.
.
.
Boku no Hero Academia not mine
90 days by cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
.
.
.
Enjoy!
Chapter 12: Forget me! Forget me not!
Day 29
Botol mungil dari kaca berwarna biru diangkat ke hadapan pemuda berambut pirang kelabu yang menatapnya dengan mengerutkan dahi. Matanya mengamati cairan di dalam yang bergerak seiring dengan pergerakan tangan orang yang memeganginya. Setelah beberapa saat barulah ia mengalihkan perhatian dari botol dan berkata, "Bentuknya kurang meyakinkan."
Di hadapannya, pemuda berambut merah yang memegangi botol tersebut meletakkannya sesuai permintaan. Dengan hati-hati tangannya menempatkan botol tersebut di atas coffee table di ruang keluarga dan berkata, "Kualitasnya pun aku tidak dapat menjamin, tapi efeknya dijamin seratus persen oleh penjualnya."
"Hm," gumam si pemuda berambut pirang kelabu yang duduk bersandar pada sofa.
Sembari mengamati dengan hati-hati, Kirishima pun berkata, "Tapi… kau membutuhkannya untuk apa, Bakugou?"
"Bukan urusanmu."
Sang bawahan sudah biasa diberi ucapan menyakitkan hati seperti ini dan biasanya ia tidak terlalu memasukkannya ke hati. Tapi berhubung suasana hatinya sedang cukup buruk, terlebih setelah mendapatkan banyak masalah karena benda yang dibawanya itu, akhirnya Kirishima pun berkata, "Ya, ya, memang bukan urusanku. Tapi boleh 'kan aku tahu untuk apa kau membutuhkannya berhubung aku harus menempuh sejumlah masalah hanya untuk mendapatkan benda tersebut?"
"Nah, itu…"
"Untuk apa sebenarnya kau membutuhkan obat penghapus ingatan?" Kirishima memutus ucapan atasannya sambil menyipitkan mata. "Untuk orang lain atau hendak kau gunakan sendiri?"
Pemuda berambut pirang itu menatap lawan bicaranya dan berkata, "Terkadang kau terlalu ingin tahu, Kirishima!"
"Ah ya, seorang Direktur yang tak bertanggung jawab memaksaku untuk mencari informasi sehingga ingin tahu sudah jadi bagian dari hidupku, suka tidak suka," jawab Kirishima sambil mengangkat bahu. "Dan berhubung sudah terlanjur, lebih baik direktur itu menjelaskan untuk apa ia meminta obat penghapus ingatan sebelum sang bawahan membocorkannya pada orang lain?"
"Katakan saja," ucap sang Direktur santai, "dan akan kubuat lidahmu tak dapat menjalankan fungsinya lagi."
Kirishima menatap balik sang Direktur sesaat, sebelum ia kembali duduk di sofa. Dahinya berkerut saat ia berkata, "Belakangan ini kau sering bermain dengan sesuatu yang berbahaya, kau tahu?"
"Tidak," balas pemuda berambut pirang itu dengan sarkas, "terima kasih sudah mengingatkan."
"Sama-sama," lawan bicaranya menjawab dengan getir. "Kuharap kau tidak akan memperpanjang unpaid leave-mu karena obat itu."
Katsuki tidak menjawab. Satu tangannya terulur pada botol yang diletakkan Kirishima sebelumnya di atas meja. Ia membuka tutup botol tersebut dan memiringkan botol agar cairannya meluncur turun ke tangannya. Dengan hati-hati ia menumpahkan setetes ke atas jari dan mencicipinya.
"A…"
Selama sesaat pemuda itu memejamkan mata, merasakan efek cairan tersebut. Ketika kelopak matanya kembali terangkat dan manik merahnya bertemu dengan sang bawahan, ia mengerutkan dahi. Mereka berpandangan cukup lama hingga akhirnya ia berkata, "Apa aku mengenalmu?"
"Err… ", Kirishima berkata dengan gugup ketika melihat reaksi atasannya, "kau hanya bercanda 'kan?"
Dahi pemuda berambut pirang itu berkerut dan alisnya menukik tajam. Ia pun bangkit berdiri dari sofa dan berkata, "Atsui! Panggilkan penjaga gerbang! Katakan pada mereka untuk tidak seenaknya membawa orang asing masuk!"
Alis Kirishima terangkat mendengar tindakan ekstrem yang diambil. Sembari bangkit berdiri ia pun berkata, "Oke, ini cukup keterlaluan!"
Tangannya bergerak lebih dulu mencoba merebut botol yang ada di tangan Katsuki. Namun pemuda berambut pirang itu berkelit sehingga tangannya hanya menangkap angin. Melihatnya, alis Kirishima pun kembali terangkat dan ia berkata, "Oh! Cukup gesit untuk seseorang yang kehilangan ingatan!"
Pemuda berambut pirang itu memegangi botolnya erat-erat dan mengangkat bahu. "Kau tidak bisa diajak bercanda."
