On previous chapter :

"Kau istri penerus Endeavor Group," tegas Yaoyarozu sambil menatapnya. "Kau tahu berapa banyak gadis yang berbaris di luar sana untuk menempati posisimu? Apa kau bisa membayangkan betapa malunya Todoroki-san bila gadis yang ia pilih tidak dapat bersikap seperti orang sekelasnya?"

"Kukira," ucap Katsuki sambil menatapnya, "aku akan melihat seorang wanita cerdas di samping Todoroki Shouto. Sepertinya wanita cantik berambut hitam yang kau sebut asisten lebih cocok untuk mengisi tempatmu."

"Alih-alih gadis itu," ucap Katsuki memotong ucapan Izuku dengan membawa seluruh perasaannya yang hancur, "aku malah melihat gadis yang kucintai berdiri di sampingnya."

"Apa yang harus kulakukan," ulang Izuku sekali lagi, "bila aku sudah menelan potongan apel beracun itu?"

.

.

.

Boku no Hero Academiaby Horikoshi Kóhei

90 daysby cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

I'm not taking any profit for this ff : )

.

.

.

Enjoy!

Chapter 18: The scandal

Day 60

Mimpi Katsuki semalam aneh sekali.

Entah bagaimana, ia menemukan gadis yang ia cintai mendekat padanya. Berbalut gaun hijau mereka mengobrol sambil berdansa bersama. Di bawah terang bulan keduanya berpelukan hingga Katsuki mengungkapkan perasaannya dengan membawa semua emosi dan penyesalan yang ditanggungnya selama ini.

Ia sudah merelakan gadis itu sebetulnya. Ia tidak lagi berharap agar gadis itu berada di sisinya. Ada seseorang yang jauh lebih baik dan takkan pernah bersikap kasar pada gadis yang ia cintai. Ia yakin pemuda lain akan membuat gadis itu lebih bahagia dibandingkan dengannya.

Tapi betapa terkejutnya ketika gadis itu justru menghampirinya. Tak pernah ia duga akan menemukan perasaan yang sama saat mereka bertatapan. Ia kira, gadis itu tak menaruh perasaan apa pun padanya. Ia tak pernah menyangka bahwa gadis itu justru memilihnya dan bukan pemuda yang menurutnya akan membahagiakan gadis itu.

Oh, tentu saja. Ini mimpi. Dalam bunga tidurnya, segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan keinginannya. Mencumbu gadis itu dan membawanya ke apartemennya juga bukan suatu hal yang tak dapat ia lakukan. Bahkan bercinta hingga keduanya jatuh terlelap pun bukan sesuatu yang mustahil. Hanya di mimpi, ia dapat melakukan semua yang ingin ia lakukan dengan gadis itu. Hanya di mimpi, gadis itu menjadi miliknya.

Karena itu sekalipun panas udara luar sudah mulai menghangatkan kamarnya, ia tak ingin segera membuka mata. Ia masih ingin berada di dalam buaian. Berharap melihat gadis itu berbaring di pelukannya dengan damai atau sekedar mengucapkan selamat pagi padanya. Andai saja sistem eksresi tubuhnya mau bersabar tentunya ia takkan bangkit dari tempat tidur. Tak perlu ia menyingkap selimut dan berjalan dengan terseok-seok menuju ke kamar mandi yang ada di samping ruangan untuk menyelesaikan urusannya sebelum kembali ke atas ranjangnya yang hangat.

Ia baru saja hendak memejamkan matanya kembali ketika kakinya menyandung sesuatu dan membuatnya nyaris terjatuh. Mengumpat, ia pun merasa jengkel karena benda yang tak seharusnya ada di lantai itu. Ia hendak melanjutkan sumpah serapahnya ketika matanya perlahan membiasakan diri dan mengamati benda itu. Awalnya ia mengira itu gorden baru walaupun ia tak ingat pernah memesan gorden untuk kamarnya. Namun setelah diperhatikan, benda itu sama sekali tak mirip gorden. Itu lebih mirip seperti...

Seketika itu juga matanya terbuka. Tergesa-gesa disambarnya celana training yang berada di tumpukan paling atas bajunya dan segera berlari keluar. Ia pun segera membuka pintu dan merasa lega saat menemukan gadis yang ia kira hanya ada dalam mimpinya. Gadis berambut hijau yang kini tengah mengutak atik mesin kopi dan tengah memanggang roti untuk sarapan.

Perlahan kakinya mendekat, hendak memastikan bahwa ini bukan mimpi. Selangkah demi selangkah hingga gadis itu menoleh. Dan Katsuki takkan pernah melupakan senyum yang ditunjukkan padanya pagi hari itu.

"Kacchan, pagi," ucapnya saat gadis itu menyadari keberadaannya. "Kuharap kau tidak keberatan aku menggunakan kausmu. Sangat repot mengenakan gaun terutama bila—"

Gadis itu tidak menyelesaikan ucapannya. Kedua tangan pemuda berambut pirang yang dipanggilnya Kacchan itu lebih dulu memeluknya dan meletakkan kepalanya di bahu gadis itu. Seolah merengkuhnya semalaman tak cukup bagi pemuda itu.

"Kacchan?" Gadis itu berusaha memanggil namanya. "Kau baik-baik saja?"

Kepala pemuda itu diangkat sejenak dan dikecupnya dahi gadis itu. Baru setelahnya ia mengamati penampilan gadis itu dan menggerakkan kepalanya. Kerutan muncul di dahinya saat ia berkata, "Baju itu favoritku. Kau harus mengembalikannya nanti."

"Eh? B-benarkah?"

Katsuki bergumam sedikit sementara kedua tangannya mengunci gadis itu di pelukannya. "Tapi karena aku suka melihatmu mengenakannya, maka kau boleh memakainya sesukamu."

