.

.

.

Boku no Hero Academia not mine

90 days by cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

.

.

.

Enjoy!

Chapter 7 : Your reflection

Day 10 , 7pm

"Maaf membangunkanmu," ujar pemuda yang mengenakan kacamata sembari memarking mobilnya di hadapan sebuah rumah yang hendak ia kunjungi, "hanya hendak melaporkan sedikit soal penyelidikan yang kau minta."

"Tak masalah, Iida," jawab suara di ponselnya, "ada perkembangan?"

Melirik waktu setempat, Iida tak mengomentari soal nada si pembicara yang begitu mantap dan tegas, tidak seperti orang yang baru bangun tidur. Padahal setahunya, orang yang dihubunginya berada di belahan dunia yang berbeda enam belas jam darinya. "Sedikit. Soal pertunanganmu dan Izuku, apa kau menyebarkannya pada orang lain selain kami?"

Jauh di ujung sana, orang yang ditelepon oleh pemuda berambut biru itu terdiam sejenak. Pemuda itu bahkan sempat keluar dari mobil, menutup dan menguncinya sembari menjepit ponselnya di antara telinga dan bahu, namun belum terdengar tanggapan dari orang yang diajaknya bicara. Lama berselang, akhirnya orang yang ditanyainya menjawab, "Kenapa memangnya?"

"Bakugou mengetahuinya," jawab Iida sambil memicingkan mata saat menatap papan nama di depan rumah yang bertuliskan huruf 'Bakugou' sebelum menekan bel. "Apa kau pernah memberitahukannya?"

Sekali lagi pertanyaan Iida harus menghadapi keheningan panjang. Namun paling tidak, kali ini pemuda itu mendapatkan sebuah jawaban, walaupun tidak memuaskan. "Mungkin salah seorang dari keluargaku. Atau keluarga Izuku."

"Apakah keluargamu berhubungan dengan perusahaan Bakugou?"

"Entahlah," jawab lawan bicaranya. "Tapi lebih besar kemungkinannya bila keluarga Izuku yang menyebarkannya. Kurasa dulu mereka cukup dekat."

"Kupikir juga begitu," ucap Iida yang segera mengalihkan perhatiannya ketika mendengar pintu dibuka. "Dan aku berusaha memastikannya sekarang."

"Maksudnya?"

Iida hendak menjelaskan, namun pintu rumah yang didatanginya sudah dibuka dan seseorang sudah keluar dari dalam rumah. Tak punya pilihan, pemuda berambut biru terang itu pun segera mengucapkan perpisahan singkat dengan orang yang diteleponnya dan menurunkan ponsel dari telinga. Pandangannya tertuju pada si pemilik rumah dan ia berkata, "Selamat malam. Apakah saya bisa bertemu dengan ibunya Katsuki Bakugou?"

Wanita berambut ashblonde yang menyambutnya mengerjapkan mata sejenak ketika mendengar sapaannya. Salah satu tangan wanita itu menurunkan selot pintu pagarnya dan berkacak pinggang sejenak sebelum berkata, "Aku Ibunya dan sepertinya aku pernah melihatmu."

"Oh, benar," lanjut pemuda itu, "saya Iida. Iida Tenya. Teman sekelas Bakugou Katsuki."

"Ketua kelas," tunjuk si wanita dengan kelopak mata melebar. "Ah, kalau mencari Katsuki…"

"Tidak, saya tidak mencari Bakugou Katsuki," potong Iida cepat. "Saya justru ingin bertemu dengan Anda."

"Ingin bertemu denganku?" Wanita itu mengerjap dengan bingung. "Kena… Ah! Mari bicara di dalam saja kalau begitu!"

Tak banyak bicara lagi, si Nyonya rumah pun membukakan pintu pagar dan bergerak lebih dulu masuk ke dalam rumah diikuti dengan pemuda berambut biru tua di belakangnya. Ia lebih dulu masuk ke dapur, sementara ia mempersilakan tamunya duduk di kursi di ruang tamu. Cukup lama ia berada di sana sebelum akhirnya keluar dengan dua cangkir teh yang ia hidangkan di atas meja tamu.

"Sejujurnya ini aneh, karena ada teman putraku yang berkunjung menemuiku" ujar wanita berambut pirang pucat itu sambil meletakkan minuman. "Jangan-jangan kau hendak mengadu padaku soal ulah putraku?"

"Kenapa Anda berpikir begitu, Nyonya?" Pemuda dengan rambut biru sapphire itu tertawa kecil mendengar komentar Nyonya rumah. "Apa putra Anda sering berbuat ulah?"

Menggerakkan kepalanya, sang Nyonya rumah kembali berkata, "Kau ketua kelasnya waktu itu 'kan? Apa kau tidak ingat ulah apa saja yang ia timbulkan selama bersekolah? Entah ia berkelahi dengan senior, berkelahi dengan sekolah lain, membuat masalah dengan guru atau membolos sudah jadi makanan sehari-hari. Membuatku sebagai orang tua malu karena harus kerap kali datang ke sekolah dan menundukkan kepala."

Tamu yang duduk di hadapan sang Nyonya hanya tersenyum mendengar cerita dari masa lalu yang dibawakan sang Nyonya. Sembari melipat tangan seperti sedang berdoa, pemuda itu berkata, "Tapi ia melakukannya untuk membela orang lain, Nyonya. Bukankah Anda juga tahu itu?"

Walaupun sang Nyonya mendecak sebal, seulas senyum tetap terbit di wajah wanita paruh baya ketika mendengar pujian untuk putranya. Sembari menempelkan cangkir pada bibir dan menyesapnya, wanita itu bernostalgia sendirian, melupakan kehadiran tamu di rumahnya untuk sesaat. Namun ketika kepalanya berpaling dan menemukan pemuda dengan warna rambut segelap langit dini hari tengah memandanginya, sang Nyonya pun cepat-cepat berkata, "Ah, silakan diminum tehnya, Iida-kun!"

