On previous chapter :
"Apel… beracun?"
Sekali lagi Katsuki mengangguk. "Kau tahu cerita Putri Salju?"
"Si penyanyi melambangkan dirinya tergila-gila pada seseorang yang seperti apel beracun," terang Katsuki. "Sama seperti Snow White yang tergoda pada apel beracun sekalipun ia sudah diperingatkan oleh para kurcaci berulang kali."
"Apa kau," ucapnya sambil menatap pemuda berambut pirang itu, "pernah menyukai seseorang seperti itu?"
"Kalau pun kau pernah menelannya," ucap Katsuki sambil mengalihkan pandangannya ke jalanan, "temukanlah seorang pangeran dan minta padanya untuk mengeluarkan apel itu dari tubuhmu."
"Sepertinya aku menelan apel beracun."
.
.
.
Boku no Hero Academiaby Horikoshi Kóhei
90 daysby cyancosmic
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku
I'm not taking any profit for this ff : )
.
.
.
Enjoy!
Chapter 17: The poisoned apple (II)
Day 59
Tokyo, Arashi Ballroom
Segala yang berwarna keemasan dan berkilauan menghiasi pandangan mata Izuku ke mana pun ia melangkah. Karpet merah, dinding berhias panel emas, lampu gantung dari kristal yang gemerlap seolah tak ada habisnya. Dekorasinya yang serba menyilaukan benar-benar membuat Izuku merasa bukan lagi di Jepang.
Di sampingnya, sekretaris sekaligus asisten sementaranya berjalan dengan kepala tegak dan langkah tegas. Gaun berwarna merah ketat dipadu dengan rambut hitam yang digelung ke atas membuat mata setiap kaum adam tertuju padanya. Namun gadis itu sepertinya tidak sadar karena sedari tadi ia sibuk memandu Izuku sembari memperlihatkan iPad-nya.
"Ini Mr. Abella," ujar gadis berambut hitam itu sambil menunjukkan foto seorang pria yang memiliki banyak perbedaan dengan ras Mongoloid itu. "Ia menyukai makanan manis. Pastikan kau membahas cokelat bila di sampingnya."
Dahi Izuku tidak berkerut, tidak paham kenapa ia harus membicarakan cokelat saat pertunangannya akan berlangsung. Hanya saja ia memilih untuk tidak membantah dan memerhatikan dengan serius foto orang tersebut. Walau begitu ia tak dapat menahan diri untuk bertanya, "Apa yang terjadi bila aku membahas yang lainnya, Yaoyarozu-san?"
"Kurasa ia akan jengkel," jawab Yaoyarozu cepat. "Berhati-hatilah saat berbicara dengannya dan jangan sampai menyinggungnya. Todoroki-san berencana untuk memintanya menjadi sponsor dalam produk terbaru bulan ini."
Menelan ludah Izuku hanya dapat mengangguk sebelum jari Yaoyarozu menggeser layar dan menampilkan foto lain. Ia memperlihatkan foto baru yang lebih menyerupai penduduk Jepang dengan rambut hitam dan kulit gelap. Sembari menunjuk ia berkata, "Ini Kurogiri-san. Dia salah satu Direksi perusahaan rekaman Villain record – kalau kau tahu – yang membesarkan artis sekelas Shigaraki Tomura."
"Aku tahu Shigaraki Tomura," jawab Izuku cepat. "Agensinya merupakan salah satu tenant Avorende Tower."
Alis terangkat mendengar gadis yang sedang diajarinya mengetahui fakta tersebut. Tanpa sadar ia pun bergumam, "Kupikir kau kehilangan ingatan, Midoriya-san?"
Izuku tertawa kecil mendengarnya. "Aku mengetahuinya dari Mina saat Shigaraki-san membeli salah satu menu kafe kami. Awalnya aku pun terkejut begitu tahu bahwa ia seorang artis."
Mengangguk, Yaoyarozu kembali melanjutkan, "Memang. Dia artis besar yang namanya dapat disejajarkan dengan Toshinori Yagi, sang aktor legendaris yang dijuluki Simbol Perdamaian. Tapi selain Shigaraki, Villain Record juga membesarkan beberapa nama. Kau hanya perlu mengetahui nama mereka, tidak detail pun tak apa."
Sekali lagi Izuku membalas anggukannya dan menatap layar yang diperlihatkan Yaoyarozu. Ia menatap beberapa profil dan nama panggung beberapa artis sebelum layar itu beralih pada gambar lain. Ketika melihatnya alisnya terangkat sementara telunjuknya terarah pada layar iPad.
"Aku tahu orang ini!" Izuku berkata dengan bersemangat. "Dia juga pernah datang ke kafe."
"Oh," ucap Momo begitu melihat foto orang yang ditunjuk Izuku. "Dia Aizawa Shouta. Dia merupakan salah satu Direksi di U.A Manufaktur Company. Mungkin kau pernah melihatnya waktu ia berkunjung ke kantor."