"Hm? Kau suka?" Gadis itu bertanya. "Kupikir kaus ini kebesaran dan sangat longgar untukku."

"Aku suka apapun yang menunjukkan kakimu."

Sedikit pukulan pelan mendarat di bahu Katsuki. Sembari mengerucutkan bibir, gadis itu berkata dengan wajah yang memerah, "Mesum."

Katsuki mengangkat alis dan berkata, "Aku bahkan tidak mengatakan sesuatu yang menjurus. Mungkin justru kau yang pikirannya mesum, Deku."

"A-Aku tidak berpikir begitu!"

"Kau tidak bisa membohongiku, Deku," jawab Katsuki sembari mendekatkan wajahnya dan membiarkan hidungnya bersentuhan dengan gadis itu. Pandangannya tertuju pada bibir ranum si gadis dan ia nyaris saja mengecupnya tepat ketika tangan gadis itu mendorong tubuhnya, memaksanya menjauh. "Hei!"

"S-sarapan!" Gadis itu berkata dengan wajah yang semerah tomat. "Aku sudah membuatkanmu sarapan!"

Alis Katsuki terangkat mendengarnya. Sedikit terpaksa ia melepaskan pelukannya pada gadis itu dan membiarkannya berjalan ke arah meja bar sementara Katsuki menatap toaster yang sudah dinyalakan sementara gadis itu bicara.

"Aku sudah memanggang roti untuk kita berdua," ujar gadis itu sementara kepalanya celingukan mencari sesuatu. "Ngomong-ngomong di mana biasanya kau meletakkan piring dan peralatan makan yang lain?"

"Di sini," ujar Katsuki sambil berjinjit dan mengangkat salah satu pintu kabinet di lemari gantung. Pintu kabinet itu mengangkat terbuka sementara tray di dalamnya turun dan mengeluarkan piring yang dicari gadis itu. "Alat-alat makan ada di bawah kompor."

Diserahkannya piring dan diletakkan di atas meja bar di belakang gadis itu. Ia juga mengambilkan peralatan makan dan menatanya. Setelah selesai, ia mengamati gadis berambut hijau yang tampak cekatan membuatkan sarapan untuknya. Membuatnya teringat akan hari-hari yang dulu telah lama berlalu.

"Kau mau omelette atau tamagoyaki untuk makan pa—," Deku kembali menghentikan ucapan saat melihat Katsuki memandanginya. Kerutan muncul di dahinya dan ia lanjut berkata, "Kau baik-baik saja, Kacchan?"

"Aku baik-baik saja, Deku," jawab Katsuki sambil meletakkan satu tangan di atas kepala gadis itu. Kedua manik merahnya bertemu dengan manik gadis itu dan ia kembali berkata, "Tak pernah sebaik ini sebelumnya."

"Tapi—"

"Sebelumnya aku bahkan tak dapat memejamkan mata hingga pagi," ujar Katsuki sementara ia bersandar pada meja bar. "Tapi berkat seseorang, aku bahkan menghabiskan waktu lebih dari delapan jam di tempat tidur."

Kerutan di dahi gadis itu menghilang dan sebagai gantinya Deku mendekat pada Katsuki. Tangannya menyentuh wajah pemuda itu dan tak butuh waktu lama bagi pemuda itu untuk menyambutnya. Bahkan wajahnya disentuhkan pada tangan si gadis yang membuatnya sulit untuk menariknya kembali.

Selalu. Pemuda itu selalu saja membuatnya ragu untuk melakukan sesuatu. Sesaat sebelum bertemu pemuda itu, ia sudah meyakinkan dirinya bahwa ia akan menjadi tunangan yang layak bagi Todoroki Shouto. Pemuda itu sudah begitu baik dengan memberikannya tempat tinggal dan memperlakukannya dengan sangat hati-hati di saat ia tak dapat mengingat pemuda itu. Tapi inilah balasan yang ia berikan.

Ia meninggalkan masa depan yang akan diberikan Todoroki padanya. Sebagai gantinya, ia menyambut tangan yang lain. Tangan yang bahkan tidak diulurkan padanya. Tangan yang ditarik kembali darinya karena sang pemilik berharap ia hidup bahagia dengan orang lain. Tapi justru ia tak dapat mengabaikannya.

Ia tidak tahu apa-apa tentang pemuda itu, namun di suatu tempat di ingatannya, ia yakin ia memiliki perasaan besar untuk pemuda itu. Sama halnya dengan pemuda itu sendiri. Setiap kali ia memandang iris mata yang kemerahan itu, ia tahu bahwa dirinya takkan bisa semudah itu mengabaikannya. Karena itu ia tak ragu saat memilih tangannya dan meninggalkan semua. Sekalipun ia tahu jalan yang harus mereka tempuh ke depannya takkan mudah.

Mengangkat kepala, Katsuki menatap gadis di hadapannya dan menurunkan tangannya. Dilepaskannya tangan gadis itu sementara ia berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas dan mengambilkan beberapa butir telur yang ditawarkan gadis itu sebelumnya.

"Ah, biar aku saja," Deku berkata sambil menghampiri pemuda itu, "kau duduk saja, Kacchan."

"Sudahlah," jawab Katsuki sambil memecahkan salah satunya, "sudah terlanjur juga."

Berdiri di samping pemuda itu, gadis itu mengamati ketika Katsuki dengan cekatan menggoreng telur di atas wajan. Ia terpana dan berkata, "Lho! Kacchan bisa memasak?"

"Aku tidak pernah bilang tidak bisa," jawab Katsuki santai sembari menggunakan sumpit untuk membuat tamagoyaki.

Di sampingnya, Deku berseru kagum saat melihat kemahirannya. Ia pun berkata, "Kacchan benar-benar orang yang di luar perkiraanku."

