.
.
.
Boku no Hero Academia not mine
90 days by cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
.
.
.
Enjoy!
Chapter 10: Hold tight
Day 25
"Bagaimana kau bisa bilang tidak tahu? Apa saja kerjamu selama ini?"
Bunyi terbatuk keras didengar Katsuki dari speaker ponselnya. Untuk sesaat, ia menjauhkan benda tersebut dari telinganya. Setelah bunyi itu mereda, barulah ia menempelkannya kembali, mengepitnya di antara wajah juga bahu. Sayangnya, ia tidak tahu bahwa si lawan bicara belum selesai beraksi.
"Kau kira apa yang kukerjakan selama ini, Direktur sialan?" tanya lawan bicaranya dengan suara meninggi. "Semua kerjaan untukmu mampir di mejaku sementara kau bermalas-malasan di villa bersama mantan kekasihmu. Lalu kau masih memintaku menyelidiki ini dan itu? Apa kau sudah pernah merasakan dibunuh di balik meja kerjamu, hah? Kau mau aku melakukannya untukmu?"
"Sudah kubilang tinggalkan saja file-file itu," jawab Katsuki sambil menyingkapkan gorden di kamarnya dan membuka jendela tinggi ke balkon, "urusanku jauh lebih penting!"
"Kau kira di perusahaan ini hanya perintahmu seorang yang harus kuturuti?" bantah orang yang dihubunginya itu. "Sudahlah! Percuma saja bicara denganmu! Kututup saja teleponnya!"
Menghela napas, Katsuki menyandarkan tangannya pada railing balkon. Jemarinya mencengkeram erat railing tersebut sementara manik merahnya mengawasi kolam renang di depan kamarnya. Ia sudah tahu bahwa menghubungi sang bawahan di jam tidur seperti ini memang bukan ide bagus, tapi ia sudah kehilangan kesabaran. Waktunya sudah semakin sempit.
"Kirishima," panggilnya, "biar aku yang bicara agar kau dibebaskan dari tugas-tugas itu. Sekarang, jadilah bawahan yang baik dan kerjakan apa yang kuminta!"
"Walaupun kau minta dibebaskan pun, tetap saja," balas lawan bicaranya. "Ini pukul dua dini hari, Bakugou Katsuki! Atasan mana yang meminta bawahannya menyiapkan data pada pukul dua pagi?"
"Kau belum pernah bekerja di industri kreatif rupanya..."
"Aku bekerja sebagai karyawan swasta dan bukan seorang freelancer, kalau-kalau kau lupa," jawab Kirishima yang menghela napas entah untuk ke berapa kalinya. Walaupun tak bisa melihat sosoknya, Katsuki tahu bahwa bawahannya itu tengah mengacak-acak rambutnya sendiri dan berkata, "Tapi kurasa percuma saja mengatakannya padamu."
"Betul," Katsuki menjawab cepat. "Cepat kerjakan yang kuminta! Sekarang!"
Bunyi gebrakan selama beberapa saat menjadi tanggapan untuk perintah yang dibuatnya. Mendengar itu, Katsuki memutuskan untuk menunggu sesaat sembari memijat-mijat dahi. Hingga akhirnya bawahannya kembali berbicara dengan suaranya sendiri.
"Padahal kau punya internet," balas lawan bicaranya sembari menggerutu. "Kenapa kau tidak mencarinya sendiri?"
"Kedua tanganku sibuk dipergunakan untuk hal lain," jawab pemuda itu sembari mengangkat tangannya ke atas, "begitu juga mataku."
Mendecak sebal, lawan bicaranya pun tak berkata apa pun. Untuk sesaat, Katsuki hanya mendengar bunyi jemari yang beradu dengan tombol keyboard dalam ritme yang konstan disertai dengan bunyi klik yang familiar. Sementara bawahannya bekerja, ia memejamkan mata dan kembali menunggu.
"Sudah," jawab bawahannya, "sudah kukirim data-data yang kutemukan ke emailmu, kau baca dan bukalah sendiri."
"Bacakan!"
"Aku mau tidur," kata lawan bicaranya singkat. "Selamat malam!"
Sebelum Katsuki dapat mencegahnya, orang yang diteleponnya sudah memutuskan sambungan telepon. Lebih parahnya lagi, orang itu pun mematikan ponselnya, membuat Katsuki mendecak sebal. Tak punya pilihan, ia pun masuk ke dalam kamarnya dan berjalan ke meja kerja tempat laptopnya tersimpan. Dikeluarkannya benda itu dan dinyalakannya untuk membuka email yang diberikan oleh sang bawahan.
Dikliknya icon bergambar surat dua kali menampilkan seluruh email yang masuk selama hampir sebulan ini. Diabaikannya hampir seribu lebih email yang masuk kecuali email terakhir yang dikirim oleh bawahannya. Ia menggerakkan kursor ke email tersebut dan membuka pesan yang diberikan Kirishima padanya.
Alisnya mengerut ketika melihat gambar tak asing seorang pria berambut pirang berotot yang mengenakan seragam biru merah dengan tanda panah di bagian dada. 'Baju kerjanya' pikir Katsuki saat itu dan menggeser layarnya ke bawah. Matanya menyesuaikan dengan huruf-huruf kecil yang tertera di bawahnya sebelum mencerna informasi yang diberikan.
"Belum," ucapnya mengulangi apa yang dibacanya, "belum menikah?"
Manik semerah delima itu kembali menelusuri data yang diterimanya. Biografi sang aktor legenda Toshinari Yagi tidak banyak membantu perihal informasi yang ingin ia ketahui. Bukan ini yang ingin ia ketahui. Bukan biografi yang banyak disebar di internet yang ia inginkan. Kenapa hanya ini data yang dikirim?