Manik Izuku menatapnya sekali lagi. Kalau tidak salah orang yang ia tunjuk merupakan pria yang datang bersama dengan Bakugou-san. Apakah mereka bekerja di kantor yang sama? Kalau begitu apakah ada kemungkinan pria itu akan datang?
Jari Momo kembali menggeser layar, namun karena layar tetap sama, maka Momo pun menarik iPadnya. Gadis berambut hitam itu melangkah cepat mendahului Izuku dan menghalangi jalan. Dengan manik kelabunya, ia menatap Izuku tajam dan berkata, "Apa kau sudah mengingat semua nama yang kusebutkan sambil jalan tadi?"
Rambut hijau yang dipilin dan dibentuk tatanan ke samping itu bergerak sedikit sebelum menjawab, "Kurasa sebagian besar dapat kuingat, tapi kalau semuanya –"
Dengan cepat, Momo memotong ucapannya. Bersandar pada pegangan pintu ballroom terbuat dari emas, gadis itu menurunkan alis dan berkata dengan penuh penekanan. "Maaf apabila aku lancang, tapi kurasa aku harus memberitahukan ini karena kedua Todoroki-san terlalu memanjakanmu."
"Soal…apa?"
"Mungkin bagimu pesta ini hanya sekedar formalitas yang tak ada hubungannya denganmu," lanjut Yaoyarozu, "tapi percayalah, semua tamu yang diundang adalah tamu penting yang merupakan rekan bisnis Endeavor Group. Aku berharap kau tahu di mana menempatkan dirimu di sini, Midoriya-san."
Menggerakkan kepala Izuku menatapnya dengan bingung. Ia mengulangi lagi pertanyaan sang asisten dan menuai tatapan tidak senang darinya. Melihatnya, Izuku tahu bahwa ia telah salah bertanya.
"Kau istri penerus Endeavor Group," tegas Yaoyarozu sambil menatapnya. "Kau tahu berapa banyak gadis yang berbaris di luar sana untuk menempati posisimu? Apa kau bisa membayangkan betapa malunya Todoroki-san bila gadis yang ia pilih tidak dapat bersikap seperti orang sekelasnya?"
"A-a- aku tidak- "
"Sebaiknya kau menganggap serius pertunangan ini," ujar Yaoyarozu tegas. "Jangan bersikap seperti anak kecil yang tidak tahu ke mana dirinya melangkah! Kau itu wanita pilihan Todoroki-san."
Dalam diam Izuku menyetujui ucapan gadis di hadapannya. Memang benar. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa dan menganggap pertunangan ini hanya sekedar formalitas sebelum ia menikah dengan Shouto. Padahal selama ini ia berada di samping pemuda itu, tapi seringkali ia lupa bahwa orang yang dinikahinya itu adalah orang penting yang berada di urutan pertama sebagai penerus Endeavor Group. Mungkin asistennya benar, mereka semua terlalu memanjakannya dengan dalih bahwa ia kehilangan ingatan.
"Angkat kepalamu," ujar Yaoyarozu lagi, "di dalam sana ada banyak gadis yang jauh lebih sinis dariku. Kalau seperti ini saja kau sudah kalah, bagaimana bisa kau menempati posisi di samping Todoroki-san?"
Kepala diangkat dan manik hijau itu menatapnya. Betapa terkejutnya Yaoyarozu ketika melihat kilatan cahaya di antara kedua bola mata itu. Seingatnya, beberapa detik yang lalu masih ada kabut yang melingkupinya, tapi sekarang-
"Terima kasih, Yaoyarozu-san," ujar Izuku sambil membungkuk sedikit, "kurasa aku sudah mengerti."
Menelan ludah, Yaoyarozu pun mengangguk. Kedua tangannya memegangi pegangan pintu dan hendak mendorongnya. Namun sekali lagi ia menoleh pada gadis pilihan atasannya dan menggelengkan kepala, berusaha beranggapan bahwa ia salah lihat. Tidak mungkin wanita yang kehilangan ingatan bisa berekspresi seperti itu. Midoriya Izuku yang ia kenal, bukan wanita tegas yang berani menatap mata lawan bicaranya.
Pintu terbuka dan seisi ruangan yang sebelumnya riuh mendadak hening. Izuku dapat merasakan keringat dingin mengalir dari telapak tangannya saat Yaoyarozu menuntunnya berjalan. Dalam hati ia berdoa agar kakinya tidak menginjak gaun hijaunya yang panjang dan menjatuhkan dirinya sendiri. Ia tidak mau mempermalukan dirinya – ralat – mempermalukan Todoroki-san di acara pertunangan ini.
Jarak yang memisahkan podium dengan pintu terasa bagai seabad lamanya. Untunglah pada akhirnya ia tiba di podium yang dikhususkan untuk keluarga undangan. Ia sampai tidak menyadari bahwa sang asisten telah menghilang dan digantikan dengan pemuda dengan rambut dwiwarna yang memegangi tangannya. Untuk sekejap Izuku sampai tak bisa berkata-kata saat kedua maniknya bertemu dengan manik hetero itu.
