On previous chapter :
Kepala gadis itu terangkat dan ia menatap kedua manik heterochrome miliknya. "Dan Shouto," ulang gadis itu, "adalah…?"
Seolah mengerti maksudnya Shouto pun berkata, "Aku…"
"Ya?"
"Tunanganmu," ucap Shouto sambil menatapnya lekat-lekat, "calon suamimu."
"C-Calon suamiku?"
"Ya…"
Gadis itu menatapnya selama beberapa saat. Dahi gadis itu mengernyit, namun Shouto tidak merasakan firasat apa pun hingga gadis itu berkata, "Lalu… siapa pemuda yang berambut pirang itu?"
Boku no Hero Academia by Horikoshi Kohei
90 days by cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
I'm not taking any profit from this ff : )
.
.
.
Enjoy!
Chapter 13: Facing your fear!
Day 35
Tokyo, UA Manufacture Company
Pepatah bilang seseorang tidak boleh terus terpaku pada masa lalu. Ia harus melangkah maju, menatap ke depan dan menikmati masa kini. Ia harus meninggalkan semua penyesalan dan rasa bersalahnya di belakang dan menatap hari depan penuh harapan. Setidaknya, itulah yang psikiaternya katakan padanya beberapa hari yang lalu.
Sayangnya kenyataannya tidak semudah yang psikiaternya katakan. Ia baru saja datang ke ruang kerjanya, menarik bangku sementara tangannya melempar asal sejumlah obat yang baru saja ia dapatkan dari psikiaternya ke atas meja. Ketika ia hendak menyalakan komputer dan memasukkan password ketika bayang-bayang itu kembali menghantui. Bayang-bayang yang muncul dalam bentuk sebuah foto seorang gadis kecil berambut hijau yang memegangi jaring penangkap serangga itu menatapnya dan memunculkan kembali ingatan yang ingin ia lupakan.
Ketika itu mereka masih begitu belia. Dengan senyum yang merekah, mereka tidak tahu bahwa kebersamaan mereka hanya sekejap mata. Mereka belum menyadari bahwa ketika beranjak dewasa keinginan untuk memiliki terasa begitu kuat hingga menyakiti satu dan yang lain. Bagi mereka dulu, asalkan yang satu bahagia yang lain pun ikut senang. Kebahagiaan adalah konsep sesederhana itu untuk mereka.
Sekarang semuanya berbeda. Gadis yang ingin ia bahagiakan seumur hidup sudah memilih untuk bersama orang lain. Ia sudah mencoba berbagai cara namun dosanya di masa lalu membuat segalanya tak bisa kembali seperti dulu. Karena itu ia memilih untuk menyerah dan membiarkan gadis itu mendapatkan yang lebih baik dibanding dirinya.
Menghela napas, ia mengambil foto tersebut dan membuka laci mejanya. Dimasukkannya foto itu ke dalam laci dan dikuncinya rapat bersama dengan kenangan yang lain. Sekali ini Katsuki takkan menoleh lagi padanya dan berjanji untuk fokus pada dirinya yang sekarang.
"Mau sampai kapan kau melamun?"
Suara seseorang yang masuk ke dalam ruangan membuat Katsuki perlahan menoleh ke samping. Ia tidak heran begitu menemukan pemuda berambut merah dengan berkas menumpuk melebihi batas lehernya. Pemuda itu berjalan menuju ke meja kerjanya seraya meletakkan semua berkas tersebut ke meja.
Sebelum Katsuki sempat protes pemuda itu lebih dulu berkata, "Kukembalikan semua padamu. Silakan kau bakar, kau hancurkan juga aku tidak peduli! Tanggung jawabnya sudah kukembalikan sepenuhnya!"
Sembari mendecak kesal, Katsuki meletakkan satu tangannya di atas tumpukan dokumen-dokumen tersebut. Manik merahnya menyipit ketika ia berkata, "Bukankah sudah kukatakan untuk tidak membiarkan mereka bereproduksi? Kenapa dokumennya menjadi lebih banyak dibanding sewaktu kutinggalkan?"
"Kau sadar tidak bahwa ada tanggung jawab yang tidak bisa dikerjakan oleh bawahan seperti aku?" Pemuda berambut merah itu menjawab yang dibalas dengan decakan kesal dari atasannya. Manik merahnya tertuju ke atas meja dan memandangi beberapa butir pil berwarna-warni di atas meja. Melihatnya, sang bawahan pun berkata, "Kau sudah ke psikiater?"
Atasan yang ditanya hanya bergumam singkat dengan tangan yang sibuk membolak-balik dokumen. Manik merahnya bergerak ke kiri kanan membaca artikel pada kertas yang ia pegang ketika ia berkata, "Begitulah."
Menyipitkan mata, sang bawahan kembali berkata, "Penampilanmu tidak lebih baik dibandingkan terakhir kali aku berkunjung. Apa konsultasimu tidak berjalan lancar?"
Menghela napas, Katsuki meletakkan dokumen yang tengah ia pegang ke atas meja. Bukannya menjawab pertanyaan sang bawahan, ia malah berkata, "Kudengar Aizawa sedang merencanakan pemindahan kantor, bagaimana statusnya?"
Alis bawahannya terangkat sementara bola matanya terbuka lebar saat mendengar ucapan Katsuki. "Bagaimana kau tahu? Bukannya kau baru masuk kerja hari ini?"
Tanpa mengindahkan pertanyaan Kirishima, Katsuki mengulangi kembali perkataannya, "Statusnya, Kirishima!"
"Ya, ya," jawab Kirishima sembari mengambil buku catatan kecil yang ia selipkan di saku kemejanya. Dibukanya catatan itu sementara ia meletakkan pulpen mengetuk-ngetuk dahinya pelan. "Gambar rancangan sudah disetujui begitu juga dengan biaya dan kontraktornya sudah ditunjuk. Pelaksanaannya sudah dimulai sejak seminggu yang lalu dan rencananya Aizawa-san akan mengunjungi proyek itu hari ini."
