Hello, thank you for the review and sorry if it takes a long time. Many thing happens and I need some data and time to complete this story. Lucky that I finish this on 18 May. Maybe I should write about Kira instead. It is their birthday. But I write about Lacus. The hard part in Lacus story is when before she entered the battlefield and in Destiny series part. Because in Destiny even she had made an appearance in the earlier episode she didn't do much. Maybe because mostly it takes Shinn POV. If you can sense something dark and a little bit angst in this story it means I did a good job for bring up her 'dark' side. Because it is a little bit hard for me to bring up the dark side from the angelic Lacus Clyne. But then I use some classics and mythology creatures as a references.
Big thanks for Popcaga, asucagasailforever, darffiarr, for your review and Rikkucchi for criticize me about the data and references for the story. I decide to seek an official source after that.
I am sorry if there still any mistakes. I haven't re-read it again. A nice and warm review are welcomed to give a positive vibe to this world, our world. :)
DISCLAIMER: GUNDAM SEED AND GUNDAM SEED DESTINY BELONG TO SUNRISE CORP
IF: OUR PAST OUR SCARS
UNDINE'S LULLABY
By Fuyu Aki
Menjadi diva atau politikus bukanlah suatu keputusan yang mudah. Dirinya dulu dielu-elukan tidak hanya sebagai masa depan cerah rasnya, Coordinator tapi juga penerus Ayahnya, Siegel Clyne yang merupakan First Generation Coordintaor dari bumi dan pendiri Zodiac Alliances yang kemudian lebih dikenal sebagai Zodiac Alliances of Freedom Treaty, singkatnya ZAFT. Lacus Clyne hanya bisa tersenyum sambil melihat pemandangan kota PLANTs dari ruang kerjanya. Dia sendiri tidak pernah menyangka kalau akhirnya akan melangkahkan kakinya ke bidang almarhum Ayahnya. Bukannya dia tidak mau, Lacus sangat ingin membantu Ayahnya namun Siegel tidak pernah memaksanya. Siegel meyakinkan Lacus kalau jalan yang Lacus pilih tidak harus selalu mengikuti Ayahnya. Lacus memiliki jalan hidupnya sendiri.
Mungkin memilih jalur politik tidak terlalu buruk, pikir Lacus. Toh, pada akhirnya menyanyi dapat dia lakukan kapan saja dan dimana saja. Namun jalur politik yang membawanya terjun ke medan perang bukanlah hal yang mudah untuk seorang gadis seperti Lacus Clyne apalagi sekarang dia menjadi Mediator. Pemikiran itu menurut orang-orang sekitarnya termasuk tunangannya sendiri saat itu, Athrun Zala. Mungkin mereka bertanya-tanya, apa kontribusi Lacus di medan perang kalau memang dia mau maju ke garis depan medan perang? Dia tidak punya pendidikan formal militer, bahkan latar belakang pendidikannya bukan militer ataupun kesehatan yang sekiranya dapat membantu garis depan perang. Dia juga tidak tahu bagaimana cara memegang senjata dan bela diri, lebih tepatnya Lacus terlalu anggun dan rapuh untuk melakukannya. Itu adalah pemikiran-pemikiran orang sekitarnya dan Lacus mengakui kalau dia berbeda dari Cagalli Yula Athha.
Namun dibalik pemikiran semua orang yang berkesan meremehkan dirinya, Lacus itu tangguh dan kuat. Karisma, ketegasan, kebaikan hati, berkomitmen, dan kejujuran adalah hal yang dimiliki Lacus. Singkat kata, gadis ini memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang dan hal itu tidak hanya dibuktikan lewat nyanyian dan suara merdunya. Itulah senjata Lacus. Kemampuan dia untuk mempengaruhi orang-orang lah yang menjadi senjata dan orang-orang yang setia dengannya yang menjadi peluru atau mata pisaunya.
Mungkin bagi beberapa orang, Lacus terkesan seperti memanfaatkan orang dan berhati dingin dengan tidak pernah menunjukkan air matanya. Wajah lugu dan polosnya yang penuh senyum yang banyak memenuhi layar acara hiburan dan sosial justru langsung digantikan dengan tatapan tegas dan kuat ketika gadis itu maju ke medan perang tahun 71 CE. Tidak ada yang tahu kalau Lacus memiliki luka dan dosa yang besar. Tidak ada yang tahu kalau keputusan gadis itu untuk maju ke medan perang dan menjadi mediator tidaklah mudah, banyak yang harus dia korbankan dan pertimbangkan.
Apakah seorang Lacus Clyne menyadari dirinya penuh dengan luka dan banyak dosa? Iya, tentu saja. Dia membiarkan orang-orang terdekatnya yang percaya padanya untuk maju ke medan perang dan mengotori tangannya dengan darah dan api perang serta mengorbankan nyawanya. Apakah itu hal baik? Tentu saja tidak dan Lacus tahu benar hal itu. Entah sudah berapa banyak korban perang akibat dari pidato singkatnya dan kata-kata 'manisnya' yang dia ucapkan. Lacus memiliki kata mantra yang membuatnya untuk tidak ragu dan terus melangkah, "Pertama putuskan kemudian lakukan", kalimat yang pernah dia ucapkan pada Cagalli. Sebuah mantra untuk tidak mudah dipengaruhi dengan hal-hal lain dan fokus dengan apa yang ingin dirinya lakukan. Sebuah kalimat yang penuh makna namun kalau tidak diperdalam dengan baik, maka Lacus Clyne bisa jadi terlihat seperti orang berhati dingin.
Memangnya seperti apakah hidup yang harus dijalani oleh Lacus Clyne? Atau apakah Lacus Clyne itu? Seorang diva yang juga seorang penggerak perdamaian dan kehidupan pribadinya sedikit diketahui orang? Seorang diva yang bergelimang dengan ketenaran dan perhatian masyarakat berpusat dengannya dan hidup riang gembira dengan seorang tunangan tampan seorang Athrun Zala seperti Meer Campbell lakukan dulu? Seorang pemimpin pesawat komando perang Eternal yang harus berkepala dingin dan tegas dalam mengambil keputusan? Mediator yang dimana dia harus selalu berwibawa dan bertanggung jawab di setiap keputusan yang diambilnya? Atau seorang gadis ceria yang senang menyanyi dan bermain dengan anak-anak? Tidak ada yang tahu karena semua itu hanya Lacus Clyne sendiri yang tahu.
Lacus sadar benar dan tahu konsekuensi yang akan dia alami itu apa dari setiap keputusan hidupnya. Namun dulu hidupnya sempat terkotak. Terkotak atau mungkin terbungkus dalam suatu bubble yang membungkusnya dengan apik dan teratur tanpa cacat dan dia harus terus berada dalam kotak itu. Dia harus selalu dalam keadaan bersih dan suci tanpa cacat dan tanpa luka dan tidak boleh rusak sama sekali. Terdengar aneh memang, tapi Lacus mencoba mengubahnya dengan mengambil suatu Langkah yang berbahaya. Dia maju ke medan perang karena suaranya belum tentu didengar apalagi dia sudah dicatat sebagai pengkhianat dan buronan. Di medan perang dia tahu kalau apa yang dia lakukan salah dan tidak ada bedanya dari kejamnya perang, tangannya berlumur darah walau dia tidak melihatnya dan dia juga sadar kalau dia juga menanggung beban dosa itu.
Lacus Clyne terlahir dari seorang Ayah dan Ibu yang merupakan First Generation Coordinator. Semua kemampuan dan parasnya merupakan hasil 'modifikasi'. Entah itu modifikasi langsung ketika dia masih dalam bentuk embrio atau memang hasil gabungan gen orang tuanya melalui persalinan dan kehamilan normal. Lacus tidak pernah mempermasalahkan asal usulnya, ayahnya yang berambut pirang dan ibunya yang berambut red magenta cukup meyakinkan Lacus mengenai asal usul warna rambutnya. Kedua orang tuanya merupakan pacifist dan Lacus secara otomatis mendapatkan perlakuan dan sifat tersebut dari orang tuanya.
Masa kecil Lacus cukup indah. Walau dia lahir ditengah masa epidemi Type S2 Influenza dia termasuk anak yang sehat dan cerdas sebagai Second Generation - Coordinator. Keluarga Clyne menjaganya dengan baik dibantu juga oleh Kerajaan Skandinavia. Keseharian Lacus dihabiskan dengan belajar, bermain musik dan bernyanyi, serta bermain dengan robot kesayangannya Okapi. Suara indah Lacus diturunkan oleh Ibunya. Dia dan Ibunya sering menghabiskan waktu bersama bernyanyi bersama dan Ibunya bahkan memiliki buku catatan yang berisi lagu-lagu yang sering mereka nyanyikan mungkin Ibunya adalah seorang penulis lagu begitu pikirnya. Namun Ibunya adalah Ibunya yang selalu ada untuknya dan membanjiri Lacus dengan cinta dan kasih sayang bersama dengan Ayahnya.
"Ibu, mengapa Ibu banyak menyanyikan lagu yang sedih?" tanya Lacus kecil. Dia sekitar berumur lima tahun saat menanyakan mengenai arti dari lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. Padahal setahu Lacus masa krisis karena epidemi Type S2 Influenza sudah selesai dunia seharusnya sudah damai tidak ada lagi kekacauan didalamnya.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluk Lacus kecil. "Ibu berharap kelak suatu hari akan ada perdamaian di dunia ini. Perdamaian dimana baik Coordinator dan Natural tidak saling berperang namun saling bergandengan tangan."
"Jadi dengan menyanyi, maka dunia akan damai?" tanyanya polos. "Tapi mengapa masih ada yang saling membenci?"
Ibunya tertawa kecil mendengar pertanyaan polos Lacus, "Lagu ini bagaikan do'a dan harapan Ibu. Perdamaian masih belum tahu kapan akan diraih. Ayah bersama dengan teman-temannya Ayah sedang memperjuangkan hal itu. Nah biar Ayah semangat, maka Ibu menyanyi untuk memberikan semangat, do'a, serta dukungan untuk Ayah."
"Tapi Ayah tidak membenci orang-orang itu," ucap Lacus yang kelihatannya penjelasan Ibunya antara saling benci dan Ayahnya tidak berkaitan sama sekali. "Kenapa harus ada benci dan amarah dan mengapa para Coordinator dibenci?" nada sedih terdengar dari suara gadis cilik itu seakan-akan dia disalahkan.
"Iya Ayah tidak membenci mereka. Seperti Ibu bilang lagu ini bagaikan do'a," ucap Ibunya. Ibunya lalu mengacungkan jari telunjuknya kepada Lacus, "Ingat dunia ini adalah milikmu dan kamu adalah milik dunia. Selama kamu terlahir dan berada di dunia ini," tambah Ibunya yang dibalas gerakan memiringkan kepala dari Lacus serta raut wajah bingung.
Ibunya tertawa lagi, "Kau ada di dunia ini pasti ada alasannya Dunia ini membutuhkanmu dan kamu juga membutuhkan dunia ini. Setiap orang di dunia ini pasti memiliki alasan mengapa ia terlahir di dunia ini."
"Alasan?"
"Iya alasan dan hal yang ingin Lacus lakukan untuk dunia ini," ucapnya.
"Jadi nanti Lacus harus bisa menjadi seperti Ayah? Memiliki banyak teman dan membantunya mencapai cita-cita untuk dunia?"
Ibunya mengelus lembut kepala Lacus, "Lacus tidak harus menjadi seperti Ayah atau seperti Ibu. Lacus cukup menjadi Lacus dan memiliki jalan hidup Lacus sendiri. seperti Lacus yang sekarang ada bersama Ibu membuat Ibu menjadi seseorang yang paling bahagia karena memiliki putri manis seperti Lacus. Oleh karena itu suatu hari Lacus juga akan menemukan seseorang yang berarti buat Lacus dan membuat Lacus menyadari betapa berharganya hidup ini, hidup Lacus, hidup orang-orang disekitar Lacus, dan dunia ini.
"Lacus membuat Ibu bahagia?" tanya Lacus polos yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia kira sumber kebahagiaan Ibunya adalah Ayahnya.
"Iya tentu saja! Lacus adalah salah satu sumber kebahagiaan Ibu dan Lacus juga akan mengalami hal yang sama dengan Ibu. Suatu hari nanti kau akan bertemu dengan seseorang yang membuat dirimu bahagia, ingin selalu bersamanya, dan menyebabkan perutmu tergelitik senang seperti ada kupu-kupu didalamnya," ucap Ibunya sambil mencubit lembut perut putri kecilnya.
Lacus langsung memegang perutnya setengah tidak percaya, takut, dan geli disaat yang bersamaan. "Lacus akan bertemu dengan orang seperti itu?"
"Iya, Lacus akan bertemu dengan seseorang yang membuat Lacus merasa bahagia dan selalu ingin bersama dengannya. Seseorang yang membuat Lacus bersyukur bisa berada dan sudah berbuat sesuatu di dunia ini," ucap Ibunya.
Lacus lalu berpikir sebentar, "Seperti Ibu dan Ayah?"
Ibunya langsung tersadar kalau obrolannya sangat berat dan kurang cocok untuk gadis berusia lima tahun. "Euh, iya….Lacus akan bertemu dengan orang seperti itu. Tapi Lacus tidak akan membencinya," ucapnya.
Lacus langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya seperti sangat terkejut dengan kenyataan bahwa kehidupan itu berat.
"Orang itu bukan Ayah dan Ibu?"
"Bukan."
"Tapi, bukankah Ibu dan Ayah bilang kalau Lacus tidak boleh sembarangan atau dekat-dekat dengan orang asing?"
Ibunya tertawa, "Lacus sayang, kita ini tidak bisa hidup sendirian. Seperti Lacus sekarang yang masih membutuhkan bimbingan Ayah dan Ibu. Lacus akan bertemu dengan banyak orang, berkenalan dengan banyak orang, berteman dengan banyak orang, dan Lacus akan tahu artinya saling tolong menolong, saling menghormati dan menghargai." Ucapnya. "Kemudian Lacus akan menemukan untuk apa Lacus ada di dunia ini dan apa yang ingin Lacus lakukan. Ingat, langkah pertama adalah putuskan lalu lakukan," tambahnya.