Rambut dwiwarna yang biasanya berantakan disisir menyamping dan memperlihatkan bekas luka di sebelah kanan. Harus Izuku akui ketampanannya sama sekali tidak berkurang karena itu, malah sebaliknya. Dipadu dengan setelan jas dan sepatu putih hanya ada satu definisi untuk menggambarkan pemuda itu.
"Kau…," ucap Izuku masih sambil menatapnya, "seperti Pangeran."
Mendengarnya Shouto pun tersenyum dan ia menarik tangan Izuku mendekat. Ia berbisik di telinga gadis itu dan berkata, "Berarti aku Pangeran yang sangat beruntung, Tuan Putri."
Walau ia tidak ingin mengakui, wajahnya benar-benar memerah mendengar ucapan pemuda itu. Izuku menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang bagaikan kepiting rebus. Namun Shouto hanya tertawa sebelum membawanya duduk di podium yang dikhususkan untuk mereka.
Suara riuh kembali terdengar begitu sinar diarahkan pada mereka. Di sampingnya, Todoroki senior berdiri mewakili putra dan putrinya untuk memberikan kata sambutan berhubung tak ada keluarga Izuku yang hadir. Untuk mengawalinya, pria bertubuh besar itu berdehem beberapa kali sebelum berbicara.
"Sebagai perwakilan dari dua keluarga, kuucapkan terima kasih atas kedatangan kalian di pernikahan putra dan putriku ini," ujar Todoroki Enji sambil menggerakkan tangannya pada Shouto dan Izuku. Di sampingnya Shouto melambaikan tangan sementara Izuku menatap cemas para hadirin. Ia bahkan tak mendengarkan saat calon mertuanya itu memanggil namanya dan baru menyadarinya ketika Shouto menyentuhnya lembut.
Ia mencoba tersenyum pada para hadirin yang dibalas dengan sambutan riuh rendah. Ingin rasanya ia menundukkan kepala dan menatap gaunnya dibandingkan harus menatap mata hadirin, terlebih tatapan mata para wanita yang diundang ke pesta. Hanya saja teringat perkataan sang asisten, ia pun mengangkat kepala dan menguatkan tekadnya. Ditatapnya satu per satu tamunya hingga ia bertemu pandang dengan manik merah yang ia kenali.
Terkejut, Izuku pun menggerakkan kepalanya tanpa sadar. Ia terus menatap ke arah tersebut, berharap mendapatkan pandangan yang lebih jelas. Namun pandangannya terhalang oleh tamu undangan yang lain sehingga ia terpaksa mengangkat sedikit lehernya.
"Izuku?"
Sadar akan panggilan calon suaminya, Izuku pun menoleh. Pemuda di sampingnya, sang Pangeran, menatapnya dengan bingung. Melihat wajahnya, Izuku hanya bisa menundukkan kepala, tak dapat membalas. Dalam hati ia merasa bersalah sudah memikirkan orang lain saat ia tengah berada di sisi suaminya.
"Tenang saja," ucap pemuda itu sambil berbisik di sampingnya, "tidak perlu gugup. Aku di sini."
Gadis berambut hijau yang rambutnya dipilin itu tidak berusaha menyanggah. Ia tetap diam dan mengangguk pelan. Matanya terpejam sementara ia menelan ludah.
"Semua ini akan cepat berakhir," ujar Shouto sekali lagi sambil menggenggam tangannya. "Jangan khawatir!"
Sekali lagi Izuku memejamkan mata dan merasakan tangannya yang dingin. Tenggorokannya terasa begitu berat dan serta merta ia menyadari.
Potongan apel yang ditelannya, mungkin lebih besar dibanding yang ia duga.
Dikelilingi balkon dan pepohonan di sekitarnya, pemuda berambut pirang itu berdiri diam di dekat pagar pembatas. Kedua manik merahnya tertuju ke langit sementara kedua tangannya bersarang pada kantung celana. Di belakangnya, ia dapat mendengar alunan musik untuk mengiringi pesta dansa di dalam, hanya saja ia tak tertarik untuk bergabung.
Di dalam ia bisa membayangkan bahwa gadis itu dan lelaki pilihannya akan menari berdua, bergandengan tangan dan saling mendekat sebelum tamu undangan lain ikut serta. Kemudian mereka akan terus menari dan menari sambil bertukar sapa dengan para tamu undangan di dalam. Gambaran bahwa ia tengah menari di antara tamu-tamu yang tidak dikenal hanya untuk berdansa dengan Izuku sudah cukup untuk membuatnya menarik diri.
Ia tak ingin datang sebenarnya, namun seperti biasa atasan yang tidak berperi-karyawanan menggunakan segudang alasan yang membuat Katsuki terpaksa menggantikannya. Padahal atasannya sangat mengetahui betapa enggannya dia. Tapi pilihan apa yang ia punya ketika dihadapkan dengan ancaman pemotongan gaji dan tugas setumpuk?
Protes? Tentu sudah dilayangkan Katsuki sejak seminggu sebelumnya. Ia bahkan bisa saja mengabaikan ucapan sang atasan dan sejujurnya ia tidak peduli dengan gaji atau pun tugas yang setumpuk banyaknya. Hanya saja di luar keinginannya, ia tetap melangkahkan kakinya ke tempat ini dan menyaksikan bagaimana gadis itu melangsungkan pertunangannya.