"Katakan itu pada dirimu sendiri!" Lawan bicaranya berkata dengan sinis. "Tapi ngomong-ngomong, aku curiga kau hendak menggunakannya untuk dirimu sendiri."
"Yah…"
"Memang bukan urusanku apabila kau mau menggunakannya sendiri," lanjut Kirishima sambil membalikkan badan. "Tapi unpaid leave mu hanya berlaku satu bulan, jadi kalau kau mau menggunakannya, tolong pikirkan dulu baik-baik! Aku tidak mau menanggung pekerjaanmu selama dua bulan."
Sang direktur tidak menjawab. Pemuda itu tetap diam sambil mengamati botol berwarna biru yang ada di tangannya. Sikapnya membuat Kirishima kembali memerhatikannya dengan mengernyitkan dahi.
"Kau tidak akan menggunakannya 'kan?"
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Kirishima pun dipaksa puas dengan keheningan yang melanda mereka. Pemuda berambut merah itu pun akhirnya menghela napas melihat tingkah sang direktur. Ia membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruang keluarga.
"Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Kirishima sambil mengangkat tangannya. Ia sudah hendak berjalan lebih jauh sebelum menghentikan langkah dan kembali berbalik. Tangannya menunjuk Katsuki dan berkata, "Ngomong-ngomong kau harus segera berangkat! Pesawatnya mendarat dua jam lagi."
Ucapannya lagi-lagi tidak mendapat tanggapan dari sang atasan. Kirishima pun sadar tak ada gunanya ia memperingatkan pemuda itu. Sembari menghela napas, ia pun kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan sang atasan dan botol kecil berwarna biru yang baru saja diberikannya.
Beberapa saat setelah ia meninggalkan ruangan, seorang gadis berambut hijau tua menghampiri ruang keluarga. Ia menuruni tangga dengan langkah yang lambat dan pelan hingga ia tiba di belakang pemuda itu. Tak jauh darinya, wanita yang memiliki kesamaan genetik dengan si pemuda berambut pirang tengah mengamati sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kat… suki?"
Lain dengan perkataan Kirishima, nada suara pelan dari gadis itu sudah cukup untuk membuat Katsuki mengangkat kepala. Ia mengeratkan pegangannya pada botol tersebut dan berhati-hati memasukkannya ke kantung kemejanya sebelum berbalik ke arah suara yang memanggilnya. Namun manik merahnya tak lagi tertambat pada manik hijau gadis itu. Katsuki malah berjalan melewatinya seolah-olah tak menyadari kehadiran gadis itu.
Gadis berambut hijau itu pun menundukkan kepala ketika pemuda itu melewatinya tanpa bicara. Diabaikan oleh pemuda itu cukup membuatnya sedih, tapi saat ini ia memilih untuk diam. Mungkin ini yang terbaik bagi mereka berdua.
Pemuda berambut pirang itu terus berjalan dari ruang keluarga dan menuruni tangga menuju ke garasi. Ia sempat melewati ibunya saat berjalan, namun wanita itu hanya memalingkan wajah darinya. Katsuki tahu apa artinya itu. Ia tahu tapi ia tidak peduli.
Di belakangnya, gadis berambut hijau yang sebelumnya ia tinggalkan akhirnya ikut berbalik dan berjalan mengikutinya. Berbeda dengan sikapnya pada sang Ibu, gadis itu berhenti ketika pandangannya bertemu dengan manik merah Mitsuki dan ia berkata, "Mama… Mitsuki…"
Senyum mengembang di wajah wanita itu ketika ia berhadapan dengan gadis mungil berambut hijau. Tangannya terulur dan ia menarik gadis itu mendekat padanya. Untuk sesaat, ia membiarkan kedua tangannya memeluk tubuh gadis itu sementara beberapa memori bermunculan di ingatannya.
"Izuku…," ucap sang Ibu sambil memanggil nama gadis itu. Ingatan tentang gadis yang lebih mungil yang selalu dimanja olehnya kembali bermunculan. Gadis kecil yang dimanja melebihi putranya sendiri. Gadis yang selalu diinginkannya sebagai putrinya. Pada gadis kecil itu ia berhutang begitu banyak hal, hingga ia hanya dapat berkata, "Maaf."
Seolah mengerti maksudnya, gadis itu menggelengkan kepala seraya berkata, "Tidak, Mama Mitsuki. Aku yang harusnya minta maaf."
Wanita berambut pirang itu pun balas menggeleng dan ia berkata, "Akulah yang harusnya minta maaf. Andai saja aku tidak memaksa putraku untuk menjadikanmu putriku…"
"Jangan… jangan minta maaf," ucap gadis itu sambil menundukkan kepala, "aku… aku ingin selalu menjadi putrimu, Mama Mitsuki, sampai sekarang pun masih seperti itu."
