Chanyeol berusaha sebaik mungkin membuatkan makanan yang enak untuk Baekhyun, si mungil itu terus menggelayutinya.

"Aku menyayangimu kak, kalau aku egois aku ingin membawamu kabur ke planet lain." Ucap Baekhyun sambil menyerukkan kepalanya ke punggung Chanyeol.

Chanyeol hanya tertawa kecil mendengarnya.

"Untuk apa pergi ke planet lain ? Tak perlu mengajakku kabur. Aku akan mengikutimu kemana pun kau pergi, mengerti ?" Baekhyun mengangguk cepat.

"Ayo, sekarang kau makan dulu ya ? Setelah itu istirahat. Kau punya waktu sehari lagi sebelum kau masuk sekolah," Chanyeol mendengus pelan.

"Sejujurnya aku tak suka kau masuk sekolah nanti tapi aku juga tak bisa kalau kau selalu kesepian kalau tak ada aku.." Chanyeol terdiam sejenak menatap binar cantik pemuda di hadapannya.

"Apa kau cemburu aku dekat dengan orang lain ?" Entah pertanyaan menjebak atau hanya spontanitas saja tapi yang jelas itu membuat jantung Chanyeol berdegup lebih kencang, Chanyeol diam beberapa saat.

"Maunya seperti apa ?" Tanya Chanyeol dan seketika Baekhyun mendorong Chanyeol, tersudut di ujung meja.

"Kalau aku menggodamu seperti ini, apa kau merasa terbakar didalam sini ?" Chanyeol menelan ludahnya, mungkin dengan pakaian minim seperti itu dan intonasi yang digunakan Baekhyun saat ini. Chanyeol sudah merasa gila dibuatnya.

"Baekki.. lebih baik makan dulu.." Chanyeol mulai terbata-bata.

"Apa kakak tak ingin 'memakan'ku ?"

"Kau masih sakit Baekki,"

"Ya, aku sakit. Sakitnya akan semakin parah jika kau tidak melakukannya, kau suka kalau aku melakukan ini kan ??" Baekhyun mulai meraba-raba area terlarang yang membuat Chanyeol terkejut.

Anak ini benar-benar membuatku gilaaa.. tak mungkin aku menelanjanginya disini kan.. ini gila tapi aku tak akan bisa menahannya.

Pikiran Chanyeol mulai berkecamuk, jika Baekhyun terus menggodanya seperti ini mungkin saja Chanyeol akan jatuh pada godaannya.

"B_Baek.. ugh.." Godaan Baekhyun yang bertubi-tubi pada diri Chanyeol akhirnya membuatnya menyerah.

"Kemari sayang.." Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan mendudukannya di atas pangkuannya. Mengecup pipinya dan mulai menyesap bibir mungil Baekhyun lalu mulai turun ke lehernya dan beralih ke telinganya. Baekhyun mulai mengeluarkan suara pelan.

"Ayo sayang, mulailah bersuara.." Chanyeol mulai melucuti pakaian Baekhyun dan Baekhyun membantu Chanyeol membuka pakaiannya satu persatu dan semuanya terjadi, suara keciprak keringat dan teriakan Baekhyun. Beberapa pelayan mendengarnya tapi mereka pura-pura tak mendengar Kepala Pelayan Ho bahkan dengan sukarela menutup pintu dapur yang menghubungkan dengan kamar para pelayan. Pemandangan yang tak lazim tampak terlihat biasa di mata Kepala Pelayan Ho, dulu Kepala Pelayan Ho adalah Kepala Pelayan yang bekerja di rumah lama Chanyeol dan ketika keluarga Chanyeol bangkrut Kepala Pelayan Ho bekerja serabutan sampai Chanyeol memanggilnya bekerja kembali di rumah barunya.

Baekhyun mengeluarkan suara-suara yang membuat Chanyeol semakin menggila.

"Kau milikku Baekki.. Hanya milikku.."Ucap Chanyeol sambil terus menusukan kejantannnya sampai membuat Baekhyun meminta lebih dan lebih lagi. Tubuh Baekhyun dipenuhi oleh memar keunguan dari sersapan bibir Chanyeol.

