On previous chapter :
"Bukannya selama ini kau mencari-carinya?" Mina berkata sambil menunjuk pemuda pirang yang tengah menyesap kopi panas dari papercupnya. "Sekarang ia ada di hadapanmu, kenapa kalian tidak bicara?"/
"Baguslah," ujar Katsuki pelan. Ia baru saja hendak berlalu ketika tiba-tiba ia berkata, "Ngomong-ngomong, aku akan menagih Americano lain waktu, kuharap kau belum lupa."/
Menghela napas, si karyawan kembali berkata, "Bukankah itu artinya ia memang ingin bertemu denganmu? Ia tidak menagih janji itu padaku atau yang lain, ia hanya menagihnya padamu, yang dengan kata lain artinya…"/
"Izuku-san, sepertinya nametag mu terjatuh!"/
"Sejak tadi…aku tidak mengenakannya?"/
Menelan ludah, Izuku menatap nametag itu sebelum menggenggamnya erat-erat. Rasa dingin tiba-tiba menyusup di kulit dan membuatnya menggigil. Bila itu benar, berarti sedari tadi ia tidak mengenakan nametagnya. Tapi kalau memang begitu, mengapa orang itu mengetahui namanya? Dari mana ia tahu? Memangnya… siapa orang itu sebenarnya?
.
.
.
Boku no Hero Academiaby Horikoshi Kóhei
90 daysby cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
I'm not taking any profit for this ff : )
.
.
.
Enjoy!
Chapter 16: The poisoned apple
Day 51
Tokyo, Froid Chaud Mansion
Suara bincang-bincang yang tak biasa terdengar dari dalam rumah ketika ia baru saja menyelesaikan setumpuk pekerjaan pagi. Penasaran, ia mendekat sembari membawa keranjang cucian di tangannya. Bersembunyi di balik lemari tinggi yang memisahkan ruang tamu dan ruang makan, Izuku melirik ke ruang tamu, berharap mendapat pandangan yang jelas pada tamu-tamunya.
Pria besar berambut merah dan suara tawa menggelegar itu tengah mengangguk-angguk, bersamaan itu suara tawa keras meluncur dari bibirnya. Di hadapannya, wanita cantik berambut hitam hanya dapat tersenyum sopan tanpa berani menyela. Selama keduanya berbincang-bincang, tidak terlihat sosok calon suaminya di sana. Entah di mana calon suaminya itu.
"Ah!" Sebuah suara terdengar dari belakang punggung dan membuatnya menoleh ke belakang. Alisnya terangkat dan bola matanya melebar saat melihat sosok yang ia cari tengah berjalan mendekat padanya. Dengan tangan terulur dan senyum lembut yang sama, pemuda itu menyentuh tangannya dan berkata, "Kau di sini rupanya, kukira kau di ruang laundry. Aku baru mencarimu di sana."
Menggerakkan kepala Izuku membiarkan pemuda itu menuntun langkahnya. Sembari memegangi keranjang cucian yang terbuat dari rotan, gadis berambut hijau yang masih mengenakan kaus berwarna putih dengan huruf V itu berkata, "Kau mencariku? Ada apa, Shouto?"
Pemuda dengan rambut dwiwarna yang masih mengenakan sweater dan celana kain abu-abu itu menggerakkan kepala mendengar pertanyaannya. Ia menarik Izuku ke arah dua orang yang tengah sibuk berbincang-bincang. Begitu mereka bergabung, kedua orang itu pun berhenti bicara dan gadis yang diperhatikan Izuku sebelumnya bangkit berdiri. Menatap Izuku, gadis itu membungkukkan tubuh dan berkata, "Ohayou, Izuku-san! Maaf mengganggu kesibukanmu di pagi hari."
Sebelum Izuku dapat mengucapkan apa pun, pria besar yang bersuara keras itu menyelanya lebih dulu. "Jangan terlalu formal, Momo! Kau sudah dianggap seperti keluarga di sini."
"Terima kasih, Todoroki-san!" Gadis berambut hitam yang diikat ke belakang itu membungkuk sopan pada pria besar yang dikenali Izuku sebagai calon ayah mertuanya. Ia menggeser posisi duduknya, mempersilakan Izuku untuk duduk di sampingnya sementara pemuda yang tadi menariknya duduk di samping sang ayah.
Pandangannya menyapu coffee table di antara mereka yang telah dipenuhi berbagai brosur. Melihat ke arah mana pandangannya, calon suaminya kembali menyentuh tangannya dan berkata, "Momo adalah sekretaris Shouto, dan kami memanggilnya dari Amerika agar ia dapat membantumu."
Dengan ekspresi bingung, Izuku mengulangi perkataan pemuda itu dan menatap gadis yang sekali lagi menundukkan kepalanya. Kedua manik hijaunya terarah kembali pada si manik dwiwarna dan ia berkata, "Membantuku untuk?"
"Mungkin kau tidak ingat," ujar Shouto sambil mengusapkan ibu jarinya di atas tangan Izuku, "tapi pernikahan kita tinggal sebulan lagi."
Masih mempertahankan ekspresi bingung Izuku pun mengangguk. "Lalu?"
"Lalu," ucap Shouto sambil menggerakkan kepalanya ke arah gadis berambut hitam yang mengenakan blazer dan rok span berwarna beige itu, "kau mungkin tidak sadar bahwa ada segudang persiapan yang sudah seharusnya kita lakukan sebelum itu."
Seolah mengerti ke mana arah pembicaraan ini, Izuku kembali mengangguk. Ia menatap pemuda di sampingnya dan berkata, "Aku mengerti. Jadi kau ingin aku ikut membantumu mempersiapkan pernikahan?"
Shouto menggelengkan kepala sementara tangannya disentuhkan pada wajah gadis berambut hijau yang dicintainya. Dengan lembut ia berkata, "Tidak, Izuku. Kau tidak perlu melakukan apa pun, tugas itu Yaoyarozu yang akan melakukannya untukmu."
"Eh?"
