Hello, due to the pandemic I don't know anything else to do. I am safe and sound until today, still in the middle of medication but on hold because of the pandemic. Until I publish this story I am still fine, no any life threatening condition happened. Actually I want to make this into a mini series. It will contains our four main characters (I am not quiet sure with Yzak, Dearka, Miriallia, Shinn, Lunamaria, and Meyrin. Should I put them?).

So I present IF: OUR PAST AND SCARS to all readers. For the first, I will put Cagalli because she is the first who popped out in my mind. Inspired from Cagalli's fighting skill when she using Mobile Suit which it similar with Athrun's move as well. So I though that there is a possibility that Athrun teach her. But in the end I got a review wrote that Cagalli's part wasn't as good as the others and then I realized in which part it lacked. So I rewrite it and reupload it. I hope it satisfy you people my dear reader. So this is it.

DISCLAIMER: GUNDAM SEED AND GUNDAM SEED DESTINY belongs to SUNRISE

Edited: 30th MAY 2020


IF: OUR PAST AND SCARS

LIONESS'S PRIDE

By Fuyu Aki

Cagalli memandangi dirinya di depan standing mirror. Hanya berbalut pakaian dalam saja dia memperhatikan tubuhnya. Awalnya dia ingin segera berganti pakaian untuk segera makan malam bersama dengan suami dan keduananaknya. Namun kemudian dia ingat dengan agenda rapat dadakan di Morgenroete nanti sore bersama Athrun. Selagi suaminya berusaha menenangkan anak-anaknya karena mereka harus makan malam tanpa adanya Athrun dan Cagalli, Cagalli memutuskan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Wanita berusia 26 tahun itu memandangi tubuhnya yang memiliki beberapa bekas luka khususnya di area pinggang, tangan, dan kakinya. Stretch mark pun juga terlihat namun dia tidak peduli. Selama ini Myrna dengan cekatan menutupi bekas lukanya itu dengan foundation dan make up. Cagalli tersenyum. Luka ini adalah bukti kalau dirinya hanyalah manusia biasa. Dirinya pernah berjuang demi masa depan dan hari esok. Dirinya pernah mengambil jalan lain untuk menyuarakan suaranya sebagai seorang Athha dan dia tidak peduli.

Athha, sebuah nama yang memiliki makna besar dan ternyata memiliki beban berat dibaliknya. Cagalli tidak pernah memilih dan meminta untuk menjadi seorang Athha. Dia sudah ada di dalam keluarga itu sejak lahir pikirnya di awal. Menjadi salah satu bangsawan besar di ORB Union yang memegang sistem pemerintahan dengan bangsawan yang lain tidaklah mudah. Bahkan setelah dia tahu kalau darah Athha tidak mengalir di dalam daranhnya, dia sempat merasa tidak yakin apa dia pantas menyandang nama Athha. Cagalli Yula Athha membenci namun mewarisi legacy Athha. Awalnya dia menyandang nama itu dengan bangga dengan penuh tanggung jawab didalamnya. Mau itu melawan perintah Ayahnya atau menurut pada Ayahnya dia tidak peduli, selama memberikan kebaikan Cagalli akan melakukannya. Dia calon pemimpin, pemimpin tidak harus sosok yang kolot, boleh kolot namun terbuka dan punya pandangan dan wawasan luas. Tetapi kalau dibandingkan dan diingat mengenai latar belakang Cagalli, dia manusia hina. Dia mewarisi nama Athha itu tanpa sebagai Athha. Dia curang, dia tidak berhak untuk menjadi Athha dia tidak memiliki kualifikasi Athha tapi dia mewarisi nama Athha.


Awalnya sebagai seorang Athha dan sebagai bangsawan, Cagalli mengira hidupnya akan seperti kehidupan orang-orang yang ada di film dokumenter sejarah. Rumah megah dengan gaya renaissance atau art nouveau, pakaian yang penuh dengan renda, home schooling dengan berbagai pelajaran anehnya seperti dansa dan tata krama, korset, afternoon tea, bersosialisasi atau debutante, oke mungkin beberapa hal dia alami tapi tidak sekaku di film dokumenter itu. Atau seperti yang ada di dalam film animasi atau buku cerita yang sering dibacakan oleh Uzumi atau Myrna sebelum dia tidur. Seorang putri dan pangeran, naga atau penyihir jahat, hidup yang penuh dengan keajaiban dan keindahan tanpa cacat. Sehari-hari hanya bernyanyi dan tersenyum. Begitu pikirnya.

Cagalli tidak mempermasalahkan dirinya yang tidak memiliki sosok ibu kala itu. Cukup ketika Uzumi mengatakan istrinya atau ibunya meninggal, Cagalli tidak banyak bertanya karena dia melihat Uzumi menangis dan sedih. Lagipula dia tidak paham Ketika Uzumi mengatakan pandemi Type S2 Influenza. Tepatnya di umur tiga tahun ketika dia sudah bisa mengingat dan menyadari dirinya itu ada serta bisa mengatakan kata 'papa' dia baru tahu kalau dia tinggal bersama orang yang berukuran lebih besar darinya, Ayahnya yang ternyata dipanggil Uzumi-sama oleh orang-orang sekitarnya. Uzumi selalu ada untuk Cagalli ketika Cagalli membutuhkan sosoknya. Ketika dia makan, ketika dia bermain, ketika dia menangis, ketika dia mau tidur, ketika dia meminta untuk dibacakan cerita, ketika dia ketakutan karena gelapnya malam atau petir atau kamarnya yang terlalu gelap, Uzumi selalu ada di saat Cagalli senang dan sedih. Namun, menginjak usia tiga tahun itu juga Cagalli sudah bisa mengetahui sering atau tidaknya Uzumi ada menemaninya. Uzumi sering pergi di pagi hari dan kembali di malam hari.

Di umur tiga tahun itu juga, Cagalli mengenal sosok Myrna. Sosok yang awalnya Cagalli kira bisa Cagalli panggil 'mama' tapi ternyata bukan. Myrna dikenalkan sebagai pengasuh Cagalli. Awalnya Cagalli heran, karena tugas Myrna tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan Uzumi. Selalu ada untuk Cagalli. Cagalli tidak banyak bertanya, tapi dia tidak masalah kalau memang Myrna tidak mau dipanggil Mama selama Myrna ada untuknya dan menemaninya ketika Uzumi tidak ada. Myrna ternyata juga termasuk orang yang cerewet bagi Cagalli. Dialah yang sering memaksakan Cagalli untuk berpakaian dan bersikap layaknya anak perempuan, padahal selama ini Cagalli tidak pernah dimarahi oleh Uzumi kalau dia memakai celana atau bermain kotor-kotoran di taman. Rok dan gaun serta sepatu hak dan perhiasaan beserta make up bukanlah kombinasi dan teman baik Cagalli tapi Myrna tidak menyerah karena Uzumi sudah mempercayakan Cagalli padanya.

Ketika dia berumur lima tahun, itu adalah pertama kalinya dia menyadari arti nama Athha. Di saat yang sama dia menyadari kalau Ayahnya adalah orang penting di ORB Union serta alasan mengapa Uzumi selalu pergi di pagi hari dan pulang di malam hari. Selama ini dia hanya tahu Ayahnya bekerja untuk Cagalli dari pengasuhnya, Myrna. Dia juga baru sadar kalau dia dipanggil dengan sebutan 'putri' oleh orang-orang sekitarnya. Cagalli lalu teringat cerita dalam buku dongeng yang sering dibacakan untuknya sebelum tidur dan saat tahu arti kata 'putri' itu apa menurut pemikiran anak seumurnya, Cagalli tidak sebar menanti akan seperti apa kehidupannya sebagai 'putri'. Di umur tersebut juga Cagalli sudah mulai menunjukkan jiwa petualangnya. Ayahnya selama ini melarang dia ikut dengannya apabila Cagalli merengek ketika Uzumi pergi bekerja dan selalu berakhir dengan ajakan bermain dari Myrna Sehingga area dia menjelajah hanya di Manor Athha saja dan beberapa pertemuan santai dengan para bangsawan tanpa adanya media. Uzumi melarang media untuk meliput anak-anak khususnya anak bangsawan ORB Union sebelum mereka berumur delapan belas tahun dan alasannya demi tumbuh kembang mereka. Bermain-main dengan 'liarnya' di Manor Athha, membuat Cagalli berpikir 'apakah dia sudah seperti putri dalam buku cerita?' atau 'kenapa hidup Cagalli sebagai putri berbeda seperti Cinderella, Snow White, Rapunzel, atau Aurora?'.

"Ayah, mengapa Cagalli tidak boleh ikut Ayah?" tanya Cagalli ketika dia berhasil menyelinap ke ruang kerja Uzumi. Uzumi langsung melihat Cagalli kecil lengkap dengan piyama dan boneka harimau kecilnya yang dipeluk dengan erat. Sepertinya Myrna sempat menegur Cagalli ketika gadis cilik ini bermain di taman Manor seharian hingga bajunya kotor dan luka di lututnya. Uzumi lalu melihat jam di meja kerjanya yang sudah menunjukkan waktu tidur untuk Cagalli.

Uzumi lalu menggendong Cagalli dan menempatkan gadis cilik itu dipangkuannya. Dia lalu mengelus lembut kepala Cagalli, sorot matanya terlihat sedih. "Bukannya tidak boleh," jawab Uzumi pelan. "Hanya saja waktunya belum tepat, Cagalli," tambahnya.

"Cagalli sudah besar, buktinya Cagalli bisa mengambil serangga dari taman dan berhasil menakuti beberapa ekor tupai," ucap Cagalli polos. "Cagalli ingin membantu Ayah bekerja, jadi Ayah ada banyak waktu bermain dengan Cagalli."

Bekerja. Uzumi sempat terdiam ketika mendengar kata bekerja keluar dari mulut Cagalli. Kata yang berat dan tidak bisa Uzumi jelaskan dengan ringan kepada 'anaknya' itu. Uzumi hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, "Bekerja itu sudah tugas Ayah, nak. Giliran Cagalli bekerja itu nanti. Kau harus bersabar dan untuk sekarang ikuti semua perintah Myrna, oke?" ucap Uzumi.

Cagalli menggembungkan pipinya hingga merah, dia tidak suka ketika disuruh untuk bersabar. "Apakah karena Cagalli seorang Athha, Ayah jadi sibuk?"

Uzumi kembali terdiam sebentar, "Memangnya kenapa kalau Cagalli seorang Athha?"

Cagalli sedikit menundukkan kepalanya, "Para pelayan bilang karena Cagalli seorang Athha, Ayah harus bekerja dengan sangat giat dan keras. Ditambah Ayah bekerja untuk orang-orang di ORB jadi Cagalli tidak boleh mengganggu Ayah dan karena itu Cagalli tidak boleh keluar rumah."

Uzumi ingin sekali menegur para pelayan di Manor karena sudah memberikan pemikiran yang aneh pada Cagalli. "Ayah juga seorang Athha, nak," ucap Uzumi. "Ayah keluar rumah karena Ayah harus mencari uang untuk Cagalli makan, untuk membelikan mainan dan buku bacaan untuk Cagalli."

"Hingga kapan Ayah harus bekerja?"

"Hingga Ayah dapat memastikan kalau Cagalli baik-baik saja dan semua baik-baik saja," ucap Uzumi.

Alhasil, masa kecil Cagalli banyak dihabiskan di Manor Athha. Uzumi memiliki alasan tersendiri mengapa dia melarang Cagalli untuk melihat dunia luar. Dia tidak 100% melarang sebenarnya, buktinya dia masih membiarkan Cagalli menonton dan membaca buku. Bahkan terkadang memberikan oleh-oleh dari berbagai negara untuk anak gadisnya itu. Tidak ada yang tahu kalau Cagalli adalah seorang Athha, hanya para bangsawan dan orang-orang di Manor Athha saja yang tahu. Sedangkan untuk Cagalli kecil, selama dia bisa bertemu dan melihat Ayahnya dan sempat membacakan cerita untuknya sebelum tidur, itu sudah cukup. Saat itu dia berpikir kenapa hidupnya seperti Aurora atau Rapunzel, dia dilarang keluar. Mungkin sekarang yang bisa dia lakukan adalah berdo'a dipertemukan dengan pangeran yang akan meyelamatkannya. Begitu, pikir Cagalli dengan polosnya.


Di umur enam tahun, Cagalli bertemu dengan teman-teman sebayanya dari keluarga bangsawan ORB Union. Rondo Mina Sahaku, Rondo Gina Sahaku, dan Yuna Roma Seiran. Mereka bermain seperti anak-anak pada umumnya. Cagalli senang karena dia akhirnya memiliki teman sepermainan tapi Cagalli merasa kurang tertantang. Mina, Gina, dan Yuna terlalu bersih, mereka tidak mau bila Cagalli ajak bermain ke taman atau berlari-lari atau permainan yang lebih mengarah pada permainan fisik. Mungkin Gina pengecualian tapi Gina memiliki batasannya sendiri. Pada saat itu pertama kalinya Cagalli melihat ketidakadilan. Yuna memain-mainkan anak kucing dan hampir mematahkan kaki kucing itu. Cagalli berkali-kali menegur Yuna untuk melepas kucing malang itu.

"Yuna kasihan kucing itu," ujar Cagalli kesal.

Yuna tidak mengindahkan perkataan Cagalli, "Biar dia tahu siapa yang lebih hebat. Seenaknya saja dia mengotori pakaianku dengan bulu jeleknya."

Kucing liar itu tidak salah. Cagalli bisa lihat dengan jelas kalau kucing itu tiba-tiba muncul dan meminta makanan dan bermain. Itu adalah sifat kucing itu. Cagalli sudah sering melihat kucing itu di Manor Athha dan diam-diam sering bermain dengannya.

"Yuna jangan ka-"

"AAAH!"

Kucing itu langsung mencakar Yuna dan kabur ke atas pohon. Yuna langsung meringis kesakitan padahal hanya sebuah luka lecet. Cagalli hendak menolong kucing itu sebelum akhirnya Yuna mendekati pohon tempat kucing itu berada dan melemparnya dengan batu. "YUNA!" Cagalli berusaha mencegah Yuna melempari kucing itu dengan batu namun sialnya lemparan Yuna meleset dan terkena kepala Cagalli.

"CAGALLI!"

Teriakan Gina dan Mina dan langsung menarik perhatian para pelayan yang ada di Manor. Semua langsung menghampiri Cagalli, khawatir dengan kondisi putri dari Singa ORB itu. Darah yang cukup banyak mengalir dari dahi hingga pelipis Cagalli. dan untuk pertama kalinya dia memperoleh luka yang cukup berbahaya.

Dua hari kemudian, Cagalli tidak menemukan kucing kecil yang sering dia ajak main itu, Ketika dia menanyakan pada pelayan di Manor dan Myrna, mereka mengatakan kalau kucing itu sudah di ambil oleh dinas keamanan dan penanganan hewan dan tentu saja berdasarkan pelaporan dari Seiran. Cagalli ingin menangis karena kucing itu tidak salah. Yuna yang salah dan dia terlalu berlebihan. Untuk pertama kalinya Cagalli melihat sikap tidak adil dan pengecut manusia, dan itu diperlihatkan oleh sosok Yuna Roma Seiran.

Cagalli baru menyadari perbedaan ras dan gen ketika dia berusia delapan tahun. Ketika dia sedang menonton televisi dan salurannya tidak sengaja sedang menayangkan pidato dari salah satu pemimpin Earth Alliance atau Blue Cosmos lebih tepatnya. Cagalli tidak terlalu paham isinya tapi dia melihat ekspresi penuh amarah dan kebencian ketika kata Coordinator disebutkan. Cagalli berhenti memakan kue kering yang disiapkan Myrna untuknya. Dia juga teringat ketika dia masih kecil, setiap Cagalli menyelinap ke ruang kerja Uzumi sambil membawakan buku cerita kata seperti Ame no Mihashira, Yggdrasail, krisis energi, Zodiac Alliances, PLANTs, Coordinator, Natural, dan Blue Cosmos serta Mobile Suit adalah hal yang sering Cagalli dengar dan sedikit demi sedikit wawasan gadis itu bertambah dan matanya terbuka mengenai dunia.

Dia lalu teringat dengan obrolan ketika dia sedang belajar bersama Gina, Mina, dan Yuna. Yuna saat itu mengatakan Gina dan Mina berbeda. Cagalli tahu Mina dan Gina berbeda, gaya mereka khas. Namun Yuna menegaskan mengenai gen mereka dan Yuna bilang dia senang kalau Cagalli ternyata sama dengannya yaitu Natural. Hari itu kebetulan mereka sedang belajar mengenai Coordinator dan Natural dari segi Biologi.

"Memangnya apa salah Coordinator?" tanya Cagalli kala itu.

"Pokoknya Coordinator itu aneh Cagalli. Mereka berbeda dengan kita," ucap Yuna. "Kita ini hebat karena bukan hasil rekayasa, kita ini unggul!"

"Beda apanya?" Cagalli penasaran.

Pertanyaan Cagalli itu tidak terjawab dan dia tidak pernah mendapatkan jawabannya dari Yuna dan juga guru yang menerangkan mengenai Coordinator dan Natural. Sekarang, acara yang ditayangkan di televisi menggelitik kembali rasa ingin tahu Cagalli. Dia lalu menghampiri Uzumi yang sedang serius menyaksikan.

"Ayah?" Cagalli memanggil Uzumi.

Uzumi yang tersadar kalau Cagalli ternyata ada di ruangan yang sama dengannya segera mematikan televisi dan dia ingin menegur dirinya sendiri karena membiarkan Cagalli menonton acara tersebut. Belum waktunya Cagalli mengetahui hal itu. "Ada apa Cagalli?" tanya Uzumi, berusaha mendistraksi putrinya.

"Memangnya, apa salah Coordinator?" tanya Cagalli, "Lalu, kenapa memangnya kalau Cagalli itu Natural?" tambahnya.

Uzumi ingin menampar dirinya. Dia tidak habis pikir darimana Cagalli mendapat pertanyaan itu. Uzumi lalu menggendong Cagalli dan menempatkan Cagalli di pangkuannya. "Mengapa Cagalli bertanya tentang Natural dan Coordinator?"

Cagalli tiba-tiba bingung, "Emmm….ketika sedang belajar bersama, Yuna bilang kalau Coordinator itu aneh. Padahal Gina dan Mina adalah Coordinator dan tidak ada yang aneh dari mereka," ucapnya polos. "Lalu orang di televisi barusan kelihatan sangat marah dan kesal dengan Coordinator," tambahnya.

Uzumi lalu mengelus lembut puncak kepala Cagalli. "Tidak ada yang salah dari Coordinator mereka juga manusia seperti kita yang membedakan hanya dia lebih unggul saja," jawab Uzumi.

"Lebih unggul?"

"Mereka secara fisik sama namun kemampuan mereka berbeda," ucap Uzumi,

"Seperti lebih pintar dari Cagalli? Seperti yang dijelaskan sensei di kelas?"

"Yah begitulah," Uzumi menjawab singkat. "Ingat ketika kalian bermain air seharian esoknya Gina dan Mina tidak sakit tapi kau demam selama empat hari?"

Cagalli lalu mengangguk pelan mengiyakan dan ingat kejadian yang Uzumi katakan.

"Cagalli boleh berteman dengan Coordinator?" tanyanya.

Uzumi pun mengangguk mengiyakan. "Bahkan dengan Natural pun juga boleh," tambahnya. "Cagalli berteman dengan kembar Sahaku bukan?" yang langsung dibalas dengan anggukan iya dari Cagalli. Uzumi berharap Cagalli berhenti bertanya. Kembar Sahaku adalah Coordinator, Cagalli ingat hal itu.

"Lalu kalau mereka lebih unggul, mengapa Cagalli seorang Natural? Katanya Natural itu lemah dan Coordinator itu aneh. Cagalli tidak paham," tanya Cagalli. "Bukankah Cagalli calon pemimpin? Mengapa Cagalli bukan seorang Coordinator sehingga Cagalli bisa lebih kuat?"

Uzumi menghela napas, "Menjadi pemimpin, tidak harus selalu yang lebih unggul Cagalli. Ayah juga seorang Natural dan Ayah memimpin Negara ini."

Cagalli lalu menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya. Sepertinya masih ada banyak pertanyaan di kepala kecil Cagalli. "Kenapa lagi, nak?" tanya Uzumi lagi.

