On previous chapter :
"Ngomong-ngomong Bakugou-san itu kenalanmu, Izuku?"/
"Ya, dia selalu memesan Americano dan Café Latte hampir setiap hari," ulang Izuku yang kini mulai membayangkan pemuda berambut pirang yang tengah mereka bicarakan. "Tapi dia tidak banyak bicara dan baru tadi dia berbicara panjang lebar denganku. Sepertinya dia orang yang sulit bicara."/
"Oh ya bicara soal kafe, di bawah apartemenku pun akan dibuka kafe. Kau bisa bekerja di sana kalau mau." /
"Menarik, tapi kurasa sebaiknya aku fokus pada kafe di kantormu dulu, Shouto. Masalahnya aku sudah janji pada Bakugou-san untuk membuatkan Americano sebagai ganti yang hari ini."/
"Begitu, rupanya."
Menyadari perubahan nada suara tunangannya, Izuku pun menoleh pada pemuda itu. Kepalanya bergerak sedikit saat ia berkata, "Ng? Ada apa, Shouto?"
Tunangannya menoleh dan menatapnya. Rasa nyeri menusuk daging di telapak tangan Shouto, namun pemuda itu tetap memasang senyum menenangkan di wajah seraya berkata, "Tidak, tidak ada apa-apa, Izuku."
Boku no Hero Academiaby Horikoshi Kóhei
90 daysby cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
I'm not taking any profit for this ff : )
Enjoy!
Chapter 15: Insecurity Feeling
Day 45
Tokyo, Froid Chaud Mansion
Bunyi nyaring yang terdengar dari televisi berhasil membangunkan seorang pemuda yang tengah terlelap di mejanya. Awalnya ia bermaksud mengabaikannya namun menyadari ketidaknyamanan di leher dan bahu ia pun mengangkat kepala. Pandangannya langsung tertuju pada layar berwarna dan dengan segera menyadari darimana sumber kebisingan itu berasal.
Tanpa banyak bicara, pemuda itu mengambil remote dan mematikan televisi. Begitu layar berwarna itu berubah menjadi hitam barulah si pemilik rambut dwiwarna itu meletakkan remote. Menghela napas, pemuda itu meletakkan satu tangannya di atas helaian rambutnya sementara kedua matanya menyesuaikan diri dengan sekeliling.
Menghadapi meja yang terbuat dari kayu dengan beberapa dokumen berserakan, pemuda dengan rambut dwiwarna itu menyadari di mana dirinya berada. Ia pun mengacak-acak rambutnya sebelum bangkit berdiri dari kursi yang ia tempati dan berjalan menuju ke pintu keluar. Untuk sesaat keheningan menyapanya sebelum ia menghentikan langkah dan menatap dinding.
Alisnya terangkat ketika melihat jarum pendek pada jam berhenti di angka dua sementara yang satunya berhenti di angka enam. Rupanya malam sudah larut, tak heran ruang tamunya begitu sepi. Izuku pasti sudah tidur. Tanpa banyak berpikir, Shouto pun melewati ruang tamu dan melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Apartemen miliknya terdiri atas dua lantai dan kamarnya berada di lantai dua. Ketika ia tiba di depan pintu kamarnya, tangannya meraih pegangan pintu sebelum masuk ke dalam.
Matanya menyesuaikan diri terlebih dulu dengan cahaya di dalam. Diterangi lampu tidur di samping meja, kedua manik heterochromenya menangkap sosok mungil yang bergelung di dalam balutan selimut. Sosok itu terlelap begitu nyaman di atas bantal hingga membuat Shouto terpaksa mengendap-endap memutari ranjang agar tidak membangunkan gadis itu.
Begitu ia berada di samping ranjang, tangannya menyentuh pipi berbintik-bintik sosok itu. Ketika ia melakukannya, sosok itu menggeliat dalam tidur dan bergumam, namun tak ada tanda-tanda bahwa ia akan segera bangun. Mengetahui hal itu, Shouto menyelipkan jemari di atas rambut hijaunya dan mengusapnya pelan. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia memandangi sosok itu.
"Izuku," panggilnya pelan. Kedua matanya menatap lembut gadis yang tengah terlelap itu, menyentuh dengan hati-hati tangannya yang masih diperban. Sebuah cincin tersemat di jari manis gadis itu dan membuatnya menyentuhkan bibirnya pada jari manis si gadis. Tatkala ia melakukannya, gumaman kecil meluncur dari bibir gadis itu dan membuatnya kedua alisnya bertaut.
"Hot… Americano…"
Shouto menggeleng kecil mendengar gadis itu menyebut salah satu menu di kafe yang ia kelola. Berhati-hati ia kembali meletakkan tangan gadis itu di samping ranjang dan merapikan selimutnya. Gadis itu kembali bergumam sementara Shouto menyentuhkan tangan dan mengusap rambutnya. Sembari membiarkan pikirannya berkelana, kedua manik heteronya memandangi gadis itu dalam diam.
Gadis itu ada di dekatnya, berada di sampingnya ketika ia membuka mata atau pun memejamkan mata. Ia kira dengan demikian semuanya sudah berakhir dan ia sudah menang. Tapi gadis itu membuktikan padanya bahwa kedekatannya tak berarti apa-apa. Gadis itu bisa direbut begitu saja dari tangannya, terlebih ketika ia menyadari bagaimana cara gadis itu membicarakan mantan tunangannya.
Senyum dan antusiasme itu tidak pernah Shouto lihat saat mereka bersama. Gadis itu tidak membicarakan seperti caranya membicarakan pemuda itu. Tentu gadis itu tidak menyadarinya, tapi tetap saja Shouto tidak suka.