"Seperti Ibu yang membantu Ayah menolong orang dan menyanyikan lagu untuk menyenangkan Ayah dan orang-orang?" tanya Lacus.
"Tepat sekali. Oleh karena itu, sekarang Lacus juga akan menyanyi bersama Ibu ya? Lacus senang bernyanyi bersama Ibu?"
Mendengar penjelasan singkat Ibunya, Lacus terkagum. Dia lalu membalas pelukan Ibunya dan tersenyum senang, "Iya! Lacus akan selalu menyanyi bersama Ibu!"
Namun, kebersamaan Lacus dengan sang Ibu tidak lama. Ibunya sakit karena Type S2 Influenza dan harus dirawat secara khusus. Mungkin karena Ibunya sering melakukan kunjungan atau acara sosial ke rumah sakit dan lembaga penelitian makanya tanpa disadari dirinya juga tertular. Padahal vaksinnya sudah ditemukan tapi, kelihatannya masih belum cocok untuk beberapa First Generation Coordinator.
Di saat yang bersamaan Lacus baru saja mengalami hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya pertama kali, dia melihat ketidakadilan dari pihak lembaga kesehatan yang tidak merawat Ibunya dengan baik. Hal itu wajar karena vaksin untuk penyakit tersebut baru ditemukan pada tahun 55 C.E. Walau sudah enam tahun berlalu tapi kondisi pelayanan kesehatan belum sepenuhnya stabil dan Lacus hanya bisa menangis. Dia tidak bisa bertemu dengan Ibunya, tidak bisa menggenggam tangannya, memeluknya, dan mencium pipi Ibunya, hal yang sering Lacus lakukan untuk Ibunya.
"Lacus, dunia ini milikmu dan kamu adalah milik dunia. Selama kamu terlahir dan ada di dunia ini," ucap Ibunya terakhir kali. Hanya kalimat itu yang Lacus ingat ketika dirinya diizinkan bertemu dengan Ibunya terakhir kali. Sebelum Ibunya masuk ke ruang perawatan khusus dan sebelum sang Ibu meninggal dua minggu kemudian. Lacus hanya bisa menangis sedih sekencang-kencangnya di pelukan Ayahnya.
Pemakaman sang Ibu cukup ramai dihadiri beberapa orang. Lacus pun meminta izin kepada Ayahnya untuk menyanyikan lagu kesukaan Ibunya, untuk terakhir kalinya. Siegel Clyne hanya mengangguk mengizinkan putri semata wayangnya itu. Sambil menggenggam erat tangan Lacus dan menahan air matanya, mencoba tegar untuk putrinya yang sudah menangis meraung-raung histeris kemarin. Wajar karena Lacus masih kecil dan hanya sang Ibu yang dekat dengannya. Air mata yang ditahan oleh sang Ayah tapi ternyata luluh juga ketika Lacus menyanyikan lagu untuk sang istri tercintanya itu.
Sepeninggalan sang Ibu, Lacus lebih sering menemani sang Ayah. Dia menjalani kehidupan sehari-harinya dengan baik. Dia tidak lama berlarut-larut dalam kesedihan. Dia bangkit dan tahu, yang merasa kehilangan bukan hanya dirinya. Ayahnya juga kehilangan dan dia sebagai putri dari Siegel Clyne harus mendukung sang Ayah seperti apa yang sudah dilakukan oleh Ibunya. Lacus jadi cukup sering muncul di media namun hanya di media PLANTs saja. Sedikit demi sedikitd dia juga jadi tahu mengenai politik dan konflik yang terjadi tapi dia diam. Bukan tempat dan bagian dirinya untuk menyuarakannya. Lacus melakukan hal yang dulu Ibunya sering lakukan. Menghadiri beberapa pesta dan pertemuan politik yang ringan, menghadiri acara sosial dan bergabung dengannya. Uniknya karena suaranya yang merdu dan lembut ada seorang agensi talent yang mengajak Lacus bergabung dan untungnya agensi tersebut kenal baik dengan sang Ayah.
Tidak memakan waktu lama, Lacus langsung menjadi terkenal di PLANTs. Terkenal karena suaranya yang menenangkan dan merdu serta lembut. Di umur sepuluh tahun, dia mulai dikenal oleh publik sebagai seorang diva, seorang utahime. Namun dia juga dikenal sebagai putri dari Siegel Clyne. Siegel tidak ingin memaksa Lacus untuk mengikuti jejaknya atau menemaninya di setiap acara yang harus dia hadiri tapi, Lacus bersikeras. Dia ingin mencari apa yang sering Ibunya beritahu mengenai apa tujuan hidupnya.
"Lacus, kau tidak perlu mengikuti apa yang Ayah lakukan. Kau tahu kalau Ibumu juga mengatakan hal yang serupa bukan?" tanya Siegel kala itu. Mereka sedang menikmati afternoon tea di cottage halaman belakang mereka.
"Apa perang akan kembali berkecamuk?" tatapan Lacus tidak lepas dari layar televisi.
Siegel menghela napas, "Ayah tidak tahu tapi Ayah akan berjuang," jawab Siegel. "Ayah akan berjuang demi masa depanmu nak, sehingga Lacus tidak perlu merasakan sakit dan pedihnya akbat perang dan perbedaan ras," ucap Siegel. "Oleh karena itu Lacus cukup lakukan apa yang ingin Lacus lakukan. Tidak perlu mengikuti jejak Ayah dan Ibu."
Lacus lalu menatap sang Ayah, menikmati chamomile tea yang dia pegang bersama okapi robot pet berwujud anjing kesayangannya. Lacus lalu menggelengkan kepalanya, "Ayah tenang saja. Lacus tahu apa yang Lacus lakukan. Lagipula Lacus hanya ingin menemani Ayah untuk sekarang dan meringankan beban Ayah bila memungkinkan."
Siegel menghela napas, dibalik wajah polos, ceria, dan senyum manisnya Lacus bisa menjadi serius dan berpendirian kuat. Mirip sekali dengan istrinya. "Baiklah, tapi Lacus harus ingat disetiap perbuatan atau tindakan yang dilakukan pasti akan ada konsekuensi yang harus dihadapi. Maka Lacus harus ingat kalau Lacus harus kuat karena kita sebagai manusia hanya bisa memutuskan dan melakukan," ucap Siegel. "Tapi Ayah tetap akan ingatkan Lacus, kalau Lacus memiliki jalan hidup yang harus Lacus pilih sendiri, bukan oleh Ayah tapi oleh Lacus."
Lacus menyesap teh miliknya dan tersenyum kepada sang Ayah, "Akan Lacus ingat baik-baik dan terima kasih Ayah."
Siegel Clyne tidak mengambil tindakan seperti Uzumi Nara Athha. Siegel tidak membatasi ruang gerak Lacus. Tidak menutupi keberadaan putri semata wayangnya itu. Dia membiarkan Lacus tumbuh normal dan menjalani hidup layaknya anak gadis seusianya. Walau pengecualiannya adalah Lacus anak dari pemimpin tertinggi PLANTs yaitu Siegel Clyne. Lacus Clyne tahu kalau dia mengambil langkah yang berbeda dari putri ORB Union. Dia tahu mengenai aturan yang dikeluarkan oleh Uzumi Nara Athha. Lacus tidak tahu sosok seperti apakah putri ORB itu tapi pastinya ada alasan khusus mengapa Uzumi mengdeklarasikan aturan tersebut.
Ketenaran dan kepopuleran Lacus bisa dibilang sangat besar namun hal itu tidak membuat dia sombong. Dia tetap rendah hati dan bersikap dermawan. Sebagian besar hasil yang dia peroleh dari konser, acara di televisi, dan penjualan lagunya dia sumbangkan untuk acara amal dan sosial. Semenjak Ibunya meninggal, Lacus melanjutkan apa yang dilakukan oleh Ibunya. Bahkan lagu yang sering dia nyanyikan adalah lagu yang khusus ditulis dan dibuat oleh Ibunya dan Lacus menyimpan buku yang berisikan tulisan lagu Ibunya itu dengan baik. "Ibu, semuanya baik-baik saja," ucap Lacus sambil menatap buku catatan milik Ibunya.
Sebagai seorang gadis berumur sepuluh tahun, pola pikir Lacus dewasa. Dia tetap ceria seperti anak gadis pada umumnya. Bermain dengan anak-anak ketika kunjungan ke panti sosial. Menghadiri acara peringatan yang berkaitan dengan para pacifist belum dia lakukan. Dia hanya melakukan kegiatan sosial yang masih ada hubungan dan kaitan dengan program milik keluarga Clyne. Dia tidak lari, bahkan tidak mengasingkan diri ke Kerajaan Skandinavia yang jelas dapat memberikan perlindungan penuh untuknya. Padahal orang-orang sempat khawatir karena perang ada kemungkinan terjadi, dengan berubahnya nama Zodiac Alliances menjadi ZAFT dan rumor akan dikembangkannya Mobile Suit. Suasana politik menjadi memanas.
Diumur dua belas tahun, Lacus bertemu dengan Patrick Zala pertama kali. Dia tahu mengenai seseorang bernama belakang Zala itu dari Ayahnya. Selain itu dia juga bertemu dengan Lenore Zala, seorang peneliti agrikultur di Junius Seven. Sekilas Lacus teringat dengan sosok sang Ibu tapi dia tidak mengobrol banyak dengan Lenore karena mereka sedang berada di acara pertemuan para petinggi ZAFT dan Supreme Council. Melihat pasangan Zala itu, Lacus menyimpulkan Patrick sangat mencintai Lenore dan dia dengar kalau Lenore sekarang tinggal di Copernicus City bersama putranya. Copernicus City adalah koloni kota di bulan dan disana ada banyak para Natural dan Coordinator yang tinggal bersama. Lacus merasa pasangan Zala ini bukan suatu hal yang menghalangi Ayahnya, mereka cinta damai dan Lacus bisa lihat hal itu. Tapi, Patrick Zala justru berasal dari fraksi radikal, suatu hal yang tidak Lacus duga.
"Lacus, bagaimana menurutmu dengan keluarga Zala?" tanya Siegel.
Mereka berdua dalam perjalanan pulang dari pertemuan tersebut dan Lacus menangkap kalau Ayahnya terdengar sangat berhati-hati ketika mengajukan pertanyaan mengenai Patrick dan Lenore. Lacus yang duduk disebelah Ayahnya menolehkan wajahnya, "Mereka orang yang baik. Walau Lacus cukup terkejut kalau ternyata Tuan Zala yang memegang National Defence Committee berasal dari fraksi radikal berbeda dengan Ayah. Beliau terlihat seperti sosok pria yang baik," jawab Lacus.
"….," Siegel hanya diam. Tidak menyangka kalau Lacus menangkap hingga sejauh itu.
"Ada apa Ayah menanyakan hal tersebut?" tanya Lacus.
Siegel sedikit menghela napas. Mungkin tidak ada salahnya bila putrinya diberitahu dari sekarang mengenai info tersebut. Lacus sudah cukup umur untuk tahu. Iya, untuk tahu mengenai sistem yang cukup menyakitkan sebagai seorang Coordintaor. "Lacus, kau tahu mengenai sistem pernikahan para Coordinator?" tanya Siegel.
Lacus mengedipkan matanya beberapa kali, "Iya, untuk menikah dengan seseorang yang cocok dengan kondisi gen pasangan. Hal ini disebabkan tingkat kehamilan para wanita Coordinators yang cukup rendah karena janin dan rahim yang berbeda dari Natural. Apabila gennya tidak cocok maka justru semakin menurunkan tingkat kemungkinan kehamilan tersebut. Hal tersebut disebabkan Coordinator yang lebih cenderung steril dibandingkan Natural akibat dari rekayasa genetika. Serta kemungkinan keturunan yang berbeda standarnya sehingga diperlukan pasangan dengan kondisi gen yang cocok atau sesuai."
Siegel diam dahulu sebelum akhirnya dia menyampaikan maksud tujuannya, "Ayah tidak ingin memaksa Lacus. Tapi, Ayah berencana untuk menjodohkan Lacus dengan putra Patrick Zala. Dia sekarang sedang menyelesaikan studinya di Copernicus City. Lacus mungkin baru bisa bertemu dengannya nanti apabila dia sudah kembali. Untuk sekarang akan dilakukan beberapa tes dan pemeriksaan untuk melihat tingkat kecocokan gen kalian."
"Perjodohan politik?" tanya Lacus mengingat latar belakang sang Ayah dan Patrick Zala.
"Maafkan Ayah. Ayah tidak bermaksud membuatnya terlihat seperti itu. Tapi, Ayah hanya ingin yang terbaik untuk Lacus dan Ayah berjanji untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Tapi, kalau Lacus-"
"Baik Ayah akan Lacus lakukan," potong Lacus.
"Lacus!?"
"Apabila ini yang terbaik untuk Ayah dan semuanya, Lacus akan coba jalankan. Seperti yang pernah Ayah dan Ibu katakan. Putuskan dan lakukan. Lagipula Lacus pikir bukan hal yang buruk, Lacus dengar dia pemuda yang baik," Lacus menjawab tanpa ragu. Lagipula dia belum bertemu dan belum mencobanya.
Siegel hanya menghela napas, dia juga berharap hal yang sama. Semoga saja putra dari Patrick Zala tidak seperti yang dia khawatirkan. "Baiklah, terima kasih," ucap Siegel. Dia tidak ingin putrinya berpikir kalau kebebasannya sudah dirampas. "Ayah menyayangimu nak," ucap Siegel sambil mengecup puncak kepala putrinya.
"Lacus juga," balas Lacus.
Kalau mau berpikiran egois dan picik, mungkin Lacus akan marah dan menganggap Ayahnya jahat karena merampas kebebasannya dalam memilih dan menyuarakan keinginannya. Tapi, apa gunanya? Lacus kenal banyak pria tapi tidak ada satupun yang menarik perhatiannya. Bukannya Lacus tidak suka tapi, Lacus berpikir belum waktunya dia memilirkan hal itu. Perjalanan hidupnya masih panjang. Lacus sama sekali tidak merasa kebebasannya dirampas, dia hanya ingin mencari apa yang selama ini dia cari. Identitasnya dan tujuan hidupnya. Perjodohan sudah menjadi hal yang lumrah untuk para Coordinator. Jadi bukannya Lacus pasrah atau terima nasib tapi dia berusaha menjalaninya. Seperti Ibu dan Ayahnya. Justru Lacus menjadi penasaran seperti apa sosok calon pendamping hidupnya itu. Sempat terdengar kalau Lenore Zala sangat memuji dan membanggakan putranya itu.