"Kalau begitu Ayah tidak benci Cagalli karena Cagalli seorang Natural, bukan Coordinator?" pertanyaan polos yang langsung keluar dari mulut Cagalli itu menyayat hati Uzumi. Ada sedikit kesedihan dan keraguan di pertanyaan gadis cilik itu.

Uzumi langsung teringat dengan identitas Cagalli yang bukan putri kandungnya. Seorang Natural dan bukan putri kandungnya, pasti itu menjadi suatu kenyataan yang menyakitkan buat Cagalli. Uzumi langsung memeluk Cagalli dan mengelus punggung kecil putrinya itu. Cagalli bingung, "Ayah?"

Suatu pertanyaan yang rumit. Uzumi tidak ingin membahasnya dengan Cagalli, belum waktunya lebih tepatnya. Rasa ingin tahu Cagalli memang sesuatu kalau tidak cepat-cepat dikontrol bisa berlanjut ke hal yang lain yaitu tindakan yang tidak diduga-duga dan bisa jadi masalah baru. She is a little rascal afterall.

"Tidak Cagalli, sama sekali tidak," jawab Uzumi.

"Ayah sayang dengan Cagalli?"

"Tentu saja," ucap Uzumi mantap. Dia lalu melepaskan pelukannya, "Cagalli ingat apa yang Ayah katakan mengenai apa yang terjadi bila kita bertengkar dengan seseorang?"

"Tidak boleh dendam dan tidak boleh saling membenci," jawabnya.

"Iya tepat sekali, karena itu Cagalli perlu tahu tidak ada yang membedakan kita manusia. Manusia tidak bisa hidup sendirian, mereka harus hidup bersama-sama dengan yang lain, berdampingan yang lain. Tidak bisa seorang diri. Tidak peduli mereka Coordinator ataupun Natural," ucap Uzumi. "Tidak ada yang salah dan tidak aneh apabila Cagalli bukan seorang Coordinator."

"Karena Ayah tidak bisa hidup tanpa Cagalli dan membutuhkan Cagalli di sisi Ayah," ucap Uzumi lagi.

"Ayah tetap sayang dengan Cagalli? Walau Cagalli bukan seorang Coordinator?" tanya Cagalli yang mencoba meyakinkan dirinya.

Uzumi kembali menghela napas. Suatu pertanyaan yang konyol dan perlu diperiksa mengenai kredibilitas guru yang mengajar Cagalli karena membuat Cagalli tidak henti-hentinya bertanya seperti ini. Uzumi lalu mengecup puncak kepala Cagalli, "Tentu saja karena Cagalli adalah Cagalli, tidak ada yang bisa menggantikannya." Uzumi lalu memeluk Cagalli dengan erat.


Di umur dua belas tahun, Cagalli melakukan debutante pertamanya. Myrna memaksanya untuk mengenakan gaun yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Cagalli tapi Myrna bersikeras dan menjelaskan panjang lebar pentingnya acara itu. Akhirnya Cagalli mengalah setelah Myrna memakai berbagai alasan dan ancaman. Cagalli membiarkan rambutnya di tata kuncir dua dengan berhiaskan pita hijau muda dan bunga, serta gaun panjang berwarna hijau mint dan putih hingga mata kaki dan tentu saja sepatu berhak pendek yang manis, tidak lupa Myrna memakaikan beberapa perhiasan dan buket bunga kecil untuk Cagalli bawa.

Tidak seperti di film sejarah yang dia tonton, debutante Cagalli adalah menghadiri acara resmi tradisional kenegaraan yang masih bersifat internal, berupa upacara di kuil, pembacaan syarat untuk debut ke sosial masyarakat dan mengikat atau mengucapkan sumpah dan memohon berkat Dewi Haumea yang ditandai dengan pemberian batu Haumea sebagai bukti Cagalli diberkati dan bersumpah untuk bumi ORB. Tidak ada media yang meliput, hanya fotografer pribadi pemerintahan dan para keluarga bangsawan saja yang datang dan mengabadikan momen tersebut. Namun semua orang penting di ORB Union mulai dari para keluarga bangsawan, kementerian, dan militer mengetahui sosok Cagalli Yula Athha, pihak kerajaan Skandinavia menjadi pihak Internasional yang tahu dan hanya mereka. Gina, Mina, dan Yuna hadir di acara tersebut dan Yuna secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Cagalli dan berujar pada Uzumi kalau dia bisa menjaga Cagalli. Cagalli sudah ada firasat ada udang di balik batu dari perkataan dan sikap Yuna.

"Cagalli-sama terlihat menganggumkan, sungguh suatu harapan untuk masa depan ORB Union," ujar Unato ketika menghampiri Uzumi dan Cagalli yang berdiri di belakang Cagalli. "Calon pemimpin masa depankah?" tanya Unato sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Uzumi membalas jabatan tangan tersebut, "Masa depan masih belum kita prediksi. Cagalli pun masih harus banyak belajar. Semangatnya masih berapi-api," ujarnya.

Cagalli agak sebal ketika Uzumi mengatakan semangatnya yang terlalu berapi-api karena Cagalli paham maksud Uzumi adalah ceroboh, tidak bisa diatur dan tidak seperti seorang lady, kalau kata Myrna. Cagalli lalu melihat Yuna yang berdiri di belakang Unato. Laki-laki itu memiliki selera berpakaian yang aneh tapi cukup formal dan entah mengapa hari ini sikap dan ekspresi Yuna seperti dibuat-buat. Perasaan Cagalli tidak enak.

"Cagalli sungguh manis, Paman Uzumi dan berbahaya apabila sudah ada yang meliriknya dan melamarnya. Apalagi Paman Uzumi berada di posisi tertinggi," ucap Yuna yang tanpa disadari Yuna mendapatkan tatapan penuh amarah dari Cagalli. "Akan ada banyak yang memanfaatkan situasi ini, untung saja Paman memiliki aturan untuk para bangsawan. Kudengar Lindsay sedang mencoba mencari cara untuk menaikkan posisinya sebagai Noble di ORB. Untuk kasus Cagalli, tidak terbayang apabila para Coordinators memanfaatkan situasi ini," tambahnya.

"Hei, Yuna jaga omonganmu," ucap Unato yang juga terdengar dibuat-buat.

Cagalli ingin berdecak, 'Apa salah dari Coordinator?' batinnya.

Uzumi berdeham, "Yah tapi seperti yang saya bilang Cagalli masih perlu banyak belajar dan urusan mengenai siapa pendamping Cagalli belum dibicarakan."

Unato tersenyum, "Yuna akan bersekolah di Skandinavia untuk melanjutkan studinya dan dia termasuk siswa yang berprestasi di angkatannya. Apabila dia sukses di masa depan, saya yakin dia bisa menjadi pemimpin yang hebat untuk ORB Union."

"Tapi mungkin ada baiknya seperti yang Yuna katakan. Cagalli memerlukan pendamping yang pantas dan mungkin ada baiknya diamankan dahulu sehingga kau bisa tenang Uzumi," tambah Unato yang pura-pura membawa pembicaraan tersebut seperti candaan dan Cagalli yang mendengarnya ingin langsung membentaknya atau protes.

Seiran sebenarnya memiliki posisi yang tepat berada di bawah Athha dan Sahaku, sayangnya pada pemilihan parlemen lalu Seiran kalah namun tetap mendapatkan kursi di parlemen. Kelihatannya kegagalan Seiran ada kaitannya dengan Blue Cosmos. Entah mengapa setelah kejadian itu keluarga Seiran menjadi agak kaku dengan keluarga lainnya apalagi kalau sudah menyangkut urusan kemiliteran dan pertahanan Negara.

Uzumi tersenyum mendengar perkataan Unato, "Kalau benar demikian, maka pemimpin ORB Union di masa depan sudah dapat kita tentukan dan pastikan. Saya harap Yuna dapat memenuhi harapan tersebut."

Cagalli langsung melihat ke arah Uzumi seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Uzumi. Pertama kalinya Cagalli merasa kecewa kepada Ayahnya. Di hadapan Cagalli, Yuna terlihat puas dengan senyum penuh kemenangan. Beberapa bulan kemudian, obrolan mengenai Cagalli sebagai calon pendamping Yuna dan Yuna sebagai calon pendamping Cagalli menjadi satu agenda khusus di parlemen. Uzumi sempat menjelaskan kalau hal tersebut untuk kebaikan Cagalli dan mungkin bisa berubah di masa depan. Cagalli yang mengetahui itu dari Myrna segera kabur dari kamarnya dan untuk pertama kalinya dia kabur ke tengah kota ORB Union, pada saat itu pula Cagalli mulai menunjukkan sisi memberontaknya.

Awalnya sederhana, Cagalli sudah membuka matanya. Debutante itu, membuka mata dan perasaan Cagalli. Dia merasa ada yang salah. Uzumi terlalu menutup-nutupi, terlalu menjaganya. Apalagi akhir-akhir ini Cagalli baru sadar kalau dia ternyata sering jadi bahan pembicaraan orang-orang di Manor bahkan di parlemen. Uzumi yang dengan mudahnya menyetujui Cagalli dijodohkan dengan Yuna jelas tidak masuk akal. Uzumi mengingkari janjinya. Janjinya untuk selalu ada untuk Cagalli. Apakah logis alasan itu? Logis untuk Cagalli karena artinya Uzumi akan selalu bertanya pada Cagalli dan tidak akan memaksakan Cagalli. Buktinya dulu Uzumi menerima diri Cagalli sebagai Natural tapi sekarang kenapa Uzumi memaksakan hal yang tidak bisa diprediksi seperti urusan jodoh.


Setelah debutante itu, nama Athha ternyata membuat napas Cagalli sesak, dia merasa kehilangan udara segar yang dia sering hirup. Kebebasannya dirampas oleh sistem monarki ORB Union, Cagalli benci hal itu. Semua cerita sejarah yang dia dengar tentang bangsawaan, semuanya tidak sesuai. Tidak ada senyum manis dan kata-kata manis karena itu semua hanya suatu kebohongan belaka demi kepentingan ningrat dan kasta. Cagalli tidak merasa senang dan bahagia seperti yang dibilang di film dokumenter yang sering dia tonton. Dia tersiksa, nama Athha tidak membuatnya senang sekarang. Nama Athha mengikatnya, mengekangnya, menutupinya. Karena dia Athha maka dia harus begini, karena dia Athha maka dia harus begitu, karena dia seorang putri maka dia harus melakukan ini itu dan bisa ini itu. Pertama kalinya Cagalli merasa nama Athha sebagai hal yang harus dia benci. Uzumi dulu tidak melarangnya macam-macam tapi kenapa sekarang malah dia banyak dibicarakan bahkan untuk topik yang tidak enak didengar. Dia tidak pantas menjadi Athha, dia terlalu kasar untuk ukuran anak perempuan, sampai ada yang mengatakan kalau kecewa karena Uzumi tidak tahu cara merawat, mendidik, dan menjaga anak gadis bahkan mempertanyakan kemiripan Cagalli dengan Uzumi yang secara fisik tidak ada mirip-miripnya dengan Uzumi khususnya untuk warna mata dan rambut.

Kebebasannya dirampas oleh Negara yang dikenal bebas dari perbedaan ras dan netral, sungguh lucu. Perlahan kecintaan Cagalli terhadap ORB Union pun dipertanyakan disamping nama Athha. Demi kebebasannya sesaat, Cagalli tidak segan untuk mencari cara untuk keluar dari Manor Athha dan pergi ke tengah kota. Baginya melihat ORB Union secara langsung dapat menghiburnya. Di samping itu, kalau memang benar dia adalah calon pemimpin ORB di masa depan maka mengenal kota dan masyarakatnya juga tugasnya dan itu yang dia lakukan. Dia masih akan mencoba mengemban tugas sebagai Athha walau dia sendiri sudah mulai tidak yakin.

Omongan-omongan para bangsawan ORB Union dan omongan para pekerja di Manor membuat gadis itu tidak bisa diam. Beralasan menghindari bertemu dengan Uzumi Cagalli jadi sering pergi keluar rumah mau dengan pengawal atau tidak. Dia berhasil mengelabui mereka kalaupun dia harus didampingi. Kebiasaan dia kabur justru menjadi rutinitas yang menarik untuknya. Dia bisa melihat ORB Union itu seperti apa. Hatinya memberontak kala itu, dia benci ORB Union kalau dia ingat dirinya sebagai Athha dan pandangan orang tentangnya tapi dia cinta ORB sebagai Cagalli yang bisa menghirup angin segar, dia senang melihat keharmonisan dan keseimbangan yang disajikan ORB Union untuknya. Tidak ada perselisihan, tidak ada pertengkaran. Lucu, pikir Cagalli. Ketika masyarakat hidup tenang penuh dengan canda tawa seakan-akan tidak ada apa-apa, orang-orang di sistem pemerintahan justru bertengkar mengenai kekuasaan, kasta, dan keningratan mereka. Mencoba saling mengungguli dan memenangkan suaranya. Entah Cagalli harus menyebut mereka para warga sipil bodoh atau naif, atau buta karena tidak melihatnya. Mereka hidup tenang dengan orang yang saling main politik dibelakangnya, sunggu suatu ironi. Masyarakat membayar pajak agar pemerintah berjalan, namun bukannya berjalan dengan baik mereka justru saling baku hantam mengenai kebijakan, kekuasaan, dan idealisme mereka. Kasihan sekali masyarakat ORB Union, mereka ditipu dan para politikus dengan bodohnya sudah mengkhianati amanah mereka hanya karena uang.

"Mengapa Ayahanda menutupinya?" tanya Cagalli. Saat itu Cagalli kecewa karena Uzumi menutupi berita pengiriman barang ekspor impor ke pihak Aliansi saat mereka mengalami krisis energi akibat N-Jammer.

"Menutupi apa?"

Cagalli langsung memukul meja, "Ayahanda bukankah sudah jelas kalau masyarakat tahu mengenai pemerintah membantu aliansi!? Bukankah Ayah juga tahu apa guna dari barang yang dikirimkan ORB Union terlebih lagi dari Morgenroete!"

Uzumi memijat pelan batang hidungnya. Sudah tidak aneh dan sudah jadi keseharian Uzumi menghadapi karakter Cagalli yang meledak-ledak. Dia tahu benar dari mana sifat itu berasal namun dia tahan untuk tidak salah bicara pada 'putri' sematawayangnya itu."Cagalli…."

"Aku tidak buta Ayahanda! Masyarakat pun juga! Beruntung media dapat menutupinya dengan baik karena Ayahanda yang memintanya tapi hingga kapan!? Kita belum tahu kapan rakyat akan memberontak dan-"

"CUKUP CAGALLI YULA ATHHA!"

Cagalli terdiam seketika setelah Uzumi membalasnya dengan nada suara yang sama dibarengi nama lengkapnya. Apabila Uzumi sudah bertindak demikian, maka itu artinya Cagalli dalam masalah besar dan Cagalli tahu dia akan menerima hukuman. Entah itu tidak boleh keluar kamar atau tidak boleh ikut Uzumi ke beberapa acara di ORB. Parahnya, bisa saja sebuah tamparan dia dapatkan. Namun saat itu Cagalli beruntung, Uzumi hanya berdiri dari kursinya dan me;ewati Cagalli.

"Ayah!"

"Ayah tahu apa yang Ayah lakukan, nak. Tapi sekarang mereka membutuhkan kita untuk mencoba bertahan hidup. Apakah kau mau membiarkan mereka mati? Kalau iya, maka kita lebih kejam daripada para Natural dan Coordinator yang sedang berseteru diluar sana," ucap Uzumi tanpa membalikkan badannya. Cagalli langsung terdiam. "Posisi Negara Netral itu sulit. Wajar kalau kau mempertanyakan posisi dan visi misi ORB namun kau akan belajar perlahan, tidak usah terburu-buru. Untuk sekarang yang Ayah lakukan hanya sebatas membantu karena kita sama-sama manusia dan tinggal di bumi dan langit yang sama."


Perasaan Cagalli saling beradu. Dia tidak paham apa yang harus dia pahami dan yakini. Dia terikat dengan Athha dan disaat yang sama dia bangga dan benci sebagai Athha. Selama ini yang membuat Cagalli senang adalah senyum masyarakat yang puas dengan kepemimpinan Uzumi. Wajah penuh senyum yang Cagalli lihat di taman, semangat hidup dalam menjalani hidup yang Cagalli lihat di tengah kota ORB semua nyata. Cagalli senang karenanya namun tidak senang karena drama yang ada dibalik senyum dan kebahagiaan itu.

Omongan mengenai 'liar'-nya anak Uzumi Nara Athha sudah jadi makanan sehari-hari Cagalli. Teguran dan amarah Uzumi tidak sekalipun membuat gadis itu jera. Apa yang Cagalli lakukan adalah bentuk ketidak sukaan karena bagi Cagalli Uzumi tidak konsisten. Di hadapan publik dia berkata A, namun dibelakang bisa jadi A kuadrat atau B atau bahkan berubah-ubah hingga Z. Mungkin aneh buat anak berumur dua belas tahun sudah mulai menyuarakan pendapatnya di bidang politik tapi Cagalli sudah dianggap dewasa, dia sudah melalui debutante yang menandakan dia berhak jadi anggota dari sosial, dari masyarakat.

"Cagalli-sama, kumohon ikutilah nasihat Uzumi-sama. Uzumi-sama hanya khawatir mengenai kondisi Cagalli-sama," tegur Myrna ketika dia sedang mendandani Cagalli untuk acara penggalangan dana lingkungan dan energi tahunan ORB Union.

"Hmmm? Nasihat yang mana?" tanya Cagalli yang malah bingung sendiri karena terlalu banyak teguran Uzumi yang dia dengar.

Myrna menghela napas, wajar kalau Cagalli lupa dan tidak peduli dengan nasihat Uzumi. Sudah terlalu banyak dan sudah tidak terhitung berapa kali Cagalli ditegur Uzumi khususnya setelah Cagalli melakukan debutante dan dijodohkan dengan Yuna. Myrna agak kecewa dan berpikir keras, kesalahan apa yang dia lakukan sehingga debutante Cagalli berakhir seperti ini. "Mengeni Yuna, mungkin ada baiknya Cagalli-sama mencoba mempertimbangkannya," ucap Myrna. "Siapa tahu Yuna-sama berubah. Tidak ada yang tahu," tambahnya.

Kali ini giliran Cagalli yang menghela napas. Dia melakukan kesalahan kemarin dengan tidak hadir di acara perpisahan Yuna yang mau sekolah ke luar negeri, dia 'pergi' ke Kota. Yuna mengadu ke Ayahnya dan berakhir Uzumi menegurnya karena Cagalli sudah bersikap tidak sopan. Ya memang sebaiknya dia datang untuk formalitas dan datang sebagai bagian dari Athha. "Myrna, sudah kubilang kalau Yuna itu aneh, ada yang tidak beres dengannya. Aku merasa ada yang dibuat-buat," ucap Cagalli. "Aku khawatir dia hanya tergiur oleh posisi dan kekuasaan. Ayahanda saja buta! Dia tidak melihatnya dengan jelas!"

Gerakan Myrna yang sedang menyisir rambut Cagalli terhenti. Myrna bisa paham apa yang Cagalli khawatirkan. Seiran juga memiliki reputasi yang kurang baik di parlemen. Dasar Cagalli dijodohkan dengan Yuna karena Cagalli umurnya tidak jauh berbeda dengan Yuna, mereka 'dekat' dari kecil, singkatnya Yuna dan Cagalli berasal dari lingkaran generasi yang sama. Namun Myrna paham mengapa Uzumi melakukannya. Dia hanya ingin Cagalli aman namun Uzumi juga mengharapkan kebahagiaan Cagalli. Dari perspektif Uzumi, Cagalli dapat 'menenangkan' Seiran dan 'mengendalikannya', Myrna hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk Cagalli.

"Justru karena itu, sekarang ada baiknya Cagalli-sama melihat sisi positifnya."

"Apa?"

"Mungkin dengan bersama Cagalli justru Cagalli bisa mengubah pola pikir Yuna dan keluarga Seiran."

"Mereka sama kolotnya seperti Ayahanda! Mempertahankan tradisi lama yang kaku!"

"Tapi Cagalli-sama juga bagian dari tradisi itu, Anda sudah melakukan banyak kegiatan yang berkaitan dengan tradisi ORB yang Anda sebut kolot itu," tegur Myrna.

"Intinya?"