"Hm? Maksudnya?"

Sembari memiringkan kepala Deku berkata, "Aku tidak mengira bahwa Kacchan tipe orang yang akan memasak atau memegang pisau di dapur. Kukira Kacchan seorang businessman yang sangat sibuk dan tidak pernah beranjak ke dapur."

Mendengus, Kacchan pun berkata, "Aku ini punya time management yang sempurna untuk mengurus diriku sendiri, Deku. Memasak itu hanya persoalan kecil."

Menggelengkan kepala, "Aku juga tidak menyangka bahwa Kacchan orang yang sombong dan kekanakan. Mina pasti kaget kalau tahu sifat aslimu seperti ini. Selama ini ia menyangka kau orang yang cool dan pendiam."

"Mina? Siapa itu?"

"Rekan kerjaku di kafe," jawab Deku sambil melipat kedua tangannya di atas meja. "Gadis berambut merah muda yang matanya hitam itu. Kacchan mungkin pernah mengobrol dengannya beberapa kali."

"Oh, rakun sialan itu," ucapnya yang lagi-lagi membuat Deku mengangkat alis. Terlebih ketika Katsuki melanjutkan, "Katakan padanya untuk tidak membuat image yang aneh-aneh tentangku."

Sekali ini alis Deku bertaut dan ia berkata, "Rakun sialan? Kacchan, namanya Mina Ashido, bukan rakun sialan."

"Rakun sialan sudah cukup bagus untuknya," gumam Katsuki sembari meletakkan tamagoyaki yang baru saja jadi di atas piring dan membawanya ke atas meja makan. Baru setelahnya ia berbalik dan duduk berhadapan dengan Izuku di depan meja.

Belum sempat ia mencicipi, gadis itu sudah lebih dulu mengambil sumpit dan menyantap tamagoyaki yang ia buat. Ia memerhatikan gadis yang tengah memejamkan mata, seolah berusaha menyesap setiap rasa dalam tamagoyaki buatannya. Sikap yang membuatnya tertawa kecil hingga gadis itu kembali membuka matanya.

"Ini enak sekali, Kacchan!" Gadis itu berkata dengan iris hijaunya yang berbinar-binar. "Aku belum pernah merasakan tamagoyaki seenak ini. Serius! Ini jauh lebih enak dari buatanku."

Berbeda dengan sebelumnya, Katsuki pura-pura memberinya tatapan terkejut dan ia berkata, "Kau bisa memasak?"

Dengan bibir berkerucut, gadis itu berkata, "Memangnya Kacchan pikir aku tidak bisa?"

"Selama ini kukira kau hanya tahu soal kopi," ujarnya. "Aku malah terkejut mendengar kau bisa memasak. Soalnya dulu kau bahkan tidak bisa menggoreng telur tanpa menghanguskannya. Makanya aku buru-buru menggantikanmu."

"Mou~ jadi itu sebabnya Kacchan langsung pamer," balas Izuku sambil mengerucutkan bibir. "Kacchan tidak tahu 'kan bahwa aku sudah banyak berkembang selama ini?"

Izuku hanya berpikir untuk membalas candaannya. Ia tidak berpikir macam-macam saat mengucapkannya. Hanya saja pemuda yang mendengarnya tak langsung menyambar ucapannya seperti sebelumnya. Ia hanya tertegun dan membuat Izuku memanggil lagi namanya. Ia khawatir.

"A-ah, ya," ujar pemuda itu. Tak terdengar lagi arogansi dan kejahilan yang sedari tadi menghiasi percakapan mereka. "Ya. Kau benar. Aku tak tahu apa pun tentangmu selama dua tahun belakangan ini."

Lagi-lagi. Izuku kembali melihat sorot mata yang seolah menahan tangis itu lagi. Memang, Katsuki baru memperlihatkannya kemarin, saat pemuda itu menyatakan perasaan padanya. Namun ekspresi itu begitu membekas di ingatannya. Ekspresi yang begitu sedih, seolah pemuda itu akan pergi jauh meninggalkannya. Hal yang tak diharapkannya ketika ia baru saja menyadari perasaannya pada pemuda itu.

"Tidak apa, Kacchan," ujar gadis itu sembari menangkupkan tangannya di atas tangan pemuda itu. "Aku akan menceritakannya padamu pelan-pelan."

Katsuki pun mengangkat kepalanya. Iris matanya yang kemerahan bertemu dengan binar kehijauan. Layaknya musim semi, binar itu menunjukkan cahaya yang sudah lama tak dilihatnya. Cahaya yang sebelumnya redup dan ia kira takkan pernah dilihatnya lagi.

"Aku juga," ucap gadis itu sembari menunduk sedikit, memutuskan pandangannya dari Katsuki, "banyak yang ingin kuketahui soal Kacchan selama dua tahun ini."

"Deku?"

"Makanan kesukaanmu, hobimu, ulang tahunmu, teman-temanmu, semua tentangmu," ujar gadis itu sebelum kembali menatapnya dengan binar yang sama. "Aku ingin mengenalmu lebih dari seorang pemuda bernama Katsuki Bakugou saja."

Kali ini Katsuki kehilangan kata-kata. Ia menatap gadis itu lagi. Tangannya bergetar dan ia malah memalingkan wajah. "Lebih baik kau tak mengetahuinya."

"Ng? Kenapa?" Deku berkata lagi.

"Dulu...," Katsuki berkata lagi dan suaranya terdengar semakin pelan seiring setiap kata yang ia ucapkan, "kau pernah bilang bahwa bersamaku memberimu rasa takut yang tiada akhir. Aku membuatmu tersiksa dan kau tidak bahagia saat bersamaku."