Berada di tengah-tengah seluruh relasi bisnis Endeavor Group, Katsuki merasa bahwa udaranya perlahan-lahan dirampas. Saat gadis itu berjalan masuk, mendadak ia merasa pening. Ia hampir lupa caranya bernapas terlebih ketika gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kekasih hatinya benar-benar sangat menawan. Sayangnya, ia tidak berjalan ke arah Katsuki.
Pemuda lain sudah menantinya di podium. Pemuda yang akan memberinya kepastian akan masa depan dan menjaganya dengan seluruh jiwa raga telah menunggu hingga kekasih hatinya mendekat. Ketika kedua insan itu sudah menautkan jemari, Katsuki pun tak punya pilihan selain memejamkan mata dan menatap ke tempat lain.
Sungguh! Ini tidak mudah baginya. Tidak pernah dibayangkannya bahwa ia akan menyaksikan gadis yang selama dua puluh tahun ini selalu ada di sisinya berada di tangan pemuda lain. Andai ia tahu semuanya akan jadi seperti ini, tentu ia takkan menyia-nyiakannya. Andai ia tahu bahwa bukan dirinya yang akan berada di sisinya –
Tatapan gadis itu sekali lagi tertuju pada hadirin dan Katsuki merasa jantungnya berhenti berdetak saat gadis itu menatapnya. Ketika pandangan mereka bertemu, ia dapat melihat keterkejutan di kedua emerald itu. Hanya saja ia memilih untuk mengalihkan pandangan dan meninggalkan tempat. Ia sudah menyerah. Ia sudah merelakan gadis itu untuk bersama orang lain. Setidaknya itulah yang ia katakan pada atasannya beberapa hari sebelumnya.
"Kupikir kau orang yang maju terus pantang mundur," ujar atasannya saat mereka pergi ke sebuah bar sepulang kerja. "Ternyata kau tahu juga menyerah."
Sindiran itu hanya dianggap Katsuki seperti angin lalu. Sembari menumpahkan alkohol ke dalam gelasnya ia pun berkata, "Aku tidak bodoh sepertimu, Bakazawa. Ketika peluangnya sudah nol besar, aku tidak mau terus bergerak maju dan menyakiti diriku sendiri."
Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, asisten bergigi hiu yang duduk di sampingnya ikut menyela. Ia menatap pada dua atasannya dan berkata, "Tapi siapa yang membuat peluang itu menjadi nol besar? Setahuku gadis itu sama sekali tidak menutup kemungkinannya untuk bersamamu, Bakugou."
"Kau tidak tahu apa-apa," jawab Katsuki sembari menarik gelas dan menenggak isinya. "Ia pernah mengatakannya padaku."
"Apa yang…," Kirishima menatapnya hati-hati, "ia katakan padamu?"
Katsuki menggerakkan kepalanya, "Bahwa bersamaku selalu menyakitkan? Atau bahwa ia merasa ketakutan setiap kali berada di sampingku?"
Mengerutkan dahi asisten bergigi hiunya berkata, "Dia mengatakan itu? Kapan?"
"Sewaktu ia masih sadar," balas Katsuki sambil menunjuk kepalanya dengan telunjuk. "Sebelum semua kegilaan ini dimulai, kurasa."
Mendengar itu, manajer berambut merah dan bergigi hiu pun menundukkan kepalanya. Ia menatap minuman yang belum tersentuh di depannya sebelum ikut menenggak isinya. Beberapa saat ia termenung sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menenggaknya sekaligus. Kedua atasannya memutuskan untuk tidak bertanya dibanding menuai masalah lebih lanjut.
"Aku tidak habis pikir," komentar Aizawa ketika mendengar ucapannya, "apa sebenarnya yang kau lakukan hingga gadis sebaik itu sampai berkata begitu?"
Katsuki tidak menjawab. Ia hanya menatap gelasnya yang berisi cairan kekuningan dalam diam.
"Padahal kulihat kau begitu mencintainya," komentar sang atasan sambil meraih botol minuman yang berada di dekat asisten bergigi hiu dan menuangkan isinya ke gelasnya sendiri. "Tidak ada karyawanku yang akan menaruh foto pacarnya di meja kerja, atau menaruh mainan kesukaan gadis itu di mobilnya sendiri. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menatap foto itu setiap kali kau mendapat masalah di kantor. Kau bilang foto itu jimatmu."
Katsuki tertawa mendengarnya. "Itu sudah berlalu."
"Ya," ucap Aizawa sambil menatap bawahannya, "aku pun merasa kehilangan Katsuki yang dulu."
Dengusan tawa sinis kembali meluncur dari bibir Katsuki. Namun ia mengalihkannya dengan menenggak isi gelasnya dan menghabiskan isinya. Begitu gelasnya kosong, ia pun meraih botol alkohol di tangan Aizawa dan menuangkannya ke dalam gelas. Ketika dilihat isinya tak banyak, ia mengambil botol baru sebelum mengisi gelasnya kembali.
