Lempar Balik, 1994
Fanfiction based on J.K Rowling books
…
Fic ini pernah aku upload tahun 2017 lalu hiatus, tapi kuputuskan buat mengupload ulang karena ada beberapa bagian yang mau aku benarkan hehe biasalah perfeksionis (padahal eyd masih banyak salah)
…
Sedikit memberanikan diri untuk menyalurkan imajinasi tentang fandom ini
Masih banyak salah, karena masih kurang jago menulis dalam EYD yang benar
Jika ada typo di maklumi, karena rocker saja juga manusia, apalagi penulis cabutan
Semoga menikmati karya kecil saya untuk Hermione dan Draco
…
Chapter One
…
London, 2019
"Pagi Miss Granger," terdengar sapaan dari seorang tukang roti di Jalan Brick Lane, London. "Pesanan seperti biasanya?"
"Tentu saja," jawab wanita itu sambil tersenyum.
Pekerjaan di Ministry of Magic UK memang tidak mudah dan banyak menyita waktu, namun wanita berambut ikal ini selalu menyempatkan mengunjungi orang tuanya setiap pagi di London. Ia sangat menikmati pagi hari nya di dunia muggle, tanpa ada satu orang pun yang mengenali siapa dia dan apa yang telah ia lakukan beberapa tahun lalu.
"Granger!"
"Hei Granger."
"Mione!"
Sambil mengunyah roti isi nya ia menengok ke sekeliling, mencari arah datang nya suara itu. Lalu dari kejauhan terlihat seseorang, teman sesama alumni Hogwarts, eh teman?
"Hei," Hermione tersenyum kecil. "Malfoy."
Pria berambut pirang itu akhirnya dapat menjangkau Hermione dan menyamakan langkahnya. Ia sedikit terengah engah namun tidak memudarkan senyum lebarnya saat melihat Hermione.
"Hei bukankah kamu penyihir terkenal itu, yang sering muncul dalam Daily Prophet atas pencapaian nya," kata Draco sambil sedikit tertawa.
"Malfoy, hentikan!" jawab Hermione sambil sedikit tersipu. "Sedang apa kamu di Brick Lane pagi pagi begini?"
"Aku baru saja dari café di ujung jalan sana," katanya sambil menunjuk sebuah gang kecil "Dulu aku sering kesana bersama Astoria."
Hermione melirik kearah pria itu, terlihat kesedihan yang masih menumpuk di ujung matanya. Sejak kepergian Astoria tiga bulan lalu, Draco menjadi sangat murung dan jarang terlihat keluar dari rumahnya.
Draco menoleh pelan kearah Hermione dan menemukan mata coklat yang menatapnya.
"Tidak usah merasa sungkan, memang sudah saatnya dia pergi." Kata Draco sambil menghela nafas. "Dia tidak bisa lari dari kutukan keluarganya."
"Aku turut berduka Draco," gumam Hermione pelan.
"Hahahahahaha," tiba tiba pria bermata abu-abu itu tertawa kecil.
"Eh, ada yang salah dengan perkataan ku?" tanya Hermione sambil menatap bingung pria di sebelahnya.
"Tidak, hanya saja sudah lama aku tidak mendengarmu memanggil ku dengan nama depan ku."
"Hei jangan memulainya lagi," kata Hermione kesal.
Draco tertawa mendengarnya, diikuti tawa Hermione yang berusaha ia tahan. Pagi itu menjadi hangat berkat obrolan kecil dari teman lama, sambil terus berbincang mereka berjalan hingga ujung Jalan Brick Lane.
Hogwarts, 1994
Akhir pekan adalah hari yang banyak ditunggu oleh murid-murid di sekolah sihir Hogwarts, itu adalah hari dimana siswa tingkat empat keatas bebas berkeliaran di Hogsmade. Berbeda dengan murid pada umumnya, seorang gadis berambut coklat lebih memilih untuk menghabiskan akhir pekan nya dengan setumpukkan buku non-fiksi di perpustakaan. Ia selalu menyukai perpustakaan di akhir pekan karena tentu saja selalu sepi, kecuali di minggu tenang sebeleum ujian.
"Siang Madam Pince," sapa Hermione saat melewati meja pustakawan Hogwarts.
"Siang Granger, tidak ada bosan-bosan nya ya kamu disini." Kata Madam Pince sambil menaruh buku di kereta dorong. Hermione hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Madam Pince.
