya dia.
"Kejam? Aku 'kan hanya mengatakan yang sebenarnya. Memangnya kalau kau menyukaiku, lantas aku pun harus menyukaimu?"
Betapa bebalnya dia.
"Apa kau buta? Memangnya aku cocok dengan gadis kutu buku ini? Mana sudi aku berpacaran dengan perempuan jelek ini?"
Kenapa… ia mengatakan hal seperti itu hanya untuk menutupi egonya sendiri? Kenapa ia tidak bisa jujur pada perasaannya sendiri? Kenapa… waktu itu ia tidak mengatakan yang sebenarnya dan malah menginjak-injak perasaan gadis itu?
"Ya?"
Menundukkan kepala, pemuda itu mendekat padanya dan memeluknya. Sikapnya lagi-lagi membuat gadis itu mengerutkan dahi karenanya, sehingga ia berkata, "Katsuki?"
Pertanyaan gadis itu tak dijawabnya. Katsuki hanya memeluknya dan mendekapnya erat. Ia sadar percuma saja meminta maaf sekarang, gadis itu takkan mengingatnya. Kalau saja dulu ia tidak mengatakan hal semacam itu, kalau saja dulu ia lebih lembut dan mengakui perasaannya, pasti semuanya takkan berakhir seperti ini. Pasti tempatnya, takkan digeser oleh orang lain dan membuatnya tersingkir seperti ini.
"Maaf...," ucapnya dengan kelopak mata yang bergetar, berusaha menahan perasaannya. "Maafkan aku..."
"K-Katsuki?" Gadis itu sedikit panik mendengarnya. "A-aku melakukan kesalahan, ya? Aku melakukan sesuatukah? Ada apa, Katsuki?"
Katsuki menggelengkan kepala. "Tidak. Kau tidak salah, akulah yang salah."
"Kat...suki?"
Kepala si gadis bergerak, ingin mencari tahu. Namun Katsuki sudah lebih dulu mengangkat kepalanya dan ia menyentuhkan dahinya pada gadis itu. Sembari memejamkan mata, ia pun berkata, "Maaf, maafkan aku."
"Apa yang perlu dimaafkan?" Gadis itu akhirnya bertanya. "Memangnya… apa yang Katsuki lakukan padaku?"
Mendengar pertanyaan Izuku, Katsuki pun kembali bergeming. Ia memejamkan mata dan menundukkan kepalanya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia kembali menatap manik hijau zamrud itu. Menyapukan jemarinya pada pipi si gadis pemuda itu pun berkata, "Tidak, tidak ada apa-apa."
Tidak yakin, gadis itu pun mengerutkan dahi, "Kat…"
"Kau… tidak perlu buru-buru untuk membalas perasaanku."
Mengerjapkan mata gadis itu berkata, "Eh?"
"Aku akan sabar menanti," ujar pemuda itu lagi, "hingga perasaanmu sebesar milikku."
"L-lho? Tapi..."
"Bagiku itu hukuman yang jauh lebih baik," jawab Katsuki sambil memejamkan matanya dan menggenggam rambut gadis itu erat-erat. "Benar-benar jauh lebih baik."
'Hukuman?' Gadis itu mengernyitkan dahi mendengar kata-kata itu. Ia bertanya-tanya, apa maksud pemuda ini? Kenapa pemuda itu menyebut-nyebut soal hukuman? Memang… apa yang telah dilakukannya?
Izuku bingung, sangat bingung. Ia ingin menanyakannya, namun pemuda itu tak mengatakan apa pun lagi. Bahkan kesedihan yang terpancar di manik merah itu justru menciutkan nyalinya. Ia takut. Takut bahwa ia justru tengah menyakiti pemuda itu karena terus menanyakan hal-hal yang tidak bisa diingatnya.
Andai saja gadis itu tahu. Andai saja gadis itu mengumpulkan kembali memorinya, tentu gadis itu akan sadar.
