Boku no Hero Academiaby Horikoshi Kóhei

90 daysby cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

I'm not taking any profit for this ff : )


Enjoy!

Chapter 19 : The King's Belonging

Day 67

Alarm yang berbunyi mengawali hari membuat kedua kelopak mata Izuku berkedut. Beberapa detik berlalu, alarm itu masih saja berbunyi hingga Izuku mencoba mengulurkan tangan, melakukan sesuatu untuk menghentikan suaranya. Hanya saja, seseorang lebih dulu melakukannya dengan menyentuhkan tangannya dan seketika itu pula suara bising itu pun terhenti.

Izuku pikir, ia masih bisa melanjutkan tidurnya setelah suara bising itu menghilang. Hanya ia lupa bahwa ia tak lagi sendirian di atas ranjang. Seseorang di sampingnya sudah lebih dulu bergerak. Membuat selimut yang melingkupi tubuhnya tersingkap sementara sebuah kecupan yang lembut disentuhkan pada dahinya.

Memaksakan diri, Izuku pun membuka mata. Pandangannya bertemu dengan manik merah memesona ditambah senyum lembut di wajah. Melihatnya, ia pun mengerjap pelan sebelum mendekat dan meringkuk di dadanya yang bidang dan kecokelatan.

"Lima menit lagi," ujarnya sembari melingkarkan tangannya memeluk pemuda itu. "Kacchan."

"Bagaimana ya," kata pemuda itu sembari menariknya dari ranjang, "Rambut sialan itu benar-benar akan marah padaku bila aku tidak berangkat kerja lagi hari ini."

Sedikit enggan, Izuku terpaksa mengangkat kepala dan membuat Kacchan menyentuh hidungnya untuk membuatnya sadar. Ia tahu siapa 'Rambut Sialan' yang dimaksud Kacchan-nya. Kemarin ia tak sengaja mendengar percakapan sengit mereka di telepon dan akhirnya mengerti kondisi yang tengah terjadi.

"Apa sebanyak itu dokumen yang ada di ruang kerjamu, Kacchan?" Izuku akhirnya bertanya sembari melepaskan pelukan. Menguap sedikit, ia pun beranjak turun dari ranjang. Dengan kaus bergambar tengkorak milik Kacchan menuruni bahu, ia pun mengangkat tangan, merenggangkan badan. "Sepertinya Kirishima-kun sangat kewalahan saat mendengar suaranya di telepon."

"Rambut sialan itu hanya melebih-lebihkan saja," jawab Katsuki sembari mengikutinya keluar kamar. Berjalan ke kamar mandi, keduanya mengambil sikat dan mulai menggosok gigi. Sekuat tenaga ia menyikat seperti hendak menghabisi semua bakteri di giginya. Di sampingnya, Izuku menggerakkan tangan sembari terkantuk-kantuk. "Seharusnya kubunuh saja bawahan cerewet seperti itu."

Meski terlihat setengah sadar Deku masih sanggup menyenggol pemuda di sampingnya. Ia membuang ludah dan berkumur sebelum membalas perkataannya. "Jangan begitu, Kirishima-kun pasti sudah sangat terdesak!"

Menggelengkan kepala Katsuki berkumur dan membuang ludahnya. Setelah mencuci mulutnya ia pun berkata, "Kau membela orang yang salah, Deku!"

"Maksudnya?" Deku berkata sambil memiringkan kepala, mengikuti Katsuki keluar dari kamar mandi. Tanpa menjawab, Katsuki beranjak ke kamar sementara Deku mengangkat alis. Ia memutuskan untuk mengangkat bahu dan tak mengambil pusing ucapan Katsuki. Diambilnya roti yang ada di dalam kulkas dan dipanggangnya di atas toaster sementara ia mulai membuat kopi.

Beberapa menit pun berlalu dan aroma kopi mulai memenuhi ruangan. Kali ini ia tidak lagi kesulitan menemukan peralatan makan, tak seperti kali pertama ia membuat makanan di apartemen Katsuki. Dengan mudah ia menemukan cangkir juga piring-piring yang sering mereka gunakan dan menyajikannya di atas meja. Begitu Katsuki keluar, ia sudah di depan meja makan dan menunggu pemuda itu untuk bergabung menikmati sarapan.

Tanpa banyak bicara, Katsuki mengambil roti yang dihidangkan untuknya itu. Ia melahapnya sementara pandangan matanya tertuju ke depan, pada gadis yang juga tengah balas menatapnya. "Ada sesuatu di wajahku, Deku?"