"Yaoyarozu akan membantumu mengurus persiapan pernikahan kita," jelas Shouto sambil mengarahkan pandangan pada gadis yang duduk di samping Izuku. "Semua gaun dan pernak-pernik yang pernah kau pilih untuk pernikahan kita, Yaoyarozu akan membantumu mengingatnya. Walau mungkin ingatanmu masih belum kembali, aku tidak mau kau terkejut ketika hari pernikahan kita."
Kepala Izuku bergerak sedikit sebelum mengangguk. Ia sadar bahwa kehilangan ingatan membuatnya melupakan fakta bahwa ia akan segera menikah dengan pemuda itu. Pastinya ada detail-detail yang perlu diingat atau dilakukannya sebelum pernikahan mereka berlangsung. Makanya pemuda itu sampai harus memanggil sekretarisnya agar ia tidak melupakan detail-detail pernikahan mereka.
"Aku mengerti," ujar Izuku sambil menggenggam erat tangan Shouto. "Aku akan berusaha sebaik-baiknya."
"Senang mendengarnya," ujar Todoroki senior yang ikut serta dalam pembicaraan sebelum kembali tergelak. Ketika ia sudah berhenti tertawa, pria itu menatap sang sekretaris dan berkata, "Ngomong-ngomong bagaimana persiapan pesta minggu depan, Momo? Apa semuanya berjalan lancar?"
Mengangguk patuh, Momo kembali berkata, "Semuanya masih sesuai jadwal, Todoroki-san. Hanya untuk gaunnya, sepertinya Midoriya-san harus kembali mencobanya."
Mendengar namanya tiba-tiba disebut dalam pembicaraan, Izuku pun menggerakkan kepala. "Pesta... minggu depan?"
Pertanyaannya membuat Momo mengangguk sementara di sampingnya Shouto kembali berkata, "Pesta pertunangan, maksudnya. Satu bulan sebelumnya ayahku minta diadakan pesta pertunangan untuk mengundang semua relasi bisnisnya."
"Ya," jawab Momo sambil mengeluarkan iPad yang berisi semua data perihal pesta yang akan berlangsung minggu depan. "Berhubung relasi bisnis Endeavor Group sangat banyak, maka diputuskan untuk membagi pestanya menjadi dua. Kami khawatir gedungnya takkan cukup menampung seluruh relasi bisnis Todoroki-san dan kenalanmu dalam satu hari, Midoriya-san."
Sekali lagi Izuku mengangguk. Ia menyadari bahwa keluarga Shouto memiliki banyak relasi bisnis penting dan untuk mengundang mereka semua saja, pernikahan ini harus dibagi menjadi dua agar gedung yang disewa cukup untuk menampung seluruhnya. Pastilah Todoroki-san sangat penting hingga saat putranya menikah seluruh relasi bisnisnya memilih untuk hadir.
"Nah, Momo, silakan lanjutkan," pinta Todoroki senior sambil menggerakkan tangannya pada sang sekretaris. Sebelum gadis itu bicara, pria besar berambut merah yang akan jadi mertua Izuku itu berkata, "Sebelum kalian datang, kami sedang membicarakan perihal tamu undangan. Aku berencana mengundang relasi dari Eropa pada hari itu. Bagaimana menurutmu, Shouto?"
"Aku tidak keberatan. Izuku pun tidak, kurasa."
Izuku menggumamkan persetujuannya dengan anggukan. Melihatnya Todoroki senior pun ikut menggerakkan kepala sedikit. Pandangannya kembali tertuju pada sekretarisnya dan berkata, "Baiklah, gabungkan saja relasi dari Eropa dan sebar undangannya pada seluruh tenant Avorende Tower."
"Relasi dari Eropa ada seratus lima puluh orang," jawab Momo sambil melirik iPadnya. "Ditambah tenant dari Avorende Tower ada sekitar tujuh ratus bila mengasumsikan hanya para petingginya yang datang. Masih tersisa tempat untuk seratus orang."
"Seratus, ya?" Todoroki kembali berkata, "Ada orang tertentu yang terpikirkan oleh kalian? Teman atau sahabat yang tidak begitu dekat, mungkin?"
Shouto menggeleng, begitu juga dengan Izuku. Melihatnya Momo pun menganggukkan kepalanya dan berkata, "Baiklah, tidak perlu dipaksakan. Lagipula hari itu pun ada pesta dansa dan akan lebih baik bila tamu undangannya tidak terlalu padat. Sulit berdansa di tengah keramaian begitu."
Mengerutkan dahi, Izuku menatap Momo dan berkata, "P-pesta dansa?"
Kedua manik kelabu Momo tertuju pada Izuku dan berkata, "Betul sekali, Midoriya-san. Puncak acara pada pesta pertunangan kalian adalah acara dansa. Para relasi dari Paris sangat menyukai pesta dansa, makanya kami menyelipkan acara tersebut."
Tangan Izuku bergerak gelisah. Maksud hatinya terbaca jelas oleh Shouto yang duduk di sampingnya. Sambil menggenggam tangannya, pemuda itu berkata, "Tidak perlu khawatir, Izuku. Kita hanya membuka dansa sebentar dan setelahnya para tamu undangan akan bergabung."
"B-berdansa sebentar?" pekik Izuku tanpa sadar. Ia menatap Shouto dengan panik dan mencicit pelan, "Aku sama sekali tak bisa berdansa, Shouto."
Todoroki senior kembali tergelak mendengar pengakuan calon mantunya. Ia menepuk pundak Shouto dan berkata, "Jangan khawatir, Izuku! Bersandar saja pada putraku selama kurang lebih lima menit dan biarkan ia yang menuntunmu. Selama kau tidak menginjak kakinya, kurasa kau baik-baik saja."
"T-tapi..."
Menghela napas, Momo mengeluarkan pena dari gadgetnya dan berkata, "Biar kukenalkan dengan instruktur dansa kalau begitu. Kurasa ada baiknya Midoriya-san berlatih sedikit."