"Izu…"
"Tapi..," suara gadis itu mulai bergetar, "tapi sekarang semuanya berbeda, aku… aku bukan…"
Tangan Mitsuki mencengkeram erat rambut gadis itu. Dahinya disentuhkan ke atas dahi si gadis dan ia menggelengkan kepala seraya berkata, "Walaupun bukan sebagai menantu, Izu-chan akan tetap menjadi putriku."
"M-Mama Mitsu…"
"Jadi jangan sungkan padaku" ucap wanita itu sambil membingkai wajah gadis itu, "aku lebih sedih bila Izu-chan menghilang begitu saja tanpa mengatakan apa pun."
"A-aku…"
"Aku juga tidak menyesal Izu-chan hadir dalam hidup putraku," ujar wanita itu sambil mengusap rambutnya. "Terima kasih, Izu-chan, sudah hadir dalam hidup putraku."
"M-Mama Mitsuki…"
"Semoga kau bahagia," kata Mitsuki sambil mengecup dahi si gadis, "siapapun yang kau pilih kelak."
Ucapan wanita itu hanya ditanggapi dengan anggukan dari si gadis berambut hijau namun ia tak membalasnya dengan kata-kata. Tenggorokannya tercekat dan lidahnya kelu. Ia tak sanggup mengatakan apa pun pada wanita yang sudah menyayanginya semenjak ia masih belia.
Ia masih ingin memeluk wanita itu lebih lama dan mengatakan bahwa ia menyesal segalanya menjadi seperti ini. Ia sama sekali tidak berniat mengakhirinya seperti ini. Bukan ini yang ia inginkan.
Di saat ia hendak mengucapkannya, seseorang memanggilnya membuatnya mengurungkan niatnya. Ia pun mengangkat kepala dan menatap sang pelayan yang ikut muncul di samping sang Nyonya.
"Bakugou-san sudah menunggu Anda, Midoriya-san," ucap sang pelayan ketika pandangan mereka bertemu. "Mari, biar saya bawakan barang-barang Anda!"
Kesadarannya kembali dan ia pun mengiyakan dengan tergagap sedikit. Ia mengucapkan salam perpisahan singkat pada wanita di hadapannya dan berjalan mengikuti sang pelayan. Beberapa barangnya dibawakan oleh gadis berambut hitam itu sembari menyusuri koridor yang membawa mereka menuju garasi.
Awalnya hanya terdengar suara langkah kaki mereka di koridor. Mereka tidak berbicara selama berjalan dan setelah beberapa menit didera keheningan yang canggung, Izuku pun menoleh pada si gadis pelayan. Ia menatap gadis itu sesaat dan berkata, "Apa… kau marah padaku, Tsuyu-san?"
Gadis pelayan yang membawakan barangnya itu menoleh dan mengerjapkan matanya dengan bingung. "Marah?"
"Karena," Izuku berkata sambil tertunduk, "karena aku bukan istri Katsuki?"
Si pelayan menatapnya selama beberapa saat dan akhirnya ia berkata, "Midoriya-san, sedari awal saya sudah tahu bahwa Anda bukan istri Bakugou-san. Sayalah yang harus meminta maaf karena tidak mengatakan apa-apa pada Anda yang kehilangan ingatan."
"I-itu tidak… tidak apa…"
"Tapi Anda benar, saya kesal," ucap sang pelayan.
"O-oh?"
"Saya kesal," lanjut sang pelayan, "kenapa Anda bukan istrinya yang sebenarnya? Saya kesal, karena saya tidak banyak bicara dan tidak membela Bakugou-san di hadapan Anda. Kalau saya harus berbohong, saya akan banyak berbohong agar Anda tetap menjadi istrinya."
"A…"
"Kalau saja saya tidak berkata pada diri saya sendiri bahwa saya hanya pelayan dan mengizinkan diri saya untuk ikut campur dalam hubungan Anda berdua," ucap gadis itu tanpa mengalihkan pandangan dari Izuku, "tentu saya tidak akan menyesal seperti sekarang."
"K-kenapa?" Izuku berkata dengan bingung. "Sampai seperti itu…"
"Anda tidak tahu," kata si pelayan sambil menatapnya, "betapa berharganya Anda bagi Bakugou-san?"
"Itu…"
"Walaupun saya hanya pelayan, saya bersumpah untuk menjaga semua yang berharga bagi Bakugou-san," ujar gadis itu, "dan kali ini saya telah melanggar sumpah saya."
"T-Tsuyu-san…"
Kali ini si pelayan tak melanjutkan perkataannya dan ia berhenti berkata-kata. Di hadapan keduanya, sosok pemuda berambut pirang sudah menanti di depan mobil berwarna merah. Melihat itu, si pelayan pun segera membungkukkan badan dan mendekat pada mobil untuk memasukkan barang-barang ke bagasi.
Tak butuh waktu lama bagi Tsuyu untuk memasukkan sebuah kopor ke dalam bagasi mobil. Selesai melakukannya, ia pun kembali membungkuk dan meninggalkan keduanya. Walaupun begitu pandangan mata Izuku masih mengikuti hingga si pelayan menghilang dari pandangan.