Ia tahu dirinya yang merusak hubungan keduanya. Ia tahu bahwa dirinyalah yang membuat gadis itu meninggalkan mantan tunangannya dan membuat sang tunangan tidak terima. Ia tahu bahwa ia sudah menang. Ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya sementara Bakugou Katsuki harus menyerah. Tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa takut. Takut bahwa suatu saat semua ini akan berakhir dan ia akan kembali menempati posisi sebagai orang ketiga.
Dan hal itu tidak lebih baik ketika melihat Bakugou Katsuki.
Saat manik merah pemuda itu bertemu dengannya, ia sadar bahwa pemuda itu menyalahkannya, menuduhnya karena telah merebut gadis yang paling berarti baginya. Ia pun hanya dapat menatap pria itu dengan kegetiran dan kekhawatiran bahwa pemuda itu akan merebut miliknya. Setelah semua yang ia lakukan untuk mendapatkan gadis itu.
Tapi di luar dugaan, pemuda itu malah meninggalkannya. Pemuda itu tidak mengatakan apa pun padanya dan memilih untuk berlalu. Dari cerita yang ia dengar pun pemuda itu tidak mengucapkan apa pun pada Izuku. Pemuda itu sepertinya sudah menyadari di mana tempatnya dan memilih untuk mengundurkan diri dari pertandingan. Atau setidaknya ia harap begitu.
Paling tidak, sampai ingatan gadis itu kembali dan menetapkan pemenang yang sebenarnya.
Day 46,
Tokyo, UA Manufacture Company
Suara langkah sepatu di atas lantai parket membuat beberapa karyawan mengangkat kepala dari kubikal mereka. Mereka mengenali langkah sepatu itu dan dengan sengaja berhenti dari pekerjaan. Dalam hati mereka bertanya-tanya pertunjukkan apalagi yang dapat mereka saksikan di antara kedua petinggi yang seringkali beradu pendapat itu.
"Oi, Bakugou!" ujar si petinggi yang baru datang dengan suara pelan. Suaranya membuat salah satu karyawan berinisiatif mengecilkan volume radio agar karyawan lain dapat mendengar pembicaraan dengan lebih jelas. "Ini sudah hampir seminggu. Di mana café latte-ku hari ini?"
Mendengar nada bicara si petinggi, para karyawan menahan napas. Mereka harap-harap cemas akan jawaban dari petinggi yang satunya lagi – direktur operasional yang tidak sabaran dan punya masalah dalam hal mengontrol emosi. Belum lagi ditambah fakta bahwa saat ini si asisten bergigi hiu yang mungkin melerai keduanya sedang mengajukan cuti panjang.
"Apa perlu kuingatkan bahwa aku bukan office boy, Bakazawa!" Suara tajam dan sinis dari dalam ruangan membuat hawa AC terasa lebih dingin dibanding sebelumnya. "Kalau kau ingin Café Latte, silakan pergi dan beli sendiri atau minta pada office boy untuk membelikannya!"
"Begitukah?" tanya pria yang berdiri di depan pintu ruangan dan menghalangi jalan. "Apakah perlu aku mengirim office boy-ku pada barista manis di Avorende Tower dan mengatakan padanya bahwa salah satu direkturku menaruh hati padanya?"
Suara gebrakan membuat para karyawan yang tengah menguping pembicaraan keduanya bergidik ngeri. Tak lama kemudian terdengar suara menggelegar yang berkata, "Apa maumu, Bakazawa sialan? Aku punya setumpuk pekerjaan untuk dilakukan daripada membuang waktu untuk mengawasi proyek. Kau tahu aku tidak digaji sebagai supervisi lapangan, bukan?"
"Kau sudah lupa apa yang kuajarkan padamu, ya?" Pria berambut panjang yang dipanggil Aizawa itu berkata dengan nada santai seolah tidak menyadari nada intimidasi dari lawan bicaranya. Ia melangkahkan kaki ke dalam ruangan dan menutup pintu kaca di belakangnya, membuat para karyawan yang haus gosip mendesah kecewa karena tidak berhasil mendengar perdebatan dua petinggi paling berpengaruh di perusahaan. "Kubilang untuk tidak melarikan diri minggu lalu dan lihat sekarang apa yang kau lakukan."
Terdengar suara decakan pelan sebelum sang direktur operasional mengalihkan perhatiannya dari komputer. Begitu melihat atasannya sudah menarik kursi dan duduk dengan nyaman di sofa, Katsuki pun berkata, "Apa kau sengaja datang hanya untuk mengatakan ini?"
Gumaman pelan terdengar sementara Aizawa membuka toples dan mengambil salah satu kue yang ada di atas meja. Ia memasukkan kue ke dalam mulutnya sebelum berkata, "Kurang lebih. Alasan pertama sepertinya aku kecanduan café latte di sana, dan untuk suatu asalan aku tidak suka bawahanku melarikan diri dari masalah."
"Kalau begitu pergilah sendiri," jawab Katsuki sebal dan kembali berurusan pada layar komputernya. "Pekerjaanku masih banyak."
Alis terangkat dan sang direktur yang sebelumnya tengah berleha-leha pada sofa pun bangkit berdiri. Ia merapikan jas nya dan berkata, "Yah, baiklah. Biar aku saja yang menemuinya kalau begitu. Siapa tahu aku bisa sekalian mendapatkan nomor teleponnya."
