Cinta berawal dari Sempak.

Ino menatap apartemen baru nya dengan puas. Hanya butuh tiga jam baginya untuk membuka dan menata kardus-kardus yang berisikan barang-barang nya. Meski semua sudah rapi. Apartemennya masih terlihat kosong. Maklum, sebelum pindah ke tempat ini Ino hanya tinggal disebuah kamar munggil berukuran tiga kali tiga meter. Dia tak memiliki banyak barang.

Ino duduk di atas kasur futon nya. Dia perlu membeli beberapa furniture. Mungkin yang bekas saja karena memang budget nya tak banyak. Ino baru saja mendapat pekerjaan, bersyukur dia tak lama menggangur setelah lulus kuliah. Meski apartemen ini menguras lima puluh persen gaji nya, Ino tak peduli karena dia sudah muak tinggal di kamar sempit. Usai sudah masa-masa dia jadi mahasiswi miskin. Sekarang dia memang belum kaya, tapi mendingan lah.

Ino kemudian membuka pintu samping dan berdiri di teras. Kawasan sub urban tidak seramai dan semahal pusat kota. Di sini ia masih bisa melihat rumput dan pepohonan, mengingatkannya dengan rumah keluarga di kampung. Gedung yang dia tinggali tidak besar. Hanya memiliki dua puluh unit apartement, tapi dekat dengan stasiun dia hanya perlu berjalan sepuluh menit untuk menaiki kereta yang akan membawanya ke kantor. Di lantai bawah juga disediakan laundromart. Jadi dia tak perlu membeli mesin cuci.

Omong-omong soal cucian kotor, gadis itu menoleh ke belakang dan meringis melihat sebuah kardus masih tergeletak di tengah-tengah ruangan. Ino belum menata bajunya lantaran semuanya masih kotor dan harus di cuci. Gadis itu baru ingat satu-satu nya baju bersih yang dia punya hanya seragam kantor. Buru-buru dia membuka kardus dan meletakkan semua pakaiannya di keranjang. Ino menuruni tangga menuju ruang laundry.

Di sana dia tidak sendiri. Seorang pemuda berbadan tegap tampak membuka pintu mesin cuci.

"Halo. Apa sudah selesai?" tanya Ino.

"Iya sebentar lagi." Inuzuka Kiba membungkuk mengeluarkan cucian yang kini sudah bersih ke dalam keranjang. Dia paling tak suka mengerjakan hal-hal domestik seperti mencuci dan bersih-bersih. Dulu Ibunya yang mengerjakan semua itu, tapi sekarang dia tinggal di rantau sendirian. Mau tidak mau dia harus mengurus dirinya sendiri dan dia malas.

Kiba mengangkat keranjangnya dan berlalu begitu saja tanpa menyapa gadis pirang yang duduk di bangku. Dia sudah lama tinggal di apartement ini, tapi jarang bersosialisasi sehingga sama sekali tak mengenal tetangga nya dan dia juga bukan orang yang suka basa-basi.

Ino hendak memperkenalkan diri-nya, tapi tidak jadi gara-gara melihat muka sangar yang berhiaskan tatto di pipi. Apa orang itu preman? Dari penampilanya dan sorot matanya yang liar mungkin saja. Ino bergidik sendiri. Setelah pemuda itu keluar pintu. Ino baru bisa bernafas lega.

Gadis itu memasukkan baju kotornya lalu memutuskan untuk berjalan-jalan di sekeliling kompleks sambil menunggu proses pencucian selesai. Ino menemukan mini market, sebuah café dan taman yang berisikan arena bermain, bak pasir dan juga jogging track. Mungkin dia bisa berolah raga pagi-pagi sebelum bekerja.

Ino membereskan cuciannya, tanpa pikir panjang memasukkan semuanya kembali ke keranjang. Tugasnya sekarang melipat pakaian ini dan menyeterika setelah itu dia bebas.

"Eh apa ini?" Ino menarik secarik kain berwarna merah yang bukan miliknya.

"Ya ampun, Ini sempak siapa?" Teriak Ino jijik melemparkan celana dalam itu ke seberang ruangan. "Pasti punya si Tatto tadi ketinggalan. Haduh gimana ini masa aku harus nyuci ulang bajuku lagi."