"Bagus," jawab Katsuki sambil mengambil jas yang ia sampirkan di bangku dan mengenakannya di bahunya. "Kalau begitu katakan pada Aizawa bahwa aku yang akan menggantikannya mengecek proyek itu."
"Hah?"
"Di mana proyeknya?"
"Oh itu, di…"
Sebelum Kirishima sempat menjawab, Katsuki sudah meletakkan tangannya di leher pemuda itu. Diseretnya pemuda itu sembari berkata, "Kau ikut saja kalau begitu, sekalian kau yang menyetir."
"H-hei! Tunggu dulu! Pekerjaanku masih banyak, kau tidak bisa seenaknya-…"
Kirishima masih mencoba protes, namun Katsuki sudah tak mendengarkan. Ia menyeret pemuda berambut merah itu keluar dari ruang kaca miliknya menuju ke koridor. Diiringi dengan tatapan iba para staff lain, mereka berjalan hingga ke lift yang terhubung dengan gedung parkir. Sesampainya di sana barulah Katsuki melepaskan tangannya dari leher sang bawahan dan berjalan di depan. Ia memimpin jalan dan berhenti tepat di mana mobil sang pemuda bergigi hiu itu diparkir.
Manik merah membelalak dengan keheranan dengan tingkah laku sang atasan yang sepertinya sangat informatif. Padahal atasannya sudah tidak masuk selama sebulan lebih, tapi bagaimana atasannya itu tahu di mana mobil Kirishima diparkir hari ini atau soal pemindahan kantor? Apa ini hanya berdasarkan insting semata?
"Hei!" Sang atasan kembali memanggil dengan nada tidak sabar. "Sedang apa kau di sana? Cepat buka pintunya!"
Luar biasa memang penumpangnya yang satu ini. Sudah menumpang, tidak sabaran pula. Kirishima hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya dan membuka pintu mobil untuk membiarkan sang atasan masuk. Ia sendiri membuka pintu mobil dan bersiap untuk menyetir saat melihat atasannya duduk dengan seatbelt melintang di dada, benar-benar sudah siap untuk perjalanan.
Melihat tingkahnya Kirishima hanya dapat mengangkat alis, "Sejak kapan kau tertarik dengan proyek renovasi kantor? Biasanya kau hanya menganggap sebelah mata pada proyek renovasi semacam ini."
Menggerakkan tangan dengan gerakan mengusir Katsuki berkata, "Fokus saja menyetir! Aku mau tidur."
"Hah!" Kirishima mendengus mendengar jawabannya.
Tidak menjawab Katsuki memalingkan wajah sementara sang bawahan menggerutu di samping. Dengan kepala bersandar pada jendela, pemuda dengan rambut pirang kelabu itu perlahan-lahan memejamkan matanya. Setelah gerutuan yang berlangsung selama beberapa menit, mobil pun berjalan dan membawa mereka ke lokasi proyek renovasi.
Oke, waktunya mengistirahatkan pikiran sejenak sebelum kembali pada rutinitas yang padat.
Same day
Tokyo, Avorende Tower
"Maaf, Izuku," ucap pemuda dengan rambut berbeda warna di belahan kiri dan kanan, "padahal harusnya kau beristirahat, tapi kau malah menemaniku bekerja karena orang itu mendadak mengadakan meeting."
Menggelengkan kepala, gadis berambut hijau yang mengenakan kemeja putih dipadu dengan rok putih setinggi lutut menggelengkan kepalanya. Ia duduk di sofa dekat meja kerja sang direktur sementara pandangan matanya tertuju pada pemuda yang tadi bicara. Senyumnya terkembang saat ia berkata, "Tidak apa, Shouto. Aku senang bisa menemanimu."
"Kau yakin?" Pemuda yang duduk di kursi direktur itu memandangi tunangannya dengan khawatir. "Kepalamu masih sakit?"
"Aku baik-baik saja," jawab gadis itu sambil memberikan seulas senyum pada tunangannya. "Jangan khawatir!"
"Walau kau bilang begitu, tetap saja-…"
Sebelum ia melanjutkan ucapan, seseorang membuka pintu ruangannya tanpa permisi dan membuat percakapan keduanya terhenti. Menyadari dua pasang mata yang tengah tertuju padanya, pria yang baru datang itu melangkah masuk mendekat pada meja direktur. Ia menghampiri kursi sang direktur sementara senyumannya tertuju pada gadis yang duduk di sofa.
"Ah, bagus! Kau sudah datang." Pria itu berkata saat melihat Shouto. Pandangannya kemudian tertuju pada penghuni lain di ruangan itu dan berkata, "Lho? Nak Izuku juga ikut?"
Shouto menghela napas sementara ia berkata, "Ayo selesaikan meeting ini secepatnya sehingga aku dan Izuku bisa pulang untuk melanjutkan kencan kami!"
"Kalian sedang kencan?" tanya pria besar itu dengan mata melebar. "Wah, maaf Nak Izuku! Aku sudah mengganggu acara kencan kalian kalau begitu."
Menggerakkan kepalanya, Izuku hanya tertawa kecil dan berkata, "Tidak apa, Paman Enji."
Decakan kesal Shouto sudah cukup untuk mewakili perasaannya. Mendengar itu Todoroki senior pun mendekat padanya dan menepuk bahunya pelan. "Jangan begitu, Nak! Kau harus giat mencari nafkah untuk Izuku nanti. Benar 'kan, Izuku?"
Sekali lagi Izuku tersenyum kecil sementara pria besar yang merupakan calon mertuanya berjalan menuju ke sofa yang ia tempati. Mengambil tempat di hadapannya, pria berambut merah itu pun berkata, "Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu masih sakit?"
"Oh, aku baik-baik saja," jawab Izuku sambil menggerakkan tangannya dengan gugup. "Kepalaku sudah tidak sakit."
Enji mengangguk mendengar ucapan gadis berambut hijau di hadapannya. Ia menatap gadis itu lagi sebelum berkata, "Bagaimana ingatanmu? Ada sesuatu tentang Shouto yang kau ingat?"
