Aku terus mencoba mengingatnya tetapi nihil, siapa pria ini ?? Kenapa dia kenal Baekhyun ?
"Baek, heyy apa kabar ? Kau tak ingat aku ?? Aku Luhan, kau ingat ? Aku terapis mu dulu."
Aaaah, iya. Laki-laki itu, aku ingat. Pegawai rumah sakit yang membantu Baekhyun dulu, Iya laki-laki ini mungkin usianya lebih tua dariku tapi wajahnya tak menampakkan kalau dia berusia lebih dari 30 an, dulu dia yang membantuku. Saat orangtuanya pergi, Baekhyun tak mau berbicara sepatah katapun. Bertahun-tahun lamanya Baekhyun tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, akhirnya orangtuaku membawa Baekhyun menemui psikiater lalu menyarankan agar Baekhyun menjalani terapi. Lalu, disanalah dia. LAKI-LAKI YANG SEDANG MENYENTUH BAEKHYUN KU.
"Hentikan, maaf. Aku tak merasa nyaman melihatmu menyentuh adikku" Baekhyun mengerlingkan matanya padaku dan Luhan hanya tersenyum kaku.
"Maaf, maaf." Luhan segera melepaskan tangannya dari bahu Baekhyun.
"Apa kalian baik-baik saja ? Aku dengar kalian pindah rumah, apa orangtua kalian juga baik-baik saja ?" Mendengar kata orangtua rasanya kepalaku terasa sakit, aku mengusap pelan jurai rambutku.
"Mereka.. baik. Terima kasih sudah menanyakan hal itu, kami pergi dulu." Aku menggeser posisi Baekhyun agar masuk ke dalam kereta yang sudah berhenti dan membuka pintunya.
"Ah, iya. Hati-hati, sampaikan salamku untuk orangtua kalian." Luhan melambaikan tangannya lalu menghilang dalam keramaian, Baekhyun tampak senang sekali. Dia menatap keluar jendela, nampak kekaguman dari binar matanya, aku membiarkan Baekhyun duduk. Karena sedang sepi, aku tak perlu khawatir soal laki-laki ataupun wanita yang akan duduk di samping Baekhyun, sudah pasti aku akan mengenyahkan mereka dari sisi Baekhyunku.
Subway agak berguncang, aku melihat Baekhyun sedikit menguap tapi mata indahnya selalu terlihat cemerlang.
"Kau mengantuk sayang ?" tanyaku, Baekhyun tersenyum manis, aaaah sumpah, senyum itu bisa meluluh lantakan kebosananku dalam sekejap.
"Hanya sedikit," Baekhyun mengukur dengan ibu jari dan telunjuknya yang dia renggangkan sedikit. Aku mengusak puncak rambut Baekhyun.
Ketika kami sampai di stasiun tujuan kami, Baekhyun bersenandung riang. Aku suka melihatnya bernyanyi, suara Baekhyun seperti alunan melodi yang mampu membius siapa saja.
"Kakak, aku lapar. Bisakah kita pergi ke kafe di ujung sana?"
"Baiklah Baek," Aku mengikuti langkah kecil Baekhyun, rambutnya berombak terkena tiupan angin, kulitnya seperti bercahaya ketika matahari mengenai kulitnya, dia 'indah'.
Apa ini lebih dari sekedar 'brother_complex' ? Kami, uhm maksudku ya kami sudah melakukan 'itu' berkali-kali karena aku sungguh tak bisa menahan semua hasrat saat melihatnya berkeliaran di depanku dengan kaos over sizenya. Pertahananku hancur hanya dengan melihat itu, Oh astaga Sehun bilang kalau aku jatuh cinta, tapi bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada Baekhyun, dia adikku, well ya meski kami sudah sering melakukan itu berkali-kali tapi bukankah Baekhyun juga memintanya. Entahlah, aku juga tak mengerti.
Baekhyun sudah memesan beberapa makanan dan strawberry smoothies kesukaannya, dia nampak senang dengan semua makanan itu.
Krinciiing..
Bunyi gemerincing bel kafe membuatku menoleh ke arah pintu, aku seperti mengenal wanita itu. Wanita berambut coklat terang itu tersenyum ketika mata kami beradu pandang dan dengan percaya diri dia menghampiri kami.
"Hallo Chan sayang, sudah lama tidak bertemu," suara itu membuat Baekhyun menoleh dan baru kali ini dia memperlihatkan rasa tidak sukanya pada seseorang. Biasanya dia terlihat ketakutan ketika melihat orang yang baru dilihatnya tapi kali ini, matanya terus bergerak nampak tak suka.
"Amanda." Amanda langsung duduk di atas pangkuanku dengan tidak tahu malunya, aku tahu Baekhyun tidak suka karena dia baru saja memalingkan pandangannya ke arah lain dan tak ada senyum yang dia perlihatkan seperti sebelumnya.
