.

.

.

Boku no Hero Academiaby Horikoshi Kóhei

90 daysby cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

I'm not taking any profit for this ff : )

.

.

.

Happy reading!


Chapter 20 : Terrifying man

Day 69

Aroma kopi merebak memenuhi ruangan. Di tengah atmosfer bernuansa lembut dan sejumlah tanaman dekoratif, para pengunjung duduk sambil menikmati isi cangkir mereka. Beberapa di antaranya menghabiskan waktu dengan membaca buku, mengerjakan tugas, mengetik, atau ada juga yang membuat janji untuk bertemu dengan seseorang. Seperti misalnya pemuda pemudi yang duduk di pojok ruangan dan terhalang partisi bernuansa natural yang terbuat dari sejumlah pot tanaman.

Duduk di paling ujung, gadis berambut kehijauan yang mengenakan kemeja berkerah mengambil cangkir kopinya. Sembari tersenyum pada lawan bicara di hadapan, ia pun berkata, "Aku tak menyangka akan bertemu Mina lagi di sini."

"Aku yang harusnya bilang begitu, Izuku-san," ujar lawan bicaranya cepat. Pandangannya menyipit saat menatap pemuda berambut pirang yang duduk di samping Izuku sebelum beralih pada pemuda lain berambut merah yang duduk di sampingnya. "Aku terkejut Bakugou-san menanyakan apakah aku punya waktu untuk bertemu. Kukira ia akan membahas soal apa!"

"Oh?" Izuku menoleh menatap pemuda yang kini mendecih sambil mengalihkan pandang. Sembari tertawa ringan ia pun kembali berkata, "Rupanya Kacchan yang merencanakan pertemuan ini."

Menghela napas, pemuda di sampingnya pun berkata, "Harusnya begitu. Tapi ada satu tamu tak diundang di sini."

Orang yang dimaksud, pemuda yang duduk berdampingan dengan Mina tak langsung menggubris ucapannya. Pandangannya masih tertuju pada ponsel di tangan, tak tertarik untuk berbincang-bincang. Dengan tak acuh pemuda berambut merah dengan tatanan runcing itu hanya berkata, "Jangan pedulikan aku! Teruskan saja obrolan kalian. Aku di sini hanya mengawasi sang direktur yang membolos dari jadwal lemburnya."

"Bakazawa sialan!" Katsuki pun mengumpat. Pada bawahannya itu ia berkata, "Ini hari Minggu. Mana ada karyawan yang bekerja di hari Minggu? Katakan pada atasan sialan yang workaholic itu bahwa aku pun butuh hari libur."

"Ha? Lihat siapa yang bicara!" Bawahannya berkata sambil menatap ponsel. "Wahai atasan brengsek yang tak segan mengganggu karyawan di luar jam kerja!"

"Mau kuadukan pada HRD karena berani memanggilku atasan brengsek?"

Masih dengan sikap tak acuh yang sama, bawahannya hanya berkata, "Oh? Sejak kapan kau jadi sensitif begitu, Bakugou? Kukira selama ini kau atasan tak berperasaan yang gemar menyiksa bawahan dan memaksanya kerja lembur?"

"Kautahu, Kirishima, aku ini atasan yang paling sabar," ujar Katsuki sambil menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang sukses membuat Izuku dan Mina beringsut sedikit saat melihatnya. Enggan turut bergabung dalam percakapan atasan dan bawahan itu. "Aku tidak marah saat disebut atasan brengsek. Tapi bukan berarti aku mudah memaafkan seseorang."

"Hm?" Kirishima akhirnya mengangkat kepala dan memandang Katsuki. "Jadi kenapa kalau aku tidak dimaafkan, Bakugou? Apa yang akan kaulakukan padaku?"

Sebelum Katsuki sempat membalas, seseorang sudah menepukkan kedua tangan mengalihkan perhatian. Ucapan yang sebelumnya sudah nyaris meloncat dari lidahnya pun kembali ditahan. Sebagai gantinya ia menoleh dan memberikan satu tatapan enggan pada gadis di sampingnya. Gadis itu memberikan satu ancaman di wajah yang membuatnya memutar bola mata, tidak mau banyak bicara.

"Kacchan selalu saja membully Kirishima-kun," ujar gadis itu. "Kasihan 'kan, Kirishima-kun!"

"Ah, dia sudah biasa," jawab Katsuki sambil menopang dagu. "Kau tidak perlu mengasihaninya, Deku! Bisa-bisa dia jadi besar kepala."