Attachment? Kirishima mengirim attachment? Apakah ia melewatkannya tadi?
Digesernya kursor ke arah attachment dan diunduh isinya. Ia menunggu beberapa saat hingga dokumen terbuka dan menampilkan gambar-gambar yang membuatnya mengerutkan dahi. Apa maksudnya ini?
Ia menyipitkan matanya ketika melihat foto seorang pria yang dikenalinya. Waktu itu pria itu belum setua dan sekurus sekarang. Pria di dalam foto itu punya tubuh yang kekar, wajah tampan dengan garis tegas dan manik biru yang begitu cemerlang. Hanya saja ia tak sendiri, ada seorang anak laki-laki berusia delapan atau sepuluh tahun yang berdiri di sampingnya. Anak siapa ini?
Tangannya bergerak mencari-cari ponsel, mencari sang bawahan untuk meminta keterangan tambahan. Ditatapnya layar dan ditekannya nomor yang sudah ia kenali dengan baik. Hanya saja ia lupa bahwa orang yang dihubunginya telah menonaktifkan ponselnya. Tak heran bila sambungannya justru masuk ke pesan suara.
Mendecak kesal, Katsuki merutuki bawahannya yang justru tertidur di saat ia membutuhkan bantuan. Satu tangannya mencengkeram ponsel sementara tangannya yang lain menggeser display di laptopnya. Ia mencermati satu persatu foto yang diberikan padanya dan menyipitkan mata.
Hampir tak ada kesamaan genetik antara pria itu dan putranya. Bila pria itu berambut pirang dengan manik biru cemerlang, putranya memiliki rambut biru pucat, hampir kelabu dan manik gelap juga kulit pucat. Walaupun begitu, dari bahasa tubuhnya Katsuki bisa melihat bahwa pria itu tampak bangga saat ia merangkul putra kecilnya. Begitu juga dengan anak laki-laki yang tengah menggenggam ujung jas pria itu dengan jari mungilnya.
Hanya saja, foto-foto setelahnya membuatnya menggigil sekalipun udara malam itu tidak sedingin biasanya. Ia mengerutkan dahi saat melihat seorang wanita berambut hijau daun dengan bayi mungil di pelukannya. Tak jauh darinya, pria berambut pirang dan putranya pun turut difoto bersama. Hanya saja bahasa tubuh mereka berbeda dengan foto sebelumnya.
Pria itu tidak lagi terlihat bangga, begitu juga dengan putranya. Senyum yang ditampilkan keduanya pun tampak dipaksakan, berbeda dengan wanita berambut hijau di sampingnya. Wanita itu tersenyum begitu lembut dan melihatnya membuat Katsuki terdiam sesaat. Ia tahu siapa wanita ini.
Tangannya terus bergerak di atas mouse, menggeser layar. Ia melihat foto berikutnya dan sedikit terkejut karenanya. Ruangan dengan dinding berwarna putih, berikut sebuah altar kecil dan peti berwarna cokelat di belakangnya. Di samping altar tersebut, pria berambut pirang berdiri bersama sang putra yang sudah beranjak remaja dan putrinya yang masih balita.
'Meninggal.' Katsuki membatin saat melihat foto wanita berambut hijau itu diletakkan di atas altar. Gadis kecil yang masih balita itu menangis, tapi berbeda dengan saudaranya. Saudaranya tersenyum dengan senyum yang berbeda dengan si pria berambut pirang. Senyum itu bukan senyum sedih. Itu senyum kemenangan.
Sembari menelan ludah, Katsuki kembali menggeser layar mencermati berkas selanjutnya yang dikirim Kirishima. Kali ini pandangannya tertuju pada sebuah potongan artikel yang telah dipindai sebelumnya. Kelihatannya artikel lama yang sudah berusia lebih dari sepuluh tahun lalu mengenai kasus bunuh diri seorang wanita di sebuah apartemen.
Manik merahnya langsung menemukan sebuah nama di sana dan ia memicingkan mata. Kali ini ia merinding saat membaca nama yang tertera di sana.
"Midoriya… Inko?"
Midoriya? Nama itu… bukankah itu nama depan Izuku? Tapi Izuku dititip… Oh! Pantas saja! Sekarang ia mengerti kenapa Izuku bisa dititipkan di keluarga Midoriya. Semuanya jelas sekarang. Tentu saja. Gadis itu masih memiliki ibu yang berasal dari keluarga tersebut. Tak heran mudah sekali keluarga Midoriya mengambilnya sebagai anak dan memperlakukannya bagai putri mereka sendiri.
Hanya saja, siapa yang menitipkan Izuku? Kenapa ia dititipkan setelah ibunya meninggal? Kenapa ia tidak tinggal bersama pria berambut pirang itu saja? Lalu kenapa pria itu tidak mengatakan pada publik bahwa ia sudah menikah dan memiliki anak? Kenapa ia memilih menyembunyikannya sekalipun kenyataannya ia khawatir akan keselamatan putrinya?
Bingung. Ini sangat membingungkan. Ia tidak menyangka masih ada misteri yang melingkupi gadis itu. Padahal selama lima belas tahun lebih, dirinyalah yang paling dekat dengannya dan ia tidak menyangka bahwa masih ada hal yang tidak ia ketahui tentang gadis itu. Ke mana saja dirinya hingga tidak menyadari hal sepenting ini?
Menggelengkan kepala, Katsuki pun mencoba untuk memikirkannya nanti. Ia kembali berpaku pada layar di hadapannya, mencermati setiap gambar yang dikirimkan. Begitu pula kali ini, saat ia melihat foto seorang pemuda berambut ikal dengan rambut disisir ke belakang dan duduk di sebuah sofa bersandaran tinggi sembari menatap ke depan. Rambut kelabunya masih sama seperti foto sebelumnya yang berbeda hanya tingginya dan wajahnya yang semakin tegas.
