.
.
.
Boku no Hero Academia not mine
90 days by cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
.
.
.
Enjoy!
Chapter 9 : Not the only one
Days 20
Cipratan air yang berulang kali dihantamkannya ke wajah tak membuat cekungan di matanya lebih baik. Hampir tak ada pengaruhnya walau ia sudah menggunakan sabun bermerk mahal ataupun produk perawatan terbaik. Tetap saja kantung matanya kian tebal dan wajahnya semakin kusam juga letih.
Ia sadar, ini bukan salah sabun atau produk yang ia gunakan. Tak ada yang dapat dilakukan untuk mengembalikan manik merah yang terlihat sedih, atau ekspresi lelah yang dikenakannya. Tak ada yang dapat dilakukannya untuk merekonstruksi kembali sosok di hadapannya menjadi sosok laki-laki yang diingatnya. Sosok laki-laki yang selalu terlihat angkuh, penuh kepercayaan diri, dan sesekali memasang seringai licik di wajahnya.
Tapi di mana laki-laki itu sekarang? Kenapa yang memandanginya malah lelaki pucat, lelah dan sedih? Di mana lelaki angkuh dan penuh percaya diri itu? Kenapa yang menggantikannya malah lelaki seperti ini? Ini bukan pemakaman. Tapi kenapa laki-laki yang memandanginya menatapnya dengan ekspresi sesedih itu?
Menggelengkan kepala, ia pun membasuh kembali wajahnya berusaha menyingkirkan bayangan laki-laki itu. Air menghantam wajahnya berulang kali, namun bayangan itu tak kunjung menyingkir. Berapa kalipun ia mengguyur wajah dengan air, ekspresi laki-laki itu tetap sama hingga akhirnya ia berhenti dan menyerah.
Ditatapnya kembali laki-laki yang memberikannya ekspresi setragis itu. Senyum sinis terkembang di wajahnya dan ia berkata, "Apa kau sudah mendapatkan pelajarannya?"
Tidak menjawab, laki-laki itu hanya membalasnya dengan senyum sinis yang sama. Percuma saja berbicara dengan laki-laki itu, ia tidak bisa menjawab pertanyaannya. Menyerah dengan laki-laki itu, tangannya meraih lekukan di tepian cermin wastafel dan ditariknya ke depan. Di hadapannya, cermin mengayun terbuka dan memperlihatkan bagian belakang cermin tempat sebuah foto terpajang di dalamnya.
Foto itu menunjukkan padanya seorang gadis yang tengah tersenyum sembari memegangi cangkir kopi. Manik hijau zamrud gadis itu tidak tertuju ke arah si kameramen dan ia pun seolah sedang mengobrol dengan karyawan kafenya. Namun senyum yang tertangkap dalam foto tersebut sudah cukup untuk memerangkapnya dalam pesona si gadis. Tak heran, hanya dengan melihat fotonya, ia dapat melakukan semua hal mustahil seperti ini.
"Kirishima!"
Bawahannya menoleh dari balik meja kerja dan memberikannya tatapan tak acuh yang sudah sering dilihatnya. Dengan nada enggan yang juga sudah tak asing, bawahannya berkata, "Apa?"
Satu tangannya terulur dan ia mengangkat amplop berwarna cokelat yang diletakkan sembarangan di atas mejanya. Berbeda dengan tumpukan kertas lain yang teratur di atas meja. Amplop itu digerak-gerakannya tanpa banyak bicara sementara tatapannya tertuju pada sang bawahan.
Selama sesaat, sang bawahan hanya mengerutkan dahi. Tapi tak lama kemudian, alisnya terangkat dan ia berkata, "Oh! Seseorang memberikannya untukmu di resepsionis tadi. Kenapa memangnya?"
"Kau tidak memeriksa isinya?"
"Tidak," jawab sang bawahan dengan perhatian yang sudah tertuju pada tumpukan kertas di meja masing-masing. "Kenapa? Memang isinya berbahaya?"
Mendecakkan lidah, ia pun berkata, "Keamanan di sini rendah sekali."
Tak mengindahkan sindiran sang direktur, bawahannya hanya balas berkata, "Yah, toh kau tidak akan mati hanya dengan satu atau dua surat kaleng."
Mengangkat alis, sang direktur tak mau mengambil pusing soal sikap bawahannya dan mengalihkan perhatiannya pada amplop di tangan. Membuka penutupnya, ia pun mengulurkan tangan untuk mengeluarkan benda yang terdapat di dalamnya.
Ia tidak terkejut ketika tangannya menyentuh beberapa lembar kertas di dalamnya, namun ia cukup kaget ketika menarik isinya dan menemukan foto-foto dengan obyek tak asing yang tertangkap di dalamnya. Foto-foto yang mengabadikan satu obyek yang telah dicarinya selama dua tahun ini. Obyek yang begitu dirindukannya dan ingin ditemuinya tercetak di dalam foto-foto tersebut. Walaupun tak diambil dari dekat, si pemotret mengambil gambarnya dengan cukup jelas sehingga ia bisa melihat ekspresi ataupun raut wajah gadis itu. Begitu jelasnya sehingga ia seolah tengah berada di tempat itu dan memandangi gadis yang keberadaannya begitu diinginkannya di dunia ini.
"Bagaimana?" Suara bawahannya yang nyaring membuat kesadarannya kembali. "Apa katanya? Ancaman untuk membunuhmu? Ancaman untuk berhati-hati saat berjalan di tempat sepi?"
Sang Direktur tak menjawab. Ia mengamati kertas-kertas yang disertakan di dalam amplop tersebut. Dibacanya perlahan-lahan kertas yang bertuliskan alamat dan biodata karyawan yang bekerja di kafe tersebut. Begitu lengkapnya hingga seolah-olah sang karyawan sendiri yang menuliskan datanya dan memberikannya padanya.
"Bakugou?"
Sang bawahan kembali mengerutkan dahi dan sekali lagi alisnya terangkat saat melihat ekspresi di wajah sang direktur. Ia bahkan sampai berdiri dari kursi yang ditempatinya dan mendekat pada ruangan milik sang direktur. Kemudian ia berkata, "Kau baik-baik saja? Kau pucat sekali. Memangnya apa isi kertas tersebut?"
Tanpa membuang waktu, ia memberikan seluruh amplop beserta isinya pada sang bawahan. Ia sendiri pun segera mengambil jas yang sebelumnya disampirkannya di belakang kursi dengan tergesa-gesa dan beranjak keluar dari ruangan. Ketika melihat sang bawahan sudah membuka mulut dan siap mengajukan pertanyaan, ia lebih dulu berkata, "Selidiki siapa pengirimnya!"
Sang bawahan mengerutkan dahi mendengar perintah tersebut. Namun ia tak ingin membantah kali ini. Raut wajah sang direktur bukan seperti orang yang sedang bercanda. Ia pun tak banyak bicara dan mengeluarkan berkas yang diterimanya dari sang direktur. Ketika ia melihat isinya, ia pun tak sanggup mengatupkan mulutnya.
"I-ini… bukankah ini…," sang bawahan berkata sambil menunjuk berkas di tangannya, "bukankah dia…"
"Kemudian selidiki juga validasi datanya," ujar sang direktur sambil mengenakan jasnya. "Untuk lokasi, biar aku sendiri yang mengeceknya."