Tangan di dalam genggamannya terasa bergetar dan manik kemerahan itu berpaling darinya. Izuku memicingkan mata saat mendengar perkataan pemuda itu. Bertanya-tanya dalam hatinya, sungguhkah ia pernah mengatakan hal seperti itu? Sungguhkah pemuda itu adalah orang yang membuatnya merasa takut, tersiksa dan tidak bahagia?

"Sebaiknya, kau melupakannya," ujar Katsuki, "seperti sekarang."

Izuku tidak langsung menjawab. Ia menatap pemuda berambut ash blonde acak-acakan itu. Tangan yang berada di bawahnya terasa begitu dingin namun ia tak berniat melepaskannya. Sebaliknya, ia malah mengangkat tangan itu dan menyentuhkan ke dekat jantungnya. Sikapnya membuat pemuda itu mengangkat alis, bertanya-tanya.

"Mungkin itu betul," ujar gadis itu sembari membiarkan telapak tangan pemuda itu di atas jantungnya sementara ia memejamkan mata. "Mungkin benar kau membuatku takut, tersiksa, tapi aku terpaksa mengoreksi soal tidak bahagia."

"Apa?"

Manik hijaunya terbuka dan menatap Katsuki, "Apakah Katsuki tak bisa mendengarnya?"

"Apa yang—"

"Detak jantungku," ujar Deku lagi. "Bisakah Katsuki mendengarnya?"

Katsuki terdiam dan ia merasakan denyut di telapak tangannya. Denyutan yang kuat dan begitu cepat hingga membuatnya kembali mengangkat kepala, menatap manik hijau yang terpaku padanya. "Ini—"

"Aku selalu berdebar-debar seperti ini setiap melihatmu," ujar gadis itu lagi, "membuatku sesak napas, membuatku tersiksa dan membuatku takut setiap harinya."

"Deku, maka itu aku—"

"Saat bersamamu seperti ini, debaran itu semakin kencang," ujar gadis itu sembari menunduk. "Berada bersamamu, menjalani hari yang bagaikan mimpi, aku... selalu takut ini akan segera berakhir."

Manik merah Katsuki mengerjap. Ia terperangah mendengar ucapan gadis itu. Tanpa ia sadari, kakinya turun dari kursi yang ia tempati dan mendekat pada gadis itu. Menyentuhkan tangannya yang satu lagi pada wajah gadis itu dan membingkainya.

"Apakah...," gadis itu mengangkat kepala dan mendongak menatapnya, "Katsuki tidak merasakan hal yang sama?"

Tanpa menjawab, Katsuki pun mendekat. Ia menyentuhkan bibirnya pada bibir gadis itu dan mengulumnya dengan rakus. Menyesapnya hingga lidah mereka bersentuhan dan saling berpagut. Kedua tangan gadis itu sudah melingkari lehernya sementara mereka saling berebut udara.

Bukan hanya gadis itu saja yang selalu berdebar dan merasa tersiksa bagaikan membutuhkan udara. Justru selama ini, ia kira hanya dirinya seorang yang merasa seperti itu. Hanya dirinya yang menginginkan gadis yang ada di pelukannya ini. Hanya dirinya seorang yang begitu mencintai gadis ini, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran gadis itu.

Ketika akhirnya ia menarik diri, membentuk jalinan saliva, ia mendengar gadis itu berkata lagi, "Kacchan..."

Katsuki menatapnya dan ia kembali berkata, "Konyol sekali."

"Ng?"

"Kau kira, hanya kau seorang saja yang merasa berdebar begitu?"

Izuku menatapnya dan bukannya menghindar, gadis itu malah mendekat padanya. Tangannya yang melingkar di leher pemuda itu semakin erat dan berada di dekatnya membuat Izuku menyadari debaran keras yang berdebum seperti miliknya.

"Sepertinya bukan hanya aku seorang," ujar Izuku sembari menuruni kursi yang ia tempati dan berjinjit, berusaha menyamakan tinggi dengan pemuda di pelukannya, "yang berdebar sekeras ini."

"Kukira, kau sudah tahu sejak semalam," jawab pemuda itu sembari meletakkan kedua tangannya melingkari pinggang gadis itu. "Semestinya kau merasakannya saat itu."

"Kacchan juga," gadis itu kembali berkata, "aneh sekali bila Kacchan tidak menyadarinya saat itu."

Alis Katsuki terangkat dan seringainya melebar mendengar tanggapan Izuku. Kemudian ia pun berkata, "Mungkin, aku harus merasakannya lagi."


Day 61

Selembar koran diletakkan di hadapan Todoroki Shouto ketika ia datang ke kantornya pagi seperti biasa. Di halaman depan koran itu tertera foto kedua orang yang ia kenali. Yang satunya merupakan gadis yang ingin ia bahagiakan seumur hidup sementara seorang lagi—

"Foto ini ada di mana-mana," lapor wanita berambut hitam tanpa ekspresi seperti biasa. "Media sulit sekali dibungkam. Aku sudah meminta mereka untuk menghentikan beritanya tapi mereka bilang ini terlanjur terekspos publik sehingga sulit untuk menariknya kembali."

"Begitu," jawab pemuda dengan manik hetero itu. Ia mengambil koran itu dan menatap headline yang tertera di atas foto tersebut. Ini sudah kesekian kalinya ia menemukan koran dengan foto yang sama walaupun judulnya berbeda. Ia tak heran, pastilah foto ini dijual mahal di pasaran. "Kau bisa membeli fotonya, Yaoyarozu? Aku ingin hak cipta atas foto ini."

Yaoyarozu, sang wanita cantik yang merupakan sekretaris perusahaan itu memicingkan mata. Ini bukan pertama kali ia menerima pekerjaan yang lebih bersifat pribadi namun ia tetap tidak bisa tidak menyuarakan keheranannya. "Maaf?"