Mendengar itu gebrakan pun kembali terdengar dan fokus sang direktur pun kembali beralih. Pekerjaannya yang menumpuk pun tak diacuhkannya dan erangan putus asa meluncur dari bibir sang direktur. "Apa maumu, sialan?"
"Aku ingin satu Café Latte sebelum makan siang," jawab Aizawa sambil mendekat pada meja kerja sang direktur. "Apa perkataanku masih tidak jelas, Bakugou?"
"Tangannya baru saja terkena air panas beberapa hari yang lalu," jawab Katsuki sambil mengacak rambutnya sedikit. "Apa kau berharap aku datang tanpa tahu diri dan memintanya membuatkan Café Latte milikmu?"
Manik kelabu sang atasan berputar dan ia berkata, "Dari yang kudengar, gadis itu tetap bekerja di kafenya seperti biasa. Ia tidak mengambil cuti atau apapun selama tangannya terluka."
Memicingkan mata, Katsuki pun berkata, "Bagaimana kau tahu?"
Bahu diangkat, sang atasan tidak memberikannya informasi lebih dari sekedar senyuman sinis di wajah. Melihatnya malah membuat Katsuki semakin jengkel dan atasannya tidak membuat situasi lebih baik dengan berkata, "Hanya kau seorang yang tidak tahu, kurasa."
Menghela napas, Katsuki pun meletakkan kedua tangannya di kepala. Salah besar bila atasannya mengira bahwa ia ingin melarikan diri dan sebagainya, hal itu tidak ada dalam kamusnya sama sekali. Malah sebaliknya, ia sangat ingin bertemu, setiap bagian dalam dirinya terus membayangkan gadis itu dan terus membayangkan suara serta senyumannya. Hanya ia menahan diri.
Tidak mudah baginya untuk dapat bertemu tanpa menunjukkan perasaannya, namun itulah yang ia lakukan. Kesedihannya tidak membuat gadis itu tersenyum, justru gadis itu malah ikut merasa sedih saat bersamanya. Gadis itu lebih banyak menangis saat bersamanya, padahal ia tidak bermaksud menyakitinya. Kedua tangannya lebih banyak mengukir airmata pada gadis itu dibandingkan tawa.
Karena itulah ia membatasi dirinya. Karena itulah ia mencoba bercakap sesedikit mungkin dengan gadis itu dan mencoba untuk tidak menarik perhatiannya. Dengan demikian ia berharap bahwa ia tidak akan melukai gadis itu lagi. Tapi semua percuma, pengendalian dirinya selalu kalah bila berhadapan dengan Midoriya Izuku. Berulang kali ia mencoba menjauh, berulang kali pula ia menemukan dirinya terus mencari gadis itu. Terlebih ketika atasannya kembali memanasinya dengan berkata, "Oh, salah satu kontraktorku bilang belakangan ini gadis itu selalu melamun memandangi pintu depan."
"Lalu?" tanya Katsuki, berusaha untuk terdengar tidak tertarik. 'Pintu depan? Apakah ada sesuatu yang menarik di sana?'
"Mereka bilang ia mencari-cari seseorang," ucap Aizawa dengan nadanya yang menyebalkan, "menurutmu siapa gerangan yang ia cari?"
"Entah," jawab Katsuki sembari mengangkat bahu, "Mungkin mencari tunangannya."
"Konyol," ujar Aizawa sambil tertawa. "Kalau ia mencari tunangannya, ia hanya perlu menghubunginya, tidak perlu mengamati pintu depan seolah menanti seseorang begitu."
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" balas Katsuki lagi. Ia ingin berharap bahwa gadis itu menunggunya, tapi ia tahu itu tidak mungkin. Gadis itu sudah punya tunangan dan mereka akan segera menikah. Lagipula, gadis itu mungkin tidak ingat dengan seseorang yang bernama Bakugou Katsuki. "Mau menunggu apa atau siapa, itu bukan urusanku."
Mendengarnya, atasan Katsuki mengerjapkan mata dan berkata, "Kau itu bebal atau bagaimana? Begitu saja kau tidak bisa menebaknya?"
"Hah?"
Mendecak kesal, Aizawa hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata, "Terserahlah! Yang jelas, aku mau Café Latteku di meja sebelum makan siang."
"Sudah kukatakan aku tidak berencana—"
"Dan kalau itu tidak ada di mejaku siang ini," ancam sang atasan sebelum meraih pegangan pintu kaca, "siap-siap saja untuk mengucapkan selamat tinggal pada ruanganmu."
Tokyo, Avorende Tower
"Gedung ini terbagi menjadi gedung parkir dan gedung perkantoran," ujar karyawan Izuku yang hobi mengenakan segala sesuatu yang berbau merah muda hingga ia mendapat julukan 'Pinky Alien'. "Kau pasti tahu bahwa lebih cepat menaiki lift dari gedung parkir dibanding dari lobby."
"Karena lantainya banyak?"
"Itu salah satunya." Karyawannya berkata sambil mengelap gelas yang bertuliskan lambang kafe mereka. "Walaupun liftnya sudah terbagi dalam dua zona tinggi dan rendah, tetap saja memerlukan waktu yang lama untuk sampai pada lantai tertentu bila berangkat dari lantai dasar. Makanya biasanya karyawan yang sudah memiliki akses lebih memilih langsung dari gedung parkir."
