Lempar Balik, 1994
Fanfiction based on J.K Rowling books
…
Chapter Five
…
Yorkshire, 2002
Baru lima menit ia lewati duduk di restoran namun terasa sangat panjang. Gadis itu menarik lengan sweater coklat yang sedang ia pakai berharap bisa menutupi kegelisahan yang terlukis di wajahnya. Seorang pelayan menghampiri dan bertanya apakah dia sudah siap untuk memesan, tanpa mengeluarkan kata gadis itu hanya menggeleng sambil tetap menjaga pandangan kearah pintu masuk.
Ia takut seseorang yang tidak diharapkan masuk melewati pintu itu, jika ternyata bertemu dengan orang itu lagi menjustifikasi bahwa ia masih berharap padanya. Gadis itu menatap cincin di jari manisnya, entah apa yang harus ia rasakan saat ini.
"Ah selamat malam ma'am, makan disini atau bawa pulang?" tanya seorang pelayang kepada perempuan yang baru masuk kedalam restoran.
Orang itu sampai, Narcissa akhirnya tiba ke tempat yang mereka janjikan. Ada sedikit rasa lega di dada melihat tidak ada yang mengekor masuk dibelakangnya, hanya Narcissa Malfoy seorang.
"Kamu sudah menunggu lama?" Tanya nya sambil menaruh tas di kursi.
"Baru lima menit," jawab Hermione menarik senyumnya.
"Sudah pesan? Hot chocolate disini enak sekali, kamu harus mencobanya." Narcissa mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan.
"Kalau begitu aku pesan itu saja."
Lima belas menit pertama setelah memesan mereka habiskan membicarakan tentang restoran kecil ini, Narcissa mengatakan interior restoran ini mengingatkan akan rumah kakeknya dulu. Tak lama setelah itu dua cangkir hot chocolate yang mereka pesan datang, Mrs. Malfoy tidak bohong soal hot chocolate restoran ini enak.
Hermione membuka pemicaraan tentang liburan bersama orang tuanya di Yorkshire, tempat-tempat yang sudah mereka datangi dan restaurant yang sudah mereka coba. Mrs. Malfoy memberikan beberapa rekomendasi toko souvenir di sekitar sini juga beberapa rekomendasi makanan yang harus dicoba.
"Jadi, bagaimana kehidupanmu di London?" tanya Narcissa sambil menaruh cangkirnya.
"Hmm, baik. Bulan ini akhirnya aku diterima bekerja di Ministry of Magic." Jawabnya.
"Wah kabar baik, sudah berkali-kali aku menyuruh Draco untuk mengikuti ujian dia tetap saja tidak mau."
Jantung Hermione terasa berhenti untuk sepersekian detik, hanya dengan mendengar namanya saja tubuhnya langsung bereaksi. Narcissa menyadari perubahan raut muka gadis itu.
"Cepat atau lambat salah satu dari kita akan menyinggung namanya kan?" kata Narcissa sambil tersenyum simpul. Hermione masih belum menemukan jawaban atas pertanyaannya, ia berusaha tersenyum.
Gadis berambut ikal itu menggenggam cangkir hangat dengan kedua tangannya, ia seperti tidak tau cara berbicara, mulutnya tertutup kaku. Mungkin seharusnya dia tidak menerima ajakan Mrs. Malfoy, mungkin ada baiknya ia tetap berada dalam keabu-abuan tentang hubungan masa lalunya.
"Aku ingin meminta maaf," perempuan paruh baya itu tiba tiba mengambil tangan Hermone. "Banyak sekali kesalahan yang aku lakukan terhadapmu dan Draco dahulu."
Hermione masih terdiam.
"Setelah semua terjadi baru aku menyadari seberapa besar peranmu dalam hidupnya, dan juga aku berterimakasih untuk semua yang telah kamu lakukan untuknya." Narcissa menggenggam tangan Hermione erat. "Maafkan aku, seandainya aku bisa sadar lebih cepat bahwa hidup Draco adalah miliknya bukan milik siapapun termasuk ibunya"
Gadis itu menatap Mrs. Malfoy tajam, entah mengapa matanya mulai mulai dipenuhi air yang sedang sekuat tenaga ia bendung. Ia tidak siap mendengar ini semua.
