Hello everyone, as I promised the newest chapter of IF: OUR PAST AND SCARS.
Here I present to you, Athrun's part but I just want to say it was a tough and difficult ones. Maybe because we know that Athrun always harboring his own feeling and too many inner conflicts. Also I remembered that he had his own manga, GUNDAM SEED DESTINY: THE EDGE where we can see his doubt and point of view about everything. So I try to figure out what keywords that describe him so well. And I found that he just like what and why 'Codex Hammurabi' existed. Which is the reason for the title of this story too.
Athrun tries to obey everything and his caring behavior by 'binding' people (Cagalli with a ring, Kira with Torii, and Lacus with his engagement situation) shows that he wants them to be save and it including he will do anything so they won't get his 'dangerous' area. He believes that if he can follow the good ones he will get a good result too. Just like gundamwikia wrote about him:
Athrun's resolve in battle is often profound. He debates "truth", "war" and even the real difference between "right" and "wrong" on the battlefield. These thoughts never cloud his mind in the sense that they hinder his abilities. However, his anger or desire for revenge often make him act in a way that he later regrets. His only weakness as a pilot is his good nature, which leaves him troubled when faced with having to kill Kira, his best friend. Ultimately, his "perfect solider" mentality and his father's expectations blind him to what he truly wants.
Yeah he is a complicated person. ` It takes almost 50 pages for his story in Gundam SEED parts and takes almost 25k words. So I decide to make the story into two parts.
DISCLAIMER: GUNDAM SEED AND GUNDAM SEED DESTINY belongs to SUNRISE Corp.
IF: OUR PAST AND SCARS
AN EYE FOR AN EYE, A TOOTH FOR A TOOTH
Part 1
By Fuyu Aki
Dirinya berdiri di monumen tersebut, berdiri tegak dengan kedua tangan di saku celananya. Lengkap dengan seragam militer Commander in Chief, seperti istrinya namun posisi sang istri lebih tinggi darinya. Mungkin terdengar aneh kalau dia posisinya di bawah sang istri tapi dia tidak peduli. Sang istri merupakan penduduk Negara yang sudah dia ditarik sumpah akan kesetiaannya dan ditambah lagi, Negara ini bukan kampung halamannya. Dia bertukar tempat dan bertukar sumpah dengan sahabat yang merupakan saudara kembar istrinya. Monumen yang dibangun secara khusus oleh sang istri untuk mengenang Ayahnya dan para petingginya yang gugur meninggal pada perang 71 CE dan kemudian berlanjut untuk mengenal orang-orang penting lainnya yang sudah meninggal. Dia tidak tahu apakah sebelumnya ada monumen lain dan yang sekarang ada dihadapannya adalah hasil dari pemugaran dari yang lama karena hancurnya Negara tempat dia berdiri sekarang. Pria yang sudah berada di umur tiga puluhan itu memandang dan membaca ratusan nama yang tertulis di monumen itu satu persatu. Dia tidak kenal nama-nama itu karena dia memang tidak berasal dari tempat dia sekarang berada. Dia hanya mengenal satu nama, nama seseorang yang memiliki nama keluarga yang sama dengan istrinya, Athha.
Tanah yang dia injak, udara yang dia hirup, sinar matahari yang menyinari tubuhnya, langit biru dan langit malam yang menyambutnya, wangi daun dan wangi tanah yang dia cium dengan hidungnya, bulan yang selalu menemaninya tiap malam, suara deburan ombak yang dia dengar, air yang membasahi tubuhnya, pasir yang menggelitik kakiknya, serta pemandangan kota beserta penghuninya, semua asing untuknya. Bahkan pemandangan langit pagi dan langit senja yang sering dia lihat setiap hari pun asing untuknya. Padahal dia mengikat sumpah pada bumi dan tanah yang dia injak, namun mengapa semua asing untuknya? Sederhana, dia bukan penduduk Negara ini, dia bukan berasal dari Negara ini, Negara ini bukan kampung halamannya, dan darah Negara ini tidak mengalir di dalam darahnya.
Pria itu lalu mengedarkan pandangannya. Dia berdiri sendiri di monumen itu ditemani dengan beberapa orang berseragam hitam. Tidak banyak, hanya dua orang karena dia sebenarnya bisa menjaga diri. Sayangnya hari ini dia diminta untuk membawa kedua anaknya, si sulung dan si kecil. Si kecil tidak ingin dibilang bungsu karena selalu bilang ingin adik kembar, bukan seorang adik, namun kembar. Pria itu tertawa kecil mengingat putri kecilnya yang protes karena mirip dengan sang istri ketika dia goda. Sekarang kedua anaknya sedang main di taman dekat monumen itu, membiarkan dirinya memiliki privasi untuk dirinya.
Kemudian pikirannya kembali ke daftar nama yang tertulis di monumen itu. Di bagian paling atas ada tulisan 'In the Name of Her Earth, Her Blessings, Her Endowing, and Her Protection. Here Rests in Honored Glory in The Name and Blessings of Haumea' dan di salah satu ubin di bagian bawah monumen itu ada tulisan, 'For Your Tommorow, We Gave Our Today'. Sebuah kalimat yang menyentuh hati, entah mereka mendapatkannya dari mana. Lalu dia berpikir, apakah di akhir hayatnya namanya akan ditulis di monumen yang ada dihadapannya sekarang? Memangnya apa syaratnya supaya dia bisa ditulis disana? Kalau dilihat orang-orang yang berjasa besar yang ditulis disana, sayangnya termasuk Seiran. Bahkan dia tidak menganut keyakinan yang sama dengan mereka. Dia tidak tahu apakah selama ini Dewi Haumea mengizinkan, memberkati, merestui, dan melindungi dirinya. Oh salah, sebelumnya tidak benar, dia harus ralat pertanyaannya. Apakah dia pantas?
Di dalamnya mengalir darah legacy keluarga yang tidak berasal dari tanah yang dia injak. Legacy yang seharusnya dia warisi kalau dia masih mempertahankan tradisi atau mempertahankan gaya keluarganya yang kolot. Dia berasal dari ras dengan tradisi yang berbeda, ras dengan gaya hidup yang berbeda, ras dengan pola pikir yang berbeda, ras dengan konsep keadilan yang berbeda. Lagacy yang dia warisi berasal dari sebuah keluarga bernama Zala. Dia hendak membuang nama itu, namun sang istri dengan pemikiran uniknya mengatakan akan aneh kalau dia menggunakan nama keluarga Athha sebagai namanya, sudah namanya berawalan A sekarang digantikan kata A sebagai nama keluarga, "Athrun Athha, tidak cocok. Tidak enak disebut," ucap istrinya kala itu. Bahkan untuk anaknya, sang istri bersikukuh memasukkan nama Zala sambil mengatakan, "Zala adalah identitasmu dan Zala adalah kamu, selamanya hal itu tidak akan berubah."
Pria itu menghela napas. Zala itu sudah mendarah daging. Dia tidak sepenuhnya menganggap salah dengan nama itu. Dia sudah terlahir di keluarga itu. Entah kontrak apa yang dia diskusikan dan terima dengan Tuhan ketika dirinya hanya sebuah ruh sehingga dia tidak dapat mengubahnya. Dia menyesal? Untuk beberapa waktu tidak, dia senang berada di keluarga Zala dan dia yakin kalau dia memang terlahir untuk keluarga itu. Buktinya dia memiliki Ibu yang penyayang dan Ayah yang tegas dan keduanya membesarkannya dengan kasih sayang hingga sebelum perang terjadi. Namun, setelah perang terjadi, setelah perang merenggut nyawa Ibunya nama itu berubah. Nama Zala ternyata memiliki kesan dan kekuatan yang lain yang entah dia harus bangga atau sedih. Kalau dipikir dia itu anak durhaka. Dia sudah menjadi anak yang durhaka untuk kedua orang tuanya. Durhaka karena sudah melepas kenegaraannya di PLANTs dan statusnya juga. Bahkan seperti sekaranag dia jarang mendatangi makam kedua orang tuanya yang berada di PLANTs. Sungguh anak yang 'baik' dan dia sudah memberikan contoh yang tidak baik untuk kedua anakanya. Kenapa dia sampai rela disebut durhaka? Apa yang membuatnya melakukan hal itu? Sekali lagi, sederhana dan sudah terpampang jelas dihadapannya, Hari Esok. Dia ingin sebuah hari esok dan sebuah perdamaian.
Mungkin dia termasuk orang yang aneh dan sama anehnya dengan istrinya. Ketika pertemuan kedua mereka, dia menyebut istrinya sebagai orang yang aneh. Dia yang sudah ditakdirkan sebagai Zala, dia yang garis kehidupan dan garis keturunannya seperti apa sudah diatur dengan baik. Dia yang unggul dari segi gen sebagai second generation rasnya. Paras yang tampan, sikap yang layaknya gentleman sejati, pintar, baik namun pendiam, sudah menyempurnakan fisiknya. Selanjutnya rumah yang nyaman, orang tua yang baik, teman-teman yang baik, dan tunangan seorang diva yang sama-sama unggul gennya dan berasal dari lingkaran ningrat yang sama, Lacus Clyne menyempurnakan kehidupannya. Lalu sekarang dia dengan mudahnya membuang itu semua, seperti merobek kertas atau membakarnya dengan mudahnya atau mencoretnya dengan tanda silang besar menggunakan tinta yang sulit untuk dihapus. Seakan-akan semua yang sudah tersusun dengan apik dan indah itu salah.
Kalau dia membicarakan hal ini atau ketika sedang berkumpul dengan teman-temannya, pasti dia akan jadi bahan tertawaan atau obrolan yang berkesan menyindir. Dia sudah kebal, jadi dia tidak akan dengan mudahnya terpancing. Banyak yang menganggapnya bodoh, buta, tidak tahu diuntung, orang yang merugi, melakukan hal yang sia-sia, cari muka, pengkhianat, anak durhaka, dan sebagainya. Dia tidak peduli. Dengan syarat, selama yang jadi bahan omongan adalah dirinya, dia tidak masalah. Namun kalau orang terdekatnya yang jadi bahan omongan, misalnya istrinya atau anaknya dia tidak segan untuk menegurnya bahkan mungkin langsung mengacungkan senjata api, parahnya memberi komando kepada pertahanan Negara karena dia punya hak tersebut. Namun, sebutan dia aneh juga dia terima dari anak pertamanya. Aeris -nama anak sulungnya- bilang kalau dirinya aneh karena mau berkorban untuk tanah ORB yang jelas bukan tanah kelahirannya dan justru dia menjadi pihak yang merugi karenanya.
Apakah wanita menjadi alasannya? Mungkin, tapi jauh sebelum itu ada yang berubah dari dirinya. Sebelum dia mantap untuk mengganti kewarganegaraannya. Dia merasa apa yang dia lakukan dulu tidak sesuai dengan apa yang dia yakini. Sosoknya adalah seorang dengan karakter yang berpendirian keras dan kelihatannya dia jadi terlalu berpikir keras mengenai apa yang harus dia lakukan apa yang harus dia yakini, padahal dulu dia yakin dengan apa yang dia lakukan. Seperti hakim atau penegak hukum yang harus memiliki keadilan dan hukum yang kuat sehingga dapat melakukan hal sesuai dengan apa yang sudah menjadi keyakinannya. Perlu diingat dia seorang tentara jadi otomatis dia salah satu si profesi 'penegak' itu.
Apa karena dia tentara dia jadi kaku sebagai seorang 'penegak'? Tidak. Dari dulu dia seperti orang yang harus memilki buku pedoman namun sekarang buku pedoman itu berubah. Dia dulu sempat berpegang teguh pada pedoman itu. Apakah tertulis? Tidak, tapi tertulis di dalam dirinya yang kemudian dia ingkar. Mungkin kalau diibaratkan, pedoman yang mengikatnya seperti Codex Hammurabi, sebuah hukum yang tertulis pertama kali dalam sebuah tiang sehingga masyarakatnya dapat melihat terus aturan itu. Hukum yang dibuat pada Dinasti Babilonia oleh Raja Hammurabi. Apakah itu yang dia lakukan? Mengikuti aturan yang berlaku yang sudah tercatat? Tapi apakah hukum atau aturan itu adil? Mungkin dulu iya untuknya karena sekarang dia melanggarnya. Dia memiliki hukum dan keadilannya sendiri. Ralat mungkin adil, karena kalau kata hukum terlalu kental dengan suatu aturan yang mengatur masyarakat. Sedangkan adil berlaku untuk semua lapisan. Adil itu berupa sikap dan hukum adalah hasil keluaran dari adil itu. Rumitkah? Semoga tidak.
Pria itu lalu menyentuh dadanya tempat dikalungkannya sebuah kalung jimat Haumea pemberian sang istri. Pikirannya kembali berputar. Mungkin dia sudah 'disihir dan dikutuk' oleh Sang Dewi tepat ketika kalung jimat itu dikalungkan ke lehernya. Tepat setelah dia menerima kalung itu, hatinya memberontak dan berubah. Dia beralih, dia mengalihkan, dia mengganti apa yang menjadi tujuannya dan itu adalah bumi yang dia injak. Kalaupun memang benar perubahan hatinya akibat kalung itu, semestinya dia menolak ketika kalung jimat itu dikalungkan atau menegur istrinya karena kalung itu terkutuk. Tapi, kenapa dia beralih ke bumi ini? Mengapa harus tanah dan bumi ini? Bumi yang jelas asing untuknya. Bumi yang jelas bisa menunjukkan rasa tidak suka padanya. Bumi yang jelas bukan tanah kelahirannya.
Pria itu lalu tertawa, kelihatannya dia benar-benar sudah terkena karma dan kutukan dari Dewi Haumea. Mungkin karena membuat sang istri menangis. Ketika dia bertemu untuk kedua kalinya dengan sang istri, ketika mereka saling meneteskan air mata karena 'kematian' seseorang, Sang Dewi mungkin murka karenanya. Mungkin saat itu istrinya mendo'akan hal yang aneh-aneh dan alhasil ketika dia mengenakan kalung itu, 'tiang'-nya runtuh. Iya, dia dihukum oleh sang Dewi dan dikutuk dan terkena karmanya. Tidak hanya itu Sang Dewi tahu dia itu sosok yang durhaka dan seorang pengkhianat makanya dia mendapatkan 'hukuman dan pembalasan' yaitu 'hari esok'. Ditambah dia berkhianat dengan 'prasasti Hammurabi'-nya yang sudah berganti menjadi 'pedang keadilan' dan itu hanya miliknya, bukan milik Sang Raja ataupun Sang Dewi.
'….To make justice visible in the land, to destroy the wicked person and the evil-doer, that the strong might not injure the weak', sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh seorang Raja bernama Hammurabi dari Dinasti Babilonia. Seorang Raja yang terkenal bukan karena jasanya dalam berperang atau memimpin, namun dalam menyusun sebuah aturan dan tertulis. Sang Raja menulis kode resmi -sebutan pada jamannya- atau hukum tertulis, yang kemudian dikenal di seluruh dunia sebagai Codex Hammurabi atau Hukum Hammurabi. Banyak aturan yang ditulis didalamnya dan total ada 282 hukum dengan namun singkatnya hukum tersebut dikenal dengan istilah 'an eye for an eye, a tooth for a tooth', mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Sebuah prinsip bahwa seseorang yang telah melukai orang lain harus dihukum dengan tingkat yang sama, dan orang yang menjatuhkan hukuman tersebut haruslah pihak yang dirugikan. Sebuah kalimat yang pernah dia dengar dari penjelasan gurunya di mata pelajaran Sejarah Dunia dan kalimat yang dia baca dari suatu buku di perpustakaan sekaligus ruang kerja Ayahnya. Kalimat yang merupakan tujuan dari sebuah prasasti batu bernama Codex Hammurabi. Bagi seorang Athrun Zala, agak aneh mengapa seorang Raja sampai harus membuat aturan seperti itu, dia akui kalau aturannya adil, hukumnya adil tapi mengapa sampai disebut hukum yang tertulis pertama kali? Apakah masyarakatnya tidak mengikutinya? Apakah masyarakatnya tidak bisa mendengar? Kalau begitu mereka semua payah, Rajanya lemah karena tidak bisa mengendalikan rakyatnya dan rakyatnya bodoh karena tidak bisa memahami Rajanya, begitulah pikirnya sambil menahan kantuk karena cerita sejarah terkadang membuatnya mengantuk walau otaknya brilian.
Athrun Zala hanyalah pemuda yang hidup penuh kebanggaan dengan kehidupannya. Ayahnya Patrick Zala seorang tentara dan politikus serta ibunya Lenore Zala yang seorang peneliti mewarnai hidupnya. Dia melihat berbagai potensi mengenai masa depan dari keduanya serta masa depan apa yang dapat dia raih dengan dua potensi yang dikerjakan oleh orang tuanya. Dia lahir di PLANTs tepatnya pada tanggal 29 Oktober 55 CE, berdekatan dengan perayaan Halloween atau hari peringatan roh orang-orang yang mati namun diketahui bahwa arti dari kata itu adalah 'malam suci' atau 'malam para kudus'. Athrun tidak pernah mempermasalahkan fisiknya karena dia mirip dengan kedua orang tuanya, walau menurut sebagian orang-orang dia imut karena fitur wajahnya lebih mirip ibunya dan dia tidak suka kalau ada yang bilang dia imut atau lebih parahnya cantik.
Militer tidak pernah terlintas di dalam rencana hidupnya. Sebagai Second Generation Coordinator dia termasuk yang unggul. Di umur satu tahun dia sudah lancar berbicara dan tentu saja membanggakan kedua orang tuanya. Tidak memakan waktu lama untuk dirinya dapat berjalan berlari bahkan untuk bisa berkegiatan layaknya manusia umumnya. Di umur tiga tahun daya ingat dan kepintaran Athrun sudah terlihat, maklum dia Coordinator dan tentu saja merupakan hasil rekayasa gen yang unggul dengan sumber gen yaitu kedua orang tuanya. Namun apakah dia dipersiapkan untuk menjadi anggota militer? Tidak. Orang tuanya membesarkan dia layaknya anak seumurannya. Masa kecil Athrun sering dihabiskan dengan Ibunya. Dia tidak mempermasalahkannya karena ketika sedang bersama dengan Ibunya dia bisa bermain banyak hal dan melihat banyak hal baru karena Ibunya seorang peneliti. Dia sangat sayang dengan Ibunya dan mungkin gelar mother complex cocok untuknya kala itu.
Jika dari Ibunya dia banyak belajar dunia luar, maka dari Ayahnya sebaliknya. Dengan bantuan didikan dari Ibunya juga tentunya, Athrun mempelajari mengenai apa itu kehormatan diri, harga diri, etika dan sopan santun, tutur kata yang benar dan baik, maskulinitas dan kegagahan, kejujuran dan kemuliaan hati, dan moral sebagai Zala. Patrick orang yang kaku, dia tidak tahu banyak bagaimana menghadapi dan mengurus Athrun kecil namun Lenore selalu menemaninya dan membimbingnya. Ketegasan, kekakuan dan sisi keras Patrick di tempat kerja entah mengapa terbawa hingga ke rumah. Namun, sosok tegas sang Ayah sama sekali tidak membuatnya takut walau dia kadang bingung harus mengobrol apa dengan Ayahnya karena Patrick sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Hal itu berdampak Athrun bersikap layaknya 'good behavior child', 'a good-mannered child', dan itu bagus bagi Ayahnya. Athrun itu harus sempurna sosok gentleman sejati karena dia seorang Zala. Apakah mereka patut disebut Bangsawan? Kelihatannya tidak, dia jauh dari definisi tersebut tidak ada norma-norma kaku yang harus dia ikuti, dia hanya diberitahu dan diajarkan bagaimana caranya menjadi anak laki yang baik dan pria sejati. Apakah orang tuanya kaku dan kolot? Mungkin saja, tapi ketika Athrun melihat Ayah dan Ibunya berkomunikasi, justru kaku dan kolotnya mereka menunjukkan kemesraan dan kasih sayang mereka. Dimana 'aturan dan didikan' sebagai Zala justru menunjukkan keharmonisan keluarganya, 'hidup harus seperti itu, memilik aturan sehingga dapat meraih keharmonisan' itu kesimpulan yang dia dapat. Prim and proper, well prepared, be a nice gentleman, and be a well-behaved child, cool, calm, and collected, itulah yang ada dipikiran Athrun. Zala itu harus sempurna, seperti Ayahnya yang selalu gagah mengenakan seragam militernya.
Apakah dengan begitu Athrun tidak pernah berbuat nakal? Apakah dengan begitu Athrun tidak pernah manja? Tentu saja pernah. Ingatan itu masih sangat jelas. Saat itu dia berumur empat tahun da pertama kali diberitahukan kalau dia dan Lenore harus pindah dari December City ke Lunar Base – Copernicus City. "Pin- apa?" tanya Athrun ketika sedang memakan sereal serta gandum dicampur susu putih kesukaannya. Meja makan dan waktu makan menjadi salah satu momen keluarga yang sudah seperti tradisi di keluarga Zala. Mereka berkumpul di jam tertentu sesuai waktunya makan dan makan bersama dan mengobrol. Makan di meja makan sangat bagus demi tumbuh kembang anak dan merupakan salah satu sarana komunikasi keluarga yang baik.
"Kau dan Ibumu, pindah ke Copernicus dua bulan lagi," ucap Patrick sambil menyesap kopi hitamnya. "Ayah sudah mempersiapkan surat dan tempat tinggal kalian disana."
Athrun mengedipkan matanya berkali-kali sambil mencoba memahami maksud Ayahnya dan arti dari kata pindah. "Pindah itu berarti tidak tinggal disini kan?" tanya Athrun sambil tetap mengunyah makanannya.
"Iya," ucap Patrick.
"Kenapa?" tanya Athrun.
"Karena sudah waktunya kau masuk sekolah dan pendidikan disana bagus. Disamping itu, Ibu ada tawaran penelitian disana," ucap Lenore sambil menaruh sepiring roti tawar bakar, bacon, dan scramble egg di hadapan Patrick. "Kunyah dan telan dahulu baru berbicara nak," tegur Lenore.
Athrun lalu menelan serealnya yang sudah dia kunyah dari sejak Ayahnya mengatakan kata pindah. "Sekolah? Bukankah Athrun akan bersekolah di PLANTs? Lalu kalau pindah kenapa hanya aku dan Ibunda? Ayahanda tidak ikut? Kenapa?" ucap Athrun yang langsung memberikan rentetan pertanyaan.
Patrick dan Lenore tidak mungkin menyebutkan alasan yang sebenarnya. Alasan mengapa mereka harus pindah. Konflik yang semakin memanas dan masih belum terprediksi membuat Patrick waswas. Beruntung Copernicus City memang terkenal dengan pendidikannya yang bagus dan Athrun dapat belajar banyak disana ditambah wilayah itu Netral sehingga tidak ada perbedaan ras dan itu bagus untuk dunia pertemanan Athrun. Ditambah Lenore mendapat tawaran penelitian disana yang tidak mungkin disia-siakan. "Ayah harus bekerja, nak. Lagipula kau boleh pulang ketika liburan dan rumah ini tetap akan menjadi rumahmu. Ayah tetap tinggal disini," jelas Patrick. "Kau bisa belajar dengan tenang di sana Athrun. Ayah dengar pendidikan disana bagus. Kau pasti akan senang dan suka," tambahnya.
Wajah Athrun sedih. "Jadi Ayahanda tidak ikut karena pekerjaan?"
"Iya," jawab Patrick lagi dengan singkat. "Ace akan menemani Ayah, Athrun tidak perlu khawatir," hiburnya.
"Ayahmu bekerja demi masa depanmu, Athrun. Jadi, sebaiknya Athrun juga menurut seperti apa yang Ayah katakan," ucap Lenore yang duduk di sebelah Patrick sambil menaruh berisi makanan yang sama dengan suaminya. "Ace akan menemani Ayahmu karena Ibu khawatir mengenai aturan membawa binatang dari luar di Lunar Base."
Athrun tahu kalau Ayahnya bekerja di bidang militer dan pertahanan Negara. Athrun bangga dengan apa yang Ayahnya lakukan. Menjaga dan melindungi rakyat, sosoknya benar-benar seperti pahlawan pembela kebenaran. Namun dia merasa kesepian kalau tidak ada Ayahnya. Selesai makan dan setelah dia bosan bermain di ruang bermain, Athrun pergi ke kamar orang tuanya dan melihat seragam militer ayahnya lengkap dengan topi petnya. Seragam itu tergantung dengan rapi dan apik di pintu lemari Ayahnya. Sebuah ide muncul di kepalanya, dengan tubuh mungilnya dia menarik stool yang ada di kamar itu, naik ke stool tersebut kemudian menarik baju tersebut. Dengan senyum penuh kemenangan, dia segera menarik seragam itu dan mengenakannya. Dia bukan anak yang nakal atau anak yang tidak sopan, tapi dia ingat kalau Ayahnya berkata, "Ini pakaian kerja Ayah jadi ketika Ayah mengenakannya maka itu artinya Ayah akan pergi bekerja." Itu yang Athrun ingat. Dia lalu memakai pakaian yang terlampau besar untuknya serta topinya yang jelas tidak muat di kepalanya dan hampir menutupi pandangannya, dia lalu segera keluar mencari Ayah dan Ibunya.
Athrun melihat Ayah dan Ibunya sedang bersantai sambil menonton TV. Athrun lalu tersenyum melihat mereka sedang bersantai. "AYAHANDA! IBUNDA!" serunya.