Manik hijau itu terus memandanginya sebelum suara pintu yang terbuka menyadarkannya dari lamunan. Sontak, gadis itu pun berbalik dan menatap pemuda yang tengah membukakan pintu mobil untuknya. Perlahan, Izuku mulai berjalan masuk ke dalam mobil hingga akhirnya pintu ditutup sementara pemuda itu memutari kendaraan untuk menuju kursi pengemudi.
Begitu si pemuda berambut pirang sudah duduk di samping dan meletakkan tangan di atas kemudi mobil pun mulai berjalan. Dengan kecepatan standar Katsuki mengantarkan mereka keluar dari vila. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di jalan raya yang mengarah ke bandara internasional.
Ini bukan pertama kalinya Izuku berkendara di samping pemuda itu. Namun baru kali ini mereka berkendara tanpa alunan musik atau berbicara sepatah kata pun. Ia bisa saja menyalakan musik tapi entah kenapa ia memilih untuk tetap hening. Ia sendiri tidak bisa menjelaskan apa sebabnya.
Sepertinya hal yang sama dirasakan oleh pemuda berambut pirang yang tengah mengemudi. Biasanya pemuda itu akan berinisiatif menyetel lagu atau benda apa pun agar suasana tidak secanggung ini, tapi entah mengapa pemuda itu membiarkan keheningan tetap berada di antara mereka. Tangannya sendiri tetap berada di kemudi dan pandangannya terus tertuju ke jalanan. Tak sekalipun ia menoleh ke samping. Seolah tak ada seorang pun di kursi tersebut.
Apabila ini pertandingan, Izuku tidak tahu siapa pemenangnya. Pada akhirnya, selama satu setengah jam mereka terus berkendara tanpa seorang pun berbicara. Pemuda itu bahkan tak mau repot-repot memintanya keluar dari kendaraan saat mereka telah memarkir mobil dan mengeluarkan kopornya. Pemuda itu hanya membukakan pintu untuknya yang menjadi isyarat tersendiri agar ia keluar dari mobil.
Tanpa membantah, Izuku pun turun dari mobil dan menggerakkan tangan untuk meminta kopornya. Namun pemuda itu sudah lebih dulu menutup pintu mobil dan berjalan sembari menyeret kopor. Langkahnya yang besar membuat Izuku tersadar dan menambah kecepatan langkahnya bila hendak menyamai pemuda itu.
Dengan segera, Izuku mengikutinya masuk ke dalam bandara. Mereka melewati gerbang penjaga dan terus berjalan hingga ke terminal kedatangan. Di tempat itu, si pemuda berhenti secara tiba-tiba sehingga Izuku pun melambatkan laju langkahnya.
Ketika Izuku tiba di sisinya, tangan Katsuki pun terangkat dari kopor. Ia berbalik dan sudah hendak berlalu ketika gadis itu memanggil namanya. Setelah keheningan selama satu setengah jam, akhirnya gadis itu kembali memperdengarkan suaranya.
"T-Terima kasih," ucap gadis itu, "Katsuki."
Tapi Katsuki tidak mau repot-repot menjawab. Setelah mendengar ucapan terima kasih Izuku, ia kembali menggerakkan kakinya hendak meninggalkan gadis itu. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika gadis itu memanggil namanya. Kepalanya digerakkan sedikit untuk mendengarkan apa yang hendak diucapkan gadis itu.
"Terima kasih," gadis itu berkata lagi. "Sudah menjagaku sebulan ini."
Perkataan gadis itu membuat Katsuki tertegun sejenak. Beberapa saat kemudian, ia pun angkat bicara setelah sekian lama mencoba mengabaikan gadis itu.
"Menjagamu?" Katsuki mengulangi ucapan gadis itu.
Izuku menganggukkan kepala. "Walau aku kehilangan ingatan, Katsuki tidak meninggalkanku. Katsuki justru menjagaku dan memperlakukanku layaknya benda paling berharga di dunia."
Bahu si pemuda bergetar dan tawa sinis pun meluncur dari mulutnya, "Bukankah sudah kukatakan bahwa aku memang ingin merebutmu? Apa kau berterima kasih padaku untuk menunjukkan bahwa kau menyesal bertunangan dengan Todoroki dan kembali ke sisinya?"
Gadis berambut hijau di belakangnya menggelengkan kepala. "Aku… tahu. Tapi setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat bahwa Katsuki … menganggapku berharga."
"Ng?"
"Sebelumnya," ucap gadis itu sambil menatap punggung si pemuda, "kupikir Katsuki tidak pernah mendengarkan pendapatku, kupikir Katsuki menganggapku sebelah mata."
Tidak ada suara, pemuda itu tetap diam sehingga Izuku pun melanjutkan ucapannya.
"Baru sekarang aku sadar," gadis itu berkata sambil menundukkan kembali kepalanya, "bahwa Katsuki menganggapku berharga."