Mengangguk, pemuda yang duduk di hadapan sang Nyonya pun mulai mengalihkan perhatiannya pada cangkir teh yang sudah diletakkan di atas meja. Dengan hati-hati, diambilnya cangkir tersebut dan mulai menyesap isinya. Ia baru saja menelan tehnya ketika sang Nyonya rumah kembali mengajaknya bicara.

"Jadi…," ucap sang Nyonya sambil meletakkan kembali cangkir tehnya di atas coffee table, "ada keperluan apa denganku, Iida-kun?"

Mengangkat alis, Iida Tenya mengikuti gerakan sang Nyonya dengan meletakkan cangkir teh di hadapannya. Setelahnya ia berkata, "Ada sesuatu yang ingin kuketahui, Nyonya. Kuharap Anda tidak keberatan mengobrol denganku."

"Tentu tidak," jawab sang Nyonya, "tapi jarang sekali teman Katsuki yang hendak mengobrol denganku. Apakah ini sesuatu yang tak boleh diketahui Katsuki?"

Tertawa pelan, Iida menggerakkan tangannya dan berkata, "Bukan, bukan begitu Nyonya. Aku hanya ingin tahu karena dari informasi yang kukumpulkan, aku mendengar bahwa Anda cukup dekat dengan Midoriya-san. Apa itu benar?"

"Midoriya?" Wanita paruh baya itu mengerjap pelan mendengar pertanyaannya. "Izu-chan maksudmu?"

Mengangguk, Iida kembali berkata, "Ya, Izuku. Apa Anda cukup dekat dengannya?"

"Tentu saja," sang Nyonya kembali berkata, "Izu-chan sudah kuanggap seperti putriku sendiri. Walaupun… sekarang ini aku sudah tak mendengar kabarnya lagi."

Ketertarikannya muncul dan tanpa disadarinya Iida menyipitkan matanya mendengar pengakuan Nyonya Bakugou. "Kenapa begitu, Nyonya? Bukankah Anda menganggapnya sebagai putri Anda sendiri?"

Sayangnya Nyonya Bakugou tidak menyadari keingintahuan yang dipancarkan oleh tamunya. Ia tetap menundukkan sedikit kepalanya sebelum menjawab, "Aku menganggapnya putriku, hingga suatu hari, Katsuki memintaku untuk berhenti menanyakan tentangnya."

"Ng?"

"Dua tahun yang lalu," ujar sang Nyonya sambil tersenyum simpul, "sewaktu aku menanyakan soal Izuku, tiba-tiba saja Katsuki memintaku berhenti menanyakan tentangnya. Kurasa, hubungan mereka sudah berakhir."

"Oh," ucap Iida ketika menyadari hal yang tengah dibicarakan oleh sang Nyonya. "Saat itu rupanya…"

Mengangguk, sang Nyonya kembali berkata, "Dasar anak itu! Padahal ia tahu bahwa aku menginginkan anak perempuan seperti Izuku. Tapi apa mau dikata, sepertinya mereka sudah tak cocok lagi."

"Begitukah… menurut Anda?"

Wanita paruh baya berambut ash blonde itu mengerutkan dahi mendengar perkataan tamunya. Ia pun berkata, "Apa maksudmu?"

Iida mengangkat bahunya terlebih dahulu sebelum akhirnya berkata, "Apa menurut Anda, putra Anda sudah tidak menyukai Midoriya-san?"

"Kurasa begitu," jawab sang Nyonya, "ia tidak pernah membicarakan tentang Izu-chan lagi sejak ia memintaku untuk tidak menanyakannya."

"Begitu," ujar tamunya sambil menaikkan sedikit kacamatanya. "Jadi menurut Anda pun, Bakugou Katsuki sudah tak ada hubungan apa pun dengan Midoriya Izuku sejak dua tahun yang lalu."

Sang Nyonya rumah menyipitkan sedikit matanya, mulai merasakan sedikit kecurigaan mendengar kesimpulan yang dibuat oleh tamunya. Wanita itu terdiam sesaat sebelum kembali berkata, "Bila menurutmu begitu, maka tak ada lagi yang bisa kukatakan."

Menganggukkan kepala, tamu yang baru datang itu kembali berkata, "Apa Anda tahu bahwa selama dua tahun ini, Midoriya Izuku sudah menjalin hubungan dengan pria lain?"

"Tidak," jawab Nyonya rumah cepat. "Sudah kukatakan, aku tidak lagi mendengar kabarnya setelah dua tahun itu."

"Benar," lanjut Iida, "makanya sangat aneh 'kan, bila putra Anda yang meminta Anda untuk tidak menanyakan kabarnya saja, bisa mengetahui bahwa Midoriya-san sudah bertunangan dengan orang lain. Kalau memang ia tidak tertarik, seharusnya ia tidak tahu hal-hal semacam itu, bukan?"

Mengerjapkan mata, sang Nyonya rumah kembali berkata, "Oh ya? Izu-chan sudah bertunangan dengan orang lain?"

Sang tamu terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

"Oh, begitu," ucap Nyonya rumah sembari tersenyum sendu. "Rupanya hubungan mereka benar-benar sudah berakhir, ya?"

"Ng?"

"Ah, jadi siapa pasangannya?" Sang Nyonya dengan cepatnya mengalihkan pembicaraan. "Apa aku mengenalnya? Apa dia pria baik-baik?"

Mengangguk, Iida kembali berkata, "Anda tidak perlu cemas, Nyonya. Tunangan Midoriya orang yang sangat baik, ia juga sangat memerhatikan Midoriya."

"Siapa dia?" Nyonya rumah kembali bertanya. "Apa aku kenal?"

"Tentu," jawab Iida cepat, "sayangnya saat ini ia sedang di luar negeri dan di saat yang bersamaan, Midoriya malah menghilang entah ke mana."

Perkataan terakhir tamunya membuat sang Nyonya rumah mengerjapkan mata. Wanita satu itu pun berkata, "Izu-chan menghilang?"