Bukan itu. Ia tidak pernah menyakiti Katsuki. Justru Katsuki lah yang menyakitinya. Justru Katsuki lah yang membuatnya jadi seperti ini. Justru Katsuki lah yang menginjak-injak perasaannya, membuatnya merasa tak berharga, membuatnya merasa rendah diri, semua karena Katsuki. Bahkan kali ini pun pemuda itu menyakitinya di saat ia tak bisa mengingatnya. Bahkan kali ini pun, pemuda itu berusaha merebut kembali tempat yang seharusnya telah diisi oleh orang lain.
.
.
.
Day 9:
Sanfransisco, USA
Sepanjang ingatan Shouto, gadis itu tak pernah sendirian. Selalu ada seseorang di samping gadis itu setiap kali Shouto melayangkan pandangan. Seseorang yang tak pernah meninggalkan tempatnya, barang sedetik pun.
Saat itu, Shouto tidak peduli pada teman sekelasnya yang tak pernah bertegur sapa dengannya itu. Ayahnya benar-benar mengawasi pergaulannya sehingga ia tak tertarik berinteraksi dengan banyak orang. Hanya segelintir orang yang pernah bercakap dengannya selama bersekolah dan tidak pernah ada gadis itu di antaranya.
Makanya ia tidak menyangka bahwa namanya akan disebut ketika ia tengah membeli kopi saat istirahat makan siang di kantornya. Terlebih dari mulut gadis itu.
"Todoroki-kun?"
Todoroki Shouto yang tengah menatap buku menu pun akhirnya mengangkat kepala. Seingatnya ia belum menyebutkan nama. Kenapa si pegaawai kafe ini sudah menyebutnya duluan?
"Siapa...?"
"Ah!" Gadis itu mengerjapkan mata. Sedikit gelagapan, si gadis menunjukkan bros yang dikenakannya di seragam kerjanya dan berkata, "Namaku Midoriya. Midoriya Izuku. Apa kau ingat? Dulu kita pernah sekelas di U.A Academy."
Samar-samar ingatan gadis berambut hijau dengan wajah yang tak jauh berbeda mulai muncul di ingatannya. Bersamaan dengan itu pula, gambaran seseorang yang selalu berada di sampingnya ikut menyertai. Namun sejauh penglihatannya, tak ada tanda-tanda keberadaan orang itu sekarang.
"Midoriya," ucap Shouto akhirnya, mengenali gadis itu.
Tersenyum mendengar pemuda itu menyebut namanya, gadis itu pun kembali berkata, "Apa kabar? Kau bekerja di dekat sini?"
Sembari menilik kembali menu yang dipajang, pemuda itu menjawab, "Aku bekerja di gedung di seberang kafe."
"Gedung seberang kafe?" Midoriya mengerutkan dahi dan menatap ke belakang pemuda itu. Pandangannya tertuju pada gedung bertingkat tinggi yang menjulang tepat di depan bangunan kafenya. Gedung berlapiskan kaca setinggi dua puluh lantai yang merupakan perluasan cabang Endeavor Group di Jepang.
Sembari mengangkat alis melihat kemegahannya, gadis itu kembali berkata, "Kau bekerja di sana? Hebat sekali! Kudengar hanya orang-orang terpilih yang bisa bekerja di sana."
"Tidak," jawabnya acuh. "Aku hanya tidak punya pilihan."
"Ng?"
"Satu Ice Coffee Latte" jawab pemuda itu sembari mengangkat kepala. "Dengan sirup hazelnut."
"O-oh baik," jawab gadis itu tanpa banyak bicara dan segera mengetikkan pesanannya. Ia menyerahkan struk dan Todoroki membayar menggunakan kredit cardnya. Begitu transaksi selesai, ia pun berpindah ke samping menunggu pesanannya selesai dibuat.
Tak sampai beberapa menit menunggu, namanya kembali dipanggil. Shouto pun bergerak ke konter pengambilan pesanan dan hendak mengulurkan tangan ketika melihat gadis itulah yang memberikan pesanannya.
