Chanyeol dengan perlahan membantu Baekhyun menaiki tangga rumah dan meminta Silvia untuk membawakan susu hangat ke kamar Baekhyun.

"Istirahatlah dulu, ya ?? Ada yang harus aku kerjakan, jangan pikirkan hal lain ?? Tak ada yang bisa menyakitimu lagi," Chanyeol mengecup kening Baekhyun pelan tak lupa mengusak puncak kepalanya lalu melangkah pergi, Baekhyun segera berganti pakaian dan tak lama kemudian, Silvia datang dengan segelas susu hangat.

"Tuan Muda Byun, ini susu hangat anda." Ucap Silvia sambil mengetuk pintu kamar Baekhyun.

"Terima kasih Silvia, letakkan di atas meja saja, nanti aku minum."

"Nanti Dokter Suho akan datang untuk mengecek anda, itu yang dikatakan Tuan Park tadi," Baekhyun hanya tersenyum simpul setelahnya Silvia pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Chanyeol masih aja mengkhawatirkan Baekhyun, Baekhyun sudah merasa lebih baik setelah menangis dalam pelukan Chanyeol tadi. Rasanya begitu tenang dan Baekhyun sungguh merasa terlindungi jika Chanyeol ada di dekatnya tapi tiba-tiba rasa ngeri mulai menjalari pikirannya ketika dia mengingat bahwa Stephen kembali dan ada di hadapannya tadi, bahkan Stephen mengenal Grey. Baekhyun mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran negatifnya, Chanyeol mengatakan semua akan baik-baik saja, bukankah seharusnya Baekhyun mempercayai hal itu kan ?

Selama ini Chanyeol lah yang melindungi Baekhyun, meski terkadang Baekhyun dibuat risih karenanya tapi bukankah itu demi kebaikan dirinya juga ? Tapi tetap saja, tak ada yang spesial dari ini semua, Baekhyun hanya seorang adik yang butuh perlindungan. Hanya itu saja, tidak lebih.

Suho datang memeriksanya, sejak dulu hanya Suho yang tahu tentang keadaan Baekhyun. Suho tidak bekerja di rumah sakit besar, dia hanya seorang dokter dari pedesaan. Chanyeol menolongnya saat Suho datang mencari tunangannya yang tengah mengandung janinnya tapi tanpa disangka-sangka ternyata sang tunangan sudah menikah dengan pria kaya dan mengatakan kalau janin itu adalah milik si pria kaya tersebut, akhirnya Chanyeol mengenalkan Suho pada Irene putri Pak Songman, sopir pribadi Chanyeol sampai mereka menikah pun, Chanyeol yang mensponsori semua biayanya pernikahan mereka dan sejak itu Suho menjadi dokter pribadi untuk keluarga Chanyeol.

Baekhyun sedang beristirahat ketika dia mendengar keributan dari lantai bawah, segera dia pun turun. Setelah sampai di bawah ternyata orang tua Chanyeol yang membuat keributan tersebut, orang tua Chanyeol bertengkar dengan Kepala Pelayan Ho.

"Apa-apaan ini, ini rumah putraku. Kalian hanya pelayan di rumah ini, mau ku pecat hah ??!" Teriak Ayah Chanyeol.

"Mohon maaf Tuan tapi yang bisa memecatku hanya Tuan Park Chanyeol," ucap Kepala Pelayan Ho sopan.

"Ayah, Ibu. Ada apa ?" tanya Baekhyun.

"Heh Baek, kau masih disini ?? Bilang pada pelayan ini untuk menghormatiku ? Kami ini orang tua Chanyeol," Ucap Ibu Chanyeol, Baekhyun meminta Kepala Pelayan Ho untuk pergi.

"Baik, Tuan Muda Byun."

"Baiklah, Ayah dan Ibu ada apa ?" tanya Baekhyun pelan.

"Heh kau Baekhyun, harusnya kami berdua yang menikmati ini semua. Bukan hanya kau dan Chanyeol, kami hanya minta uangnya sedikit dan bukan salah kami menjadikanmu bahan taruhan kan ??" Kedua orang tua Chanyeol terus saja berbicara, Kepala Pelayan Ho yang khawatir pun segera menghubungi Chanyeol.