Izuku menganggukkan kepala, cukup mengerti penjelasan yang dikatakan oleh karyawannya. Hanya saja penjelasan itu tetap tidak mengenyahkan perasaan aneh di dalam dirinya. Ia justru kembali termenung sembari menatap pintu depan dalam diam.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya, Izuku-san?" Karyawannya kembali berkata sambil menaruh gelas di tempatnya. Ia mendekat sedikit pada atasan sekaligus pemilik kafe tersebut dan berkata, "Tidak biasanya kau menaruh perhatian pada orang yang turun di lobby."
Sedikit terkejut, Izuku memilih untuk menggelengkan kepala. Senyuman manis muncul di wajahnya saat ia berkata, "Tidak ada apa-apa, Mina. Aku hanya sedikit penasaran."
Alis terangkat sementara karyawannya memutar manik hitamnya. Sudah hampir seminggu, atasannya itu duduk di konter dan memandangi pintu lobby memerhatikan satu persatu pengunjung yang datang. Terkadang, atasannya itu akan bangkit dari tempat duduknya dan membelalakan manik zamrudnya. Namun manik tersebut kembali redup dan sang atasan pun kembali duduk dengan tenang. Bahkan orang bodoh sekalipun tahu bahwa ia sedang menunggu seseorang selama seminggu ini dan dengan sengaja karyawannya berkata, "Ngomong-ngomong Izuku-san, hampir seminggu ini aku tidak melihat pemuda ganteng berambut pirang yang biasa memesan Americano."
"Ng?"
"Itu lho," ujar Mina sambil mengedipkan mata, "pemuda baik hati yang membantu memberikan pertolongan pertama saat tanganmu tersiram air panas."
Mengerjapkan mata, manik hijau gadis itu pun melebar. Sembari mengalihkan perhatian, gadis itu kembali berkata, "Ah, iya."
"Ke mana dia gerangan?" Mina kembali berkata sementara manik hitamnya turut menjelajah pintu depan, memandangi satu persatu eksekutif yang lewat. "Setelah setiap hari menunjukkan diri, tahu-tahu sekarang ia menghilang. Benar-benar misterius."
Dengan suara yang hampir serupa gumaman, Izuku kembali berkata, "Mungkin dia sibuk."
Mina mengangkat bahu dan ia berkata, "Yah, aku tidak mengerti sesibuk apa orang itu. Tapi aneh ketika tiba-tiba ia menghilang setelah tanganmu tersiram air panas. Aneh sekali."
Memang, Izuku pun berpikir bahwa itu aneh. Sebelumnya pemuda itu akan datang hampir setiap hari dan mengucapkan pesanan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Justru setelah ia sengaja mencampurkan bahan lain, setelah ia tersiram air panas dan setelah mereka bertukar beberapa kata, pemuda itu justru berhenti datang. Padahal ia kira mereka bisa lebih akrab setelah ini.
Aneh. Pelanggannya juga banyak yang bersikap seperti Bakugou-san. Mereka semua sama-sama tidak mengucapkan apapun selain menu untuk dipilih dan tidak mengindahkan senyuman yang biasanya ia berikan saat melayani customer. Tapi ia tidak memikirkan mereka seperti ia memikirkan pemuda berambut pirang itu. Ia menganggap mereka seperti customer dan ia justru tidak mengerti mengapa Bakugou-san terlihat berbeda dibanding mereka.
Ia ingin berbicara lebih banyak pada pemuda itu dan ia ingin pemuda itu mengucapkan lebih dari sekedar pesanan padanya. Obrolan ringan seperti menanyakan kabar atau apa pun juga tidak masalah asal bukan diabaikan seperti ini. Tapi sepertinya ia berharap terlalu banyak. Pemuda itu mungkin hanya menganggapnya sebagai angin lalu dan tidak memikirkannya seperti ia memikirkan pemuda itu.
Menghela napas, Izuku pun hendak berbalik dan berjalan menuju ke mesin kopi. Sesekali ia memang akan bertukar dengan karyawannya sebagai kasir yang mencatat pesanan pelanggan namun di saat tak ada pelanggan, ia lebih suka duduk di dekat mesin kopi. Baginya aroma yang dihasilkan biji kopi sangat menenangkan dan dapat membuat perasaannya lebih baik.
Saat ia sedang duduk diam di samping mesin kopi, seseorang berdehem pelan untuk meminta perhatiannya. Terkejut, Izuku baru menyadari bahwa Mina tidak ada di tempatnya berhubung gadis itu sedang pergi membuang ampas kopi dan meninggalkannya sendirian di sana. Tak punya pilihan, ia pun bergegas menghampiri konter kasir dan menyunggingkan senyum terbaiknya untuk menyapa pelanggan.
Manik hijaunya menemukan pemuda berambut kelabu pucat dengan manik merah tengah menatap buku menu yang diletakkan di konter. Rambut ikal kelabunya ditutupi oleh hoodie sementara tangannya menelusuri satu persatu menu yang tertera di sana. Izuku baru saja hendak bertanya ketika pemuda itu tiba-tiba mengangkat kepala.
"Halo," sapa pemuda itu ketika melihatnya. Senyumnya membuat Izuku terdiam sejenak sebelum pria itu melanjutkan, "Menu apa yang kau rekomendasikan, Midoriya-san?"
Sekali lagi Izuku tertegun ketika mendengar pemuda itu memanggil namanya. Ia menyadari bahwa pemuda itu mungkin mengenalinya dari nametag yang ia kenakan sehingga ia mengabaikan sensasi familiar aneh saat mendengar suara pemuda itu. Senyumnya kembali tersungging dan ia kembali berkata, "Menu rekomendasi kami Seasalt Caramel, Tuan …?"