Diumur tiga belas tahun Lacus berkenalan dengan Athrun Zala. Tidak ada yang cacat dari pemuda itu. Dia sempurna seperti yang dijelaskan oleh Lenore Zala dan Siegel padanya. Lacus pun tidak keberatan bila harus berkenalan dahulu dengannya. Awal pertemuan mereka sangat unik, Athrun lengkap mengenakan suit jas berwarna hijau toska serta tidak lupa buket mawar merah digenggamannya untuk Lacus. Sungguh cara perkenalan yang mewah padahal mereka belum resmi bertunangan. "Athrun Zala, perkenalkan," ucapnya singkat dengan senyum malu-malunya. Rona merah dapat Lacus lihat di pipi pemuda itu. Athrun sama seperti para pria lainnya, dia tertarik pada Lacus. Namun Lacus mencoba untuk mengenalnya. Ketika Athrun menyodorkan sebuket mawar merah padanya Lacus menerimanya dengan senang. Pemuda ini tahu etika, dia tahu sopan santun dan Lacus yakin Siegel pasti akan menyukai pemuda ini.
Lacus menerima bunga itu, "Ara terima kasih, perkenalkan aku Lacus Clyne. Senang berkenalan denganmu," ucapnya.
Awal pertemuan mereka hanya untuk berkenalan dan menikmati afternoon tea. Rona merah kagum dan suka terlihat di wajah Athrun hal wajar yang sering Lacus lihat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Alasannya sederhana, Athrun baru kembali dari Copernicus City dan Lacus ingin mengetahui seperti apa dunia yang Athrun lihat. Tapi kemudian pembicaraan menjadi serius ketika Athrun baru tahu kalau dia dijodohkan dengan Lacus ketika hasil pemeriksaan gen mereka keluar. Mereka cocok. Mereka ideal. Mereka sempurna. Mereka jodoh yang diikatkan oleh benang merah. Mereka masa depan ras Coordinator. Athrun pada saat itu justru terlihat tidak setuju atau lebih tepatnya masih enggan, sedangkan Lacus sudah menyerang dengan menanyakan berbagai macam hal pada Athrun termasuk wujud anak mereka di masa depan yang justru membuat Athrun panik. Bahkan sempat mengira kalau Haro yang Athrun buat adalah hadiah untuk pertunangan mereka yang hal itu kembali membuat Athrun panik.
Athrun pemuda yang menarik pikir Lacus. Seperti yang dijelaskan Lenore, dia baik, tampan, tahu etika dan sopan santun, dan juga jenius tidak ada yang cacat sosok pangeran yang sempurna seperti di buku dongeng wanita manapun akan jatuh cinta padanya. Tapi seperti ada yang menutup pemuda itu. Ada bagian dari diri Athrun yang tidak bisa Lacus raih. Ingin Lacus membuka apa yang menjadi pikiran pemuda itu karena dia akan menjadi istri dari seorang Zala jadi wajar apabila Lacus harus mengetahui sosok Athrun Zala. Namun setelah dipikir-pikir mereka masih terlalu muda, masih banyak yang harus mereka pelajari dan pahami mengenai kehidupan. Namun, Athrun adalah pemuda yang baik dan bisa diandalkan. Athrun memiliki pribadi yang berbeda dengan Patrick Zala, Lacus bisa lihat hal itu.
Pemuda itu selalu membawakan hadiah disetiap kunjungannya dan kelihatannya itu adalah bagian dari pendidikan etika yang diajarkan padanya sebagai gentleman. Hadiah berupa bunga atau robot Haro tebaru untuk Lacus adalah hal yang sering Lacus terima. Athrun itu unik, dikala para pemuda mengejar para gadis dengan kencan, makanan berupa kue dan manisan, perhiasaan, bunga, dan pakaian indah justru hal itu tidak dilakukan oleh Athrun. Robot Haro, afternoon tea, buket bunga, dan obrolan santai di taman kediaman Clyne sudah cukup untuk pemuda itu dan Lacus tidak masalah karena dia juga bukan gadis yang senang macam-macam dia menyukai dan bisa mengikuti fase yang diberikan dan dilakukan oleh Athrun. Sesekali Athrun hadir di konser Lacus dan Lacus suka menangkap basah Athrun yang menahan kantuknya di kursi. Sungguh pemuda yang menarik dan Lacus yakin tidak ada salahnya dia menjalani masa depan dengan Athrun, begitu pikirnya kala itu.
"Athrun, terima kasih sudah mau memperbaiki okapi dan juga para Haro," ucap Lacus ditengah makan malam mereka. Entah mengapa Athrun jadi sering menemani Siegel dan Lacus untuk makan malam. "Terima kasih juga untuk memenuhi undangan makan malam," tambahnya.
"Sayang, kedua orang tuamu Patrick dan Lenore sedang berhalangan untuk hadir," ucap Siegel. "Akan lebih menyenangkan apabila mereka bisa ikut bergabung," tambahnya.
"Saya mohon maaf dan mereka menitipkan salam untuk anda Tuan Siegel," ucap Athrun yang terdengar bersalah.
Siegel tertawa, "Kau tidak usah merasa bersalah seperti itu. Justru aku merasa merepotkanm disini Athrun. Kau jadi lebih sering menghabiskan waktumu di kediaman Clyne dibandingkan rumahmu," ucap Siegel. "Kami tidak ingin memburu-buru hubungan kalian berdua, kalian masih muda," ucap Siegel.
Lacus dapat melihat kalau bahu tegang Athrun menjadi santai. Athrun memang seperti itu, dia sangat penuh dengan tanggung jawab. "Iya saya mengerti," jawab Athrun.
"Apakah Patrick masih sibuk dengan pengembangan Mobile Suit?" tanya Siegel.
Athrun mengangguk, "Kelihatannya demikian dan Ayah banyak menghabiskan waktu di Jachin Due namun Ibu berhasil mengingatkan Ayah untuk selalu beristirahat dan makan."
"Kuharap apa yang Patrick lakukan benar. Walau sebenarnya aku kurang yakin apakah kita membutuhkan Mobile Suit dalam skala besar atau tidak, kuharap Ayahmu tidak bertindak gegabah Athrun," ucap Siegel. "Dia masih memiliki keluarga untuk diperhatikan, kau dan juga Lenore."
Athrun kembali hanya mengangguk, "Saya pun juga berharap demikian. Ayah untuk pulang dan berkumpul kembali."
"Ara, daripada itu bagaimana kalau kita segera makan. Sayang masakannya sudah susah payah dibuatkan dan kita membiarkannya," ucap Lacus.
"Itu berbahaya! Berbahaya!" seru Haro berwarna pink yang ada di sebelah Lacus dan langsung menghasilkan gelak tawa di meja makan.
Hari-hari Lacus sangat digambarkan penuh kebahagiaan dan keceriaan. Selalu penuh dengan gelak tawa dan senyum. Hidupnya sempurna. Tidak ada yang cacat dari kehidupannya. Karirnya berjalan mulus, tunangan yang baik dan sempurna, Ayah yang menyayanginya walau dia sudah tidak memiliki sosok Ibu, para Haro yang sering menemaninya jadi dia tidak merasa kesepian. Lenore dan Patrick juga menyambutnya dengan baik walau Lacus jarang bertemu dengan mereka di acara santai. Sosoknya sebagai seorang Yamato Nadeshiko semakin sempurna, dia bagaikan tuan putri di Negeri Dongeng.
Setelah info mengenai pertunangannya dengan Athrun diumumkan, sontak seluruh masyarakat PLANTs heboh. Mereka berdua dielu-elukan sebagai pasangan yang sempurna, pasangan ideal yang langsung membuat para fans Lacus sedih karena idolanya sudah memiliki tambatan hati ditambah lagi berasal dari kelas yang sama dengan sang idola. Zala dan Clyne suatu kombinasi yang mengejutkan, kuat dan tidak mampu digoyahkan itulah pandangan orang-orang. Clyne yang lembut dan Zala yang tegas, kombinasi yang sempurna. Tidak ada yang berani protes, data sudah membuktikan dan apabila ada yang macam-macam pastinya tidak ada yang berani. Zala menguasai militer dan pertahanan Negara PLANTs dan Clyne memegang kepemimpinan di Supreme Council. Satu berada di garda depan satu berada di garda belakang. Lalu sekarang kedua anaknya akan mengikat sumpah setia sebagai suami istri, sudah pasti tidak akan ada yang protes justru sebaliknya mereka didukung sepenuh hati. Royal couple sebutan untuk keduanya dan Royal Marriage harus disiapkan untuk mereka nanti.
Untungnya Lacus dan Athrun tahu bagaimana caranya menghadapi publik. Mereka sudah biasa membahas dan membalas bagaimana sikap orang-orang yang mengetahui hubungan mereka. Lacus memiliki pekerjaan sebagai seorang diva dan dia bisa menyikapi bagaimana menghadapi publik dengan baik. Namun tidak untuk Athrun. Pemuda itu terlalu kaku. Athrun masih dalam tahap melanjutkan studinya di PLANTs tapi dengan mudahnya dia tidak mempedulikan omongan orang karena dia sudah biasa. Dia sudah biasa menjadi bahan omongan khususnya karena dia adalah seorang Zala.
"Kau baik-baik saja?" tanya Lacus saat mereka sedang menikmati teh seperti biasa di kediaman Clyne. Lacus lalu menyodorkan cangkir berisi mint tea untuk Athrun. Beberapa hari yang lalu Athrun baru saja diwawancara oleh wartawan setelah Athrun diketahui menonton salah satu konser sosial bulanan yang diadakan Lacus. Untung protokol keamanan dari ZAFT ada disana. Mereka tidak perlu berlarut-larut lama dengan pertanyaan para wartawan. Tapi Lacus bisa lihat, Athrun tidak suka perhatian seperti itu. Dia ingin biasa saja, menjadi pemuda yang biasa saja.
"Yah begitulah," ucap Athrun. Jawaban yang selalu Lacus terima yang berarti Athrun tidak ingin membahasnya lebih lanjut.
"Bagaimana dengan studimu? Bukankah kau sebentar lagi akan lulus?" tanya Lacus. Dia akhirnya memutuskan untuk menanyakan kondisi akademis Athrun. Lacus berbeda dengan Athrun. Lacus mengambil pendidikan di sekolah khusus wanita, program diploma dan sarjana plus dia mengambil jalur percepatan. Pastinya di bidang kemasyarakatan dan sosial, dia tidak mengambil seni. Sedangkan Athrun mengambil bidang mekanika khususnya micro unit. Athrun memiliki mimpi yang besar sebagai peneliti tapi disaat yang sama Athrun memiliki kepiawaian dalam mempimpin seperti Ayahnya dan Patrick. Athrun dapat membantu bidang akademis Ayahnya, Space Life Science atau bidang yang dikelola oleh keluarga Amalfi atau Joule. Tapi Lacus tahu, Athrun memiliki mimpinya sendiri dan Lacus bisa lihat hal itu, dia mendukung Athrun apapun jalur yang Athrun pilih.
"Ah yaaa…..mungkin beberapa bulan kedepan aku akan sibuk. Aku sedang mengejar tenggat waktu untuk risetku," jawab Athrun. "Kau sendiri bagaimana? Apakah kau sibuk dengan konser amalmu?" balas Athrun.
"Iya tapi kelihatannya akan dibatalkan dibeberapa tempat mengingat kondisi sedang tegang sekarang," ucap Lacus.
"Oh begitu," ucap Athrun. Miris memang, ketika mereka berdua sedang duduk manis menikmati teh di sore hari justru di luar sana suasana sedang kacau. Perang ada kemungkinan terjadi namun Athrun yakin hal itu tidak akan terjadi seperti janjinya pada seorang sahabat. "Tenanglah, bukankah Tuan Siegel mengatakan kalau situasi terkendali? Perang tidak akan terjadi," ucapnya berusaha menghibur Lacus.
"Iya. Oh iya, aku ingin ikut serta dalam beberapa organisasi sosial dan perdamaian, bagaimana menurutmu?" tanya Lacus.
Athrun cukup terkejut, Lacus menanyakan pendapatnya padahal mereka belum terikat. Tapi tidak apa, mungkin Lacus merasa Athrun menjadi minder karena Lacus ada di depannya beberapa langkah. Jalan mereka berbeda, Athrun tahu benar hal itu makanya menurutnya Lacus ada baiknya tidak perlu khawatir. "Oh bagus, apakah kau akan mengikuti program dari Ayahmu?" tanya Athrun.
Lacus menggeleng, "Tidak, aku akan ikut suatu organisasi mandiri. Tapi aku khawatir hal itu malah akan mempersulit jadwal kita untuk bertemu," ucapnya. Kunjungan Athrun dua kali dalam sebulan atau hanya sekali sudah menjadi rutinitas. Lacus khawatir Athrun kecewa.
Athrun tersenyum, "Tidak apa. Kita dapat mengatur kembali jadwal untuk bertemu. Kalau kau hendak bergabung dengan organisasi mandiri, bagaimana dengan keamanannya? Kau putri dari pemimpin PLANTs," ucap Athrun yang terdengar agak khawatir. Iya, dengan kondisi sekarang mereka tidak bisa gegabah.
"Mereka memastikan protokol keamanan yang sewajarnya sudah disiapkan. Akan ada beberapa anggota ZAFT yang akan menemani," jawab Lacus. "Kau tidak keberatan?" tanyanya lagi.
Athrun terdiam tapi Lacus bisa lihat Athrun bingung namun raut lega terlihat di wajahnya. Rasa khawatir dan peduli pemuda itu nyata. Dia khawatir pada keselamatan Lacus."Tidak sama sekali tapi berhati-hatilah," ucap Athrun.
Jawaban Athrun terlalu singkat tapi Lacus tidak tahu harus merespon seperti apa. Dia hanya tersenyum dan lalu membalas, "Iya dan semoga seperti perkataanmu. Perang tidak akan terjadi."