Melihat bahwa bawahannya sudah akan berada di alam bawah sadar, Aizawa merebut botol alkohol dari tangan pemuda itu. Tindakannya membuat Katsuki menatapnya jengkel, namun pria yang lebih tua itu tak peduli. Diabaikannya tatapan kesal bawahannya sementara ia meletakkan botol alkohol di samping. Sembari menatap sang bawahan ia berkata, "Kalau kau sudah memutuskan begitu, tidakkah sebaiknya kau menuntaskannya?"
"Ng?"
"Kalau memang kau ingin menyerah, bukankah sebaiknya ia tahu?"
Mengangkat bahu Katsuki pun mengangkat gelasnya seraya berkata, "Untuk apa? Ia bahkan tidak mengenalku."
"Jangan-,"ucap Aizawa sambil meraih gelas milik pemuda itu dan meletakkannya kembali di atas meja, "mentang-mentang ia kehilangan ingatan maka kau bisa bersikap seenaknya!"
Alis menukik tajam, manik merah pun berkilat marah. Ia hendak menyembur atasannya sehingga asisten bergigi hiu yang masih sadar buru-buru bangkit berdiri. Sebagai bawahan yang baik, ia menahan tubuh direkturnya agar tidak melakukan hal yang akan disesalinya di kemudian hari.
"Kau sudah seenaknya melenyapkan ingatannya, sudah seenaknya menculiknya dan sudah seenaknya datang dan pergi," ucap Aizawa sambil menunjuknya. "Paling tidak kalau kau mau menyerah, pastikan ia tahu bahwa hidupnya sudah tenang karena tidak lagi diganggu penguntit sepertimu!"
"Apa. Kau. Bilang?"
"Pastikan ia tahu," ujar Aizawa lagi sambil menatap bawahannya, "perasaanmu yang sesungguhnya."
Kerutan terlihat di dahi pemuda berambut pirang yang mudah tersulut emosi itu. Semua bantahan yang akan disemburkannya tahu-tahu menguap dan pemuda itu pun hanya dapat menundukkan kepala. Sekilas, sang atasan dapat melihat kesedihan di balik sikap emosional yang seringkali diambilnya.
"Itu haknya, bukan?"
Waktu itu Katsuki tidak bisa menjawabnya, tapi sekarang ia ingin tertawa. Itu haknya, katanya. Justru akan jauh lebih baik bila gadis itu tidak tahu. Hidupnya akan lebih bahagia bila ia tidak tahu ada seseorang seperti Katsuki.
Jaraknya dengan gadis itu cukup seperti sekarang. Biarlah gadis itu menganggapnya sebagai orang asing. Biarlah gadis itu tidak mengenalnya dan tidak memberikan tempat istimewa untuknya. Dengan demikian, ia dapat mundur perlahan dan merelakan gadis itu. Dengan demikian ia dapat menjauh dengan tenang dan melupakan gadis itu.
Atau setidaknya itulah yang ia pikirkan sebelum mendengar pintu balkon dibuka dan seseorang melangkah mendekat.
"Bakugou-san?"
Tubuh Katsuki seolah kaku di tempat. Ia diam cukup lama di tempat sebelum menoleh ke belakang. Perlahan, manik merahnya merayap dari ujung gaun berwarna hijau hingga akhirnya bertemu dengan manik hijau zamrud yang paling disukainya.
Lidahnya kelu, ia tak dapat mengucapkan apa pun saat melihat gadis itu berdiri di belakang. Ia berusaha mengucapkan sesuatu tapi tak ada satu pun kalimat yang dapat dirangkainya. Pada akhirnya, ia membiarkan gadis itu berjalan mendekat ke arahnya. Selangkah demi selangkah hingga akhirnya tiba di hadapannya.
Senyum manis menyambutnya lebih dulu, mencairkan es yang tertahan di lidahnya. Gadis itu memiringkan kepalanya sedikit sebelum membuka mulutnya, "Sudah kuduga! Orang yang kulihat tadi memang kau."
Bersandar pada railing balkon, Katsuki pun berkata, "Kau melihatku?"
Mengangguk kuat-kuat, gadis itu kembali berjalan hingga berada di sampingnya. "Tentu saja. Tadi Yaoyarozu-san memperlihatkan padaku foto rekan kerja yang pernah datang bersamamu. Kupikir pastilah ia salah satu rekanmu dan mungkin kau akan datang. Ternyata aku benar!"
Memiringkan kepalanya, Katsuki mendekat pada gadis itu. Dengan pandangan tertuju pada pintu yang memisahkan teras dengan ballroom di dalam, Katsuki pun berkata, "Yaoyarozu?"
"Oh, dia sekretaris Shouto," ucap Izuku cepat sementara kedua tangannya mencengkeram railing balkon. "Dia yang membantuku mengingat nama semua hadirin di dalam dan menunjukkan fotonya padaku satu per satu."
Katsuki mengangkat alisnya, "Kau harus menghapal nama para tamu undangan?"