"Fotonya," jawab Shouto. "Aku ingin menyimpannya."

"Kau ingin—" Yaoyarozu menghentikan ucapannya. Ia kembali menatap sang atasan yang tidak menunjukkan ekspresi dan hal itu cukup untuk memicu kerutan di dahinya. Tanpa ia sadari, ia sudah berkata, "Todoroki-san, saya mengerti bahwa foto ini tidak bagus untuk kelangsungan perusahaan, tapi sampai sengaja menyimpannya— maksud saya, untuk apa Anda menyimpan foto seperti ini?"

Pertanyaan sang sekretaris dibiarkan menggantung begitu saja. Shouto tetap bungkam sementara kedua manik heteronya menatap foto yang terpampang di hadapannya. Bila sang sekretaris berharap akan melihat perubahan ekspresi, maka ia salah besar. Wajah pokerface Shouto sukses membuat sang sekretaris bingung. Ia tidak mengerti mengapa Todoroki-san tidak menunjukkan ekspresi apa pun ketika melihat tunangannya direbut orang.

"Apakah... Anda ingin saya menelepon Bakugou-san?" Yaoyarozu bertanya hati-hati.

Kepala Shouto terangkat dan sekilas Yaoyarozu dapat menangkap keheranan di wajahnya. Terlebih saat ia berkata, "Untuk?"

"Untuk—," Yaoyarozu menatap sang atasan. Ia hanya menemukan rasa ingin tahu semata, tak ada emosi di sana. Untuk itu, ia memberanikan diri berkata, "Mengklarifikasi perihal berita ini. Kupikir ia pasti bisa diajak bicara dan mengembalikan Midoriya-san."

Di luar dugaan, Shouto menggelengkan kepala. Ia mengambil koran yang menunjukkan foto gadis yang dikasihinya itu dan berkata, "Tidak perlu, Yaoyarozu. Biarkan saja."

"Tapi—"

"Kau hanya akan menyakiti Izuku dengan melakukannya," ucap Shouto sambil menatap koran di hadapannya. "Jangan lakukan itu!"

Sekali ini Yaoyarozu terdiam. Ia mungkin sudah kelewatan. Kepalanya ditundukkan dan ia berkata, "Anda benar. Maafkan saya karena terlalu ikut campur, Todoroki-san!"

Todoroki bahkan tak menggubris permintaan maafnya. Ia menatap foto itu dan berkata, "Mungkin ini yang terbaik untukku."

"Ng?"

"Setiap malam aku selalu takut bila ia terbangun dan mendapatkan ingatannya kembali," ujar Shouto sambil menatap foto itu. "Aku takut ia akan menanyakan mengapa akulah suaminya dan bukan pemuda itu. Mimpi buruk itu terus menghantuiku belakangan ini."

Yaoyarozu menatapnya dan ia mengerutkan dahi. Ini hal yang baru baginya. "Maaf, saya tidak mengerti maksud Anda, Todoroki-san."

Lagi-lagi Shouto memutuskan untuk bungkam. Setelah meninggalkan petunjuk yang hanya setengah ia kembali termenung dan menatap foto yang ada di tangannya. Gadis yang ia cintai tengah mengecup pria lain dengan begitu mesra. Kecupan yang takkan pernah Shouto dapatkan bagaimana pun usahanya untuk mendapatkan hati gadis itu. Sejak awal, gadis itu sudah menetapkan pilihannya. Kehilangan ingatan pun takkan pernah menjadi alasan. Tidak juga hal itu.

Layaknya kutub magnet, pemuda itu adalah kutub selatan dan Izuku adalah kutub utara. Mau sejauh apa pun ia memisahkan keduanya, Izuku takkan pernah berpaling pada kutub yang lain. Ia yang paling tahu dibanding siapapun.

Hanya saja, ia berharap betapapun tipis dan mustahilnya kemungkinan itu. Bahkan ia rela menggunakan segala cara agar gadis itu berpaling padanya. Hanya gadis itu tetap sama. Sekalipun cincin dengan namanya sudah melingkar di jari manis gadis itu dan membuat siapapun salah paham.

"Todoroki-san?"

Suara Yaoyarozu kembali menyadarkannya dari lamunan. Shouto kembali menatap sang sekretaris dan ia meminta maaf telah mengabaikan wanita itu. Sekali ini ia meletakkan koran ke samping dan kembali berkata, "Maaf, lupakan saja yang kukatakan."

Wanita dengan rambut hitam itu tidak mengiyakan. Ia tetap diam sembari mengamati atasannya. Menunggu sang atasan menggumamkan perintah baru untuknya.

"Cukup hentikan saja media dan beli fotonya," ucap Todoroki akhirnya. "Lakukan sesuatu untuk menghentikan penyebarannya."

Tanpa banyak bicara, Yaoyarozu mengiyakan perintah sang atasan. Ia pun tak berkata apa pun lagi dan undur diri dari ruangan Shouto untuk kembali ke mejanya. Ketika ia sudah duduk di tempatnya, barulah ia memikirkan ucapan sang atasan.

Baginya itu aneh.

Sejak sebelum kehilangan ingatan pun Midoriya-san sudah bertunangan dengan Todoroki-san. Mereka sudah memiliki hubungan spesial dan berjanji akan menikah tiga bulan setelah Todoroki pindah ke San Fransisco kemudian pindah untuk tinggal bersama dengan Todoroki-san. Ia tahu itu karena ia diminta membelikan cincin untuk mereka berdua dengan inisial nama masing-masing di balik cincin tersebut.

Tapi memang saat itu ia merasa aneh. Mereka menikah tapi Todoroki-san tidak pernah membahas soal honeymoon atau rencana pernikahan. Hanya cincin saja yang diminta untuk dibelikan saat itu dan tidak ada rencana gedung atau apa pun. Perihal itu baru diungkapkan belakangan, setelah kedatangan Todoroki-san ke Jepang. Sebelumnya sama sekali tidak ada pembicaraan apa pun.