Diumur lima belas tahun baik Athrun maupun Lacus memutuskan untuk fokus dengan kehidupan masing-masing. Disibukkann dengan tujuan dan mimpi masing-masing dengan harapan hari esok dan masa depan untuk mereka. Namun hal itu tidak berlangsung lama, tepatnya pada tanggal 14 Februari 70 CE Earth Alliance yang didominasi oleh Blue Cosmos menyerang PLANTs dan menembakkan senjata nuklir sasarannya adalah PLANTs yang pada saat itu mengenai PLANTs khusus agrikultur, Junius Seven. Junius Seven hancur dengan membunuh seluruh populasi manusia di dalamnya termasuk Lenore Zala, Ibu dari Athrun Zala. Kejadian itu menjadi perubahan dari roda kehidupan Lacus Clyne.
Saat itu Lacus melihat kejamnya perang dari diri Athrun. Athrun berubah. Pemuda itu tenggelam dalam laut kesedihan. Lacus ingin menghiburnya tapi Athrun sudah menarik diri. Dia tidak ingin belas kasihan dan perhatian Lacus. Lacus pun memutuskan untuk memberikan Athrun waktu dan ruang. Lenore Zala tidak menaruh dendam pada siapapun, dia hanya seorang peneliti yang memiliki tujuan untuk menyejahterakan masyarakat. Apa dia berhak mati? Tidak ada yang mampu menjawabnya termasuk Lacus. Semua terjadi begitu cepat setelahnya.
"Athrun," Lacus berdiri di samping Athrun di depan batu nisan bertuliskan nama Lenore Zala. Mereka berdua mengenakan pakaian berwarna hitam sebagai tanda berkabung. Tidak lupa Athrun menaruh bunga lily, bunga kesukaan Lenore.
Athrun tidak menjawab. Pemuda itu diam di depan nisan sang Ibu. Lacus bisa paham karena dia juga kehilangan sosok sang Ibu tapi rasa kehilangan Athrun tidak bisa dibandingkan dengan Lacus. Ibu Lacus meninggal karena sakit sedangkan Lenore karena dibunuh dan itu merupakan dua hal yang berbeda. Kesedihan dan kehilangan yang Athrun rasakan pun beda. Ingin rasanya Lacus meraih tangan Athrun, tangan yang dingin dan pucat itu. Namun Lacus tahu bukan itu yang Athrun butuhkan sekarang. Bahkan sekarang Athrun tidak menjawab panggilannya.
Athrun lalu berdiri dan sambil membalikkan badannya dia berjalan menjauh dari nisan Ibunya. "Ayo kita pulang, Tuan Siegel pasti khawatir," ucap Athrun. Lacus tidak bernai berkata apa-apa dan hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelah kejadian tersebut banyak anak muda baik pria maupun wanita yang memutuskan bergabung dengan militer termasuk teman-teman Lacus. Mereka tidak terima dengan perlakuan Earth Alliance. Perang menjadi membabi buta. Sebagai balasannya ZAFT menjatuhkan teknologi terbarunya Neutron Jammer ke bumi dan menandakan kejadian April Fool's Crisis. Di saat yang sama Lacus sempat kehilangan kontak dengan Athrun tapi beberapa bulan kemudian Lacus mendapat kabar kalau Athrun bergabung dengan kemiliteran. Dia menyelesaikan studinya secepat yang dia bisa, membuang jauh mimpinya sebagai peneliti seperti Ibunya dan memilih akademi militer ZAFT sebagai studi lanjutannya.
"Kau bergabung dengan ZAFT?" tanya Lacus kala itu. Nada bicaranya pun seakan tidak percaya dengan apa yang Athrun putuskan. Athrun kembali datang ke kediaman Clyne dan menjalankan rutinitas afternoon tea mereka seperti tidak ada apa-apa. Tapi Lacus bisa lihat kalau suasananya menjadi cukup tegang.
Athrun mengangguk, "Iya, aku ingin menyelesaikan perang ini. Kau lihat kalau peperangan semakin menjadi-jadi bukan?"
Lacus terlihat sedih, Dia khawatir Athrun tenggelam dalam api dendam. Lacus melihat itu dari sosok Patrick Zala. Patrick tidak segan terus menerus mengembangkan Mobile Suit dan memperkuat kemiliteran dan pertahanan Negara. Lacus berharap Athrun tidak memilih jalan itu. Jalan yang penuh dengan amarah dan dendam. "Oh begitu," ucap Lacus.
"Aku tidak bisa terima! Tidak terima!" ucap Haro berwarna pink yang ada di tengah meja.
"Tapi aku akan berkirim kabar! Dan apabila aku ada waktu dan hari libur aku akan datang untuk berkunjung," ucap Athrun. "Walau aku tinggal di asrama aku akan coba mengatur jadwalku!"
"Benarkah?" ucap Lacus senang dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia sebenarnya bukan senang karena Athrun masih menepati janjinya sebagai tunangannya. Tapi dia sebenarnya tidak percaya kalau Athrun masih mencoba meluangkan waktu untuknya.
"Ah ya…," ucap Athrun pelan.
'Selama bukan dendam yang menjadi tujuanmu dan selema bukan emosi amarah yang menarikmu ke medan perang maka aku yakin kau baik-baik saja', batin Lacus. Saat itu Lacus tidak ingin bertindak gegabah. Selama Athrun Zala masih meluangkan waktu untuknya. Selama Athrun tidak mengambil jalan yang salah, selama Athrun bertujuan untuk kedamaian maka Lacus akan mendukungnya. Walau senyuman sudah hilang dari pemuda itu. Dia sudah berjanji untuk mendukung Athrun dan tidak akan memaksa pemuda itu. Dan karena Athrun sudah memutuskan militer sebagai jalan hidupnya, maka Lacus akan memilih jalan apa yang dia yakini. Diapun berusaha untuk mencari cara untuk memperoleh perdamaian dengan caranya sendiri. Tetap menjadi Lacus Clyne yang dikenal semua orang. Baik hati, murah senyum, lembut dan rendah hati.
Namun sekarang beberapa orang melihatnya seperti gadis yang polos dan lugu yang tidak tahu apa-apa mengenai perang. Bahkan sikap Athrun terhadap dirinya agak berubah. Athrun memperlakukan dirinya seakan-akan dia seperti boneka yang rapuh. Seakan-akan dia tidak berhak melihat perang. Seakan-akan dunia Lacus Clyne itu dunia yang berbeda. Padahal Athrun juga berubah. Senyuman yang sering dia perlihatkan pada Lacus sirna. Lacus tidak kembali menyuarakan suaranya. Menyanyi, memberikan orasi perdamaian, dan kegiatan amal dan sosial. Hanya itu, dan tujuannya adalah membuat masyarakat tenang tidak berlarut didalam kesedihan dan ketakutan akibat perang. Lacus mencoba mempercayai jalan apa yang dia yakini. Pertama putuskan lalu lakukan.
Usia enam belas tahun membuat Lacus membuka matanya lebih dalam mengenai perang. Padahal Ayah dan Ibunya sudah berjanji, berjanji kalau dunia akan baik-baik saja dan berjanji kalau Lacus tidak perlu turun ke medan perang. Bahkan Athrun sendiri juga menjanjikan hal tersebut tapi Lacus kembali melihatnya, kekejaman perang. Sayangnya, dirinya masih saja dianggap seperti boneka porcelain. Dalam kunjungan sosial ke Junius Seven di Debris kapal Silverwind diserang, Lacus ada disana saat itu sebagai anggota dari organisasi perdamaian dan sebagai representative of memorial delegation dan dia hanya bisa pasrah apabila hari itu dia harus kehilangan nyawanya. Namun Lacus beruntung, dia diselamatkan karena orang-orang yang ikut dengannya menyuruhnya masuk ke safety pod. Mereka membiarkan Lacus hidup. Pertama kalinya Lacus sedih karena banyak orang membiarkannya hidup dan hanya dia tidak ada yang lain.
Kesempatan hidup itu tidak Lacus sia-siakan dia berharap ada yang menolongnya. Dia harus tegar, dia harus kuat. Beruntung ada yang menolongnya tapi, ternyata keberuntungannya justru membawanya ke kapal terbaru milik Earth Alliance, Archangel. Lacus menganggapnya suatu keberuntungan dan dia bersyukur saat itu karena dia bertemu dengan Kira Yamato.
Tapi sebelum dia mengenal sosok Kira, Lacus lebih dahulu melihat kejamnya perang dari putri George Allster, Fllay Allster. Gadis itu baik namun dia tidak tahu harus berbuat apa. Fllay hanya ingin keselamatan Ayahnya terjamin dan itu berarti menggunakan segala cara termasuk menggunakan Lacus sebagai tameng dan sandera. Tanpa diberitahu semua orang tahu kalau Lacus adalah anak dari Siegel Clyne. Pasti Fllay tahu juga mengenai sosok Lacus apalagi Ayahnya berkecimpung di bidang politik. Ketika Fllay histeris, Lacus tidak tahu harus berbuat apa. Dia kasihan pada Fllay namun Lacus tidak bisa berbuat banyak. Gadis itu sudah menolak dirinya. Gadis itu jijik dengan dirinya yang Coordinator, padahal Lacus bermaksud baik. Fllay adalah gambaran gadis normal sesuai dengan umurnya dan bereaksi wajar terhadap perang yang terjadi, Lacus tahu hal itu. Bahkan mungkin Lacus iri dengan Fllay karena Fllay dapat menunjukkan sisi normalnya sebagai manusia.
"Semua menangis, bagaimana kalau kita menyanyi saja?" tanya Lacus pada Haro berwarna pink dipangkuannya. Namun Haro tersebut berputar dan berjalan menuju pintu keluar. Lacus pun memutuskan untuk pergi keluar dan dia tidak sengaja mendengar suara tangisan yang kencang. Suara tangis dari pemuda berambut coklat yang baru saja dia kenal beberapa hari yang lalu bernama Kira Yamato.
Tanpa diduga ternyata Kira adalah sahabat Athrun. Lacus terkejut namun disaat yang sama dia merasa sedih. Dia tahu Athrun dan Kira adalah pemuda yang baik dan perang bukan tempat untuk mereka. Hati Kira terlalu lembut dan dia membawa kelembutan hatinya itu ke medan perang. Berbeda dengan Athrun yang mematikan hatinya yang lembut di medan perang namun kebaikan hatinya belum sirna dari sorot matanya. Sosok Kira Yamato yang muncul di medan perang memperlihatkan kalau Athrun masih memiliki sisi lembutnya, Lacus tahu.
"Dirimu terlalu baik Lacus," ucap Athrun saat itu. Ketika mereka bertemu saat Athrun memperoleh izin untuk libur dari pendidikan di akademi militer. Saat itu mereka sedang berada di kebun mawar milik keluarga Clyne, mawar kesukaan Lacus. Lacus lalu menatap Athrun yang menatap lurus mawar-mawar yang Lacus urus itu. Athrun berubah. Senyum sudah tidak ada di wajahnya. Hanya kelelahan dan kesedihan yang terlihat setiap dia datang berkunjung. Lacus berusaha untuk menghargai dan memahami Athrun. Pemuda itu masih mencoba untuk memperjuangkan hubungan mereka. Padahal Ayah mereka sedang gencar-gencarnya mengejar perdamaian dari sisi yang berbeda, ditambah lagi sebentar lagi akan ada pemilihan Chairman untuk Supreme Council, Siegel tidak mungkin selamanya berada di posisi atas.
"Ya?" tanya Lacus.
"Ah maaf kalau aku malah berkata yang aneh-aneh. Hanya saja, menurutku dirimu tidak perlu mempermasalahkan perang. Kau cukup menjadi Lacus yang diketahui orang-orang saja," ucap Athrun.
Apabila maksud Athrun adalah Lacus Clyne itu ibarat mawar putih maka dia melupakan satu hal. Mawar putih atau mawar merah dan mawar merah muda, dibalik keindahan dan lambang cinta penuh kasih serta kesucian bunga itu dilindungi oleh duri. Duri yang tanpa pilih kasih akan melukai orang yang tidak berhati-hati ketika memetiknya. Kalau Lacus diibaratkan seperti mawar itu, maka dia juga punya duri yang siap menyerang dan melukai siapa saja.
Setelah pertemuan dengan Kira Yamato dan sekembalinya ke PLANTs, Lacus teringat kembali dengan kata-kata Ibunya. Mengenai alasan mereka ada di dunia, alasan masing-masing individu terlahir di dunia. Ditambah Lacus memikirkan sosok Kira Yamato. Kira menarik hati Lacus, kebaikan dan ketulusan Kira tanpa memandang bulu dan tanpa pamrih membuat Lacus tertarik. Padahal dia sudah dijodohkan dengan Athrun tapi, untuk pertama kalinya Lacus tertarik dengan lawan jenis. "Aku menyukai sosok seperti itu," aku Lacus yang langsung membuat Athrun terkejut.
Lacus tidak ada maksud untuk membuat Athrun cemburu atau kesal. Mungkin dia sudah mulai mengkhianati dan menyakiti Athrun saat mengakui hal itu tapi Lacus tidak ingin terlalu memikirkannya. Lacus masih menghormati Athrun sebagai tunangannya tapi kelihatannya tanpa disadari dia sukses membuat Athrun cemburu. Padahal Athrun lah yang meminta Lacus untuk tidak buru-buru dalam hubungan mereka. Mau mereka berakhir bersama atau tidak, sebenarnya tidak ada yang tahu. Pertunangan mereka hanya berdasarkan data hasil pemeriksaan gen. Demi tingkat kelahiran yang tinggi. Disamping itu, kata 'suka' memiliki banyak arti, berbeda dengan cinta. Tapi tanpa diduga setelah Lacus mengatakan hal itu, Athrun mengambil langkah untuk mencium dirinya, tentunya di pipi karena mereka berada di kediaman Clyne. Lacus mengizinkannya karena itu bagian dari hubungan mereka sebagai tunangan dan mereka memang masih berstatus demikian.
Setelah itu, Lacus sama sekali tidak menerima kontak dari Athrun. Dia hanya dapat info kalau Athrun mendapatkan tugas dan dimutasi ke bumi sama halnya dengan Kira. Selama itu Lacus kembali ke rutinitasnya. Dia tetap menjadi Lacus Clyne yang dikenal orang-orang. Hingga titik itu, ketika Patrick Zala menjabat posisi Chairman sikap Ayahnya berubah. Siegel menjadi semakin waspada dengan kondisi di parlemen dan juga Jachin Due. Terlalu banyak hal yang harus dikhawatirkan karena dengan kondisi Patrick Zala memegang kendali, ada firasat lain yang muncul yaitu kehancuran.