"Sekarang sebagai calon istri Seiran, ada baiknya Cagalli-sama juga belajar bagaimana menjadi calon menantu yang baik," Myrna sengaja memakai kata menantu daripada calon istri atau calon pendamping hidup karena pasti akan menekan tombol emosi Cagalli, "Masih untung Seiran, Myrna tidak bisa membayangkan Lindsay atau Nagada yang jelas-jelas mengincar Cagalli-sama untuk kedudukan dan kepentingan mereka."

Bulu kuduk Cagalli berdiri, dia merinding membayangkannya. Setelah Yuna pergi, Waid Rabby dan Vanfelt Ria menunjukkan gelagat yang tidak biasa. Mereka tiba-tiba mendekati Cagalli. Mereka sama seperti Yuna, terlalu berdelusi dan menyebalkan seakan-akan Cagalli adalah satu-satunya wanita yang ada di ORB. Padahal banyak wanita diluar sana yang dengan senang hati mau jadi calon istri mereka apalagi kalau dibilang mereka Bangsawan ORB Union.

Masyarakat tidak tahu kalau para pemimpin Negara itu busuk. Mereka memiliki kepentingan sendiri bahkan sampai menjodohkan anak atau penerus mereka. Cagalli ingin muntah. Salah satu tradisi ORB yang Cagalli benci, 'perjodohan demi masa depan ORB' embel-embelnya seperti itu. Dia lalu melihat kalung Haumea yang ada di kotak perhiasannya. Cagalli ingat kalau dia bersumpah setia pada Haumea untuk tanah dan bumi ORB Union. Debutante Cagalli sekaligus penarikan sumpah Cagalli sebagai bagian dari sistem sosial ORB dan sumpah setia pada Dewi Haumea.

"Paman Homura pun tidak banyak membantu, dia terlalu pasrah dengan keputusan Ayahanda!" ucap Cagalli frustasi.

Myrna hanya menghela napas, "Semua demi Cagalli-sama," ucapnya.

"Oh ayolah Myrna, apakah kau tidak ingin melihatku berbahagia? Dengan orang yang menjadi pilihanku?" ucap Cagalli menantang.

"Tentu saja Myrna ingin Cagalli-sama bahagia. Namun memangnya ada pemuda yang menarik perhatian Cagalli-sama?" Myrna menantang balik Cagalli. Cagalli selalu menghindar di acara pertemuan yang berkaitan dengan jodoh atau pasangan hidup. Tidak sedikit Uzumi dan Cagalli menghadiri omiai karena banyak yang khawatir jodoh untuk Cagalli karena sikap dan sifat Cagalli yang tidak seperti anak gadis pada umumnya.

Cagalli sadar kalau dia mengucapkan petanyaan yang salah, "Euh…untuk sekarang sih tidak," jawabnya dan pasti berakhir dengan kalimat positif dari Myrna untuk Cagalli ikhlas dan menerima nasibnya untuk dijodohkan.

"Nah! Maka dari itu, Myrna akan terus menemani Cagalli-sama untuk menjadi Lady yang baik hingga Cagalli-sama bertemu dengan sang pujaan hati!" ucapnya riang. "Baik, sekarang daripada Myrna mengadukan pada Uzumi-sama kalau Cagalli-sama hendak 'pergi' ke Kota lagi kemarin, cepat kenakan gaun ini dan sepatu hak tinggi ini. Be a nice lady for tonight."

"OH YANG BENAR SAJA!" seru Cagalli yang berakhir ditegur Myrna karena kata-katanya unlady like. Setidaknya bukan kata setuju mengenai perjodohan yang keluar dari mulut pengasuhnya itu. Dan inti teguran Myrna sebenarnya lebih ke arah serampangannya Cagalli dalam bertindak.

Panggilan 'putri' pun menjadi suatu mimpi buruk untuk Cagalli. Dia tidak suka dan merasa tidka nyaman, ketika orang-orang memanggilnya seperti itu. Terlebih lagi karena tujuan mereka memanggil Cagalli 'putri', bisa jadi mereka memiliki niat terselubung sehingga menjadi bermulut manis di depan Cagalli. Sungguh memuakkan. Cagalli tidak suka apabila ada orang yang memanfaatkan situasi dan posisi seseorang. Apakah Athha memang sekuat itu, sehingga harus ada yang menjilat dan bermuka dua? Cagalli tidak tahu. Miris memang, debutante Cagalli berakhir dengan Cagalli yang merasa ada yang 'ganjil' dengan dirinya sebagai Athha. Dia bangga namun benci nama itu. Dia merasa aneh dengan orang-orang yang memanggilnya putri, membantunya, dan melayaninya. Dia bingung apakah dia benar-benar diberkati dan direstui oleh Dewi Haumea? Apakah do'anya kurang khusyuk saat itu?


Ketika mengjinjakkan kakinya di Morgenroete pertama kali, Cagalli melihat sistem pertahanan ORB secara keseluruhan. Mobile Suit, suatu teknologi yang masih dalam tahap pengembagan dan ORB masih dalam tahap awal sekali. Cagalli merasa takjub. Namun, setelah dia tahu kalau teknologi itu diikuti dengan adanya 'pembicaraan' dengan pihak Earth Alliance atau Zodiac Alliances, Cagalli kembali mempertanyakan 'apa yang sebenarnya Ayahanda rencanakan?'

"Uzumi-sama hanya ingin yang terbaik untuk ORB Cagalli-hime, Anda hanya perlu percaya," ucap Kisaka saat Cagalli duduk di ruang santai Morgenroete. Cagalli sedang 'kabur' saat itu. Karena keluarga Lindsay meminta Cagalli untuk bertemu dengan putranya Vanfelt. Kebetulan sedang ada uji coba untuk OS Mobile Suit yang sedang dikembangkan.

"Tapi, bukankah Ame no Mihashira merupakan pabrik perakitan utama, Morgenroete lebih kepada pengendali dan pengumpulan informasi terkait? Aku merasa ada yang aneh dengan Ayahanda tiba-tiba fokus pada pengembangan Mobile Suit," ucap Cagalli. "Jangan panggil aku dengan embel-embel itu, hanya ada kita berdua disini," tambahnya.

Mungkin terdengar aneh Cagalli yang baru berusia dua belas tahun sudah harus pergi melihat sistem keamanan Negara tapi hal itu terpaksa Uzumi lakukan karena diam-diam pihak PLANTs khususnya Zodiac Alliances yang sudah mengganti nama menjadi Zodiac Alliances of Freedom Treaty – ZAFT – sejak dua tahun yang lalu, mengembangkan Mobile Suit dan bumi mengalami krisi energi setelah PLANTs memutuskan sumber energi untuk bumi. Hal yang menyebabkan Uzumi menjadi sangat sibuk dan ditambah juga menyukseskan proyek di pabrik satunya lagi, Ame no Mihashira.

Kisaka hanya diam, memperhatikan singa kecil yang sepertinya sedang larut dalam dunianya sendiri. Kisaka ditugaskan Uzumi untuk membimbing Cagalli atau menemani Cagalli kalau gadis itu sedang ke Morgenroete atau ke Defense Headquarters. Tempat itu bukan tempat main untuk Cagalli, namun kepedulian Cagalli terhadap kemanan Negara patut diacungi jempol. Walau dia selalu mengelak atau menegur orang yang memanggilnya 'putri'.

"Ne, Kisaka…apakah perang sekejam itu?" tanya Cagalli tiba-tiba. Dengan ZAFT merilis Mobile Suit ZGMF-1017 GINN, Cagalli menganggap perang menjadi hal yang tidak dapat disepelekan. Namun apakah dia perlu memperlajarinya? Perlu mengetahuinya? Perang tidak ada di daftar tugas seorang putri seingat Cagalli. Cagalli lalu melihat pria yang berdiri disebelahnya itu. "Dirimu berasal dari Tassil bukan? Apakah perang disana sekejam itu?"

Kisaka menutup matanya. Dia ingat sekali kalau hidupnya sebelum di ORB bukanlah suatu kehidupan yang menyenangkan. Bahkan tanpa adanya ZAFT pun mereka sudah harus berjuang untuk hidup. PErang saudara ataupun hanya keributan antar suku bisa menjadi suatu hal yang membahayakan kehidupan mereka. "Seingat saya, kondisi Tassil saat itu bukanlah suatu kenangan indah."

"Apakah kau merasa aman di ORB?"

"Tidak juga. Perang dan konflik bisa terjadi kapan saja."

"Mengapa kau memilih ORB? Apakah kau ingin kembali ke Tassil?"

"Uzumi-sama sudah banyak membantuku dan mungkin saya akan kembali ke Tassil namun tidak dalam waktu dekat ini," jawab Kisaka.

"Hmmmm….," Cagalli bergumam. DIa belum terlalu paham dengan situasi Kisaka namun informasi tentang ZAFT menguasai area di Afrika karena adanya pangkalan Gibraltar sudah bukan rahasia umum. Entah konflik apa yang terjadi disana. Kelihatannya lebih rumit.

Namun, dalam waktu dekat ini konflik yang sedang terjadi adalah mengenai gen, Natural dan Coordinator. Sudah banyak berita yang menayangkan kondisi perang antara Earth Alliances dan ZAFT. Tinggal menunggu waktu untuk ORB menjadi pihak yang menarik atau ditarik ke konflik itu. Tapi melihat situasi ORB sekarang, mengapa ORB Union tidak melakukan apa-apa? Apa karena mereka netral sehingga mereka hanya perlu mengamankan diri? Cagalli kembali kecewa dan curiga dengan sikap tenang Uzumi. Kalau memang mereka mengalami krisis ada baiknya mereka mempersiapkan diri. Seperti kata Kisaka, perang dan konflik dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.


Cagalli pun memutuskan untuk mengikuti pendidikan dasar militer sebagai bagian dari ORB National Defense Force. Umurnya kala itu empat belas tahun dan dia baru saja menyelesaikan pendidikan formalnya sebagai bangsawan. Walau dia sejak berumur sepuluh tahun sudah diajarkan cara berpolitik dan juga mengenai sejarah dunia beserta apa yang terjadi di dalamnya. Pendidikan militer memberikan pengalaman baru pada Cagalli. Berada di bawah arahan langsung Todaka, Kisaka, dan juga Chief Engineering Erica Simmons, dia dipertemukan dan berkenalan dengan tiga orang gadis sepantarannya. Tiga orang gadis khusus binaan Erica untuk Astray Project dan merupakan test pilot untuk Mobile Suit original ORB Union, M-1 Astray.

Mayura Labbatt, Asagi Caldwell, dan Juri Wu Nien, tiga gadis test pilot yang sudah seperti teman, sahabat, kakak, dan adik bagi Cagalli. Pertama kalinya Cagalli memiliki lingkaran khusus perempuan. Tapi karena sikap kaku Cagalli, keras kepala, dan idealisnya gadis itu membuat Cagalli sering digoda oleh mereka, termasuk Erica. Uzumi menitipkan Cagalli pada Erica karena Uzumi yakin Erica bisa memberikan arahan yang bagus untuk Cagalli dan Cagalli bisa belajar banyak darinya.

Erica Simmons yang ditugaskan oleh Uzumi, menjadi sosok mentor, kakak, dan ibu untuk Cagalli. Walau Cagalli sebal dengan sikap Erica yang terlalu santai, senang menggodanya, dan tegas, Erica adalah salah satu orang yang bisa dan tahu bagaimana menyikapi sikap Cagalli. Erica sendiri sebenarnya cukup terkejut dengan skill Cagalli sebagai seorang Natural. Tidak terlalu lemah tapi tidak terlalu kuat, namun kemampuan adaptasi Cagalli dan bagaimana dia bisa langsung memahami sistem OS Astray termasuk baik bahkan di atas trio test pilot Astray. Untuk kemampuan seseorang yang baru mendapatkan pendidikan dasar militer dan baru menyentuh Mobile Suit, Cagalli tergolong bagus karena yang turun menyentuh Mobile Suit selain Cagalli adalah si kembar Sahaku yang wajar karena mereka memegang kendali Ame no Mihashira dan Coordinator serta rumornya bangsawan Lindsay juga turun ke ranah militer. Selain mereka berempat, tidak ada lagi keluarga bangsawan ORB yang turun langsung menggunakan Mobile Suit.

Merasa banyak diperhatikan dan dikomentari oleh pihak di Morgenroete menjadi makanan sehari-hari Cagalli. Hal itu dapat dimaklumi, turunnya Cagalli ke militer tidak mulus, Uzumi sempat mempertanyakan tapi berusaha memahami pola pikir Cagalli yang memutuskan untuk mendalami politik, hukum, dan pertahanan Negara. Myrna yang sempat histeris karena khawatir Cagalli menjadi semakin liar mengingat gadis berambut pirang itu sering memberontak. Ditambah, pendidikan home schooling dan pendidikan militer berbeda. Di samping itu, turunnya Cagalli ke ranah militer karena dia kecewa dengan Uzumi yang seakan-akan main aman dan hanya melihat kepentingan yang menguntungkan untuk dirinya sendiri. Bagi Cagalli, Uzumi sudah melanggar apa yang menjadi visi misi dari ORB Union sebagai Negara Netral. Athha tidak harusnya bersikap seperti itu.

Memegang, mengacungkan, dan menembakkan senjata api menjadi hal yang baru untuk Cagalli. Namun dia tidak tahu tanggung jawab yang ditanggung dari memegang senjata apai itu. Cagalli hanya memperoleh pendidikan itu seperti formalitas. Dia tidak pernah terjun langsung ke medan perang. Sempat dia ingin melakukan kegiatan pengabdian Negara dengan maju ke garis pertahanan depan ORB Union, seketika Myrna histeris kembali dan Uzumi tidak mengizinkannya. Alasan dari Uzumi sederhana, Cagalli belum cukup umur untuk ada di garis depan. Padahal alasan sebenarnya karena aturan mengenai munculnya anak Bangsawan di luar dan menyebutkan identitasnya.


Menjelang ulang tahunnya yang ke enam belas Cagalli bertemu dengan banyak orang yang tidak dia duga. Di saat itu pula dia tahu kalau luka itu tidak hanya sebatas rasa sakit di fisik dan darah. Saat itu dia marah pada Uzumi, dia membenci Uzumi. Cagalli marah karena kebijakan Uzumi yang ternyata berniat untuk mengambil keuntungan dari proyek yang dilakukan oleh Earth Alliance di Heliopolis tanpa mempedulikan kalau hal itu akan menimbulkan peperangan ZAFT – Earth Alliance menjadi lebih parah dari sebelumnya, termasuk berbohong kepada Cagalli ketika Cagalli menanyakannya dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja dan ORB tidak akan memihak. N-Jammer dijatuhkan ke bumi dan menyebabkan sumber daya alam rusak dan komunikasi kacau di saat-saat tertentu. ORB memang memiliki satelit komunikasi sendiri berkat Ame no Mihashira dan kerajaan Skandinavia tapi ORB tidak melakukan apa-apa terhadap N-Jammer yang jelas-jelas merusak bumi. Tidak hanya itu, Uzumi juga menutupi hal-hal tersebut dari Cagalli.

ORB Union menjadi bahan omongan. Banyak yang menyalahkan ORB Union. Cagalli melihatnya dengan jelas dan Cagalli tidak bisa tinggal diam. Di awal dia hendak membuktikan dugaan itu dengan mendatangi Heliopolis. Dugaannya benar, Ayahnya menipunya dan mengkhianati kepercayaannya. Uzumi telah mengadu kedua kubu tanpa mempedulikan ORB. Sialnya dia terjebak dalam perang antara Earth Alliances dan ZAFT yang terjadi. Cagalli beruntung karena dia ditolong seseorang namun dia merutuki Dewi Hauema karena tidak melindunginya dan Cagalli merasa sebagai Athha dia tidak bisa apa-apa, dia frustasi. Selama berada di dalam safety pod dia hanya bisa merapal kata-kata bahwa dia akan selamat, dia baik-baik saja sambil tanpa dia sadari rasa bencinya terhadap Athha membesar.

Teguran Uzumi, teguran Myrna, teguran Erica, dan teguran Kisaka tidak dia indahkan setelah gadis itu berhasil kembali dengan selamat dari Heliopolis. Padahal sungguh beruntung dia masih diberi kesempatan hidup. Tapi hal itu tidak menghentikan sisi 'pemberontak' Cagalli. Dia meminta Kisaka untuk membawanya ke Tassil. Dia ingin tahu apa itu perang, apa itu garis depan perang, dia Cagalli Yula Athha ingin berkontribusi dalam perang karena ORB Union hanya main aman setelah kejadian Heliopolis. Kisaka memenuhi permintaan Cagalli karena dia juga ingin berjuang untuk tanah kelahirannya, walau dia tahu Cagalli masih sangat hijau saat namun Cagalli tidak ingin mengakuinya, Kisaka hanya berharap dengan perginya ke Tassil bisa menjadi suatu pembelajaran untuk singa kecil ini.

Baru beberapa bulan di Tassil, Cagalli mendapat banyak pengalaman baru. Baik dari segi kehidupan masyarakat di Tassil dan juga perang yang terjadi. Pengalaman yang paling mengejutkan Cagalli adalah, dia melihat garis depan perang dengan mata dan kepalanya sendiri. Hal yang tidak dia alami ketika dia mengambil pendidikan dasar militer. Dia juga pertama kalinya menembak orang dan mengambil nyawa orang. Saat itu juga Cagalli tersadar kalau dia tidak bisa pulang, dia tidak bisa kembali ke ORB. Cagalli takut, frustasi, dan tidak dapat menahan dirinya untuk berteriak. Dia sadar kalau dia ada di medan perang, tepat dimana semua orang yang terlibat di dalamnya mengadu nasib dan mengadu nyawa.

"Aku menembaknya…?" tanya Cagalli yang terdiam melihat mayat tentara ZAFT dihadapannya. Tatapan dan pikirann Cagalli kosong. Matanya menatap lurus orang yang sudah tidak bernyawa itu dan darah yang membasahi tubuhnya.

"CAGALLI!"

Kisaka langsung menarik Cagalli. Gadis itu masih berdiri di tengah medan perang dan dia bisa menjadi sasaran empuk. Kisaka ingin menegurnya tapi mengingat kondisi kejiwaan Cagall, Kisaka bisa wajar. Hal ini tidak mudah untuk Cagalli. Singan kecil ini masih belum menumbuhkan taring dan cakarnya, hidup Cagalli masih seperti putri di Negeri Dongeng karena buktinya dia sekarang ketakutan. Setelahnya Cagalli mengalami rasa mual dan shock yang luar biasa. Dia tidak henti-hentinya muntah mengeluarkan isi perutnya setiap mengingat orang yang sudah dia ambil nyawanya. Cagalli sudah melakukan suatu dosa, dia sudah tidak suci lagi. Dewi Haumea tidak melindungi dan memberkatinya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Kisaka.

"Ne, Kisaka…apakah perang sekejam ini?" tanya Cagalli dengan pertanyaan yang sama yang pernah dia tanyakan. Cagalli sedang duduk sambil membenamkan wajahnya.

Kisaka menghela napas, Kisaka tidak ingin Cagalli mengalami hal seperti ini. Namun Cagalli lah yang meminta dengan beberapa syarat tentunya. Kisaka dengan sadar dan jelas menjadi penyebab Cagalli seperti sekarang dan mau tidak mau dia harus bertanggung jawab walau nyawa taruhannya. "Iya," jawab Kisaka. Cagalli tidak suka teguran panjang, oleh karena itu dia tidak berkata macam-macam.

"Kau baik-baik saja?"

"Sedang mencoba, tapi kuyakin akan baik-baik saja," ucap Cagalli.

Kisaka masih bisa melihat tangan gadis itu gemetar dan badannya dingin ketika dia sentuh, "Kalau kau menangis maka malam ini adalah saatnya. Karena ketika kau turun ke medan perang air mata itu tidak akan membantumu apa-apa," ucap Kisaka.

Hampir dua bulan dia baru terbiasa, seminggu pertama dia tidak mau makan dan tidak bisa tidur dengan tenang. Terbiasa dengan apa itu perang, apa itu nyawa. Darah, tangis, jeritan, amarah, dan kekesalan menjadi pemandangan yang baru untuknya. Padahal Cagalli sudah sering melihatnya di berita di televisi, namun ternyata sensasinya berbeda apabila kau melihat langsung. Dia terlalu naif sebagai Athha, dia masih hijau. Dia yang selama ini hanya melihat perang dari layar kaca, dia yang selama ini mendengar tentang perang dari diskusi politik Ayahnya yang menurut Cagalli bukan solusi karena area perang ada di luar ketika mereka saling beradu senjata, bukan beradu mulut. Luka di tubuhnya akibat perang pertama kali dia peroleh kala itu dan dia tidak peduli apabila terkena teguran Myrna apabila di tubuhnya ada bekas luka.

