"I_iya," Jawab Baekhyun, pemuda di hadapannya tertawa kecil.
"Hai, Perkenalkan aku.. Lai Guanlin," Senyumnya semanis madu, Baekhyun jadi salah tingkah dibuatnya.
"Aku, Byun Baekhyun. Aku murid baru disini."
"Aaah, kita satu kelas kan ? Kelas khusus, entah kenapa mereka membuat kelas khusus seperti itu." Guanlin mengangkat bahunya, Baekhyun hanya terkekeh pelan.
"Kau tahu kita satu kelas ?" Tanya Baekhyun.
"Ya, tentu saja. Tadi para guru wanita membicarakanmu, bukannya hendak menguping tapi well, kakakmu nampaknya terkenal di kalangan para wanita," mendengar perkataan Guanlin, wajah Baekhyun langsung berubah masam.
"Apa yang kau cari ??" Tanya Guanlin lagi.
"Ruang Kepala Sekolah," Jawab Baekhyun sambil melihat ke atas potongan kertas yang ditulis Sehun dengan rapih.
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu. Ayo, ikut aku." Guanlin berjalan bersama Baekhyun menyusuri lorong sekolah, karena belum bel masuk beberapa orang siswa mencuri pandang pada mereka. Kebanyakan berbisik-bisik, ada yang terkagum-kagum dan ada pula yang melihat mereka dengan tatapan yang aneh.
Guanlin benar-benar tinggi, Baekhyun bahkan perlu menengadahkan kepalanya untuk melihat Guanlin. Untuk ukuran remaja 17 tahun Guanlin terlihat lebih besar dari ukuran anak sebayanya, Baekhyun contohnya.
"Baiklah, ini ruang kepala sekolah. Aku tak bisa mengantarmu sampai ke dalam, aku harus mengganti seragamku." Baekhyun mengangguk pelan.
"Iya, terimakasih atas bantuannya."
Baekhyun menghela nafas pendek dan memutar gagang pintu dengan perlahan tapi saat dia membuka pintu ternyata ada orang lain yang juga membuka pintu dari sisi lain, sehingga membuat Baekhyun terantuk pintu.
"Aduh !!" Baekhyun spontan mengusap dahinya.
"Aah, maaf, maaf.. Kau tak apa-apa ?" Tanya pemuda itu, jemarinya yang panjang secara reflek mengusap dahi Baekhyun. Jika Chanyeol mengetahui hal ini, entah akan sebrisik apa dia nanti.
"Aku tak apa-apa, hanya sedikit terbentur."
"Apa perlu aku bawa ke ruang UKS ?" Baekhyun masih terus mengusap dahinya.
"Tak apa, sungguh." Baekhyun pun mengangkat kepalanya, pemuda itu tersenyum simpul. Demi apapun, senyum itu adalah senyuman manis yang pernah dia lihat selain senyum Guanlin tadi tentunya tapi entah mengapa dia sedikit merasa bersalah karena menyukai senyum orang lain selain senyum milik Chanyeol.
"Benarkah ? Maaf, aku tak tahu kalau kau ada di balik pintu. Kau ingin bertemu kepala sekolah ?" Baekhyun mengangguk pelan.
"Baiklah, beliau ada di dalam. Aku pergi dulu, aku harus cepat-cepat. Sekali lagi maafkan aku, ya ??." Ucapnya tulus. Baekhyun mengangguk lagi lalu tiba-tiba pemuda itu menyodorkan tangannya.
"Aku, Grey Everlight. Siapa namamu ?" Senyumnya selalu mengembang, wajahnya sedingin es tapi dia bisa tersenyum seramah itu pada Baekhyun.
"Baekhyun, Byun Baekhyun."
"Ok, Baekhyun. Sampai Jumpa nanti, prince..ss," Grey tersenyum jahil, sambil mengusap jurai rambut Baekhyun. Grey pemuda yang hangat, meski wajahnya terlihat dingin tapi pribadinya sungguh menyenangkan.
Aku punya teman-teman kelas yang menyenangkan..
Kepala sekolah menjelaskan beberapa peraturan yang harus di taati, sekolah ini memiliki asrama tetapi tidak semua murid tinggal di asrama, hanya beberapa murid dari luar negeri yang tinggal di sana dan juga beberapa diantaranya merupakan murid beasiswa yang memang di wajibkan untuk tinggal di asrama. Baekhyun tidak di wajibkan untuk tinggal di asrama karena dia tinggal di area yang sama dengan area sekolah.