"Maaf harus menjadikan keselamatan mu sebagai jaminan agar Draco mau melaksanakan tugas dari Dark Lord."
Mata gadis itu terbelalak mendengar apa yang baru saja Mrs. Malfoy katakan, "Jaminan?"
Hogwarts, 1995
"Oke biar ku ulangi penjelasan mu," kata Ginny dengan cepat.
"Ini bermula saat malam Yulle Ball, ia menemani mu menangis dan setelah itu kamu merasa ada yang berbeda dengannya."
"Yup."
"Lalu di malam tahun baru kamu menghilang dari lapangan karena menemaninya di hospital wing dan kalian menghabiskan malam tahun baru bersama."
"Yup"
"Dan kalian jadi sering bersama di perpustakaan, walaupun tidak saling berbicara katamu."
"Yup."
"Mione, ini membunuhku," Ginny yang dari tadi mondar-mandir duduk disebelahnya.
Hermione memutuskan untuk menceritakan Ginny semua, ia mengajak adik sahabatnya untuk mengobrol di loteng asrama berdebu tempat yang ia rasa aman dan jauh dari keramaian. Fred dan George yang memberitaukan tentang loteng ini saat tahun ketiga, ia biasa menggunakan ruangan ini untuk berlatih mantra baru bersama Harry dan Ron.
Setelah Hermione selesai bercerita tentang keadaan nya dan Draco, Ginny memejamkan mata tak percaya. Seperti yang diduga Ginny tidak akan senang mendengar semua yang telah terjadi, ia pun masih mencurigai jika Hermione di mantrai hingga merasa tertarik dengan laki-laki setengah iblis itu.
"Jadi sekarang ia pacarmu?" Hermione menelan ludah mendengar pertanyaan Ginny.
"Aku.. tidak tau," jawabnya terbata-bata. "Aku bahkan tidak tau kalau dia menyukaiku atau tidak, kami tidak pernah membicarakannya."
"Kamu yakin ini hubungan dua arah?"
"Errr, kurasa. Dia seperti misteri, awalnya kukira hanya anak manja yang menggunakan privilege nya untuk keuntungan sendiri tapi ternyata dibalik itu dia selalu berusaha menjadi yang terbaik, ia bisa bersikap lembut dan tidak ingin orang lain melihatnya berse-" Hermione memutus ucapannya saat menyadari Ginny sedang menatapnya dalam-dalam. "Ada apa?"
"Aku berharap ini hanya sebuah fase rebelmu," gadis berambut oranye itu berdiri dari duduk dan membersihkan pakaiannya. "Tapi sepertinya kamu memang menyukainya."
"Semoga yang terbaik untuk kalian," Ginny mengulurkan tangan dan membantu Hermione berdiri, "Tenang saja rahasiamu aman bersamaku."
Ada rasa lega yang bertiup di dadanya, ia mengira Ginny akan memarahinya dan menyuruh menjauhi Draco. Atau mungkin yang lebih buruk, memberitau rahasia ini pada Harry dan Ron.
"Aku menghargai itu Gin," senyum Hermione mengembang.
"Tapi kamu harus tetap hati-hati ya," Ginny menepuk kedua pundak Hermione "Kalau merasa ada sesuatu yang janggal harus segera kamu laporkan padaku."
"Siap."
"Baiklah ayo turun, aku ada janji mengerjakan tugas bersama Milli." kata ginny sambil membuka penutup pintu tangga.
"Sedang apa kalian diatas sana?" tanya Katie yang sedang lewat saat melihat dua gadis itu turun dari loteng.
"Bermain api," Jawab Ginny cepat sambil mengerlingkan mata kearah Hermione.
Ginny!
….
Pergantian bulan terasa lebih cepat dari biasanya, Februari hanya memiliki 28 hari didalam nya pantas jika terasa cepat. Ditambah lagi berlangsung tugas kedua Triwizard Tournament, hasilnya Cedric masih tetap menduduki peringkat pertama disusul Harry diperingkat kedua.