Takut kuman macam apa yang hinggap di itu sempak, Ino kembali mencuci baju-bajunya. Sempak lucknut itu masih tergeletak di lantai. Berbekal sarung tangan Ino memasukkan artikel pakaian itu ke dalam plastik. Baru sang gadis menyadari kondisi si sempak sangat mengenaskan. Karet pinggang nya sudah molor dan juga penuh lubang. Menurut Ino sempak ini sudah memenuhi kriteria untuk menghuni tempat sampah.

"Harus aku apa kan kau sempak?" Ino berbicara dengan benda yang kini aman di dalam plastik. Dia ingin membuangnya saja, tapi nanti salah karena bukan miliknya. Ino akhirnya menyimpan sempak merah itu di tas, kalau dia berpapasan dengan pemuda itu akan dia kembalikan.

Beberapa hari kemudian Ino berpapasan lagi dengan pemuda bertatto itu di tangga, tapi Ino binggung bagaimana cara membuka pembicaraan dengannya. Apa lagi masalah sempak. Ia dan Ino sama-sama mau ke lantai dua. Ternyata pemuda itu penghuni kamar 207, kamar yang persis ada di sebelah kamarnya.

Kiba membuka kunci apartemen nya tapi mendadak dia merasa sedang di awasi. Kiba menoleh dan menemukan gadis cantik berambut pirang menatapnya dengan bimbang berdiri tak jauh dari tempatnya.

"Woi, Mengapa kau menatapku? Gak pernah lihat orang ganteng." Ujarnya sebal. Kiba tak suka ditatap orang karena kebanyakan mereka memandangnya dengan aneh dan menghakimi gara-gara tatto di wajahnya. Mereka mana mengerti makna dari tradisi tribal keluarga Inuzuka.

Ino kesal dibentak-bentak seperti itu. Tak hanya rupa nya kasar, peringai pemuda itu juga buruk. Orang ini lebih cocok tinggal di goa dibandingkan jadi penduduk kota. Sepertinya pemuda itu juga lupa berpapasan dengan nya. Dengan gusar Ino mengeluarkan plastik dari tas dan melemparkannya ke wajah Kiba.

"Ini sempakmu. Ketinggalan di mesin cuci, tsk.. Ganteng? Ngaca dulu lah. Beli sempak aja gak sanggup, cewe mana yang akan berminat."

"Jleb." Kiba merasa tertusuk. Ia memunguti dan mengeluarkan sempak merah yang tidak bisa dia buang meski sudah lower dan bolong karena ini adalah hadiah dari ibunya. Okeh semua pakaian dalamnya dibelikan oleh sang Ibu dia tak punya waktu untuk membeli hal-hal remeh seperti sempak.

'Argh…' Kiba mengeram dalam hati melihat gadis pirang itu membuka dan membanting pintu apartemen 205. Sepertinya Kiba baru saja membuat musuh baru.

.

.

Sakura meletakan cangkir teh dan kue di atas meja. Lalu bergabung dengan sahabatnya duduk di sofa. Kadang Ino agak iri dengan keberuntungan Sakura, lahir di keluarga kaya, ia ditunangkan dengan anak pengusaha begitu Sakura lulus sekolah dia langsung menikah dan rumah ini jelas dua puluh kali lipat lebih luas dari apartemen barunya.

Di pangkuan Ino seekor anjing kecil berbulu coklat bergelung manis. Nama nya Lulu dan tingkahnya seperti ratu karena Sakura sang majikan sangat memanjakan si anjing. Anjing itu mendengkur senang Ino mengelus telinga nya.

"Bagaimana dengan apartemen baru mu, Ino? Maaf kami tak bisa membantumu pindahan."

"Tak apa Sakura, barang-barangku sedikit tak masalah. Apartemennya sih enak tapi tetangganya tak enak."

"Memang kenapa?"

"Ada cowok menyebalkan di sebelah. Aku pikir di kawasan sub urban hanya dihuni keluarga kecil. Coba deh masa malam-malam aku mendengar musik rock keras-keras. Belum lagi bunyi desahan gak karuan yang menembus tembok."