Ia menatap foto itu cukup lama sebelum beralih pada artikel di bawahnya. Dibacanya biografi lengkap pemuda itu disertai dengan sebuah potret diri yang cukup fotogenik. Manik merahnya memicing ketika membaca namanya.
"Shigaraki… Tomura?"
Dahinya berkerut melihat nama itu. Ia tidak tahu nama itu tentu saja. Ia bukan pemuda yang gemar menonton televisi. Tapi begitu melihat banyaknya daftar film dan penghargaan yang diterima pemuda itu, Katsuki pun paham. Rupanya pemuda ini mengikuti jejak sang ayah sebagai seorang aktor.
Inikah orangnya? Orang yang dimaksud Kirishima sebagai saudara Izuku? Tapi orang ini tidak terlihat seperti orang jahat. Orang ini seorang aktor dan karirnya cukup bagus. Untuk apa lagi orang seperti ini mengganggu Izuku? Tidak masuk akal. Jangan-jangan Kirishima salah mengirimkan data padanya?
Katsuki menggelengkan kepala, tak mau terburu-buru mengambil kesimpulan. Ia menelusuri kembali attachment yang dikirim bawahannya hanya untuk menemukan bahwa berkas yang dikirim telah habis. Hanya foto-foto dan biodata itu saja yang dikirimkan Kirishima padanya. Tak ada lagi yang lain.
Menatap layar Katsuki pun kembali memutar otaknya. Bila melihat semua foto ini, seharusnya publik sudah bereaksi terhadap foto-foto ini, bukan? Tapi faktanya, tak ada satu pun media massa yang pernah menggembar-gemborkan berita bahwa Toshinari Yagi pernah menikah. Bahkan berita mengenai anak-anaknya pun tidak terumbar ke media. Padahal Kirishima saja bisa menemukan foto-foto semacam ini.
Apa jangan-jangan ini cuplikan adegan sebuah film? Tapi ia tidak yakin karena tidak ada judul filmnya di sudut gambar. Kalau begitu, bagaimana Kirishima bisa mendapatkan foto-foto ini? Siapa yang memberikannya?
Sekali lagi tangannya terulur pada ponselnya, hendak menghubungi bawahannya untuk mencari jawaban. Hanya saja, ketika ia menghubunginya lagi-lagi suara operatorlah yang menjawab menggantikan suara pemuda yang terdengar lelah. Ia mendecak kesal. Lupa bahwa bawahannya itu sudah menonaktifkan handphonenya sejak satu jam yang lalu.
Ia pun menghela napas dan menatap kembali gambar-gambar yang diberikan padanya. Tidak salah lagi, gadis kecil yang berambut hijau itu pasti Izuku dan wanita berambut hijau yang meninggal adalah ibunya. Tapi kenapa wanita yang tersenyum begitu lembut itu bisa meninggal bunuh diri dan meninggalkan seorang anak yang masih balita? Bagi Katsuki, ini tidak masuk akal. Terlalu banyak kejanggalan yang tertinggal di dalam kasus bunuh diri wanita itu.
Tapi tunggu! Bukankah paman Midoriya pun meninggal bunuh diri waktu itu? Kalau tidak salah, ayahnya Izuku meninggal karena gantung diri. Tepat beberapa minggu sebelum gadis itu menerima sesi konseling dengan guru perihal masa depannya. Padahal sang ayah tampak semangat sekali merencanakan masa depan untuk putri tunggalnya. Tapi sayangnya, baru sekarang Katsuki sadar betapa anehnya kejadian itu.
Kala itu, Katsuki tidak mengambil pusing. Ia pikir, mungkin Paman Midoriya punya masalah yang tak diceritakannya pada orang lain dan akhirnya mengambil jalan pintas. Ia hanya kesal karena orang itu meninggalkan Izuku di saat gadis itu paling membutuhkannya. Tapi sekarang, ia tak begitu yakin.
Terlalu janggal bila ibunya memilih untuk meninggalkannya dan terlalu aneh bagi Paman Midoriya yang sangat mencintai putrinya untuk bunuh diri. Kematian keduanya masih diselimuti banyak misteri dan keduanya terjadi ketika Izuku masih membutuhkan mereka. Ia tidak mengenal Midoriya Inko, tapi bila saudaranya Paman Midoriya saja menyayangi gadis itu, maka seharusnya sang ibu pun mencintai putrinya 'kan? Aneh benar jika ia memilih untuk meninggalkan putri yang dicintainya. Aneh benar bila ia memutuskan untuk menyerah dan bukannya berjuang untuk gadis itu.
Memicingkan mata, Katsuki pun sadar bahwa kematian keduanya tidak wajar. Sepertinya ada seseorang yang merencanakan kematian keduanya. Tapi untuk apa? Apa tujuannya membunuh Midoriya Inko maupun Paman Midoriya? Kalau mereka meninggal yang paling dirugikan hanya…
Izuku.
Izuku seorang yang akan bersedih.
Izuku seorang yang akan kesepian karena ditinggal oleh dua orang yang paling dekat dengannya.
Kalau begitu, tujuan keduanya dibunuh adalah karena… Izuku?
Bulu kuduk di tangannya meremang ketika memikirkan hal tersebut. Bahkan ia nyaris terlonjak ketika mendengar bunyi getaran ponsel di mejanya. Untung saja Katsuki segera menguasai diri dan menempelkan ponsel tersebut di telinganya. Ia tak repot melihat siapa peneleponnya karena hanya segelintir orang yang mampu menghubunginya.