Sembari menurunkan cangkir kopi yang tengah dipegangnya, Izuku mengerjap dan berkata, "Tidak ada."

Mengangkat alisnya Katsuki kembali berkata, "Oh?"

"Hanya kupikir, Kacchan berbeda sekali saat di rumah dan di kantor," jawab gadis itu sementara pandangan matanya tak terlepas dari pemuda di hadapannya. "Melihat Kacchan seperti ini, pasti mereka tidak akan menyangka Kacchan orang yang sinis dan mesum."

"Kenapa menurutmu aku ini sinis dan mesum?"

"Memangnya tidak?"

Memicingkan mata, Katsuki akhirnya berkata, "Mungkin sedikit."

Memutar bola mata, Izuku tampak jelas tidak memercayai perkataannya. Meski demikian ia tersenyum pada pemuda itu dan kembali menyeruput isi cangkir miliknya. Ia menikmatinya sesaat sebelum menurunkan kembali cangkir itu. Kali ini giliran Katsuki yang tengah menatapnya cukup lama hingga ia memiringkan kepala. "Ada apa?"

"Setelah kupikir-pikir, aku tidak punya nomor handphonemu," jawab Katsuki sambil menatapnya serius. "Dan selama ini, aku juga tidak pernah melihatmu menggunakannya."

"Oh," Izuku bergumam kecil sebelum menundukkan kepala, "itu.. tertinggal di tasku. Mungkin, sekretaris Shouto yang membawanya."

Katsuki menatapnya lama sekali sebelum ia mengulurkan tangan dan menyentuhkannya pada rambut Izuku. Ia membuat gadis itu kembali mendongak dan menatapnya bingung. Namun ia hanya berkata, "Di laciku ada handphone cadangan dan nomor lama yang tidak kugunakan. Pakai saja itu."

"Ng, tapi..."

"Aku akan membutuhkannya untuk menghubungimu nanti," ujar Katsuki sekali lagi sembari beranjak. "Kau pasti takkan suka kalau berdiam terus di sini, bukan?"

"Ng, ya, tapi kautahu—," Izuku kembali menundukkan kepala, "tidak ada tempat yang dapat kukunjungi saat ini."

Sekali ini Katsuki menghentikan langkah dan menoleh. Ucapannya membuat Katsuki bungkam selama sesaat. Skandal dan juga foto-foto soal mereka sudah menyebar melalui media hanya dalam waktu satu minggu. Meskipun Endeavor Group sudah menarik semua video maupun koran yang beredar, tetap saja wajah mereka sudah terlanjur terkenal. Baginya bukan masalah karena ia memang tak pernah mendengarkan omongan orang lain. Tapi berbeda dengan Izuku. Izuku bukan orang yang dapat mengabaikan ucapan orang lain sepertinya.

Menghela napas, Katsuki pun mendorong pintu kamar dan membuka laci teratas di meja kerja. Diambilnya handphone lama miliknya sebelum kembali keluar. Benda itu diletakkannya di atas meja makan sementara ia berkata, "Ini. Kau bisa menggunakannya dulu."

Handphone berwarna hitam yang diberikan Katsuki tampak masih cukup baik dan modelnya juga bukan tipe yang terlalu kuno. Memang baterainya tidak menyala saat Izuku mencoba mengaktifkannya, namun ia rasa handphone ini masih cukup bagus meski ada sedikit retak di bagian atasnya.

Ia mengucapkan terima kasih saat Katsuki memberikan charger. Dicarinya colokan listrik terdekat sebelum ditinggalkannya kembali ke meja makan. Duduk di tempatnya semula, Izuku mengambil cangkir kopi dan menyesap isinya sementara Katsuki menghabiskan makanannya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, keduanya menghabiskan waktu sesaat di meja makan sebelum Katsuki kembali beranjak.

"Aku berangkat dulu kalau begitu," ujar pemuda itu sembari mengambil kunci mobil. Ia menunjuk ke arah meja tamu tempat handphone lamanya berada dan berkata, "Jangan lupa diaktifkan nanti!"

"Aku tahu!" Izuku berkata, "Kacchan pergilah!"

