DISCLAIMER: GUNDAM SEED AND GUNDAM SEED DESTINY BELONGS TO SUNRISE CORP.
Big Thanks to all reviewer and reader who follow and add this story to the favorite list. Thank you again for slivermist31, Ara, and asucagasailforever for the review on the second chapter. As for now, because it is May I decide to write about Kira. It takes a long length of paper I type (almost 35 pages) and again I don't reread it. Sorry about that. As for Kira parts I don't write some details in the GSDestiny parts because it mainly Shinn and Athrun, I also not add Meer events as well. As for me, Kira on Destiny is about firmness with your decision, being consistent, and accept the consequences. But will it easy for Kira? Kira's story is not as eas as I thought. Too many important sentences and words in the series. So I must seek for the most important words. That's why in GSDestiny parts I only put the important event that impact his personality. So, please enjoy!
IF: OUR PAST AND SCARS
MOURNING WIND
By Fuyu Aki
Raut wajah pria berusia empat puluhan itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia tidak biasa dengan ucapan-ucapan orang disekitarnya padahal dia sudah bekerja di tempat itu saat umurnya delapan belas tahun. Saat dia sudah memutuskan untuk mengambil langkah yang sangat besar di dalam hidupnya demi masa depannya dan demi menemani sang terkasih. Militer bukan bidangnya karena dia pada dasarnya 'terseret' ke medan perang, awalnya dia hanya seorang pemuda biasa berusia enam belas tahun yang memiliki pekerjaan hanya sebatas sebagai mahasiswa bidang programming yang disibukkan dengan berbagai proyek dari Profesornya karena kepiawaiannya dalam menyusun atau membuat program dan operating system.
"Selamat atas selesainya masa jabatan Mediator Clyne, High Commander Yamato," ucap orang-orang yang bertemu dengannya sepanjang jalan menuju ruangannya di pangkalan militer.
Pria itu tidak bisa menjawab karena banyaknya yang mengucapkan ucapan selamat dan bertegur sapa, dia hanya membalas dengan senyuman dan anggukan atau hanya membalas jabatan tangan. Setelah sampai di ruangannya dia segera duduk di kursi kerjanya dan menyalakan komputer miliknya. Sambil menghela napas panjang berharap tidak ada panggilan atau laporan yang aneh-aneh berkaitan dengan keamana PLANTs. Dia lalu melihat lampu kecil berwarna merah menyala dari telepon kantornya, lalu tanpa pikir panjang segera menekan tombol penerima, "High Commander Yamato," ucapnya dan nada canggung masih saja terdengar seakan-akan aneh untuknya disebut dan menyebut dirinya dengan panggilan itu.
"Hey Kira, untuk besok kita akan mengadakan penyambutan anggota militer baru. Kuharap kau bisa memberikan speech yang membangun berhubung kau sekarang menjadi salah satu High Commander yang memegang andil langsung," suara terdengar santai itu membuat pria bernama Kira itu tersenyum kecil.
Dia lalu menekan tombol balas, "Baik, Officer Elsman," balasnya.
"Nice! Kalau begitu sampai ketemu pada hari upacara. Kudengar ORB juga akan mengirimkan perwakilannya untuk acara tersebut, kuharap bukan Athrun yang datang mengingat dia selalu membuat Cagalli khawatir dan menyebabkan banyak catatan dari Cagalli supaya suaminya itu terjamin keamanan dan kesehatannya," ucapnya. "Can't he stop being a workaholic for a second and get a chill' life, gimme' a break Ath?" tambahnya yang lebih ke arah diri sendiri.
"Hei! Kau tidak sopan Dearka! Sudah kubilang kalau di kantor panggil dia Commander Yamato, bahkan posisimu dibawah dia tahu!" seru suara yang kelihatannya ada di belakang penelepon bernama Dearka itu. Kira hanya geleng-geleng kepala mendengar pertengkaran kecil yang terjadi di teleponnya.
"Ah sudahlah Yzak, kita kawan lama. Kau tahu itu bukan? Tidak sepertimu," ucap Dearka.
"Tidak peduli! Dan jangan kau bawa-bawa Zala! Akan kupastikan kalau Representative Athha tidak mengirimkan High Admiral-nya yang merepotkan itu!" seru pria bersuara lantang yang ternyata bernama Yzak itu.
"Wooops! Maafkan aku Kira, kelihatannya sobat kita satu ini sedang tidak bagus suasana hatinya karena Shiho baru saja mendapat tugas khusus tanpa memberitahu Yzak," ucap Dearka, "Oke, sampai jumpa nanti! Ingat a nice and short speech won't hurt you," tambahnya yang langsung memutuskan komunikasi tanpa menunggu balasan dari Kira.
Kira hanya tersenyum. "Haaah…. Joule-san dan Dearka tidak berubah," ucapnya. Dua orang yang meneleponnya adalah orang yang sudah 'berdamai' dengannya. Diumur yang sudah tidak muda lagi mereka masih saja berdebat layaknya pemuda berusia belasan tahun atau mungkin seperti anak kecil.
Dulu mereka adalah musuh namun diakhir mereka menjadi rekan walau berada di pihak yang berbeda sebelumnya. Mereka sebaya, sebagai pemuda yang mau tidak mau harus maju ke medan perang saat itu. Namun, sekitar tiga puluh atau dua puluh tahun yang lalu semua berubah. Dia menjadi rekan kerja kedua orang itu, berada di kantor yang sama, berada di profesi yang sama, dan mengemban tugas yang sama. Dearka sudah dia kenal baik namun tidak untuk Yzak sehingga Kira lebih memlilih memanggil Yzak dengan nama belakangnya dan dengan sopan tentunya. Yzak memang sangat memperhatikan tata krama dan etika khususnya yang berhubungan dengan posisi dan pangkat.
Mungkin terdengar aneh kalau dua orang yang pernah memiliki dendam kesumat dengannya justru menjadi rekan yang bisa diandalkan untuknya. Yah yang namanya perubahan manusia, tidak ada yang tahu. Pria itu lalu melihat dua buah pigura kecil di samping komputernya. Dia tersenyum. Foto tersebut memperlihatkan dirinya dengan wanita berambut pink yang tak lain adalah istrinya, seorang pemuda bersurai biru navy serta wanita berambut pirang yang memiliki wajah yang mirip dengannya yang dimana keduanya mengenakan seragam militer ORB Union Military Defense Force, Foto itu adalah bukti, bukti kalau dia berjuang bersama rekan terpercayanya. Foto satunya lagi tidak lain adalah foto keluarganya, dia, istrinya, dan kedua putrinya. Senyuman bahagia jelas terlihat di dua foto itu.
Kira tersenyum. Senyum di kedua foto itu adalah senyum yang tulus dan benar-benar menunjukkan kebahagiaan dan tambahannya, itu nyata. Dia bahagia, dia tersenyum, dan ditambah lagi dia hidup. Tidak pernah terbayangkan kalau dia sekarang seperti ini. Dulu mungkin dia hanya pemuda polos yang dengan santainya menjalani hidup dengan tenang karena berada di Negara Netral, Merasa aman, terjamin, tidak akan ada yang mengusik hidupnya sama sekali. Di Negara itu, dia dan masyarakatnya 'menerima' adanya perbedaan ras dan gen. Kata menerima harus ditekankan karena tidak ada yang tahu apakah mereka ikhlas atau tidak dengan perbedaan itu. Gen menjadi isu yang sensitive dan mungkin hingga sekarang juga.
Tapi, apakah senyuman itu diperoleh dengan cara yang mudah? Tentunya tidak. Dia bisa lihat raut wajah dan kerutan wajahnya yang sudah mulai terlihat. Terlalu tua untuk pria seumurnya kalau kata putri bungsunya. Namun, apa yang terbayar dari kerutan wajah itu sangat berarti. Untuk memperoleh dua buah lembar foto itu tidak mudah. Banyak pengorbanan yang terjadi. Air mata, nyawa, darah, jeritan, tangisan, amarah, semua muncul demi dua lembar foto itu. 'Demi hari esok dan masa depan', itulah yang sering diucapkan teman-temannya dan juga dirinya.
Hal yang paling menarik adalah, dulu dia mengacungkan senjata api pada Negara yang sekarang menyambut dan mengizinkan dia untuk tinggal sebagai warga resmi lebih dari sepuluh tahun ini. Dia tidak membenci mereka saat itu, hanya saja mereka memiliki pendapat yang berbeda. Umumnya beda pendapat dapat diselesaikan lewat musyawarah, diskusi, atau obrolan namun tidak untuk dia pada masanya itu. Senjata api adalah cara paling mudah untuk berkomunikasii kala itu. Bahkan hingga sekarang dia masih canggung dan masih mempertanyakan apakah orang-orang yang mengajaknya mengobrol sepanjang hari ini memiliki niat baik, intinya dia masih memiliki rasa berburuk sangka.
Dibalik wajah kalem dan tenang, hati yang terlalu baik, perawakan yang masih saja canggung, serta iris amethyst yang cerah dan tulus itu, banyak yang tidak tahu luka dan dosanya. Mungkin orang yang tahu identitas dirinya dan histori dirinya tahu tapi tidak untuk beberapa orang yang mungkin tergolong generasi baru ini. Mereka menganggap dirinya pahlawan, The Best Commander, The Legendary Ace Pilot, ZAFT Ace Pilot, bahkan dia memiliki Baronet title atau Knight title seperti sahabatnya, White Gale. Rasanya dia ingin tertawa, untuk apa orang-orang menjulukinya seperti itu? Padahal ada nyawa dari ras mereka yang dia ambil. White Gale, Badai Putih adalah hal yang terdengar aneh untuknya. Mengapa dia digambarkan seperti badai? Oh sungguh, dia tidak ingin membuang-buang waktu untuk hal remeh temeh seperti itu. ACE pilot? Sebaiknya jangan diungkit-ungkit khususnya dihadapan Yzak Joule kalau tidak mau terkena omelan dan sindiran darinya.
Mungkin hal yang paling aneh terjadi adalah, dia seperti bertukar tempat dengan sahabatnya, Athrun Zala. Justru Athrun lah yang memiliki posisi sebagai ACE Pilot di ZAFT dan mungkin kalau sahabatnya itu tidak memilih United Emirates of ORB mungkin dia sudah mendapat title itu, anggota FAITH, serta mungkin posisinya melebihi dirinya. Namun sudah tidak bisa dipungkiri kalau mereka memilih 'hari esok' mereka yang masing-masing mereka yakini. Hari esok yang dimana mereka sudah menerima konsekuensinya baik itu yang bagus dan yang buruk. "Secantik apapun bunga itu, suatu saat nanti pasti akan ada yang merusaknya. Namun kita dengan tangan kita sendiri dapat menanam dan menumbuhkannya lagi," kalimat yang pernah dia ucapkan pada seorang pemuda yang membuatnya berdamai dengan dirinya dan masa lalunya. Kalimat yang dia dan sahabatnya yakini sebagai 'pertempuran' mereka yang sesungguhnya.
Sebelum itu dia seperti bertukar sumpah dengan sang sahabat. Dia untuk menjaga tanah kelahiran sahabatnya, serta kekasih yang disayangi oleh mereka berdua. Ya tidak dipungkiri kalau sang kekasih yang sekarang adalah istrinya itu sebelumnya adalah mantan tunangan sahabatnya, dan memiliki hubungan yang baik dan dekat setelahnya walau mereka sudah tidak bertunangan. Serta sahabatnya untuk menjaga Negaranya -dia lahir di Island 3 Type Colony Mendel kalau mau diungkit tempat kelahirannya- serta saudara kembarnya yang merupakan kekasih sang sahabat. Mungkin untuk beberapa orang kasus mereka unik dan lucu. Apalagi kalau Mwu dan Dearka bersama dengan adanya Andrew dan Erica melihatnya dari sisi yang berbeda, mereka bisa menerima sindiran, ejekan, atau guyonan. Mereka seperti bertukar tempat, bahkan untuk urusan wanita. Sahabatnya seperti merelakan sang tunangan dan justru 'mengejar' saudara kembarnya. Sungguh lucu.
Dia dan sang sahabat memilih jalan yang sulit. Jalan yang belum tentu semua orang setuju dan mengakui keberadaan mereka. Athrun memilih jalan yang berat karena dia memiliki rekam jejak yang 'merepotkan' ditambah dia seorang Zala tapi pemuda itu nekat dan tidak mau menyerah demi 'hari esok'. Namun apakah mereka, khususnya Kira berlarut memikirkan pendapat orang-orang itu? Tidak. Dia memilih untuk maju, justru dia harus yakin dengan jalan yang dia pilih. Luka, darah, serta dosa yang dia punya tidak bisa dia tolak dan tidak bisa dia hapus, dan tiga hal itu adalah yang membentuk dirinya hingga detik ini dan menjadi alasan untuk dia berjuang. Dia tidak ingin 'hari esok'-nya mengalami hal yang sama, dalam kasus ini adalah keluarganya. Namun bedanya dengan sahabat, dia disambut dengan baik. Entah apa yang menjadi dasarnya. Apakah karena sang istri memegang posisi tertinggi di PLANTs? Ataukah karena kemampuannya sebagai pilot MS dan memiliki MS yang tidak ada tandingannya itu? Sungguh orang-orang terlalu membesar-besarkan padahal dia hanya manusia biasa. Kemampuan politik dan berdiplomatis? Dia tidak lihai dan dia akui hal itu. Istrinya, sahabatnya, dan saudara kembarnya jauh lebih lihai. Akademi dan kemampuan militer? Tidak juga, dia sering kena teguran Yzak dan Athrun karena selalu menghindar dari pembekalan pendidikan dasar. Selama ini dia hanya melakukan berdasarkan intuisi, insting, serta keyakinannya. Kalau ada yang mengatakan dia sebagai Ultimate Coordinator, maka semua jadi mudah untuknya maka orang itu melakukan kesalahan besar karena menekan tombol yang salah dan pastinya memancing amarah banyak pihak.
He just an ordinary person in an ordinary world, pikirnya kala itu. Teman-teman yang baik, orang tua yang baik, Negara yang aman, fasilitas yang menunjang, keamanan yang terjamin. Apa lagi yang kurang? Dia merasa semua sudah cukup menjamin kehidupannya. Sebagai seorang First Generation Coordinator dia tidak pernah merasa kurang. Ketika sudah bisa mengingat yang Kira tahu dia tinggal di tempat bernama Copernicus City dan Ibunya yang selalu panik kalau kondisi Kira sedang tidak prima alias sakit. Kira Yamato merasa hidupnya saat itu hanya sebatas dengan Ayah dan Ibunya. Maklum, karena Ibunya Caridad Yamato cukup protektif padanya. Bahkan hingga sekarang di umur empat tahun, ketika dia sudah lancar beraktivitas dan berbicara. Namun hal itu berubah ketika dia bertemu dengan anak sebayanya yang bernama Athrun Zala.
Saat itu Kira sedang menunjukkan gejala flu yang tidak biasa. Demamnya cukup tinggi dan tenggorokannya sakit. Caridad cukup panik dan sayangnya, Haruma sedang dinas keluar saat itu. Khawatir Type S2 Influenza mengenai Kira, akhirnya Caridad mencoba mencari pertolongan ke sebuah klinik dan bertemu dengan Lenore Zala yang sedang mengantar Athrun untuk melakukan general medical check-up. Lenore melihat Caridad panik dan akhirnya memutuskan untuk menolong Caridad.
"Apakah dia First Generation?" tanya Lenore.
Caridad langsung melihat Lenore dengan wajah panik dan bingung, "Ah ya tapi entah mengapa kondisi dia tiba-tiba memburuk."
Lenore lalu memperhatikan Kira yang terbalut dengan syal dan jaket tebal. Lenore lalu tersenyum. "Sebaiknya Anda tidak membawanya ke Dokter Anak karena pasti akan dianggap seperti flu biasa. Anda sebaiknya bawa dia ke dokter spesialis. Spesialis THT," ucapnya.
"Ah tapi…."
"Kemungkinan tubuhnya sedang mencoba beradaptasi dengan lingkungannya. Umur empat tahun cukup berat untuk seorang anak Coordinator. Perkembangan tumbuh kembangnya agak berbeda dan kelihatannya anak muda ini memiliki masalah dengan tenggorokannya," jelas Lenore.
"Ah baiklah kalau begitu," ucap Caridad yang langsung mengganti form pendaftaran Kira. "Anu, maaf apakah Anda-"
"Saya seorang First Generation," ucap Lenore.