Terdiam cukup lama, pemuda berambut pirang itu akhirnya berkata, "Kau baru menyadarinya sekarang?"
"Ng?" Gadis itu mengangkat kepalanya.
"Aku selalu memperlakukanmu layaknya benda paling berharga di dunia," ujar pemuda itu, "dulu dan sekarang, selalu…"
Tapi lagi-lagi kepalanya tertunduk. Ia bukannya tidak tahu bahwa pemuda itu selalu memperlakukannya seperti itu. Ia tahu. Hanya saja, tepat seperti yang pemuda itu katakan, ia baru menyadarinya setelah melihat ekspresi pemuda itu kemarin. Setelah sekian lama ia menduga bahwa dirinya tak ada artinya bagi pemuda itu. Setelah sekian lama mengira bahwa dirinya hanya beban bagi pemuda yang dulunya akan menjadi suaminya.
"Tapi… ternyata tidak cukup," ujar Katsuki sambil tertawa getir. "Sama sekali tidak cukup."
"Katsuki…"
"Apa aku boleh memohon sesuatu padamu, Izuku?"
Kepala gadis itu terangkat dan ia mengernyitkan dahi. Memohon? Pemuda itu tidak pernah menggunakan kata itu sebelumnya. Kenapa tiba-tiba ia menggunakannya?
"Tolong lupakan saja aku," ujar pemuda itu tanpa menatapnya. "Aku tidak mau diingat sebagai pemuda menyedihkan yang tak dapat merebut tunangannya kembali."
"T-tapi Katsuki…"
"Apa kau bisa melakukannya?"
Menggelengkan kepala gadis itu pun berkata, "Kenapa… aku harus melakukannya? Aku tidak mau melupakan Katsuki."
Katsuki mengangguk mendengar jawaban gadis itu. "Aku tahu kau akan berkata begitu."
"Kenapa… aku harus melupakan orang yang menganggapku berharga?" Gadis itu berkata lagi. "Sekian lama aku mengharapkannya, setelah aku tahu kenapa aku harus melupakannya? Orang yang selama ini kuharap akan melihatku sebagaimana diriku dan…"
Ucapannya terpotong ketika ia melihat Katsuki berjalan menghampiri dan menariknya ke pelukannya. Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, pemuda itu sudah mendekapnya dan mengunci bibir gadis itu dengan bibirnya. Manik hijau gadis itu membelalak lebar ketika ia menyadari apa yang dilakukan pemuda itu. Ia mencoba meronta dan mendorong namun tenaganya tak ada artinya. Ketika ia mulai pasrah, cairan yang dingin memasuki rongga mulutnya dan turun ke tenggorokannya.
'Apa ini?' batin gadis itu sembari bergerak dan meronta, 'Apa ini?'
Tangannya mencoba memukul pemuda itu. Berkali-kali ia melakukannya hingga akhirnya ia kehilangan tenaga. Seluruh tubuhnya mendadak lemas dan pandangannya sedikit menggelap. Kepalanya terasa sakit dan bayangan pemuda itu mulai samar-samar.
Apakah ini halusinasi? Ia tidak pernah melihat pemuda itu tersenyum seperti itu sebelumnya. Senyum yang begitu sedih, seolah mereka akan berpisah selamanya.
Tangan Izuku mencoba meraihnya. Untuk pertama kalinya ia menyesal. Ia menyesal tidak meraih pemuda itu sebelumnya. Ia menyesal tidak mengatakan yang sebenarnya. Kalau saja ia tidak keras kepala dan membiarkan hubungan mereka menjadi seperti ini…
"Selamat tinggal, Izuku!" Pemuda itu berkata sebelum kegelapan menghampirinya. "Semoga… kau bahagia."
'Katsuki..,' batinnya di sela-sela kesadarannya yang mulai menipis, 'aku…'
.
.
.
Todoroki bersumpah. Ia takkan pernah ingin mencicipi perjalanan mana pun bersama orang tua paling menjengkelkan yang duduk di sampingnya selama penerbangan tadi. Cukup sekali saja mereka bersama-sama menaiki penerbangan First Class dan duduk berdampingan. Ia sudah lelah direcoki dengan berbagai percakapan membosankan sepanjang perjalanan.
Bahkan layaknya seorang ayah yang tak pernah mengobrol dengan putranya, pria besar it uterus saja mengoceh dan mengabaikan ekspresi yang sengaja ia pasang di wajahnya. Bisa saja ia mengabaikan orang tua itu sebenarnya tapi saat ini ia tidak mau mengundang perkara. Kenyataan bahwa ia masih harus menghadapi Bakugou Katsuki saja sudah cukup untuk membuatnya sakit kepala tanpa harus ditambah adu debat dengan pemilik perusahaan Endeavor Group.
"Bagaimana kalau kita makan dulu, Nak?" Ayahnya berkata setelah percakapan panjang lebar mengenai peluang bisnis perusahaan mereka. "Perut orang tua ini sudah minta diisi sepertinya."
