Lempar Balik, 1994

Fanfiction based on J.K Rowling books

Chapter Six

Yorkshire, 2002

Sambil melintasi jalan yang sudah sunyi otak Hermione dengan keras bekerja, membuka memori memori yang sejak lama ia blokir. Kalimat yang Mrs. Malfoy masih membuatnya ling lung, rasa marah dan sedih bercampur mengaduk aduk ruh nya yang tidak stabil.

Setelah sekian lama menerka akhirnya terjawab sudah alasan dibalik menghilang nya Draco dalam hidup gadis itu saat tahun kelima di Hogwarts. Rasanya ingin memaki-maki laki-laki itu, mengapa hal seperti itu tidak dibicarakan dahulu, mengapa langsung mengambil keputusan sepihak. Disisi lain ia juga merasa kesedihan yang mendalam mengetahui beban berat yang harus Draco pikul sendirian dan keberadaannya hanya memperkeruh keadaan.

Hermione berusaha menenangkan diri sebelum keluar dari mobil, ia tidak ingin orang tuanya khawatir. Gadis itu melatih senyumnya di kaca spion tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan yang ia rasakan, ia hanya berharap orang tuanya sudah terlelap.

Sambil memasukan kunci mobil kedalam tas ia berjalan memasuki guest house tempat mereka menginap selama di Yorkshire. Dengan hati-hati Hermione membuka pintu, tidak ingin membuat gaduh dan membangunkan orang tuanya. Ia menyadari lampu di ruang tengah sudah dimatikan, Hermione masuk, melepas sepatunya dan menggantung jaketnya.

"Sudah pulang?" suara Mum terdengar dari arah dapur, sial! Mum masih bangun Pikir Hermione. "Mione?"

"Yaa, aku lelah sekali Mum." kata Hermione sambil berjinjit berjalan melewati dapur. "Aku langsung tidur ya."

Mum berjalan kearahnya dan menangkap wajah Hermione dengan kedua tangannya, "Ada apa, dear? Kamu baik-baik saja."

Luapan emosi yang ia tahan sudah tidak bisa dibendung lagi, gadis itu memeluk ibunya dengan erat dan menangis sekencang yang ia bisa. Isaknya menggema seluruh ruangan, badan nya terasa lemas menyelami lautan penyesalan.

Hermione tidak dapat menjelaskan apa yang ia rasakan, ia hanya tetap menangis dalam pelukan ibunya. Mum mengelus rambut anak tunggalnya, ia tidak mempertanyakan mengapa Hermione menangis begitu kencang dan hanya memeluknya.

"Dia— dia bodoh sekali!" teriak Hermione mencoba berbicara disela-sela isaknya. "Aku membuatnya tersiksa."

"Ini semua salahku Mum, salahku."

Mum mengendurkan pelukannya dan merapihkan rambut Hermione, ia tersenyum hangat sambil menyeka air mata putrinya dengan lengan sweater. Mum menuntun Hermione untuk duduk di sofa dan memberikannya segelas air.

Sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk ia mulai bercerita akan apa yang dikatakan oleh Mrs. Malfoy, tentang Draco yang dipaksa menjadi pelahap maut demi keselamatan Hermione.

"Dia menyayangimu."

"Tapi aku tidak ingin dia melakukan itu, jika saja dia memberi tau ku mungkin kita bisa mencari jalan keluar yang lain," jelas Hermione. "Ini salahku."

"Kamu harus mengerti bahwa pilihannya tidak banyak," kata Mum. "Memberitaukan tentang itu akan menempatkan mu dalam bahaya, prioritasnya adalah menjagamu walaupun harus mendorongmu sejauh mungkin darinya."

Hermione membenamkan wajahnya ke lutut. "Seandainya aku tau, dia tidak harus melewati segalanya sendirian."

"Jangan terus menyalahkan dirimu, dia pasti yakin ini jalan yang terbaik untuk kalian." kata Mum sambil berdiri dan menyisipkan rambut coklat anaknya kebelakang telinga. "Baiklah sudah cukup malam, jangan tidur terlalu malam dear. Besok jadwal penerbangan kita cukup bagi."

Mum mencium kening Hermione sebelum masuk ke kamarnya sedangkan gadis itu masih termenung menatap langit langit.

Kembali terngiang kalimat Narcissa Malfoy sebelum mereka berpamitan, 'Draco sedang pulang ke Manor, jika ada waktu temuilah dia. Aku yakin jika dia yang bercerita kamu akan lebih mengerti'. Gadis itu mengangkat tangannya, cincin pertunangannya memantulkan sepercik cahaya dari lampu, ia menatap cincin itu dalam dalam.

Apakah aku mampu menghadapinya tanpa merusak semua yang sudah ada, pikirnya.


Hampstead, 1995

"Mione dear, bangun. Teman mu datang berkunjung."