Caridad membungkukkan badannya sedikit, "Terima kasih banyak atas bantuan Anda," ucapnya dan langsung membawa Kira ke tempat administrasi pendaftaran klinik.
Untung Caridad mengikuti saran Lenore. Ternyata Kira hanya mengalami penyesuaian karena perubahan musim di Copernicus. Tenggorokannya sakit karena belum terbiasa dengan serbuk bunga. Tubuh Coordinator memang sensitif apalagi ketika mereka sedang dalam masa tumbuh kembang. Seminggu kemudian kondisi Kira membaik dan Caridad mengajaknya keluar komplek sebelum akhirnya bertemu kembali dengan Lenore yang ternyata rumah hanya berbeda enam blok dari rumahnya. "Ah! Anda-" seru Caridad.
"Senang melihat anak Anda pulih dan bersemangat," ucap Lenore.
"Ayo Kira, ucapkan salam dan terima kasih," pinta Caridad. Kira yang masih bingung dan malu-malu segera menundukkan badannya. "Anda baru pindah kemari?" tanya Caridad.
Lenore tersenyum, "Saya sudah tinggal disini cukup lama. Namun berhubung suami saya tinggal di PLANTs saya harus menemaninya jadi kadang saya pulang ke PLANTs. Tapi sekarang anak saya akan tinggal disini untuk sekolah jadi saya menemaninya."
"Ara begitukah?" Caridad cukup terkejut.
"Mum, apakah sudah selesai menyiram bunganya?" seorang anak bersurai sama dengan Lenore keluar dari dalam rumah. Anak itu mengenakan kemeja tangan pendek dan celana pendek dan perawakannya terlihat kaku.
Lenore tersenyum, "Iya nak sebentar, kebetulan ada tamu," ucapnya.
Anak itu lalu melihat Kira dan teringat dengan anak laki-laki yang memakai baju tebal yang dia lihat di klinik. "Si baju tebal," ucap anak itu setengah berteriak yang langsung kena teguran Lenore.
"Athrun!"
"Tapi-"
"Maafkan dia. Dia belum pernah memiliki teman seumuran atau saudara karena sering menemaniku ke laboratorium. Bahkan sekarang saya khawatir apakah bisa meninggalkan dia sendirian," ucap Lenore.
Caridad tersenyum. Seorang teman Coordinator untuk Kira bukanlah ide yang buruk. Kira dapat belajar banyak juga darinya. "Kalau begitu apakah anak Anda berkenan untuk berteman dengan anak saya?" tanya Caridad.
"Ara?"
"Caridad Yamato dan ini anak saya, Kira Yamato," ucap Caridad.
Lenore tersenyum, "Lenore Zala dan ini anak saya Athrun, Athrun Zala."
Kedua wanita itu segera mendorong pelan anaknya untuk saling mendekat dan berjabat tangan. Itu adalah kali pertama Kira berjabat tangan dengan orang asing. Ketika melihat anak bersurai biru itu Kira tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya melakukan apa yang Ibunya suruh. Berjabat tangan, sama halnya dengan anak itu. Namun Kira ingat kalau dia harus mengucapkan namanya sendiri ketika berkenalan dengan seseorang. Lagipula anak yang ada didepannya ini terlihat menarik. Gaya baju, rambut, dan perawakannya aneh menurut Kira. Tidak ada salahnya berkenalan dengan anak ini karena Kira merasa hidupnya akan berwarna.
"Kira," ucap Kira.
"Athrun," balas anak itu.
Setelah berkenalan dengan Athrun, pendapat Kira tentang anak yang seumuran dengannya walau lebih muda beberapa bulan itu adalah Athrun terlalu kaku, pendiam, tidak seru, dan terlalu penurut. Lenore sering menitipkan Athrun di rumah Kira bila Lenore sedang ada penelitian atau pertemuan. Ketika Kira melihat sosok Athrun yang akhirnya sering bersinggah ke rumahnya bukan hanya sekedar main saja namun juga hingga makan siang dan makan malam. Namun hal itu dibayar setimpal, Ibunya senang karena dia ada teman seumuran, Lenore sesekali datang untuk bertamu dan memberikan sayur-sayuran hasil penelitiannya yang sehat dan bersih tentunya, dan disamping itu Lenore juga banyak memberikan Kira arahan terkait First Generation walau Lenore merasa ada yang berbeda pada Kira.
"Kamu aneh," ucap Athrun kala itu. Mereka berumur lima tahun dan sedang ada di taman bermain bola sepak dan mengambil serangga.
"Kamu tidak seru," balas Kira. Kira tidak melirik pada Athrun yang hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa hanya memegang jaringnya. Sedangkan Kira mencari serangga ditumpukan daun kering dan semak-semak. Berharap mendapatkan serangga rhinoceros yang kata orang-orang keren.
"Aku tidak mau dibilang tidak seru oleh orang yang aneh karena mencari serangga ditumpukan daun kering," ucap Athrun. Seharusnya Kira mencari di pohon bukan di daun kering.
"Aku juga tidak mau dibilang aneh oleh orang yang tidak seru karena sering menghabiskan waktu membaca buku dan menonton dokumenter," balas Kira yang masih sibuk dengan tumpukan daun kering.
"Tidak ada salahnya dengan buku!"
"Tidak ada salahnya mencari di daun!"
"Sweatermu norak!"
"Musim gugur pakai syal saja, sok kuat!"
"Aneh!"
"Kaku!"
"Cerewet!"
"Nggak seru!"
"Cengeng!"
"Sok tahu!"
Kedua anak itu lalu menggembungkan pipinya dan saling menjulurkan lidah, kemudian berlanjut mereka saling dorong dan langsung bermain kejar-kejaran. Meninggalkan jaring yang mereka pegang, kandang serangga, dan bola sepak yang belum tersentuh itu. Entah mengapa tidak ada ejekan ketika mereka saling kejar mengejar. Justru gelak tawa menertawakan kebodohan masing-masing yang tidak fokus mengenai arah lari mereka. Sungguh masa kanak-kanak yang indah, pikir Kira.
Athrun tidak seru tapi dia teman yang menyenangkan, pikir Kira yang justru kalau dia katakan itu pada Athrun dia akan langsung bilang kalau Kira tidak konsisten. Dibalik sisi kakunya, Athrun dapat diandalkan. Padahal Kira lah First Generation, sedangkan Athrun Second Generation semestinya Kira lebih hebat, pikir Kira dengan pikiran kanak-kanaknya. Mereka saling berbagi. Membaca buku, bermain bola, bermain game, menonton, makan bersama, berenang bersama, menginap dan tidur bersama, dan lainnya. Hubungan mereka sudah seperti saudara sayangnya Athrun-lah yang sering ke rumah Kira dibandingkan Kira yang main ke rumah Athrun. Ketidaksukaan mereka masing-masing diketahui, kesukaan mereka masing-masing diketahui. Unik memang.
Kira sempat merasa iri pada Athrun. Tepatnya pada saat mereka sudah masuk pendidikan sekolah dasar. Ketika sudah mengenal hari yang namanya ujian. Buat Kira itu adalah hari neraka. Ibunya tidak ada habis-habisnye mengomel pada Kira yang kata Ibunya malas-malasan. Padahal Kira sudah sering bilang kalau dia bisa menjawab seluruh soal dan bahkan nilainya selalu masuk tiga besar untuk peringkat satu sekolah, dengan Athrun peringkat satu tentunya. Kira tidak suka ujian karena teman-temannya yang panik sebelum ujian dimulai dan sedih serta senang ketika hasil keluar. Pada saat itu ada kalanya Kira tidak suka ketika melihat nama Athrun di peringkat satu tapi dia tidak tahu perasaan tidak suka itu apa.
"Tch, Zala lagi,"
Kira mendelik ke arah suara yang menyebutkan nama keluarga Athrun. Kira kenal anak itu, dia anak yang menduduki peringkat dua. Anak itu rumornya mengincar beasiswa untuk masuk Sekolah Menengah Pertama terbaik di PLANTs. Entah ap aitu artinya, Kira tidak tahu. Yang pasti ketika dia awal bersekolah baik Caridad dan Haruma mengatakan kalau dia harus menikmati masa sekolahnya. Tapi entah mengapa sekarang dia merasa ada ganjalan di hatinya.
Hari itu Kira tidak pulang dengan Athrun karena dia ada tugas membersihkan kelas. Dia pulang satu jam setelah jam sekolah selesai. Ketika dia sampai di depan rumahnya, Kira melihat Caridad, Lenore, dan juga Athrun. Biasanya Kira akan menyapa langsung dengan senyum noraknya -kata Athrun- tapi saat itu dia diam dan fokus pada pembicaran Ibunya.
"Kuharap Kira bisa seperti Athrun, seharusnya dia bisa belajar banyak dari Athrun," ucap Caridad.
"Kira juga anak yang pintar," ucap Lenore.
"Peringkat satu dalam dua tahun masa sekolah itu prestasi yang bagus, sungguh membanggakan," ucap Caridad.
Seketika hati Kira sakit. Dia tahu sekarang. Dia tahu apa yang terjadi. Dia iri, dia cemburu, dia benci dibanding-bandingkan. Kira langsung menundukkan kepalanya dan langsung berjalan cepat masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam, menubruk pinggang Caridad, dan ketika masuk langsung membanting pintu.
"KIRA!" seru Caridad. Sedangkan Lenore dan Athrun hanya terkejut melihat sikap Kira bahkan tidak tahu kalau Kira ada di dekat mereka.
Besoknya dengan hati yang masih kacau, Athrun mengajak Kira bermain basket. "Ini!" seru Athrun mengoper bola pada Kira. "Kau…marah ya?" tanya Athrun.
"Tidak," balas Kira cepat.
"Bilang saja kalau kau marah. Aku tahu kalau kau tidak suka disbanding-bandingkan. Aku tahu kalau kau kemarin menguping pembicaraan Ibuku dan Ibumu," kata Athrun.
"Lalu kenapa kau tidak mengatakan sesuatu kalau tahu aku tidak suka?" tanya Kira.
Athrun menghela napas, "Aku juga tidak suka mendapatkan perhatian seperti itu, tahu."
"Hah? Bukannya kamu sering disebut-sebut sebagai murid berprestasi dan namamu tidak pernah absen dari kejuaraan?" ucap Kira yang dimana argument itu berasumsikan Athrun senang berada di posisi atas, senang menjadi perhatian, dan narsis.
Athrun lalu membanting bola yang dari tadi tidak dia jadi oper pada Kira, "Enak saja! Aku-" pemuda itu diam.
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa," ucap Athrun. Dia lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Kira di lapangan basket itu sendirian. "Aku pulang saja, percuma mengobrol denganmu," ucapnya.
Hari itu Kira semakin kesal. Dia merasa disalahkan padahal dia tidak salah. Adu mulut dengan Athrun yang sekarang cukup memakan waktu sekitar dua hari. Mereka tidak mengobrol bahkan ketika di kelas mereka tidak saling sapa. Aneh, karena suasana kelas jadi tidak normal buat beberapa temannya. Biasanya Kira dengan Athrun tapi ini tidak. Namun setelah dipikir-pikir Kira merasa dirinya tidak bisa marah lama-lama pada Athrun. Mereka punya tradisi yang sering dilakukan dan aneh karena tradisi dan kebiasaan itu tidak dillakukan. Kira hendak pergi ke rumah Athrun ketika Athrun ternyata sudah ada di depan pintu pagar rumahnya hendak menekan bel namun tidak jadi karena Kira membuka pintu.
"Ath?"
"Ah, aku hanya ingin bilang kalau aku akan menemanimu!" ucap Athrun.
"Menemani apa?"
"Menemanimu belajar! Sehingga kita tidak akan saling tertinggal atau dibanding-bandingkan, dan kalau masih ada yang mengatakanmu seperti itu, kamu adukan saja padaku!" seru Athrun.
"Pfft…memangnya kau bisa adu fisik?" ejek Kira.
"Ya dicoba!" seru Athrun.
Kira tertawa, tarung fisik bukanlah karakter dan kebiasaan Athrun. "Lalu kapan kita akan memulainya?" tanya Kira.
"Secepat yang kau mau sobat!"
Hati Kira memberontak. Dia senang tapi kesal. Mungkin saat berkenalan dengan Athrun dia jadi manusia seutuhnya. Merasakan perasaan baik dan buruk, positif dan negatif. Athrun mengeluarkan semua 'kejelakan' yang ada pada Kira, begitu halnya Kira. Makanya dia merasa aneh ketika teman-temannya justru bilang kalau mereka itu cocok dan sangat bersinergi. Setelahnya Athrun jadi sering main ke rumah Kira sebagai tutor yang justru membuat imej Athrun di mata Kira lebih parah. Athrun itu merepotkan, terlalu cerewet, kaya ibu-ibu, overthinking dan khawatiran. Banyak perasaan negatif yang muncul setiap dia bersama Athrun tapi akhirnya Kira kebal. Apalagi menyangkut pelajaran micro-unit yang kalau kata Athrun seru dan menarik, justru menurut Kira membosankan dan merepotkan. Ingin rasanya Kira membungkam mulut Athrun karena terlalu cerewet ketika sudah memasuki pelajaran tersebut.
Dia justru bangga dengan prestasi Athrun karena dia akhirnya berhasil mengalahkan Athrun. Ketika masuk tingkat lima, mereka masuk ke pelajaran OS dan Kira lebih lihai dibandingkan Athrun. Athrun peringkat dua dan Kira peringkat satu. Betapa bangganya Kira saat itu karena berhasil mengalahkan sahabatnya, jahat bukan? Bahagia diatas kesedihan orang lain. Namun, karena Athrun sudah menawarkan diri untuk belajar bersama, Kira jadi tidak sungkan untuk meminta bantuan Athrun. Bantuan? Atau dia mencari celah untuk mengalahkan Athrun. Terlalu picik. Kira tidak ingin berpikir seperti itu. Dia dan Athrun berteman dan akan selalu baik-baik saja sebagai teman baik. Namun perdebatan kecil masih saja suka ada, seperti saat hari Valentine.
"Kamu populer ya?" ucap Kira melihat tumpukan surat, coklat, dan bunga, di loker Athrun.
Athrun lalu melihat beberapa kue dan coklat yang ada di loker Kira. Jumlahnya tidak sebanyak Athrun tapi setidaknya Athrun tahu kalau Kira sama seperti dirinya. Dikenal oleh orang sekitarnya. "Kau juga," kata Athrun.
"Tidak sebanyak kau," ucap Kira.
"Kau iri?" tanya Athrun.
Kira mengangkat bahu, "Tidak."
"Aku bisa sakit gigi karena banyak makan coklat dan kue. Bisa-bisa aku diomeli Ibu. Kita habiskan bersama yuk!" ajak Athrun.
Kira langsung memberikan raut wajah tidak setuju dan tidak suka, "Loh itukan bagianmu! Kenapa ajak-ajak aku!?"
Athrun merangkul Kira, "Ayolah, kita sahabat bukan?"
"Kau licik Zala!"
"Justru disaat seperti ini gunanya punya sahabat."
"Kau tidak gentleman, seperti yang para gadis katakan!"
"Aku juga manusia biasa tahu!"
"Hanya didepanku kau memperlihatkan sisi lainmu. Dasar serigala berbulu domba!"
"Cerewat kau Yamato!"
Kira tahu Athrun tidak suka makanan manis dan para gadis dengan lugunya atau bodohnya memberikan Athrun banyak coklat yang gulanya dan rasa manisnya di atas rata-rata standar rasa manis indera perasa Athrun. Alhasil satu hari itu mereka melupakan makan malam karena sepulang sekolah menghabiskan jatah coklat dan kue milik Athrun digabung dengan milik Kira.
"Kau akan membalas atau menerima pernyataan mereka?" tanya Kira setika sedang memakan chocolate fudge cupcake yang tebal, pekat, dan manis coklatnya dan sukses membuat Athrun hampir muntah karenanya.
"Hmm?" Athrun pura-pura bodoh.
"Kau tahu Zala, para gadis itu. Apakah kau akan membiarkan mereka? Setelah mereka memberikanmu ini dan setelah senyum, sapa, dan kata-kata sopanmu yang membius mereka setiap hari?" ucap Kira. Sudah cukup untuk Kira yang selalu jadi tumbal para gadis untuk memberikan surat cinta pada Athrun, mencari informasi tentang Athrun, bahkan diancam untuk merencanakan pertemuan dengan Athrun. Lalu tanggapan sang sahabat hanyalah wajah datar atau gerakan bahu sederhana yang berarti tidak peduli. Setiap Valentine pun selalu seperti ini. Baiknya Athrun mengambil keputusan kalau tidak Kira akan terus menjadi korban dan incaran para gadis.
