Aku punya adik kecil yang manis, namanya Byun Baekhyun. Dan dia benar-benar manis, usianya 16 Tahun. Aku tak pernah membiarkannya keluyuran sendirian, mungkin aku terkena brother_complex akut. Tapi karena hal itu hidup Baekhyun benar-benar bergantung padaku, orang tua kami tinggal jauh di luar kota mereka bilang tak mampu membiayai sekolah Baekhyun lagi karena usaha keluarga kami sudah bangkrut. Maka itu aku harus bekerja banting tulang untuk menghidupi kami berdua, Baekhyun tak pernah melanjutkan sekolahnya karena aku. Bukan karena tak mampu, tidak tentu saja bukan itu. Tetapi lebih Karena aku tak mau orang-orang itu menatap Baekhyun, aku tak mau orang-orang menyentuh atau bahkan milirik apa yang sudah menjadi milikku.
Catat : Milikku.
Demi Baekhyun aku rela melakukan apapun, bahkan untuk menjadi seorang penjahat pun aku rela lalu disinilah aku sekarang. Jika dibilang penjahat, aku bukanlah penjahat aku hanya mendapatkan uang dengan cara yang tidak biasa dan aku membangunnya dengan cara yang tidak biasa pula. Aku sudah duduk di puncak kekuasaan ini sejak setahun lalu, sejak aku mencekik leher pak tua itu. Dan sekarang tak ada yg berani membantah perintahku. Susah payah aku mendapatkan posisiku saat ini, Uang, Kekuasaan dan semua yang aku miliki saat ini semata-mata hanya untuk melindungi Baekhyun. Baekhyun memang bukan adik kandungku, kami tak ada pertalian darah. Baekhyun datang di keluargaku saat usianya 5 tahun, Baekhyun di titipkan di keluargaku karena keluarganya terlilit hutang dan tak mampu lagi membiayai semua keperluan Baekhyun kecil. Ayahku menyanggupinya karena orangtuanya bilang akan menjemput Baekhyun dalam satu tahun ke depan namun naas belum satu tahun, lintah darat menemukan mereka, menagih hutang mereka lalu mereka kabur dan berakhir dengan keduanya tewas mengambang di Laut dengan isi perut yang sudah terburai, sejak saat itu aku berjanji akan menjaga Baekhyun tak peduli apapun yang terjadi, aku menjadi posesif akan segala hal yang menyangkut Baekhyun.
Orangtuaku mungkin memang bukan orangtua yang baik, mereka gila judi. Itu juga yang membuat bangkrut usaha kami, mereka menjual segala aset untuk dijadikan barang taruhan lalu saat mereka memutuskan untuk pindah keluar kota, mereka menyerahkan Baekhyun padaku. Aku baru saja lulus sekolah saat itu dan aku harus bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan kami berdua, ku pastikan Baekhyun bersekolah di tempat yang bagus khusus laki-laki namun ternyata pilihanku itu salah.
Baekhyun benar-benar mencuri perhatian seisi sekolah dengan sosoknya sampai suatu ketika, Baekhyun pulang dengan bibir memar dan tanda merah di sekujur tubuhnya. Apa yang mereka lakukan pada Baekhyun ?. Aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun sampai suatu ketika Baekhyun datang ke kamarku dengan menangis. Aku mengusap kepalanya pelan, lalu dia meraung kencang. Aku benar-benar kebingungan saat itu, entah apa yang terjadi sebenarnya sampai aku berusaha sendiri menyelidiki apa yang terjadi dengan Baekhyun. Hari itu pertemuan orangtua dan murid karena aku wali dari Baekhyun tentu saja aku harus datang, aku berjalan menuju aula dan menatap sekelilingku, berharap aku menemukan sosok Baekhyun. Ketika aku melewati ruang Janitor aku mendengar suara kecil yang meronta.