"Ya," jawab Iida sembari mengangguk sedih, "entah di mana dia. Tiba-tiba lenyap begitu saja tanpa kabar dan membuat tunangannya cemas bahkan sampai memintaku mencarinya. Tunangannya mengira telah terjadi sesuatu padanya."

Menggelengkan kepala, Nyonya itu berkata, "Bagaimana… "

"Aku sudah mencoba menanyakannya, tapi tak ada yang mengetahui kapan terakhir Midoriya terlihat," ucap Iida sembari memegangi dahinya. "Pergi tanpa kabar rasanya tidak seperti Midoriya, jadi kupikir, mungkin ia diculik."

"D-diculik?" Sang wanita kembali bertanya. "Bagaimana bisa? A-Apa… apa penculiknya meminta tebusan? Berapa yang ia minta?"

Menyipitkan mata, tamu yang duduk di seberangnya mengamati reaksi si Nyonya. Tapi sepanjang penglihatannya, hanya terlintas kekhawatiran semata di wajah wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung orang yang dicurigainya itu. Sepertinya, wanita ini tidak ada hubungannya dengan menghilangnya Midoriya.

"Tidak, justru penculiknya hanya diam dan tidak mengatakan apa pun, Nyonya," ucap Iida sambil mengawasi sang Nyonya. "Justru inilah yang membuat kami kesulitan menemukan sang penculik."

"Lho? Tapi kalau begitu, kenapa kau menyimpulkan bahwa Izu-chan diculik?" Nyonya Rumah berkata dengan heran. "Bisa saja anak itu sedang pergi ke suatu tempat 'kan?"

"Bila hanya satu atau dua hari, saya juga akan berpikir demikian," ucap Iida sambil menyentuhkan jemarinya di dagu. "Tapi bila sudah lebih dari seminggu, siapa pun akan curiga."

Wanita yang diajaknya bicara pun turut mengerutkan dahi, memikirkan perkataan tamunya. "Sudah dicoba dicari ke rumahnya?"

"Tempat itu yang pertama kali saya datangi," jawab Iida lagi, "tapi tak ada yang mencurigakan di sana. Midoriya tidak meninggalkan apa pun di sana."

"Oh, Izu-chan…," ucap sang Nyonya sambil melipat kedua tangannya. Cukup lama sang Nyonya menundukkan kepala tapi tiba-tiba ia kembali menatap tamunya dan berkata, "Apa… Apa Katsuki tahu soal ini?"

"Saya sudah memberitahunya," jawab Iida, "tapi sepertinya putra Nyonya tak terlalu tertarik."

"Hah?"

"Ia mengatakan bahwa gadis itu sudah tak berharga lagi baginya," jawab Iida sambil mengangkat bahu. "Tak ada sedikit pun kekhawatiran dari nada bicaranya."

Memejamkan mata, sang ibu pun hanya dapat menyentuh dahinya dan berkata, "Katsuki…"

Tamu di hadapannya tetap diam sambil menilai reaksi si Nyonya Rumah. Bila ini hanya rekayasa, maka akting sang Nyonya rumah sungguh sangat meyakinkan. Iida bahkan tak bisa menemukan celah untuk menyalahkan Nyonya ini. Mungkin untuk sementara sebaiknya ia mundur sambil mengamati situasi lebih lanjut.

"Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya."

"Eh? Sudah mau pulang?"

"Iya," jawab Iida sambil mengambil jas berwarna abu-abu yang sebelumnya ia letakkan di samping ranjang. "Saya ingin mencoba menanyakannya lagi pada orang terdekatnya sebelum melaporkannya pada petugas setempat."

"Oh begitu," jawab Nyonya itu. "Benar juga, sebaiknya dilaporkan saja ke petugas setempat."

Mengangguk, Iida pun berkata, "Tentu, aku akan meminta bantuan petugas setempat bila tidak mendapatkan titik terang dalam beberapa hari ini."

Si Nyonya Rumah mengangguk menyetujui ketika mendengar perkataan tamunya. Bersama-sama dengan pemuda itu, mereka bangkit berdiri dan menuju ke pintu depan. Sebelum mengucapkan salam perpisahan, si pemuda berkata, "Ah, Nyonya, apakah Anda bisa mengabari saya bila Anda tahu sesuatu?"

"Oh, tentu, aku akan menghubungimu," jawab sang Nyonya Rumah.

Mengangguk, Iida pun menyerahkan kartu namanya dan berkata, "Ini kartu nama saya, nomor telepon dan alamat saya tertera di sana."

Nyonya Rumah mengangguk. Setelah mengatakan akan menyimpan baik-baik kartu nama tersebut, Iida pun keluar dari rumah dan kembali masuk ke mobilnya dengan diawasi oleh si Nyonya Rumah. Begitu pemuda itu sudah menghilang dari pandangan, barulah Nyonya Rumah mengamati baik-baik kartu namanya dan mendecakkan lidah.

"Katsuki," ucapnya sambil menatap kartu nama di tangannya, "apalagi ulahmu sekarang?"

.

.

.

Day 11

Sang surya masih belum menampakkan diri ketika gadis itu membuka matanya. Dengan gerakan perlahan ia mengedip, menatap langit-langit yang ada di atas kepalanya sebelum menggerakkan kepalanya ke samping dan mengamati sinar bulan yang masuk dari jendela kamar. Ia kembali mengalihkan perhatiannya dan berhenti pada sosok yang tertidur di atas sofa tak jauh dari jendela.

Menyingkapkan selimut, gadis berambut hijau itu menurunkan kakinya dari ranjang. Dikenakannya sandal yang ada di bawah tempat tidur dan perlahan ia bergerak mendekat pada sofa tempat sosok itu memejamkan matanya. Selangkah demi selangkah ia berjalan hingga tepat berada di hadapan sosok yang diperhatikannya itu.

Masih mengenakan kemeja berwarna abu-abu dan dasi hitam yang belum dilepas, pemuda yang tengah terlelap itu meletakkan kepalanya pada sandaran sofa. Kedua kelopak matanya tertutup rapat sementara napasnya berembus teratur dari lubang hidungnya. Begitu nyenyaknya hingga pemuda itu tidak menyadari kehadiran gadis berambut hijau yang tengah mengamatinya.