"Kalau begitu aku pesan itu saja," jawab pemuda yang tidak menyadari pertanyaannya. Saat kepalanya terangkat, Izuku bisa melihat salah satu anting dengan bandul berbentuk tangan di salah satu telinga pemuda itu. Namun ia tak menanyakannya karena pemuda itu kembali bertanya, "Berapa?"
"Sebentar," ujarnya sambil mengetikkan beberapa kode di mesin. Ia tidak menyadari manik merah yang menatapnya penuh perhatian hingga ia mengangkat ke;pala dan berkata, "Seasalt Caramel, semuanya lima dolar, Tuan…?"
Senyum kembali terkembang, namun pemuda itu tidak juga mengucapkan nama dan hanya menyerahkan kartu kreditnya. Izuku pun tak punya pilihan lain selain memroses pembayaran dan memberikan kembali kartu kredit pemuda itu. Ia juga langsung membuatkan pesanan si pemuda tanpa menyadari bahwa pemuda itu tengah memandanginya.
Ia bekerja dalam diam, mengambil papercup, mengisi dengan kopi dan menambahkan seasalt beserta caramel di atasnya. Baru saja ia hendak menyerahkan pesanan, karyawannya keluar dari dapur belakang sembari membawa bungkus kopi baru. Ia meminta maaf sebentar pada Izuku sebelum mengalihkan pandangan pada pemuda berambut kelabu yang menanti di konter pengambilan.
"Maaf," karyawannya berkata dengan nada tidak yakin dan alis bertaut, "apakah Anda Shigaraki-san?"
Mengangkat kepala, pemuda bermanik merah dan berambut kelabu itu tersenyum pada si karyawan. "Kukira takkan ada yang mengenaliku di sini."
Manik membelalak lebar, Mina pun buru-buru menutup mulut untuk menghentikan teriakan yang nyaris meluncur dari tenggorokannya. Ia menatap pemuda berambut kelabu sekali lagi sebelum menghampirinya dengan antusias. Sikapnya jelas membuat Izuku mengerutkan dahi sehingga ia berbisik di dekat si gadis dan bertanya, "Siapa dia?"
Pertanyaan Izuku membuatnya ditatap bagaikan makhluk dari planet lain. Dengan dahi berkerut, Mina menarik lengan kemeja putih yang ia kenakan dan berbisik pelan, "Astaga, Izuku-san! Dia aktor besar, Shigaraki Tomura. Kau tidak tahu?"
Izuku menatap karyawannya bingung dan menggelengkan kepala. "Apa dia terkenal?"
Kali ini karyawannya menatapnya bingung. Sembari mengerutkan dahi tidak percaya, karyawannya pun berkata, "Apa dia terkenal? Astaga, Izuku-san! Setiap hari media membicarakannya dan mereka mengatakan bahwa Shigaraki adalah aktor legendaris yang dpaat disandingkan dengan Toshinari Yagi. Jangan bilang kau tidak tahu siapa Toshinari Yagi juga?"
Gelengan Izuku membuat Mina menjerit dalam hati. Melihat karyawannya begitu kecewa saat ia tidak mengenali pemuda yang baru datang membuat Izuku merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal. Ia pun menghampiri kembali pemuda tadi dan berkata, "Maaf, aku tidak mengenali Anda, Shigaraki-san."
Mengangkat alis, pemuda yang mengenakan hoodie di kepalanya itu menatapnya sedikit sebelum berkata, "Bukan masalah besar, Midoriya-san. Media terlalu membesar-besarkan, aku bukan aktor sebesar itu bila orang sepertimu saja tidak tahu tentangku."
Telinga Izuku sedikit memanas mendengarnya, ia pun menundukkan kepalanya dan berkata, "Aku benar-benar minta maaf. Ini pertama kalinya aku melihat Anda."
Senyum tersungging di bibir pemuda itu dan ia berkata, "Tidak, mungkin kau sudah pernah melihatku sebelumnya."
"Eh?"
"Di poster-poster atau pun iklan, maksudku," ujar pemuda itu sembari tersenyum penuh arti. "Mungkin kau hanya tidak menyadarinya."
Izuku menggerakkan kepala sedikit sebelum berkata, "Mung…kin?"
Percakapan mereka langsung diinterupsi ketika Mina ikut serta dalam pembicaraan dan berkata, "Nee, Shigaraki-san, apakah hari ini kau ada syuting di dekat sini?"
Menggelengkan kepala, Shigaraki kembali berkata, "Tidak, justru hari ini aku libur."
"O-oh? Tapi kupikir Anda sedang ada syuting," ujar si karyawan dengan sedikit kecewa. "Apakah tempat tinggal Anda di dekat sini?"
Menggerakkan telunjuknya ke atas, pemuda itu kembali berkata, "Kantor agensiku ada di atas sana." Kemudian ia meletakkan telunjuknya di sekitar bibir dan berujar, "Tapi aku akan menghargai bila kalian tidak membocorkannya ke publik."
Hampir tanpa dipikir, Mina langsung bersumpah takkan mengucapkan apa pun pada setan sekalipun sementara Izuku hanya menatapnya dalam diam. Ia mendengarkan percakapan keduanya dan hanya sesekali menimpali. Ia terbiasa mengajak bicara pelanggan, tapi entah mengapa kali ini ia lebih memilih untuk mendengarkan. Ada sesuatu yang familiar pada diri pemuda itu, namun ia sendiri tak tahu alasannya. Mungkin pemuda adalah segelintir orang yang pernah ditemuinya sebelum ia kehilangan ingatan.