"Channie, sayang. Kau tidak merindukanku ?? hm ? Apa ini adik yang sering kau ceritakan itu ?," Baekhyun tersentak, matanya membulat kaget. Dan ya, aku selalu menceritakan soal Baekhyun pada orang yang ku anggap dekat denganku dan Amanda adalah salah satunya. Dia model asing yang dikontrak perusahaanku.
"Turunlah Amanda, kau membuat Baekhyun tidak nyaman." Aku menggeser tubuh Amanda hingga nyaris tersungkur dan aku lihat, Amanda tidak menyukai hal itu. Akhirnya Amanda memilih tempat duduk di samping Baekhyun dan Baekhyun kelihatan tidak nyaman.
"Anak kecil, apa kau sungguh laki-laki ? Wajahmu lebih terlihat seperti boneka perempuan ketimbang laki-laki," Amanda menyentuh dagu Baekhyun dan aku tak suka itu.
"Turunkan tanganmu Amanda, aku tak suka orang lain menyentuh adikku !!" tegasku
"Kenapa ?? Kau masih tak suka jika orang-orang menyentuh 'milikmu' ?"
"Makan saja makananmu dan pergi !" usirku.
"Hey, pesananku belum datang dan kau tak bisa seenaknya mengusirku, ini bukan kafe mu." Amanda terkekeh, aku mengeluarkan ponselku dan segera menghubungi Sehun. Sehun adalah pengacaraku sekaligus sahabatku, satu-satunya sahabatku. Dulu aku punya 3 teman, keduanya mengkhianatiku dan keduanya pula berakhir ditanganku.
Aku mendengar suara Sehun dari seberang sana.
(Ada apa Chanyeol ?)
"Sehunnie, kau tahu Kafe 'fairytale' di dekat stasiun district 5 ?"
(Kenapa memangnya ?)
"Kau banyak sekali bertanya Oh Sehun, beli kafe itu sekarang juga tak peduli berapa, pokoknya beli saja kafe sialan itu !!" Aku langsung memutus sambungan teleponnya.
Baekhyun menoleh ke arahku ketika aku mengucapkan kata-kata kasar.
"Maaf, aku hanya terbawa emosi." Aku mencoba tersenyum namun ternyata Amanda yang menjawab.
"Tak apa Channie sayang, aku sudah sangat sering mendengar kata-kata itu dari mulutmu,"
Tak lama kemudian aku menerima pesan singkat dari Sehun.
From : Oh Sehun
Kafe nya sudah di beli atas nama mu, apa-apaan kau ini ? Untuk apa membeli kafe kecil seperti itu, pro_
Aku segera memasukkan ponselku ke dalam kantung celana tak membaca keseluruhan pesan yang dikirimkan oleh Sehun.
"Tutup mulutmu dan pergi dari sini, kafe ini milikku sekarang dan aku mengusirmu, hush hush.. pergi sana, tak perlu kan aku menabur garam untuk mengusirmu ?" Amanda kelihatan marah, wajahnya benar-benar kelihatan marah ketika dia beranjak pergi dari sisi Baekhyun.
Amanda Green adalah salah satu dari sekian banyak model yang ku kencani satu tahun belakangan ini, Amanda satu-satunya wanita yang bertahan lebih dari satu minggu di sisiku. Baekhyun tentu saja tidak mengetahuinya karena aku tak pernah membawa wanita-wanita seperti itu ke dalam rumahku, mungkin karena itu Baekhyun terkejut karena ini pertama kalinya dia melihat seorang wanita menghampiriku selain para pelayan dan karyawan kantor.
"Sepertinya kakak mengenalnya dengan sangat baik ?" Baekhyun berkata ketus dan aku memakluminya.
"Ayolah sayang, jangan pedulikan dia. Kau tetap adikku yang paling ku sayang, hanya kau, ya??" Aku mencoba membuatnya tenang namun nampaknya ada yang salah dengan kata-kataku.
"Adik ??" Tanyanya, Ya memang adik kan? Memangnya apa yang harus ku jawab ?. Baekhyun berdecih dan memalingkan mukanya dariku, aku tak pernah melihat Baekhyun seperti itu.
"Aku ingin pulang, aku lelah." Ucapnya sambil berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.
Aku bisa melihat wajah Baekhyun berubah muram sepanjang perjalanan pulang, wajahnya tak seceria biasanya bahkan tak ada senyum yang tersungging di wajah manisnya.
Pak Songman menjemput kami di stasiun tapi Baekhyun tetap tak berbicara sepatah katapun, dia hanya menatap keluar jendela bahkan saat kepalanya terantuk kaca mobil dia hanya menggeser posisi duduknya tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.
Begitu sampai di rumah, Baekhyun bergegas pergi ke kamarnya dan bahkan tidak keluar untuk makan malam, aku tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi.
"Baek, buka pintunya sayang. Baek, ayolah sayang, kau harus makan." pintaku sedikit mengiba dan tak ada jawaban dari dalam, akhirnya aku hanya menyuruh pelayan meletakan makan malam Baekhyun di depan pintu kamarnya. Setidaknya jika dia lapar dia bisa memakan semua itu. Aku melangkah pelan menuju kamarku, entah apa yang terjadi pada sikap Baekhyun sejak kami bertemu Amanda tadi siang.