Didekatinya gadis yang masih duduk di dekat meja makan itu. Tanpa banyak bicara, ia menyentilkan telunjuknya ke dahi gadis itu, membuatnya mengernyit pelan. Walau demikian, sebelum Izuku sempat protes, ia menunduk dan mengecupnya pelan.

"Sampai nanti!" Ia menyunggingkan cengiran sembari menarik diri, meninggalkan Izuku yang hanya bisa ternganga sembari menyentuh dahi.

Mengendarai mobil, Katsuki pun berangkat ke kantornya. Sesampainya di ruangan, ia sediki terkejut melihat atasan juga bawahannya yang cerewet sudah mengambil tempat masing-masing. Bila sang atasan memilih sofa kulit, bawahannya memilih untuk duduk di kursi tepat di hadapan meja. Keduanya tengah sibuk dengan ponsel masing-masing dan baru menurunkannya saat melihatnya masuk ke dalam ruangan.

"Datang juga," gumam sang atasan sembari menurunkan kaki dari sofa. Irisnya yang gelap mengikuti Katsuki hingga ia menempati kursinya. Baru saat itu ia berkata, "Sudah cukup honeymoon- nya?"

Tanpa mengalihkan perhatian dari laptop di meja, ia berkata, "Honeymoon? Apa yang kau bicarakan, Bakazawa? Masih pagi sudah sakit mental. Kau juga, Rambut Sialan?"

"Aku bahkan belum mengatakan apa pun," gumam Kirishima sembari menggeleng. Ia menatap atasannya cukup lama, mengamati gerak-geriknya hingga yang bersangkutan akhirnya mengalihkan pandangan dari laptop. Ketika pandangan mereka bertemu barulah Kirishima berkata, "Bagaimana kabar Midoriya-san?"

"Baik," jawab Katsuki simpel. Mengernyitkan alis, ia menatap atasan juga bawahannya bergantian sebelum berkata, "Bukannya kalian bilang bahwa kita sangat sangat sibuk? Kenapa kalian tidak segera angkat kaki?"

Kirishima sudah membuka mulut namun Aizawa lebih dulu mengomentari. Ia berkata, "Memang, hanya saja kami juga menuntut kejelasan, terlebih setengahnya aku cukup bertanggung jawab karena memintamu datang ke pesta pertunangan mereka."

Pandangan Katsuki kembali terarah padanya, "Memangnya ada yang perlu kujelaskan? Kau sendiri yang memintaku menyelesaikannya karena katamu dia berhak untuk tahu. Aku hanya menjalankannya sesuai instruksimu!"

Menggaruk-garuk kepala, Aizawa kembali berkata, "Yah, masalahnya kupikir kau akan ditolak. Aku sendiri tak menyangka bahwa kau justru akan menculik tunangan orang lain dan menyekapnya."

"Aku tidak menyekap—"

"Setidaknya itu yang membedakannya dengan penculikan dua bulan lalu," Kirishima memotong ucapannya. Bawahannya itu menghela napas sebelum berkata, "Meski demikian, kulihat saran Aizawa-san berdampak positif untukmu, Bakugou."

Katsuki tidak menyahut atau mengiyakan. Ia hanya menggumam pelan sementara Kirishima lanjut berkata, "Setelah ini apa rencanamu?"

"Hm?"

"Kau sudah merebut Midoriya-san dari tunangannya, memang ini bukan pertama kalinya, tapi apa kau sudah memikirkan konsekuensinya?" Kirishima kembali berkata dengan serius. "Kalau kau baca komentar di internet tentangnya, mereka benar-benar mendeskripsikan Midoriya sebagai pelacur. Dengan begitu, sekalipun kau mau, kau tidak bisa mengembalikannya pada Todoro—"

"Siapa," gumam Katsuki sembari mengangkat kepala, "yang mengembalikan siapa?"

Kirishima menatapnya sebelum menjawab, "Waktu itu bukannya kau juga mengembalikannya? Kalau kau mengulangi pola yang sama, kau tidak bisa—"

"Kau lupa, Rambut Sialan!" Katsuki berkata lagi. "Sedari awal, Izuku itu milikku, bukan milik Todoroki Shouto. Yang kulakukan hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku."

"Ucap seseorang yang sebelumnya menolak keras untuk bertemu dengannya," gumam Aizawa saat mendengar komentar bawahannya itu. Sang atasan mengambil tempat di samping Kirishima dan ia kembali berkata, "Lihat sekarang, ucapan terima kasih juga tidak ada, tapi dengan arogan kau berani mengakui bahwa dia milikmu!"