"Akhirnya kau menonaktifkan ponselmu," ujar Katsuki seenaknya, "attachment yang kau kirim masih membingungkan. Seharusnya kau memberikan penjelasan di setiap artikelnya, bodoh!"
Tidak terdengar suara makian atau gebrakan yang mewakili orang yang diajaknya bicara. Hanya keheningan semata yang terdengar dari speaker di ponselnya. Ia pun mengerutkan dahi dan kembali berkata, "Hei! Kau masih hidup?"
"Sudah selarut ini kau masih bekerja, Bakugou Katsuki?"
Jawaban yang diterimanya membuat Katsuki terdiam. Perlahan ia menggeser ponsel dari wajahnya dan menatap layarnya. Ia memicingkan mata ketika melihat nomor asing yang menghubungi sambungan pribadinya. Seharusnya tak ada orang yang dapat menghubunginya ke nomor ini selain asisten pribadi, ayah, ibu atau Izuku. Terlebih orang yang meneleponnya bukan orang yang paling ingin ia dengar suaranya.
"Todoroki," ucapnya mengenali suara itu walau si penelepon tak menyebutkan nama. "Apa maumu?"
"Sibuk sekali sepertinya," lanjut si penelepon dengan suara santai. "Di tempatku ini masih pukul satu siang, tapi sepertinya sudah pukul tiga dini hari di tempatmu. Rasanya aku mengerti mengapa kau bisa memperoleh jabatan tinggi di usia semuda ini."
"Baguslah kalau kau mengerti," balas Katsuki dengan nada tak acuh. "Kututup dulu! Aku sedang sangat sibuk sekarang!"
"Tentu, aku pun tak ingin banyak mengobrol," jawab pemuda itu. "Sampaikan saja pada tunanganku, aku akan segera menjemputnya."
"Menjemputnya?" Katsuki berkata dengan nada sinis. "Kau mabuk, ya, dispenser sialan? Aku tidak mengerti apa yang kau ocehkan di sini."
"Berhentilah berpura-pura, Bakugou Katsuki!" Si penelepon kembali mengingatkan. "Aku sudah punya bukti. Kalau kau mengembalikan Izuku sebelum aku menjemputnya, mungkin aku bisa memberikan keringanan sedikit untukmu."
"Mengembalikan?" ulang pemuda bermanik merah itu sementara tangannya mengepal erat. "Aku tidak mengambil apa pun yang perlu kukembalikan padamu, sialan!"
Suara gebrakan menyusul setelah perkataan terakhirnya. Mendengarnya Katsuki pun memicingkan mata, tahu bahwa ia telah memancing amarah lawan bicaranya.
"Jangan berpura-pura!" Lawan bicaranya berkata dengan nada dingin mengintimidasi. "Semua bukti sudah di tanganku, jadi jangan coba-coba mengelak."
"Untuk apa aku mengelak?" Katsuki balas bertanya dengan sinis. "Aku tidak berbuat sesuatu yang harus ditutupi darimu."
"Izuku," ujar suara di telepon itu akhirnya. "Kau mengambilnya, bukan?"
Mulut pemuda itu terkatup, tidak banyak bicara.
"Dia ada di tempatmu," kata suara itu lagi dengan lebih pelan. "Dia bersamamu."
Masih tak menjawab, Katsuki memilih untuk mendengarkan. Sekalipun tangannya sudah mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kembalikan," ujar suara itu, geram, "kembalikan sekarang juga padaku!"
Herannya, walaupun sudah diancam seperti itu, Katsuki malah tersenyum. Lawan bicaranya tak bisa melihatnya namun ia memamerkan gigi putihnya, menyeringai puas. "Sudah kukatakan, aku tidak mengambil apa pun yang menjadi milikmu!"
"Kau…"
"Gadis itu milikku," ujarnya lagi. "Dia milikku, Todoroki Shouto. Kaulah yang merebutnya dariku!"
Lawan bicara di telepon terdiam mendengar peringatan Katsuki. Hening sesaat, hingga akhirnya si penelepon kembali berkata, "Jadi memang benar, bahwa kaulah yang menculiknya."
"Bukankah kau yang lebih tepat disebut penculiknya?" Pemuda itu balas berkata. "Menjauhkannya dariku, memisahkan kami sekalipun kami sudah bertunangan, bukankah itu semua yang telah kau lakukan selama ini?"
Si penelepon mendengus mendengar perkataan Katsuki. "Daripada disebut penculik, bukankah lebih tepat kau yang tidak waspada, Tuan Direktur? Yang kulakukan hanya mendekatinya. Kaulah yang membuatnya lari dan meninggalkanmu."
Ucapan itu membuatnya gusar, tapi Katsuki menahan diri. Ia justru berkata, "Kau merasa menang karena ia mendatangimu. Bukankah itu artinya kau hanya pelarian, dispenser sialan?"
Suara tawa terdengar dari seberang telepon, membuat Katsuki memicingkan mata. "Begitukah menurutmu?"
Katsuki tak menjawab. Ia mendengarkan walaupun genggaman di tangannya sudah demikian erat.
"Aku justru merasa diprioritaskan," ujar lawan bicaranya yang membuat manik merah menyipitkan mata, "karena ia mengetahui bahwa aku dapat menolongnya, karena ia tahu bahwa aku lebih baik darimu. Justru kaulah pecundang di sini, Bakugou!"
"Pecundang?" Katsuki mengulangi ucapannya. "Bukannya itu kau sendiri?"
"Terserah apa anggapanmu," jawab lawan bicaranya santai. "Yang jelas, aku berterima kasih padamu untuk semua perbuatanmu padanya."
Jangan… Jangan lanjutkan…
"Berkat semua perbuatanmu," kata suara itu lagi, "aku dapat bertunangan dan akan segera menikah, dengannya."