Izuku menundukkan kepalanya sejenak sebelum menggeleng pelan. "Belum, Paman Enji. Maafkan aku."
Menggerakkan tangan, Todoroki Enji berkata, "Kenapa minta maaf? Kau tidak salah apa-apa, Izuku. Jangan khawatir!"
"Tapi," ucap Izuku sembari mengangkat kepalanya dan mengangguk mantap, "aku akan berusaha secepatnya mengingat Shouto dan Paman Enji. Suatu saat nanti, aku pasti akan mengingat kalian berdua."
Enji tersenyum menatapnya sementara di belakangnya pemuda yang memerhatikan pembicaraan mereka hanya dapat mengepalkan tangan. Pemuda itu berjalan mendekat pada keduanya dan duduk di lengan sofa. Merangkulkan tangannya pada bahu si gadis ia pun berkata, "Jangan memaksakan diri, Izuku!"
"Shouto…"
"Seperti ini pun tak apa," ucap pemuda itu sambil mendekatkan kepala si gadis ke dadanya, "pelan-pelan mengingatku pun sudah cukup."
Seulas senyum tipis muncul di wajah gadis berambut hijau itu. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang tunangannya sementara calon ayah mertuanya memandangi mereka dengan ekspresi yang tidak terbaca. Ekspresi yang ia tunjukkan hampir identik dengan ekspresi di wajah pewaris tunggalnya.
"Ngomong-ngomong," ucap Enji yang membuat keduanya sadar dari pikiran masing-masing, "kudengar dulu kau pernah membuka kafe, Izuku. Apa mungkin kau masih ingat cara mengelolanya?"
Gadis berambut hijau itu menggerakkan kepalanya sedikit. Telunjuknya terarah pada dirinya sendiri dan ia berkata, "Aku membuka… kafe?"
Mengangguk Enji kembali berkata, "Kudengar tubuh akan mengingat kegiatan yang sudah sering kau lakukan berulang kali. Mungkin saja kalau kau mengelola kafe milikku yang ada di lantai dasar, ingatanmu perlahan-lahan akan kembali dengan sendirinya."
"Eh? Aku mengelola kafe Paman Enji?"
"Iya, apakah kau keberatan?" Todoroki senior kembali bertanya. "Tentu saja aku akan membayar gajimu, kau tidak perlu khawatir."
"B-bukan, aku tidak masalah bila tidak dibayar, tapi apa Paman yakin?" Izuku berkata dengan gugup. "Aku sudah kehilangan ingatan dan aku tidak tahu apapun soal mengelola kafe. B-bagaimana kalau nanti kafenya bangkrut? A-aku tidak berani mengambil tanggung jawab sebesar itu."
Di hadapannya, pria bertubuh besar berambut merah itu malah tertawa terbahak mendengar jawabannya. Ia menepuk lutut dengan salah satu tangannya dan berkata, "Memangnya kenapa kalau bangkrut, Izuku? Itu hanya sebuah kafe. Bukan masalah besar bagiku."
"T-tapi…"
"Kupikir itu bukan ide bagus," ujar Shouto yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan. "Tubuhmu masih lemah dan tidak seharusnya kau bekerja. Jangan menyarankan yang aneh-aneh!"
"Shouto…"
"Kau terlalu protektif, Nak," sang ayah kembali berkata dengan senyum tersungging di bibir. "Apa salahnya mengelola kafe? Itu bukan pekerjaan berat yang tidak bisa dilakukan seorang gadis yang kehilangan ingatan."
Memicingkan mata, Shouto kembali berkata, "Sekali tidak tetap tidak."
"Wah,wah," gumam pria pemilik perusahaan Endeavor Trading Company itu, "kau punya tunangan yang protektif sekali, Izuku! Dia bahkan tidak mengizinkanmu bekerja untuk memulihkan ingatan. Jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikannya darimu!"
"Aku tidak bilang bahwa aku tidak ingin ingatannya kembali!" Pemuda di samping Izuku kembali berkata dengan nada tajam yang mengintimidasi lawan bicaranya. "Dan aku tidak menyembunyikan apapun dari Izuku!"
"Oh, ya?" tantang Enji dengan nada mengintimidatif yang sama dengan putranya. "Benarkah itu, Shouto?"
Manik dwiwarna Shouto memicing menatap sang ayah. Ekspresi tidak suka yang terang-terangan ia tunjukkan dibalas dengan senyum licik dari pria yang memberikan nama Todoroki padanya. Ia tidak menyadari bahwa sikapnya membuat gadis di sampingnya turut merasakan ketegangan tersebut. Bahkan dengan suara mencicit, ia menyentuh lengan kemeja yang ia kenakan untuk meminta perhatian.
"Shouto,"cicit gadis itu sambil mendekat pada tunangannya, "sudahlah. Paman Enji tidak bermaksud buruk."
Pandangan yang tadinya tertuju pada sang ayah perlahan-lahan mulai beranjak. Kedua manik itu kini menatap manik zamrud gadis di sampingnya. Dengan ekspresi yang lebih lembut pemuda itu berkata, "Aku tahu, Izuku. Jangan khawatir!"
Masih merasa tidak yakin, gadis itu hendak menyuarakan pendapatnya. Namun pria bertubuh besar itu menyela ucapannya dengan berkata, "Aku tahu putraku memang tidak bisa diajak bercanda, Izuku. Sifatnya memang begitu."
"Aku tahu, Paman Enji," ucap Izuku sambil tersenyum.
Kembali mengangguk, Enji mengangkat sebelah tangan yang menunjukkan jam di tangan. Alisnya terangkat melihat kedua jarum yang berputar di dalam lingkaran dan dengan suara terperanjat ia berkata, "Dan ya, sepertinya kita sudah terlambat, Shouto! Sebaiknya kau segera bersiap-siap."
Ekspresi keengganan yang terang-terangan kembali ditunjukkan oleh putranya. Melihatnya, tunangan putranya hanya tersenyum sembari mengepalkan kedua tangan. Mengangkat sebelah tangannya, gadis itu berkata, "Shouto, semangat!"