"Silakan, Coffee Lattenya!" Gadis itu berkata dengan nada cerianya dan Todoroki mengambilnya tanpa banyak berkata-kata. Ia sudah hendak berbalik dan duduk di salah satu tempat ketika gadis itu kembali menyebut namanya. Otomatis kepalanya menoleh kembali pada gadis itu. "Selamat bekerja! Todoroki-kun!"
Alisnya terangkat untuk sesaat, namun dengan segera ekspresinya kembali sinis. Tanpa mengomentari ucapan Midoriya, Shouto berjalan ke tempat duduk. Ia mengambil tempat di pojok ruangan, yang tak menghadap ke arah gedung kantornya dan menenangkan diri di sana selama satu jam sebelum jam kerjanya kembali dimulai.
'Selamat bekerja katanya? Sungguh ironis sekali,' pikir Todoroki sambil mengamati gadis itu dari sudut matanya. Hanya sebentar, sebelum ia mengalihkan pandangannya dan memejamkan mata. 'Padahal aku bagaikan penunggu kantor Tua Bangka itu.'
Todoroki menyesap Ice Coffeenya dan tak memikirkan lagi ucapan gadis itu. Ia termenung, menghabiskan waktu satu jam istirahatnya di sana. Setelah waktu istirahatnya usai, ia pun beranjak dari tempat duduknya. Tanpa menatap gadis itu, ia pun langsung berjalan ke pintu keluar dan kembali ke gedung kantornya.
Biarpun tidak menaruh perhatian khusus pada kafe itu, pada hari berikutnya di jam yang sama, Shouto pun kembali melangkahkan kakinya ke sana. Ia berjalan menuju konter dan sudah akan memesan ketika suara yang familiar kembali menyebutkan namanya. Lagi-lagi kepalanya terangkat dan ia memicingkan mata.
"Halo Todoroki-kun!" Gadis itu berkata dengan senyuman manis di wajahnya. "Bagaimana harimu?"
Sebelah alis terangkat dan Todoroki pun kembali menekuni buku menu, tidak tertarik dengan pertanyaan gadis di hadapannya. Walaupun begitu, mulutnya terbuka dan ia menjawab, "Seperti biasa."
Gadis di hadapannya memutar manik hijau zamrudnya selama beberapa saat, sebelum kembali berkata, "Oh, wow! Sudah makan siang?"
"Belum," jawab Todoroki tak acuh sembari menatap menu yang tak pernah berubah itu. "Ice coffee latte, sirup hazelnut."
"Eh-o-oh!" Lagi-lagi gadis itu terbata-bata saat mengetik pesanannya. Namun Todoroki tak mau ambil pusing dan segera bergerak ke samping. Ia kembali menunggu selama beberapa saat hingga pesanannya siap. "Todoroki-kun?"
Todoroki kembali membuka mata dan bersiap mengambil pesanan. Namun ia terkejut ketika melihat ada pesanan lain yang disertakan dengan Ice Coffee Latte miliknya sehingga ia berkata, "Midoriya! Pesanan ini..."
Gsdis yang dipanggilnya Midoriya menoleh ke kanan dan kirinya terlebih dulu. Ketika tidak ada yang memerhatikan, gadis itu pun menunduk dan berbisik, "Bonus. Jangan katakan pada siapapun, ya?"
"Tapi aku tidak memintanya."
"Tidak apa," jawab gadis itu sambil menggerakkan tangan. "Kau belum makan siang, 'kan? Makanlah dulu sandwichnya sebelum minum kopi."
"Aku tidak bu..."
"Jangan begitu!" Gadis itu berkata dengan tegas dan cepat. "Sibuk sekalipun kau harus menyempatkan diri untuk makan siang. Kalau tidak kau bisa jatuh sakit."