"Ayah," ucap Lacus ketika melihat sang Ayah yang lelah dan menghela napas terus karena berita yang menyampaikan kalau perang semakin membesar dan meluas, tidak ada akhirnya.
"Ah, Lacus maafkan Ayah nak, Ayah tidak bermaksud…."
"Tenang Ayah, masih ada yang mendukung Ayah. Masih ada orang-orang yang sepaham dengan Ayah dan mau berjuang dengan Ayah," ucap Lacus sembari memegang Pundak sang Ayah dan memijatnya.
"Apabila kau mengatakan mengenai 'Clyne Faction' yang tiba-tiba muncul? Orang-orang yang ternyata sepaham dan seperjuangan dengan Ayah?" ucap Siegel dan hanya tertawa kecil karena setelah dia melepas jabatannya justru beberapa orang menamakan dirinya 'Clyne Faction' dan loyalitas mereka akan selalu bersama dengan keluarga Clyne.
Lacus pun tertawa kecil, "Ah Ayah lagipula tidak apa-apa bila masih ada yang mendukung Ayah. Lacus yakin dengan jalan yang Ayah tempuh justru akan membawa kita ke perdamaian."
Siegel kembali menghela napas, "Ayah hanya Eileen Canaver dapat mengontrol bagian diplomatis dengan baik. Selama ini semua agenda Patrick sepengetahuan Canaver. Tapi Ayah masih kurang yakin mengenai Operation Spit Break yang Patrick rencanakan."
"Operation Spit Break?"
Siegel tidak yakin apakah topik ini pantas dibicarakan dengan Lacus, "Iya, Patrick mengatakan kalau hal itu hanya untuk menggertak Earth Alliance dan menghancurkan mass driver mereka. Tujuan utamanya adalah Panama Base, sepengetahuan Ayah semua di Supreme Council menyetujuinya tapi ya, Canaver dan yang lainnya menangguhkan."
"Termasuk Ayah?"
Siegel mengangguk pelan, "Ayah hanya tidak yakin kalau sekarang Ayah sevisi dan semisi dengan Patrick. Dia berubah," Siegel lalu teringat bahwa Lacus adalah tunangan Athrun, "Ah maaf nak, padahal kau dan Athrun….Hhhh…. Athrun pemuda yang baik dan lembut. Ayah hanya berharap yang terbaik untuknya."
Lacus tersenyum, Athrun memang pemuda yang baik dan beruntung Siegel melihat kualitas tersebut di diri Athrun tidak sekalipun komentar yang jelek mengenai pemuda itu yang keluar dari mulut Siegel. "Kalau memang tujuannya hanya untuk mass driver, mengapa Ayah sangat khawatir?" tanya Lacus.
"Ayah merasa ada yang membocorkan beberapa agenda di Supreme Council. Tidak hanya membocorkan namun seperti hendak menyabotase. Ditambah lagi semenjak ZAFT berhasil mengambil G-Weapons milik Earth Alliance, National Defence Committee mengajukan G-Project dan sekarang sedang dalam proses."
"G-Project?"
"Lebih tepatnya proyek untuk pengembangan terbaru ZGMF-X series. ZAFT menggunakan data yang diperoleh dari G-Weapons," ucap Siegel. "Yang tidak habis pikir mengapa mereka menyetujui penggunaan N-Jammer Canceller untuk suplai energi MS tersebut."
"N-Jammer!?" Lacus cukup terkejut. Setahu Lacus pihak PLANTs melarang penggunaan reactor nuklir setelah kejadian Bloody Valentine atau First Alliance-PLANT War.
"Proyek N-Jammer Canceller ini diketuai oleh Yuri Amalfi. Sebenarnya masih dalam tahap pengembangan tapi entah, kalau perang terus terjadi ada kemungkinan proses penelitian tersebut dipercepat," ucap Siegel. "Padahal tidak akan ada yang dapat kita hasilkan kalau kekuatan dibalas terus dengan kekuatan. Semakin besarnya kekuatan itu, semakin tidak bisa dikontrolnya kekuatan itu maka kita tidak akan dapat keluar dan tidak akan dapat mengakhiri lingkaran setan ini."
Lacus paham maksud Siegel. Patrick dan yang lainnya memperbesar kekuatan perang mereka. Hal tersebut tidak salah kalau alasannya untuk melindungi, namun yang dikhawatirkan Siegel apabila hal itu digunakan untu menyerang. Saling balas membalas dengan hal yang sama tidak akan menyelesaikan apapun.
Lacus lalu tersenyum dan memegang tangan Ayahnya, "Selama kita bisa menemukan seseorang yang dapat mengontrol kekuatan itu, maka semuanya dapat berubah. Kita harus yakin akan hal itu. Kuda yang liar maka dibutuhkan seorang penunggang kuda yang lihai yang dapat menjinakkannya. Pedang yang tumpul maka membutuhkan seorang ahli pedang yang dapat mengasah pedang itu dengan baik. Sama halnya dengan anak panah, dibutuhkannya pemanah yang baik agar anak panah itu dapat tepat sasaran."
Siegel hanya tersenyum. Dibalik sikap lugu dan polosnya, Lacus memiliki kekuatan yang tidak Siegel duga. Gadis ini memiliki hal yang tidak Siegel miliki. Siegel yakin kalau Lacus dapat dan tahu yang terbaik untuknya. "Kau ingin menemani Ayah menemui seseorang?" tanya Siegel.
"Ya?"
"Andrew Waltfeld ingin bertemu dengan Ayah," ucap Siegel.
"Bukankah dia dinyatakan tewas setelah pertermpuran di bumi?" tanya Lacus.
"Nyatanya tidak. Memang menyedihkan karena Aisha tewas tapi, kudengar pihak NGO bernama Junk Guild menolongnya dan dia kembali ke PLANTs." Siegel lalu berdiri dari kursinya, "Beruntung dia masih diberikan kesempatan untuk hidup dan Ayah harap apa yang ingin dia bicarakan bukanlah hal yang mungkin membuatnya menyia-nyiakan kesempatan hidup kedua kalinya."
Lacus ikut dengan Ayahnya menemui pria yang dijuluji Sabaku no Tora itu. Tanpa diduga pria tersebut sangat menarik. Kopi serta dandy dan santai adalah tiga hal yang Lacus tangkap dari pria itu. Tidak ada seram-seramnya sama sekali. Dari Andrew Lacus melihat kalau perang hanyalah perang. Ketika perang itu usai maka sudah tidak ada urusan lagi dengan pihak yang dulu dijadikan musuh atau pihak yang menang. Artinya, perang dapat diakhiri tapis umber dari perang itu yang justru harus dijawab oleh masing-masing invididu, yaitu kesedihan, amarah, kebencian, dan perasaan lainnya. Intinya semua kembali ke manusianya itu sendiri.
Andrew sendiri memilih untuk berdamai dengan dirinya. Mereka ada di medan perang maka wajar apabila ada kawan ada musuh, ada menang ada kalah, ada kematian ada kehidupan. Kehilangan Aisha memang membuatnya sedih namun dia tidak mau terpuruk. Junk Guild menolongnya dan dia kembali ke PLANTs dengan perspektif yang baru. Namun, berhubung dia adalah tentara ZAFT dengan prestasi dan loyalitas yang bagus, Patrick Zala tetap menugaskan Andrew hingga dia siap untuk tugasnya. Apabila disuruh memilih antara Rau Le Creuset atau Andrew Waltfeld sebagai anggota white coat atau FAITH, Lacus akan lebih memilih Andrew. Sehingga ketika ditanya dimanakah loyalitas sang harimau, dia hanya menjawab, "Loyalitasku ada pada His Excellency," sambil mengangkat kedua bahunya. Meninggalkan Lacus dengan berbagai pertanyaan. Loyalitas sang harimau ada pada Patrick Zala karena sebagai bentuk 'pembalasan' untuk sudah kembali memberikannya kesempatan ataukah yang lainnya.
Tanpa diduga setelahnya Lacus menerima kontak dari kenalan Ayahnya di bumi, Reverend Malchio. Malchio adalah seorang pastur yang cukup disegani oleh pihak Earth Alliance dan PLANTs. Dia buta namun memiliki wawasan yang tidak diketahui orang-orang. TIdak ada yang tahu mengenai latar belakang pastur itu. Mungkin karena dia buta orang-orang justru jadi memandangnya sebelah mata. Lacus terkejut ketika di intercom tersebut, Malchio mejelaskan kalau dia tidak bisa ke PLANTs karena harus mengurus seseorang yang terluka dan tak lain itu adalah Kira Yamato.
Lacus merasa seluruh tubuhnya bergetar, tangannya gemetar. Rasanya dia ingin segera meluncur ke bumi dan menolong Kira. Memastikan kalau pemuda itu hidup dan baik-baik saja. Tanpa berpikir panjang Lacus segera menjawab intercom tersebut meminta Malchio membawa Kira yang terluka dengan pesawat pribadi keluarga Clyne.
Ketika Malchio datang bersama Kira yang masih belum sadarkan diri, Lacus segera bergegas memanggil tim kesehatan untuk memeriksa kondisi Kira. Setelah tahu kalau kondisi Kira baik-baik saja hanya belum sadarkan diri, Lacus bersikeras untuk mengurus pemuda itu hingga dia sadarkan diri. Bahkan Siegel tidak bisa mencegah putrinya itu.
"Lacus…," ujar Siegel melihat Lacus yang mengelap tubuh Kira dengan handuk basah dan mengganti perbannya.
"Dia adalah orang yang ingin Lacus jaga Ayah. Lacus merasa ada sesuatu dalam diri Kira yang dapat membuat dunia ini berubah, dunia Lacus berubah," ucapnya.
Siegel dapat melihat kalau tatapan yang diberikan Lacus pada pemuda itu berbeda dengan tatapan ketika dia sedang bersama Athrun. Ketulusan ada di keduanya tapi ada yang lebih ketika menyangkut pemuda bernama Kira Yamato ini. Siegel merasa agak bersalah tapi, hal itu mungkin bisa dibicarakan baik-baik nanti. Setelahnya Lacus menceritakan tentang Kira pada Siegel dan Siegel paham alasan mengapa Lacus tertarik pada Kira, menolongnya, bahkan lebih perhatian. Ditambah lagi ketika mendengar penjelasan Malchio, Siegel menjadi penasaran dengan sosok Kira Yamato. Mungkin nanti akan ada kesempatan untuk Siegel lebih mengenal pemuda itu.
"Nanti Ayah ingin lebih tahu mengenai dia ya," ucap Seigel yang hanya dibalas anggukan dan senyum bahagia di wajah Lacus.
Setelah Kira sadarkan diri, Kira akhirnya menceritakan alasan mengapa dia bisa terluka parah. Dia bertempur dengan Athrun. Darah dibalas darah. Mata dibalas mata. Taring dibalas taring. Itu yang terjadi. Kira membunuh rekan Athrun dan Athrun membunuh Tolle, teman Kira. Lacus tidak bisa menyalahkan Kira. Apalagi ketika Kira mengatakan mengenai kondisi Athrun.
"Aku tidak tahu apakah Athrun selamat, namun dia berhasil melarikan diri sebelum Aegis meledakkan diri," ucap Kira. "Maafkan aku," tambahnya.
Lacus hanya menggelengkan kepalanya dan memeluk Kira, "Tidak apa. Kalian berada di medan perang saat itu," ucapnya.
Mungkin saat itu kejahatan hati seorang Lacus muncul. Bukti bahwa dirinya tidak sesuci dan selembut yang orang-orang perkirakan. Dia mengkhianati kepercayaan seseorang. Seseorang yang sudah dijanjikan untuknya, seseorang yang sudah dititipkan untuknya. Lacus tidak peduli, yang Lacus tahu Kira adalah jawaban untuk dirinya. Jawaban yang dia cari selama ini, jawaban dari pertanyaan 'mengapa kamu terlahir di dunia ini dan aku terlahir di dunia ini?'. Pertanyaan yang Lacus sama sekali tidak temukan jawabannya ketika dia bersama dengan Athrun.
Ketika Kira memutuskan untuk kembali ke medan perang, Lacus mengatakan kalau di sini lebih baik. Kira tidak akan terluka, Kira tidak akan menangis, Kira tidak perlu merasakan rasanya kehilangan dan ketakutan lagi. Walau seperti dugaan Siegel dan Lacus kalau perang semakin kacau. Patrick Zala mengubah tujuan Operation Spit Break ke JOSH-A Alaska, bukan Panama Base. Kelihatannya Patrick Zala ingin langsung menghancurkan Earth Allaince ke pusatnya. Kira yang baru saja pulih terpukul, dikarenakan Archangel ada di sana. Teman-teman Kira ada di sana. Janji Kira masih ada di sana.
"Kira?" Lacus menghampiri Kira yang diam termenung.
Kira menoleh ke arah Lacus dan air mata kembali membasahi mata beriris amethyst itu. "Aku akan pergi," ucap Kira.
Lacus terkejut dan kedua alisnya bertautan. "Kemana kau akan pergi?" tanya Lacus lembut, berusaha mengontrol perasaannya khawatir apa yang dia pikirkan menjadi nyata.
"Aku harus kembali…..ke bumi," ucap Kira sambil menangis.
"Kenapa?" tanya Lacus lagi. "Dengan kembalinya kamu hal itu tidak akan mengakhiri peperangan," ucapnya. Hal yang nyata yang memang terjadi.
Kira hanya mengangguk. Tentu saja apa yang dikatakan Lacus ada benarnya. "Tapi aku tidak bisa hanya berdiam diri disini dan tidak melakukan apa-apa kecuali mengamati," ucap Kira. "Jika seseorang tidak melakukan sesuatu karena dia diberitahu demikian, maka dia tidak akan membuat perubahan dan dia akan lebih tidak melakukan apa-apa,"
"Maka tidak akan ada yang berubah dan tidak akan ada yang berakhir," ucap Kira lagi.