Alis Katsuki menukik tajam, hendak mengatakan bahwa semua ini bukan karena atasannya. Memang dorongan dari atasannya lah yang membuat Izuku kembali padanya, tapi bukankah semua itu karena Izuku sendiri yang memutuskan untuk kembali? Bukan karena atasan, bukan karena dirinya, tapi karena keputusan gadis itu sendiri?

"Aku mengerti, Aizawa-san," ujar Kirishima yang selalu berusaha menengahi pertikaian kedua atasannya itu. Ia menepuk jas hitam yang dikenakan pria itu sebelum kembali beralih pada atasannya yang lain dan berkata, "Bakugou, terserah apa pun pendapatmu, lagipula kau juga tidak punya reputasi yang bagus untuk dibanggakan. Hanya saja kami mengkhawatirkan soal Midoriya."

"Apa urusannya dengan kalian?"

"Kalau sampai ia tidak tahan dengan komentar negatif dan melakukan sesuatu yang berbahaya, bukannya akan berdampak juga padamu?" Kirishima kembali berkata. "Bagaimana kalau sampai ia meninggalkanmu lagi seperti dulu? Bukankah kau yang akan menderita?"

Katsuki memandangi bawahannya sebelum beralih pada bingkai foto yang entah sejak kapan ada di mejanya lagi. Foto seorang gadis berambut hijau dengan topi lebar dan diambil diam-diam itu kembali bertengger di mejanya. Padahal sudah lama sejak ia berhenti memajang foto itu di atas meja.

"Kalau memang itu keinginannya," ujar Katsuki pelan.

Kirishima mengerjap pelan. "Apa maksudmu?"

"Kalau ia sudah memutuskan untuk pergi, percuma saja kutahan-tahan" jawab Katsuki sembari memandangi foto yang ada di atas mejanya. "Mau milikku atau bukan."

Sesaat Kirishima dan Aizawa hanya bisa terdiam saat mendengar ucapannya. Sebelum akhirnya salah satu dari mereka tergelak dan membuat yang lain tercengang. Beberapa waktu kemudian barulah pria yang tergelak itu berkata, "Memang betul. Kau tidak boleh melarang seseorang untuk pergi. If it's meant to be, it'll be."

Mengangguk, Katsuki berkata dengan tangan yang meraih foto di atas mejanya, "Tapi lain halnya kalau ia memutuskan untuk tinggal."

"Dan apakah kali ini ia memutuskan untuk tinggal?" Kirishima berkata sambil mata.

Diletakkannya foto di atas mejanya kembali sementara Katsuki berkata, "Kuharap begitu."


Siaran televisi di ruang keluarga tak henti-hentinya membicarakan soal pertunangan pewaris Endeavor Group yang terjadi seminggu lalu. Ia sudah menonton mulai dari kronologis acara berlangsung, daftar tamu-tamu undangan hingga foto yang menghebohkan yang menjadi bahan pembicaraan.

Di foto itu, tampak dirinya, mengenakan gaun berwarna hijau yang senada dengan warna rambutnya tengah berciuman dengan seorang pemuda. Di bawah sinar bulan, jas berwarna hitam yang dkenakan pemuda itu dan rambutnya yang pirang tampak sangat mencolok. Memang ada beberapa foto adegan seputar itu, namun yang paling membuatnya tertarik adalah foto terakhir. Foto yang diambil ketika mereka saling berhadapan dan memandang satu sama lain.

Memang ia sudah beberapa kali mengamati pemuda itu. Netranya yang semerah delima begitu memesona hingga membuat Izuku seringkali kehabisan napas saat melihatnya. Seringkali ia terdiam dan hanya bisa memandang tanpa bisa berbuat apa-apa. Saat itu, netra merah yang dilihatnya begitu bersinar hingga membuatnya meninggalkan semua rasionalitas yang ia miliki.

Betul Katsuki memang tampan. Tapi Izuku rasa bukan hanya itu. Di suatu tempat di ingatannya, pastilah ia sangat mengenal pemuda ini. Ia yakin semua yang pemuda itu katakan termasuk soal perasaannya adalah kenyataan. Seperti layaknya bukti yang ia pegang di tangannya.

