Lempar Balik, 1994
Fanfiction based on J.K Rowling books
…
Chapter Three
…
Wiltshire, 2019
Jalan-jalan setapak ditutupi lapisan air yang membeku, musim dingin masih menyelimuti kota itu, merubah segala yang berwarna jadi kelam dan kelabu. Walaupun sudah seminggu lebih salju berneti turun namun hawa dingin masih menusuk hingga tulang dan beruntungnya hari ini matahari sudah menampakkan rupa. Seorang pria mengenakan jas hitam rapih berjalan dengan hati-hati, berusaha tidak terpeleset karena jalan yang licin. Meskipun di kelilingi tumbuhan yang mati karena dingin namun ditangannya ia menggenggam seikat mawar merah segar. Pria itu berhenti tepat didepan sebuah batu nisan dan berlutut menaruh mawar yang ia bawa.
Here Lies Our Beloved mother and wife, Astoria Malfoy.
Ia mengecup tangannya dan menempelkan ke atas batu nisan, seakan ia mengecup istrinya. Jangan menangis saat menengokku! Masih terngiang jelas pesan Astoria di kepala suaminya. Draco Malfoy mengembangkan bibir dan mencoba memenuhi kemauan istrinya.
"Cuacanya sedang cerah," pria itu masih berlutut di hadapan batu nisan. "Kamu pasti menyukainya."
Kehilangan istri tiga bulan lalu bukan hal yang mudah untuk dihadapi Draco, enam bulan sebelum Astoria menghembuskan nafas terakhir ia melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Draco menghentikan segala aktifitas saat kondisi kesehatan istrinya memburuk ia banyak belajar tentang pengobatan tradisional dan cara menangani pasien, ia bahkan belajar memasak makanan kesukaan Astoria agar bisa melihat senyum kecil di wajahnya.
Bulan pertama tanpa kehadiran Astoria pria itu habiskan dengan tidur di kamar tamu karna ia tidak mampu tidur dikamarnya sendiri, kamar itu masih pekat dengan aroma istrinya dan ia tidak bisa menahan air mata jika terlalu lama berada di ruangan itu.
Draco memberikan berita terbaru mengenai anak mereka, Scorpius sudah kembali ke asrama dan saat ini sedang rajin mengirim surat untuk bertanya bagaimana keadaan ayahnya.
"Dia tumbuh jadi anak yang sopan, tidak sepertiku." kata Draco sambil terkekeh. "Untung sifat mu yang dominan."
Draco mengadahkan kepala ke langit, air matanya mulai meleleh, jantung terasa berat dihimpit rasa pilu. Setiap jengkal dari tubuhnya merindukan Astoria, ia rindu tangan mungil membelai rambutnya sebelum tidur, lengan hangat memeluknya saat harinya sedang buruk, rambut hitam yang selalu ia tata dengan rapih, bibir merona mencium pipnya dengan lembut, ia rindu tiap sentuhan hangat yang diberikan istrinya.
"Aku belum siap mengosongkan lemarimu," katanya sambil menyeka air mata. "Aku tau kamu memintaku untuk langsung menyumbangkan barang-barangmu, namun untuk sekali ini saja aku membangkan tidak apa kan?"
Draco berdiri dan membersihkan tanah di celananya, kunjungan tiap minggu ke makam istrinya memang selalu berakhir dengan air mata. Ia belum bisa sepenuhnya merelakan kepergian Astoria, kalau bukan karna Scorpius mungkin Draco sudah kehilangan akal sehat. Tanpa kehadiran Astoria pria itu tinggal seorang diri dirumah megah miliknya, suara istrinya tidak lagi menggema dari ruang makan menyuruhnya untuk turun, tidak ada lagi tumpukan buku yang sering ia tinggalkan di atas Kasur, tidak ada lagi hangat yang menyambutnya setiap pulang. Hanya dia sendiri berteman dengan ilusi akan kehadiran istrinya.
Sebeleum meninggalkan nisan nya Draco teringat akan sesuatu, ia memberitau tentang pertemuan nya dengan Hermione Granger kemarin pagi. Pria itu yakin Astoria akan menggodanya jika ia berada disana, ia selalu berkata bahwa Draco dan Granger adalah Romeo dan Juliet versi dunia sihir, istrinya memang sering bercanda tentang masa lalunya dengan Hermione. Benar gadis berambut ikal itu adalah cinta pertama Draco namun yang ia rasakan dengan Astoria berbeda dengan yang ia rasakan dengan 'Juliet' nya.