Mereka bercakap-cakap sebentar sebelum pemuda itu berlalu dari konter. Ketika ia pergi, Mina masih terus membicarakannya dan berkata, "Dia tampan sekali 'kan, Izuku-san? Aku tidak menyangka aktor sehebat dia punya kantor agensi di Avorande Tower. Kalau begitu aku akan sering bertemu dengannya."
Izuku hanya tertawa kecil dan membiarkan Mina terus berceloteh tanpa menyadari bahwa ada customer lain yang tengah menanti. Berhubung karyawannya masih sibuk berceloteh, Izuku pun memilih untuk menggantikan posisinya. Ia beranjak ke konter kasir, memberikan senyum terbaiknya dan berkata, "Halo! Ada yang bisa kubantu?"
"Yah," ujar seseorang yang sukses membuat manik hijaunya kembali terbuka dan ia tertegun, "satu Cappucino dan satu Café Latte, kurasa."
Izuku hampir tidak bisa menutup mulutnya ketika melihat pemuda itu berdiri di hadapan konternya. Mengenakan jas abu gelap, kedua manik merah pemuda itu tertuju pada buku menu. Mungkin ia bahkan tidak sadar bahwa Izuku-lah yang melayani pesanannya kali ini. Pemuda itu baru mengangkat kepalanya beberapa saat kemudian dan menatap manik hijaunya dengan penuh tanda tanya.
"A-ah," ujar Izuku yang gelagapan saat melihatnya. Tangannya gemetaran saat ia memasukkan kode pada mesin kasir. Untunglah ia tidak membuat kesalahan yang tak perlu dan kembali berkata, "Semuanya tujuh dolar, Bakugou-san."
Pemuda itu menyerahkan kartu kreditnya tanpa banyak bertanya sementara Izuku menerimanya. Ia menggesekkan kartu pada mesin EDC dan mengetikkan pesanan. Begitu mesin selesai memroses dan ia mengembalikan kartu, pemuda itu pun bergeser ke konter pengambilan tanpa mengucapkan apa pun. Membuat Izuku hanya dapat memandanginya dengan bingung.
Ia terdiam sejenak sebelum membuatkan pesanan pemuda itu. Diraihnya dua papercup dan diletakkannya di dekat mesin kopi. Sembari menunggu kopi mengisi papercup milik pemuda itu, Izuku mengamati dari sudut matanya. Ia memerhatikan pemuda berambut pirang yang tengah menunggu dengan gadget di tangannya. Lagi-lagi pemuda itu terlihat sibuk seperti biasa.
Mendesah kecewa, Izuku kembali berkutat dengan mesin kopi dan menyelesaikan pesanan. Dikiranya, pemuda itu akan bertukar beberapa patah kata setelah insiden kemarin, namun pemuda itu sepertinya sudah lupa. Mungkin hanya dirinya yang menganggap spesial janji mereka sementara bagi pemuda itu, janji mereka bukanlah hal yang penting.
Entah mengapa hal itu membuatnya nyeri dan ia harus mengerjapkan sedikit matanya agar airmata tidak mengalir turun. Ini konyol! Ia sudah dewasa. Ia tentunya tahu bahwa bagi orang sibuk seperti Bakugou-san, janji yang mereka buat tidak berarti apa-apa. Ada banyak hal yang lebih menyita perhatiannya dibandingkan janji dengan seorang barista di sebuah kafe. Kenapa ia malah berpikir bahwa janji mereka spesial dan mengharapkan agar pemuda itu berbicara lebih dengannya? Dasar bodoh!
"Satu Cappucino dan satu Café Latte," ujarnya datar dan meletakkan papercup di hadapan pemuda berambut pirang.
Suaranya membuat karyawannya berhenti berceloteh dan menatap pemuda berambut pirang yang ada di hadapannya. Manik hitamnya turut membelalak lebar dan dengan tergesa-gesa, ia menarik lengan baju sang atasan. Ia tidak peduli dengan tatapan customer lain dan malah berbisik, "Izuku-san, itu Bakugou-san!"
Izuku menggerakkan kepalanya dan mengangguk. "Ya."
"Bukannya selama ini kau mencari-carinya?" Mina berkata sambil menunjuk pemuda pirang yang tengah menyesap kopi panas dari papercupnya. "Sekarang ia ada di hadapanmu, kenapa kalian tidak bicara?"
Dibanding menjawab, Izuku justru terdiam dan memilih untuk memainkan kode-kode di mesin kasir. Ia kembali tersenyum pada customer namun ia tidak menanggapi pertanyaan Mina. Melihatnya, si karyawan hanya bisa mengerutkan dahi bingung. Ia tidak mengerti mengapa atasannya terdengar tidak tertarik sekarang? Bukankah pemuda itu adalah pemuda yang ditunggu-tunggu sang atasan? Kenapa sekarang Izuku-san malah menyibukkan dirinya dan melayani customer lain? Mina tidak mengerti.
Ia ingin bertanya, namun sebelum ia melanjutkan interograsinya, pemuda berambut pirang itu memanggilnya dan membuatnya menoleh. Walaupun pandangan pemuda itu tertuju pada atasannya, pemuda itu berkata, "Apa tangan barista kalian sudah sembuh?"
"A-eh," si karyawan gelagapan mendengar pertanyaannya. Ia menatap Izuku-san yang sedang menyapa pelanggan lain sebelum berkata, "Aku tidak tahu, bagaimana kalau kau tanyakan langsung?"