Tersenyum malu-malu gadis itu pun berkata, "Seharusnya begitu. Tapi ingatanku payah sekali dan hanya sepersepuluhnya yang berhasil kuingat tadi. Selebihnya aku gagal."
"Apa maksudmu dengan gagal?"
"Berulang kali Yaoyarozu-san melemparkan pandangan menusuk di punggungku,"ujar Izuku sambil menatap ke langit. Ia tersenyum lagi sementara manik hijaunya tertuju pada bintang-bintang di atas kepalanya. "Ia juga terpaksa mengoreksi setiap nama yang salah kusebut. Lidahku lidah orang Jepang, tapi aku dipaksa mengucapkan bahasa Perancis. Apa kau bisa membayangkannya?"
Tanpa ia sadari, tawa lembut meluncur dari bibir Katsuki. Dengan punggung bersandar pada railing dan kedua tangan di dalam saku celana ia kembali menatap Izuku. "Entahlah. Sulit membayangkannya berhubung lidahku lidah orang Perancis."
Memicingkan mata, Izuku menoleh ke arahnya. "Bagiku kau terlihat seperti orang Jepang."
Dengan manik merah tertuju ke arahnya, Katsuki menarik salah satu tangan yang sebelumnya bersembunyi di saku celana. Ia mengulurkan tangannya itu ke hadapan Izuku dan berkata, "Puis-je danser avec vous, madame?"
Izuku mengerutkan dahinya sementara Katsuki tertawa. Kali ini ia berdehem sedikit sebelum menarik dirinya dari railing balkon. Sembari membungkuk di hadapan gadis itu, Katsuki mengulurkan tangannya dan berkata, "May I have a dance with you, my lady?"
Manik hijau Izuku terpaku padanya. Lidahnya seolah tertambat dan ia hanya dapat menatap pemuda berambut pirang di hadapannya dalam diam. Untunglah ia segera sadar dan menyambut uluran tangan pemuda itu. "With pleasure, my Lord."
Sekali lagi seulas senyum yang berbeda dengan biasanya menyambut Izuku. Di bawah terang bulan, diiringi dengan musik yang mengalun di dalam ruangan, keduanya saling mendekat. Malu-malu, Izuku meletakkan tangannya di bahu pemuda itu sementara tangannya yang lain menggenggam erat jemari pasangannya. Kegugupannya terasa ketika pemuda itu menariknya berputar.
"Apa ini?" Pemuda itu berkata dengan nada mencemooh, "Kau benar-benar kaku sekali."
"Oh, maafkan aku, my lord," balas Izuku dengan membawa seluruh kejengkelannya, "aku baru saja belajar dansa seminggu yang lalu."
"Bahkan anak kecil bisa lebih baik darimu setelah belajar seminggu," ucap pasangan dansanya sambil menggerakkan kepala. "Kau bahkan lebih buruk dari anak kecil yang sedang belajar dansa."
Sekali lagi Izuku hanya dapat menelan kejengkelannya saat mendengar komentar pemuda berambut pirang itu. Namun entah mengapa, semua kegugupannya sirna setelah bertukar beberapa kata dengannya. Bahkan tanpa ia sadari, manik hijaunya terus menatap kedua batu rubi yang tertuju ke arahnya.
"Kapan," ucap Izuku tiba-tiba saat melihat manik merah itu, "kau akan datang dan menagih Americano-mu?"
Manik merah berputar, pemuda itu berpikir. "Mungkin kau simpan saja untuk lain kali."
Menelan ludah, Izuku kembali menatapnya. Hati-hati ia bertanya, "Apa… kau tidak akan datang lagi?"
"Kau ingin aku datang?"
Mengingat ajaran Yaoyarozu, Izuku mengangkat kepalanya. Ditatapnya manik merah milik pemuda itu dan ia berkata, "Ya."
Terkejut, pemuda di hadapannya sampai tak bisa berkata-kata mendengar jawabannya. Mengerjapkan mata beberapa kali, bahu pemuda itu pun bergetar dan ia tertawa. Izuku pun dapat mendengarnya berkata, "Kau serius sekali. Apa semua pesta ini membuatmu tegang?"
Menghela napas, Izuku hanya dapat tersenyum kecut mendengar keseriusannya dianggap sebagai lelucon. Namun selayaknya wanita dewasa, Izuku memiringkan kepala dan kembali menjawab. "Begitulah. Kurasa setelah ini, aku takkan mengingat lagi nama-nama mereka."
"Untuk apa kau ingat kalau begitu?"
Mengangkat bahu, Izuku pun berkata, "Agar aku tidak mempermalukan suamiku?"
Satu alis terangkat, Bakugou Katsuki tampak tidak mengerti.
"Lupakan," ucap Izuku cepat. "Anggap saja aku tidak mengatakan apa pun."
Mendengar ucapannya, pasangan dansanya kembali menunjukkan ekspresi jengkel yang mirip dengan ekspresi yang dilihatnya saat mereka bertemu di tengah hujan. Belakangan Izuku baru mengerti bahwa itulah cara pemuda itu mengekspresikan kekhawatirannya. Namun sekali ini, ia tidak mendapatkan umpatan kejengkelan. Sekali ini pemuda itu menutup matanya dan kembali berkata, "Kau harus membiasakan dirimu."