Bunyi hantaman tak terelakkan terdengar di speaker si lawan bicara. Kali ini Katsuki tak dapat menahan dirinya. Dengan gusar, dihantamkannya tinju pada meja kerjanya. Hanya sekali, namun cukup untuk membuat seisi meja berguncang hebat dan menjatuhkan beberapa barang. Bunyinya yang keras membuat si penelepon pun menghentikan ucapannya dan menunggu.
"Kalau begitu," ucap si pemuda bermanik merah, suaranya yang luar biasa tenang membuat lawan bicaranya sedikit terkejut, "seharusnya kau tak menyia-nyiakan kesempatanmu, dispenser sialan."
"Kau…"
"Aku tak mau berandai-andai," lanjut Katsuki yang telah bangkit dari tempat duduknya, "tapi kalau aku jadi kau, aku takkan tenang saja dan pergi ke luar negeri sementara tunanganku entah ada di mana."
"Tentu," jawab lawan bicaranya. "Aku pun tidak tenang di sini."
"Oh tidak, kau tidak mengerti," kata Katsuki sembari menggelengkan kepala. "Kau tidak mengerti kesempatan apa yang sudah kau lepaskan."
"Apa mak…"
"Aku tidak ingin menjelaskan, aku bukan sahabatmu, dispenser sialan!" seru Katsuki. "Yang jelas, silakan saja bersenang-senang dengan ayahmu dan turuti semua perintahnya, hai pewaris Endeavor Group. Bagimu semuanya mudah karena semua jalan sudah tersedia untukmu, bukan?"
"Kita tidak membicarakan soal 'ayah' di sini."
"Terserah," jawab Katsuki, "mungkin saja selama kau menyenangkan hati ayahmu, seseorang sudah berada di sisi tunanganmu dan menyenangkan hatinya."
Sembari menggertakkan gigi lawan bicaranya berkata, "Kuingatkan, jangan macam-macam dengannya! Aku sudah mendapatkan rekaman CCTV saat kau mengunjungi Izuku. Hanya tinggal tunggu waktu hingga semua bukti terkumpul, Bakugou!"
Tertawa, Katsuki pun berkata, "Lakukan sesukamu, dispenser sialan! Aku tak peduli."
"Akan kujebloskan kau ke penjara. Aku sungguh-sungguh!"
"Lakukan!" Tantang Katsuki. "Aku ingin tahu bila kau dapat melakukannya. Bukankah selama ini pun kau tak pernah bisa menang dariku?"
"Apa?"
"Kau hanya pencuri, sementara aku pemilik sesungguhnya," ucap Katsuki, "seberapa keras pun pencuri berusaha, ia takkan bisa menjadi tuan rumah sungguhan, Todoroki. Kau tahu itu."
"Seharusnya," balas lawan bicaranya, "itu kalimatku."
Kembali tertawa, Katsuki pun berkata, "Lihat! Kau bahkan tak bisa menciptakan kalimatmu sendiri dan hanya meniruku. Sudah jelas siapa yang pencuri di sini."
"Beraninya kau…"
"Senang berbicara denganmu, tapi kurasa aku harus menghentikannya," ujar Katsuki cepat. "Ada seseorang yang menungguku untuk berbaring di sampingnya."
"A…"
"Selamat tinggal."
Pembicaraan pun diputus diiringi dengan nada bip pelan dari ponselnya. Tak lama kemudian, pemuda itu membanting ponsel yang semula dipegangnya ke lantai, membuat benda itu melonjak beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Setelahnya pemuda itu pun meninggalkan ruangan dan mendorong pintu kamar mandi.
Tanpa banyak bicara, ia melangkah ke bawah pancuran. Masih berpakaian lengkap, pemuda itu memutar kran dan membiarkan pancuran air membasahi kepalanya. Ia menghantamkan tinjunya berulang kali ke tembok sementara dirinya berteriak marah. Untunglah suaranya teredam oleh bunyi air yang menghantam kepalanya.
Ia marah. Ia sangat marah pada dirinya sendiri. Ia tahu bahwa kesalahannyalah yang membuat Izuku melarikan diri darinya. Ia tahu bahwa semua perbuatannya pada gadis itu yang membuat gadis itu muak. Ia tahu. Ia sangat tahu dan ia membenci dirinya sendiri karena itu.
Tapi ia tidak butuh seseorang mengingatkannya, terutama orang itu. Seandainya saja orang itu tidak ada, seandainya saja tempat kerja mereka tidak dekat dengan orang itu, tentu hubungan mereka takkan jadi seperti ini. Seharusnya ia tak mengizinkan waktu gadis itu ingin bekerja di tempat Toshinari. Seharusnya ia menahannya mati-matian dan mengurungnya, menjauhkannya dari pemuda itu, membuatnya hanya melihatnya seorang, bagaimana pun caranya.
Sekarang sudah terlambat. Mengunci gadis itu, mengurung gadis itu tak ada gunanya. Ia tak bisa mengubah fakta bahwa gadis itu sudah bertunangan. Suatu saat nanti, gadis itu akan mengingat siapa dirinya dan gadis itu akan meninggalkannya. Ia hanya meminjam sedikit waktu, berharap bahwa segalanya akan berubah dengan melakukannya.
Walaupun kecil kemungkinannya, Katsuki ingin percaya bahwa masih ada harapan. Ia ingin percaya bahwa gadis itu masih memiliki tempat khusus untuknya. Ingin percaya bahwa ia masih bisa kembali ke tempatnya yang dulu. Tapi sayangnya, ia juga tak pernah lupa bahwa ada kemungkinan gadis itu akan lebih membencinya dan melihatnya dengan tatapan mata yang tak ditakutinya. Hanya masalah waktu, hingga akhirnya gadis itu teringat semua perbuatannya di masa lalu.