Mengabaikan ucapan Katsuki, Kirishima menoleh pada Izuku. Dengan serius ia berkata, "Ternyata hanya Midoriya-san di sini yang mengerti. Apa sebaiknya aku pindah kerja dan jadi bawahan Midoriya-san di kafe?"

"Hei!" Gadis berambut merah muda yang sebelumnya memilih tidak ikut dalam percakapan menghardik Kirishima. Pada pemuda itu ia berkata, "Bawahannya Izuku-san itu aku! Kau tidak bisa seenaknya merebut posisiku!"

Menoleh, Kirishima pun kembali berkata, "Tidak masalah! Kau bisa jadi bawahan nomor satu, dan aku nomor dua! Tapi sebenarnya, siapapun atasanku bukan masalah asal bukan Bakugou Katsuki!"

"Sayang sekali!" Katsuki berkata dengan seringai di wajah. "Keberuntunganmu buruk dan kau terpaksa menjadi bawahanku!"

"Tidak juga," jawab Kirishima sengit, "suatu saat nanti aku akan mengajukan surat pengunduran diri."

"Kau juga mengatakan itu dua bulan lalu dan hingga saat ini surat itu tidak pernah mampir di mejaku," balas Katsuki santai.

"Aku menaruhnya persis di mejamu, tahu!" tunjuk Kirishima. "Tapi kau bilang itu sampah dan malah menghancurkannya di mesin penghancur kertas."

"Oh ya?" Katsuki berpura-pura terkejut. "Ceroboh sekali aku!"

"Kau—"

"Kacchan!"

Lagi-lagi Izuku terpaksa mengingatkan ketika adu mulut antara keduanya sudah mulai memanas. Ia menggelengkan kepala dan berkata, "Kacchan, kalau kau memang perlu ke kantor, pergilah! Aku baik-baik saja dengan Mina di sini."

Bukannya menjawab, Katsuki malah berkata pada bawahannya, "Lihat apa yang kaulakukan pada quality time ku yang berharga, bawahan sialan!"

"Boleh kuingatkan tidak bahwa sebelumnya perusahaan sudah dengan murah hati memberikanmu banyak quality time?" Kirishima balas berkata sembari menunjuk Katsuki. "Kemarin ini satu minggu dan sebelumnya kau bahkan mendapatkan satu bulan. Sekarang kau hanya diminta untuk bekerja selama dua jam di hari Minggu saja kau keberatan? Hah?! Yang benar saja!"

Sebetulnya Katsuki masih ingin membantah. Hanya berhubung mereka di tempat umum, ia memilih menahan dirinya. Meski demikian ia tak serta merta menyembunyikan kejengkelannya. Emosi itu pasti terlihat dari sikap tubuhnya hingga Izuku meletakkan tangan di atas lengannya. Mengusapnya pelan dan memberinya senyum lembut yang membuat amarahnya menguap.

"Tidak apa, hanya dua jam saja, Kacchan!" Izuku berkata padanya. "Dua jam lagi aku dan Mina masih ada di sini. Kami tidak akan ke mana-mana tanpamu."

Memicingkan mata Katsuki menatap Deku dan rekan kerja gadis itu yang berambut merah muda. Pandangan menusuk yang ia arahkan membuat Mina Ashido berkeringat dingin dan memilih untuk memalingkan wajah. Untungnya akhirnya pemuda itu mengalihkan pandangannya pada atasannya kembali.

"Kau yakin bisa ditinggal bersama Rakun sialan ini?"

"Kacchan!" Izuku kembali mengingatkannya mendengar panggilan yang diberikan Katsuki untuk rekan kerjanya. "Aku akan baik-baik saja bersama Mina. Pergilah bersama Kirishima-kun!"

Menghela napas, Katsuki pun tak membantah lagi. Setelah memberikan kecupan singkat di dahi gadis itu, ia pun bangkit dari tempat duduk. Merapikan vest yang ia kenakan di atas kaus, ia pun berkata pada bawahannya, "Ayo, Rambut Sialan! Aku tak punya banyak waktu. Kau bilang hanya dua jam saja 'kan tadi?"

Mendengar sebutan kesayangan yang diberikan sang atasan, Kirishima pun segera bangkit berdiri. Diucapkannya salam singkat pada dua gadis yang semeja dengannya sebelum memasukkan ponsel ke dalam celana jeans dan berlari mengikuti sang atasan. Ia masih sempat beradu mulut dengan atasannya sebelum keduanya menghilang di balik pintu.

Begitu kedua pemuda di sampingnya menghilang, perhatian Izuku pun kembali teralih pada rekan kerjanya. Sembari tersenyum, gadis itu pun berkata, "Apa kabar, Mina?"