"Apa kau akan bertempur dengan ZAFT lagi?" tanya Lacus yang hanya dibalas gelengan tidak oleh Kira. "Kalau begitu Earth Alliance?" Kira kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa aku sudah mengerti mengenai apa yang harus kita lawan dalam pertempuran ini," ucap Kira.
"Baiklah," ucap Lacus. Mendengar jawaban dan penjelasan Kira, Lacus tahu akhirnya dia mendapatkanya. Kunci untuk dapat mengendalikan kekuatan itu. Seseorang yang diyakini dapat mengendalikan kekuatan itu. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi dengannya karena apa yang ada dihadapannya memang sudah seharusnya dia hadapi.
Lacus lalu menghubungi Head Butler keluarga Clyne dan memintanya mempersiapkan beberapa hal. Dia lalu mengajak Kira masuk ke ruangan dan di hadapan mereka berdiri seorang pelayan dengan seragam merah ZAFT ditangannya. "Kira tolong segera gantilah dengan pakaian ini,"
"Eh?" Kira bingung.
Lacus tidak memperdulikannya dan dia hanya tersenyum ke arah sang pelayan dan mengatakan, "Tolong infokan kepada mereka," ucapnya lalu terdiam sebentar, "Kalau Lacus Clyne akan menyanyikan 'lagu perdamaian'."
Lacus membawa Kira ke pangkalan pengembangan MS milik ZAFT. Kira tidak berani tanya mengapa seseorang senormal Lacus Clyne dapat akses ke area yang memiliki penjagaan ketat serta akses khusus. Apakah karena dia putri mantan Chairman Super Council, Siegel Clyne? Kelihatannya tidak karena sepertinya mereka mengenal Lacus dengan sangat baik. Ketika Lacus mengajaknya masuk ke suatu ruangan Kira terkejut dengan apa yang ada dihadapannya, sebuah MS, sebuah GUNDAM. Lacus mengatakan kalau MS tersebut seri dari pengembangan ZGMF-X tapi nama lain seperti GUNDAM terdengar lebih baik.
"Aku merasa kekuatan yang kau butuhkan ada pada unit ini," "Hanya ada pada diri sendiri, hanya pada kekuatan sendiri, tidaklah cukup..karena itulah…" ucap Lacus pada Kira ketika Kira menanyakan alasan mengapa Lacus melakukan hal ini. Memberikan sebuah MS yang jelas-jelas TOP SECRET dan bisa jadi Lacus melakukannya tanpa sepengetahuan yang lain, ya kecuali oleh orang-orang yang loyal pada keluarga Clyne dan juga Siegel Clyne. "Apakah akan membawamu kepada keinginanmu? Apakah akan membantumu ketika kau sampai disana?" tambahnya.
"Tidak akan sendiri ataupun kekuatan sendiri," ucap Kira yang masih takjub dengan unit yang ada dihadapannya. Kira lalu menoleh ke gadis yang ada di sebelahnya dengan wajah penuh pertanyaan, "Kamu siapa?"
Lacus memberikan tatapan yang lembut padanya, "Aku adalah Lacus Clyne, Kira Yamato."
Setelah itu Lacus kembali 'menyanyikan lagu perdamaian', dia dan Ayahnya menerima konsekuensi yang harus mereka dapat karena perbuatan mereka membantu 'mata-mata'. Jalan atau pilihan yang selama ini mereka tidak ingin lakukan. Mereka menjadi buronan, dianggap teroris, dianggap musuh oleh beberapa pihak PLANTs. Masih ada yang berusaha meyakinakan kalau Lacus diperalat, dicuci otak dan sebagainya, namun Lacus tidak peduli. Dengan kondisi seadanya dan harus berpindah tempat dia tidak gentar. Dia tetap mencoba melawan. Walau musuhnya adalah pihak dari ras-nya sendiri, walau musuhnya lebih kuat darinya, walau musuhnya adalah calon ayah mertuanya sendiri. Seperti yang Ibu dan Ayahnya sering bilang pertama putuskan lalu lakukan. Itulah yang sekarang Lacus dan juga Siegel lakukan. Siegel sendiri tidak banyak bertanya, dia percaya dan yakin kalau Lacus sudah menemukan jawabannya. Jawaban dari hidupnya selama ini.
Mungkin mulai pada titik itu, Lacus menjadi wanita yang 'jahat'. Dia tidak sedih atau menangis ketika ada Coordintaor yang tewas entah itu akibat melindunginya atau mencoba membunuhnya. Padahal para korban dan Lacus berasal dari ras yang sama tapi Lacus seakan-akan acuh tidak peduli. Namun jauh dilubuk hatinya Lacus merasa sedih tapi dia harus menghadapinya tidak lari. Dia yan gberdiri tegar dan kuat adalah bukti kalau dia siap menerima konsekuensi yang harus dia terima dan itu termasuk nyawa orang lain bukan hanya nyawanya sendiri.
Lacus pun berubah. Dia mungkin masih seperti boneka porcelain dengan orang-orang yang menjaga dan melindunginya tapi ada yang bertambah darinya. Dia bukan hanya boneka itu, dia seorang pupetter. Orang-orang sekitarnya menjadi boneka marionette yang bergerak berdasarkan gerakan tangannya yang dalam hal ini adalah kata-kata dan suaranya. Dia menggerakkan mereka bukan dengan menggunakan kayu kendali dan benang, namun dengan suara dan kata-kata dari mulut manisnya. Kata-kata menjadi senjata dan permainan yang dia mainkan. Seperti saat dia bertemu dengan Athrun. Dengan mengandalkan insting dan mengenal baik sifat Athrun dia membawa Athrun bertemu dengan dirinya. Saat itu kebetulan dia juga menjadi decoy sehingga Reverend Malchio bisa kembali ke bumi dengan selamat.
Dihadapan Athrun, Lacus pertama kali menunjukkan taringnya atau durinya bila Athrun pernah mengibaratkan Lacus sebagai mawar. Bukan Lacus Clyne tunangan dari Athrun Zala yang manis dan lembut tetapi Lacus Clyne dari keluarga Clyne. Dia menanyakan dan membuat Athrun bimbang. Tujuan apa yang Athrun kejar selama ini? Medali penghargaan? Perintah Ayahnya? Athrun maju ke medan perang dengan tekad kuat namun ternyata lemah. Dia ingin menyelesaikan perang tapi terlalu buta untuk melihat secara luas apa yang terjadi. Wajar karena mungkin benci dan dendam sempat memasuki hati pemuda itu. Padahal pemuda itu memiliki rasa keadilan dan kepemimpinan yang bagus. Calm and collected, sifat Athrun yang pasti bisa membawanya ke masa depan yang jelas. Ketika Athrun menolongnya -dibantu Da Costa- Lacus tidak ketakutan sama sekali padahal dihadapannya ada beberapa intel dan tentara ZAFT yang tewas. Lacus tidak ingin mempermasalahkannya sedangkan Athrun kelihatannya mulai menyadari kalau ada yang salah dari kejadian dan perang yang terjadi.
Setelahnya Lacus bergerak cepat, mereka harus mencari cara bagaimana ia bisa bergerak bebas. Apalagi setelah kejadian kalau United Emirates of ORB hancur dan meledakkan pusat pertahanan Morgenroete dan Kaguya, Mass Driver milik ORB. Lacus cukup terkejut kalau jalan yang dipilih Uzumi Nara Athha ternyata seekstrim itu. Dengan runtuhnya ORB maka tidak ada fondasi penengah di medan perang. Hanya ada dua kubu yang tersisa dan itu sangat berbahaya, Lacus dan orang-orangnya harus bergerak keluar biar mereka bisa bebas.
Suatu keberuntungan saat itu Athrun Zala ada dan ternyata menimbulkan suatu keributan dan hal itu memberikan kesempatan untuk Lacus tanpa diduga. Namun sebelumnya Lacus harus menerima hukuman dari Tuhan. Dari perbuatan dan langkah yang dia pilih ternyata sekali lagi, bayaran yang harus dia terima sangat mahal dan tidak dapat tergantikan. Ayahnya, Siegel Clyne tewas tertembak dengan sadis oleh para tentara ZAFT yang mengincar mereka. Padahal Lacus sudah mengira kalau Ayahnya aman. Tidak akan ada yang mengejar. Namun Tuhan berkehendak lain. Lacus merasa dirinya hancur, pelitanya mengecil, harapannya akan masa depan bersama orang tuanya sirna. Tapi Lacus tidak bisa berhenti dan bersedih dia harus maju.
Sambil mengganti pakaian dan menata rambutnya, Lacus menahan air matanya. Dia tidak bisa runtuh sekarang. Dinding pertahanan keyakinannya harus kuat. Bahkan di hadapan Athrun sekalipun. Dia tidak bisa lemah, dia tidak bisa bergantung, dia tidak mau meneteskan air mata karena sekarang bukan saatnya. Tapi Lacus senang melihat Athrun selamat, pemuda itu memutar roda takdirnya. Walau Lacus belum tahu banyak apa yang menyebabkannya tapi dia bersyukur Athrun akhirnya memilih jalannya sendiri.
Tapi akhirnya dinding pertahanan Lacus menghilang dan runtuh. Ketika dia melihat dan bertemu Kira. Dia tidak bisa membendung kesedihan dan air matanya lagi. Walau dia senang dan tersenyum awalnya, Lacus menangis dalam dekapan Kira, bukan Athrun. Tuhan memberikan dia hukuman. Hukuman karena sudah melakukan dosa, membohongi orang-orang dan membantu orang mencuri, padahal dia mencuri dari 'orang yang jahat'. Sayangnya bukan peran Robin Hood yang dia ambil dan dia bukanlah Robin Hood. Kejahatannya dibalas dengan kematian sang Ayah. Ayahnya tidak akan bisa melihat dirinya bersama masa depannya yang sudah dia pilih, Kira Yamato.
Setelahnya semua berubah. Lacus menunjukkan sisi kepemimpinan yang tidak diduga semua orang. Tidak ada kaum adam yang protes, justru mereka mendukung. Mereka tahu kalau Lacus menawarkan simbiosis mutualisme. Lacus menjamin ketenangan dan keamanan dan mereka menjamin pedang dan tameng untuk Lacus. Keberadaan Lacus mempertahankan dan menyemangati semangat juang mereka.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Athrun.
Lacus lalu melihat luka di bahu kanan Athrun, "Kau sendiri? Kelihatannya bukan jalan yang mudah yang kau lalui," tambahnya.
Athrun lalu melihat lukanya, "Ah ini?" Athrun tersenyum kecut, "Ini bukan apa-apa, semestinya aku sudah bisa menduganya."
Seperti biasa Athrun tidak mau membahas lebih dalam. Tapi sekarang Lacus tidak ragu. Dulu mungkin Lacus mencoba untuk menggapai dan menenangkan tangan itu tapi sekarang dia tidak akan melakukannya. Apalagi setelah Lacus mengenal sosok Cagalli Yula Athha. Dia tidak menyangka kalau akhirnya dia akan bertemu dengan singa kecil ORB Union. Sungguh entah Lacus harus bersyukur atau apakah ini hukuman lain dari Tuhan. Dia diberikan pasukan, dia diberikan kekuatan untuk melakukan kebaikan atau kejahatan?
"Tidak hanya itu, tapi apakah kau baik-baik saja?" tanya Lacus pada orang yang entah apakah masih berstatus tunangannya atau tidak. Tidak pernah ada pengumuman resmi tentang hal itu.
Athrun yang tahu Lacus berubah dan tahu apa yang Lacus maksud hanya bisa tersenyum kecil, "Mungkin tidak tapi aku akan baik-baik saja karena justru disini semuanya kembali menjadi titik awal semuanya. Kita memilih jalan yang kita pilih."
"Kita?"
Athrun lalu melihat kalung Haumea yang melingkar di lehernya, "Kau sebagai Lacus Clyne dan aku sebagai Athrun Zala."
Lacus tersenyum, dia paham maksud Athrun. Benang merah itu bukan terputus, namun tetap terhubung dan menghubungkannya dengan yang lain. Mereka memilihnya, mereka memutuskannya. "Kalung yang menarik," ucap Lacus.
"Ah ya, Cagalli yang memberikan," ucap Athrun.
Tidak ada rasa cemburu yang muncul di diri Lacus. Dia tahu kalau dia dan Athrun sudah memilih, "Kelihatannya kau sudah menemukan jawaban hidupmu untuk beberapa hal," ucapnya dan Athrun hanya tersenyum.
"Aku tidak terima!" seru Haro yang langsung dibalas saling senyum oleh mereka berdua.
Perang terus berkecamuk tidak memberikan Lacus waktu untuk bersenang-senang dan beristirahat. Dia sebenarnya sedih, dia sebenarnya hancur. Apa yang ada dihadapan layar dan kaca yang dia lihat bukanlah pemandangan yang mudah untuk gadis seusianya. Di dalam MS yang hancur dan meledak itu, ada orang yang beradu nasib nyawa, ada orang yang berusaha melarikan diri dan berusaha untuk tetap hidup. Andaikan saja mereka mau mendengarkan, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Lacus seperti memberikan hukuman, bagi mereka yang tidak mau mendengarkann dirinya. Tapi inilah perang, seperti yang dikatakan Andrew. Ketika di medan perang hubungan kita yang berada di pihak yang berseberangan adalah musuh walau kita saling kenal.
Lacus tidak menganggap jalan yang dipilihnya suci. Dia penuh dengan ketakutan dan kesedihan. Kekhawatiran akan restu Tuhan pun dia pertanyakan apakah Dia yang Maha itu merestui jalannya atau tidak. Hati Lacus kembali diuji dengan kacaunya mental Kira. Bahwa Kira bukanlah seorang Coordinator biasa, dia adalah hasil rekayasan berteknologi tinggi oleh orang tuanya sendiri, Ulen Hibiki dan Via Hibiki. Lacus mau tidak mau harus menemani Kira. Ingin sekali dia melepas posisi in chief command tapi tidak bisa dia hanya bisa meyakinkan Kira kalau Kira adalah jawaban hidupnya. Sumber kebahagiaan Lacus ada pada Kira.
Apabila Athrun memiliki kalung Haumea sebagai pegangan keyakinannya, maka Lacus memiliki cincin mendiang Ibunya. Ayahnya memberikannya sebelum mereka berpisah. Cincin yang menandakan Lacus kalau ada yang masih berharap padanya, Ibu dan Ayahnya akan selalu ada untuknya.
