DISCLAIMER: Gundam SEED and Gundam SEED Destiny belongs to Sunrise Studio
IF: OUR PAST AND SCARS
AN EYE FOR AN EYE, A TOOTH FOR A TOOTH
Part 2
By Fuyu Aki
'Ah how shameless—the way these mortals blame the gods. From us alone, they say, come all their miseries, yes, but they themselves, with their own reckless ways,compound their pains beyond their proper share', sebuah kutipan yang diungkapkan oleh Dewa Zeus, dalam pertemuan ilahi di Gunung Olympus yang mengikuti sebagai pembuka. Zeus mengucapkan keluhan ini terhadap manusia yang menyalahkan dewa atas penderitaan mereka. Itulah yang ditulis dalam sebuah cerita mitologi berjudul The Odyssey.
Mimpi itu tidak pernah usai. Dirinya yang selalu memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Dengan penuh pertimbangan, dengan penuh kehati-hatian yang ternyata justru semakin menyiksanya. Dia hanya ingin dunianya tenang. Dirinya tenang. Perasaannya tenang. Serta emosinya stabil. Namun, perang pertama yang dia lalui, justru menghancurkannya. Menghancurkan seluruh tembok dan seluruh fondasi hidup dan tubuhnya. Dia yang bangga sebagai sebagai tentara ZAFT, dia yang bangga sebagai coordinator, lebih utamanya dia bangga sebagai Zala dan juga legacy keluarganya. Sayangnya bukan skenario yang membanggakan yang terjadi sebagai epilog. Bukan seruan kemenangan atas perdamaian yang diraih dengan Ayah dan Ibunya tersenyum bangga terhadap jasa dan perbuatann yang sudah dilakukan sebagai bentuk pengabdian akan bangsa dan Negaranya. Epilognya adalah pengkhianatan akan tanah airnya dan kematian Ayahnya, serta tercorengnya nama keluarga yang dia banggakan.
Zala menjadi hal yang terkutuk. Ditambah lagi, dirinya sudah dianggap pengkhianat, pembelot, bahkan buronan. Dia sudah masuk dalam daftar yang dicari persis seperti mantan tunangannya. Setelah perang selesai semua terasa cepat. Uluran tangan Yzak dia tolak dengan mudahnya. Athrun sadar diri, dia berbeda dengan Dearka. Dearka terdaftar menghilang berbeda dengan Athrun. Apabila Dearka hendak kembali ke PLANTs dan ZAFT lalu dia disambut dengan baik, hal itu tidak aneh. Namun tidak bagi Athrun. Dia sudah melakukan kesalahan dengan mengkhianati bangsa dan tanah airnya.
"Humph, apa kau serius?" tanya Yzak kala itu.
Athrun bertemu dengan Yzak dan Dearka setelah Athrun mendapat info kalau dua temannya itu ada di Archangel. Ditemani dengan Cagalli, Athrun lalu menemui mereka. Athrun bisa lihat kalau Yzak sesuai dengan sifatnya adalah orang yang loyal dan setia. Dia tahu kapan, kemana, dan dimana harus memihak. Athrun lalu melihat ke Cagalli yang ada di belakangnya. Wajahnya masih merah dan sembab akibat menangis, bahkan bekas air mata masih terlihat. Athrun lalu menggenggam tangan Cagalli, menggenggamnya dengan erat. Dia membutuhkan fondasi. "Iya, aku serius. Aku tidak akan kembali ke PLANTs dan ZAFT," ucapnya mantap dari mulutnya namun entah hatinya.
"Lalu, kau akan kemana?" tanya Yzak. Yzak tahu apa yang terjadi pada Athrun serta apa yang terjadi pada Patrick Zala. Kembali ke PLANTs bisa menjadi suatu hal yang berat. Bahkan Yzak sekarang juga tidak paham mengenai posisinya sendiri khususnya karena dia sempat melanggar aturan militer yaitu membunuh warga sipil. Akibat perang dia belum pernah di sidang untuk hal tersebut, berbeda dengan Athrun yang menjadi saksi atas hancurnya Heliopolis. Hal yang sama juga untuk Dearka yang tidak kembali ke ZAFT setelah diketahui kalau dia masih hidup bahkan tidak memberikan laporan apapun.
Athrun melirik ke Cagalli, wajah lelah serta sedihnya membuat Athrun yakin. Cagalli lah cahayanya. Cagalli lah tempat dia pulang sekarang. Kata-kata gadis itu kembali muncul dipikirannya. Kalau hidup juga merupakan suatu pertempuran dan sekarang Athrun memutuskan hidupnya untuk pulang ke sisi Cagalli. Bukan PLANTs, bukan ZAFT, bukan Lacus, bahkan bukan keluarga Zala. Yzak melihatnya dan wajahnya sedikit kesal berbeda dengan Dearka yang hanya tersenyum dan bisa maklum dengan situasi Athrun. "ORB," ucap Athrun, "Aku akan ke bumi, kurasa."
Yzak dapat mendengar keraguan dari Athrun namun dia tidak ingin membahas lebih dalam. Mereka semua lelah. Mereka semua sedih. Sudah terlalu banyak perasaan yang keluar. Suara mereka sudah habis. Badan mereka sudah tidak bisa digerakkan lagi untuk bertempur. Bahkan air mata pun sudah kering. Mereka semua butuh istirahat. "Baiklah kalau begitu," ucap Yzak yang langsung mengulurkan tangannya ke arah Athrun mengajak Athrun untuk berjabat tangan. Mungkin terlihat aneh namun bisa saja sekarang menjadi jabat tangan mereka yang terakhir. Athrun menyambut uluran tangan itu. "Kuharap kita bisa bertemu di kesempatan yang lain, walau sebenarnya aku tidak ingin melihat wajahmu lagi," ucap Yzak dan Athrun hanya mengangguk.
Semua pun memutuskan untuk kembali ke bumi, kecuali Eternal yang disembunyikan di suatu tempat diluar angkasa karena mereka pada dasarnya milik pihak ZAFT. Hanya Archangel dan Kusanagi saja yang kembali ke bumi. Namun, setelah mereka sampai di bumi, hanya Cagalli lah yang menunjukkan diri di depan publik. Semua kru Archangel, Eternal termasuk Lacus, Kira dan Athrun memutuskan untuk tidak menunjukkan diri mereka di depan publik walau semua orang tahu mereka lah yang berjasa, mereka lah yang menghentikan perang. Baik Athrun, Kira dan Lacus memutuskan untuk tinggal di panti asuhan yang diurus oleh Reverend Malchio, tak disangka Caridad Yamato pun memutuskan untuk tinggal bersama Kira sedangkan Haruma Yamato mendukung penuh keputusan istrinya. Haruma sendiri, memutuskan untuk kerja di Copernicus. Keputusan Caridad bukan hanya untuk membantu Kira, Lacus, dan Athrun mengurus anak-anak yatim piatu namun juga untuk melihat kondisi anaknya, Kira, juga Lacus dan Athrun. Faktanya mereka masih anak-anak yang perlu dibimbing tidak dapat dilupakan.
Namun sebelum itu, mereka semua pulang ke rumah Kira. Ke rumah keluarga Yamato, tempat yang dulu mungkin menjadi rumah kedua bagi Athrun. Ketika melihat Caridad yang memeluk Kira lalu Cagalli dan kemudian keduanya entah mengapa hati Athrun terasa sakit. Dia menggigit bibirnya. Menahan rasa sedih, sakit, iba, rindu, kesal, marah, benci, dan kecewa. Dia tidak membenci dengan apa yang ada dihadapannya tapi, dia baru menyadarinya sekarang betapa dia sangat merindukan sosok dan tempat bernama keluarga. Betapa dia sangat merindukan sosok yang bisa dia panggil 'ibu' karena perpisahannya dengan sang ibu bukanlah perpisahan yang bagus, bukan karena usia tua dan penyakit tapi karena suatu tragedi yang merenggut nyawa banyak orang. Bahkan hal yang sama juga untuk Ayahnya. Ayahnya di kudeta oleh rekannya sendiri. Dia kehilangan orang tuanya dengan cara yang tidak manusiawi. Caridad yang menyadari Athrun ikut serta dengan si kembar bersama dengan Lacus hanya tersenyum. Sepertinya Caridad masih mengingat dengan sangat baik, Athrun itu pemuda seperti apa.
"Saya turut berduka atas kematian Lenore dan juga Patrick," suara lembut keibuan menyadarkan Athrun yang dari tadi diam di sofa ruang tamu keluarga Yamato. Setelah Caridad menceritakan mengenai keluarga Hibiki, perjanjiannya dengan Uzumi, dan meminta maaf pada Kira dan Cagalli semua tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Cagalli sedang mengontak Kisaka setelah dia menangis hingga matanya merah. Lacus sedang menemani Kira di kamarnya. Hanya tersisa Athrun yang setelah menenangkan Cagalli dia hanya duduk diam di sofa. Secangkir minuman berwarna coklat diberikan oleh Caridad kepada Athrun. "Coklat panas, kesukaanmu," ucap Caridad yang lalu duduk di sebelah Athrun.
Athrun mengambil cangkir itu dan meminumnya. Rasa yang sama seperti ketika Athrun main ke rumah Kira. Minuman yang selalu Caridad buatkan untuk Athrun bahkan ketika dia ulang tahun Caridad membuatkan kue coklat dengan rasa yang sama. "Terima kasih," ucap Athrun.
"Lenore Ibu yang baik. Dia sangat menyayangimu Athrun. Saya masih ingat betapa khawatirnya Lenore karena harus selalu meninggalkanmu sendirian dan berakhir menitipkanmu dengan kami," ucap Caridad.
"Maaf kalau dulu sering merepotkan," ucap Athrun.
Caridad menggeleng, "Tidak. Justru sebaliknya kami senang karena Kira ada yang menemani dan kami juga senang karena bisa menjagamu dan tidak membiarkanmu sendirian di rumah. Kau sudah seperti keluarga kami sendiri. Hubunganmu dengan Kira sudah seperti saudara kandung. Ketika sudah pindah, kadang saya berpikir apakah Lenore baik-baik saja? Apakah Athrun baik-baik saja? Mengingat Ibumu itu sangat sibuk dengan pekerjaannya."
"…." Athrun diam. Caridad tahu Athrun juga merasa sedih. Pemuda ini dihancurkan oleh keluarganya sendiri. Dia hilang identitas. Dia tidak tahu harus pulang kemana. Ibunya sudah meninggal, Ayahnya menghancurkan kepercayaannya dan tewas. Sungguh bukan suatu hal yang menyenangkan untuk dialami oleh seorang pemuda berusia enam belas tahun. Caridad bisa lihat lingkar mata hitam yang ada di wajah Athrun. Athrun itu tangguh namun dia juga memiliki batasnya. Caridad lalu menggenggam tangan Athrun. "Bibi Caridad?"
"Sudah tenang? Kau tidak sendirian sekarang. Ada aku, Kira, dan yang lainnya. Kami adalah keluargamu," ucap Caridad. "Kamu sudah berjuang dan sekarang semua sudah selesai. Kamu boleh melepaskan semuanya," tambahnya,
Athrun kembali menggigit bibir bawahnya dan menahan air matanya. Dia tidak ingin menangis. Tidak khususnya dihadapan orang yang dia kenal dekat. Dia selalu menjawab semuanya baik-baik saja. Baik pada Kira, Lacus, dan yang lainnya. Hanya pada Cagalli lah dia tidak bisa berbohong. Mungkin sosok Caridad mengingatkan dia pada sosok seorang Ibu, sosok Lenore. Athrun hanya membungkukkan badannya, menangis dalam diam dengan tubuh yang bergetar dan Caridad memeluknya dalam diam. Athrun hanya merindukan cahaya. Cahaya yang menghangatkan hatinya yang sudah dingin.
Setelahnya dia dihadapkan dengan sebuah keputusan. Dia akan hidup seperti apa dan sebagai apa? Athrun tidak mungkin hidup sebagai Zala karena kelurganya sudah meninggalkan sebuah histori yang jelak dan buruk. Sebuah formulir pendataan penduduk dia terima dari Erica Simmons. Sebuah form kependudukan legal di ORB. Artinya dia bukan penduduk PLANTs, dia akan menjadi warga Negara ORB melepaskan identitasnya sebagai Zala penduduk dan warga Negara PLANTs. Hatinya memberontak dia merasa berat untuk melepasnya. Padahal nama Zala sudah meninggalkan jejak yang buruk bahkan dia sendiri merasa tidak pantas menyandang nama itu dan sekarang dia akan muncul di ORB sebagai Zala?
Athrun lalu melihat Murrue Ramius yang menuliskan nama Maria Bernes. "Mereka menawarkan pekerjaan di Morgenroete, daripada menyebabkan masalah lebih baik mencari jalan aman. Berbeda dengan Andrew Waltfeld," ucap Murrue. Athrun tahu mungkin saja ini adalah bentuk pelarian Murrue. Hidup dengan identitas baru karena perang hanya mengingatkannya akan luka hati yang tidak akan sembuh. Perang yang dimana dia muncul sebagai sosok bernama Murrue Ramius. Mungkin kematian Mwu La Flaga memperkuat keputusan itu.