Pandangan Mina pun tertuju padanya. Seperti biasa, dengan antusias gadis itu berkata, "Aku baik-baik saja, Izuku-san. Justru aku ingin penasaran dengan kabarmu. Jujur aku tidak menyangka bahwa kau akan memutuskan pertunanganmu dengan Todoroki-san dan memilih Bakugou-san. Apakah ini karena nasehatku yang seenaknya waktu itu?"

Izuku sedikit terkejut mendengar ucapan Mina yang bertubi-tubi dan langsung pada intinya. Ia hanya memberikan senyuman simpul pada gadis di hadapannya dan berkata, "Memangnya apa yang sebelumnya kau katakan, Mina?"

"Itu lho! Aku pernah bilang bahwa tidak apa-apa untuk melirik pria lain meski kau sudah memiliki tunangan. Aku juga bilang kau tidak boleh terpaku pada satu pria saja." Mina berkata dengan cepat. "Kau masih ingat ucapanku?"

"Oh, yang itu," gumam Izuku sembari memutar bola matanya. "Ya, aku ingat. Kau pernah mengatakan itu, Mina."

"Setelah berita itu, aku terus memikirkannya," Mina berkata sembari mengepalkan kedua tangannya di atas meja. "Jangan-jangan batalnya pertunangan itu semua karena ucapanku? Karena aku yang mendorongmu untuk melirik orang lain selain Todoroki-san."

Sekali lagi Izuku hanya memberikan senyum simpul. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia bahkan sudah lupa akan perkataan Mina waktu itu. Hanya saja, memang tidak bisa dipungkiri bahwa ia tertarik dengan Katsuki. Meski saat itu ia sudah bertunangan dengan Shouto.

"Izuku-san, apakah pertunangan itu masih bisa dilanjutkan?" Mina bertanya lagi. Ekspresinya benar-benar terlihat gelisah dan ia pun berkata, "Aku menyesal sudah mengatakan itu padamu. Aku juga bersalah pada Todoroki-san karena membuatnya kehilangan gadis yang ia cintai. Kalau saja aku tak mengatakan itu—"

"Tidak bisa, Mina."

"Eh? Apa?" Mina mengangkat kepalanya. Sedikit bingung karena ucapannya tiba-tiba dipotong oleh mantan atasannya.

Senyum menghilang dari wajahnya. Dengan tegas Izuku berkata, "Aku tidak bisa lagi melanjutkan pertunangan dengan Shouto."

"T-tapi kenapa?" Mina kembali bertanya. "Bukankah kalian saling mencintai? Bukankah Todoroki-san juga sangat baik padamu? Beberapa kali ini aku melihatnya duduk di kafe setelah jauh malam dan memandangi konter yang kosong. Tak perlu kukatakan lagi bahwa sebetulnya ia tengah mencari sosokmu di sana. Ia masih mencintaimu."

"Aku tahu." Izuku berkata sambil mengeratkan pegangan pada keliman roknya. "Itu, aku tahu."

"Kalau begitu kenapa?" Mina bertanya dengan suara yang meninggi. "Kenapa kau meninggalkannya dan memilih Bakugou-san? Bakugou-san tidak mencintaimu sampai seperti itu 'kan? Bakugou-san tidak terlihat punya perasaan seperti itu, Bakugou-san tidak—"

"Kau tidak tahu itu, Mina," jawab Izuku tegas. "Kau tidak mengenal Katsuki."

Mina ingin membantah namun melihat sorot mata atasannya, ia memilih untuk mengatupkan mulut. Memang betul, ia tidak tahu apa-apa soal pemuda bernama Katsuki. Melihat sosoknya juga baru saat ia bekerja di kafe Avorende Tower bersama Izuku-san. Hanya ia ingin tahu apa yang Izuku-san ingin katakan tentangnya.

"Katsuki juga sama," ujar Izuku sembari menundukkan kepala. Tangannya meraih ponsel berwarna hitam yang sebelumnya ia letakkan di atas meja. "Ia hanya bisa menyembunyikan perasaannya, menguncinya di sini. Ia menyimpannya untuk waktu yang lama sendirian. Sakit dan kesedihan yang ia rasakan saat itu, semuanya ia pendam sendiri."

"Kalau hanya itu, bukankah Todoroki-san juga—"

"Aku tahu Shouto pun akan terluka dan aku tahu aku egois dengan berbuat begini," ujar Izuku lagi sembari menggenggam ponselnya erat. "Tapi orang yang benar-benar ingin kubahagiakan hanya orang itu saja. Hanya orang itu saja yang kuharap ia menemukan kebahagiaanya bersamaku."