"Tidak," jawab Athrun singkat.
"Hah?"
"Aku tidak akan membalas apa-apa di White Day," ucap Athrun kalau dia mau mengikuti tren perayaan para gadis.
"Lalu?"
"Biarkan saja, yang penting yang sekarang aku terima tidak terbuang sia-sia," ucap Athrun. "Bunga bisa kuberikan pada Ibu, sedangkan makanan…sayang kalau langsung dibuang jadi baiknya kubagikan saja."
"Kau jahat Zala. Kau menyakiti hati para gadis. Gentleman macam apa kau ini," ejek Kira.
"Jawabannya sederhana dari awal aku tidak tertarik," ucap Athrun yang tiba-tiba serius. Obrolan yang cukup serius untuk bocah berusia sebelas tahun.
"Lalu gadis seperti apa yang kamu suka dan membuatmu tertarik?" tanya Kira.
"Mungkin yang tidak seperti mereka, entahlah….aku tidak mau memikirkannya dulu," ucap Athrun. "Kau sendiri?"
"Sama denganmu…."
"Copycat!"
Kira langsung melempar bantal ke wajah Athrun. Untung saja hari itu tidak berakhir jadi perang coklat dan kue. Hanya perang bantal saja. Setelahnya Kira baru tahu kalau Athrun itu memiliki standar tinggi. Keluarga Athrun termasuk keluarga yang kolot. Kira jarang melihat Patrick Zala, dia hanya tahu sosok Ayah Athrun dari televisi dan Athrun sendiri jarang cerita tentang Ayahnya. Ibunya peneliti dan Ayah politikus, wajar kalau standar Athrun tinggi termasuk keluarganya, apalagi Athrun anak tunggal. Sebagai Second Generation juga, wajar kalau banyak yang berekspetasi dengannya dan wajar kalau dia memasang standar yang tinggi. Sungguh anak idealis. A Noble and a Commoner, mungkin itu yang menggambarkan mereka. Pfft….sungguh memuakkan.
Konflik dan sisi buruk Kira baru sebatas kehidupan sebagai anak dan siswa. Tidak ada yang lebih rumit dari itu. Bertengkar dengan temannya lalu berbaikan, iri karena prestasi dibalas dengan belajar mati-matian, bertengkar dengan Athrun besoknya saling meminta maaf. Hanya itu. Hidupnya normal….sangat normal. Padahal di televisi banyak berita tentang perang dan dia tidak buta mengenai hal itu. Teman-temannya yang pindah satu persatu adalah bukti kalau 'aman' nya sudah mulai terusik.
'Aman' yang dirasakan Kira terusik setelah dia tahu Athrun pindah. Dia berpisah dari Athrun. Seharusnya dia senang kalau Athrun pindah, saingan berkurang, tidak ada yang cerewet, tidak ada yang jadi agenda berjalan untuknya. Tapi ternyata Kira sudah biasa dengan Athrun. Athrun sudah masuk ke kriteria 'aman' milik Kira. Di umur tiga belas tahun, mereka berpisah. Athrun harus kembali ke PLANTs karena Ayahnya yang meminta. Padahal mereka ada di tahun terakhir pendidikan sekolah menengah pertama. Kira tidak bisa mengucapkan apa-apa. Rasa sedih ada, rasa kesal ada, rasa marah ada, rasa senang ada, rasa tenang juga ada. Terlalu banyak emosi yang muncul saat itu. Karena di saat mereka berpisah sang sahabat memberikan buah tangan. Sebuah robot burung berbunyi 'Torii', ternyata di akhir Athrun masih saja show off dengan menunjukkan skill-nya. Tapi Kira senang karena dia dapat kenang-kenangan walau sialnya dia harus belajar sendiri bagaimana cara merawat robot itu.
Setelahnya 'aman' milik Kira berubah. Dia kembali seperti dulu, hanya dia, Ayah, dan Ibunya, ditambah Torii. Kira tidak tahu dia harus berbagi dengan siapa, bermain dengan siapa, bahkan merasa hidupnya kosong terlalu monokrom. Tidak ada yang seperti Athrun. Setiap malam sebelum tidur, Torii menjadi temannya mengobrol walau hanya dibalas dengan kata 'Torii' berulang-ulang. Dia seperti orang gila berbicara dengan robot yang hanya membalas dengan caranya yang aneh. Dia mencoba mengontak Athrun tapi ternyata e-mailnya ditolak. Akses ke e-mail Athrun tidak ada, e-mailnya dihanguskan. Sungguh sahabat yang baik, disaat dia meminta Kira untuk menyusul dan keep contact dengannya justru dia malah sulit dihubungi.
Untungnya rasa sepi dan kekesalan Kira tidak berlarut terlalu dalam dan lama. Tidak baik untuk kejiwaannya. Caridad mengatakan kalau mereka akan pindah. Setelah dapat info kalau Copernicus City akan menjadi pangkalan atau check point untuk kapal perang ORB, Earth Alliances, dan ZAFT. Beginilah nasib area netral. Tidak bisa memihak siapa-siapa dan tidak mau ambil resiko yang berbahaya. Mereka pindah ke Heliopolis, bukan PLANTs. Sempat Kira menanyakan alasannya pada Caridad, namun Caridad tidak menjawab. Maka Kira berasumsi, mungkin karena Ibu dan Ayahnya bukan Coordinator maka dia tidak pindah ke PLANTs yang mayoritas Coordinator.
Kehidupan di Heliopolis tidak buruk juga. Kira masuk ke sekolah yang bagus dengan teman-teman yang unik. Mereka tidak mempertanyakan gen Kira. Ketika mereka tahu Kira Coordinator mereka menyambut Kira. Bedanya, di Heliopolis dia melihat orang-orang yang anti-Coordinator secara terang-terangan. Padahal Heliopolis milik Negara Netral, ORB tapi masih saja ada yang rasis. Sungguh aneh, hipokrit, tidak konsisten. Namun itu adalah bagian dari politik dan Kira tidak ada di ranah itu. Dia tahu benar.
Di Heliopolis juga Kira pertama kali jatuh cinta. Seperti pemuda pada umumnya, dia jatuh hati pada Sang Primadona sekolah, Fllay Allster. Gadis itu menawan dan menarik. Rambut magenta serta senyuman yang manis membuat Kira berpikir pertama kalinya kalau anak gadis itu cantik. Di umur lima belas tahun dia baru tahu rasanya menyukai anak gadis. Tapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Dia berada di kelas yang berbeda dengan Fllay dan Fllay adalah anak dari PM George Allster, kasta mereka beda. Kira sadar hal itu. Bukan gen yang membedakan mereka namun kasta.
Lalu mengapa Kira mengenalnya? Sederhana. Fllay sering datang ke lab untuk menemui Ssigh yang ternyata satu kelas dengan Fllay di pelajaran etika bisnis. Sedangkan Ssigh Argyle adalah teman Kira yang mengambil program yang sama dengan Kira. Programming dan Operating System ya tentunya Kira lebih unggul. Fllay tidak pernah melirik Kira. Selain lab sebenarnya Fllay pernah membantu Kira merapikan kertas laporannya yang berserakan. Seketika Kira jatuh cinta, sungguh terlalu norak dan biasa saja. Dia seperti remaja telat puber di film-film drama keluarga yang sering dia tonton bersama Ibunya. "Hati-hati ya?" ucap Fllay dengan senyum khasnya yang membius.
"Kamu serius nggak mau menyatakannya?" tanya Tolle ketika Kira sedang bersantai di halaman rumput sekolahnya. Kira lalu melihat ke sahabatnya Tolle Koenig, pemuda program elektronik yang satu lab dengan Kira tapi sesungguhnya Tolle ada teman pertama Kira di Heliopolis.
"He?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu maksudku. Fllay," ucap Tolle.
Kira menggaruk-garuk kepalanya, "Aku tidak yakin Tolle….,"
"Rumornya dia Anti-Coordinator dan dekat dengan keluarga Ssigh," ucap Kuzzey yang terdengar pesimis. Kuzzey Buskirk berbeda dengan Tolle, dia dengan jelas merasa terintimidasi dengan keberadaan Kira. Pemuda program informasi dan komunikasi itu tidak menonjol, dia hanya mengikuti Tolle karena pembawaan Tolle yang santi dan Ssigh yang dewasa. Mungkin dia merasa eksistensinya bisa meningkat dengan berteman bersama dua orang itu.
Tolle langsung menyikut Kuzzey, "Kau ini! Kita seharusnya mendukung Kira!"
"Pasti lagi membicarakan Fllay," suara seorang gadis yang ceria mengalihkan perhatian mereka.
"Ah! Miriallia," sapa Kira.
Gadis bernama Miriallia Haww itu hanya tertawa kecil dan duduk di sebelah Tolle memberikan pemuda itu sebungkus roti. "Ini jatahmu," ucapnya. Ya, mereka berdua berpacaran dan wajah iri jelas terlihat di wajah Kuzzey. Miriallia mengikuti program yang sama dengan Kuzzey Informasi dan Komunikasi. "Sedang menyusun rencana untuk Fllay, hmmm?" tanya Miriallia.
"Kami menyusun bagaimana caranya Kira Yamato berhasil mengungkapkan perasaannya pada Fllay Allster primadona sekolah kita!" seru Tolle.
"Heeee…?"
"Tidak kusangkan Kira Yamato akan jatuh cinta dengan mudahnya. Rambut panjang, mata yang menggoda, senyum yang membius, lekuk tubuh yang elok dan seksi…aduh!" Miriallia langsung mencubit Tolle karena sudah berkata yang aneh-aneh.
"Tolle~"
"Iya maaf," ucap Tolle.
Sungguh suatu kehidupan yang sangat normal untuk seorang pemuda dalam masa puber bernama Kira Yamato. Dia jatuh cinta, dia memiliki teman-teman, dia bermain bersama mereka, pergi dengan mereka, main dengan mereka, mengerjakan tugas dengan mereka, apalagi yang kurang? Di rumah makan dan santai bersama keluarga. Sempurna. Semua sempurna. Ketakutan Kira saat itu hanya satu. Menyatakan cinta pada Fllay Allster dan tidak ingin melukai Ssigh yang jelas kalau Fllay dan Ssigh saling menyukai. Berita terbarunya Ssigh memberikan surat cinta pada Fllay dan kedua orang tua mereka menjodohkan mereka. Oke, kisah cinta pertama Kira Yamato langsung berakhir saat itu juga.
Namun 'kesempurnaan' itu sirna. Berita perang yang semakin menjadi-jadi, kehancuran dan kerusakan dimana-mana membuat Heliopolis terancam. Namun Kira massih berpikir semuanya akan baik-baik saja. Hingga dia berumur enam belas tahun. Kalau saja saat itu dia tidak mengejar 'pemuda' berambut pirang itu, dia tidak akan terjebak di lingkaran setan itu. Salahkan dia yang terlalu peduli dan terlalu baik atau salahkan pemuda yang ternyata perempuan itu bertindak bodoh. Kira jadi mengetahuo dan terlibat dalam sebuah konflik dua kubu dengan kubu ketiga hanya menjadi penyedia fasilitas dua kubu itu untuk bertarung. Saat itu ingin rasanya Kira menyalahkan perempuan yang dia tolong itu namun hati kecilnya menolak dan mengatakan kalau apa yang dia lakukan itu benar. Menyalahkan atau berterima kasih? Kira tidak tahu. Oke yang pasti dia sudah berbuat baik dan patut diberikan pujian walau berakhir dia harus mencari tempat aman untuknya. Ladies first kalau kata sahabatnya. Tapi setelahnya, mulai saat itu hidupnya tidak secerah langit biru. Kesempurnaan dan keamanan itu hilang tidak bersisa. Dia hanya merasa hari itu dia bernasib buruk, dia sial. Sudah dia sial karena menolong perempuan aneh lalu dipaksa masuk dan mengendalikan MS, dia merasa semakin sial ketika dia justru bertemu dengan sahabatnya yang ternyata menjadi tentara Red Coat ZAFT, Athrun Zala.
"Kira….?"
"A..Athrun?"
Seketika Kira lupa, dia ada dimana, Athrun yang sempat dia tidak tahu bagaimana cara mengontaknya ada dihadapannya lengkap dengann senjata api. Athrun Zala si murid sok tahu gentleman yang disukai banyak orang tapi sebenarnya baik hati. Selanjutnya yang Kira tahu orang-orang disekitarnya memanfaatkan situasinya dengan menggunakan teman-temannya sebagai tameng. Kira diminta memancing ZAFT dari Heliopolis dan lagi dia bertemu dengan Athrun. Kira memastikan apakah benar itu Athrun dan ternyata benar. Mereka tidak sempat mengobrol banyak karena disusul dengan hancurnya Heliopolis. Kira terpukul. Dia hanya bisa berharap kalau kedua orang tuanya selamat. Dia yakin, dia percaya.
Ingin rasanya Kira menghujat dan mengumpat ketika kru Archangel yang sudah memaksanya mengendalikan G-Weapons atau Gundam justru melarangnya mengambil safety pod yang rusak. Oke mereka memang Natural yang menyebalkan tapi Kira tidak mau berpikir demikian. Mereka adalah para Natural yang terikat dengan tugas dan tanggung jawab sebagai tentara. Dari safety pod itu Kira bertemu dengan Fllay Allster dan dia cukup bersyukur.
Pertama kalinya Kira merasa masalah yang dia hadapi bukan sebatas urusan penelitian dengan professor atau bertengkar dengan teman. Dia dipojokkan. Dia dihakimi. Dia diminta untuk membantu kru Archangel membawa mereka ke tempat yang aman. Entah itu pangkalan Artemis atau pangkalan Earth Alliances lainnya. Dia dipojokkan dan dipandang sebelah mata karena dia Coordinator. Mereka memanfaatkan Kira namun disaat yang sama mereka menatap Kira dengan tatapan jijik. Mulai dari titik itu, hidup Kira Yamato tidak secerah langit biru.
Tidak ada yang tahu, dibalik seragam biru tentara muda Earth Alliance yang terpaksa dia kenakan, dia hanyalah pemuda biasa tanpa pendidikan militer. Apakah mudah baginya untuk menjalankan hidup sebagai tentara? Tidak. Setelah Heliopolis hancur dan dia sadar kalau dia sudah membunuh seseorang tenggorokannya sakit dan napasnya sesak, dia masih bisa makan dan minum bahkan tidur. Dia hanya menjadi semakin cengeng saja. Namun hal itu semakin parah ketika Artemis hancur, dia baru sadar. Kalau dia, sudah menjadi pembunuh dengan alasan melindungi. Kalau Robin Hood mencuri untuk menghidupi kawan-kawannya dan menganggap yang kaya dan gila harta adalah yang jahat maka apa yang Kira lakukan cukup mirip. Dia membunuh untuk melindungi kawan-kawannya dan para Coordinator adalah musuhnya. Walau sebenarnya kalau mereka berdua disandingkan, dia jauh lebih jahat dari pada itu. Mungkin beberapa orang menganggap dia seperti Hercules, tapi sayangnya bukan. Dia sudah mengkhianati rasnya, Coordinator. Menyerang balik mereka. Dia sudah terhasut oleh para Natural. Seperti Dewa dalam mitologi Norse, Loki. Loki awalnya adalah abdi setia para Dewa, dia berbagi darah dengan para Dewa tapi juga memiliki ikatan darah dengan para raksasa, musuh para Dewa. Kira merasa seperti Loki, menipu dan mempermainkan dua pihak yang seharusnya dia tidak perlu memihak. Alhasil, Kira merasa jijik dengan dirinya dan selama seminggu dia tidak berhenti muntah-muntah. Dia merasa mual setiap makan dan walau dia tidak tahu seperti apa wujud musuhnya, namun tubuh manusia yang hancur dengan isinya yang berhamburan serta warna dan bau darah mulai tidak berhenti menghantuinya. Kira yang tidak mempunyai bahu untuk bersender dan menenangkan diri hanya bisa menahannya dan menangis.
Kira teringat ketika dia masih kecil dan sedang menonton upacara militer di televisi bersama dengan Athrun. "Wow, seragam mereka keren," puji Kira. "Apakah aku akan segagah itu?" tanya Kira setangah iseng sambil membusungkan dadanya.