Patrick dan Lenore segera menoleh ke arah sumber suara dan begitu melihat Athrun yang memakai seragam ZAFT milik Patrick mereka terdiam. "Aku bisa mengenakan seragam Ayahanda! Berarti aku bisa membantu Ayahanda kerja dan tidak perlu meninggalkan Ayahanda sendirian. Tidak perlu pindah ke Copernicus," seru Athrun.
Patrick dan Lenore menahan tawa. "Apa yang membuatmu mengatakan itu?" tanya Lenore. Athrun mengenakan seragam Patrick yang pastinya kebesaran untuknya lengkap dengan topi petnya yang miring. Ditambah dia bergaya seperti layaknya tentara ZAFT dengan posisi hormat khasnya. Sungguh pemandangan yang menggemaskan. Ingin rasanya Lenore segera mengambil kamera namun dia tidak dapat menahan tawanya.
"Ayahanda mengenakan ini untuk kerja bukan? Berarti kalau Athrun pakai ini, berarti Athrun bisa kerja juga. Ikut Ayahanda dan membantu Ayahanda!" ucapnya polos dan langsung membuat kedua orang tuanya tertawa lepas karena tingkahnya. Athrun bingung kenapa Ayah dan Ibunya tertawa. "Ayahanda? Ibunda?"
Patrick lalu menghampiri Athrun menggendongnya dan menaruh Athrun di pangkuannya. "Sekarang ini bukan bagianmu untuk bekerja, nak. Itu tugas Ayahanda," ucapnya.
"Athrun ingin bantu Ayahanda."
"Kalau begitu lakukanlah tugasmu," ucap Patrick seperti memberikan arahan untuk tentara tapi dengan santai karena yang dia hadapi adalah anak kecil. Patrick mengambil topi pet yang hampir jatuh dari kepala Athrun dan menaruhnya di meja.
"Apa tugas Athrun?"
"Belajar dan mempelajari kehidupan itu apa. Memperoleh pengalaman hidup sebanyak-banyaknya," ucap Lenore sambil memeluk Athrun dan mengecup pelipisnya. "Sehingga dirimu tahu apa yang ingin Athrun lakukan untuk masa depan Athrun," tambahnya.
"Be a good person and a good man. Follow the lead and you won't regret it," ucap Patrick.
Athrun kala itu berumur lima tahun. Di saat dia sedang berlibur ke rumahnya di December City PLANTs, Manor Zala yang terkenal dengan gaya Tudor-Jacobean dan warna merah bata khasnya. Berlibur? Mungkin terdengar aneh, namun Athrun tinggal di dua tempat. Dia tinggal bersama Ibunya di Copernicus City untuk bersekolah dan Ibunya sedang ada penelitian disana. Sehingga Ayahnya menyarankan mereka untuk tinggal disana, ditambah lagi entah kapan Earth Alliances akan menyerang PLANTs sehingga PLANTs justru sedang berada dalam situasi tidak aman. Alhasil Athrun jarang pulang ke rumahnya yang seharusnya. Manor Zala, sebutan untuk rumah itu. Rumah yang berkesan hangat, namun jarang ditempati sehingga Athrun sering mendengar ada beberapa yang menyebutkan rumahnya angker atau berhantu namun dia tidak peduli. Athrun malah ingin bertemu dengan si mahluk halus yang kalau secara sains sama sekali tidak terbukti. Athrun sangat menantikan saat pulang ke PLANTs, tidak hanya karena dia senang dengan suasana pegunungan di December City namun juga karena dia bisa bertemu dengan Ayahnya serta anjing German Shepherd peliharaannya, Ace. Ayahnya selalu pulang dengan berbagai cerita seru menurutnya. Iya rumah itu ditempati oleh Ayahnya, Ace, dan beberapa pekerja Manor yang bertugas membantu Lenore atau Patrick dalam urusan rumah khususnya ketika hanya ada Patrick saja.
Athrun sedang duduk dengan manis di meja makan dengan sebuah buku ensiklopedia tanaman yang sedang asyik dia baca ditemani Ace yang tidur di kolong meja. Lenore sedang memasak di dapur yang tidak jauh dari meja tempat Athrun duduk. "Ibunda, apakah Ayahanda akan pulang cepat malam ini?" tanyanya dengan penuh antusias.
"Hmmm? Memangnya kenapa Athrun?" tanya Lenore yang sedang menghias sebuah kue tart.
"Ayahanda berjanji pulang cepat hari ini karena hari ini ulang tahunku dan aku tidak sabar hadiah apa yang Ayahanda bawa!" seru Athrun dengan senyum manisnya. "Aku sudah menjadi anak baik selama beberapa bulan ini dan sesuai janji Ayahanda dia akan memberikan hadiah kalau aku sudah menjadi anak baik."
Lenore tersenyum. Ulang tahun Athrun merupakan hari yang menyenangkan untuk Athrun karena Lenore membuatkan kue kesukaannya dan masakan kesukaannya, stuffed cabbage roll yang juga merupakan kesukaan Patrick. Athrun yang mulai bertanya-tanya menandakan kalau dia sudah tidak sabar. Walaupun dia tidak bisa merayakannya dengan sahabat barunya di Copernicus. "Masih ada sekitar dua jam lagi Athrun," ucap Lenore. Dia bisa lihat wajah resah tidak sabaran Athrun. "Bagaimana kalau kau bermain dengan Ace?" usul Lenore dan Athrun hanya menjawab dengan anggukan iya.
Athrun menghabiskan waktunya bermain lempar bola dengan anjing kesayangan keluargany. Ace anjing yang menyenangkan dan teman yang setia. Dia gagah dan penurut seperti apa yang Ayahnya ajarkan. Mengikuti arahan dan aturan yang diberikan. "Ayo Ace!" seru Athrun sambil melemparkan bolanya lagi. Tanpa terasa, sudah dua jam lebih dia bermain namun belum ada tanda-tanda mobil Ayahnya pulang.
"Ibunda!" seru Athrun yang akhirnya tetap tidak sabaran. Bajunya sudah basah karena keringat dan kotor karena tanah. Lenore melihat Athrun dan Ace hanya tersenyum menghampiri Athrun sambil menggenggam telepon di tangannya. "Ayahanda belum pulang?"
Lenore lalu mengusap pipi Athrun. "Ayahmu ada rapat mendadak sehingga dia mungkin akan pulang telat jadi untuk hari ini hanya dirayakan dengan Ibu dan Ace. Bagaimana?"
Athrun terkejut. Ayahnya mengingkari janjinya. Padahal dia diajarkan kalau seorang pria, anak laki-laki harus selalu menepati jani. Tanpa disadari air mata mulai keluar dari matanya. "Athrun?" Lenore cukup terkejut karen Athrun mulai menangis.
Harapannya pada sang Ayah terlalu tinggi. Dia baru tahu kalau ternyata sebuah janji bisa dengan mudahnya diingkari dengan sebuah kata. Diawali dengan kata dan diakhiri atau diingkari dengan kata. Athrun menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya. "Pembohong…," ucapnya pelan namun masih dapat didengar oleh Lenore.
"Athrun?"
"AYAHANDA PEMBOHONG!" serunya yang langsung menepis tangan Ibunya dan lari ke kamarnya, membanting pintu kamarnya mematikan lampunya dan langsung bersembunyi di kasurnya sambil ditutup selimutnya. Tidak peduli kaus kaki yang kotor, baju yang kotor oleh tanah, tubuh yang kotor dan bau keringat, dia tidak peduli, dia menangis. Dia hanya ingin Ayahnya dan hari ulang tahun yang dijanjikan.
"Athrun…buka pintunya nak," ucap Lenore sambil mengetuk pelan pintu kamar Athrun. Namun Athrun tidak menjawab dia terus menangis sambil menggenggam erat selimutnya. Dia tidak peduli, karena hari itu menjadi hari ulang tahun terburuknya.
Besok paginya, Athrun mendapati Ibunya sibuk di dapur seperti biasa dengan Ace yang sedang makan makanan paginya dan diatas meja tersaji sarapan untuk Athrun seperti biasa. Athrun duduk dan mulai memakan sarapannya namun dia melihat kue tart yang sudah disiapkan Ibunya kemarin, terbiarkan di salah satu sudut konter dapur. Kue itu masih utuh. Lenore membuatkan kue mille-feuille dengan isian mix berries dan whipped cream kesukaan Athrun karena rasanya yang tidak terlalu manis. Athrun tahu kue itu sulit bahkan Ibunya kadang masih suka gagal membuat puff pastry-nya.
"Habiskan sarapannya ya," ucap Lenore santai yang langsung duduk di seberang kursi Athrun dan meminum ginger tea kesukaannya. "Jangan lupa minum air putih dulu sehingga tidak mengganggu pencernaanmu," tambahnya sambil tersenyum.
Dada Athrun terasa sakit. Ibunya bersikap seakan tidak ada apa-apa. Seakan kejadian kemarin tidak terjadi. Athrun merasa bersalah. Dia sudah menyakiti hati Ibunya dia tahu itu. Iya, Athrun yang salah bukan Ayahnya. Dia sudah bersikap tidak sopan dan tidak baik kepada Ibunya. Padahal Ayahnya selalu mengingatkan dia untuk tidak membuat masalah khususnya ketika orang tuanya sedang sibuk. Athrun pun merasa dia sudah tidak adil pada Ibunya karena sudah melampiaskan kekesalannya di tempat yang salah. Kalaupun Ayahnya tidak bisa pulang di hari ulang tahunnya setidaknya ada Ibunya yang menemani dan semestinya tadi malam mereka bisa bersenang-senang. Sehabis sarapan Athrun pun memutuskan pergi ke pekarangan belakang bersama Ace.
"Kau tahu Ace, aku sudah membuat Ibunda sedih," ucap Athrun sambil melihat bunga-bunga yang sedang mekar. Dia mengajak anjingnya mengobrol namun dia tahu Ace tidak sepenuhnya menjawabnya, setidaknya dia tidak sendirian. "Jadi, aku harus memberikan sesuatu untuk meminta maaf," ujarnya. Athrun ingat ketika Lenore sedang kesal karena Patrick tidak menjemput mereka, Patrick pulang membawa buket bunga lili kesukaan Lenore. Namun sekarang Athrun tidak bisa pergi keluar dan membeli bunga kesukaann Ibunya itu. Dia mencari bunga yang dapat dia temukan di taman karena setahu dia bunga apapun pasti akan membuat perempuan senang. Didikan Ayahnya.
Ternyata mencari bunga yang sekiranya dapat membuat Ibunya senang itu sulit. Tidak ada bunga semewah lili ditambah lagi sekarang sedang musim gugur. Sedikit bunga yang mekar. Athrun kesal dan frustasi, dia bingung. Hutan kecil dan kebun kecil di belakang Manor Zala cukup luas dan dia tidak ingin membuat Ibunya khawatir. Dia hanya menemukan beberapa bunga kecil dan tidak semewah lili. Tapi daripada dia kembali dengan tangan kosong, setidaknya dia mencoba. Sambil membawa bunga yang dia ambil, pakaian yang kotor, dan dia yang sudah hampir telat untuk jam makan siang, Athrun sudah siap apabila dia terkena hukuman. Mungkin dia tidak mendapat makan malam atau malah sebenarnya rencana yang dia lakukan merupakan rencana yang bodoh? Athrun tidak tahu tapi dia hanya ingin Ibunya tersenyum. "Ayo Ace, Ibunda nanti khawatir," ajaknya pada anjingnya yang setia menemaninya.
Sesuai dugaan Athrun, Lenore sudah menunggu di teras Manor Zala sambil berkacak pinggang. Athrun memang sudah izin untuk pergi ke halaman belakang rumahnya, Namun tidak sampai ke kebun dan hutan kecilnya. "Athrun…,' ucap Lenore yang Athrun sudah tahu maksud Lenore adalah penjelasan dan alasan mengapa dia main ke tempat yang cukup jauh, pakaiannya kotor, dan hampir telat untuk makan siang. Dia tidak mungkin berbohong atau beralasan dipermainkan oleh Ace.
"Mmm…," Athrun bingung harus mengatakan apa, kedua tangannya berada di balik punggungnya.
"Kau membuat Ibu khawatir, kau tahu itu bukan?" tegur Lenore. "Lalu, apa yang kau sembunyikan?" tambahnya sambil melihat tangan Athrun yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Athrun menggigit bibirnya dan tatapannya ke arah bawah. Kebiasaan yang Athrun lakukan ketika dia panik, bingung, dan pastinya menyembunyikan sesuatu. "ini…," ucap Athrun sambil mengarahkan kedua tangannya ke Lenore.
Lenore terkejut di tangan anaknya ada sebuah buket bunga kecil yang cukup berantakan dan potongan atau patahan batang yang kasar, tidak rapi. Lenore tahu bunga itu. Bunga aster, bunga cosmos, bunga cornflower, dan bunga gomphrena. Athrun pasti asal mengambilnya namun komposisi buket itu menarik. Biru, pink, dan ungu serta magenta. Bunga-bunga tersebut memiliki arti yang berbeda-beda ada yang berarti cinta, kesehatan, kemurnian, dan kebijaksanaan. "Maaf kemarin Athrun sudah bertindak tidak baik dan membuat Ibunda sedih dan maaf karena Athrun tidak menemukan bunga kesukaan Ibunda," ucapnya.
Lenore tersenyum, Athrun memang tidak bisa ditebak. Athrun benar-benar anak yang baik sehingga ketika dia mengamuk hal itu menjadi suatu hal yang mengejutkan. Lenore tahu Athrun hanya ingin bermanja-manja apalagi kemarin adalah hari ulang tahun anaknya itu. Namun pekerjaan dan situasi tempat mereka sedang tidak baik sehingga mereka harus sabar dan tabah. Lenore mengambil buket kecil tersebut menghirup wanginya lalu memeluk Athrun. "Terima kasih untuk bunganya nak, Ibunda tidak marah. Wajar Athrun hanya ingin bersikap manja apalagi di hari ulang tahun. Ibunda juga salah tidak berhasil memaksa Ayah untuk pulang, maafkan Ibu ya," ucapnya. Ibunya meminta maaf karena kesalahan Athrun. Dia lalu menangis dipelukan Ibunya. Setelah itu selanjutnya mereka menikmati makan siang seperti biasa, dengan bonus tentunya kue ulang tahun Athrun sebagai makanan penutupnya.
Patrick baru pulang dua hari kemudian karena rapatnya serius dan harus diselesaikan setelahnya. Lenore menceritakan apa yang terjadi pada hari Athrun berulang tahun. Sebuah buket kecil bunga dalam vas kecil berisi air di atas meja makan membuat Patrick tersenyum. 'He is really a good boy', pikirnya. Patrick yang sadar kalau sudah larut malam dan memegang sebuah kotak kado yang rapi di dalam tas kertas segera menuju kamar Athrun. Ketika Patrick masuk, Athrun sudah pulas dan Patrick tidak ingin membangunkan anaknya itu. Dia lalu menyimpan kado tersebut di meja belajar Athrun, lalu tidak lupa mengecup kening anaknya.
Paginya Athrun berlari dengan heboh ke ruang makan. "Ayahanda ini apa!?" serunya, masih mengenakan piyama hijau mudanya dan rambutnya yang berantakan.
Patrick yang sedang menikmati kopi panas sambil membaca koran serta Lenore yang sedang menyiapkan sarapan dibantu seorang pembantu menoleh ke arah sumber suara. "Hadiah ulang tahunmu," ucap Patrick santai. Athrun lalu melihat hadiah itu, sebuah beginner robotics kit yang sebenarnya khusus untuk anak berumur sepuluh tahun ke atas. "Bukankah kau menginginkannya? Setelah melihat klub robot di sekolahmu?" tanya Patrick. Patrick ingat cerita Athrun yang kesal tidak bisa ikut klub tersebut karena umurnya dan tingkat pendidikannya masih tingkat satu.
Mata Athrun berbinar-binar. Dia memang tertarik dengan benda-benda yang bergerak dengan bantuan mesin itu. Dia menggenggam kotak tersebut dengan erat dan senyumnya melebar. Athrun lalu lari ke arah Patrick dan memeluknya, "Terima kasih Ayahanda!" serunya. Dia tidak jadi marah dengan Ayahnya karena sudah memberikan hadiah yang terbaik untuknya.
Masa kecilnya sungguh menyenangkan. Dia senang menjadi bagian dari keluarga Zala. Walau terkadang dia merasa Ayahnya terlalu kaku dalam mendidiknya tapi dia yakin dengan apa yang Ayahnya katakan. Untuk selalu mentaati aturan yang berlaku dan untuk urusan keluarga, pastinya aturan dalam sebuah keluarga. Bersikap baik sebagai anak di keluarga, bersikap baik sebagai pemuda di masyarakat, itu yang ada dipikirannya. Hal itu berdampak Athrun menjadi anak yang penurut, baik, sopan, tidak sombong, ditambah lagi dia juga anak yang pandai sehingga tidak memakan waktu lama dia menjadi salah satu siswa teladan di sekolahnya. Sosok anak yang sempurna. Zala harus sempurna dan Zala harus selalu yang terbaik. Itu yang tertanam dipikirannya. Dia tidak boleh mempermalukan dan mempersulit orang tuanya sama sekali.
Apakah Athrun mengharapkannya? Sesungguhnya tidak. Dia hanya melakukan apa yang diperintahkan Ayahnya. Kalau Ayahnya bangga dengan prestasinya dia puas dan kebahagiaan Ayah dan Ibunya juga adalah kebahagiaannya, cukup itu saja. Mungkin buat beberapa orang dia terlihat seperti anak yang cari perhatian atau secara berlebihan haus akan perhatian orang tua. Namun, itu wajar untuk kasus dan situasi Athrun. Dia hanya anak satu-satunya, orang tuanya bekerja dan hanya bisa bertemu disaat-saat tertentu. Sehingga wajar apabila dia ingin 'mengejutkan' mereka. Tapi mengenai kepintaran Athrun sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan Athrun memang rajin namun dia memang sudah dasarnya pintar. Bahkan keikutsertaan dia di berbagai kompetisi dan peringkatnya yang selalu masuk yang terbaik, bukan serta merta karena dia ingin jadi pusat perhatian atau memaksa para guru untuk mendaftarkannya dan dia jadi bisa show off kemampuannya. Bukan. Justru para guru yang mendaftarkannya. He just wants to make his parents proud and like they said, be a good man don't make any problem.
Banyak yang iri padanya. Banyak yang tidak suka dengannya. Namun Athrun tidak peduli. Semenjak di tingkat satu pendidikan dasar, banyak yang terkejut dengan dirinya yang ternyata bernama Zala, padahal dia tidak tahu kalau nama keluarganya sepopuler itu. Banyak yang kagum dengan kepintarannya. Kagum dengan penampilannya. Kagum dengan sifat dann sikapnya. Sayangnya, justru buat Athrun mereka berlebihan karena Athrun hanya mengikuti 'apa yang harus dia lakukan saat itu, apa yang menjadi tugasnya'. Dia menganggap dirinya biasa-biasa saja. Kerjakan dan selesaikan, lakukan dan selesaikan. Mungkin tanpa disadari semenjak Ayahnya mengatakan kalau dia bisa mengikuti apa yang sudah diarahkan dan diajarkan khususnya oleh kedua orang tuanya, sebuah 'Codex Hammurabi' sudah tertulis dipikirannya. Sebuah aturan yang sudah tetap dan sudah terpatri di badan dan pikirannya. Apabila aturan itu meleset atau melenceng, atau dia membuat kesalahan maka dia merasa bingung. Dalam suatu bersikap pasti aka nada aksi dan reaksi seperti Hukum III Newton. Apakah itu berarti Athrun memiliki hidup yang kaku? Mungkin menurut sahabatnya iya, Kira Yamato. Athrun sudah memiliki flow kehidupan yang tertata dan kalau berubah maka dia akan bingung karena seharusnya yang terjadi adalah A bukan B. Seperti dalam Hukum Hammurabi, semua aksi dan reaksi, semua perbuatan dan konsekuensinya sudah tertulis jelas. Sayangnya Athrun menikmati situasinya dan kondisinya itu. Selama semua baik-baik saja, selama orang tuanya baik-baik saja.
"Kamu tidak lelah Ath?" tanya Kira yang melihat Athrun serius mengerjakan laporan pelajaran sejarah dan geografi mereka. Di sebelah Athrun ada dua lembar sertifikat penghargaan atas prestasi Athrun dalam kompetisi debat dan pidato. Mereka berada pada tingkat lima saat itu dan mulai memasuki tahap pembelajaran mengenai berorganisasi.
"Hmmm? Tinggal beberapa lembar lagi," ucap Athrun. Tangannya masih sibuk mengetik dan matanya masih fokus pada buku History of World dihadapannya.
Kira lalu cemberut, "Bukan itu maksudku."
Athrun lalu menatap sahabatnya yang justru sedang bermalas-malasan dihadapannya, "Hmm, lalu apa?"
"Kau tidak lelah apa menjadi anak baik terus?" tanya Kira. "Padahal kau kalau denganku santai-santai saja tuh. Kita bisa bermain seperti biasa, mengobrol biasa, dan yang lainnya. Bahkan dihadapan orang tuaku pun begitu."
"…" Athrun diam masih berusaha mencerna kata-kata Kira.
"Kau itu, berkesan bermuka dua tahu," tegur Kira. "Guru-guru yang sering meminta tolong padamu dan memujimu tiada akhir. Teman-teman yang sering meminta bantuanmu. Para gadis yang seperti semut sering menyapa dan menghampirimu, selalu bersedia ikut berbagai macam kompetisi dan kegiatan dan hebatnya selalu masuk tiga besar. Serta beberapa kertas ancaman yang tidak kau pedulikan itu," ucap Kira. "Masih untung tidak ada yang sampai menghajarmu karena kau Zala," tambahnya.
"Padahal aku tahu kau itu siapa dan apa. Kau hanya menunjukkan kepada beberapa orang, siapa Athrun Zala itu. Aku tahu apa yang kau suka dan tidak. Aku tahu kalau kau menunjukkan emosi seperti apa. Aku tahu kalau kau ingin bersikap layaknya anak normal kau akan seperti apa," ucapnya lagi.
"Memangnya salah tidak membeberkan hal yang sifatnya privasi?" tanya Athrun yang mulai merasa aneh dan tidak nyaman karena Kira memberikan penekanan pada nama keluarganya. Kalau Kira mempermasalahkan privasinya, dia memang dari awal tidak ingin show off dan salah satunya adalah dengan tidak membeberkan informasi yang berlebihan seperti kehidupan yang sifatnya memang pribadi serta urusan diri sendiri yang justru membuatnya menjadi seperti orang yang berlebihan. Itu adalah didikan orang tuanya.
Kira merasa frustasi seakan-akan Athrun tidak menangkap maksud Kira. Padahal intinya adalah Athrun tidak kaku dan bisa berkata tidak atau belajar untuk menolak permintaan orang. Serta jadilah Athrun Zala seperti apa adanya. "Yah tidak salah. Justru itu bagus hanya saja…Ath, kau terlalu kaku, tidak memiliki emosi, kau terlalu baik dan penurut. Kau tahu itu bukan?" tegur Kira yang kelihatannya pembicaraannya terlalu berat dan serius untuk anak berumur sepuluh dan sebelas tahun. "Bagaimana kalau….sedikit santai dan menikmati suasana dan hidup?" ungkap Kira yang sama-sama tidak yakin karena seperti menghakimi kalau hidup Athrun itu terlalu keras dan kaku.
Athrun hanya mengerenyitkan alisnya. "Oke, begini. Apakah kau pernah menyuarakan unek-unek dari pikiranmu?" tanya Kira. Kira tahu Athrun sering memendam perasaan yang sebenarnya. Dia terlalu menjaga perasaan orang tapi tidak memikirkan perasaan sendiri.
"Iya, lalu?"
"Apakah kau lega setelah menyampaikan unek-unek itu?"
Athrun terdiam. Lega? Memangnya selama ini ketika dia berbicara dua arah bukan satu arah apa yang dia lakukan? Kira aneh, batinnya.
"Memangnya apa yang kau lihat dari aku yang sekarang?" tanya Athrun yang tentunya adalah mengalihkan topik pembicaraan dan mengakhiri pembicaraan mereka yang tidak masuk akal.
Kira menghela, "Seorang Athrun Zala yang bukan seorang Athrun Zala."
Kira Yamato, seorang sahabat yang sudah Athrun kenal sejak dia berumur empat tahun. Pemuda yang sama-sama Coordinator sepertinya dan memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengannya. Mereka bertemu ketika Ibu mereka sedang mengobrol di komplek rumahnya. Saat itu Athrun mengatakan Kira sebagai anak berjaket tebal karena dia melihat Kira pertama kali di klinik ketika dia sedang sakit dan memakai jaket yang entah ada berapa lapis. Athrun tidak terlalu jelas mengenai kejadian di klinik karena dia sedang menjalan checkup kesehatan karena baru datang dari PLANTs.