Kedua alis Mina bertaut. Ia menatap mantan atasannya sebelum kembali menundukkan kepala. Ia tak bisa mengucapkan apapun bila Izuku-san sudah berkata demikian. Izuku-san mencintai orang itu. Namun hal itu pun membuatnya bingung, karena itu ia berkata.

"Apa itu artinya," ucap Mina hati-hati, "kau tidak mencintai Todoroki-san?"

Mengerjap pelan Izuku tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah, menatap tanaman rambat yang jatuh menutupi partisi. Mina mengikuti arah pandangnya sebelum berkata, "Aku tidak tahu."

"Kalau begitu kenapa—," Mina berkata dengan bingung, "kenapa kau bertunangan dengannya?"

Lagi-lagi Izuku bungkam. Memang saat ia kehilangan ingatan, yang mengenalkan diri sebagai tunangannya adalah Shouto. Mungkin terkesan membela diri, namun ia yang kebingungan saat itu memilih untuk percaya pada Shouto. Ia memanfaatkan kebaikan pemuda itu dan menjadi tunangannya, meski terkadang ia bertanya-tanya apa yang dilihat Shouto dari dirinya.

Melihat sikap atasannya kelihatannya Mina takkan mendapat jawaban yang ia inginkan. Menghela napas, Mina pun tidak ingin memaksanya lebih lanjut.

"Ya sudahlah kalau begitu," ujar Mina akhirnya sembari mengambil gelas dan menyeruput lemon soda yang dipesannya. "Aku tidak akan mengganggu kalau kau sudah memutuskan untuk menikah dengan Bakugou-san. Kuharap dia benar-benar orang yang tepat untukkmu."

Menggerakkan kepala, Izuku mengucapkan terima kasih sembari tersenyum tulus. Meski demikian ia terpaksa berkata, "Aku... belum menikah dengan Bakugou-san."

"Eh?"

"Kami... tidak membicarakan soal pernikahan," ujar Izuku dengan wajah memerah dan memalingkan pandangan dari Mina. "Kami hanya tinggal bersama."

Mau tidak mau wajah Mina pun ikut memerah mendengarnya. Ia membungkuk sedikit dan berkata dengan suara yang lebih pelan. "K-k-kalian sudah tinggal bersama? B-bagaimana? A-a-aku tidak percaya ini. K-kau 'kan baru mengenalnya, Izuku-san!"

"Ya, tapi...," ujar Izuku sambil menatap ke arah pintu tempat Katsuki terakhir kali terlihat. "Entah mengapa aku merasa sangat mengenalnya. Makanya... aku..."

"Astaga!" Mina berucap dengan panik. "K-kalian tidak melakukan yang aneh-aneh 'kan? Dia tidak melakukan hal kurang ajar padamu 'kan, Izuku-san?"

Pertanyaannya membuat sang atasan bungkam. Kepalanya tertunduk dan ia juga memainkan tangannya dengan gelisah. Melihat sikapnya, Mina pun langsung paham. Sembari menutup kedua mulutnya, Mina menatap atasannya dengan terkejut.

"Ya ampun," ujar Mina pelan. "Kau benar-benar serius rupanya, Izuku-san."

Izuku menyelipkan rambutnya ke telinganya yang memerah. Sembari menundukkan kepala ia berkata, "K-kurasa begitu."

Kembali pada nada suaranya yang enerjik, Mina kembali berkata, "Kalau begitu tunggu apa lagi? Kau harus memintanya untuk segera melamarmu. Bagaimana kalau sesuatu terjadi sebelumnya dan bagaimana—"

Suara ribut-ribut di sekitarnya membuat Mina berhenti bicara. Suara tinggi bernada putus asa itu membuatnya menoleh. Sama halnya dengan Izuku yang akhirnya mengikuti arah pandangnya. Bersama-sama keduanya mencari sumber keributan di kafe yang damai itu dan akhirnya menemukannya.

Tak jauh dari tempat mereka duduk, sepasang pemuda-pemudi duduk berhadapan. Namun si gadis sudah terlanjur berdiri seraya memegang gelas berisi air. Ekspresinya benar-benar terlihat marah saat itu dan dengan suara nyaring ia pun berkata, "Dasar brengsek! Mati saja sana!"

Setelah ucapan nyaring itu, si gadis pun mengambil tasnya dan melangkah pergi. Ditinggalkannya pemuda dengan rambut biru keabuan yang masih tertunduk dengan rambut yang basah. Beberapa pelayan yang ada di sana mencoba menghampirinya dan langsung memberikannya handuk kecil. Namun semua ditolaknya dan ia hanya tersenyum sambil menanyakan tagihan mereka. Pelayan yang ditanyainya itu langsung pergi mengambilkan tagihannya, dan saat itulah Mina juga Izuku dapat melihat lebih jelas.