"Owh, pastinya terganggu banget. Apa kau sudah memberitahu dia dan pacarnya agar tidak berisik."

"Tsk, Mana mungkin orang kaya begitu punya pacar. Sempaknya saja bolong-bolong. Aku sudah memarahinya, masa nonton film bokep suaranya di full-in. Gak bisa pakai headphone apa."

Sakura tertawa, "Apa yang kau lakukan sampai-sampai tahu sempak yang dipakainya. Jangan-jangan kau juga sudah sempat melihat burung-nya."

"Amit-amit deh, cowok macam gitu bukan tipe ku. Kebetulan cucian nya tertinggal saat aku mau mencuci karena aku baik sempak nya aku kembalikan. Eh dia malah menyebalkan."

"Kali aja dia ingin menarik perhatian mu."

"Gak kaya gitu juga, Bambank." Ino mendengus.

"Ino di tempatmu boleh bawa hewan peliharaan tidak?"

"Sepertinya boleh."

"Aku boleh minta tolong tidak? Jagain Lulu selama satu minggu saja. Aku dan Sasuke mau ke luar negeri."

"Tapi aku kan bekerja."

"Kau bisa membawanya ke tempat penitipan hewan kalau kau bekerja. Aku tak ingin Lulu berada di tempat itu seharian. Kau tahu kan Itachi anaknya alergi bulu anjing dan Ibu mertuaku tak suka anjing. Aku tak bisa menitipkan Lulu pada mereka. Tolong ya Ino, please.. Aku akan membayarmu."

"Ya sudah."

Begitulah ceritanya sehingga hari minggu ini Ino terlihat berlari di taman dekat rumahnya disertai seekor anjing cokelat yang tampak riang berlari-lari. Ino berhenti sejenak untuk minum dan mengambil rantai dari saku nya untuk di pasang lagi di leher Lulu. Anjing nya Sakura tak mau menurut dan mengikutinya repot kalau si Lulu hilang. Begitu Ino menutup botol minuman si anjing sudah hilang. Gadis pirang itu mengumpat. Harusnya dia tak melepaskan Lulu dari rantai.

"Lulu..lulu.." Ino berkeliling taman. Di semak-semak dia mendengarkan bunyi dengking-dengking kecil. Ino berjalan menuju ke sana. Tak di duga ia menemukan pemandagan seperti ini.

"Tidak…tidak.. Lulu apa yang kau lakukan?"

Seekor anjing putih yang ukurannya nyaris tiga kali ukuran si Lulu tampak sibuk mengagahi anjing betina itu. Ino meringis. Apa lulu kelihatan kesakitan atau ke enakkan? Sudah terlambat baginya mengahalau si jantan. Kalau sudah nempel begitu harus tunggu mereka lepas sendiri. Ino beranjak dari semak-semak tak berniat untuk menonton dog porn. Dari jauh dia mendengar suara seorang pemuda berteriak.

"Akamaru…Akamaru." Kiba mencari-cari anjing itu. Dia sudah tahu kalau musim kawin anjing-anjing pada suka menghilang.

Ino mendekati pemuda yang ternyata tetangga nya itu. "Hey, Kau harus bertanggung jawab."

"Tanggung jawab. Aku tanggung jawab apa? Aku tak pernah menyentuhmu. Kau delusi ya?" Kiba berjumpa lagi dengan gadis cerewet yang sedikit-sedikit komplain itu.

Ino menuntun Kiba ke arah semak-semak dimana dua anjing itu sibuk berkopulasi.

"Yang putih itu anjing mu kan? Dia sudah memperkosa anjing temanku."

Alis Kiba bertaut. Perasaan anjing kawin ya kawin saja. Mana ada istilah memperkosa. Hewan gak seribet manusia coy.

"Kalau sudah begini kita tak bisa apa-apa. Cuma bisa menunggu saja."

"Berapa lama?"

"Sepuluh atau lima belas menit. Harusnya kau tak membawa anjing yang lagi sange jalan-jalan. Kalau sudah disteril hal seperti ini tak akan terjadi."