Athrun lalu melihat form yang ada dihadapannya. Dia tahu apa yang dia putuskan tidak lah mudah. "Cagalli sebenarnya tidak ingin kamu melakukan ini tapi dia mengatakan kalau semuanya keputusanmu Athrun," ucap Erica. Athrun lalu mengambil form itu. Dia ragu. Dia butuh waktu. Dia butuh tempat dan waktu untuk memikirkan semuanya. "Apakah bisa memberikan aku waktu untuk memikirkannya dulu?" tanya Athrun.
"Tentu saja," ucap Erica ringan.
Oleh karena itu, disinilah Athrun sekarang bersama dengan Kira, Lacus, dan anak-anak panti asuhan. Hari-hari mereka habiskan dengan bermain bersama anak-anak di panti asuhan namun, hal itu sepertinya tidak mengobati luka di hati mereka. Kira masih berdiam diri dan kadang mengurung diri. Lacus juga walau tidak sesering Kira. Untuk Athrun, setiap malam dia masih tetap bermimpi buruk. Sampai salah satu anak panti asuhan menegurnya karena ada lingkar hitam di bawah matanya. Sungguh memalukan bahkan anak kecil bisa tahu kalau dia sudah seperti orang sakit jiwa.
"Ah, Cagalli akan berpidato sekarang…." Kata Lacus sambil memperbesar volume suara televisi, ketika mereka sedang berkumpul di meja makan, "..sepertinya dia akan mengumumkan kabinet baru untuk ORB." Jelasnya.
Athrun yang tidak melepas tatapannya dari televisi bisa melihat beban serta ketidak siapan gadis itu untuk terjun di dunia politik. Baru enam bulan sejak perang berakhir namun, beban yang sangat besar sudah jatuh di punggung kecil gadis pirang itu. Sambil menyesap kopi dari cangkir yang dari tadi dipegangnya, Athrun ingat ketika mereka sedang mengadakan upacara pemakaman untuk para korban perang yang disiarkan secara internasional. Sebenarnya Athrun merasa kesal karena dia tidak ada di sisi Cagalli saat itu. Padahal Cagalli membutuhkan dirinya. Namun, apa daya..apabila dia muncul di media, maka dunia akan gempar karena dia adalah Zala.
Athrun merasa dirinya pengecut, karena dia bersembunyi di balik punggung seorang gadis kecil yang seharusnya dia lindungi, karena dia sudah berjanji atau lebih tepatnya bersumpah. Dia adalah seorang puteri maka wajar apabila ada seorang ksatria untuk melindunginya. Mata emeraldnya kembali menatap gadis pujaan hatinya, dibalik kata-katanya yang tegas, tersirat kesedihan serta keraguan. Tubuhnya yang terlihat semakin kurus membuat Athrun yakin, Cagalli pasti terlalu banyak menghabiskan waktu dengan 'mainan' barunya, 'politik'. Walaupun Athrun terlihat sedikit senang, melihat gadis itu memakai make-up tapi dia tahu, make-up itu untuk menutupi lingkar matanya karena dia pasti jarang tidur.
Athrun lalu melihat form yang diberikan Erica padanya. Sebuah form yang akan menutupi semua identitasnya dan menutupi seluruh masa lalunya. Bukan kali pertama Athrun memalsukan identitasnya. Sebelumnya dia sempat dibuatkan ID palsu ketika hendak mencari Archangel di ORB. Jadi, untuk sekarang tidak akan ada bedanya. Setidaknya yang sekarang ID palsu yang legal? Mungkin terdengar aneh namun itulah yang ditawarkan oleh ORB padanya. Athrun paham benar, Zala adalah identitas yang menjadi berbahaya untuknya. Dia tidak bisa tersenyum bangga dengan nama itu. Apabila dia hendak memakai nama itu maka dia harus seperti Lacus. Sayangnya Athrun tidak bisa, apalagi ketika melihat Cagalli ada di garis depan pemerintahan ORB. Athrun tahu tekanan batin gadis itu tidak sederhana. Athrun sempat lihat trauma dan efek PTSD yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental Cagalli. Perang yang dialami Cagalli bukanlah suatu hal yang mudah yang dapat diterima gadis muda seperti dirinya. Athrun ingin melakukan sesuatu. Dia tidak bisa berdiam diri. Sederhananya dia memiliki potensi dan kemampuan itu namun dia tidak menggunakannya.
"Athrun?" Cagalli bingung dengan sikap Athrun yang tiba-tiba diam. Athrun datang mengunjungi Cagalli setelah diminta oleh Kisaka. Setelah Kisaka menceritakan mengenai keputusan yang Cagalli ambil. Keputusan kalau Cagalli akan menerima jabatan sebagai Chief Representative.
"Kau takut bukan?" tanya Athrun tiba-tiba.
"Eh?"
"Kau tidak perlu terlalu keras pada dirimu sendiri. Kalau kau memang tidak mampu dan memang merasa tidak bisa atau membutuhkan bantuan, katakanlah," ucap Athrun yang nada suaranya terdengar sedikit kesal dan kecewa. Athrun merasa kesal karena beberapa Noble di ORB menggunakan sosok Uzumi dan kesalahan dari keputusan Uzumi di perang lalu sebagai senjata untuk 'menekan' Cagalli.
"Tapi Ath, kau lihat di media bukan? Atau kau sudah dengar dari Kisaka bukan? " ucap Cagalli. "Harus aku dan mereka membutuhkanku. Masyarakat membutuhkanku. Kau tahu itu bukan, karena aku Athha…."
Athrun merasa hatinya sesak. Ada yang salah dari kata-kata Cagalli. Gadis ini berusaha menahan semuanya. "Aku tidak peduli dengan ORB kalau itu berakhir menyiksamu. Aku peduli padamu, pada perasaanmu, nyawamu, dan aku peduli pada tubuhmu. Kau lebih penting dari apapun," ucap Athrun.
"Athrun, kau tahu kata-katamu itu sangat berlebihan bukan?"
"Aku tahu tapi kumohon Cagalli kau tidak perlu memaksakan diri! Aku bisa dengan jelas melihatnya. Rasa takut itu, keraguan itu, kelelahan itu, aku tahu Cags. Aku tidak buta," ucap Athrun.
Mata Cagalli mulai basah oleh air mata. Athrun terkejut melihatnya. "Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan?"
Athrun terdiam. Dia tidak bisa mengatakan 'aku akan mengambil alih posisimu dan akan berjuang untukmu', karena Athrun sekarang bukan siapa-siapa, Dia sendiri bingung apa yang harus dia lakukan dan sekarang dia mengomentari langkah yang Cagalli putuskan. Tidak ada yang mengatakan apapun. Hanya kesunyian dan Cagalli hanya menyenderkan kepalanya di bahu Athrun karena dia butuh. Dia butuh untuk mejadi waras dengan mengetahui kalau ada yang menemaninya. Hal yang sama untuk Athrun, dia membutuhkan Cagalli sebagai alasan dirinya untuk ada di dunia ini. Dia hanya ingin melakukan sesuatu sayangnya nama Zala menghalangi itu semua.
Codex Hammurabi itu membeku. Tidak bergerak dan tidak terimplementasikan. Athrun tidak tahu apa yang dia inginkan dan butuhkan. Dia menjadi hilang arah. Dia menjadi pemuda tanpa pedoman hidup. Mungkin dulu benar apa yang dikatakan Kira. Kalau dia bukanlah Athrun Zala yang sebenarnya. Dia bergerak seperti apa yang diperintahkan oleh orang tuanya dan orang sekitarnya. Dia tidak menunjukkan identitas sebenarnya. Lalu siapakah Athrun itu? Apakah Zala itu? Siapakah dan apakah Athrun Zala itu? Yang Athrun pahami, kalau sekarang nama 'Athrun Zala' bukanlah jawaban yang tepat untuk menggerakkan roda kehidupannya. Dia perlu sesuatu untuk hidup. Sayangnya apa yang dia perlukan beda dengan apa yang Kira perlukan. Dia memerlukan nama dan identitas.
Beberapa hari setelah Cagalli mengumumkan pidato mengenai sistem kabinet ORB yang baru, entah mengapa gadis itu semakin sulit dihubungi. Athrun, disamping itu masih dihantui oleh mimpi buruknya tapi, telepon dari Kisaka menghentikan pikiran pemuda itu mengenai mimpi gilanya itu, karena Cagalli meminta Athrun untuk datang ke Mansion keluarga Athha ditambah lagi ada yang ingin Kisaka bicarakan dengan dirinya. Athrun menyetujui permintaan Kisaka dan diam-diam dia sebenarnya sering melakukan kontak dengan Kisaka selama ini. Bahkan setelah pengumuman kabinet baru itu, Athrun meminta Kisaka untuk membuatkan identitas baru untuknya dia menyerahkan form itu kepada Kisaka. Walau dia tidak yakin apakah dia akan memutuskan hidup normal dengan identitas baru atau hidup mengasingkan diri seperti Kira dan Lacus. Tapi entah mengapa dia merasa dia perlu membuatnya.
Begitu sampai di mansion Athha, Athrun cukup terkejut karena sepertinya ada yang sedang bertamu ke mansion tersebut. Begitu Athrun masuk, dia cukup terkejut melihat Cagalli yang sedang berpelukan dengan pemuda berambut ungu, namun terlihat seperti terpaksa dan disebelahnya ada seorang pria tua gendut berkacamata. Athrun tahu mereka berdua, mereka adalah anggota kabinet ORB yang baru, Yuuna Roma Seiran dan Unato Ema Seiran. Rasa cemburu muncul di dalam diri Athrun namun dia berusaha untuk bersabar. Lagipula, hubungannya dengan Cagalli apakah memang seserius itu? Perasaan yang disambut namun tidak pernah ada pernyataan suka bukanlah suatu hal yang mudah untuk dibicarakan. Tapi, entah mengapa dia merasa jarak antara dia dengan Cagalli menjadi jauh.
"Kau sudah sampai Alex?" sapa Kisaka dengan suara yang cukup lantang sehingga menarik perhatian tiga orang politikus itu. Athrun segera menoleh ke arah pria besar yang dihormatinya itu dan tersenyum. Kisaka melihat pemandangan yang ada di depannya. Ia lalu mengangguk dan menepuk pundak Athrun, "Tenanglah, biar Cagalli yang menjelaskan."
Cagalli yang melihat Athrun terlihat panik, dan melepas paksa pelukan Yuuna. Sebelum Cagalli sempat mengucapkan nama Athrun, Kisaka mengambil alih, "Representative, teman Anda Alex Dino datang mengunjungi Anda, maaf saya telat memberi kabar." Cagalli yang mendengar nama alias Athrun cukup terkejut, namun dia tahu alasan pemuda itu membuat identitas baru. Namun Athrun dapat melihat ekspresi wajah sedih, bingung, dan kecewa dari wajah Cagalli.
"Aaaah…teman Cagalli, rupanya," kata Yuuna namun nada yang digunakan terdengar merendahkan, "Perkenalkan….aku Yuuna Roma Seiran, tunangan Cagalli. Kami berdua ditakdirkan untuk bersama sejak kami kecil," selas pemuda itu sambil mengajak Athrun berjabat tangan.
"YUUNA!" seru Cagalli.
"Loh itu benar kan? My Honey?" kata Yuuna memberikan penekanan pada kalimat terakhir. Athrun yang mendengar itu, benar-benar ingin menonjok Yuuna saat itu juga.
"Alex Dino, perkenalkan. Representative Athha banyak membantuku sehingga aku banyak berhutang padanya," kata Athrun yang menerima jabatan Yuuna namun, jabat tangan antara dua pemuda itu sepertinya tidak terlalu menyenangkan, genggaman yang cukup kencang antara mereka berdua sehingga jelas sekali ada hubungan rival diantara mereka.
"Baiklah Alex, sambil menunggu urusan Representative selesai, mari kita ngobrol di ruanganku dulu," ajak Kisaka yang mengedipkan salah satu matanya ke Athrun. Athrun menggangguk pelan dan mengikuti pria itu meninggalkan Cagalli bersama dua orang menyebalkan itu. Walau rasanya ingin menarik Cagalli, Athrun sadar kalau mereka datang untuk urusan pekerjaan.
"Maafkan sikap Yuuna barusan dan juga….maafkan Cagalli," kata Kisaka ketika mereka berdua sudah berada di ruang kerja Kisaka. Kisaka lalu mempersilahkan Athrun untuk duduk.
"Tak apa.." kata Athrun, "Pernikahan politik ya….aku paham…," lanjut Athrun pasrah karena teringat hal yang serupa terjadi antara dia dengan Lacus dulu.
"Kau terlalu cepat menyerah Athrun," kata Kisaka,
"Apakah ada hal yang ingin kau sampaikan kepadaku sampai mengajakku ke ruangan lain, Kisaka?" tanya Athrun mengalihkan topik, seperti biasa.
"Aku…memutuskan untuk mundur dari ORB," jelas Kisaka tiba-tiba. Athrun langsung mendongakkan kepalanya dan menatap pria dihadapannya. Tahu sepertinya pemuda mantan tentara ZAFT ini tidak menangkap maksudnya, Kisaka pun mengulang kaliamatnya, "Aku…memutuskan untuk mundur dari ORB dua minggu lagi."