"Tolong hentikan, tolong jangan lakukan itu, aku mohon jangan sakiti aku lagi." Aku kenal suara itu, itu suara Baekhyun aku berusaha membuka knop pintu Janitor namun terkunci dari dalam.
"Jangan bergerak Baekhyun, Jangan buat aku semakin bernafsu untuk 'memasuki'mu."
"Baekhyun.. Baek.. kau didalam.. buka pintunya.. Baek.. !!!." Suara memohon tadi berubah menjadi desahan-desahan kecil yang membuatku kehilangan akal.
"Akkh...umhhh.. K_k_ka_kak.. Uhm.. Ahhh" dengan sekuat tenaga aku mencoba membuka pintu itu sampai akhirnya aku merusak knopnya dengan menggunakan alat pemadam kebakaran yang ada disamping pintu Janitor, karena suara keras membuat beberapa murid keluar dari kelasnya dan melihat ke arahku, beberapa guru pun menghampiri untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika pintu di buka, disana aku menemukan Baekhyu setengah telanjang dengan batang kemaluan yang digengam erat oleh siswa di depannya dan tangan lainnya yang mencengkram kuat tangan Baekhyun.
"Apa yang K_kalian lakukan ?? Baek ??"
Setelah itu aku membawa Baekhyun pulang, Baekhyun masuk ke kamarnya dan tak pernah keluar lagi selama beberapa hari, aku hanya bisa menaruh nampan makanan di depan kamarnya. Siswa yang membekap Baekhyun di Janitor adalah putra seorang pejabat, saat aku berusaha menuntutnya ke kantor polisi mereka hanya tertawa dan menyuruhku pulang, mereka mengatakan kalau sia-sia saja menuntut keluarga Kim karena mereka punya kekuasaan. Aku ingat bagaimana Baekhyun merintih setiap malam, berteriak-teriak seperti orang gila. Itu membuatku benar-benar sakit, adik yang ku lindungi segenap ragaku, kesakitan. Sebelum aku menghajar habis siswa yang menyentuh Baekhyun, dia berkata kalau dia melakukan itu setiap hari kepada Baekhyun membentuknya menjadi boneka seks selama berbulan-bulan dan dia mengatakan justru Baekhyun yang memintanya melakukan itu padanya, aku tak percaya dengan semua ucapannya sampai suatu malam Baekhyun datang padaku dengan hanya mengenakan atasan piyamanya yang terbuka sampai kancing terbawah, harap garis bawahi, hanya atasan piyamanya saja.
"K_k_kakak.." ketika aku melirik ke arah Baekhyun, nafasku seketika berhenti. Melihat keadaan Baekhyun di hadapanku, dia menarik tanganku dan membuat tanganku menyentuh kulit mulusnya, Jantungku tak karuan dibuatnya.
"B_baek.. apa yang kau lakukan ? Pakai bajumu dengan benar." aku menarik tanganku dan memalingkan wajahku dari pandangannya.
"K_kakak.. tolong aku.. kakak.. "Baekhyun menarik tanganku lagi, membuatku menyentuh dadanya lalu terus meluncur ke bawah dan disana, aku menemukan sesuatu yang menegang di bawah sana. Aku menelan ludahku sendiri, tak percaya apa yang aku lihat di hadapanku. Sewaktu tanganku menyentuh kulit Baekhyun, ada bagian dari diriku yang meminta lebih dari itu. Tapi ini Baekhyun, adikku, adikku yang manis.
Aku menepis tangan Baekhyun lagi.
"Tidurlah Baek, jangan seperti ini.." dengan segenap jiwa aku menahan hasratku, apa aku sudah tidak waras. Aku menginginkan adikku sendiri, terlebih Baekhyun adalah laki-laki. Sepanjang malam aku terus memikirkan Baekhyun, tubuhnya, kulit lembutnya saat kusentuh.