"O-Oke, aku akan…" sang bawahan tiba-tiba terdiam dan matanya kembali melebar ketka menyadari apa yang tengah diperintahkan padanya. Ia menatap atasannya yang telah mengenakan jas dan segera berkata, "Tunggu dulu! Kau tidak bisa pergi begitu saja! Kau ada meeting dengan para direksi satu jam lagi. Kau tidak bisa pergi hanya karena urusan personal seperti i…Bakugou!"
Sebelum sang bawahan menyelesaikan ucapannya, ia sudah lebih dulu berlari hingga suara sang bawahan hanya terdengar sayup-sayup. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung menyingkir, memberi jalan tanpa banyak bertanya. Ia pun tidak berniat mengurangi kecepatan larinya. Dalam sekejap, ia sudah berada di parkiran mobil dan segera mengeluarkan kunci untuk memacu mobilnya.
Selembar foto berada di tangannya dan ia menatap foto itu sesaat sebelum ia menekan pedal gas. Ditatapnya foto itu selama beberapa saat, sebelum ia berkata, "Akhirnya! Akhirnya aku menemukanmu."
Dari saat itu, sudah berlalu tiga minggu sejak ia menyimpan foto tersebut di balik wastafelnya. Menggerakkan tangan, ditutupnya cermin wastafel dan disembunyikannya foto tersebut dari pandangan. Sekali lagi, ia beradu pandang dengan lelaki bermanik merah di hadapannya.
Andai saja ia tidak menerima foto tersebut, mungkin lelaki bermanik merah itu takkan menjadi seperti ini. Andai saja foto itu tidak mampir ke mejanya tiga minggu yang lalu, andai saja foto itu tidak digubris dan dibuang seperti berkas-berkas anonim yang lain, tentu laki-laki itu takkan kehilangan arogansi juga kepercayaan dirinya. Kalau saja ia tak mengacuhkannya seperti berkas lain di mejanya…
Ia terdiam untuk sesaat. Mungkinkah itu terjadi? Mungkinkah ia akan mengabaikan data yang sudah lama dicari dan melewatkannya hanya untuk mempertahankan sorot angkuh di matanya?
Tidak. Itu tidak mungkin. Mau diulang berapa kali pun ia akan tetap membuka amplop itu, mengeluarkan isinya dan langsung berlari untuk memastikan kebenarannya. Segalanya akan sama seperti yang terjadi sekarang. Orang yang mengirimnya sudah tahu bahwa ia tak bisa mengabaikannya. Orang itu sudah tahu bahwa ia tidak akan tinggal diam. Ia akan mengambil tindakan walaupun belum tentu tindakannya sejalan dengan keinginan si pengirim.
Tapi kalau memang begitu, apa tujuan si pengirim menyerahkan data-data ini padanya? Untuk mengganggu hubungan Todoroki Shouto? Kalau begitu, apa si pengirimnya punya dendam pribadi pada pewaris Endeavor Group itu dan memihaknya? Mungkin juga, tapi siapa yang mau melakukan itu?
Berdasarkan keterangan Iida, yang mengetahui pertunangan ini seharusnya tidak banyak. Kemungkinannya hanya keluarga Todoroki atau keluarga Izuku yang menyebarkan informasi tersebut. Bila dipersempit, itu berarti pengirimnya pun seharusnya masih dalam lingkup keluarga keduanya, bukan?
Masalahnya apa mungkin keluarga Todoroki mau memberikan informasi ini padanya? Ia tidak yakin bahwa keluarga besar pemuda itu mau bersusah payah menjatuhkan seorang Todoroki Shouto dengan mengirimkan data padanya. Bahkan ia ragu keluarga pemuda itu mengenalnya. Justru keluarga Izukulah yang mengenalnya. Tapi satu-satunya keluarga Izuku hanya sang Nenek yang ingatannya perlu diragukan.
Menghela napas, pemuda itu pun mengacak-acak rambut dan beranjak keluar dari kamar mandi. Dikesampingkannya soal amplop itu sementara ia melempar handuk ke atas ranjang dan mengenakan kaus berwarna hitam bergaris oranye yang telah ia siapkan sebelumnya. Baru setelahnya ia berjalan ke atas meja dan mengambil ponsel miliknya.
Jemarinya menyentuh pinggiran ponsel, menyalakan layarnya. Ketika melihat isi layar, ia baru menyadari adanya panggilan tak terjawab. Melihat betapa banyaknya kuantitas panggilan yang masuk membuatnya tak punya pilihan selain balas menghubungi kembali si penelepon. Mungkin anak buahnya itu memiliki informasi yang tengah dicarinya.
Beberapa saat lamanya ia menunggu hingga akhirnya suara bawahannya memenuhi ponselnya dan berkata, "Bakugou! Akhirnya!"
Alis terangkat dan Katsuki pun berkata, "Kenapa kau menghubungiku, Kirishima? Ada informasi baru?"
"Ya, soal tumpukan kertas…"
"Kututup!"
"Oke, soal orang tua yang kau minta untuk dijemput itu," ujar bawahannya dengan terburu-buru. "Kau masih mendengarkanku, 'kan?"
"Neneknya Izuku?" tanyanya untuk mengkonfirmasi orang yang dimaksud oleh sang bawahan. "Dia yang kau maksud?"
Dengan penuh semangat, sang bawahan kembali berkata, "Ya, dia. Aku mengunjunginya di rumah sakit beberapa hari yang lalu sesuai permintaanmu dan mengobrol dengannya. Awalnya kupikir Nenek itu sudah mulai pikun jadi aku mulai mengajaknya mengobrol mengenai cucunya. Kau tahu apa yang ia katakan padaku?"
Setengah tidak tertarik, Katsuki berkata, "Kau mirip dengan cucunya?"
"Bukan itu, menebaklah dengan lebih serius," pinta sang bawahan. "Masa kau tidak bisa menerkanya?"
Menghela napas ia pun berkata, "Kalau hanya ini yang ingin kau bicarakan…"
"Dia bilang dia tidak punya cucu."
Ia terdiam sejenak ketika mendengar perkataan sang bawahan. "Apa?"
"Aku bertanya soal Midoriya padanya,"lanjut sang bawahan, "tapi dia mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal dan anaknya tidak meninggalkan cucu."
Dahinya berkerut mendengar ucapan Kirishima. Ia terdiam selama beberapa saat dengan jemari telunjuk menyentuh dagunya dan berpikir. Tak lama kemudian ia pun berkata, "Nenek itu… berkata begitu?"
"Iya," jawab sang bawahan dengan cepat. "Dia bilang Midoriya bukan cucunya dan awalnya pun aku tidak percaya sampai aku menyelidiki kebenarannya sendiri."
"Kebenaran… macam apa?"
"Aku mengecek dari berbagai sumber," lanjut sang bawahan dengan suara ketikan terdengar sebagai latar belakang. "Ternyata selama ini, Midoriya Izuku bukan anak kandung keluarga Midoriya."
Menelan ludah, pemuda berambut ash blonde yang tengah duduk di kursi itu bergeming mendengarnya. Tangannya sedikit bergetar saat mendengar informasi itu, namun ia berusaha mempertahankan nada suaranya dengan berkata, "Lanjutkan!"