Musim semi telah tiba disambut dengan girang oleh bunga-bunga di perkebunan, akhirnya mereka bisa menampakkan warna lagi setelah sekian lama tertimbun dingin.
"HATCHII," serbuk bunga yang beterbangan di udara membuat Draco bersin. "Tisu, tisu, tolong."
Dengan malas Pansy menyodorkan beberapa lembar tisu, ia sudah bosan mendengar suara bersin Draco sedari kelas pagi. Laki-laki itu kehabisan ramuan alergi dan ibunya belum mengirimkan yang baru, jadi ia terjebak bersama hidung gatal dan berair hari ini.
"Pansy wawancara mu denga Rita Skeeter sudah terbit," kata Lelia yang baru masuk ke dalam kelas dan menaruh Witch Weekly diatas mejanya.
Gadis itu langsung menyambar dan mencari artikel yang berisi namanya, saat task pertama Triwizard Tournament Rita Sketeer berniat untuk menulis artikel baru tentang Harry. Dalam artikel terbaru ini bukan hanya nama Harry yang dibawa namun sahabatnya, Hermione, yang diberitakan sebagi kekasihnya menjalin hubungan dengan Viktor Krum dibelakang Harry.
Pansy tertawa puas dan melempar surat kabar itu ke meja Granger.
"Sekarang semua tau bahwa kamu tidak sepolos itu, kutu buku." Pansy dan Lelia tertawa mengejek.
Hermione dan Harry langsung membuka surat kabar tersebut, bukan hal yang baru jika Rita Sketeer menulis berita yang kontroversial tentang Harry namun menjatuhkan nama baik sahabatnya buka sesuatu yang bisa ia toleransi.
Tanpa basa-basi Harry merobek artikel itu, merenyuknya dan melemparnya ke kepala Pansy. Pansy hanya membalas dengan tatapan 'aku akan membunuhmu'.
Draco memungut kertas itu dan membukanya, dalam sebuah paragraf Pansy menyebut Hermione buruk rupa dan menuduhnya menggunakan Love Potion untuk menarik perhatian Krum. Ia tau itu semua tidak benar, gadis seperti Hermione tidak akan berani melanggar peraturan sekolah.
Setelah kelas berakhir laki-laki itu bergegas kembali ke asramanya, ia sudah tidak tahan dengan alergi itu dan berharap ramuan yang ibunya kirim sudah sampai. Seseorang menepuk bahunya sesaat sebelum ia meninggalkan kelas.
"Kamu menjatuhkan ini," Hermione menaruh sebotol kecil ramuan di tangan Draco lalu ia cepat cepat meninggalkannya.
Mungkin orang lain tidak menyadari yang dilakukannya namun musuh bebuyutannya, Pansy Parkinson, menangkap gerakannya lewat sudut mata. Pansy mengejar Hermione yang saat ini sudah berada di luar kelas, tanpa basa basi gadis Slytherin itu menarik jubah Hermione hingga hampir terjatuh.
"Kamu pikir bisa mengelabui ku mudblood?" pekik Pansy. "Mencoba memberikan love potion juga pada Draco?"
Hermione hanya berdiri kaku mendengar Pansy membentakknya. Haruskah ia mengakui memberikan ramuan alergi untuk Draco tapi jika begitu orang pasti heran mengapa ia memberikan ramuan alergi untuk musuhnya.
"Pans itu ramuan alergi ku," Draco mencoba menenangkan Pansy.
"Ramuan itu berasal dari kantung jubahnya Draco!"
"Tidak mungkin Hermione melakukannya," Ron membela sahabatnya. "Lagi pula untuk apa dia memberikan Malfoy love potion."
"Untuk memanfaatkan nya!" tuduh Pansy. "Seperti yang ia lakukan pada Viktor Krum."
"Yang benar saja!" Harry memutar bola matanya mendengar kalimat Pansy.
"Kamu melihatnya juga kan?" Pansy menengok ke arah Draco. "Si jelek itu menco—"
"Pansy!" bentak Draco. "Ini ramuan alergi ku, berhenti menuduh Granger."