"Apa terasa sakit ?" Tanya Chanyeol saat ingin memasuki lubang Baekhyun untuk kesekian kalinya.

"Tidak.. T_terushk_an.. aah kakak.." Baekhyun menarik P*nis Chanyeol agar dimasukkan ke dalam lubangnya. Chanyeol tersenyum pelan mengusap dengan lembut gumpalan pantat Baekhyun yang basah karena keringat dan sisa-sisa sp*rma Chanyeol yang menyembul keluar dari lubang Baekhyun.

Kalau aku terus seperti ini, Baekhyun tak mungkin hamil kan? Dia kan laki-laki.

Pemikiran itu sempat terlintas namun Chanyeol tak terlalu menggubris apa yang terlintas dipikirannya tersebut, Baekhyun laki-laki dan tak mungkin bisa hamil meskipun Chanyeol berkali-kali menyetubuhinya. Bukankah begitu ?

Chanyeol membopong Baekhyun yang terkulai lemas ke lantai atas, membawanya ke dalam kamar Chanyeol. Dia ingin tidur dengan si mungil kesayangannya sepanjang hari esok.

Namun usahanya nampaknya gagal karena di pagi hari, Sehun sudah datang bersama Irene dengan setumpuk berkas dan berteriak-teriak tak karuan di lantai bawah. Chanyeol pun terpaksa terbangun.

"Hei, Oh Sehun. Kau berisik sekali !! Ini baru pukul 7, Baekhyun masih tidur janhan berteriak-teriak." Chanyeol turun dengan jubah tidur.

"Kau telanjang Park Chanyeol ada wanita disini." Ucap Sehun melirik ke arah Irene.

"Ya, wanita yang sudah menikah. Apa yang aku punya, suaminya pun punya kan ? Jadi apa yang harus dikhawatirkan." Sehun mengernyit.

"Kau tak tahu malu Park Chanyeol."

"Irene, bisa hubungi suamimu ? Aku tak tahu apa yang terjadi tapi semalam Baekhyun muntah, aku khawatir." Ucap Chanyeol.

"Baik Tuan Park." Irene pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan beranjak menjauh.

"Malam yang sangat melelahkan heh Park ?" Tanya Sehun sambil melihat ke arah sisa kecupan Baekhyun di leher Chanyeol.

"Usil sekali kau !"

"Itu terlihat jelas Park, dia baru sembuh dan kau secara sengaja meng'hantam'nya. Astaga, birahimu tinggi sekali," dengan spontan Chanyeol melempar asbak yang ada di hadapannya ke arah Sehun.

"Hei hei.. kau bisa membunuhku dengan itu, barbar sekali. Kenapa Baekhyun bisa menyukaimu dan entah apa mengakuinya atau tidak ?," Sehun selalu membahas hal yang sama. Sehun meminta Chanyeol mengakui perasaannya pada Baekhyun tapi Chanyeol selalu diam tak pernah membalas dengan jawaban iya ataupun tidak. Chanyeol memang mencintai Baekhyun tapi dengan situasi seperti ini ? Saat semuanya "belum selesai" Chanyeol tak bisa membiarkan Baekhyun berharap terlalu banyak padanya soal "perasaan".

"Tuan Park, suamiku akan datang pukul 10 karena ada beberapa pasien terlebih dahulu yang harus ditangani." Ucap Irene yang datang menghampiri Chanyeol lalu mengambil kembali beberapa berkas di atas meja dan menyeleksinya sebelum memberikan kepada Chanyeol.

"Baiklah terimakasih, Irene." Chanyeol kembali membuka beberapa berkas.

"Keluarga Kim semakin membuat semuanya semakin kacau, kita benar-benar harus bertindak.. " ucap Sehun yang mulai terdengar serius.

"Bicara di ruang kerjaku, Irene bisa tolong bangunkan Baekhyun untuk sarapan ? Katakan padanya, aku ada di ruang kerjaku, Baekhyun tidur di kamarku. Naiklah ke atas." Chanyeol melangkah mendahului Sehun yang baru saja beranjak dari tempat duduknya.

"Baik Tuan Park," Irene pun menaiki tangga ke arah kamar Chanyeol.