"Dari data yang kutemukan disebutkan bahwa keluarga Midoriya mendapatkan seorang anak perempuan." Bawahannya itu membacakan arsip yang telah ia temukan. "Entah bagaimana mereka mendapatkannya, tapi mereka menyembunyikan nama aslinya dan memasang nama Midoriya padanya."
"Nama aslinya…?"
"Ya," jawab sang bawahan. "Bukan Midoriya Izuku, marga aslinya bukan itu."
"Lalu sia…"
Suara ketukan di pintu membuat pemuda itu menghentikan ucapannya. Ia memicingkan mata dan mendengarkan ketukan yang kian lama kian bergemuruh pertanda bahwa orang di depan sudah tak sabar untuk dipersilakan masuk. Menyadari itu, ia pun menutup speaker di ponsel dan berjalan mendekat untuk membukakan pintu.
Pintu berayun terbuka dan wanita dengan kemiripan genetik yang hampir sembilan puluh persen itu pun menunjukkan diri di hadapannya. Wanita itu menatapnya dengan memicingkan mata dan berkata, "Ada tamu."
"Tamu?" Katsuki berkata sambil menyipitkan mata. "Siapa?"
Tidak langsung menjawab, wanita itu berkata, "Kau lihat saja sendiri."
Masih dengan menyipitkan mata, pemuda itu menahan sang ibu dan berkata, "Kenapa kau mengizinkannya masuk wanita sialan?"
Menatap putranya, wanita itu pun berkata, "Karena orang itu bilang bahwa dia ingin berbincang-bincang denganmu mengenai putrinya."
"Mengenai putri…" Manik merah delimanya melebar mendengar perkataan sang Ibu. Tanpa suara, kedua manik semerah delima itu saling pandang hingga akhirnya ia berkata, "Siapa yang dia maksud? Asui-san?"
Menggelengkan kepala, sang Ibu pun berkata, "Bukan. Bukan Tsuyu yang ia maksud."
"Lalu sia…" Perkataan pemuda itu terhenti sebelum diselesaikan. Ia menatap ponsel di tangannya dan menempelkannya kembali ke telinga. Sembari berusaha mengendalikan suaranya, pemuda satu itu berkata, "Kirishima, kau tidak bilang bahwa ayahnya masih hidup."
"Hah? Tentu saja ayah kandungnya masih hidup!" Bawahannya itu berkata dengan nada serius. "Ia memang sempat menghilang dari media, tapi kalau ia meninggal para awak media pasti sudah sibuk memberitakannya."
Katsuki memejamkan mata mendengar perkataan bawahannya. Ia punya dugaan, tapi enggan berasumsi sendiri. Sebaliknya ia membuka mata dan kembali berkata, "Siapa namanya?"
Terdengar jeda sesaat sebelum akhirnya sang bawahan menyebutkan sebuah nama. Ketika nama itu disebut, ia pun meletakkan satu tangan menutupi wajah dan menghela napas. Segalanya sesuai dengan tebakannya.
"Bakugou? Kau masih mendengarkan?" Bawahannya bertanya dengan antusias. "Apa kau terkejut?"
"Tidak," jawab pemuda itu sambil menggerakkan kepala dan menatap ibunya, "aku sudah menduganya."
"Oh?"
"Ya," lanjutnya sambil melangkah dan menutup pintu kamarnya. "Pantas saja ia bisa menemukanku hanya dalam waktu lima hari."
"Menemukanmu?" Bawahannya bertanya dengan bingung. "Berarti dia…"
"Kututup dulu," ucap pemuda itu. "Aku tak boleh membuat orang seterkenal itu menungguku."
"Hah? Orang itu datang ke tempatmu?" Lawan bicaranya kembali berkata. "Yang benar? Kalau begitu mintakan tanda tangannya untukku. Dia idolaku sewaktu aku masih kecil. Aku bahkan masih menyimpan koleksi filmnya di lemariku."
"Kirishima," tegurnya, "harus berapa kali kubilang untuk mengesampingkan urusan personalmu saat bekerja?"
"Katakan itu pada dirimu sendiri!" Bawahannya balas berkata dengan ketus. "Kalau aku tidak mendapatkan tanda tangan Toshinari Yagi, jangan harap aku mau membantumu lagi!"
.
.
.
"Hei Midoriya! Siapa walimu yang akan datang untuk konsultasi pemilihan sekolah?"
Gadis itu menoleh dan menatap orang yang mengajaknya bicara. Ia hendak mengucapkan sesuatu, namun orang lain lebih dulu menyambar ucapannya.
"Mana mungkin ada. Ayahnya 'kan sudah meninggal. Apa mungkin hantu ayahnya yang datang dan berkonsultasi dengan Sensei?"
Beberapa orang di sekitarnya tertawa terbahak-bahak, tapi anehnya ia tidak bisa ikut tertawa. Mereka tidak bisa mengerti bagaimana kesedihannya, bagaimana kemarahannya karena ayah satu-satunya meninggalkannya begitu saja. Mereka tidak mengerti dan hanya bisa menertawakan keadaannya. Ia berusaha menahan diri, tahu bahwa tak ada gunanya marah pada teman sekelasnya. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan bahunya yang bergetar ataupun airmatanya yang nyaris menetes. Karenanya ia pun bangkit berdiri dan baru saja akan beranjak keluar ketika terdengar suara gebrakan yang memekakkan telinga.
Suara gebrakan itu membuat setiap pasang mata tertuju pada sumber suara dan menghentikan tawa seisi kelas. Keheningan pun menyusul tak lama setelahnya diiringi dengan suara bangku digeser dan langkah kaki seseorang yang mendekat pada gadis itu. Selangkah demi selangkah hingga akhirnya berhenti tepat di hadapannya.
"Ayo keluar!"
Selama sesaat, perhatian si gadis tertuju pada tangan yang terulur padanya. Namun dengan segera ia mengalihkan tatapan dari tangan itu dan tidak berkata apa pun lagi. Ia berjalan keluar dari kelas, namun pemuda yang mendekat padanya menarik tangannya dan menyeretnya. Bersama-sama mereka keluar diiringi setiap pasang mata dari seisi kelas.
Berjalan dengan langkah lebar, pemuda yang menariknya berjalan lebih dulu di hadapannya sementara gadis itu terseret di belakang. Ia berusaha melepaskan diri dan meronta, sayangnya tenaganya tidak ada artinya bagi pemuda itu. Mereka berjalan hingga berhenti di tempat yang cukup jauh dari ruang kelas barulah tangannya dilepaskan. Mengambil tempat berseberangan, gadis itu mengusap-usap pergelangannya seraya berkata,
"Kacchan kenapa sih?" tanya gadis itu dengan sedikit jengkel. "Aku bisa menghadapinya sendiri. Kacchan tidak perlu ikut campur."
"Tidak perlu ikut campur?" Nada suara pemuda itu pun sedikit meninggi ketika mengulangi ucapannya. "Memangnya kau bisa apa bila aku tidak menginterupsi? Membiarkan mereka terus mengolok-ngolokmu seperti tadi?"
