Lempar Balik, 1994
Fanfiction based on J.K Rowling books
...
Chapter Two
...
Halthane, 2019
Matahari di atas sana sudah mengucap pamit kepada langit biru, memantulkan cahaya oranye kesetiap sudut ruang. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan, menerangi perumahan kecil di sudut kota Halthane. Perumahan yang dipenuhi dengan rumah-rumah bergaya renaisans yang tertata rapih, dengan halaman depan yang ditanami rerumputan hijau segar. Disinilah perumahan tempat Hermione dan Ron tinggal.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari pintu depan kediaman Ronald Weasley. Seorang wanita berambut coklat bangkit dari duduknya dan berjalan menuju asal suara tersebut, sambil masih memegang buku yang sedang ia baca.
"Ginny!" Pekik wania itu girang sambil memeluk Ginny Weasley, adik ipar dan juga sahabatnya.
"Hai Mione," ucap Ginny sambil membalas pelukan Hermione.
"Ayo masuklah," kata Hermione mempersilahkan wanita berambut oranye itu masuk.
Hermione dan Ginny duduk di ruang tengah sambil menikmati hot chocolate buatan Hermione yang terkenal lezat.
"Bagaimana pekerjaan mu di kantor? Ku dengar sedang sibuk-sibuknya," tanya Ginny sambil menaruh kembali cangkir ke atas meja.
"Benar-benar deh! Melelahkan sekali, aku jadi susah mengunjungi rumah orang tua ku." Jawab Hermione.
"Setidaknya kamu selalu menyempatkan bertemu mereka kan," kata Ginny.
"Hmm, Gin," kata Hermione sedikt kaku. "Aku bertemu Draco di Brick Lane kemarin pagi."
Ginny mengangkat alisnya terkejut.
"Benarkah? Aku sudah jarang melihat dia sejak kepergian Astoria," kata Ginny. "Dia benar-benar terpukul saat kehilangan istrinya."
"Aku tidak tau seorang Draco bisa mencintai orang lain selain dirinya," celetuk Hermione.
"Mione! Yang benar saja!" Pekik Ginny kesal. "Kamu tidak ingat bagaimana dia terhadap kamu dulu!"
"Maksudku-"
"Masa kamu lupa seberapa banyak wanita yang ia tolak hanya karena dia belum bisa melupakanmu!" seru Ginny memotong kata-kata Hermione.
Hermione menghela nafas panjang, entah berapa kali Ginny menyampaikan hal itu namun tetap saja sulit ia terima. Bertahun-tahun sudah terlewati, namun gelap itu masih terkurung di memorinya. Hermione menyenderkan kepalanya di bahu Ginny.
"Gin," bisiknya. "Apakah aku salah tidak mencarinya waktu itu?"
"Tentu tidak Mione," jawab Ginny sambil mengelus rambut ikalnya. "Ada realita yang tidak bisa dihindari lagi."
Hogwarts, 1994
"Pansy, apakah kamu pernah tau mantra yang membuat jantung orang jadi berdetak kencang?" tanya laki-laki berambut pirang yang sedang memainkan bola karetnya.
Ruang bersama Slytherin sore itu terlihat sepi, hanya ada beberapa murid yang tinggal di asrama, sisa dari mereka pergi keluar kastil untuk membeli sesuatu di Hogsmeade atau sekadar mencari suasana baru disekitar kastil. Hari itu Draco dan Pansy adalah salah dua dari murid yang memilih untuk tinggal di asrama daripada harus memakai sweater tebal untuk menghalangi dinginnya cuaca.
"Mantra tak berguna macam apa itu? Untuk kedokteran kah?" jawab Pansy sambil menengok bingung kearah sahabatnya, tumben sekali ia bertanya soal mantra saat akhir pekan begini.
"Tidak, tidak" jawabnya sambil membenarkan postur duduknya. "Hanya saja belakangan ini jantung ku berdetak lebih kencang saat melihat beberapa orang."
"Beberapa?" Pansy mengangkat sebelah alisnya.
"Hanya satu orang sebenarnya," kata Draco sambil menggaruk kepalanya. "Seorang perempuan."
"Memang orang tidak bisa sempurna ya," gumam wanita berambut hitam itu.
"Apa maksudmu?" tanya Draco bingung.
"Kalau sudah tampan dan kaya pasti saja otaknya setengan sendok makan. Kamu suka padanya bodoh!" seru Pansy sambil menjitak pelan kepala Draco "Itu sebabnya jantung mu berdetak kencang saat bertemu dengan perempuan itu!"