"Aku pamit dulu," kata Draco sambil menepuk nisan Astoria. "Baik-baik kamu di atas sana, tunggu sebentar ya, suatu hari nanti aku akan datang menemuimu. Sampai hari itu tiba, aku akan berusaha menyambung nafas tanpamu."
Sayup-sayup terdengar suara lonceng dari gereja yang berada tidak jauh dari pemakaman, nampaknya disana sudah ramai penduduk yang ingin melaksanakan ibadah mengingat ini adalah malam natal. Sudah hampir tahun baru lagi, pikir Draco sambil menyusuri jalan kembali ke rumahnya.
Mendadak sekelebat memori masuk lagi ke otaknya, kejadian pada malam pergantian tahun 25 tahun yang lalu. Pria itu tersenyum kecil mengingat akan apa yang terjadi pada malam itu.
"Itu langkah terbaikmu Granger."
Hogwarts, 1994
"Kamu tidak pulang tahun baru ini Mione?" tanya Katie sambil mengenakan sweater nya.
"Tidak, aku sudah izin Mum untuk tetap di asrama." Jawab Hermione. "Lagi pula aku harus membantu Harry dengan task Triwizard Tournament nya."
"Ngomong-ngomong dengan Harry, kamu dan Harry memiliki hubungan khusus atau tidak sih?" celetuk Lavender yang sedang menyisir rambut ikalnya.
"Hah? Tidak kok," jawab gadis itu dengan cepat.
"Aku hanya bertanya kok hehe," kata Lavender sambil tertawa kecil. "Semua orang juga sudah tau siapa yang sedang dekat dengan mu."
"Maksudmu?"
"Ayolah Mione! Kalian sering terlihat bersama belakangan ini, di perpustakaan, saat Yule ball, bahkan di hall saja dia sering memperhatikan mu!" seru Katie girang.
"Si.. siapa?" Hermione terbata.
"Krum! Viktor Krum Mione!" pekik Lavender sambil tersenyum lebar. "Si tampan dari Drumstrang itu."
"Oh dia," Hermione merasa sedikit lega karena bukan nama orang lain yang keluar, "Kami hanya teman biasa."
"Yah sayang sekali, padahal kalian terlihat cocok." timpal Katie.
"Memang nya tidak ada laki-laki yang kamu suka?" tanya Lavender.
Entah mengapa pertanyaan itu membawa masuk kembali seseorang ke otak Hermione. Sampai minggu lalu orang itu selalu menjadi manusia yang paling ia benci, manusia terendah versinya. Namun dalam seminggu ini semua berubah dengan drastis, orang itu tidak lagi seburuk dipikiran nya.
"Hmm, mungkin."
"Apa?!" pekik Ginny yang saat itu baru memasuki kamar gadis gadis ini, "Tolong ulangi sekali lagi."
"Err.. mungkin… aku menyukai.. seseorang.." ulang Hermione dengan terbata.
"Mungkin?" tegas Katie.
"Aku sendiri tidak yakin," kata Hermione sambil tersenyum terpaksa, wajahnya berubah menjadi merah. "Sudahlah ayo tidur, sudah malam."
Katie, Lavender dan Ginny hanya bertukar tatap bingung, siapa pria beruntung yang disukai teman cantik mereka ini.
…
Pagi itu badan Draco terasa berat, semua otot di badan nya tidak ingin diajak bekerja. Fisik nya sangat lemas seperti hanya angina yang dibalut oleh kulit, wajahnya pun terlihat pucat seperti hantu. Mungkin ini hasil dari kegiatannya kemarin, ia melewatkan makan siang karena harus mengikuti detention lalu selepas latihan quiditch di hari bersalju, ia hanya menyantap semangkuk sup jagung sebelum akhirnya tepar karena terlalu lelah. Ingin rasanya berbaring seharian di Kasur namun sepertinya sulit, hari ini dia harus mengikuti detention lagi Karena pernah tidak sengaja memecahkan beberapa botol ramuan Professor Snape saat kelas ramuan. Draco berharap siapapun yang menjadi pengawas detention hari itu melewatkan namanya agar ia bisa tetap berada di Kasur.