"Mana aku tahu hal begituan. Ini anjing teman yang dititipkan padaku." Ino menatap Lulu dengan khawatir, dengan mata cokelat bulat besar anjing itu balas menatap Ino. Lidahnya menjulur keluar, tampak sakit dan lelah. "Anjingku tampak kesakitan. Anjingmu terlalu besar."

"Dia akan baik-baik saja, tapi masalahnya kalau anjingmu hamil. Badannya bisa jadi terlalu kecil untuk bayinya dan itu berbahaya."

"Sepertinya kau tahu banyak tentang anjing ya."

"Itu karena aku dokter hewan." Jelas Kiba.

Ino tampak terkejut.

"Kau pasti mengira aku preman kan?"

Ino langsung malu, pemuda ini pasti sudah sering menerima prasangka buruk akibat penampilan nya. "Habis nya sikap mu itu menyebalkan. Apa kau tak punya toleransi dikit dengan tidak memutar musik keras-keras. Aku bahkan sering mendengarkan mu menonton film bokep."

"Ah…Aku minta maaf. Kamarmu itu sudah kosong dari pertama aku pindah, jadi aku tak tahu suaranya kedengaran sampai di situ. Siapa namamu? " tanya Kiba.

"Ino, Yamanaka Ino."

"Aku Kiba Inuzuka, panggil saja aku Kiba."

Sambil menunggu anjing-anjing itu. Kiba dan Ino bercakap-cakap soal pekerjaan mereka dan apartemen yang mereka huni. Kiba sudah satu tahun tinggal di sana. Begitu terbebas Lulu langsung mencari Ino.

Si gadis pirang mengelus sang anjing dan memasangkan rantai. "Ayo kita pulang. Kau membuat masalah besar nona muda." Omel Ino pada Lulu yang tak mengerti apa-apa.

"Akamaru ayo kita kembali. Waktu jalan-jalanmu sudah habis."

"Kiba, aku tak pernah mendengar anjing menyalak di rumahmu."

"Aku bekerja di penampungan hewan. Kadang aku mengajak anjing-anjing berkeliling. Aku ingin mengadopsi nya, tapi sayang aku tak akan tega mengurung anjing di tempat yang sempit dan meninggalkannya untuk bekerja."

"Kau benar, Besok aku mulai bekerja dan Lulu akan aku bawa ke tempat penitipan."

"Biar aku saja yang menjaganya kalau kau mau. Aku bisa membawanya bersamaku ke tempat kerja."

"Hm.. aku belum bisa mempercayaimu."

"Terserah deh. Aku hanya ingin membantu."

"Kiba, karena kita juga tetangga. Bagaimana kalau kita berteman?" Ino mengulurkan tangan menghapus prasangka buruk nya pada si tetangga.

"Kau harus tahu aku bukan orang yang ramah." Jelas Kiba.

" Tampangmu kelihatan jahat, Tapi kau orang baik kan?"

"Mungkin." Kiba nyengir kuda.

"Pokoknya aku akan merepotkanmu, Tetangga."

Sejak hari itu Kiba dam Ino sering bercakap-cakap. Ino juga suka meminta bantuan tetangganya. Mulai dari menyuruh Kiba mengganti lampu, memperbaiki keran bocor. Mengangkat galon. Sang dokter hewan tak pernah menolak. Hari ini mereka berdua sedang membuat bbq di tempat Ino setelah gadis itu mengembalikan Lulu dengan selamat pada Sakura.

"Syukur Lulu tak hamil, tapi malah tuannya yang hamil."

"Dari mana semua daging-daging ini?"

"Dari Sakura, si pemilik Lulu. Terima kasih kau sudah menjaganya." Awalnya Sakura bilang hanya pergi satu minggu ujung-ujungnya jadi sebulan. Keasyikan bikin anak dia sama Sasuke.

"Tunggu, kau mendapatkan bayaran untuk menjaga anjing. Padahal aku yang sering menjaganya. Mana bagian ku?" tanya Kiba menyodorkan tangan nya.

"Ini kan sudah aku traktir, Kok minta bayaran."

"Kau untung besar ya dengan memanfaatkan aku."