"Mundur?" kata Athrun seakan-akan tidak percaya, "Kenapa? Tapi bukankah kau-"
"Aku tahu, oleh karena itu aku ingin menitipkan Cagalli padamu," jelas Kisaka, memotong kalimat Athrun yang dia yakin pasti Athrun akan bilang kalau dia adalah orang yang paling dipercaya oleh Cagalli.
"Iya, tapi kenapa…."
"Aku memutuskan untuk memata-matai Earth Alliance," jelas KIsaka, "Kau tahu beberapa waktu lalu adalah pelantikan Chairman PLANT yang baru kan?" Athrun pun mengangguk mengingat beberapa lalu seluruh stasiun televisi dipenuhi oleh berita pelantikan Gilbert Dullindal. "Aku, entah mengapa merasa ada yang aneh dengan respon dari pihak Earth Alliance ditambah, aku merasa ada yang aneh dengan kabinet ORB yang baru dibentuk ini. "
Athrun merasa ada yang aneh dari pernyataan Kisaka. Tidak mungkin Kisaka yang terkenal dengan kesetiaannya pada ORB khususnya keluarga Athha bisa dengan mudahnya meninggalkan 'tugas' sebagai ajudan terpercaya. "Kisaka-san, apakah ada hal lain yang kau sembunyikan?"
Kisaka bisa melihat sorot mata tajam itu. Athrun tidak mudah untuk dikelabui. Pemuda yang ada dihadapannya itu masih memiliki karakter kuat seorang prajurit. Dia tahu apabila ada hal yang aneh yang terjadi. Kemampuan analisanya sangat cepat. "Seiran memintaku untuk mundur dari posisiku," ucapnya. "…mereka juga yang memberikan tugas tersebut padaku," tambahnya.
Athrun merasa ada yang aneh. 'Seiran? Salah satu keluarga Bangsawan di ORB dengan mudahnya membuat Kisaka mundur dari posisinya? Apa yang Cagalli lakukan? Bukankah Athha masih memegang andil terkuat di sistem kabinet?' batin Athrun. "Cagalli tahu?"
Kisaka mengangguk, "Iya, namun dengan beberapa syarat dan tentunya adu mulut yang tidak terhindari," ucapnya.
"Lalu mengapa kau membiarkan Cagalli menjalankan kabinet ini?" tanya Athrun karena dia tahu, Cagalli tidak akan mungkin tidak menyetujui masukan dari Kisaka yang sudah seperti tangan kanannya.
"Aku mengerti maksudmu Athrun-kun, tapi sekarang belum ada orang-orang di ORB yang lebih kompeten dibandingkan mereka. Sedangkan Cagalli masih hijau, jadi wajar apabila dia menarik orang-orang yang sudah dikenalnya," jelas Kisaka, walau begitu jelas terdapat rasa bersalah dari nada suaranya, karena pengorbanan Uzumi Nara Athha berdampak pada jatuhnya kekuasaan ORB pada Cagalli di usia yang sangat muda. "Aku ingin memata-matai Earth Alliance karena aku khawatir ada yang berusaha mengambil kesempatan untuk menjatuhkan ORB yang sedang dalam masa pemulihan. Seiran sangat memihak pada Federasi Atlantik dan pihak Federasi pun menunjukkan reaksi yang sama."
"Kalau begitu biarkan aku yang-"
"Tidak," sela Kisaka tegas, "Kau harus disini karena kaulah yang dibutuhkan Cagalli saat ini. Kau harus tahu, aku harus menahan diri untuk tidak menghubungi kalian, terutama kau Athrun karena Cagalli yang meminta. Padahal waktu itu sempat dia berada dalam keadaan yang membutuhkan support orang lain, sampai dia sakit." Kisaka lalu menghela napas, "Kau pasti sadar Athrun, tanggung jawab Cagalli bukanlah tanggung jawab yang kecil, dia sampai tidak makan dan tidak tidur setiap hari, belum lagi perdebatan dengan orang-orang di kabinet, ditambah dengan melakukan kunjungan ke berbagai tempat."
"Jiwa gadis itu masih terguncang Athrun. PTSD dan trauma yang dialaminya itu nyata namun aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Myrna bilang kalau dia masih suka mengalami insomnia dan terkadang histeris," ucap Kisaka. Turun ke medan perang dalam usia muda dan ditambah lagi seorang wanita bukanlah hal yang mudah, Sebagian dari penyebabnya tentunya Kisaka yang mengiyakan permintaan Cagalli ke Tassil dan Kisaka merasa bertanggung jawab akan hal itu. Sayangnya, kesembuhan jiwa seseorang tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja atau oleh penyebabnya sendiri.
Athrun yang mendengar penjelasan Kisaka pun hanya mengangguk, itu ternyata alasan Cagalli jarang datang ke panti asuhan, jarang menghubungi mereka, terutama lagi alasan Cagalli tidak menghubungi mereka adalah, dia tidak ingin membuat Kira, Lacus dan dirinya khawatir."Tubuhku ini, sudah sampai pada batasnya Athrun-kun, aku tidak bisa setiap hari menemani sang puteri, lagi pula aku tahu Cagalli hanya ingin bersama denganmu."
Athrun merasa wajahnya sedikit panas, "Errr…tapi hal itu…"
"Jangan kau kira aku ini buta Ath. Aku tahu dari mulai dia memberikan kalung Haumea hingga akhir perang lalu, ada sesuatu diantara kalian. Sejujurnya aku senang apabila kau yang menjadi lelaki pilihannya Ath, aku yakin Uzumi-sama pasti akan setuju." Kata Kisaka dengan nada sedikit usil yang dengan suksesnya membuat Athrun tersedak dan wajahnya menjadi merah.
"Tapi, mengenai Cagalli dan Seiran…."
"Itu, perjodohan ketika mereka masih kecil Ath, dan kau sudah pasti bisa menebak yang terjadi pada Cagalli saat itu ketika dia tahu mengenai perjodohan ini."
Athrun tersenyum membayangkannya dan tertawa kecil, "Dia melarikan diri ke kamarnya?" tebak Athrun dengan nada geli.
"Lebih parah, kabur dari rumah," Kata Kisaka sambil tertawa, "Dulu Seiran adalah keluarga yang memiliki hubungan baik dengan Uzumi-sama, tapi aku memang tidak suka dengan bocah Seiran itu, bagiku dia terlalu gemulai, manja dan sok, tidak cocok dengan Cagalli. Sayangnya dia salah satu orang yang paham akan idealis ORB beserta visi misinya."
"Justru aku melihat diri sebenarnya Cagalli ketika bersama denganmu Athrun-kun," tambah Kisaka.
Mendengar penjelasan Kisaka, Athrun tidak bisa menyembunyikan wajah malunya. Walaupun Kisaka bukan ayah kandung Cagalli dan bukan pula Uzumi-sama, entah mengapa mengakui dirinya mencintai sang puteri membuat dia benar-benar canggung dan terasa sangat berat. "Walaupun kau adalah tipe yang melakukan dengan tindakan bukan dengan kata-kata, aku yakin Athrun-kun, hanya kau yang ada di hati Cagalli."
"Anggap saja aku berbaik hati menjodohkanmu Athrun. Selain sebagai bodyguard, kau bisa terus berdua dengan Cagalli. Tapi, jangan macam-macam dengan Cagalli," ucap Kisaka. Kisaka lalu menyerahkan beberapa berkas kepada Athrun. Sebuah form persetujuan dan beberapa ID CARD kependudukan dengan nama ALEX DINO. "Titipan dari Erica Simmons, untukmu."
Athrun mengambil berkas tersebut dan melihatnya dengan wajah serius. Dia sudah memutuskan. Dia menganggap ini sebagai kesempatan, kesempatan untuk memenuhi janjinya dan meminta maaf pada Cagalli karena bertindak sebagai pengecut di hadapannya. Serta kesempatan untuk memulai semuanya. Memulai kembali Codex Hammurabi miliknya. "Baiklah Kisaka-san, aku menerima tawaranmu untuk menggantikan posisimu sebagai Personal Bodyguard Cagalli."
"Aku yakin pilihanku memang tidak pernah salah, Red Knight."
Diskusi kecil Athrun dan Kisaka berakhir dengan kepanikan Myrna yang bingung karena Cagalli yang langsung mengunci diri di kamarnya setelah mengadakan rapat kecil dengan Seiran. Myrna yang langsung senang melihat Athrun langsung menarik pemuda rambut navy blue itu ke kamar Cagalli dan memerintah pemuda itu untuk mengobrol dengan sang puteri. "Ayo, Athrun-sama coba bujuk Hime-sama!"
Athrun agak merasa canggung dengan panggilan Myrna yang terlalu formal untuknya namun dia tidak ingin mengkoreksinya karena kondisi Cagalli jauh lebih penting. Begitu Athrun masuk ke kamar Cagalli berkat kunci cadangan yang dimiliki Myrna, lagi-lagi Athrun melihat kejadian yang serupa seperti di Kusanagi. Kamar yang gelap dan gadis pirang yang menangis duduk di tempat tidurnya. Athrun hanya tersenyum dan duduk disalah satu sisi tempat tidur sang puteri. "Cagalli…" panggilnya lembut.
"Maafkan aku…Athrun." Kata Cagalli, suaranya terdengar parau sepertinya dugaan Athrun benar, dia menangis.
"Kenapa kau meminta maaf?" Tanya Athrun lembut dan merapatkan tubuhnya dengan Cagalli.
"Lagi-lagi aku melukaimu, sejujurnya mengenai aku dan Yuuna-"
"Aku sudah tahu dari Kisaka." Sela Athrun. "Kau tidak usah meminta maaf, aku paham."
"Tapi Ath, aku..aku…merasa sudah mengkhianatimu….aku tidak…"
"Shhh…sudah, aku juga salah karena sudah menjadi pengecut." Athrun mengelus lembut rambut Cagalli, "pengecut karena meninggalkanmu sendirian, tidak menyadari betapa susah dan beratnya jalan yang kau pilih. Sedangkan aku, malah melarikan diri."
"Maaf…maaf…" hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulut Cagalli dan dia terus menangis di pelukan Athrun, "Maaf..maaf…"
"Shh…sudahlah. Kau pasti lelah sekali kan? Sudahlah, lebih baik kau sekarang tidur. Aku tidak akan pergi kemana-mana….." dan itu memang benar. Dia akan tinggal di Manor Athha sebagai Alex Dino atau mungkin tinggal di akademi militer ORB sebagai salah satu staff keamanan Negara khusus atau intel. Lalu, mereka berdua pun tidur dikamar gelap yang hanya diterangi oleh cahaya bulan tersebut. Athrun berpikir, mengapa Cagalli meminta maaf? Tidak ada yang perlu disalahkan. Kalau Cagalli mempermasalahkan hubungannya dengan Seiran, memangnya hubungan mereka itu apa? Sepasang kekasih? Apakah mereka sudah saling mengklaim dan menyatakan kalau mereka adalah pasangan dan dalam hubungan yang romantis? Athrun memang mencium bibir Cagalli waktu itu. Sebuah perbuatan yang mungkin baiknya dilakukan sepasang kekasih atau dua orang yang perasaannya sama. Sayangnya Athrun tidak memastikan perasaan Cagalli tapi Cagalli yang tidak menolak, buat Athrun bukti itu sudah cukup. Masalah yang sekarang ada adalah, Athrun maklum dengan hubungan Cagalli dan keluarga Seiran karena Athrun baru masuk ke dalam hubungan Cagalli setelah adanya kondisi pertunangan itu. Mungkin situasinya akan berbeda apabila Uzumi Nara Athha masih hidup namun Athrun tidak ingin membicarakan hal itu karena hanya akan membuat Cagalli sedih.
Athrun merasakan tubuhnya diguncang-guncang dan begitu dia membuka matanya, dia langsung disambut oleh wajah Cagalli yang terlihat khawatir. "Ca-Cagalli?" kata Athrun pelan. Dia lalu tersadar kalau dia menghabiskan malamnya bersama Cagalli setelah akhirnya mereka tertidur karena lelah menangis dan tenggelam di pikiran masing-masing. "Ah…selamat pagi….," sapanya sambil tersenyum lemah dan memberi ciuman ringan di bibir Cagalli. Sial, kenapa harus di saat seperti ini dia mengalami mimpi menyebalkan itu, pikir Athrun.
Namun, raut wajah tidak berubah, "Kau baik-baik saja?" tanya Cagalli.
"Kenapa memangnya, hime?"
Cagalli memukul pelan pundak Athrun, mereka masih tidak melepaskan pelukan masing-masing, "Kau mengigau tadi malam Ath, apakah kau mimpi buruk?" tanyanya resah.
Kenapa harus disaat seperti ini….pikir Athrun. "Aah..begitulah…," jawab Athrun sambil menyisir rambut navy blue-nya dengan tangannya.
"Sudah berapa lama? Mimpi apa?" tanya Cagalli.
"Darah…"
"Eh?"
"Aku memimpikan perang saat itu, ayahku, ibuku, GENESIS, dan kau…..," kata Athrun sambil menunjukkan senyum sedihnya pada Cagalli. Dari balik mata ambernya, Athrun tahu dia pasti sangat khawatir, padahal dia tidak ingin membuat siapapun khawatir. "Aku berdiri di tengah-tengah genangan darah, lalu…ayahku..ibuku….dan juga kau Cagalli…kau ada dimimpiku…."