Pemuda itu memicingkan mata sebelum menggumamkan decakan pelan. Melihat pemuda itu akan segera berlalu, si karyawan pun menarik atasannya, tidak peduli bila pelanggan setelahnya marah-marah karena pesanannya tidak ditanggapi. Mengabaikan protes dari Izuku-san, karyawannya berkata, "Bakugou-san bertanya apa tanganmu masih sakit. Aku tidak tahu jawabannya, tapi mungkin Izuku-san bisa menjawab."
"H-hah?"
Tanpa memberikan Izuku kesempatan untuk protes, Mina langsung berlari ke konter kasir dan menggantikan tempatnya. Ia kembali meladeni pelanggan sementara dari sudut matanya ia memerhatikan dua orang yang kini berhadapan. Salah satunya berdiri sambil memegangi tangan yang diperban sementara yang satunya menatap dalam diam.
"Tanganmu sudah lebih baik?"
Izuku menundukkan kepala mendengar pertanyaan itu sebelum mengangguk.
"Baguslah," ujar Katsuki pelan. Ia baru saja hendak berlalu ketika tiba-tiba ia berkata, "Ngomong-ngomong, aku akan menagih Americano lain waktu, kuharap kau belum lupa."
Kepala yang semula tertunduk mulai terangkat perlahan-lahan dan Izuku mengerutkan alisnya bingung. Ia menatap manik merah pemuda itu seraya berkata, "Maksudnya?"
Pemuda berambut pirang di sampingnya mengangkat papercup miliknya dan berkata, "Bukankah kau sendiri yang berjanji akan menggantikan pesanan yang salah?"
Izuku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum manik hijaunya membelalak lebar dan ia berkata, "A-ah, ya, aku memang berkata begitu. A-akan segera kubuatkan sekarang."
"Tidak perlu," jawab pemuda itu sambil mengangkat papercupnya, "aku sudah punya satu cappuccino, simpan saja untuk lain kali."
"T-tapi…"
"Sampai ketemu lagi!"
Izuku hendak membantah tapi pemuda itu sudah berlalu pergi. Ia hanya dapat mengerutkan alisnya bingung. Sembari menatap punggung si pemuda berambut pirang, ia pun memegangi tangannya yang diperban dan dalam hati ia berkata, 'Jadi ia mengingatnya. Kukira, ia sudah lupa.'
Satu senggolan di tangannya membuatnya kembali pada kenyataan. Ia menatap karyawannya yang sudah menyunggingkan senyum penuh arti padanya. Di sela-sela senyumannya Mina berkata, "Ia sengaja menggantinya dengan cappuccino hanya untuk memastikan kau menepati janjimu! Dasar pria yang tak bisa ditebak!"
Mengangkat bahu, Izuku hanya berkata, "Ya, tidak biasanya ia memesan cappuccino. Kupikir ia lupa, tapi ternyata ia malah menunda janjinya. Aku tidak mengerti."
Karyawannya meletakkan satu tangan di pinggang dan menatap Izuku lagi. Dengan dahi berkerut ia pun berkata, "Kau bicara apa? Bukankah bagus bila ia menunda janjinya?"
"Apa… maksudnya?"
Mendecak kesal si karyawan berkata, "Dengan kata lain ia ingin berkata, 'sampai jumpa lagi', bukan begitu?"
"Ya, tapi untuk apa?"
Menghela napas, si karyawan kembali berkata, "Bukankah itu artinya ia memang ingin bertemu denganmu? Ia tidak menagih janji itu padaku atau yang lain, ia hanya menagihnya padamu, yang dengan kata lain artinya…"
'Ia ingin bertemu denganku,' batin Izuku sambil menyentuhkan satu tangan di atas tangannya yang tak terluka. 'Benarkah itu?'
"Jeez, Izuku-san," ucap si karyawannya dengan sedikit jengkel. "Kadang aku tidak mengerti mengapa kau terlalu lambat untuk hal-hal seperti itu. Padahal aku saja kegirangan mendengar percakapan kalian, tapi kau tidak bereaksi apapun."
Mendengarnya Izuku hanya menyunggingkan senyum tipis dan kembali mendekat pada karyawannya, membantunya menyetel mesin kopi. "Maaf, aku perlu memikirkannya sebelum memahami maksudnya."
"Padahal kau yang menantikannya tapi ketika kalian bertemu kau malah tidak mengerti maksudnya," ucap Mina sambil menyenggolnya. Gadis itu pun tersenyum menggoda dan berkata, "Ngomong-ngomong, ia tidak mengucapkan apa pun selain itu? Janji bertemu lain kali dan sebagainya?"
"Tidak, ia tidak bilang apa pun."
Mina terkikik pelan dan berkata, "Hati-hati lho, Izuku-san! Jangan sampai Todoroki-san mendengar ini, nanti dia bisa cemburu pada Bakugou-san!"
Untuk sesaat, perkataan Mina membuat Izuku diam. Salah satu tangannya bergerak dan menyentuh cincin yang tersemat di jari manisnya sementara bibirnya berkata, "Iya, kau benar."
"Yah, tapi kurasa Todoroki-san bukan tipe pencemburu," gumam Mina sambil membungkuk dan mengeluarkan kotak susu dari lemari pendingin untuk membuatkan pesanan. Ia sudah akan beranjak ketika manik hitamnya menemukan benda familiar yang terjatuh di dekatnya. Tangannya pun meraih benda yang terjatuh di lantai itu dan berkata, "Izuku-san, sepertinya nametag mu terjatuh!"
Sekali lagi Izuku menoleh dan ia menatap karyawannya, "Eh?"