"Empati sedikit dong, Aku kan miskin. Aku punya hadiah lain untukmu." Ino menyodorkan sebuah kantong kertas. "Buka saja."

"Apa ini lelucon?" Kiba menemukan tiga biji sempak baru berwarna merah di dalam tas.

"Tak puas dengan hadiahmu? Aku berpikir kau benar-benar butuh."

"Cuma sempak mah. Mau bolong, robek, karetnya rusak gak bakal ada yang lihatin. Aku bukan superman yang pakai cawat di luar. "

"Karena sifatmu yang begitu kau jadi tak punya pacar, peduli dikit lah dengan penampilan. Sempak yang keselip waktu itu bener-bener tak layak pakai. Aku curiga semua sempak mu begitu."

"Ngapain juga kau peduli sama sempakku. Apa kau mau melihatku mencoba sempak ini?" Ujar Kiba sambil memamerkan kain berbentuk segitiga itu."

"Heh, Amit-amit Kiba. Aku gak nafsu lihat badamu." Ino menuangkan bir untuk mereka berdua.

"Serius, apa kau pergi ke toko untuk mencari sempak?"

"Gak mungkin lah, Aku beli on-line. Omong-omong apa kau sebegitu miskinnya sampai beli celana dalam saja gak bisa. Bekerja di organisasi non-profit pasti duitnya gak banyak."

"Memang tak banyak, Tapi aku tak ingin menelatarkan yayasan yang sudah bekerja keras menyelamatkan hewan-hewan yang dibuang. Meski tak bekerja di klinik hewan, aku masih punya pelanggan yang mempercayakan hewan peliharaan mereka padaku."

"Maafkan aku, awalnya aku pikir kau cowok brengsek."

"Ha..ha..ha. Sudah biasa, Aku tak pernah berusaha meluruskan presepsi mereka. Hei, Ino. Kau tak punya pacar kan?"

"Kalau aku punya, kau pikir aku akan punya waktu untuk bakar-bakaran malam minggu begini dengan tetangga." Ino merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kosong.

Kiba ikut berbaring di sebelahnya. "Sudah berapa lama jomblo."

"Tiga tahun."

"Lama juga, padahal kau cantik."

Ino menoleh. "Kau merasa aku cantik? Mantan ku tak bilang begitu."

"Paling dia buta."

"Kiba, Kau Jomblo juga kan?"

"Aku tak pernah beruntung soal wanita."

"Aku punya ide. Mau jadi pacarku tidak?"

"Apa?" Kiba terlonjak dan duduk. Ia terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Kau tak mabuk kan?"

"Apa yang salah, Kau single aku single. Kau puji aku cantik dan sepertinya kau tertarik padaku. Aku tak buta Kiba. Cowok mana yang mau di suruh-suruh kalau gak ada niat apa-apa."

Kiba jadi malu. Dia memang tak sebaik itu dengan orang, tapi karena ini adalah Ino dia rela terus-menerus dimintai bantuan agar Ino melihatnya sebagai pria yang bisa diandalkan. "Oke, aku tak menyangkal aku tertarik."

"Kau mau jadi pacarku kan, Kiba?"

"Tentu saja."

Ino tertawa senang. "Kalau begitu minggu depan kita kondangan ke nikahan mantan ku."

"Apa kau mengajakku pacaran hanya untuk diajak kondangan saja?"

"Tentu tidak Kiba. Aku juga menyukaimu."

"Boleh aku cium?"

"Silakan." Ino memonyongkan bibirnya.

Kiba malah tertawa gemas. "Kau ini lucu sekali."

"Mau cium tidak, Nanti aku berubah pikiran."

Ino menanti ciuman beringas, eh dia malah mendapatkan ciuman lembut di pipi. "Gitu doang Kiba? Padahal kau sering menonton bokep."

"Loh, bukannya cewek suka pendekatan romantis."

"Ternyata kau polos, yah."

"Kau pacar pertama ku tahu!" ujar Kiba bersemu merah.

"Ya sudah, biar aku ajari cara berciuman yang baik dan benar." Kali ini Ino yang mencium Kiba dan pemuda itu benar-benar dibuat klepek-klepek.

Tamat..