Kira itu anak yang menyebalkan dan menyenangkan bagi Athrun. Dia cengeng, selalu tersenyum dengan senyum anehnya, suaranya yang kadang terdengar kaku dan kikuk. Padahal dia Coordinator tapi entah mengapa kepercayaan dirinya berbeda. Kira itu sederhana, gaya hidupnya, sikapnya, penampilannya. Namun justru itu yang Athrun suka. Kira tidak pernah membedakan Athrun, dia tidak pernah membuat Athrun merasa spesial, mungkin menjadi sahabat termasuk spesial tapi Athrun tidak mau ambil pusing. Dia juga menegur Athrun ketika salah, menghibur Athrun ketika sedih atau kesal, selalu mendengarkan Athrun, selalu menolong Athrun, selalu membela Athrun, mengingatkan Athrun untuk bersantai di kala sibuk, dan lainnya. Intinya Kira itu baik hati, pintar, namun sayangnya cengeng. Poin itu membuat Athrun jadi khawatir dengan Kira bahkan rasa khawatir Athrun kalau kata Kira sudah seperti Ibunya, Caridad dan bawel. Justru Athrun merasa Kira terlalu santai dan bebas seakan-akan tidak ada rencana dan membiarkan semuanya seperti air mengalir. Oke hal itu juga bagus, namun tidak sampai melupakan tugas sekolah atau nekat mengambil proyek yang susah dan berdampak Athrun harus membantu dan mengomelinya. Namun, Kira lah yang selalu jujur pada Athrun apa adanya, termasuk mengingatkan Athrun mengenai 'aturan' dan 'topengnya'.
Setelahnya perkataan Kira cukup membebani pikirannya. Dia tidak marah pada Kira. Justru dia bersyukur punya sahabat yang mau jujur seperti Kira, namun sekarang kelihatannya Kira terlampau jujur. Kira membuat Athrun bertanya-tanya memangnya apa yang salah dari gaya hidupnya selama ini? Ibu dan Ayahnya tidak mempermasalahkannya justru mereka setiap hari senang dan bahagia. Apakah mereka pernah marah dan bertengkar? Mungkin pernah tapi tidak seperti konflik keluarga di drama-drama picisan di televisi atau opera sabun keluarga di televisi. Athrun lalu memandangi dirinya di depan cermin kamarnya. Inilah dia apa adanya. Berpakaian layaknya anak laki-laki pada umumnya. Berkemeja, mengenakan vest, celana pendek diatas lutut sedikit atau celana panjang, kaus kaki, dan bolo tie, serta flat cap seperti beret hat yang melengkapi penampilannya. Oke, mungkin bolo tie, vest, dan topinya membuatnya terlihat formal dan tidak seperti anak lainnya, agak berlebihan. Ibunya selalu mengatakan kalau gaya berpakaiannya casual atau semi-formal dan Lenore selalu senang melihatnya. Athrun tidak tahu apa artinya, namun dia suka dan dia nyaman karenanya. Prim and proper. Apakah dia tidak ada pakaian lain? Ada. Namun secara garis besar inilah Athrun. Lalu apa masalah Kira?
Athrun tidak ingin berlarut-larut dalam masalah yang disebut Kira. Dia hanya perlu menjadi dirinya apa adanya. Yah walau Athrun akui dia memang bukan tipe yang gampang membuka diri dan setelah Kira berkata seperti itu, dia semakin menutup diri. Dia menjadi lebih selektif dan berhati-hati. Sungguh aneh, padahal maksud Kira bisa berarti dia lebih membuka diri namun justru Athrun melakukan sebaliknya. Masalahnya itu bukan yang diajarkan. Athrun tidak diajarkan untuk terlalu terbuka. Dia anak yang tertutup bahkan untuk mengambil keputusan walau brilian Athrun memikirkannya dengan cukup lama. Kalimat 'oke, aku setuju,' atau 'oh, bukan apa-apa', 'ah iya, tidak apa', hanyalah bualan Athrun supaya dia tidak banyak ditanya dan supaya masalah tidak menjadi panjang. Padahal setelahnya dia masih memikirkan hal itu. Kira sering menegurnya karena terlalu memendam dan terlalu menjaga perasaan namun itulah Athrun. Kira sampai memukul jidatnya sendiri karena sudah bingung harus menegur Athrun seperti apa. Athrun menegur Kira karena terlalu santai dan ceroboh, Kira menegur Athrun karena terlalu kaku dan memendam, sungguh kombinasi yang bagus. Pantas mereka bersahabat.
Jadi apakah sebenarnya Athrun bosan dengan gaya hidupnya sebagai anak baik yang mematuhi aturan dan bersikap sebagaimana mestinya? Jawabannya iya tanpa Athrun sadari. Dirinya yang sering memendam, sering memilah mana yang penting mana yang tidak walau itu suatu kebiasaan yang bagus, dirinya yang gampang mengalihkan pembicaraan, dirinya yang dengan mudah menerima tawaran atau menyetujui permintaan seseorang biar dia tidak terkena masalah, khususnya ketika dia di luar rumah bukan dihadapan Ayah dan Ibunya. Hal itu adalah bukti, bukti kalau Athrun sudah mengingkari aturannya dalam bersosialisasi, be a nice gentleman. Hal itu dia lakukan namun tanpa sadar ada yang dia langgar juga. Alasannya? Athrun tidak ingin menambah repot dirinya dan terlalu banyak menunjukkan emosi justru membuatnya terlalu mendramatisir suasana, he must be calm, cool, and collected. Suara batin pemuda itu ada bahkan bisa jadi lebih ketus, lebih tajam, lebih pedas, dari semua yang terucap dari mulutnya maupun dari yang terlihat dari sifat dan sikapnya. Sayangnya suara batin itu tidak dia dengar, bahkan tidak dia ungkapkan.
Mungkin Athrun sempat mencoba mematahkan 'aturan' -nya atau 'Codex Hammurabi'-nya. Tepatnya ketika dia berumur tiga belas tahun dan mendapatkan informasi untuk pindah ke PLANTs. Ketika dia harus pindah dan berpisah dari Kira. Dia tidak menyangka kalau dia yang awalnya tidak mau ke Copernicus justru sekarang sebaliknya. Dia tidak ingin berpisah dengan sahabatnya. Dia tidak ingin berpisah dari Kira. Egois? Iya. Namun hal itu beralasan. Tidak ada yang memahami Athrun melebihi Kira. Sebuah hubungan yang tetap terjaga dengan berbagai interaksi mau itu yang bagus dan tidak, penuh konflik, penuh drama, penuh canda tawa, khususnya dari mereka berumur empat tahun bukanlah hal yang sebentar dan bukanlah hal yang mudah untuk didapatkan.
"Ayahmu khawatir dengan kondisi sekarang, khususnya konflik perang ini nak," ucap Lenore ketika Athrun memperoleh info mengenai kepindahannya.
"Tapi-"
"Ibu paham berat untukmu pindah disaat hendak naik ke jenjang tingkat senior dan juga berpisah dengan Kira sahabatmu," ucap Lenore. "Keluarga Yamato adalah keluarga yang baik dan menyenangkan. Mereka sudah banyak membantu kita selama disini," tambahnya.
Athrun diam. Konflik perang adalah hal yang tidak bisa dicegah. Tapi Ayahnya selalu meyakinkan Athrun kalau perang tidak akan terjadi. Selalu memastikan dan meyakinkan. Lagipula Ayahnya bekerja di bagian pertahanan Negara, jadi semua pasti baik-baik saja. Pasti. Itu yang Athrun yakini bahkan dia selalu mengatakan hal itu pada teman-temannya termasuk Kira, perang tidak akan terjadi. Sayangnya hal itu tidak diyakini semua orang. Fakta orang-orang tidak merasa aman itu nyata. Khususnya di Copernicus, banyak teman-temannya yang pindah. Mereka pindah ke area yang menurut mereka nyaman dan aman. Ada yang ke bumi, ada yang ke PLANTs, dan ada yang ke ORB Union. Oke, mungkin pada akhirnya mereka terkesan memihak namun itu adalah pilihan. Perang terjadi atau tidak itupun pilihan. Masuk militer juga, bukankah pilihan? Dan mereka tetap berteman bukan?
Athrun mengepalkan tangannya, menundukkan sedikit kepalanya, sambil menggigit bibirnya dia menangis. Lenore tahu itu. Athrun jarang menangis. Namun dia akan menangis ketika ada hal yang tidak bisa dia prediksi walau dia sudah mencoba sesuai dengan kemampuannya. Lenore lalu menarik Athrun ke pelukannya. Menenangkan anaknya yang Lenore tahu Athrun menangis juga karena dia tidak ingin berpisah dengan tempat ini, khususnya Kira Yamato.
Alasan dia menangis sebenarnya lebih dari itu. Dari hati kecilnya, Athrun kecewa. Dia merasa ada yang tidak benar, ada yang tidak adil. Ayahnya tidak membicarakan hal tersebut dengannya. Namun dia tidak dapat memprotes hal tersebut. Keluarga adalah prioritas utama dan wajar bila Ayahnya khawatir kalau memang situasinya dikhawatirkan tidak terkendali. Namun, bukankah Ayahnya sudah berjanji? Apalagi Ayahnya yang memegang kendali untuk sistem keamanan Negara. Apa yang meleset? Apa yang menyebabkan terjadinya salah kalkulasi? Itu ada di benak Athrun.
Namun Athrun tahu dia tidak bisa berbuat banyak. Ayahnya sudah membuat keputusan, begitupun juga dengan Ibunya. Dia sebagai 'anak yang baik' hanya perlu menuruti mereka. Toh pada akhirnya teman-temannya juga pindah. Jadi, wajar kalau dia akan mengalaminya juga. Sekarang yang perlu dia lakukan adalah menjamin kalau semua sesuai dengan apa yang ada dalam 'aturannya'. Athrun pun memutuskan untuk membuat sebuah robot kecil untuk Kira. Sebuah robot yang rencananya hendak Kira gunakan untuk proyek akhir kelas micro-unit atau micro-electronic namun Athrun berhasil meyakinkan Kira kalau hal itu mustahil untuk Kira. Alasannya sederhana, Kira kurang lihai bahkan untuk beberapa tugas dan proyek selalu berakhir Athrun menemani dan membantunya. Sedangkan Athrun, selalu berada di peringkat teratas. Lalu untuk apa Athrun membuat robot kecil itu? Untuk show off? Mungkin, karena apa yang Kira hendak jadikan proyek akhir juga Athrun sendiri tidak yakin apakah dia bisa. Dia memarahi dan menegur Kira sehingga Kira sadar diri kalau dirinya itu lebih baik main aman biar bisa lulus. Mungkin tanpa disadari dia sengaja main aman supaya dia tidak diminta tolong Kira. Kira cukup sering meminta bantuan Athrun untuk proyek di pelajaran tersebut bahkan kadang Athrun ikut turun tangan, padahal dia sangat keras ketika mengamati Kira mengerjakan tugasnya. Iya, tanpa sadar Athrun itu sudah berbuat tidak adil.
Tapi untuk Athrun sebenarnya hal itu tantangan. Robot burung yang semua komponen pembentuknya berskala mikro. Itu tantangan untuknya. Dia sangat suka micro-unit bahkan Kira mengatakan kalau Athrun seperti seniman kaligrafi beras atau rice grain art yang terkenal di Asia Timur dan Asia Barat kome kah sebutannya, mereka tidak tahu. Kira mengatakan kalau Athrun seperti orang-orang itu, dia cocok, dan pastinya buat Athrun hal itu tidak sulit. Athrun Zala sang maestro dari micro-art, sungguh tidak cocok. Mungkin Kira bercanda kala itu atau hanya untuk memecahkan rasa stress Kira karena tugasnya tidak selesai. Athrun hanya menanggapi dengan cukup serius menanyakan tujuan menulis pada biji beras itu. Sayangya mereka berdua tidak tahu, akhir cerita.
Robot ini harus selesai, batin Athrun. Ayahnya selalu mengatakan kepada dirinya untuk selalu mencoba, untuk selalu menantang diri dan inilah yang dia lakukan. Lalu selanjutnya untuk apa kalau ternyata dia berhasil? Dia akan menjadikan robot itu sebagai kenang-kenangan. Dia akan memberikan hadiahnya tepat sebelum dia pindah, jadi dia hanya punya waktu dua minggu untuk mengerjakannya. Apakah dia nekat? Iya. Karena dia harus begadang karenanya. Setidaknya Athrun jadi tidak larut dalam kesedihan dan kekecewaannya. Membuat robot itu menjadi distraksi dari rasa kecewanya juga.
Robot kecil berbentuk burung yang sebesar genggaman tangan itu pun selesai. Torii pun selesai. Athrun melihatnya dengan penuh kebanggaan. Entah apakah bentuknya sesuai dengan yang Kira harapkan, namun robot ini sudah sesuai dengan kriteria yang Kira inginkan. Lucu, kecil, bisa memiringkan kepalanya, bisa bersuara, bisa duduk atau dia di bahu, dan bahkan bisa terbang. Dia menyelesaikan tepat sesuai targetnya. Besok dia akan pindah dan hari ini dia akan mengontak Kira dan memintanya datang menemuinya di taman bunga sakura.
"Dia dapat memiringkan kepalanya, menghasilkan suara, dan diam di bahu," ucap Athrun sambil memberikan Torii. "Bahkan bisa terbang," tambahnya sambil tersenyum. Senyum terakhir sebelum mereka berpisah.
Athrun dapat melihat wajah Kira yang terkejut. Tidak menyangka justru hal yang tidak mungkin Kira lakukan, ternyata dia berhasil melakukannya dan mengejutkannya dijadikan hadiah perpisahan mereka. Awalnya Athrun berencana memberikannya di bulan Mei sebagai hadiah ulang tahun. Namun dia terpaksa mempercepatnya ke musim semi, musim bunga sakura. Torii nama robot itu, diam dan menggerakkan kepalanya di telapak tangan Athrun. "Ini," ucap Athrun sambil mengarahkan telapak tangannya ke Kira.
Kira melakukan hal yang sama. Torii pun meloncat ke tangan Kira. Athrun sudah memastikan sensor pada Torii kalau Kira lah pemiliknya, namun dia akan mendeteksi orang yang dekat dengan Kira atau yang sefrekeuensi dengan Kira. Misal, Athrun. Ketika Torri sudah ada pada Kira, Athrun merasa tenang. Namun tidak untuk Kira, Athrun dapat lihat raut wajah Kira yang mulai menahan tangis walau dia tidak memperlihatkannya dengan jelas. Tapi Athrun tahu, Kira menahan rasa sedih dan tangisnya. Dasar cengeng, batin Athrun. Padahal Athrun juga merasakan hal yang sama. "Tidak akan ada peperangan antara bumi dan PLANTs," ucap Athrun dia kembali mengatakan hal yang sering dia katakana pada teman-temannya termasuk dirinya.
"-sehingga aku berpikir sama sekali tidak perlu melakukan evakuasi seperti ini, namun…" Athrun terdiam sebentar. Dia bukanlah peramal sehingga apa yang dia katakan seperti membual. Sayangnya Athrun butuh jaminan, jaminan untuk keamanan aturannya, keamanan hidupnya. Dia tahu dia tidak bisa mengekang Kira. Mereka hanya sahabat, bukan saudara kandung. Mereka berasal dari keluarga yang berbeda dengan gaya hidup yang berbeda. Tapi, Athrun butuh jaminan. "Kira pun akan segera ke PLANTs juga bukan?" ucap Athrun yang bukan merupakan pertanyaan, namun lebih ke pernyataan untuk dirinya sendiri. Dia perlu meyakinkan dirinya kalau Kira akan ada selalu untuknya. Sungguh tidak adil. Padahal Athrun tahu, dengan Kira ke PLANTs hal itu belum tentu menjamin keamanan orang tua Kira yang keduanya adalah Natural. Dia perlu jaminan kalau semuanya sudah terstruktur dengan rapi. Karena aturan Athrun sudah mulai hancur perlahan karena Ayahnya yang memintanya untuk pindah, sehingga dia butuh satu hal yang dapat menjamin dan sesuai dengan struktur aturan milik Athrun.
Dibalik senyumnya itu, sebenarnya Athrun kesal. Mungkin kekesalan dia wajar. Dia anak satu-satunya dan yang memiliki ikatan yang kuat dengannya hanya Kira. Apakah dia terkesan posesif atau over protektif? Mungkin. Karena situasi sedang gawat dan kemungkinan perang terjadi. Siapa yang tidak mau melihat orang yang penting bagimu ternyata ada di daftar pasukan militer, daftar pengungsi, atau bahkan lebih parahnya ada dalam daftar korban perang. Athrun tahu perasaan itu dan lihat bagaimana kekhawatiran Ibunya ketika tahu Ayahnya ada agenda diplomasi ke pangkalan militer atau ke markas utama Jachin Due. Khawatir ada serangan mendadak dari Earth Alliances atau Blue Cosmos. Athrun sempat bingung mengenai konflik antar ras ini. Padahal mereka tinggal membuat sebuah aturan yang jelas dan saling mengakui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa susahnya? Mungkin bagi remaja puber yang lagi di umur krisis menuju dewasa pikiran itu terlintas dipikirannya namun hal itu sungguh naif. Konflik yang terjadi lebih kompleks dari itu. Lebih konflik seperti dunia pertemanannya yang apabila salah cukup katakan maaf dan jabat tangan.
Athrun hanya ingin semua sesuai dengan alurnya, dengan aturannya. Namun sekali lagi hal itu tidak sesuai. Ayahnya tidak menyesuaikan dengan aturan Athrun. Namun tidak apa, Athrun ingin menghormati Ayahnya. Lagipula Kira sudah janji. Iya. Janji. Janji kalau Kira akan bersama dan menyusulnya. Namun sekali lagi aturan itu berpaling lagi. Sekali lagi dia merasa ada yang tidak adil namun berusaha memaklumi. Belum sampai setahun dia kembali ke PLANTs. Ayahnya mendadak memintanya untuk memakai pakaian formal terbaiknya dan bertemu dengan seseorang yang tak lain adalah diva PLANTs, Lacus Clyne. Athrun mendapatkan undangan minum teh dan Patrick meminta Athrun untuk memenuhi undangan tersebut. Alasannya sederhana, Patrick dan juga Lenore ingin Athrun berkenalan dengan anak-anak dari teman Ayahnya, khususnya Lacus.
Athrun tanpa pikir panjang, memenuhi undangan itu. Jas hijau lumut yang pucat serta sebuket mawar merah menyempurnakan tampilannya. Dia diajarkan untuk tidak pernah mengecewakan wanita, menghormatinya, dan bersikap baik. Singkatnya, 'ladies first' on the rule. Athrun sempat menghadiri beberapa pesta formal pemerintahan namun tidak sampai bertemu dengan yang sebaya dengannya bahkan sebenarnya Athrun agak bosan karena yang dibicarakan pasti seputar politik. Athrun belum paham banyak sehingga topik tersebut jadi membosankan untuknya. Sekarang dia bertemu dengan Lacus. Kesan pertamanya adalah, baik dan ramah. Lacus menyambutnya dengan baik bahkan mengajak Athrun berjalan-jalan di taman. Mereka cocok. Athrun merasa sefrekuensi dengan Lacus namun tidak sampai tahap dia dengan Kira. Lacus memberikan ruang dan batas untuknya, itu yang Athrun suka. Lacus bersikap sewajarnya di pertemuan pertama mereka. Tidak berlebihan. Setidaknya sosok Lacus tidak membuat Athrun kesepian. Namun, sebuah pertanyaan muncul, 'kenapa Ayahanda mengenalkannya pada seorang gadis?' Athrun tidak masalah hanya saja dia tidak menyangkanya.
"Athrun Zala, perkenalkan," ucapnya singkat dengan senyum malu-malunya. Athrun rasanya seperti ingin memukul dirinya sendiri bahkan kalau Kira melihatnya dia pasti akan ditertawakan. Athrun Zala tersipu malu karena bertemu dengan seorang gadis padahal di sekolahnya banyak yang mendekatinya. Tapi Lacus Clyne adalah hal lain. Gadis ini berada di dunia yang berbeda dengan Athrun jadi wajar kalau Athrun merasa sangat gugup. Dia lalu memberikan buket mawar merah yang dia bawa.
Lacus menerima bunga itu, "Ara terima kasih, perkenalkan aku Lacus Clyne. Senang berkenalan denganmu," ucapnya.
Beberapa bulan kemudian, Athrun diberitahukan kalau dia akan bertunangan. Sudah ditemukan seseorang yang cocok dengan gen dan DNA Athrun. Athrun tahu aturan itu, aturan mengenai perjodohan di ras Coordinators. Hal itu tidak aneh. Karena konsekuensi terlahir sebagai Coordinators adalah adanya proses fertilisasi yang berubah karena kondisi rahim yang berubah, sehingga kualitas sperma dan ovum masing-masing harus disesuaikan sehingga wanita Coordinators dapat hamil secara alami dan baik serta melahirkan bayi yang sehat. Tapi, apakah Patrick harus mengatakan dan membahas itu di umur tiga belas tahunnya? Bahkan Lenore tiba-tiba menginterogasi Athrun mengenai pendidikan seks yang Athrun sudah paham dengan baik bahkan tahu dengan jelas konsekuensinya dan apa hubungan tanpa ada pernikahan itu.
Tunangan yang disebut oleh Patrick ternyata adalah Lacus Clyne. Gadis yang sudah Athrun kenal dan bertemu walau hanya baru hitungan jari. Seketika dunia Athrun seperti terbalik. Dia terkejut. Dia tahu benar siapa itu Lacus Clyne. Tidak hanya karena sudah bertemu dengannya. Lacus adalah putri dari Siegel Clyne Chairman PLANTs Supreme Council yang sekarang sedang menjabat. Seorang diva yang mendapat sebutan PLANTs utahime. Suaranya sangat indah dan lagunya pun bagus. Sayangnya dia hanya terkenal di PLANTs. Dia tidak terlalu banyak dibicarakan di luar PLANTs. Wajar karena adanya pembatasan untuk media siaran. Athrun tahu gadis itu, namun dia bukan fans berat. Athrun suka mendengar lagunya di televisi, di komputer, atau di radio atau ketika dia sedang jalan-jalan di kota. Namun, dia tidak pernah membicarakan mengenai gadis itu kepada orang lain termasuk Kira. Membicarakan tentang kecantikannya, lagunya, suaranya, dan lainnya hal itu tidak pernah dia lakukan. Menurutnya tidak penting. Gadis itu tidak mungkin dia raih dan seorang aktris, tingkat mereka berbeda. Mungkin itu yang Athrun sempat pikirkan. Bahkan walau dia sudah berkenalan tetap saja, buat Athrun dunia Lacus itu berbeda. Lalu ternyata sekarang dia akan tunangan dengannya? Wow, mimpi apa dia semalam?
Lacus itu cantik. Dia akui hal itu. Rambut pink bergelombang, kulit putih, wajah cantik dan manis, tutur kata yang manis dan sopan serta lembut, senyum yang mempesona, suara yang merdu dan indah, sudah pasti banyak orang yang menyukainya. Lalu apakah Athrun menyukainya? Tanda tanya yang sangat besar. Athrun suka tapi dia tidak yakin apakah suka yang dia rasakan itu sebagai seorang pria yang melihat calon pendamping hidupnya seumur hidup? Mungkin inilah aturan dari PLANTs yang dia kurang suka atau takdir sebagai Coordinators yang dia agak bingung bagaimana menanggapinya. Mereka harus menemukan seorang pendamping hidup dengan kualitas gen yang sama. Hal ini dengan pertimbangan untuk meningkatkan tingkat kehamilan dan kelahiran third generation coordinators. Kalau memang modifikasi gen berdampak pada hal penting seperti itu, mengapa harus ada rekayasa dan modifikasi gen? Sempat Athrun kesal karenanya namun kalau dipikir-pikir dia seperti protes akan kelahirannya. Kalau tidak ada rekayasa gen tersebut maka dia tidak ada dan tidak akan seperti sekarang. Jadi, ya sudah ada baiknya mungkin dicoba dahulu. Tapi, diumur tiga belas tahun sudah memiliki tunangan Athrun merasa kebebasannya dirampas dan dia tiba-tiba harus memikul tanggung jawab yang besar. Salah langkah, dia sama saja seperti mencari musuh yang tak lain adalah pemimpin Negara. Ingin rasanya dia menceritakan hal ini pada Kira namun sayang, ternyata akses komunikasi ke beberapa area dibatasi. Athrun tidak dapat mengontak sekolahnya di Copernicus untuk mendapat kontak Kira bahkan ketika dia menelepon rumah keluarga Yamato tidak ada yang mengangkatnya. Nampaknya Kira sudah pindah tapi dia tidak memberitahu Athrun. Sungguh sahabat yang setia, ketika dibutuhkan malah menghilang batin Athrun saat itu.
Athrun pun menemui Lacus setelah diberitahukan oleh Patrick tentang status tunangannya dia dengan Lacus. Awalnya Athrun datang untuk menanyakan mengenai pendapat Lacus tentang pertunangan mereka. Di umur tiga belas tahun, masih bersekolah, dan mereka akan menikah? Itu sama sekali bukan topik dan kondisi yang menarik untuk anak seusia mereka. Bahkan mereka belum tujuh belas tahun. Sayangnya Lacus itu ternyata polos dan lugu. Dia menanggapinya dengan serius namun santai dan seakan-akan pertunangan mereka adalah hal yang wajar. Sampai menanyakan akan seperti apa masa depan mereka termasuk fisik anak mereka. Seketika Athrun kesal, panik, dan frustasi. Mengapa sama sekali tidak ada yang berpihak dengannya? Mengapa dunia ini tidak adil? Athrun bukannya ingin menolak Lacus. Siapa yang tidak mau menjadi kekasih dari seorang wanita yang cantik dan baik hati. Semua pria mengidam-idamkannya termasuk Athrun. Apakah Lacus tidak masuk kriteria Athrun? Sejak kapan Athrun punya aturan dan kriteria tentang wanita? Dia tidak mempermasalahkannya selama wanita itu tidak menghasilkan hubungan negatif dengannya. Apa dengan begitu Athrun rela dengan siapa saja? Athrun ragu, dia tidak punya tipe wanita ideal-nya seperti apa bahkan sulit untuk menjabarkannya dengan kata-kata, namun dia bersikap seakan-akan dia punya aturan dan kriteria mengenai sosok pendamping hidup. Mungkin gadis yang karakternya tidak dia duga adalah yang dia suka, karena dia sudah punya aturan 'ladies first' dan semua gadis senang karenanya. Athrun kadang berpikir apakah mereka tulus atau hanya senang karena perhatian Athrun.