"Lacus, ini peganglah dan simpanlah," ucap Siegel sambil menaruh sebuah cincin di telapak tangan Lacus.
"Ayah?" Lacus tahu cincin itu. Cincin kesukaan milik Ibunya hadiah pertama dari Ayahnya. Entah mengapa dia merasa ada yang salah ketika Ayahnya memberikan cincin itu ada firasat buruk yang muncul tapi Lacus menolaknya. "Ayah ini….,"
Siegel langsung memeluk Lacus, "Ayah sayang denganmu nak. Ingat kamu adalah kebanggaan Ayah dan Ibu. Pilih jalan yang kau yakini dan raihlah kebahagiaanmu," ucap Siegel sambil menahan tangis.
Cincin itu menjadi penanda momen sang Ayah dan Putri tercinta. Cincin itu menjadi sebuah pengingat bagi Lacus mengenai legacy keluarganya.
"Ibuku pernah berkata kalau kau milik dunia dan dunia milikmu," ucap Lacus sambil menahan air mata. Dia tahu luka hati Kira sangat dalam dan mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk pulih. Pemuda itu tidak seperti Lacus dan Athrun yang sempat merasakan angin ketenangan di tengah perang. Kira tidak. Dia langsung diserang dari berbagai sisi, dikecam, diduga, dihakimi, tanpa melihat siapa Kira Yamato. Lacus ingin memanusiakan Kira, Kira membutuhkan api untuk menyalakan pelitanya. Seperti halnya Lacus dimana pelitanya ada pada Kira. Dia ingin memanusiakan Kira padahal dia di sisi yang lain 'memperalat mereka'. "Keberadaanmu di dunia ini, membuatku menjadi wanita yang paling bahagia," ucapnya manatap. Lacus lalu menyenderkan dirinya di bahu Kira, "Aku ingin kau berada disisiku," ucapnya walau dia tidak yakin apakah ucapannya ini sampai pada Kira dan menempel di pikiran pemuda itu atau apakah Tuhan mengabulkan doanya untuk selalu berada di sisi Kira. Dia Lacus Clyne pertama kalinya merasa tidak yakin dengan suarany karena dia Lacus Clyne sudah ternoda oleh darah yang tidak terlihat seperti halnya Kira.
"Kita mendeklarasikan perdamaian dengan senjata berada di tangan kita. Pilihan yang kita buat mungkin juga termasuk jahat. Tapi kumohon sekarang, berikanlah kami kekuatan untuk mengakhiri benang yang tiada akhir pada perang ini," ucap Lacus kala itu. Mencoba untuk meyakinkan semuanya dengan keterbatasan yang ada mereka bisa mengakhirinya. Namun, perang semakin kacau dengan jatuhnya tenaga nuklir ke pihak Earth Alliance dan GENESIS dari pihak ZAFT. Lacus meminta semua bertindak cepat, tidak…mereka harus bertindak cepat. Kunci yang dibilang oleh Fllay ternyata justru membuka sebuah pandora box dan sayangnya jatuh ke tangan yang salah namun sekarang bukan saatnya untuk berpikir 'kalau saja saat itu Kira berhasil menolong dan mengambil safety pod itu'. Nasi sudah menjadi bubur.
Nuklir dan Genesis. Kekuatan dibalas dengan kekuatan seperti kata Uzumi Nara Athha dan juga Siegel Clyne. Hal ini tidak benar. Mereka harus membinasakannya secepat yang mereka bisa. Rencana sudah tersusun tinggal pelaksanaan. Lacus paham rencana yang mereka susun dan paham konsekuensi yang akan terjadi selanjutnya apabila mereka turun. Nyawa menjadi taruhannya dan lebih beresiko. Lacus lalu melihat Kira. Walau Tuhan tidak mengizinkan atau memberikannya hukuman lain, Lacus memohon dengan sangat untuk Kira selamat dan mengembalikan cincin yang dia berikan sebagai pengingat buat Kira kalau Lacus menginginkan dia kembali. Dia egois. Dia ingin Kira selamat. Kecupan manis di pipi menjadi salam terakhir dari sang terkasih membuat Lacus gundah tapi dia harus tetap tegar.
Perang berakhir namun meninggalkan luka di batin masing-masing. Itulah hukuman Tuhan untuk mereka. Lacus tidak memiliki tempat lagi untuk bernaung sehingga memutuskan untuk tinggal bersama dengan Reverend Malchio dan anak-anak asuh Malchio. Melihat kondisi kejiwaan Kira, bukan rumah yang Kira butuhkan sekarang, tapi rumah untuk Kira hidup dan itu ada pada Lacus dan Caridad.
"Aku terkejut ketika kau ternyata akan terjun ke medan perang," Cagalli berkata ketika mereka sedang bersantai bersama anak panti.
"Hm?" Lacus agak terkejut.
"Hal itu cocok untukmu," tambahnya.
"Ara begitukah?" Lacus hanya tersenyum. Dia tidak menyangka kalau Cagalli akan berpikir demikian padahal dia sendiri tidak menyangka kalau akan memutuskan untuk turun tapi dia sudah memutuskan dan itu karena Kira. "Tapi pada saat itu Kira sambil menangis mengatakan akan kembali ke medan perang, Kita mungkin belum memahami mengenai potensi apa yang bisa kita lakukan sebagai seseorang. Tetapi dunia bukanlah tempat yang dibuat oleh seseorang, namun…." Obrolan mereka terpotong dengan turunnya banyak bintang jatuh. Lacus dan Cagalli memandangnya dan Lacus hanya bisa memanjatkan doa, doa semoga saja tidak ada perang yang terjadi lagi. Tugas mereka sudah selesai.
Namun sayangnya doa yang dipanjatkan oleh sang utahime tidak bertahan lama. Dua tahun berselang, dunia kembali kacau dan justru lebih parah. Cagalli yang menjadi 'tameng' untuk mereka ternyata tidak kuat. Disaat ini justru kepercayaan mereka akan kedamaian kembali diuji. Kepercayaan mereka akan jalan yang dipilih kembali diuji. 'Pertama putuskan kemudian lakukan', Lacus berkali-kali mengulang kalimat itu menyihir dirinya supaya tidak goyah karena Gilbert Dullindal terdengar menjanjikan. Perang nuklir yang kembali terjadi walau meresahkan namun kelihatannya dapat ditangani dengan baik. Namun ketika muncul sosok Lacus yang lain, ketika dirinya malah justru menjadi sasaran para Coordinator lagi Lacus merasa ada yang salah.
Kira memintanya untuk menyerahkan kunci. Kunci yang selama ini Lacus segel dan Lacus simpan. Kunci yang mengantarkan mereka ke masa depan yang kembali harus dilalui dengan darah dan air mata bahkan nyawa. Ketika Kira memintanya Lacus merasa seperti Kira berkata kalau dia akan menanggung dosa itu. Menanggung luka itu. Menanggung nyawa itu. Menanggung darah yang akan kembali tumpah itu. Tapi setelah mereka mengetahui kondisi yang terjadi sepertinya Tuhan benar-benar tidak mengabulkan doanya. Tuhan meminta Lacus melakukan hal lain. Tuhankah yang memintanya? Atau ternyata justru Iblis? Tapi yang Lacus kembali yakini adalah tugas mereka belum selesai. Masih ada orang-orang yang belum membuka mata dan melangkah maju dari perang yang lalu. Masih ada seseorang yang terperangkap dalam suatu lingkaran takdir yang salah.
Namun di perang yang kedua ini, Lacus tidak bisa 'menyanyikan lagu perdamaian' karena ada 'Lacus Clyne' lain yang menyuarakannya. Apabila Lacus sekarang sepertii boneka marionette atau boneka porcelain tanpa tuan, maka 'Lacus' yang muncul itu adalah bonek marionette yang dengan senang hati mengikuti perintah sang puppet master. Untuk pertama kalinya Lacus bernyayi dalam kesunyian. Kira tidak ingin gegabah. Perang yang lalu nyawanya menjadi taruhan namun yang sekarang lebih parah. Tapi hal itu membuka mata Lacus. Dengan nyawanya yang diincar dan adanya sosok 'Lacus Clyne' yang lain maka dirinya tidak lebih dari sekedar pion atau maskot. Mungkin itu yang dilihat oleh orang-orang dulu.
Lacus adalah manusia, dia berhak hidup, dia berhak bahagia, dia berhak egois, dia berhak menentukan masa depannya. Tapi untuk sekarang Lacus merasa seperti terkurung. Kira melarangnya untuk bertindak gegabah. Ketika mereka dikontak oleh Athrun, Lacus ingin ikut namun Kira melarangnya. Kira hanya mengajak Cagalli. Lacus iri. Dia juga ingin menemani mereka dan bertemu dengan Athrun. Bukan berarti dia kangen dengan mantan tunangannya itu. Hubungan mereka baik, bahkan tidak menyangka kalau Athrun justru lebih berani dan gentleman ketika bersama dengan Cagalli. Lacus senang karena Athrun berusaha meraih kebahagiaannya sendiri, begitu halnya dengan Cagalli. Karena Lacus juga berusaha untuk meraih kebahagiaannya sendiri namun mungkin sekarang semua harapan, hubungan, dan keinginan mereka akan masa depan dan hari esok sedang diuji oleh Tuhan.
"Athrun kembali ke ZAFT?" tanya Lacus tidak percaya. Dia sedang duduk di lounge bersama dengan Kira dan Cagalli. Kira hanya mengangguk dan Cagalli hanya diam sambil menatap cincin di jari manisnya.
Kembalinya Athrun ke ZAFT memperkuat dugaan Lacus kalau sang puppet master sangat lihai. Dia licik, picik, dan penuh dengan tipu muslihat. Dia bagaikan warlock dan penyihir hutan yang siap menyesatkan siapa saja yang memasuki hutan terlarang di cerita dongeng. Tapi keputusan Athrun ada alasannya. Alasannya melindungi. Sekali lagi, Athrun menganggap itu keputusan yang benar karena dengan adanya dia di sistem tersebut maka tidak ada salahnya dan dia bisa mencegah pihak ZAFT terlibat perang dengan pihak yang lain. Cara yang ekstrim untuk melindungi apa yang penting bagimu. Karena Athrun sudah pernah ada di posisi tersebut. Namun yang harus Athrun bayar sangatlah mahal. Harga diri dan identitasnya yang kembali dipertanyakan.
Athrun dan Cagalli memiliki hal yang mereka perjuangkan walau mereka berseteru lagi. Hal itu dibuktikan dengan kalung dan cincin. Namun, apa yang sekarang Lacus perjuangkan? Khususnya untuk Kira kalau mau mengatakan alasan yang lebih spesifik. Lacus merasa dia sudah terlalu lama berada di balik punggung Kira. Kira sudah menjadi tamengnya namun Lacus tidak butuh itu. Tameng Kira sudah rapuh, pedang Kira sudah rapuh dan Lacus harus mengasahnya lagi.
Athrun yang kembali ke ZAFT, sosok Lacus Clyne yang lain, dirinya yang diincar, Cagalli yang kembali menyuarakan suaranya walau dia tahu dia sudah mengambil langkah yang salah, serta Kira yang turun kembali ke medan pertempuran. Semua memilih jalannya. Semua memilih tindakannya. Bukankah itu tujuan mereka pergi dari ORB Union? Untuk menemukan langkah apa yang harus mereka ambil dan itu termasuk Lacus. Lacus tidak bisa diam saja. Dia harus melakukan sesuatu. Puppet Master ini memainkan sesuatu yang sudah dimainkan skenarionya. Oleh karena itu, dia harus mencari celah dan mencari cara, mencari sesuatu yang tidak bisa ditebak oleh sang puppet master.
Apa yang Lacus takutkan? Dia sudah memiliki banyak luka dan menumpahkan banyak darah di perang yang lalu. Lalu mengapa dia gundah sekarang? Lacus pun kembali mengambil langkah yang tidak duga. Dia kabur ke luar angkasa dengan menggunakan celah popularitasnya sebagai sang diva yang sedang naik daun. Kira khawatir namun Lacus yakinkan kalau dia baik-baik saja. Lacus sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
Ketika Martin Da Costa kembali dari mendel untuk mencari sisa penelitian mengenai Coordinator, mereka ketahuan. Keberadaan Terminal diketahui. Lacus tidak boleh tertangkap, tidak boleh apalagi setelah mereka menemukan kuncinya. Kunci dari perang yang terjadi. Mereka harus hidup dan selamat sebelum menyerahkan kunci itu dan sebelum menyerahkan 'pedang kebebasan dan keadilan' pada mereka.
Ketika Kira datang menolongnya Lacus terkejut namun dia senang ketika bertemu dengan sang terkasih. Dia sangat menanti kembali ke pelukan Kira, karena kebahagiaan Lacus ada Kira begitupun dengan Kira. Namun ketika Kira menanyakan pedang barunya, Lacus ragu. Keraguan Lacus bukan karena dia berhasil menyelesaikannya. Justru karena sudah selesai, bagaimana Kira menanggapinya mesin ini bagaikan kutukan dan restu. Dosa dan pahala, kemenangan dan kekalahan, kematian dan kehidupan, semua ditentukan oleh mesin itu.
"Terima kasih, dengan in aku bisa bertempur dengan pantas. Aku akan pergi," Kira lalu menggenggam tangannya. "Tunggu aku, aku akan kembali. Setelah itu kita kembali ke tempat semuanya berada," ucapnya. Ucapan terima kasih yang keluar dari mulut Kira terdengar salah. Seharusnya Kira tidak berterima kasih. Seharusnya dia tersakiti karena Lacus memberikannya sebuah kuda liar yang kembali harus dia jinakkan. Namun sekali lagi, Kira meyakinkan kalau ini adalah keputusan yang dia pilih. Lacus hanya mengangguk mengiyakan.
Lacus merasakan kekuatannya kembali. Pelitanya menyala lagi bahkan lebih besar dari sebelumnya. Kira memberikannya cahaya dan harapan. Mereka yang tahu kalau sang puppet master terikat dengan takdir dan peran akhirnya mencoba untuk memikirkan cara yang tidak akan terpikirkan oleh sang master. Disaat yang sama ORB membutuhkan mereka. Kira harus kembali tapi Kira akan kembali dengan Lacus sambil membawa 'pedang keadilan'. Walau Lacus tidak yakin apakah Athrun akan menerimanya dengan senang atau tidak setelah dia mendengar cerita Athrun dari Kira.
