Lempar Balik, 1994
Fanfiction based on J.K Rowling books
…
Chapter Four
…
Yorkshire, 2002
"Mione lihat kesini!"
"Dad! Kurasa sudah cukup banyak foto ku di kamera itu." Hermione menutup wajah dengan kedua tangan, sudah berkali-kali ia mengatakan tidak ingin di foto namun tetap saja ayahnya tidak mau berhenti.
"Ayolah sayang, pemandangan nya sangat indah." rayu ayahnya sambil tetap mengarahkan kamera ke anak semata wayang nya itu.
Keluarga kecil Granger sedang menikmati liburan nya di North England, setelah sekian lama mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Tahun ini akan menjadi tahun pertama Hermione bekerja di Ministry of Magic setelah bekerja magang selama setahun penuh, sebelum kesibukan nya bertambah ia memutuskan untuk mengajak orang tuanya berlibur sejenak, keluar dari hiruk pikuk ramainya kota London.
"Daaad!" Gadis itu mencoba menghindari lensa kamera ayahnya, ia tidak melihat akar pohon yang menjulur di sebelah kakinya sebelum akhirnya tersandung jatuh karena itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Mum sambil mengulurkan tangan nya. "Hati-hati sayang, lihat cincin mu jadi kotor begitu."
Gadis berambut coklat ini menempuk-nepuk tangan untuk membersihkannya dari tanah, ia terdiam sejenak melihat cincin bermahkotakan berlian di jari manisnya. Sudah tiga bulan semenjak ia mengenakan cincin itu, sama sekali tidak menyangka sahabatnya akan melamarnya secepat ini mengingat umurnya yang baru menginjak 23 dan pekerjaan mereka belum menghasilkan banyak uang. Hermione tersenyum kecil mengingat saat tunangan nya melamar dia, bagaimana wajah lugu itu mampu memenangkan hatinya.
"Kita cari tempat makan yuk, lapar sekali." Kata Dad sambil mengambil tutup lensa dari saku.
"Sepertinya tadi aku lihat café di perjalanan kesini," jawab Mum.
"Baiklah aku mengambil mobil dulu, kalian tunggu di pintu masuk saja," kata Hermione lalu
Hermione mengeluarkan kunci mobil dari tasnya, mereka menyewa sebuah Ford Focus berwarna biru dongker untuk transportasi selama berlibur di Yorkshire. Gadis itu menekan tombol unlock di kunci mobilnya namun diluar perkiraan mobil itu tetap terkunci, Hermione menekan tombol yang sama berulang ulang secara panik. Ia mencoba membuka pintu mobil tapi tetap terkunci, jangan jangan mobilnya rusak. Gadis itu memasukan kunci mobil ke lubang kunci di pintu mobilnya, tetap saja pintu mobilnya tidak bisa terbuka.
"Err maaf, sedang diapakan mobil saya," kata seseorang dibelakang Hermione
"Eh! Maaf ku kira ini mobil-"
Kalimat gadis terhenti saat melihat orang yang tengah berdiri dibelakang nya. Sudah empat tahun sejak ia tidak melihat rambut pirang itu, tidak pernah lagi setelah sidang nya di London. Setelah dinyatakan tidak bersalah keluarganya menghilang secara tiba-tiba, banyak sekali rumor yang beredar dan entah mana yang harus di percayai.
"Mrs. Malfoy.." kata Hermione terbata.
"Oh Granger!" jawab wanita itu setengah kaget melihat wajah Hermione. Wanita itu mengenakan blouse broken white dan celana bahan berwarna coklat, badan nya dibalut dengan coat coklat yang senada dengan celananya.
"Se- sedang apa di dunia muggle?" Tanya Hermione yang benar-benar bingung melihat seorang Narcissa Malfoy didepan nya, pakaian yang ia pakai berbeda dengan yang biasa ia lihat, dia terlihat seperti seorang muggle.
"Aku tinggal disini untuk sementara, hmm apakah empat tahun masih dihitung sementara ya?" jawabnya sambil tertawa kecil.
Narcissa Malfoy yang berdiri dihadapan nya sangat berbeda dengan yang ia lihat beberapa tahun lalu. Melihat status keluarganya, sangat kecil kemungkinan untuk bertemu dengan wanita ini di tempat wisata muggle. Dengan pakaian yang ia pakai dan mengendarai mobil keluaran muggle sangat memungkinkan Hermione berpikir ini sebuah halusinasi.