"Baiklah, apa semuanya sudah jelas ?" Tanya Kepala Sekolah Jang pada Baekhyun.
"Iya, terimakasih."
"Aku akan mengantarmu ke kelas, mari..." Kepala Sekolah Jung mempersilahkan Baekhyun untuk berjalan terlebih dahulu, Kepala Sekolah Jung adalah seorang wanita dan entah mengapa Baekhyun merasa ini akan terasa sangat sulit jika Chanyeol ikut turun tangan soal sekolahnya.
Ruang kelas Baekhyun lebih besar dari kelas kebanyakan dengan jendela yang besar dan pintu yang besar, tirai klasik menghiasi kanan dan kiri jendela besar itu. Rak-rak buku dipojok ruangan nampak tertata rapih, lebih mirip ruang kerja ketimbang kelas dan satu hal yang mencolok. Di kelas ini disediakan mini bar khusus dengan pelayan dan makanan kecil yang tersedia.
Ah, yang benar saja.
"Disana tempat dudukmu, duduklah. Kau bisa menaruh tas mu di dalam lemari di pojok sana, Teman-teman sekelasmu akan segera datang, kau bisa berbicara dengan guru pembimbing jika kau membutuhkan sesuatu." Baekhyun mengangguk pelan dan ?melangkah menuju lemari khusus di pojok ruangan lalu meletakkan tasnya di dalam sana.
Kelas akan segera di mulai, satu per satu teman sekelas Baekhyun berdatangan.
"Hai, aku Kyungso. Kau Baekhyun kan ? Tuan Sehun menghubungi ku semalam, katanya kita akan berada di kelas yang sama, kalau ada apa-apa kau bisa meminta bantuanku, ya?." Ucap si pemuda berkacamata minus tersebut.
"I_iya, terimakasih"
"Ah tak perlu begitu, kakakmu banyak membantu keluarga kami. Seharusnya aku yang mengucapkan terimakasih." Orang berikutnya adalah Kim Minseok, dia tak banyak berkata-kata hanya tersenyum simpul lalu duduk di kursinya, dia melambaikan tangan pada seseorang disana.
"Itu Minseok dan yang diluar itu sepupunya, ambaikan saja dia, dia hanya pemuda yang menyebalkan,"
Baekhyun menundukkan kepalanya, mencoba membuka laci di bawah mejanya beberapa kali dia mencoba namun gagal.
"Apa laci ini di kunci ??" Tanya Baekhyun.
"Seharusnya tidak, nanti aku coba bicara dengan guru pembimbing kita." Baekhyun tersenyum simpul mendengar kata-kata Kyungso.
"Jangan tersenyum seperti itu, nanti orang-orang bisa salah sangka," Baekhyun melirik dari ujung matanya, Guanlin duduk di kursi paling ujung.
"Kenapa salah sangka ?," tanya Baekhyun polos.
"Kyungso itu punya kekasih, katanya kekasihnya itu menyeramkan. Aku tak akan berani macam-macam jika jadi kau.." Baekhyun menghela nafas lagi.
Kau belum tahu kakakku.
"Princess, kita berjumpa lagi." Suara itu segera menyadarkan Baekhyun, Grey Everlight tepat berdiri di hadapannya dengan warna mata Hazel yang langsung menatap ke arahnya. Mata itu luar biasa indahnya, mungkin dia punya budi baik di masa lalu sehingga Tuhan menghadiahkannya mata seindah itu. Grey duduk tepat di sebelah Baekhyun, Guanlin melirik sekilas ke arah mereka berdua dan hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Ini akan jadi cerita menarik..
Chanyeol sedang mendengarkan penjelasan Bagian Keuangan tentang peningkatan keuntungan perusahaan per kwartal satu di tahun ini, ketika Sehun datang dan mengatakan kalau dia sudah mengantarkan Baekhyun ke sekolahnya.
"Saham perusahaan kita, meningkat 0,6% dari sebelumnya. Penjualan dari departemen yang di pimpin Tuan Jun meningkat pesat, beberapa departemen lainnya yang juga turut andil adalah dari bagian makanan cepat saji dan kosmetik. Departemen Farmasi, anjlok 0,2% tapi sisanya bisa menutupi kekurangan tersebut namun_.._K.."
Kepala Departemen Keuangan langsung menghentikan laporannya ketika melihat Chanyeol melemparkan pena nya ke arah Tuan Seo.