Berbanding terbalik dengan laki-laki berambut pirang itu, pagi itu Hermione sudah rapih mengenakan baju hangat nya, ia berniat untuk membaca novel kesukaan nya di hall sambil ditemani hot chocolate kesukaan nya. Menjelang libur tahun baru hall menjadi sangat sepi, terlebih lagi di pagi hari seperti ini. Gadis itu bersenandung pelan di lorong saat ia melihat Syl seorang Hufflepuff yang juga teman sekelas di mata pelajaran sejarah.
"Syl!" panggilnya pelan sambil mempercepat langkah mengejar teman nya itu.
"Hei Mione, sedang apa pagi-pagi begini?" tanya nya sambil menghentikan langkahnya.
"Aku ingin membaca buku di hall," jawabnya "Kamu sendiri?"
"Detention," jawab Syl sambil memasang wajah memelas. "Ini karena aku telat saat pelajaran Madame Hooch."
"Ah kasihan sekali, semangat Syl!" kata Hermione mencoba menyemangati teman nya. "Mendapat hukuman apa kamu?"
"Membantu Hagrid berkebun, untung saja tidak begitu berat." Jawabnya. "Aku duluan ya Mione."
"Syl, bukannya perkebunan ke arah sana?" kata Hermione saat melihat Syl berjalan berlawanan arah dengan perkebunan.
"Oh bukan, aku disuruh memanggil Malfoy juga. Harusnya ia ikut detention hari ini namun dia tidak hadir." Jawabnya. "Baiklah aku pergi dulu ya."
"Err.. Syl!" panggil gadis itu lagi. "Boleh aku ikut dengan mu? Aku selalu penasaran dengan asrama Syltherin."
Syl mengangkat sebelah alisnya bingung, "Memangnya berbeda dengan asrama lain?"
"Mungkin saja kan? Aku hanya penasaran."
"Hmm, baiklah." Jawab Syl mengiyakan Hermione. "Lumayan ada teman mengobrol."
Hermione dan Syl berjalan melewati lorong-lorong kastil Hogwarts yang umurnya sudah ratusan tahun. Sambil berjalan Syl meceritakan betapa senang asrama Hufflepuff saat Cedric unggul dalam Triwizard Tournament namun tentu saja Hermione tidak bisa fokus dengan cerita Syl. Otaknya sedang berkelahi satu sama lain, mengapa dengan spontan ingin menemani Syl memanggil Malfoy, apa untung baginya untuk bertemu Malfoy pagi itu? Seharusnya sekarang dia sudah bisa berada di hall dengan tenang.
"Edwin!" tiba-tiba teriakan Syl membangunkan Hermione dari lamunan nya, Syl berlari ke arah seorang laki-laki bertubuh jenjang itu.
"Hei Syl, sedang apa disini?" tanya Edwin murid Asrama Slytherin.
"Bisa tolong panggilkan Malfoy? Aku disuruh memanggilnya untuk mengikuti detention hari ini." Jawab Syl.
"Kamu dapat detention?" Syl hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Edwin. "Kamu juga Granger?"
"Uhh tidak aku hanya-"
"Dia penasaran dengan bentuk asrama kalian," potong Syl dengan cepat sebelum Hermione sempat menyelesaikan.
"Kalau begitu ayo sekalian masuk saja, sedang tidak banyak orang akhir tahun begini." Kata Edwin sambil membuka pintu ke ruang bersama Slytherin, Syl dan Hermione mengikuti dari belakang.
Edwin berbelok memasuki sebuah lorong dengan jendela-jendela besar disebelah kanan sebelum akhirnya berhenti di sebuah pintu kamar.
"Tolong jangan kaget melihat keadaan kamarnya," katanya sambil menyengir. "Namanya juga kamar laki-laki."
Laki-laki jenjang itu membuka pintu kamar dengan pelan memperlihatkan seisi kamar yang memang seperti katanya, berantakkan, walaupun hanya tersisa dua siswa yang tinggal di kamar itu.
"Draco bangun! Kamu ditunggu untuk detention!" Edwin sambil menarik selimut Draco, langsung terlihat badan Draco yang lemas dan wajahnya yang pucat. "Hei kamu baik-baik saja?"