"I_iya, aku sudah memaafkan kalian."

"Maaf ?? Kenapa kami harus minta maaf, bukankah kau yang harusnya meminta maaf pada kami ? Kami ini orang tua Chanyeol, kami yang membesarkannya hingga seperti sekarang. Kau enak-enakan di rumah ini sedangkan kami, hanya di berikan rumah kecil di pinggir kota." Ibu Chanyeol sengaja menabrak bahu Baekhyun tapi karena Baekhyun masih merasa lemas, dia pun tersungkur.

"Kau masih saja lemah seperti dulu ya ? Pantas Chanyeol masih memeliharamu disini, kau tak bisa apa-apa tanpa putraku kan ?" ucap Nyonya Park, Ibu Chanyeol dengan sombongnya.

"M_m_memelihara ? T_tapi a_aku.." Baekhyun berusaha bangun tapi Nyonya Park menginjak telapak tangan Baekhyun dengan kakinya.

"Aaaaargh ??!" Baekhyun benar-benar nampak kesakitan.

"Uuppps, maaf tidak sengaja."

"I_iya tidak apa-apa, Ibu." ucap Baekhyun yang masih menahan sakit ditangannya yang memerah.

"Ibu ?? Aku bukan Ibumu dan kau tahu itu, masih saja memanggilku ibu ?? Kau bajingan kecil, kau pasti memantrai putraku kan.."

"A_aku t_tidak.."

Sementara itu di tempat lain, Chanyeol sedang bertemu dengan Sehun di sebuah kafe. Chanyeol meminta Sehun segera membeli semua saham yang di jual oleh keluarga Kim di pasar saham, tak peduli seberapa pun harganya.

"Beli saja, aku tak peduli harganya. Anak tengik itu sudah kembali ! Dan aku tak suka melihatnya berkeliaran di dekat Baekhyun apalagi dia berteman dengan Grey Everlight." Sehun menengguk kopinya dengan perlahan sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Akui saja Park, kau mencintainya."Ucap Sehun sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Cinta siapa ??" tanya Chanyeol pura-pura.

"Haiiiiiisssh, kau ini benar-benar ??!"

Ponsel Chanyeol pun berdering, itu telepon dari rumahnya.

"Ya, siapa ini ?"

(Tuan Park, Ayah dan Ibu anda disini)

"Ayah dan Ibuku ?" Chanyeol menatap ke arah Sehun, Sehun hanya menggedikkan bahunya.

(Iya Tuan, mereka sedang berbicara dengan Tuan Muda Byun)

"Baekhyun ? Tapi kenapa mere_" Chanyeol tak melanjutkan kata-katanya dengan jelas dia mendengar teriakan Baekhyun, dengan segera dia menutup sambungan teleponnya.

"Aku harus pulang ! Ada yang tak beres, tagihkan semuanya pada kartu kreditku." Ucap Chanyeol sambil beranjak pergi meninggalkan Sehun yang masih dengan santainya memegang cangkir kopi dan menyeruputnya dengan nikmat.

"Makanan gratis memang paling nikmat, pelayan ! Tagihkan pada Tuan Park Chanyeol." Chanyeol adalah pelanggan eksklusif di kafe tersebut, tak sembarangan orang pula bisa masuk ke dalam kafe itu.

Ada apa dengan hari-hari Chanyeol belakangan ini, selalu saja ada yang tidak beres dimulai dari Amanda lalu Sabrina Kim, Stephen Kim, semua selalu berkaitan dengan Keluarga Kim dan itu membuat Chanyeol semakin membenci keluarga tersebut.

"Siaaal ! Kenapa harus macet dalam keadaan seperti ini !" Kemacetan di depannya mengharuskan Chanyeol memilih jalan memutar agar bisa cepat sampai di rumahnya. Teriakan Baekhyun tadi benar-benar membuatnya khawatir, dia khawatir orang tuanya akan membawa Baekhyun lagi. Akhirnya Chanyeol menghubungi Jongin karena apartemen Jongin yang terdekat dari rumahnya.

"Jongin, tolong datang ke rumahku segera. Orang tuaku nampaknya datang ke rumah, aku tak suka mereka berada di dekat Baekhyun. Jangan sampai mereka menyakiti Baekhyun !"