"T-terima kasih," jawab Izuku sungguh-sungguh walaupun sebetulnya ia tidak terlalu suka berdansa dan sebagainya.
"Apa aku boleh meminta nomor ponselmu untuk mempermudah koordinasi?" Momo mengangkat kepala dan menatapnya.
"O-oh sebentar, biar kuambil ponselku," jawab Izuku yang langsung bangkit berdiri. Ia meninggalkan ketiga orang yang masih duduk di ruang tamu dan berjalan ke kamar. Begitu ia masuk ke dalam, diambilnya ponselnya dari atas meja dan mengaktifkannya. Sambil menunggu ponsel menyala, ia pun berjalan menuruni tangga dan menghampiri ketiganya. "Nomor ponselku –"
Sebelum ia mengucapkan sesuatu, dering di ponsel membuat ucapannya terhenti. Dengan segera ia menempelkan ponsel pada telinga dan bergumam, "Moshi-moshi?"
Suaranya membuat ketiga orang yang tengah berdiskusi berhenti bicara. Salah satunya memandang penuh tanya melihat ekspresi tidak biasa di wajah gadis itu. Dalam hatinya, ketiga orang itu bertanya-tanya, siapa yang menghubungi gadis itu dan membuatnya menunjukkan ekspresi begitu serius.
"Baik, baik Mina, aku mengerti," ucap Izuku yang diperhatikan oleh ketiga orang yang duduk mengelilingi coffee table. "Biar aku yang ke sana, kau antarkan saja Ibumu. Ya—ya – jangan khawatir, semoga Ibumu baik-baik saja! Ya, sampai jumpa!"
Sambungan dimatikan dan Izuku menghela napas. Ketika ia mengangkat kepala, tiga orang yang tengah berbincang itu tengah memandanginya dengan ekspresi tertarik. Seketika itu juga ia salah tingkah dan berkata, "A-ah, aku permisi dulu! Aku harus berangkat mengambil biji kopi ke vendor berhubung persediaan kami sudah habis."
"Kenapa kau tidak minta mereka mengantar?" Shouto berkata lagi. "Apakah kurir mereka sakit semua?"
"Tidak, bukan begitu," jawab Izuku sambil meletakkan tangannya di atas sweater biru yang dikenakan pemuda berambut dwiwarna di sampingnya. "Aku yang meminta mereka untuk tidak mengantarnya karena aku atau Mina ingin memastikan bahwa biji kopi yang digunakan benar-benar tidak dicampur. Seringkali beberapa vendor selalu mencampur biji kopi dan membuat rasanya berbeda."
Masih merasa tidak puas, Shouto kembali berkata, "Kalau begitu biar kuantar."
"Kau ada meeting jam sembilan nanti, Shouto!" Ayahnya mengingatkan. "Bagaimana kalau kuminta driverku untuk mengantarmu, Izuku?"
Menggelengkan kepala Izuku pun berkata, "Tidak, tidak perlu. Tempatnya tidak begitu jauh. Aku tidak ingin merepotkan Anda."
"Bicara apa kau ini?" Todoroki senior kembali berkata. "Kau itu menantuku, sudah sepatutnya aku bersikap seperti ini. Gunakan saja driverku, aku bisa pergi bersama Shouto nanti."
"Maaf, Todoroki-san," Momo tiba-tiba menyela, "tapi Anda pun ada meeting pada pukul sembilan nanti, dan meeting itu berbeda dengan meeting yang akan dihadiri putra Anda."
Pria besar itu mengumpat pelan hingga membuat Izuku salah tingkah. Ia menatap kedua orang di hadapannya dan kembali berkata, "J-jangan khawatir! Aku bisa naik taksi, tempatnya tidak begitu jauh. Sungguh!"
Mereka berdua masih tampak enggan menyetujui usulnya begitu saja. Tapi berulang kali Izuku berkata bahwa ia akan berhati-hati sehingga mau tidak mau Shouto terpaksa mengiyakan. Ia mengangkat ponselnya dan berkata, "Jangan lupa bawa ponselmu! Mungkin apabila meeting berakhir lebih cepat aku bisa menjemputmu."
Izuku ingin membantah, namun melihat ekspresi Shouto ia pun memilih untuk menutup mulutnya. Tanpa menatap pemuda itu, ia menundukkan kepala dan mengangguk pelan. Bibirnya bergumam sedikit dan berkata, "Ya."
U.A Manufacture Company
"Oi," panggil sang manajer sebelum meletakkan setumpuk dokumen yang perlu di tanda tangani di atas meja sang direktur. "Direktur Aizawa berkata bahwa dia ingin minum Cafe Latte sekaligus meminta laporan progress renovasi kantor padamu."
Mengangkat kepala dari tumpukan dokumennya, pemuda berambut pirang yang dimaksud menunjukkan ekspresi enggan yang tidak repot-repot disembunyikannya. Menatap sang manajer, ia pun berkata, "Lalu?"
"Dia ingin kau yang membelikan dan membuat laporannya."
Memicingkan mata sebelum kembali pada dokumen-dokumennya, pemuda berambut pirang pucat itu berkata, "Baiklah, kutugaskan kau untuk membelinya, Kirishima. Sana pergi!"
"Dia bilang, kalau kau memintaku membelikannya, maka aku harus meletakkan ini di mejamu," lanjut si manajer bergigi hiu sambil menjatuhkan setumpuk dokumen lain di atas meja si direktur hingga menimbulkan bunyi berdebum pelan. "Tapi bila kau menuruti keinginannya, ia akan menarik dua tumpuk dokumen ini darimu."
Berpikir sebentar, Katsuki kembali berkata,"Tiga?"
"Dia bilang, kau pasti akan menawar, jadi aku harus mengatakan padamu untuk menerima atau melupakannya." Kirishima berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi?"
Sembari menggerutu jengkel, Katsuki akhirnya bangkit dari kursi yang ia tempati. Meninggalkan dokumen yang tengah ia pelajari, pemuda itu mengambil jas berwarna beige yang ia gantung sebelumnya. Pandangan matanya tertuju pada kaca jendela di belakang meja kerjanya yang memperlihatkan pemandangan di luar. "Kalian tahu 'kan di depan sana hujan deras?"