Obrolan itu pun terganggu dengan rusaknya okapi -robot android berbentuk anjing kesayangan Lacus- dan berakhir Athrun memperbaikinya. Dari kejadian tersebut Athrun dapat melihat sisi lain Lacus. Mereka sama-sama masih muda, sama-sama masih belajar, dan masih panjang jalan hidupnya. Lacus pastinya juga punya pemikirannya sendiri mengapa dia langsung menyetujui pertunangan mereka. Athrun sadar itu, dia belum kenal Lacus dan sekarang dia mau menolaknya? Dia harus memikirkan itu baik-baik. Dia menghormati Lacus sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Ayah dan Ibunya. Dia bukan menentangnya tapi mereka masih memiliki proses yang harus dilalui. Mungkin tidak ada salahnya untuk dijalani dahulu. Lagipula hal seperti ini berkaitan dengan perasaan. Tidak mungkin Athrun langsung menolak dan mengatakan tidak suka pada Lacus. Lagipula mereka sudah terikat oleh data genetika. Hal yang paling kolot dan paling pakem yang harus mereka turuti untuk sekarang. Mungkin demi keluarga mereka berdua mereka sekarang hanya bisa angguk mengiyakan semua yang diminta keluarg Zala dan Clyne. Tapi yang menjalani adalah mereka berdua jadi merekalah yang harus memiliki aturan itu, bukan orang tua mereka.
Seketika Athrun mencoba mengatur kembali aturan hidupnya. Dia memasukkan sosok Lacus Clyne itu dalam 'agenda dan aturan' yang sudah disetel oleh tubuhnya. Selama tidak mengganggu 'aturan' Athrun, selama semua bersikap adil, selama tidak ada yang mengganggu fasenya, Athrun akan menerimanya. Namun, apa yang Athrun lakukan untuk Lacus itu tulus, bukan serta merta perintah keluarga Zala atau keluarga Clyne. Memang dia harus menjaga nama baik keluarganya dengan baik. Oleh karena itu Athrun juga 'menjadi anak baik', khususnya di hadapan Siegel Clyne dan mungkin Lacus juga. Disamping menjaga nama keluarga, Athrun juga ingin dan mencoba hubungannya dengan Lacus berjalan secara alami. Datang undangan makan malam, undangan minum teh, memberikan kue atau bunga, jalan-jalan di taman, bahkan membuatkan gadis itu Haro dalam jumlah yang banyak untuk menemani Lacus yang ternyata sering ditinggal sendirian di kediaman Clyne.
"Athrun, terima kasih sudah mau memperbaiki okapi dan juga para Haro," ucap Lacus ditengah makan malam mereka. Entah mengapa Athrun jadi sering menemani Siegel dan Lacus untuk makan malam. "Terima kasih juga untuk memenuhi undangan makan malam," tambahnya.
"Sayang, kedua orang tuamu Patrick dan Lenore sedang berhalangan untuk hadir," ucap Siegel. "Akan lebih menyenangkan apabila mereka bisa ikut bergabung," tambahnya.
"Saya mohon maaf dan mereka menitipkan salam untuk anda Tuan Siegel," ucap Athrun yang terdengar bersalah.
Siegel tertawa, "Kau tidak usah merasa bersalah seperti itu. Justru aku merasa merepotkanm disini Athrun. Kau jadi lebih sering menghabiskan waktumu di kediaman Clyne dibandingkan rumahmu," ucap Siegel. "Kami tidak ingin memburu-buru hubungan kalian berdua, kalian masih muda," ucap Siegel.
Lacus dapat melihat kalau bahu tegang Athrun menjadi santai. Athrun memang seperti itu, dia sangat penuh dengan tanggung jawab. "Iya saya mengerti," jawab Athrun.
"Apakah Patrick masih sibuk dengan pengembangan Mobile Suit?" tanya Siegel.
Athrun mengangguk, "Kelihatannya demikian dan Ayah banyak menghabiskan waktu di Jachin Due namun Ibu berhasil mengingatkan Ayah untuk selalu beristirahat dan makan."
"Kuharap apa yang Patrick lakukan benar. Walau sebenarnya aku kurang yakin apakah kita membutuhkan Mobile Suit dalam skala besar atau tidak, kuharap Ayahmu tidak bertindak gegabah Athrun," ucap Siegel. "Dia masih memiliki keluarga untuk diperhatikan, kau dan juga Lenore."
Athrun kembali hanya mengangguk, "Saya pun juga berharap demikian. Ayah untuk pulang dan berkumpul kembali."
"Ara, daripada itu bagaimana kalau kita segera makan. Sayang masakannya sudah susah payah dibuatkan dan kita membiarkannya," ucap Lacus.
"Itu berbahaya! Berbahaya!" seru Haro berwarna pink yang ada di sebelah Lacus dan langsung menghasilkan gelak tawa di meja makan.
Athrun menyukai Lacus karena Lacus bisa memahaminya dan bisa mengikuti fase Athrun. Maka Athrun pun mencoba mengikuti fase Lacus. Apakah semua yang Athrun lakukan berupaya untuk mengubah kata suka itu jadi cinta? Athrun tidak tahu namun dia mencoba. Fase Lacus yang tidak atau belum bisa Athrun ikuti adalah konser musik. Athrun bukannya tidak suka musik namun nada atau melodi dari suara yang dihasilkan dari suara indah Lacus atau alat musik terkadang membuatnya mengantuk. Mungkin ini karena Lenore sering menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Sayangnya yang mengikat Athrun dan Lacus adalah data hasil pemeriksaan gen mereka. Mereka terikat oleh suatu sistem sains yang menjadi tradisi para Coordinators. Mereka terikat oleh data, bukan terikat oleh perasaan. Perasaan adalah hal yang sulit ditebak. Athrun kurang suka makanya dia punya 'aturan' sehingga tidak perlu sering mempertimbangkannya dengan perasaan. Untung saja Athrun memang pemuda yang baik dan Lacus adalah gadis yang baik juga, setidaknya mereka tidak akan mudah bertengkar karenanya. Namun, yang Athrun tahu sekarang, dia harus menjaga Lacus Clyne dan bertanggung jawab atas seorang Lacus Clyne. Toh, masa depan dengan seorang Lacus Clyne tidak buruk juga, pikir Athrun muda kala itu.
Alasan Athrun mengatakan dia bukan apa-apa dibandingkan Lacus karena Athrun memutuskan menjadi pelajar biasa. Panggung showbiz atau hiburan bukan tempatnya, dia sadar benar hal itu. Panggung politik? Hmmm, mungkin perlu dia pikirkan namun dia tidak suka cara main politik yang kadang 'tidak bersih'. Oleh karena itu dia lebih memilih sains, dia ingin seperti Ibunya berguna untuk banyak orang sebagai peneliti. Karena alasan itu, maka sangat mengejutkan ketika berita di PLANTs mengumumkan pertunangan mereka. Seperti yang sudah diketahui, dunia Athrun dan Lacus berbeda. Athrun seperti orang yang tertimpa durian runtuh. Dia beruntung. Dia hanya pemuda biasa walau Ayahnya ada di sistem pemerintahan dan dia adalah Zala. Seketika seluruh PLANTs memperhatikannya. Dia menjadi pusat perhatian. Namun tidak ada yang berani macam-macam karena posisi Ayah Athrun dan Lacus. Jadi, tanpa diminta pun Athrun sudah mendapatkan panggung itu. Walau dia tidak suka. Dia tidak suka pandangan orang disekitarnya, omongan orang disekitarnya, yang dengan mudah dia tutupi dengan senyum ramah dan obrolan basa basi yang sopan dan santun. Dia menutupi itu semua dengan 'aturannya sebagai anak baik', karena ingin menghormati kedua keluarga dan juga Lacus.
"Kau baik-baik saja?" tanya Lacus saat mereka sedang menikmati teh seperti biasa di kediaman Clyne. Lacus lalu menyodorkan cangkir berisi mint tea untuk Athrun. Beberapa hari yang lalu Athrun baru saja diwawancara oleh wartawan setelah Athrun diketahui menonton salah satu konser sosial bulanan yang diadakan Lacus. Untung protokol keamanan dari ZAFT ada disana. Mereka tidak perlu berlarut-larut lama dengan pertanyaan para wartawan. Tapi Lacus bisa lihat, Athrun tidak suka perhatian seperti itu. Dia ingin biasa saja, menjadi pemuda yang biasa saja.
"Yah begitulah," ucap Athrun. Jawaban yang selalu Lacus terima yang berarti Athrun tidak ingin membahasnya lebih lanjut.
"Bagaimana dengan studimu? Bukankah kau sebentar lagi akan lulus?" tanya Lacus. Dia akhirnya memutuskan untuk menanyakan kondisi akademis Athrun. Lacus berbeda dengan Athrun. Lacus mengambil pendidikan di sekolah khusus wanita, program diploma dan sarjana plus dia mengambil jalur percepatan. Pastinya di bidang kemasyarakatan dan sosial, dia tidak mengambil seni. Sedangkan Athrun mengambil bidang mekanika khususnya micro unit. Athrun memiliki mimpi yang besar sebagai peneliti tapi disaat yang sama Athrun memiliki kepiawaian dalam mempimpin seperti Ayahnya dan Patrick. Athrun dapat membantu bidang akademis Ayahnya, Space Life Science atau bidang yang dikelola oleh keluarga Amalfi atau Joule. Terkadang Athrun merasa minder karena dia dan Lacus berbeda namun, melihat Lacus yang selalu mencoba mendukung dan memahaminya Athrun merasa tenang.
"Ah yaaa…..mungkin beberapa bulan kedepan aku akan sibuk. Aku sedang mengejar tenggat waktu untuk risetku," jawab Athrun. "Kau sendiri bagaimana? Apakah kau sibuk dengan konser amalmu?" balas Athrun.
"Iya tapi kelihatannya akan dibatalkan dibeberapa tempat mengingat kondisi sedang tegang sekarang," ucap Lacus.
"Oh begitu," ucap Athrun. Miris memang, ketika mereka berdua sedang duduk manis menikmati teh di sore hari justru di luar sana suasana sedang kacau. Perang ada kemungkinan terjadi namun Athrun yakin hal itu tidak akan terjadi seperti janjinya pada seorang sahabat. "Tenanglah, bukankah Tuan Siegel mengatakan kalau situasi terkendali? Perang tidak akan terjadi," ucapnya berusaha menghibur Lacus.
"Iya. Oh iya, aku ingin ikut serta dalam beberapa organisasi sosial dan perdamaian, bagaimana menurutmu?" tanya Lacus.
Athrun cukup terkejut, Lacus menanyakan pendapatnya padahal mereka belum terikat oleh ikatan suami istri. Kekasih? Mungkin itu yang dilihat orang-orang. "Oh bagus, apakah kau akan mengikuti program dari Ayahmu?" tanya Athrun.
Lacus menggeleng, "Tidak, aku akan ikut suatu organisasi mandiri. Tapi aku khawatir hal itu malah akan mempersulit jadwal kita untuk bertemu," ucapnya. Kunjungan Athrun dua kali dalam sebulan atau hanya sekali sudah menjadi rutinitas. Lacus khawatir Athrun kecewa. Tipikal Lacus, batin Athrun.
Athrun tersenyum, "Tidak apa. Kita dapat mengatur kembali jadwal untuk bertemu. Kalau kau hendak bergabung dengan organisasi mandiri, bagaimana dengan keamanannya? Kau putri dari pemimpin PLANTs," ucap Athrun yang terdengar agak khawatir. Iya, dengan kondisi sekarang mereka tidak bisa gegabah.
"Mereka memastikan protokol keamanan yang sewajarnya sudah disiapkan. Akan ada beberapa anggota ZAFT yang akan menemani," jawab Lacus. "Kau tidak keberatan?" tanyanya lagi.
Athrun terdiam tapi Lacus bisa lihat Athrun bingung namun raut lega terlihat di wajahnya. Rasa khawatir dan peduli pemuda itu nyata. Dia khawatir pada keselamatan Lacus."Tidak sama sekali tapi berhati-hatilah," ucap Athrun.
Jawaban Athrun terlalu singkat tapi Lacus tidak tahu harus merespon seperti apa. Dia hanya tersenyum dan lalu membalas, "Iya dan semoga seperti perkataanmu. Perang tidak akan terjadi."
Diumur lima belas tahun baik Athrun maupun Lacus memutuskan untuk fokus dengan kehidupan masing-masing. Disibukkann dengan tujuan dan mimpi masing-masing dengan harapan hari esok dan masa depan untuk mereka. Namun hal itu tidak berlangsung lama, tepatnya pada tanggal 14 Februari 70 CE Earth Alliance yang didominasi oleh Blue Cosmos menyerang PLANTs dan menembakkan senjata nuklir sasarannya adalah PLANTs yang pada saat itu mengenai PLANTs khusus agrikultur, Junius Seven. Junius Seven hancur dengan membunuh seluruh populasi manusia di dalamnya termasuk Lenore Zala, Ibu dari Athrun Zala. Athrun kala itu sedang ada di December City, dia sedang berjalan-jalan di tengah kota saat berita itu beredar secara langsung. Earth Alliances menyerang di malam hari waktu December City.
"Athrun, kau sudah makan nak?" tanya Lenore melalui intercom.
"Aku sudah bukan anak kecil lagi Ibunda," ucap Athrun. "Dan iya aku sudah makan. Para pelayan memastikan aku sudah makan sebelum aku pergi," tambahnya.
"Kau sedang keluar?" tanya Lenore terkejut. Walau Lenore sudah wajar dengan umur Athrun yang sudah mau dewasa dan mandiri dia tetap mempertahankan aturan keluarga.
"Hanya untuk mencari beberapa material riset dan buku referensi," ucap Athrun.
"Jangan lupa hadiah untuk Lacus, kau ingat dia baru saja ulang tahun kan?" goda Lenore.
Athrun tertawa, "Ayolah Mum, aku sedang memikirkan apakah aku perlu memberikan dia Haro lagi karena Ibunda mengatakan Haro-nya sudah terlalu banyak," ucap Athrun. Padahal dia sedang memikirkan warna Haro apalagi yang harus dia berikan.
"Jangan Haro, berikan dia yang lain," tegur Lenore.
"Bunga?"
"Tidak."
"Kue atau coklat?"
"Jangan."
"Pakaian?"
"Kau tidak tahu ukurannya dan Ibunda sarankan jangan."
"Lalu apa?" tanya Athrun frustasi.
"Cincin," jawab Lenore santai.
"Ibunda! Bukankah aku sudah katakan kalau baik aku dan Lacus tidak ingin buru-buru? Lagipula kami baru berumur lima belas tahun. Aku bahkan baru akan berulang tahun Oktober nanti," seru Athrun yang sudah mulai panik. Athrun bisa mendengar suara tawa Lenore. Ibunya menggodanya. "Ibunda….," ucap Athrun kesal.
"Maafkan Ibu nak, hanya saja kau terlalu kaku," ucap Lenore di sela tawanya.
Athrun tersenyum. Ibunya sedang ada riset di Junius Seven dan belum pulang selama dua minggu. Seharusnya dia pulang dua hari lagi. Athrun khawatir Ibunya kelelahan atau stress namun mendengar tawa Ibunya dia agak tenang. "Ibunda sehat disana?" tanyanya lembut.
"Iya tentu saja," ucap Lenore. "Hati-hati ya jaga dirimu, di December City sudah malam bukan?"
"Iya," ucap Athrun.
"Baiklah, Ibunda akan mengakhiri teleponnya sehingga kamu tidak pulang larut malam. Ibunda menyayangimu nak," ucap Lenore. "Sampaikan salam Ibu untuk Ayahmu. Ibu menyayangi kalian berdua. Jaga Ayahmu Athrun."
"Baik. Aku juga menyayangimu Ibunda. Sampai bertemu dua hari lagi," balas Athrun.
Itulah obrolan terakhir Athrun dengan Ibunya, Lenore Zala. Mungkin hanya berselang beberapa jam tiba-tiba saja sebuah layar televisi di salah satu gedung menayangkan berita live dan Athrun terkejut ketika di berita itu disebut Junius Seven. Ketika dia menatap layar itu, dia terkejut. Dia shock. Junius Seven hancur tidak bersisa. Seketika Athrun merasa dunianya hancur. Dia tidak tahu kepada siapa dia harus mengadu. Ibunya adalah tempat dia mengadu, Sekarang sang Ibu sudah tiada. Athrun merasa nafasnya memburu dan kemudian terhenti. Dia jatuh terduduk melihat berita itu. Menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya. Dindingnya runtuh, topengnya lepas dan jatuh. Dia tidak bisa bersikap tenang dan tidak bisa berpikir jernih. Dia panik. Pikirannya mendadak kacau.
Dia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya. Dihubungi nomor ponsel sang Ibu dengan harapan kalau Ibunya sedang dalam perjalanan pulang, Ibunya tidak ada di Junius Seven, Ibunya ada di rumah sedang menunggu kepulangannya. Tidak ada jawaban bahkan tidak ada suara nada tersambung. Athrun tidak sadar dia sedang ada dimana. Suara jeritan dan tangis serta kepanikan orang disekitarnya sama sekali tidak dia sadari. Dia hanya bisa tertunduk memukul trotoar dengan kedua tangannya. "Sial…sial…sial….," umpatnya sambil memukul trotiar hingga tangannya merah dan lebam. Ponsel di salah satu tangannya dia genggam dengan sangat erat. Padahal Ayahnya berada di sistem pertahanan. Semua sudah sesuai tatanan yang sudah dibentuk, bahwa tidak aka nada area warga sipil yang diserang. Ayahnya dan Ayahnya Lacus sudah menjamin kalau semua baik-baik saja. Namun ternyata tidak. Ibunya berada di area warga sipil. Ibunya menjadi korban perang. Ibunya Lenore Zala, sudah tiada. "Huaaaaaaaa…..," jerit Athrun di tengah kota. Tidak ada yang sadar dengan keberadaan dan jeritan pemuda Zala itu, karena semua sedang berduka.
Sekembalinya Athrun melihat sang Ayah murka. Patrick tidak bisa menerima kematian Lenore Zala. Athrun melihat sorot mata Ayahnya yang tidak pernah diperlihatkan kepadanya. Sedih, marah, murka, dendam ada pada sorot matanya itu. Athrun ingin masuk ke ruang studi Ayahnya, dia juga butuh Ayahnya karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Ayahnya. "CEPAT LAKUKANN PERSIAPAN PERSENJATAAN DAN MINTA PADA JOULE DAN CANAVER UNTUK SEGERA MENGAMBIL SIKAP!" seru Patrick. Patrick segera menuju pintu dan membuka kasar pintu ruang studinya, membuat Athrun terjatuh.
"Ayah?"
"Mereka tidak bisa dimaafkan. Mereka sudah mengambil nyawa Lenore," ucap Patrick dan segera pergi meninggalkan Athrun. Kalau dilihat dari seragamnya kelihatannya sang Ayah akan menuju gedung parlemen atau Jachin Due. Athrun tahu suara Ayahnya bergetar walau masih terdengar tegas. Patrick menangis. Mata dan hatinya menangis. Tangannya bergetar seakan-akan menahan rasa amarah di dada. Dia seorang pemimpin dan dia tidak bisa terlihat lemah dan hancur dihadapan rekannya. Namun sayangnya dia tidak lihat kalau yang ada dihadapannya adalah Athrun.
Setelahnya, Athrun lah yang mengurus semua administrasi yang berkaitan dengan Lenore. Mengkonfirmasi kematiannya. Ayahnya? Patrick melakukan bagiannya. Dia memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Kematian Lenore adalah bagian dari tanggung jawab Patrick juga, Athrun tahu hal itu dan berusaha memahaminya. Lacus menemani Athrun di kediaman Zala namun Athrun meminta Lacus untuk tidak banyak berinteraksi dengannya. Khawatir ada media yang meliput atau mulai membicarakan hal yang tidak semestinya. Cukup urusan ini hanya Athrun dan Patrick saja, ini urusan pribadi keluarga Zala. Apakah Athrun kesal karena Patrick tidak ada ketika disaat penting? Entah. Athrun hanya tahu Patrick melakukan bagiannya dan Athrun melakukan bagiannya.
Untungnya Patrick hadir di acara pemakaman masal korban Junius Seven, upacara penghormatan terakhir serta peresmian pemakaman tersebut. Athrun dapat lihat Ayahnya berdiri tegar di salah satu sudut. Athrun tidak mendekatinya karena ini acara formal. Hal yang menyakitkan Athrun, dia belum sempat bicara banyak dengan Patrick, belum menyampaikan keluh kesah dan kesedihannya, dia merasa ada yang berubah dan dia menjadi jauh dengan Ayahnya. Patrick berubah. Athrun berubah. Mereka korban dari kekejaman perang, padahal yang Patrick lakukan selama ini bukan menyerang. Justru mengamankan. Namun kejadian Junius Seven membuat semuanya bias. Athrun jadi mempertanyakan apakah aturan ada akan membawa keadilan? Mengapa aturan itu tidak adil pada Ibunya? Ibunya tidak ada dalam daftar konflik yang terjadi di perang. Namun mengapa Ibunya menjadi korban? Dia hanya warga sipil biasa, Lenore itu warga sipil yang tidak terikat dengan perang. Seketika Athrun tenggelam dalam laut kesedihan. Lacus ingin menghiburnya tapi Athrun sudah menarik diri. Dia tidak ingin belas kasihan dan perhatian Lacus. Lacus pun memutuskan untuk memberikan Athrun waktu dan ruang. Lenore Zala tidak menaruh dendam pada siapapun, dia hanya seorang peneliti yang memiliki tujuan untuk menyejahterakan masyarakat. Apa dia berhak mati? Tidak ada yang mampu menjawabnya termasuk Athrun dan Lacus. Semua terjadi begitu cepat setelahnya.
"Athrun," Lacus berdiri di samping Athrun di depan batu nisan bertuliskan nama Lenore Zala. Mereka berdua mengenakan pakaian berwarna hitam sebagai tanda berkabung. Tidak lupa Athrun menaruh bunga lily, bunga kesukaan Lenore.
Athrun tidak menjawab. Pemuda itu diam di depan nisan sang Ibu. Lacus bisa paham karena dia juga kehilangan sosok sang Ibu tapi rasa kehilangan Athrun tidak bisa dibandingkan dengan Lacus. Ibu Lacus meninggal karena sakit sedangkan Lenore karena dibunuh dan itu merupakan dua hal yang berbeda. Kesedihan dan kehilangan yang Athrun rasakan pun beda. Ingin rasanya Lacus meraih tangan Athrun, tangan yang dingin dan pucat itu. Namun Lacus tahu bukan itu yang Athrun butuhkan sekarang. Bahkan sekarang Athrun tidak menjawab panggilannya.
Athrun lalu berdiri dan sambil membalikkan badannya dia berjalan menjauh dari nisan Ibunya. "Ayo kita pulang, Tuan Siegel pasti khawatir," ucap Athrun. Lacus tidak bernai berkata apa-apa dan hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelah kejadian tersebut banyak anak muda baik pria maupun wanita yang memutuskan bergabung dengan militer termasuk teman-teman Lacus. Mereka tidak terima dengan perlakuan Earth Alliance. Perang menjadi membabi buta. Sebagai balasannya ZAFT menjatuhkan teknologi terbarunya Neutron Jammer ke bumi dan menandakan kejadian April Fool's Crisis.
Athrun berdiam diri di kamarnya. Semua berubah. Manor Zala yang sempat digosipkan berhantu dan angker itupun mungkin sekarang dapat digambarkan demikian. Rumah itu sepi, dingin, tidak ada cahayanya. Rumah itu sudah kehilangan cahayanya, Lenore Zala. Athrun hanya bisa terduduk lemas dan memangku kepalanya dengan kedua tangannya. Dia kehilangan cahayanya. Athrun Zala bingung apa yang harus dia lakukan. Dia berjalan menuju ke ruang makan. Berharap masih ada kehangatan yang tersisa disana namun nihil. Dia tidak menemukan apapun. Semenjak Ibunya meninggal, ruangan itu menjadi sepi dan dingin. Tidak hanya ruangan itu, dapur, ruang keluarga, bahkan taman dan rumah kaca di Manor Zala kehilangan cahayanya. Cahaya itu hilang dari dirinya dan juga Ayahnya. Tidak ada obrolan apapun dengan Patrick. Ayahnya pulang, makan, dan banyak menghabiskan waktu di ruang studinya. Entah apakah Ayahnya sempat beristirahat atau tidak, Athrun tidak tahu. Padahal Lenore meminta Athrun menjaga Ayahnya, itu pesan terakhir sang Ibu. Athrun sempat memberanikan dirinya menemui Ayahnya namun Patrick hanya menjawabnya dengan ketus.