Dan ia harap, waktu masih berpihak padanya, bukan pada Todoroki Shouto.
.
.
.
Berbaring gelisah di tempat tidur, gadis berambut hijau itu akhirnya menaikkan kelopak dan membuka matanya. Ia mengerjapkan mata selama beberapa saat sebelum mengangkat punggung dari ranjang. Sembari menatap ke jendela di samping ranjangnya, gadis itu pun menghela napas.
Kakinya diturunkan sementara ia menggapai-gapai mencari alas kaki yang sebelumnya diletakkannya di bawah ranjang. Usai mendapatkannya, gadis itu pun mengenakan sandalnya dan berjalan menuju ke pintu kamarnya. Sembari merapatkan selimut tipis menutupi bahu, ia pun bergerak membuka pintu dan keluar dari kamar.
Suasana koridor begitu sepi malam itu. Lampu-lampu sudah dimatikan dan suasana rumah begitu sunyi senyap. Di kejauhan, Izuku bisa mendengar suara binatang malam atau pun serangga yang ada di sekeliling rumah sementara sesekali daun bergemerisik membentuk bayang-bayang mengerikan di koridor.
Takut? Tidak. Izuku tidak takut pada bayang-bayang yang terus bergerak membentuk gerakan seperti monster yang sedang marah. Izuku juga tidak takut pada auman serigala di kejauhan atau pun gelapnya pemandangan yang terlihat di jendela. Tidak. Ia tidak takut pada semua itu. Mimpi-mimpi buruknya jauh lebih mengerikan dibanding itu semua.
Beberapa hari ini, selalu saja ia melihat mimpi yang sama. Suara tetes air yang mengucur dari kran, suara detik jarum jam yang monoton, suara keriat keriut balok kayu membuatnya merinding. Berkali-kali ia mendengar bunyi itu sebelum dihadapkan pada sosok tubuh tak bernyawa yang tergantung di atasnya. Lama ia memandangi sosok itu sebelum akhirnya ia mendengar suara itu lagi. Suara yang menakutkan itu lagi.
"Satu per satu," Izuku ingat suara itu berkata, "semua yang kau sayangi akan pergi."
Menggelengkan kepala, Izuku berusaha mengusir suara itu dari kepalanya. Ia tak mau memikirkannya. Tidak. Ia sudah cukup dengan semua mimpinya dan ia tak mau mendengar suara itu di saat ia terjaga. Tak ada artinya ia mengorbankan waktu tidurnya bila ia kerap mendengar suara tersebut saat ia bangun.
Walaupun begitu, setiap kali Izuku mencoba mengalihkan pikirannya pada akhirnya ingatannya akan kembali memutar ulang suara tersebut. Bagaikan pita kaset yang rusak, suara itu kerap berputar di kepalanya, memperdengarkan nada yang sama, pesan yang sama berulang kali. Pada akhirnya ia pun akan kembali memikirkannya dan kembali bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama.
Siapa pemilik suara itu? Kenapa pemilik suara itu berkata seperti itu padanya? Apakah pemilik suara itu membencinya? Kenapa orang itu bisa membencinya? Memangnya apa yang sudah ia lakukan hingga membuat orang itu membencinya dan merebut semua orang di sekitarnya? Terlebih, Izuku tahu bahwa merebut bukanlah kata yang tepat untuknya. Orang itu tidak merebut orang yang disayanginya, orang itu melenyapkan mereka dan meninggalkannya sendirian.
Ia tahu, mungkin kasus bunuh diri ayahnya tak ada hubungannya dengan orang itu. Namun firasatnya berkata lain. Sebagian dari dirinya berusaha menerima bahwa ayahnya meninggal karena hutang, tapi sebagian dari dirinya yang lain yakin bahwa seseorang telah membunuh ayahnya. Seseorang yang menginginkan agar ia sendirian di dunia ini.
Tapi siapa? Siapa yang tega berbuat demikian padanya? Ia memang amnesia, tapi ia rasa, dirinya tak sejahat itu sampai membuat seseorang tega membunuh orang-orang yang ia sayangi. Hanya saja, ternyata orang seperti itu ada dan ia yakin itu bukan halusinasinya semata. Ia yakin, ini bukan mimpi buruk seperti yang dikatakan Katsuki padanya. Ini lebih seperti alarm peringatan akan adanya bahaya yang datang. Bahaya yang mungkin mengincar orang-orang yang dikasihinya.
Izuku sudah mencoba mengatakannya, tapi sepertinya suaminya tak percaya. Suaminya berusaha menenangkannya dan berkata bahwa ia hanya khawatir berlebihan, bahwa itu hanya bagian dari mimpi buruknya. Tapi seiring dengan setiap detik yang berlalu, Izuku justru semakin takut. Semakin lama mimpinya terasa semakin nyata dan ia takut, bahwa suaminyalah orang yang akan diincar berikutnya.
Suaminya pernah bilang bahwa dirinya kehilangan ingatan karena mobil mereka kecelakaan. Tapi sekarang, Izuku curiga bahwa kecelakaan itu bukan kebetulan. Seseorang mungkin merencanakan hal tersebut. Seseorang mungkin berniat membunuhnya atau membunuh Katsuki. Hanya saja, rencana mereka gagal dan keduanya masih hidup hingga sekarang. Namun, sampai kapan mereka bisa lolos seperti ini?
Tangannya gemetar dan ia menggigil. Udara memang dingin, tapi bukan itu alasannya. Ia takut. Sangat takut hingga membuatnya tak bisa melangkah. Ia berhenti sembari memegangi handrail dan menatap ke ruang keluarga di hadapannya. Dipandanginya ruangan itu dan ia pun memandanginya sendu.