"Uh-huh, tapi kudengar SUV-mu yang sebelumnya kecelakaan sudah selesai diservis," jawab Kirishima sambil menarik keluar dua tumpuk dokumen. "Kuharap remnya sudah tidak bermasalah lagi."
Mendecak kesal, Katsuki pun memutari mejanya. Ia menunjuk dua tumpuk dokumen yang berada di paling pinggir dan berkata, "Aku ingin dua dokumen itu kau bawa padanya dan harus selesai minggu ini."
"Katakan itu saat cafe lattenya sudah di tanganmu," jawab Kirishima sambil membawa dua tumpuk dokumen keluar dari dalam ruang kaca milik sang direktur.
Begitu pemuda itu keluar, Katsuki kembali menggerutu. Namun sebelum ia mengucapkan segala sumpah serapah, pemuda berambut pirang itu mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar dari ruangan. Ia menyempatkan diri untuk mampir ke meja sang manajer, hanya untuk berkata, "Jam sebelas siang nanti aku ada meeting. Pastikan Aizawa menggantikanku karena ini berhubungan dengan kantor yang sedang direnovasi itu."
"Aku mengerti," jawab Kirishima cepat. "Akan kumundurkan jadwalnya menjadi jam satu siang."
"What the f.."
"Selamat bersenang-senang," lanjut Kirishima sambil memberikan senyumnya. Cuti seminggu sepertinya cukup untuk membuat pikirannya kembali segar dan meregenerasi kulitnya yang kusam. Ia bahkan puas karena berhasil membungkam direktur yang selama ini menjadi duri dalam dagingnya. "Dan aku titip satu Ice Caramel Machiato, Tuan Direktur. Mohon dibelikan!"
Sebelum mendapatkan luapan amarah dari atasannya, Kirishima sudah lebih dulu melesat dengan setumpuk dokumen. Kesal, Katsuki menendang kursi milik bawahannya itu sebelum berbalik ke koridor. Ekspresi jengkelnya membuat setiap karyawan yang berpapasan dengannya memilih untuk menyingkir memberi jalan. Berkat itu, ia berhasil tiba di lift dan menuju parkiran dalam waktu lebih singkat dibanding biasanya.
Menghela napas, pemuda itu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Tanpa banyak berpikir, ia pun menjalankan mobil dan membawanya menuju ke jalan raya. Di luar, hujan turun begitu deras dan menghalangi pandangan sehingga Katsuki mengaktifkan weaver. Belum lagi ditambah fakta bahwa jalanan yang biasanya kosong menjadi lebih padat saat hujan membuatnya ingin mengumpat. Benar-benar sial!
Walaupun begitu, bukan berarti Katsuki keberatan. Ia akui memang menjengkelkan berkendara di jalanan yang macet dan menghabiskan waktu sementara ada beberapa tumpuk dokumen yang masih meminta perhatian. Namun semua keluhannya selalu lenyap setiap kali ia bertemu dan bercakap-cakap singkat dengan gadis itu. Walau hanya lima menit waktu yang ia miliki untuk berbincang, baginya itu sudah cukup dibanding tak ada sama sekali.
Ironis memang. Dulu ia punya kesempatan untuk bertemu gadis itu lebih dari lima menit sehari, tapi ia menyia-nyiakan kesempatan itu. Sekarang ia hanya punya waktu lima menit, tapi ia rela melakukannya walau harus berkendara selama tiga jam – tidak termasuk bila jalanan padat- bolak balik. Kalau dulu ia tahu akan sebegini sulitnya untuk bertemu dengan gadis itu, tentu ia tidak akan membuang kesempatannya semudah itu.
Tapi sayangnya semua sudah terlambat. Hanya lima menit dalam sehari tidak ada artinya. Waktu terus berlalu dan dalam sekejap gadis itu akan segera menikah. Tadi pagi, undangan pertunangannya sudah disebarkan melalui email pada Aizawa. Endeavor Group dengan sengaja menyebarkan semua undangan pada penyewa gedung dan relasi bisnisnya seperti hendak mengejek Katsuki. Sengaja membuatnya mati langkah dan menyadari bahwa sudah tidak ada waktu lagi.
Katsuki mengerti. Seluruh akal sehatnya sudah berulang kali memperingatkan bahwa Todoroki Shouto lah yang terbaik bagi gadis itu. Tapi entah kenapa, berulang kali ia mendengar dirinya menjerit meneriakkan nama gadis itu. Berusaha mengulurkan tangan dan mengecilkan jarak di antara mereka.
Walau tahu ia tidak bisa membahagiakannya, ia ingin bersama gadis itu. Walau tahu semua yang dilakukannya hanya membuat gadis itu menitikkan airmata, ia ingin berada di dekatnya. Bukan orang lain, bukan Todoroki Shouto, tapi dirinya, Katsuki Bakugou.
Maka itu, ketika ia melihat sosok yang benar-benar mirip dengan gadis itu di seberang jalan di depan kafe langganan kantor mereka, ia pun tak bisa berhenti memandanginya. Mengenakan kemeja putih dipadu dengan celana panjang ketat hitam dan sepatu kets merah, gadis itu mengulurkan tangan sembari menatap langit. Melihatnya, Katsuki pun dapat menarik kesimpulan sendiri.
Tanpa mengindahkan klakson dari mobil di belakangnya, Katsuki memutar kendaraannya seratus delapan puluh derajat dan berbalik arah. Diparkirnya SUV putihnya di pinggir jalan sementara ia turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Hujan lebat yang membasahi rambut, jas juga sepatunya diabaikan semata-mata demi bertemu gadis itu.
Gadis itu sendiri tak langsung menyadari kehadirannya. Baru setelah ia berdiri di hadapannya beberapa saat, si gadis berambut hijau mengangkat kepala dan mengamati sosoknya dari kaki hingga kepala. Manik hijaunya melebar ketika melihat manik merah memandangnya panik dan pemiliknya menghembuskan naaps tak teratur. Gelagapan, ia pun berkata, "B-b-bakugou-san?"