"Ayah, mengenai studiku dan juga-"
"Ayah sedang sibuk. Kau kerjakan saja apa yang kau perlu kerjakan," ucap Patrick.
Hati Athrun sakit. Ayahnya tenggelam dengan pekerjaannya. Dia tidak tahu kepada siapa dia harus beradu. Di kamarnya dia kembali termenung. Apakah sekarang tepat untuk melanjutkan mimpi seperti Ibunya? Hal itu sudah diluar rencananya. Dia tidak punya arah. Apa yang sebenarnya terjadi? Ibunya tiada? Kenapa? Karena dia dibunuh. Oleh siapa? Oleh para Naturals. Kenapa? Karena mereka tidak mematuhi dan menyepakati aturan yang ada. Aturan apa? Untuk berdamai. Berdamai dengan siapa? Hal itu tidak bisa Athrun jawab. Damai sudah tidak ada di agendanya. Namun dia membutuhkan perdamaian itu. Dia akan meraih perdamaian itu. Demi dirinya dan orang yang ingin dia lindungi. Kedamaian untuk para Coordinators walaupun itu berarti dia harus memenangkan dan menunjukkan kejayaan dari suatu ras. Athrun bukanlah pemuda yang sering mengumbarkan kelebihan Coordinators di hadapan Naturals namun sekarang para Naturals sudah kelewatan dan mereka harus menerima akibatnya. Seperti 'Codex Hammurabi', eye for an eye, tooth for a tooth. Ralat, untuk kasus Athrun diperhalus dengan dia akan melakukan apapaun sehingga perang tidak menjadi meluas dan menghancurkan aturannya dan kedamaiannya.
"Kau bergabung dengan ZAFT?" tanya Lacus kala itu. Nada bicaranya pun seakan tidak percaya dengan apa yang Athrun putuskan. Athrun kembali datang ke kediaman Clyne dan menjalankan rutinitas afternoon tea mereka seperti tidak ada apa-apa. Tapi Lacus bisa lihat kalau suasananya menjadi cukup tegang. Athrun bisa lihat wajah Lacus yang sangat terkejut dengan info tersebut. Wajar. Athrun sempat tidak mengontak Lacus selama tiga bulan. Dia mempercepat kelulusannya dan tanpa pikir panjang segera melanjutkan pendidikan militer. Bahkan Patrick tidak banyak bicara ketika Athrun meminta persetujuan Ayahnya. Hanya sebuah anggukan iya dan torehan tanda tangan.
Athrun mengangguk, "Iya, aku ingin menyelesaikan perang ini. Kau lihat kalau peperangan semakin menjadi-jadi bukan?"
Lacus terlihat sedih, Dia khawatir Athrun tenggelam dalam api dendam. Lacus melihat itu dari sosok Patrick Zala. Patrick tidak segan terus menerus mengembangkan Mobile Suit dan memperkuat kemiliteran dan pertahanan Negara. Lacus berharap Athrun tidak memilih jalan itu. Jalan yang penuh dengan amarah dan dendam. "Oh begitu," ucap Lacus.
"Aku tidak bisa terima! Tidak terima!" ucap Haro berwarna pink yang ada di tengah meja.
"Tapi aku akan berkirim kabar! Dan apabila aku ada waktu dan hari libur aku akan datang untuk berkunjung," ucap Athrun. "Walau aku tinggal di asrama aku akan coba mengatur jadwalku!"
"Benarkah?" ucap Lacus senang dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia sebenarnya bukan senang karena Athrun masih menepati janjinya sebagai tunangannya. Tapi dia sebenarnya tidak percaya kalau Athrun masih mencoba meluangkan waktu untuknya. Iya, Athrun masih memasukkan Lacus dalam hidupnya dan Lacus adalah tanggung jawabnya. Athrun tahu hal itu.
"Ah ya…," ucap Athrun pelan.
Athrun beradaptasi dengan cepat. Seakan-akan memang militer jalan hidupnya. Tentara adalah takdirnya. Prajurit atau ksatria adalah tugas dan kastanya. Dia menjadi siswa dan perwira terbaik. Bahkan berhasil mengalahkan Fred of the knife, instrukturnya yang sangat terkenal dalam teknik bertarung dengan tangan kosong dan belati. Athrun peringkat satu hampir diseluruh aspek sebagai tentara khususnya hand to hand combat dan Mobile Suit. Dia menjadi lihai dan meresapi semua ilmu kemiliteran tanpa memakan waktu lama. Dia, Athrun Zala, Yzak Joule, Dearka Elsman, Nicol Amalfi, dan Rusty Mckenzie menjadi TOP FIVE di akademi dan di akhir kelulusannya menjadi kandidat Red Coat. Pasukan elit dan khusus namun belum sampai setara dengan FAITH. Mereka hanya termasuk terbaik dari yang terbaik.
Entah apa yang merasuki Athrun. Dia menjalani hal itu dengan tenang dan santai. Apakah dendam menjadi dasarnya? Tidak. Athrun sadar kalau Lenore tidak ingin sebuah dendam. Athrun hanya tidak ingin ada ketidak adilan. Tidak ingin ada kesalahan seperti yang terjadi pada Ibunya dan sekarang masuk ke militer dan menjadi tentara adalah jawabannya. Dia ingin menjadi seorang penegak. Apakah dia terbiasa dengan kehidupan tentara? Oh, tentu saja tidak. Untuk pemuda yang baru saja menginjak usia enam belas tahun perang bukanlah hal yang bisa langsung dia serap dengan cepat dan wajar. Dia tidak langsung turun ke medan perang, namun Athrun selama pelatihan melakukan misi untuk berada di garis depan Jachin Due. Dengan menggunakan Mobile Suit dia mengangkat senjata api dan menembak seseorang pertama kali, sebuah Mobius milik Earth Alliances dia pun sadar. Dia membunuh seseorang.
Sekembalinya ke pangkalan, Athrun tidak berhentinya muntah-muntah. Selama seminggu dia tidak bisa konsentrasi dan shock. Dia baru sadar kalau dia berada di garis dimana dia jadi 'penegak' nyawa manusia. Dia menjadi penentu nyawa seseorang. Dia kira dia hanya menjaga namun dia masih terlalu naif. Dia juga bertanggung jawab dengan nyawa seseorang. Hal yang sering Patrick katakan kalau dia terlalu banyak pertimbangan dan berpikir di medan perang maka dia tidak berhak ada ditempat itu, Athrun Zala hampir menjadi gila dengan kenyataan bahwa menjadi seorang 'penegak aturan dan hukum' ternyata tidak semudah memukul palu di meja hijau. But he is not the law, he is not a judge or a lawyer. He is a soldier and a perfect soldier. So he should acts that way. Apakah Athrun sempat menghirup angin segar selama itu? Dia sempat merasakan bersosialisasi. Demi kewarasannya, dia datang ke konser rekannya Nicol Amalfi dan masih mengunjungi Lacus Clyne. Bahkan persaingannya dengan Yzak Joule mewarnai kehidupannya di akademi militer. Untuk kasus Lacus, Athrun masih mengingat janjinya pada Lacus, untuk datang dan menjalani hubungan mereka sebagai tunangan.
"Seragam merah, huh?" ucap Siegel ketika Athrun datang dan kebetulan mengenakan seragam tersebut. Seragam kalau dia yang terbaik dan memiliki sikap yang baik sebagai perfect soldier. "Patrick pasti bangga padamu. Kuharap kau menggunakan posisi tersebut dengan bijak, nak," tambah Siegel dan kemudian meninggalkan Athrun dan Lacus berdua.
Ketika Siegel pergi, mereka berdua diam. Tidak ada obrolan. Hanya memandangi cangkir berisi teh di hadapan masing-masing. "Aku akan ada misi menyelinap dua minggu lagi," ucap Athrun membuka pembicaraan.
"Ya?"
"Ada rumor beredar kalau Earth Alliances mengembangkan MS di koloni milik ORB Union, Heliopolis. Para Red Coat mendapatkan misi khusus kesana," ucap Athrun.
Lacus meminum tehnya. "Apakah hal itu perlu kau sampaikan padaku? Bukankah hal itu rahasia?" tanya Lacus.
Athrun menghela napas. Apa yang Lacus katakan benar namun Athrun hanya ingin menjamin. Menjamin kalau ada tempatnya untuk pulang yaitu Lacus Clyne. Dia tidak ingin Lacus khawatir. Iya, hanya itu. Mereka bertunangan dan wajar bukan kalau mereka saling peduli? "Aku tahu, aku hanya menginfokan kalau mungkin aku tidak akan dapat mengunjungimu selama beberapa pekan. Namun…..kalau ada apa-apa atau ada waktu untuk menghubungimu, aku akan lakukan," ucap Athrun. Ingat, dia masih berusaha untuk menjalani hubungannya dengan Lacus walau sekarang situasinya sangat sulit. Athrun tidak akan aneh kalau Lacus ingin mengakhiri hubungan mereka. Dunia dia dengan Lacus berbeda 180 derajat sekarang. Lacus simbol yang lembut dan suci sedangkan Athrun simbol yang keras dan kotor.
"Berhati-hatilah," ucap Lacus. "Karena kau terlalu baik dan seragam itu tidak cocok untukmu," tambahnya dengan tatapan sedih seakan-akan kasihan dengan Athrun. Athrun sedikit tertegun dengan ucapan Lacus. Lacus tidak tahu apa-apa. Dia tidak tahu apa yang Athrun alami dan rasakan. Namun itu tidak penting. Lacus cukup menjadi Lacus Clyne. Tidak perlu menarik gadis itu ke kegelapan yang sudah Athrun injak. Setidaknya ada cahaya buat Athrun yang masih bersinar yaitu Lacus Clyne.
Misi Athrun sederhana. Mengambil senjata terbaru milik Earth Alliances yang dikembangkan di Heliopolis. Wow, ternyata tugas sebagai tentara tidak hanya menjaga namun juga mencuri. Mungkin kalau Ibunya masih hidup dia akan kena marah dan tidak ada makan malam untuknya. Namun hal ini berbeda, ada tujuan dibaliknya. Seperti Robin Hood. Athrun mencuri untuk mencegah perang menyebar dan meluas. Dia melakukannya untuk melindungi dan walau apa yang dia lakukan terhitung dosa setidaknya dia merassa hal itu benar untuk dilakukan. Apakah Athrun merasa tegang? Tidak. Dia sudah terbiasa. Bedanya dia sekarang tidak dilindungi oleh Mobile Suit. Dia hanya bermodalkan pakaian pilot, senjata api, belati, dan dirinya sendiri mungkin dengan rompi anti peluru. Dia harus ingat cara bertarung dengan tangan kosong. Apakah dia sudah siap untuk kehilangan nyawanya? Mungkin. Namun berhubung dia adalah Red Coat, dia dan timnya adalah pengecualian. Nyawa dan misi mereka menjadi prioritas utama para Green Coat untuk dilindungi karena misi mereka hanya mengambil alih teknologi terbaru Earth Alliances.
Baku tembak terpaksa terjadi. Tentu saja. Mereka hendak mengambil mesin itu secara paksa. Tidak melalui obrolan diplomatis. Apakah sudah pernah dilakukan? Sudah. Namun kejadian Junius Seven bukanlah hal yang sedehana untuk dimaafkan bagi para Coordinators. Begitu pula sebaliknya, setelah ZAFT menurunkan Neutron Jammer ke bumi, menyebabkan kekacauan sumber daya dan hal itu juga tidak bisa dimaafkan oleh para penghuni bumi khususnya Earth Alliances karena sudah menghancurkan tanah mereka. Semua akhirnya diselesaikan melalui senjata. Tidak ada pilihan lain. Semua menutup telinga untuk mendengarkan, namun tidak menutup mata dan taring mereka untuk melihat dan menyerang.
Itulah yang Athrun lakukan sekarang. Eye for an eye, tooth for a tooth. Rusty tertembak dan tewas. Dia tanpa pikir panjang karena melihat rekannya gugur segera maju dan menembakkan senjata apinya. Benar-benar menggambarkan aturan dalam Codex Hammurabi. Dia yang awalnya ingin mencari cara untuk dapat menyelinap ke mesin tersebut terpaksa keluar dan menyerang. Di tengah emosi jiwa yang berkecamuk dengan amarah, dendam, dan kesetiaan dalam melaksanakan tugas, dia terdiam melihat sepasang bola mata amethyst yang menatapnya dengan tatapan terkejut.
Athrun sangat mengenal mata itu dan tatapan pemuda itu, "Ki…ra?"
Pemuda itupun mengucapkan namanya walau dia tertutup oleh kaca helm merahnya. "Ath..run..?" ucapnya.
Ditengah kekacauan perang mereka bertemu. Athrun, bertemu lagi dengan Kira Yamato, sahabatnya yang merupakan bagian dari 'aturan' Athrun. Emosi dan pikiran Athrun kacau, dia yang merupakan seorang perfect soldier langsung hancur di misi perdananya sebagai Red Coat dan terjun langsung ke meda perang garis depan di area ORB. Dengan menggunakan Mobile Suit yang dia ambil, GAT-X303 Aegis Gundam dia ingin memastikan apakah Kira Yamato itu adalah Kira yang dia kenal. Tak disangka Kira justru tetap mengendalikan Mobile Suit yang gagal mereka ambil, GAT-X105 Strike Gundam. Athrun kesal. Kira hanya warga sipil dan tidak ada sangkut pautnya dengan perang dan kenapa Kira harus terbawa?
Pikiran Athrun kacau, kegelapan hatinya dan pikirannya membuatnya tidak dapat melihat sisi lain dari sebuah kehidupan. Seakan-akan dia tidak dapat melihat sisi lain dari sebuah pisau atu koin. Dia berkesimpulan Kira dimanfaatkan. Kira itu Coordinators, Kira harus ada di tempat yang sama dengannya. Kira harus bersama dengan Coordinators. Itu pikiran yang muncul di kepala Athrun. Namun sebenarnya Athrun tidak ingin Kira mengacaukan 'aturan' hidupnya. Kira harus ada di dalam 'aturan' Athrun lagi namun bukan di medan perang. Tempat Kira ada bersama Athrun. Tanpa Athrun sadari sebenarnya itu yang dia rasakan. Kira itu tidak kotor dan dia tidak ingin Kira kotor. Cukup dia saja karena dia sudah jatuh ke dalam kegelapan itu.
Berkali-kali Athrun mencoba untuk meyakinkan Kira namun dia gagal. Kira tetap bersama Archangel – ashitsuki – dan tetap mengendalikan Mobile Suit itu. Hingga situasi memaksanya untuk bertemu dengan Kira. Lacus Clyne menghilang dan dia harus mencari gadis itu. Athrun kalut dan bingung. Perasaannya kacau. Cahaya yang selama ini dia jaga menghilang. Debris belt adalah lokasi terakhir gadis itu berada dan bukan sebuah wilayah yang bagus untuk mencari orang hilang. Namun dia punya tugas dan tugasnya bukanlah mencari Lacus Clyne. Awalnya dia berpikir demikian namun Ayahnya mengatakan karena dia adalah tunangannya dan masyarakat PLANTs tahu status mereka, maka pencarian Lacus pun menjadi tugasnya.
"Apakah maksudnya aku bermain peran sebagai pahlawan dan kembali dengan menolongnya?" tanya Athrun.
"…atau kembali dengan jasadnya dan menangis meraung-raung," ucap Komandan Rau.
Athrun tertegun dan terkejut. Dia sama sekali tidak memikirkan skenario dan kemungkinan tersebut. Namun apa yang dikatakan oleh Komandan Rau ada benarnya. Lacus menghilang dari dua hari yang lalu setelah Athrun mendengar berita mengenai kecelakaan kapal Silverwind tersebut. Perasaan Athrun semakin kacau. DIsaat dia ada misi untuk menyusul rekannya, dia juga harus mencari tunangannya. Dia harus profesional, tidak boleh membawa urusan pribadi ke dalam tugas. Namun sekarang dia harus bisa berpikir cepat dan mempertimbangkan langkah yang tepat untuk dia lakukan.
Di tengah medan perang dan pertempuran dengan Kira yang jelas dua hal itu mengacaukan pikirannya. Cahaya Athrun muncul. Lacus Clyne ada bersama Ashitsuki. Dia lega melihat sang tunangan dalam keadaan sehat dan tidak terluka sama sekali. Dia baik-baik saja. Namun dia kecewa karena Lacus berada di tempat yang tidak mungkin dia raih. Lacus ada bersama Kira dan berada di tempat yang Athrun tidak mungkin ulurkan tangan kecuali dengan pertumpahan darah. Ditambah lagi, mereka menggunakan Lacus sebagai sandera. Sungguh memuakkan. Mengapa Kira mau berpihak pada Naturals yang bersikap tidak profesional sebagai tentara? Mereka bersikap seperti bajak laut. "Kalian pengecut!" seru Athrun kala itu. "Kau mau berjuang dan berpihak dengan orang-orang seperti ini Kira!?"
Athrun kecewa dan kesal. Pikirannya tidak bisa tenang. Dia tidak perlu pergi ke area Debris Belt namun ternyata Lacus ada di tempat yang sama dengan Kira. Satu-satunya cara adalah dengan berdiskusi. Kalau mereka salah langkah maka nyawa Lacus menjadi taruhannya. Walau Athrun berharap dengan adanya Kira menjamin keamanan Lacus namun dia tidak bisa tenang. Tidak lama rasa tenang Athrun pun kembali. Kira meminta Athrun untuk menemuinya. Kira membawa Lacus. Kira mengembalikan cahayanya. Namun Kira tidak dapat meraih tangan Athrun karena teman-teman Kira ada disana.
"Kalau begitu, di pertempuran selanjutnya aku tidak akan segan untuk menembakmu!" ucap Athrun mantap. Dia sudah cukup bermain lembut dan berbaik hati pada Kira. Dia sempat membuang sisi perfect soldier-nya demi Kira dan ternyata balasan Kira adalah penolakan. Hanya karena teman-temannya ada di ashitsuki? Lalu kalau begitu apa artinya hubungan dia dengan Athrun? Apa artinya menjadi sahabat Athrun selama ini? Baiklah, kalau begitu Athrun tidak akan segan menembak dan menghunuskan pedangnya pada Kira, walau nyawa menjadi taruhannya.
Keberadaan Lacus di Vesallius membuatnya harus fokus dahulu dengan tunangannya. Namun dia harus ingat kalau dia sedang bertugas. Dia harus profesional. Padahal sejujurnya Athrun khawatir dengan kondisi Lacus. Medan perang bukan tempat Lacus, secepatnya mereka harus kembali atau ada yang menjemput Lacus untuk membawanya kembali ke PLANTs ditambah dia tidak ingin membuat Siegel Clyne khawatir.
"Haro Haro Athrun!" Sebuah bola bundar berwarna pink keluar dari ruangan dan langsung memantul dan meluncur lurus ke wajah Athrun. Langsung dengan refleknya, Athrun menangkap robot itu sebelum mengenai wajahnya. Dia harus memeriksa kembali sensor robot Haro yang dia buat. Tidak menyangka akan sesensitif itu. "Lacus…" ucapnya sambil menghela napas karena tahu yang membuka pintu pastinya Lacus.
"Haro nampaknya sangat senang sekali," ucap Lacus yang mendekati Athrun. Mereka berada di ruang tanpa gravitasi. "Setelah sekian lama tidak berjumpa denganmu. Dia sangat senang," ucapnya sambil meraih tangan Athrun.
"Haro tidak memiliki sisi emosi seperti itu," ucap Athrun. Dia ingat benar emosi adalah hal yang paling sulit dimasukkan di dalam robot. Sedangkan selama ini, Lacus bersikeras kalau mereka memiliki perasaan. "Anda adalah tamu di kapal ini namun Vesallius adalah kapal perang. Kumohon jangan terlalu sering pergi keluar dari kamarmu," Athrun tersenyum kecil lalu merangkul Lacus dan membawanya kembali ke kamar.
"Ara."
"Aku terus menerus diberitahu seperti itu setiap pergi. Sama sekali tidak menyenangkan," ucap Lacus.
"Tidak dapat dipungkiri. Masalahnya posisimu sekarang adalah demikian," ucap Athrun. Lacus berada di tempat perang dan memang sudah wajar kalau dia tidak bisa sebebas mungkin pergi.
Lacus lalu mendapati Athrun yang melihatnya dengan tatapan kosong namun kelihatannya ada yang ingin ditanyakan padanya. "Ada apa Athrun?" tanya Lacus.
"Aku tidak, aku hanya penasaran, bagaimana perasaanmu? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Athrun pada Lacus. "Ya..kau dijadikan sandera dan banyak hal yang terjadi," ucap Athrun. Dia khawatir dengan kondisi Lacus. Baik secara fisik dan mental. Perang bukan tempat untuk wanita selembut Lacus. Dia bisa hancur karenanya.
Lacus memberikan senyum manisnya, "Aku baik-baik saja terima kasih."
"Temanmu yang berada di kapal tersebut memperlakukanku dengan baik selama disana,"
"Oh begitu,"
"Tuan Kira orang yang sangat baik dan juga kuat,"
"Dia itu bodoh. Dia bersikeras kalau dia bukan tentara namun tetap mengendalikan mesin itu. Di aitu hanay diperalat. Dengan menggunakan alasan karena ada temannya seperti yang dia katakan apapun itu. Hanya karena kedua orang tuanya Naturals, maka karena itu dia….-"
"Dia bilang dia lebih baik memilih untuk tidak bertarung denganmun,"
"Aku juga sama! Siapa juga yang menginginkan hal itu!?" seru Athrun setengah membentak.
"….." Lacus diam. Hanya menatap Athrun dengan tatapan kosong.
Athrun lalu sadar kalau dia sudah salah tempat. Dia melampiaskan kekesalannya pada Lacus yang tidak tahu apa=apa tentang kondisi dia. "Aku minta maaf," ucap Athrun. "Dan aku permisi dahulu,," ucapnya sambil membalikkan badannya menuju pintu keluar.
"Akhir-akhir ini ekspresi wajahmu selalu terlihat dingin," ucap Lacus sebelum Athrun keluar dari kamarnya.
Rasa sakit muncul di hati Athrun. Ingin rasanya dia mengumpat karena sudah terlalu banyak yang dia pendam namun dia tidak bisa. Tidak, terutama di hadapan Lacus. "Aku tidak bisa bertempur dengan senyuman di medan perang," ucap Athrun dan pintu itupun tertututp. Athrun segera meninggalkan ruangan Lacus. Namun setelahnya dia memukul dinding. Dia kesal. Dia tidak bermaksud melampiaskan kekesalannya pada Lacus. Lacus tidak salah sama sekali. Namun, Lacus tidak tahu konflik yang terjadi antara dia dan Kira. Lacus tidak tahu masa lalu Athrun dan Kira. Kira sudah mengkhianati kepercayaan Athrun. Itu yang Athrun lihat sekarang. Athrun berubah dia akui hal itu. Dunia dia sudah berbeda dengan dunia Lacus. Tidak mungkin dia maju ke medan perang atau bekerja di pangkalan dengan hati rian penuh senyum manis. Mereka sedang ada dalam situasi tegang. Mereka sedang perang. Tidak ada canda tawa dalam perang. Di medan perang hanya ada tangis, amarah, jeritan, luapan emosi yang tidak terkontrol dan Athrun sudah siap dengan konsekuensi tersebut.
Setelah memastikan Lacus kembali ke PLANTs dengan selamat Athrun kembali pada tugasnya. Namun sebelumnya Lacus mengucapkan kalimat yang membuatnya agak kesal. "Apa yang sebenarnya harus kita lawan dalam pertempuran? Perang sungguh sulit ya?" ucap Lacus kalai itu. Naif. Pemikiran Lacus sangat naif dan terlalu lugu buat Athrun. Tapi dia tidak ingin mempermasalahkan itu. Athrun sudah tahu apa yang harus dia lawan. Siapa yang harus dia lawan. Siapa musuhnya. Dia sudah tahu itu semua.
Kira berada di bumi. Itu yang Athrun tahu. Yzak dan Dearka juga. Merekat tertarik oleh gaya gravitasi bumi. Mau tidak mau Athrun dan Nicol menyusulnya. Tidak, itu sudah tugas mereka. Mereka harus menghancurkan dan menggagalkan ashitsuki untuk bergabung di pangkalan utama Earth Alliances, JOSH-A Alaska. Koordinat mereka meleset. Kelihatannya mereka mengejar Strike dan mempertaruhkan unit itu. Athrun kesal. Karena sekali lagi, Kira masih berada di mesin itu.
Athrun kembali ke PLANTs. Dia dan Nicol mendapatkan kesempatan untuk mempersiapkan diri mereka. Athrun tentunya kembali untuk memenuhi janjinya pada Siegel Clyne. Siegel sempat menyayangkan karena kesibukan Athrun dan lacus mereka berdua jadi darang bertemu. Siegel mendukung hubungan mereka dan Athrun bisa lihat kalau Siegel ingin Athrun menjalani hubungan ini. Walau rumor beredar Ayahnya dan Siegel memiliki sudut pandang yang berbeda. Athrun tidak ingin mengecewakan keduanya dan juga Lacus. Tidak lupa dia juga memenuhi undangan Nicol untuk datang ke konsernya di akhir pekan. Sungguh suatu kehidupan manusia biasa pada umumnya.