"Tidak, aku tidak la…"
Sebelum Shouto menyelesaikan ucapan, ponsel yang baru saja diaktifkannya berbunyi menandakan panggilan masuk. Ia pun merogoh saku dan mengeluarkan ponsel yang baru dimilikinya selama beberapa hari. Untuk sesaat dahinya berkerut karena melihat panggilan tanpa nama di ponselnya. Namun ia tak mau ambil pusing berhubung hanya segelintir orang yang tahu nomor tersebut.
"Kuasumsikan kau sudah mendarat, dispenser sialan!"
Panggilan itu membuat Shouto menyernyitkan dahi. Ia menjauhkan ponsel dari telinga dan melirik layarnya sekali lagi. Ia tidak mengenali angka-angka di ponselnya itu, tapi suara yang didengarnya sangat familiar. Hanya satu orang di dunia ini yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Bakugou," balas Shouto dengan getir. Tanpa berbasa-basi, ia pun langsung berkata, "Darimana kau tahu?"
"Mungkin," ucap suara di ponselnya, "sama seperti caramu mendapatkan informasi soal Izuku yang berada di tanganku?"
Permainan sindir-sindiran sudah dimulai rupanya. Shouto yang biasa akan dengan senang hati menyambutnya, tapi Shouto yang sekarang sudah terlalu lelah. Perjalanan selama empat belas jam membuatnya hanya sanggup menghela napas sembari berkata, "Bakugou, di mana Izuku?"
"Informasi yang kau dapat tidak merinci di mana gadis itu berada?" Suara di ponselnya kembali berkata dengan nada sinis yang jelas. "Informanmu kurang akurat sepertinya."
"Aku lelah berdebat," balas Shouto sembari memijat dahinya, "Cukup kembalikan Izuku padaku!"
"Apa maksudmu kembalikan?" Suara di teleponnya berkata dengan begitu santai, tanpa emosi. "Aku tidak berhutang apa pun padamu."
Perdebatan ini lagi. Shouto benar-benar bosan mengulanginya terus menerus. Untuk mempersingkatnya ia pun berkata, "Aku tidak ingin berdebat denganmu, Bakugou. Kalau kau mengembalikannya baik-baik, aku akan mencabut semua tuduhan yang dibebankan padamu. Aku pastikan itu."
"Tak perlu repot-repot," jawab suara di ponselnya, "aku bisa menanganinya sendiri."
"Bakugou," Shouto kembali berkata kali ini benar-benar tegas dan mengancam. "Kembalikan Izuku!"
Selama beberapa saat, tidak ada suara yang terdengar. Shouto bahkan mengira bahwa teleponya sudah diputus dan ia harus menjauhkan ponsel dari telinga untuk memastikan dugaannya. Sayangnya hipotesisnya tak sesuai dengan dugaannya.
"Di bawah papan pengumuman kedatangan, di depan railing kaca, kursi ketiga dari gerbang," ujar suara itu akhirnya.
"Maaf?"
Kali ini suara yang terdengar hanya bunyi 'tut, tut' yang menandakan bahwa teleponnya telah diputus. Ia pun menggerakkan ponsel dan menatap layar. Sembari mengernyitkan dahi Shouto memandangi ponselnya.
Reaksinya rupanya memancing keingintahuan sang Ayah, sehingga pria besar itu mendekat padanya dan berkata, "Sepertinya, kita tidak akan makan siang di Bandara?"
"Aku memang tidak lapar," jawab Shouto cepat sementara pikirannya berkelana ke tempat lain. Ia mengingat kembali tiga petunjuk yang diberikan oleh si penelepon dan mengerutkan dahi. Diulanginya perkataan si penelepon sementara satu jarinya menumpu dagu.
"Apa kau berjanji dengan seseorang, Nak?"
"Apa?"
"Kedengarannya seperti tempat janjian," ucap sang ayah sambil mengelus janggut merahnya. "Tempat yang benar-benar spesifik, seolah orang itu memastikan bahwa kau akan menuju ke tempatnya."
Alis Shouto terangkat sedikit mendengar perkataan orang tua itu. Walaupun ia mencoba mengabaikannya, perkataan ayahnya ada benarnya. Ia pun mendekat pada salah seorang petugas keamanan dan menanyakan lokasi yang dimaksud. Betapa terkejutnya ketika ia mendengar bahwa orang itu mengerti tempat yang ia maksud.
"Turun satu kali melalui eskalator," ulang Shouto sambil menatap eskalator di depan matanya. Ia pun berjalan dengan tergesa-gesa dengan menyeret kopornya di belakang. Kedua manik heterochromenya mulai bergerak-gerak, mencari sosok si rambut pirang. "Lurus terus ke depan melalui gerbang."
Langkahnya dipacu sedikit lebih cepat. Sembari setengah berlari akhirnya ia tiba di lokasi yang dimaksud. Ia melewati gerbang dan tak jauh di hadapannya ia melihat papan pengumuman kedatangan yang dimaksud tergantung di atas. Dan tepat di bawahnya, ada seseorang yang sudah duduk di kursi seolah menunggu kedatangannya.