Handphone lama berwarna hitam pemberian Katsuki masih dapat digunakan dan nomornya pun tidak di nonaktifkan. Bahkan Katsuki sendiri tidak repot-repot membersihkan datanya sebelum memberikan benda itu pada Izuku. Ia tidak peduli bila Izuku membaca pesan-pesannya maupun semua foto yang ada di ponsel itu.

Pada awalnya, Izuku ingin menghargai privasi Katsuki. Ia hanya melihat-lihat kontak dan mempelajari pengaturan di ponsel tersebut. Hanya lama kelamaan, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak terus mencari. Awalnya ketika ia melihat daftar panggilan masuk di mana nama Deku menjadi nama yang sering muncul di ponsel tersebut. Ia penasaran apakah Deku yang dimaksud adalah dirinya atau bukan dan karena itulah ia memutuskan untuk mencari tahu.

Berpindah ke galeri, ia membuka folder kamera dan mulai mencari dari sana. Ia sedikit terkejut menemukan obyek yang sama memenuhi isi folder tersebut. Hampir keseluruhan gambarnya merupakan foto si gadis berambut hijau yang diabadikan melalui lensa kamera ponsel. Sayangnya, gadis itu tak pernah menghadap ke arah kamera, seolah-olah semua foto itu selalu diambil tanpa sepengetahuan si gadis.

Aneh sekali. Kenapa Katsuki harus memotretnya diam-diam. Padahal Katsuki sepertinya sangat dekat dengan Deku, seharusnya Katsuki bisa memotretnya secara langsung. Ia pun menjadi penasaran dan akhirnya mulai mengintip pesan-pesan di fitur Chatting yang masih tertera di dalamnya.

Berbeda dari dugaannya, pesan dari Deku bukan yang terakhir berada di fitur Chat. Dicobanya menggeser layar untuk mencari kontak nama Deku, tapi tak ada yang ia temukan. Tak ada Chat dari Deku sama sekali. Ia pun mencoba mengetikkan nama Deku di kolom pencarian dan menemukan satu Chat. Chat dari seseorang yang diberi nama 'Old Hag'.

Chat itu ditulis kira-kira dua tahun yang lalu dan tulisannya berbunyi demikian,

'Berhenti menanyakan tentang Deku, Wanita Tua! Semua sudah berakhir.'

Sekalipun kontak yang disebut 'Old Hag' mencoba menanyakan apa yang terjadi, tidak ada balasan lebih lanjut dari Katsuki. Ia hanya mendiamkan saja. Chat itu berada di paling atas dari semua fitur chat. Melihat hal ini, sepertinya Izuku dapat menyimpulkan bahwa setidaknya ponsel ini masih dipakai hingga dua tahun lalu sebelum Katsuki menggantinya.

Berbaring menyamping, Izuku menatap handphone pemberian Katsuki. Apa sebetulnya yang terjadi? Kenapa ia bisa-bisanya meninggalkan orang seperti itu dan berpaling pada Shouto? Meski Shouto dan Katsuki sama-sama mencintainya, tapi Katsuki-lah yang memenuhi benaknya. Karena itu ia tidak menyesal meski harus dicela banyak pihak dan memilih Katsuki. Itu pilihannya.

Selama beberapa saat ia mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Ia tak tahu untuk berapa lama ia berguling sembari memandangi handphonenya. Hanya saja ketika ia sadar, seseorang meletakan tangan di atas kepalanya dan membuatnya membuka mata. Saat itulah ia menemukan pemuda yang mengisi benaknya seharian ini.

"Kacchan...," panggilnya saat melihat pemuda itu duduk di sampingnya sementara satu tangan menyentuh kepalanya. "Baru pulang?"

Sebagai jawaban, Katsuki mengangguk pelan. Ia mengusap rambut hijau Izuku sembari berkata, "Kau tidak menjawab pesanku. Kukira sesuatu terjadi padamu, Deku."

Deku terkejut mendengarnya. Ia menyalakan kembali layarnya dan melihat ada pesan juga telepon yang masuk. Nomor yang tertera di sana belum disimpan di dalam memori. Namun pesannya jelas mengatakan bahwa nomor itu milik Bakugou Katsuki, yang kini ada di hadapannya.

"Aku tidak sadar," ucapnya pelan sambil menatap ponsel. "Maaf, Kacchan."

"Bukan masalah," jawab Katsuki santai. "Kau sudah makan?"