Cagalli meremas kemeja Athrun, "Sudah berapa lama kau mengalaminya?" tanya Cagalli. Dia paham sekali perasaan itu, karena dia juga mengalaminya ketika Uzumi-sama tiada. Dia mengalami mimpi buruk selama beberapa hari. Namun, berkat Athrun dan Kira dengan bantuan Dearka, mereka berhasil menghibur dirinya dan sedikit demi sedikit mimpi buruk itupun menghilang.
Athrun menyerah, dia tidak mungkin berbohong didepan Cagalli ditambah apabila dia tidak menjelaskannya, dia yakin sang puteri tidak akan berhenti menanyakannya. Tapi Athrun merasa tidak ada salahnya dia menceritakannya pada Cagalli. Entah mengapa dia merasa nyaman bercerita padanya. "Sudah dari ketika perang berakhir," jawabnya singkat.
Cagalli terkejut, ternyata selama enam bulan. Sudah selama enam bulan Athrun menahan kesedihannya dan berusaha menutupinya tanpa memberitahu siapa-siapa. DIa yakin, pasti dia juga belum menceritaan hal ini pada Kira ataupun Lacus. Cagalli merasa marah, tapi dia juga senang karena hanya kepada dirinya lah, Athrun pertama kalinya menceritakan masalahnya. "Kenapa tidak cerita padaku?" Cagalli bertanya dan suaranya terdengar pecah.
"Ahh…aku…"
"Tidak ingin buat siapapun khawatir, ini bukan masalahmu tapi masalahku, aku bisa menanganinya yang ada dipikiranmu kan Ath?" sela Cagalli dan langsung menyerang Athrun dengan berbagai kesimpulan dari pemikiran singkatnya. "Tapi Ath, kau terlihat kacau…," cemasnya.
Athrun bangkit dari tempat tidur dan berusaha merapihkan pakaiannya, "Sudahlah Cagalli, yang penting sekarang aku masih waras dan mimpi itu pun tidak setiap malam kualami," kata Athrun dan dia berbohong. Sebenarnya dia sudah hampir gila karena memimpikan hal yang sama setiap malam. Namun, gelak tawa anak-anak panti asuhan berhasil mengalihkan perhatiannya walau hanya sesaat.
Cagalli hanya bisa menatap punggung kokoh Athrun dari belakang dan tidak bisa berkata apapun. Rasa sedih karena Athrun seperti tidak percaya pada dirinya, serta mengingat selama enam bulan terakhir ini, Athrun lah yang selalu menenangkan dirinya dan dia sama sekali tidak menyadari kesedihan serta kesulitan Athrun. Cagalli pun bangkit dari tempat tidurnya, menghampirinya dan langsung memeluknya dari belakang. Melingkarkan tanganya di pinggang pria itu dan menyenderkan kepalanya di punggung pria itu, "Kau tidak sendirian Ath….aku ada disini…"
Athrun cukup terkejut dengan sikap Cagalli, namun dia hany tersenyum dan memegang tangan gadis yang melingkar di pinggangnya itu, "Terima kasih…." Dia lalu berbalik dan menatap gadis yang tadi berdiri dan memeluknya dari belakang. Mata amber yang menatapnya dengan penuh kecintaan dan ketulusan, senyuman kecil yang memiliki penuh arti. Athrun pun mendekatkan wajahnya pada Cagalli dan mencium gadis itu tepat dibibirnya.
"Aku senang kau ada disisiku sekarang Cagalli.." kata Athrun sambil menyampirkan rambut Cagalli ke balik telinga gadis itu sehigga dia dapat melihat jelas rona merah di pipi gadis itu. "Aku memutuskan untuk menjadi Personal Bodyguard-mu. Dan kuharap kau mau menerima keputusanku itu," jelas Athrun.
Cagalli hanya tersenyum, "Jadi, kau adalah personal bodyguard-ku yang baru. Sekarang aku mengerti mengapa Kisaka memanggilmu Alex kemarin. Kupikir Alex itu siapa, sehingga aku ingin menolaknya tapi….setelah melihat siapa Alex itu, sepertinya tidak apa-apa," kata Cagalli yang kembali memeluk Athrun, "Tapi mengapa kau harus memalsukan namamu…?" Hidup di dalam kegelapan dan kebohongan sebuah nama dan identitas bukanlah suatu hal yang mudah dan Cagalli tahu Athrun tidak menyukai hal itu. Cagalli tahu bagaimana rasanya hidup dalam kegelapan itu, Cagalli bukan putri kandung Uzumi, dia bukanlah seorang Athha yang asli, dan ketika perang yang lalu dia harus menyembunyikan identitasnnya sebagai Athha.
"Aku tidak ingin menimbulkan masalah sebagai Zala, Cagalli…..kau sudah berbuat banyak untukku jadi kumohon, dukunglah keputusanku ini. Biarkan aku menjadi tameng untuk melindungimu dan biarkan aku menjadi pedang untuk menolongmu bertempur," jelas Athrun, "Namun, ketika kita hanya berdua, kau boleh memanggilku Athrun," tambahnya.
"Kau serius Athrun?" tanya Kira ketika dia mendengar Athrun yang memutuskan untuk pindah ke ORB dan menngganti identitasnya. Mereka berada di kamar Athrun dan Kira berdiri di kusen pintu mengamati Athrun yang sedang merapikan pakaiannya dan beberapa berkas ke koper.
Athrun hanya mengangguk, "Iya, aku hanya ingin membantu Cagalli dan Kisaka yang memintaku untuk berada di ORB," jawab Athrun.
Bohong. Kira bisa lihat hal itu. Athrun berbohong. Kira bisa lihat kalau Athrun selama ini tidak merasa tenang. Mereka berdua sama-sama hancur, sama-sama terluka, sama-sama lelah. Namun Kira tahu Athrun itu seperti apa. Dia pemuda yang memang sudah secara alami ingin dapat membantu, dia selalu menjadi seseorang yang siap membantu siapa saja namun ketika emosi sudah membawanya kadang hati pemuda itu terhalangi. Seperti saat Ibunya meninggal. Lalu untuk sekarang Kira tahu, Athrun ingin berbuat sesuatu apalagi dengan Cagalli yang berada di garis depan sekarang.
Kira sebenarnya ingin membantu tapi dia tidak bisa. Dia masih merasa lelah. Dia masih merasa kacau. Bahkan setiap dia makan, bau darah dan bau mesiu atau bubuk peluru dan bau asap api masih membayanginya. Dia belum menemukan kedamaiannya. Dia dan Athrun belum menemukan kedamaiannya. Lalu sekarang di hadapan Kira, Athrun memaksakan dirinya 'menemukan kedamaiannya'. Cagalli dan sekarang Athrun mereka mencoba menghadapi kekacauan itu demi kedamaian mereka. Namun kelihatannya bukan itu yang mereka, termasuk Kira cari. Mereka sekarang hanya mencari ketenangan biar hidupnya bisa waras dan wajar.
"Kalau begitu, aku titip Cagalli dan kuharap kau baik-baik saja disana," ucap Kira yang menepuk dan menaruh tangannya di bahu Athrun. Walau Kira sendiri merasa ragu dan tidak pantas mengucapkan kalimat itu, apalagi karena Cagalli adalah saudara kandungnya yang dia miliki satu-satunya dan dia sendiri masih canggung dengan kondisi tersebut. Pemuda beriris zamrud itu lalu menatap Kira. "Malam ini, Lacus dan Mum Caridad memasakkan masakan kesukaanmu, stuffed cabbage roll. Kuharap kau suka," tambahnya sambil tersenyum ke arah sahabatnya itu. Berharap perasaan mereka menjadi tenang.
Kehidupan sebagai 'Alex Dino' menyebabkan Athrun mengubah Codex Hammurabi miliknya. Dia terpaksa membuat 'aturan' yang baru dalam hidupnya. Aturan sebagai Alex Dino, bukan aturan sebagai Athrun Zala bahkan aturan seorang Zala. Namun ada beberapa hal juga yang Athrun sadari dan membuat dirinya semakin kesal. Kedatangan sosoknya sebagai Alex Dino sang agen terbaik ternyata tidak selamanya berjalan mulus. Walau surat bertanda tangan langsung dari Cagalli dan Kisaka, gerak Athrun tetap terbatas. Dia tinggal di akademi militer ORB, sesuai perintah dari para Emirs khususnya Unato dann Yuuna. Namun dia diam-diam juga memiliki kamar khusus di Manor Athha yang sudah disiapkan oleh Myrna dan Kisaka dengan alasan, untuk alasan keamanan dan juga perintah langsung dari Cagalli.
Dia lalu sadar, dia bukan Athrun Zala. Dia tidak memiliki hak istimewa sebagai seorang Zala, sebagai Athrun Zala. Bahkan dia sudah tidak memiliki Mobile Suit khusus miliknya. ZGMF-X09A Justice Gundam sudah hancur di perang yang lalu dan dia tidak mempermasalahkannya. Dia merasa tidak apa-apa. Bahkan akibat traumanya sesungguhnya duduk di dalam kokpit MS memberikan trauma tersendiri untuknya, Dia sempat merasa aneh ketika sedang membantu Erica Simmons mengembangkan Murasane. Faktanya, sekarang dia tidak punya kekuatan apa-apa di ORB. Dia harus berakting, dia harus membuat sebuah cerita dan kehidupan akan sosok bernama Alex Dino. Siapa itu Alex? Apa kesukaannya? Bagaimana sikapnya? Bagaimana sifatnya? Bagaimana kesehariannya? Apa hobinya? Bagaimana cara dia berbicara? Terlebih lagi, seperti apa masa lalunya? Siapakah orang tuanya? Itu adalah hal yang tidak Athrun duga, Walau dia tahu informasi itu tidak akan banyka ditanyakan tapi ada baiknya dia membuatnya karena dia bukanlah Athrun Zala. Dia Alex Dino. Padahal dulu pelajaran seni yang berkaitan dengan drama dan akting adalah hal yang kurang dia sukai. Dia tidak pernah mengambil kelas tersebut bahkan ketika ada festival budaya dia selalu menghindar dengan menjadi panitia inti sekolah. Lagipula dia tidak pernah menyangka kalau dia akan samapi di situasi dimana dia harus mengganti identitasnya. Untuk sekarang, mau tidak mau dia harus menerima semua perlakuan orang padanya sebagai Alex Dino, bukan sebagai Athrun Zala mau itu perlakuan yang baik atau buruk.
Awalnya Athrun berpikir hidupnya sebagai Alex Dino tidak buruk juga. Dia 'terbiasa' dia cepat beradaptasi dengan apa yang dia lakukan sebagai Alex Dino. Walau ada kalanya dia merasa tidak puas dengan apa yang dia dan orang sekitarnya lakukan karena dengan menjadi seorang Athrun Zala dia bisa melakukan itu namun dia tidak ingin mempersulit situasinya khususnya situasi yang sekiranya justru malah merepotkan dan mempersulit Cagalli. Kondisinya dengan Cagalli pun berubah dengan dia menjadi seorang Alex Dino. Apalagi Athrun yang baru tahu dan berkenalan dengan Yuna Roma Seiran. Walau dia pikir itu normal tapi sepertinya ada yang aneh dengan pemuda bersurai ungu itu. Sikapnya pada Cagalli tidak alami, seakan-akan dibuat-buat. Walau selalu beralasan untuk kemanan Cagalli entah mengapa Athrun melihatnya lebih kepada ingin memanipulasi dan mengdominasi Cagalli.
Athrun tahu benar konsekuensinya sebagai Alex Dino, sebagai seseorang yang sudah tidakk ingin terikat dengan masa lalunya sebagai Athrun Zala. Sekarang, dia bukan pangeran ataupun kesatria dan prajurit yang ada di dalam buku dongeng. Dia bukan siapa-siapa sekarang. She is out of his reach now, he couldn't do anything for her. She is the sky and he is the earth. She is a royal and he just a commoner. Mungkin kalau ingin menjadikan situasinya penuh dengan drama, baik dia dan Cagalli seperti putri dan pemuda desa dalam cerita King Grizzle Beard karangan Brothers Grimm yang sudah diperhalus dengan harapan mereka mendapat akhir cerita yang indah seperti dongeng itu Atau apakah Athrun adalah pemuda desa yang bertugas mencari sang putri yang hilang dan bersaing dengan sang pangeran seperti dalam cerita The King's Lost Daughter karangan Beatrice Silverman Weinreich. Mungkin yang terakhir agak mirip untuk situasi mereka. Athrun kembali dari perang bersama sang putri, yaitu Cagalli namun yang mendapatkan kenyamanan dari situasi mereka justru si pangeran yang pengecut, yang dalam situasi mereka adalah Yuna Roma Seiran.