"Oh my gosh!" Mina berkata dengan antusias. "Izuku-san, itu Shigaraki Tomura! Itu Shigaraki Tomura!"

Netra kehijauan Izuku menatap pemuda berambut biru pucat keabuan itu. Saat pandangan mereka bertemu, pemuda itu melempar senyum dan mengangkat tangan seolah mengenali mereka. Sebelum Izuku sempat membalas, pemuda itu sudah berjalan mendekat lebih dulu dan menghampiri mereka.

Mina nyaris berbusa saat melihat Shigaraki menghampiri meja mereka. Ia menatap Shigaraki bagaikan menatap seorang dewa dari kahyangan. Bahkan sebelum Izuku sempat berkata-kata, gadis itu sudah lebih dulu mempersilakan Shigaraki duduk. Pemuda itu duduk di tempat Katsuki berada sebelumnya dan menatap mereka berdua dengan senyum di wajah.

"Tidak kusangka akan bertemu lagi dengan kalian berdua," ia berkata sambil menatap mereka. Jemarinya menunjuk Izuku dan Mina bergantian seraya berkata, "Midoriya-san? Ashido-san?"

"Astaga! Namaku diingat oleh Shigaraki Tomura!" Mina berkata sambil menggenggam tangan Izuku. "Astaga, Izuku-san! A-aku sampai gemetar saking senangnya. B-bagaimana ini, Izuku-san?"

Sembari menepuk-nepuk tangan Mina, Izuku tersenyum simpul dan meminta agar rekan kerjanya itu tetap tenang. Meski entah mengapa ia merasa tidak tenang. Rasanya, ia tidak nyaman dan ingin segera angkat kaki dari sana. Entah mengapa.

"Sudah lama aku tidak melihat kalian," ucap Shigaraki, membuka percakapan. "Terutama Midoriya-san."

Izuku tidak menjawab. Ia hanya memberikan satu senyuman simpul.

"Bagaimana kabarmu, Midoriya-san?" Shigaraki berkata sembari mempertahankan senyuman di wajah. "Apakah kau baik-baik saja?"

Menggeleng pelan Izuku berkata, "Aku baik-baik saja, Shigaraki-san, terima kasih sudah bertanya."

Mengangguk pelan, Shigaraki pun berkata, "Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya."

Mendengar percakapan keduanya Mina pun kembali berkata, "Kenapa kau berkata begitu? Apa jangan-jangan kau juga tahu soal skandal Izuku-san, Shigaraki-san?"

"Siapa yang tidak tahu?" Shigaraki kembali balas bertanya. "Beritanya disiarkan secara besar-besaran. Seolah seseorang sengaja menyiarkan berita tersebut agar pertunangannya batal. Orang itu pasti sangat diuntungkan dengan semua berita ini."

"Benar juga," Mina akhirnya berkata. "Terlalu aneh karena media sepertinya dengan sengaja membesar-besarkan berita itu. Padahal skandar aktris maupun aktor saja tidak diberitakan sampai seperti itu. Apakah jangan-jangan ada orang yang diuntungkan dengan batalnya pertunangan Izuku-san? Tapi... siapa?"

Mengangkat bahu, Shigaraki menggerakkan kepalanya ke arah Izuku. "Menurutmu bagaimana, Midoriya-san?"

Gelagapan, Izuku terkejut saat ditanya seperti itu. Ia menggelengkan kepala dan berkata, "Entahlah. Aku tidak tahu."

"Ya ampun Izuku-san," ujar Mina dengan gemas. "Kau sepertinya terlalu santai menanggapi semua ini."

Izuku memutar bola matanya tidak mau terlalu terlibat lebih jauh atau berkomentar soal skandal yang dimaksud. Daripada terlalu santai, bisa dibilang ia tidak peduli. Terserah pendapat orang lain tentang dirinya. Selama ia dan Katsuki baik-baik saja, baginya itu bukan masalah.

"Hanya sayang sekali," Shigaraki berkata lagi karena melihat sikap Izuku yang sepertinya tidak terlalu tertarik. "Sejak itu kau jadi tidak bisa bekerja di kafe Avorende Tower lagi."

Sebagai ganti Izuku, Mina-lah yang menanggapi ucapannya. "Oh! Soal itu, sebetulnya Todoroki-san tidak pernah melarang bila Izuku-san mau kembali bekerja. Ia tidak memecat Izuku-san dan semacamnya. Hanya saja, memang karyawan yang lain sepertinya lebih memihak Todoroki-san."