"Ah, belum," ucap Izuku dan belakangan ia baru sadar bahwa tidak seharusnya ia hanya melamun di sofa sepanjang hari. Semestinya ia membereskan rumah atau sekedar memasak untuk pemuda itu. Ia pun buru-buru bangkit dari sofa dan berkata, "A-a-a-aku akan segera menyiapkan makanan. Kacchan tunggulah sebentar!"

Mengangkat alis, Katsuki pun menarik tangan gadis itu dan memintanya duduk kembali. Sikapnya membuat gadis itu terkejut dan balik bertanya. Namun Katsuki hanya menjawab, "Tidak usah. Kita makan di luar saja sekalian kencan!"

"K-k-k-kencan?"

Menganggukkan kepala, Katsuki kembali berkata, "Iya. Kau keberatan?"

"T-t-t-tidak sama sekali," jawab Deku hampir tanpa dipikir. "T-t-t-tapi apakah tidak masalah? Kau tidak capek, Kacchan? Kau baru saja pulang kerja dan aku seharian hanya berbaring. Kalau sampai kau kelelahan dan besok tidak bisa pergi bekerja, bisa-bisa Kirishima-kun kembali mengomel karena pekerjaannya bertambah. Lagipula—"

"Deku!"

"Y-y-ya?"

"Mau pergi tidak?"

"M-mau!" Izuku menganggukkan kepalanya. "Mau, tapi—"

"Baiklah, ayo!" Katsuki dengan cepat bangkit dari sofa yang ditempatinya sementara tangannya menarik tangan Izuku. Ketika Izuku kembali berkata bahwa ia perlu berganti pakaian, Katsuki hanya menjawab, "Nanti kita akan mampir dulu ke suatu tempat."

"H-hah?"

Pasrah, Izuku tak punya pilihan selain mengikuti Katsuki. Ia semakin gugup ketika mereka keluar dari apartemen dan masuk ke dalam lift. Interior lift yang hampir keseluruhannya menggunakan cermin memantulkan bayangan mereka. Katsuki masih mengenakan setelan jas yang ia kenakan saat pergi bekerja tadi. Setelan merah marun yang sangat kontras dengan rambut pirangnya. Berbeda dengan Izuku yang hanya mengenakan kaus atasan dan celana pendek di bawah lutut juga sandal. Penampilannya dan penampilan Katsuki layaknya langit dan bumi.

"K-Kacchan sepertinya aku harus berganti baju, aku—"

Sebelum ia meneruskan ucapan, Katsuki sudah menariknya lagi keluar dari lift. Keduanya melewati koridor menuju ke parkiran gedung dan berjalan mendekat pada salah satu mobil SUV hitam yang sudah dikenali Izuku. Ini mobil yang sama dengan yang ditumpanginya sewaktu ia kehujanan.

Seperti biasa, Katsuki membukakan pintu mobil untuk mempersilakannya masuk. Ketika ia sudah berada di dalam, barulah Katsuki memutari mobil dan duduk di sampingnya. Sembari mengenakan seat belt, Izuku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "Kita mau ke mana, Kacchan?"

Sembari menyalakan radio di mobil, Katsuki menjawab, "Kau akan tahu nanti."

Izuku masih ingin bertanya, tapi menyadari bahwa Katsuki takkan menjawab lebih membuatnya mengurungkan niat. Sebagai gantinya, ia menatap pemandangan di samping sementara musik mulai mengalun di dalam mobil. Ia berharap ada bangunan atau sesuatu yang ia kenali yang dapat memberikan petunjuk ke mana tujuan mereka.

Memang hari sudah mulai gelap, namun Tokyo tidak pernah padam. Lampu-lampu di tokonya menyala terang sementara berbagai macam orang berlalu lalang di jalan. Meski tak ada kemacetan, tetap saja banyak mobil yang berseliweran. Kota ini benar-benar tak ada bedanya siang atau malam hari.

Saat ia masih sibuk mengamati, mobil yang dikendarai mereka berbelok ke sebuah bangunan. Bangunan itu terdiri dari pelataran parkir, koridor berbahan kayu dan batu juga bangunan-bangunan kecil membentuk cluster dan dibangun dari beton kasar juga kaca yang terpisah satu dengan yang lain. Izuku mengamati setiap detailnya dengan tertarik, hingga tak menyadari bahwa Katsuki sudah memarkir mobilnya.