Mendengarnya, Shouto pun terdiam selama beberapa saat dan mengamati makanan yang ada di tangannya. Hanya roti isi daging biasa yang mungkin tak selezat makanan di rumahnya. Tapi entah mengapa, Shouto mengambilnya, padahal biasanya ia tak mau mencicipi makanan di tempat yang baru dikenalnya.
Mungkin karena baru kali ini ada seseorang yang berani menegurnya seperti itu. Mungkin karena ada orang yang memerhatikan kesehatannya, mungkin karena ada orang yang mau bersusah payah mengingatkannya dan mungkin karena ia mau mendengarkan orang itu. Di samping sang Ibu, baru gadis inilah satu-satunya orang yang didengarkannya. Gadis yang hanya pernah sekali mengobrol dengannya.
"Hei, minggir!"
Sadar bahwa ia terlalu lama berdiri dan menghalangi antrian, Shouto akhirnya bergeser ke samping. Ia sudah akan beranjak dari tempatnya dan menuju ke tempat duduk, namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia kembali memanggil nama gadis itu.
"Midoriya!"
Si gadis mengangkat kepalanya dari balik konter dan ia mengerjapkan mata. "Ya?"
Sembari mengangkat ice coffee latte dan sepiring sandwich di tangan, pemuda itu pun berkata, "Terima kasih."
Midoriya tertegun sejenak saat mendengar ucapan terima kasihnya. Namun tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk kembali tersenyum lebar.
"Sama-sama," jawab gadis itu.
Dan tanpa sadar, Shouto pun membalas senyumannya.
Semenjak hari itu mengunjungi gadis itu saat makan siang menjadi rutinitas baginya. Seminggu tiga kali, kakinya akan melangkah keluar dari gedung kantornya dan berjalan menuju ke kafe. Ia sengaja mengambil waktu saat gadis itu bekerja dan selalu menyempatkan waktunya tak peduli sepadat apa pun pekerjaannya. Bahkan tanpa ia sadari, mendatangi gadis itu dan mengobrol sudah menjadi hal yang paling ditunggunya setiap kali ia pergi bekerja.
Ia mencoba menerka-nerka kenapa ia begitu ingin bertemu dengan gadis itu dan berbagai dugaan pun muncul di benaknya. Mungkin karena gadis itu selalu mengangkat kepala dan memberikan senyuman lebar bila Shouto menemuinya? Mungkin karena gadis itu selalu menunggunya dengan sabar untuk mengucapkan pesanan walau Shouto hanya mengucapkan pesanan yang itu-itu saja? Mungkin karena ia senang mendengar gadis itu khawatir saat ia belum makan siang? Mungkin karena… Ah! Entahlah! Ia sendiri tidak mengerti. Padahal perbincangan mereka tak lebih dari empat atau lima kalimat tapi rasanya Shouto cukup nyaman berbincang dengan gadis itu. Bahkan tanpa disadarinya, ia selalu kecewa ketika pesanannya dibuat lebih cepat. Itu berarti waktu mengobrolnya sudah habis dan ia perlu minggir untuk mempersilakan gadis itu mengobrol dengan orang lain selain dirinya.
Samar, tapi ia mulai tidak ingin tempatnya direbut oleh orang lain. Ia ingin mengobrol lebih lama lagi dengan gadis itu. Ia ingin menjadi satu-satunya yang diperhatikan gadis itu. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang melihat senyuman itu. Tapi sepertinya ia melupakan hal yang penting.
Ia lupa, bahwa sudah ada orang yang menempati tempat yang paling diinginkannya itu. Dan ia baru menyadarinya ketika melihat seorang pemuda dengan rambut ash blonde yang tengah berdiri mengantri di depan konter. Pemuda yang seharusnya ada di dalam gambaran yang diingatnya tentang gadis itu.
"Oi, Deku," pemuda itu berkata. "Satu Americano panas, ya?"