Ini pertama kali dalam sejarah Draco membentak sahabatnya, sekasar apapun Draco pada orang lain ia tidak pernah menaikkan suara pada sahabatnya terutama Pansy. Mendapati banyak tatapan, Draco langsung meninggalkan kerumunan itu.
Ia tau orang akan mencurigainya, Draco Malfoy tidak mungkin membela seorang keturunan muggle. Tidak mungkin.
….
Setelah perdebatan panjang tentang ramuan-siapa-yang-Granger-kasih Pansy akhirnya menyerah dan mempercayai kata-kata Draco. Selain merasa lelah harus meyakinkan Pansy dalam dua hari ini suasana hati Draco cukup senang. Hermione memberikan nya sebotol ramuan untuk alerginya, ia merasa diperhatikan oleh gadis itu sampai-sampai tidak tega untuk meminum ramuan tersebut.
Siang ini Draco berencana untuk mencarinya di perpustakaan, mereka tidak bisa banyak bicara disana namun itu tempat aman untuk bertemu. Seperti perkiraan gadis itu sudah terlebih dahulu berada di perpustakaan, Draco menghampirinya dan menyisakan satu kursi kosong diantara mereka.
"Sudah lama disini?" tanyanya.
"Lumayan," jawab Hermione yang berusaha terlihat sibuk.
Laki-laki itu membuka buku dan mengeluarkan tinta dari tasnya.
"Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Ya, apa saja" Draco menoleh kearah gadis itu.
"Kenapa kamu membela ku rabu kemarin?" Draco hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Karna aku mau."
"Oke, itu bukan sebuah jawaban." kata Hermione sebal.
"Tentu saja, karna aku ingin melakukan nya jadi kulakukan."
"Tapi pasti ada sesuatu yang mendorongnya."
"Kalau tidak ada bagaimana, ya mau saja melakukan itu."
"Logika saja ya, kamu makan karna lapar. Ada akibat karna sebab, bagaimana bisa ada akibat tanpa sebab!"
"Apa kamu tau dalam tubuh manusia terdapat lebih dari 2000 bakteri, jadi yang menggerakkan badanku itu bakteri, bukan aku." Draco menjelaskan. "Jadi itu 'sebab' nya."
"Hal terbodoh yang pernah ku dengar," kata Hermione mencoba tidak tertawa.
"Dasar kurang ilmu," bela Draco.
"Baiklah aku tidak bertanya lagi," akhirnya Hermione mengalah. "Kerjakan saja tugas ramuan mu."
"Ngomong-ngomong terima kasih untuk ramuan alerginya," Draco menunjuk hidung nya. "Aku belum bersin lagi semenjak minum itu."
Usahanya mempelajari tentang ramuan itu tidak sia-sia, Hermione tersenyum senang. Draco membalas senyuman itu, senyuman manis yang hanya bisa Hermione nikmati.
"Tolong jangan begitu," Hermione berusaha menutup wajah Draco dengan buku.
"Jangan tersenyum?" goda Draco
Semakin Hermione mengelak semakin Draco ingin gadis itu menatapnya, ia berusaha menarik tangan Hermione yang menghalangi wajahnya.
"Kamu sudah mempersiapkan untuk ujian semester?" tanya Hermione agar Draco berhenti.
"Ujian semester masih Juni," kata Draco bingung.
"Iya," kata Hermione polos.
"Ini masih April," lanjut Draco.
"Iya."
"Ujian masih tiga bulan lagi!" Draco berusaha mengecilkan volume suaranya yang tanpa sadar mengeras.
"Bukannya kamu yang bilang kalau tidak ingin mempermalukan nama keluarga? Bagaimana jika mulai belajar lebih awal." Usul Hermione.
"Ku ulang lagi ya, ujian masih tiga bulan lagi!"
"Tidak ada salahnya memulai lebih awal," kata Hermione, dasar kutu buku. "Kita bisa belajar bersama di sini, mungkin dua kali seminggu?"
"Ugh baiklah," kalau tidak karna Hermione yang meminta Draco pasti sudah menolaknya.
