Lempar Balik, 1994
Fanfiction based on J.K Rowling books
…
Chapter Seven
…
Notting Hill, 2002
Draco merapihkan rambut pirang nya yang tertiup angin saat menyusuri jalan menuju stasiun, pagi itu ia sudah berada di Notting Hill mencarikan sebuah buku untuk ibunya. Laki-laki ini sudah terbiasa hidup berdampingan dengan para muggle, bagaimana tidak, selama empat tahun belakangan ia menghabiskan waktu jauh dari dunia sihir beserta isinya.
Ia melewati sebuah perempatan dan berhenti untuk menyebrang. Tiba-tiba sudut matanya menangkap seseuatu, seseorang berambut ikal berwarna coklat yang tengah berdiri di sebrang jalan. Dengan cepat ia memfokuskan matanya memastikan itu bukan khayalan seperti yang sudah sudah. Namun kali ini tidak, orang itu berdiri di ujung gang sambil memegang kamera di tangannya.
Perempuan itu menoleh ke arahnya, tubuh Draco membeku saat pandangan mereka bertemu, ia tertegun cukup lama memperhatikan tiap centi wajahnya. Mata laki-laki itu mulai berembun, badan nya terasa lemas, ini nyata kan?
Sudah hampir setahun Draco mencoba mencari perempuan itu, walau memang pencarian nya tidak maksimal karna ia belum ingin menampakkan mukanya di khalayak ramai. Ia tidak berani menghubungi teman Hermione untuk menanyakan tentang keberadaan nya, mereka pasti marah besar karna tau hal-hal yang dulu Draco lakukan pada perempuan itu.
Kini berakhir sudah pencarian nya, Hermione berdiri dengan anggun di hadapan nya. Akhirnya setelah bertahun-tahun hidup dalam keresahan hari itu Draco merasa semua akan baik-baik saja, karna Hermione datang lagi dihidupnya.
Perempuan itu berjalan mendekati Draco dengan mata yang turut berkaca-kaca, pertemuan ini telah ia dambakan sejak lama. Tangan nya bergetar seolah tak percaya akan menatap mata kelabu ini lagi, seakan disuntikkan hormon adrenalin jantung nya berpacu dengan cepat.
"Hai," sapanya.
Laki-laki itu langsung menyambut dengan sebuah pelukan. Pelukan itu semakin erat tiap detiknya, membayar waktu saat mereka tidak bersama.
"Sedang apa disini?" tanya Hermione.
"Ada buku masak yang ibu cari, tapi sudah tidak keluar cetakan terbarunya jadi aku mau mencari di toko buku bekas." Jelasnya. "Kamu sendiri?"
"Jalan-jalan," jawab Hermione. "Aku baru nonton film Nottihng Hill."
Draco menawarkan untuk melanjutkan obrolan ini di tempat yang lebih nyaman, lalu mereka memilih sebuah Café yang sepi di ujung gang. Setelah mendapatkan kursi tempat yang nyaman, Hermione memesan secangkir teh hangat untuknya dan cappuccino untuk Draco.
Mereka belum bertemu selama empat tahun, empat tahun, empat tahun! Seluruh pertanyaan yang sudah disiapkan untuk pertemuan ini teracak berantakkan dikepala masing-masing, keberadaan satu sama lain mengalihkan semua tanda tanya yang belum terjawab.
"Jujur saja aku merasa aneh melihatmu mengenakan kaos Polo," kata Hermione.
"Ayolah, ini dianggap fashionable oleh muggle," Draco memberi pembelaan.
"Iya memang, hanya saja lebih suka gaya berpakaian 'penyihir' mu."
"Maksudmu pakaian serba hitam itu?" Hermione tertawa.
Draco mengatakan melihat foto Hermione di koran beberapa minggu lalu. Hermione di sorot menjadi penyihir termuda yang diterima pada Departemen Pendidikan di Ministry of Magic.
"Aku hanya beruntung," ucap Hermione tersipu.
"Beruntung? Kamu memiliki bakat yang luar biasa," kata Draco. "Terlebih lagi, Departemen pendidikan? Cocok sekali denganmu."