Alih-alih pirang, si penunggu memiliki rambut berwarna hijau layaknya daun musim semi. Melihatnya, Shouto pun segera memacu kecepatannya hendak memastikan dugaannya. Ia tak peduli bahwa sikapnya membuat beberapa orang menoleh padanya dengan bingung. Mungkin bila ia muncul dari gerbang keberangkatan, orang-orang takkan ambil pusing. Namun ia berlari dari gerbang kedatangan sembari menyeret kopor yang mungkin merupakan alasan mengapa orang lain memandanginya dengan mengerutkan dahi.
Biarpun aksinya diperhatikan beberapa orang, Shouto tidak ambil pusing. Ia terus berlari dan berlari hingga akhirnya ia tiba di hadapan sosok itu. Begitu ia melihatnya, ia pun melepaskan pegangannya pada kopor dan segera menghampiri sosok yang ada di hadapannya.
Satu tangannya membingkai wajah itu sementara satu tangannya yang lain menyingkirkan rambut ikal yang berjatuhan menutupi pandangan. Sosok itu memejamkan matanya tapi Shouto hal itu tidak menjadi masalah baginya. Ia terus menatap gadis di hadapannya hingga akhirnya mulutnya terbuka dan memutuskan untuk memanggil namanya.
"Izu…ku," ucapnya ketika ia melihat gadis itu. "Izuku…"
Perlahan, kelopak mata si gadis pun bergetar dan menampilkan warna yang paling ia sukai. Awalnya iris berwarna hijau itu tidak tertuju padanya, namun lama kelamaan pandangan si gadis pun terpaku padanya. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali dan memandanginya tanpa suara.
Namanya tidak kunjung disebutkan oleh gadis itu, namun Shouto tidak heran. Menurut data yang ia terima, gadis itu kehilangan ingatan seluruhnya. Ia tidak bisa mengenali dirinya sendiri apalagi orang-orang di sekelilingnya.
"Siapa…?" Gadis itu berkata sambil menatapnya bingung.
Pertanyaan itu sudah diduganya. Dengan sabar, Shouto mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan menyentuhkan dahinya. Ia memejamkan mata cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Shouto. Namaku Todoroki Shouto."
Gadis itu menggerakkan bola matanya, menatap ke arahnya. Sembari menjauhkan dirinya sedikit, si gadis pun berkata, "Shouto…?"
Shouto mengangguk mendengar gadis itu mengulangi namanya. "Benar."
"Apa…," ucap gadis itu sambil menatapnya, "kau mengenalku?"
Perlahan-lahan, Shouto menarik dirinya dari gadis itu. Ia menatap gadis itu sebelum berkata, "Ya. Aku mengenalmu."
"S-Siapa?"
Alis Shouto mengernyit. 'Siapa?' Apakah ada orang lain lagi selain mereka berdua?
"Siapa… aku?"
Kedua manik heterochrome Shouto terpaku di tempat ketika mendengar pertanyaan gadis itu. Melupakan soal dirinya saat gadis itu tengah bersama pemuda lain bisa dimakluminya. Tapi ia tidak bisa mengerti, kenapa gadis itu tidak tahu siapa dirinya? Bukankah seharusnya Bakugou sudah menjelaskan siapa dirinya?
"Siapa….", gadis itu berkata dengan sedikit sedih, "aku ini siapa?"
Pertanyaan gadis itu membuat Shouto kembali tersadar. Sembari menatap gadis di hadapannya, Shouto pun berkata, "Izuku. Namamu Midoriya Izuku."
"Izu…ku…" si gadis berkata sambil memicingkan mata. Namun tak lama, ia mengernyitkan dahi dan memegangi kepalanya. Sikapnya membuat kekhawatiran Shouto meningkat sehingga ia mendekat pada gadis itu. "Namaku… Izuku?"
Shouto mengangguk.
Kepala gadis itu terangkat dan ia menatap kedua manik heterochrome miliknya. "Dan Shouto," ulang gadis itu, "adalah…?"
Seolah mengerti maksudnya Shouto pun berkata, "Aku…"
"Ya?"
"Tunanganmu," ucap Shouto sambil menatapnya lekat-lekat, "calon suamimu."
"C-Calon suamiku?"
"Ya…"
Gadis itu menatapnya selama beberapa saat. Dahi gadis itu mengernyit, namun Shouto tidak merasakan firasat apa pun hingga gadis itu berkata, "Lalu… siapa pemuda yang berambut pirang itu?"
.
.
.
Author's note:
Holla All! Hampir sebulan nggak apdet dan syukurlah hari ini keburu ngapdet :D how ar y gais? Miss me? :P
Fujoshi desu XD : adu, Fujocchi, jangan nahan tangis, ayo lap dulu ingusnya! Tahan! Keluarin! Uda? Soal firasat buruk, sepertinya firasat buruk Fujocchi mengacu ke sakit kepalanya Shouto yang duduk sebelahan sama Om Endeavor. Buktinya sampe sekarang Shouto masih sakit kepala tuh.