Izuku mengangkat kepala, tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Sering-seringlah berhubungan dengan semua relasi suamimu," ucap pemuda yang bahkan tak tahu apa yang tengah diucapkannya. "Pelajari bisnis yang tengah ia geluti dan cobalah untuk memberikan solusi. Paling tidak itulah yang diharapkan orang dari calon istri penerus grup besar seperti Endeavor."
Tenggorokannya tercekat. Izuku tidak suka mendengarnya. Tanpa ia sadari, kata-katanya berubah sinis saat ia berkata, "Begitukah? Apakah hanya itu yang dipikirkan semua orang di sana?"
"Kurasa begitu."
"Termasuk kau?" Izuku kembali bertanya, "Bakugou-san?"
Kepala Katsuki terangkat dan ia menatap gadis yang berada di pelukannya. Manik hijau zamrudnya terangkat dan tertuju padanya. Alis menukik tajam dengan ekspresi menuntut. Melihatnya, ia pun tak punya pilihan selain berkata, "Mungkin."
"Mungkin?" Nada suara Izuku meninggi tanpa ia sendiri menyadarinya.
"Kukira," ucap Katsuki sambil menatapnya, "aku akan melihat seorang wanita cerdas di samping Todoroki Shouto. Sepertinya wanita cantik berambut hitam yang kau sebut asisten lebih cocok untuk mengisi tempatmu."
Kerutan di dahi gadis itu terlihat semakin dalam sementara cengkeraman di bahunya melonggar. Ia tahu gadis itu hendak menjauh ketika mendengar semua kata-kata yang sedari tadi ditahannya. Namun ia tidak membiarkannya. Ia justru mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu dan memaksanya mendekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.
"Lepaskan a-"
"Alih-alih gadis itu," ucap Katsuki memotong ucapan Izuku dengan membawa seluruh perasaannya yang hancur, "aku malah melihat gadis yang kucintai berdiri di sampingnya."
Alis yang tadinya menukik sedemikian tajam perlahan mulai mengendur. Manik hijau yang ia sukai perlahan mulai melebar dan kerutan di dahi pun mulai menghilang. Kini ia bisa melihat keingintahuan terpancar dari bola mata gadis itu.
"Wajah yang ingin kugenggam, tubuh yang ingin kupeluk, tangan yang ingin kuraih, semuanya ada di sana," ujar Katsuki sambil menyentuh wajah gadis berambut hijau itu. "Tapi aku tak bisa mendekat."
"K-kurasa kau salah orang," cicit Izuku dengan panik, "B-Bakugou-sa-"
Ucapannya terhenti ketika melihat pemuda di hadapannya menggeleng. Satu tangannya menyentuh wajah Izuku dan ia berkata, "Kau juga tidak memanggilku seperti itu, Izuku."
Sebelum Izuku sadar, pemuda yang selama ini selalu diamatinya itu memiringkan wajahnya. Manik merah yang selama ini selalu ia cari perlahan menyembunyikan diri di balik kelopak dan perlahan sesuatu yang dingin disentuhkan pada bibirnya. Melihat kondisinya, sepertinya pemuda itu sudah berdiri cukup lama di luar ballroom.
Bibir yang dingin ditarik darinya dan kelopak mata pemuda itu pun terangkat. Manik kemerahan yang ia sukai menatap ke bawah, tapi tidak tertuju padanya. Kedua tangan pemuda itu menyentuh wajahnya, sementara dahinya didekatkan pada dahinya, "Namaku Katsuki dan kau selalu memanggilku 'Kacchan'."
Setelah berkata demikian, pemuda itu melepaskan sentuhannya pada wajah Izuku. Perlahan pemuda itu menarik dirinya dan berjalan mundur selangkah. Manik merah yang sebelumnya tertunduk kini kembali tertuju padanya diiringi senyum sedih yang membuat manik hijaunya memanas, mencairkan balok es yang selama ini ditahannya.
"Kurasa akan sulit bagiku untuk melupakanmu," ujar pemuda itu lagi sambil menatapnya, "tapi aku sungguh-sungguh mendoakan kebahagiaanmu."
Airmatanya tumpah, tapi ia tidak repot-repot menghapusnya. Manik hijaunya masih tertambat pada pemuda berambut pirang. Pemuda yang memberikannya kesan mendalam walau hanya beberapa kali bertemu. Pemuda yang selalu mengisi benaknya walau hanya lima menit waktu yang dapat dihabiskannya untuk melihat pemuda itu.
Senyum kembali terkembang dan perasaan Izuku semakin tidak enak. Ia tidak ingin mendengar kelanjutannya, tapi ia tidak punya pilihan.
"Selamat tinggal," ucapnya sambil mundur selangkah lagi, "Izuku."
Sebelum Izuku dapat mengucapkan sesuatu, pemuda itu sudah berbalik. Satu langkah, dua langkah, dan pada saat langkah yang ketiga, Izuku pun mengepalkan tangannya. Ia menatap punggung yang kian menjauh darinya dan kembali berkata.
"Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"
Langkah kaki pemuda itu berhenti, sementara kepalanya bergerak sedikit ke arahnya. Izuku tahu, pemuda itu mendengarkan.
"Apa yang harus kulakukan," ulang Izuku sekali lagi, "bila aku sudah menelan potongan apel beracun itu?"
Pemuda itu tidak bergerak, kali ini Izuku lah yang mendekat. Airmatanya terus mengalir dan ia yakin riasannya sudah sangat berantakan sekarang. Tapi ia tidak peduli.
"Apa kau bisa memberikan sisa potongannya?" izuku kembali berjalan hingga tiba di belakang pemuda itu. "Kacchan?"
Pemuda berambut pirang itu kembali berbalik. Sama sepertinya, manik merah milik pemuda itu pun mencair, meninggalkan jejak tipis di pipinya. Melihatnya, Izuku pun mendekat dan menyentuhkan satu tangan ke wajah pemuda itu. Ia merasakan kulitnya yang dingin sebelum akhirnya berkata, "Aku harus bagaimana sekarang, Kacchan?"
Bahu pemuda itu bergetar dan ia berusaha menahan jejak airmata yang akan tumpah dengan mengkamuflasenya menjadi suara tawa. Padanya pemuda itu berkata, "Sudah kukatakan padamu, untuk tidak menyantap apel beracun, 'kan?"
Sembari berjinjit untuk mendekatkan wajahnya, Izuku pun berkata, "Kau bilang begitu sebelumnya?"
Sekali lagi Katsuki tertawa dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia mencoba untuk menahan airmata yang akan tumpah, namun gadis yang dicintainya, kekasih hatinya, orang yang paling ingin dibahagiakannya seumur hidup berada begitu dekat dengannya. Kedua tangannya berada di wajah Katsuki dan padanya gadis itu berkata, "Apa sang penyihir sudah kehabisan apel?"
"Kehabisan?"ulang Katsuki berpura-pura terkejut. "Apa satu saja tidak cukup, Tuan Putri? Apelku sangat-sangat beracun."
Menggerakkan kepalanya Izuku berkata, "Hm, aku tidak yakin soal itu."
"Aku sungguh-sungguh," ucap Katsuki sambil menyentuh tangan gadis itu dan mencoba membuat jarak. "Racunnya benar-benar akan membunuhmu."
Di luar dugaannya, gadis itu kembali mendekatkan diri padanya. Sembari berbisik pelan gadis itu berkata, "Buktikan kalau begitu!"
Ucapan itu cukup untuk membuat manik merah miliknya terbuka lebar. Sebelum ia sadar apa yang dilakukannya, ia sudah mendekat dan menyentuhkan kembali bibirnya pada bibir gadis itu. Tangannya merengkuh tubuh mungil dalam balutan gaun hijau dan mendekapnya erat, sementara kedua tangan gadis itu memeluk lehernya. Dinginnya malam seolah tak dapat menembus kehangatan di antara keduanya, kala mereka berbagi apel beracun.
"Satu," ucap pemuda itu saat ia membiarkan gadis di pelukannya mengambil napas.
Masih menatapnya, gadis itu berkata, "Apakah kau menurunkan dosis racunmu?"
Menyipitkan mata, Katsuki berkata, "Tidak, dan tidak akan pernah."
Sekali lagi ia mendekat dan menghampiri bibir merah yang begitu didambakannya. Satu berubah menjadi dua, dua menjadi tiga, hingga mereka tidak tahu berapa lama apel beracun yang telah mereka habiskan. Racun yang begitu kuat telah melumpuhkan keduanya. Membuat mereka tidak menyadari bahaya yang tengah mengintai.
Jauh tanpa mereka sadari, bahaya itu tertawa dan menatap gambar yang dihasilkannya. Dikecupnya gambar yang ia hasilkan dan berkata, "Ini baru namanya berita."
.
.
.
(t.b.c)
A/N :
Cyan mode kerasukan telah diaktifkan! XD Harus saya akui saya membayangkan ini cukup lama, dan akhirnya kesampean juga di sini :D senang sekali rasanya. Aniway, saya harap Bahasa Perancisnya nggak bikin ilfil. Jujur saya cuman bermodalkan google translate berhubung saia nggak pernah belajar bahasa Perancis. Hopefully nggak salah! Mohon bantuannya untuk mengoreksi bila ternyata ngaco berat :P
Untuk upacara pertunangan mereka sendiri, berhubung saya search dan nggak ada yang sesuai dengan bayangan saya soal pertunangan mereka, akhirnya saya terpaksa mengarang rundown acara baru :P sekali lagi maapkeun , semoga nggak keberatan dengan rundown acara saya yang rada maksa
And also, berhubung belum masuk review dari chapter sebelumnya, saya ucapkan good night dan terima kasih untuk yang baru mau membaca dan akan membaca XD setelahnya mungkin saya akan keliyengan karena membayangkan lanjutannya, untuk itu dimohon dengan sangat kesabarannya :P
Akhir kata, for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.
Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!