"Kacchan!" Gadis itu mengangkat sedikit dirinya dari konter begitu mendengar suaranya. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan saat itu, namun Shouto pun menangkap suatu kegembiraan dari caranya melihat si pemuda. "Kok ada di sini?Bukankah kantormu jauh?"
"Ya," jawab si pemuda yang menaruh kedua sikunya di depan konter. "Ada meeting di dekat sini dan kebetulan aku sedang ingin minum kopi."
"B-begitu," jawab si gadis sambil membuatkan pesanan pemuda berambut ash blonde yang datang terlebih dulu itu. "Kacchan, sudah makan siang?"
Si pemuda bergumam dan ia menggelengkan kepala. "Belum, aku tidak sempat makan. Setelah ini pun aku harus segera menyelesaikan dokumen."
"E-eh? Kok begitu?" Gadis itu tampak kecewa mendengarnya. Ia membuatkan pesanan pemuda yang baru datang itu dan terburu-buru mengeluarkan makanan. Setelahnya, ia keluar dari konter dan mengantarkan pesanan tersebut pada si pemuda yang sudah mengambil tempat duduk di dekat pintu. "Makanlah dulu, Kacchan!"
"Tidak perlu...," pemuda itu menjawab sementara pandangannya tertuju pada laptop yang dibukanya. "Aku harus segera mengirim email juga. Tadi aku tidak sempat mengirimkannya."
"Ng, ini kopinya," ujar gadis itu sembari meletakkan kopi hangat di samping meja dan sepiring sandwich. "Hati-hati masih panas!"
Tak mendengarkan, pemuda itu sibuk bergumam sendiri. Melihatnya si gadis pun menghela napas, namun ia masih sempat berkata, "Sandwichnya jangan lupa dimakan, ya?"
Pemuda berambut ash blonde itu mengangguk singkat dan memasukkan sandwich yang telah disediakan ke dalam mulut sementara tangannya kembali mengetik. Melihatnya, gadis itu pun menghela napas dan menunjukkan seulas senyum sebelum kembali ke konternya. Perhatiannya pada pemuda itu membuatnya tidak menyadari bahwa Todoroki sudah berdiri di dekatnya dan menunggu.
"Midoriya."
Untung saja kaki gadis itu berhenti tepat pada waktunya. Terkejut, gadis itu pun mengangkat kepala dan menatapnya sambil mengerjapkan mata. Baru beberapa detik kemudian gadis itu berkata, "Todoroki-kun!"
Alis Todoroki terangkat sebagai tanggapan. Seperti biasa senyuman manis kembali terukir di wajah gadis itu sebelum si gadis beranjak ke konternya. Ketika sudah berada di balik konter, Midoriya kembali berkata, "Mau pesan apa?"
Seperti kebiasaannya, Todoroki membaca buku menu selama beberapa saat. Ia mengamati dengan ekspresi serius di wajahnya sebelum akhirnya menyebutkan pesanan favoritnya. "Ice coffee latte sirup hazelnut."
Tertawa kecil gadis itu berkata, "Seperti biasa, ya?"
Senyuman turut muncul di wajah Todoroki ketika mendengar tawa gadis itu. Ia menunggu hingga gadis itu mengetik pesanannya sembari berkata, "Sibuk?"
Midoriya mengangkat kepalanya dari mesin kasir dan berkata, "Tidak. Tidak juga. Ah, Todoroki-kun sudah makan siang?"
Pertanyaan yang sudah ditunggu-tunggu itu baru saja akan dijawabnya ketika suara teriakan yang cukup keras. Bersamaan dengan itu, perhatian Midoriya pun beralih dan ekspresi wajahnya berubah khawatir. Ia segera keluar dari konternya dan menghampiri si pengunjung yang baru saja berteriak.
"Kacchan!" Gadis itu berkata sambil menghampiri si pengunjung. "Kau baik-baik saja? Kan sudah kubilang kopinya panas."
"Aku tahu," balas pemuda itu sambil menjulurkan lidahnya. "Sudah pergilah!"
"Kau benar tidak apa-apa?"