Namun luka yang Cagalli terima tidak hanya yang tertorehkan ditubuhnya. Dia juga membuat hatinya terluka, kawan perjuangannya Ahmed mati di medan perang. Ahmed bukan siapa-siapa, dia hanya pemuda desa yang berbaik hati menemani keseharian Cagalli di Tassil dan termasuk anggota yang paling muda sama dengan Cagalli. Apakah Cagalli salah? Tidak, dia tidak mengakuinya. Harga dirinya terlalu tinggi. Dia menyalahkan Kira. Dia menganggap Archangel yang pada saat itu terdampar di padang pasir tidak memahami perjuangan para gerilyawan bahkan menganggap sabaku no tora yang menyerang kota namun tetap membiarkan warganya hidup adalah hal yang salah. Kira pun menamparnya, menyadarkannya kalau dia terlalu naif terlalu terbawa perasaan. Intinya perjuangan Cagalli hanya setengah-setengah. Kalau dipikir mungkin Cagalli memang naif, dia dengan bangganya berhasil menaklukkan MS BuCue milik ZAFT tapi ternyata serangan balik dari sabaku no tora tidak main-main.

Kisaka yang melihat hal itu membiarkannya. Dia membiarkan singa kecil itu menambah pengalamannya karena itulah yang dicari oleh Cagalli. Cagalli ingin tahu seperti apakah perang itu. Cagalli jugalah yang meminta Kisaka untuk tidak melihat posisinya sebagai Athha. Perlakukan dia sebagai Cagalli, Cagalli Yula. Gadis itu sedang belajar mengenai arti kehidupan. Belajar mengenai apa yang ada di panggung terdepan karena dibaliknya adalah adu mulut yang tidak masuk akal. Kisaka wajar dengan sikap Cagalli karena di ORB, Uzumi memberikan aturan khusus untuk anak-anak bangsawan dan Uzumi benar-benar mengamankan Cagalli semua tahu itu. Sekarang, selama Cagalli tidak membeberkan identitasnya dia tidak mempermasalahkannya ditambah, dibalik sikap seenaknya, ceroboh, nekat, dan kekanak-kanakannya itu Kisaka mempercayai Cagalli seperti Uzumi mempercayai Cagalli.


Kira Yamato, pemuda yang menarik perhatian Cagalli. Cagalli penasaran dengan pemuda yang terlalu baik dan terlalu lembut itu. Kira lah yang menolongnya di Heliopolis dan Cagalli berhutang budi padanya, tapi pertemuan kedua mereka tidak mulus. Cagalli terkejut kalau ternyata pemuda itu menjadi pilot MS dan berada di pihak Earth Alliance, padahal Cagalli tahu Kira hanyalah seorang warga sipil yang sempat menolongnya dan mengorbankan nyawa untuknya. Tapi, Cagalli merasa tidak dapat melepas perhatiannya dari pemuda itu.

Penasaran sekaligus khawatir pada Kira, tapi akhirnya dia bisa paham maksud dari Kira dan paham perasaan seorang Coordinator yang berusaha melindungi orang sekitarnya khususnya Natural. Pola pikir yang bagus bagi Cagalli karena kalau menggunakan prinsip yang kuat melindungi yang lemah itulah yang dilakukan Kira. Setelah Shahib meminta Cagalli untuk kembali ke Negaranya, dia jadi banyak memperhatikan Kira. Cagalli merasa ada yang menarik dirinya sehingga dia tidak bisa melepaskan Kira begitu saja.

Selama bersama dengan Archangel, Cagalli belum dapat menarik kesimpulan apakah yang dia peroleh dengan pergi keluar dari ORB Union. Baginya bumi juga bagian dari tanggung jawab ORB, ORB seharusnya mengambil tindakan. Bukan membiarkan dan mengambil keuntungan sendiri. Oleh karena itu dia memberontak dan kabur, sebuah tindakan yang sangat gegabah tapi bagi Cagalli itu adalah keputusan yang tepat, tidak peduli sudah berapa banyak luka, memar, dan lebam yang ada di tubuhnya saat itu.

Sekali lagi tindakan gegabahnya merepotkan orang sekitarnya dengan terdampar di sebuah pulau tidak berpenghuni dan sekarang dia malah menambah masalah dengan tentara ZAFT. Cagalli menganggap ZAFT sudah menginvasi bumi, dengan menjatuhkan dan memasangkan N-Jammer Canceller pada kejadian April Fool's Crisis menyebabkan krisis energi di bumi dan beberapa daerah menjadi rusak dan hancur. Sayangnya, tentara ZAFT yang dia temui berbeda, dia memiliki pola pikirnya sendiri begitu halnya dengan Cagalli. Mereka memilki alasan untuk apa yang mereka perjuangkan di medan perang ini. Perdebatan dan adu mulut tidak terhindarkan tapi pemuda ini masih memiliki sikap, dia tidak membunuh Cagalli. Dia membiarkan Cagalli hidup bahkan berbagi ransum makanan yang jelas jumlahnya terbatas.

Awalnya Cagalli segan tapi dia harus bertahan hidup dan itulah yang ditawarkan pemuda tentara ZAFT itu. Dia memberikan Cagalli kesempatan untuk hidup. Walau Cagalli sebal karena sikap baik pemuda itu baru kelihatan ketika dia tahu Cagalli adalah perempuan. Sayangnya, walau pemuda itu sudah berbuat baik untuknya tetap bagi Cagalli apa yang dilakukan pemuda itu salah. Dia menegaskan kalau pemuda itu tetap menjadi bagian yang mengancam bumi, mengancam orang-orang di bumi. Pemuda itu pun menegaskan kalau Cagalli tetap memaksanya dengan kekerasan maka dia juga tidak segan untuk membalasnya dengan kekerasan termasuk membunuhnya, karena yang diuntungkan pada saat itu adalah pemuda itu.

Cagalli tahu hal itu dia tidak berkesampatan untuk menang, tapi dia harus bertindak. Kata-kata Sabaku no Tora kembali menghantuinya, bahwa karena mereka berada di medan perang maka hubungan mereka pasti menjadi lawan selama mereka berada di MS atau memegang senjata itu dan pasti akan ada salah satu pihak yang dikalahkan, karena ini adalah medan perang. Tersadar arti dari kalimat tersebut, Cagalli kesal dan frustasi. Dia ternyata terlalu naif dan terlalu lugu dengan dunianya. Dia terlalu gegabah dan sekarang dia menghadapi pilihan hidup atau mati. Terbalut oleh kekesalan dan perasaan frustasi, dia lalu melemparkan senjata api yang dia ambil dan untuk kesekian kalinya dia melukai seseorang. Namun kali ini berbeda, dia melukai orang yang justru ternyata melindunginya sehingga untuk pertama kalinya Cagalli mengobati luka pemuda itu. Dia merasa bertanggung jawab. Di akhir diapun mendapat sebuah pandangan lain mengenai pihak ZAFT, bahwa mereka sama-sama orang yang memiliki tujuan yang sama yaitu ingin melindungi dan mendapatkan perdamaian, yang dia ketahui dari pemuda bernama Athrun.


Perjalanan ke Heliopolis, dilanjutkan pengalaman di Tassil, kemudian kembali lagi ke ORB Union membuka mata Cagalli. Walau dia berakhir kembali mendapatkan tamparan dari Uzumi karena kembali membuatnya khawatir, padahal Uzumi yakin kalau Kisaka bisa menjaga Cagalli baik-baik. Uzumi pun menegaskan kalau Cagalli harus membuka matanya, tidak selamanya semua harus diselesaikan dengan maju ke medan perang. Strategi perang tidak hanya dimainkan di depan tapi juga di baliknya. Karena apabila Cagalli tetap bersikeras tanpa mempertimbangkan apa yang menyebabkan perang itu maka hanya akan menghasilkan sebuah lingkaran setan. Membunuh karena dibunuh, dibunuh karena membunuh hal itulah yang akhirnya disampaikan oleh Uzumi dan menyadarkan Cagalli. Intinya kekuatan apabila dibalas dengan kekuatan bukanlah suatu jawaban yang baik. Untuk pertama kalinya Cagalli dapat meredam rasa amarahnya.

Dia paham maksud Uzumi. "Pelajarilah apa yang menjadi sumber perang itu," ucap Uzumi. Cagalli pun sadar apa yang dikerjakan Uzumi. Uzumi berusaha untuk menahan perang tidak terjadi dengan bermain aman karena banyak yang Uzumi pertaruhkan untuk ORB. Uzumi ingin rakyat sejahtera namun disaat yang sama dia tidak bisa melangkah terang-terangan untuk memperlihatkan posisi ORB di medan perang. Memang cara yang Uzumi gunaka jahat. Dia mengambil dan mengfasilitasi dua kubu yang saling berseteru namun itu adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Uzumi seperti kancil dalam cerita rakyat Asia Tenggara yang mengelabui musuh-musuhnya untuk kepentingannya sendiri, namun Uzumi bukanlah kancil dia adalah singa. Lions don't have to roar. There is power in silence, confidence, and persistence, mungkin itu definisi singa untuk Uzumi.

Dia akhirnya berusaha untuk memikirkan baik-baik perkataan Uzumi dan memilih jalan yang dia yakini. Apa yang Uzumi katakan benar. Kalau Cagalli ingin menghentikan perang sebaiknya dia pelajari apa yang menjadi sumber perang itu. Apa yang ada di balik layar medan perang itu dan itulah yang akan Cagalli lakukan. Sebagai Athha. Setelah sekian lama akhirnya Cagalli bangga kembali menyandang dan memegang nama Athha. Cagalli merasa ceritanya sudah selesai dan dibayar dengan berpisah dari Kira Yamato.

Uzumi mengizinkan Cagalli untuk bertemu dengan Kira dimana dia bertemu dengan keluarga Yamato pertama kali. Cagalli melihat Haruma dan Caridad Yamato. Tidak ada yang mirip dari Kira dan kedua orang tuanya namun Cagalli tidak ingin pusing itu artinya Kira adalah first generation Coordinator di keluarga Yamato. Alasan mengapa Kira menjadi Coordinator bukanlah hal yang perlu Cagalli ketahui, karena yang harus dia lakukan sekarang adalah memberitahu Kira karena Cagalli tahu, Kira pasti sebenarnya ingin bertemu dengan mereka. Sebelum Cagalli berlari ke arah Archangel, Cagalli melihat wajah Caridad yang terlihat penuh penyesalan, wajahnya seperti ingin menangis tapi Cagalli tidak tahu kenapa.

Tapi, ketika Kira berkata mengapa orang tuanya menjadikan dia Coordinator, Cagalli bisa paham. Dia juga dulu berada di posisi tersebut. Mempertanyakan dirinya yang seorang Natural serta apakah dia pantas menyandang nama Athha setelah sikap Ayahnya yang ternyata tidak konsisten dengan situasi dunia sekarang. Kira pasti banyak pertanyaan untuk orang tuanya dan Cagalli tahu, tapi Cagalli sudah berdamai dengan hal itu. Tanpa pikir panjang Cagalli langsung memeluk Kira. Pelukan terakhir yang dia harap bisa menenangkan dan tidak menambah luka hati pemuda itu. Pelukan yang berarti Kira tidak perlu khawatir dengan identitasnya karena Cagalli akan selalu menerimanya dan menyambutnya.

Walau Cagalli harus berpisah dari Kira, dia tidak menyesal. Mungkin memang perjalanannya untuk menemukan jalan perangnya harus berakhir di sini, di ORB Union dengan dibantu oleh Kira. Semuanya ditutup dengan pelukan penuh kehangatan Cagalli kepada Kira, Cagalli berpesan kepada Kira untuk berhati-hati dan menjaga dirinya.


Pertemuan Cagalli dengan Athrun untuk kedua kalinya bukan suatu pertemuan yang menyenangkan. Walau tidak seperti pertemuan mereka yang pertama dan berakhir terluka, namun mereka berdua sama-sama terluka tidak menyangka kalau dia akan kembali mengacungkan pistol kepada Athrun. Namun, situasi sekarang berbeda, walau Athrun terluka lagi, ada hal yang harus Cagalli tanyakan yaitu mengenai Kira. Dia tidak ada henti-hentinya mengkhawatirkan Kira ketika mendapat info dari Murrue bahkan sampai dengan khusyu memanjatkan do'a pada Haumea untuk keselamatan pemuda itu. Kalaupun Sang Dewi tidak merestui apa yang Cagalli lakukan selama ini, Cagalli memhon dengan sangat untuk satu hal ini. Dia sangat berharap untuk keselamatan Kira.

Ketika Athrun mengatakan kalau dia membunuh Kira, Cagalli merasa hatinya tersayat sedangkan Athrun mengatakan hal tersebut dengan santai dan dingin. Cagalli ingin menembaknya, tapi apakah membunuh Athrun adalah solusi yang tepat? Tangannya bergetar, hatinya sedih, dan air mata tidak bisa dia bending. Namun Cagalli Kembali terkejut ketika Athrun mengatakan kalau dia dan Kira adalah sahabat. Athrun, tidak hanya karena fisiknya yang terluka tapi ternyata hatinya juga terluka dan itu diakibatkan karena kematian Kira. Cagalli terluka tapi Athrun lebih terluka, dia kehilangan dan membunuh sahabatnya dan Cagalli bisa dengan jelas melihat penyesalan di diri Athrun.

"Seseorang dibunuh karena membunuh seseorang, kemudian dia dibunuh karena membunuh. Apakah pada akhirnya hal itu akan membawa pada perdamaian!?"

Tangis serta jeritan Cagalli pada Athrun menyadarkan Cagalli akan perkataan Uzumi. Sekarang dia sangat paham apa yang dimaksud dengan Uzumi bahwa perang selalu tidak harus maju ke medan perang. Dia sekarang melihat buktinya, dari kejadian Athrun dan juga Kira. Suatu pikiran yang bodoh dan aneh apabila Athrun mengatakan karena dia sahabatku dan dia sudah membunuh rekannya, maka yang berhak untuk membunuhnya adalah Athrun, sungguh suatu pemikiran yang bodoh bagi Cagalli.

Namun nasi sudah menjadi bubur, Kira sudah tidak ada dan hanya meninggalkan kesedihan yang entah kapan bisa hilang dari hati Cagalli dan juga Athrun. Cagalli menangis. Cagalli terluka. Tapi mengapa dia justru sekarang tidak bisa melepaskan pikirannya dari Athrun? Pemuda itu terluka baik fisik maupun batin. Apakah Cagalli dengan mudahnya memaafkan dia padahal dia baru saja mengakui kalau dia membunuh Kira dan membuat Cagalli sedih. Apa karena Athrun juga menangis? Apa karena Athrun menyesal? Cagalli tidak tahu tapi yang pasti, dia tidak bisa membawa tentara ZAFT ke ORB karena ZAFT sudah mengancam ORB dengan kejadian penyerangan Heliopolis dan ketika menyerang Archangel di perbatasan laut ORB, oh atau mungkin sudah jauh sebelum itu.

Tapi tatapan kosong pemuda itu mengkhawatirkan Cagalli. Cagalli seperti tidak suka melihat Athrun berada di kondisi tersebut. Mereka hanya anak-anak berusia enam belas tahun yang seharusnya tidak merasakan seram dan sedihnya karena perang. Athrun juga manusia, dia pasti sangat berduka sekarang. Ibunya meninggal di Bloody's Valentine karena berada di Junius Seven dan sekarang sahabatnya tewas. Ingin rasanya Cagalli mengatakan kalau semua akan baik-baik saja atau dia memaafkan Athrun, tapi sepertinya Cagalli bukan orang yang tepat untuk mengatakan hal itu.

Akhirnya, tidak peduli dia seorang ZAFT dan seorang Zala, Cagalli memberikan kalung jimat Haumea pada Athrun. Dia berharap tidak ada lagi yang terluka dan tewas karenanya, khususnya Athrun. Padahal jauh di dalam hatinya Cagalli merasa hancur, merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Setelahnya Cagalli kembali fokus dengan ORB Union namun dia berharap Kira baik-baik saja. Dia berharap Kira masih hidup karena tidak ada tanda-tanda jenazah dari pilot Strike Gundam itu. Setidaknya Dewi Haumea melindungi orang lain untuknya.


Tepat diumur enam belas tahun Cagalli berduka. Ayahnya dan negaranya menjadi lautan api. Disaat yang sama dia bersyukur, Kira masih hidup namun Negaranya menjadi ancaman Blue Cosmos karena menolak kerja sama yang ditawarkan oleh Muruta Azrael. Kira mengatakan kalau dia akan membantu ORB dan Cagalli merasa bersyukur. Hal lain yang dia syukuri adalah Kira dan Athrun saling bertemu dan berbicara, dia senang karena akhirnya kedua sahabat ini bersatu kembali. Sempat sebelumnya Cagalli menceritakan dirinya yang menolong Athrun namun Kira tidak berkomentar banyak.

Tepat pada saat itu juga, rasa penasaran Cagalli terjawab. Pertanyaan Cagalli mengenai apakah dia pantas menjadi Athha terjawab. Dia bukan Athha. Dia adopsi. Pantas saja selama ini ada yang berbeda dengan dirinya dan Uzumi. Kalau dulu Cagalli mengalami perasaan bangga namun benci pada nama Athha sekarang dia justru membenci dirinya yang menyandang nama Athha dengan cara yang tidak pantas. Dia Cagalli Yula Athha ternyata manusia hina yang hidupnya penuh dengan kebohongan. Dia bukan 'putri' bahkan bukan putri dalam buku dongeng. Dia hanya gadis pembual. Cagalli tidak yakin apakah kehidupan yang dia jalani selama enam belas tahun itu nyata dan benar-benar hasil perjuangan dirinya. Dia bukan Athha namun dia menyandang nama Athha. Saat itu Cagalli merasa nama Athha seperti suatu kesalahan. Nama itu menjadi mimpi buruk, dosa, dan kesalahan Cagalli yang terbesar. Dia tidak pantas berbangga dengan nama itu.

Fakta Kira Yamato adalah saudara kandungnya, saudara kembarnya, cukup menghiburnya karena dia bisa memantapkan perasaannya untuk Kira dan tahu mengapa dia dan Kira saling menarik perhatian satu sama lain. Namun itu tidak mengobati hati Cagalli. Banyak pertanyaan dan keraguan yang muncul dihatinya. Cagalli paham, mengapa dia menaruh perhatian pada Kira, mengapa Caridad Yamato terlihat sedih ketika bertemu dengan Cagalli pertama kali. Namun sekarang bukan saatnya dia untuk menanyakan hal itu karena Cagalli berjanji pada dirinya dan Uzumi untuk mengakhiri perang. Sekarang yang Cagalli butuhkan adalah sandaran untuk menopangnya sayangnya, Kira bukanlah tempat bersandar yang tepat untuk Cagalli. Terlalu banyak duka yang Kira rasakan juga. Hal yang Cagalli yakini dari Kira adalah Uzumi lah yang selama ini mengasuh Cagalli dan satu hal yang pasti dan merupakan fakta, Uzumi Nara Athha lah Ayah Cagalli.

Cagalli mengalami mimpi buruk kurang lebih dua bulan. Dia mengalami krisis identitas. Dia tidak tahu dirinya siapa. Dia manusia hina yang sudah banyak melakukan dosa dan melakukan banyak kebohongan. Dia pembual. Uzumi Nara Athha sungguh jahat, dia langsung meninggalkan Cagalli setelah memberitahu suatu rahasia besar dan sekarang menyuruh Cagalli untuk memecahkan misteri itu sendirian. Sungguh sosok Ayah yang baik, Cagalli sempat berpikir demikian. Uzumi sudah banyak memberikannya bahan untuk dipikirkan dan Cagalli membutuhkan ketenangan.