"Lalu kenapa?" Gadis itu balas bertanya. "Mereka benar. Aku memang tidak punya ayah. Ayahku meninggal gantung diri. Ayahku meninggalkanku sendirian dan membuatku tidak dapat kuliah seperti yang lain. Lalu apa masalahnya?"
Manik merah itu tidak bisa menjawab. Ia tidak dapat membalas kata-katanya dan hanya dapat memandangi manik hijau yang menatapnya dengan berkaca-kaca.
"Apakah aku salah karena memilih untuk bekerja? Apakah aku salah karena tidak kuliah seperti yang lain? Apakah aku salah karena ayahku sudah meninggal dan tidak bisa menghadiri sesi konseling? Apakah itu salahku?"
Tak bersuara, pemuda itu memilih untuk menatapnya. Mulutnya terkatup, tidak ingin memotong ucapan si gadis.
"Aku juga marah, aku kesal," ujar gadis itu dengan mata yang memicing menahan tangis. "Aku tidak ingin kehidupan yang seperti ini."
Bahunya bergetar, dan berusaha keras mengendalikan diri. Airmatanya nyaris tumpah namun ia mengerjap-ngerjapkan mata dan mengalihkan pandangan. Paling tidak upayanya berhasil.
"Lalu," ucap pemuda yang akhirnya menemukan suaranya, "kau ingin kehidupan yang seperti apa?"
Kepala gadis itu kembali tertuju pada si pemuda. Manik merah delima bertemu dengan manik hijau zamrudnya. Seharusnya ia bisa menghindarinya tapi di bawah tatapan itu, ia hanya dapat menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu," ujarnya pelan, "aku tidak tahu."
Menghela napas pemuda itu pun mendekat dan mengulurkan tangan padanya. Pemuda itu menariknya, melingkarkan kedua tangan di tubuhnya, memeluknya erat sekalipun gadis itu menolak. Salah satu tangannya mencengkeram erat rambut gadis itu dan ia berkata, "Dasar gadis bodoh!"
Si gadis mencoba melepaskan diri dari pelukan si pemuda walaupun sia-sia. Pelukan pemuda itu justru semakin mengencang, membuatnya terkurung dalam pelukan pemuda itu. Menyerah, ia hanya bisa memperingatkan dengan suara yang tak lebih dari sekedar cicitan pelan, "Kacchan!"
"Bagaimana bisa kau tidak tahu," ujar pemuda itu sambil mengencangkan genggamannya, "kehidupan yang selama ini kau impikan?"
"Lepaskan aku!" Ia berkata sambil mencoba melepaskan diri. "Lepaskan ak…"
"Bagaimana aku bisa menciptakannya," ucap pemuda itu sembari menahan wajah gadis itu di hadapannya, "kalau kau tidak mengatakannya padaku?"
Gerakan gadis itu terhenti dan ia menatap pemuda yang ada di hadapannya. Ia mengerjapkan mata dan dahinya berkerut. "A…pa?"
"Kau sudah dengar tadi," ucap pemuda itu tanpa ada niat untuk mengulangi ucapannya.
Mulut gadis itu terbuka dan matanya mengerjap tidak percaya. Ia hendak mengucapkan sesuatu, namun tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tergagap, gadis itu akhirnya berkata, "A-aku…"
Sebelum Izuku meneruskan perkataannya, seseorang mendekat pada mereka. Kehadirannya membuat gadis itu berhenti bicara dan berpaling, mengamati sosok yang baru saja menghampiri keduanya. Dengan ekspresi datar dari manik heterochromenya, orang itu pun berkata, "Bakugou! Sensei memanggilmu!"
Gadis itu berpaling ketika mendengar suara tersebut. Kata-kata yang sebelumnya hendak diucapkannya lenyap ketika mendengar suara itu. Entah di mana, sepertinya ia pernah mendengar suara ini namun ia tak dapat mengingatnya.
"Memangnya sudah giliranku?"
"Orang tuamu sudah datang," jawab pemuda itu sambil menunjuk ke belakang. Kemudian perhatiannya beralih pada gadis itu dan membuat manik heterchromenya menatap manik hijau zamrud si gadis. "Midoriya!"
Seperti disengat listrik, gadis itu tertegun saat mendengar namanya disebut. Ia menatap si pemuda dengan keheranan, ada perasaan aneh ketika mendengar suara itu memanggil namanya. Perasaannya mengatakan bahwa ia mengenal suara ini, hanya otaknya tak mau memroses kenangan itu lebih lanjut. Seolah ada dinding tebal yang menghalangi memori dalam otaknya.
"Kau juga diminta ikut serta," ucap pemuda itu sambil menunjuk ke belakang. "Sebaiknya kau bergegas!"
Manik hijau zamrudnya masih tertuju pada pemuda dengan warna rambut berbeda dan bola mata yang juga berbeda warna itu. Sikap diamnya sepertinya menarik perhatian si pemuda berambut ash blonde, hingga membuat pemuda itu menarik tangannya. Sedikit tidak sabaran, pemuda itu pun berkata, "Ayo, Deku!"
Perhatiannya kembali beralih pada si pemuda berambut ash blonde. Dengan sedikit gelagapan, ia mengikuti teman masa kecilnya yang sudah berada satu langkah di depannya. Hanya saja sebelum ia beranjak menuju ruang fakultas, gadis itu menyempatkan diri untuk berbalik dan menoleh ke belakang. Ia mencuri waktu untuk menatap si pemilik suara yang terdengar familier di telinganya itu.
"Hei, Deku?"
Kepalanya kembali dialihkan dan ia menatap teman masa kecilnya. Berjalan mendekat, gadis itu pun menunjuk pemuda di belakangnya lalu berkata, "Kacchan, apa kau mengenalnya?"
Alis terangkat sementara pemuda itu menatapnya dari atas ke bawah sebelum berpaling dan menatap ke depan. "Tidak."
"Tapi ia sepertinya mengenalmu," kata gadis itu sambil menunjuk pemuda di belakang mereka. "Aku penasaran siapa dia."
"Memangnya kenapa?" Pemuda berambut ashblonde itu kembali bertanya. "Dia tidak ada hubungannya denganmu."
Memicingkan dahi, gadis itu pun menoleh kembali ke belakang. Ia tidak begitu yakin bahwa pemuda itu tidak ada hubungannya karena suara pemuda itu begitu familiar. Ia ingin bertanya, tapi ada hal lain yang lebih menyita perhatiannya. Ia pun menatap pemuda di sampingnya dan berkata, "Kacchan, yang tadi itu, apa maksudmu dengan menciptakan kehidupan untukku?"
Pemuda itu menoleh padanya, "Menurutmu?"
Langkah kakinya terhenti dan ia memandangi pemuda yang berada beberapa langkah di depannya. Pemuda itu terus melangkah hingga menyadari bahwa ia tak lagi mengikutinya. Ketika itu, barulah sahabatnya itu berpaling dan menunjukkan ekspresi jengkel yang khas di wajahnya.
"Sebelumnya, Tou-chan lah kehidupan bagiku," kata gadis itu sambil menatapnya, "apakah itu artinya Kacchan akan menempati posisi Tou-chan sebagai penopang hidupku?"
Manik merah pemuda itu menatapnya. Mereka bertatapan selama beberapa saat sebelum akhirnya pemuda itu mengangguk. "Merepotkan, tapi aku tidak punya pilihan."