"Jangan kaget begitu melihatku dear, aku tinggal di perumahan penyihir yang terpencil disini." Kata Narcissa "Dan mobil ini, Draco yang sedikit mengutak-atik dalamnya agar seperti mobil di dunia sihir."
Ah sudah entah berapa lama dia tidak mendengar nama itu.
"Oh begitu, aku pamit duluan orang tua ku sudah menunggu didepan." Hermione langsung berbalik arah dengan cepat, ia sangat takut apabila ternyata orang itu juga ada disini, sangat takut bertemu dengan nya lagi.
"Dear," kata Narcissa memanggil Hermione. "Apakah nanti malam kamu sibuk?"
Gadis itu menengok kaget, "Umm.. sepertinya sih tidak, ada apa?"
"Aku ingin mengobrol sedikit dengan mu," jawabnya sambil tersenyum "Kutunggu ya jam tujuh di Le Bistro des Amis."
Hermione mengangguk pelan sebelum berjalan pergi kearah mobilnya. Otaknya berputar keras, apa yang ingin ia bicarakan? Apakah dia akan mengajak orang itu nanti malam?
Hogwarts, 1995
Hermione membuka matanya, ia berusaha memendamkan badannya lebih dalam ke selimutnya karna musim dingin masih belum berganti. Walaupun cuaca sedang dingin dingin nya, tidak ada yang bisa mematahkan kebahagiaan yang belakangan ini gadis itu rasakan, semuanya terjadi begitu saja. Pertemuan didalam perpustakaan semakin sering terjadi, walaupun ujung-ujung nya mereka tidak saling bicara dan hanya duduk berdampingan. Sampai saat ini tidak ada satupun dari mereka yang mengutarakan perasaan, mungkin karna mereka sendiri masih bingung dengan apa yang mereka rasakan.
"Mione, sudah bangun?" Seorang gadis berambut oranye menguncang-guncangkan kakinya.
"Sudah Gin, kenapa?" Hermione mengangkat badannya dan duduk di pinggir Kasur.
"Ada pertandingan quiditch sore nanti, mau nonton?"
"Kukira pertandingan musim dingin ditiadakan."
Ginny menjelaskan bahwa murid-murid berinisiatif mengadakan pertandingan persahabatan antara Drumstrang dan Hogwarts. Hal ini sudah disetujui kepala sekolah masing-masing dan pertandingan akan diadakan sore nanti pukul empat. Hermione melirik jadwal kelas yang ia tempel di dinding lemari, hanya ada satu mata pelajaran yang harus ia hadiri hari ini. Gadis itu mengiyakan ajakan Ginny dan menyuruh mengingatkannya sore nanti. Pertandingan persahabatan ya, pikir Hermione.
Setelah mandi dan mengenakan seragam nya Hermione merapihkan tasnya dan bersiap menuju kelas ramuan. Saat menuruni tangga ke ruang bersama ia melihat dua sahabatnya sedang duduk di kursi sambil membaca koran.
"Harry kamu tidak latihan untuk pertandingan sore nanti?" tanya Hermione sambil menaruh tasnya di meja.
"Aku dan Cedric memutuskan untuk tidak mengikuti pertandingan persahabatan,"Jawabnya. "Kami sudah dapat porsi di Triwizard, rasanya serahkan jika ikut pertandingan sore nanti juga."
"Sudahlah ikut saja, jadi tidak harus terjebak dengan Malfoy sebagai seeker kita." Kata Ron sambil mengguncang bahu Harry.
Hermione diam berdiri diantara kedua sahabatnya namun bisa terlihat otaknya terbang jauh memikirkan hal lain yang tidak bisa ia utarakan.
…
Tenda ganti sudah dipenuhi oleh para atlet quiditch dari Hogwarts, mereka mengenakan seragam lengkap dan bersiap masuk ke lapangan. Draco menarik kaos kaki nya hingga betis, tidak disangka ia yang terpilih untuk mewakili Hogwarts dalam pertandingan ini. Cedric dan Harry merupakan dua seeker terbaik di Hogwarts dan mereka malah memilih untuk tidak mengikuti pertandingan ini. Selain mereka tersisa dua seeker dari Ravenclaw dan Slytherin, yaitu Cho Chang dan dirinya, namun Cho mengatakan Draco lebih pantas untuk posisi itu, akhirnya ialah yang terpilih untuk mengikuti pertandingan. Jantung nya berdegup kencang sebelum memasuki lapangan, baru kali ini dia bermain dengan skala pertandingan yang besar.