"Nametag-mu terjatuh," ulang si karyawan sambil menyerahkan kartu kecil bertuliskan 'Hello, I'm Midoriya' padanya. "Pantas saja aku bertanya-tanya kenapa kau tidak mengenakan nametag dari tadi. Rupanya kau menjatuhkannya."
Dahi Izuku berkerut mendengarnya dan ia mengulangi ucapan si karyawan, "Sejak tadi…aku tidak mengenakannya?"
Karyawannya mengerjapkan mata, "Iya, kenapa memangnya?"
Menelan ludah, Izuku menatap nametag itu sebelum menggenggamnya erat-erat. Rasa dingin tiba-tiba menyusup di kulit dan membuatnya menggigil. Bila itu benar, berarti sedari tadi ia tidak mengenakan nametagnya. Tapi kalau memang begitu, mengapa orang itu mengetahui namanya? Dari mana ia tahu? Memangnya… siapa orang itu sebenarnya?
Siapa gerangan… Shigaraki Tomura?
.
.
.
(t.b.c)
A/N :
Holla All! Kembali lagi dengan saya dan misteri di antara tiga hero kece badai. Mungkin bener, kalo orang bisa baca pikiran, mungkin kesalahpahaman nggak akan terjadi T_T too bad nggak ada quirk yang bisa baca pikiran ya? (apa uda ada dan saya belom apdet?)
Aniway :
Fujoshi-desu : ihiy, tak apaa, mau melanglang ke fandom manapun saia siap selama dapet asupan ;P belakangan ini saya juga lagi haus asupan Riren karena baru lanjutin baca manganya, mungkin Fujocchi mau fg an bareng sama ane sebelom kita terlibat dalam badai pertengkaran tiga hero kece ditambah satu villain yang susah buat nggak dinotis
Hikaru Rikou : Hikacchi apa kabar? Iyah kemaren sempet double update karena idenya muat di 2 chapter. Kali ini idenya muat di 1 chapter, jadi di sinilah saya sekarang XD mereka baru aja pisah uda ketemu, emang entah sial entah beruntung nasib abang pirang yang satu ini
Dan aniway Hikacchi, cara kamu membayangkan perasaan mereka entah kenapa bikin ane terhura XD saya sendiri nggak kebayang sampe situ tapi wow, berkat kamu ide kembali mengalir dan akhirnya mereka malah terjebak di dalam kesalahpahaman nggak berujung. Tapi kamu bener, Izuku yang nggak ngeh kadang bikin gregetan dan saia sendiri berasa kayak Mina yang bilang 'Oi, Izuku! Masa segitu nggak sadar?' atau kayak Daddyzawa yang bilang ke Kacchan, 'Bebal amat sih?' XD
Shin Aoi : holla Ao-chan XD saia masih di sini dan sudah melanglang ke Tododeku shipper sebelum akhirnya balik lagi ke 90days dan kembali bergelut sama humornya dua abang direksi dan satu manajer gigi hiu yang tertindas :D Belum lagi Daddyzawa emang demen banget cari-cari masalah ama Iblis granat, kayaknya dia sendiri begitu cuman karena pengen liat Katsuki sengsara :P dan sebagai gantinya Katsuki ngelimpahin ke Kiri-chan dan kalo Kiri-chan punya bawahan, mungkin bawahannya bakal kena XD makanya Daddyzawa sengaja banget ketemuin lagi Katsuki sama mantan pacarnya dengan satu tujuan : ngeliat Katsuki sengsara XD
Untuk sama siapanya, sepertinya saia uda menentukan pilihan dan kuncinya sebenernya ada di ingatan Izuku, makanya kalo ingatannya kembali, misterinya bakal terpecahkan? :D
Btw, untuk Papi Enji, masih banyak misteri sama chara satu ini sebenernya, dan dia nggak bisa dikategoriin baik atau jahat, tapi yang jelas, Papi ada di pihak yang paling menguntungkan :D jadi masih menjadi misteri untuk beberapa chapter ke depan :P
Arisa-chan : hihi, makasihh banyak untuk pengertiannya, saia bener-bener terhura. Nothing better than a friend who understand your situation :D
Ihiy, interaksinya Kacchan, ya? Saya coba buat development baru dan hopefully ini bikin sesuatu yang beda. Walaupun saya nggak mau keras kepalanya hilang, karena Kacchan tanpa keras kepala dan mulut jahat kayaknya bukan Kacchan :P dan btw, si iblis sih seneng2 aja ketemu sama Dedek Izuku, cuman abang panas dingin yang gerah liat mereka nantinya :P *yangsabaryaBang
Ukh, dan iya, saya menelantarkan si kelelawar jingga untuk sementara berhubung lagi kepikiran untuk ff satu ini. Tapi rest assure, saya selalu menyelesaikan yang uda saya buat kok :D walaupun agak selow lanjutinnya sekarang T_T
Votiel : sometimes, ignorance is a bliss, right? :P
Ererigado : wuidih, kamu nggak sayang nyawa, Ereri-chan? Abang iblisgranat yang bikin panas dingin itu mau dibooking? Ehem, aku saranin mending kamu pilih yang laen, abang gigi hiu misalnya? :P Abang gigi hiu nggak bakal nyakitin kayak abang iblis granat, percaya deh :P
Dan iya, saya setuju, semuanya berasal dari dia, makanya sekarang jadi kayak gini masalahnya. Hal sepele jadi besar banget karena salah paham, dan sekarang salah pahamnya makin besar karena Izuku super pelupa :P
Makasih banget buat semangatnya :D dan sama2 semanget juga buat nulis XD
And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!