Hermione mengucek matanya dalam keadaan setengah sadar, ia tidak percaya mendengar ucapan ibunya. Orang di planet mana yang berkunjung sepagi ini, ini jam setengah tujuh pagi gerutu gadis itu. Orang tuanya bahkan belum bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Ia terpaksa mengangkat badan nya yang jelas-jelas masih ingin meringkuk diatas kasur, saat menuruni tangga betapa terkejutnya ia melihat laki-laki itu duduk di ruang makan bersama ayahnya.

"Malfoy?" ia langsung sepenuhnya terbangun. "Sedang apa kamu disini?"

"Berkunjung," jawabnya santai.

Otaknya kehilangan kata yang ingin di keluarkan, bisa-bisanya orang itu ada disini tanpa pemberitahuan. Ditambah lagi orang tuanya sudah bertemu dengan manusia ini, ia bahkan belum menceritakan keberadaan manusia ini dihidupnya.

"Kamu tidak bilang teman mu akan berkunjung," kata Mum sambil menaruh piring di meja. "Aku bisa mempersiapkan sesuatu."

"Itu salah ku, aku yang datang tiba-tiba." kata Draco sopan. "Maaf aku mengganggu sepagi ini."

"Ah tidak apa," jawan Dad. "Teman Mione akan selalu diterima di rumah ini."

"Kamu mau waffle Malfoy?" tanya Mum.

"Waffle?" ini kali pertama Draco mendengar kata itu.

"Umm, itu makanan manis seperti pancake tapi dimasak dalam cetakan persegi." Jelas Hermione. "Kamu belum pernah mencobanya kan? Akan kubuatkan untukmu."

Hermione menyuruh orang tuanya bersiap-siap untuk kerja, ia yang akan menyiapkan sarapan untuk mereka. Draco menawarkan untuk membantu menata meja makan dan Hermione memasak waffle, ia memberi tau Draco tentang makanan yang biasa mereka hidangkan disini. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan makanan yang biasa Draco santap dirumah namun dunia muggle memiliki lebih banyak barang elektronik untuk memasak.

"Jadi kamu satu angkatan dengan Mione di Hogwarts, Malfoy?" tanya Mum yang kembali bergabung dengan mereka setelah mandi.

"Iya, tapi kami beda asrama." Jawabnya.

"Berarti kamu bukan Gryffindor? Ada empat asrama ya kalau tidak salah." kata Mum sambil menuangkan teh.

"Iya, aku Slytherin."

Hermione menaruh piring besar dengan tumpukkan waffle yang masih hangat di tengah meja. Ia mempersilahkan Draco untuk mencobanya.

"Bagaimana?" tanya nya menunggu pendapat Draco.

"Ini lebih enak dari pancake," kata Draco. "Lebih renyah."

Hanya dengan tambahan satu manusia di meja makan keluarga Granger, pagi jadi terasa lebih ramai dari biasanya. Mereka berbicara tentang banyak hal, Dad dan Draco saling bertukar informasi tentang olahraga di dunia masing-masing, Dad menjelaskan tentang sepak bola dan Draco menjelaskan tentang quiditch.

Setelah mereka menyelesaikan sarapan, Draco membantu Hermione mencuci piring. Akhirnya laki-laki ini merasakan membereskan piring kotornya sendiri tanpa bantuan peri rumah ataupun sihir, tidak sesulit itu ternyata. Orang tua Hermione berangkat kerja pada pukul setengah sembilan, Draco berpamitan mengingat mereka mungkin belum kembali saat ia pulang nanti.

"Aku sampai belum bertanya," kata Hermione. "Kamu tau darimana alamat rumahku?"

"Dari mu," gadis itu menatapnya bingung. "Kamu memberikan nya saat menyuruh untuk menyuratimu liburan musim panas ini."

Memang dia sendiri yang memberikan alamat namun ia mengira hanya akan mendapatkan surat tiap minggunya, bukan Draco sendiri yang datang berkunjung.

"Lalu kenapa pagi sekali? Aku bahkan belum bangun."

"Sebaiknya pergi sebelum orang tuaku menyadari aku tidak di kamar," jawab Draco. "Aku biasa tidur sampai sore dihari libur."

Hermione mengangguk. Jika Mr. dan Mrs. Malfoy tau anak semata wayang mereka berkeliaran di rumahnya mungkin Hermione tidak bisa melihat matahari esok lagi. Gadis itu menyuruh Draco untuk menunggu dikamarnya selagi ia mandi, lebih baik menyuruhnya menunggu dikamar daripada Draco mengutak-atik barang elektronik dirumahnya.

Setelah gadis itu selesai mandi ia mendapati pacarnya sedang mengobrak-abrik kamarnya.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Hermione, ia sudah pasrah jika Draco merusak barang di kamarnya.