Mengangkat alis Shigaraki kembali bergumam 'sayang sekali' sebelum pelayan menghampiri meja tempat mereka berbincang. Pelayan itu membawakan tagihan yang diminta dan sembari memberikan kartu kreditnya, Shigaraki menunjuk kedua gadis di belakangnya. Lalu ia berkata, "Masukkan juga tagihan mereka ke dalamnya."

"Ah itu—"

"Dan aku minta secangkir cafe latte dengan banyak cream," ujar Shigaraki sambil memberikan senyum lebar. Begitu pelayan pergi untuk menyiapkan pesanannya, ia berbalik pada kedua gadis di dekatnya. "Ah, cafe latte di sini cukup enak. Apa kalian sudah mencobanya?"

Izuku mengangkat cangkir kopinya sementara Mina berkata, "Belum, tapi aku yakin kopi buatan Izuku-san jauh lebih enak. Kami memilih sendiri biji kopinya dan memastikan bahwa yang dipilih adalah biji kopi terbaik tanpa dicampur. Apalagi Izuku-san juga terampil sekali dan latte art buatannya sangat cantik."

Tertawa kecil Shigaraki berkata, "Teman yang baik, sepertinya kau punya penggemar di sana, Midoriya-san."

Menggelengkan kepala Izuku hanya berkata, "Mina hanya melebih-lebihkan. Kopi buatanku tidak seenak itu."

"Bagaimana, ya," Shigaraki kembali berkata sembari mengalihkan pandangan. "Sejujurnya aku datang ke sini karena tidak ada kafe yang menyediakan kopi yang enak lagi setelah kau berhenti, Midoriya-san."

Izuku tersenyum dan ia berkata, "Banyak kafe yang menyajikan kopi yang enak, Shigaraki-san. Mungkin kau hanya belum menemukannya."

Masih sambil menatap Izuku, Shigaraki pun berkata, "Mungkin juga."

Di seberang Mina mengamati percakapan keduanya dengan tertarik. Aktor yang satu ini juga idolanya yang telah membintangi beberapa serial televisi. Meski demikian, aktor sehebat ini sepertinya juga menaruh perhatian pada atasannya. Hanya sayang, atasannya sepertinya kurang peka untuk hal-hal semacam ini.

"Tapi sebetulnya," Mina mencoba untuk melanjutkan, "apa kau tidak tertarik untuk bekerja lagi di kafe, Izuku-san?"

Sembari menopang dagu, Izuku berkata, "Aku belum memikirkannya."

"Tapi mungkin sulit juga dengan gosip yang masih berkembang saat ini," ujar Mina sambil menggelengkan kepala. "Gosip itu membuatmu sulit untuk mencari kafe yang cocok di sekitar sini dan untuk berbisnis sendiri pun tidak mudah."

Tanpa mengucapkan apa-apa, Izuku hanya tersenyum sembari mengguncang-guncang cangkir kopinya. Memang betul ia merindukan pekerjaan lamanya sebagai barista di kafe, tapi keadaan sekarang juga tidak buruk.

Percakapan mereka kembali terpotong saat pelayan datang dan membawakan pesanan seraya mengembalikan kartu kredit milik Shigaraki. Secangkir kopi diletakkan di hadapannnya sementara cream pesanannya diletakkan terpisah. Pemuda itu mengucapkan terima kasih singkat sebelum beralih pada pesanannya. Ia membuka satu kantong berisi cream dan menuangkannya di atas kopi. Begitu isinya habis, ia mulai mengaduk hingga beberapa saat sebelum menyingkirkan sendok dan mengecap isinya.

Melihat sikapnya, mau tidak mau Izuku dan Mina berhenti berkata-kata. Keduanya menunggu hingga Shigaraki menurunkan gelasnya. Ketika akhirnya pemuda itu selesai mencicipi, pandangan matanya bertemu dengan kedua gadis itu. Ia pun berkata, "Apa ada sesuatu yang menarik di wajahku?"

"Bagaimana kopinya?"

Sembari mengedikkan bahu Shigaraki berkata, "Enak, tapi sepertinya aku lebih suka buatan Midoriya-san."

"Sudah kuduga!" Mina berkata lagi. "Ah, sayang sekali Izuku-san tidak bisa bekerja lagi di kafe."

Berpikir sejenak, Shigaraki pun berkata, "Sebenarnya aku punya solusi untuk masalah itu."