Ada sedikit perasaan bangga telah memberanikan diri mengajak Draco untuk belajar bersama. April, Mei, Juni, Hermione menghitung mundur bulan sampai ujian akhir dilaksanakan. Tiga bulan ya, gumamnya.
….
"Ah aku ingin musim dingin lagi," keluh Ginny saat hembusan angin panas meniup rambutnya.
"Panas ya?" kata Hermione sambil mengipas-ngipas Ginny dengan kertas perkamen.
"Kalau sudah panas begini tandanya ujian telah dekat," timpal Ron. "Hermione bantu aku."
"Aku pinjamkan catatan ku nanti," kata Hermione diikuti dengan sorak bahagia Ron.
"O ow," ucap Ginny sambil meraba-raba isi tasnya. "Kalian liat tugas Herbology ku?"
"Tidak, kamu belum mengeluarkan apa-apa disini." jawab Ron.
"Yap, kalau begitu hilang." kata Ginny putus asa. "Masih ada waktu untuk mengulang nya kan."
"Kamu tidak ingat dimana terakhir menaruh?" tanya Hermione.
"Mungkin di rumah kaca, aku menulis catatan saat praktik."
"Bukankah sebaiknya mengecek ulang kesana sebelum capek-capek mengulang?" usul Hermione.
"Tapi rumah kaca jauh dan sebentar lagi makan malam." Hermione memberikan tatapan yang biasa seorang ibu beri ke anaknya. "Ya oke baiklah."
"Ayo aku temani," tentu saja ia akan berjalan mengelilingi separuh kastil untuk menemani temannya, Hermione memang teman yang baik.
Ginny membuka pintu rumah kaca dengan pelan, "Permisi."
Tidak mendengar jawaban, Ginny mempersilahkan dirinya sendiri masuk. Dengan cepat ia menemukan perkamen tugas yang ia kira hilang, saat menyipkan perkamen itu ke jubahnya Ginny mendengar suara pot jatuh.
Gadis itu mengendap-endap masuk lebih dalam mencari asal suara, takut akan hal yang tida-tidak Ginny sudah mempersiapkan tongkatnya. Ia membungkukkan badan nya dan menemukan seseorang sedang memeluk lututnya bersembunyi dibawah meja.
"Malfoy!?" pekik Ginny.
"Jangan berteriak" kata Draco polos.
"Apa yang kamu lakukan dibawah sana," dahi Ginny mengernyit.
Draco menjelaskan bahwa ia sedang bersembunyi di rumah kaca dari kejaran teman-teman yang ingin mempermalukannya di hari ulang tahun. Karna bosan sendirian disana ia mulai menjelajahi isi rumah kaca dan iseng memasukkan tangan nya pada sebuah pot yang tinggi untuk mengetahui apakah ada sesuatu didasarnya. Lalu saat hendak mengeluarkan tangan ia malah tersangkut, sudah 15 menit ia mencoba membebaskan diri.
"Bisa tolong aku?" pintanya memelas. "Aku tidak bisa kembali dengan tangan seperti ini, pasti akan tertawakan seisi asrama."
"Mione, coba kemari sebentar," Ginny memanggil Hermione yang menunggunya di luar.
Gadis berambut coklat itu masuk kedalam rumah kaca dan mendapati Ginny sedang menarik sesuatu dari tangan Draco.
"Kalian sedang apa?" tanya Hermione bingung.
"Tanganku tersangkut dalam pot," Draco mengangkat tangan, Hermione terkekeh.
"Dia saja yang menolong mu," kata Ginny sambil menarik lengan Hermione. "Aku ada janji kencan."
Kamu tidak pandai berbohong Gin, pikir Hermione.
Ia tau Ginny sengaja pergi dan meninggalkan mereka agar memiliki waktu bersama yang jarang mereka punya. Adik sahabatnya itu langsung menghilang dari rumah kaca dalam hitungan detik, meninggalkan dua insan yang berdiri kaku.
"Bagaimana bisa sampai tersangkut?" tanya Hermione sambil menarik pot dari tangan Draco.
"Aduh aduh sakit," Draco meringis. "Iseng."
"Pot nya digunting saja ya," usul Hermione seraya mencari gunting di kotak perkakas. "Lalu kamu kenapa bisa berada di rumah kaca?"