"Aku tahu," jawab si pemuda berambut dwiwarna sambil mendekat dan mengecup kening kekasihnya. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan mengikuti sang ayah yang telah lebih dulu beranjak. Kakinya sudah akan melewati ambang pintu ketika tiba-tiba ia berbalik dan menatap gadis yang sebelumnya ia tinggalkan. "Izuku!"
"Ng?"
"Kafenya ada di lantai dasar," ujar pemuda itu sambil menggerakkan telunjuknya ke lantai. "Dari lift belok ke kiri, namanya Hot and Cold café."
Menggerakkan kepala, Izuku menatapnya dengan penuh tanda tanya. Namun pemuda yang ia tatap tidak memberikan jawaban yang jelas dan hanya bergumam, "Siapa tahu kau bosan menunggu di ruanganku."
Setelah mengatakannya pemuda itu meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Ia meninggalkan Izuku yang tengah menggerakkan kepalnya mengelilingi ruangan. Ia sibuk mengamati setiap sudut ruangan yang menjadi tempat tunangannya menghabiskan sepertiga harinya. Bila dilihat dari banyaknya pigura dan sertifikat yang dipajang di ruangan bernuansa tradisional itu, Izuku tahu bahwa tunangannya adalah seseorang yang berprestasi. Walaupun tidak tahu perusahaan tempat pemuda itu bekerja, Izuku paham bahwa tunangannya bekerja di sebuah perusahaan besar yang tidak sembarangan.
Hanya saja sebuah pertanyaan tak henti-hentinya hingga di pikirannya. Kenapa orang seperti itu mau menjadi tunangannya? Ia yang tidak punya siapa-siapa dan hanya membuka sebuah kafe bukanlah orang yang layak untuk bersanding dengan pemuda sehebat Todoroki Shouto. Masih banyak gadis lain yang lebih cantik dan baik dibandingkan seorang gadis yang kehilangan ingatan seperti dirinya, tapi kenapa pemuda itu memilih dirinya?
Apakah ini karena cinta? Sehebat itukah dirinya hingga membuat seorang pemuda seperti Todoroki Shouto sampai jatuh cinta padanya? Entahlah, Izuku tidak merasa bahwa dirinya sehebat itu. Dilihat dari mana pun Izuku tahu bahwa dirinya bukan gadis sehebat itu.
Menghela napas, Izuku memutuskan untuk mengesampingkannya dulu. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu masih bisa ia ajukan nanti, tapi yang jelas sekarang ia sedikit penasaran dengan kafe yang disinggung-singgung Paman Enji. Kalau tidak salah, pria itu bilang kafe itu ada di lantai dasar dan Shouto sendiri memberitahukan akses menuju ke sana. Mungkin tidak ada salahnya bila ia berkunjung ke kafe seperti yang dikatakan pemuda itu. Siapa tahu ada sedikit ingatan yang kembali bila ia duduk di sana.
Mengangguk mantap, gadis itu pun bangkit berdiri dan meninggalkan sofa yang ia tempati. Membuka pintu ia berjalan menuju ke koridor dan menghampiri lift. Begitu lift terbuka ia pun segera masuk ke dalamnya dan menekan tombol untuk menuju ke lantai dasar. Pintu menutup dan Izuku menunggu beberapa saat hingga pintu kembali terbuka. Ketika ia telah tiba di bawah, ia pun berbelok ke kiri seperti yang disarankan Shouto dan baru berhenti saat matanya menemukan kafe kecil bernuansa industrial dengan atap terbuka.
Tersenyum senang, Izuku pun mendekat pada kafe dan menghampiri para pegawainya. Ia diterima dengan baik di sana dan diizinkan untuk mencoba membuat kopi. Salah satu staff di sana menunjukkan bagaimana caranya sementara ia mengikuti contoh yang diberikan.
Entah bagaimana, rasanya ia tahu cara menjalankan mesinnya. Ia juga tahu bagaimana menakar takaran air yang pas dan suhu saat membuat kopi. Mungkin Paman Enji benar, tubuhnya mengingat saat dirinya sendiri melupakan fakta bahwa dulu ia pernah mengelola sebuah kafe. Mungkin dengan bekerja di sini ia akan mendapatkan ingatannya kembali.
Hm, sepertinya tak ada salahnya mencoba.
Suara ban menggesek permukaan beton membuat Katsuki membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum memandang sekeliling. Di sampingnya, rekan kerja sekaligus bawahannya sudah menurunkan persneling dan memutar kunci mobil. Melihatnya, ia pun mengangkat kedua tangan untuk merenggangkan tubuh seraya berkata, "Kita sudah sampai?"
"Begitulah," jawab pemuda bergigi hiu dan berambut merah itu sembari mengeluarkan buku catatan yang ia simpan di dashboard mobil. Dimasukkannya buku itu beserta sebuah pulpen ke dalam saku jasnya sebelum ia membuka pintu mobil. "Cepat turun! Sudah hampir jam sepuluh. Meetingnya akan dimulai pukul sepuluh."
Mengerjapkan manik merahnya sekali, Katsuki pun menguap. Ia melepaskan sabuk pengaman yang melintang di tubuhnya sebelum beranjak membuka pintu. Ketika ia sudah berada di luar, ia menatap kolom dan permukaan beton dengan pencahayaan temaram di sekelilingnya sambil berkata, "Ini gedung parkirnya?"
"Ya," Kirishima menjawab sambil berjalan lebih dulu diikuti dengan sang atasan. Mereka menuju ruangan yang dibatasi dengan pintu kaca dan dilapisi keramik yang berada tak jauh dari tempat mobil diparkir. Kirishima mendorong pintunya baru setelahnya ia menekan tombol untuk memanggil lift. "Parkirannya ada dua belas lantai, kapasitas per lantai kira-kira seratus mobil. Dari parkiran ke kantor dihubungkan dengan jembatan di lantai dua puluh satu sampai dua puluh tujuh."