"Iya, iya," jawab pemuda itu sambil menggerakkan tangan seolah mengusirnya. "Sana urus pelangganmu yang lain!"
Kembali menghela napas, gadis itu kembali ke konternya. Namun sesekali perhatian gadis itu akan kembali tertuju pada pemuda yang ditinggalkannya. Sikapnya membuat Shouto memanggilnya untuk membawa perhatian gadis itu kembali padanya.
"Midoriya?"
Pandangan si gadis kembali tertuju padanya. Selang beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah panik dan ia berkata, "A-ah ya, ice coffee latte sirup hazelnut."
Dengan segera ia menyerahkan struk dan berpaling untuk membuatkan pesanan Shouto. Saking terburu-burunya ia bahkan lupa meminta bayaran hingga Shouto-lah yang harus menyodorkan kredit cardnya. Tapi Shouto salah ketika mengira bahwa mereka bisa kembali mengobrol setelah transaksi selesai. Kali ini si gadis terlalu sibuk menyelesaikan pesanannya dan tidak menggubrisnya sama sekali.
"Silakan!" Midoriya berkata sambil menyerahkan pesanan Shouto.
"Oh..."
Todoroki mengambil pesanannya. Hanya saja ia tidak langsung pergi dan mencari tempat duduk. Ia masih terdiam di tempatnya hingga membuat Midoriya kembali menoleh dengan dahi berkerut.
"Ada lagi yang kau inginkan, Todoroki-kun?"
Kedua manik berbeda pemuda itu menatapnya dalam diam. Untuk sesaat, keduanya hanya saling memandang hingga kepala gadis itu bergerak miring. Melihat kebingungan di wajah Midoriya, Todoroki akhirnya berkata, "Tidak. Tidak ada apa-apa."
Senyum kembali terkembang di wajahnya, namun gadis itu tidak mengucapkan apa pun. Perhatiannya teralih pada pelanggan lain yang sudah mengantri di hadapannya dan mengabaikan Shouto. Menghela napas, pemuda dengan warna rambut berbeda itu berbalik dan kembali ke tempat duduknya.
Ia menyeruput kopinya dan meletakkannya kembali. Kini perhatiannya teralih pada pemuda yang duduk di samping pintu dan tengah mengacak-acak rambut ash blondenya dengan satu tangan. Sementara itu di tangannya yang satu lagi, sepotong sandwich tengah digigitnya dengan terburu-buru.
"Aduh," gerutu pemuda itu, "dasar bodoh! Bisa-bisanya aku lupa menyertakan attachment!"
Sembari mengumpat, pemuda itu kembali melahap ganas sandwich di tangannya. Ia mengunyah dengan cepat hingga sandwich tersebut lenyap di mulutnya sementara tangannya terus mengetikkan sesuatu di laptop. Namun tiba-tiba jemarinya berhenti bergerak dan kepalanya terangkat. Manik merah pemuda itu berhenti di satu titik dan dengan ekspresi tak yakin ia berkata, "Todoroki...Shouto?"
Shouto menyeruput minumannya begitu melihat pemuda itu menyebutkan namanya. Hanya saja ia enggan menyapa pemuda itu dan memilih untuk segera angkat kaki. Tanpa banyak bicara, ia pun bangkit dari tempat duduknya dan langsung beranjak ke pintu keluar. Entah mengapa hilang moodnya untuk menghabiskan waktu satu jamnya di ruangan yang sama dengan pemuda itu.
Pandangan pemuda itu masih mengikutinya ketika ia melangkah keluar tanpa menyapa. Dengan segera, Shouto bergegas berjalan ke gedung kantor seolah-olah jam makan siangnya telah habis. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya membungkukkan badan saat melihatnya berlalu, namun ia tak memedulikan mereka dan terus saja berjalan hingga ia mencapai ruangan.
Sebelum ia masuk ke dalam ruangannya, sekretaris ayahnya menghentikannya dan ia berkata, "Kau tidak memakan makan siangmu lagi?"