"Aku menghindari keramaian, tradisi ulang tahun di Slytherin memalukan." Draco membuka laci dan menemukan sebuah gunting, ia lalu memberikannya pada Hermione.
Hermione tertegun mendengarnya, ini hari ulang tahun Draco? Hari sudah hampir habis dan ia baru mengetahuinya sekarang. Jam segini mau cari kado dimana, lagi pula apa kado yang bagus untuk Draco.
Gadis itu menarik nafas menenangkan pikiran nya dan mulai menggunting pot di tangan Draco. "Kalau sakit bilang ya."
"Aduh!" mendengar laki-laki itu meringis Hermione langsung menarik gunting keluar dari pot.
"Kena tangan?"
"Tidak, ingin bilang aduh saja." Draco menyengir.
"Aku tinggal ya," ucap Hermione kesal.
"Eh jangan! Bercanda," kata Draco sambil menarik sweater gadis itu.
Hermione kembali fokus melepaskan pot dari tangan Draco, plastik bahan dasar pot itu cukup tebal jadi tidak mudah untuk menggunting nya.
Laki-laki itu memperhatikan muka serius Hermione, jarak mereka cukup dekat untuk bisa mencium wangi satu sama lain. Tercium wangi stroberi segar dari pergelangan Hermione, mungkin wangi parfum yang ia pakai atau ia baru saja memakan stroberi.
Tangan kiri Draco meraih rambut Hermione yang tercecer menutupi wajahnya dan menyisipkan nya di belakang telinga. Tanpa berpikir panjang Draco dalam satu hembusan nafas ia mengeluarkan sebuah kalimat.
"Aku menyukaimu Granger."
Srek. Hermione kehilangan kendali akan tangannya dan tanpa sengaja menggores kulit laki-laki itu, Draco lantas memekik kesakitan.
"Kamu bilang apa tadi?" tanpa sadar Hermione mengarahkan gunting ke wajah Draco.
"Tolong jangan sakiti aku," Draco melindungi wajahnya dengan pot.
"Eh maaf," Hermione menurunkan gunting nya. "Kalimat mu yang tadi… serius?"
"Kurasa aku menyukaimu.. dengan cara -kau tahu- agak romantis." Draco berusaha terdengar tidak seperti pecundang.
Tanpa memberikan tanggapan Hermione kembali melanjutkan misi membebaskan tangan Draco. Nafasnya memendek, ia tidak berani mengadahkan wajahnya karna sepasang bola mata itu ada disana. Setelah pot itu berhasil terlepas tiba-tiba Hermione menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Sebenarnya," suaranya bergetar. "Aku.. juga menyukaimu."
Tubuh Draco terasa ringan, seakan sanggup terbang tanpa bantuan sapu. Di dadanya ada kembang api yang meledak-ledak menembakkan berbagai warna indah, ia mengedipkan mata tak percaya.
Perasaan nya terbalas? Perasaan nya terbalas! Astaga apa ini nyata. Draco berjongkok di depan Hermione dan menarik kedua tangannya agar tidak menghalangi wajah cantik Hermione.
"Ini nyata kan?" Gadis itu mengangguk pelan.
Pipi mereka berdua sama sama bersemu merah, untuk berapa detik mereka saling bertukar pandang dalam diam. Mereka masih tidak percaya akan apa yang terjadi, dunia seakan berhenti karna nya. Draco menggenggam kedua tangan Hermione erat, senyum nya mengembang lebar.
"Lalu?" tanya gadis itu sambil membalas genggaman Draco.
"Sekarang kamu milikku," jawabnya dengan percaya diri, Hermione tertawa mendengarnya.
"Aku bukan barang!" pekik Hermione. "Ngomong-ngomong.."
Draco menunggu Hermione menyelesaikan kalimatnya.
"Selamat ulang tahun, maaf aku tidak menyiapkan apa-apa."
"Ini saja cukup," Draco mencubit pipi Hermione.
…
To be continued
…
Hey if you read this, I wanted to say thank you for reading my low quality fic. Means a lot to me.