Hermione langsung berjalan menuju rak bagian alkemis dan tidak sabar mencari buku yang sudah ia incar beberapa minggu terakhir. Ia sedikit tertegun sesampainya di blok bagian alkemis melihat seseorang yang sudah lebih dulu berada disana. Laki-laki itu duduk dan membaca sebuah buku dengan tangan kirinya berulang ulang melemparkan bola karet kecil ke udara. Menyadari kehadiran Hermione yang berdiri di ujung rak memperhatikan nya, ia menghela nafas kencang.
"Apa?" tanya Draco ketus.
"Tidak," jawab Hermione sambil memalingkan muka kearah rak buku.
Situasi canggung yang tidak terhindarkan terjadi di lorong itu. Hermione masih sibuk mencari buku nya dan Draco tetap membaca tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Bisa tolong geser sedikit? Aku ingin mengambil buku diatas sana." Kata Hermione sambil menunjuk sebuah buku bersampul merah. Tanpa menengok kearah Hermione, Draco segera menggeser buku dan kursinya memberikan ruang untuk mengambil buku.
"Rasanya janggal sekali melihat mu di perpustakaan," gumam Hermione pelan.
"Percayalah Granger, aku tidak akan berhenti menghina mu semester ini jika kamu tidak menutup mulutmu sekarang," ujar Draco ketus.
"Jantan sekali," ucapnya yang lalu berjalan pergi dan memilih duduk di meja dekat jendela, sejauh mungkin dari laki-laki arogan itu.
Hermione mulai membaca bukunya dan beberapa buku lain untuk menyelesaikan essai nya alkemis miliknya. Setelah berjam-jam ia habiskan untuk membaca, gadis itu melihat jam yang terikat ditangan nya, sudah menunjukkan pukul empat sore dan lehernya mulai terasa kaku.
Gadis itu mulai merapihkan buku yang telah selesai ia baca dan mengembalikkan nya ke masing-masing rak. Saat ia hendak mengembalikan buku terakhirnya ia kembali tertegun di ujung lorong rak. Laki-laki berambut pirang itu sudah tertidur pulas di atas bukunya. Hermione menggeleng-gelengkan kepala melihat laki laki tersebut.
BRAKK
Tiba-tiba suara buku jatuh terdengar dari lorong lain, dengan kaget Draco langsung terbangun dari tidurnya dan menatap Hermione sebentar sebelum menengok ke arah datang nya suara.
"Pagi," sindir Hermione.
"Diam Granger." Draco bangun dari duduk, melap mulut dan mulai merapihkan buku-bukunya. Hermione melirik sedikit judul buku yang sedang Draco tutup dan rapihkan.
"Buku itu, karangan Betty Flamehale kan?" tanya Hermione sambil menunjuk ke arah buku yang Draco pegang.
"Ya, bukan buku yang mudah untuk dimengerti." Jawab nya sambil memasukkan buku kembali ke rak.
"Ya aku pernah membacanya," kata Hermione sambil berdecak. "Aku tidak tau kamu tertarik dengan buku seperti itu, kukira kamu hanya tertarik dengan quiditch."
"Menjadi satu satunya penerus keluarga Malfoy memberiku sedikit pilihan," Draco membalikkan badannya menghadap Hermione. "Kamu tau itu?"
"Maksud mu?"
"Kamu sama sepertiku, anak tunggal kan? Satu satunya penerus keluarga," jawab nya. "Bedanya orang tua ku memiliki nama besar tidak seperti orang tua muggle mu."
Hermione melemparkan pandangan nya kearah Draco dengan kesal.
"Aku harus menjaga nama besar keluarga Malfoy, jangan sampai mempermalukan mereka hanya karena nilai ujian ku," lanjut Draco.
"Aku tidak tau sepeduli itu kamu dengan keluargamu," kata Hermione.
"Dan kamu harus tau segalanya?" kata Draco sambil memasukan tangan nya kedalam saku celana. "Jangan membuatku tertawa Granger."
Draco berjalan keluar perpustakaan dengan hentakan kaki yang keras, meninggalkan Hermione yang masih tertegun karena ucapan nya. Hermione menengok kearah laki-laki pirang itu, memandang nya hingga punggung nya hilang dari jarak pandang. Gadis itu mencoba mencerna ucapan yang keluar dari mulut laki-laki pirang itu, bertanya tanya apa benar itu Draco Malfoy.
...