Apakah jangan-jangan... Todoroki-san tidak berniat menikah dengan Midoriya-san? Tapi kalau memang begitu, kenapa Todoroki-san mengiyakan perihal pertunangan ini? Mereka bahkan mengundang para relasi bisnis penting, tapi ini balasan yang diberikan Midoriya-san. Apakah Todoroki-san juga sudah menduga hal ini?

Sungguh! Yaoyarozu benar-benar tidak mengerti jalan pikiran atasannya. Ia ingin bertanya tapi Todoroki-san sepertinya tak ingin mengatakan apa pun. Satu-satunya petunjuk yang ia berikan hanya ketakutannya bahwa Midoriya-san akan pulih dari amnesia. Kalau memang benar demikian berarti ingatan Midoriya-san lah yang menjadi kunci atas semua pertanyaannya. Ketika ingatan gadis itu kembali semuanya akan terjawab.

Kalau demikian sudah jelas yang harus Yaoyarozu lakukan. Mendiamkan media sudah pasti, tapi ia juga perlu melakukan beberapa pekerjaan sampingan. Seperti misalnya, menghubungi seorang yang lebih ahli untuk mengembalikan ingatan seseorang.


Day 62

"Sudah berapa lama sejak kau memegangi koran itu terus, Tomura," ujar pria berkulit hitam dengan rambut ikal hitam layaknya asap itu. "Aku tahu, berita besar memang, tapi kau tidak perlu menunjukkan ketertarikanmu sampai seperti itu."

Pemuda berkulit pucat dengan rambut biru muda terang nyaris pucat itu mengangkat kepalanya dari balik koran yang ia pegang. Manik merahnya menatap sang manajer yang baru saja bicara padanya sebelum berbalik mengamati koran dengan tajuk 'Skandal pewaris Endeavor' Senyumnya mengembang sebelum ia berkata, "Bagaimana mungkin aku tidak tertarik, Kurogiri? Kau 'kan paling tahu apa yang membuatku tertarik selama ini."

"Tomura..."

"Aku ini sebetulnya sedikit sister-complex," ucap pemuda itu sambil mencengkeram koran yang ia pegang, "makanya aku selalu penasaran dengan siapa saja adikku tersayang berhubungan."

"Tomura!"

"Adik kesayangan," gumam pemuda itu sambil mencengkeram korannya, "yang takkan kuserahkan pada siapa pun."

Sekali lagi Kurogiri mendesah dan ia berkata, "Tomura! Aku tidak mau mengatakan ini, tapi terakhir kali kau berhubungan dengan adikmu, kau—"

"Aku tidak pernah menyangka bahwa ia akan kembali pada pemuda ini," ucap Tomura sambil mencengkeram foto pemuda berambut pirang pucat yang sudah lama dikenalnya. "Sudah kukatakan aku akan menyingkirkannya bila Adikku masih keras kepala. Tapi sepertinya adikku sulit diberitahu."

"Tomura," Kurogiri berkata pelan-pelan, "aku tidak mau kau melakukan sesuatu yang membahayakan karirmu. Aku nyaris kesulitan menutupi skandal terakhir dan kalau bukan karena campur tangan Endeavor Group maka aku—"

Tomura hanya tertawa mendengar ucapannya. Ia menatap koran di tangannya sebelum merobeknya menjadi dua bagian, memisahkan pemuda dan pemudi di gambar nyaris pas. Satu tangannya memegangi bagian yang memuat gambar Izuku semata sementara gambar yang satu lagi dibuang tanpa dilihat kembali.

"Izuku," ucapnya sambil menatap foto tersebut, "adikku tersayang, Izuku."

Kurogiri menghela napas. Ia tahu bahwa Tomura tidak akan mendengarkan perkataannya. Ia baru saja hendak mengucapkan hal lain sebelum aktor dan aktris yang lain masuk. Dua orang yang juga sangat dekat dengan Shigaraki Tomura.

"Kau sudah lihat beritanya, Kurogiri?" Gadis berambut pirang yang dikuncir dua itu masuk dan langsung menginvasi sofa tempat Tomura berdiam. "Lho, Shiggy! Aku belum membaca korannya! Jangan dirobek begitu!"

"Berisik, Toga!" Shigaraki Tomura berkata. Ia menggunakan kakinya untuk menyingkirkan gadis itu. Hanya saja sepertinya gadis itu tidak peka dan malah semakin mendekat pada artis papan atas tersebut. "Minggir!"

"Aku juga mau baca!" Toga protes. Pandangan matanya tertuju pada robekan dan ia menjerit melihatnya. "Astaga, Shiggy! Kenapa kau robek foto Katsuki-kun? Padahal aku suka sekali padanya."

Kurogiri tak dapat menyembunyikan keheranannya, namun Shigaraki tak terlalu tertarik. Ia tetap bersikap cuek sehingga aktor yang baru masuk itu yang membantu menjelaskan. Aktor yang berambut hitam dengan manik biru terang itu pun berkata, "Toga menjerit saat melihat tayangannya di TV dan dalam sekejap ia langsung jatuh cinta pada pemuda itu."

"Katsuki-kun keren sekali," gumam gadis itu sembari memegangi wajahnya. "Rambut pirang pucatnya, matanya yang semerah darah, membuatku merinding. Aku yakin ini pasti tanda-tanda cinta."

Pria yang merupakan manajer dari ketiga aktris dan aktor itu menunjukkan ekspresi tidak percaya mendengar penuturan Toga. Padanya ia berkata, "Astaga, Toga! Jangan sampai kau juga! Aku tidak mau mengurus skandalmu juga kali ini."