"Tuan Seo, ini kedua kalinya aku melihatmu seperti ini ? Kau bisa meninggalkan ruangan ini segera, kau tak pernah memperbaiki kinerjamu tapi kau tetap enggan mendengarkan laporan penurunan omset departemenmu !! Dan aku tidak m-e-n-y-u-k-a-i-n-y-a," Ujar Chanyeol sambil menggebrak meja.
"Tuan Park, bukankah anda sedikit berlebihan. Ini hanya soal persentase kecil, tidak akan mempengaruhi aset perusahaan." Seorang Pria berusia sekitar 50 tahunan menginterupsi Chanyeol saat sedang berbicara, Chanyeol mengerling tajam.
"Baiklah Tuan Shin, persentase kecil ya ? Kalau begitu kenapa tak pindahkan saja sahammu dari Industri Garment ke Farmasi, seperti katamu tadi, itu hanya persentase kecil ? Bagaimana, anda bersedia Tuan Shin ? Jika anda bersedia, aku tak akan mengusir Tuan Seo dari ruang rapat ini," Chanyeol bertumpu pada meja di depannya, Sehun yang duduk di sampingnya hanya melirik dengan ujung matanya ke arah Tuan Shin.
"A_aku tak bisa, L_lagi pula tak bisa begitu saja memindahkan saham ke departemen lain kan ??" Jawab Tuan Shin dengan terbata-bata.
"Jangan khawatir, katakan saja 'iya' dan pengacaraku akan mengurus sisanya ? Bagaimana ? Anda bersedia ?" Tawar Chanyeol, Tuan Shin mulai berkeringat dingin. Dia tak mau merugi begitu saja, keuntungannya di Industri garment meningkat beberapa persen dan jelas dia tak akan mau menanam saham di satu departemen yang terus-terusan anjlok seperti itu.
"Anda tak menjawab, artinya anda sendiri tak suka menanam modal di Industri yang tidak menguntungkan diri anda sendiri kan ?? Aku punya 65% saham disini dan aku tak suka dirugikan !! Rapat di bubarkan !! Dan anda Tuan Seo silahkan datang ke ruanganku, setelah makan siang." Chanyeol merapihkan jas yang di kenakannya lalu melangkah keluar, anggota rapat lainnya berbisik-bisik apa yang akan terjadi dengan Tuan Seo jika datang ke ruangan Chanyeol.
Chanyeol dengan bergegas masuk ke ruangannya di ikuti oleh Sehun dan Jongin.
"Berikan laporan dari Departemen Farmasi," Jongin memberikan amplop berwarna hijau berisikan beberapa dokumen hasil pengecekannya.
"Itu hasil akhir yang seharusnya, kita mendapatkan untung 10% dari keuntungan bulan lalu karena kita bekerja sama dengan Lai Pharmaceutical untuk beberapa obat tapi untuk distribusi ke rumah sakit justru terlihat menurun padahal dari data yang aku pelajari seharusnya meningkat." Jelas Jongin sambil menunjukkan statistik dari laporan yang diberikannya.
"Jadi, ada yang curang soal hasil akhirnya ? Itu tak mungkin Lai Pharmaceutical karena mereka hanya mensuplai beberapa obat keras saja. Kenapa hasil akhirnya jadi rancu, bukankah Tuan Seo punya seorang putra yang bekerja di bagian analisis kan ?" Tanya Chanyeol, Jongin mengangguk pelan.
"Iya, putra Tuan Seo baru menikah dengan putri kedua Jonathan Kim 3 bulan yang lalu." Jelas Jongin kemudian, Chanyeol mengeraskan tangannya.
"Bawa dia kemari ! Anak dan ayah itu sudah mulai mencurangiku !" Sehun hanya mendengus pelan.
"Baik, " Jongin pun pamit keluar ruangan.
"Kau sendiri mencuri dari orang tapi nampaknya kau tak nyaman bila orang lain mencuri darimu, heh Park Chanyeol." Sehun berusaha menyamankan posisi duduknya ketika Chanyeol mendekatinya.
"Tentu saja tidak, aku tak akan memberikan satu sen pun pada orang culas seperti itu."
"Ya, baiklah.. baiklah. Aku lapar, mungkin aku akan mengajak Irene makan siang. Ku harap Suho tak keberatan jika istrinya ku ajak makan siang,"
"Cari saja mangsa lain, jangan ganggu istri orang lain," Sehun terbahak kencang.
"Katakan itu pada Somi kalau kau bertemu dengannya !"
"OH SEHUUUUUN !!" Chanyeol melempar asbak yang ada di atas meja tapi Sehun lebih cepat menghindar.