Sementara Tomu-Tomu niichan, doi aktor sebetulnya. (ane lupa, pernah dijelasin ga di chapter sebelumnya? Ato kelewat ya?) dan mengikuti jejak Papi Allmight yang invest selama jadi aktor. Mungkin doi cukup terkenal, tapi belum diceritain seterkenal apa :P
Lol, mati-matian ngelindungi walopun mulutnya tetep jahat ya? Bedanya di sini, mulutnya jahat, maksudnya nggak ketebak, tapi tetep jahat #lho?
Miharu 348 : Hola Micchan XD senangnya kamu suka, saya juga demen kata 'Micchan' seperti kata kamu, kesannya imut :D
Iyaaa, Todoroki uda muncul, uda ketemu, tapi masalah baru dmulai :D #singsabaryaBangDispenser #moveonitususah
Hikaru Rikou : Hikacchi T_T saya juga megangin dada pas Izuku pamit sama orang rumah T_T
Iya, coba dinasehatin deh Hikacchi, si Iblis granat satu itu susah banget dibilangin. Bukannya malah dijaga baik-baik, terakhir malah dibuat lupa. Tega nian memang si abang satu itu. Deku juga, malah nggak ngomong dan pendem sendiri. Akhirnya keburu lupa T_T entah balik lagi ingatannya, ato malah merajut ingatan baru bersama Abang Dispenser XD
Fufufu, Tomu-Tomu niichan ya? Saya juga mencari waktu yang tepat untuk kemunculan perdana doi. Semoga next chapter doi muncul :P #belomadasceneTododeku #dikasibadaiduluan #bangdispenserngamuk #nyumputbelakangHikacchi
Tingggal 61 hari lagi, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Ke manakah hati Deku berlabuh? #berasasempilannextepisodeanime :D
kyunauzunami, ererigado :iyaaa XD ini dia! Selamat menikmati XD
Sherly : ehe, mari kita doakan Tododeku lebih banyak di chapter depan XD
Shin Aoi : holla Ao-chan XD ripiumu cuman sekali kok, tenang pasti masuk kok ripiunya dan terima kasih uda bela2in ripiu sampe berkali-kali :D
Dan iya, Bang Dispensernya uda dateng, nemuin Izuku sendirian di bawah papan pengumuman, tapi dapet kejutan nggak terduga :P
Buat Iblis Granat, dia memang cinta bangett sama Izu-chan, Izu-chan yang paling berharga buat dia. Tapi mungkin dia terburu-buru buat kesimpulan sampe akhirnya jadi seperti sekarang. Entah dalam 61 hari sisanya masih ada kesempatan buat dia atau uda ketutup sama sekali kesempatannya T_T
Uhuk, Kiri-chan buruan sumputin bubuk sianidanya. Sebelom ketauan sama Ao-chan dan si Iblis granat!
Guest : eh? Ini Kyunauzunami kah? Ayo kita nobatin papi tengkorak buat jadi presiden! Mari, Papi, sepatah dua patah kata sambutan untuk para anggota harem deku XD
Iya, kokoro ane juga retak, uda pengen kasih aja ke Kacchan, tapi malah dibanting ama si Iblis Granat #emangsupertega
Todoroki juga gercep sebelum keduluan Kacchan lagi, tapi sepertinya doi juga nggak bisa melalui hari-harinya dengan damai XD
Arisa-chan : Risacchi! #hugRisacchi #mewekbareng2didepanKingExplodo #diledakin
Yak, dari sudut barat, abang Dispenser sudah melancarkan serangan dan sudut timur, McExplodo kita uda semaput. Sudut barat siap menghabisi sudut timur, tapi… akankah ada injury time dari wasit? #kasikodekeBroccoliGirlkita
Lol, request kamu menyusul ya XD mungkin setelah beres FF ini saya buatin, tapi maaf, saya nggak bisa janji. Belakangan ini RL menyeret saya lebih dalam dibanding yang saya duga. T_T
pratanti : o-ow, tenang Tanti-chan, tenang! Masih ada 61 hari. Mari kita liat apa Kacchan masih dikasih kesempatan ato nggak. Tapi… ayo bersorak bareng-bareng dulu buat Todoroki yang akhirnya berhasil ketemu sama tunangannya XD
Wow! Thank u banget kalo kamu uda suka sama ceritanya XD itu yang saya harapkan. Idenya… waktu itu saya baca salah satu ff beda anime, ceritanya soal pasangan yang terpaksa merid, dan dari situ, muncul ide ini :D nggak nyambung dan nggak mirip memang, tapi entah kenapa jadi kepikiran ide ini XD
Mina : iyaaa, silakannn~! Sudah di apdet! Selamet menikmati XD
And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!