Katsuki tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu menatap rambut hijau juga kemeja putih yang menempel erat ke tubuh si gadis sebelum membalas tatapan Izuku. Sejumlah sumpah serapah sudah di ujung lidah, namun ia mencoba mengendalikan diri. Ditatapnya gadis itu sekali lagi dan ia berkata, "Sudah puas bermain hujan-hujanannya, Midoriya-san?"
Gadis itu mengerutkan dahi, tidak yakin harus menjawab apa. Awalnya ia mengira pemuda di hadapannya sedang melontarkan lelucon, tapi karena pemuda itu tak tertawa ia pun tak yakin. Jemarinya menggaruk pipinya dan ia berkata, "A-aku sedang bekerja, Bakugou-san, bukan bermain."
Alis terangkat dan pemuda itu berkata, "Pekerjaan apa yang kau lakukan di tengah hujan begini?"
"O-oh, aku baru saja membeli biji kopi," ucap Izuku masih salah tingkah. Ia menoleh ke belakang dan menggeser tubuhnya untuk memperlihatkan sekarung biji kopi di belakangnya dan berkata, "Tapi hujan tiba-tiba turun saat aku sedang menunggu taksi. Jadi aku buru-buru menyeretnya sambil menunggu hujan reda."
Seluruh kata-kata cercaan sudah hendak dilontarkan oleh Katsuki, tapi lagi-lagi ia menahan lidahnya. Ia menarik napas, menatap ke arah lain sebelum kembali menatap Izuku. Kepalanya bergerak sedikit sebelum berkata, "Kau tidak bisa meminta orang untuk memanggilkan taksi? Berapa lama kau berdiri di tengah hujan sendirian?"
"N-ng, itu.."
"Bajumu basah, juga rambutmu," lanjut pemuda itu, "apa kau tidak berpikir bahwa ada orang yang akan menyerangmu dengan kondisi seperti itu?"
"A-aku..."
"Memangnya kau ini juara Aikido atau Judo tingkat akhir hingga kepercayaan dirimu begitu tinggi?"
"B-bukan, aku..."
"Kenapa kau tidak menelepon tunanganmu? Kenapa kau harus menunggu taksi? Kau tidak punya ponsel?"
"O-oh, dia ada meeting,"jawab Izuku sambil memegangi tangannya tampak salah tingkah. "J-jadi…"
Pertanyaan kembali dilontarkan sebelum Izuku menyelesaikan kalimatnya. Pemuda di hadapannya terus mencecarnya dan berkata, "Apa tunanganmu begitu sibuk hingga tidak mengangkat teleponmu? Apa dia sebegitu sulitnya untuk kau mintai tolong?"
"B-bukan, Shouto tidak - "
"Apa dia tetap menyuruhmu naik taksi dalam keadaan seperti ini? Apa dia tidak berpikir betapa sulitnya mencari taksi pada hari hujan seperti ini? Apa dia tidak terburu-buru keluar dari meetingnya yang penting dan pergi mencarimu? Laki-laki itu –"
Ucapannya yang penuh emosi terhenti ketika tangan dingin Izuku menyentuhnya. Manik hijau gadis itu menatapnya tegas dan berkata padanya, "Bakugou-san, cukup!"
Ini pertama kalinya Katsuki melihat Izuku menatapnya tegas. Gadis yang biasanya lemah dan hampir tidak bisa membantah itu sekarang menghentikan ucapannya. Bahkan melanjutkannya dengan berkata, "Aku yang memutuskan untuk tidak meneleponnya karena aku tidak mau mengganggunya. Tolong hentikan semua prasangka burukmu pada Shouto!"
Semua kata-kata cercaan yang tadinya sudah hendak terlontar dari bibirnya pun menguap tanpa sisa. Katsuki sadar semua yang ia ucapkan justru merupakan hinaan bagi dirinya sendiri. Ia mencemooh dirinya yang selalu beralasan sibuk namun mengatasnamakan Shouto dengan harapan orang itu pun sama seperti dirinya. Tapi ia salah. Shouto bukanlah dirinya. Pemuda itu tidak menyia-nyiakan Izuku seperti apa yang ia lakukan sebelumnya.
Tangan gadis itu diangkat darinya dan kembali menunduk. Bibirnya menggumamkan permintaan maaf singkat sebelum mundur darinya. Pandangan matanya kembali teralih, tanpa menyadari bahwa Katsuki tengah menatapnya.
"Kau benar," ucap Katsuki akhirnya dengan seulas senyum tipis, "aku tak seharusnya ikut campur."
Izuku kembali menoleh. Ia terkejut menemukan senyum tipis di wajah pemuda berambut pirang yang selama ini diamatinya. Tapi entah kenapa, senyum itu terlihat begitu… sedih? Apa ini hanya perasaannya saja?
Namun senyum itu hanya berlangsung sekejap. Tak lama kemudian pemuda itu pun mengangkat kepala dan menatapnya. "Kau masih menunggu taksimu?"
"O-oh," Izuku berkata sambil menatap sekeliling. "Ya, kurasa. Tapi mungkin aku akan mencarinya kalau hujan sudah reda."
"Begitu," jawab Katsuki sambil menatap ke samping. Ibu jarinya menunjuk SUV putih yang diparkir tak jauh dari kafe dan berkata, "Ngomong-ngomong, aku berencana ke Avorende Tower. Apa kau mau ikut?"
Manik hijau Izuku melebar, ketertarikan tergambar jelas di wajahnya. Namun dengan segera ia menunduk dan menggelengkan kepala. Dengan senyum tipis ia berkata, "T-terima kasih, kurasa aku akan menunggu saja."