"Suka?" tanya Draco bingung. "Tidak, tidak, tidak, tentu saja tidak."
"Lalu apa menurut mu?"
"Entahlah, semacam mantra?" jawab Draco. "Pasti ada kan?"
"Bicara sana sama perapian Draco,"kata Pansy sambil berdiri dan berjalan ke arah dapur bersama.
Draco mengacak-acak rambutnya bingung. Suka? Tahu apa dia tentang percintaan, orang yang pernah laki-laki itu cintai hanya kedua orang tuanya. Draco meraih sweaternya dan bergegas keluar menuju hall untuk menjernihkan pikiran nya. Hall sedang ramai-ramainya sore itu, mungkin karna sudah mendekati jam makan malam. Sekilas Draco melihat rambut coklat ikal diantara murid-murid lain, matanya semakin terbiasa menemukan gadis itu dalam keramaian, lagi-lagi jantung nya berdetak kencang tapi ia coba untuk mengkontrol nya dengan bernafas dalam-dalam. Sudah dua minggu sejak malam saat ia menemani gadis itu menangis, namun tetap saja masih teringat setiap detail tentang malam itu.
Gadis berambut coklat itu pun menyadari seseorang yang tengah memasuki hall, bagaimana tidak, rambut pirang nya akan terlihat bahkan dari jarak ratusan meter. Walau hanya saling bertukar pandang, itu mampu membuat gadis itu kaku dan canggung biarpun jarak mereka jauh. Sama seperti Draco, ingatan Hermione tentang malam itu masih sangat jelas. Malam dimana dia dengan bodoh meminta musuh bebuyutan nya untuk duduk menemani, bodoh sekali! Hermione berusaha tidak melirik kemana laki-laki pirang itu berjalan, namun sangat sulit dilakukan ketika matanya saja tidak mematuhi perintah. Kedua penyihir itu hanya saling melirik satu sama lain dan berusaha menyibukkan diri agar teman mereka tidak menyadarinya.
...
Bau khas laundry yang baru kering dapat tecium jelas dari setiap sudut ruangan, Hermione melipat baju-baju nya yang baru selesai di cuci sendirian di ruang laundry. Gadis itu menarik sebuah sapu tangan dari tumpukkan baju yang sudah dilipat, kata orang setiap benda memiliki nyawa mungkin jika diberi lisan juga sapu tangan ini sudah berteriak ngeri karna ia tatap terlalu lama. Sapu tangan biru dongker tersebut memiliki bordir lambing keluarga Malfoy berwarna silver di pojok kanan nya, tentu saja ia masih ingat siapa pemiliknya. Ah malam itu, ia hampir tidak percaya seorang Malfoy bisa selembut kepadanya. Benar-benar sulit dipercaya bahwa itu Malfoy! Malfoy! Biasanya ia selalu menghina gadis itu, tidak pernah satu pujian pun yang keluar dari mulutnya. Apakah mungkin sebenarnya iblis pirang itu bersifat baik? Dia hanya berpura-pura menjadi jahat mungkin? Ah mana mungkin pikirnya. Hermione melirik lagi sapu tangan yang sedang ia genggam, mengapa wajahnya terasa panas.
"Ah sudahlah," gumam gadis itu sambil memasukan sapu tangan ke kantung roknya.
Setelah menaruh tumpukan baju bersihnya di lemari Hermione menyambar kertas perkamennya dan segera menuju perpustakaan. Dengan pikiran yang masih diganggu laki-laki pirang itu, Hermione menyeleksi buku yang ia butuhkan, tinggal satu buku lagi yang ia cari. Gadis itu berbelok ke rak sejarah sihir dan refleks menghentikan langkahnya saat melihat sosok seseorang. Laki-laki itu berdiri disana sambil membaca sebuah buku, ia mengenakan kemeja hitam yang dibalut dengan sweater dengan warna senada, rambutnya dibiarkan sedikit berantakkan namun malah menambahkan ketampanan nya. Ia menengok sejenak saat melihat Hermione, mereka berdua hanya berdiri disana.
Rahang Draco mengeras saat melihat Hermione berdiri di ujung lorong. Memang ia sengaja datang ke perpustakaan untuk bertemu dia, namun saat yang ia cari sudah di depan mata rasanya mustahil untuk menggerakan satu otot pun. Saking salah tingkah nya Draco malah kabur dan meninggalkan buku yang ia baca di atas meja. Ia merasa itu saja cukup untuk hari ini, melihatnya sudah cukup mungkin, masih ada hari lain untuk mencoba berbicara dengan nya.