Laki-laki berambut pirang itu merasa kedingingan saat selimutnya Edwin tarik, ia membuka matanya perlahan dan menemukan tiga orang asing berdiri di sisi ranjang nya.
"Selimut.. dingin..." katanya pelan sambil tangan nya meraba raba seisi Kasur.
"Malfoy kamu pucat sekali," celetuk Syl.
Mendengar suara perempuan di kamarnya Draco langsung memfokuskan pandangan matanya, sekarang ia melihat dengan jelas siapa yang berdiri di sisi ranjang.
"Untuk apa kamu disini?" tanya Draco ketus.
"Detention Malfoy, masih ingat?" jawab Syl cepat.
Raut Draco langsung berubah menjadi masam, kenapa harus sampai dipanggil begini. Laki-laki itu berusaha mendudukkan badan lemasnya di pinggir Kasur, setelah merasa seimbang ia mencoba berdiri untuk berganti baju.
GUBRAK
Badan Draco langsung tersungkur ke lantai sedetik setelah ia berdiri, tangan panjang Edwin pun tidak sempat menangkapnya saat terjatuh.
"Ehhh," seisi kamar heboh saat melihat Draco.
Hermione langsung berlutut mencoba menyandarkan badan Draco di ranjang, dibantu Syl dan Edwin.
"Kenapa kamu disini?" tanya Draco refleks saat melihat wajah gadis itu.
Tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya Hermione langsung memeriksa suhu badan Draco, "Suhu tubuhmu tinggi sekali, sebaiknya kamu ke Hospital Wing sekarang."
"Sudah jelas aku baik-baik saja, jangan terlalu berlebihan." Jawab Draco yang tidak ingin mengaku bahwa keadaan nya sedang sakit, ia mencoba mengenakan sweater hitamnya dan dengan bodoh memaksakan kepalanya masuk ke lubang lengan.
Hermione membantu membenarkan sweater Draco, "Jangan bodoh, sudah jelas sakit begini."
"Kalau memang kamu sakit, bisa dapat dispensasi untuk detention hari ini Malfoy." Kata Syl.
"Baiklah bawa aku ke Hospital Wing," jawabnya dengan cepat diikuti dengan jitakkan pelan Edwin ke kepalanya.
Russ, teman sekamarnya, mengambilkan sebuah jaket dari lemari Draco. Mengingat sedang musim dingin dan dilorong tidak difasilitasi dengan penghangat ruangan.
"Ini sekalian dibawa saja, siapa tau dia masih kedinginan." Kata Russ sambil memberikan jaket ke Edwin.
"Kamu tidak ingin membantuku membawa Draco ke Hospital Wing?" tanya Edwin.
"Tidak lah, diluar dingin, aku malas mengganti pakaian." Jawabnya singkat.
"Kalau begitu kalian saja yang membantuku ya?" Edwin menengok kearah Hermione dan Syl.
"Aku ada detention," jawabnya kilat. "Mione saja ya?"
Setengah dari Hermione ingin menolak tapi setengahnya lagi ingin menemani laki-laki itu, memastikan ia baik baik saja. Akhirnya Hermione mengangguk pelan, menjawab pertanyaan Syl. Laki-laki berambut pirang itu kaget saat melihat Hermione setuju mengantarkan nya ke Hospital Wing, jika ada tenaga ia ingin melompat-lompat karena senang.
Edwin membantu Draco berjalan agar tetap seimbang sedang Hermione hanya membawakan jaket tambahan. Mereka bertiga berjalan melewati lapangan tengah Hogwarts yang sedang dibersihkan dari salju, berhubung nanti malam lapangan itu akan dipakai untuk acara tahun baru.
"Sudah mulai dibersihkan ya saljunya," gumam Edwin sambil menengok kearah lapangan.
"Oiya kamu yang mengurus acara tahun baru nanti malam ya?" tanya Hermione.
"Iya benar, sayang sekali sepertinya kamu akan melwatkan nya Draco," goda Edwin. "Padahal akan ramai karena ada murid-murid Drumstrang dan Beauxbatons."
"Tunggu-tunggu," kata Draco. "Sekarang tanggal 31? Kukira besok baru tanggal 31."
"Padahal kalender dikamar mu ada tiga Draco," sindir Edwin.
Hermione tertawa kecil mendengar pembicaraan mereka.