"Siaaaal ! Hormon sialan !" makiku, aku bergegas lari ke kamar Baekhyun dan melihatnya tertidur, Baekhyun mengenakan kaos over size yang membuat bahu mulusnya terlihat menggoda dengan pelan aku menghampiri Baekhyun, menahan semua gejolak yang berkecamuk di dalam dadaku. Aku duduk diujung ranjangnya perlahan, Baekhyun menggeliat membuat selimutnya tertarik ke samping dan memperlihatkan kakinya yang ramping, aku mencoba mengatur nafasku namun nampaknya sia-sia.
Baekhyun terbangun, dia mengusak matanya beberapa kali berusaha melihat sosok yang ada di hadapannya. Bahunya semakin terlihat ketika Baekhyun mencoba duduk diatas ranjangnya.
"Kakak, Kakak baik-baik saja ? Ada apa ?"
Ada yang berdenyut di bawah sana ketika suara Baekhyun terdengar begitu sexy ditelingaku, aku benar-benar sudah gila.
"Baek.. Baek.. apa kau ingat beberapa hari yang lalu kau meminta aku menolongmu kan ?" Baekhyun mengangguk pelan.
"Pertolongan apa yang kau maksud itu, hm?"
Baekhyun terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.
"Aku ingin.. uhm.. aku ingin kakak menyentuhku.." Ucap Baekhyun yang lalu menundukkan kepalanya.
"Tapi kakak menolakku mentah-mentah." ucapnya lirik, sekali lagi aku meringis mencoba menahan semuanya tapi hormon sialan itu terus menguasaiku hingga sisa kewarasanku yang terakhir.
"Baek, Baek ingin kakak menyentuh Baek seperti apa ?" Aku mulai memberanikan diri mendekati Baekhyun, Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya dan entah kenapa itu sungguh terlihat sangat imut.
"Dimana pemuda brengsek itu menyentuhmu Baek ?"Tanyaku lagi, Baekhyun menyentuh bibir bawahnya dan dengan sadar diri bibirku menyentuh bibir Baekhyun, aku tahu Baekhyun sedikit terkejut.
"Dimana lagi ?" Baekhyun menyentuh lehernya dan aku menempatkan bibirku kembali disana. Baekhyun mulai mendesah dan itu membuatku semakin menggila.
"Kau sekarang milikku Baek, hanya milikku" setelah itu yang terdengar hanyalah desahan dan keciprak keringat dari kulit yang bersentuhan.
"Rentangkan kakimu sayang, pejamkan matamu.. setelah ini, kupastikan tak akan ada lagi yang berani menyentuhmu kecuali aku." Baekhyun menurut, dia merentangkan kakinya yang indah. Hormonku semakin menuntut lebih dan lebih, Baekhyun berteriak sakiit saat aku mencoba 'memasuki'nya.
"Tahan sayang, ini tak akan lama. Ku pastikan kau menikmati setiap detiknya"
Sejak malam itu dan malam-malam selanjutnya hanya ada aku dan Baekhyun, Baekhyun tak melanjutkan sekolahnya, aku tak tahan lirikan laki-laki lain pada Baekhyun terlebih lagi melihat mereka menginginkan Baekhyun, sama seperti aku menginginkannya setiap malam. Semua orang menggunjingkan Baekhyun sebagai lelaki murahan dan setiap kali juga Baekhyun pulang dengan seragam yang kotor dan basah, hatiku sakit melihat itu semua. Lalu demi semuanya, demi Baekhyun dan demi dendamku pada orang-orang yang menghina Baekhyun, aku memulai jalan yang seharusnya tak pernah ku lalui.
Lamunanku terhenti seketika, Baekhyun mengerjap dan mengusak matanya.
"Kakak, aku jenuh. Bolehkah aku berjalan-jalan sebentar ?" Aku menoleh ke arah Baekhyun yang duduk disampingku dengan kaosanya yang kebesaran tanpa mengenakan bawahan apapun.