"Hahaha, kau menggelikan Park Chanyeol." Somi adalah salah satu wanita yang pernah terlibat affair dengan Chanyeol, dia istri dari Michael Kim, putra tertua Jonathan Kim. Chanyeol hanya berusaha mendapatkan beberapa informasi dari Somi tentang perusahaan keluarga Kim, oleh karena itu Chanyeol mendekatinya tapi hubungan itu sudah cukup lama berakhir. Dia ingat bagaimana Somi datang mengiba kepadanya meminta kebebasannya pada Chanyeol karena Chanyeol mengetahui bahwa anak Somi yang selama ini di bangga-banggakan oleh Michael ternyata bukan merupakan anak kandungnya tapi anak seorang dokter pedesaan tempat tinggal Somi dulu. Somi harus menukar informasi itu dengan beberapa rahasia perusahaan Kim.
"Wanita menyedihkan," ucapnya pelan, Chanyeol duduk di kursinya. Membuka beberapa aplikasi chat dalam ponselnya, dia mencari nama Baekhyun.
To : Baby Baek
Bagaimana hari pertamamu di sekolah, apa menyenangkan ?
#send
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Baekhyun membalas pesannya.
From : Baby Baek
Ya biasa saja, tak ada yang istimewa.
Kenapa namamu norak sih ? The Handsome Chanyeol ?? Apa kau bercanda ?? Kau cukup percaya diri sekali ya.
Chanyeol terkekeh, dia memang yang menulis namanya seperti itu di kontak Baekhyun. Entahlah, itu hanya kelihatan manis untuknya tak akan ada yang percaya kalau orang seperti Chanyeol akan menulis namanya 'seberlebihan' itu di kontak Baekhyun.
To : Baby Baek
Ah, Baek. Kau tahu kan kalau aku ini tampan :D
Tolong jangan jatuhkan rasa percaya diriku ;(
Jadi, apa kau menemukan teman baru ? :(
Chanyeol mengharapkan jawaban tidak dari Baekhyun tapi Baekhyun tak menjawabnya, Chanyeol menunggu jawaban Baekhyun. Menunggu Baekhyun rasanya lebih menakutkan daripada saat dia berhadapan dengan perampok bersenjata. Chanyeol benar-benar gelisah.
Tak lama Jongin pun datang bersama putra Tuan Seo.
"T_Tuan Park, Tuan Kim bilang anda ingin menemuiku ?" Chanyeol membenarkan letak dasinya.
"Baiklah, kau karyawan baru yang di rekrut bagian keuangan kan ?"
Putra Tuan Seo tersebut mengangguk ragu,
"I_Iya.. aku baru 5 bulan bekerja di sini, Tuan Park."
"Bisa tolong kau jelaskan data-data ini ?? Di map hijau ini adalah data asli yang di simpan dalam data base ku dalam 6 bulan terakhir dan yang map merah ini adalah hasil akhir yang diberikan bagian keuangan kepadaku tapi kenapa hasilnya berbeda ?" Tatapan Chanyeol benar-benar mengintimidasi, Putra Tuan Seo sungguh tak berkutik dibuatnya.
Tak berapa lama, terdengar suara ponsel dan itu sama sekali bukan suara ponsel dari Jongin ataupun Chanyeol. Putra Tuan Seo menyentuh saku celananya.
"Angkat saja, tak perlu ragu." Tangan putra Tuan Seo tampak gemetaran.
"T_tidak usah Tuan Park, mungkin telepon tak penting.. A-Aku.. A_"
"Angkat !! Pastikan kau menyalakan Loudspeakernya" Bentak Chanyeol dengan segera lelaki muda itu mengangkat teleponnya dan terdengar sebuah teriakan dari seberang sana.
( Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya, aku menunggu di ruanganmu tapi teman kerjamu bilang kau dipanggil si brengsek itu !)
Putra Tuan Seo sedikit tersentak dengan suara teriakan itu.
"S_sayang, maaf jangan berteriak seperti itu. Aku sedang ada meeting."
(Apa ? Meeting ? Si brengsek itu yang menyuruhmu ? Berani sekali dia, akan ku adukan pada ayahku..)
Wanita di seberang sana terus berbicara dan dengan isyarat tangan, Chanyeol meminta Jongin untuk membawa istri Putra Tuan Seo itu ke ruangannya.
Chanyeol mencengkram tangan putra Tuan Seo dengan erat tak butuh waktu lama untuk Jongin membawa Istri Putra Tuan Seo ke ruangannya.