Bulan September ini Hogwarts sedang dalam perbaikan besar-besaran, mengingat bulan depan Hogwarts akan menjadi tuan rumah Triwizard Tournament. Ditengah sibuknya murid-murid merapihkan sekolah, terlihat seorang gadis yang tengah duduk sendiri di hall tanpa kedua sahabatnya, menikmati jus labu dan membaca buku fiksi yang ia bawa dari dunia muggle. Setelah menghabiskan jus labunya, ia menutup buku yang ia baca dan bergegas kembali ke asrama.
Bersamaan dengan itu Draco memasuki hall bersama teman-teman slytherin nya sambil melempar-lembar bola karet dan memeragakan pertandingan Quiditch World Cup bulan lalu. Hermione mencoba melewati kerumunan ini dan tanpa sengaja Blaine menyenggol bahu gadis itu lalu menjatuhkan buku ditangan nya.
"Hey!" teriak Hermione.
"Ups, maaf kutu buku." Kata Blaine.
Draco berlutut untuk memungut buku Hermione.
"Ugh buat apa kamu repot-repot membawa buku karangan muggle kesini," Draco membolak-balik buku tersebut. "Apa bagusnya sih."
Hermione merebut bukunya dari tangan Draco dan membersihkan nya.
"Orang sepertimu mana bisa mengerti," katanya sembari membalik badan dan beranjak pergi. Draco menghadang badan Hermione dengan cepat dan menarik kembali buku itu dari lengan nya.
"Kamu merasa paling hebat ya Granger? Kamu bukan apa-apa selain kutu buku." Bisik Malfoy di telingga Hermione. Gadis itu mendorong Draco menjauh dari hadapan nya dan segera pergi meninggalkan mereka. Draco dan kerumunan nya tertawa melihat Hermione pergi, tanpa ia sadari buku itu masih berada ditangan nya.
Gadis berambut coklat itu berjalan dengan cepat menuju asramanya, ia bisa merasakan darahnya mendidih terbakar rasa kesal. 'Mengapa mereka selalu sangat kekanak-kanakan' pikirnya dengan geram.
Sesampainya di ruang bersama Gryffindor ia baru mengingat bahwa bukunya masih berada di tangan iblis pirang itu. Ia yakin Draco tidak akan mengembalikan buku itu, akan dibakar mungkin atau dijadikan pesawat kertas selama pelajaran. Hermione duduk didepan perapian sambil menenangkan diri, jangan membuang tenaga untuk membenci mereka pikirnya.
"Mione, kamu baik-baik saja?" tanya laki-laki berkacamata yang baru masuk ke ruang bersama.
"Ya, kenapa memang nya?"
"Aku mendengar kabar tadi Malfoy dan kerumunan nya mengganggu mu di hall," tanyanya sambil duduk disebelah gadis itu.
"Seperti biasa kan?" kata Hermione sambil menengok kearah Harry "Si anak manja butuh mengusik hidup orang agar tetap punya panggung."
Harry tertawa kecil dan menepuk pundaknya.
"Tenang, dia bukan apa apa tanpa nama keluarganya." kata Harry. "Menurutmu ayahnya pernah menjadi bintang iklan shampoo di dunia muggle? Aku yakin pernah melihatnya di koran."
Hermoine tertawa cekikikan membayangkan seorang Lucius Malfoy menjadi bintang iklan shampoo dan mengibas-ngibaskan rambut pirang nya nan indah.
"Hei, hei dengar, Viktor Krum dan murid-murid sekolah Durmstrang akan sampai di Hogwarts besok siang!" seru Ron girang saat memasuki ruang bersama.
"Aww jangan lupa nyatakan cintamu padanya Ron, kesempatan tidak datang setiap hari." Ejek Harry.
"Aku rela meninggalkan mu demi dia Harry, kau tau itu." Jawab Ron seperti orang yang sedang mabuk cinta, seisi ruangan pun tertawa.
...
"Hei Draco, dimana jas mu?"
Laki-laki berambut pirang meraba badan nya dan hanya merasakan kemeja putihnya tanpa balutan jas.
"Ah," katanya sambil memasang muka malas. "Kamu duluan saja, jas ku sepertinya masih di hall"
"Hahaha selalu saja," tawa Pansy Parkinson, pasangan dansa Draco. "Yasudah aku duluan ya, bisa mati aku menghabiskan satu detik lagi memakai heels ini"
Draco menepuk pundak Pansy pelan dan berbalik arah berjalan menuju hall. Ia berjalan sendirian melewati lorong yang telah sepi, murid lain sudah kembali keasrama masing-masing setelah Yule Ball berakhir.