Rasa duka dan rasa sedih Cagalli akhirnya dicurahkan kepada Athrun. Bukan karena mereka sama tapi, Cagalli merasa Athrun memendam semuanya sendiri dan disaat yang sama Cagalli membutuhkan distraksi -walau Athrun yakin rasa sedih dan duka Cagalli masih terlihat dari sikap perhatiannya itu- dan disaat yang sama Athrun juga membutuhkan dukungan karena hampir kehilangan identitasnya sebagai Zala. Cagalli pun juga ditambah dia kehilangan Ayahnya sedangkan Athrun 'dikecewakan' Ayahnya. Kedekatan mereka berdua menghasilkan hubungan yang tidak Cagalli duga, Athrun beryukur bertemu dengan dirinya, dan berjanji untuk melindunginya yang dibuktikan dengan sebuah ciuman hangat di bibir. Namun apakah itu pantas dia dapatkan? Setelah mengetahui dirinya yang kotor, hina, penuh akan dosa, dan kebohongan.


Sekembalinya Cagalli ke ORB Union, Cagalli dibantu dengan para tentara ORB Union yang berjuang bersama Cagalli di Kusanagi berusaha untuk membangun ORB Union. Selama Cagalli melarikan diri, beberapa keluarga bangsawan ORB Union berusaha membenahi ORB secara sembunyi-sembunyi. Cagalli merasa dadanya sesak ketika memasuki ruangan yang sudah dia sering masuki ketika Uzumi masih hidup. Dia merasa akan ada suatu tembok besar yang akan menghalangi dan harus dia hadapi namun jauh sebelum itu, dia merasa ada yang salah. Dia tidak pantas ada di ruangan ini. Langkah Cagalli terasa berat bahkan oksigen yang dia hirup terasa sesak seakan-akan dia alergi dengan udara itu. Sayangnya semua memutuskan untuk tidak mengakui kalau Cagalli itu bukan Athha bahkan kelihatannya tidak ingin mempermasalahkannya, singkatnya mereka menerima Cagalli Yula sebagai Cagalli Yula Athha. Sikap Kisaka dan Erica yang menutupi informasi itu membuat Cagalli lega dan sakit disaat yang bersamaan. Lega karena mereka tidak ingin membuat suasana kacau, sakit karena mereka mendapatkan dosa Cagalli yang telah 'menipu' banyak orang.

Sebenarnya Cagalli kembali tidak membawa kemenangan dan senyuman. Dia membawa tangis, dosa, luka, dan darah yang sudah tidak dapat dibendung olehnya. She is not a Goddess of Victory. Kisaka dan Athrun dapat melihat keraguan dan keengganan Cagalli ketika duduk di kursi parlemen. Walau sosoknya gagah dibalut seragam chief in command putihnya, dia tidak bisa menutupi ekspresi wajahnya. Mungkin bagi beberapa orang itu adalah wajah ragu karena dalam usia muda singa kecil itu harus duduk di kursi parlemen, namun sesungguhnya mereka salah. Mereka tidak tahu di perang sebelumnya Cagalli hancur. Dia kehilangan nama dan identitas Athha. Dia bukan putri kandung Uzumi Nara Athha, tidak ada darah Athha yang mengalir di dalamnya. Ketika dia menjabat tangan para Emirs dan menandatangani sumpah sebagai Chief Representative yang akan dia pegang tahun depan, Cagalli meneteskan air matanya mereka mengira Cagalli terharu tapi itu salah. Cagalli menangis karena dia tahu, apa yang diputuskan mereka adalah kesalahan. Kebohongan Cagalli membesar.

"Athrun?" Cagalli bingung dengan sikap Athrun yang tiba-tiba diam. Athrun datang mengunjungi Cagalli setelah diminta oleh Kisaka. Setelah Kisaka menceritakan mengenai keputusan yang Cagalli ambil.

"Kau takut bukan?" tanya Athrun tiba-tiba.

"Eh?"

"Kau tidak perlu terlalu keras pada dirimu sendiri. Kalau kau memang tidak mampu dan memang merasa tidak bisa atau membutuhkan bantuan, katakanlah," ucap Athrun yang nada suaranya terdengar sedikit kesal dan kecewa.

"Tapi Ath, kau lihat di media bukan? Atau kau sudah dengar dari Kisaka bukan? " ucap Cagalli. "Harus aku dan mereka membutuhkanku. Masyarakat membutuhkanku. Kau tahu itu bukan, karena aku Athha…."

Athrun merasa hatinya sesak. Ada yang salah dari kata-kata Cagalli. Gadis ini berusaha menahan semuanya. "Aku tidak peduli dengan ORB kalau itu berakhir menyiksamu. Aku peduli padamu, pada perasaanmu, nyawamu, dan aku peduli pada tubuhmu. Kau lebih penting dari apapun," ucap Athrun.

"Athrun, kau tahu kata-katamu itu sangat berlebihan bukan?"

"Aku tahu tapi kumohon Cagalli kau tidak perlu memaksakan diri! Aku bisa dengan jelas melihatnya. Rasa takut itu, keraguan itu, kelelahan itu, aku tahu Cags. Aku tidak buta," ucap Athrun.

Mata Cagalli mulai basah oleh air mata. Athrun terkejut melihatnya. "Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan?"

Athrun terdiam. Dia tidak bisa mengatakan 'aku akan mengambil alih posisimu dan akan berjuang untukmu', karena Athrun sekarang bukan siapa-siap, Dia sendiri bingung apa yang harus dia lakukan dan sekarang dia mengomentari langkah yang Cagalli putuskan. Tidak ada yang mengatakan apapun. Hanya kesunyian dan Cagalli hanya menyenderkan kepalanya di bahu Athrun karena dia butuh. Dia butuh untuk mejadi waras dengan mengetahui kalau ada yang menemaninya.


Kepercayaan rakyat dan para Emirs menjadi hukuman dan siksaan buat Cagalli. Dia tidak yakin kalau dirinya didukung dan disokong. Dulu hatinya memberontak apakah dia harus bersyukur memegang nama Athha atau membencinya. Sekarang Cagalli tidak tahu. Mungkin justru sekarang nama Athha menyiksanya. Membunuh pelan-pelan karena seharusnya dia tahu benar kalau dia bukanlah yang ada di 'singgasana' itu, bukan dia yang seharusnya mengenakan 'mahkota' itu. Dia bukan putri yang asli. Dia hanya orang yang identitasnya belum diketahui pantas atau tidak di dunia ini. Singkatnya dia itu manusia hina.

Mencoba untuk meringankan perasaan Cagalli dan juga Kira, Kisaka menyarankan mereka khususnya Cagalli bertemu dengan Caridad dan Haruma Yamato. Athrun dan Lacus juga menemani mereka berdua. Kira saat itu terlihat kacau dan kosong, jadi mau tidak mau Athrun dan Lacus juga menemani. Caridad langsung memeluk Kira, mengucapkan kalau Kira sudah berjuang, Kira baik-baik saja, Kira sudah tidak perlu menangis lagi. Cagalli yang melihat itu hanya bisa menahan air matanya. Dia sudah berjanji setelah perang selesai dia tidak akan menangis lagi. Sayangnya, melihat saudara kembarnya yang masih memiliki tempat pulang Cagalli merasa iri.

Rasa iri Cagalli wajar, Kira jauh lebih beruntung. Kira masih memiliki tempat pulang. Kira masih ada yang akan memeluknya ketika dunianya gelap. Kira masih ada yang melindungi ketika dirinya menjadi musuh dunia. Cagalli membandingkan dirinya, dia tidak memiliki siapa-siapa. Athrun dan Lacus masih orang luar buatnya karena mereka tidak kenal Cagalli secara keseluruhan. Myrna dan Kisaka bukan pilihan yang tepat bahkan Erica juga. Cagalli tidak punya rumah, dia tidak memiliki tempat untuk 'pulang' dan disebut 'rumah'. Caridad lalu menghampiri Cagalli yang langsung menundukkan kepalanya. Caridad tahu pasti ada banyak pertanyaan di kepala Cagalli untuknya, apalagi Caridad lah yang menyerahkan Cagalli pada Uzumi Nara Athha dan bahkan berjanji untuk tidak saling bertemu demi kebaikan si kembar. Caridad lalu melihat selembar kertas yang digenggam gadis bersurai pirang itu, Cagalli memegang kertas foto yang memperlihatkan foto saudarinya, Via Hibiki dan si kembar ketika lahir. Uzumi-sama pasti memberitahu Cagalli mengenai hubungan Cagalli dengan Kira, batin Caridad.

Rasa bersalah muncul di hati Caridad. Apakah suatu keputusan yang tepat saat itu menyerahkan Cagalli pada Uzumi? Namun kondisi saat itu sangat berbahaya, Caridad khawatir kembar Hibiki menjadi incaran Blue Cosmos, khususnya Muruta Azrael. Butuh sosok yang kuat yang bisa melindungi si kembar, tapi yang paling riskan adalah Cagalli karena dia perempuan, dia berpotensi besar untuk menghasilkan penerus Hibiki. Sedangkan Kira, cukup dibesarkan sebagai anak sipil biasa dan alasan mengapa dia Coordinator dapat ditutupi dengan apik. Memisahkan Kira dan Cagalli, membesarkan mereka di lingkungan yang berbeda, dan menjauhi mereka dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Hibiki. Skenario yang sempurna, pikir Caridad kala itu. Namun, ternyata garis takdir berkata lain, kembar Hibiki ini akhirnya bertemu di tengah kekacauan perang dan yang paling menyakitkan, Cagalli kehilangan sosok yang melindunginya, sosok yang merupakan tempat pulang untuk Cagalli.

Tanpa diminta Caridad langsung memeluk Cagalli dan mengelus lembut surai pirang Cagalli. "Maafkan aku, maafkan…..," ucap Caridad. Mendengar ucapan kata maaf dari bibir Caridad langsung tangis Cagalli pecah. Tangis yang dia tahan selama ini, tangis yang dia bendung dari Uzumi meninggal hingga perang berakhir. "Sudah tidak apa….kau sudah berjuang…," tambah Caridad lagi. Kalimat serupa yang Caridad ucapkan pada Kira. Cagalli langsung membalas pelukan Caridad dan malam itu Cagalli menangis dan mengelurkan seluruh luka dan isi hatinya. Hari itu adalah hari terakhir Cagalli menangis sebagai seorang Cagalli.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Athrun ketika mereka sudah pulang dari rumah Caridad. Athrun khawatir karena ketika Caridad cerita mengenai Ulen Hibiki dan Via Hibiki, Cagalli menangis kembali. Sedikit Athrun paham perasaan Cagalli. Gadis ini tersesat. Dia tidak tahu kemana arah jalan yang benar. Dia kehilangan kompasnya. Cagalli yang duduk di sofa sambil memeluk dirinya hanya mengangguk pelan. Namun Athrun tahu Cagalli tidak baik-baik saja. "Cagalli…"

Athrun lalu menyentuh bahu Cagalli, bahu itu bergeta dilanjut dengan isak tangis kecil yang terdengar. Athrun lalu menaruh cangkir berisi teh hangat yang dia bawa untuk Cagalli di meja. Dia lalu memegang kedua bahu Cagalli dan menariknya menghadap dirinya, "Cagalli," ucapnya. Amber itu basah. Cagalli menangis lagi. Tatapan Athrun lalu melembut, "Ada apa?" tanyanya.

"Apakah yang dikatakan Mum Caridad benar? Bahwa aku dan Kira diberkati? Kelahiran kami bukanlah suatu kesalahan?" tanyanya. Sebuah pertanyaan yang Athrun sendiri bingung bagaimana menjawabnya. Athrun lalu memeluk Cagalli, menarik gadis itu ke dalam dekapannya.

"Mengapa kau berpikir demikian?"

"Aku kembali tanpa ada keyakinan sebagai Athha. Tidak ada yang mengetahui mengenai kehidupanku ketika aku bayi sebelum diri ini dapat mengingat. Apakah saat itu Ayahanda senang menerimaku?" ucap Cagalli sambil mengeratkan pelukannya. "Apakah aku benar-benar harus terlahir sebagai Natural? Benarkah aku ini ditakdirkan sebagai Natural? Apakah saat itu seharusnya aku tewas karena Ulen Hibiki menginginkan anak dengan gen Coordinator? Lalu apakah aku pantas memegang nama Athha? Darah itu sama sekali tidak mengalir di darahku. Aku sudah menipu banyak orang Ath, dengan bualan dari mulutku ini. Banyak orang yang tewas karena mereka mengikutiku, sebagai Athha."

Kali ini giliran Athrun yang mengeratkan pelukannya. Dia paham maksud Cagalli. Tidak mudah rasanya ketika kau yang sudah beranjak dewasa dengan keyakinan yang kau yakini justru langsung terjatuh ketika tahu kalau kau itu sudah mengambil langkah yang salah. Cagalli tidak salah. Justru Ulen dan Via yang salah, Uzumi pun salah tapi saat itu tidak ada waktu untuk mengobrol santai. Perpisahannya dengan Cagalli saat itu pasti sangat memberatkan Uzumi. Cagalli bukan putri yang sesungguhnya, Cagalli kehilangan tempat pulangnya. Sosok yang dapat tersenyum dan mengatakan selamat datang atau kau baik-baik saja sangat dibutuhkan oleh Cagalli sekarang. Orang itu bukan Caridad Yamato karena Caridad sudah berjanji pada Kira. Cagalli seperti karakter si bungsu dalam dongeng Puss in Boots dengan orang-orang yang setia padanya sebagai si kucing 'cerdik'. Semua kebohongan Cagalli tertutup dengan indah, dia hanya tinggal berakting sesuai dengan arahan atau bahkan menikmati hasil dari 'kebohongan' itu.

"Hei," Athrun lalu mengangkat wajah Cagalli yang masih basah oleh air mata, "Lihat aku," pinta Athrun.

Cagalli melihat lurus mata Athrun. Emerald, warna yang sama dengan warna mata Uzumi. Warna mata yang menenangkan yang mengingatkan Cagalli dengan wajah Uzumi sebelum mereka berpisah untuk selamanya. "Ath…"

"Kau adalah kau Cagalli, darah Athha memang tidak mengalir namun apa yang sudah Uzumi-sama ajarkan padamu, apa yang sudah kau jalani sebagai Cagalli Yula Athha anak dari Uzumi Nara Athha sudah tertanam dalam dirimu. Kau hanya tinggal perlu ikhlas dan menjalaninya," ucap Athrun yang sama-sama terdengar ada keraguan dalam kata-katanya.

"Tapi Ath aku….aku….sudah ternodai….," isaknya lagi.

Athrun lalu menangkup wajah Cagalli dengan kedua tangannya. "Aku juga sama. Kita sama-sama memiliki dosa dan luka. Aku tahu apa yang kau khawatirkan, apa yang kau takutkan, apa yang kau ragukan, apa yang menghentikan langkahmu," ucapnya sambil menyeka air matanya.

Athrun lalu menghela napas, "Apabila kau butuh bahu untuk bersandar dan menangis carilah aku. Apabila kau butuh benda untuk dipukul carilah aku. Apabila kau butuh orang untuk mendengarkanmu carilah aku, apabila kau lelah dan butuh tempat untuk istirahat carilah aku, dan apabila kau butuh alasan untuk pulang maka ingatlah aku," tambah Athrun sambil tersenyum. "Kamu sama sekali tidak hina, tidak ternoda, tidak kotor. Jika hatimu dan perasaanmu dengan seseorang itu sangat penting, maka kau akan suci selamanya. Yakinlah seperti halnya kau yakin Dewi Haumea memberkatimu," ucapnya. Sungguh kalimat yang hipokrit.

Cagalli menggigit bibir, dia lalu mencengkram lengan Athrun dengan kencang. "Tapi aku takut Ath…aku takut…aku takut mengetahui kenyataan kalau ternyata seluruh dunia membenciku!" seru Cagalli. "AKU TAKUT DUNIA MEMBENCIKU!" setelah Cagalli berseru demikian, Athrun hanya bisa memeluknya dan mengelus pelan punggung Cagalli sambil berkali-kali mengecup puncak kepalanya dan membisikkan kalimat "Aku bersamamu, aku mencintaimu" berulang kali. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua emosinya, menjadi tenang, dan perlahan tertidur.


Menjelang umur tujuh belas tahun, Cagalli 'terkurung'. Terkurung dan terperangkap dengan nama Athha. Dirinya harus menanggung beban tanggung jawab yang ditinggalkan oleh Uzumi, resmi sudah dia menjadi Chief Representative. Posisi yang dulu dipegang oleh Uzumi dan posisi yang dulu dielu-elukan Cagalli sebagai mimpinya. Entah mengapa semua masukan dari para Emirs -para bangsawan ORB- lebih terdengar seperti menyudutkannya. Cagalli paham, mereka tidak lihat secara keseluruhan apa yang terjadi, tapi bahwa lautan api ORB Union tahun lalu adalah akibat dari keluarganya itu memang fakta. Cagalli juga menyalahkan Uzumi yang mengambil kesempatan dari kondisi perang tersebut. Oleh karena itu, langkah ini harus Cagalli ambil. Dia melanjutkan peninggalan Ayahnya dan semua Emirs setuju. Wajah tidak senang terlihat di wajah Kisaka tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk sang putri singa ORB itu. Kisaka hanya mengingatkan kalau langkah yang Cagalli ambil bukanlah penebusan dosa dan Uzumi tidak menginginkan hal itu.

Mendengar hal itu Cagalli tertawa. Sempat-sempatnya Kisaka menghiburnya sepert itu. Tidak ada yang bisa menghapus 'dosa' dan 'kebohongan' Cagalli. Saat itu apa yang ada dipikiran Cagalli hanyalah mengikuti alur dari skenario atau buku cerita yang sudah disiapkan untuknya. Tanggung jawab sebagai pemimpin muda tidaklah mudah apalagi banyak yang memandangnya sebelah mata namun mereka meminta Cagalli untuk mengambil keputusan. Ditambah dengan alasannya yang terlalu muda dan riwayat pada perang lalu yang membuat Cagalli terlihat seperti 'little rascal' membuat para Emirs khususnya Seiran -dengan alasan pertunangan politik dan bertanggung jawab atas Cagalli setelah Uzumi tiada- memberikan banyak protokol keamanan untuk Cagalli dan gadis itu sudah pasti tidak suka.

Seminggu setelah menjabat Cagalli merasa hidupnya berubah 180 derajat. Jadwal tidurnya kacau, jadwal makannya tidak teratur karena dia sering melewatinya, menyebabkan gadis itu semakin kurus dan mudah pingsan bahkan dia muntah-muntah karena kondisi tubuhnya yang kacau. Seakan-akan ada trauma. Di saat dimana Cagalli butuh dukungan, dia kehilangan dukungan itu. Kisaka yang pergi untuk menjadi 'mata-mata', Kira dan Lacus mengasingkan diri di Marshall Island, para kru Archangel memutuskan untuk beristirahat atau mengganti identitas mereka, Athrun yang juga ingin beristirahat dahulu, Cagalli bisa paham. Cagalli pikir dia bisa berdiri sendiri, tapi Sahaku ternyata belum bisa banyak bersuara karena konflik internal mereka dan Yuna kembali dari studinya.

Cagalli saat itu sedang bingung, siapa yang sebaiknya dia percaya. Yuna dengan jelas menjadi seorang pembual tapi dia memiliki visi dan misi yang kuat mengenai Negara ORB Union. Cagalli bisa lihat kalau Yuna mengambil peran yang dulu Uzumi ambil. Tidak selamanya konflik dan perang itu harus dilakukan dengan maju ke medan perang itu. Yuna mempelajari apa yang ada dibaliknya, Cagalli mau tidak mau harus menahan ego dan mematuhi para anggota parlemen yang sudah terbentuk. Peran putri seperti di buku dongeng sangat jauh dari apa yang Cagalli bayangkan. Bahkan dia sekarang bukan putri ataupun ratu. Dia bagaikan boneka marionette.

Kisaka akhirnya menanggapi situasi itu dengan merekrut Athrun sebagai 'Alex Dino'. Dia ingin memberikan satu hal yang dapat memberikan angin segar, nafas bebas, dan ketenangan pada sang putri dan itu adalah Athrun. Walau konsekuensi yang dihadapi Athrun juga tidak mudah tapi Athrun adalah pemuda yang pantas. Sayangnya sebagai seseorang yang dididik dengan pendidikan formal militer Athrun sangat mematuhi perannya. Setidaknya, Cagalli merasa tenang dengan keberadaan Athrun tapi dia setuju dengan Kisaka, Athrun terlalu mendalami perannya dan Cagalli agak kurang suka melihatnya. Sayangnya keberadaan Athrun bukan sebagai pangeran berkuda putih yang menolong sang putri. Dia sama seperti Cagalli, menjadi marionette.