"Aku tidak berbuat apa-apa," protes Toga sembari mengerucutkan bibir. "Aku hanya berkata bahwa Katsuki-kun keren sekali."

"Kau juga mengatakan itu pada pemuda yang kau temui sebelumnya," balas Kurogiri, "dan mereka berakhir menjadi mayat dengan setumpuk skandal yang harus kubereskan. Kuharap kau tidak memberiku kesulitan kali ini."

"Aku tidak begitu," balas Toga, "Katsuki-kun benar-benar berbeda. Dia tidak seperti yang lain."

Mendengarnya, pemuda yang terakhir masuk tertawa kecil yang membuat perhatian ketiganya tertuju padanya. Menyadari hal itu, pemuda dengan kantung mata tebal dan manik sejernih lautan itu pun berkata, "Barusan kau bilang bahwa kau ingin melumuri rambut pirang pucatnya dengan warna merah. Kau juga bilang manik merahnya sangat cantik dan ingin mengoleksinya."

"A—"

"Toga!"

"Dabi, kau pengkhianat!" Toga berkata dengan geram. "Aku tidak akan mengatakan apa pun padamu lagi."

"Astaga!" Kurogiri berkata dengan putus asa. "Shigaraki! Toga! Tidak bisakah kalian bersikap normal barang sekali saja? Aku yang akan kerepotan mengurus skandal-skandal kalian."

Mendengarnya, Toga mencibir sementara Shigaraki tidak menggubrisnya sama sekali. Hanya Dabi yang masih mau mendengarkan dan berkata, "Tenang saja, Kurogiri! Kurasa mereka berdua tidak serius, apalagi Toga. Ia hanya mencari mainan baru."

"Sok tahu sekali, Dabi!" Toga balas berkata. "Aku serius menyukai Katsuki-kun. Tapi di sampingnya sudah ada Izu-chan." Gadis itu melirik sebentar pada Shigaraki dan berkata, "Eh, bukannya Shiggy menyukai Izu-chan?"

Mendengar nama panggilannya disebut, Shigaraki pun mengangkat kepala. Ia menatap aktris satu agensinya itu dan berkata, "Apa yang kau inginkan, Toga?"

"Begini," ucap gadis itu sambil mendekat pada Tomura, "aku hendak menawarkan kerja-sama."

"Aku tidak tertarik."

"Yang benar?" Toga berkata sambil terkikik pelan. "Padahal aku hendak menawarkan untuk menyingkirkan Katsuki-kun untukmu. Tapi berhubung kau tidak tertarik, aku tidak jadi melakukannya."

"Menyingkirkannya?"

"Oh, kau tertarik?" Toga kembali berkata begitu mendengar suara Tomura. "Betul, aku akan menyingkirkan Katsuki-kun untukmu, sementara kau menyingkirkan Izu-chan untukku. Bagaimana kedengarannya?"

Tomura memicingkan mata namun ia mempertimbangkan usul Toga. Ia menatap gadis itu sebelum akhirnya berkata, "Jelaskan!"

Ucapannya membuat Toga melebarkan senyumannya sementara Kurogiri hanya bisa menepuk jidat. Pasrah. Kelihatannya ia harus mengurus skandal baru yang akan melibatkan kedua aktor dan aktris agensinya.

"Jadi begini—"

.

.

.

(t.b.c)


A.N:

Sebelumnya, saya ucapkan dulu 'Selamat Hari Kemerdekaan!" Pas banget saya kembali update di tanggal 17 ini.

Saya tahu, ini sudah tahun keberapa, tapi...akhirnya saya kembali lagi ke sini. Terima kasih buat yang sudah menantikan tulisan saya meskipun saya sempat hiatus dan macam-macam hal (sempet kebawa suasana dll sampai lupa lanjutin yang ini). Mohon doanya semoga kali ini saya bisa lanjutin sampai akhir.

Untuk :

melecit :makasih banget uda review dengan bersemangat. Setelah 2 tahun lebih akhirnya saya bisa bales lagi reviewnya XD sama, saya juga jerit-jerit sama Bang Katsuki yang entah gimana bisa kayak begitu (serius bingung), termasuk kasih clue soal apel beracun ke Izuku. uwu

Betul sekali, selama janur kuning belum melengkung pasti dikejer terus, malah kalo pepatah temen selama bendera kuning belum berkibar masih ada kesempatan. Tapi sepertinya Abang baik hati, Bang Dispenser memilih mundur. Ya sudah, sama saya aja Bang, saya mau kok XD (ditimpuk fans Bang Dispenser)

Dan siapa yang moto, hm, pertanyaan bagus, kira-kira kapan bakal diungkap ya. Semoga di akhir nanti semuanya jelas apa dan siapa dan kenapa. Meskipun kayaknya di sini sudah ada beberapa klu setengahnya :P

Amin juga Melecit, semoga selalu dilancarkan juga rezeki dan dimudahkan semuanya, maaf juga kalau ada salah dan menyinggung buat balasan reviewnya . Dan semoga masih tetep setia di fandom BnHa ini XD

Dianzu : gapapa Dianzu, haha, salam kenal, saya Cyan, makasih selalu baca storynya

Fujoshi desu XD : semoga partner in crime sy yang satu ini masih bertahan di fandom BnHA, finally akhirnya kulanjut lagi :P Bad apple? Wuih, ku jadi penasaran sama lagunya Fujocchi. Boleh bagi-bagi *uhuk* linknya *uhuk*

Arisa-chan : makasih untuk reviewnya Arisa-chan dan maaf saya baru balas sekarang, dan maaf juga karena sempet bikin kokoro mu berantakan XD vFinally, kita tahu ke mana hati sang Putri tertambat, walaupun sepertinya buat sang putri lebih kayak makan apel beracun dari sang penyihir. Putri Salju yang satu ini kayaknya nggak rakus juga, uda dikasih satu malah minta lagi apelnya dari si penyihir :P