Tanpa menatapnya, Shouto berkata sembari mendorong pintu kacanya, "Tidak. Singkirkan saja dari mejaku."
Melihat minuman yang ada di tangannya, sang sekretaris kembali berkata, "Kau hanya meminum kopi saja? Tidak memesan makanan?"
"Bukan urusanmu!" Shouto menjawab dengan cuek dan segera membanting pintu, enggan untuk berbicara dengan sekretaris ayahnya. Ia pun berjalan menuju ke meja kerja dan menaruh kopi yang dipesannya di sana. Sementara itu kakinya mendekat pada jendela di ruangannya.
Pandangannya tertuju pada bangunan dua lantai di dekat gedung kantornya itu dan ia melipat kedua tangannya di depan dada. Sembari bersandar pada meja kerjanya, Todoroki Shouto pun mendesah.
Ia terdiam selama beberapa saat sembari melipat tangannya di depan dada. Lama ia terdiam sebelum akhirnya berbalik dan mengambil minuman yang sebelumnya diletakkan di atas meja. Diguncangnya sedikit minuman tersebut sebelum kembali berkata, "Bakugou... Katsuki."
Diletakkannya kembali minuman itu di atas meja dan Shouto pun berpaling.
"Sepertinya, aku harus merebut tempat itu darinya."
Bunyi alarm yang memekakan telinga membuat Shouto terbangun dan membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya selama beberapa saat, menenangkan dirinya dan menoleh ke samping. Di luar, hari masih gelap dan matahari belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Tak heran, penunjuk waktunya baru menunjukkan pukul dua pagi, belum waktunya bagi sang surya untuk menampakkan diri. Sepertinya ia salah menyetel alarm.
Menyeka keringat dingin yang mengalir di dahinya, Shouto pun kembali berbaring. Ia menggerakkan kepalanya ke samping, mengulurkan tangan pada ponsel dengan casing merah dan biru yang diletakkannya di samping meja. Ia menyalakan layarnya dan menunggu.
Begitu layar menyala, Shouto pun menyipitkan mata. Tak ada panggilan, juga tak ada pesan. Ponselnya tetap hening, walau hampir seminggu berlalu. Gadis itu benar-benar sudah mengabaikannya sekarang.
Mendesah, Shouto pun kembali meletakkan ponsel itu dan menatap langit-langit. Dahinya tertekuk dan kelopak matanya bergetar.
"Sampai kapan kau mau mengabaikanku seperti ini, Izuku?" Ia bergumam. "Sampai kapan aku harus menunggu untuk mendapatkan tempat itu?"
Ia bertanya, tapi langit-langitnya tak pernah memberinya jawaban. Ia hanya dapat memejamkan matanya kembali dan membayangkan sosok yang paling dikasihinya itu. Namun kali ini, ada sosok lain yang juga turut menyertai ketika ia membayangkan kekasih hatinya itu. Sosok lain yang paling ditakutkannya melebihi penjahat mana pun di dunia ini.
Membuka matanya, Shouto pun kembali menatap layar ponselnya. Ia curiga. Tidak biasanya Izuku mengabaikannya seperti ini. Tidak biasanya gadis itu menghilang tanpa kabar dan tidak menghubunginya walau beberapa hari sudah berlalu. Ini sangat aneh.
Ia harus menyelidikinya. Ia harus mengeceknya. Izuku tak mungkin mengabaikannya begitu saja. Saat ini, dirinyalah orang paling spesial di hati Izuku dan tak mungkin gadis itu meninggalkannya tanpa kabar seperti ini. Pasti telah terjadi sesuatu pada gadis itu.
Tangannya pun menekan layar ponselnya, mencari-cari sebuah kontak yang diketahuinya. Selama beberapa saat ia menunggu hingga akhirnya terdengar jawaban dari orang yang dihubunginya.