Kelopak matanya kembali bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca mendengar perkataan pemuda itu. Ia pun berkata, "Kalau begitu, Kacchan akan selalu berada di sisiku seperti Tou-chan, akan mendengarkan ucapanku dan takkan pernah meninggalkanku?"
Sekali lagi pemuda di hadapannya tak langsung menjawab. Ia hanya menatap gadis itu sebelum akhirnya berkata, "Ya."
Mendengar itu, tenggorokan si gadis pun tercekat dan ia tak kuasa menahan airmata yang jatuh menuruni pelupuk matanya. Ia mencoba menghapusnya tapi airmatanya malah mengalir semakin deras dan ia terisak. Airmata yang selama ini ditahannya akhirnya tumpah sekalipun ia telah mencoba menyembunyikannya.
"J-jangan malah mengatakan 'ya' begitu" ucap gadis itu sambil berusaha menghapus airmatanya. "Kacchan biasanya tidak seperti ini."
"Iya," jawab pemuda itu sembari berjalan kembali ke arahnya, "kupikir juga aku sudah tertular kebodohanmu."
"A…"
"Kuharap kau tidak menjadi bodoh," kata si pemuda sambil menundukkan sedikit kepala, "dan malah menolaknya."
Menolaknya? Bagaimana mungkin ia bisa menolak? Sejak ia masih kanak-kanak, ia sudah bermimpi untuk menjadi pendamping pemuda ini. Sejak masih kanak-kanak, ia selalu berdoa agar kelak ia bisa bersanding dengan pemuda ini. Sekarang ketika impiannya menjadi kenyataan, mana mungkin ia melepaskannya begitu saja?
Ia mengangguk. Mengangguk kuat-kuat dan mengiyakan perkataan pemuda itu. Tapi ketika ia hendak mengatakan sesuatu, sebuah suara terdengar begitu jelas di telinganya.
"Semuanya lenyap," ujar suara itu, "Semuanya harus dilenyapkan."
Jantungnya berdegup ketika mendengar suara yang muncul di belakang punggungnya. Ia berbalik, namun ia tidak melihat apa-apa. Hanya ada lorong yang kosong di salah satu bangunan sekolah.
"Keluargamu, rumahmu, segala milikmu akan kulenyapkan," ujar suara itu lagi, "Aku akan merebut segala milikmu, seperti caramu merebut semua milikku."
"Deku?"
Manik hijaunya menatap pemuda di hadapannya dengan panik. Ia menggenggam tangan pemuda itu, "K-Kacchan…"
"Satu orang sudah lenyap," kata suara itu lagi, "siapa berikutnya?"
Ia menggeleng kuat-kuat sembari menutup kedua telinganya, tidak mau mendengar suara itu. "Tidak ada yang lenyap. Kau pembohong!"
Kali ini ia mendengar suara tawa, meremehkannya. Suara itu membuatnya menekan telinga kuat-kuat, berusaha agar suara itu tidak terdengar. Ketika ia melakukannya, sebuah tangan disentuhkan padanya dan berkata, "Deku! Kau kenapa? Kenapa bicara sendiri?"
"K-Kacchan?" Gadis itu berkata sembari menurunkan tangannya perlahan-lahan. "A-ada orang jahat. Orang yang tertawa sinis dan berkata bahwa ia sudah melenyapkan seseorang."
"Hah?"
"Benar, orang itu…"
Ia hendak menjelaskan, namun tangan pucat yang sedikit keriput itu tiba-tiba muncul di hadapannya dan menyeret pemuda di hadapannya pada kegelapan di belakangnya. Selama sepersekian detik, manik hijau zamrudnya melebar dan mencoba untuk menarik kembali teman sejak kecilnya itu. Tapi tangan itu lebih cepat, tangan itu lebih dulu menarik teman masa kecilnya. Sahabatnya. Kehidupannya.
Dan Izuku pun berteriak.
Manik hijau zamrud yang sebelumnya bersembunyi di balik kelopak, tiba-tiba saja menunjukkan diri. Masih terengah-engah, sang pemilik mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan hingga pandangannya berhenti pada gadis pelayan yang duduk di sampingnya. Mereka saling menatap selama beberapa saat hingga akhirnya gadis itu berkata, "T-Tsuyu-san?"
"Tsuyu saja sudah cukup, Midoriya-san," ujar gadis itu sambil mengelap keringat yang mengalir di dahinya. Dengan sabar, gadis pelayan itu terus melanjutkan pekerjaannya hingga dirasanya Nona yang dirawatnya sudah mulai tenang. Barulah saat itu ia berkata, "Anda baik-baik saja? Teriakan Anda kencang sekali, Midoriya-san. Apa Anda bermimpi buruk?"
Masih sedikit gemetaran, Izuku pun menjawab, "B-buruk."
Gadis pelayan yang melayani villa keluarga Bakugou itu pun membalas anggukannya dan berkata, "Mungkin akibat demam. Tak heran Anda bermimpi buruk."
"Demam?"
Kembali mengangguk, sang pelayan pun berkata, "Ya. Anda tidak ingat? Anda sudah terbaring selama lima hari di tempat tidur, Midoriya-san."
"Lima hari?" Gadis dengan rambut hijau daun itu berkata dengan bingung. "Sudah berlalu lima hari?"
Si pelayan kembali mengangguk sementara Izuku mendesah tidak percaya. Ia menatap kamarnya sekilas mencari-cari sosok yang biasanya selalu ditemukan ketika ia membuka mata. Tapi kali ini, sosok itu tidak terlihat di mana pun. "Katsuki…?"
"Bakugou-san sedang kedatangan tamu," jawab Tsuyu sambil memeras lap yang tadi disentuhkannya ke dahi Nona rumah. Ia pun mengambil lap lain yang telah direndam dengan air es, memerasnya sebelum meletakkannya kembali pada dahi gadis yang baru sadar itu. "Saya menggantikannya merawat Anda."
"Tamu?" Gadis itu berkata sambil mengerutkan dahi. "Siapa?"
Menggelengkan kepala, sang pelayan pun berkata, "Saya juga kurang tahu."
Perasaan tidak enak kembali menghantui ketika ia teringat akan mimpinya. Tanpa bisa dicegah, gadis berambut hijau itu menurunkan kakinya dari tempat tidur dan mengenakan sandal yang ada di bawah ranjang. Baru saja ia hendak melangkah, tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan sehingga sang pelayan langsung memapahnya.
"Jangan memaksakan diri, Midoriya-san!" Gadis pelayan itu mengingatkan. "Anda baru saja sadar."
"Katsuki," ucap gadis itu sambil berjalan walau harus menyeret dirinya sendiri, "Aku harus menemui Katsuki."
Alis si pelayan berkerut mendengar perkataan Nona yang tengah dirawatnya. "Tenang sedikit, Midoriya-san! Bakugou-san ada di ruang depan. Saya bisa memanggilkannya untuk Anda."
Gadis itu menggeleng dan ia berkata, "Tidak! Aku harus memperingatkan Katsuki. Aku harus memperingatkannya."
"Memperingatkan soal apa, Midoriya-san?" Si pelayan bertanya dengan bingung. "Apa maksud Anda?"