Dan siapa itu yang ganggu? Hm, meskipun belum semuanya, tapi kita tahu ada beberapa orang yang berniat mengganggu kebahagiaan dua orang yang lagi kasmaran itu. Semoga aja, mereka bisa lewatin, apapun konsekuensinya. :P

Votiel : makasih untuk reviewnya XD maaf baru bisa balas di tahun ini

Memang kesannya Izuku seolah mempermainkan Bang Dispenser, ya, dan banyak kali ini anak kehilangan ingatan padahal masih dua puluh lima tahun. Lebih-lebih dibandingin orang yang uda pikun XD Tapi kayaknya, pesona badboy nya Kacchan emang susah ditolak. Mungkin bener, sebagian wanita bakal lebih suka badboy dibanding cowo yang serius :P

Dan siapa itu yang ngintip? Kita masih penasaran XD semoga selanjutnya kita tau siapa dalang dan apa alasannya.

Shin Aoi : Ao-chan apa kabar? Maaf juga baru bisa bales review ini setelah sekian lama. Makasih juga sudah mengapresiasi panggilan kesayangan buat sexy sugar daddy 'Bakazawa' :P sama, saya juga yakin Katsuki bakal dililit kalo beranni-beraninya bilang gitu di animenya XD

Betul,Bang Shiggy itu aktor, tapi apa persisnya filmnya, saya sendiri belum tentuin, mungkin Ao-chan ada usul film-film macem apa yang bikin Shiggy seterkenal babehnya XD

Iya, Ao-chan! Sy juga suka sama Papi Enji yang misterius. Beda sama di anime, sepertinya si Papi lebih sabar menghadapi anaknya di sini. Coba kalau di anime, bisa nambah luka bakar babak dua si anak berani gituin papinya

LOL, sepertinya Ao bener-bener harus banting setir kali ini XD apalagi keliatannya sang Putri uda nelen apel beracun dari penyihir :D

Iya, disini Dadzawa emang kayak Babehnya Kacchan, berhubng Papa Masaru nggak ada, jadinya peran Papa diambil sama Dadzawa. Cuman dia yang berani bilangin Kacchan buat hadapi, sementara anaknya sendiri mungkin bakal milih menghindar.

Tapi juga, mungkin berkat itu, makanya Kacchan bisa seperti sekarang. Walaupun kita nggak tau apa yang terjadi ke depannya, termasuk sama foto-foto skandal itu T^T

Hikaru Rikou :Hikacchi apa kabar? Maaf baru bisa balas reviewnya setelah 2 tahun, pasti sudah lulus SBMPTN dan sudah jadi mahasiswa/mahasiswi sekarang, semoga sukses selalu belajarnya dan tetap dukung fandom BnHA (XD)

Mungkin, mungkin saat itu ada yang naruh bawang Hikacchi, makanya jadi sedih dan berasa atit :D atau mungkin... mungkin ya, Hikacchi juga makan apel beracun yang ditawarin buat Izuku? Waduh! Gawat itu!

Hem, berhubung Kacchan ama Deku masih sibuk berduaan di apartemen mungkin mereka nggak tau bahwa skandal mereka uda menyebar. Tapi Bang Dispenser yang baik bilang mau menghentikan media. Cuman... entahlah...

Arisa Ezakiya : makasih reviewnya Arisa-chan, maaf baru bisa saya balas, dan kembali tanggung jawab buat menamatkan itu saya ambil lagi :D

Makasih uda nungguin ceritanya, dan sama, saya juga suka banget sama kedua pair ini, masih sampai hari ini nyariin fic dan doujin mereka, apalagi di twitter saya lagi bertebaran soal 'Be my cane' ala Kacchan yang entah kenapa kayak pernyataan :D

shiraishi connan: salam kenal Shiraishi, makasih uda sempet review dan maaf baru saya balas setelah 2 tahun ini XD

Semoga Deku segera ingat kembali walaupun mungkin pas inget, entah apa yang akan terjadi sama hubungan mereka...

Iya, kasihan sebetulnya mereka bertiga, dan seperti kata Shiraishi, mungkin yang paling kasihan itu Deku. Tapi apa boleh buat, nasib protagonis memang selalu menderita :p

yohey57 : makasih yohey-san, maaf saya baru bisa balas setelah dua tahun, semoga masih suka sama cerita ini :D

alienmarz : salam kenal alienmarz, makasih banyak uda sempet review ceritanya dan maaf baru saya balas sekarang :D

iya, hubungan mereka berdua emang kayak apel beracun, saling ngeracunin satu sama lain, tapi semoga racunnya tetep baik buat kesehatan mereka berdua

Guest : halo, salam kenal sebelumnya, saya harap ini Guest adalah orang yang sama, jadi saya balas sekaligus ya

Percakapan mereka sambil dansa memang mengalir begitu aja, kebayang banget Kacchan dewasa yang super jail sementara Deku gampang digodain :D

Di prologue awal memang niatnya bikin drama angsa-angsa, tapi belakangan ini saya baru sadar, kenapa ini lebih banyak misterinya dibanding angsanya, hmmm, jadi akhirnya saya fokus di dramanya aja dibanding angsanya :D

Makasih, saya juga suka banget adegan pas mereka dansa di balkon, meskipun sempet ketangkep kamera dan akhirnya jadi skandal. UWU semoga mereka baik-baik aja setelah mengurung diri di apartemen.

Dan, makasih juga uda menunggu, saat ini saya coba lanjutin lagi, mohon doanya semoga lancar terus sampai tamat XD

Akhir kata, for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!