"Menjadi tentara bukan masalah seragamnya keren atau tidak. Tapi masalah tugas dan tanggung jawab," tegur Athrun. "Memangnya kau mau jadi tentara? Bukannya kau mau jadi programmer?" tanya Athrun.
Kira mengangkat bahu, "Entahlah. Tapi ketika melihat mereka aku mencoba membayangkan apakah aku pantas masuk militer? Mengingat perang semakin memanas."
Dada Athrun terasa sakit. Perang menjadi topik yang sensitif untuk mereka. Seakan-akan mereka tidak bisa atau tidak boleh bermimpi. Athrun lalu menghela napas, "Kira kuberitahu satu hal," ucap Athrun.
"Hmm?"
"Kau tidak akan pernah bisa masuk kemiliteran ataupun menjadi tentara," ucap Athrun mantap.
"Heeeee…..?" Kira terdengar kecewa, "Mengapa kau berkata seperti itu? Kita kan laki-laki!"
Athrun tersenyum dan tatapan matanya melembut, "Karena kau terlalu baik."
Terlalu baik. Kelebihan Kira yang bisa jadi kelemahan dia. Itulah celah yang digunakan orang-orang sekitarnya sekarang. Kebaikan dan kelembutannya digunakan. Tanpa disadari oleh orang-orang itu, rasa baik dan lembut itu lama-lama menjadi tumpul. Kalau tidak ada yang membimbing dan membinanya dengan baik, kelebihan Kira itu akan sirna tidak berbekas. Mungkin ini rasanya menjadi calon penderita Post-Traumatic Stress Disorder, jiwa yang terguncang, kejadian yang tidak menyenangkan, trauma yang sangat nyata. Pertama kalinya Kira merasakan tidak akan mudah sembuh dari traumanya ini. Sosok Hawk of Endymion yang dielu-elukan sebagai ACE Pilot dan ber-motto 'The man who make the impossible thing possible' pun tidak banyak membantu Kira. Dia memang mencoba menjadi kakak atau senior yang baik untuknya tapi sayangnya dia hanya melihat dari sisi kepentingan adanya Kira. Dia mencoba menaikkan semangat moril Kira bukan memperbaikinya. Dia hanya membual kepada Kira mengenai melindungi tanpa melihat atau melindungi diri Kira yang dalam kasus ini perasaan Kira sebagai warga sipil. Dia tidak lihat kalau Kira hancur. Luka hati anak muda itu membesar.
Pertemuan dengan Lacus Clyne sedikit membuka matanya kalau dia masih manusia, dia masih memiliki sisi manusiawinya. Dia menolong Lacus Clyne. Tidak peduli dia putri Siegel Clyne, tidak peduli dia ada di pihak ZAFT atau PLANTs. Dia hanya ingin menolong sahabat. Gadis ini sama seperti Kira, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya ingin dunia damai. Seperti halnya Kira yang ingin dunia damai, sayangnya damainya adalah untuk dirinya sendiri. Dia ingin merasa tenang walau hanya sesaat dan saat itu menolong Lacus adalah salah satu cara untuk menenangkan dan mendamaikan dirinya. Lacus Clyne menyadarkan Kira kalau kebaikan dan kelembutan hati bukanlah hal yang salah.
Walau pada saat itu luka hatinya bertambah karena sang tambatan hati juga hancur dan menunjukkan kulit luarnya kalau dia takut, dia jijik, dia benci dengan ras Kira, Coordinator. Penyebabnya? Tentu saja Kira. Kira membual kalau dia bisa melindungi Ayahnya, memenangkan perang, dan memastikan semuanya baik-baik saja. Apakah itu salah Kira? Kalau dipikir bukan. Justru itu kesalahan orang-orang yang melihatnya sebagai 'sang pahlawan' seperti Hercules. Padahal dia punya keterbatasan. Ekspetasi orang menghancurkan Kira padahal yang salah mereka, bukan Kira. Ingat dia hanya berstatus sementara dan masih tercatat sebagai warga sipil. Dia terseret dan dia terbawa oleh arus perang.
Hancurnya shuttle warga sipil menghancurkan pelita di hati Kira. Sebuah origami bunga yang dia peroleh, menyadarkan dia kalau dia bukan siapa-siapa. Dia masih terlalu baik, terlalu lembut. Awalnya dia ingin percaya kalau dengan kekuatannya dan keyakinannya dia bisa melakukannya. Melindungi mereka berdasar pada kebaikan dan kelembutan. Ternyata itu salah. Dia menyalakan pelita yang salah.
Buaian dan godaan dari sang pujaan hati menyalakan pelita Kira lagi. Dengan merelakan keperawanan mereka. Bersumpah untuk saling melindungi. Merasakan tubuh masing-masing untuk menyadarkan indera mereka. Mengklaim kalau mereka ada untuk saling melindungi dan melengkapi. Adam membutuhkan Eve. Zeus mencintai Io. Zephyr mencintai Harpy. Orpheus mencintai Eurydice. Kira Yamato 'mencintai' Fllay Allster. Tapi Kira tidak pernah mau tahu apakah Fllay tulus? Tapi itu tidak penting. Yang Kira tahu Fllay 'memenuhi kebutuhannya' dan Kira 'memenuhi kebutuhan' Fllay. Hubungan yang hanya berdasar pada nafsu dan hasrat namun mereka tidak peduli, cinta yang hina dan penuh nafsu semata. Selama Kira bisa menyentuh Fllay dan Fllay bisa menyentuh Kira itu tidak apa. Kira akan melakukan apapun untuk gadis itu termasuk menodai tubuh gadis itu dalam hubungan terlarang.
Pelita dan kekuatan Kira muncul kembali namun tidak dapat dikontrol. Dia membabi buta. Dia menghancurkan siapa saja tanpa melihat mereka apa dan siapa. Seperti yang seharusnya dia lakukan dari awal. Tidak peduli. Tetapi ada seseorang yang kembali mengusik pelitanya itu, Cagalli Yula Athha. Awal dia hanya tahu nama gadis itu Cagalli Yula. Kira bertemu lagi dengan orang yang pernah dia selamatkan namun bisa jadi dia adalah penyebab Kira ada di tempat ini sekarang. Apakah gadis itu perlu disalahkan karena dia yang membuat Kira jadi mesin pembunuh? Kira tidak tahu namun yang pasti gadis ini terlalu banyak omong, dia berisik dan Kira mau tidak mau langsung menamparnya. Apa hak gadis itu untuk berkomentar padahal dia tidak tahu perasaan Kira. Padahal Kira bisa saja bilang, "Tidak ada gunanya membawa perasaan ke medan perang karena berakhir kau hanya setengah hati menjalaninya" tapi dia yang sudah kesal langsung menampar gadis itu karena dia sama naifnya dengan Kira.
"Kenapa kamu bergabung dengan mereka?" tanya Cagalli ketika mereka berdua sedang berbelanja kebutuhan. Iya, hanya mereka berdua di Tassil.
Kira awalnya hanya diam, tapi dia tahu tatapan mata amber itu membiusnya dan seakan-akan memerintahnya. "Sederhana saja, aku hanya ingin melindungi mereka."
"Mereka itu siapa? Siapa yang mewajibkan kamu untuk menolong mereka?" tanya Cagalli. Buat gadis itu tidak logis kalau di awal Kira hanya ditugaskan untuk melindungi warga sipil yang ada di Archangel namun setelah tugas itu selesai, dia tetap berada di sana untuk melindungi Archangel. Keputusan kedua Kira jelas-jelas menunjukkan kalau Kira memihak. Mungkin sekarang justru teman-teman Kira terseret karena Kira.
Kira lalu teringat Fllay. Cukup gadis itu menjadi alasan dia. Bukan untuk menolong Archangel sampai ke Alaska. Semestinya Kira tahu benar, kalau tugas dia selesai. Archangel berada di area mayoritas dan dominan mereka, bumi yang memang pangkalan utama Earth Alliance. ZAFT seharusnya tidak menjadi ancaman. "Kau jelas-jelas mempunyai celah untuk kembali ke kehidupanmu tapi kau tidak menggunakannya," ucap Cagalli yang menyadarkan Kira dari lamunannya. "Kau dimanfaatkan," tambahnya.
Kata-kata Cagalli terekam dengan jelas di pikiran Kira. Iya, dia sudah dimanfaatkan banyak orang. Justru dia seperti si Raja bodoh dalam cerita Emperor's New Clothes. Dia tidak melihat apa yang jelas ada di dekatnya. Dia tidak melihat dengan jelas apa yang bisa dan ingin dia lakukan. Apakah karena sekarang Athrun gabung dengan militer jadi Kira ingin mengikuti jejaknya? Apakah karena Fllay bilang butuh Kira jadi Kira menyanggupinya? Apakah untuk membalas ciuman dan 'kegiatan terlarang' yang sudah diberikan Fllay? Apakah karena Murrue dan Mwu yang jelas kewalahan karena tenaga tempur mereka kurang?
Cagalli lalu menepuk pelan kepala Kira, "Huh?"
Cagalli lalu tersenyum, "Kau terlalu baik dan lembut. Aku tidak melihat kau cocok dengan seragam dan baju pilot itu."
Setelahnya, Cagalli memenuhi pikiran Kira. Dia tidak tahu mengapa tapia da faktor lain yang juga membuat Kira tidak bisa melepas Cagalli. Gadis itu kasar secara fisik namun jujur dalam menyuarakan suaranya. Dia tahu apa yang sebenarnya Kira butuhkan. Kehangatan dan kebaikan hati serta sebuah kalimat singkat "Semua akan baik-baik saja," kalimat yang seketika dapat mengembalikan Kira kalau masih ada orang yang berharap dirinya sebagai Kira Yamato. Pelukan sederhana dan belaian pelannya menenangkan Kira. Apalagi setelah Kira mengalahkan Andrew. Sabaku no Tora itu meninggalkan logika yang sangat logis pada Kira dan Cagalli. Mengubah dengan mengacaukan sudut pandang mereka mengenai 'kenapa, mengapa, untuk apa, untuk siapa, bagaimana, apa, dimana, kapan' perang itu muncul dan dibutuhkan. Selama mereka masih memegang senjata itu dan saling mengacungkan maka hubungan mereka tidak lebih dari musuh dan pastinya akan ada pihak yang menang dan kalah. Sebuah logika yang benar dan menarik.
Kira masih naif. Dibalik sisi 'sadis'-nya, dia masih memiliki kebaikan hati itu. Seperti saat Cagalli menghilang. Tanpa diberi perintah, tanpa mempedulikan badannya, dia ingin segera mencari Cagalli. Ingin memastikan kalau gadis itu masih hidup. Hilangnya Cagalli entah mengapa membuat Kira merasa Sebagian nyawanya hilang, dia tidak tenang. Ketenangannya tidak lengkap. Menghilang atau tersesat di samudera luas dengan ribuan pulau kecil bukanlah permainan petak umpet yang menarik. Untung pada hari ketiga dia dan Mwu berhasil menemukan gadis itu. "KIRA!" Cagalli berseru ketika melihat Kira turun dari Strike Gundam.
Kira segera turun melempar helmnya dan langsung memeluk gadis itu. Cagalli dan Mwu terkejut karena sikap spontan Kira itu. "Ki…ra?" tanya Cagalli yang langsung berkesimpulan kalau Kira memang benar-benar terlalu naif dan tidak bisa ditebak.
"Syukurlah kau baik-baik saja," ucapnya saat itu. Kira merasa dirinya kembali utuh. Pelitanya yang lain, menyala kembali.
Untuk pertama kalinya Kira tidak merasa dirinya ditipu tapi dia kembali dimanfaatkan. Namun sekarang yang meminta adalah orang dengan posisi atas, Uzumi Nara Athha. Dia tidak merasa ditipu karena Uzumi menawarkan kondisi yang menguntungkan. Simbiosis mutualisme, itu yang ditawarkan Uzumi. Namun, karena yang diminta adalah kemampuannya dalam mengembangkan OS Kira merasa ada yang salah. Dia bukan ahlinya atau secara resmi terdaftar dalam militer. Pujian-pujian yang disampaikan karena kemampuannya tidak membuat Kira senang.
Kira senang karena Cagalli yang ternyata bernama lengkap Cagalli Yula Athha kembali ke rumahnya. Kira merasa lega yang justru membuat Fllay cemburu. Kira sudah pulang ke ORB sebenarnya. Pulang? Apakah itu kata yang tepat? Di ORB justru perasaan Kira kacau. Otaknya tidak berpikir jernih sehingga kesimpulan dia hanyalah selesaikan tugas. Tawaran bertemu orang tua tidak dia terima, alasannya sederhana….dia tidak ingin marah pada mereka. Marah karena menjadikan dia Coordinator. Padahal dulu Kira tidak mempermasalahkannya tapi setelah dia memiliki banyak luka, dosa, dan rasa sedih yang menumpuk dia mempermasalahkannya. Demi Tuhan, dia hanya ingin hidup normal!
Setidaknya sekarang Kira dapat berpikir jernih walau hanya sedikit. Dia sadar kalau dia hanya manusia biasa. Dia sadar kalau dia dan Athrun berada di sisi yang berbeda walau hati mereka masih sama, mereka percaya akan ikatan mereka yang dibuktikan dari sebuah robot kecil bernama Torii. Dia sadar kalau hubungan dia dengan Fllay salah. Entah berkat dia ke ORB, bertemu Athrun, atau akhirnya dia bisa menenangkan seluruh anggota tubuh termasuk otaknya setelah bertempur tiada akhir, Kira tidak tahu. Kesalahan dan kebodohan Kira hanya satu, dia menyia-nyiakan kesempatan ketiganya untuk hidup normal, untuk pulang, untuk melepas seragam biru itu, untuk pulang dan lari ke pelukan kedua orang tuanya. Dia bisa saja langsung mengajukan pengunduran diri tapi tidak dia lakukan. Karena dia punya tugas yang harus dia laksanakan yang dia tutupi dengan alasan, "Aku sudah menjadi tentara sekarang."
Alasan itu tidak menghilangkan sisi naif Kira. Dia masih bocah ingusan berlumuran darah, luka, dan dosa. Alasan itu tidak kuat. Alhasil dia menghasilkan korban, rekan Athrun yang dibalas oleh Athrun dengan 'membunuh' rekan Kira, Tolle Koenig itu yang dilihat dari perspektif Kira saat itu. Kenaifan mereka dan harapan mereka sebagai sahabat menghancurkan mereka. Menghapus sisi profesional mereka sebagai tentara. Mereka saling menghancurkan dan saling bunuh.
Ketika Kira membuka mata yang dia lihat adalah langit biru yang dia cari selama ini. Langit biru bersama dengan angin segar dan udara bersihnya yang tidak menyesakkan dada. Dia hidup. Dia masih bernapas. DIa masih bergerak. Perlukah dia bersyukur pada Tuhan? Apakah Tuhan mengabulkan do'a dan menyuruh dia untuk berhenti? Lacus Clyne memberikan Kira ketenangan. Dia keseluruhan harapan dan pelita yang Kira cari. Pelita yang tepat untuk seorang pendosa. Sosok Lacus seperti Florence Nightingale untuk Kira. Kira merasa 'aman'.
Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama. Tuhan ternyata menghukumnya. Tuhan ternyata mencatat dan menghitung dosa Kira selama ini. Kira lupa akan keberadaan Sang Maha. Sekarang, Tuhan masih menyuruhnya kembali ke tempat dimana Kira tersakiti. Apakah ini hukuman karena dia melepas kesempatan untuk pulang? Apa yang dia cari selama ini? Apakah dia mencari cahaya untuk pelitanya? Pelitanya yang hanya menerangi dirinya saja. Dia harus bisa lebih bercahaya kalau memang dia ingin semuanya 'aman'. Kira pun memutuskan untuk kembali ke medan perang, Lacus mengatakan kalau di sini lebih baik. Kira tidak akan terluka, Kira tidak akan menangis, Kira tidak perlu merasakan rasanya kehilangan dan ketakutan lagi. Walau seperti dugaan Siegel dan Lacus kalau perang semakin kacau. Patrick Zala mengubah tujuan Operation Spit Break ke JOSH-A Alaska, bukan Panama Base. Kelihatannya Patrick Zala ingin langsung menghancurkan Earth Allaince ke pusatnya. Kira yang baru saja pulih terpukul, dikarenakan Archangel ada di sana. Teman-teman Kira ada di sana. Janji Kira masih ada di sana. Pelita Kira masih ada disana.
"Kira?" Lacus menghampiri Kira yang diam termenung.