Dari balik selimut tipis yang dikenakannya, Izuku mengeluarkan tangan mungilnya untuk menyentuh wajah pemuda di hadapannya. Ia membiarkan jemarinya menyentuh pipi pemuda itu, merasakan betapa dinginnya kulit yang tengah disentuhnya sama dengan suhu di dalam kamarnya. Begitu dingin hingga membuat gadis itu merapatkan selimut tipis yang menyelimuti tubuhnya.

Ia membuka mulut, mencoba membangunkannya dan memintanya untuk tidur di ranjang yang lebih hangat. Hanya saja, setelah beberapa kali panggilan sia-sia, Izuku pun menyerah. Dibanding melakukannya, ia memutuskan untuk duduk di samping pemuda itu dan berbagi selimut tipis yang sebelumnya menyelimutinya.

Walaupun akhirnya tidak sehangat sebelumnya, Izuku cukup puas. Gadis itu menggerakkan kepalanya dan menghadapkan wajahnya pada pemuda yang baru saja diselimutinya. Satu tangannya kembali terulur menyentuh rambut pemuda itu dan seulas senyum terukir di bibirnya.

"Ka…cchan…" ia berkata sambil menyentuh rambut rancung berwarna pirang pucat itu. "Namamu… Kacchan…"

Bahkan panggilan kesayangan pemuda itu pun tak sanggup membuat si pemuda terbangun dari mimpinya. Kedua matanya tetap terpejam, sementara gadis di sampingnya terus mengusap rambutnya. Ia terus mengulangi sebutan itu hingga akhirnya kilauan cahaya tertangkap oleh retinanya dan membuat perhatiannya tertuju pada jari manisnya.

Untuk sesaat ia menarik tangannya dan mengamati benda yang melingkari jari manisnya itu. Benda melingkar ini, seharusnya juga ada di jemari suaminya, bukan? Tapi kenapa… hanya dia seorang yang mengenakannya? Apakah cincin ini hanya dibuat untuknya seorang? Atau… cincin ini bukan cincin pernikahan?

Tapi, bukankah tangan yang dilihatnya dalam mimpi juga mengenakan cincin yang sama? Kalau begitu, artinya cincin itu ada pasangannya? Tapi kalau memang ada pasangannya, kenapa suaminya tidak mengenakan benda yang sama di jemarinya? Apakah cincin milik suaminya hilang? Atau… apa?

Saat ia berusaha mengingat, rasa nyeri menyerang kepalanya hingga membuat Izuku menyentuhkan jemarinya. Ia ingin berusaha mengingat bentuk cincin itu, bentuk tangan itu, juga sosok orang yang memanggil namanya. Harusnya orang itu… Katsuki, 'kan? Tapi kenapa… Katsuki tidak menampakkan sosoknya? Kenapa ia tak bisa melihat suaminya sendiri?

Aneh. Lebih aneh lagi karena sosok itu memanggilnya 'Midoriya' terlebih dulu. Seingatnya dalam mimpinya sekalipun, sosok anak kecil yang mirip Katsuki saja memanggilnya 'Deku' bukan Midoriya. Katsuki tidak pernah memanggilnya Midoriya. Lagipula, untuk apa suaminya sendiri memanggilnya dengan nama yang sudah tidak ia gunakan lagi? Nama yang seharusnya berubah menjadi 'Bakugou' ketika ia menikah dengan pemuda itu.

Hanya saja, sosok yang mengenakan cincin juga memanggilnya 'Izuku' seperti Katsuki. Apakah itu artinya ada orang lain yang cukup dekat dengannya dan memanggilnya dengan nama kecil? Mungkin juga. Tapi… kenapa orang seperti itu bisa mengenakan cincin yang mirip dengan cincin yang dikenakannya? Seharusnya… itu tidak mungkin 'kan?

Menggerakkan kepala, Izuku pun menoleh pada pemuda yang masih tertidur dengan lelap itu. Cukup lama ia diam dan menatapnya sebelum gadis itu berkata, "Itu… pasti dirimu, 'kan?"

Tidak ada jawaban dari yang bersangkutan. Orang itu masih terbuai dalam mimpi hingga tidak menyadari bahwa Izuku tengah mengajaknya bicara. Andai saja ia terbangun, andai saja ia tidak menyerah dengan keletihan, mungkin ia berkesempatan untuk meyakinkan gadis yang mulai meragukan dirinya itu.

"Tapi," ujar gadis itu lagi, "kenapa kau tak mengenakan cincin yang sama? Kenapa… hanya aku seorang yang mengenakannya?"

Sekali lagi, pemuda itu tetap bergeming, tidak memberikan jawaban. Ia bahkan tidak menyadari, bahwa kini dirinya tengah dipertanyakan sebagai suami dari gadis yang tengah kehilangan ingatan itu. Namun sekali lagi, gadis itu mencoba menggelengkan kepalanya dan berpikir positif. Ia tak mendengar pembelaan apa pun dari pemuda itu dan Izuku pun tak mau berasumsi sendiri.

Memang sempat terlintas di pikirannya bahwa orang lain pun bisa memiliki hubungan yang spesial dengannya, tapi… ia meragukan itu. Ia sendiri bukanlah gadis cantik yang layak diperebutkan, juga bukan gadis kaya raya yang diincar banyak orang. Gadis seperti dia, seharusnya sudah sangat bersyukur memiliki suami sebaik Katsuki.

Ia tak mau lagi mencurigai seseorang yang sudah begitu memerhatikannya dan memperlakukannya layaknya benda paling berharga di dunia ini. Tak mau lagi berprasangka pada orang yang selalu berada di sisinya ketika ia membuka mata sekalipun terkadang tatapannya lebih menyiratkan kesedihan dibanding sukacita. Ia tak mau menyakiti pemuda ini lebih dari ini.