Chanyeol duduk di sofa panjang dekat meja kerjanya.

"Keluarga Kim mulai membongkar paksa proyek pembangunan gedung di atas tanah yang sudah kita akuisisi." Ujar Sehun.

"Entah apa yang akan terjadi selanjutnya tapi ini harus di akhiri, beberapa pekerja disana terluka. Kita tak bisa biarkan itu, para pekerja itu tidak salah mereka hanya bekerja." Jelas Sehun dan Sehun terus saja menjelaskan kejadian yang terjadi di distrik lain pada Chanyeol beberapa hari ke belakang. Chanyeol mengepalkan tangannya.

"Satu-satunya jalan adalah melalui Bibiku, Jessica. Aku rasa dia akan mau bekerja sama jika kau membelikannya beberapa perhiasan tapi pertama-tama yang harus kau lakukan adalah menjauhkan Baekhyun dari semua ini, agar tak ada yang lagi keluarga Kim yang bisa menyakitinya. Baekhyun harus dibawah perlindungan orang yang sangat kuat."

Chanyeol menghela napas pendek, dia tak akan pernah rela Baekhyun pergi dari sisinya tapi sekarang ini menyangkut kepentingan orang banyak dan hidup mereka, Chanyeol tak bisa egois. Itu janjinya dulu saat mengambil alih Trax Industries. Chanyeol menutup matanya, mengurut ujung hidungnya yang sempurna.

"Tolong siapkan semuanya, jangan sampai Baekhyun tahu." Tak lama kemudian, Kepala Pelayan Ho mengetuk ruang kerja Chanyeol dan memberitahu bahwa sarapan sudah tersedia.

Baekhyun sudah duduk di meja makan bersama dengan Irene, Chanyeol tersenyum simpul lalu menghampiri Baekhyun dan mengusak puncak kepalanya.

"Selamat pagi Malaikatku," Baekhyun tersenyum manis, saking manisnya sampai Sehun ingin memeluknya.

"Biarkan aku memelukmu Baekhyunie.." Sehun menghampiri Baekhyun tapi Chanyeol menahannya dengan menjauhkan wajah Sehun.

"Kau ingin mati lebih cepat Oh Sehun ?" Chanyeol menyeringai, Baekhyun hanya terkekeh.

"Tuan Park, suamiku hampir sampai."

"Ah, Baekki sayang. Biarkan Dokter Suho memeriksamu ya ? Semalam nampaknya kau tidak sehat, apa sekarang masih tak enak ? Bagaimana perutmu ? Semalaman kau terus memegangi perutmu, apa sudah lebih baik ?" Tanya Chanyeol, Baekhyun menggelengkan kepalanya, Irene hendak mengatakan sesuatu tapi Baekhyun melaranganya dengan kerlingan matanya.

"Aku tak apa-apa, kakak tenang saja ya."

Ditengah-tengah saat mereka sarapan bersama, Suho datang dengan tergesa-gesa.

"Maaf, aku datang terlambat." Ucap Suho terengah-engah.

"Ah, Dokter. Duduklah dulu, ayo sarapan bersama. Silvia, tolong siapkan sarapan Dokter Suho." Ucap Chanyeol.

"Baik Tuan Park." Setelah selesai sarapan Suho pun meminta ijin untuk memeriksa Baekhyun.

"Ayo, ku periksa dulu."

"Dikamarku saja, bolehkan Istrimu ikut ?" Tanya Baekhyun pada Suho, Suho mengangguk pelan. Baekhyun pun mengulurkan tangannya menarik tangan Irene.

"Mereka tampak dekat sekarang ?" Tanya Sehun, Chanyeol hanya mengangkat bahunya saja.

"Bibi Jessica akan datang sebentar lagi, kau harus mulai bisa menjelaskan semuanya, Park heh apa kau mendengarku !" Sehun sedikit berteriak ketika Chanyeol mengabaikannya karena dia terus terfokus pada Baekhyun yang menarik tangan Irene.

Baekhyun berbaring di atas kasurnya, ada Irene di sampingnya. Suho pun sedang merapihkan peralatannya.