Kira menoleh ke arah Lacus dan air mata kembali membasahi mata beriris amethyst itu. "Aku akan pergi," ucap Kira.
Lacus terkejut dan kedua alisnya bertautan. "Kemana kau akan pergi?" tanya Lacus lembut, berusaha mengontrol perasaannya khawatir apa yang dia pikirkan menjadi nyata.
"Aku harus kembali…..ke bumi," ucap Kira sambil menangis.
"Kenapa?" tanya Lacus lagi. "Dengan kembalinya kamu hal itu tidak akan mengakhiri peperangan," ucapnya. Hal yang nyata yang memang terjadi.
Kira hanya mengangguk. Tentu saja apa yang dikatakan Lacus ada benarnya. "Tapi aku tidak bisa hanya berdiam diri disini dan tidak melakukan apa-apa kecuali mengamati," ucap Kira. "Jika seseorang tidak melakukan sesuatu karena dia diberitahu demikian, maka dia tidak akan membuat perubahan dan dia akan lebih tidak melakukan apa-apa,"
"Maka tidak akan ada yang berubah dan tidak akan ada yang berakhir," ucap Kira lagi.
"Apa kau akan bertempur dengan ZAFT lagi?" tanya Lacus yang hanya dibalas gelengan tidak oleh Kira. "Kalau begitu Earth Alliance?" Kira kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa aku sudah mengerti mengenai apa yang harus kita lawan dalam pertempuran ini," ucap Kira.
"Baiklah," ucap Lacus. Mendengar jawaban dan penjelasan Kira, Lacus tahu akhirnya dia mendapatkanya. Kunci untuk dapat mengendalikan kekuatan itu. Seseorang yang diyakini dapat mengendalikan kekuatan itu. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi dengannya karena apa yang ada dihadapannya memang sudah seharusnya dia hadapi.
Lacus lalu menghubungi Head Butler keluarga Clyne dan memintanya mempersiapkan beberapa hal. Dia lalu mengajak Kira masuk ke ruangan dan di hadapan mereka berdiri seorang pelayan dengan seragam merah ZAFT ditangannya. "Kira tolong segera gantilah dengan pakaian ini,"
"Eh?" Kira bingung.
Lacus tidak memperdulikannya dan dia hanya tersenyum ke arah sang pelayan dan mengatakan, "Tolong infokan kepada mereka," ucapnya lalu terdiam sebentar, "Kalau Lacus Clyne akan menyanyikan 'lagu perdamaian'."
Lacus membawa Kira ke pangkalan pengembangan MS milik ZAFT. Kira tidak berani tanya mengapa seseorang senormal Lacus Clyne dapat akses ke area yang memiliki penjagaan ketat serta akses khusus. Apakah karena dia putri mantan Chairman Super Council, Siegel Clyne? Kelihatannya tidak karena sepertinya mereka mengenal Lacus dengan sangat baik. Ketika Lacus mengajaknya masuk ke suatu ruangan Kira terkejut dengan apa yang ada dihadapannya, sebuah MS, sebuah GUNDAM. Lacus mengatakan kalau MS tersebut seri dari pengembangan ZGMF-X tapi nama lain seperti GUNDAM terdengar lebih baik.
"Aku merasa kekuatan yang kau butuhkan ada pada unit ini," "Hanya ada pada diri sendiri, hanya pada kekuatan sendiri, tidaklah cukup..karena itulah…" ucap Lacus pada Kira ketika Kira menanyakan alasan mengapa Lacus melakukan hal ini. Memberikan sebuah MS yang jelas-jelas TOP SECRET dan bisa jadi Lacus melakukannya tanpa sepengetahuan yang lain, ya kecuali oleh orang-orang yang loyal pada keluarga Clyne dan juga Siegel Clyne. "Apakah akan membawamu kepada keinginanmu? Apakah akan membantumu ketika kau sampai disana?" tambahnya.
"Tidak akan sendiri ataupun kekuatan sendiri," ucap Kira yang masih takjub dengan unit yang ada dihadapannya. Kira lalu menoleh ke gadis yang ada di sebelahnya dengan wajah penuh pertanyaan, "Kamu siapa?"
Lacus memberikan tatapan yang lembut padanya, "Aku adalah Lacus Clyne, Kira Yamato."
Bersama dengan unit dan harapan baru Kira kembali. Pulang ke tempatnya. Namun ternyata Kira bukan membutuhkan sebuah pelita, Kira membutuhkan angin. Angin yang dapat membawanya kepada kebebasan dan ketenangan. Angin yang membawa harapan baru Kira akan hari esok. Walau tangan ini penuh dengan dosa, sudah memiliki banyak luka dan lautan darah yang sudah tidak mungkin terhitung berapa banyak, Kira tidak peduli. Seperti hembusan angin, dia hanya perlu melangkah maju.
Kira berubah. Cahaya dari sebuah pelita bukanlah senjatanya. Hembusan angin kencang, angin kebebasan lah yang membimbingnya dan membawanya sekarang. Namun apakah dia terbebas dari dosa dan luka hatinya? Tidak. Nasi sudah menjadi bubur, dia tidak bisa menjadi Dewa Penguasa Waktu yang mampu menulis ulang semua sejarah. Sekarang dia hanya perlu melihat ke depan, lurus dan tajam, dan fokus pada satu hal yang bernama hari esok. Dia tidak peduli dan sudah dengan lapang menerima perannya yang 'jahat' buat beberapa orang demi 'hari esok'.
Dari awal Kira hanya ingin melindungi dan menolong dan itulah yang dia lakukan sekarang. Menolong teman-temannya dan mungkin pergi karena 'pedang kebebasan' yang dia berikan adalah hewan liar yang perlu seorang ahli untuk mengjinakkannya. Namun dia loyal dan setia. Dia tahu tempat yang aman ada bersama rekannya dan Negara yang sudah pernah dia tolak, ORB. Mungkin terdengar pengecut. Mereka di awal memihak salah satu dari dua kubu yang berselisih. Sekarang setelah melakukan kegagalan fatal mereka 'mencari perlindungan' dari kubu ketiga yang netral. Sungguh pengecut.
Kira kembali mengacungkan pedang kebebasannya. Sekarang demi Negara yang sudah berjasa untuknya dan keluarga, serta teman-temannya. Semua akhirnya mantap memilih jalan mereka masing-masing. Mantap untuk menghentikan perang entah untuk skala kecil atau skala besar yang mereka tahu, mereka menginginkan perdamaian yang sama, rasa aman yang sama, rasa bebas yang sama. Dada mereka sesak dan sekarang mereka membutuhkan napas segar itu dengan melangkah maju menuju pilihan mereka masing-masing. Kira dengan baik tidak menyalahkan atau menghakimi pilihan mereka, dia sungguh pemuda yang baik.
Tanpa diduga, keputusan Kira mengantarkan ke pintu takdir yang lain. Sahabatnya dengan 'pedang keadilannya' muncul dan menolongnya. Kira tidak ingin tertipu dan terbuai dengan kata 'sahabat', Sahabatnya itu sosok yang teguh dan berpendirian keras. Dia orang yang loyal dan Kira tidak akan tertipu dengan kata-katanya. Namun dugaan Kira salah, sang sahabat 'mengulurkan' tangannya. Dia ingin berbicara dengan Kira.
Dibanding Kira, kondisi Athrun sekarang justru kebalikannya. Penyesalan karena 'merasa salah' ada di mata iris emerald itu. Kira tidak bisa menyalahkannya. Wajar. Ada perang. Ada korban. Ada kawan. Ada musuh. Athrun adalah korban sebelum dia menjadi pion perang itu. Athrun sama seperti Kira, mereka awam dan masih hijau mengenai dunia dan maju karena dahulu adalah korban. Di akhir, ucapan maaf dikeluarkan namun bukan dalam bentuk kata 'maaf' tapi yang pasti mereka sudah saling memaafkan dan saling menerima. Nyawa Tolle dan Nicol hanya ada satu dan menebusnya dengan nyawa hanya akan menghasilkan lingkaran setan seperti yang Uzumi dan Cagalli katakan. Untuk sekarang yang bisa mereka lakukan hanya satu, menerima dosa dan menanggung dosa itu lalu melangkah maju.
Kira pikir Tuhan sudah cukup menghukumnya, ternyata tidak. Mereka harus ke luar angkasa, kabur dari dua kubu yang mengincar dan mengancam mereka. Ditambah lagi dengan fakta kalau Kira dan Cagalli saudara kembar. Seketika hidup Kira Yamato hancur kembali. Kalau dulu Kira mempertanyakan apa tujuan dia jadi seorang Coordinator sekarang adalah siapa Kira Yamato? Apakah Kira seharusnya menjadi seorang Athha? Atau Yamato? Lalu bagaimana dengan Cagalli. Tetapi itu tidak tepat. Alasan mengapa mereka terpisah, dibesarkan oleh dua keluarga yang berbeda, dan apa yang terjadi pada orang tua kandung mereka adalah pertanyaan utama. Kira dan Cagalli kehilangan identitasnya.
Kira tidak mau terlalu larut dalam masalah saudara kembar itu. Ditengah kemelut pikiran itu dia kembali bertemu dengan 'angin'-nya sang Harpy yang sudah menolongnya bersama dengan sang harimau, Andrew Waltfeld. Andrew memaafkan Kira dan memberikan Kira kesempatan hidup adalah suatu berita bagus. Tapi bertemu dengan orang yang pernah bertarung dan pernah dia lukai ternyata tidak selamanya membuat perasaanmu senang. Justru kau dihantui olehnya. Ucapan terima kasih pun tidak cukup.
Ditengah kekacauan perang itu, Kira perlahan tahu rencana Tuhan untuknya. Tuhan tidak ingin Kira tenggelam dan terlena dalam keindahan dunia. Rasa tenang dan rasa aman serta nyaman yang Kira rasakan itu suatu kesalahan dan dosa. Kira Yamato adalah hasil rekayasa Ultimate Coordinator. Dia akhirnya tahu identitas kedua orang tuanya. Dia tahu fakta keberadaannya. Dia ternyata sebuah anomali dunia, objek ambivalen dunia, jelas kalau ternyata selama ini Kira bertanya-tanya apakah Tuhan menyayanginya atau justru membencinya. Dia hampir menghancurkan umat manusia dengan keberadaannya. Dia harapan manusia namun di saat yang sama dia juga memutuskan harapan manusia itu.
Kira terpuruk, mentalnya hancur. Angin itu berhembus namun tidak terkendali. Dia seperti badai. Dia tidak tahu dia siapa dan sekarang bertambah, Kira tidak dapat meraih 'janji'-nya pada Fllay yang tiba-tiba muncul di tengah medan perang. Pelukan Lacus menenangkannya. Lacus menghembuskan kembali anginnya. Keberadaan Lacus cukup untuk menjawab pertanyaan Kira, "Untuk apa aku terlahir di dunia ini?" Lacus membangunkan Kira kalau Kira itu hidup, Kira itu, manusia, dan Kira itu normal.
"Ibuku pernah berkata kalau kau milik dunia dan dunia milikmu," ucap Lacus sambil menahan air mata. Dia tahu luka hati Kira sangat dalam dan mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk pulih. Pemuda itu tidak seperti Lacus dan Athrun yang sempat merasakan angin ketenangan di tengah perang. Kira tidak. Dia langsung diserang dari berbagai sisi, dikecam, diduga, dihakimi, tanpa melihat siapa Kira Yamato. "Keberadaanmu di dunia ini, membuatku menjadi wanita yang paling bahagia," ucapnya manatap. Lacus lalu menyenderkan dirinya di bahu Kira, "Aku ingin kau berada disisiku," ucapnya walau dia tidak yakin apakah ucapannya ini sampai pada Kira dan menempel di pikiran pemuda itu atau apakah Tuhan mengabulkan doanya untuk selalu berada di sisi Kira. Kira sendiri tidak yakin namun yang pasti dia bisa menyambut perasaan Lacus dan Lacus adalah angin napas kehidupan Kira.
Harapan Kira untuk hari esok dititipkan dan diperlihatkan Lacus melalui cincin peninggalan Ibunya. Lacus berharap Kira untuk pulang. Lacus adalah tempat Kira untuk pulang saat ini. Hal itu sangat wajar, perang terakhir diburu dengan waktu GENESIS dan Nuklir tinggal menunggu hitungan detik untuk tahu siapa yang menang. Maka dari itu mereka harus bergegas. Di tengah kemelut perang itu 'janji' Kira terbukti tidak dapat dipenuhi. Fllay tewas namun pernyataan maaf gadis itu tersampaikan, Fllay menyampaikan 'janji'-nya, janji untuk keselamatan dan keamanan Kira yaitu berupa 'hari esok' karena Fllay sudah bebas dan Kira sudah tidak perlu khawatir.
Akhir perang ditutup dengan banyak air mata. Kira hanya ingat kalau dia menangis, Athrun menangis, dan Cagalli menangis. Mereka tidak tahu untuk apa, kenapa, dan mengapa mereka menangis. Setelahnya yang Kira tahu dia masih hidup, masih makan, masih tidur, dan masih bergerak. Ketika mereka kembali ke ORB Union dan ke rumah keluarga Yamato sorot mata Kira mati. Kira tidak tahu apa yang dia lakukan. Caridad tanpa pikir panjang segera memeluk Kira, menyadarkan Kira kalau dia masih hidup. "Aku pulang, Mum," ucap Kira terbata-bata. Kira merasakan pakaiannya basah, Caridad menangis.
"Selamat datang," ucap Caridad di sela tangisnya.
Caridad pun akhirnya menceritakan pada Kira dan Cagalli sedikit mengenai orang tua mereka, Ulen dan Via Hibiki. Ditemani oleh Athrun, Lacus, dan juga Murrue yang ikut serta sambil membawa jurnal milik Ai da Flaga. Sungguh suatu kenayataan yang kejam kalau ternyata di perang yang lalu mereka main di roda takdir yang dimainkan oleh Rau Le Creuset. Bahkan Athrun sendiri kecewa karena dia dengan mudahnya tertipu. Alasan Caridad membawa Kira dan Cagalli serta memisahkan mereka sederhana. Caridad dititipkan oleh Via karena kedua anaknya menjadi incaran Blue Cosmos. Sedangkan Via dan Ulen sendiri 'terbunuh' atau meninggal ketika sedang berkunjung ke rumah keluarga Flaga dan saat itu kebakaran terjadi namun ada rumor kalau mereka dibunuh oleh Blue Cosmos.
Memisahkan Kira dan Cagalli saat itu adalah pilihan yang tepat. Kira jauh dari kehidupan politik dengan jadi warga sipil biasa, Cagalli di lingkungan Athha yang dapat memberikan perlindungan lebih daripada hanya menjadi warga sipil. Saat itu Caridad hanya mengatakan maaf berulang kali. Kira menundukkan kepalanya, bingung menjawab apa. Cagalli hanya bisa menangis lagi dan ditenangkan oleh Athrun. Setidaknya mereka berdua masih hidup dan bertemu lagi ditambah, mereka sudah punya identitas. Namun kata maaf dari mulut Caridad tidak cukup. Kira dan Cagalli tetap akan selamanya mempertanyakan apakah orang tuanya bahagia ketika mereka lahir? Apa komentar mereka? Apa harapan mereka untuk Kira dan Cagalli? Tidak ada yang tahu.
Kira pun meminta izin untuk meninggalkan ORB sementara waktu. Dia tinggal bersama anak-anak assuh Reverend Malchio bersama dengan Lacus ditemani Caridad. Kira membutuhkan waktu untuk pulih dari segala kesedihan, dosa, trauma, dan sakit yang dia rasakan. Kira berdo'a semoga saja ini yang terakhir. Namun kembali, Tuhan mengujinya tetapi perang kedua tidak membuat Kira goyah. Dia sudah mantap apabila dia kembali harus menorehkan luka dan darah serta mengambil nyawa lagi. Kira sudah kebal, sudah imun, dia sudah memiliki antibodi untuk menahan semua dosa, luka, dan rasa sakit itu. Angin yang sempat diam itu kembali berhembus namun bukan untuk menghembuskan kemenangan, tapi kembali menghembuskan kesedihan. Alasannya sederhana, tanpa Kira sadari luka Kira masih ada.