Mina memandangnya dengan tertarik. "Solusi seperti apa yang kau maksud, Shigaraki-san?"

"Sebelumnya harus kuceritakan dulu bahwa Villain Records hendak membuka sebuah gerai perdana yang khusus menjual album-album dari artis yang mereka besarkan," ujar Shigaraki sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Gerai itu terdiri dari tiga lantai, dan di lantai paling bawah, kami berencana untuk membuka sebuah kafe."

"Wah, jangan katakan bahwa kau masih membuka peluang untuk kafenya?" Mina kembali bertanya dengan penuh semangat. "Apakah kau hendak meminta Izuku-san untuk mengelolanya, Shigaraki-san?"

"Bagaimana kalau iya?" Shigaraki berkata sambil menatap Izuku. Netranya yang berwarna merah tertuju pada gadis berambut hijau itu dan ia berkata, "Apa kau mau bekerja di sana, Midoriya-san?"

Tawaran itu membuat Mina terperanjat. Ia langsung mengguncang-guncang tangan Izuku dan berkata bahwa ini adalah kesempatan yang baik. Terlebih mereka akan bekerja di gerai yang khusus menjual album-album keluaran Villain Records yang selama ini telah membesarkan banyak artis ternama. Hanya saja antusiasme itu sepertinya tidak menulari mantan atasannya.

Berbeda dengan Mina, Izuku memilih untuk bungkam. Ia memang merindukan bekerja di kafe seperti sebelumnya, hanya saja ia sendiri merasa ragu. Instingnya mengatakan lain dan meskipun ia tahu bahwa ini kesempatan yang baik tetap saja ia tidak langsung menerimanya. Malah ia berkata, "Kurasa, ada banyak orang yang lebih berhak mendapat kesempatan itu, Shigaraki-san."

"Oh?"

"Daripada menawarkan itu padaku, bukankah akan lebih baik menawarkan pada kafe dengan brand ternama?" Izuku kembali berkata. "Untuk gerai sekelas Villain Records, kafe dengan brand bagus akan menambah minat pengunjung dibanding kafe tanpa nama."

Alis Shigaraki terangkat dan ia berkata, "Yah, kami memang sempat memikirkan beberapa kandidat."

"Yah, Izuku-san?" Mina berkata dengan nada kecewa yang terang-terangan. "Padahal ini kesempatan bagus."

"Tidak apa, Mina," ucap Izuku sambil menepuk-nepuk tangannya ringan.

Tertawa, Shigaraki menoleh padanya dan ia berkata, "Padahal bagiku bukan masalah mau brand ternama atau bukan selama kopinya enak. Kurasa penikmat kopi sejati pun akan berpendapat sama denganku."

Izuku hanya tersenyum simpul dan ia berkata, "Terima kasih atas tawaranmu sebelumnya, Shigaraki-san. Aku sangat menghargainya."

Mengangkat bahu Shigaraki hanya berkata, "Sayang sekali! Padahal aku serius menawarkan karena ingin mencicipi kopi seduhanmu lagi, Midoriya-san!"

Masih dengan senyum yang sama Izuku hanya berkata, "Aku ragu soal itu, Shigaraki-san."

Shigaraki memicingkan mata, hendak berkomentar. Hanya saja sebelum ia sempat mengatakannya, handphone berwarna hitam yang tergeletak di atas meja mulai berbunyi nyaring. Mendengarnya, Izuku langsung mengambil benda itu dan menatap layarnya. Saat itu ekspresi wajahnya langsung berubah, terlebih setelah mendengar gadis itu berkata, "Ya, Kacchan?"

Si penelepon bergumam sementara Izuku mengernyitkan alis. Kelihatannya ia tak bisa mendengar dengan jelas. Karenanya ia pun bangkit berdiri dan pamit sebentar pada kedua orang yang duduk semeja dengannya. Ia mengambil jarak di antara mereka, meski Shigaraki masih dapat melihat sosoknya dengan jelas.

Tidak perlu diucapkan pun Shigaraki tahu identitas si penelepon. Dari dulu dan sekarang hanya satu orang yang mampu membuat Midoriya Izuku tersenyum malu-malu sembari menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Ia sangat mengenal pemuda arogan dan sombong itu.

Tanpa banyak berkata-kata, Shigaraki memutuskan untuk bangkit berdiri. Mina yang terkejut terperangah sebelum bisa berkomentar. Hanya padanya Shigaraki mengatakan bahwa ia ada janji sehingga Mina pun tak bertanya lebih lanjut. Sesaat sebelum ia benar-benar meninggalkan kafe tersebut, ia memberikan satu tatapan singkat pada gadis yang tengah menelepon itu dan menyunggingkan senyumnya.