Katsuki hanya bergumam sembari mendengarkan penjelasan sang bawahan. Pandangan matanya tertuju pada tulisan P7 yang tertera di samping lift sementara mereka menunggu. Begitu pintu lift terbuka, keduanya langsung masuk ke dalam sementara Kirishima menekan tombol bertuliskan angka 21.
"Jembatannya menghubungkan dua gedung dan berada di atas jalan raya." Kirishima kembali melanjutkan sementara lift membawa mereka naik. Begitu tiba di lantai dua puluh satu, pintu lift terbuka sementara ia kembali memimpin jalan. Mereka melangkah menuju ruangan bersinarkan cahaya mentari dan dilapisi kaca di kiri dan kanan. "Bagaimana? Pemandangannya bagus 'kan?"
"Ada berapa lantai di sini?" Katsuki kembali bertanya sementara mereka berhenti sejenak dan memandangi jalanan di bawah. "Lantai berapa yang kita tempati sementara?"
"Lantai dua puluh satu dari lima puluh lantai," jawab Kirishima yang ikut berhenti di samping Katsuki dan menyandarkan tubuhnya pada pegangan. Matanya turut tertuju ke jalan dan ia berkata, "Kudengar kacanya sangat tebal dan dibuat khusus untuk menahan peluru dan ledakan. Sengaja dirancang demikian untuk mencegah tindakan bunuh diri ataupun serangan terroris."
"Kedengarannya seperti sarang mafia," jawab Katsuki sembari melangkah mundur dari handrail dan mulai berjalan. "Siapa pemilik gedungnya?"
"Ah itu…"
Ucapan Kirishima terpotong ketika mendengar suara bass yang memanggil namanya. Pemuda itu pun memalingkan wajah dan menatap pada sumber suara. Kedua maniknya melebar ketika menyadari siapa yang memanggil namanya.
"A-A-Aizawa-san," ucap Kirishima ketika melihat pria dengan rambut panjang yang dikuncir ke belakang berjalan mendekat. "K-kenapa… Ah! Aku tidak sempat mengabarinya bahwa kita yang akan menggantikannya meeting."
"Salahmu sendiri."
Menggumam pelan, pria yang dipanggil Aizawa berhenti tepat di hadapan keduanya. Pandangan matanya tertuju lebih dulu pada pemuda yang mengenakan setelan jas merah marun yang tampak acuh. Tanpa membahas soal kehadiran mereka di tempat itu, Aizawa berkata, "Kau sudah sehat, Bakugou? Kudengar kau sedang menjalani pengobatan dengan psikiater."
"Bukan berarti aku tidak bisa bekerja karenanya," jawab Katsuki santai dan kembali melangkah mendahului rekannya yang lain. Ia tiba lebih dulu di ujung jembatan dan disambut dengan pintu kaca yang bergeser terbuka dengan sendirinya.
"Kuharap kondisimu tidak berpengaruh terhadap prestasi kerjamu," balas Aizawa yang berjalan di belakang Kirishima. "Aku tidak mau lagi mengabulkan unpaid leave darimu."
"Jangan khawatir," jawab Katsuki dengan kedua tangan di saku celananya, "lain kali aku akan langsung mengundurkan diri."
"Senang mendengarnya," balas Aizawa santai.
Mendengar pembicaraan sengit antar kedua atasannya, Kirishima hanya bisa tersenyum pasrah. Mereka bertiga berjalan dengan hening di koridor hingga tiba di hadapan dinding partisi bertuliskan 'UA Manufacture Company'. Mengeluarkan kunci dari saku jasnya, Kirishima mendekat pada pintu dan membukanya dengan bunyi klik pelan.
Ruangan di hadapan mereka masih berantakan dan berdebu. Diterangi dengan pencahayaan yang apa adanya, Katsuki melangkah dan mengamati sekelilingnya. Ruangannya terlihat luas walaupun banyak besi melintang dan gundukan semen.
"Baru ini yang mereka lakukan?" Katsuki bertanya sementara ia berjalan semakin ke tengah. "Lamban sekali."
"Jangan samakan konsep konstruksimu dengan kontraktor pada umumnya, Bakugou!" Kirishima menjawab sementara ia membuka buku catatannya. Ia mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa gambar sebagai data. "Kontraktor yang kita pakai hanya kontraktor biasa dan bukannya jin seperti Raja Solomon."
Mendecak sebal, Katsuki melangkah semakin dalam. Ia mengamati partisi dinding yang sudah mulai terbentuk di lokasi sementara manik merahnya memicing. Menghela napas, pemuda itu pun kembali mendekat pada dua rekan kerjanya dan berkata, "Ruangannya lebih sempit dibanding yang sekarang."
"Apa yang kau harapkan?" Kirishima berbisik pelan di sampingnya. "Harga sewa di sini mahalnya luar biasa."
"Dan kenapa kita harus mengambil tempat di sini?" balas Katsuki sembari menatap bosan pada para pekerja yang tengah mengaduk semen dan meratakan lantai. "Kenapa tidak menyewa di tempat lain saja?"
"Soalnya—"
Perkataan Kirishima kembali dipotong oleh pria yang sedari tadi hanya mendengarkan ucapan mereka. Menjawab pertanyaan Katsuki, pria itu berkata, "Karena di sini langsung di depan stasiun kereta sehingga karyawan yang pulang malam pun tidak perlu khawatir ketinggalan kereta. Apa kau mengerti, Bakugou?"
Sembari menguap Katsuki pun berkata, "Tidak, soalnya aku selalu menggunakan kendaraan pribadi."
"Dengan kondisi seperti itu ada baiknya kau tidak menyetir sendiri, Bakugou," balas Aizawa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku curiga bahwa selanjutnya kau akan mengajukan cuti untuk selamanya bila menyetir dalam keadaan mengantuk seperti itu."
"Tenang saja," jawab Katsuki sambil mengangkat tangannya. "Aku hanya mengantuk pada kondisi tertentu. Misal, saat berbicara dengan orang yang membosankan?"