"Ini apa?" tanya Draco sambil memegang kotak berisi kaset.

"Kaset," Hermione mengambil satu dan memasukkan nya ke radio yang juga memiliki pemutar kaset. "Isinya rekaman lagu."

Ia menjelaskan tentang cara bekerja kaset pita dan memamerkan koleksi lagu-lagu klasik yang ia miliki. Setengah hidupnya ia habiskan di asrama jadi tidak banyak kaset band-band terkini yang ia miliki, bahkan Hermione tidak banyak mengetahui penyanyi-penyanyi baru.

"Kamu pasti suka ini," Hermione mengambil sebuah kaset dan memutarnya.

"Siapa ini?" tanya Draco, tebakkan gadis itu benar baru mendengar intronya saja Draco sudah menyukainya.

"The Beatles, mereka band yang besar ditahun 60an." jelas Hermione.

Lagu Till There was you sedang berputar dari kaset, tiba-tiba Draco berdiri dari duduknya. Ia menarik tangan Hermione hingga berdiri bersamanya, lalu memindahkan kursi belajar Hermione dan mengosongkan bagian tengah kamar. Laki-laki itu menaruhkan tangan Hermione dibahunya, memaksa gadis itu untuk berdansa dengan nya. Hermione tersipu malu, mereka berusaha menggerakan badan mengikuti irama lagu. Hal seperti ini biasa ia saksikan dalam film, tidak dalam seratus tahun Hermione mengira akan berdansa dengan Draco Malfoy diiringi oleh The Beatles.

No, I never heard it at all till there was you

Lagu ini selaras dengan keadaan mereka, sebelum ini keduanya belum pernah merasakan memiliki pasangan atau bahkan menyayangi seseorang hingga seperti ini. Ingin rasanya menghentikan waktu untuk beberapa saat dan memanjangkan momen ini, tidak apa jika lagu itu diputar berulang kali tidak akan bosan mereka mendengarnya.

Melihat senyuman berharga terlukis di wajah manis Hermione, saat itu juga Draco berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang terjadi ia tidak akan membiarkan senyum itu memudar.

….

Ini menjadi semester yang aneh untuk Hermione, sahabatnya berada dalam masa depresi, Umbridge yang cerewet itu sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru dan ia terpilih menjadi prefek Gryffindor.

Semua terjadi begitu cepat hingga otaknya belum mampu memproses dengan benar. Dalam kesibukkan nya ia berjanji mencari waktu tiap minggu untuk bertemu Draco. Siang ini pacarnya menyelipkan surat di kantung jubahnya untuk bertemu di Menara astronomi, laki-laki itu semakin pandai memberikan pesan tanpa diketahui orang lain.

"Harry belum bicara padaku hari ini," kata Hermione sambil membenarkan jepitan rambutnya. "Aku berusaha ada untuknya namun ia terus menjauhiku dan Ron."

Draco mengangguk tanda mendengarkan.

"Aku tidak mengerti, apa yang harus aku lakukan." gadis itu belum berhenti meracau. "Ditambah lagi Professor Umbridge memberikan banyak sekali tugas, bagaimana aku bisa menyelesaikan ini semua bersamaan dengan tugas ku sebagai prefek yang baru."

Laki-laki yang dari tadi mendengar ocehan Hermione duduk bersila didepan nya dan mencubit hidung gadis itu, Hermione meringis.

"Tarik nafas," perintah Draco. "Keluarkan pelan-pelan."

Hermione menuruti arahan laki-laki itu, "Maaf aku sering mengeluh belakangan ini, kamu pasti bosan ya mendengarnya."

"Tidak sama sekali," Draco tersenyum. "Aku hanya tidak mau kamu tenggelam dalam pikiranmu yang kusut itu, semua bisa diselesaikan tapi tidak dalam waktu bersamaan."

"Terima kasih," kata Hermione.

Awalnya gadis itu berpikir memiliki pacar tidak akan berpengaruh banyak dalam hidupnya namun disaat seperti ini ia merasa setengah bebannya terangkat hanya karna melihat senyum Draco. Laki-laki itu menaruh kepala di pangkuannya lalu bertanya tentang parfum yang ia kenakan.

"Malfoy bukannya kamu ada latihan quiditch," mendengar kalimat itu raut Draco langsung berubah masam.

"Aku benci kamu mengatakan itu," Draco membuang pandangannya sebal.

"Latihan quiditch?"

"Bukan." Jawabnya ketus.

"Lalu apa?"

"Namaku, kamu masih memanggilku dengan nama keluarga." ucap Draco jengkel.

Mendengar kalimat itu Hermione tidak mampu menahan tawanya, inilah sifat Draco yang sebenarnya ngambekan.

"Baiklah baiklah, Draco." Hermione menekankan nada bicaranya pada kata Draco.