"Anda baik-baik saja ? Kenapa tak membiarkanku bicara dengan Tuan Park tentang keadaanmu ?" Tanya Irene khawatir yang sesekali melirik ke arah suaminya.

"Aku tak apa-apa, aku baik-baik saja Irene." Ucap Baekhyun pelan.

"Kau sedang tidak baik-baik saja Tuan Byun."

"Panggil saja Baekhyun," ucap Baekhyun pelan.

"Aku akan memberikanmu vitamin," Suho menyela.

"Aku baik-baik saja dokter..." Baekhyun bersikeras.

"Ini untuk kesehatanmu Baekhyun." Ucap Suho sambil mengeluarkan botol vitamin dari dalam tasnya.

"Iya, baiklah. Aku harus menemui kakak dibawah." Baekhyun segera beranjak, Irene mengikutinya dengan sangat hati-hati. Baekhyun sedang menuruni tangga saat dia melihat pemandangan yang menyayat hatinya, semuanya nyaris runtuh di hadapannya saat itu juga.

Sehun menengadah, Chanyeol pun dengan spontan melepaskan pelukannya dari Jessica.

"Baekki, sayang.. ini.. ini bukan seperti yang.. "Baekhyun segera berlari ke arah kamarnya, Chanyeol hendak menghentikannya tapi Sehun menariknya.

"Sudah terlambat Park, lanjutkan saja. Cepat atau lambat hal ini pasti terjadi." Terang Sehun.

"Ya tapi tidak dengan cara seperti ini, tidak secepat ini ... !! Aku bisa gila..." Sehun menarik tangan Chanyeol.

"Irene tolong temani Baekhyun, kau ikut aku ?!" Sehun menarik tangan Chanyeol meninggalkan Jessica yang hanya mengerlingkan matanya.

"Kenapa tiba-tiba aku jadi merasa bersalah, sih.." Jessica mengikuti langkah Sehun.

Baekhyun menangis sejadi-jadinya, Irene menghampirinya dikamarnya.

"Pergilah !!! Aku ingin sendiri !! Kalian pergi... Semua sama saja... !!!"Baekhyun terus berteriak-teriak sejadinya.

"Baekhyun, ku mohon berhentilah. Jangan seperti ini, mungkin kau hanya salah paham." Jelas Irene.

"Iya, salah paham. Aku yang salah paham karena benar-benar menganggap kakak benar-benar mencintaiku lebih dari seorang adik !!" Baekhyun melempar semua barang-barang yang ada di atas meja.

Irene tak mampu lagi berkata-kata, akhirnya dia menghubungi orang yang dikatakan oleh Sehun saat mereka dijalan tadi.

"Selamat pagi, Tuan Everlight. Saya Irene sekertaris Tuan Park Chanyeol, maaf mengganggu tapi..." Irene menghilang dibalik pintu, Baekhyun terus meraung-raung tak karuan. Sementara itu Chanyeol tak kalah kalut.

"Kau gila Oh Sehun, bagaimana ini bisa dilanjutkan ? Orang yang kucintai menderita disana."

"Orang yang kau cinta ?? Tadi pagi kau bahkan tak mau mengakuinya sekarang kau tiba-tiba mengatakan kau mencintainya ? Dengar Park !! Kita harus lakukan ini demi kau, demi semua orang dan juga demi Baekhyun. Sampai kapan kau biarkan Keluarga Kim semena-mena terhadap orang lain, kalau Baekhyun terus mengikutimu. Mereka akan menyakitinya lebih dari ini karena mereka tahu kalau Baekhyun adalah satu-satunya kelemahanmu ! Kau dengar Park Chanyeol, kalau dia terus mengikutimu kau akan membawanya mati bersama. Apa itu yang kau inginkan ??? Kau harusnya lakukan ini sejak awal Park !!!" Chanyeol berteriak sejadinya sementara Baekhyun menangis di kamarnya, dunianya hancur dalam sekejab mata.

Tak lama kemudian Kyungsoo datang dengan Guanlin ke kediaman Keluarga Park, Jongin mengikuti pelan dari belakang.

"Apa yang terjadi ?" Tanya Guanlin pada Irene.