Sekali ini Katsuki mengangguk, tidak mau memaksa. Ia mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan menyentuhkan jemari pada layarnya. Kedua manik merahnya tertuju pada ponsel dan ia berkata, "Menurut ramalan cuaca hujannya masih akan berlangsung hingga tiga jam ke depan. Kurasa tunanganmu akan segera sadar kalau kau belum kembali dalam tiga jam."
Keterkejutan tak dapat disembunyikan dari wajahnya. "T-tiga jam?"
Lagi, pemuda berambut pirang itu mengangguk. "Hujan deras, berhubung ada badai Katrina katanya, tak akan reda dengan cepat. Kemungkinan terburuk kau akan menunggu terus di sini seharian."
Menggerakkan jemari dengan gelisah, gadis berambut hijau di sampingnya menggigit bibir bawahnya. Ia bingung.
Namun Katsuki tidak memberinya pilihan. Dengan sengaja, pemuda berambut pirang itu berkata, "Kalau begitu, aku duluan!"
"A-ah, Bakugou-san!"
Katsuki menoleh.
"B-boleh aku ikut?" Gadis itu berkata dengan suara yang nyaris serupa bisikan. "H-hanya sampai lobby kantor, m-maksudku, pintu gerbang saja?"
Menggerakkan kepala seolah berpikir keras, Katsuki pun berkata, "Mobilku tidak bisa berhenti di depan pintu gerbang."
"O-oh?"
"Tapi kalau sampai lobby akan kupertimbangkan," jawab Katsuki sambil menggerakkan kepala.
Senyum kembali terkembang di wajah Izuku. Masih sedikit gelagapan, ia mengucapkan terima kasih pada pemuda itu. Sembari mengikuti Katsuki berjalan menuju ke mobilnya, ia menyeret sekarung kopi di belakangnya dengan susah payah di bawah derasnya hujan. Tak heran ia tertinggal jauh dari langkah Katsuki.
Ketika menyadari bahwa gadis yang harusnya berada selangkah di belakangnya belum juga muncul, Katsuki pun berbalik. Alisnya terangkat ketika melihat gadis itu bersusah payah menyeret sekarung kopi di tengah derasnya hujan. Sambil mendecak kesal, ia pun melepaskan jas yang dikenakannya dan berbalik menghampiri gadis itu.
Langkahnya yang besar dengan cepat membawanya ke samping gadis berambut hijau yang masih berusaha menyeret karung berisi biji kopinya. Jasnya diletakkan di kepala gadis itu dan disambarnya karung kopi yang susah payah ditarik gadis itu. Sebelum Izuku melayangkan protes, Katsuki sudah menyeretnya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain mengangkut karung berisi biji kopi.
Dibukanya pintu mobil sementara gadis itu masuk ke dalam. Sebelum menutup pintu, Katsuki mendorong biji kopinya di dekat kaki Izuku. Baru setelahnya ia kembali memutari mobil dan masuk melalui pintu pengemudi. Ia tak mengindahkan tatapan bingung si gadis dan langsung memutar kunci untuk menjalankan mesin.
Hanya saja sebelum ia memutar kemudi, gadis itu lebih dulu meletakkan satu tangan di atas kepalanya. Terkejut, ia pun menoleh dan melihat gadis itu menatapnya khawatir. "Tunggu sebentar, Bakugou-san! Biar kukeringkan rambutmu! Kau bisa sakit kalau tidak mengeringkannya dengan benar."
Katsuki ingin menolaknya, ingin mengatakan pada gadis itu untuk tidak bersikap baik padanya. Tapi alih-alih menyemburnya dengan kata-kata, Katsuki malah terdiam dan membiarkan gadis itu mengeringkan rambutnya dengan tissue. Layaknya hewan buas di hadapan sang pelatih, tiba-tiba saja semua emosinya lenyap entah ke mana digantikan kedamaian yang sudah lama dirindukannya.
"Seharusnya kau tidak meminjamkan jasmu," lanjut gadis itu lagi, "bagaimana kalau kau sampai sakit nanti?"
"Tidak apa-apa," jawabnya sembari memejamkan mata.
"Jangan berkata begitu!" Izuku berkata dengan nada khawatir. "Orang dekatmu pasti akan khawatir bila kau sakit."
Mengangguk, Katsuki pun balas berkata, "Tidakkah orang di dekatmu juga akan khawatir kalau kau sampai sakit?"
"I-itu…"
Kepalanya terangkat dan Katsuki menurunkan tangan Izuku darinya. Tanpa banyak bicara, ia mengarahkan pandangannya ke jalanan dan menjalankan mobilnya. Ia pun memutar mobilnya kembali ke arah sebaliknya dan mengantri bersama dengan mobil lain di jalanan yang masih padat.
Keheningan yang sedikit janggal memenuhi mobil. Gadis berambut hijau itu duduk dengan gugup di sampingnya. Dibanding menatapnya, gadis itu memilih untuk menatap pemandangan dari kaca. Walaupun hujan deras membatasi apa yang dapat dilihat olehnya.
Menyadari hal itu, Katsuki pun menggerakkan tangannya ke arah pemutar musik. Ia menekan sebuah tombol dan dalam sekejap musik mengalun memenuhi mobil. Suaranya membuat gadis itu menggerakkan kepala ke arahnya sebelum berhenti pada musik yang tengah diputarnya itu. Kepalanya bergerak dan gadis itu menatap dashboard.
Tertarik dengan reaksinya, Katsuki pun berkata, "Kau tahu lagu ini?"
Masih dengan manik hijau tertuju pada alat pemutar musik, Izuku pun berkata, "Tidak."
Alis terangkat dan Katsuki mengangguk. Ia tidak lagi bertanya dan memilih untuk mendengarkan. Suara musik yang ia kenali membuatnya bersenandung mengikuti nada yang mengalun dan mengundang gadis itu untuk berkomentar.
"Lagu yang…," ucap gadis itu sambil mendengarkan, "bagus."
Katsuki menoleh dan memperhatikan gadis itu.
"Liriknya… menarik," ujar Izuku sambil mengerjapkan mata. Ia baru kali ini mendengar lagu itu, tapi entah kenapa ia merasa sedih. Sungguh aneh. "Sangat… bagus."