Sudah cukup baginya melihat tatapan sendu yang seolah menahan tangis setiap kali ia memandang manik semerah delima itu. Sudah cukup baginya melihat dahi yang berkerut menahan emosi, sudah cukup baginya mendengar permintaan maaf sekalipun ia tak mengerti kesalahan yang diperbuat pemuda itu. Sudah cukup, ia tak mau melihatnya lagi.

Karenanya, ia pun menyandarkan kepala pada bahu pemuda itu. Sembari memejamkan mata, gadis itu berkata, "Jangan lagi… menunjukkan sorot mata seperti itu, Katsuki!"

.

.

.

Kurang tidur berhari-hari tidak pernah menjadi masalah bagi Bakugou Katsuki. Ia sudah terbiasa dengan rasa nyeri di kepala atau pun pikiran yang kurang fokus dan pandangan yang berbayang saking kurangnya waktu istirahat. Tapi tidak pernah sekalipun ia mengeluhkan sakit di bahunya. Baru akhir-akhir ini ia mengeluhkan betapa sakit bahunya setiap kali ia membuka mata.

Namun ketika pandangannya turun ke bahu dan melihat helaian rambut warna hijau tengah menyandarkan diri pada bahunya, keluhannya pun sirna dalam sekejap. Malahan, ia mengangkat kepala sang pemilik rambut dengan hati-hati sebelum menyandarkannya kembali pada dadanya. Begitu kepala yang menyebabkan nyeri di bahunya sudah bersandar dengan nyaman di dadanya, jemarinya menyentuh helaian rambut hijau itu perlahan-lahan.

Ia menikmati sensasi ketika jemarinya menyentuh helaian rambut hijau di dekatnya. Begitu menenangkan hingga membuatnya menyentuhkan kepalanya sendiri di atas rambut itu sementara matanya kembali terpejam menikmati suhu kamar yang mulai naik seiring dengan tingginya sinar matahari.

Biarpun begitu, suhu yang semakin tinggi sepertinya tidak menjadi masalah baginya. Pemuda berambut ash blonde itu tetap memilih untuk memejamkan matanya, tak terganggu dengan udara yang mulai menghangat. Ia tetap bergeming di samping gadis itu, siap terseret kembali ke dalam alam mimpi.

Sayang sekali suara ribut-ribut di luar kamar membuatnya harus meninggalkan kedamaian kecilnya. Dengan amat terpaksa, Katsuki membuka kembali matanya dan menghela napas. Ia sudah siap untuk bangun dan mengecek sendiri sumber kegaduhan di rumahnya ketika pintu kamar dibuka secara mendadak. Seiring dengan terbantingnya pintu, suara yang menggelegar pun memenuhi ruangan.

"Katsuki, di mana kau?" Suara itu berkata dengan nyaring, "Cepat keluar! Jangan coba-coba bersembunyi! Aku sudah tahu bahwa kau ada di…"

Manik merah delima Katsuki menatap wanita yang baru masuk itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya matanya terbuka lebar. "Wanita sialan! Apa maumu kali ini?"

Bukannya marah-marah seperti yang tadi dilakukannya saat masuk, wanita berambut ash blonde yang sudah cukup berumur itu membuka mulutnya lebar. Ia menunjuk sosok di sebelah Katsuki dan dengan gagap ia berkata, "I-I-Izuku?

Menyipitkan mata, Katsuki mengikuti pandangan ibunya. Kata-kata disertai sumpah serapah sudah nyaris terlontar dari mulutnya. Hanya saja ia menahannya berhubung manik merahnya menangkap gerakan dari si pemilik rambut hijau yang tengah menggosok-gosok matanya.

"Bukannya…," ujar wanita itu sambil menunjuk Izuku, "bukannya… Izuku…"

Perkataan ibunya yang sepotong-sepotong membuat Katsuki memicingkan mata. Ia sudah hendak menghampiri wanita itu, menyeretnya untuk berbicara lebih jelas di luar tanpa diketahui gadis di sebelahnya. Sayangnya, manik hijau zamrud itu lebih dulu menangkap sosok tersebut sebelum Katsuki dapat menyeretnya.

"Mama… Mitsuki?"

Mendengar perkataannya, kepala Katsuki bergerak dengan cepat ke arah gadis yang baru terbangun itu. Kelopak matanya melebar ketika mendengar gadis itu menyebutkan panggilan akrabnya dengan sang Ibu. Seharusnya, gadis itu tidak bisa mengingat panggilan itu, seharusnya gadis itu tak tahu siapa wanita ini, seharusnya…

"Izu-chan!"

Tidak peduli bahwa ia baru saja menabrak putranya, wanita paruh baya berambut ash blonde itu langsung menerjang si gadis berambut hijau yang baru saja terbangun. Ia bahkan langsung memeluknya erat dan membuat si gadis kebingungan. Sekalipun sang putra sudah mencoba menariknya dari si gadis, tetap saja wanita paruh baya itu mengeratkan pelukannya dan berkata, "Kukira terjadi sesuatu denganmu… kukira… kukira…"

"E-eh?" Gadis itu berkata dengan bingung. "Terjadi sesuatu?"

"Itu…," ucap sang Ibu sebelum ia merasakan sesuatu yang dingin mencengkeram bahunya dan membuatnya memotong perkataannya. Dengan hati-hati, ia menoleh ke samping dan menemukan sang putra sudah berada di sampingnya dengan sorot mata paling jahat yang sudah biasa dilihatnya sejak pemuda itu masih balita. Melihat itu, otomatis sang Ibu pun langsung menyipitkan mata dan dengan isyarat bahwa ia akan mempersoalkan ini nanti, wanita itu kembali berkata, "Tidak, tidak terjadi sesuatu, tapi kenapa Izu-chan ada di sini?"

Mengerjapkan mata, Izuku berkata, "Apakah… seharusnya aku tidak di sini?"