Saat hendak meninggalkan perpustakaan, Draco berpapasan dengan salah satu murid Durmstrang yang populer diantara kaum hawa, siapa lagi kalau bukan Viktor Krum. Melihatnya memasuki perpustakaan Draco langsung membalikan badannya dan berlari kembali ke lorong rak tadi, dirinya dapat menerka tujuan Krum datang keperpustakaan. Melihat Hermione sudah tidak dilorong itu lagi, ia mulai memindai seisi perpustakaan, mencari rambut coklat itu setiap sudut ruangan, tak lama matanya langsung menangkap figur yang ia cari. Berbekal mengambil buku terdekat yang bisa ia raih, Draco segera duduk tidak jauh dari tempat gadis itu. Sambil masih terengah-engah ia mencoba bersikap tenang saat duduk disebelahnya.
Gadis itu kaget saat melihat Draco duduk di kanan nya, tidak jauh dari tempat ia duduk, badannya mulai merasa kikuk. Sampai tiba tiba ia melihat Krum juga duduk di samping kirinya, badannya makin membeku, rasanya tidak ingin menggerakkan apapun bahkan mengembang kempiskan paru-paru untuk bernafas. Hermione dijepit dua laki-laki yang membuat dia grogi belakangan ini, otaknya mengeluarkan tanda bahaya dan menginstruksikan untuk melarikan diri jauh dari tempat ini.
Draco pura-pura membuka buku yang ia ambil secara acak, judulnya pun tidak sempat ia baca. Sambil sesekali melirik kearah Hermione dan Krum, sudut matanya menangkap laki-laki asal Durmstrang itu juga diam-diam melirik gadis yang duduk diantara mereka. Draco ingin sekali membuka pembicaraan terlebih dahulu sebelum kesempatan nya di rebut laki-laki botak itu, ayolah biasanya juga asal bicara! Itu Granger! Granger! Yang selalu kamu hina! Otak Draco serasa berkabut, tiada satupun topik pembicaraan yang terlintas di benaknya. Oke ayolah, tanya saja sekarang jam berapa. Oke, oke itu saja yang ku tanyakan. Draco mengambil nafas dalam dalam.
"Mione!"
Sebuah suara yang memecahkan konsenterasi para peserta lomba melirik. Hermione menengok pelan, berharap sebuah pertolongan dikirimkan oleh tuhan untuknya. Betapa senang gadis itu saat menemukan sahabatnya berdiri tepat dibelakangnya.
"Harry! Syukurlah," kata Hermione menghela nafas lega.
"Syukurlah?" gumam Draco spontan, Hermione menengok kearahnya dengan tatapan kaget diikuti dengannya menutup seluruh wajah dengan buku.
Harry bisa sedikit memahami situasi gadis itu dan mencoba untuk tidak tertawa.
"Nampaknya kamu sibuk?" tanya Harry sambil tersenyum jahil. "Mau menemaniku bertemu Professor Binns?"
"Tentu saja!" jawab Hermione dengan cepat lalu membereskan buku-bukunya, ia bahkan berjalan keluar lebih dulu sebelum Harry. Sahabatnya hanya tertawa kecil sambil mengikuti langkah gadis kutu buku itu.
"Krum benar-benar mengikuti mu kemanapun ya?" tanya Harry saat mereka sudah berada di lorong depan perpustakaan.
"Hm?" saut Hermione. "Oh ya, Krum, tentu saja."
"Percayalah Mione, dia seakan tersihir oleh mu." Kata laki-laki berkacamata itu. "Kamu tidak mencoba memberi dia ramuan cinta kan?"
Hermione mencubit keras lengan Harry, diikuti oleh Harry yang meringis kesakitan.
"Ngomong-ngomong, tadi kenapa Malfoy ada di dekat mu? Dia mengganggumu lagi?" tanya Harry.
"Ah tidak, dia hanya membaca buku sepertinya." Jawab Hermione.
"Malfoy? Membaca?" Harry seakan tidak percaya akan perkataan sahabatnya.
"Iya, dia sepertinya tidak ingin mencoreng nama besar keluarganya dengan nilai ujian yang jelek." Jawab Hermione diikuti dengan tatapan bingung Harry. "Sepertinya ya, aku hanya menduga-duga."
"Setidaknya dia tidak berisik dan mengganggumu kan."