Bukan hal baru jika Draco menghujaninya dengan pujian dan perempuan itu tidak pernah bosan akan hal itu.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Hermione. "Kesibukan mu apa sekarang?"
"Jadi sama seperti ayah, ikut mengkoleksi barang antik." Jawabnya. "Sebenarnya lebih banyak buku."
Hermione mengangguk.
"Aku baru sebulan kembali ke Manor, mempersiapkan rumah agar bisa ayah dan ibu tempati." Jelas Draco. "Sudah empat tahun rumah itu kosong, harus dibersihkan dan jujur saja banyak yang harus diperbaiki."
"Kamu ternyata tinggal di Yorkshire ya selama ini," kata Hermione.
Laki-laki itu mendelik kaget, dari mana Hermione tau akan hal itu, "Kamu tau?"
"Seminggu yang lalu aku berlibur kesana, tidak sengaja bertemu dengan ibumu." jawab gadis itu.
"Benarkah? Ibu tidak bilang apa-apa padaku." Iya, karna Hermione meminta Narcissa untuk merahasiakan pertemuan mereka.
Akhirnya jawaban dari pertanyaan yang sejak lama bersarang di kepala Hermione terjawab. Draco menceritakan tentang keadaan mental orang tuanya saat perang Hogwarts berakhir, ia tau kembali tinggal di Manor bukan pilihan yang tepat. Satu-satunya yang mengetahui dimana keluarga Malfoy tinggal hanyalah Andromeda Tonks, bibinya.
Dengan berat hati Draco merelakan dunia yang dulu ia punya, ia juga tidak berani menyurati siapapun takut jika tempat persembunyiannya terbongkar. Keluarga Malfoy belum diterima oleh Orde dan dianggap penghianat oleh pengikut setia pangeran kegelapan, jadi lebih baik mereka tetap bersembunyi.
"Aku mencoba menyurati mu tahun lalu, namun tampaknya kamu pindah rumah." kata Draco.
Kali ini giliran Hermione yang bercerita tentang hidupnya sehabis perang Hogwarts. Ia menjual rumahnya di Hampstead dan pindah ke flat bersama Harry, mereka sama-sama belum memiliki tempat tinggal dan tidak ingin banyak merepotkan keluarga Weasley. Setelah keadaan di London lebih tenang, Hermione berangkat ke Australia untuk mencari kedua orang tuanya.
"Syukurlah kamu bisa berkumpul lagi dengan orang tuamu," kata Draco. "Perang ini kejam sekali, mengambil paksa semua yang kita sayangi."
Meskipun sudah empat tahun namun memori tentang hari-hari itu masih melekat di kepala mereka, trauma ini tidak akan hilang untuk seumur hidup.
Hermione menyisip tehnya sekali lagi, ia sedang mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal itu pada Draco.
"Aku boleh bertanya tentang sesuatu padamu?"
"Ya apa saja." Jawabnya.
"Tentang kamu yang memutuskan hubungan kita dahulu," gadis itu mengambil nafas sejenak. "Apa ada yang kamu sembunyikan?"
Draco memejamkan matanya untuk beberapa detik, mencoba mengeluarkan ingatan buruk itu dari pikiran nya. Sebuah malam yang ia sesali seumur hidup, malam dimana ia mencampakkan Hermione secara sepihak tanpa alasan yang jelas.
"Voldemort masuk kepikiranku, dengan mudahnya ia tau tentang hubungan kita. Sejak lama aku menolak tawaran menjadi Pelahap Maut, aku tidak ingin jadi bagian dari mereka. Namun kali ini dia tau kelemahanku dan tidak segan menggunakan nya untuk memaksaku." kata Draco. "Aku terpaksa menjadi Pelahap Maut dan menjalankan perintah pangeran kegelapan untuk menjamin keselamatan mu. Ibu juga marah besar padaku saat mengetahui hal ini dan menyuruhku untuk berhenti bertemu denganmu"
Ia mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Aku berjanji akan menuruti semua itu jika diperbolehkan untuk terakhir kali bertemu denganmu."
"Itu malam dimana kamu tiba-tiba datang..."
"Iya."
"Kita tidak pernah bahas tentang ini sama sekali," kata Hermione lirih.