"Sayang, kalau kau bosan. Biar aku menemanimu ya ? Kau mau pergi kemana ?" Mata Baekhyun pun langsung berbinar cerah.
"Aku ingin naik Subway, bolehkah ?" Tanya Baekhyun dan aku pun menyanggupinya.
Baekhyun benar-benar terlihat seperti malaikat, rambutnya pirang keemasan dengan kulit putih bagai porselen cantik dan bibir mungil yang kemerahan. Langkahnya ringan ketika memasuki stasiun sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang. Banyak orang yang memperhatikan Baekhyun, pria maupun wanita. Tapi aku tak suka orang-orang itu melihat Baekhyun, Cih cara mereka melihatnya sungguh membuatku ingin menghajar mereka satu persatu. Baekhyun dengan mata polosnya membaca pamflet yang tertempel di dinding stasiun satu persatu, aku agak kasihan melihatnya karena aku tak pernah membiarkan Baekhyun keluar sendirian jadi Baekhyun tak punya teman. Benar-benar tak punya teman sama sekali, kecuali para pelayan dan sopir di rumah kami tentunya. Orang tuaku ? Ah tidak, jangan bicarakan mereka. Aku sendiri muak dengan mereka yang tiba-tiba ada dipintu rumahku meminta untuk tinggal bersama kami namun setelah kami tinggal bersama ketergantungan mereka untuk berjudi tak juga hilang, saat aku berhenti memberikan mereka uang maka mereka menjadikan Baekhyun untuk jadi taruhannya, saat mereka kalah mereka datang padaku menceritakan kebohongan kalau Baekhyun diculik. Demi Tuhan karena hanya Tuhan yang tahu bertapa amarahku memuncak karena hal itu. Aku hampir membunuh orangtuaku karena kegilaan mereka yang menjadikan Baekhyun sebagai barang taruhan, aku benar-benar menggila terlebih lagi ketika mengetahui apa yang dilakukan pemilik tempat judi itu pada Baekhyun. DIA MENYENTUH BAEKHYUNKU, MENYENTUHNYA DENGAN TANGANNYA YANG MENJIJIKAN.
Aku ingat saat itu..
Flashback beberapa bulan ke belakang.."Chanyeol, kami orang tuamu. Bagaimana kau bisa memperlakukan kami seperti ini hanya karena anak itu." Ucap ayahku setengah berteriak.
"Anak itu ? Anak itu adalah adikku ayah"
"Anak angkat, kau ingat ? Dulu orangtuanya hanya menitipkannya pada kita, kau ingat ?? lalu apa ? Mereka justru tak pernah kembali dan membebankan anak lemah itu pada kita .. "
Aku memijat sedikit pelipisku, seharusnya dulu aku tak menerima orangtuaku untuk tinggal bersama kami kalau sudah seperti ini aku.
Ketika tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan aku menerima email dan membuka link untuk live streaming. Disana, dilayar itu aku melihat Baekhyun ku, Baekhyunku yang cantik, dia menangis, tubuhnya hanya ditutup selimut pendek yang menutupi organ vitalnya. Mereka melelangnya, amarahku benar-benar memuncak.
"Jongin, cari tahu dari mana mereka melakukan siaran langsung .. aku butuh data itu dalam 15 menit, ah tidak 5 menit ! Lakukan sekarang atau ku buat cacat kakimu itu !!!" Jongin pun bergegas mencari tahu apa yang kuperintahkan padanya dan dalam 5 menit aku sudah menerima lokasinya.
"Ayah, Ibu aku benar-benar menghargai kalian sebagai orangtuaku tapi kegilaan kalian pada judi benar-benar membuatku muak !!" Aku bergegas berlari keluar dan mengendarai mobilku dengan cepat, Jongin dan beberapa anak buahku mengikuti dari belakang. Ketika aku sampai, tempat itu sudah ramai sekali dengan para lelaki hidung belang dan para kakek tua yang membuatku muak.