"Jadi, kau yang akan menjaga Cagalli menggantikan Kisaka, huh?" tanya Yuuna ketika mereka sedang ada acara Gala Dinner di ORB untuk sebuah acara tahunan. Athrun sedang berada di belakang podium dan Yuuna tiba-tiba saja berdiri di sebelah Athrun. "Alex Dino, pemuda tanpa masa lalu yang dipercaya oleh Kisaka, hmph…sungguh aneh Kisaka yang sangat dipercaya oleh mendiang Uzumi mempercayakan pemuda tanpa ingatan dan tanpa masa lalu untuk menjaga Cagalli."
Athrun merasa agak tersinggung namun dia berusaha untuk menahan diri, "Maaf representative Seiran, namun apakah ada yang salah dengan tugas yang kuterima?"
Mereka sudah saling kenal cukup lama. Namun Yuuna jarang berbicara dengan Athrun, yang Athrun tahu sang politikus muda itu sering memperhatikannya ketika dia sedang berdua dengan Cagalli di parlemen. Semoga saja mereka tidak berasumsi macam-macam, akan cukup berbahaya kalau ada rumor mengenai hubungan mereka diketahui orang-orang. Athrun pun juga tidak aneh bila Yuuna memeriksa identitasnya atau mencari tahu orang yang dekat dengan Cagalli.
"Cagalli terlalu lembek dengan membiarkan seorang Coordinator dekat dengannya," ucap Yuuna yang langsung menarik perhatian Athrun dari balik kacamata hitam yang dia kenakan. "Aku tahu hubungan kalian itu seperti apa tapi ingat kau bukan siapa-siapa. Kau hanyalah pemuda tanpa ingatan akan masa lalu yang ditolong oleh Kisaka. Kau berpacaran dengan Cagalli, silakan saja tapi tidak ada yang bisa mengubah ikatan antara aku dan Cagalli."
"Maksud Anda?"
"Aku tidak membenci Coordinators hanya saja….aku….aku selektif apalagi yang berkaitan dengan ORB. Kau dan saudara Cagalli adalah dua orang yang dapat mengacaukan kejiwaan Cagalli. Kasihan sekali Cagalli harus hidup di dalam tekanan karena orang sekitarnya Coordinators," ucap Yuuna seakan-akan Cagalli dekat dengan Coordinators adalah kesalahan.
"Kira? Sejauh apa dia tahu tentang Kira? Tapi hal itu tidak aneh mengingat Kira memang penduduk ORB dan orang tuanya tinggal di ORB. Semoga saja mereka tidak tahu mengenai Lacus,' pikir Athrun. "Saudara?"
Yuuna menghela napas, "Keluarga Yamato, warga sipil yang katanya masih ada hubungan saudara dengna Cagalli padahal sudah jelas kalau mereka posisinya jauh berbeda dengan Cagalli. Mereka hanya warga sipil biasa. Berbeda dengan Cagalli, Cagalli harus tahu posisinya itu."
Athrun mendengus dalam hati, tidak menyangka kalau pemuda yang lebih tua empat tahun darinya itu lebih kolot dan lebih picik otaknya. Tidak disangka kalau ORB bisa sebusuk ini bahkan petingginya masih ada yang berpikiran busuk seperti ini. ORB memang unik karena sistem pemerintahannya seperti memiliki tingkat berdasarkan kebangsawanan. Athha tentunya sedang berada di posisi tertinggi.
"Apalagi kau, tiba-tiba saja muncul dan langsung mencoba berperan seperti seorang pahlawan untuk Cagalli, haaah….dasar anak kecil. Kalian ini tidak tahu apa-apa tentang dunia dan apa yang sedang kita hadapi. Apalagi Cagalli, dia pikir apakah meja diskusi parlemen itu sebuah permainan? Memangnya tempat ini seperti main rumah-rumahan? Dasar anak kecil," ucap Yuuna dengan nada kecewa dan mengejek.
Athrun mengepalkan tangannya di belakang. Dia ingin sekali menonjok pemuda di sebelahnya itu. Yuuna tidak tahu apa-apa tentang masa lalu mereka. Masa lalu Cagalli, Kira, bahkan masa lalu Alex Dino yang ternyata adalah seorang Athrun Zala. Dia tidak tahu luka hati dan luka batin mereka. Cagalli masih hijau. Tentu saja, karena pengalaman Cagalli dengan maju ke garis depan beda dengan mereka yang ada di belakang layar. Apalagi didikan Uzumi yang keras tentu saja membuat karakkter Cagalli itu keras dan kuat, tapi sekarang Cagalli menjadi sosok yang lemah karena tidak ada yang satu suara dengannya. Sahaku tidak banyak membantu karena dia mengambil peran sebagai penyeimbang dan pengamat. Dia hanya menjadi oposisi saja karena kekuatan Sahaku yang terlalu besar. Dia setara dengan Athha namun tidak mau gegabah.
Athrun pernah sekali bertemu dengannya, dengan Rondo Mina Sahaku. Wanita yang berpakaian mewah itu sungguh misterius, Athrun tidak terlalu paham dengan pola pikirnya namun Malchio mengatakan kalau Sahaku tahu benar apa yang harus mereka lakukan dan tidak perlu dipermasalahkan mereka ada di pihak mana. Justru Mina tidak maju ke parlemen karena ingin menjaga Cagalli. Athrun masih tidak paham apa maksud menjaga yang dikatakan Mina. Saat bertemu dengannya Mina hanya tersenyum dan menepuk bahu Athrun sambil berkata, "temukanlah jawaban yang memang kau yakini. Pedang keadilan yang patah itu masih dapat disambung kembali." Athrun tidak tahu maksud Mina. Dia tidak ingin bermain teka teki karena buatnya sekarang dia adalah 'Alex Dino'.
Tapi sekarang, obrolan dengan pemuda Seiran ini belum selesai. Sudah jelas kalau Yuuna menghampiri Athrun untuk menegaskan posisinya dan mengancam Athrun. Dia ingin mengingatkan Athrun akan posisi Yuuna sebagai calon pewaris Athha yang lain. Calon pewaris legacy Uzumi yang lain. Kalau memang di ORB sistem keningratan sebuah keluarga yang menunjukkan status sangat dijunjung tinggi, Athrun ingin sekali mengatakan kalau dia adalah seorang Athrun Zala, dia seorang Zala yang dimana legacy-nya sudah pernah hampir menghancurkan dunia. Dia ingin sekali mengetahui respon orang sekitarnya yang itu sudah pasti menyebabkan ORB kacau.
Sialnya dengan menjadi Alex Dino, Athrun terpaksa memasukkan sosok Yuuna Roma Seiran dalam aturannya. Dia bukan Athrun Zala dari PLANTs atau ZAFT. Dia hanyalah Alex Dino penduduk ORB sehingga segala macam yang berkaitan dengan ORB harus dia ketahui harus dia ikuti bahkan pemuda menyebalkan disebelahnya ini menjadi salah satu aspek yang harus dia pertimbangkan ke dalam 'aturannya sebagai Alex'. Athrun berkali-kali ingin menolak sosok Yuuna namun pemuda ini selalu muncul dan selalu ada khususnya ketika dia sedang bersama Cagalli. Menyebabkan Athrun menjadi posesif pada Cagalli tanpa disadari. "Tanpa mengurangi segala rasa hormat namun saya rasa Representative Athha tahu apa yang dia lakukan dan saya sebagai pengawalnya hanya bisa menjaga kondisi Representative Athha dan memastikan keamanannya, saya harap hal itu tidak mengganggu hubungan Anda dengannya," ucap Athrun.
Mendengar jawaban Athrun yang kaku, Yuuna tetawa, "Hahahaha…tidak kusangka kau ternyata kaku juga, huh?" Yuuna lalu menghela napas lega, seakan-akan dia sudah tahu lawan bicaranya seperti apa. "Melihat sikapmu dan sifatmu yang terlalu kaku dan penurut seperti itu, kelihatannya aku tidak perlu mengkhawatirkan masa depanku dengan Cagalli. Kau dan Cagalli hanya akan menyebabkan ketidak seimbangan di ORB," ucapnya dan meninggalkan Athrun. "Aku juga salah satu atasanmu jadi aku tidak mau ada apa-apa pada calon istriku, ingat itu," ucap Yuuna memberikan penekanan pada kata calon istri lalu pergi meninggalkan Athrun yang sudah sangat kesal dan cemburu.
Dadanya terasa sakit. Ternyata memang banyak hal yang tidak bisa dia prediksi sebagai seorang Alex Dino. Dia pikir dia hanya akan berada di 'lingkaran'nya yang aman. Hanya bersama orang-orang yang dia kenal. Nyatanya tidak. Dia melupakan faktor masyarakat. Yuuna Roma Seiran sebenarnya pemuda yang aneh bagi Athrun. Dia terlalu pengecut dan semua sikap dan sifatnya dibuat-buat namun Athrun mengakui kalau pemuda itu tahu ORB dia tahu politik, namun sayang EQ dan IQ-nya mungkin tidak setara dengan Cagalli atau bahkan dengan orang lain yang lebih kompeten. Mirisnya dialah salah satu orang yang bisa Cagalli percaya sekarang. Sekilas Athrun berharap Sahaku ada di parlemen, namun tidak bisa. Sahaku memiliki kekuatan yang setara dengan Athha. Cagalli dapat semakin hancur.
Pembicaraan dengan Yuuna menyadarkan Athrun kalau Athrun belum pulih dari traumanya akan perang lalu. Justru perlahan-lahan dia hancur. Melihat Cagalli ada di dekatnya menghiburnya sekaligus menghancurkannya. Menghiburnya sebagai cahaya yang membuat dia tetap waras namun di saat yang sama menghancurkannya karena apa yang Cagalli lakukan, Athrun ingin merengkuhnya. Athrun ingin merangkulnya, membawanya, dan membimbing Cagalli memberikan kedamaian dan ketenangan untuk gadis itu yang juga merupakan kedamaian dan ketenangan untukknya. Tapi Athrun tahu benar, dia tidak bisa lakukan itu. Tidak sebagai Alex Dino dan tidak sebagai Athrun Zala.
Tapi setidaknya dia bisa melihat sisi lain ORB. Sisi lain dari apa yang pernah dia lihat sebagai seorang Athrun Zala yang pernah memata-matai ORB sebagai tentara ZAFT. ORB ternyata lebih licik. Athrun setuju dengan apa yang Uzumi dan Cagalli harapkan, dia senang melihat keharmonisan dan keseimbangan yang disajikan ORB Union. Tidak ada perselisihan, tidak ada pertengkaran. Sungguh aneh, pikir Athrun kala itu. Bahkan ketika dia menginjakkan kaki di Onogoro pertama kali dengan bantuan mata-mata dan berkeliling kota dengan Nicol, sungguh semua yang dia lihat seperti sebuah sandiwara yang aneh dan itu terbukti. Ketika masyarakat hidup tenang penuh dengan canda tawa seakan-akan tidak ada apa-apa, orang-orang di sistem pemerintahan justru bertengkar mengenai kekuasaan, kasta, dan keningratan mereka. Mencoba saling mengungguli dan memenangkan suaranya. Cagalli pernah berkata apakah para warga sipil bodoh atau naif, atau buta karena tidak melihatnya. Mereka hidup tenang dengan orang yang saling main politik dibelakangnya, sunggu suatu ironi. Masyarakat membayar pajak agar pemerintah berjalan, namun bukannya berjalan dengan baik mereka justru saling baku hantam mengenai kebijakan, kekuasaan, dan idealisme mereka. Kasihan sekali masyarakat ORB Union, mereka ditipu dan para politikus dengan bodohnya sudah mengkhianati amanah mereka hanya karena uang, dan Athrun setuju dengan pemikiran itu ditambah obrolannya dengan Yuuna semakin memperkuat kalau di balik kenetralan ORB masih ada saja yang Pro-Naturals saja atau Pro-Coordinators saja mereka hanya bersembunyi dibalik visi misi ORB dan menjadikannya sebagai kedok.
Waid Rabby Nagada, Hoskin Gira Sakato, Vanfeld Ria Lindsay, Gard Dell Hokuha, Sars Sehm Ilia, beberapa anggota bangsawan ORB yang status serta posisinya sama dengan Cagalli dan Yuuna dari segi pengalaman dan umur sungguh orang-orang yang aneh buat Athrun. Athrun pernah ada di posisi tersebut. Sebagai Zala dia sering menemani Patrick dan Lenore ke beberapa acara dan bertemu beberapa anak yang memang elitnya. Sebut saja Joule, Elsman, Amalfi, dan lainnya termasuk Clyne tapi mereka tidak sepicik itu. Mereka satu misi satu visi walau adanya perbedaan. Namun di ORB Athrun melihat kondisi di parlemen juga memperlihatkan keberlangsungan mereka dalam hal ini posisi, kekuasaan, dan kekayaan mereka. Semakin atas berarti mereka semakin hebat. Hal yang normal namun tidak normal ketika kau berakhir menggunakan segala cara untuk mencapainya. Athrun bisa melihatnya terutama dari Nagada, Lindsay, dan Seiran mereka mendekati Athha untuk kepentingan mereka dan dalam kasus ini mendekati Cagalli dan mencoba merebut hati sang putri.