"Jika kamu tau, kamu tidak akan membiarkan ku melakukan ini."
"Tentu saja!" pekik gadis itu.
"Tidak ada jalan lain, mereka akan melakukan apapun agar aku mau melakukan nya. Ayah berada di Azkaban dan keselematan ibu juga mengambang, satu satunya jalan adalah aku menjalankan perintah pangeran kegelapan." Draco menundukkan kepalanya.
Hermione meraih tangan Draco yang sangat dingin saat ini.
"Maaf kamu harus melewatinya sendirian, pasti berat untukmu." Kata Hermione halus. "Berlaku begitu tangguh untuk semua orang, aku tidak bisa menjelaskan seberapa bangga aku padamu. You did well."
Tanpa terasa air mata Draco jatuh, selama bertahun-tahun ia mencoba menguatkan diri sendiri ia lupa rasanya memiliki tumpuan, rasanya hangat sekali. Draco rindu memiliki seseorang untuk menguatkan dan membantunya di masa sulit, Ia tidak percaya perempuan yang ia sakiti masih tulus berempati padanya.
"Maafkan aku," ucapnya dengan suara parau. "Maafkan aku."
Hogwarts, 1996
Sejak kejadian dua minggu lalu Hermione dan Draco belum bicara satu kata pun. Laki-laki itu pulang ke Manor selama seminggu untuk merayakan tahun baru, sedang Hermione tetap tinggal di asrama membantu Harry dengan kelas-kelasnya bersama Snape. Ketika mereka berpapasan dua hari lalu Draco tidak mengeluarkan satu katapun, bahakan ia tidak melirik Hermione.
Dengan perasaan campur aduk gadis itu merebahkan kepalanya di atas meja, ia sedang membantu Ron mengerjakan tugas Herbologinya di Hall. Ingin nya hari itu hanya meringkuk di kasur saja namun ia sudah berjanji pada Ron tidak mungkin membatalkan tiba-tiba.
Seseorang menepuk pundaknya, mata gadis itu terbelalak saat melihat Draco berdiri di belakang nya. Ini jelas melanggar perjanjian mereka, karna hubungan ini masih rahasia untuk konsumsi publik Hermione dan Draco membuat perjanjian untuk tidak saling sapa di depan umum.
"Bisa bicara sebentar?" tanya laki-laki itu.
"Untuk apa kamu di sini Malfoy, pergi sana jangan mengganggu Hermione." Ucap Ron ketus.
"Tidak apa," kata Hermione pada Ron. "Kita bicara di halaman belakang saja."
Setelah sampai di halaman belakang mereka hanya duduk di bangku taman, Draco belum mengeluarkan kalimat apapun dari mulutnya.
"Ada apa?" tanya Hermione berusaha mengisi kesunyian.
"Aku mau minta maaf," ucap laki-laki itu pelan. "Aku tidak bermaksud kasar seperti itu."
Gadis itu membalas dengan sebuah anggukan, ia sebenarnya tidak marah atas kejadian itu. Setelah akhirnya bisa melihat wajahnya sedekat ini Hermione merasa lebih tenang, seminggu ini terasa berat karna ia tidak memiliki tempat menyandarkan lelahnya.
"Maaf kamu harus melihatku seperti itu," lanjut Draco. "Aku belum bisa mengatur emosi ku."
"Kenapa kamu selalu merundung Harry, dia tidak melakukan apa-apa."
"Ya aku tau itu," Draco menutup mata dengan kedua lengannya. "Mungkin aku iri padanya, sejak aku kecil ambisi ayah adalah membantu kamu-tau-siapa menguasai dunia. Mungkin ayah lebih tau banyak tentang Potter daripada anaknya sendiri, jadi setiap melihat Potter aku merasa darahku mendidih."
Draco Malfoy iri pada Harry? Ini berita baru.
"Aku yakin ayahmu menyayangi mu, kamu darah dagingnya sendiri tidak mungkin di nomor duakan."
Meskipun laki-laki itu tau kalimat yang keluar dari mulut Hermione sebuah pemanis belaka, namun ia lega gadis itu tidak mentertawakan keresahan nya.