"Maaf mengganggu anda Tuan Lai tapi apa Tuan Everlight datang bersama anda?" Tanya Irene.

"Sebentar lagi mungkin, ada apa ini sebenarnya ? Bukankah Baekhyun baru saja keluar dari rumah sakit ? Apa yang terjadi ?" Tanya Guanlin penasaran.

"Maaf Tuan Lai tapi nampaknya ada keadaan mendesak yang..." Irene tak melanjutkan kata-katanya ketika dia mendengar Baekhyun berteriak keras dari lantai atas.

"Kami butuh Tuan Everlight." Ucap Irene tergesa-gesa lalu melangkah cepat menuju kamar Baekhyun.

"Astaga, banyak sekali masalah di keluarga ini." Ucap Kyungsoo pada Jongin, Jongin hanya menatap dingin.

"Sayang, ayo bantu. Baekhyun sudah pingsan beberapa kali. Keadaannya semakin buruk." Jelas Suho, Irene mengusap keningnya ketika melihat Baekhyun tergeletak tak sadarkan diri.

"Seharusnya tidak seperti ini," Irene mulai berkaca-kaca sambil membantu Suho membopong Baekhyun ke atas tempat tidurnya.

"Dia yang paling menderita," Irene mengusap jurai rambut Baekhyun yang menutupi keningnya.

"Keadaan yang membuatnya seperti ini, setidaknya dia masih punya kita." Suho mengusap bahu Irene lembut, Irene tersenyum tipis lalu menggenggam jemari Suho yang mengusap lembut bahunya sejak tadi.

"Demi Tuhan, usianya baru 16 tahun sayang dan harus menerima semua ini di usia semuda ini, terlebih lagi dia..." Irene memeluk Suho, Suho tersenyum lembut sambil membalas pelukan istri cantiknya itu.

Grey datang tak lama setelah itu, surai nya yang keperakan tampak berkilau ditempa sinar mentari.

"Apa yang kau lakukan Park Chanyeol ??" Tanya Grey, Chanyeol hanya menghela nafas pendek.

"Tolong jaga adikku Grey, maaf merepotkanmu tapi calon istriku keberatan jika aku tinggal dengan Baekhyun." Guanlin dan Kyungsoo kaget dibuatnya.

"Kepala Sekolah Jung ??" Grey melirik ke arah Jessica yang bersembunyi di belakang Chanyeol.

Sial kau Park Chanyeol, aku sudah pasti akan kehilangan pekerjaanku.

"Baiklah tak masalah tapi ada satu syarat." Chanyeol mengerling tajam.

"Saat kau mengatakan ini, semua yang mendengarnya tolong dengarkan. Park Chanyeol sudah menyerahkan adiknya padaku dan kau harus melangkahi mayatku dulu jika kau ingin mengambilnya kembali, ingat itu." Grey melangkah melewati Chanyeol, Chanyeol geram dibuatnya. Dia mengepalkan tangannya dengan kencang.

Grey dengan enteng membopong Baekhyun dari lantai atas, Irene melangkah di belakangnya. Chanyeol ingin rasanya berlari merangkul Baekhyun tapi Sehun menahannya, dia melihat perban dipergelangan tangan Baekhyun. Baekhyun menyayat tangannya.

Baek, Baekhyun-ku terluka karena aku. Baekhyun..

Meski ingin menangis dan berlari pada Baekhyun mengatakan semua akan baik-baik saja, Chanyeol berusaha sekuat tenaga menolak respon otaknya melihat keadaan Baekhyun yang terlihat sangat kacau akhirnya dia hanya berbalik memunggungi Grey yang melangkah keluar membawa Baekhyun, Baekhyunnya.

Semua sudah salah sejak awal, semuanya. Apa yang terjadi saat ini adalah pertanggung jawabanku atas kejadian yang terjadi sebelum ini, semua harus tuntas. Ku mohon, jangan membenciku Baekhyunie.

Tbc...

sorry Ff ini aku buat di wattpad juga, udah 17 chapter. and i got syndrom baby blues yang lumayan lah yaaaa.. yang mau baca crita lanjutannya bisa mampir ke wattpad dengan judul yang sama atau mau nunggu disini jg gpp sih.. thank you