"Yuna, apa yang kau lakukan pada At- Alex?" tegur Cagalli ketika Cagalli diinfokan kalau untuk sementara protokol keamanan Cagalli akan diatur oleh Yuna.

"Masalahnya dia kurang kompeten Cagalli," ujar Yuna. "Lihat kau bahkan terluka gara-gara kecerobohan dia," tambahnya.

Cagalli memegang luka dilehernya, "Ini hanya goresan dan kau tidak perlu membesar-besarkannya!"

"Lagipula kenapa kau terlalu memperhatikan dia sih?" tanya Yuna yang terlihat tidak suka. "Kudengar kau sudah bersama dengannya di perang lalu? Seorang pemuda dengan masa lalu dan latar belakang yang tidak jelas hasil dari kau bermain-main di Tassil, huh?"

"YUNA!"

"Kalau kau mau berpacaran dengannya dulu aku tidak masalah, silakan bersenang-senang dan menikmati masa cinta monyet tidak apa-apa karena aku dan kau sudah ditakdirkan untuk bersama," ucap Yuna dengan nada tidak suka dan mengancam. Cagalli yang tahu Yuna tidak mungkin dilawan karena dia juga memegang andil dalam kondisi Cagalli segera melangkahkan kakinya. Namun Yuna segera mencengkram tangan Cagalli.

"Jangan kau pikir kau bisa bebas sekarang. Ingat kau sekarang yang menjabat disini dan aku sudah tahu apa yang terjadi dan apa yang kau lakukan Nona," ujar Yuna yang terdengar mengancam Cagalli. "Kau yang ternyata punya seorang 'kakak' Coordinator dan 'kekasih' Coordinator aku tidak aneh semestinya. Tapi ingat Cagalli kalau kau adalah Athha dan kau tidak bisa bersikap sembarangan, semua orang melihatmu dan apa yang kau lakukan sekarang berdampak pada ORB Union. Kau tidak ingin apa yang terjadi pada Paman Uzumi terulang lagi bukan?" bisik Yuna yang langsung seketika membuat Cagalli terdiam dan kaku. Yuna yang melihat Cagalli tidak berkutik hanya tersenyum dan meninggalkan gadis itu.

Cagalli menahan tangisnya. Ingin rasanya dia melepas nama Athha. Dia bersyukur Yuna tidak mempermasalahkan dia sebagai pewaris sah atau tidak. Faktanya dia bukan putri kandung Uzumi. Dia seorang pembohong dan pendosa ulung yang dengan lihainya berhasil mengelabui banyak orang selama tujuh belas tahun. Ingin rasanya dia seperti Athrun, melepas semuanya walau berakhir terlihat menyiksa dirinya sendiri.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Athrun sambil mengelus pelan punggung Cagalli karena gadis itu masih sering muntah apabila telat makan atau kelelahan.

"Kelihatannya perutku tidak cocok dengan sup malam ini, kaldunya terlalu kuat," canda Cagalli sambil menyeka mulutnya.

Athrun tahu kalau apa yang terjadi pada Cagalli lebih ke arah kondisi psikologisnya. Sering sakit dan muntah-muntah ini bisa jadi dikarenakan trauma, stress, atau mungkin PTSD yang belum pulih. Athrun paham . Perang dan politik bukanlah hal gampang yang harus dijalani seorang gadis berusia tujuh belas tahun. "Apa terjadi sesuatu di parlemen?" tanya Athrun sambil mengambil sup yang tidak sengaja tumpah karena baru saja suapan pertama Cagalli sudah langsung ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.

Perut Cagalli kembali terasa mual seakan-akan asam lambungnya naik. Athrun tahu benar mengenai kebiasaan Cagalli semenjak tinggal di Manor Athha. "Biasa, hanya Yuna membuat sebal dan laporan serta revisi kenegaraan tiada akhir," ucap Cagalli yang sekali lagi hanya menghasilkan kesunyian di antara mereka.

Cagalli mengakuinya, dia juga punya dosa yang lain. Dia punya kekasih dan itu bukan Yuna. Dia jatuh cinta namun itu bukan Yuna. Itu dosa Cagalli yang lain. Dia mengkhiantai amanah Ayahny dan mengkhianati tradisinya. Dari teguran Yuna selama ini mengenai kedekatan Cagalli dengan 'kakak' dan 'kekasih' Coordinator-nya, kelihatannya Yuna tidak terlalu banyak tahu tentang Kira. Tidak apa, berarti tidak ada yang tahu mengenai Ulen Hibiki dan proyek penelitiannya. Tidak terbayang apa yang akan terjadi kalau para Emirs mengetahuinya. Selama mereka semua aman, selama tidak ada yang mempermasalahkan masalah yang sudah lalu itu, tidak apa-apa karena aku akan menjaga mereka, begitu pikir Cagalli kala itu yang justru menambah beban dipundaknya. Singa kecil itu mencoba untuk menunjukkan taringnya walau belum terasah sempurna.


Ketika melakukan kunjungan ke Morgenroete, Cagalli melihat Athrun yang tengah membantu pengembangan OS Murasame, dan pemuda itu melakukan simulasi pengendalian. Cagalli lalu memasuki area simulasi dan tidak menggubris teguran protokol keamanan yang menemaninya termasuk Yuna.

"Cagalli!" tegur Yuna.

"Alex, ayo kita sparring!" ajak Cagalli yang langsung membuat Athrun terkejut. Dilihatnya di belakang Cagalli wajah Yuna yang sudah merah dan tidak suka dengan apa yang Cagalli lakukan. Wajah Yuna seperti tokoh Ibu tiri atau Ratu yang jahat di buku dongeng kalau kata Cagalli.

"Ah tapi Representative Athha," Athrun mencoba untuk menolak, namun Cagalli langsung memasuki alat simulasi yang ada di sebelah Athrun. Alasannya sederhana, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Cagalli karena Yuna akan memberikan disiplin militer padanya. Terdengar memuakkan memang tapi Cagalli dapat menjamin Athrun tidak memperolehnya. Cagalli sebenarnya muak. Dia muak setelah kurang lebih dua minggu dia tidak mendapatkan ketenangan. Oleh karena itu sekarang dia ingin melampiaskannya, pada simulasi MS ditambah dia selama ini penasaran dengan skill seorang Athrun Zala.

"Kau perlu memperhatikan keamanan dirimu, Cagalli."

Cagalli langsung menatap tajam pemuda yang ada di sebelahnya. Setelah simulasi MS itu selesai yang diakhiri dengan drama penuh air mata dari Yuna. Cagalli pergi ke arena latihan menembak setelah memastikan kembali dengan sekretarisnya kalau jadwal dia untuk hari ini selesai. "Aman apa yang kau maksud Athrun?" tanya Cagalli sambil mengisi pistol miliknya dan mengarahkannya pada sasaran dihadapannya. Nada suaranya terdengar kesal, dia tidak ingin Athrun terluka tapi pertanyaan Athrun justru membuatnya tersinggung.

"Kau harus ingat posisimu sekarang dan kau adalah orang penting yang harus memperhatikan juga konsekuensi dari semua tindakan dan keputusanmu," ucap Athrun yang menembak sasarannya dengan sangat mulus sehingga membuat Cagalli iri.

"Aku bisa jaga diriku Athrun, kau ingat-"

"Itu dulu Cagalli. Aku tahu kau tahu dasar bela diri dan dasar menembak. Tapi Cagalli, sekarang itu bukanlah hal yang perlu kau lakukan. Ingat apa yang dikatakan Uzumi-sama, pelajari apa yang menjadi sumber perang itu," potong Athrun. "Kau sekarang berada di puncak sistem, berbeda dengan yang dulu dan kau sudah sangat paham itu."

Dada Cagalli terasa sakit. Sesak. Apa yang dikatakan Athrun benar. Dia sudah berbeda. Dia sudah memilih jalan yang lain. Luka yang membekas di tubuhnya adalah suatu pelajaran. Luka yang memberikan pelajaran kepada dirinya baik secara fisik dan batin. "Lalu apa yang seharusnya aku lakukan?" tanya Cagalli. Dia berusaha mengontrol suaranya yang hampir pecah karena menahan tangis.

Athrun lalu menurunkan tangan Cagalli yang lurus menghunuskan pistolnya dan menurunkannya. "Kau tidak memerlukan ini, ini sudah bukan tempatmu. Kau sudah memilih jalan yang seharusnya kau dulu lakukan. Kau sudah punya cara agar orang mau mendengarmu," jelas Athrun.

Mendengarkan suaraku? Cagalli menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya. Tangis Cagalli pun pecah, "Mereka tidak mendengarku Ath! Kau lihat bagaimana respon semuanya! Tidak hanya para Emirs kau lihat juga bagaimana masyarakat merespon!" ucapnya frustasi.

Kali ini giliran Athrun yang diam. Dia lalu melihat luka garis merah di leher Cagalli, luka yang tidak dalam dan tidak panjang namun menandakan kegagalannya melindungi Cagalli. Ketika mereka sedang melakukan upacara pembukaan monument pahlawan yang gugur ada seseorang yang berhasil menyelinap ke acara dan menyerang Cagalli dengan pisau. Athrun ada di dekat Cagalli namun dia sedikit lengah sehingga leher gadis itu tergores pisau. Athrun berhasil melumpuhkan penyerang itu namun berakhir dia terkena disiplin militer selama dua minggu dari Yuna dan hari ini adalah hari terakhir. Padahal Cagalli bersikeras kalau yang salah adalah protokol keamanan yang memeriksa para tamu acara.

Sosok Cagalli sekarang tidak lebih dari sekedar boneka marionette. Nama Athha menjadi suatu hal yang menyakitkan untuk Cagalli. Nama Athha memberikan beban untuknya. Dia kehilangan Ayahnya dengan nama itu. Dia kehilangan Negaranya. Dia kehilangan kepercayaan dirinya. Dia kehilangan fondasi hidupnya. Dia kehilangan identitasnya. Dia bahkan merepotkan banyak orang, banyak yang berkorban untuknya dan mungkin Athrun termasuk. Nama Athha menjadi sebuah nama yang menyiratkan kebanggaan namun juga kesedihan untuk Cagalli. Banyak luka yang dihasilkan dari nama itu. Banyak dosa dan kebohongan dengan nama Athha. Sialnya, dengan membawa nama Athha dia keluar dari zona nyamannya, dengan nama Athha pula dia kembali terperangkap dalam zona nyamannya.

Cagalli kembali dihantui oleh nama Athha. Ingin rasanya dia melepas nama itu. Ingin dia melupakannya kalau dia adalah seorang Athha. Di awal dia memang bukan Athha karena dia diadopsi oleh keluarga Athha. Tapi, didikan Athha melekat di diri Cagalli. Melarikan diri bukanlah pilihan, melarikan diri bukanlah solusi. Tapi dia harus mencari cara, mencari cara untuk memperoleh kembali fondasi hidupnya. Mencari cara memperoleh ajaran singa ORB. Cagalli sudah hampir gila, sudah frustasi, sudah hampir kehilangan kewarasannya.

"Ajari aku Ath," pinta Cagalli disela isak tangisnya. "Ajari aku bagaimana melakukannya dengan benar sehingga ketika jalan ini harus kembali kupilih aku tahu apa yang harus kulakukan. Ajari aku sehingga aku tidak menjadi beban untukmu dan yang lainnya," tambahnya.

Sosok Dewi kecantikan Aphrodite atau Sang Maha Dewi Hera jauh dari Cagalli. Cagalli tidak bisa menjadi sebuah pion atau bidak catur yang hanya diam, tapi sekarang dia terpaksa seperti boneka marionette. Sosok Dewi Athena yang merupakan dewi kebijaksanaan dan perang adalah sosok yang sangat menggambarkan Cagalli. Berdiam diri bukanlah sifat dan sikap Cagalli, dia lebih memilih adanya tindakan. Dia menyuarakan suaranya dengan caramya dan bila dia perlu menghunuskan atau mengangkat pedangnya maka dia akan lakukan tanpa ragu. Apakah Athrun perlu menjadi sosok Nike atau Ares untuknya? Athrun tidak tahu.

Namun mengingat 'dosa dan kebohongannya', apakah dia seorang Dewi itu? Cagalli bukan Dewi Haumea karena Dewi itu memberkati Cagalli. Cagalli bukan Goddess of Victory mengingat dia memliki luka, dosa, dan kebohongan yang besar. Kalau begitu maka Dewi Athena tidak menggambarkan Cagalli. Bahkan putri-putri dalam buku cerita atau buku dongeng yang sering mereka baca waktu kecil tidak menggambarkan Cagalli. Snow White, Cinderella, Rapunzel, Aurora, imej Cagalli jauh dari mereka. Lalu siapa dan apakah Cagalli itu? Dia sangat diharapkan masyarakatnya. Apakah dia sosok Maha Suci seperti Jeanne d' Arc atau yang dikenal dengan Joan of Arc? Gadis perawan yang mendapat wahyu dan berjuang demi Negaranya dengan menyamar sebagai pria? Mungkin sisi juangnya mirip ditambah dia diberkati oleh Dewi Haumea tapi, mengingat takdir akhir Jeanne, Cagalli tidak sebodoh itu untuk mati atau justru sebenarnya Cagalli sudah siap apabila dia harus mati di dalam kobaran api? Demi kesejahteraan rakyatnya, demi kebenaran yang dia yakini, demi Negaranya seperti Uzumi? Lalu apakah Athrun adalah Gilles de Rais? Abdi setia Joan yang ternyata adalah pembunuh anak-anak? Sungguh pemikiran yang konyol.

Athrun mengepalkan tangannya. Dia ingin menolak permintaan Cagalli namun dia paham dia tidak bisa selalu berada di sisi Cagalli seperti apa yang terjadi pekan lalu. Dia bukan pangeran ataupun kesatria dan prajurit yang ada di dalam buku dongeng. Dia bukan siapa-siapa sekarang. She is out of his reach now, he couldn't do anything for her. She is the sky and he is the earth. She is a royal and he just a commoner. Mungkin kalau ingin menjadikan situasinya penuh dengan drama, baik Cagalli dan Athrun seperti putri dan pemuda desa dalam cerita King Grizzle Beard karangan Brothers Grimm yang sudah diperhalus dengan harapan mereka mendapat akhir cerita yang indah seperti dongeng itu Atau apakah Athrun adalah pemuda desa yang bertugas mencari sang putri yang hilang dan bersaing dengan sang pangeran seperti dalam cerita The King's Lost Daughter karangan Beatrice Silverman Weinreich. Mungkin yang terakhir agak mirip untuk situasi mereka. Athrun kembali dari perang bersama sang putri, yaitu Cagalli namun yang mendapatkan kenyamanan dari situasi mereka justru si pangeran yang pengecut, yang dalam situasi mereka adalah Yuna Roma Seiran.

Athrun tahu Cagalli tersiksa. Dia tersiksa sebagai Athha dengan semua warisan, peninggalan, baik dari keluarga itu maupun dari dirinya sendiri. Cagalli sama seperti Kira. Mereka hanya ingin hidup normal. Mereka hanya ingin dunianya damai. Namun siapa yang dapat menjawab dan menjamin normal dan damai apakah yang cocok dan memang diharapkan oleh seorang Cagalli? Apakah sebagai Athha? Atau hanya sebagai Cagalli Yula? Sayangnya Cagalli sudah tidak bisa keluar dari lingkaran setan dan lingkaran takdir bernama Athha. Bahkan Athrun pun tidak bisa menariknya keluar. Kesetiaan dan tanggung jawab Cagalli sebagai Athha adalah dosa yang menyiksa Cagalli dan dosa yang mengikatnya.

Seperti sekarang, senjata api, Mobile Suit, dan bela diri bukanlah solusi untuk Cagalli. Tapi tiga hal ini akan membuat dunia Cagalli 'damai' walau hanya sementara. Setidaknya hal itu juga membuat dunia Athrun agak damai juga. Tangan Athrun lalu mengelus lembut luka di leher Cagalli. Luka yang bisa sembuh tapi akan meninggalkan bekas. Cagalli adalah seorang Natural, Athrun harus ingat itu. Dia lalu menyeka air mata Cagalli. Athrun lalu berdiri di belakang Cagalli dan mengangkat serta menopang kedua tangan gadis itu, "Aku akan mengajarimu beberapa cara baik senjata api dan Mobile Suit. Tapi, mohon ingat kalau dua hal ini hanya kau gunakan ketika keadaan mendesak. Untuk sekarang akulah yang bertugas menjagamu," ucap Athrun.

"Tapi Ath-"

"Kumohon Cagalli, cukup ucapkan iya," pinta Athrun. Dia tidak ingin Cagalli kembali ke medan perang namun dia juga harus bisa meyakini kalau Cagalli pasti akan baik-baik saja dan salah satunya adalah dengan mengajari gadis itu untuk menggunakan alat pertahanan diri. Cagalli merasa pada saat itu, bersama dengan Athrun adalah waktu yang memberikan 'kedamaian dan ketenangan' untuknya.


Latihan khusus dengan Athrun Zala hanya berlangsung beberapa bulan. Yuna hampir mengganggu sesi latihan mereka dengan berbagai alasan seperti terlalu berbahaya untuk Cagalli, Athrun -Alex- tidak kompeten dengan tekniknya walau berakhir dengan lemparan pisau dari Athrun atau tembakan tepat diatas kepala Yuna oleh Cagalli, atau Cagalli tidak pantas berada di kokpit. Namun kesempatan latihan yang sebentar itu Cagalli gunakan untuk memahami dan melihat gaya bertempur Athrun. Dia ingin bisa menguasainya karena alasan untuk kemanan dirinya. Dalam beberapa bulan yang ternyata terasa singkat oleh Cagalli itu, dia merasakan ketenangan dan kedamaian. Sesaat dia merasa tubuhnya ringan dan serasa berada di sebuah padang rumput yang luas. Namun dia juga merasa sedikit jijik karena dengan dia mempelajari hal itu maka itu artinya dia menganggap nyawa itu hal yang sepele. Dia mempelajari teknik yang dapat mengambil nyawa seseorang, yang justru dapat menambah dosanya. Apakah sekarang Cagalli sedang belajar jadi Dewa Kematian? Cagalli tidak tahu. Mungkin sekarang Dewi Haumea menangis.

Rasa ketenangan yang Cagalli rasakan bersama Athrun hanya sementara. Cagalli kembali hampir kehilangan Negaranya di usia delapan belas tahun. Sebelum itu, dia kehilangan kepercayaan dirinya. Dirinya semakin terkurung, semakin terpojokkan, seperti jatuh kedalam lubang hitam yang tidak memiliki akhir tanpa ada yang menariknya keluar, apalagi setelah kejadian di Armory One dan Junius Seven jatuh ke bumi. Semua kacau. Masih ada orang-orang yang tidak paham arti dari perdamaian dan masih saling tidak memahami dan menerima satu sama lain. Selebihnya Cagalli berpikir kalau Dewi Hauema sama sekali tidak memberkati dan merestuinya.

Shinn Asuka menjadi salah satu subjek yang sempat membuka luka lamanya. Pemuda beriris merah darah itu ternyata adalah korban kebijakan Uzumi lalu. Korban 'nyaman dan aman' ORB sebagai Negara Netral. Shinn hanyalah pemuda warga ORB Union yang hidup dengan damai di ORB karena yakin dengan idealis Negara itu saat perang lalu terjadi. Cagalli tidak bisa membalasnya karena dia tahu Uzumi juga dengan berat hati memilih jalan itu. Jalan yang diyakini yang terbaik dan bisa menyelamatkan banyak nyawa yang ternyata itu justru harus dibayar dengan nyawa Uzumi. Cagalli paham setelah dia kehilangan Uzumi dan dia juga paham kalau akan ada orang-orang yang tidak puas dan terluka karenanya, seperti Shinn.

"Keluargaku dibunuh oleh Athha!" seru Shinn yang langsung memberikan rasa shock yang luar biasa pada singa kecil ORB Union itu.

Saat Shinn mengucapkan itu, hati Cagalli memberontak. Apa yang Shinn katakan benar. Ingin rasanya Cagalli berkata 'Kalau begitu, bunuh aku Shinn. Apabila itu membuatmu tenang', tapi tidak bisa. Hati kecil Cagalli mengatakan kalau Cagalli mengatakan itu maka Cagalli lemah, Cagalli kalah. Namun kata-kata Shinn benar dan kalau Shinn tahu faktanya Cagalli itu bukan putri kandung Uzumi dia yakin Shinn akan menembaknya. Satu hal yang pasti, dosa dan rasa bersalah Cagalli bertambah karena pemuda itu.