(Baik, Tuan Park)

Chanyeol memutus hubungan teleponnya tapi tetap saja, Chanyeol merasa tidak tenang. Dengan posisi Baekhyun yang sendirian, orangtuanya bisa melakukan apa saja pada Baekhyun seperti terakhir kali mereka bertemu.

"Brengsekkk !!" Chanyeol memukul stir mobilnya.

Baekhyun sedang berteriak dari dalam gudang bawah tanah ketika Jongin sampai di rumah Chanyeol.

"Tuan Kim, maaf aku sudah mencoba menghentikan mereka tapi mereka menahan Silvia." ucap Kepala Pelayan Ho dengan wajah memar, tampaknya di pukul seseorang karena bibirnya tampak sobek. Jongin tak banyak berbicara, dia segera mencoba mendobrak pintu gudang bawah tanah. Baekhyun takut dengan tempat gelap, dia tak akan bisa bertahan lebih dari 5 menit dalam tempat seperti itu.

"Sudah berapa lama dia disana ?" Tanya Jongin ketika tak mendengar lagi suara teriakan Baekhyun.

"Kurang lebih setengah jam Tuan, dan Ayah Tuan Park pergi ke lantai 2." Jongin dengan sekuat tenaga mendobrak pintu gudang bawah tanah dan menemukan Baekhyun meringkuk disana sambil memeluk kedua kakinya.

"T_tidak jangan pukul lagi," Baekhyun mengangkat tangannya untuk menutupi kepalanya.

"Tenanglah, tidak akan ada yang memukulmu." Jongin segera mengangkat Baekhyun dibantu oleh Kepala Pelayan Ho. Entah dengan apa mereka memukul Baekhyun, tampak darah segar masih keluar dari dahi Baekhyun dan pelipisnya nampak terluka juga bibirnya yang terlihat sobekan kecil.

Entah seberapa besar Chanyeol akan marah nantinya.

Ayah Chanyeol sedang menuruni tangga ketika berpapasan dengan Jongin dan Kepala Pelayan Ho yang sedang memapah Baekhyun ke ruang tengah.

"Hey Kau ! Kau ingin mati hah ?? Siapa yang menyuruhmu mengeluarkan anak kecil itu ??" Jongin melirik ke arah Ayah Chanyeol.

"K_kau apa-apaan menatapku seperti itu ?"

"Tuan, sebaiknya anda pergi sebelum Tuan Park melihat anda disini. Aku masih menghargai anda sebagai Ayah dari Tuan Park."

"Enak saja kau memerintahku, Chanyeol yang seharusnya tunduk padaku. Aku ini ayahnya !"

teriak ayah Chanyeol.

"Tuan, aku hanya meminta anda. Anda tidak akan tahu seberapa marahnya Tuan Park saat ini." Ayah Chanyeol hanya berdecih mendengar penuturan Jongin.

"Minta ? Kalau meminta itu harus sungguh-sungguh." Ayah Chanyeol memang orang yang menyebalkan, selain gila judi dan gila harta sisanya tak ada sisi baik apapun selain pernah bekerja sama dengan Ibu Chanyeol untuk membuatnya 'tercipta' di muka bumi ini.

"Tuan Kim, kita harus membawa Tuan Muda Byun ke rumah sakit, darahnya tak berhenti Tuan, Ak_" belum Kepala Pelayan Ho menyelesaikan kata-katanya Chanyeol sudah bergegas berlari menghampiri Baekhyun yang berlumuran darah.

"Baek, Sayang..!!" Chanyeol memegang dahi Baekhyun, tangannya gemetar menahan amarah yang memuncak. Belum pernah Chanyeol merasakan amarah sebesar ini.

"Siapa yang melakukannya ?? Jawab !!!!" teriak Chanyeol.

"Mohon maaf Tuan Park, Ayah anda memukuli Tuan Muda dengan stik Golf." Chanyeol mengepalkan tangannya, dia mengeraskan kepalannya.

"Pak Ho, tolong bawa Baekhyun ke rumah sakit, SEKARAAAANG !!!"

"I_Iya Tuan..."