"Maaf aku membentakmu," Draco mengucap maaf sekali lagi.
"Tidak apa, lagi pula aku tidak marah, bukan hal baru dibentak oleh mu." canda Hermione
Laki-laki itu langsung berlutut di depan Hermione meminta maaf atas perilaku bodohnya dahulu, gadis itu tertawa lepas melihat kelakuan pacarnya. Hermione menyuruhnya bangun karna pose itu memalukan jika dilihat orang.
Melihat tawa gadis itu Draco merasa bodoh sekali tidak meminta maaf lebih cepat. Ia menatap wajah Hermione dengan serius dan mendekatkan wajahnya.
"Ada apa?" tanya gadis itu bingung.
"Cium boleh?"
Gadis berambut ikal itu langsung mendorong jauh wajah laki-laki itu, ini di tempat umum tidak mungkin ia membolehkannya.
"Iya iya baiklah," katanya sambil mencubit pipi Hermione. "Ayo kembali ke hall, sebelum Weasley mengira aku membunuhmu."
…
Patroli malam sudah mulai menyisir lorong-lorong kastil, memastikan tidak ada murid yang mengendap-endap meninggalkan asrama diluar jam malam. Sebuah kaki kecil berjinjit pelan mencoba meminimalisir suara langkah kakinya, matanya mengawasi tiap sudut kastil dengan seksama. Hermione menjaga setiap gerakan nya, tidak ingin tertangkap oleh patroli ketat Umbridge malam itu. Sebuah tangan muncul dari balik tikungan dan menarik tangan perempuan itu, dengan lihai orang itu menutup mulut Hermione agar ia tidak berteriak.
"Kamu gila ya? Menyuruh ku menyelinap keluar asrama disaat seperti ini, kita bisa terancam dikeluarkan oleh Umbridge!" Hermione mencoba menurunkan volume suaranya takut jika ada yang mendengar.
Laki-laki itu menggandeng tangan Hermione dan menuntunnya berjalan melewati lapangan menuju hutan terlarang.
"Aku tidak bisa mengajakmu kencan normal seperti orang lain dan ini alternatif nya, sudah jangan banyak mengoceh." jelas Draco sambil menjepit bibir Hermione dengan telunjuk dan jempolnya.
Perkataan Draco ada benarnya, mereka tidak bisa menghabiskan hari Valentine seperti pasangan lain. Mereka ini pasangan terlarang, dikecam oleh masing-masing kubu seperti romeo dan juliette.
Draco merapal sebuah mantra yang menyikap sulur pohon dan membuka sebuah jalan setapak menuju bukit di sisi lain hutan terlarang. Setelah kurang lebih menanjak selama 15 menit akhirnya mereka sampai di atas sana, sebuah tempat yang cukup tinggi dimana mereka bisa melihat seluruh hutan dan danau dengan jelas.
Langit malam itu menghamburkan jutaan bintang, mengerling dan menari di atas sana. Angin malam meniup leher gadis itu lembut, membuat ia sedikit menggigil. Draco mengalungkan selimut yang sudah ia persiapkan ke badan Hermione, lalu ia membentangkan sebuah kain dan menyuruh gadis berambut coklat itu untuk duduk di atas nya.
"Lebih baik dari kencan masal di Hogsmeade kan," kata Draco bangga.
Mereka berbaring sambil menatap keindahan alam yang memayungi mereka. Draco mengaitkan jari-jarinya pada tangan Hermione, ia bersikeras untuk tetap menggandeng tangan gadis itu.
"Menurutmu apakah suatu hari nanti mereka bisa menerima hubungan kita?" tanya Hermione sambil membalikkan badannya agar dapat melihat wajah Draco.
"Mereka siapa?"
"Teman-teman kita," Hermione mengangkat bahunya.
Tangan Draco membelai rambut halus gadis itu, "Kamu lelah ya mencuri waktu seperti ini?"
"Aku iri melihat pasangan lain bergandengan tangan dengan bebas di kastil, sedang aku hanya bisa bertukar pandang denganmu."
"Aku juga merasakan itu, aku ingin memamerkan mu di depan semua temanku." kata Draco.
"Mau mempermalukan ku ya?" cibir Hermione.