Salah satu cara yang mendiang Uzumi lakukan adalah dengan menjodohkan Cagalli dan setahu Athrun Kisaka bilang kalau Seiran dulu memiliki posisi yang bagus dan ada alasan yang wajar mengapa Uzumi melakukan hal itu dan mungkin salah satunya adalah untuk tidak membiarkan yang lain mendekati Cagalli. Athrun mendengus, padahal cukup dengan Uzumi memberikan pernyataan tentang calon pendamping Cagalli seperti apa pasti tidak akan ada yang berani berulah. Lagipula siapa yang berani membantah perintah Singa ORB kecuali sang putri singa itu yang dilihat Uzumi dari Seiran benar-benar membuat Athrun penasaran. Baik sebagai Athrun Zala dan Alex Dino, dia cemburu. Sebagai Alex dia cemburu namun tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa memendam perasaannya namun hal yang sama juga dia rasakan apabila dia sebagai Athrun Zala. Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa tapi setidaknya dia bisa memiliki posisi yang bagus apabila dia maju sebagai Zala mungkin tidak aka nada yang menolak. Tidak, dia tidak ingin merepotkan Cagalli hanya karena masalah sepele ini. Iya dia percaya kalau dia dan Cagalli baik-baik saja. Jadi, apakah selama ini dia bersikap adil pada Cagalli dan juga dirinya? Mereka berdua mengorbankan kebahagiaan masing-masing untuk orang lain. Cagalli untuk ORB dan Athrun sebagai Alex untuk Cagalli tapi, apakah itu sebuah solusi?
"Athrun?"
Athrun mengangkat kepalanya yang tertunduk dan melihat gadis yang ada didepannya. Cagalli dengan sebuah dress berwarna midnight blue dan rambut yang ditata manis dengan bando mutiara. Cagalli memutuskan memotong rambutnya menjadi lebih pendek sebahu dibandingkan yang dulu. Cagalli terlihat cantik namun wajah khawatir justru yang dia berikan pada Athrun. Malam ini kurang menyenangkan bagi Athrun karena para bangsawan ORB dengan seenaknya meminta Cagalli berdansa ringan dengannya. Bahkan Athrun menjadi saksi debatnya Yuuna dengan Waid sedangkan Vanfeld berusaha menarik perhatian Cagalli. Untung saja ada Rondo Mina Sahaku yang menarik perhatian Cagalli dan mengajak gadis itu mengobrol tapi tetap saja berdebat masalah gadis di suatu pesta bukanlah hal yang etis dilakukan. Seperti itukah calon pemimpin masa depan ORB? Athrun ingin tertawa karenanya.
Cagalli lalu menghampiri Athrun, "Kau tidak apa-apa?" Cagalli meraih salah satu tangan Athrun. Mereka hanya berdua dan sedang ada di taman dekat gedung acara. Cagalli ingin mencari angin segar di malam hari. Maka Athrun pun memutuskan untuk menemaninya.
Athrun tahu apa yang Cagalli lakukan beresiko, dia lalu melepas lembut genggaman Cagalli. "Tidak apa-apa," ucap Athrun.
Cagalli tahu apa yang Athrun risaukan. Cagalli dapat lihat wajah keras dan kesal Athrun walau ditutup dengan kacamata hitamnya. Athrun terus mengamati gerak gerik Cagalli dan bagaimana para bangsawan muda bersikap kepada Cagalli, Cagalli tahu Athrun tidak suka. "Maafkan aku, aku tahu mereka kelewatan tapi-"
"Aku paham," potong Athrun. "Hanya saja aku tidak menyangka akan seberat ini."
"Athrun," Tangan Cagalli hendak meraih tangan Athrun namun Athrun tiba-tiba memeluk Cagalli. "Athrun!?"
"Tolong biarkan aku seperti ini, walau hanya sebentar," ucap Athrun yang langsung menundukkan kepalanya ke bahu Cagalli, mencium dan meresap wangi parfum white lily gadis itu. Tidak disangka untuk parfum yang dia kenakan Cagalli ternyata memakai parfum yang hampir mirip dengan mendiang Lenore Zala. Cagalli hanya bisa membalas pelukan Athrun dengan melingkarkan kedua lengannya di punggung kokoh pemuda itu.
Kehidupan sebagai Alex Dino membunuh dan menghancurkannya. Dia memperoleh 'aturan' yang baru namun dia tidak bisa mengontrolnya. Tidak seperti saat dia menjadi Athrun Zala. Dia sempat mengontak dan bertukar pesan dengan Yzak dan Dearka walau tidak sering. Yzak mengatakan kalau dirinya terlalu bodoh dengan membiarkan identitasnya berubah. "Kau bodoh. Kau akan tersiksa karenanya Zala, tapi karena ini keputusanmu aku tidak peduli hanya jangan pernah kau tunjukkan lagi mukamu dihdapanku," ucap dan ancam Yzak kala itu yang kemudian dihibur oleh Dearka kalau Dearka paham dengan keputusan Athrun mengingat Terminal dan Eternal pun terpaksa disembunyikan di luar angkasa dan Athrun tidak mungkin tinggal di sana. Yzak termasuk salah satu yang peka dengan busuknya ORB. Negara yang terbilang netral tapi pastinya ada hal aneh yang menyebabkan Negara itu terlalu 'aman'. Setelahnya Athrun ingin membuang jauh-jauh apa yang Yzak ucapkan padanya tapi sayangnya dia benar. Ada beberapa hal yang tidak bisa Athrun prediksi sebagai Alex Dino dan bahkan sebagai dirinya sendiri ketika dia memutuskan tinggal di ORB.
Hal sepele saja bisa membuatnya panik, seperti saat Cagalli sakit dan pingsan di ruang kerjanya. Athrun merasa kesal. Dia tahu Cagalli hanyalah seorang Naturals dan hanya seorang gadis yang masih mengalami trauma perang. Kondisi fisiknya yang mudah sakit membuat Athrun sempat panik. Dia pernah melihat Cagalli sakit di Kusanagi dan bagaimana Kira atau Miriallia atau trio gadis pilot Astray situ merawatnya namun Athrun tidak menyangka kalau perasaannya akan sekacau ini. Semasa hidupnya orang tuanya jarang sakit bahkan terhitung tidak pernah. Imunitas mereka sebagai Coordinators adalah salah satu hal yang perlu dibanggakan tapi karena kondisi tersebutlah, Athrun tidak biasa melihat orang sakit. Rasanya dia merasa tidak berguna, tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa diam di samping tempat tidur, memandang wajah tidurnya yang terlihat sakit dan tersiksa. Athrun tidak suka. Ingin sekali rasanya dia menggantikan posisi Cagalli tapi dia tidak bisa.
"Hei," panggilan lembut dan lemah membangunkan Athrun dari lamunannya. Athrun lalu melihat Cagalli yang sudah bangun dari tidurnya. Wajahnya terlihat lelah dan tatapan matanya sayu.
"Hei," balas Athrun.
Cagalli mencoba untuk bangun dan Athrun membantunya. Gadis itu lalu duduk bersender di senderan tempat tidurnya. Athrun lalu memberikan secangkir teh herbal yang dibuatkan Myrna khusus untuk menenangkan gadis itu. Semenjak perang usai, PTSD menyerang Cagalli dan ketika dia sakit PTSD-nya dapat menjadi parah. Sesak napas, dada berdebar, bahkan histeris bisa terjadi pada gadis itu. Apakah para Emirs, termasuk Yuuna tahu? Iya, namun mereka acuh. Mereka hanya menganggap itu reaksi yang wajar terlebih lagi Cagalli adalah seorang gadis. Athrun lalu duduk di sisi kasur Cagalli dengan tatapannya yang agak kosong. Cagalli tahu arti tatapan itu. Tatapan merasa bersalah dan merasa tidak berguna. "Hei, tidak apa," ucap Cagalli. Berusaha menghibur Athrun, padahal dialah yang sedang menderita disitu. Demam hampir mencapai 39 derajat celcius dan disertai keringat dingin sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Dokter mengatakan Cagalli hanya kelelahan dan stress jadi tidak ada gunanya Athrun kesal karena semua adalah reaksi yang ditimbulkan berasal dari Cagalli sendiri, bukan Athrun tapi dia ingin mengangkat beban itu. Beban yang menyebabkan Cagalli sakit. "Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Kita sudah sering menangani hal ini bukan? Dan kau tidak sekali melihat kondisiku seperti ini," ucap Cagalli. Dia lalu memberikan cangkir teh yang sudah dia habiskan pada Athrun.
Athrun meraih cangkir itu dan menyimpannya di counter sebelah tempat tidur Cagalli. Walau ini bukan pertama kalinya tapi tetap saja, buat Athrun lemah dan sakitnya Cagalli bukan pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat apalagi kalau berakhir dia sempat terkena teguran Yuuna. "Apa mereka menegurmu?" tanya Cagalli. Athrun tidak menjawab. "Biarkan saja, kau tidak perlu memikirkannya. Apa yang kau lakukan adalah menjagaku tapi kalau pada akhirnya aku sakit itu bukan salahmu. Manusia merasakan sakit itu hal yang lumrah dan aku salah karena aku terlalu sibuk akhir-akhir ini dan tidak menggubris teguranmu untuk istirahat, tapi itu bukan salahmu Athrun," ucap Cagalli. "Kau bermalam di sini?" tanya Cagalli karena setahu Cagalli Yuna menempatkan Athrun di akademi militer bukan di Manor Athha. Bahkan mengganti posisi Athrun menjadi hanya staff khusus keamanan. Sungguh suatu kenyataan yang pahit karena ruang geraknya sebagai 'Alex Dino' pun dibatasi. Athrun mengangguk. Cagalli tersenyum dan menyenderkan kepalanya di bahu Athrun. "Temani aku ya?" pintanya sederhana. Untungnya Cagalli selalu meminta 'Alex' atau Athrun yang menemaninya.
'Alex Dino' bukanlah peran yang menyenangkan bagi Athrun. Dari seseorang yang memiliki kekuatan menjadi orang yang tidak namun masih ingin dapat mengendalikan kekuatan dan keinginan akan itu sangatlah kuat. Benar kata Yzak, 'Alex Dino' perlahan membunuh dan menghancurkan Athrun dengan 'aturannya'. Aturan 'Alex Dino' bukanlah aturan milik 'Athrun Zala', lalu siapa dia sebenarnya? Cagalli yang semakin jauh, sama sekali bukanlah hal yang mudah dia terima. Dia ingin Cagalli aman, dia ingin Kira dan Lacus aman makanya dia maju bersama dengan Cagalli. Athrun tahu benar ORB itu adalah tanggung jawab Cagalli dan Athrun tidak bisa meminta gadis itu melepasnya dengan mudah. Namun dia berharap. Berharap dapat meringankan beban gadis itu dan sedikit demi sedikit membimbingnya seperti apa yang Kisaka dan Uzumi lakukan. Memberikan keyakinan pada gadis itu kalau masih ada cahaya untuknya. Namun kelihatannya itu salah. Kekuatan dari seorang 'Alex Dino' bukanlah kekuatan yang Athrun cari. Dia hanya bisa memberikan Cagalli ketenangan, ketenangan kalau ada dia di sisi Cagalli. Hanya itu.
Seperti saat dia menemani Cagalli menemui Caridad Yamato. Sebelum Athrun tinggal sementara di Marshal Island dan sebelum dia memutuskan menjadi Alex Dino. Tepatnya saat mereka pulang ke ORB dan saat Athrun pertama kali bertemu lagi dengan Caridad. Cagalli diam dan membisu tidak memberikan penjelasan apapun pada Athrun sepulang dari kediaman Yamato. "Kamu baik-baik saja?" tanya Athrun ketika mereka sudah pulang dari rumah Caridad. Athrun khawatir karena ketika Caridad cerita mengenai Ulen Hibiki dan Via Hibiki, Cagalli menangis kembali. Sedikit Athrun paham perasaan Cagalli. Gadis ini tersesat. Dia tidak tahu kemana arah jalan yang benar. Dia kehilangan kompasnya. Cagalli yang duduk di sofa sambil memeluk dirinya hanya mengangguk pelan. Namun Athrun tahu Cagalli tidak baik-baik saja. "Cagalli…"
Athrun lalu menyentuh bahu Cagalli, bahu itu bergeta dilanjut dengan isak tangis kecil yang terdengar. Athrun lalu menaruh cangkir berisi teh hangat yang dia bawa untuk Cagalli di meja. Dia lalu memegang kedua bahu Cagalli dan menariknya menghadap dirinya, "Cagalli," ucapnya. Amber itu basah. Cagalli menangis lagi. Tatapan Athrun lalu melembut, "Ada apa?" tanyanya.
"Apakah yang dikatakan Mum Caridad benar? Bahwa aku dan Kira diberkati? Kelahiran kami bukanlah suatu kesalahan?" tanyanya. Sebuah pertanyaan yang Athrun sendiri bingung bagaimana menjawabnya. Athrun lalu memeluk Cagalli, menarik gadis itu ke dalam dekapannya.
"Mengapa kau berpikir demikian?"
"Aku kembali tanpa ada keyakinan sebagai Athha. Tidak ada yang mengetahui mengenai kehidupanku ketika aku bayi sebelum diri ini dapat mengingat. Apakah saat itu Ayahanda senang menerimaku?" ucap Cagalli sambil mengeratkan pelukannya. "Apakah aku benar-benar harus terlahir sebagai Natural? Benarkah aku ini ditakdirkan sebagai Natural? Apakah saat itu seharusnya aku tewas karena Ulen Hibiki menginginkan anak dengan gen Coordinator? Lalu apakah aku pantas memegang nama Athha? Darah itu sama sekali tidak mengalir di darahku. Aku sudah menipu banyak orang Ath, dengan bualan dari mulutku ini. Banyak orang yang tewas karena mereka mengikutiku, sebagai Athha."