"Waw, Kau keliatan sehat Nyonya Muda Seo. Atau boleh ku panggil Sabrina, aaah Sabrina Kim." Ucap Chanyeol.
"Kenapa kau membawaku kesini ??" Tanya Sabrina.
"Aaah Sabrina tak ku sangka seleramu sepayah ini, Mungkinkah sepadan dengan apa yang kau dapatkan ?"
"T_tuan Park, istriku tak ada hubungannya dengan semua ini. Tolong lepaskan dia !"
"Melepaskan istrimu ?? Memangnya apa yang akan aku perbuat ?" tanya Chanyeol.
Sabrina Kim, sungguh kebetulan yang menakjubkan. Chanyeol ingat dulu pernah memohon pada Sabrina tentang foto Baekhyun, memintanya menghapus foto-foto tersebut dari sosial media tapi Sabrina justru malah memperbanyak dan menikmati caci maki orang lain pada Baekhyun beberapa tahun yang lalu.
"Kau sungguh tak tahu malu Park Chanyeol, tak ingatkah kau dulu memohon padaku ? Hm ?" ujar Sabrina tak tahu malu.
"Ah ya, tentu saja. Aku masih ingat semuanya, aku juga masih ingat kau menyuruh orang berbuat onar di tempat kerjaku kan ?? Well, aku ingin 'berterima kasih' padamu sekarang."
Ponsel Chanyeol berbunyi, itu pesan dari Baekhyun.
From : Baby Baek
Ya tentu saja, Kyungso mengajakku makan siang hari ini dan Grey memaksaku memakan makanannya, katanya makanan yang dia buat sangat enak. Ternyata benar, dia pandai memasak. Dia bahkan akan mengundang aku dan Kyungso serta Guanlin ke rumahnya dan_
Chanyeol tak membaca keseluruhan isi pesan yang dikirimkan oleh Baekhyun, mendengar kata-kata pujian yang dilontarkan oleh Baekhyun kepada Grey Everlight, membuat kepalanya mendidih.
"Baiklah, aku sedang bermurah hati pada suamimu. Kau di pecat, pergilah hari ini juga dan aku tak mau lagi melihat wajahmu bersliweran di perusahaanku,"
"Apa-apaan kau memecat suamiku seperti itu, dia tak melakukan apapun !" teriak Sabrina.
"Tak melakukan apapun ? Dia menggelapkan uang perusahaanku, semua akses data keuangan akan langsung terkoneksi padaku. Semua data yang berubah tentu saja aku pasti tahu, Suamimu berhutang 10 milliar pada perusahaan ini. Apa kau bisa membayarnya ? Hm ? Sudah untung aku tak memenjarakan suamimu kan ? Usir mereka, sekarang !!"
Chanyeol sedang tidak ada keinginan berdebat dengan siapapun, pikirannya buyar dengan beberapa kata dari pesan yang dikirim Baekhyun tadi.
Ah kenapa bisa begini ? Aku membiarkannya sekolah di sekolah umum agar dia mendapatkan teman kan ? Tapi haruskah seperti ini, siaaal.
"Tuan, apa anda akan membiarkan mereka lolos begitu saja ?" tanya Jongin.
"Tentu saja tidak, aku akan mengambil uang ku kembali beserta bunganya," Chanyeol menyeringai mengerikan.
"Jongin pastikan putra Tuan Seo, berkendara dengan 'aman'," ujar Chanyeol.
"Baik, Tuan Park."
Chanyeol duduk di kursinya sambil membaca beberapa draft ulasan mengenai hasil rapat tadi tapi tetap saja Chanyeol tak mampu berkonsentrasi, Grey Everlight, Lai Guanlin hanya nama-nama itu yang mengiang di kepala Chanyeol, mereka tak salah apa-apa. Mereka hanya anak-anak muda yang kebetulan di tempatkan di kelas yang sama dengan Baekhyun, kedua keluarga tersebut adalah keluarga tanpa cela. Mereka hidup dengan baik tanpa mempolitisir keadaan siapapun karena mereka memang terlahir kaya.
Chanyeol hendak pergi untuk makan siang ketika, seseorang datang kepadanya. Seorang Wanita dengan rambut hitam bergelombang dengan perlahan datang menghampirinya.
"Kau sudah datang ?" Wanita itu mengangguk sambil menatap Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
Oww oow siapa dia ?? Gak tau ini bakalan di buat berapa Chapter ya, bakalan dibuat gmn akhirnya juga masih bingung.. ada yang bisa kasih pendapat ?? Thank you..