"Aku tidak mau, aku sudah muak dengan semua ini. Aku tidak mau menembak dan jangan buat aku melakukannya," ucap Kira. Kalimat yang sangat hipokrit. Sebelumnya di hadapan Lacus, Kira berkata kalau dia baik-baik saja. Dia siap menerima konsekuensinya. Tapi ternyata di hadapan Athrun, Cagalli, dan Miriallia dia berkata sebaliknya. Dia masih mengakui kalau dia masih dibaluti dosa dan kesalahan. Bahkan Kira sudah tidak bisa menangis, air matanya sudah kering.
Kira 'terpaksa'. Alasan dia kembali karena dia merasa ada yang aneh dengan dunianya. Lacus diincar tapi muncul Lacus Clyne palsu. Cagalli yang dipojokkan sebagai Representative dan mungkin bisa memperkeruh kondisi politik. Kalau di perang yang dulu dalangnya adalah Rau, untuk yang sekarang Kira tidak tahu. Kondisi PLANTs stabil di bawah pimpinan Gilbert Dullindal, bumi aman karenanya. Namun jatuhnya Junius Seven ? Teroris. Namun mengapa perang dua kubu itu semakin membesar? Untuk sekarang, Kira hanya meyakini siapa yang menghalangi jalannya maka dia tidak segan untuk menghancurkannya. Nekat memang, dia mengacungkan pedangnya ke dua kubu yang sedang berseteru dan dengan keberadaannya dia bisa menjadi sasaran empuk. Padahal dia tidak diuntungkan sama sekali sedangkan Earth Alliance dan ZAFT sedang dalam kondisi prima dengan banyaknya tenaga tempur. Mereka? ORB bukan dipihak mereka, mereka hanya segelintir atau meminjam nama ORB dengan menculik Cagalli Yula Athha dari pernikahannya.
"Ada hal yang tetap tidak bisa diterima, walau dia mengerti hal tersebut."
Kalimat Athrun menyadarkan Kira kalau dia tidak bisa tergesa-gesa. Tujuan dia dengan Athrun sama. Hanya ingin menjaga dan melindungi, Kira senang Athrun peduli, tapi jalan yang dipilih Athrun sangat nekat. Athrun berpihak namun Kira tahu alasan Athrun berpihak. Athrun ingin menjadi faktor penyeimbang. Sayangnya Kira menjadi faktor penghancur keseimbangan yang dibuat oleh Athrun. Berkali-kali Athrun menyuruh Kira dan yang lainnya untuk kembali ke ORB namun dia tidak mengindahkannya. Perpisahan sementara dengan Lacus pun sempat membuat Kira takut. Dia takut dirinya kehilangan 'angin'-nya. Sungguh aneh, padahal 'angin' milik Lacus berbeda dengan milik Kira. Lacus itu membawa angin yang penuh dengan kehangatan sedangkan Kira membawa angin kesedihan. Jelas mereka berbeda namun sayangnya, mereka saling melengkapi.
"Kau menghancurkan MS milik Athrun!?" Cagalli tidak percaya dengan apa yang Kira perbuat. "Me-mengapa?" Cagalli tidak terima apabila jawaban Kira sesederhana karena mereka saudara kembar dan sudah wajar apabila Kira membela Cagalli.
Kira mengangguk, "Karena dia ragu. Aku tidak menyalahkan kalau dia kembali bergabung dengan ZAFT tapi, kalau sampai dia tidak bisa memahami apa yang kau coba lakukan, apa yang kau coba lindungi, aku rasa itu kurang pantas. Ketika kau sudah punya kekuatan atau ketika kau sudah melakukan sesuatu kau pasti bisa menguapayakan apa yang kau ingin upayakan."
Cagalli lalu teringat dengan percakapan mereka di Crete. Masing-masing dari mereka memliki cara untuk mempertahankan keyakinan mereka dan jalan yang mereka pilih. Masing-masing mencoba saling menjaga dan melindungi dengan cara masing-masing. Masing-masing dari mereka mencoba untuk saling menghargai dan menghormati keputusan yang dipilih. "Iya aku tahu, tapi sampai menghancurkannya?"
"Ini yang terbaik, aku hanya bisa berharap Athrun dapat membuka matanya. Walau aku yakin dia pasti langsung memendam dan memikirkan semuanya sendirian," jelas Kira. Kira lalu melihat wajah sedih Cagalli dan jari kembarannya yang memainkan cincin dari Athrun. Kira lalu menepuk Pundak Cagalli, "Tenang, kupastikan dia selamat. Aku tidak menyerang kokpitnya dan area dia terjatuh tidak terlalu jauh dari Minerva. Aku yakin pasti ada yang menolongnya. Dia hidup Cagalli," tambahnya.
"Kira…"
"Aku sebenarnya marah karena dia seakan-akan tidak memahami perasaanmu. Kau menangis, kau berteriak, kau menyuarakan suaramu, tapi dia sama sekali tidak mendengarnya. Padahal dia tahu dengan benar apa arti mereka untukmu, arti ORB untukmu," jelas Kira.
Cagalli kembali meneteskan air matanya. Kira langsung memeluk Cagalli, mencoba menenangkan Cagalli yang sudah kacau perasaan dan pikirannya. "Tenanglah, kuyakin kau pasti akan menemukan jawabannya. Kita pasti menemukannya dan kau pasti memperoleh cara untuk bisa kembali berada di tempatmu yang semestinya. Kau hanya perlu percaya."
Saat itu hanya dengan menghancurkan Athrun Kira dapat menghilangkan salah satu penghalangnya. Iya, Athrun adalah penghalang. Namun ternyata Kira melakukan kesalahan. Setelah menghancurkan Athrun dia langsung menghancurkan Destroy Gundam tanpa mendengarkan seruan pemuda ZAFT. Kira tidak peduli karena mereka menghalangi Kira. Mereka tidak mendengar dan tidak membuka matanya. Mungkin Kira memang tidak tahu kalau pilot Destroy Gundam adalah wanita tapi unit itu sangat berbahaya. Harus dihentikan sesegera mungkin. Oleh karena itu Kira menghancurkannya. Sungguh dingin dan sadis, kalau dilihat dari perspetif Shinn Asuka. Kira Yamato menjadi pemuda tidak berperasaan, semua demi 'hari esok'-nya.
Sudah Tuhan menghukumnya dengan dia kembali ke medan perang, sekarang dia dan rekannya diincar oleh ZAFT. Kira ragu dan bingung. Dia bingung telah melakukan kesalahan dimana? Alhasil, 'pedang kebebasannya 'patah. Anginnya berhenti berhembus. Pedang itu memang sudah tumpul, tapi fondasinya masih kuat. Sayangnya saat itu, fondasi atau keyakinan Kira tidak kuat. Sekali lagi, Kira merasa dirinya hina. Dia mencoba untuk menyelamatkan diri dengan menekan tombol darurat. Dia berharap untuk hidup padahal dulu dia sempat mempertanyakan apakah dia pantas untuk hidup atau tidak. Janji menjadi kekuatan Kira. Mau Tuhan memberkatinya atau menghukumnya dia tidak peduli. Mau dia menghasilkan pahala atau dosa dia tidak peduli.
Setelahnya Kira jadi tahu, Kira jadi paham siapa yang merasa terancam dengan keberadaan mereka, khususnya Kira dan Lacus. Tanpa adanya unit MS yang bisa Kira gunakan Kira kembali ke ORB Union. Sahabtnya yang jadi incaran juga memperkuat dugaan Kira, siapa yang mengusik hari esoknya. Dengan berpegang pada pedang kebebasan yang baru Kira kembali ke tujuannya. Apabila menurut Gilbert Destiny Plan adalah hidup yang ideal maka itu tidak. Bagi Kira Destiny Plan membuka trauma dan luka lamanya. Luka ketika orang-orang banyak berekspetasi dengannya. Harapan adalah hal yang haram untuk dipikirkan dan dirasakan. Harapan itu sebuah dosa karena bisa menghancurkan dan menggerogoti nurani manusia. Manusia itu egois dan rakus dan itu sudah dasarnya dan membuat mereka hidup. Diusirnya manusia dari surga pun karena mereka tergoda, mereka tidak puas. Pada faktanya tidak ada yang bisa memenuhi kepuasan itu dan akan selalu seperti itu. Kira Yamato adalah bukti nyata keegoisan, kerakusan, dan kepuasan manusia demi melebihi Sang Maha, bukan harapan. Sekarang Gilbert ingin menjadi Sang Maha dan Kira tahu kalau itu salah. Terserah Tuhan mau menghukumnya atau memujinya, mencatatnya sebagai pahala atau dosa, dia tidak peduli. Dia Kira Yamato hanya ingin 'hari esok'-nya aman. Ingat, 'hari esok'-nya.
Kematian Gilbert adalah hal yang tidak diduga baik oleh Kira maupun Athrun. Karma Tuhan justru dijatuhkan pada Gilbert. Nyawanya diambil oleh rekan terpercayanya, Rey Za Burrel. Padahal awalnya Kira hanya ingin menggertak dan meminta Gilbert menyerah dan menghentikan perang. Tidak sampai ada pertumpahan darah dan nyawa yang menghilang. Tiga nyawa yang Kira tahu hilang hari itu, dari ribuan nyawa yang Kira ambil hari itu dan sebelumnya. Namun bukan Kira yang menyebabkannya.
Kira tidak tahu apakah dia pantas untuk bersyukur karena Tuhan masih menganggap dia wajar. Buktinya, yang dihukum adalah Gilbert bukan dia. Gilbert karena sudah memainkan takdir Tuhan. Padahal dosa Kira jelas lebih nyata daripada dosa Gilbert. Masalah Gilbert sepele, hanya tidak terima dengan ikatan takdir sedangkan Kira lebih kompleks dari itu.
Kira ingat, dia sudah banyak menodai tangannya dengan darah dan luka serta rasa sakit yang entah kapan akan hilang. Kira hanya tahu satu hal, Tuhan memintanya untuk berduka Tuhan memintanya untuk berdamai dan menerima keadaannya sekarang. Mungkin ini hukuman karena Kira sudah mengira dirinya aman dan nyaman. Mungkin selama ini dia tidak pernah berdo'a dengan benar sehingga Tuhan menghancurkan hidupnya sejak dia berumur enam belas tahun. Karena itu sekarang, identitasnya sebagai pembawa angin hari esok sudah tidak bisa dihindari. Dia akan memilih jalan itu, tidak seperti Cagalli atau Athrun dia akan memilih jalannya sebagai Kira Yamato.
"Seindah apapun bunga itu, apabila ada yang merusaknya…kita harus yakin kalau kita masih bisa menanamnya lagi," ucapan Kira yang langsung membuat Shinn Asuka menangis. Saat itu Kira mungkin agak iri dengan Shinn. Shinn masih bisa menunjukkan emosinya, betapa dia tersiksa sebagai korban perang. Sedangkan Kira dia sudah tidak bisa. Dia hanya bisa melangkah maju bersama anginnya. Air matanya sudah kering tapi dia tidak sadar kalau dia justru memindahkan air matanya dengan memberikan duka pada anginnya, Justru orang lain yang menangis karenanya, Diam-diam Kira masih berharap dan berdo'a Tuhan memberikannya hari esok yang dia inginkan walau hanya sekali saja, dia berharap sekarang Tuhan mendengarnya.
Do'a Kira dikabulkan. Tuhan memberikannya kesempatann untuk hari esoknya untuk masa depannya. Setelah menghadiri beberapa pertemuan sebagai Admiral ORB, Kira menerima kontak dari Lacus kalau dia menerima e-mail khusus dari PLANTs. Hati Kira berdebar kencang. Pertama kalinya pihak PLANTs mengontak Lacus secara langsung. Lacus segera memeluk Kira ketika pemuda itu masuk ke kamarnya dan Kira membalas pelukannya. "Ada apa?" tanya Kira lembut.
"Mereka memintaku untuk kembali," jawab Lacus, "Ke PLANTs," tambahnya.
Dada Kira terasa sakit, apakah dia akan ditinggalkan lagi oleh Lacus? Setelah sekian lama mereka berjuang dan 'pulang' ke rumah mereka. Pulang? Apakah kata itu benar untuk Lacus dan mungkin Athrun? Namun Kira tahu, baik dia dan Lacus sudah berjanji untuk menghadapinya. Menghadapi hari esok, menanam benih baru untuk membiarkannya tumbuh menjadi bunga yang cantik. Harapan akan hari esok. "Lalu jawabmu?" tanyanya lagi.
Lacus menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sambil menghirup wangi tubuh Kira. Mencoba untuk berpikir jernih dan menghilangkan kegundahan hatinya. "Aku…aku tidak tahu. Semua terasa sangat cepat namun nyata. Apa yang aku lakukan disini nyata dan aku bahagia tapi apakah itu setimpal setelah kita merusak salah satu fondasi dunia?" tanyanya. Fakta mereka melemahkan sistem di PLANTs sangat nyata. Earth Alliances sudah lemah setelah ZAFT menyerang dan menangkap para mafia, Blue Cosmos, dan LOGOS. Setelahnya mereka melemahkan PLANTs karena Destiny Plan.
Akibatnya, dua pihak goyah. Mungkin tidak untuk Earth Alliances karena sumber daya di bumi menunjang mereka. Namun berbeda dengan PLANTs, mereka berada di luar angkasa yang masih bergantung pada teknologi yang canggih dan pemikiran masyarakatnya yang kolot. Mereka membutuhkan angin segar yang membawa mereka melihat langit biru dan hari esok. Angin itu bukan Kira, bukan Cagalli, bukan Athrun, namun angin menyejukkan itu adalah Lacus. Kira bukanlah angin yang menenangkan karena Lacus lah angin itu, dia air yang menenangkan dan angin yang menyejukkan. Kira tahu faktor yang membuat Lacus gundah adalah dirinya. Lacus Clyne dengan jelas mengatakan kalau dia tidak bisa hidup tanpa Kira Yamato. Ucapan Lacus pada saat perang 71 CE masih Kira ingat dengan jelas. Ditambah setelahnya mereka tidak memiliki tempat bernaung. Beruntung Caridad mau menemani mereka dan menyambut Lacus dan Athrun dengan sangat baik. Bahkan berkenalan dengan rekan Kira yang lain.
Kekuatan hanyalah kekuatan…..pertama putuskan lalu lakukan…..kata-kata yang terekam dengan sangat baik dalam pikiran dan tubuhnya. Dia rakus, dia egois, Kira tahu itu. Tapi sekarang mereka membutuhkan Lacus dan Lacus membutuhkan mereka. Kira bisa lihat dari sorot mata Lacus. Dia akan sangat rakus apabila menginginkan Lacus untuk dirinya sendiri. Dia bukan pemuda seperti itu. Dia ingin mendukung sang kekasih.
Kira lalu tersenyum dan menyematkan rambut Lacus ke balik telinganya dan memperlihatkan wajah putih mulus berhiaskan pipi merah dan air mata, "Kira?"
"Aku akan mendukungmu, apapun keputusan yang kau pilih. Kita akan bersama, tidak akan ada yang memisahkan kita," ucap Kira lalu mengecup kening Lacus dan keluar dari kamarnya.
Terdengar murahan memang kalimat yang Kira ucapkan. Apalagi dirinya sudah penuh dengan dosa dan luka. Sekarang dia mau bersikap sok romantis? Dia? Mendukung sang kekasih ke PLANTs? Apakah pantas? Dia menemani sang kekasih. Setelah beribu-ribu, berjuta-juta nyawa, darah, dan luka yang dia ambil dan hasilkan. Aneh memang mengapa hingga hari ini Lacus tidak merasa jijik dengannya. Mungkin sekarang takdirnya adalah berpisah dengan Lacus. Tapi bukankah mereka sudah berjanji? Untuk selalu menjaga dan bersama. Intinya, dia sedang tidak berpikir jernih. Tidur nyenyak sambil memikirkan keputusan besar itu kelihatannya membantu, karena dia harus bertemu dengan saudara kembarnya dulu.
Ternyata tidak mudah memilirkan keputusan itu. Kira membutuhkan waktu tiga hari hingga dia dapat mantap dengan keputusannya. Selama itu, dia tidak mengobrol dengan Lacus. Mereka memutuskan untuk saling mengobrol setelah mereka sudah mantap. Kira hanya ditemani oleh Murrue dan Mwu, dan Lacus oleh Andrew. "Kau sudah berjasa besar dan banyak. Terlalu banyak tanggung jawab yang tidak pantas dibebankan padamu. Kini saatnya kau memutuskannya. Untuk masa depanmu sendiri dan kebahagiaanmu sendiri," ucap Mwu.