Kali ini giliran Athrun yang mengeratkan pelukannya. Dia paham maksud Cagalli. Tidak mudah rasanya ketika kau yang sudah beranjak dewasa dengan keyakinan yang kau yakini justru langsung terjatuh ketika tahu kalau kau itu sudah mengambil langkah yang salah. Cagalli tidak salah. Justru Ulen dan Via yang salah, Uzumi pun salah tapi saat itu tidak ada waktu untuk mengobrol santai. Perpisahannya dengan Cagalli saat itu pasti sangat memberatkan Uzumi. Cagalli bukan putri yang sesungguhnya, Cagalli kehilangan tempat pulangnya. Sosok yang dapat tersenyum dan mengatakan selamat datang atau kau baik-baik saja sangat dibutuhkan oleh Cagalli sekarang. Orang itu bukan Caridad Yamato karena Caridad sudah berjanji pada Kira. Cagalli seperti karakter si bungsu dalam dongeng Puss in Boots dengan orang-orang yang setia padanya sebagai si kucing 'cerdik'. Semua kebohongan Cagalli tertutup dengan indah, dia hanya tinggal berakting sesuai dengan arahan atau bahkan menikmati hasil dari 'kebohongan' itu.
"Hei," Athrun lalu mengangkat wajah Cagalli yang masih basah oleh air mata, "Lihat aku," pinta Athrun.
Cagalli melihat lurus mata Athrun. Emerald, warna yang sama dengan warna mata Uzumi. Warna mata yang menenangkan yang mengingatkan Cagalli dengan wajah Uzumi sebelum mereka berpisah untuk selamanya. "Ath…"
"Kau adalah kau Cagalli, darah Athha memang tidak mengalir namun apa yang sudah Uzumi-sama ajarkan padamu, apa yang sudah kau jalani sebagai Cagalli Yula Athha anak dari Uzumi Nara Athha sudah tertanam dalam dirimu. Kau hanya tinggal perlu ikhlas dan menjalaninya," ucap Athrun yang sama-sama terdengar ada keraguan dalam kata-katanya.
"Tapi Ath aku….aku….sudah ternodai….," isaknya lagi.
Athrun lalu menangkup wajah Cagalli dengan kedua tangannya. "Aku juga sama. Kita sama-sama memiliki dosa dan luka. Aku tahu apa yang kau khawatirkan, apa yang kau takutkan, apa yang kau ragukan, apa yang menghentikan langkahmu," ucapnya sambil menyeka air matanya. Dosa dia sebagai Zala yang sekarang dia coba tutupi dengan akting seorang Alex Dino.
Athrun lalu menghela napas, "Apabila kau butuh bahu untuk bersandar dan menangis carilah aku. Apabila kau butuh benda untuk dipukul carilah aku. Apabila kau butuh orang untuk mendengarkanmu carilah aku, apabila kau lelah dan butuh tempat untuk istirahat carilah aku, dan apabila kau butuh alasan untuk pulang maka ingatlah aku," tambah Athrun sambil tersenyum. "Kamu sama sekali tidak hina, tidak ternoda, tidak kotor. Jika hatimu dan perasaanmu dengan seseorang itu sangat penting, maka kau akan suci selamanya. Yakinlah seperti halnya kau yakin Dewi Haumea memberkatimu," ucapnya. Sungguh kalimat yang hipokrit.
Cagalli menggigit bibir, dia lalu mencengkram lengan Athrun dengan kencang. "Tapi aku takut Ath…aku takut…aku takut mengetahui kenyataan kalau ternyata seluruh dunia membenciku!" seru Cagalli. "AKU TAKUT DUNIA MEMBENCIKU!" setelah Cagalli berseru demikian, Athrun hanya bisa memeluknya dan mengelus pelan punggung Cagalli sambil berkali-kali mengecup puncak kepalanya dan membisikkan kalimat "Aku bersamamu, aku mencintaimu" berulang kali. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua emosinya, menjadi tenang, dan perlahan tertidur.
Apabila Cagalli takut dunia membencinya, lalu dia apa? Dia sudah menjadi musuh dunia. Dia sudah dengan jelas berkhianat dan menghancurkan dunia. Dia mengkhianati bangsanya sebagai Athrun Zala yang mengkhianati sumpahnya sebagai tentara ZAFT untuk melindungi PLANTs dan dia berusaha menghancurkan dunia sebagai bagian dari Zala dimana mendiang Ayahnya berniat menghabiskan seluruh Naturals. Ya, dia bertanggung jawab untuk hal itu dan sekarang dia 'kabur' dari situasi itu. Dia sudah menjadi musuh dunia. Lalu apa yang dia lakukan sekarang? Peran apa yang dia ambil sekarang? Dia seorang kriminal, pendosa, pembunuh apalagi? Dosanya sudah terlalu banyak dan tumpah jadi tidak ada gunanya ditutupi juga bahkan memakai identitas bohong pun tidak masalah. Toh, dosanya sudah terlampau banyak. Namun, dia itu siapa?
Ketika Kisaka mengenalkannya sebagai Alex Dino pada Cagalli, dia seperi kucing dalam dongeng Puss in Boots. Berusaha memenuhi misi dari majikannya dan membalas budi majikannya, yang tidak lain adalah Cagalli dan majikan sebelumnya adalah Kisaka atau mungkin Uzumi. Tetapi peran itu adalah peran yang dia mainkan sebagai Alex Dino lebih tepatnya. Bukan sebagai Athrun Zala. Apabila sebagai Athrun Zala dia seperti pangeran yang bertukar tempat dengan rakyat jelata, entah apa judul dongeng yang cocok menggambarkannya. Sempat terlintas di pikiran Athrun suatu keraguan mana yang nyata mana yang bukan. Apakah dia sebenarnya terlahir sebagai Alex Dino atau terlahir sebagai Athrun Zala? Dia seperti orang dengan kelainan yang disebut Dissociative Identity Disorder yang akibat suatu trauma akhirnya mengalami kepribadian ganda. Mungkin itu adalah kondisi Athrun secara nyata apalagi dia mengalami PTSD yang cukup menyiksa tapi, dia masih waras. Dia masih memiliki ingatan sebagai Athrun Zala dengan jelas. Semuanya nyata. Athrun Zala itu nyata. Namun sekarang 'Alex Dino' itupun menjadi terasa nyata untuknya.
Athrun tenggelam dalam dunia peran itu. Dunia yang diselimuti dengan kebohongan dan kegelapan. Dunia manakah yang harus dia pilih? Dia lalu teringat kata-kata Kira dan Yzak kalau apa yang Athrun lakukan justru akan menyiksa dirinya. Kira tidak banyak berkomentar selama mereka masih suka berkomunikasi. Tapi tanpa Athrun sadari dia tersiksa. Hampir setiap malam dia selalu terjaga. Dia beralasan kalau itu adalah akibat dari tugasnya sebagai personal bodyguard yang selalu harus siap dan siaga namun Cagalli selalu menegurnya bahkan Myrna. Dia tidak merasa tenang. Tidak akan pernah. Bahkan sekarang cahayanya menjauh. Cagalli menjauh padahal dia ada di sebelahnya. Ada di sisinya. Tenggelamnya Cagalli dalam urusan kenegaraan, kedekatanyya dengan para Bangsawan ORB, serta Athrun yang baru tahu akan masa lalu Cagalli membuat pemuda itu gundah. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mendamaikan dunianya dan dunia Cagalli. Bau darah dan bubuk mesiu itu masih tercium dengan sangat jelas masih menghantuinya setiap malam, kegelapan itu masih ada justru semakin pekat.
Athrun hanya tahu satu hal. Dunianya belum tenang. Apa yang dia lakukan tidak memberikan ketenangan dan kedamaian, seperti ada suatu hal yang belum selesai, seperti ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Alex Dino itu bukan peran yang ingin dia mainkan. 'Aturan' Alex terlalu lemah dan terlalu lugu untuknya. 'Alex' itu lemah. Mungkin sebagai seorang mantan tentara dan seorang agen dia membutuhkan alasan, mengapa dia ada? Apa yang dia perjuangkan? Perdamaian? Namun sosok yang mengejar perdamaian itu tidak mengajaknya. Cagalli mengejar mimpi apa yang Athrun impikan. Kedamaian dan ketenangan. Sayangnya, Cagalli tidak membawa Athrun kedalamnya. Cagalli membawanya sebagai Alex. Apakah selama ini Cagalli mengikuti alur cerita Athrun sebagai Alex Dino? Athrun tidak tahu karena Cagalli selalu meminta 'ketenangan' dari sosok Athrun Zala. Setidaknya untuk sekarang ada yang mendistraksi pikirannya. Tugasnya sebagai tim keamanan petinggi Negara dan tugas keliling dunia dengan Cagalli cukup menghiburnya. Setidaknya dia tahu seperti apakah Cagalli Yula Athha itu dan menemani gadis itu membentuk dirinya. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah untuk mereka yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun. Namun, dia tidak suka apabila dia harus duduk jauh dari gadis itu ketika bertugas. Dia tidak bisa memberikan bahunya untuk gadis itu bersender ketika lelah dan tidak bisa mendengarkan keluh kesahnya dan menggenggam tangannya apabila gadis itu tidak tenang atau tegang.
Jadi, apakah selama ini Athrun melakukannya demi seorang gadis? Apakah dia rela meninggalkan semunya demi seorang wanita yang sudah mengubah pola pikirnya dan pandangan hidupnya akan ras dan peperangan? Yzak pasti akan menertawakannya kalau dia tahu hal itu. Tidak, Athrun tidak ingin menjadikan Cagalli alasan. Namun, apa yang Cagalli atau lebih tepatnya yang ORB tawarkan padanya cukup bagus. Setidaknya dia bisa menghirup udara segar walau dadanya masih terasa sesak. Walau dosa-dosanya tidak hilang. Justru bertambah.
Kunjungan ke PLANTs dan Armory One mengubah semuanya. Athrun akhirnya kembali menginjakkan kakinya di PLANTs setelah sudah hampir dua tahun dia tidak pernah kembali ke PLANTs. Apa kabar rumahnya? Makam Ibunya? Makam Nicol? Bahkan apa kabar teman-temannya? Apakah ada pemakaman untuk Ayahnya sebagai salah satu tentara yang gugur di medan perang? Hal itu baru terlintas di pikiran Athrun sekarang namun dia datang bukan untuk mengurus hal itu. Dia datang bukan untuk bernostalgia atau reuni. Gilbert Dullindal adalah nama pemimpin PLANTs yang baru. Athrun tidak terlalu mengetahui pria bernama Gilbert itu. Selama dia tinggal dan menemani sang Ayah dia tidak pernah mengetahui sosok Gilbert itu. Rumornya dia calon pemimpin masa depan seluruh dunia dan sosok pemimpin yang ideal. Dia menemani Cagalli hendak melakukan pembicaraan diplomasi mengenai pengembangan senjata militer ZAFT baru-baru ini. Tujuannya ada pengembangan senjata? Tentu saja untuk keamanan Negara, idealnya.
Armory One diserang. Entah apakah dia terkena karma atau Dewi Haumea tidak merestui mereka berdua, pangkalan militer itu diserang oleh mata-mata dan mengambil unit terbaru yang dikembangkan oleh ZAFT yaitu Gundam hasil pengembangan seri ZGMF-X. Athrun merasakan déjà vu. Seakan-akan kejadian dua tahun yang lalu terulang tapi sekarang dia berada di pihak seperti Kira, hanya warga sipil yang terjebak di tengah konfik. Dia merutuk. Apa yang salah sekarang? Namun dia tidak sempat mengumpat, dia melihat tatapan Cagalli yang ketakutan. Gadis ini merasakan hal yang sama dengan Athrun, déjà vu. Athrun bisa lihat Cagalli yang hampir 'kambuh'. Ekspresinya resah dan napasnya mulai tidak teratur, tubuhnya mulai lemas dan Athrun bisa lihat kalau tangannya Cagalli sedikit gemetar menunjukkan ada ketakutan yang masih menyelimutinya. Gilbert memerintahkan mereka untuk mencari tempat aman, namun Cagalli diam mematung tidak bergerak, tatapannya masih ke arah unit baru yang menghancurkan pangkalan yang seketika langsung jadi medan perang dan juga kobaran api yang mulai menyala. Sungguh suatu kombinasi yang tidak menyenangkan. Kejadian Heliopolis dan ORB dua tahun lalu seakan-akan terulang sekaligus dihadapan Cagalli dan juga Athrun Athrun tahu arti tatapan itu. "Cagalli," Athrun memanggil dan merangkul gadis itu. Mencoba memberikan rasa aman kalau semuanya akan baik-baik saja.