Dengan kondisi tidak tenang karena harus harus bergerak cepat, berpikir cepat untuk orang-orang yang sudah percaya padanya, Cagalli terluka. Dirinya terluka karena dia tidak mempertimbangkan dirinya sendiri dalam aspek tersebut apalagi dengan adanya sosok Shinn yang juga mengganggu pikirannya. Bahkan sosok Athrun yang menjadi pelindungnya pun tidak bisa menjadi tameng yang baik untuknya. 'Pedang keadilan' itu sirna setelah perang berakhir dan dia belum kembali bercahaya. Ditengah kebingungan dan tekanan yang sangat besar, sebuah cincin berhiaskan ruby merah disematkan oleh Athrun. Sebagai pengingat kalau Cagalli bisa melakukannya dan ada orang yang mempercayainya. Athrun berharap cincin itu tidak membuat Cagalli tenggelam dalam lubang hitamnya.


Seharusnya Cagalli lega dan senang, namun justru cincin tidak membuatnya lega. Dia justru merasa tertekan. Athrun yang memberikan cincin kepadanya. Apakah dia pantas menerimanya? Menerima cinta Athrun, menerima kepercayaan Athrun, menerima amanah yang Athrun berikan untuknya. Cincin yang Athrun berikan berbeda dengan jimat Haumea yang Cagalli berikan pada Athrun. Tapi dia tahu cincin itu berarti harapan. Cincin itu meyakinkan dia kalau masih ada yang percaya dan mendukung dirinya dan dia berusaha meyakininya.

Saat itu, dia tidak hanya menorehkan luka di hatinya sendiri namun juga orang sekitarnya khususnya Athrun. Pemaksaan pernikahan politik yang dipercepat untuk alasan kerja sama dengan Federasi Atlantik, walau Cagalli tidak mau tapi dia terpaksa, untung Athrun saat itu tidak ada, Cagalli merasa dia sudah berkhianat, dia menghancurkan dan mengkhianati kepercayaan Athrun. Seharusnya Athrun tidak melakukannya, seharusnya Athrun tidak perlu memberikan cincin itu karena Athrun tahu Cagalli sudah 'menipu dan memliki banyak dosa' dan mungkin akan melakukan hal yang sama pada Athrun, buktinya sekarang dia menikah dengan orang lain.

Demi menyelamatkan Athrun dari dirinya yang sudah hancur dan terluka saat itu, Cagalli melepas cincin dari Athrun karena dia tidak ingin cincin itu diambil paksa yang itu justru lebih menyakitkan bagi Cagalli. Dia seperti sudah menusuk Athrun dari belakang. Beruntung dia masih memiliki harapan yang diperlihatkan oleh Kira dan Kira meyakinkan dirinya kalau semua belum berakhir. Bahkan Cagalli kembali meyakini cincin berbatu ruby yang kembali dia kenakan, kalau dia akan kembali. Justru sosok Kira lah yang datang seperti pangeran berkuda putih di hadapan Cagalli, bukan Athrun.

Kira mengajak Cagalli untukk melihat 'dunia' dengan luas. Mengapa dosa dan luka mereka tidak berhenti mengalir. Saat itu Kira menyalahkan Cagalli, menyalahkan dia yang telah membuat keputusan bergabung dengan Federasi Atlantik dan menikah dengan Yuna Roma Seiran. Saat itu apa yang Kira katakana benar. Cagalli bodoh dan terlalu naif, dia tidak ada bedanya dengan Cagalli saat bertemu dengan Kira pertama kali. Memangnya apa yang mereka harapkan? Cagalli bukan Athha, Cagalli bukan ahlinya di bidang politik, Cagalli masih membawa faktor perasaan, jadi dia pantas untuk disalahkan. Namun ego Cagalli mengalahkan nuraninya itu. Dia justru marah pada Kira dan kru Archangel yang sudah gegabah dan melakukan Tindakan criminal tingkat internasional karena menculik petinggi Negara. Padahal saat itu ingin rasanya Cagalli mengakui semuanya. Mengakui semua dosanya.

Kira memberikan Cagalli kesempatan, kesempatan untuk memperbaikinya. Walau hal itu harus dibayar dengan Kira yang menjadi kuda perang Cagalli. Saat itu Cagalli tidak tahu harus minta pada siapa. Dia mengambil 'pedang kebebasan' itu dari Lacus dengan mudah dan menggunakannya tanpa seizin Lacus. Cagalli merasa dia jahat. Dengan santainya dia meminta bantuan Kira dan Kira dengan ikhlasnya membantu Cagalli. Cagalli saudara yang jahat, padahal dia tahu luka dan dosa Kira tapi dia malah menjadikan Kira sebagai tumbal. Cagalli meminta bantuan Kira untuk mencegah dosa Cagalli bertambah namun Cagalli justru menambah dosa Kira. Sungguh saudara yang jahat.


Pertemuan dengan Athrun tidak semulus yang semestinya. Tidak seperti dalam cerita Romeo dan Juliet ketika mereka bertemu secara sembunyi-sembunyi, berpelukan dan berciuman sayangnya hal itu tidak terjadi. Mereka kembali berada di pihak yang berseberangan dan mereka meyakini hal yang berbeda walau tujuan mereka sama. Mereka beradu mulut yang untung ditengahi oleh Kira sehingga tidak ada pertengkaran yang perlu terjadi. Cagalli merasa ada yang aneh dengan keputusam Athrun kembali ke ZAFT dia ingin menanyakan apakah dia akan kembali? Lebih tepatnya kembali ke sisi Cagalli. Tetapi Cagalli melihat tatapan Athrun, Athrun kecewa, Athrun tersakiti oleh sikap Cagalli tidak ada diri Cagalli yang terefleksikan di bola mata iris emerald itu. Cagalli tidak mampu mengatakan apa-apa, bahkan mungkin cincin yang dia kenakan justru menjadi senjata yang melukai Athrun. Kelihatannya Dewi Crete tidak ada dipihaknya hari itu. Rupanya menjaga suatu hubungan dan kepercayaan tidak semudah memusuhi dan memaafkan seseorang.

"Ada hal yang tetap tidak bisa diterima, walau dia mengerti hal tersebut."

Walau bukan luka fisik, tapi apa yang Cagalli rasakan sangatlah menyakitkan. Athrun memilih jalan yang berbeda. Apa yang mereka percayai berbeda. Tapi Cagalli bisa paham. Dia melakukan dosa yang tidak bisa dimaafkan. Dia orang yang munafik, dia berkhianat padahal dia sudah dipercaya, dia sudah berdusta dengan perkataannya, dia sudah ingkar dengan janjinya. Dia Cagalli Yula Athha adalah orang yang munafik. Pantas saja Dewa Dewi manapun tidak mau berpihak padanya. Ketika Athrun mengatakan itu, seharusnya Cagalli sudah kebal. Dia adalah pihak yang bersalah dengan Athrun sebagai korban tapi entah mengapa air matanya tidak bisa berhenti mengalir seakan-akan dia juga adalah korban dari kesalahannya. Iya, hati Cagalli lah yang menjadi korban tanpa Cagalli sadari.

Dengan keraguan dan kesalahan yang sudah terjadi, Cagalli berusaha mempercayai apa yang harus dia lakukan dan yakini. Tapi Cagalli kembali kehilangan orang-orangnya. Pasukan tentara ORB mati sia-sia di medan perang dan dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangis. Mungkin ini perasaan Joan of Arc ketika pasukannya kalah atau rekannya tewas.

Namun, Kira meyakini Cagalli kalau Cagalli harus memiliki sikap. Seperti apa yang sudah Kira lakukan pada Athrun. Kira yang sudah memberikan 'angin kebebasan' pada Cagalli mencoba untuk meyakini gadis itu mengenai sikapnya. "Kau menghancurkan MS milik Athrun!?" Cagalli tidak percaya dengan apa yang Kira perbuat. "Me-mengapa?" Cagalli tidak terima apabila jawaban Kira sesederhana karena mereka saudara kembar dan sudah wajar apabila Kira membela Cagalli.

Kira mengangguk, "Karena dia ragu. Aku tidak menyalahkan kalau dia kembali bergabung dengan ZAFT tapi, kalau sampai dia tidak bisa memahami apa yang kau coba lakukan, apa yang kau coba lindungi, aku rasa itu kurang pantas. Ketika kau sudah punya kekuatan atau ketika kau sudah melakukan sesuatu kau pasti bisa menguapayakan apa yang kau ingin upayakan." Kira paham beban Cagalli yang masih merasa pantas atau tidak dia sebagai Athha. Kira tahu Cagalli akan hancur seperti apa. Mengapa Athrun tidak bisa menyadari posisi Cagalli? Orang-orang berkorban demi Cagalli padahal Cagalli sama sekali bukan seorang Athha. Kenyataan itu akan membuat Cagalli hancur. Kesalahan Cagalli ada dua, dia bukan Athha dan sekarang dia memojokkan Negaranya dengan federasi, alhasil banyak nyawa yang terbuang sia-sia dan Athrun mau menambah kekacauan itu dengan menanggapi hal itu sebagai hal wajar? Kira tidak terima hal itu. Mungkin benar 'pedang keadilan' itu masih belum bangkit.

Cagalli lalu teringat dengan percakapan mereka di Crete. Masing-masing dari mereka memliki cara untuk mempertahankan keyakinan mereka dan jalan yang mereka pilih. Masing-masing mencoba saling menjaga dan melindungi dengan cara masing-masing. Masing-masing dari mereka mencoba untuk saling menghargai dan menghormati keputusan yang dipilih. "Iya aku tahu, tapi sampai menghancurkannya?"

"Ini yang terbaik, aku hanya bisa berharap Athrun dapat membuka matanya. Walau aku yakin dia pasti langsung memendam dan memikirkan semuanya sendirian," jelas Kira. Kira lalu melihat wajah sedih Cagalli dan jari kembarannya yang memainkan cincin dari Athrun. Kira lalu menepuk Pundak Cagalli, "Tenang, kupastikan dia selamat. Aku tidak menyerang kokpitnya dan area dia terjatuh tidak terlalu jauh dari Minerva. Aku yakin pasti ada yang menolongnya. Dia hidup Cagalli," tambahnya.

"Kira…"

"Aku sebenarnya marah karena dia seakan-akan tidak memahami perasaanmu. Kau menangis, kau berteriak, kau menyuarakan suaramu, tapi dia sama sekali tidak mendengarnya. Padahal dia tahu dengan benar apa arti mereka untukmu, arti ORB untukmu," jelas Kira.

Cagalli kembali meneteskan air matanya dirinya padahal hina tapi Kira masih memberikan cahaya 'harapan dan keyakinan' untuknya. Kira langsung memeluk Cagalli, mencoba menenangkan Cagalli yang sudah kacau perasaan dan pikirannya. "Tenanglah, kuyakin kau pasti akan menemukan jawabannya. Kita pasti menemukannya dan kau pasti memperoleh cara untuk bisa kembali berada di tempatmu yang semestinya. Kau hanya perlu percaya."


Apa yang Kira ucapkan benar, Cagalli memperoleh pasukan untuk berperang. Tentara ORB Union yang saat itu selamat dari hancurnya kapal induk Takemikazuchi meminta perllindungan dari Archangel. Saat itu Cagalli merasa dirinya hina. Dia membutuhkan orang-orang itu. Para tentara pun membutuhkan dia. Ketika dia berada di hadapan mereka, mungkin seperti itulah perasaan Joan of Arc ketika orang-orang terlalu mengharapkannya. Cagalli terlalu diharapkan oleh mereka. Padahal mereka tahu dosa dan kesalahan Cagalli. Kepalan tangannya bergetar. Hatinya berjalan tidak sesuai dengan tubuhnya. "Kumohon bantu aku, pinjamkan aku kekuatan kalian," bual Cagalli saat itu. Bagi Cagalli membual kata yang tepat walau dia berusaha tegar dan dewasa dihiaskan dengan senyum penuh percaya diri. Padahal dalamnya, dia hancur. Orang-orang itu percaya pada Cagalli. Kepercayaan mereka adalah dosa bagi Cagalli.

Putri memang jauh dari gambaran Cagalli. Kata putri atau gambaran seorang putri di buku dongeng mutlak bukan Cagalli. Sebuah pedang untuk bertarung diwariskan padanya, namun pedang tersebut tidak hanya untuk menyerang tapi juga untuk melindunginya. Sebuah pedang yang terpaksa Uzumi Nara Athha buat dan tinggalkan untuk Cagalli, ORB-01 AKATSUKI. Perasaan 'yakin dan percaya' Cagalli dijawab walau dia harus kembali turun ke medan perang. Pesan wasiat Uzumi membuat gadis itu menangis. Ayah yang dulu sudah membesarkannya, Ayah yang dulu sempat dia benci, Ayah yang dulu sering memarahinya, Ayah yang ternyata bukan Ayah kandungnya, ternyata memiliki beban yang sama. Dia mengharapkan kebahagiaan Cagalli tapi sayangnya dia terpaksa harus memberikan sebuah pedang pada gadis itu. Uzumi tidak ingin tangan Cagalli ternodai oleh darah. Tidak ingin Cagalli terluka baik secara fisik dan batin.

Cagalli menangis, seakan-akan sang Ayah ada dihadapannya. Seakan-akan ayahnya dengan raut wajah yang tenang menegurnya dan meninggikan suaranya bila Cagalli keras kepala. Diakhir yang Cagalli yakini bahwa Uzumi mendukung Cagalli, Uzumi mengharapkan kebahagiaan Cagalli, Uzumi mengharapkan hari esok untuknya. Oleh karena itu, Cagalli rela menodai tangannya lagi dengan darah. Mungkin terdengar menyeramkan tapi itu adalah jalan yang Cagalli pilih sekarang. Demi hari esok. Iya Uzumi mengizinkan Cagalli untuk hari esoknya walau Cagalli sudah penuh dengan dosa, luka, dan sudah banyak mengambil darah dari nyawa orang-orang sekitarnya.


"Cagalli, Yuna dan para emirs termasuk Unato…," ucap Kisaka.

Cagalli mengangguk, "Iya aku tahu. Mereka sudah tiada dan mereka menjadi korban karena kelalaianku dan juga mereka yang ternyata memiliki cara yang berbeda dalam memenuhi visi misi dari ORB."

Cagalli ingin menampar dirinya. Seharunya dia tahu kalau orang-orang yang dia percaya ternyata kurang pantas. Suatu kecerobohan dan kebodohan yang sangat fatal ketika mereka memberikan informasi kalau Lord Djibril tidak ada di ORB dan mereka melakukan itu hanya karena dulu mereka berhasil mengelabui Earth Alliance mengenai Archangel. Apa yang mereka lakukan saat itu terlalu naif, ZAFT -para Coordinator- tidak akan semudah itu percaya. Lagipula dulu balasan dari Earth Alliance adalah penyerangan dan mereka ternyata lebih mengincar mass driver dan Morgenroete. Setidaknya dulu mereka memiliki waktu untuk memperingati masyarakat ORB dan mengevakuasi mereka. Semua sudah tahu kalau trik itu terlalu kekanak-kanakan untuk dilakukan. Apalgi secara terang-terangan ada yang berhasil memperoleh foto Yuna, Unato, dan Lord Djibril bersama. 'Jadi, sekarang siapa yang hendak mengulang kejadian yang dulu?' batin Cagalli.

Cagalli tahu, dengan tiadanya Seiran khususnya Yuna tidak akan ada yang memaksa dirinya di parlemen dan tidak ada yang memaksakan pernikahan dengan berbagai alasan termasuk alasan politik. Dia bebas! Namun, bukan berarti dia tidak suka atau tidak mau dengan pernikahan mereka. Pernikahan politik adalah hal yang sering terjadi dilingkarannya tapi sesungguhnya Cagalli ingin mengganti hal itu. Tradisi kolot yang sudah tidak ada manfaatnya karena busuknya orang-orang di parlemen. Dulu Yuna tidak seperti itu, dia pemuda yang terdidik dengan baik dan paham posisinya, itu yang dilihat oleh Uzumi -mungkin- pada saat itu. Sayangnya, pola asuh orang tua dan latar belakang pendidikannya lah yang membuatnya jadi seperti sekarang, dan pertunangan mereka berdasarkan ikatan tradisi yang diperbolehkan dalam sistem bangsawan ORB.

Cagalli ingin mengubahnya, tepat ketika Yuna berkata kalau Coordinator itu tidak baik, tidak suka dengan Kira dan Athrun ketika mereka bertemu pertama kali Cagalli merasa ada yang salah. Yuna sudah tidak sepandangan dengannya. Kalau dibilang dia senang dengan kematian Yuna dan terbebas dari ikatan pernikahan Cagalli tidak bisa menjawabnya karena yang mengakhirinya adalah kematian. Pantaskah dia merasa senang ketika yang lain berduka? Sekarang, kematian Yuna adalah hal yang disesali juga oleh Cagalli. Walau pemuda itu menyebalkan dan sudah melakukan kesalahan fatal dalam sistem pemerintahan khususnya ketika dia dan Unato justru menyambut Lord Djibril tapi Yuna tetaplah manusia, kematiannya adalah hal yang mengejutkan beberapa pihak.

Ketika melihat laporan mengenai korban perang, Cagalli merasa hatinya tersayat. Banyak orang-orang penting yang tewas dan banyak masyarakat sipil juga yang tewas dan itu termasuk Yuna, Unato, dan keluarganya serta beberapa keluarga bangsawan dan emirs. Walau mereka memiliki jalan yang berbeda dengan Cagalli tapi mereka adalah orang-orang yang ahli di bidangnya. Miris memang karena mereka pastinya berpikir bahwa semua sudah terkendali dan pasti akan baik-baik saja. Tapi sayangnya manusia hanya bisa berencana dan berusaha, Tuhanlah yang memutuskan. Hal lain yang bikin Cagalli sakit hati juga karena Dewi Haumea menghukum mereka, bukan Cagalli. Padahal Cagalli lah yang bersalah, dosanya sangat banyak dan sudah tidak terhitung. Cagalli hanya bisa berandai-andai hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh sang Dewi untuknya.

"Mereka sudah tiada," ucap Cagalli sembari memandang seluruh nama yang ada di sebuah monument di salah satu area taman ORB.

"Apakah kau merasa sedih atau lega?" pertanyaan yang langsung membuat Cagalli membalikkan badannya dan melihat Athrun berdiri dibelakangnya dengan pakaian yang cukup santai buat Cagalli kemeja tangan pendek warna hijau dengan kaus warna merah didalamnya beserta celana panjang coklat gelap. Kisaka yang ada di sebelah Athrun hanya membungkukkan badan sedikit dan meninggalkan mereka berdua. Memberikan mereka berdua privasi yang mereka butuhkan.

Cagalli mendengus, lega karena yang menentang kebijakannya akhirnya tidak ada sungguh terdengar bagus semestinya, "Lega? Kau membuatku terdengar seperti yang jahat disini." Athrun yang mendengar itu juga mendengus, dia juga jadi terlihat jahat apabila mengatakan saingan untuk merebut hati Cagalli sudah tidak ada. Terkesan kekanak-kanakan tapi dia sendiri juga bingung pertanyaan apa yang pantas dia tanyakan pada Cagalli. Athrun tahu, Cagalli datang ke monument tersebut pastinya untuk mengenang dan menunjukkan rasa hormatnya pada yang sudah tiada. Salah satu kebiasaan gadis itu di saat-saat tertentu atau mungkin untuk menghitung dosa dan kesalahannya.

Athrun lalu mendekati Cagalli dan berdiri di sebelahnya. "Aku tidak tahu apa yang pantas kuucapkan untuk mereka dan perasaan apa yang pantas kutunjukkan. Tapi, manusia hanya punya satu nyawa. Mereka tewas di medan perang Ath, walau mereka salah tapi mereka perlu dikenang mereka hanya manusia. Aku berduka, iya. Itu karena mereka juga berjuang untuk ORB Union dan masyarakat yang ada didalamnya. Tidak semua dari mereka itu salah mereka hanya memilih jalan yang berbeda. Itu saja," jelas Cagalli.