"Baikalah, tawaran selanjutnya untuk pemuda cantik ini.. tuan yang di ujung sana ?? Ya 2 juta dollar ada yang menawar lebih tinggi ? Lihat pemuda ini ??Apa kalian tidak tergiur dengan tubuh sintal ini.. "
Aku benar-benar tak tahan dibuatnya, mereka mengikat tangan Baekhyun dengan kencang, Baekhyun terus merengek minta dilepaskan tapi pria disampingnya itu tak memperdulikannya.
"5 juta !" teriak seorang pria separuh baya yang duduk didepan sana. Disambut dengan sosok lainnya yang menawar lebih tinggi."8 juta dollar !!""10 juta dollar .. " ucap seorang kakek tua tak tahu malu, Baekhyun bahkan sudah pantas menjadi cucunya."12 juta.. ""15 juta.." semua saling menyahut ketika nominal itu disebutkan tak ada yang berani lebih tinggi."25 juta, cash !!!" Dan semua mata melirik ke arahku. Pria diatas panggung itu tercekat.
"P_P_Park K_K_kau.."
"Taemin, kau berani menyentuh milikku !!" aku mengeraskan peganganku pada kerah baju Taemin. Kulihat Baekhyun dibawah sana, polos tanpa apapun, Taemin sudah membuka selimut yang menutupi organ vital Baekhyun saat tawaran sudah diatas 8 juta dollar.
Perlahan aku mengusap puncak rambut Baekhyun yang berkilauan ditempa lampu yang menyorotinya, dia mengangkat kepalanya namun nampak silau karena lampu itu menyorot langsung ke matanya.
"Sayang.." Ucapku lembut, aku hanya bisa menahan amarahku di depan Baekhyun. Aku tak mau memperlihatkan sisi lainku pada Baekhyun, hanya dia.
"K_K_ Kakak.." tangisan Baekhyun pun tumpah seketika sewaktu aku memeluknya di dadaku, bahunya bergetar hebat. Baekhyun benar-benar ketakutakan, Baekhyunku, Baekhyunku yang cantik.
"Jongin, tolong bereskan semuanya. Jangan ada satu pun yang tersisa, semua yang sudah melirik apa yang menjadi milikku harus dihabisi tapi seret Taemin bawa dia ke gudang. Aku akan berurusan dengannya nanti." Aku melihat ke arah Taemin, dia menundukkan kepalanya pasrah akan takdirnya, Taemin dulunya adalah temanku, teman kecilku sampai dia mengkhianatiku.
"Aku akan membuatmu membayar semuanya Taemin, setiap air mata Baekhyun yang jatuh karenamu, kau harus membayarnya !" Aku merangkul Baekhyun membawanya pergi menjauh, aku masih bisa mendengar teriakan-teriakan mereka dari dalam sana.
Aku masih bisa melihat bahu Baekhyun yang bergetar karena takut.
End of flashback
Sejak hari itu aku tak pernah membiarkan Baekhyun sendirian barang sedetikpun. Aku masih melihat sekeliling, mata-mata yang melirik Baekhyun, ingin sekali aku congkel mata mereka.
"Baekhyun ?? Apa benar kau Baaekhyun ??" Aku segera menoleh ke arah orang yang memanggil Baekhyun, pria jangkung dengan postur tegap itu mendekati Baekhyun dan dengan sigap aku berlari ke arahnya.
"Jangan sentuh dia" tanganku menarik tangan pria itu ketika dia hendak menyentuh bahu Baekhyun, hanya aku yang boleh menyentuhnya. Pria itu menoleh, matanya memincing ragu.
"Kau Chanyeol kan ??"
Pria di hadapannya ini mengenalnya tapi siapa dia ??
.
.
.
.
Entahlah lagi pengen buat cerita macem begini, sedikit terlintas aja gara-gara nonton film gangster semalam. Hahaha.
kira-kira siapa yah itu.. hahaha gw jg bingung, maunya siapa ??.