Menelan ludah, Mitsuki menoleh ke arah putranya, meminta bantuan. Melalui telekomunikasi via sorot mata, akhirnya putranya mengambil alih pembicaraan dan berkata, "Kau sudah pikun, ya, wanita sialan? Minggu lalu 'kan sudah kukatakan padamu bahwa istriku kehilangan ingatan sehingga aku membawanya ke villa. Masa kau lupa?"

Dengan manik yang membelalak lebar, wanita itu menatap putranya. Selama sesaat, mereka berdua saling menatap tanpa kata-kata hingga si wanita kembali mengalihkan pandangannya pada Izuku. Sembari tersenyum canggung, wanita paruh baya itu berkata, "Kau sudah mengatakannya? Yang benar?"

"Dasar pikun," umpat Katsuki singkat sebelum perhatiannya kembali beralih pada gadis yang sedari tadi mengamati mereka. Manik merahnya kembali menyipit ketika melihat reaksi gadis itu dan ia berkata, "Apa… ada yang lucu, Izuku?"

Mendengar namanya dipanggil, gadis berambut hijau itu kembali berkata, "Tidak. Tapi Kacchan dan Mama Mitsuki masih tetap sama, seperti dulu."

"Sama… seperti dulu?"

Mengangguk tanpa menyadari manik merah yang tengah memberinya tatapan yang tak ingin ia lihat, Izuku berkata, "Aku bermimpi, melihat Katsuki kecil dan Mama Mitsuki."

"Mimpi… seperti apa?"

"Katsuki dan aku tersesat," ucap gadis itu sambil menatap tangannya dan tersenyum sedikit saat mengingat peristiwa itu, "lalu Mama Mitsuki dan Tou-san menemukanku."

"O-oh?" Mitsuki kembali berkata sementara pandangannya tertuju pada putranya. Ia mengerutkan dahi ketika melihat sorot mata yang sedikit berbeda di manik merah delima yang sewarna dengannya itu. "Itu sudah lama sekali 'kan? Sekitar lima belas tahun yang lalu."

Mengangguk, Izuku kembali berkata, "Ya, akhirnya aku mulai mengingatnya kembali. Sebentar lagi, aku akan mengingat Katsuki seutuhnya."

Ketika melihat sorot mata anaknya, Mitsuki pun menelan ludah. Ia meletakkan satu tangannya di bahu Izuku dan bangkit berdiri dari sofa yang ditempatinya. Ia juga menyentuh bahu putranya dan berkata, "Katsuki, kalau sudah bangun, sebaiknya kau membantuku menyiapkan sarapan."

"Hah? Kenapa aku harus…"

"Tidak ada bantahan!"

Terkikik pelan, gadis itu kembali menuai perhatian Katsuki. Ketika melihat dahi berkerut pemuda di sampingnya, gadis itu menunjukkan seringainya dan berkata, "Mh, selamat berjuang, Katsuki!"

Mengangkat alis dan mengacak rambutnya, pemuda berambut ash blonde itu hanya berkata, "Kau senang, ya?"

"E-eh? Apakah… Katsuki tidak senang?" Gadis itu bertanya dengan hati-hati dan menatap Katsuki dengan cemas. "Aku… salah?"

"Tidak, bukan itu," jawab Katsuki sambil menghela napas. "Aku hanya tidak cocok dengan wanita sialan itu."

"Begitu?" Gadis itu berkata sambil menatap ke arah pintu, tempat wanita yang memiliki kesamaan genetik dengan pemuda di sampingnya itu menghilang. "Padahal kukira Katsuki dan Mama Mitsuki sangat cocok satu sama lain."

Melihat gadis itu menundukkan kepalanya, Katsuki pun menyentuhkan satu tangannya di kepala gadis itu dan mengacak-acak rambutnya. Ia tak mengatakan apa pun sekalipun gadis itu menengadah, berusaha bertanya melalui sorot matanya dan mulai mengangkat tangannya dan akhirnya berbalik. Ia berjalan meninggalkan gadis yang masih memandangi punggungnya itu sembari melepaskan dasi yang masih dikenakannya dan menggulung lengan kemejanya. Ketika ia sudah berada di ambang pintu, ia menoleh ke samping dan melihat ibu kandungnya sudah menunggu.

"Apa di sini ada ruangan kedap suara?"

Menatap wanita itu, Katsuki pun melangkah melewatinya dan berkata, "Ikuti aku!"

Keduanya berjalan melintasi koridor hingga akhirnya tiba di ujung kamar yang lain. Membuka pintu, Katsuki pun masuk diikuti oleh wanita itu. Setelah wanita itu masuk, ia menutup pintu dan bersandar pada meja kerjanya. Sembari melipat kedua tangan di depan dada, pemuda berambut ash blonde itu berkata, "Jadi?"

"Aku ingin penjelasan," ucap wanita itu dengan pose yang sama dengan putranya dan bersandar pada lemari buku di belakangnya, "kenapa tiba-tiba Izu-chan bisa menjadi istrimu? Memangnya kapan aku memberi restu pada kalian?"

Tak ada jawaban dari putra tunggalnya itu. Sang putra hanya bergeming sembari memandangi parket mahogany di bawah kakinya. Cukup lama pemuda itu terdiam dan hampir saja Mitsuki kehilangan kesabarannya ketika pemuda itu akhirnya membuka mulutnya.

"Bukannya kau sudah merestuinya dari dulu?"

"Bukan itu maksudku," ucap Mitsuki dengan tidak sabar. "Seingatku, aku tidak pernah diundang ke pernikahan kalian, tapi tiba-tiba kalian sudah menjadi suami istri. Apa kau melakukan sesuatu padanya yang membuatmu harus menjadikannya sebagai istrimu?"

"Ya," jawab Katsuki singkat. "Aku membuatnya kehilangan ingatan."

"Kehilangan ingatan?" Wanita itu bertanya sambil mengerutkan dahi. "Memangnya kehilangan ingatan membuatmu harus menikahinya?"

Sekali lagi Katsuki menjawab dengan singkat, padat dan jelas, "Ya."