Selalu berusaha dewasa, tangguh dan professional, pikir Athrun. Athrun lalu berdeham, "Maaf karena justru membuat luka hatimu bertambah," ucapnya yang langsung membuat Cagalli bingung dan mengangkat sebelah alisnya.

"Maksudmu?"

"Kau terjun ke medan perang lagi, mengendalikan Strike Rouge kemudian Akatsuki dan…..," Athrun merutuk dirinya dia seperti kehilangan kata-kata. Saat itu, terjun ke medan perang adalah pilihan Cagalli dan dia sudah berjanji untuk membiarkan atau mendukungnya.

"Kudengar dari Meyrin kau meneriakkan namaku ketika kau berada di bridge Archangel," ucap Cagalli.

"Ah yaa….," ucap Athrun.

Cagalli lalu tersenyum, "Boleh aku tahu alasan kenapa kau meneriakkan namaku?"

Athrun berusaha menyembunyikan wajah malunya. Iya, dia malu karena refleknya saat itu. Namun, itu wajar karena dia merasa tidak tenang, dia panik karena Cagalli seorang diri diluar sana berhadapan dengan Shinn. Dari segi teknik Cagalli tidak menang dari Shinn walau Cagalli punya dasar mengendalikan MS dan Athrun juga pernah mengajarinya. "Bukankah itu wajar? Kau dalam bahaya dan ….euh tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku khawatir kau…." Athrun bingung melanjutkan kalimatnya. "…Maaf bila terdengar memalukan."

Cagalli kembali tersenyum. "Kau khawatir padaku bukan?" Athrun hanya mengangguk mengiyakan.

"Karena saat itu, aku pikir aku benar-benar kehilangan dirimu. Kau dan Kira sudah membuatku khawatir ketika Archangel dirumorkan hancur dan sekarang aku dengan mata dan kepalau sendiri melihat kau hampir terkena…." Athrun tidak melanjutkan kalimatnya.

Cagalli menghela napas. "Terima kasih, karena itu artinya kau masih percaya denganku. Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena aku ternyata tidak cukup kuat dan kembali menghunuskan pedang di medan perang," ucap Cagalli. "Sebuah cara yang kau bilang kalau itu sudah tidak perlu kulakukan."

"Tapi kau melakukannya demi ORB bukan? Juga untuk meningkatkan semangat moril para tentara di garis depan," ucap Athrun. Lagi-lagi pembicaraan yang sudah sangat sering mereka bahas. Athrun lalu teringat kejadian di Crete, sungguh dia tidak menyangka kalau pertemuan mereka membuat perasaannya jadi rumit.

"Iya, harus ada yang mengambil alih dan bertindak cepat," ucap Cagalli. "Kau sedang terluka saat itu, kau ingat bukan? Jadi jangan kau menyalahkan dirimu."

"Hal yang bisa kita lakukan, hal yang ingin kita lakukan, dan yang harus dilakukan," ucap Athrun yang langsung membuat Cagalli terdiam karena merasa pernah mendengar kalimat itu.

"Ath…"

"Kalimat yang pernah kau ucapkan dua atau tiga tahun yang lalu," ucap Athrun. "Aku seharusnya berusaha mendalami arti dari kalimat yang kau ucapkan itu, tapi aku justru hanya melihat kulit luarnya saja. Kalau saja dulu aku paham artinya mungkin aku tidak akan berdebat denganmu dan Kira di Crete."

Cagalli lalu menyenderkan tubuhnya pada Athrun. "Sudah Ath, kita sudah saling memaafkan bukan?" Athrun hanya mengangguk lagi mengiyakan.

"Aku sempat berpikir kenapa bukan aku yang tewas?" ucap Cagalli tiba-tiba. Tanpa Cagalli lihat, dia tahu napas Athrun terhenti sebentar. "Aku yang sudah penuh dengan dosa dan membohongi banyak orang. Justru aku disini berdiri dengan nama mereka hanya sebagai kenangan. Aku jahat bukan?" ucapnya.

"Aku bukan Athha tapi disini aku berdiri sebagai Athha. Aku tidak bisa bertempur dengan baik, namun aku disini masih hidup bersama denganmu," ucap Cagalli. "Apakahh itu adil setelah banyaknya dosa dan kebohongan yang kuucapkan?"

"Akupun juga memiliki dosa yang sama denganmu," ucap Athrun ringan yang mencoba memperingan suasana.

"Kepercayaan rakyat, loyalitas serta tanggung jawab, dan posisi pemimpin adalah hukuman untukku. Hidup sebagai Athha adalah dosa bagiku," ucap Cagalli. "Nampaknya menjadi hidup pun adalah kesalahan dan hukuman," tambahnya.

"Kalau begitu aku juga demikian," ucap Athrun ringan.

"Kau tahu? Dulu aku sempat berandai-andai kalau hidupku seperti putri negeri dongeng. Penuh dengan canda tawa, keindahan, pangeran berkuda putih, dan hal menyenangkan lainnya. Namun ternyata itu tidak terjadi," ucap Cagalli sambil tertawa kecil.

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Athrun.

"Sudah pasti, memperbaiki semuanya," ucap Cagalli mantap.

"Walau sebagai Athha?"

Cagalli mengangguk. Seakan-akan sudah menerima takdir yang akan 'menyiksanya' seumur hidup itu. "Walau sebagai Athha," ucapnya.

Athrun tersenyum dan merangkul Cagalli. Dia tidak bisa bertindak sembarangan karena adanya protokol keamanan ORB. "Aku akan selalu ada di sampingmu sekarang. Kau tidak perlu khawatir. Aku yakin kau bisa membawa dan mengangkat kembali nama Athha ditambah, kau tidak sendiri sekarang," ucap Athrun.

"Kau hanya perlu menatap lurus ke depan, Aku akan bersamamu dan menunggumu, karena mimpi dan harapan kita akan hari esok sama."


The lion is an emblem of the dream of absolute power - and, as a wild rather than a domestic animal, he belongs to a world outside the realm of society and culture, sebuah kalimat oleh pengarang buku bernama Charles H. Hinnant mungkin menggambarkan situasi Cagalli sebagai Athha. Ketika Cagalli menganggap Athha itu sebagai hukuman, hal itu sesuai dengan lambang atau simbol keluarga Athha yaitu singa. Dia seharusnya hidup bebas, bukan terikat pada tradisi dan masyarakat. Namun singa adalah hewan yang kuat dan dia lambang raja. The lion is the defender of faith, strength, valor, fortitude, and kingliness, itulah makna singa dalam keluarga Athha.

"Cagalli?"

Panggilan namanya langsung membuat Cagalli tersadar dari lamunannya. Secara reflek dia langsung menutup bagian depan tubuhnya dengan baju blouse yang dari tadi dia pegang dan langsung berbalik ke arah sumber suara, "Athrun!? Kenapa tidak mengetuk dahulu?" tegur Cagalli yang kelihatannya salah tingkah karena dia dan Athrun sudah menikah dan ditambah lagi ini adalah kamar mereka.

Athrun tertawa dan memasuki kamar mereka, "Aku sempat mengetuk tapi kelihatannya kau tenggelam dalam duniamu sendiri. Ketika kuintip ternyata kau sedang melamun di depan cermin." Athrun lalu menghampiri Cagalli, memeluk dan melingkarkan tangannya di pinggang Cagalli. "Kau ingin menceritakannya? Apakah ada masalah di parlemen?" tanya Athrun sambil mengecup puncak kepala Cagalli.

Cagalli menggeleng pelan, "Tidak, hanya teringat masa lalu saja." Cagalli kembali menatap cermin.

Athrun mengikuti arah pandangan Cagalli dan melihat tubuh Cagalli yang memiliki bekas luka di tubuhnya. Berbeda dengannya yang seorang Coordinator, reaksi tubuh Cagalli sebagai Natural berbeda dengannya apabila sakit dan terluka. Athrun lalu mengelus dan mencium luka yang ada di leher dan bahu Cagalli. "Ada apa?" tanyanya.

"Sudah kubilang, teringat masa lalu," jawab Cagalli. Tapi dia yakin Athrun tidak puas dengan jawabannya. "Aku teringat diriku yang memegang nama Athha. Padahal aku bukanlah putri kandung Uzumi Nara Athha. Politik bisa jadi bukan duniaku. Banyak luka yang sudah kutorehkan di tubuh ini baik secara fisik maupun batin. Entah aku harus merasa bangga atau tidak dengan luka tersebut dan apakah seorang Athha akan bertindak demikian?"

Cagalli lalu tertawa kecil, "Mungkin aku hanya kembali mengingat apakah aku pantas menjadi seorang Athha? Pantas disebut Singa ORB? Aku merasa berada di bayang-bayang Ayahanda. Dan luka ini apakah menggambarkan sosok seorang Athha?"

Athrun memperhatikan tubuh Cagalli. Mungkin bagi Cagalli tubuhnya cacat dan tidak sempurna karena adanya luka dan bekas luka. Wanita sebaiknya tidak memiliki bekas luka, sebuah pemikiran kolot tapi ada baiknya juga. Namun bagi Athrun, Cagalli sempurna dan tidak cacat. Luka maupun bekas luka yang ada di tubuhnya adalah bukti, bukti kalau dia hidup dan menjalani hidupnya. Walau Athrun harus ingat ada beberapa bekas luka di tubuh Cagalli yang juga disebabkan olehnya.

"Bagiku kau sempurna," ucap Athrun. "Kau tidak perlu mempermasalahkan itu semua. Karena ini adalah bukti kau sebagai seorang Cagalli Yula Athha, bukti kalau kau sudah berjuang," tambahnya. Athrun paham luka dan dosa Cagalli yang lain. Athrun tahu hal itu tidak mudah untuk Cagalli. Tapi untuk sekarang Cagalli tidak perlu khawatir karena 'pedang keadailan' selalu ada untuknya.

Tangan Athrun lalu menyentuh bagian perut Cagalli dimana terdapatnya stretch mark. "Bukti bahwa kau sudah berjuang demi masa depan," ucapnya dan mengecup pelipis Cagalli. Mungkin bagi sebagian wanita stretch mark adalah tanda yang memalukan dan mengganggu pemandangan dan penampilan. Tapi tidak buat Cagalli dan Athrun. Bagi mereka itu adalah tanda, tanda dan bukti kalau mereka bejuang untuk hari esok dan masa depan, itulah yang mereka perjuangkan.

Cagalli tertawa geli karena sikap Athrun. Tanpa panjang lebar dan tanpa basa basi, pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu memang tahu bagaimana menenangkan dan menghiburnya. "Baiklah, aku akan berpakaian dahulu. Sore ini kita ada rapat di Morgenroete bukan?" Cagalli berusaha melepaskan cengkraman Athrun, namun kelihatannya yang bersangkutan tidak ingin melepaskan. "Ath….," ancam Cagalli.

"Berikan aku waktu lima menit, aku nyaman dengan posisi ini," ucap Athrun dengan nada agak manja.

Cagalli menghela napas, walau sekarang sudah menunjukkan jam dua siang namun jam empat mereka harus ada di Morgenroete. Dan apabila Athrun ingin bermesraan sekarang bukan waktu yang tepat. Cagalli hendak menegur Athrun lagi tapi….

"AYAAAH…! MU-CHAN HILAAAANG!"

Jeritan tangis Iris langsung menghancurkan momen romantis mereka -bagi Athrun-. Cagalli mengambil kesempatan itu untuk membebaskan diri dari Athrun. "Kau sepertinya dipanggil, Ayah. Oleh putri kecil kita dan sebaiknya kau segera kesana sebelum mereka melihat kita seperti ini. Ingat PG-13 sesuai perjanjian kita?" ucap Cagalli yang langsung dengan mudah melepas cengkraman Athrun dan membalikkan tubuh Athrun dan mendorongnya pelan menjauh darinya. Athrun mengerang dan terdengar sangat kecewa seperti anak kecil yang tidak diberikan izin bermain. Dia harus mengingatkan Iris untuk menjaga Haro-nya dengan baik.

Cagalli hanya tertawa pelan dan menggeleng-gelangkan kepalanya. Athrun berubah semenjak mereka menikah dan berkeluarga, dalam arti yang baik tentunya. Kisahnya dengan Athrun memilki pengembangan dan akhir yang unik. Mereka seperti putri dan pemuda desa dalam cerita King Grizzle Beard karena memperoleh akhir yang bahagia dengan Athrun memperoleh posisi yang pantas untuknya. Mereka seperti si Bungsu dan si Kucing bersepatu boots dalam cerita Puss in Boots dengan Cagalli sebagai si Bungsu dan Athrun 'salah satu' si Kucing, 'kebohongan' Cagalli tidak bisa dihapus mereka tahu itu. Akhir cerita mereka bahagia namun bergantung kepada si pembaca dia ingin melihatnya dari sisi mana.

Dia lalu kembali ke kesibukannya. Dia kembali melihat dirinya di cermin dan menghela napas. Benar kata Athrun, dia tidak perlu ragu. Ada aksi pasti ada reaksi, sudah pasti akan ada konsekuensi di setiap perbuatan. Cagalli lalu memandang seragam High Commander as Nation Leader miliknya yang tergantung rapi. Seragam yang menandakan dia memiliki posisi teratas di Negaranya, seragam yang lengkap dengan lambang singa lambang keluarga Athha. Ayah…aku baik-baik saja, ORB dan harta peninggalanmu aku jaga baik-baik dan aku tidak sendirian sekarang. Terima kasih Ayah… batin Cagalli seakan-akan Uzumi ada dihadapannya dan menatapnya dengan wajah penuh bangga. Cagalli lalu mengenakan seragamnya itu tidak mempedulikan bekas luka yang bisa ditutup dengan foundation atau make up lainnya. Setelah mantap dengan penampilannya dia segera pergi meninggalkan kamarnya.

Hidup Cagalli memang tidak seindah putri di buku cerita dongeng anak-anak. Dia tidak bergelimang keindahan dengan cahaya cerah matahari. Dia 'putri' yang sudah ternodai. Ternodai oleh darah, luka, dan dosa. Cagalli memiliki dosa, walau dia sudah diamankan oleh Uzumi. Cagalli tidak menyesal. Karena dosa pertama Cagalli sudah ada semenjak dia menyandang nama Athha, semenjak dia diberitahu kalau namanya adalah Cagalli Yula Athha. Dosa Cagalli yang tidak termaafkan adalah, dia bukan Athha. Bahkan ribuan kata maaf tiada henti tidak akan menghapus dosanya. Justru sekarang dia membawa dan memberikan dosa itu ke penerusnya bahkan Athrun. Dia sudah menipu banyak orang melalui omongan dan sikapnya. Tidak diduga mereka puas dan percaya dengan Cagalli bahkan Uzumi berkata kalau dia berharap Cagalli bahagia, sungguh memuakkan. Bahagia yang harus Cagalli raih namun dirinya terikat dengan dosa. Bahagia Cagalli sama seperti Kira, bahagia yang dia pertanyakan apakah pantas dia peroleh atau tidak? Bahagia adalah hukuman bagi Cagalli. Athha adalah hukuman dan dosa untuknya. Mungkin dia tidak serius saat menarik sumpah saat debutante. Namun nasi sudah menjadi bubur. Athha sudah melekat padanya dan sudah tercatat di dalam buku bangsawan ORB. Dia sudah menarik sumpah pada Sang Dewi.

Cagalli tidak mendapatkan akhir cerita yang indah seperti Cinderella, Rapunzel, Snow White, ataupun Aurora. Putri yang menjadi definisi seorang Cagalli Yula Athha bukan yang seperti itu. Ceritanya berakhir dengan mengembalikannya kepada si pembaca. Apakah dia bahagia atau tidak itu terserah kepada mereka. Sang Penulis, Sang Tuhan, Dewi Haumea lah yang membimbingnya. Memberkatinya. Dia lalu melihat cincin berbatu ruby merah yang ada di kotak perhiasannya. Cincin itu bukan penanda permulaan namun cincin itu saksi cerita kehidupan Cagalli. Cincin itu saksi akan dosa dan kebohongan Cagalli yang lain. Namun lembar buku cerita itu sudah saatnya untuk diakhiri. Halaman terakhirnya sudah penuh dengan membiarkan pembaca mengira-ngira akhirnya.

Sekarang Cagalli lah yang menjadi pembaca, dia menjadi pembaca untuk 'hari esok' nya. Untuk masa depannya. Mungkin dosa dan kebohongan Cagalli tidak akan hilang namun dia dapat melihat 'hari esok' nya berbeda darinya. Cincin emerald yang tersematkan sekarang di jarinya menandakan kehidupan baru serta penanda halaman untuk buku cerita baru. Cagalli lalu melihat foto yang ada di meja riasnya. Foto yang sama yang ada di ruang penghubung Manor Athha. Cagalli bersama Athrun beserta Aeris dan Iris. Athrun lengkap dengan pakaian seragam militer Chief in Command. Aeris mengenakan setelan formalnya. Iris dengan gaun warna biru mudanya dan Cagalli dengan gaun hijau nya. Kalau dipikir-pikir mereka memang seperti keluarga kerajaan padahal tidak ada sistem kerajaan mutlak di ORB.

Cagalli tidak masalah kalau dia tidak seperti para putri yang manis dan cantik. Dia tidak masalah kalau ternyata cerita hidupnya tidak seperti yang dia tahu dari buku cerita. Dia tidak masalah kalau ternyata akhir ceritanya berbeda dengan putri pada umumnya yang Cagalli tahu, pelukan ciuman dan pernikahan yang indah dengan pangeran. Dia tidak masalah dengan tidak adanya kuda putih, naga jahat, kastil besar dan tinggi, pesta dansa, kereta kuda, penyihir jahat, bahkan ratu atau ibu tiri yang jahat. Mungkin kalau untuk sosok 'pangeran' perlu dipertanyakan apakah Cagalli memerlukan sosok itu dan apakah Athrun mau disebut demikian? Pastinya Athrun akan menertawakan Cagalli karena delusinya yang tidak masuk akal. Toh, dari awal juga dia bukan seorang 'putri'. Dia sudah 'bertukar tempat' dengan seseorang yang seharusnya berhak menjadi putri ORB Union dan Cagalli jahat karena dengan mudahnya mengambil posisi itu. Cagalli tidak pernah meminta menjadi Athha tapi dia memiliki tugas sebagai Athha. Tuhan yang mempercayakannya. Dia tidak perlu iri pada Lacus, pada Lunamaria, pada Meyrin, pada Kira, maupun pada Athrun. Dia adalah Cagalli Yula Athha, semua luka yang pernah dia torehkan ditubuhnya itu adalah bukti kalau dia hidup. Bukti kalau dia memiliki peninggalan yang harus diteruskan dan diperjuangkan.


Author Notes:

Yeps, it is done! Part 1 about Cagalli. I can't believe that I typed until almost 20K words. So I decide to publish it first without re-read it. So sorry if there any typos. All of the references goes to gundam wikia and several gundam seed mangas. My eyes kinda dizzy and I want to know your review and opini, should I continue with the mini-series or not? And who should I write about?

As for Lindsay, I got it from Gundam SEED Delta Astray Manga, I found the ORB pilots after ORB joined with the Alliances. They are Waid Rabby Nagada, Vanfelt Ria Lindsay, Sars Sehm Ilia, Hoskin Gira Sakato, Gard Dell Hokuha, all of them are from official manga. According to Gundam Wikia, the only Noble among five them is Lindsay. I don't know about the others but it makes me curios that why all of the has three syllables for their name. Is it a rule in ORB? Showing their status? I still try to figure it out.

And once again I will say that this story inspired from 'why Cagalli has a same move and fighting style with Athrun? It is impossible if it was a coincidence.' So I try to make a story about it. But now I also added something relate with fairy tale as we know that Cagalli has a title as princess so I use it as reference as well. I also try to put a tradition aspect in my story. Just imagine about ORB tradition that maybe suit her lifestyle.

Maybe on the first part you won't realize about her dark mind because in Gundam SEED I see Cagalli as a girl who full with herself and pride with her life as Athha. But then her life changed after she knows that she was adopted and not a real Athha. So I decide to write about her doubt in Gundam Seed Destiny part. Hope it satisfy all of you. Oh I also use Kamikaze Kaitou Jeanne as slight inspiration because Cagalli and Athrun relationship just like Maron and Chiaki when it concern about fighting and caring each other. Athrun and Cagalli especially when I try to write about Cagalli's breakdown it reminds me with Chiaki and Maron. Sorry about that…

Stay safe and keep praying and hoping this pandemic will over soon!

Regards,

Fuyu Aki