Di ruangan itu, ia ingat ketika ia bersama-sama membersihkan kaca bersama suaminya. Ia juga teringat saat dirinya menghampiri pemuda itu dan bersandar padanya. Walau ia tak punya banyak ingatan, tapi memorinya yang baru dibentuk di tempat ini terasa begitu berlimpah. Begitu banyaknya hingga ia khawatir bahwa segalanya hanya akan menjadi memori yang akan dikuncinya rapat-rapat di ingatannya.
Menggelengkan kepala, Izuku pun mengepalkan tangannya. Ia takkan membiarkan itu terjadi. Ia takkan membiarkan suaminya direnggut darinya. Ia masih akan menciptakan banyak kenangan bersama pemuda itu, dan takkan ia biarkan seorang pun memisahkan mereka, termasuk orang di dalam mimpinya. Izuku takkan menyerah begitu saja kali ini.
Baru saja berpikir begitu, tiba-tiba ia mendengar suara dentuman dari sisi koridor yang berseberangan dengan koridor kamarnya. Dentuman itu membuatnya melonjak dan refleks menoleh pada koridor yang ditinggalkannya. Selama beberapa saat ia terdiam dan memicingkan mata, mendengarkan.
'Suara apa itu? Di ujung koridor sana, bukankah itu kamar Katsuki?' pikirnya sambil melangkahkan kakinya mendekati koridor tersebut. Pelan-pelan ia melangkah menuju ke ujung koridor tersebut dan menajamkan telinga, berusaha menangkap sesuatu.
Tidak ada suara yang terdengar, mungkin memang dentuman itu hanya halusinasinya semata. Mengangkat bahu, Izuku pun hendak berbalik. Hanya saja ia kembali mendengar bunyi yang sama sekali lagi, walaupun kali ini terdengar lebih pelan dibanding sebelumnya.
Melangkahkan kakinya, Izuku pun mendekat perlahan-lahan. Ia menempelkan kepalanya pada daun pintu dan mengetuknya. "Katsuki?"
Lagi-lagi hanya keheningan semata yang menjawabnya. Ia pun menunggu sesaat sebelum mengetuk kembali. Kali ini dengan lebih kuat.
"Katsuki?"panggilnya. "Katsuki, kau di dalam?"
Masih tidak ada jawaban, tetap keheningan semata yang ia dengar. Bisa saja ia berpikir bahwa pemuda itu tertidur dan ia hanya salah dengar. Tapi entah kenapa ia ragu. Bagaimana kalau ternyata orang itu datang dan menyusup ke kamar Katsuki? Bagaimana kalau ternyata Katsuki tengah disekap dan membutuhkan pertolongannya? Bagaimana kalau ternyata…
"Katsuki? Katsuki aku masuk, ya!," ujarnya sambil memutar kenop pintu dan mendorong kamarnya.
Pintu kamar terbuka dan gadis itu pun menyusup ke dalam ruangan. Ditutupnya pintu di belakangnya, berusaha sedapat mungkin tidak menimbulkan suara sementara matanya berusaha menyesuaikan diri. Ruangan tersebut tidak terlalu gelap, masih ada sinar remang-remang yang berasal dari lampu kabinet dan di teras depan. Berkat itu, ia tak perlu meraba-raba untuk masuk ke dalam ruangan dan melangkah dengan hati-hati tanpa menginjak apa pun.
Atau tadinya ia pikir begitu hingga sesuatu terinjak di bawah kakinya. Sedikit khawatir, ia pun berjongkok dan mengambil benda yang ia injak sebelumnya. Diangkatnya sedikit benda itu ke arah cahaya dan sedikit terkejut ketika menemukan benda itu di lantai.
'Ponsel?' batinnya saat memutar-mutar benda tersebut di tangan. 'Milik Katsuki-kah? Kenapa ada di lantai?'
Tiba-tiba saja, ponsel itu bergetar dan memunculkan angka-angka yang tidak ia kenali. Ia pun berjengit sedikit dan nyaris menjatuhkannya lagi ke lantai. Untungnya ia berhasil menangkapnya kembali dan memeganginya erat. Ditatapnya layar hingga akhirnya getaran itu berhenti dan ponsel pun kembali tenang.
Sayangnya ponsel itu sepertinya tak berniat membiarkannya bernapas lega. Sekali lagi benda itu bergetar membuat Izuku sedikit berjengit kaget, untung saja kali ini ia tidak melemparkannya. Dibiarkannya benda itu bergetar selama beberapa saat sebelum akhirnya semua getaran terhenti. Mengambil pelajaran dari sebelumnya, Izuku menunggu, mengantisipasi bila terjadi getaran selanjutnya. Namun tidak ada yang terjadi, ponsel itu tetap hening seperti saat diinjak olehnya.
Ia pun menarik napas lega kali ini dan meletakkan benda itu di atas meja kerja berlapis kayu yang ada di dekatnya. Jemarinya baru saja diangkat dan kali ini layar itu memunculkan sebuah pesan yang berasal dari deretan angka-angka tadi. Pesan yang mau tak mau terlihat olehnya karena perhatiannya tertuju pada ponsel itu.
'Pencuri!'
Alisnya berkerut membaca pesan itu. Pencuri?
'Kaulah si pencuri. Kaulah yang mengambilnya dariku.'
Masih dengan dahi berkerut, Izuku bertanya-tanya. Apa yang dimaksud oleh si pengirim pesan?
'Dia tunanganku. Sementara kau adalah mantan kekasihnya.'