Mengikuti Katsuki, Izuku pun melepaskan seatbelt dan beranjak turun dari mobil. Saat ia turun, Katsuki sudah berada di dekatnya dan membantunya menutup mobil. Tanpa ragu, Katsuki justru menautkan jemarinya dengan Izuku dan bersama-sama mereka berjalan masuk melewati koridor menuju salah satu bangunan.

Pintunya bergeser secara otomatis saat keduanya masuk. Di dalamnya, Izuku bisa melihat berbagai baju bermerk dan aksesoris mahal dipajang di etalase. Sisanya diletakkan di rak yang disusun berderet di dinding. Saat mereka masuk, salah seorang asisten toko menghampiri mereka dan menawarkan bantuan. Sementara ia tergagap, Katsuki memberikan arahan pada si asisten toko yang tampaknya langsung paham dan mengambilkan barang yang dimaksud.

"Yang ini bagaimana, Tuan?" Sang asisten kembali dengan membawa baju terusan tanpa lengan berwarna putih dengan garis strip merah di bagian kerah dan keliman rok. Bahannya halus dan sedikit berkilap membuat Izuku mengerjap. Pakaian seperti itu pasti mahal harganya.

Meski demikian, Katsuki mengangguk pelan. Menoleh padanya, Katsuki berkata, "Cobalah! Sepertinya cocok denganmu!"

"Mari saya bantu, Nona!"

Mendengar suara sang asisten, Izuku pun terlonjak dari lamunannya. Ia menatap Katsuki ragu-ragu, namun Katsuki hanya mengangguk dan menggerakkan tangan, memintanya mengikuti sang asisten. Tak punya pilihan, ia terpaksa mengikuti hingga ke ruang ganti.

Ketika ia berada di dalam, sang asisten juga meletakkan sepatu berhak tinggi berwarna merah berhiaskan mutiara di atasnya. Tanpa penjelasan lebih lanjut, sang asisten hanya berkata, "Sepatunya kuletakkan di sini, Nona. Saya permisi dulu!"

Sebelum ia sempat bertanya sang asisten sudah undur diri lebih dulu. Tak punya pilihan, Izuku pun mulai mengganti bajunya. Baju terusan yang dikenakannya benar-benar terasa ringan dan lembut di kulit. Ia pun mencoba sepatu berhak tinggi yang diletakkan di samping dan sedikit terkejut karena sepatu itu juga terasa begitu pas di kakinya dan tidak terasa sakit.

"Deku? Kau sudah selesai?"

Suara Katsuki kembali menyadarkannya dari lamunan. Tergagap ia berkata,
"S-s-sudah," jawabnya cepat. "Aku sudah selesai, Kacchan!"

"Coba kulihat!" Katsuki berkata dan saat itu ia bisa mendengar suara tirai disingkap menampilkan pemuda berambut pirang yang sebelumnya ia tinggalkan di toko. Pemuda itu mengamatinya dari atas sampai bawah sebelum mendekat padanya. "Coba diam sebentar!"

Mengikuti perkataan Katsuki, Izuku pun membiarkan pemuda itu mendekat. Tangan pemuda itu menyentuh telinganya, bergantian kanan dan kiri. Baru setelah beberapa saat kemudian, pemuda itu kembali menarik diri dan menyentuh pundaknya. Netranya yang berwarna merah mengamati Izuku sekali lagi sebelum akhirnya cengiran sombong itu terkembang.

Padanya pemuda itu berkata, "Sudah kuduga!"

Mengerjap pelan, Izuku sedikit mengernyit karena ia tak mengerti apa maksudnya. Saat pemuda itu memutar tubuhnya dan menghadapkannya ke cermin barulah ia paham. Terlebih saat melihat kilap berwarna merah yang bertengger di telinganya. Warna merah menyala yang cantik dan serasi dengan pakaian juga sepatunya.

"Ini—"

"Rubi," jawab Katsuki yang berdiri di belakangnya dan turut mengamati Izuku dari cermin. Ia membantu menyelipkan rambut hijau Izuku ke belakang telinga dan membuat anting yang ia kenakan semakin berkilau. "Batu mulia untuk Raja dan orang-orang yang lahir di bulan Juli."

'Batu mulia untuk Raja?' pikir Izuku sambil menatap netra merah pemuda itu. Netra merah yang berbinar-binar seperti anak kecil terpantul di cermin. Mirip seperti batu mulia yang ia kenakan di telinganya.

"Sangat cocok dikenakan olehmu," ucap Katsuki sambil mengamati cermin dan berbisik menggoda di telinganya. "Cantik."