Gadis itu mengangguk pelan, jelas-jelas kehadiran dia di dekat Hermione sangat mengganggunya entah karna apa. Walaupun memang laki-laki itu semakin terlihat tampan belakangan ini, ditambah lagi dengan ia berhenti menghina dirinya, eh. Hermione menggelengkan kepalanya, keluar dari pikiran ku Malfoy!
...
"Kok cepat?" tanya Pansy saat melihat Draco menghampirinya di hall
"Jangan tanya," Jawabnya ketus dengan raut wajah yang tidak enak dilihat.
"Astaga Draco, aku hanya menyuruh mengajak gadismu itu mengobrol!" seru Pansy sambil menggelengkan kepalanya. "Seberapa sulit kah itu."
Draco langsung menegak habis jus labu yang ada dihadapan nya, ia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Pansy. Memang terdengar mudah, mengajak bicara, namun realitanya tidak begitu. Ditambah lagi dengan kehadiran Viktor Krum yang tidak diundang itu, bagaimana caranya!
"Sudah boleh aku tau siapa gadis ini?" tanya Pansy menggoda sahabatnya itu.
"Percayalah, lebih baik tidak."
"Ayolah Draco! Aku janji tidak akan menggoda mu di depan nya." Paksa Pansy sambil menggoyang-goyangkan lengan Draco. "Ya mungkin sedikit, tapi ayolaaah."
"Ah sudahlah, lupakan." Kata Draco sambil membenamkan seluruh wajahnya di meja, "Tanpa kamu goda juga dia pasti akan menghindariku, sudahlah menyerah saja."
Pansy menghela nafas panjang, baru sekali ini dia menyaksikan sahabatnya benar uring-uringan dan tak berdaya hanya karna seorang perempuan. Draco memang mempunyai banyak penggemar perempuan dari segala penjuru asrama, walaupun sifatnya jelek dan menyebalkan namun ketampanan nya bisa menutup segala keburukan hidupnya. Tentu saja Pansy tidak ingin melihat temannya itu jadi aneh setengah mati gara-gara perihal cinta.
"Draco," panggil Pansy pelan. "Apa yang kamu sukai dari gadis ini?"
"Hmm," Draco mengangkat kepalanya pelan.
"Dari cara dia bicara, selalu terkesan sombong dan sok tahu, tapi ternyata menarik untuk didengar. Bagaimana ia selalu peduli terhadap semua orang, penampilan nya selalu rapih walaupun sehabis begadang mengerjakan tugas, dia sangat pintar, matanya... indah." Draco menelan ludahnya, "Dan aku baru menyadari nya sekarang"
"Lalu?"
"Aku hanya ingin dekat dengannya Pans," laki-laki itu menghela nafas. "Aku ingin melihatnya tertawa, tersenyum. Mungkin cukup."
"Kalau begitu lakukan lah," gadis itu tersenyum kecil. "Jadi seseorang yang bisa dekat dengan nya, bisa membuatnya tertawa bahkan saat dia sedih."
"Tapi dia sudah terlanjur membenci ku," Draco melemparkan pandangan nya kearah Pansy.
"Tentu saja! Manusia mana yang tidak membenci mu, bodoh!" kata Pansy sambil melayangkan sebuah pukulan pelan. "Alasan mu tidak valid!"
Pansy hanya bisa menghela nafas. Sahabatnya itu benar-benar bodoh! Atau memang semua pria seumuran nya seperti ini. Gadis itu berdiri dari kursinya, memegang kedua lengan Draco berusaha menariknya hingga berdiri.
"Apa-apaan sih!" seru Draco kesal.
"Tolonglah sekali saja tidak bodoh begini," kata Pansy. "Sekarang cari gadis itu dan jangan kembali sebelum kamu berbicara satu kalimat penuh padanya."
"Sudah ku bilang tidak berguna!"
Pansy mengeluarkan tongkat dari jubahnya dan mengarahkannya ke Draco, "Kalau kamu tidak pergi sekarang ku ubah badan mu menjadi ferret lagi."
Draco menelan ludahnya pelan, dengan enggan akhirnya ia melangkahkan kakinya keluar dari hall. Menyisakan Pansy yang tersenyum melihat gerak-gerik sahabatnya, gadis itu hanya bisa berharap keberuntungan untuknya. Semoga kali ini si bodoh yang besar kepala itu tidak mati gaya didepan gadis yang ia suka.
...
To be continued
...
I'm sorry about the typos! I'm a bit dyslexic so how many time I proofread the script I can't seem to find it. Please let me know if there's a something bothering you, I'll correct it.
Nuhun.