"Hehehe," satu kata yang ia tunggu-tunggu akhirnya terucap juga.

Draco bangun dari tidurnya dan mengeluarkan sebuah kotak dari kantung jubahnya. Ia menyuruh Hermione menutup mata dan membukanya saat ia memberi aba-aba.

"Buka matamu sekarang."

Sebuah kotak berbahan kain velvet terbuka di telapak tangan laki-laki itu, di dalamnya tertata dengan rapih sebuah kalung silver bermata batu hijau tosca.

"Selamat ulang tahun Hermione Granger."

Ini hadiah yang terlewat mewah untuk seorang murid, Hermione bahkan tidak pernah mendapatkan perhiasan seindah ini dari orang tuanya.

"Draco," ia meraba batu dengan ujung jarinya. "Ini indah sekali."

Kalung itu Draco keluarkan dari kotak dan ia pasangkan di leher Hermione, gadis itu membantu dengan mengangkat rambut ikalnya. Hermione menunduk melihat kalung mahal itu sudah terikat di lehernya, ia merasa sangat bahagia.

Gadis itu meluruskan punggungnya dan mencium pipi Draco, sesuatu yang tidak ia sangka akan terjadi. Laki-laki itu menoleh dan menempelkan dahi mereka.

"Ini ulang tahun mu, kenapa aku yang mendapat hadiah." Katanya sambil tersenyum, tangannya ia kalungkan ke pinggang gadis itu.

Kedua tangan Hermione membelai halus rambut silvernya, "Kamu akan telat latihan Draco."

"Aku lebih tertarik menghabiskan waktu bersamamu daripada latihan," jawabnya.

….

"Kamu yakin itu tidak membahayakan Dumbledore Army?"

"Tidak," jawab gadis itu sambil menggigit donat gula yang di hidangkan di hall. "Aku percaya padanya.

Karna sekarang Draco menjadi bagian dari hari-harinya, tidak mungkin Hermione bisa merahasiakan satu hal kecil dari laki-laki itu. Sehari setelah Dumbledore Army dibentuk ia langsung membagikan berita ini ke Draco, tidak ada komentar aneh darinya hanya menyuruh Hermione untuk lebih hati-hati.

Menjadi satu-satunya orang yang mengetahui hubungan mereka, Ginny khawatir jika laki-laki pirang itu berulah dan membocorkan segalanya.

"Aku tau," kata Ginny. "Tapi kamu ingat cerita Harry kan? Ayahnya berada di makam malam itu."

Jangan diingatkan, Hermione menelan ludah. Draco tidak pernah membicarakan tentang keterlibatan keluarganya dengan pangeran kegelapan, bukan karna ditutup-tutupi namun karena ia juga tidak sepenuhnya setuju dengan perilaku Lucius. Bisa terbaca dari matanya, Draco bukanlah bagian dari mereka tidak ada sedikitpun perasaan ingin berkuasa atas yang lemah. Ia telah banyak berubah.

"Aku percaya padanya," tegas gadis itu sekali lagi.

"Baiklah," Ginny pun menyerah.

Kadang hal ini membuatnya terjaga di malam hari, apakah ini pilihan yang tepat? Keluarga Malfoy sudah dikenal sejak lama sebagai pengikut setia pangeran kegelapan, sedangkan sahabatnya adalah manusia paling diincar Voldemort.

Sudah ratusan kali Hermione berpikir ulang, haruskan ia sudahi saja hubungan ini. Namun tiap kali ia melihat mata abu-abu itu segala keraguan nya sirna, meskipun tidak yakin dengan keluarga Malfoy tapi laki-laki dihadapan nya selalu dapat ia percaya.

Dari kejauhan terdengar riuh gaduh seperti ada yang sedang bertengkar, Hermione dan Ginny langsung pergi mendatangi arah suara tersebut. Di sana berdiri Draco, Harry dan murid-murid lain yang mencoba melerai mereka, mengingat riwayat hidup mereka tidak kaget lagi jika pertikaian ini terjadi.

"Kamu mau melakukan apa? Mengadukan ku pada ayahmu?" pekik Harry.

"Iri? Dimana ayahmu Potter?" balas Draco.

Hermione menarik lengan Harry, berusaha menenangkan nya. Amarah Harry tidak dapat ia kendalikan tanpa sengaja ia mendorong sahabatnya hingga terjatuh. Sebuah pukulan langsung melayang ke pipi Harry, gadis itu hampir berteriak melihatnya.

"Apa yang kamu lakukan?!" Hermione langsung berdiri dihadapan Draco, saat itu Harry sudah berhasil di tarik mundur oleh teman-teman Gryffindornya.

"Jangan ikut campur." Laki-laki itu langsung berbalik dan hilang dari kerumunan.

To be continued