"Maaf aku tidak dapat hadir di upacara peringatan," ucap Athrun.
"Tidak apa," ucap Lacus sambil menyuguhkan secangkir teh pada Athrun. "Aku juga mendakan ibumu sebagai bagianmu juga," tambahnya.
"Terima kasih."
"Ketika aku mendapat kabar kalau kau kembali aku sangat senang dan sangat menantikan kunjunganmu," ucap Lacus. "Apakah kali ini kau dapat tinggal lebih lama?" tanyanya.
"Aku sendiri tidak yakin," ucap Athrun. "Jadwalku untuk mengambil libur atau istirahat tidak pernah menentu," tambahnya.
"Aku paham, bahkan akhir-akhir ini tingkat masyarakat yang daftar ke militer meningkat," ucapnya. "Beberapa temanku juga ada yang sukarela menjadi tentara. Kelihatannya perang hanya semakin membesar."
"Mungkin kau benar dalam hal itu."
Lacus hendak meminum tehnya namun dia teringat sesuatu. "Oh iya ngomong-ngomong bagaimana kabar Tuan Kira? Apakah kau bertemu dengannya setelahnya?" tanya Lacus tiba-tiba.
Iris emerald itu membuat sempurna. Athrun terkejut Lacus tiba-tiba bertanya mengenai Kira. Athrun bingung menjawabnya. Lacus bertanya seakan-akan mereka bertemu di jalan atau di taman atau tempat santai lainnya. Mereka ada di medan perang tidak mungkin mereka saling bertegur sapa mengatakan 'hai' atau 'halo' bahkan menanyakan kabar. "Aku rasa dia ada di bumi. Dan kelihatannya dia baik-baik saja," ucap Athrun.
"Kudengar kalian sudah bersahabat sejak kecil?"
"Iya begitulah. Sejak kami berumur sekitar empat atau lima tahun. Setelahnya kami selalu di Bulan sebelum akhirnya ada tanda kalau perang akan terjadi. Aku mematuhi perintah Ayah dan lebih dulu kembali ke PLANTs. Padahal aku dengar dia akan menyusulku setelahnya."
"Aku berbicara kepadanya mengenai Haro dan dia mengatakan kalau kau tidak berubah. Dia tertawa dengan gembira sambil memberitahu kalau Torii miliknya juga buatanmu," ucap Lacus sambil memperhatikan burung yang hinggap di jarinya. "Tuan Kira sangat menjaga dan merawatnya dengan sangat baik.
"Dia masih memilikinya?" Athrun tidak percaya. Kira yang dia tahu sangat membenci Micro units.
"Iya, aku melihatnya beberapa kali berdiam di bahunya," ucap Lacus meyakinkan Athrun.
"Oh begitu," Athrun tidak menyangka. Dia merasa senang namun apakah pantas dia merasa senang karena sahabatnya masih menjaga pemberiannya namun sekarang mereka ada di sisi yang berseberangan.
"Aku menyukai sosoknya itu," ucap Lacus sambil menatap pemandangan dihadapannya. Tidak mempedulikan ekspresi Athrun yang terkejut.
Seketika napas Athrun terhenti. Dia merasa sesak. Padahal dia wajar kalau dia dan Lacus tidak saling mempermasalahkan hubungan mereka. Mereka tahu kalau mereka terikat oleh takdir data dan Athrun bisa paham kalau suatu hari mereka tidak terikat dengan perasaan. Namun ternyata Athrun menginkan sebaliknya. Tanpa dia sadari, Athrun ingin memiliki perasaan Lacus. Ingin perasaannya disambut gadis itu. Setelah berbagai macam hadiah serta kunjungan minum teh dan makan malam yang tak terhitung, sesekali datang ke acara gadis itu, ternyata itu belum cukup. Gadis itu melihat sosok yang lain namun itu bukan Athrun. Athrun tidak ingin melampiaskan kekesalannya. Dia kenal Lacus lebih dulu daripada Kira. Dia sudah menang beberapa langkah. Athrun Zala baru menyadari kalau dia menyukai Lacus Clyne. Di hati kecilnya dia berharap Lacus dan Kira tidak bertemu lagi.
"Sangat disayangkan, padahal aku berharap kau bisa ikut makan malam," ucap Lacus sambil menemani Athrun ke pintu utama kediaman Clyne.
"Aku minta maaf," ucap Athrun.
"Ayah akan segera pulang setelah dewan dibubarkan. Ayah sangat ingin bertemu denganmu," ucap Lacus.
"Ada beberapa hal yang harus kerjakan terlebih dahulu," ucap Athrun. Dia merasa tidak nyaman karena sudah menolak undangan makan malam dan tidak bertemu dengan Siegel tapi dia adalah tentara. Dia harus memprioritaskan tugasnya. "Hal itu karena aku akan jarang kembali kemari," tambahnya. Dia akan ke bumi dan tidak tahu kapan akan kembali lagi ke PLANTs
"Oh begitu, sangat disayangkan," ucap Lacus yang terdengar sangat sedih.
"Kalau aku ada waktu, aku akan datang berkunjung," Athrun segera mencoba menghibur gadis itu. Dia tidak ingin mengecewakan Lacus. Dia juga tidak ingin mengecewakan keluarga Zala dan keluarga Clyne.
"Benarkah!? Kalau begitu aku akan menunggumu!" seru Lacus senang.
Melihat ekspresi dan intonasi Lacus yang terlihat senang, Athrun berharap. Dia berharap masih ada kemungkinan dia ada di dalam hati Lacus Clyne. Tidak, dia melihat masih ada kesempatan itu. Lacus masih mengingat hubungan mereka. Rasa suka Lacus pada Kira bisa saja hanya suka, kagum, atau menghormatinya Athrun seharusnya tahu benar sifat Lacus. Athrun lalu memberanikan diri. Sebagai bukti atau penjamin kalau cahayanya akan selalu ada untuknya. Dia mencium pipi Lacus dan Lacus menyambut dan mengizinkannya. Iya, bukti dan jaminan kalau Athrun masih ada tempat untuk pulang.
"Selamat malam," ucap Athrun.
"Selamat malam," balas Lacus.
Misi pertamanya di bumi tidak diduga oleh Athrun. Dia menjadi komandan untuk timnya dan sialnya baru beberapa hari dia di bumi dia sudah diserang dan terdampar di sebuah pulau tidak berpenghuni. Dia tidak bisa gegabah walau dia menggunakan Mobile Suit. Koordinat area dia terdampar tidak terdeteksi akibat N-Jammer sehingga dia harus menunggu. Untungnya dia tidak sendirian, dia ternyata terdampar dengan seseorang yang menyerang kapal angkutnya. Hal yang tidak dia sangka orang yang menyebabkan dia terdampar adalah wanita. Terdampar di pulau tak berpenghuni dengan seorang wanita bukan situasi yang menyenangkan. Untungnya wanita itu hanya seorang gerilyawan sehingga Athrun tidak perlu buang tenaga untuk menjadikannya sandera.
Wanita atau anak gadis yang mengaku bukan dari pihak mana-mana itu memiliki pola pikir yang menarik. Seketika dinding atau topeng Athrun sebagai tentara pun runtuh walau gadis itu berkomentar seharusnya Athrun tidak membiarkan dirinya lengah karena bisa saja gadis itu menyerang dirinya. Athrun tertawa. Sudah berapa lama dia tidak tertawa tapi gadis yang ada dihadapannya ini menarik. Dia sungguh penuh dengan rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi. Namun Athrun tahu, wanita tetaplah wanita Athrun dididik untuk bersikap baik. Tidak mungkin dia membiarkan gadis itu kelaparan dan kedinginan karena pakaiannya basah, dia tidak setega itu. Namun karena sekarang dia dan gadis itu ada di medan perang maka Athrun juga memberikan kondisi pengecualian.
Gadis itu menarik. Padahal dialah penyebab Athrun terdampar namun dia dengan mudah membuat Athrun cerita alasan dia bergabung dengan ZAFT dan ditambah lagi gadis itu membuatnya tertawa. Sungguh suatu hiburan sebelum misi yang memberatkan. Namun ternyata sekalinya musuh memang tetap musuh. Athrun lengah. Gadis itu mengambil senjata apinya. Namun yang ada dihadapan Athrun bukanlah sosok gadis pemberani yang siap menarik pelatuknya. Namun gadis yang ketakutan, cemas, dan tidak yakin akan kedamaian dan akhir dari perang. Iris amber itu terlihat bercahaya namun ada kesedihan dan sendu di baliknya. Tidak menyala seperti saat gadis itu berdebat dengannya. Kondisi gadis itu tidak stabil Athrun tahu. Dia salah langkah maka dia atau gadis itu akan terluka. Dia tidak ingin gegabah.
"Aku tidak akan menembakmu! Tapi kau akan mengendalikan mobile suit itu dan menyerang bumi bukan!? Aku tahu kalau ORB salah dengan membuatnya namun Mobile Suit itu mengancam bumi dan menyebabkan banyak orang terbunuh!" ucap gadis itu ditengah tangis dan paniknya.
"Kalau begitu tembaklah aku," ucap Athrun. "Aku lah yang bertanggung jawab menarik pelatuk di Mobile Suit itu. Aku adalah Pilot ZAFT, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh mesinku," ucap Athrun mantap padahal mesin yang dia gunakan sudah jelas merupakan mesin hasil curian.
"Apabila kau memaksa memakai senjata api itu. Maka aku akan membunuhmu," ucap Athrun tegas. Dia tidak ingin menyerang dan membunuh wanita apalagi gadis yang ada dihadapannya ini bukan siapa-siapa dan Athrun tidak mengenalnya. Tidak ada dendam atau masalah diantara mereka.
Diluar perhitungan Athrun gadis itu melempar senjata apinya. Dia langsung reflek melompat untuk melindungi gadis itu. Sungguh suatu perbuatan yang bodoh. Athrun sudah tahu kondisi kejiwaan gadis itu tidak stabil dan tidak menyangka kalau dia sangat tidak stabil.
"Apa kau tidak waras dengan melempar senjata api setelah menarik pelatuknya!?" tegur Athrun kepada gadis yang ada dibawahnya. Iya, dia melompat dan melindungi gadis itu dengan tubuhnya. Dia meringis ada rasa sakit di pinggangnya namun emosi kesalnya membuat dia dapat menahannya. "Tidak dapat dipercaya. Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang ada dipikiranmu!" seru Athrun kesal Gadis ini sama sekali tidak tahu diuntung padahal Athrun sudah menolongnya dan berbagi makanan.
"Ah ya…soalnya…" gadis itu lalu melihat luka di pinggang Athrun. "Apakah itu akibat kejadian tadi?"
"Ini bukan apa-apa," kilah Athrun. Dia tidak ingin berdebat. Dia sudah lelah. Terdampar, bersama seorang gadis keras kepala, dan sekarang cedera karena kecerobohan gadis itu.
"Harus segera diobati," ucap gadis itu panik. Dia mengikuti Athrun yang mengambil tas perlengkapannya.
"Tidak usah khawatir," ucap Athrun. Dia benar-benar sudah kesal.
"Berikan padaku. Biarkan aku-," gadis itu mengambil tas milik Athrun dan mereka berakhir saling mempererbutkan ta situ.
"Aku bisa sendiri
"Aku akan melakukannya,"
"Biarkan aku!"
"Biarkan aku melakukannya!" seru gadis itu tegas sambil mengambil tas itu ke dalam dekapannya. "Sebelum kamu membiarkan aku melakukan sesuatu untuk bagaimana caranya aku membayar budi semua yang sudah kau lakukan untukku. Paling tidak hal ini yang bisa kulakukan!" ucapnya. Suatu argumen yang menarik setidaknya gadis ini tahu diri kalau Athrun sudah menolongnya malam ini.
Namun Athrun tersadar, kalau dia ada bersama seorang gadis dan gadis yang ada dihadapannya itu hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Kesadaran dan akal sehatnya kembali, kekesalannya hilang. "Ba-baiklah namun sebelum itu bagaimana kalau kau kenakan pakaianmu? "Kelihatannya pakaianmu sudah kering," ucap Athrun malu-malu. Dia seorang pria dan yang ada dihadapannya adalah seorang wanita. Walau dia diajarkan self-control di militer tetap saja siapa yang tidak terkejut melihat seseorang minim busana. Athrun masih ingat sopan santun. Dia keluar membiarkan gadis itu mengenakan pakaiannya dan kemudian mengobati lukanya.
Selama lukanya diobati Athrun memperhatikan gadis itu. Mulai dari gerak gerik hingga penampilannya. Gadis itu tidak seperti gadis yang umumnya Athrun kenal. Bahkan dia berbeda dengan Lacus. Gadis berambut pirang dihadapannya mengingatkan dia pada seseorang. Gadis ini terlalu baik sehingga Athrun penasaran apa yang menyebabkan gadis ini rela menjadi pasukan gerilyawan. Semestinya para pria melarangnya. Perang bukan tempat untuknya. Athrun tahu ada beberapa perwira yang juga wanita namun mereka berbeda. Athrun bisa lihat kalau gadis ini sangat lugu dan naif. Gadis ini maju ke medan perang tanpa tahu apa yang akan dia hadapi walau dia memberikan argumen yang menarik. Mungkin dia termasuk yang keluarganya menjadi korban dari perang. Mungkin gadis ini agak mirip dengan Athrun. Itu yang Athrun pikirkan.
"Terima kasih," ucap Athrun yang lalu menyenderkan punggungnya ke dinding gua. Setidaknya dia tahu sopan santun.
"Iya," ucap gadis itu sambil merapikan tas Athrun. Gadis itu lalu melakukan hal yang sama dengan Athrun. Tidak ada yang berani mengatakan apa-apa, mereka hanya memandang api unggun hingga tertidur.
"Lebih baik kau kenakan selimut itu, anginnya dingin," ucap Athrun. Walau gadis sudah mengenakan pakaian lengkap dengan rompi dan sepatunya Athrun tetap memberikan selimutnya kepadanya. Gadis itu lalu melingkarkan selimut it uke bahunya dan melihat Athrun yang perlahan tertidur.
Fajar pun tiba dan beruntung Nicol memperoleh sinyal darinya dan berhasil menemukan posisi Athrun. Syukurlah dia tertolong. Namun bagaimana dengan gadis itu? Apakah ada yang akan menolongnya? Sungguh tidak diduga apa yang Athrun khawatirkan terjawab. Ada unit lain yang mendekat ke pulau tersebut dari arah yang berlawanan. Athrun hanya berharap kalau mereka datang untuk menolong gadis itu.
"Tim penolong akan kemari dan kelihatannya ada yang mendekat juga dari laut. Arahnya berdekatan dengan arah kapal tempurmu," ucap Athrun santai. Gadis itu terlihat bingung dan khawatir. "Aku akan menyembunyikan mesinku,"
"Eh?"
"Paling tidak ada baiknya kita menghindari pertempuran di tempat seperti ini," ucap Athrun sambil tersenyum. Dia tidak ingin menimbulkan masalah lain apalagi tadi malam suda ada kejadian diantara mereka.
"Um, kalau begitu aku akan ke tempat unitku," ucap gadis itu. "Aku akan bersembunyi sambil melihat keadaan sekitar," tambahnya.
"Oh begitu," ucap Athrun. Sorot matanya melembut dan tersenyum pada gadis itu. Entah mengapa dia merasa tenang. Setidaknya gadis ini tahu bagaimana cara untuk bertahan hidup dan tidak bertindak seceroboh tadi malam. Athrun melihat tatapan matanya yang tenang.
"Kalau begitu," ucap gadis itu segera pergi ke arah kapal tempurnya.
Entah mengapa Athrun merasa dia harus memastikan suatu hal pada gadis itu, "Ano..kau benar bukan anggota Earth Alliances, ya kan?
"Bukan!" jawab gadis itu dengan suara lantangnya.
Mereka bukan tentara namun….pikir Athrun yang teringat dengan Kira.
"CAGALLI!"
Athrun terkejut. Gadis itu menyebutkan namanya. Athrun bingung apakah dia harus menjawabnya? Apa arti dari mereka saling menyebutkan nama. "Kamu?" tanya gadis itu yang ternyata bernama Cagalli.
"ATHRUN!"
Tanpa pikir panjang Athrun menjawab dan menyebutkan namanya. Dia tidak tahu mengapa dia membalas gadis itu namun dia merasa tidak ada salahnya. Toh gadis itu bukan dari pihak Earth Alliances dan setidaknya mereka tidak akan bertemu di medan perang. Begitu pikir Athrun kala itu. Perang dia dan gadis itu berbeda. Dia lalu menuju unit miliknya sambil mengingat nama gadis itu. Cagalli…Cagalli…
Namun Tuhan tidak berpihak padanya. Tuhan memainkan takdirnya dengan kejam. Dia tidak menyangka kalau gadis yang dia tolong itu ternyata adalah putri dari Singa ORB. Cagalli bernama lengkap Cagalli Yula Athha dan lagi gadis itu ada bersama Kira. Gadis itu ternyata ada lingkaran aturan hidup Athrun. Cagalli berada di tempat yang sama dengan Kira, begitu pula dengan Kira. Ingin rasanya Athrun mengumpat karena kenapa semua berpihak pada Kira? Apa yang salah dengannya? Kira ada pihak Naturals. Lacus memberikan perhatian pada Kira. Sekarang, gadis yang dia kira tidak akan menginjak zonanya, Cagalli justru ada di zona itu dan terlebih lagi gadis itu bersama Kira. Apa yang salah dengan jalan yang Athrun pilih? Apa yang salah menjadi bagian dari ZAFT? Apa yang salah memihak Coordinators semata? Namun Athrun tidak bisa menyuarakan hal itu. Dia tidak bisa terang-terangan mengungkapkannya. Dia harus menjadi sosok tentara yang loyal pada tugasnya.
United Emirates of ORB, suatu Negara yang Athrun tidak pernah merasakan kedamaian di dalamnya. Dia menyusup bersama rekannya. Negara yang terkenal dengan posisi netralnya. Negara yang mengaku tidak memihak namun ternyata itu bohong. Heliopolis adalah buktinya. Namun ternyata pulau Onogoro yang merupakan pusat ORB memberikan imej yang berbeda. Pertama kalinya Athrun menginjakkan kakinya di ORB dan dia setuju dengan apa yang Nicol katakana. Negara ini aneh, mereka terlalu tenang dan damai. Seakan-akan tidak melihat kekacauan di luar sana dan seakan-akan semua harmonis dan seimbang. Athrun yakin pasti diam-diam ada yang Anti-Coordinators atau Anti-Naturals yang tinggal di ORB demi keamanan mereka. Negara ini terlalu bersih dan terlalu naif. Mungkin kalau PLANTs damai, inilah yang terlihat. Tapi ORB berbeda. Mereka hidup berdampingan, dua ras itu. Apakah Athrun perlu mempercayainya? Kalau mereka bisa hidup berdampingan? Kalau jalan yang Kira pilih itu tidak salah? Negara ini terlalu banyak topeng. Seperti halnya Cagalli Yula Athha, kenaifan dan kejanggalan ORB terlihat jelas dari sosok gadis itu. Athrun memang tidak pernah tahu mengenai putri dari singa ORB itu. Media manapun tidak pernah meliputnya.
Pertemuan dengan Kira di ORB menjadi suatu hal yang mengguncang dirinya. Mereka ingin memastikan ashitsuki ada di ORB dan buat Athrun sosok Kira cukup membuktikannya. Namun yang membuat Athrun gundah adalah Kira menepati janjinya sebagai sahabat. Torii ada. Torii masih bagus dan berfungsi dengan baik. Apa yang dikatakan Lacus benar. Athrun merasa dia jahat. Dia tidak mempercayai Kira, dia meragukan Kira mengenai ikatan mereka. Ikatan persahabatan mereka. Athrun lalu mendekati Kira, berusaha untuk tenang tidak menunjukkan perasaan dan ekspresi apapun. Mereka berdua akhirnya bertemu tanpa balutan besi dari Mobile Suit yang mereka gunakan setiap perang. Bertemu secara langsung seperti saat mereka terakhir kali bertemu namun sayangnya sekarang mereka bukan dibatasi oleh pihak ZAFT atau Earth Alliances atau Mobile Suit, mereka dibatasi oleh sebuah pagar.
"Milikmu?" tanya Athrun sambil menyerahkan Torii. Dia tidak ingin yang lain mengetahui hubungannya dengan Kira. Apakah Athrun ingin melindungi Kira? Tidak tahu. Athrun sudah bersumpah untuk menembak Kira kalau mereka bertemu di medan perang. Namun sepertinya Athrun lagi-lagi masih memperlihatkan sisi baiknya. Dia masih menjaga Kira. Bahkan sekarang dia pura-pura tidak mengenali Kira. Dia tidak ingin yang lain tahu, khususnya Yzak.
"Ah ya," ucap Kira, "Terima kasih". Torii pun melompat ke telapak tangan Kira. Kira mengikuti permainannya. Mereka seakan-akan tidak saling kenal.
Athrun ingat tatapan itu. Tatapan mata lembut Kira yang tidak berubah. Terpancar kesedihan dan kebaikan hatinya. Kira itu terlalu lembut. Dia tidak cocok jadi tentara. Berbeda dengan Athrun yang memang sudah dididik keras oleh Ayahnya.
"Dulu seorang sahabat memberikan ini padaku," ucap Kira sebelum Athrun pergi. "Benda yang sangat penting buatku dari sahabat yang sangat penting," tambahnya.
Athrun yang sempat terhenti karena Kira mengucapkan kalimat itu hanya bisa menjawab, "Oh begitu," Kalimat Kira mengacaukan pikirannya. Namun dia adalah pemuda yang memegang kata-katanya. Dia tidak akan segan menghancurkan Kira dan menjadikan Kira musuh kalau itu memang yang Kira inginkan. Tidak peduli Kira warga sipil atau bukan atau justru sekarang sudah menjadi tentara resmi Earth Alliances, Athrun tidak peduli. Namun ketika dia mendengar suara Cagalli meneriakkan nama Kira, Athrun segera pergi. Dia tidak ingin memperumit masalah.
Walau Yzak dan Dearka meragukannya Athrun tetap bersikukuh kalau target ada di ORB dan mereka akan menunggu. Alasan dan bukti untuk argemennya? Tidak ada. Cukup dia melihat Kira dan hal itu menjawab semuanya. Perlu Athrun jelaskan tentang Kira dan pilot Strike? Tidak perlu. Mereka sudah menjadi musuh. Bahkan rekannya sudah menjadikan mereka target untuk misi mereka. Sambil menunggu Athrun banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, mengenai orang yang datang dan pergi dalam hidupnya. "Namun kamu adalah yang berada di balik pagar itu," ucap Athrun ketika dia mengingat Kira yang ternyata masih menghargai persahabatan mereka. Mungkin terdengar kekanak-kanakan kalau Athrun berpikir Torii rusak karena Kira menganggapnya sebagai pemberian terakhir atau hanya sebatas pembuktian atas pamer kemampuan Athrun namun hal itu sempet terlintas dipikirannya. Ternyata faktanya lain, Kira menjaganya. Sayangnya, Athrun tidak bisa membalas Kira. Kira memihak bahkan sekarang memakai seragam tentara tersebut. Mengapa mereka harus memilih pihak? Mengapa Kira harus memilih para Naturals? Mengapa harus Earth Alliances.
Pikirannya pun beralih kepada seorang gadis yang dia baru temui. "Cagalli Yula Athha kah? Dia benar ketika dia mengatakan kalau dirinya bukan anggota Earth Alliances," ucap Athrun. Athrun langsung berpikir dirinya terlalu naif, dia terlalu terkotak-kotak namun dia sudah memutuskannya. Naturals dan Earth Alliances adalah ancaman untuknya. Athrun hanya tidak menyangka kalau gadis yang dia tolong dan menolongnya juga ternyata adalah seorang putri pemimpin Negara. Athrun tidak habis pikir mengapa gadis keras kepala sepertinya malah memilih jalan yang rumit. Sebusuk itukah ORB di dalamnya? Tapi pertemuannya dengan Cagalli memperlihatkan kalau semua orang ingin berjuang, semua orang ingin perdamaian seperti halnya Athrun namun mereka harus berpihak.
Namun Athrun kecewa. Baik Kira dan Cagalli adalah seseorang yang tidak seharusnya ada disana. Mereka punya perannya masing-masing. Tugasnya masing-masing. Garis depan perang bukan tempat mereka. Kira hanya warga sipil dan Cagalli mungkin bisa dibilang mirip dengan Lacus. Kekecewaan Athrun bertambah ketika dia tahu mengapa semua berpihak pada Kira? Apa yang salah dengan jalan yang dia pilih? Apa yang salah dari langkahnya? Kira memihak Naturals untuk melindungi mereka. Lacus 'memihak' pada Kira. Cagalli ada di 'lingkaran' Kira. Untuk Cagalli Athrun berpikir gadis itu tidak akan memasuki zonanya namun dia salah. Tapi, mengapa semua berpihak pada Kira? Mengapa tidak ada yang melihat dari perspektifnya? Apa yang salah dari sudut pandang Athrun?