Sesuai dugaan Lacus, Athrun gundah. Athrun tidak hanya masih terikat dengan 'apa yang harus mereka lawan', tapi dia juga gundah dengan 'takdir perannya'. Apakah dia hanya sebatas pion dan alat untuk maju ke medan perang hanya karena dia pernah menjadi seorang prajurit, tentara dan memang ditakdirkan demikian. Tapi ada yang lebih ketika Athrun melihat sosok Lacus. Mungkin karena dia teringat sosok 'Lacus Clyne' yang ada disana.
"Kekuatan hanyalah kekuatan. Mungkin kamu adalah seorang prajurit, namun jauh sebelum daripada itu kamu adalah Athrun bukan?"
Ucapan sederhana dari mulutnya itu menyadarkan Athrun. Jauh sebelum mereka memilih dan menentukan jalan hidup mereka, mereka adalah seorang individu. Individu yang terlahir ke dunia dengan sebuah nama. Tanpa peran tanpa tugas khusus. Mereka memang mahluk sosial dengan adanya bantuan keluarga dan teman dalam setiap langkah hidup namun mereka juga seorang individu.
Athrun maju ke medan perang, maka gugur satu pion yang dimainkan Gilbert. Sekarang adalah tahap terakhir yang harus lakukan. Hadapi. Ketika 'Lacus Clyne' muncul, Lacus memutuskan untuk muncul juga. Dia mengambil kesempatan dengan menginterupsi kembali. Karena 'Lacus Clyne' sudah menginterupsi Cagalli maka Lacus juga akan menyerang balik.
"Kalau begitu Kira, aku akan pergi sekarang," ucap Lacus saat itu. Ada yang salah dari 'Lacus Clyne' itu. Kata-katanya bukanlah kata-kata seorang Lacus Clyne.
"Lacus?" tanya Athrun.
"Jangan khawatir Athrun. Sama denganmu aku tahu apa yang harus lakukan dan tidak akan ragu," ucapnya.
Di momen itu, Lacus menghunuskan pedangnya sendiri. Pedang yang dia sudah asah dari lama. Pedang yang seharusnya sudah dia hunuskan sejak dulu. "Tolong jangan terperdaya dengan penampilan orang itu," Lacus lalu melirik ke arah Cagalli disampingnya yang terlihat khawatir. "Aku adalah Lacus Clyne." Seketika waktu seakan berhenti dan dunia menjadi kacau. Lacus tahu kemunculannya akan membuat kondisi dunia yang terombang-ambing ini semakin terombang-ambing. Lacus menjelaskan keberadaannya selama ini ada dimana dan dia berada di pihak mana. Sekali lagi dia menyuarakan apa yang seharusnya mereka perjuangkan selama ini. Siapa musuh mereka. Siapa mereka. Dunia ini ada untuk siapa dan untuk apa.
Berhasil memojokkan sang dalang, tanpa ditunggu Destiny Plan langsung diinisiasikan setelah LOGOS berhasil disapu bersih oleh ZAFT. Keberadaan Neo GENESIS dan REQUIEM seakan-akan mengulang apa yang terjadi dua tahun yang lalu. Sang dalang ternyata adalah orang yang tidak bisa berdamai dengan masa lalunya. Karena baik Lacus dan Cagalli sudah menghunuskan pedangnya dan sudah menjadi ancaman untuk sang dalang, khususnya Lacus maka mereka harus pergi. Pergi untuk menyelesaikan apa yang sudah mereka lakukan. Pertama putuskan lalu lakukan. Ada aksi maka ada reaksi. Ada perbuatan maka ada konsekuensi. Namun Lacus menegaskan kalau ancaman sesungguhnya bukan dia ataupun Cagalli tapi keberadaan ORB Union. ORB Union adalah penyeimbang sistem, maka wajar bila Gilbert mengincar ORB Union karena untuk Destiny Plan justru ORB Union adalah pengrusak.
"Destiny Plan?" Athrun melihat tulisan yang tercatat jelas di buku yang dipegang oleh Lacus.
"Kelihatannya Chairman memiliki suatu kondisi ideal mengenai konsep dunia," ucap Kira.
"For the preservation of our blue and pure world! Seperti motto dari Blue Cosmos, huh?" ujar Neo.
"Dunia yang suci dunia yang tidak ada cacat," ucap Lacus.
Kira lalu menghela napas, "Tapi dunia yang seperti itu bukanlah suatu dunia yang sebagaimana mestinya. Manusia tidak akan dapat berjuang dan memperjuangkan takdirnya," ucapnya.
"'Hari esok' tidak bisa dtentukan semudah itu," ucap Athrun.
Demi kewarasan mereka dan juga untuk memperoleh informasi, Murrue meminta Kira dan yang lainnya untuk pergi ke Copernicus City. Tidak diduga kalau Lacus akan bertemu dengan 'Lacus'. Athrun awalnya mencegah Lacus untuk menemuinya karena sudah jelas kalau itu adalah perangkap namun tekad Lacus dan Kira sudah bulat dia akan menghadapinya. Lagipula Lacus ingin tahu sosok dirirnya yang satu lagi. Terdengar aneh memang seperti dia punya kloning atau saudara kembar. Sepanjang jalan untuk bertemu dengan 'Lacus', Athrun tidak ada henti-hentinya menasehati mereka, Lacus dan Kira. Mungkin Athrun khawatir karena rencana Gilbert menjadi tidak dapat diprediksi semenjak Lacus muncul.
Lacus akhirnya mengenal sosok 'Lacus' itu sebagai Meer Campbell. Ternyata gadis itu hanya ingin melakukan sesuatu. Dia hanya ingin bisa berguna. Seperti Athrun sebagai Alex Dino. Sayangnya jalan yang dipilih Meer salah. Dia tidak tahu harus melakukan apa dan sebaiknya melakukan apa. Lacus tahu kalau nyawa gadis ini menjadi taruhannya bila dia terus terbuai dan tenggelam dalam perannya itu. Lacus menawarkan untuknya, kebebasan. Sayangnya nyawa harus kembali dibayar, Meer tanpa diduga tewas melindungi dirinya. Kematian Meer menambah keyakinan Lacus untuk menghunuskan pedangnya. Awalnya dia berharap untuk tidak mengacungkannya terlalu jauh tapi apa yang sudah dilakukan Gilbert kelewatan. Dia sudah mempermainkan nyawa manusia. Lacus mungkin berada di posisi yang sama karena baik dia dan Gilbert menggunakan 'kata-kata yang manis' untuk memanipulasi orang-orang.
Padahal saat itu Athrun mengambil alih situasi. Dia membunuh orang-orang yang mengincar nyawa mereka. Beda dengan Kira, Athrun tidak segan menembakkan senajata api. Sedikit muncul rasa bersalah di diri Lacus. Karena kedua pria yang dia kenal dengan baik dan dia sayangi harus menodai tangannya dengan darah demi Lacus. Tapi seperti yang pernah dikatakan Andrew, diawal kau akan merasa jijik atau mual tapi setelahnya kau sudah terbiasa. Lacus harap Athrun melakukannya karena dia sudah tahu siapa yang harus dia lawan sekarang. Lacus mengira situasi sudah terkendali. Ternyata salah, Tuhan masih menghukum dirinya. Tuhan masih memperhatikan dan membalasnya. Tapi sebelum itu ada yang harus dia selesaikan.'Meer-san, aku tidak akan melupakanmu," ucap Lacus.
Kira berhasil memasuki REQUIEM, Athrun dan dibantu oleh Neo -yang ternyata benar adalah Mwu La Flaga- berhasil menghancurkan NEO GENESIS, serta ternyata ada beberapa orang yang masih memihak mereka. Sebut saja Yzak Joule dan Dearka Elsman yang dimana loyalitas mereka juga harus sama-sama dipertanyakan seperti Athrun. Lacus ingin sekali bertemu dengan Gilbert namun cukup Kira saja, dia terhubung dengan Kira dan Kira tahu apa yang harus dia lakukan.
Kematian Gilbert dan hancurnya REQUIEM mengakhiri semuanya. Mengakhir lingkaran setan bernama takdir yang sudah ditentukan. Justru takdir itu dapat diubah karena pada dasarnya manusia memiliki semangat juang dan semangat tidak menyerah. Seperti Lacus yang memperjuangkan masa depannya dengan Kira dan seperti Athrun yang memperjuangkan masa depannya dengan Cagalli.
"Kira!" Lacus langsung memeluk Kira yang kembali dengan Strike Freedom. Sedangkan Athrun langsung membawa Shinn dan Lunamaria ke tempat yang aman di Eternal dan mempersilakan mereka bertemu dengan Meyrin Hawke.
Ketika Lacus mendapatkan surat khsusu yang memintanya untuk pulang ke PLANTs Lacus tersenyum. Pulang? Sebenarnya ap aarti pulang untuk Lacus? Memangnya selama ini rumahnya ada dimana? Bukankah dia sudah pulang? Lacus tertawa kecil Dia tidak menyangka kalau Tuhan benar-benar memainkan takdirnya dengan cara yang unik. Dia yang sudah ternodai dengan darah dan kematian manusia diminta pertanggungjawabannya. Dia diminta menjadi Mediator di Supreme Council. Posisi yang pernah dijabat oleh Ayahnya mungkin dan posisi yang dijabat oleh Gilbert. Namun Lacus tidak akan menjadi puppet master. Dia akan menjadi penengah dalam sistem. Menjadi penengah dari dua kubu yang berseberangan khususnya di dalam ZAFT dan PLANTs itu sendiri. Ternyata Tuhan menghukumnya dengan cara yang tidak dia duga. Dia diminta menjabat suatu tanggung jawab yang tidak mudah.
Mungkin pada akhirnya Lacus digambarkan seperti sosok Dewi Aoede atau Dewi Muses dalam mitologi Yunani atau Dewi Canens dalam mitologi Romawi. Kecantikan paras dan kecantikan suaranya tidak ada yang dapat mengalahkannya. Warna suara yang khas yang langsung membius banyak orang dan orang yang melihatnya senyumannya pun langsung terpikat. Mungkin bagi Lacus, sosok Dewi yang selalu digambarkan suci itu tidak pantas untuknya. Dia lebih seperti Siren atau mungkin Nymphs atau mungkin Undine tapi kelihatannya Undine lebih tepat untuknya. Sosoknya seperti Siren yang mampu menarik dan menghipnotis para pelayar dan kemudian menyesatkan mereka tapi mungkin hal itu terdengar lebih jahat dari apa yang dilakukan Lacus. Lacus 'menggoda' dari sisi yang lain tidak seekstrim Siren.
Undine mungkin lebih tepat. Dia seperti Undine dalam cerita karangan Friedrich de la Motte Foque, yang mirip seperti cerita The Little Mermaid karangan Hans Christian Andersen apalagi mengingat adanya sosok Meer Campbell. Entah dia sebagai Undine atau sebagai Bertilda tapi apa yang dilakukan Lacus mirip dengan tujuan Undine. Undine mencari identitasnya untuk menjadi manusia seutuhnya, untuk merasakan daging dan darah ditubuhnya, untuk dapat merasakan, untuk memiliki kematian. Lacus, dia mencoba untuk mengubah hidupnya, menjadi seorang Lacus Clyne yang dibentuk oleh seorang Lacus Clyne itu sendiri.
Yah, walau apabila dibandingkan dengan Meer mereka berdua mirip seperti tokoh wanita di cerita tersebut Undine dan Bertilda. Mereka memiliki arti nama yang sama yaitu danau dan Meer memiliki arti yang lain seperti cermin serta rupa yang sama. Entah sosok mana yang merupakan pantulan cermin, apakah itu Lacus Clyne atau Meer Campbell. Namun, Lacus tidak berakhir seperti Undine yang menghilang setelah mencium kekasih sejatinya dan membunuhnya dengan ciuman itu. Lacus menarik kekasihnya, membimbingnya, dan mendukungnya yang tak lain adalah seorang Kira Yamato. Lacus bukan Huldbrand yang mengkhianati Undine dan menikah dengan Bertilda.
"Mediator Clyne? Euh maksudku Mediator Yamato," suara dari intercom membangunkan Lacus dari lamunannya. Dia melihat wajah pengawalnya yang familiar. "Ah Komandan Kazuma," ucapnya.
"High Commander Yamato sudah menunggu Anda," ucapnya.
Lacus lalu tersenyum. Dia dan Kira akhirnya mendapatkannya. Masa depan yang mereka cari selama ini. Masa depan yang mereka perjuangkan selama ini. "Terima kasih dan tolong infokan High Commander kalau kau juga akan ikut di acara makan malam Ryuga," ucapnya Lacus lalu mematikan intercomnya tanpa membiarkan sang pengawal membalas tawarannya yang pasti berisi penolakan.
Buku cerita itu sudah hampir penuh. Perjalanan hidup Lacus sudah mencapai puncaknya. Dia sudah menemukan jawaban yang pernah ditanyakan oleh Ibunya dan pernyataan yang disampaikan Ibunya. Sekarang tugasnya adalah meneruskannya kepada penerusnya meneruskan 'hari esok'. Hari esok tanpa noda darah dan nyawa. Hari esok tanpa adanya senjata api, hari esok tanpa perang, hari esok tanpa rasa takut, kesedihan, dan air mata. Cukup hal itu hanya dialami oleh Lacus. Cukup dia saja yang menanggung dosa dan luka itu.
Yeps, it is done!
The reason why I haven't re-read again because it has 13k words and yeah maybe I am too lazy to re-read it. My hand getting hurts. Sorry about that. I won't say anything about my health because I try to live with it and live my life with it.
Ah for this story, the hardest part is when before the event in Gundam Seed happened. That's why many conversation around Athrun and Lacus. I hope it satisfying enough. I always imagine that Athrun and Lacus have a bond that can't be described by the others. They aren't brother and sister like Kira and Cagalli, a friend but not the best like Kira and Athrun, or something professional like Lacus and Cagalli. Not a lover, not a best friend, but their closeness can't be described as a friend. Can you get it?
Can't wait for the review! And wait for the next chapter! Can you guess?
Regards,
Fuyu Aki