Mendengar jawaban dari putra tunggalnya itu, Mitsuki hanya dapat menggelengkan kepala tidak percaya. Dengan sedikit jengkel karena mendapat penjelasan yang sepotong-sepotong, wanita itu pun berkata, "Apa hubungannya kehilangan ingatan dengan menikahinya? Kalau hanya kehilangan ingatan saja, kau tidak perlu menikahinya 'kan? Gadis itu sudah punya tunang…"

"Justru karena itu aku harus menikahinya," potong Katsuki sebelum ibunya menyelesaikan ucapan, "supaya ia tidak menikah dengan orang itu."

Mitsuki tak dapat mengatupkan mulutnya ketika mendengar perkataan anaknya. Ia menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan tak percaya dan ia berkata, "Kau… apa?"

"Aku yang akan menikah dengannya," ujar putranya itu sambil menatap sang ibu, "bukan tunangannya."

Ibunya menggeleng-gelengkan kepala, masih tidak percaya. Malahan tanpa menahan diri, Mitsuki berkata, "Kau sudah gila? Merebut anak gadis orang dari tunangannya dan menculiknya ke tempat ini. Kau bisa masuk penjara, tahu?"

"Lalu?"

Kalau saja Mitsuki punya riwayat darah tinggi atau penyakit jantung, ia pasti sudah mati bila berhadapan dengan putra semacam ini. Untungnya kedua penyakit kronis itu tidak melekat satu pun padanya, sehingga ia masih bisa meneriaki putranya dan berkata, "Makanya, apa kau sudah gila? Kalau kau masuk penjara, kau bisa kehilangan karir dan Izu-chan sekaligus. Kenapa kau memilih cara seperti ini? Apa kalian tidak bisa bicara baik-baik?"

"Tidak bisa," ucap Katsuki dengan pandangan mata yang seolah memandang jauh ke tempat lain, "ia sudah tidak bisa diajak bicara lagi."

Mitsuki menelan ludah. Ini kedua kalinya ia melihat sorot mata seperti ini di mata putranya. Sorot mata yang membuat tenggorokannya tercekat dan panas. Sorot mata yang tak pernah dibayangkannya akan muncul di kedua manik semerah delima yang serupa dengannya.

"Semua upayaku tak ada hasilnya," lanjut anaknya, "hanya ini satu-satunya cara untuk mendapatkannya."

"Dengar," ucap Mitsuki yang akhirnya mendekat dan menyentuh bahu putranya, "kau tidak bisa melakukan ini. Itu artinya kau mengambil hak orang lain, Katsuki. Izu-chan bukan milikmu. Ia sudah menjadi milik orang lain."

"Tidak juga," sanggah Katsuki, "Izuku belum menjadi milik orang itu. Mereka baru bertunangan dan belum resmi menikah. Selama mereka belum menikah, masih ada kesempatan untukku."

"Tapi…"

"Selama sembilan puluh hari sebelum mereka melangsungkan pernikahan," lanjut pemuda itu sebelum sang ibu dapat membantah, "itulah kesempatanku."

Sudah ia duga, betapa sulitnya berbicara dengan putranya yang satu ini. Ia pun menghela napasnya dan dibanding membantah pemuda itu, Mitsuki akhirnya berkata, "Siapa tunangannya ini? Kenapa ia belum mencari Izu-chan hingga hari ini?"

"Todoroki…"

"Todo… pewaris Endeavor Group itu?" Mitsuki kembali berkata dengan terkejut. "Shouto Todoroki yang dulu juga sekelas denganmu?"

Katsuki mengangguk sementara Mitsuki menghembuskan napas dan menggelengkan kepalanya. Ia mengerjapkan mata seraya berkata, "Jadi karena itulah Iida-kun datang ke rumah dan menanyakan soal Izu-chan."

Dahi putra tunggalnya menyipit mendengar kabar tersebut dan ia berkata, "Iida?"

"Ya," jawab Mitsuki, "temanmu itu datang dan memintaku mengabarinya apabila aku tahu sesuatu mengenai Izu-chan. Kemungkinan besar, ia sudah mencurigaimu sebagai orang yang menculik Izu-chan. Hanya tinggal masalah waktu sebelum ia menemukan kalian."

"Tidak masalah, hanya sampai sembilan puluh ha…"

"Tidak akan sampai sembilan puluh hari," potong sang Ibu cepat. "Ia akan melaporkanmu ke petugas bila ia tak menemukan titik terang. Kau tidak bisa terus bersembunyi selama sembilan puluh hari, Katsuki!"

"Percuma saja," jawab Katsuki santai, "melapor pada petugas tak ada gunanya karena aku sudah meminta Kirishima mengurusnya."

Menggelengkan kepala, sang Ibu berkata, "Kau benar-benar sudah gila."

Katsuki tidak menjawab. Ia tidak bisa menyanggah perkataan sang Ibu. Ia sendiri tahu bahwa semua yang ia lakukan memang tidak masuk akal. Hanya karena seorang gadis, ia dapat melakukan hal-hal yang ia sendiri tak mengira akan diperbuatnya.

"Katsuki," kata sang Ibu akhirnya, "apa tidak ada gadis lain selain Izu-chan? Apakah harus dia seorang? Di dunia ini masih banyak gadis lain, dan kau bahkan tidak perlu bersusah payah mendapatkannya. Kau…"

"Tidak ada."

"Katsuki!"

"Tidak ada, wanita sialan," jawab pemuda itu dengan sorot mata yang sama. "Tidak ada dan takkan pernah ada."

"Kau belum mencoba…"

"Aku sudah mencobanya," ucap pemuda itu sambil menundukkan kepala, "dan semuanya terasa kosong. Tanpa Izuku, semuanya kosong."

Mendengar ucapan putranya, Mitsuki hanya dapat menggelengkan kepala. Ia memalingkan wajahnya dan memejamkan mata. Ucapan putranya membuatnya teringat saat-saat di mana ia kerap menjodohkan putranya dengan gadis manis yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri. Ia tak menyangka bahwa sikap turut campurnya kini justru menjadi penjara bagi anaknya. Penjara yang membuat anaknya tak dapat melihat orang lain selain gadis itu.