Chanyeol melangkah mendekati ayahnya dan melihat stik golf yang masih tersisa noda darah Baekhyun, tergeletak di dekat tangga

"Bukankah sudah ku katakan, jangan pernah menyentuh Baekhyun lagi ??!!!." Tegas Baekhyun pada Ayahnya.

"Benarkah ?? Mungkin aku lupa !" Jawab ayah Chanyeol tanpa sirat rasa bersalah. Awalnya Chanyeol hanya menarik kerah baju ayahnya namun ketika dia melawan, segera Chanyeol mengambil stik golf yang berada tak jauh darinya dan dengan segera menyerang ayahnya dengan stik tersebut.

"SUDAAAAAAH KUKATAKAN DENGAN JELAS, JANGAN PERNAH MENYENTUH BAEKHYUN !!! JANGAN PERNAH MENYENTUHNYAAAAA LAGI !!" Chanyeol langsung memukuli ayahnya dengan membabi buta, dia menangis sambil terus berteriak sampai Ibunya datang menghampiri.

"AKU MENYAYANGI KALIAN MESKI KALIAN DULU TERUS MEMUKULIKU, KALIAN INGAT HAH ?!!!" Ibu Chanyeol berusaha menghalangi Chanyeol.

"Kenapa kau diam saja ??! Kenapa tak melerai ?" tanya Ibu Chanyeol pada Jongin.

"Mohon maaf Nyonya, aku sudah memperingatkan Suami anda sebelumnya." jawab Jongin.

"Aku akan menelepon polisi," ancam Ibu Chanyeol. Namun, Jongin tetap diam tak bergeming.

"Chanyeol !! Dia ayahmu, hentikan !!" Mata Chanyeol berkilatan, penuh amarah.

"Ayah ?? Kalian tak pernah benar-benar menjadi orangtuaku !!! Saat Baekhyun datang ke rumah kita, hanya dia yang terus ada di sampingku selama kalian berjudi sepanjang waktu !! Jadi jangan sebut soal itu, Aku tak pernah meminta apapun pada kalian sepanjang hidupku tapi aku hanya meminta kalian jangan menyentuh Baekhyun lagi, tapi kalian tak bisa melakukan itu hah !!! Aku sudah memberikan apa yang kalian minta tapi itu tak akan per-nah cu-kup ba-gi k-a-l-i-a-n !!" Chanyeol terus memukuli ayahnya hingga tak bergerak dan beberapa kali Ibunya ikut terkena pukulan, setelah melihat ayahnya tak berdaya dia melempar stik golf itu ke tempat lain. Chanyeol memukuli ayahnya dengan brutal, Jongin hanya menatap dingin kejadian tersebut, meski Ibu Chanyeol terus menjerit meminta Chanyeol menghentikan itu semua.

"Bereskan !" ujar Chanyeol.

"Baik, Tuan, tapi Ibu anda sempat menghubungi polisi."

"Biarkan saja mereka datang," Ucap Chanyeol sambil menyeka keringat di wajahnya. Chanyeol benar-benar tampak mengerikan.

"C_chanyeol kau sudah gila !?" ujar Ibunya dengan terbata-bata.

"Kalian yang membentukku seperti ini dan kalian mengatakan aku gila ??!" Chanyeol terbahak melihat Ibunya bersimbah darah, darah dari ayahnya yang dia pukuli hingga tak berdaya.

"Dia masih hidup, bu ! Tenang saja, ini hanya peringatan kecil. Berhenti mengganggu Baekhyun, aku yang membawanya kemari dan terseret dalam kehidupanku ! Kalau salah satu dari kalian berani datang lagi, aku akan menganggap diriku yatim piatu.." tak lama Silvia datang menghampiri Chanyeol.

"T_tuan, ada polisi di depan."

"Suruh mereka masuk," dua orang polisi melangkah mendekati Chanyeol dan melihat ke sekeliling dan mata mereka menangkap posisi seorang laki-laki tertelungkup bersimbah darah.

"Ada apa ?!" tanya Chanyeol.

"Seseorang menghubungi kami, meminta kami datang. Tapi nampaknya hanya alarm palsu, tak terjadi apapun. Maaf mengganggu malam anda, Tuan Park." dengan segera kedua polisi tersebut pamit, Ibu Chanyeol tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Tidak terjadi apapun ? Apa kalian buta, suamiku sekarat !"