Pertandingan berlangsung selama dua jam lamanya, Drumstrang bukanlah lawan yang mudah ditambah mereka mempunyai atlet internasional dalam timnya. Pertandingan sore itu cukup menegangkan, kedua kubu saling kejar mengejar skor, dengan sorak bingar murid-murid menggema ke segala penjuru. Hogwarts unggul di babak pertama namun langsung dihabisi saat babak kedua dan ketiga. Skor akhir sangat tipis 240-260 walau nyaris menang tetap saja Hogwarts harus menelan pahitnya kekalahan.
Setelah pertandingan murid-murid berkumpul di hall untuk menyantap makan malam, seisi ruangan masih membicarakan bagaimana serunya pertandingan quiditch sore tadi. Walaupun kalah atlet quiditch Hogwarts tetap dihujani tepuk tangan riuh saat memasuki hall, mereka diberi penghargaan paling tinggi atas kerja kerasnya. Saat itu Hermione sedang berusaha mencari rambut pirang itu diantara keramaian, namun tidak kunjung terlihat batang hidung.
"Aku ke kamar mandi sebentar Gin," katanya sambil berdiri dari kursi.
"Ingin ditemani?"
"Tidak usah," jawabnya sambil menepuk pundak Ginny dan berlalu.
Gadis itu menyusuri lorong-lorong kastil berusaha menemukan sepasang bola mata yang ia cari, dimana laki-laki itu bersembunyi, apakah ia langsung kembali ke asrama. Sekilas ia melihat sebuah bayangan yang duduk di lapangan belakang, dengan pelan gadis itu berjalan mendekatinya. Namun semakin didekati bayangan itu menghilang dengan cepat, Hermione berdiri kebingungan di lorong. Apa yang ia lihat cuma ilusi atau mahluk lain. Angin dingin meniup rambutnya, keadaan lorong yang kosong dan dingin yang menusuk menambahkan hawa horror disekitarnya. Jantung nya berdetak kencang, gadis itu bukan penggemar cerita horror tentang kastil yang beredar dikalangan murid-murid.
"Hei,"
"AAAAAAA," Hermione berteriak sekencang yang ia bisa, seseorang sudah berada dibelakang nya tidak jauh dari tempat ia berdiri.
"Ini aku!" serunya, berdiri dihadapan nya seeker dari Slytherin. "Kamu kira hantu ya."
"Jangan mengagetkanku," kata Hermione sambil mengelus-elus dadanya mencoba menenangkan diri.
Draco lalu duduk di pinggir jendela, wajahnya terlihat lelah lengkap dengan raut kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan. Kekalahan hari ini menjadi penyebab kesedihan laki-laki ini, walaupun seeker dari kedua tim tidak ada yang berhasil menangkap Snitch tetap saja ia merasa kekalahan ini salahnya. Meski dari luar Draco hanya terlihat seperti bocah yang suka melempar tantrum namun ada saat-saat seperti ini yang membuat dia menyelami keresahannya.
"Tidak makan?" tanya Hermione sambil ikut duduk disebelahnya.
"Tidak lapar," Jawab laki-laki itu cepat.
"Nanti sakit lagi."
"Biarkan saja," Hermione menghela nafas panjang mendengar jawaban ketus seperti itu.
Tanpa memberi aba-aba Draco mengistirahatkan kepalanya ke bahu Hermione, kaget setengah mati namun gadis itu tetap tidak menghindar. Jantungnya hampir copot, dengan jarak sedekat ini ia dapat mencium harum rambut Draco yang sudah bercampur dengan keringat. Ia mencoba menenangkan diri tanpa bergerak terlalu banyak.
"Sebentar saja," kata Draco pelan.
Hermione mengangguk tanpa suara.
…
Belakangan ini Ginny merasa ada yang aneh dengan perilaku temannya, ia jadi lebih sering tersenyum sendirian dan bersenandung tanpa sebab, di hari tertentu ia bersumpah melihat sinar merah jambu terpancar darinya. Hermione sering menghilang saat makan siang, bukan sesuatu yang baru sebetulnya namun belakangan ini makin sering terjadi. Apa ini semua karna murid Drustrang itu, pikirnya.
Namun semua teori itu dipatahkan ketika Ginny bertanya Hermione berada dimana pada Krum saat berpapasan di lorong. Krum mengatakan Hermione berada di perpustakaan bersama murid laki-laki dari Hogwarts namun Krum tidak mengetahui namanya. Ia hanya berkata laki-laki itu ikut bermain saat pertandingan quiditch minggu lalu, ia juga menambahkan bahwa belakangan ini Hermione sering menghabiskan waktu dengannya di perpustakaan. Waktu makan malam merupakan waktu yang tepat untuk menginterogasi gadis ini, pikir Ginny.