"Ketika aku melihat berita mengenai Junius Seven, aku kemudian berpikir kalau aku juga harus ikut bertempur," alasan dari seorang rekan yang mempercayainya cukup buat Athrun. Tujuan dia dengan sang rekan sama. Nicol ada dipihaknya, Nicol percaya padanya. Hubungan mereka memang hanya sebatas rekan kerja namun Athrun berusaha untuk menjalin hubungan yang baik. Mendengar alasan Nicol bertempur Athrun langsung setuju dan mengatakan alasannya sama. Padahal Athrun tidak sadar, ada yang berbeda dengannya dan Nicol. Athrun kehilangan cahayanya saat itu sedangkan Nicol tidak. Perasaan Nicol tulus hanya sebatas melindungi sedangkan Athrun tidak. Kehidupan pribadinya terbawa. Ibunya dan Kira menjadi alasan dia di medan perang dan itu berkaitan denga perasaan Athrun dan berdampak pada keyakinannya akan aturan dan hukum khususnya yang memang diyakini Athrun.
Athrun ternyata terlalu naif. Dia masih setengah-setengah. Dia terlalu keras kepala dengan mempertahankan kata-kata yang dia katakan pada Kira dan juga ucapan Kira. "Ayo tembak aku dan hancurkan aku, seperti yang kau katakana!" tantang Athrun. Dia ingin profesional. Apa yang ada dihadapannya bukan Kira Yamato yang dia kenal. Ketika mereka dipisahkan oleh pagar itu Athrun tahu. Kira hanyalah masa lalunya. Masa lalu yang tidak bisa dia raih dan dia amankan. Namun Athrun melakukan kesalahan. Sikap keras kepalanya justru mematikan cahayanya. Cahaya yang sempat bersinar karena dia pernah berkata kalau dia percaya pada Athrun, Nicol Amalfi tewas ditangan Kira karena melindungi Athrun.
"NICOOOOOL….!"
Kepercayaan itu tidak akan kembali lagi. Senyuman menenangkan itu tidak akan kembali lagi. Lantunan melodi lembut dari piano itu tidak akan Athrun dengar lagi. Sentuhan tangan lembut dan gemulai pada tuts piano itu tidak akan Athrun lihat lagi. Bahkan dia tidak bisa datang ke konser resmi pemuda itu seperti yang pemuda itu rencanakan. Nicol sudah tiada, Yzak dan Dearka yang marah padanya wajar. Athrun lah yang salah. Namun dia berusaha tenang. Yzak membentaknya dan Dearka terpaksa menengahi mereka untuk pertama kalinya. Athrun tidak peduli. Dia harus tegar. He is a perfect soldier, their duty to fight and to fall. Namun seketika tembok itu hancur. Ketika Athrun melihat kertas partitur Nicol yang tersimpan rapi. Memento terakhir dari sang rekan yang bahkan dia belum bisa katakan sahabat. Athrun pun menangis. Dia memukul, memeluk seragam Nicol, dan berteriak mengeluarkan segala emosinya. Mengapa Nicol? Dia tidak sekotor Athrun. Nicol terlalu baik dan terlalu lembut. Berbeda dengan Athrun. Kenapa harus Nicol yang tiada? Sungguh hal yang tidak adil. Dia padahal adalah komandan, dia yang mengatur dan melaksanakan misi, dia yang bertanggung jawab atas nyawa rekannya namun ternyata dia gagal. Mengapa tidak pernah Tuhan sedikitpun berpihak padanya? Apa yang harus Athrun lakukan sekarang?
"Akulah yang seharusny dibunuh! Akulah yang seharusnya terbunuh kala itu! Nicol…..," tangis Athrun. "Semua ini karena sisi lembutku yang dulu tidak langsung menghancurkannya. Kelemahanku itulah yang membunuhmu!" jeritnya. Bukan Kira yang membunuh Nicol namun kelemahan Athrun yang bernama kelembutan yang menyebabkan Kira untuk ada dan membunuh Nicol. Athrun lalu melihat kertas partitur yang berserakan itu. Yang dia tahu, misinya belum selesai dan sebagai catatan tambahan dia harus menghancurkann Kira bukan untuk membalas Nicol namun untuk mencegah korban lain. "Kecuali kamu menembaknya lebih dulu, dia bisa saja lebih dulu menembakmu," ucap Komandan Rau Le Crueset. Kalimat yang sempat tidak dia indahkan, kalimat yang sempat dia buang jauh-jauh karena 'percaya akan ikatan'. "Aku akan membunuh Kira. Kali ini dengan pasti!" itulah resolusi Athrun. Tidak peduli ada yang membencinya atau masa lalunya dengan Kira atau jasa Kira padanya selama ini.
Eye for an eye, tooth for a tooh. Itulah yang terjadi. Mereka saling menyerang, saling mengacungkan senjata. Melukai dan menangis. Athrun sudah termakan api dendam. Namun kali ini bukan karena Lenore. Kali ini adalah Nicol. Athrun harus membalas Kira karena membunuh Nicol. Diapun tidak segan menghancurkan apapun yang menghalanginya. Menghancurkan Skygrasper yang menghalanginya dan menghancurkan Kira. Di akhir Athrun menghancurkan Aegis dan melarikan diri. Entah reflek sebagai tentara atau dia sungguh pengecut masih memiliki nurani atau keinginan untuk hidup, dia melarikan diri dari Aegis sebelum Mobile Suit-nya itu meledakkan diri. Tidak peduli dia sendiri selamat atau tidak namun yang pasti dia masih memiliki nurani untuk hidup. Sungguh perbuatan yang pengecut.
Athrun ditolong oleh Cagalli. Nyawanya diselamatkan oleh seorang putri. Namun pertemuan mereka yang kedua kalinya bukan suatu pertemuan yang menyenangkan. Athrun tidak aneh kalau Cagalli akan kembali mengacungkan pistol kepadanya. Namun, situasi sekarang berbeda, Cagalli menanyakan mengenai Kira. Athrun tidak aneh. Dia sempat melihat gadis itu berlari ke arah Kira ketika dia mengembalikan Kira. Sungguh, dia kesal kenapa semua orang berpihak pada Kira? Kenapa harus keselamatan Kira yang dipertanyakan. "Aku membunuhnya. Aku mencengkramnya dengan Aegis kemudian meledakkan diri. Aku tidak yakin dia bisa selamat," ucapnya dingin padahal hatinya sakit, hatinya terluka ketika mengatakan itu.
Cagalli berkali-kali menanyakan alasan mengapa Athrun membunuh Kira bahkan hingga mengatakan kalau Kira adalah pemuda yang baik dan tidak berhak mati. Kalau begitu apa arti nyawa Nicol dan juga nyawanya? Tapi, gadis ini justru berhasil membuka dinding pertahanan Athrun, Athrun pun mengatakan kalau dia mengenal Kira dan sungguh senang karena Kira tidak berubah sayangnya dia sudah membunuh Kira. Mereka sahabat bahkan terbaik dari sahabat yang ada. Cagalli pun mengatakan kalau tidak logis Athrun membunuh Kira. Emosi Athrun pun meledak dia pun melampiaskan semua emosinya pada Cagalli. Kecewa, frustasi, marah, sedih, semua dia tumpahkan padahal gadis itu juga dalam kondisi yang sama. Mereka berduka.
"Seseorang dibunuh karena membunuh seseorang, kemudian dia dibunuh karena membunuh. Apakah pada akhirnya hal itu akan membawa pada perdamaian!?"
Tangis serta jeritan Cagalli pada Athrun menyadarkannya. Dia sudah membuat suatu kesalahan. Apa yang terjadi seperti apa yang dituliskan dalam Codex Hammurabi. Eyes for an eyes, tooth for a tooth. Karena nyawa Nicol diambil Kira, maka Athrun mengambil nyawa Kira. Lalu siapa yang akan mengambil nyawanya? Cagalli? Tapi gadis itu tidak melakukannya. Dia menolong dan memberikan Athrun kesempatan hidup. Athrun merasa hina. Dia pendosa. Dia seperti Thanatos atau Anubis. Memutuskan siapa yang dia bunuh. Orang mungkin melihatnya seperti pahlawan namun dibalik semua itu dia mengambil nyawa. Namun mungkin dia lebih hinda dari Thanatos atau Anubis, karena dia 'salah' mengenai keadilan dan keyakinannya. Bahkan dia pengecut karena masih ingin hidup.
Namun nasi sudah menjadi bubur, Kira sudah tidak ada dan hanya meninggalkan kesedihan yang entah kapan bisa hilang dari hati Cagalli dan juga Athrun. Tatapan kosong Athrun mengkhawatirkan Cagalli. Cagalli seperti tidak suka melihat Athrun berada di kondisi tersebut. Mereka hanya anak-anak berusia enam belas tahun yang seharusnya tidak merasakan seram dan sedihnya karena perang. Athrun juga manusia, dia pasti sangat berduka sekarang. Ibunya meninggal di Bloody's Valentine karena berada di Junius Seven dan sekarang sahabatnya tewas dan kenyataan yang paling miris adalah tewas ditangannya sendiri. Ingin rasanya Cagalli mengatakan kalau semua akan baik-baik saja atau dia memaafkan Athrun, tapi sepertinya Cagalli bukan orang yang tepat untuk mengatakan hal itu. Akhirnya, tidak peduli dia seorang ZAFT dan seorang Zala, Cagalli memberikan kalung jimat Haumea pada Athrun. Dia berharap tidak ada lagi yang terluka dan tewas karenanya, khususnya Athrun. Dewi Haumea? Ingin rasanya Athrun tertawa dan marah. Mengapa sekarang gadis ini malah memohon perlindungan seorang Dewi dan mendo'akannya? Padahal Athrun sendiri tidak yakin dengan keadilan Tuhan padanya. Bahkan dia mempertanyakan mengenai keyakinannya akan Tuhan setelah Ibunya meninggal.
Ingin rasanya Athrun merutuk karena setelahnya dia merasa hidupnya kosong. Dirinya semakin terombang-ambing setelah mendapatkan 'do'a' dari Dewi Haumea. Dia mendapatkan penghargaan ORDER OF THE NEBULA. Dipindahkan ke divisi khusus FAITH. Kembali lagi PLANTs. Padahal dia tidak memenangkan sebuah misi khusus atau misi besar. Penghargaan itu didapat karena dia mengalahkan dan membunuh musuhnya yaitu Strike Gundam yaitu sahabatnya, Kira Yamato. Iya, dia mendapat penghargaan karena menghancurkan sahabatnya. Sungguh miris.
Seharusnya dia senang. Seharusnya dia bangga dan bisa memperlihatkan keberhasilannya pada sang Ayah seperti yang sering dia lakukan waktu kecil. Namun Athrun merasa ada yang salah. Dia kembali dengan membawa duka. Kematian Nicol dan juga Kira. Dosa dia besar. Entah bagaimana dia harus mengatakan dan berekspresi seperti apa kalau bertemu dengan keluarga Amalfi dan Clyne. Lacus, pikiran Athrun terfokus pada sosok tunangannya. Dia ada tempat pulang. Dia ada tempat untuk beradu. Tempat itu bernama Lacus Clyne. Tapi mengapa Athrun tidak senang? Bukankah seharusnya dia sangat menantikan pertemuannya dengan Lacus? Bahkan Lacus mengatakan sangat menunggu kedatangan Athrun di kediaman Clyne. Apakah karena dia merasa tidak pantas bertemu dengannya? Karena dia sudah menjadi pembunuh dan pendosa? Karena dia sudah membunuh Kira dan Lacus sempat bilang dia suka dengan Kira? Tapi Athrun adalah tentara, wajar kalau ada nyawa yang diambil olehnya. Termasuk nyawa sang sahabat.
Tidak disangka kepulangannya justru ditengah sebuah kekacauan. Pemimpin Negara sebelumnya yang sempat dia percaya berkhianat. Clyne berkhianat. Athrun tidak percaya. Siegel Clyne dan Lacus Clyne mengkhianati PLANTs. Athrun tidak percaya. Lacus membantu mata-mata adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Lacus terlalu polos untuk melakukan itu. Lacus dalam 'aturan' Athrun adalah gadis yang manis yang lugu dan selalu menunggu kehadiran Athrun yang selalu membawakannya hadiah. Suara tawa manis lembut dan nyanyian, itulah Lacus. Mungkin mereka kecewa karena PLANTs mengembangkan Mobile Suit dengan N-Jammer Canceller, Athrun bahkan sempat protes karena mereka sudah berjanji untuk tidak akan menggunakan segala teknologi yang berkaitan dengan Nuklir. Tapi apakah Lacus sampai harus membantu mata-mata dan memberikan unit baru itu?
Tanpa persetujuan Athrun sang Ayah yang sudah menjadi chairman terbaru mengatakan kalau Clyne sudah tidak ada hubungan lagi dengan mereka bahkan status tunangan itu sudah dianggap tidak ada. Athrun pun mendapat misi khusus. Misi untuk merebut unit baru itu walau nyawa taruhannya. Athrun ingin bertanya pada Ayahnya lebih lanjut tentang masalah yang terjadi selama dia tidak ada namun sorot mata Ayahnya sama seperti yang dulu Athrun lihat. DIngin dan tegas serta amarah. Merasa tersesat dan bingung, Athrun pergi ke kediaman Clyne. Tempat yang dulu sering menjadi tempatnya pulang untuk berkeluh kesah, tempat yang Athrun harapkan bisa menjadi cahayanya.
Hancur. Itu yang Athrun lihat. Nampaknya apa yang diberitakan benar. Clyne berkhianat. Tempat yang dulu indah, rapi, dan cantik itu sudah hancur porak poranda. Bahkan sudut ruangan tempat dia menghabiskan waktu dengan Lacus pun rusak. Kelihatannya para tentara mengejar mereka hingga tidak peduli serusak apa rumah mereka. Athrun tidak menyangka kalau dampaknya separah ini. Lalu dimana mereka? Dimana Tuan Siegel? Dimana Lacus? Apakah mereka baik-baik saja? Haro berwarna pink yang menjadi memento Athrun akan hubungannya dengan Lacus pun dia bawa dan kalau insting Athrun benar maka tempat dia untuk bisa bertemu dengan Lacus hanya ada satu, White Symphony.
Entah apakah karena dia punya 'ikatan' dengan Lacus ataukah instingnya sebagai coordinator atau karena dia beruntung. Athrun menemukannya. Sang cahaya yang Athrun kira dapat menjadi harapan Athrun. Namun, ekspresi apa yang harus Athrun perlihatkan? Senyum manis seperti yang sering dia perlihatkan sebagai tunangan dari Lacus Clyne yang berkunjung ke kediaman Clyne untuk menghabiskan waktu dengan minum teh? Atau dia harus menunjukkan wajah tegas dan penuh waspada seperti seorang tentara ZAFT Red Coat yang siap bertugas dan menembak atau melawan musuhnya? Sayangnya, dia memilih pilihan kedua. Dia harus curiga dan itu adalah hal yang normal. Lacus ada di panggung itu. Mungkin dia menunggu Athrun dan sambil mengenang tempat terakhir yang mungkin tidak akan pernah dia injak lagi.
"Aku yakin kau akan membawanya," ucap Lacus ketika Haro pink itu tiba di pangkuannya. Oke sepertinya Athrun harus lebih curiga. Gadis itu sudah merencanakan sesuatu. "Terima kasih banyak," tambah Lacus.
Gadis itu ada disana. Lengkap dengan gaun konser yang sering Athrun lihat dan masih dengan senyum tulus serta suara lembutnya yang menenangkan. "Lacus?" tanya Athrun.
"Ya?" suaranya yang lembut seperti biasa namun Athrun tahu ada yang sedikit berbeda.
Tanpa mempedulikan tangan yang terluka dan badan yang mungkin masih merasakan rasa nyeri serta senjata api di tangannya yang tidak cedera, Athrun melompat dengan mudahnya ke atas panggung yang mungkin memiliki tinggi hampir dua meter itu."Apa maksudmu dengan semua yang sudah terjadi?" ucapnya.
"Kamu datang kemari karena sudah mendengar apa yang telah terjadi, bukan?" ucap Lacus dengan tenang.
Nafas Athrun tercekik, Lacus tahu apa yang Athrun maksud. Padahal dia selama perjalanan berharap kalau Lacus hanya diperalat atau hal lainnya. "Lalu kalau begitu apakah itu benar!? Kau membantu mata-mata!?" seru Athrun lagi. "Mengapa kamu melakukan hal itu!?" dirinya tidak ingin mengakui kalau sosok yang dia kira sudah seiya sekata dengannya itu ternyata melakukan hal yang membahayakan.
"Aku tidak pernah membantu mata-mata," ucap Lacus lagi.
"Eh?" Athrun bingung namun ada sedikit harapan kalau dia hanya berprasangka buruk.
"Aku hanya membantu Kira dengan memberikannya sebuah pedang baru," ucap Lacus. "Kira sangat membutuhkan benda tersebut dan dengan berada di tangan Kira maka benda itu pasti digunakan dengan baik sesuai dengan tujuannya,"
Iris emerald itu imembulat. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Kira? Apa sekarang Kira hendak menghantuinya dari alam kematian dengan memanipulasi otak tunangannya? Apakah Kira tidak puas nyawanya dia ambil? Apakah Kira hendak membuatnya tidak waras sehingga dia bunuh diri dan menyusul Kira? "Kira?" Athrun tidak percaya nama sahabatnya keluar dari mulut Lacus. Seakan-akan pemuda itu masih hidup. "Apa maksudmu? Kira dia-"
"Kamu membunuhnya bukan?" ucap Lacus tegas.
"Ukh.." Athrun bingung harus menjawab dan menelaah dari sisi mana. Darimana Lacus bisa tahu kalau dia 'membunuh' Kira?
"Tidak perlu khawatir. Kira masih hidup," Lacus sekarang tersenyum. Seakan-akan dia juga ingin menenangkan kesedihan Athrun.
"PEMBOHONG!" frustasi dan kekesalan Athrun memuncak. Dia tidak bisa berpikir jerniih. Dia pun langsung mengarahkan senjata api yang sedari tadi dia pegang ke hadapan tunangannya itu. Tangannya bergetar. Perasaan Athrun tidak karuan. Kesal, frustasi, marah, sedih, dan kecewa. Dia sendiri tidak percaya kalau dia akan mengarahkan pistol kepada gadis yang selalu tersenyum untuknya itu. "Apa arti dari semua ini, LACUS CLYNE!?" ucap Athrun, memberikan penekanan pada nama sang tunangan. Mencoba mengontrol emosi yang sudah meluap tidak karuan. "Apa yang kamu katakan tidak masuk akal sama sekali!" bantah Athrun. Iya, dia mencengkram Kira tepat di bagian badan Strike dan kokpit. Tidak mungkin Kira berhasil kabur apalagi Athrun melihat dengan jelas kalau kokpit itu sudah rusak. Tidak ada pelindungnya. "Dia…tidak mungkin dia ada kemungkinan untuk hidup!"
"Reverend Malchio membawanya kepadaku. Kira juga memberitahu kalau dia bertarung denganmu," ucap Lacus lagi dengan tenang.
Lacus bisa lihat kalau Athrun kacau. Pikiran pemuda itu sudah mulai tidak tertata. Semuanya sudah berada di luar 'logika' dan 'aturan' Athrun. "Kamu tidak mempercayai kata-kataku?" tanya Lacus. Athrun hanya diam dengan sorot mata bingung dan sedih. Kelihatan kalau kenyataan akan dia 'membunuh' sahabatnya sangat menyakitinya hingga dia ingin menyangkalnya.
"Lalu kalau begitu apakah kamu mempercayai apa yang kamu lihat dengan matamu sendiri?" "Di medan perang setalah sekian lama kamu pergi meninggalkan PLANTs. Apakah kamu tidak menyadari sesuatu?" ucap Lacus lagi. Kata-kata Lacus menusuk dan terekam di pikiran Athrun. Perlahan dia menurunkan senjata apinya. Dia mencoba mengutak-atik dan menyusun potongan-potongan ingatan yang dia lihat selama ini. Nicol, Ayahnya, serta pengembangan mobile suit yang justru sudah diluar Junius Treaty.
"Lacus…"
"Athrun apa yang sebenarnya kamu percayai dan lawan? Medali yang kamu peroleh? Atau hanya perintah Ayahmu semata?" ucap Lacus yang sekali lagi menusuk perasaan Athrun. Benar yang Lacus katakan. Apakah dia hanya untuk menunaikan tugas demi penghargaan sebuah medali? Atau demi sosok sang Ayah yang ternyata sudah dia tidak bisa panggil Ayah setelah kematian Ibunya?
"Lacus!" Athrun tetap ingin menyangkalnya. Dia bingung harus mengatakan apa.
"Kalau hal tersebut memang benar demikian, maka Kira sekali lagi akan menjadi musuhmu. Begitu juga dengan diriku," ucap Lacus tenang, seakan-akan sudah siap dengan konsekuensi tersebut. Sedangkan Athrun tidak percaya kalau Lacus akan mengatakan hal itu dengan mudah dan santai.
Lacus lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Athrun. "Apabila kamu mengatakan aku adalah musuhmu. Maka apakah kau akan menembakku? Athrun Zala dari ZAFT!" tanya Lacus tegas.
Sorot iris biru langit pucat itu sangat menyala dan menusuk. Tatapan Lacus penuh dengan ketegasan dan keyakinan kalau apa yang dia lakukan dan apa yang dia katakan benar dan tidak salah. Dia tidak memperlihatkan rasa takut. Apa yang Lacus katakan benar. Athrun tidak lebih dari seorang tentara. Selama ini dia sudah menjadi tentara. Dirinya sudah menjadi bagian tentara dan dia bukan Athrun yang Lacus kenal dan mungkin yang Kira kenal juga. "Aku…aku…," keraguan muncul dalam diri Athrun.
Belum sempat dapat menjawab pertanyaan Lacus, mereka dikepung oleh agen intel PLANTs. Mereka mengaku memiliki misi untuk menangkap bahkan membunuhnya. Athrun tidak percaya. Hal itu bukanlah hal yang PLANTs -ralat manusia- lakukan. Terutama karena Siegel dan Lacus bukanlah orang sembarangan. Perintah untuk eksekusi terlalu konyol. Athrun pun menolong Lacus. Dia masih mempunyai nurani. Namun, pertama kalinya Athrun melihat korban dari pihaknya sendiri coordinator yang diserang oleh pihak coordinator juga. Ternyata perang dan konflik yang terjadi seudah sampai hingg titik penyelesaian ini untuk PLANTs.
"Kira ada di bumi." "Bagaimana kalau kusarankan kamu untuk berbicara dengannya? Dengan sahabatmu." Itu adalah kalimat terakhir yang Athrun dapat sebelum dia berpisah dengan Lacus. Berpegang dengan pedang keadilan yang baru walau masih berbalut seragam Red Coat ZAFT dengan 'bangga' Athrun memutuskan mencari Kira Yamato walau dia tidak tahu ada dimanakah sahabatnya itu.
Athrun memutuskan untuk ke area kepulauan Polinesia. Tempat dia dan Kira terakhir bersiteru dan juga tempat dia ditolong oleh Cagalli. Awalnya dia hanya ingin memastikan dengan mata dan kepalanya sendiri, sekacau apakah konflik dan kerusakan yang dia akibatnya serta mencari petunjuk. Mungkin saja ada tanda dari Kira atau unit yang dia cari. Puing-puing Aegis dan beberapa bagian dari Strike berada di tempat itu. Tanpa disadari dia melihat anak-anak yang bermain di puing tersebut. Dia baru sadar kalau pulau tersebut adalah pulau tempat Reverend Malchio tinggal, Pulau Marshall yang ternyata dekat dengan United Emirates of ORB. Tidak disangka kalau dia sudah sejauh itu.
Tendangan dan sebuah sumpah kecil dari seorang anak memperlihatkan Athrun. Kalau perang, medan perang tidak selalu antara dua pihak semata. Namun pasti ada pihak ketiga yang dirugikan salah satunya kerabat atau keluarga. Baik itu keluarga dari para tentara ataupun warga sipil yang secara tidak sengaja terseret ke medan perang. Benar apa yang diucapkan Cagalli. Perang yang dibalas dengan kekuatan dan kekuatan hanya merupakan sebuah lingkaran setan dan juga sebuah dosa. Buktinya, Athrun tidak kenal anak kecil itu tapi dia terkena dampaknya. Padahal Athrun tidak kenal siapa orang tua atau keluarga anak itu. Namun Athrun membiarkannya. Dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan anak kecil. Sambil menemani dan mengobrol dengan Malchio, Athrun melihat berita mengenai ORB yang akan diserang oleh Earth Alliances.
Athrun tidak habis pikir. Mengapa harus ORB yang diserang? ORB merupakan negara netral dan tidak ada sangkut pautnya dengan konflik yang ada antara Earth Alliances dan ZAFT. Bahkan ORB tidak terlibat dalam penyerangan di Carpenteria, Panama, maupun Alaska. Athrun pun memutuskan untuk melihat situasi. 'Apakah Cagalli baik-baik saja?' Athrun sempat terpikirkan hal itu namun mengingat sisi keras kepala dan harga dirinya yang tinggi Athrun yakin gadis itu tahu apa yang harus dia lakukan. Gadis itu tahu seperti apa medan perang. Athrun memegang kalung Haumea yang dikalungkan di lehernya dan segera menuju ke ORB.