Manik hijau itu mengerjap. 'Tunangan? Mantan kekasih?' pikirnya sambil menatap pesan yang terus muncul di layar. Apa maksudnya semua ini?
'Tempatmu sudah tidak ada. Sudah saatnya kau menyingkir.'
Izuku menelan ludah. Ia bertanya-tanya. Siapa pengirim pesan ini? Kenapa menuliskan pesan-pesan seperti itu pada suaminya? Apakah suaminya ini… jahat?
'Kembalikan dia. Izuku bukan lagi milikmu.'
Kali ini ia tak dapat menahan kata-kata dari mulutnya. "Izuku… bukan lagi milikmu?"
Tak jauh darinya, pintu kamar mandi terbuka membuatnya menoleh ke arah pemuda itu. Di tangannya, ponsel pemuda itu masih menyala, menuliskan rangkaian kata-kata yang tidak lagi dibacanya. Manik hijaunya berhadapan dengan manik merah si pemuda yang semakin melebar ketika melihat benda yang digenggamnya di tangan.
Dengan langkah besar-besar, pemuda itu pun menghampirinya, meninggalkan jejak air dari rambutnya. Ia bahkan tak memedulikan bajunya yang basah kuyup dan diambilnya ponsel di tangan si gadis. Saat itu, Izuku bahkan tidak yakin ia mengenal pemuda yang ada di hadapannya itu.
Wajah pemuda itu tidak lagi menunjukkan kesedihan, juga tidak ada lagi senyum sabar yang selalu ditemukannya ketika ia berbuat salah. Ketika ia mengangkat kepala, hanya ada teror. Teror semata yang menanti di hadapannya dan membuatnya melangkahkan satu kaki menjauh dari pemuda itu.
"Apa… yang kau lakukan, Izuku?"
"T-tidak," ia berkata walaupun suaranya lebih mencicit dari yang ia duga. "A-Aku tidak melakukan apa-apa, K-Katsuki."
"Kenapa…," pemuda itu berkata sambil menatapnya, tak sekalipun manik merahnya melepaskan pandangan darinya, "kau memegangi ponselku?"
"A-aku tak sengaja menginjaknya," jawab gadis itu, "l-lalu kuambil dan kuletakkan di atas meja."
"Kau membacanya?"
"A-apa?"
"Pesannya," ulang pemuda itu, "kau membacanya?"
Izuku ingin menjawab, tapi bibirnya bergetar. "A-aku…"
"Kau membacanya?"
Nada suara pemuda itu membuat Izuku tersentak. Ia terkejut. Selama ini pemuda itu tak pernah menggunakan nada seperti itu padanya. Pemuda itu tak pernah berteriak begitu padanya. Ini… siapa? Siapa yang berteriak seperti itu?
Tangannya gemetar, ia ingin melarikan diri. Tapi di saat yang paling tidak ia inginkan, sakit kepala menyerangnya tanpa ampun, membuatnya menggerakkan tangan memegangi kepalanya dengan erat. Ia mencoba untuk bersandar pada meja, tapi upayanya sia-sia. Pandangannya lebih dulu menggelap sebelum ia sadar apa yang tengah terjadi.
'Jangan!' batinnya pelan. 'Jangan sekarang!'
Sayangnya, harapannya tidak terkabul. Kegelapan mencengkeramnya erat, layaknya tangan seorang pemuda yang melingkari pinggangnya. Seorang pemuda yang mencengkeramnya kuat-kuat dan takkan melepaskannya.
.
.
.
Author's note:
Buat yang sebelumnya menebak, Shigaraki Tomura, selamattt! Anda beruntung! XD (mudah ketebak 'kan?) Sayang Midoriya Inko hanya tinggal nama di sini TTATT (anda yang bikin, oy). Aniway :
Shin Aoi :*peyukAo-chan erat-erat, jadiin Ao-chan tameng buat kalo trio kece badai ngamuk
Betul Ao-chan, Izu-chan bukan Midoriya benernya, tapi maminya iyak, dan ikut marga maminya :D Nah seperti tebakan kamu, ping-pong! Shigaraki sodaranya yang satu lagi, betull XD pinter, pinter *usep2kepala Ao-chan
Dan, pssst, abang dispenser muncul, walopun cuman suaranya doang :P
Aniway, Ao-chan, truthfully ane juga bolak balik mondar-mandir di fandom ini tapi belom ada asupan baru TTATT maka itu saia buat sendiri, demi asupan saya juga :P
Fujoshi desu XD : Fujocchi, empat jempolll, yayy! Hampir semua tebakan Fujocchi betul XD wohoo! Doi memang aktor, tapi sepertinya doi cuman invest ke kafe dari hasil kerjanya, mungkin bisnis ini menguntungkan ya? :P
Dan, selamat menempuh kuliah, Fujocchi! Jangan khawatir, ane akan selalu mengganggumu dengan serangan apdet atopun serangan fajar asupan XD
Hikaru Rikou : hm, siapa ya yang ngirim data itu? Gimana, Kacchan? (dikasih tatepan sinis, kalo tatepan bisa bunuh, kayaknya author uda tewas) *tarik Hikacchi menjauh dan bisik-bisik di tempat aman
Iyah, Izuku anaknya Allmight XD sepertinya di ceritanya pun lebih cocok bahwa doi anaknya Allmight, mereka cocok, begitu juga ama Shigaraki :P jadi selamat Hikacchi, tebakan Hikacchi pun bener.
Dan betul, Kacchan makin terdesak, waktunya makin sempit, belom lagi, uda ditelepon abang dispenser :P selamat ya Kacchan! *dikejeriblisgranat *lari,lariHikacchi!
Miharu348 : Congratulations! Jawaban Anda tepat XD mari kita tunggu next tebak-tebakan lagi :p
And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!