"Seseorang akan mengambilnya, seseorang akan datang dan melenyapkannya," ucap gadis itu. "Aku melihatnya. Aku melihatnya ditarik begitu saja, aku melihatnya diseret ke dalam kegelapan. Aku…"
"Tenang sedikit, Midoriya-san," ulang si pelayan sambil menahan tubuh mungil gadis yang baru sadar itu. "Anda hanya bermimpi. Bakugou-san baik-baik saja di ruang depan bersama tamunya."
Sekali lagi gadis itu menggeleng dan dengan tangan yang bergetar ia berkata, "Tolong! Aku harus menemui Katsuki! Aku harus memperingatkannya."
"Midoriya-san, mohon tenang sedikit," ucap sang pelayan untuk ketiga kalinya sambil mencengkeram bahu gadis itu dan memaksanya duduk kembali di tepian ranjang, "Semua itu hanya mimpi, Anda tidak perlu khawatir."
"Tidak, itu bukan mimpi," ulang gadis berambut hijau sembari menggeleng. "Itu nyata. Itu…"
Perkataannya terhenti ketika mendengar bunyi langkah kaki yang tergesa-gesa di ruangan depan. Tak lama kemudian, terdengar bunyi pintu mengayun dengan seorang pemuda berwajah pucat memasuki ruangan. Pemuda itu langsung berjalan menghampirinya, kepanikan terlihat di seluruh wajahnya. Ia menggenggam tangannya dan berkata, "Apa yang terjadi? Izuku? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Tsuyu?"
"Bakugou-san!" Sang pelayan berkata ketika melihat Tuan rumahnya datang. "Midoriya-san sepertinya bermimpi buruk."
"Mimpi buruk? Mimpi a…"
Pemuda bermanik merah itu tidak melanjutkan lagi ucapannya. Ia terdiam ketika merasakan tangan mungil itu memeluknya erat dengan tubuh gemetar. Alisnya terangkat dan ia menatap pelayannya dengan bingung. Namun sang pelayan malah membungkuk dan undur diri dari hadapannya. Meninggalkannya berdua dengan gadis yang tiba-tiba melingkarkan tangan pada tubuhnya.
Selama beberapa saat, keduanya diam dan tak ada yang memulai pembicaraan. Gadis itu masih gemetar, sementara Katsuki mengambil tindakan dengan mengusap punggungnya pelan. Walaupun berbagai pertanyaan sudah berada di ujung lidahnya, pemuda itu memilih untuk menunggu, hingga gadis itu sendiri yang bicara. Untunglah penantiannya tak berlangsung selamanya.
"Ka…tsuki…"
Menggumam perlahan, Katsuki meletakkan dagunya di bahu gadis itu.
"Jangan pergi…," gadis itu berkata dengan pelan, "jangan pergi!"
Tangan yang mengusap punggung gadis itu pun berhenti bergerak. Manik merahnya tertegun mendengarnya. Setelah beberapa saat, pemuda itu berkata, "Memangnya aku mau pergi ke mana, Izuku?"
Gadis yang memeluknya tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, tak membiarkan Katsuki melihat wajahnya. Justru kelembapan di kauslah yang berbicara mewakili gadis itu.
"Izuku…?"
"Suara itu bilang… akan melenyapkanmu," kata gadis itu lagi. "Suara itu bilang akan melenyapkan semua dariku. Suara itu…"
"Suara?"
Mengangguk, gadis itu pun mengangkat kepalanya. Dengan wajah yang sedikit basah, ia menceritakan mimpi yang baru saja dilihatnya sementara pemuda itu mendengarkan dengan seksama. Beberapa saat lamanya, barulah pemuda itu berbicara.
"Itu tidak mungkin," kata pemuda itu sambil memeluknya. "Suara itu takkan bisa melenyapkanku. Kau tidak perlu khawatir. Itu hanya mimpi."
Beberapa orang mengatakan bahwa ini hanya sekedar mimpi, bahwa ini bukan kenyataan. Tapi gadis ini tahu lebih baik dari siapapun. Ini bukan sekedar mimpi. Ini kenyataan, memori yang muncul dan bergabung dengan mimpi-mimpinya. Ia tahu, ia pernah mendengar suara itu. Bukan di dalam mimpi, bukan imajinasinya semata, ini kenyataan.
Namun ia tidak mau membantah. Suaminya mungkin menganggapnya gila karena ia mendengarkan suara dalam mimpinya. Ia sudah kehilangan ingatan, ia tak mau menambah beban sang suami dengan bersikap sebagai orang yang cacat mental. Ia pun terpaksa mengalah dan menerima penjelasan bahwa semua yang didengarnya hanya mimpi. Andai saja ia tahu, bahwa sang suami pun tidak mengabaikan begitu saja peringatan itu.
Bukan mimpi. Katsuki tahu bahwa suara yang didengar istrinya adalah kenyataan. Seseorang sudah memberinya peringatan tentang hal itu dan mimpi Izuku hanyalah konfirmasi dari apa yang sudah ia dengar. Ia hanya tak ingin membuat istrinya khawatir, sekalipun ia cemas akan apa yang menanti setelah berbincang-bincang dengan tamunya.
"Bagiku ini bukan masalah besar," ujar tamu yang duduk berseberangan dengannya sembari memegangi cangkirnya. "Kau hanya menculik anak gadis seseorang, membuatnya kehilangan ingatan dan mengisolasinya di suatu tempat. Ya 'kan?"
Kedua manik semerah delima itu tak berkedip mendengar sindiran tamunya. Mereka tetap diam sambil mengamati pria kurus yang mengambil tempat di seberang mereka. Walaupun begitu, rasa penasaran tetap terpancar dari wajah keduanya. Terlebih ketika tamu yang datang di luar ekspektasi mereka.
"Aku tidak mau menjadi orang tua penuntut yang membatasi pergaulan putrinya, tentu saja," lanjut pria itu, mengabaikan reaksi keduanya yang berbeda-beda. "Apalagi aku pun mengerti bahwa darah muda memang sulit dilawan. Waktu seusia kalian, aku pun sama impulsifnya denganmu, Young Bakugou."
Alis terangkat, namun pemuda bermanik merah itu tetap mengatupkan mulutnya. Ia menduga masih banyak yang ingin disampaikan dan berpendapat bahwa diam saja jauh lebih cepat. Toh ia juga tak mau membuang waktu berharganya.
"Tapi begini," kata pria itu sembari meletakkan cangkir dan mulai menggunakan nada seriusnya saat bicara, "kau harus tahu bahwa gadis yang kau culik itu masih punya ayah. Secara hukum, ia masih berada di bawah wali sang ayah dan seharusnya kau meminta izinnya dahulu sebelum menculik putrinya."
Salah besar bila sang tamu mengira bahwa pemuda ini mudah diajak berbicara dan mengikuti keinginan orang lain. Sebaliknya malah, pemuda itu tipe pemuda yang dapat mengabaikan semua aturan dan mengikuti prinsipnya sendiri. Begitu juga kali ini. Ia tak peduli sekalipun yang datang adalah orang tua si gadis. Gaya bicara kasarnya yang sudah menjadi makanan sehari-hari pun kembali muncul di permukaan.
"Walinya?" Ia berkata dengan nada mencemooh, "Memangnya ada surat tertulis yang menyatakan dirimu sebagai walinya?"