Manik merah Katsuki masih tertuju padanya sebelum akhirnya kembali ke jalanan. "Baguslah kalau kau suka."
"Apa judulnya?" tanya Izuku sambil menatap pemuda pirang di samping.
Menggerakkan kepalanya, Katsuki pun menjawab, "The Poisoned apple."
Like a poisoned apple
Your love is
And before I know
I've fallen in love
Without knowing
I'll never wake up again
"Apel… beracun?"
Sekali lagi Katsuki mengangguk. "Kau tahu cerita Putri Salju?"
Memiringkan kepalanya, Izuku berkata, "Yang mati karena apel beracun?"
Alis terangkat, Katsuki terpana menatapnya. "Kukira kau tidak tahu."
Izuku tertawa kecil mendengar komentar pemuda itu. Pandangannya tertuju pada si pemuda berambut pirang dan ia berkata, "Kenapa kau berpikir aku tidak tahu? Dongeng itu 'kan sangat terkenal."
'Tapi kau 'kan kehilangan ingatan', batin Katsuki yang tentu saja tak diucapkannya. Sebagai gantinya ia hanya mengangkat bahu dan menyunggingkan senyum tipis sebagai sindiran. Menggerakkan kepalanya ia berkata, "Lagu ini bercerita tentang dongeng itu."
Menyentuhkan tangan di dagunya, Izuku pun berkata, "Tentang apelnya? Bukan tentang Snow White?"
"Si penyanyi melambangkan dirinya tergila-gila pada seseorang yang seperti apel beracun," terang Katsuki. "Sama seperti Snow White yang tergoda pada apel beracun sekalipun ia sudah diperingatkan oleh para kurcaci berulang kali."
Mengerjapkan mata Izuku kembali berkata, "Orang yang seperti apel… beracun?"
"Ya," jawab Katsuki sambil menjalankan mobilnya. "Mungkin kau tak tahu, tapi terkadang ada orang yang menyukai seseorang yang seperti itu."
Izuku mengulangi ucapannya dan Katsuki mengangguk. Pemuda itu kembali berkata, "Sebelum kau menyadarinya, kau sudah jatuh terlalu dalam tanpa ada kemungkinan untuk kembali lagi."
"Apa kau," ucapnya sambil menatap pemuda berambut pirang itu, "pernah menyukai seseorang seperti itu?"
Ada jeda sedikit sebelum pemuda yang ia tanya menjawab pertanyaannya. Pemuda itu menutup mulutnya sebelum menjawab, "Pernah."
"Bagaimana…," tanya Izuku tanpa dapat ia kendalikan, "bagaimana rasanya?"
Tangan mencengkeram kemudi erat dan Katsuki pun menoleh. Ia menatap Izuku lama sebelum berkata, "Menyakitkan, tentu saja. Tapi…"
Alis Izuku mengerut dan ia menatap pemuda itu.
"Aku tidak menyesal," ucap pemuda itu yang tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis. "Bila waktu diputar ulang pun, kurasa aku akan tetap menelannya."
Ia menatap pemuda itu dalam diam. Manik hijaunya terus mengamati pemuda itu. Ada bagian dalam dirinya yang tidak ingin mendengar, namun ia malah terus bertanya.
"Apa," ucap Izuku sambil menatapnya, "tidak sakit?"
"Sakit," jawab pemuda itu dengan kedua manik yang terus tertuju ke jalanan, "tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada apel beracun itu."
Izuku mengerutkan dahi dan pandangannya tertangkap dari sudut mata pemuda itu. Menggerakkan kepala ke arahnya, pemuda itu pun menunjukkan senyumnya terlebih dulu sebelum berkata, "Kuharap, kau tidak menyukai orang yang seperti itu."
"Itu…"
"Kalau pun kau pernah menelannya," ucap Katsuki sambil mengalihkan pandangannya ke jalanan, "temukanlah seorang pangeran dan minta padanya untuk mengeluarkan apel itu dari tubuhmu."
Lidahnya kelu, Izuku tidak bisa menjawab.
"Kudoakan semoga kau bahagia," kata pemuda itu lagi.
Mendengar ucapan pemuda itu, entah mengapa Izuku terdiam. Matanya panas sementara kedua tangannya mencengkeram kemeja putihnya erat-erat. Tenggorokannya terasa berat seperti tersangkut sesuatu.
Mengalihkan pandangannya, Katsuki kembali menatap jalan. Begitu melihat bangunan yang sudah tak asing, ia pun memutar mobilnya dan masuk ke dalam pelataran bangunan. Mengantri bersama mobil lain yang juga akan masuk, Katsuki menunggu dan mengambil tiket. Sesuai perkataannya, ia menghentikan mobil di lobby dan menatap gadis itu.
"Sudah sampai," ujarnya pada gadis yang masih terdiam di sampingnya. "Midoriya-san?"
Gelagapan, Izuku buru-buru mengangkat kepala. Ia terkejut begitu melihat pelataran lobby yang familiar. Sedikit tergesa-gesa ia melepas seat belt yang dikenakannya dan membuka pintu mobil. Namun saat ia hendak turun, pemuda di sampingnya sudah berada di dekat pintu untuk membantunya menurunkan karung berisi biji kopi.
Ia pun menatap pemuda itu dan berkata, "T-terima kasih, Bakugou-san."
"Jangan dipikirkan!" Pemuda itu berkata sambil membawa karung ke pinggir dan berbalik menuju ke mobilnya. "Sampai jumpa!"
Izuku masih ingin mengucapkan sesuatu, namun pemuda itu sudah lebih dulu pergi. Ia masih bisa melihat mobil SUV putih yang dikendarai pemuda itu keluar dari pelataran lobby dan mengantri di pintu keluar, tidak masuk ke gedung parkir. Ia kebingungan, bukankah pemuda itu berencana mampir ke tempat ini?