"Hei," Ginny mencolek bahu Hermione yang sedang tersenyum sendiri.
"Hmm?" ia menengokan wajah kearah Ginny.
"Ada yang kamu sembunyikan dari ku?" Ginny menatap mata gadis itu dalam-dalam.
Mencoba untuk tetap tenang Hermione menjawab dengan gelengan kepala. Sudah pasti Ginny tidak puas dengan jawaban ini, tapi ia tidak ingin memojokkan Hermione. Walaupun masih penasaran Ginny mencoba membiarkannya, mungkin nanti ia akan cerita dengan sendirinya.
Setelah makan malam Ginny mampir ke kamar Hermione untuk sekedar mengobrol sebelum tidur dan menikmati hot chocolate yang biasa gadis rambut coklat itu buat saat malam. Malam itu mereka banyak membicarakan tentang pertukaran pelajar yang ingin Hermione ambil di tahun terakhirnya sebelum kelulusan, ia sangat ingin belajar di Amerika melalu program pertukaran. Lagi-lagi mimpi Hermione selalu membuat kagum pendengarnya, jarang sekali ada murid yang ingin melakukan pertukaran pelajar ke negeri orang karna prosesnya tidak mudah.
"Mione, bisa pinjam jaket?" Tanya Ginny sambil menyilangkan lengannya kedinginan. "Mengapa kamar ini dingin sekali."
"Pemanas nya rusak, aku sudah melapor pada staff." Jawab Hermione sambil mengambil jaketnya yang digantung dalam lemari. "Rencananya besok siang baru akan dibetulkan, jadi kami terpaksan menghabiskan malam dengan udara membeku."
"Kalau begitu kamu bisa menumpang di kamarku," kata Ginny sambil mengenakan jaket yang Hermione beri.
"Tidak apa selimutku cukup hangat," jawab Hermione sambil menepuk-nepuk selimutnya.
Ginny memasukan tangan nya kedalam kantung jaket, ia merasakan sebuah kain mengganjal di bagian bawahnya. Dengan polos Ginny menarik kain tersebut dan menemukan sebuah sapu tangan berwarna biru dongker. Ia tidak berpikir macam-macam terhadap sapu tangan itu sampai membaliknya dan menemukan lambang keluarga Malfoy dibordir dengan benang silver. Dengan cepat ia memasukkan kembali sapu tangan itu kedalam jaket sebelum, mengapa Hermione memiliki sapu tangan ini.
"Kamu tidak sedang berada dalam masalahkan?" tanya Ginny yang tiba-tiba serius.
"Masalah? Aku ini siapa, Harry?" candanya.
"Kamu tidak sedang diperaskan? Dimantrai? Atau disuruh melakukan hal-hal berbahaya?" mengingat Mr. Malfoy pernah menyelipkan buku harian Tom Riddle dalam tasnya beberapa tahun silam, Ginny takut itu juga terjadi pada Hermione.
"Tentu saja tidak," dahi Hermione mengerut bingung. "Ada apa Gin?"
Ginny menelan ludah, meskipun tidak ingin bersangka buruk ia tetap harus mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi. Jika sampai hal buruk terjadi padanya ia tidak akan tinggal diam, tidak boleh lagi ada korban sepertinya. Lalu Ginny mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantung jaket dengan perlahan.
"Aku menemukan ini didalam jaketmu," Ginny menaruh sapu tangan itu diatas Kasur. "Lambang ini, Lambang keluarga Malfoy kan?"
Hermione terkejut melihat benda itu ditemukan oleh Ginny, ia lupa menyimpan itu disana. Mengira menaruhnya dalam kantung jaket adalah tempat paling aman daripada menaruhnya di laci atau lemari. Gadis berambut coklat itu menarik nafas panjang sebelum berbicara.
"Aku bisa jelaskan, tapi tidak disini. Tidak sekarang."
Ginny memperhatikan perubahan raut wajah Hermione dengan seksama, ia menyadari sesuatu yang harusnya hanya diketahui oleh gadis itu. Rahangnya terasa kaku, entah bagaimana harus menyikapi hal ini. Ia yakin masalah yang Hermione hadapi lebih rumit berbeda dari yang Ginny bayangkan.
"Jangan bilang.." Kata Ginny terbata, "Kamu dan Malfoy.."
…
To be continued
…