"Ah tapi,"
"Kira-kun," ucap Murrue, "Justru apa yang Mwu katakana benar. Kau sesekali harus egois. Kau punya masa depanmu sendiri dan kebahagiaanmu sendiri. Sekarang saatnya. Kalau kau memang mau memilih jalan itu, yakinlah dengan keyakinanmu sendiri."
"Murrue-san," Kira semakin bingung.
"Kita semua tidak mau bertempur, kita semua tidak mau mengacungkan pistol dan pelatuknya itu. Kau benar kita hanya ingin hidup normal, makan normal, tidur normal, dan menjalankan hidup dengan normal," ucap Murrue. "Sekarang adalah saatnya, saatnya kau meyakinkan dirimu. Memang konsekuensinya sangat berat dan tidak mudah, tapi kau sudah tahu bukan? Tidak akan ada yang berubah apabila tidak ada yang memulai."
"Tapi aku, kau tahu…,"
Murrue lalu membungkukkan badannya, "Justru aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Akulah yang terpaksa dan memaksamu untuk turun ke medan perang. Padahal kau hanyalah pemuda berusia enam belas tahun tanpa kita harus bahas apa genmu. Maafkan aku yang sempat menghancurkan dan merebut kebebasanmu," ucap Murrue dengan nada penuh penyesalan. Kira hebat karena tidak pernah menyalahkan orang yang membuatnya jadi penjahat. Murrue Ramius adalah orang yang harus dia salahkan sesungguhnya. Namun apakah pantas? Karena pada saat itu mereka terikat pada tugas dan kewajiban sebagai pelindung dan pertahanan Negara?
Mwu lalu menepuk pelan pundak Murrue dan membiarkan wanita itu tenang sambil bersender di bahu Mwu. "Apa yang Murrue katakan benar. Akupun ada peran di keputusan itu dan aku juga meminta maaf karena sempat menarikmu juga. Aku bukan senior yang baik dengan tidak memperhatikan kondisi kejiwaanmu," ucap Mwu. "Sekarang sudah tidak ada yang menghalangimu, kau harus memutuskannya sendiri. Kalau kau memang memutuskan untuk bersama dengan Pink Princess maka kami tidak akan menghalangimu. Kami tidak akan mengkritik apakah itu benar atau salah. Kami mendukungmu. Raihlah kebahagiaanmu," tambahnya.
"Mwu-san…Murrue-san…,"
Mwu lalu menepuk bahu Kira, "You have done many things. Termasuk mempertemukan aku kembali dengan Murrue dan aku sangat bersyukur karenanya. Oleh karena itu sekarang adalah bagianmu. Bagianmu untuk meraih hari esok yang kau inginkan. Demi dirimu, demi kami, dan demi semua orang."
Ucapan kedua veteran itu membuat perut Kira bergejolak dan mual. Dia? Bahagia? Terdengar aneh. Dia sendiri belum biasa dengan kehidupan normalnya setelah kembali ke medan perang. Dulu mungkin dia terpaksa bergabung dengan Earth Allainces tapi sekarang? Apakah dia dengan ikhlas mengenakan seragam ORB? Padahal dia tidak punya pendidikan militer resmi. Apakah dia memang ingin disebut sebagai Admiral Yamato? Lalu sekarang jalan apa yang harus dia pilih? Militer? Warga sipil? Oke, dia hanya ingin jadi seorang peneliti dan programmer tapi kelihatannya tidak mungkin. Tapi, militer apakah benar? Apakah itu alasan dia ada di dunia? Menjadi 'senjata'? Pertanyaan konyol yang selalu muncul di alam pikirannya namun selalu tertutup dengan kata 'putuskan dan lakukan'.
Kesekian kalinya dia merasa tidak nyaman dengan sambutan orang-orang yang melihatnya datang ke kantor saudara kembarnya. Mungkin karena dia datang dengan menggunakan seragam admiral lengkap tapi itu adalah satu-satunya cara untuk bisa bertemu dengan kembarannya yang sedang sibuk bahkan jarang bertemu dengan sahabatnya. Ingin rasanya dia menegur kembarannya karena sempat membuat sahabatnya khawatir setengah mati, atau justru dia harus menegur sahabatnya untuk berhenti menjadi seseorang yang worrywart?
"Representative, Admiral Yamato datang menemui Anda," izin sang sekretaris melalui teleponnya. Kira sudah berdiri di depan pintu ruang kerja saudara kembarnya dan catatan tambahan dia datang tanpa memberitahu. Mungkin dia akan ditegur habis-habisan karena tidak memahami jadwal kerjanya.
"Ah persilakan dia masuk," Sekretarisnya lalu mempersilakan Kira untuk masuk.
Kira cukup terkejut karena Cagalli terdengar sangat tenang. Padahal gadis itu akan heboh kalau dia datang tanpa menginfokan dulu, seperti hari ini. "Cagalli?" tanya Kira ketika masuk ke ruangan Cagalli dan melihat gadis itu di kursi kerjanya dengan tenang.
"Apakah ada sesuatu yang mendesak untuk disampaikan sehingga kau tidak meminta izin dan menanyakan jadwal untuk bertemu denganku?" sindir Cagalli, "Admiral Yamato?"
Kira lalu tertawa kecil, dia lalu mendekat ke meja Cagalli. "Sebenarnya ini mengenai Lacus dan PLANTs," ucap Kira.
"Kalau kau mau ikut dengannya, ikutlah," jawab Cagalli ringan yang langsung dibalas dengan tatapan terkejut dari Kira. "Lacus sudah memberikan jawaban dari surat yang dikirimkan pihak Supreme Council dan ZAFT kepadaku. Aku menerima suratnya tadi malam dan kau datang, aku yakin kau akan membahas masalah yang serupa. Aku tidak aneh," tambahnya.
Cagalli lalu memberikan dua lembar print-out surat pada Kira yang berisikan ketikan Lacus serta tanda tagannya yang khas. Dalam surat itu, Lacus menyetujuinya dengan penuh pertimbangan untuk kembali ke PLANTs dan menerima posisi sebagai chairwoman atau mediator namun ada beberapa syarat di dalamnya. "Cagalli ini…."
"Aku tidak masalah. Ini keputusan Lacus. Seperti yang pernah dia bilang 'pertama putuskan kemudian lakukan', jadi aku tidak akan mengkritik atau komentar tentang keputusannya. Kalau memang ini jalan yang terbaik untuknya maka aku sebagai Cagalli Yula Athha, sahabatnya akan mendukungnya. ORB Union pun akan mendukungnya," ucap Cagalli. "Lalu bagaimana denganmu? Kau ikut dengannya bukan?" Cagalli agak hati-hati dengan pertanyaannya karena tahu kalau keputusan itu sangat sulit.
Kira memiliki posisi di ORB Union, posisi yang sangat penting sebagai Admiral dan orang kepercayaan Cagalli. Dia mau melepasnya tidak masalah untuk Cagalli karena Kira memang bukan orang militer dari awal. Namun, apabila Kira akan memilih PLANTs maka jalan apa yang akan dia pilih? "Kira?" tanya Cagalli karena Kira tampak diam tidak bergeming.
Cagalli lalu menghela napas, "Kira kau tidak perlu mempermasalahkan mengenai omongan orang disekitarmu. Sesekali kau harus tutup telingamu itu. Kalau kau mau ikut dengan Lacus aku bisa paham. Aku tidak mengikatmu Kira. Kau hanyalah pemuda biasa berhati baik yang sering menolongku tanpa melihat identitasku. Maka akupun akan melakukan hal yang sama. Kau tidak perlu memikirkan posisimu sebagai Admiral ataupun yang lainnya. Ikutilah kata hatimu. Kau sudah banyak berkorban. Kini saatnya kau memilih kebahagiaanmu sendiri," ucap Cagalli. "Kau pikir aku akan menangis bila kau pergi? Ingat aku berpisah denganmu dari bayi dan selama enam belas tahun hidup tanpa mengetahui keberadaanmu. Aku sudah kebal, aku sudah bisa menahan itu semua, dan aku tidak sendirian sekarang. Lacus membutuhkanmu sekarang. Kau tahu itu bukan?" ucap Cagalli sambil tersenyum. Cagalli lalu bangkit dari kursinya, menghampiri saudara kembarnya yang mematung itu.
Cagalli lalu memukul pelan dada bidang Kira. "Hey, kau dengar tidak?" tanya Cagalli yang menahan air matanya. Dia tidak kuat, Kira tahu itu. Sosok Kira adalah fondasi Cagalli setelah Uzumi Nara Attha tiada. Kira tahu itu. Pesan terakhir Uzumi sangat sederhana. 'Kau tidak akan sendirian karena kau memiliki saudara', pesan itu adalah pesan bahwa masih ada yang menyokong Cagalli dan itu adalah Kira.
Kembali pukulan pelan dirasakan Kira. "Hey, kau dengar tidak?" tanya Cagalli lagi. Kali ini tangannya bergetar dan suaranya bergetar. Hubungan anak kembar memang unik. Sepertinya Cagalli sudah tahu jawaban apa yang akan Kira sampaikan.
"Iya," jawab Kira. "Sangat jelas," tambahnya. Kira mencoba untuk merekam semua yang dia tahu tentang Cagalli. Suaranya, detak jantungnya, wangi rambutnya, parfum tubuhnya, dan juga bentuk tubuhnya. Dia tidak ingin berpisah dari saudaranya.
"Aku tidak mengikatmu Kira Yamato. Kau berhak bebas seperti pedang kebebasanmu itu. Kau sendiri yang bilang kalau kitalah yang akan menentukan sendiri jalan yang kita pilih. Karena itu sekaranglah waktunya," ucap Cagalli yang mulai meneteskan air matanya. "Waktunya kau untuk menentukan semuanya, untuk dirimu khususnya. Bukan untuk orang lain. Kau berhak untuk bahagia oleh karena itu kau harus kejar sekarang kebahagiaanmu itu."
Sekali lagi seseorang mengharapkan kebahagiaan dari dirinya yang hina ini. "Cagalli….," ucap Kira.
"Kalau kau memang sudah mantap dengan pilihanmu, maka lakukanlah. Tidak akan ada yang menghakimimu lagi. Tidak akan ada yang menyalahkanmu lagi. Kau terlalu baik dan lembut tapi jangan kau hilangkan itu dari hatimu karena itu adalah kekuatanmu," ucap Cagalli.
Kira lalu memeluk saudara kembarnya itu yang langsung menangis tersedu-sedu dipelukannya. Kedatangannya hari ini bukan untuk membuat Cagalli menangis, Kira mencoba untuk memberikan ketenangan dengan sebuah pelukan erat. "Apakah aku memang berhak bahagia?" tanyanya.
"iya."
"Setelah semua nyawa yang pernah kuambil ini? Semua dosa dan luka serta darah ini?"
"Jangan memulai, kalau kau tidak mau aku mengomelimu lagi."
Mereka berdua tertawa. "Kau yakin akan baik-baik saja?" tanya Kira
"Um. Pastinya." Jawab Cagalli. "Tapi Defense Force pasti akan sedih dan berduka karena kehilangan tentara terbaiknya," lalu mereka tertawa lagi.
"Berjanji kau akan bahagia?" tanya Cagalli.
"Apakah kau bahagia, Cagalli?"
Cagalli memukul pelan dada bidang Kira, "Kenapa kau balas dengan pertanyaan? Aku sudah bahagia. Selama ORB dan kalian baik-baik saja."
Kira tertawa, "Akan kuingatkan dia untuk membuatmu bahagia dan menepati janjinya."
Cagalli tahu dia yang dimaksud Kira adalah siapa. "Pfft…., saudara yang baik," ucap Cagalli ringan. "Berjanji kau akan bahagia?" tanyanya lagi.
Kira tersenyum. "Kucoba dan mencoba. Kau?"
"Kucoba dan mencoba," jawab Cagalli persis seperti jawaban Kira.
Mereka berdua lalu tertawa. Di dalam pelukan masing-masing. Jarang mereka menunjukkan keintiman sebagai saudara kembar seperti ini. Kalau Athrun dan Lacus melihatnya pasti mereka akan cemburu, parah. Tapi mungkin sekarang adalah waktu yang tepat, mengingat setelah ini pasti akan ada 'badai' yang datang dan mempertanyakan keputusan saudaranya dan dirinya. "Apakah kau serius dengan jawabanmu Cagalli? Aku berbahagia? Aku meninggalkanmu?"
Cagalli menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu apakah dia perlu menjatuhkan dinding pertahanannya lagi sekarang. Dia butuh Kira, Kira adalah satu-satunya saudara kembar yang terhubung darah dengannya. Dia butuh Kira, namun dia tidak bisa egois. Kira punya jalan hidupnya sendiri. Cagalli tahu itu. "Perlu kuingatkan lagi kalau kau bukan siapa-siapa dan hanya seseorang bernama Kira Yamato? Aku tidak pernah memintamu secara khusus untuk ada disisiku," jawab Singa Kecil ORB itu sok kuat. "Aku adalah aku. Kau adalah kau. Kau lakukan apa yang ingin kau lakukan namun apabila kau sudah lelah dan perlu tempat untuk pulang, tolong ingat kau tidak sendirian. Aku, kami, teman-temanmu ada disini siap menyambut kepulanganmu dan siap untuk jadi kekuatanmu. Ingat itu baik-baik," tambahnya.
Kira lalu menarik dan menghela napas panjang. Dia mengecup pelan puncak kepala saudara kembarnya itu. Tidak ada satupun yang mau membahas siapa yang kakak dan siapa yang adik. Sebuah topik yang terlalu kekanak-kanakan bahkan sekarang saja obrolan mereka sudah terlalu kekanak-kanakan. "Baiklah, kalau begitu aku pergi Cagalli dan aku menyayangimu," ucapnya.
Cagalli mengeratkan cengkramannya dan tidak peduli bila air matanya membasahi seragam Admiral yang dikenakan Kira. Dia sedih tapi ini adalah keputusan Kira. Namun perpisahan yang sekarang jauh lebih menyakitkan daripada ketika dia mengira Kira tewas di perang beberapa tahun yang lalu. "Iya dan aku juga menyayangimu," ucapnya.
Ucapan dan obrolan itu tidak meringankan hati Kira. Dosa itu, luka itu, lautan darah itu, semua nyata dan tidak akan ada yang bisa menghapusnya. Bahkan dengan orang-orang mengatakan kalau dia berhak bahagia. Apakah itu mudah? Untuk sampai ke titik 'berhak bahagia' itu dia melakukannya dengan cara yang tidak lazim. Mengalahkan musuhnya, mengacungkan senjatanya, melukai mereka dan menambah catatan dosanya. Dia yakin malaikat pencatat keburukan sudah memberikan laporan pada malaikat maut untuk memberikan dia hukuman dari Tuhan. 'Bahagia' adalah hukuman baginya dari Tuhan. Setelah berjuta nyawa, luka, darah, air mata, jeritan, amarah, kesedihan, yang dia ambil dan hasilkan sekarang dia disuruh untuk bahagia. Sungguh cara menyiksa yang aneh. Dia harus melakukan 'bahagia' dengan beban dosa yang besar. Bahagia berhubungan dengan hidup penuh pahala dan kebaikan. Sedangkan dia jauh dari itu, dia penuh dengan dosa dan kejahatan Tapi semuanya setimpal, mungkin pikirnya kala itu.
Athrun agak terkejut ketika melihat Caridad yang menyeka matanya karena tiba-tiba menangis sedangkan Haruma mengusap bahu dan punggung Caridad berusaha menenangkan sang istri. Entah apa yang dibicarakan Kira sampai membuat Ibunya menangis. Kira lalu mengucapkan beberapa kata pada Haruma dan beranjak dari kursinya, sepertinya dia meminta izin untuk pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Tak diduga Kira lalu menghampiri sahabatnya yang sedang memandang laut malam ditemani full moon di beranda Athrun lalu kembali berbalik memandang laut yang gelap karena langit malam. Setelah selesai mengobrol dengan Ibunya, Kira kemudian teringat kalau dia harus menceritakannya juga kepada sahabatnya itu. "Hey Ath," serunya untuk menarik perhatian sahabatnya yang seperti biasa tenggelam dalam alam pikirannya.
"Ah, Kira? Sudah selesai mengobrol dengan Ibumu?" tanyanya. Biasanya Athrun selalu ada ketika Kira sedang ada diskusi penting dengan Ibunya. Namun tidak untuk kali ini. Athrun melihat mereka butuh privasi apalagi sampai Ayahnya, Haruma juga hadir di rumah milik Murrue Ramius yang sudah menjadi tempat singgah Kira dan yang lainnya semenjak panti asuhan di Marshall Island tersapu ombak tsunami.