Pertanyaannya membuat pria kurus yang ditanyainya menyunggingkan senyum tipis. Masih dengan nada bicara yang tenang, pria itu berkata, "Tumben! Kupikir kau akan seinformatif biasanya. Jadi kau tidak tahu bahwa aku adalah wali Izuku yang sah?"
Memicingkan mata, pemuda bermanik merah itu berkata, "Omong ko…"
"Wah!" Pria di hadapannya memasang ekspresi kaget di wajah. "Ke mana saja kau selama ini, Young Bakugou? Kenapa kau bisa tidak mengeta… Ah! Benar juga! Kau 'kan sudah tak berhubungan dengan My Girl dua tahun belakangan ini."
Walaupun diberi tatapan mengancam, sepertinya sang tamu tak urung menghentikan ucapannya. Dengan santainya ia terus saja berceloteh, "Kenapa aku bisa lupa? Young Todoroki lah tunangannya dan bukan kau, Young Bakugou! Kau justru hanya mantan kekasih putriku."
Tangan pemuda itu menggebrak meja dengan cukup keras, membuat pria kurus di hadapannya berhenti berceloteh. Senyum sinis pun tersungging di bibirnya sementara pemuda yang ditemuinya memberi tatapan mengancam. Dengan menekankan nada bicaranya, pemuda itu berkata, "Apa maumu, 'Allmight'? Apa kau di sini hanya untuk mengolok-ngolokku?"
Mengangkat bahu, pria ceking itu berkata, "Berbincang-bincang?"
"Aku tidak punya waktu untuk berbincang-bincang denganmu," jawab pemuda itu. "Kalau kau hanya ingin berbincang, biar wanita sialan ini yang menggantikanku."
Wanita di sampingnya memandangnya dengan tajam, sementara ia bangkit berdiri. Ia sudah hendak berbalik dan meninggalkan ruang tamu ketika pria itu memanggilnya lagi. Suaranya membuat pemuda itu menghentikan langkah sembari berbalik.
"Duduklah, Young Bakugou!" Pria itu berkata sambil menyesap kembali isi cangkirnya. "Aku ingin berbincang denganmu, bukan ibumu."
Mendecak kesal, pemuda itu berkata, "Aku tidak punya waktu untuk mendengar celotehanmu. Masih banyak yang harus kuurus."
"Betul, Nak," kata pria itu sembari mengangguk. "Penting untuk tidak membuang waktu, tapi penting juga untuk mengetahui prioritas waktumu. Kurasa kau tidak akan rugi mendengarkan celotehan seorang pria tua. Mungkin kau bisa mengambil manfaat dari situ."
"Tidak ada manfaatnya menemani pria tua bangka yang berceloteh," jawab pemuda itu sambil menatap tajam. "Apalagi pria tua yang telah kehilangan putrinya tapi mengaku-ngaku dirinya sebagai ayahnya."
Sekali lagi, pria yang disindir hanya tersenyum. Namun dengan gayanya sendiri, pria itu membalas sindiran si pemuda dengan berkata, "Tak ada bedanya dengan mantan kekasih yang mengaku-ngaku sebagai suami. Kurasa mengaku-ngaku sebagai ayah jauh lebih baik dibanding pemuda yang mengelabui seorang gadis untuk mendapatkan hatinya."
Genderang perang tak terlihat tengah berbunyi di antara keduanya. Saling memandang, keduanya siap untuk menerkam satu sama lain dalam permainan kata-kata berikutnya. Tak ada yang mau mengalah, tentu saja, bahkan si pemain yang sebelumnya tak ingin menanggapi pun kembali ke arena untuk menghadapi musuhnya.
"Kalau kau merasa mengaku-ngaku sebagai ayah, membuatnya bekerja di kafe milikmu dan berpura-pura menjadi majikannya membuatmu layak disebut sebagai orang tua maka kau salah besar," kata pemuda itu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kau sudah gagal sebagai orang tua, 'Allmight'."
"Apa kau berhak bicara begitu, mantan kekasih yang terlupakan?" Pria itu bertanya lagi sambil menyandarkan punggung ke sofa dan menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau sudah ditinggalkan, seharusnya kau tahu diri dan tidak muncul lagi ke hadapannya. Tapi kau malah menculik dan mengisolasinya hanya karena gadis itu kehilangan ingatan."
"Bukan salahku," jawab pemuda itu sambil mengangkat bahu. "Salah tunangannya yang tidak berada di tempat saat kejadian terjadi. Bagiku ini namanya 'kesempatan, wahai ayah mertua yang tak ingin kuakui."
"Akan menjadi sebuah penyesalan, 'anak muda yang tak ingin kuanggap sebagai menantu," balas pria itu sambil mengangguk. "Saat putriku mendapatkan kembali ingatannya, kau harus berhati-hati. Putriku bukan seorang pemaaf yang dapat menoleransi kebohongan."
Ia membuka mulut, hendak membalas. Namun kata-katanya tertahan di ujung lidah. Ia justru menatap pria itu dan mengerutkan dahi. Tidak mengerti kenapa pria itu mengatakan bahwa gadis itu bukan seorang pemaaf. Selama ia mengenal gadis itu, baru kali ini ia mendengar bahwa gadis itu tidak bisa menoleransi kebohongan.
"Kau tidak tahu?" Pria itu langsung mengambil kesimpulan ketika melihat ekspresinya. "Tentu saja, baru kali ini kau menyaksikannya kehilangan ingatan."
Kerutan di dahinya semakin dalam dan ia berkata, "Baru… kali ini?"
Senyum kembali tersungging di wajah pria berambut pirang itu. Sayangnya bukan jenis senyuman sinis yang sama dengan yang ia tunjukkan sebelumnya. Senyum itu lebih menyiratkan kesedihan dan penyesalan, seperti yang dilihat oleh Katsuki di cermin.
"Ini kedua kalinya gadis itu kehilangan ingatan," ujar pria itu sambil mengangkat bahu. "Yang pertama terjadi saat ia masih balita."
"Jangan mengada-ada," Katsuki berkata. "Kau hanya mengarang cerita sendiri."
"Terserah pendapatmu," lanjut pria yang dipanggil Allmight itu, "tapi saat itu, Izuku masih putriku sebelum sesuatu terjadi dan ia terpaksa dititipkan pada Midoriya."
"Dititipkan?" Pemuda itu bertanya dengan dahi berkerut. "Untuk apa kau menitipkan Izuku?"
"Karena putraku tidak menyukainya," jawab pria itu sambil tersenyum sedih. "Putraku menganggap bahwa Izuku merebut segalanya dan membuatnya menyakiti Izuku."
Sekali lagi kerutan di dahinya semakin dalam dan ia berkata, "Kau punya… seorang putra? Maksudmu, Izuku punya saudara? Dia bukan anak tunggal?"
Mengangguk, pria itu kembali berkata, "Aku pun mencoba mengatakannya pada My Girl saat ia bekerja di kafe milikku, tapi sepertinya My Girl tidak percaya dan malah menghindariku."
Katsuki lagi-lagi terdiam. Ini cerita yang tidak ia ketahui. Ini cerita di masa-masa dia kehilangan dua tahun waktunya dengan gadis itu.