"Iida?" Ia berkata pada orang itu. "Aku ingin kau menyelidiki sesuatu."
.
.
.
(t.b.c)
Author's note :
Ops! Sedikit kepanjangan, semoga kalian nggak keberatan bacanya :D saya nggak bisa control panjang dan pendek cerita berhubung nulisnya pake hape, gomen, TT_TT
Aniway :
Fujoshi desu XD : *nyodorin Fujocchi ke trio hero kece badai itu dan bergegas kabur
Terima kasih, Fujocchi! Pengorbanan Anda takkan saya sia-siakan. Saya akan terus melanjutkan ff ini, walau dengan darah dan airmata XD *superlebayauthor
Dan Fujocchi, Kacchan kesayanganmu mesti siap2 nih, sepertinya badai akan segera datang :P
Jaguarian76 : Hello Jaguarian, nice to meet you :D hope your google traduction could translate this ff into French (hope I was right?), really looking forward to talk with you more about this ff :D
Shin Aoi : iyah, gimana tuh Kacchan? Shouto uda mule nggak sabaran loh, Shouto uda mule curiga loh! *ikut-ikutan panik bareng Ao-chan XD
Dan Yes, sama-sama Ao-chan, saya juga uda menantikan munculnya Shouto, dan sekarang doi muncul, terlebih lagi doi curiga deh sekarang. Uda berapa hari nggak denger suara Izuku sih :P
Sementara buat posesif, kalo liat begini, kayaknya dua-duanya sama-sama posesif sebenernya. Cuman mungkin Kacchan uda dapet giliran duluan sementara Shouto belom keliatan :P
Hikaru Rikou : Hikacchi XD sama, saia juga nggak bisa nebak sama siapa akhirnya :P jadi saya nikmatin aja manis-manisnya mereka bertiga. Dan, kali ini pun saya berharap untuk bikin kamu baper lagi di chapter ini :P tapi kayaknya nggak perlu nyiapin tisu :P cuman perlu siap-siap ngiri ama Izuku yang ditaksir eksekutif macem Shouto n Kacchan (macem drakor manapula ini?)
Btw, bener banget, Izuku itu Detroit Smash dan Kacchan itu Howitzer Impact seperti yang kamu bilang, TAPI si Shouto (saya liat dari wiki) nama jurusnya itu 'Giant Ice Wall'. Jadi akhirnya, saya pakailah Ice nya saja, dan sisanya saya nggak lanjutin :P
Miharu 348 : seneng bisa menghibur kamu sebelom masuk sekolah :P semoga semanget belajar kamu ikut naek juga ya (bukannya malah bikin baper, oy?)
Zzich: Holla Zzich XD enak sekaliii minum susu hanget, saia malah lagi minum Ice Green Tea berhubung cuacanya panas banget today TT^TT
Lol, Mas Shouto diminta jangan buru-buru balik ama Fujocchi tuh, makanya saya tahan dia di USA :p tapi tenang saja, biar Iida Tenya yang maju wakilin Shouto :P
Shion : Holla Shion XD saya senang kamu mau ikutan review :D
Ehem , btw soal request kamu, saia sendiri nggak yakin bisa nyanggupin karena sampe saat ini saya belom tahu Deku bakalan jadi sama siapa :P yang jelas, kita sama-sama berharap Deku bahagia (walau dua cowo laen belom tentu bahagia *dapet Ice Wall dari Shouto *kena Howitzer Impactnya Kacchan *author pingsan selama beberapa saat)
dearBlue : holla Blue :D *berasa jadi power**nger mari kita toss dulu berhubung saya juga seneng banget kalo ada di kondisi Izuku :P
Tapi lagi, seperti yang kamu bilang, memang sama Kacchan itu kesianan karena dia menyesal banget uda lepasin kesempatannya begitu aja. Kali ini baru10% semoga ke depannya makin meningkat ya :P
Dan… uhuk, author belum tahu Deku jadi sama siapa *doong
And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