"Sayang sekali kamu tidak bisa hadir malam nanti ya."
…
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, jamuan malam itu berbeda mengingat itu adalah hari terakhir di tahun 1994. Perayaan tahun baru diadakan di lapangan utama Hogwarts, berbagai macam makanan dihidangkan dengan kios-kios di sana, mulai dari makanan berat hingga snack. Keadaan sangat ramai namun menyenangkan, rasanya seperti berada di festival atau pasar malam. Untuk seseorang yang tidak begitu suka keramaian, setelah menyantap hidangan malam Hermione memilih untuk duduk dibawah pohon di pinggir lapangan.
"Ini ku ambilkan soda," kata Ginny sambil memberikan gelas berisi minuman.
"Terimakasih Gin," katanya sambil tersenyum kecil.
"Kenapa?" tanya Ginny. "Terlalu ramai disini?"
"Eh, tidak kok." jawab gadis berambut coklat itu sambil menegak minuman nya. "Sebenarnya aku agak kecewa."
"Dengan acaranya?" tanya Ginny dengan cepat.
"Uhh, bukan-bukan! Acara malam ini bagus kok" kata Hermione sambil menaruh gelas disamping nya.
"Lalu?" tanya Ginny.
DUKK
Seorang murid perempuan tidak sengaja menendang gelas Hermione dan menumpahkan isi minuman itu ke celananya.
"Ah, maafkan aku," kata gadis itu. "Ini lap saja pakai sapu tangan ku."
"Tidak usah, aku ganti saja celananya." Jawab Hermione sambil tersenyum.
"Aku benar-benar minta maaf," raut wajah gadis itu benar menunjukkan rasa bersalahnya.
"Tenang saja, ini hanya soda." Lagi lagi terbukti senyum Hermione dapat menenangkan banyak orang. "Sudah sana kembali ke kegiatan mu."
Gadis itu akhirnya kembali ke kerumunan teman-teman nya setelah meminta maaf mungkin ribuan kali.
"Aku ke asrama dulu ya, ganti celana." Hermione berdiri dari duduknya.
"Mau di temani?" tanya Ginny.
"Tidak usah, tidak akan lama kok." Jawabnya yang lalu berjalan meninggalkan lapangan.
Setelah mengganti celananya, Hermione menatap ke lapangan dari jendela kamar. Sebenarnya ia malas untuk kembali kesana, Harry dan Ron pasti bermain bersama teman mereka. Walaupun acara malam itu menyenangkan, tapi Hermione sedang tidak ingin berada di tempat ramai. Gadis itu melirik jam yang terikat ditangan nya, dua jam lagi sudah tahun baru. Tiba-tiba tersirat pikiran untuk melakukan sesuatu, ia langsung berjalan ke arah dapur bersama mencari snack yang masih tersisa untuk di bawa. Gadis itu sudah memegang beberapa snack ditangan nya, dengan keberanian nya yang setengah matang Hermione berjalan menuju Hospital Wing.
Sesampainya di pintu Hospital Wing keberanian Hermione kembali menciut. Dia hanya mondar-mandir didepan mintu, menimbang-nimbang alasan yang tepat untuk masuk. Mungkin butuh obat? Minta obat kenapa bawa snack begini? Atau disuruh mengantarkan snack ini oleh ketua prefeknya? Ah itu makin tidak masuk akal. Ketika gadis berambut coklat itu masih sibuk keras berpikir apa yang harus ia katakan saat masuk, tiba-tiba seseorang menepuk pundak nya dari belakang.
"AHH!" Hermione berteriak kaget dan menjatuhkan snacknya ke lantai.
"Ini aku dear," kata Madam Pomfrey "Kamu butuh sesuatu?"
Hermione berlutut mengambil kembali snack nya, "Ah anu—"
"Masuk saja kedalam, di luar sini dingin." Katanya sambil mendorong badan Hermione masuk. "Didalam juga ada pasien."
Terlihat laki-laki berambut pirang yang sedang duduk di ranjangnya sambil membaca sebuah buku, jantung Hermione berdetak kencang sekali. Pikiran nya mengosong, entah apa alasan yang akan ia katakan tentang keberadaan nya di sana. Draco menengok ke arah pintu dan menemukan gadis itu berdiri kaku.