Tak berapa lama setelah Shigaraki pergi, Izuku pun kembali ke tempat duduknya. Ia sedikit terkejut melihat aktor kenalan mereka itu sudah menghilang. Ketika ia menanyakannya, Mina menjawab bahwa pemuda itu ada janji dan terburu-buru pergi. Jawaban itu membuat Izuku mengangkat alis dan tak memusingkannya.

Meski demikian, kealpaan Shigaraki membuat Mina lanjut membicarakan perihal tawaran Shigaraki. Gadis itu benar-benar menyayangkan keputusan Izuku yang menolak tawaran dari sang aktor. Baginya itu tawaran bagus yang sayang untuk dilewatkan. Izuku pun tak banyak bicara dan hanya tersenyum simpul padanya.

"Sudahlah, Mina," ujar Izuku akhirnya, "lagipula aku sendiri tidak seberbakat yang kau katakan. Sayang sekali kalau Villain Records menolak tawaran yang lebih menguntungkan mereka hanya karena Shigaraki-san memintaku untuk mengelola kafe di sana."

"Itu 'kan urusan mereka," jawab Mina tak acuh. "Kau tidak perlu memikirkan itu harusnya, Izuku-san. Yang penting kau bisa bekerja lagi di kafe."

"Mana mungkin aku tidak memikirkannya," jawab Izuku sembari meringis. "Kasihan mereka juga kalau nanti kafenya tidak laku 'kan?"

Mina hanya menggeleng-geleng mendengarnya. Terkadang ia sendiri tidak mengerti jalan pikiran atasannya itu. Pandangannya tertuju pada bangku yang ditempati Shigaraki sebelumnya dan ia kembali bergumam, "Padahal Shigaraki-san tampaknya tertarik padamu, Izuku-san."

Izuku mengangkat bahunya, tampak tidak yakin soal itu. Meski demikian, ia mengikuti arah pandang Mina dan menatap kopi yang sebelumnya dipesan Shigaraki. Kopi yang masih tersisa lebih dari setengah itu ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Hal yang janggal bila benar Shigaraki-san adalah seorang penikmat kopi seperti yang dikatakannya.

'Mungkin ia sedang terburu-buru' pikirnya sambil mencoba untuk tidak ambil pusing. Hanya saja sesuatu menarik perhatiannya dan membuatnya memicingkan mata. Ia tidak yakin akan apa yang dilihatnya sehingga ia mencoba mendekat.

Pandangan Izuku tertuju pada sendok yang berada di belakang cangkir. Sendok stainless mungil yang sebelumnya digunakan untuk mengaduk kopi itu tergeletak begitu saja. Hal yang biasa sebetulnya bila saja bentuknya tidak tertekuk membentuk kotak, seolah-olah benda itu ditekan oleh kekuatan yang besar hingga bentuknya berubah.

"Ada apa?" Mina kembali bertanya karena melihat sikapnya. "Izuku-san?"

Izuku tak dapat menjawab. Pemandangan sendok yang ditekuk hingga sedemikian rupa sepertinya pernah ia lihat hanya ia tak ingat kapan atau di mana persisnya. Hal yang sama seperti yang terjadi setiap kali ia melihat manik merah Katsuki. Perasaan kuat bahwa ia pernah melihatnya jauh sebelum mereka bertemu.

"Izuku-san?"

Hanya saja...

"Ada apa?" Mina kembali berkata. "Kenapa wajahmu pucat sekali?"

Sekali ini ia merasa takut. Seolah-olah hal yang buruk akan terjadi.

"Tanganmu gemetar! Apa kau baik-baik saja?" Mina kembali berkata lagi. "Izuku-san?"

Ada apa sebenarnya?

Kenapa ia merasa begitu takut.. pada Shigaraki Tomura?


A.N:

Holla! Cyan kembali lagi! Seneng karena kita bakal membahas Villain Records ke depannya. Bahas masing-masing anggota juga spesialisasinya kayaknya menarik XD dan btw kalo ada judul-judul lagu yang kayaknya cocok sama image masing-masing personil, mohon infonya ya XD

Also :

Shinchan : hola Shinchan, salam kenal XD

Iya sih, it's been a while sejak saya nulis fic ini, tanpa sadar uda 2 taun saya tinggalin sebelum balik lagi, semoga kali ini benar-benar lanjut sampai tamat. Seperti yang kamu bilang, fandom ini uda gak terlalu hype dan asupannya juga mulai susah, jadi akhirnya saya putusin buat asupan sendiri :P

And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!