Kirishima menghela napas mendengar pembicaraan sindir-sindiran antar kedua atasannya ini. Memang setiap kali bertemu hubungan keduanya bagaikan kucing dan anjing, tapi saat bekerja keduanya akan meninggalkan perseteruan mereka sejenak dan bersikap professional. Hanya saja mendengarkan perseteruan mereka hampir setiap hari memang membuat siapapun enggan berada di dekat keduanya.
"Kau tahu, mereka bilang di bawah ada kafe yang menyajikan kopi," ujar Aizawa santai, "mungkin kita bisa melanjutkan meeting di sana dibanding di tempat ini?"
"Oh? Kalau begitu aku akan menghubungi kontraktornya," timpal Kirishima yang langsung mengeluarkan ponsel. "Akan kukatakan pada mereka untuk menyusul ke kafe yang ada di lantai dasar."
"Ya," jawab Aizawa sementara matanya memicing menatap salah satu bawahannya. Ia menatap pemuda berambut pirang itu lama hingga akhirnya pemuda yang dipandanginya membalas tatapannya. Menghela napas ia pun kembali berkata, "Sepertinya pengobatan yang kau lakukan tidak sepenuhnya berhasil, eh, Bakugou?"
Tatapan sinis yang diberikan manik merah delima itu tidak membuat Aizawa ciut. Bahkan sekalipun sang pemilik berkata, "Bukan urusanmu!"
Mengabaikan ucapan sinisnya, Aizawa kembali berkata, "Kurasa memang bukan urusanku."
"Bagus kalau kau tahu," jawab Katsuki yang memilih untuk berjalan lebih dulu dan keluar dari partisi penghubung ruangan kantor dengan koridor umum. Ia berjalan hingga menemukan lift dan menekan tombolnya diikuti oleh kedua rekannya yang lain.
Dalam beberapa detik, pintu lift pun terbuka. Ketiganya langsung melangkah masuk tanpa banyak bertanya. Setelah menekan tombol hingga ke lantai dasar, pintu lift pun tertutup dan membawa mereka turun. Tidak lama kemudian, pintu lift kembali terbuka dan menampilkan ruangan dengan langit-langit yang lebih tinggi dikelilingi dengan dinding kaca yang memantulkan sinar mentari di mana-mana.
Tanpa banyak bertanya, Katsuki berjalan menuju ke satu-satunya kafe yang berada di tengah-tengah pelataran. Di belakangnya, kedua rekannya mengikuti langkahnya dan mendekat pada konter penuh dengan peralatan untuk menyajikan kopi dan kue-kue ringan. Mengikuti Katsuki, keduanya mengantri terlebih dulu di depan konter sembari mengamati menunya.
"Menunya banyak sekali," komentar Kirishima saat melihat papan menu yang berisi nama-nama yang tidak ia ketahui. "Hei Bakugou, kau pesan apa?"
"Americano," jawab pemuda berambut pirang itu. Ia mengucapkannya kembali saat sudah berada di depan kasir dan menyebutkan namanya pada kasir sebelum menoleh balik pada si pemuda bergigi hiu di belakangnya. "Kau sendiri?"
"Aku juga kalau begitu," jawab Kirishima. "Americano-nya dua."
"Dasar follower," balas Katsuki yang mendapat tatapan tidak senang dari rekannya. Ia pun mundur dari kasir dan berjalan menuju ke konter pengambilan. Sesampainya di sana, ia menunggu selama beberapa saat sementara pesanannya dibuat. Sembari menunggu, ia memejamkan matanya sejenak hingga seseorang meletakkan papercup pesanannya dan memanggil namanya.
"Americano untuk Bakugou-san?"
Kedua manik merahnya terbuka dan ia mengerjap selama beberapa saat. Suara itu begitu mirip dengan suara yang ia dengar, namun ia tak mungkin menemukannya di tempat ini. Ia mengangkat kepala dan menatap papercup miliknya di tangan salah seorang barista. Papercup itu diletakkan di depan matanya sementara si barista mengangkat kepala dan membalas tatapannya.
Mulutnya sampai terbuka begitu melihat manik zamrud yang familiar dengan bintik-bintik di wajah. Rambut hijau yang selalu ia sentuh bergerak sedikit saat sang pemilik memiringkan kepalanya. Alis sang barista menukik sementara dahinya berkerut ketika melihatnya.
"Anda Bakugou-san?"
Katsuki tidak dapat menjawab. Ia hanya dapat menatap tidak percaya pada gadis yang ada di hadapannya tanpa menyadari bahwa gadis itu tengah mengajukan pertanyaan. Pandangannya tertuju sepenuhnya pada wajah gadis itu sehingga rekannya yang telah mengajukan pesanan menyenggolnya. Hanya saja saat rekannya mengikuti arah tatapan matanya, reaksinya sama seperti yang Katsuki lakukan ketika bertemu sang barista.
"M-M-Midoriya?"
Mengerjapkan mata, sang barista menoleh pada rekan Katsuki dan menggerakkan kepalanya bingung. "Eh? Bagaimana…"
"Kau tidak mengenalku? Aku-.."
Sebelum Kirishima menjelaskan lebih lanjut, Katsuki lebih dulu menutup mulutnya dan berkata, "Nametag. Namamu tertera di sana."
"O-Oh," ucap si gadis sambil menunduk dan memerhatikan papan nama yang tersemat di bajunya dan bertuliskan 'Hello, I'm Midoriya'. Gadis itu tersenyum sedikit dan berkata, "Maaf, kukira Anda berdua mengenalku."
Kirishima mengerutkan dahi dan menatap Katsuki bingung. Namun yang ditatap tak sekalipun menoleh padanya. Pandangan Katsuki sepenuhnya mengikuti sang barista yang tengah sibuk dengan mesin kopi di hadapannya. Ketika gadis itu kembali meletakkan papercup berisi kopi yang kedua, pandangan mereka kembali bertemu sehingga gadis itu menggerakkan kembali kepalanya dengan bingung.
"Ada apa, Bakugou-san?"