Ucapannya membuat wajah Izuku memerah dengan cepat. Buru-buru ia menunduk sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Baru kali ini ia mendengar Katsuki bergumam seperti itu di telinganya. Ia sampai kehilangan kata-kata sementara Katsuki hanya tertawa kecil. Sembari mengecup pelan tengkuknya, pemuda itu kembali menarik tangannya dan membawanya keluar dari ruang ganti.

Setelah menyelesaikan pembayaran yang bagi Izuku nilainya cukup fantastis, Katsuki membawanya keluar. Dengan jemari yang saling bertautan, mereka berjalan melewati koridor yang diterangi lampu jalan menuju ke bangunan yang lain. Beberapa orang yang lewat sempat mencuri-curi pandang ke arah mereka, namun keduanya lebih sibuk berbincang satu sama lain.

"Kacchan, biar aku saja yang membawa barangnya," ucap Izuku sambil mengulurkan tangan untuk mengambil kembali pakaiannya yang lama. "Lagipula sebelumnya itu pakaianku."

"Jangan pusingkan soal itu! Lebih baik kau fokus berjalan, Deku!" Katsuki balas berkata sembari menggenggam tangannya erat. "Aku khawatir kau tidak punya keseimbangan untuk menangani heels setinggi itu."

Dengan bibir mengerucut dan alis bertaut Izuku kembali berkata, "Jadi menurut Kacchan aku tidak bisa pakai heels? Kacchan meremehkanku rupanya."

"Memang salah?"

Sembari menunjuk ke satu arah Deku berkata, "Aku bisa saja berlomba lari dengan Kacchan menggunakan heels sampai ujung sana. Kacchan mau coba?"

Bukannya menjawab, Katsuki malah menunjukkan rasa iba. "Sebaiknya jangan. Kasihan papan kayunya kalau kau sampai jatuh."

"Papan kayu?"

"Iya. Papan kayunya bisa patah nanti," ujar Katsuki yang sukses menuai hantaman di dadanya. Ia tergelak kecil sementara gadis di hadapannya memberengut jengkel. "Sayang 'kan?"

Deku sebetulnya hendak membantah lagi. Hanya saja sesuatu membuatnya menahan lidah. Meski tak begitu jelas, orang-orang itu sepertinya mengenali siapa dirinya dan mereka mulai berbisik-bisik. Membuatnya terdiam dan mencoba mendengarkan. Walaupun bukan komentar menyenangkan yang ia dengar tentangnya.

"Deku?"

Deku mengerjap pelan. Ia kembali menatap pemuda di hadapannya. Ia tahu. Ia sudah mengerti apa konsekuensinya jika ia memilih pemuda ini. Komentar negatif tentang dirinya bukan hal baru. Mau sesuci apapun, pasti akan ada orang yang tak menyukainya. Ia pun tak mau ambil pusing soal pendapat orang.

Hanya bagaimana dengan Katsuki? Apakah Katsuki tipe yang mendengarkan pendapat orang?

"Deku? Hei?" Katsuki berkata sekali lagi sembari menggoyangkan tangannya. "Kau baik-baik saja?"

Sekali lagi netra merah itu membuatnya teralih. Cukup lama ia menatap iris kemerahan yang serupa dengan batu mulia yang ia kenakan. Warna merah yang kuat dan berkuasa, layaknya seorang Raja. Dan saat ini, cahaya kemerahan itu hanya tertuju padanya seorang. Tangannya menyentuh wajah Izuku, membelainya dan menjaganya lembut, seperti benda berharga miliknya.

Tentu saja. Hanya benda berharga sang Raja yang diperlakukan sedemikian hati-hati. Kenapa ia tidak menyadarinya? Padahal sang Raja sudah menandainya dengan warna merah yang sama di telinganya.

"Deku?"

Menggeleng, Izuku pun kembali mengangkat kepala. Diberikannya senyum terbaik untuk Rajanya dan ia berkata, "Aku baik-baik saja, Kacchan."


A/N:

Holla All! Cyan kembali lagi XD

Nggak, bukan mau ngebut buat namatin kok (eh?) tapi memang kebetulan lagi moodnya dateng aja. Apalah saya yang masih diperbudak sama mood sebelum memulai sesuatu T^T

Berhubung belum ada ripiu yang masuk, saya ucapkan selamat membaca XD semoga kalian enjoy bacanya

Also thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!