Ini salahnya. Ini benar-benar salahnya. Seandainya saja ia tak menjodohkan kedua orang itu, seandainya saja ia tidak ikut campur, seandainya saja ia tidak memaksakan kehendaknya pada putranya, mungkin sorot mata putranya takkan menjadi seperti sekarang.

Tak ada lagi keangkuhan di sorot mata itu. Tak ada lagi arogansi yang selalu ditemukannya setiap kali mereka bercakap-cakap. Hanya tersisa kesedihan, hanya tersisa rasa sakit dan penyesalan. Penderitaan yang terus menerus dirasakan putranya semuanya tergambar dalam sorot matanya. Penderitaan yang sebisa mungkin tak ingin dibebankannya pada putranya.

"Katsuki…", panggil Mitsuki sembari mengulurkan tangan dan menyentuhkannya pada bahu pemuda itu. "Sudah cukup!"

Menepis tangannya putranya berkata, "Jangan menghalangiku, wanita sialan! Aku tidak butuh bantuanmu tapi apabila kau menghalangiku…"

"Kau tahu," ucap Mitsuki sambil meletakkan tangannya mencengkeram erat leher putranya, "rupamu sekarang sudah sangat tidak enak dilihat."

Tak langsung menjawab, pemuda itu berkata, "Apa maumu sebenarnya?"

"Kalau kau ingin memperbesar kesempatanmu," ucap wanita itu sambil mencengkeram bahunya, "setidaknya perbaiki caramu menatapnya."

"Hah?"

"Tak ada wanita yang suka ditatap seperti itu," lanjut sang ibu sambil membingkai wajah putranya dengan kedua tangan, "tak ada wanita yang ingin diberikan tatapan sedih seperti ini."

Manik merah delima putranya melebar ketika mendengar ucapan sang Ibu. Ia ingin menyingkirkan tangan ibunya dan memalingkan wajah, namun sayangnya kedua tangan sang ibu mengapitnya erat. Tak punya pilihan, Katsuki hanya bisa mendecak sebal.

"Jangan lagi," ucap wanita itu sambil menatapnya, "memperlihatkan ekspresi seperti ini di hadapannya!"

"Hei, ini bukan urusan…"

"Mulai sekarang ini urusanku."

"Hah?"

"Kalau kau ingin memastikan Izu-chan jatuh ke tanganmu," ucap wanita itu sambil menatapnya galak, "sebaiknya kau dengarkan perkataanku mulai sekarang."

"Hah?"

.

.

.

(t.b.c)

Author's note :

Nyaris lewat dua minggu, XD untunglah masih belom lewat jauh dari tanggal kmaren apdet :P. Aniway :

Fujoshi-desu XD : Fujocchi, kamu dikejer lebar apa dikejer iblis granat? Kok mantranya kayak ngusir lebah? Mungkin harusnya Dekudekudekudedekuku supaya iblis granatnya pergi :P

Hmm, papi All Might ane pengennn masukin, entah kapan doi akan muncul, sementara Mami Inko, harusnya nggak ya, soalnya kan ortu Izuku uda meninggal

LOL, Kiri-chan memang kesianan, nasib jadi bawahan si iblis granat emang sengsara naujubilah, masih mending jadi bawahan abang Dispenser. Seenggak-enggaknya, Iida kerja masih disambut dengan ramah, beda ama iblis granat ;P

Ererigado : Yuhuuuu! Siapp! Laksanakan!

Shin Aoi : betull, Ao-chan, si Kacchan mulai ketar-ketir dia, tapi masih bisa nantangin Iida kok, belum lagi sekarang sekutunya nambah, sama Mama Mitsuki :P

LOL, ingetannya Izuku emang sukses bikin baper Izu-chan sih, ngasinya yang baik-baik dulu, coba kalo dia langsung munculin yang Kacchan jahatin dia, uda bubar dah :P

Dan… iyah, abang Dispenser juga uda nyariin, masa nggak di telepon, nggak di message sih, dia kan uda nunggu mau di notice ama Izu-chan, eh Izu-chan nya nggak notis-notis juga XD

Hikaru Rikou : yey! Seribu buat Hikacchi XD betul sekali Hikacchi, orang yang dijemput Kiri-chan itu Neneknya Izuku. Ane baru sadar pas baca ulang, ternyata ane lupa sebutin kalo itu Neneknya Izu-chan, eh malah jadi misteri deh :p

Sebetulnya, ane nggak punya ide siapa nama neneknya, makanya ane masih kosongin dulu, LOL, boleh banget kalo ada masukan nama neneknya Izu XD

Kalo jadi Kacchan, uda pasti panas dingin sih, mungkin doi tingkat akting dan boongnya jauh lebih expert dari kita yang hanya manusia biasa, Hikacchi, jangan lupa, doi kan si Explodo King "D

Miharu 348 : huwooo, ane pun sampe lupa yang mana Tododeku dan yang mana yang Katsudeku, soalnya pada dukung Kacchan semua XD

Senang ya, Kacchan! Didukung sama semua? #senggol2ExplodoKing #diledakin

Jeruk : Jeruk-san XD senang sekali masih sempetin ripiu (ehem, saya juga nunggu banget ff nya Jeruk-san loh :P ) LOL, Kacchan the nekad man. Maju Kacchan!

Aozora : holla Aozora, salam kenal XD ihiyyy, seneng banget ada guest yang tiba-tiba tulisin kesan pesan, jadi berasa penting :P (hanya imajinasi yang bersangkutan semata)

Uwaaa, buat Abang Dispenser, untuk ketemu Izu-chan itu… dia harus melewati Om Endeavor, dan sayangnya Abang Dispenser kita belom punya cukup nyali untuk ngelawan Abang Dispenser :P

Wow, tuh 'kan, Kacchan (tepok-tepok bahu King Explodo) kalo kamu manis bagitu kan banyak yang baper jadinya! #diledakin #saveauthor

And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!