Sebelum Izuku sempat berpikir lebih lanjut, suara Mina – karyawannya menarik perhatian Izuku. Terlebih ketika melihat karyawannya mendekatinya dengan kepanikan di wajah. Sikapnya membuat karyawannya mendekat dan ekspresi keheranan pun terbit di wajahnya. Dengan gelisah, karyawannya berkata, "Izuku-san, kenapa kau tidak mengangkat ponselmu? Kau tidak tahu betapa cemasnya aku!"
"Maaf, Mina," jawab Izuku sembari menepuk tangan gadis berbaju pink itu. "Aku tidak bisa meraih ponselku."
Walaupun masih cemberut, Mina akhirnya menghela napas. "Ya sudahlah! Asal kau baik-baik saja aku tidak mempermalahkannya. Tadi hujan deras sekali, dan kupikir kau pasti sulit pulang karena taksi di sana sulit."
Izuku kembali menyunggingkan senyumnya.
"Ngomong-ngomong, jas siapa yang kau kenakan itu?" tanya Mina sambil menggerakkan kepala. "Sepertinya kebesaran untukmu. Apa itu jaket pria?"
Alis Izuku terangkat dan ia baru menyadari jas yang masih tersampir di tubuhnya. Ia ingin menjawab, namun kata-kata tertahan di ujung lidahnya. Sekali lagi ia diam dan menundukkan kepalanya.
"Izuku-san?"
Tangannya disentuh dan Izuku kembali berkata, "Bukan apa-apa, Mina."
Mina mengerutkan dahi, atasannya terlihat sedikit linglung. Ia masih ingin menyelidiki, tapi ia menahan diri. Rasa penasarannya masih bisa menanti.
"Ngomong-ngomong, kau pucat sekali, Izuku-san?" Mina kembali berkata sambil menyeret karung kopi yang ada di pinggir. "Apa kau baik-baik saja?"
"O-oh, tidak apa-apa."
"Kau yakin?" Mina kembali berkata dengan kerutan di dahi. "Kau tidak menyantap sesuatu yang berbahaya di sana 'kan? Terkadang para vendor kopi sering sekali menyuguhi biji kopi aneh yang tak sesuai seleramu. Kuharap kau tidak mengambil apa pun yang mereka tawarkan."
"Tidak, aku tidak mengambilnya."
"Baguslah kalau begitu."
"Hanya," ucap Izuku yang membuat Mina membelalak lebar dan menjatuhkan karung kopinya, "sepertinya aku menelan apel beracun."
.
.
.
(t.b.c)
A/ N:
Holla All! Cyan di sini XD pertama-tama, mau mengucapkan selamat Paskah buat yang pada merayakan!
Kemudian sebelom pada bertanya-tanya (geer amat), saya infoin dulu, lagu berjudul 'Poisoned apple'itu nggak ada, jadi nggak perlu repot-repot dicari (siapa juga yang mau? #maafauthorgeer). Saya nggak mengutip apa pun dan pas saya cari di Mbah Google pun saya nggak nemuin yang seperti itu :D So please accept it as a part of 90 days story :D
Aniway :
Fujoshi-desu : mari teriakan lagi namanya, wahai Fujoshi-Fujoshi! Mari kita tunggu kehadirannya dan bersama-sama berkata "Levi Ac-" :P #authormintadiseledingkayaknya #pindahfandomsana
Y-yang punya telinga puppy sama baju serba merah? Jangan-jangan I-Inu*****? Uwaaa, ane demen banget kalo di crossover itu :P
Lol, warnya masih dipending dulu ternyata, sekarang malah disuguhin cerita snow white dulu. Sabar ya:D
Hikaru Rikou : Hikacchi holla XD iya, abang Shigaraki uda muncul, dan jauh di masa silam (setaon lalu kayaknya) doi pernah diceritain dikit ama manajer gigi hiu yang imut-imut :P walaupun soal doi antagonis apa protagonist masih belum jelas :P
Hem, soal siapa yang dipilih deku, ane sendiri sudah memutuskan, tapi nggak mau jawab :P ane rasa Hikacchi mungkin uda dapet clue :D tapi let's save for ourself ya? XD
Deku yang polos emang kadang-kadang bikin greget, beruntung banget dia ditemenin sama Abang Dispenser yang super sabar. Kalo Iblis granat yang nanggepin, kayaknya dia uda ….
Ererigado : IYAH! BABANG TOMURA UDA MUNCUL XD Jadi ikutan ke capslock jadinya :P waduh, kamu yakin Ereri-chan? Nanti kalo dijedotin, Deku cuman benjol dikit, tapi ane nggak bertanggung jawab sama apa yang bisa dilakuin duo kece itu ke kamu :P
Btw, abang gigi hiu nangis di pojokan karena mau dibuang ke laut. Dia natep ke sini pake puppy eyes yang bikin hati ini jadi doki-doki nggak jelas T_T let's save abang gigi hiu XD
Soal sama siapanya, seperti yang aku bilang sama Hikacchi, sepertinya deku sudah mulai memilih :P tapi let's see apakah bisa berjalan lancar XD
Votiel : holla Vocchan, (semoga nggak digampar kalo manggil begitu) seperti biasa, kita nggak bisa nebak isi otaknya si rambut kelabu satu itu XD jadi mari kita tunggu dengan tenang. #bukakeripik #nyodorin
Dan, ehem, kita tahu Mina demen sama yang ganteng-ganteng XD dan doi juga seneng mixmatchin atasannya. Alien pink satu ini paling demen sama affair, tapi tenang, dia nggak bermaksud jahat. Dia cuman pengen godain atasannya tanpa tau bahwa atasannya memang ada rasa :P
Arisa-chan : Nah lho! Itu namanya ditikung, Arisa-chan dan ngomong-ngomong jadi inget sama anime sebelah yang hobi nikung :P
LOL, kamu serius mau nikah ama abang iblis granat? Yakin? Nggak lagi nge maso kan? Dek Ijuku aja nggak mau walaupun dikasih gratis. Ya nggak, Dek? #dikasihdeathglareamaiblisgranat #saveauthor
And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!