Laki-laki berambut pirang itu mulai bersenandung pelan lagu yang ia dengar tadi saat di pesta dansa, tiba-tiba ia mendengar sesuatu. Samar-samar terdengar isak seorang wanita di ujung lorong. Draco berdelik takut, hantu kah, pikirnya. Setelah ia berpikir dua kali, hantu-hantu menangis di Hogwarts merupakan hal yang lumrah.
Suara tangisan itu semakin jelas seiring ia berjalan, namun ia memperlambat langkahnya saat melihat seseorang di lorong. Gadis bergaun merah muda itu duduk dipinggiran jendela dan menenggelamkan wajahnya di kedua pahanya. Draco melirik wanita itu tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Pergi!" Pekik wanita itu bahkan tanpa menatap siapa yang berada didepan nya.
"Okay okay," Draco pun kembali mempercepat langkahnya.
Sesampainya di hall Draco langsung menemukan jas nya di kursi yang ia duduki tadi. Setelah mengalungkan jas dilengannya laki-laki itu berpikir ulang tentang rute perjalanannya menuju asrama, ia tidak ingin diteriaki lagi dan memilih rute yang memang agak sedikit memutar untuk menghindari gadis itu.
Baru melayangkan kakinya beberapa langkah, Draco berhenti dan membalikkan langkahnya. Ia berjalan menuju lorong yang sama saat ia datang tadi.
"Sudah kubilang pergi!" seru gadis itu.
"Ini, daripada kamu merusak gaun mahal mu itu." Kata draco sambil memberikan sebuah sapu tangan biru.
"Sudahlah pergi saja."
"Jangan salah paham Granger, tentu saja aku ingin pergi dan istirahat. Tapi aku tidak tahan melihat gadis yang sedang menangis." Kata Draco. "Sudahlah ambil saja."
Draco menarik tangan Hermione dan memberikan sapu tangan nya. Laki-laki itu langsung melepaskan tangan nya lalu beranjak meninggalkan gadis itu.
"Jangan kebanyakan menangis, nanti dehidrasi." Kata Draco.
"Hey," kata Hermione lirih "Kamu mau menemaniku sebentar."
Laki-laki itu menghela nafas panjang, memang kelemahan nya tidak tega melihat wanita menangis karena teringat ibunya. Ia memutuskan untuk duduk disebelah gadis itu dan mengelus punggung nya pelan tanpa berkata apapun.
"Malam yang buruk, huh?" kata Draco mencoba membuka pembicaraan.
"Tidak buruk bagimu tentu saja," jawab Hermione singkat.
"Hei, kamu datang dengan Viktor Krum!" seru Draco. "Aku harus menunggu berbulan bulan hanya untuk mendapatkan tanda tangan nya."
Hermione tertawa kecil.
"Sejujurnya malam ini cukup menyenangkan," sambung nya.
"Menyenangkan? Berdansa menyenangkan bagi seorang Malfoy?" tanya Hermione sambil masih terisak.
"Bukan hanya dansa nya saja, tapi secara keseluruhan." Jawab laki-laki berambut pirang itu. "Kehidupan di Hogwarts kadang sangat membosankan."
Setelah mereka berdua berbicara, tangisan Hermione semakin mereda hingga tiada lagi terdengar isaknya. Draco menarik lengan baju untuk melihat jam di tangannya, sudah jam satu lebih dan ia semakin mengantuk. Lalu ia berdiri dan menepuk pundak Hermione.
"Sudah tenang kan, aku pergi saja."
Lalu akhirnya Hermione mengangkat kepalanya, wajahnya sudah benar-benar berantakkan, mata sembab dan hidung merahnya tidak bisa ia tutupi dibalik sapu tangan Draco.
"Terimakasih Malfoy," kata Hermione sambil mencoba tersenyum diantara raut sedih wajahnya.
DEG
Tanpa membalas Hermione, Draco langsung beranjak pergi. Ia mempercepat setiap langkahnya, lebih cepat lagi, lebih cepat lagi. Jantung nya berdebar cepat sekali, ia bisa merasakan wajahnya memanas hingga ke telinga. Masih terngiang jelas di benaknya wajah itu, dengan riasan yang luntur, mata yang sembab dan hidung yang merah. Semakin lama semakin jelas wajahnya, semakin kencang detak jantung nya. Setelah sekian lama mengenal gadis itu, baru malam ini dia menyadarinya.
Betapa cantik seorang Hermione Granger.
…
To be continued
…
Sangat amat terbuka terhadap kritik dan saran! Jangan sungkan-sungkan buat review.
Nuhun.