"Ms. Granger, jika butuh sesuatu ambil saja di lemari ramuan." Kata Madam Pomfrey setelah menaruh teko air di samping ranjang Draco. "Aku mau keluar sebentar."
Sedetik kemudian ruangan itu langsung berubah menjadi sunyi.
"Umm, kamu butuh sesuatu?" Tanya Draco mencoba memecahkan keheningan.
"Err, sebenarnya aku membawakan snack untukmu." Dengan ruangan sehening ini gadis berambut coklat itu yakin suara detak jantung nya bisa terdengar oleh Draco. "Ku pikir.. Emm.. Kamu harus menghabiskan tahun baru mu di Hospital Wing sendirian, jadi ya…"
Hermione menaruh snacknya diatas meja dengan gerakan tangan yang sangat kaku, ia berusaha tidak menatap mata laki-laki itu. Draco melihat wajah gadis itu dengan otak yang masih memproses keadaan, dia sengaja datang kesini hanya untuk memberikan snack untukku? pikirnya.
"Baiklah kalau begitu-"
"Kamu mau menemaniku sampai tahun baru?" tanya Draco pelan sambil memotong kalimat Hermione.
Hermione mengangkat alisnya kaget, "Aku?"
"Bukan, hantu dibelakang mu." jawab Draco ketus "Ya kamu lah, siapa lagi."
Gadis berambut coklat itu berusaha menahan tawanya, Draco tetap saja Draco, jutek. Lalu ia berjalan mengambil kursi dari ujung ruangan dan menaruhnya di samping ranjang Draco.
"Teman-teman mu tidak ada yang menemani?" tanya Hermione mencoba menenangkan dirinya sambil meraih sekantung Popping Candy di meja.
"Mereka disini beberapa saat yang lalu, sekarang mereka kembali ke lapangan." Jawabnya. "Tentu saja tidak mau melewatkan acara tahun baru."
"Acara disana memang menyenangkan sih, sayang untuk dilewatkan." Tambah Hermione sambil memasukkan sedikit Popping Candy kemulutnya.
"Ngomong-ngomong aku tidak memaksamu untuk menemaniku loh," kata Draco. "Jika ingin kembali ke sana, kembali saja."
Hermione menggelengkan kepalanya, "Terlalu ramai."
Lantas tanpa terasa mereka menghabiskan satu jam kedepan dengan saling bertukar cerita. Draco menceritakan tentang pertandingan Quiditch musim lalu dan bagaimana ia tidak sengaja memecahkan botol-botol ramuan Professor Snape, sedangkan Hermione bercerita tentang kehebohan ibunya mengurus gaun untuk Yule Ball dan tentang ia mencoba memanggang kue kering beberapa bulan yang lalu. Setelah bertahun-tahun menjadi teman sekelas baru kali ini mereka benar-benar berbicara tanpa ada yang menaikkan suara, obrolan itu terasa mengalir tidak ada yang dibuat-buat. Akan menyenangkan jika tetap bisa berbicara seperti ini di hari-hari kedepan, tapi sulit mengingat mereka harusnya membenci satu sama lain. Ya namun pikiran seperti ini dipikirkan nanti saja.
"Hei lihat," tiba-tiba Draco menunjuk kearah jendela-jendela besar Hospital Wing. "Sudah tahun baru sepertinya."
Di luar sana terlihat ratusan lampion yang di terbangkan, begitu pula kembang api warna warni terbang berputar-putar dan meledak di udara, menari nari seakan ikut merayakan tahun baru. Pemandangan yang hanya bisa disaksikan setahun sekali di Hogwarts.
"Ya, sepertinya sudah tahun baru." Gumam Hermione.
Seindah itu pemandangan di luar sana, namun Draco ini tidak dapat melepaskan pandangan nya pada Gadis itu. Warna warni kembang api terpantul dari mata coklatnya yang indah, kulit wajahnya terlihat semakin bersinar dengan pantulan cahaya. Betapa beruntung nya ia saat ini, disini, detik ini.
"Selamat tahun baru Hermione."
Gadis bermata coklat itu menengok pelan kearah Draco, ia mendapati sepasang mata itu menatapnya dengan tajam sebelum akhirnya menengok kearah jendela.
"Selamat tahun baru juga, Draco."
…
To be continued
…
I hope you like it, because this chapter is my personal favorite