"My Girl berhenti dari kafe hingga akhirnya aku menemukannya di sini, bersamamu," ujar pria itu sambil menatap Katsuki. "Setelah lebih dari satu tahun berlalu, akhirnya aku menemukannya."
Pemuda yang diajak bicara hanya menatapnya. Tak sanggup mengatakan apa pun. Informasi ini benar-benar baru baginya. Sekalipun ia telah berada di sisi gadis itu selama hampir dua puluh tahun, ia baru mengetahui bahwa si gadis bukan anak keluarga Midoriya. Terlebih, gadis itu punya saudara dan ternyata saudaranya tidak menyukainya. Ini fakta yang asing baginya.
"Makanya aku tidak mempermasalahkannya," ucap pria itu sambil menatap Katsuki lurus, "sekalipun kau telah menculik dan mengisolasi putriku."
Sekali lagi tak ada suara yang terdengar. Katsuki hanya menatapnya, dengan berbagai perasaan campur aduk di hatinya.
"Sayangnya, bukan hanya aku seorang yang juga tengah mencari putriku."
Alis mata pemuda itu terangkat dan ia berkata, "Aku tahu."
Menggelengkan kepala, tamunya berkata, "Tidak, kau tidak tahu."
"Hah?" Pemuda itu balas berkata dengan nada mencemoohnya yang khas. "Kau kira aku tidak tahu siapa saja yang mencarinya? Jangan meremehkanku, orang tua!"
Menghela napas, pria kurus itu berkata, "Kau pasti mengira bahwa ucapanku merujuk pada Young Todoroki dan Young Iida."
Sekali lagi alis pemuda itu terangkat. "Kalau bukan mereka, lantas siapa?"
"Masih ada seorang lagi," ucap pria itu, "seseorang yang jauh lebih berbahaya dibanding kalian berdua."
Manik merah Katsuki menyipit dan ia berkata, "Siapa maksudmu?"
"Bukankah tadi sudah kukatakan," ujar pria itu sambil menatap Katsuki, "bahwa aku punya seorang putra?"
Mengerjapkan mata, Katsuki kembali berkata, "Maksudmu… dia yang harus kuwaspadai? Saudara yang tidak kuketahui siapa orangnya?"
Tersenyum, pria itu pun berkata, "Syukurlah! Akhirnya kau mengerti."
.
.
.
Author's note :
Finallyyy after beberapa edisi revisi *drumrollplease, maka Izuku akhirnya sama ... *belomwoy
Miharu348 : Ayo kita buat petisi supaya abang dispenser dikasih izin sama Bapaknya buat pulang :P apa boleh buat, yang satu itu masih anakpapi sekali, nggak boleh dibiarin ke mana-mana tanpa izin papi Enji XD dan selama kita buat petisi, waktu pun bergulir ….
Fujoshi desu XD : betulll XD Toshi sudah muncull dan berhasil seimbang melawan mulut sampahnya McExplodo King kita, dan btw, berhubung saya nggak dikasih sate sama Fujocchi, otak jadi mandeg kurang protein, masuk ke mode slowpoke menulis #ngarep #authormaudaging
Fufufu, bener banget Fujocchi, sebagai orang yang punya target masa depan, McExplodo King kita memang super bertanggung jawab. Suami ideal banget 'kan si Iblis Granat kita ini? Mungkin sifat bertanggung jawabnya turunan Papi Masaru. Walaupun papi belom muncul, sifat papi yang diwariskan tetap eksis kok :P
ererigado: sama-sama Ereri-chan, makasih sangat sudah mau ripiu, semoga ff ini menghibur kamu juga XD
Shin Aoi : nah, dalam kasus Iblis granat vs ibunya, kita harus melihat di mana Dewi Kemenangan kita berpihak. Saat itulah baru bisa kita putuskan siapa pemenangnya :p
LOL, untunglah Ao, mami Mitsuki sangat persuasif, mau menolak pun, McExplodo King kita nggak bisa bantah karena dikasih tatepan maut Izu-chan :P sayangnya karena itu malah ketemu camer, untung camernya pengertian orangnya XD
Tapi, camer nggak di pihak siapapun. Jadi dia juga diem aja walopun uda nemuin Izu-chan. Untuk saat ini, Kacchan masih bisa tarik napas lega, tapi tinggal tunggu siapa yang muncul berikutnya. Jangan-jangan Abang Dispenser sendiri yang muncul depan pintu :p (ga jadi dipeluk Ao deh XD )
Hikaru Rikou : Wuohhh! Hati-hati tanganmu, Hikacchi! Itu iblis granat, bisa-bisa tanganmu yang bengkak kalo nabok doi XD
Mau coba itung kancing? Yuk, kita coba itung kancing buat nebak kemungkinan nasib si iblis granat. Eh, tapi lagi pake kaos, nggak punya kancing :P #alesan
LOL, sayangnya Todo pun sekelam Kacchan, sama-sama punya maksud, punya doa yang juga sama, tinggal tergantung yang mana yang mau dikabulin #yukngitungkancingjuga
XxxgakusahtauxxX : Holla XD salam kenal :D makasih sudah mau repiu dan berkat kamu saya jadi dapet masukan XD saya uda lama nonton filmnya, tapi setelah setahun berselang baru kepikiran ngeship Tododekubaku
Dan… gimana bisa saya sampe lupa om Enji! Tokoh penting yang bikin Abang Dispenser kita jadi panas dingin baru muncul nama. Untung diingetin :p #omEnjibaperjadinya #merasagadinotis
Gie : gapapa, ga punya akun pun semoga kamu menikmati bacanya XD
Yay, makasih kalo kamu jadi baper, saya turut senang *highfive , dan saya juga nggak begitu detail soal penulisan, berhubung saya tipe orang yang nulis sekehendak hati :P
Ah, kalo nge ship, saya ship tiga chara kece badai itu :P dan sampe chapter 9, saya belom tau bagaimana endingnya. Mari kita doakan yang terbaik buat Izu-chan #smirk
Kenapa dia bisa sampe ilang ingatan permanen? Hm.. mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang :P dan tenang, request Tododeku Anda pun sudah masuk dalam list XD
Arisa-chan : Holla Arisa! Salam kenal! Wohoo! Makasih uda suka sama ceritanya :D dahulu kala waktu saya masih polos, saya juga seorang bocah yang straight, lalu dunia mengubah saya menjadi… seorang fujoshi….Orz (tapi nggak nyesel, lol)
Dan btw, saia setuju, Deku emang shippable ya, sama siapapun oke dia, tapi fokus saia masih di Todo atau Baku sih. Buat hubungannya sendiri, seperti yang kamu bilang, style dua orang ini beda banget, lol, tergantung selera masing-masing, saya berusaha memenuhi asupan kedua belah pihak :P makin susah untuk milih siapa pemenangnya, makin seneng #dapetlirikanmautdariMcExplododanAbangDispenser
LOL, iya, dua mulut sampah itu emang nggak ada duanya, dan ternyata, jreng-jreng, Bang Toshi bisa nyaingin mulut sampah si anak :D #hidupBangToshi
Gakpapa kepanjangan, saya menikmati tulisan kamu juga kok, apalagi bisa berfujoshi ria jadinya :P
And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!