"Maaf Nyonya, mohon tidak membuat laporan palsu. Kami pamit, selamat malam Tuan Park. Tuan Kim." Para polisi tersebut segera undur diri.

"Ibu, aku masih menghargai kalian berdua tapi kau malah menyebutku, gila ?!" Chanyeol terbahak lagi.

"Aku hanya tak suka, orang lain menyentuh sesuatu yang jadi milikku, melirik atau bahkan melukainya ! Kalian menyentuh 'milik'ku."

"Apa maksudmu ??" tanya Ibu Chanyeol lagi.

"Baekhyun, jangan sentuh Baekhyun ku !!! Kalian bisa pergi dari rumahku sekarang dan jangan pernah berpikir untuk datang kembali kesini. Mengerti ?! Jongin bawa mereka pergi ! Dan anggap saja Ibu tak pernah punya seorang anak."

"Baik, Tuan."

"Ayahmu terluka Chanyeol !!" Chanyeol menghela nafas pendek.

"Akan ku suruh dokter pribadiku datang ke tempat kalian, tapi jangan pernah datang kemari lagi dan menyentuh Baekhyun atau aku tak akan segan-segan membuat ayah lebih dari sekedar luka," Jongin membantu Ibu Chanyeol membawa pergi Ayahnya. Chanyeol terduduk di sofa, tangannya menelungkup.

"Tuan, ada yang bisa ku bawakan untuk anda ??" tanya Silvia.

"Apa kau baik-baik saja Silvia ?" tanya Chanyeol.

"Aku tak apa-apa Tuan tapi mohon maafkan Kepala Pelayan Ho, tadi dia.."

"Sudahlah tak apa-apa, aku akan pergi ke rumah sakit sekarang."

Kepala Pelayan Ho dengan tergesa-gesa membawa Baekhyun yang pingsan, segera Baekhyun di antarkan ke IGD.

"Dokter, Tuan Muda Byun terluka, dia_" Kepala Pelayan Ho menjelaskan situasinya pada Suho yang segera datang mengecek karena Suho bekerja di rumah sakit tersebut. Untung saja luka Baekhyun tidak terlalu serius namun kejadian itu membuatnya trauma, Baekhyun tak masuk sekolah selama beberapa hari dan menjadi pertanyaan teman-temannya yang lain.

"Baekhyun sudah tak masuk beberapa hari, apa dia sakit ?" Tanya Guanlin pada Kyungsoo tapi Kyungsoo hanya mengangkat bahunya saja. Grey mengangkat sebelah alisnya.

"Apa mungkin karena Stephen waktu itu ?" Jawab Guanlin lagi.

"Aku tak suka orang itu, Stephen. Wajahnya mengeluarkan aura aneh." Tambah Kyungsoo.

"Ya, dia teman Jihoon. Aku tak begitu mengenalnya tapi dia sering datang ke rumahku belakangan ini mungkin karena Jihoon yang mengundangnya, aku tak suka caranya memandang Baekhyun. Kau tahu, seperti serigala haus darah dalam cerita werewolf." Timpal Grey santai.

"Tapi bukan kah werewolf tak minum darah ?" Ucap Minseok yang tiba-tiba menambahkan.

"Kalau Grey jadi werewolf dia akan minum darah, terlebih jika itu darah Baekhyun." Guanlin pun terkekeh. Grey hanya tersenyum tipis, sebenarnya hal yang mudah untuk mengetahui ada apa sebenarnya antara Stephen Kim dan Byun Baekhyun tapi Grey tak ingin bertindak terlalu jauh apalagi keluarga Kim adalah keluarga penuh skandal, bagaimana pun jika berurusan dengan Keluarga Kim itu sudah pasti bukan hal yang baik.

.

.

.

.

.

hello, terimakasih sudah bersedia menunggu. Hehehe. Crita ini juga aku upload di Wattpad ya dengan judul yang sama cuma alur cerita di wattpad nantinya bakalan di bikin sedikit beda hehehe. Oh iya, mau tanya. Ada yang tau dimana aku bisa beli official lightstick exo ver.3. bisa jawab di komen, mksh. Cium manjah #chels#