Aku sedang mencoba bersantai tapi dering ponselku membuatku tak nyaman, Jongin menghubungiku dari nomor kantor.
"Ya, Ada apa ?"
(Maaf mengganggu, tapi nona Green mengamuk di kantor dan meminta anda menemuinya Tuan.)
Ah benar-benar, wanita itu. Tak cukupkah keributan yang dia lakukan sebelumnya, wanita itu memang pembuat kekacauan.
"Apa maunya ?"
(Dia tidak mengatakan apapun Tuan, dia hanya ingin menemui anda )
Aku mematikan ponselku dan melemparnya ke arah pintu, ada apa dengan hariku belakangan ini. Aku mengambil mantel di atas sofa dekat tempat tidurku dan segera pergi sewaktu melewati kamar Baekhyun, dia sama sekali belum menyentuh makan malamnya.
"Baek, aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus aku bereskan, aku mohon Baek, makanlah sesuatu.." aku menghela nafas, aku tahu Baekhyun mendengar suaraku.
-Baekhyun POV-
Aku bisa mendengar suara langkah kakakku menjauh dari pintu, aku tak mengerti. Urusan apa yang harus dia lakukan malam-malam dan semua kegilaan ini dimulai saat aku berusia 12 tahun yang tiba-tiba saja kakakku membawaku ke rumah besar ini, katanya ini hadiah dari atasannya. Aku tak percaya jika orang lain yang mengatakannya tapi karena kakakku, maka aku percaya begitu saja. Kakak bahkan membeli apartemen tak jauh dari tempatnya bekerja, kakak memang bekerja sebagai akuntan perusahaan besar, dia melanjutkan kuliahnya sembari bekerja. Aku tahu mungkin baginya aku ini hanya beban, dulu selepas sekolah kakak kerja serabutan dimana saja dan menyekolahkan aku di sekolah khusus laki-laki namun ketika Stephen Kim mulai menyentuhku aku mulai merasakan hal yang aneh. Awalnya dia menyentuhku dengan lembut namun lama kelamaan dia mulai bersikap kasar dan saat itulah kakak menemukan kami berdua di dalam Janitor dan satu bulan kemudian kakak tak memperbolehkan aku masuk sekolah lagi. Kakak justru membawa guru private untukku sehingga membuatnya harus membayar dua kali lipat untuk guru private setelah itu aku baru mengetahui kalau kakak sudah bekerja di satu perusahaan ternama sebagai akuntan namun entah bagaimana tiba-tiba saja kakak mewarisi seluruh kekayaan pemilik perusahaan tersebut dan membuatnya menjadi orang terkaya di negaraku.
Aku tak tahu harus bagaimana saat siang tadi aku melihat wanita itu, Amanda. Bukan pertama kalinya aku melihat Amanda, dulu saat Sehun membawaku untuk menemui Kakak di kantornya, aku pernah melihatnya keluar dari kantor kakak dan keesokannya ketika aku masuk ruangan kakak aku bisa mendengar suara dari bilik tersembunyi di kantor kakak, aku tak berani mendekat dan keluar dari sana lalu tak lama kemudian wanita itu, Amanda keluar dengan rambut yang agak berantakan.
Aku tak tahu apa yang aku rasakan tapi saat aku melihat kakakku dengan senyumannya dan merentangkan tangannya untuk memelukku, wangi parfume wanita menyeruak menusuk indera penciumanku dan aku yakin itu parfume wanita itu.
Aku suka saat kakak menyentuhku, membuatku berteriak sepanjang malam dan berakhir dengan tangan kekarnya menjadi alas tidurku tapi jika dia bersama para wanita itu ada rasa tidak suka yang berkecamuk di dalam dadaku.
Aku tak suka para wanita itu mendekati kakakku.
Aku membuka pintu kamarku dan dibawah sana ada nampan berisi makanan, kakakku menyuruh pelayan meletakkannya disini. Meski aku lapar tapi aku tak ada selera untuk makan dan aku kembali masuk ke dalam kamar dan meringkuk diatas kasur, entah kenapa rasanya ada rasa sakit yang menjalar di seluruh hatiku. Aku memang hanya adiknya kan ? Tidak lebih dari itu, dia memang menyentuhku, menciumku, memanggilku sayang tapi aku hanya adik baginya tidak lebih. Hanya seorang adik.
Hatiku semakin sakit memikirkannya, bulir airmata mulai jatuh di pipiku. Apakah ini yang di namakan, PATAH HATI ??.
.
.
.
.
.
.
.
Heyyyyy gudmorning, pagi-pagi udeh hujan aja disini. Kecepetan updetnya ya ? Gpplah ya, lagi terinspirasi nih hahahaha entah nyambung atau gak yaaa podo wae lah. RnR ?? hahaha thanks readers.