Tidak menjawab, Katsuki memutuskan untuk menurunkan pandangan dan mengambil kopinya. Tanpa banyak bicara, ia langsung menyesap kopi miliknya yang masih panas. Akibatnya ia pun menjauhkan papercup nya sementara seluruh umpatan meluncur dari bibirnya.
Mendengar itu, sang barista pun langsung berjalan keluar dari konter dan menghampiri pemuda yang sebelumnya memesan minuman. Ia mendekat pada pemuda itu dan berkata, "A-Anda baik-baik saja? Maafkan aku, kopinya masih panas."
Ketika sang barista mencoba menyentuhnya, Katsuki secara refleks mengibaskan tangan sehingga gadis itu mundur. Tanpa menatap matanya Katsuki pun berkata, "Tidak. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Tapi…"
"Tidak masalah," jawab Katsuki sekali lagi sambil membawa papercup miliknya. "Kembalilah ke kontermu."
Tanpa menunggu gadis itu bicara, Katsuki buru-buru berjalan menuju kursi terjauh dari konter. Ketika ia sudah cukup jauh, barulah pandangannya tertuju kembali pada gadis itu. Kedua manik merahnya terus mengawasinya hingga tidak menyadari bahwa salah satu rekannya sudah mendekat dan mengambil tempat di dekatnya.
"Bukankah itu Midoriya?" Pemuda berambut merah itu turut mengikuti arah pandang Katsuki dan mengamati gadis berambut hijau yang kini tengah berbicara dengan atasan mereka. "Bagaimana mungkin dia ada di sini? Dan… kenapa dia sepertinya tidak mengenalmu?"
Untuk kesekian kalinya, Katsuki tetap diam. Pandangan matanya terus mengikuti gerak-gerik si gadis sekalipun gadis itu sudah berhenti berbicara dengan atasannya dan kembali sibuk dengan mesin kopi. Ia bahkan tidak menyadari bahwa sang atasan sudah duduk di sampingnya dan meletakkan paper cupnya di samping Americano milik Katsuki. Ia baru menyadarinya ketika sang atasan berkata, "Bagaimana rasa Americano nya?"
"Aizawa-san," ucap Kirishima, "gadis itu…"
"Aku tahu siapa gadis itu," balas Aizawa tenang sambil menyesap café latte miliknya. "Fotonya terpajang selama enam tahun di meja bawahanku. Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya?"
Kirishima terdiam sementara matanya menatap atasan dari atasannya. Ia memicingkan mata dan berkata, "Aizawa-san, jangan-jangan rencana pemindahan kantor sementara ke gedung milik Endeavor Trading Company ini bukan kebetulan? Kau sudah merencanakannya karena memperkirakan akan seperti ini?"
Alis terangkat dan pria berkuncir kuda yang selalu mengantuk itu berkata, "Jangan menuduhku begitu, Kirishima! Aku tidak tahu apa-apa soal ini."
"Tapi ini-"
"Gedung ini," potong Katsuki tiba-tiba, "milik perusahaan Todoroki?"
Kedua rekannya terdiam sejenak sebelum menjawab. Salah satu dari mereka akhirnya berkata, "Memangnya aku belum mengatakannya?"
Katsuki menoleh pada kedua rekannya. Dengan manik memicing tajam ia berkata, "Aku menolak. Aku tidak setuju apabila kantor sementara perusahaan kita berada di perusahaan yang sama dengan orang itu."
"Nah," ujar Aizawa tenang sambil menyesap kopinya, "penolakanmu sudah tak ada artinya. Aku sudah mendapatkan approval dari Nezumi-san."
"Tapi…"
"Lagipula, kurasa ini bagus untukmu." Aizawa kembali melanjutkan ucapannya. Ia menatap bawahannya tajam dan kembali berkata, "Melarikan diri sama sekali tidak cocok untukmu, Bakugou."
"Ini bukan urusanmu," Katsuki berkata dengan tajam. "Persetan dengan persetujuan itu, yang pasti aku menolak dipindahkan ke tempat ini."
Mendengar ancaman dalam nada suara Katsuki, Aizawa malah menunjukkan senyum sinisnya. Ia meletakkan paper cupnya di atas meja dan kembali berkata, "Sejak kapan kau menjadi pengecut seperti ini, Bakugou? Seperti bukan kau saja."
"Ini tidak ada hubungannya dengan—"
"Kau takut menghadapinya?" tanya Aizawa dengan nada menantang. "Akui saja kalau begitu dan jangan banyak alasan! Aku tidak keberatan menyampaikannya pada atasan bahwa kau tidak mau dipindahkan ke tempat ini karena harus melihat mantan pacarmu di depan mata."
Umpatan kembali meluncur dari mulut sang direktur yang ditanggapi dengan senyuman sinis Aizawa. Bahkan pria yang menjadi atasan Katsuki Bakugou itu hanya berkata, "Terserah, Bakugou. Aku tidak masalah bila kau menolak. Akhirnya aku tahu bahwa Katsuki Bakugou itu pengecut yang tidak berani menghadapi mantan pacarnya."
Katsuki bangkit berdiri dan menatap Aizawa seperti hendak menelannya bulat-bulat. Tubuhnya maju sedikit sehingga Kirishima harus menahannya dan memaksanya untuk duduk di kursinya. Namun tindakannya tidak berpengaruh pada pria yang memrovokasinya. Pria itu tetap bergeming dan menyesap minumannya dengan tenang. Pandangan matanya tertuju pada si gadis barista dan ia mengangkat papercupnya sambil melempar senyum pada gadis itu.
Melihat itu, Katsuki pun kembali duduk. Dengan manik merah tertuju pada Aizawa, pemuda itu berkata, "Kenapa kau melakukan ini? Apa tujuanmu?"
"Tujuanku," ucapnya sambil menggerakkan kepala, "tidak ada. Bisa kau lihat bahwa aku tidak punya agenda tersembunyi."
"Omong kosong!"
Aizawa kembali tertawa dan ia berkata, "Jangan dipikirkan! Anggap saja kau sedang menjalani sesi konseling soal menghadapi rasa takut."