Kira hanya mengangguk iya. "Iya dan kelihatannya aku juga harus membicarakan beberapa hal denganmu juga Ath." Tatapan Kira lalu ke salah satu sudut jendela dimana Lacus dengan piawai memainkan piano dan anak-anak panti bernyanyi, sedangkan yang lain termasuk Cagalli hanya memperhatikan dengan wajah penuh senyum dan kebahagiaan. Tidak lupa the little Ryu yang sering 'nempel' di pangkuan Cagalli -satu-satunya anak panti yang membuat Cagalli luluh dan hal itu tidak diaku oleh Cagalli-.
"Hmm? Apakah ini berkaitan dengan Mum Caridad yang menangis?" tanya Athrun yang pertanyaannya terlalu straight ke topik utama.
Kira lalu menggaruk belakang lehernya, "Yah begitulah."
"Ada apa?"
"Kau ingat mengenai surat dari PLANTs yang meminta Lacus untuk kembali ke PLANTs dan menjadi Chairwoman atau Mediator disana?" tanya Kira dan Athrun hanya mengangguk mengiyakan.
Kira lalu menghela napas, "Lacus sudah mantap dengan keputusannya dan sudah membicarakannya dengan Cagalli. Lacus akan menerima posisi tersebut dengan beberapa syarat dan disamping itu kami memutuskan untuk tidak akan lari lagi dan menghadapinya."
"Kami?"
"Iya, aku memutuskan untuk ikut dengannya Ath," ucap Kira. "Sebagai bagian dari ZAFT," lanjutnya sebelum Athrun dapat membalas atau memberikan komentar macam-macam karena jelas terlihat Athrun sangat terkejut.
"Kau!? Sebagai bagian dari ZAFT!?" Athrun tidak percaya. Apa yang Kira ucapkan itu tidak mudah. Kira sudah punya posisi penting di ORB sebagai High Admiral ditambah dia sebagai saudara kembar Cagalli tentunya semua berekspetasi Kira akan mengambil jalan yang sama seperti Cagalli. Mungkin yang terakhir ditolak mentah-mentah oleh Kira dan Cagalli karena mereka dibesarkan oleh dua keluarga yang berbeda dan tidak ada kaitannya dengan identitas sebagai saudara yang terikat. Tidak ada urusan siapa ikut siapa. Hubungan mereka sebagai saudara kembar cukup sebagai anak kembar Hibiki yang dimana mereka sudah tidak mau membahasnya lagi, hanya membuka luka lama. Tapi Athrun lebih khawatir terhadap situasi dimana Kira Yamato dulu adalah musuh ZAFT sebagaimana dirinya yang loyalitasnya dipertanyakan di ORB dari ZAFT ke ORB lalu ZAFT lalu ORB, oke mungkin untuk kasus Athrun berbeda.
"Bagaimana tanggapan Cagalli?" tanya Athrun selanjutnya. Dia tahu kalau Kira akhirnya berani mengobrol dengannya mengenai keputusan besarnya ini pasti karena dia sudah mengobrol dengan Cagalli.
"Teguran, pukulan ringan, dan air mata," ucap Kira. "Ditutup dengan pelukan. Tipikal Cagalli," tambahnya yang langsung menghasilkan gelak tawa diantara mereka.
"Kira….kau yakin?" pertanyaan yang sering Kira dengar dari mulut Athrun ketika Athrun meragukan pilihan Kira, menandakan Kira untuk memikirkan kembali pilihannya baik-baik.
Kira mengangguk, "Iya dan tidak pernah semantap ini. Mungkin apa yang kau khawatirkan sama seperti apa yang aku khawatirkan. Tanggapan dan pandangan orang-orang mengenai diriku, identitasku, serta masa laluku. Aku sudah tahu dan yakin akan ada beberapa pihak yang tidak mungkin langsung menyetujuinya, makanya mutasiku ke sana pun tidak semudah Lacus. Ada beberapa paper yang harus aku selesaikan. Lacus akan ke PLANTs mulai bulan depan, sedangkan aku menunggu keputusan dari pihak PLANTs dan juga ORB." Dia lalu memegang salah satu bahu Athrun, "Semua tidak mudah mengingat kau pernah menjadi musuh dan menanggung suatu kesalahan dan dosa besar terhadap mereka. Aku berhutang nyawa ke masyarakat PLANTs aku sadar betul hal itu namun yang kulakukan sekarang bukan untuk meminta maaf atau penebusan atas dosa-dosaku, Aku hanya mengikuti apa yang aku yakini, apa yang Tuhan arahkan untuk 'hari esok'," jelasnya.
"Kudengar kau dapat promosi di Defense Force?" tanyanya pada Athrun.
"Ah, ya sebagai Rear Admiral atau High Commander tapi kelihatannya banyak paper yang harus diselesaikan juga sama sepertimu," jawabnya.
Mereka lalu saling mengangkat bahu, tidak mudah memang keputusan mereka. Bahkan omongan kalau mereka dibela oleh Clyne dan Athha pun ada. Tapi mereka harus kuat, mereka berdua harus tangguh. Mereka sudah memutuskan untuk menjadi pedang dan perisai sang Dewi. "Mungkin tidak pantas aku mengucapkan ini tapi, aku titip dia dan ORB ya Ath? Tolong jaga mereka baik-baik" pinta Kira.
Athrun tahu arti kata mereka yang Kira maksud. Athrun lalu tersenyum, "Tentu sobat. Dengan seluruh jiwa dan ragaku ini," ucap Athrun mantap. "Akupun juga meminta hal yang sama, sobat. Aku titip dia dan PLANTs. Jaga mereka baik-baik" pintanya pada Kira.
"Sama sepertimu sobat. Dengan seluruh jiwa dan ragaku ini," jawab Kira mantap.
Mereka berdua tertawa. Tuhan memainkan takdir mereka dengan cara yang aneh. Entah itu berupa hukuman atau berkat tapi dulu mereka berbeda. Dulu Athrun memihak ZAFT dan Kira di Earth Alliances sebelum akhirnya mereka memihak ORB. Mungkin kalau yang dibahas mengenai tempat tinggal baru tepat apalagi setelah perang kedua. Athrun bersumpah untuk menjaga PLANTs dan Kira menjaga ORB awalnya. Namun sekarang mereka berkebalikan. Kira di PLANTs dan ZAFT, Athrun di United Emirates of ORB sebagai bagian dari ORB Military Defense Force. Dulu mereka memiliki cara pandang dan memihak ras yang berbeda. Kira Natural plus Coordinator dan Athrun Coordinator. Namun sekarang kebalikannya. Athrun ada di Negara para Natural plus Coordinator dan Kira berada di Negara para Coordinator. Mereka termakan oleh kata-kata mereka sendiri. Mungkin faktor wanita jadi alasan juga namun tidak mereka akui. Karena mereka berdua melihat dua putri itu tanpa melihat pihak apa yang ada dihadapan masing-masing.
"Aku tidak menyangkanya, sungguh. Rencana Tuhan sangat tidak bisa ditebak," ucap Athrun. "Kalau kau gagal aku tidak akan segan menghajarmu sobat," ancamnya.
"Kaupun juga. Kalau kau gagal maka kau harus menerima akibatnya dan jangan buat dia menangis lagi Ath," ucap Kira yang justru ancamannya jauh lebih berat dan serius.
Athrun tertawa kecil, dia lupa kalau janjinya pada sahabatnya itu sangatlah besar. Tidak hanya urusan menjaga negara namun juga menjaga seseorang yang pernah disakiti oleh dirinya. Sumpahnya mala mini menyangkut nyawa satu individu juga. "Tentu, aku bersumpah untuk hal itu juga. Aku berjanji akan membahagiakannya. Oleh karena itu kau juga harus bahagia dengannya. Kau juga berhak untuk bahagia, ingat itu." ucap Athrun.
Ucapan yang mirip seperti saudara kembanya dan rekan-rekannya. Bahagia. Kebahagiaan. You deserve your own happiness don't let the others take it from you. You have done a great job with a huge task and responsibility in your shoulder, now it is your turn to be selfish and get your own happiness. Dia sendiri tidak yakin apakah orang-orang yang sudah menghalangi jalannya selama ini juga akan mendo'akan dirinya demikian? Mengharapkan kebahagiaan dirinya? Kira hanya mengangguk. "Bersumpah, demi hari esok?" tanya Kira sambil mengarahkan kepalan tangannya ke Athrun.
Athrun lalu tersenyum dan mengepalkan tangannya dan memukul pelan kepalan tangan sahabatnya itu kemudian membukanya dan saling menjabat tangan dengan erat dan kencang. "Demi hari esok, aku bersumpah," jawabnya mantap.
Pukulan ringan dan jabatan itu menjadi saksi akan sumpah mereka berdua. Masing-masing memiliki legacy di tanah asal masing-masing yang harus mereka jaga namun mereka sudah memutuskan untuk meraih jalan yang berbeda untuk 'hari esok', oleh karena itu sekarang mereka saling bertukar dan bersumpah untuk saling menjaga. Mereka bertukar tempat dan saling menitipkan legacy-nya. Seperti sumpah mengangkat saudara. Semuanya demi hari esok. Kira tahu kalau Negara saudara kembarnya sudah tidak membutuhkan 'pedang kebebasan' karena justru mereka sudah bebas dan mereka membutuhkan 'pedang keadilan' untuk mengaturnya. Sedangkan Negara sahabat dan kekasihnya, sudah memiliki 'pedang keadilan' berdasarkan pada legacy pendahulunya dan sistem pemerintahan yang kolot dan tertutup. Kekurangan mereka adalah mereka membutuhkan 'pedang kebebasan' itu sekarang. Kebebasan untuk dapat membuka pikiran mereka dan menyejahterakan dunia mereka.
Obrolan terakhir dengan sahabat mengenai rencana masa depan yang tidak dia duga. Tubuh yang hina ini ternyata diharapkan banyak orang. Kira ingin muntah rasanya ketika dia mengingat harapan-harapan yang ada dan menumpuk di alam bawah sadarnya. Mereka masih menganggap dia normal, wajar, waras. Mereka masih menganggap kesalahannya hal yang lumrah dan sepele. Namun dia ingat, semua orang tidak sempurna. Mereka punya salah dan tidak selamanya mereka dianggap baik. Tidak mungkin dia mencoba semua orang menyukainya. Buktinya Gilbert Dullindal membenci eksistensinya. Lalu apa yang dia lakukan? Dia menghadapinya tidak memaksakan Gilbert untuk menyukai dirinya, walau sayangnya nyawa yang harus jadi bayarannya.
Setelahnya Kira segera menemui Lacus. Tanpa diminta segera memeluk sang kekasih dan langsung menangis dipelukannya. Kira sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Namun kelihatannya Lacus pengecualian. Gadis ini mengizinkan dia untuk menangis. Menangis adalah kemampuan manusia yang lumrah, untuk menyuarakan emosi dan perasaannya yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. Bahkan ketika lahir di dunia, kemampuan manusia yang pertama adalah menangis. Kira menangis hingga air matanya kering, hingga perasaannya tenang. Lacus tahu itu dan Lacus paham itu. Lukanya, bebannya, kesedihannya, Lacus paham itu. Hari itu terakhir kalinya Kira menangis sebagai Kira Yamato di ORB Union.
Mengingat apa yang sudah dilalui Kira, White Gale bukanlah julukan yang tepat apabila dirinya diibaratkan seperti Dewa Angin. Oke mungkin dia setuju kalau keberadaannya sekarang bagaikan badai terutama untuk musuh-musuhnya yang mengganggu 'hari esok'-nya. Tidak ada yang tahu dibalik kencangnya dan kuatnya badai itu, dia membawa duka. Angin itu membawa kesedihan, baik untuk dirinya dan orang lain. Dia memiliki dan membawa luka, dosa, dan angin yang membuat tangis kepada siapapun yang terkena hembusannya, bukan menghapus tangis. Dia mengasumsikan dirinya lebih ke arah sedih atau duka karena jalan yang dipilihnya yaitu mengacungkan senjata api bukanlah jawaban yang baik, bahkan bisa tergolong jahat. Mau dia memperoleh kemenangan atau kekalahan pasti akan ada duka dan kesedihan kematian? Tidak cocok. karena dia masih memberikan musuhnya kesempatan untuk hidup.
White Gale pun terdengar terlalu suci mengingat ada kata white -putih- yang berarti suci. Dia tidak sama sekali suci dan dia tahu hal itu. Dia hanya seseorang yang berjuang untuk hidup dengan berbagai luka, darah, dan dosa yang dia torehkan dan dia peroleh. Sudah berapa banyak tangis yang dia akibatkan? Sudah berapa nyawa yang hilang walau dia sudah mencoba memberi kesempatan? Sudah berapa banyak darah yang dia tumpahkan dengan tangannya itu? Sudah berapa banyakkah jeritan, amarah, kesedihan yang dia timbulkan? Dia sendiri tidak bisa menjawab dan dia tahu dengan sangat dan penuh kesadaran kalau dia juga penyebab 'kekacauan' dan faktor 'anomali' di dunianya. 'Demi hari esok' begitu ucapnya kala itu. Kalau dia tidak memasukkan faktor orang lain di dalamnya maka dia adalah pria yang SANGAT egois dan kata-katanya itu adalah bualan yang sangat besar, berbesar mulut tepatnya.
Mungkin dulu dia seperti Zephyr, angin yang paling tenang paling baik namun dengan mudahnya terbuai oleh Harpy. Namun Boreas yang keras dan dingin, Notus yang dikenal dengan angin berhawa panas, serta Eurus sang angin badai, adalah tiga penguasa angin yang sangat menggambarkan dirinya ketika dia ada di medan perang dan kemiliteran. Tetapi, keyakinan akan 'hari esok' dan 'kelahiran akan kehidupan yang baru' yang dia yakini membuat orang melihatnya seperti sosok Zephyr sekarang. Oh ralat, kalau begitu dia adalah angin itu, dia adalah Sang Anemoi secara keseluruhan. Dia bukan para Dewa Angin dalam riwayat The Winds of Maui yang ditangkap oleh Maui, karena 'kebebasan' sudah melekat padanya. Dia bukan Dewa Paka'a, Dewa Angin kepercayaan Polynesia yang mengontrol angin dengan Gourd of La'amaomao, karena dia bukan bagian dari kepercayaan yang dianut oleh saudara kembar dan Negaranya itu. Dia adalah angin kehidupan itu dengan luka dan dosa yang banyak. Dua hal itu tidak bisa Kira lepaskan. Namun sekarang dia tidak menyesal karena semuanya dia lakukan untuk 'hari esok'.
Kira hanya bisa tersenyum sambil melihat dua foto itu. Hidup berkeluarga adalah hal yang Kira juga tidak duga. Mungkin Tuhan memberinya kesempatan untuk memperbaiki. Memperbaiki jurnal kehidupannya yang sudah lusuh, kotor, dan terkoyak. Mengingatkan dia kalau selama ada kemauan untuk berubah maka Tuhan akan mengizinkannya, hanya saja kau tidak tahu kapan. Sungguh licik kalau Kira mau mengumpat kepada Tuhan. Kira butuh kedamaian itu dari dulu. Kira butuh 'hari esok' itu dari dulu tapi Tuhan justru menyembunyikannya atau menyimpannya di waktu yang tidak Kira duga. Namun, akhirnya Kira menjadi angin yang bebas. Dia bisa bernapas dengan baik. Angin duka itu masih menempel pada Kira dan tidak akan pernah berhenti berhembus selama Kira masih memegang 'pedang kebebasan' itu, namun mengingat angin juga harus menyesuaikan dengan elemen lainnya, dia juga ingin menjadi angin kebahagiaan untuk orang-orang yang penting baiknya dan itu yang Kira lakukan sekarang.
Yep, it is done! 15k words! I want to scream! Hahaha...how funny that I can write one-shot in those length of words. Ah yeah, maybe all you wondering about the white gale. I got it from a video game. SRW:V a same source where I found about Athrun's Knight Title, Red Flash. And I just realize that the first chapter doesn't have a same length and same vibe with the others. So I decide to rewrite it. I will rewrite Cagalli's. Maybe all of you can guess the fourth chapter already. But be patient, because if I haven't rewrite Cagalli's part so I can't write about him. I will keep focus on Cagalli's first. But can you guess the title? It is simple and all of you know those words suit him very well! And maybe I will end this mini series in five chapters. Thanks!
Warm regards,
Fuyu Aki