"Bukan begitu, mereka pasti tidak percaya aku bisa mendapatkan gadis tercantik di Hogwarts."
Tidak siap mendengar gombalan Draco wajah Hermione langsung merah padam, ia berusaha menutup mulut laki-laki itu dengan tangan nya. Draco memberontak dan melepaskan dekapan Hermione, tawa mereka pecah diantara dinginnya malam.
Sambil masih cekikikan tanpa alasan yang jelas mata mereka bertemu, saling bertukar pandang. Raut wajah Draco tiba-tiba berubah, perlahan ia mencondongkan wajahnya semakin dekat, mengikis jarak antara mereka. Matanya memberikan tatapan itu.
"Boleh?" tanyanya setengah berbisik, Hermione mengangguk.
Pelan pelan ia mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir Hermione, Draco mengecup bibir merah itu secara perlahan. Tangan laki-laki itu membelai halus pipi Hermione dan menarik kepalanya agar semakin dalam ia bisa merasakan bibir gadis itu. Hermione dapat merasakan nafas nya memendek, ia dan Draco mulai saling berebut sedikit oksigen yang tersisa diantara mereka.
"Jadi seperti ini rasanya," gumam Draco saat ia melepaskan bibir Hermione.
"Apanya?"
"Aku selalu ingin mencium mu."
Hermione terkekeh, "Aku juga."
…
Laki-laki berambut silver itu memejamkan matanya, ia berusaha menghalau kebisingan yang sedang terjadi masuk ke pikirannya. Seorang Wizengamot tengah membacakan dakwaan yang cukup panjang, ia mengakhirinya dengan pengambilan suara dari semua Wizengamot yang hadir. Draco makin menutup matanya rapat, mendengarnya saja sudah membuat perut mual apalagi melihat yang tengah terjadi.
"Bersalah atas semua tuntutan."
Seakan langit runtuh menjatuhi kepala Draco saat kalimat itu diucapkan, sebuah tangan dingin mulai menggenggam erat tangannya. Narcissa dan Draco hanya bisa terduduk lemas mendengar hakim membacakan hukuman atas Lucius. Dari tujuh Pelahap Maut yang menyerang Harry dan kawan-kawan di Ministry of Magic malam itu, hanya Luciuslah yang di tangkap.
Hari itu Dumbledore mengizinkan Draco untuk menghadiri persidangan ayahnya, Harry juga hadir disana sebagai saksi. Mereka berdua berangkat ditemani oleh Professor Snape.
Draco menatap ibunya yang setengah mati berusaha menahan tangis, gemetar ditangan nya tidak dapat ia sembunyikan. Azkaban. Ayahnya tidak akan lagi ada dirumah untuk menyambutnya pulang akhir semester ini dan ibunya harus menanggung beban sendiri selama ia di asrama. Perasaan Draco campur aduk, entah ingin menyalahkan siapa.
Sebelum dua auror membawa pergi Lucius, Draco dan Narcissa diberikan waktu untuk berpamitan. Dengan tangan yang sedang terikat Lucius berusaha memeluk keluarganya.
"Jaga ibumu."
Hanya itu pesan yang ayahnya katakan, lalu menghilang dari pandangan mata. Draco memejamkan matanya lagi, berharap ia bisa terbangun dari mimpi buruk ini.
"Sudah waktunya kamu kembali ke Hogwarts," ucap Narcissa lirih, ia berusaha kuat agar anaknya tidak khawatir. "Aku akan baik-baik saja."
Mulut Draco masih terkunci rapat, ia hanya memeluk ibunya dengan kencang lalu pergi mengekor mengikuti Snape dan Harry. Snape menyuruhnya menggunakan floo terlebih dahulu, Draco menurut saja. Sedetik kemudian ia sudah kembali di kastil. Entah karna efek samping floo atau bukan perutnya terasa mual seperti diaduk-aduk, ia tidak mampu berdiri tegak dan terjatuh di lantai. Kepalanya pening. Draco belum mampu memproses apa yang terjadi, kalang kabut mengatur emosinya saat ini.
Draco tau waktunya tak banyak.
…
To be continued
…
Sorry for all the typos, hope you'll like it!