"Aku tidak…"
"Percayalah," ucap Aizawa sambil menatap bawahannya tajam, "kau berhadapan dengan ahlinya. Aku sangat piawai soal menghapus ketakutan."
"A.."
"Terutama ketakutan terhadap mantan pacar," tutup Aizawa sambil mengangkat paper cupnya. "Cukup bayar dengan segelas café latte buatan Midoriya setiap harinya."
.
.
.
(t.b.c)
A/N :
Holla All! Finally update, dan belum, ini belum tamat kok :D hari masih banyak walaupun mulai menghitung mundur. Sebelumnya saya memang memutuskan nggak update dulu karena saya pikir lagi dinilai berhubung masuk IFA 2017, terus kepincut sama event menarik dari Shirocchin dan jadi kelarin itu dulu, eh ternyata keterusan sampe hari ini :P
Dan aniway, mau ngucapin terima kasih buat para reader yang uda nominate in ini sebagai best mature mutichapter (I've no idea about this, but I'm really really excited XD ) Sejujurnya nggak nyangka sama sekali karena menurut saya masih banyak kekurangan di karya ini. Terima kasih juga buat para reviewer yang ikut kasih semangat dan kritik. Berkat kalian, saya merasa bisa berjuang untuk membuat karya yang lebih baik dari sebelumnya.
Kemudian untuk :
Fujoshi desu : holla partner XD saia kembali di fandom ini, lol. Hayoo diskusi, tapi sementara saya menerima diskusi di fandom ini yak :P gawat nian kalau sampe saya keseret arus seperti kemaren T_T
Mari berfg an ria lagi ama Abang Iblis Granat dan Dedek Izuku XD
Resya018 : Holla Resya! Makasih uda baca dan kasih kritik buat karya ini. Buat menjawab pertanyaan kamu, awalnya saya memang ambil jalur slow chara develop karena mereka punya 90 hari dan salahnya saya adalah saya kasih harinya deket-deket sehingga kelihatannya nggak ada progress. Makanya Bakugo kelihatannya punya chara yang regret dan guilty. So, mulai sekarang, saia coba perbaiki untuk progress ini, semoga kamu bisa lihat perkembangan chara mereka ke depannya ya XD
Untuk soal hasrat yang kamu bilang, mungkin bener ini nggak realistis, tapi saia pikir manusia mungkin beda-beda. Kalo saia jadi Katsuki yang uda nyakitin orang berkali2 dan dapet kesempatan untuk perbaiki, mungkin saia akan coba untuk nggak ulangin kesalahan yang sama dan bisa jadi nggak kepikiran sama hasrat itu karena sibuk mikirin benerin kesalahan :P *justmyopinionaniway *norightorwrong
Thank you sekali lagi untuk reviewnya dan makasih sangat udah nunjukin apa yang kurang dari saya :D
Hikaru Rikou : Hikacchi holla XD lama tak bersua :P menjawab pertanyaan kamu, Iyah, Izuku bener-bener harus mulai lagi dari awal untuk ngumpulin memorinya. Mari kita doakan semoga ingatannya balik sepenuhnya supaya kebenaran terungkap :P
Miharu348 : Micchan holla :D iya Kacchan kejam, dia bikin Izuku nggak inget dia lagi T_T padahal Dek Izuku uda berjuang buat inget dia sampe sejauh ini. Dan btw, sekarang giliran Abang Dispenser yang jaga Dek Izuku XD *Ciyee Abang!
Arisa-chan : Holla Arisa : ) tenang, ingatan Kacchan baik-baik aja, walaupun dia harus ke psikiater gantinya :P Dan mari kita persilakan Abang Dispenser buat memberikan sepatah dua patah kata buat kemenangannya, silakan Bang!
*ditatap sinis ama Abang *ditinggal *dicuekin (author crying) notice me abangg T_T
Ao-chan : Holla Ao! Setelah di event Tododeku kemaren, akhirnya kita ketemu lagi di sini :P yeah, finally sekarang giliran abang dispenser, dan saia bisa bayangin Ao jingkrak-jingkrak kesenengan XD *pujakerangajaiblagi
Dan selera humor Kacchan ama Kirichan emang sdikit menyimpang dari normal. Moga2 nggak makin absurd karena sekarang ditambah ama Daddyzawa :D
Makasih sekali lagi Ao, dan keep writing juga :D
Akane Rihime : selamat datang Akane XD mari bergabung dan mari fgan bareng di fandom ini :P dan buat bergulir ke rate M, mungkin akan ane pertimbangin :D
OFFICIAL IFA 2018 : makasih sekali lagi buat penghargaannya wahai para panitia XD
Aileen 13 : hola Aileen! Yap, saya masih lanjut kok :D
Byuubee : holla Bee, kamu sangat fleksibel sekali ya :D saia juga fleksibel sekali kok, tapi belum pernah ke fandom Shindeku XD
Dan di sini Kacchan emang sedikit kasar soalnya based chara doi emang kasar 'kan? Tapi… dia bisa berubah kok (moga2)
Makasih semangetnya dan semoga kamu menikmati ceritanya ya XD
Votiel : holla Votiel, salam kenal dan selamat datang XD ini kembali saia lanjutin karena saia takut dsuru pilih antara tali gantungan ato sianida yang kamu bawa. Saia masih sayang nyawa, jadi saya pilih lanjut :P
Lol, iya, obatnya buat hapus memori lagi, kalo di game lama, namanya Water of Lethe (moga gak salah inget), bisa buat hilangin memori buruk, tapi kalo kasus Izuku sih, semua-muanya ilang gegara nyicip obat itu
Dan ehem, iyah, saia juga sangat fleksibel, bisa ke Tododeku atau ke Katsudeku :P dan masih terbuka buat OTP lain seperti Shigadeku atau Shindeku :D semoga makin ke sini uda mulai keliatan arah beloknya Izuku ya :P
Ehem, berhubung saya uda lanjutin, kamu pasti bisa tidur tenang dong? :D
And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!