Tidak disangka, perang yang terjadi kacau. ORB kewalahan. Mereka tidak sebanding dengan Earth Alliances yang ternyata menggunakan teknologi terbaru mereka yaitu Strike Dagger dan tiga unit baru dari GAT-X series. Athrun kesal, jelas ini seperti menghancurkan lawan yang sudah jelas kalah. Namun ORB tetap berjuang. Di tengah perang yang berkecamuk itu Athrun melihat sosok yang dikatakan masih hidup. Kira. Athrun melihat unit Freedom yang kewalahan menghadapi unit terbaru Earth Alliances. "Freedom…? Kira…!?" ucapnya. Seharusnya Athrun tahu, kalau Kira pasti akan 'pulang' ke ORB dia seharusnya tahu pola itu. Namun, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan 'aturan yang seharusnya', dia melihat sahabatnya yang kesulitan dan langkah apa yang akan dia ambil? Tangannya mengeratkan maneuver stick yang dia genggam. Kata-kata Lacus kembali menghantuinya. Apakah dia tidak melihat apa yang terjadi? Apakah dia kembali bersikap layaknya tentara? Atau hanya mematuhi perintah yang ada? Athrun memutuskan untuk menolong Kira. Persetan dengan title sebagai anggota khusus FAITH, atau Red Coat, atau ZAFT, atau bahkan tugas maupun misi militer atau berakhir dengan disiplin militer atau penjabutan jabatan. Dia membantu karena dia ingin menolongnya. Sahabatnya yang tak lain adalah Kira Yamato.
Sesuai yang Athrun duga, Kira tidak menerima bantuan itu dengan mudah. Kira tahu loyalitas Athrun ada dimana. Kira mempertanyakan tujuan Athrun. Athrun pun bilang kalau dia melakukannya karena keinginannya sendiri. Mereka berdua pun menyatukan kekuatan dan saling bekerja sama. Sungguh suatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Athrun. Mereka masih satu frekuensi. Mereka masih memiliki ikatan itu. Dengan hanya mereka berdua, mereka berhasil memukul mundur tiga unit itu. Memukul mundur. Bukan mengalahkan. Karena kelihatannya Earth Alliances kembali mempersiapkan kekuatan mereka. Entah apa yang menjadi tujuan mereka mengincar ORB.
Beralasan kalau Kira bukan berada di pihak Earth Alliances dan ZAFT hanya memiliki konflik dengan Earth Alliances, Athrun mengatakan dia tidak punya alasan untuk menyerang Kira dan kru Archangel termasuk ORB. Dia hanya ingin mengambil Freedom dan mengambilnya bisa dengan tanpa menggunakan kekerasan. Kesempatan itu Athrun dan Kira gunakan untuk mengobrol, untuk saling memperjelas posisi keduanya. Sebuah rangkulan hangat dari pihak ketiga, Cagalli memperjelas kalau mereka yang awalnya dari dua pihak yang berbeda dapat bersatu.
Alasan karena ingin melindungi dan karena sudah menarik pelatuk itu, menjadi keyakinan Kira. ORB ternyata memilih untuk tidak menerima kerja sama Earth Alliances dan berakibat mereka diserang. Kira dengan mengatakan, kalau dia sudah lelah dengan kondisi perang memutuskan untuk membantu. Sama halnya dengan alasan Kira yang sebenarnya tidak sengaja dan tidak berniat membunuh Nicol serta sama halnya dengan Athrun yang tidak berniat untuk membunuh Tolle. Padahal target utama Athrun adalah Kira dan Kira adalah Athrun. Jatuhnya dua orang rekan, jelas membuktikan kalau perang adalah suatu hal yang salah. Dia bagaikan lingkaran setan tiada akhir. Semua kacau dan runyam. Athrun lalu teringat dengan ucapan sang Ayah, 'Untuk memenangkan perang ini, maka kekuatan tersebut diperlukan.' Sungguh miris. Athrun paham sekarang. Dia terlalu lama berada di baris depan sehingga tidak melihat apa yang ada di balik layar.
Sambil masih berpegang pada Red Coat yang dia kenakan. Athrun membantu Kira. Dia tidak mengambil langkah seorang tentara ZAFT. Dia mengambil langkah sebagai seorang Athrun. Dia tidak melaporkan apapun kepada pihak ZAFT karena alasan dia sekarang adalah cukup karena ingin melindungi. Namun dia tahu benar kalau dia harus siap dengan konsekuensinya. Sayangnya, hal itu tidak perlu dia pikirkan. Dia dan Kira harus mengamankan ORB. Sayangnya Athrun tahu, ORB tidak punya kesempatan untuk menang. Mereka hanya sebuah Negara dengan teknologi yang terbatas dibandingkan dengan Earth Alliances yang memiliki banyak pasukan dan siap dipanggil kapan saja bila mereka membutuhkan bantuan. Dari segi jumlah, ORB kalah. Semua tahu hal itu.
"….dalang utama dari penyerangan Earth Alliances adalah Leader dari Blue Cosmos, Muruta Azrael. Selain itu, di PLANTs sekarang dikontrol oleh seseorang yang meyakini kalau Coordinators adalah ras yang unggul, yaitu Patrick Zala. Dengan kondisi demikian makan sekali lagi dunia akan menjadi tempat dua pihak yang saling menolak menyadari dan menerima keberadaan satu sama lain. Apakah kalian menerima masa depan itu?"
Perkataan Uzumi kembali membuat Athrun tenggelam dalam pikirannya. Sang Ayah yang sudah berubah memang tidak Athrun duga dan tidak sadari. Namun Athrun juga setuju kalau apa yang Ayahnya lakukan sungguh tidak masuk akal. Athrun menjadi tidak yakin apa yang sebenarnya harus mereka lawan? Apa yang harus mereka perjuangkan? Dengan tenggelam dalam pikiran itu Athrun ikut dengan Kira dan yang lainnya ke luar angkasa dan melihat lautan api United Emirates of ORB.
Kesedihan Cagalli adalah hal yang menyakitkan bagi Athrun. Semua terlalu cepat. Gadis yang dia lihat kuat, keras kepala, dan harga diri yang tinggi itu hancur. Athrun tidak menyangka Uzumi akan mengambil langkah seekstrim itu. Athrun tahu, Uzumi sudah sadar benar kalau kesempatan mereka sangat kecil. Jadi daripada mereka kelelahan dan berakhir mati sia-sia, lebih baik ada yang dikorbankan untuk menyelamatkan yang lain. Sungguh suatu perbuatan yang terpuji namun bukan jawaban yang tepat kelihatannya. Pengorbanan Uzumi membuat Athrun bertanya. Apakah dia pantas bangga sebagai seorang tentara ZAFT? Athrun merasa tidak yakin dengan Red Coat ZAFT yang dia sempat banggakan itu. Apakah dia masih pantas memakainya dan mengatakan kalau dia adalah Athrun Zala dari ZAFT? Namun melihat kesedihan Cagalli, Athrun tahu cahaya Cagalli ada pada Kira. Lagipula sudah sejak awal dia tahu kalau hanya dialah yang berada di dalam kegelapan.
Sebenarnya kabur ke luar angkasa bukanlah pilihan yang benar namun bukan pilihan yang salah juga. Mereka hanya perlu tempat dan orang untuk memihak. Mereka sudah menjadi seperti orang yang dibuang. Sungguh apa yang dilakukan oleh Uzumi Nara Athha malah membuat tugas mereka semakin repot dan sulit? Tugas? Sejak kapan Athrun mengemban tugas yang diberikan ORB? Dia masih mengenakan seragam merah itu dengan bangga. Dia masih ada kebanggaan dengan 'aturan' yang membentuknya. Apa yang dikatakan sang Eagle of Endymion benar. Justru tidak menutup kemungkinan mereka sekarang melawan ZAFT dan apakah Athrun siap? Mwu juga menekankan kalau Athrun terdaftar secara resmi dan meninggalkan tanggung jawab dj tengah misi adalah perbuatan yang tidak dibenarkan bahkan hukumannya bisa berat. Apalagi dengan catatan tambahan, dia anak kandung dan anak tunggal dari Patrick Zala. Sungguh suatu kondisi yang miris. Dia berada di lingkungan yang justru orang-orang itu tidak menyukai Ayahnya dan sekarang dia malah berada dengan mereka berdiskusi dan mengobrol, sungguh perbuatan yang durhaka.
Namun Athrun tidak ingin lama larut, nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah memutuskan untuk mencari jawaban. Mencari 'aturan' dirinya yang baru. "Ketika di ORB…," ucap Athrun, "Ah tidak, ketika di PLANTs dan di bumi aku melihat, mendengar, dan memikirkan banyak hal. Namun manakah yang benar dan mana yang salah? Apa yang aku pahami dan apa yang tidak? Aku bahkan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar seperti itu. Namun yang jelas terlihat buatku, dunia yang aku harapkan dengan dunia yang kalian harapkan sama. Itulah yang aku rasakan," jawab Athrun mantap.
Sungguh suatu kalimat yang hipokrit. Sungguh suatu bualan yang luar biasa. Setelahnya Athrun terdiam. Dia kembali tenggelam dalam pikirannya. Hingga titik dimana dia mencoba kembali. Dia masih mencoba mempercayai 'aturan' yang dia yakini sebagai ikatan keluarga. Dia ingin mencoba berbicara dengan Ayahnya, Patrick Zala sebagai Athrun Zala, anaknya. Alasannya sederhana, dia ayah dan anak dan hanya mereka lah yang dipunya. Patrick hanya punya Athrun dan Athrun hanya punya Patrick. Itu fakta. Walau sang Ayah dianggap sebagai salah satu penyebab perang yang semakin parah.
Dia kembali dengan membuat semua orang terheran-heran. Misi yang tidak tuntas dan kembali memakai kapal tempur Earth Alliances. Sungguh, Athrun tidak peduli dia sudah siap kalau dia harus bertengkar, adu tojos, terkena hukuman militer, bahkan kehilangann nyawanya. Dia sudah siap. Tujuan Athrun hanya satu. Berbicara dengan Ayahnya dan mengetahui tujuan Ayahnya. Namun Kira mengatakan, "Kamu dan aku, kita tidak boleh mati," ucapan itu bagaikan do'a bagi Athrun, cahaya kecil yang muncul di kegelapan Athrun. Athrun lalu meraih lehernya tempat kalung Haumea yang diberikan Cagalli dia kenakan. Entah mengapa dia tidak melepas kalung itu. Kalung yang asal diberikan namun berakhir memilki makna bagi Athrun. Mungkin semenjak diberikannya kalung itu, ada cahaya yang muncul di dalam kegelapan Athrun walau dia belum tahu.
Sesuai dugaan Athrun, sanga Ayah sangat keras. Mereka berdebat. Mereka beradu mulut mengenai apa yang sebenarnya mereka perjuangkan di perang ini. Athrun tidak ingin menjadi anak yang naif, dia kerap menyerang Ayahnya dengan rentetan pertanyaan. Hingga akhirnya Patrick menjawab, "Tentu saja, setelah semua para Naturals binasa dari muka bumi ini maka perang akan selesai!"
Iris emerald itu membulat sempurna. Sosok Ayah yang dia kagumi, sosok Ayah yang dulu menceritakan kalau tugasnya adalah menjaga dan mengamankan Negara seperti halnya pahlawan bagi Athrun ternyata sudah tiada. Athrun telat menyadari hal itu. Bahkan sekarang sang Ayah mengacungkan senjata api dan memanggil tentara lainnya untuk menangkap Athrun. Athrun mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya. Kalimat terakhir Uzumi memenuhi pikirannya. Dia telat menyadarinya, dia telat menolong Ayahnya. Frustasi dan kesal Athrun pun memaksa memakai kekerasan namun dia berakhir ditembak oleh Ayahnya sendiri.
Sungguh suatu keberuntungan dia ditolong oleh Lacus Clyne dan para pengikutnya yang mengatakan berasal dari Clyne Faction. Dalam kondisi terluka dan tenggelam dalam kegelapan, Athrun kembali ke tempat Kira dan yang lainnya. Ketika yang lain mempersiapkan diri untuk menyusun strategi perang, Athrun tidak hadir. Athrun membutuhkan waktu untuk berpikir. Kenyataan bahwa 'aturan' yang selama ini dia yakini salah. Kenyataan bahwa 'ikatan' dengan sang Ayah sudah tidak ada. Bahkan sekarang dia tidak merasa bangga dengan seragam Red Coat ZAFT yang membanggkan semua orang, seragam yang menandakan dia itu seorang TOP ELITE. ZAFT hanyalah masa lalunya sekarang. Bahkan apakah dia seorang 'perfect soldier'? Dia sendiri tidak tahu. Athrun hanya tahu kalau dirinya bukan siapa-siapa sekarang. Dia seseorang tanpa arah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Athrun kepada Lacus ketika mereka keluar dari ruang medis. Lacus menemani Athrun mengobati lukanya di Eternal. Sungguh unik dan aneh, Athrun masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan Lacus. Bahkan sebenarnya Athrun sendiri tidak habis pikir kenapa Lacus mau mengotori tangannya.
Lacus lalu melihat luka di bahu kanan Athrun, "Kau sendiri? Kelihatannya bukan jalan yang mudah yang kau lalui," tambahnya.
Athrun lalu melihat lukanya, "Ah ini?" Athrun tersenyum kecut, "Ini bukan apa-apa, semestinya aku sudah bisa menduganya."
Seperti biasa Athrun tidak mau membahas lebih dalam. Tapi sekarang Athrun melihat Lacus tidak ragu. Dulu mungkin Lacus mencoba untuk menggapai dan menenangkan tangan itu tapi sekarang dia tidak akan melakukannya. Dulu mungkin Athrun berharap bahwa suara lembut dan belaian lembut tangan itu hanya untuk dirinya. Namun Athrun sedikit merasa bersalah. Dia 'gagal menjaga' Lacus seperti yang Siegel minta. Dia sekarang membiarkan Lacus mencicipi rasa sakitnya perang, padahal selama ini dia selalu berusaha menjaga Lacus dari benda bernama perang. Perang bukan tempat Lacus. Kalau saja Athrun berhasil membujuk Ayahnya. Mungkin situasi mereka tidak seperti ini sekarang. Namun semestinya Athrun bisa menduganya. Dia sempat mengibaratkan Lacus seperti mawar dan dia lupa kalau mawar itu memiliki duri bagi siapa saja yang mengganggu dirinya.
"Tidak hanya itu, tapi apakah kau baik-baik saja?" tanya Lacus pada orang yang entah apakah masih berstatus tunangannya atau tidak. Tidak pernah ada pengumuman resmi tentang hal itu.
Athrun yang tahu Lacus berubah dan tahu apa yang Lacus maksud hanya bisa tersenyum kecil, "Mungkin tidak tapi aku akan baik-baik saja karena justru disini semuanya kembali menjadi titik awal semuanya. Kita memilih jalan yang kita pilih."
"Kita?"
Athrun lalu melihat kalung Haumea yang melingkar di lehernya, "Kau sebagai Lacus Clyne dan aku sebagai Athrun Zala."
Lacus tersenyum, dia paham maksud Athrun. Benang merah itu bukan terputus, namun tetap terhubung dan menghubungkannya dengan yang lain. Mereka memilihnya, mereka memutuskannya. "Kalung yang menarik," ucap Lacus.
"Ah ya, Cagalli yang memberikan," ucap Athrun.
Athrun melirik ke arah Lacus. Tidak ada rasa cemburu yang muncul di diri Lacus. Athrun tahu kalau dia dan Lacus sudah memilih, "Kelihatannya kau sudah menemukan jawaban hidupmu untuk beberapa hal," ucapnya dan Athrun hanya tersenyum.
"Aku tidak terima!" seru Haro yang langsung dibalas saling senyum oleh mereka berdua.
Fakta bahwa Lacus memilih Kira, sudah seharusnya dia sadari sejak lama bahwa cahaya bernama Lacus Clyne itu tidak pernah ada untuk Athrun. Seharusnya dia tidak terikat dalam 'aturan' itu, seharusnya dia melihatnya dengan mata hatinya. Bukan dengan matanya saja. Di kala itu justru Cagalli lah yang menariknya dari kegelapannya.
"Apakah sakit?" tanya gadis pirang itu.
Athrun lalu melihat tangannya yang cedera lagi, "Ah tidak ini-"
"Tentu saja sakit, kau ditembak oleh Ayahmu sendiri," sela Cagalli.
"Aku gagal menghentikan Ayahku. Aku menyadarinya bahwa sejak awal,
"Athrun?"
"Aku tidak dapat melakukan apa-apa. Aku tidak mengerti apa-apa.
"Se-semuanya juga merasakan hal yang sama!" "Justru mereka yang mengatakan mengerti adalah yang tidak masuk akal,"
"Cagalli
"Mengenai Ayahmu, jangan cepat untuk menyerah. Kamu masih memliki kesempatan untuk berbicara dengannya!"
Kalimat yang sungguh optimis. Athrun teringat. Gadis yang ada didepannya ini sama seperti dirinya. Memendam semuanya termasuk kesedihannya. Gadis ini lebih kuat dan tangguh di luar namun Athrun tahu dia rapuh, sangat rapuh. Kehilangan Ayah dan Negaranya dan tempatnya untuk pulang. Parahnya, gadis itu juga kehilangan identitasnya. Cagalli tidak sempat meminta penjelasan dari sang Ayah apa arti dari foto yang dia genggam sekarang. Hanya bisa menangis dan menjeritkan nama sang Ayah tanpa mendapatkan balasan apapun. Bahkan Dewi Haumea yang diyakininya tidak dapat mengabulkan do'anya. Sekarang, dia mencoba menghibur Athrun. Menghibur Athrun yang masih ada kesempatan, masih ada keluarga, masih ada tempat pulang. Menghibur dengan caranya seperti yang Athrun tahu dengan suara yang bergetar dan mata menahan air mata. Athrun bisa mendengar dan melihatnya dengan jelas. Athrun tersenyum. Sungguh bodoh dia sudah bersikap lemah, padahal ada yang lebih membutuhkannya. Cagalli. Dia tidak jujur kalau dirinya juga terluka. Sungguh gadis yang keras kepala.
"Karena itu berhentilah untuk berdiri sendirian saja dengan wajah ragu-ragu –
Athrun memotong ucapan Cagalli dengan memeluk gadis itu. Walau tidak dapat memeluknya dengan erat namun dia ingin Cagalli tahu, kalau dia tidak sendirian dan ada Athrun. "Maaf," ucap Athrun yang jelas karena Athrun seperti tidak memahami perasaan Cagalli.
"Maaf? Apa maksudmu?" Cagalli terkejut dengan gerakan spontan Athrun. Wajahnya memerah karena sikap pemuda itu. Dia pun tidak menangkap maksud Athrun menyampaikan kata maaf.
"Ah tidak, seperti yang kubilang maaf," ucap Athrun. Dia memang tidak pintar dalam berkata-kata, namun dia hanya tahu kalau sekarang pelukanlah yang dibutuhkan Cagalli. Seperti halnya ketika gadis itu mengungkapkan fakta dia dan Kira adalah saudara kembar. Dia ingin Athrun ada disana. Gadis itu butuh senderan dan Athrun mencoba untuk memahaminya. Mungkin saat itu karena Athrun adalah sahabat Kira maka dia meminta Athrun untuk menemaninya.
Cahaya Athrun sirna. Ah ralat, dia sudah tidak pernah berada di tempat cahaya. Dia selalu berada di kegelapan. Dia seperti salah satu si kembar dalam dongeng Two Brothers karya Brothers Grimm. Dia menerima semua konsekuensinya selama salah satu saudaranya selamat dan mencapai kejayaan dalam hidupnya. Dalam kasus Athrun, orang itu adalah Kira. Namun, dia sempat merasakan cahaya itu dan cahaya itu berasal dari Cagalli. Hubungan yang sama sekali tidak Athrun duga bahkan sempat Dearka mengatakan 'tunanganmu diambil sahabatmu. Maka tidak ada salahnya kau melirik adik kembarnya,' sungguh pernyataan yang tidak sopan buat Athrun. Di kala mereka semua dirandung kesedihan masing-masing mencari tempat untuk bersender dan buat Athrun tempat itu adalah Cagalli.
Ketika perang besar akan terjadi. Ketika sang Ayah sudah melakukan hal yang tidak masuk akal, GENESIS bahkan hampir menghancurkan pasukannya sendiri Athrun sendiri tidak yakin apakah dia bisa kembali dalam keadaan hidup. Namun, dia harus menghentikan Ayahnya sekarang, harus. Walau dia harus memakai kekerasan tapi sekarang semua sudah tidak masuk akal dan tidak benar. 'Aturan' Codex Hammurabi sudah keluar dari jalurnya. 'Codex Hammurabi' milik Athrun sudah runtuh, dia sudah memiliki 'aturan' yang baru sebagai Athrun. "Tembak….GENESIS…kita harus….memiliki…dunia…," adalah kalimat yang terakhir diucapkan Patrick Zala diakhir hayatnya. Athrun merupakan aktor yang hebat. Di saat sedang kacau dan tegang dia masih bisa tenang ketika melihat Ayahnya tewas ditembak rekannya di depan matanya sendiri namun sayang, kalimat terakhir sang Ayah masih menunjukkan sisi arogan dan keras sang Ayah. Athrun menangis dan kecewa. Harapan yang pernah diberikan oleh Cagalli hancur. Dia merasa dikhianati oleh rasa percaya itu. Padahal Athrun sudah memilih 'aturan' yang baru untukknya. 'Aturan' yang Athrun pikir dapat mendamaikan dirinya.
'Aturan' yang baru itu termasuk memastikan cahayanya tidak sirna, cahayanya ada ketika dia pulang. Tanpa berpikir panjang dan tanpa meminta izin Athrun mencium Cagalli tepat di bibir sebagai tanda. Tanda kalau dia masih diterangi oleh seberkas cahaya. Bahkan ketika dia frustasi lagi karena sang Ayah tewas, cahaya itu tetap ada dan mengejarnya. "Jangan lari! Tetap hidup juga merupakan pertarungan!" seru Cagalli yang menyadarkan Athrun kalau dia pengecut yang berpikiran pendek. Dia bukan seorang 'perfect soldier'. Selama ini dia hanya seorang pengecut yang diselimuti oleh sebuah 'aturan' dan sebuah topeng 'perfect soldier'. Iya, Athrun pengecut. Dia berpikir pendek karena kegelapan sudah menjadi tempatnya. Cahaya tidak pernah dapat dia raih. Keputusan untuk meledakkan Justice setelah sang Ayah tewas adalah tindakan seorang pengecut. Dia ingin lari dari kenyataan. Dia ingin lari dari dirinya. Dia ingin dunianya damai karena kematian sang Ibu. Bahkan ketika dia kabur dari Aegis, diapun pengecut karena tidak berani menyelesaikan urusannya dengan Kira secara 'jantan'.
Athrun memutuskan untuk tidak lari. Walau nuraninya berkata yang lain karena dia pengecut. Setelahnya dia tahu kalau dunianya sama sekali berbeda dari Kira, Lacus, dan Cagalli. Dia orang yang hipokrit dengan mengatakan pada Kira kalau dunia yang ada sekarang tidak mungkin mereka biarkan berakhir. Athrun sendiri setuju pada Kira, kalau dia masih bisa tidur, makan, beraktivitas sebagaimana mestinya adalah hal yang aneh. Padahal dia sendiri tidak mau mengakuinya kalau kondisi dia jauh lebih gila dari Kira. Kalau dia masih diselimuti oleh kegelapannya itu. Dia masih terikat pada 'aturan' yang masih melekat pada pikiran dan nuraninya serta dirinya. Namun sekarang ditambah lagi dengan identitasnya sebagai Zala dan juga mimpi darah. Efek dari PTSD itu nyata untuk Athrun. Untung Athrun seorang pria sehingga apa yang dia alami tidak seheboh Cagalli. Diam-diam dia juga mengkonsumi obat penenang tapi sesuai anjuran dokter. Setiap malam selalu terbangun tiba-tiba atau tidur dengan keringat dingin yang tidak berhenti mengucur. Darah dan seruan serta pesan Ayahnya sebelum tewas menjadi mimpinya sehari-hari. Athrun dihantui oleh sosoknya sebagai tentara ZAFT dan 'perfect soldier', dihantui oleh fakta kalau dia sudah membunuh banyak orang, dihantui oleh sosok rekan-rekannya yang mati, dihantui oleh bau peluru pistol, dihantui oleh bau darah, dihantui oleh sosok sang Ayah karena dia sudah menjadi anak durhaka. Tidak ada hal yang bisa dia banggakan dari perang lalu. Tidak ada tempat lain juga buat Athrun selain sebuah lubang gelap, kegelapan tanpa cahaya.
TO BE CONTINUE...
Yeah, so Athrun's conflict for me not only about he seeking for truth. But also his family matters, his 'rules', his faith and belief in justice. And it was something very complicated for me to write about. Like I said he is the only one who always harboring his own feeling and he only opens up to Cagalli (you can see this when he talk with Cagalli when he injured in Destiny). So, it is damn hard for me when I have to put my shoes into his shoes. As the only child I am pretty sure he is really proud with being Zala and being a coordinators.
Without proofreading it and checking it again I decide to upload it. Like I said I decide to make it into two parts so I will prepare the draft for second parts. I hope the first one satisfy all of you. Don't hesitate to leave reviews. And sorry to make all of you waiting. Actually I decide to post it this week because many old users returns and update their stories! Hello there and welcome back! Ah and also thank you for char01, longliveasucaga, cyaaz, popcaga, ara, silvermist31, Darffiarr, for the reviews on third chapters.
Stay safe!
Regards,
Fuyu Aki