'Semua baik-baik saja, semua baik-baik saja, aku akan melindunginya. Cagalli aman, Cagalli aman. Kami harus hidup', itu batin Athrun. Mereka berdua terus berlari mencari tempat aman. Terpisah dari tentara yang seharusnya membawa mereka ke shelter aman akibat ledakan, entah bagaimana nasib tentara itu Athrun tidak peduli. Sekarang yang ada dipikirannya hanya keselamatan dia dan Cagalli. Situasi yang mereka hadapi sekarang berbeda dengan Heliopolis. Saat itu dia tidak menghancurkan pangkalan utama militer, tidak ada perlawanan yang keras saat itu. Bahkan hancurnya Heliopolis adalah hal yang tidak direncanakan. Namun sekarang berbeda, para tentara ZAFT mati-matian menghentikan unit yang diambil alih itu. Kelihatannya unit yang dirahasiakan, untuk apa? Persetan alasan itu untuk sekarang. Athrun tidak sempat memikirkan itu. Sekarang dia harus mencari cara agar Cagalli aman, dia aman juga.
"Athrun?" ucap Cagalli ketika Athrun melonggarkan pelukannya dari ledakan Mobile Suit.
Athrun menatap Cagalli. Mencoba menunjukkan wajah tenangnya. Mencoba menyampaikan pesan kalau semuanya baik-baik saja, mereka akan selamat, mereka pasti hidup. "Aku baik-baik saja," ucap Athrun tidak ingin membuat Cagalli khawatir. Padahal nyatanya dia juga sama seperti Cagalli. Dia merasa takut, tiba-tiba saja ada rasa takut yang muncul. Dia resah, dia khawatir, dia marah, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Masih untung dia bisa menggerakkan badannya dan masih ada kekuatan untuk bergerak. Dia dapat merasakannya Cagalli yang sudah tidak bertenaga untuk lari bahkan untuk berdiri saja sudah sulit dan Athrun harus menjadi kuat karenanya. Dia harus bisa menjadi pedang dan tameng untuk Cagalli. Namun, yang dia lihat sekarang dia hanya bisa lari dan main aman seperti biasa. Padahal sekarang nyawanya dan nyawa Cagalli ada di ujung tanduk. Salah bertindak, nyawa menjadi taruhannya.
Mereka terjebak. Tidak ada pilihan lain kecuali menaiki Mobile Suit yang ada di dekat mereka. Entah sebuah keberuntungan atau kesialan. Persetan! Athrun tidak peduli. Dia tahu kalau dia memakainya akan menarik perhatian musuh, tapi dia tidak ada pilihan lain. DIA TIDAK BISA MEMBIARKAN CAGALLI MATI DI TEMPAT SEPERTI INI! Itu lah yang ada dipikirannya. Cagalli yang masih ragu tidak di gubris, wajar karena gadis itu tahu kalau Athrun sama sekali tidak ingin kembali ke dirinya yang dulu. Selama menjadi Alex Dino dia memang sempat membantu dalam beberapa pengembangan MS ORB atas permintaan Erica Simmons tapi tidak sampai menjadi pilot dan mendapat tugas khusus dengan sebuah unit Mobile Suit.
"Kamu?" Cagalli melihat gerakan tangan Athrun yang masih cekatan memainkan tombol dan menyalakan Mobile Suit.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu mati di tempat seperti ini!" seru Athrun yang langsung menarik tuas kendali. Dia tidak peduli, kalau pada akhirnya dia harus maju lagi ke medan perang namun sekarang situasinya mendesak. Setelah sekian lama tidak mengendalikan Mobile Suit, Athrun merasakan sensasi yang berbeda. Sensasi yang muncul ketika dia menjadi seorang Athrun Zala. Dia merasa seakan-akan dia bisa melakukannya. Hal-hal yang selama ini dia coba hilangkan dan ganti sebagai seorang Alex Dino. Ada sedikit rasa 'benar' yang muncul di hati dan pikirannya.
Ketika melihat unit Gundam yang mencoba melawan unit Gundam berwarna hitam dan hijau itu, Athrun merasa dia harus membantunya. Padahal niat dia awalnya hanya untuk mengamankan dirinya dan Cagalli. Kesempatan untuk kabur dan mencari tempat aman sangat besar apalagi dengan adanya unit Gundam baru yang menggunakan twin beam saber itu. Tapi, melihat situasi dimana tiga lawan satu Athrun tidak bisa diam diri. Dia mencoba untuk membantu namun, dia gegabah. Dia tidak memperhatikan kondisinya yang bersama orang lain dan jauh dari prosedur militer untuk keamanan pilot.
Untuk pertama kali Athrun menyebabkan Cagalli terluka. Bukan karena ancaman dari pihak teroris, demonstran atau pihak yang tidak suka dengan pemerintahan Cagalli seperti di ORB tapi luka karena kelalaiannya. Dia lupa kalau dia bersama Cagalli. Darah merah segar mengalir dari belakang kepala gadis itu dan membasahi tangan Athrun serta bau amis darah itu menusuk hidungnya. Bau darah itu nyata. Dia terkejut, gadis itu langsung terjatuh pingsan dipangkuannya. Cagalli tidak sadarkan diri. Athrun tidak bisa gegabah, dia tidak tahu benturan itu berakibat fatal atau tidak. Hanya satu hal yang dia ketahui, kondisi dia sekarang tidak aman. Keselamatan nyawa Cagalli menjadi prioritas utama. Untungnya ketiga unit baru itu sedang fokus mengepung, bertempur, dan mencoba mengalahkan Gundam berwarna putih dan merah itu. Athrun lalu mengambil kesempatan melarikan diri ke tempat yang lebih aman walau dia tidak suka.
Melihat Cagalli yang tidak sadarkan diri, dia bingung harus berbuat apa. Situasi mereka tidak menguntungkan. Tidak mungkin dia dengan santainya membuka komunikasi dengan ORB setelah apa yang terjadi, ditambah lagi Cagalli terluka dan dia dengan seenaknya mengendalikan salah satu MS milik ZAFT walau alasannya untuk keamanan dan keselamatan. Hanya ada satu orang yang dapat membantu mereka dan menjelaskan kepada mereka situasi yang terjadi dan orang itu tidak lain adalah Gilbert Dullindal.
"Bogey One huh?" kira-kira nama asli dari kapal tersebut apa ya?" ucap Gilbert.
"Huh?"
"Nama menjadi sebuah indikator dari suatu keberadaan, tetapi bagaiman kalau ternyata nama itu tidak asli?" ucapnya lagi. Athrun tidak merespon karena dia tidak tahu mengapa sang petinggi PLANTs ini memulai pembicaraan mengenai identitas. "Jika tidak asli, lalu apakah keberadaannya juga tidak asli? Bagaimana menurutmu?"
Gilbert lalu memutar kursinya dan menatap Athrun dengan menunjukkan senyumnya. Senyum yang memilik banyak makna sehingg Athrun tidak bisa membaca maksud dan tujuannya. Atau mungkin karena ruang Minerva yang gelap dan minim cahaya sehingga senyumnya terlihat tidak tulus atau culas?
"Alex, ah bukan….Athrun Zala?"
Bola mata emerald itu membulat sempurna. Tidak menyangka ada orang yang dengan mudahnya membuka dan membongkar identitasnya. Dia pikir hilangnya Athrun Zala selama dua tahun sudah cukup membuat orang-orang lupa dan bisa menerima sosok 'Alex Dino' yang menggunakan tubuh Athrun Zala ini. Ingin rasanya dia mengumpat ke pihak ORB yang memberikannya tugas ke PLANTs bahkan mengumpat ke dirinya sendiri karena tidak berhati-hati. Tidak menyangka kalau nama Zala, nama Athrun Zala masih melekat, masih memiliki kekuatan, dan mirisnya masih diingat.
Athrun salah perhitungan. Justru manusia itu selalu mengingat keburukan, mereka melupakan kebaikan. Athrun melupakan hal itu. Dia sudah memberikan impresi yang buruk pada ZAFT tidak hanya sebagai Athrun Zala namun juga nama Zala itu sendiri. Dia bisa melihat reaksi orang yang diam-diam melirik ke arahnya dan heningnya suasana serta diamnya Cagalli yang Athrun tahu, Cagalli sendiri bingung harus berkata apa. Mereka panik dan berada di situasi yang mengancam nyawa, tidak ada waktu untuk menegur dan mengoreksi salah menyebutkan nama alias Athrun ataupun mengenai 'samaran' Athrun.
Junius Seven bergerak dan akan menghancurkan bumi bila dibiarkan. Athrun tidak memiliki kesempatan menunjukkan emosinya. Sebagai Alex dia harus mematikan emosi simpati dan empati akan adanya sosok jasad Ibu dari Athrun Zala, Lenore Zala. Makam Ibunya bergerak dan akan menghancurkan bumi? Dia sendiri bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mencari jasadnya walau dia ingin. Dia sudah meredam atau menghilangkan keinginannya untuk melihat kondisi Ibunya di akhir hayatnya seperti apa. Dia sudah pasrah tidak bisa menemukannya dan sekarang makam itu akan jatuh dan hancur. Sungguh dia tidak tahu harus berkata apa. Karma atau hukuman atau balasan Athrun tidak hanya berpikir 'apa yang dia bisa lakukan sekarang?' untuk melindunginya cahayanya yang ada di bumi.
Athrun sadar diri, dengan dirinya sebagai 'Alex' dirinya tidak bisa mengontrol Cagalli, tidak bisa mencegah gadis itu gegabah dan menjaga omongannya. Bahkan kekesalan dan kekhawatiran gadis itu tidak bisa Athrun tenangkan. Seorang tentara bermata merah menunjukkan kesedihan dan kekecewaannya pada keluarga Athha yang bisa membuat gadis itu diam tapi diamnya Cagalli justru karena shock karena pemuda itu korban dari perang yang terjadi ORB ketika Blue Cosmos menyerang dan menyebabkan Uzumi Nara Athha tewas. Sebuah fakta yang tidak bisa Cagalli dan Athrun tolak. Athrun tidak bisa berkomentar apa-apa. Baik dia dan Cagalli sudah paham kalau akan ada orang seperti itu. Orang yang melihat dari sudut pandang yang lain karena posisi mereka tidak seperti Athrun maupun Cagalli. Seperti dua sisi koin, seperti mata pisau yang tajam dan tumpul. Sekali lagi, dirinya tidak bisa apa-apa. Hanya bisa memeluk dan menenangkan Cagalli yang sebenarnya sudah lelah dan luapan emosinya tidak lain akibat trauma akan perang lalu dan PTSD. Melihat Cagalli yang menangis dan sedih, maka Athrun memutuskannya. Dia memutuskan untuk mencari cara bagaimana agar apa yang dia dan Cagalli khawatirkan tidak terjadi. Dia pun bersikeras meminta izin ikut serta dalam misi walau diperingatkan oleh Talia Gladys kalau dia hanyalah Alex Dino sang warga sipil, atau Athrun Zala sang warga sipil? Athrun tidak tahu tapi statusnya itu memang membuatnya tidak dapat berbuat banyak atau bergerak bebas.
"Kenapa kau tidak menyadarinya!? Bagi kami para Coordinators, jalan yang ditunjukkan oleh Patrick Zala adalah satu-satunya jalan yang paling benar!"
Patrick Zala. Nama yang selama ini Athrun selalu hindari dan Athrun lupakan. Tidak disangka kalau masih ada yang terbayang-bayang oleh sosok Ayahnya. Ralat, apakah sesungguhnya sosok Ayahnya itu masih membayang-bayangi dirinya? Seakan-akan memberitahu kalau di aitu adalah seorang Zala dan Zala yang harus bertanggung jawab untuk semua ini. Dia hampir hilang kendali untuk Mobile Suitnya. Sosok Ayahnya yang dia ingat mulai dari kebaikannya hingga keburukannya pada perang lalu. Sosok Ayahnya yang mempunyai misi yang tulus awalnya namun berakhir berambisi menghancurkan dunia.
Setelah misi menghancurkan Junius Seven selesai dan berakibat pada adanya kehancuran dan bencana di bumi, pikiran Athrun tidak tenang. Mereka gagal. Dia sangat ingin membungkam mulut atau menampar Cagalli saking kesalnya tetapi Athrun tidak ingin menceritakan pada Cagalli kalau masih ada orang yang membenci dan mendendam di luar sana. Gadis itu terlalu naif, dia masih membawa emosi dan perasaannya. Dia tidak melihat apa yang terjadi di luar sana. Namun, apakah itu sekarang penting diperdebatkan? Perdebatan Shinn dan Cagalli sekarang tidak Athrun hentikan, apa yang Shinn katakan benar. Apakah orang di bumi sepemikiran dengan Cagalli kalau mereka tertolong dengan hancurnya Junius Seven walau kepingan lainnya tetap jatuh ke bumi? Mungkin. Namun manusia tidak senaif itu. Mereka tidak sepemikiran dengan Cagalli. Fakta kalau Junius Seven dijatuhkan oleh teroris yang tak lain adalah Coordinators pun tidak bisa dielakkan. Media pasti akan meliputnya dan membuat para Coordinators dan Naturals berseteru lagi.
Tidak ingin menambah beban pikiran yang bisa berdampak pada sikap atau sifatnya yang mungkin justru menyakiti Cagalli atau Shinn, Athrun memilih menjauh. Dia yang seharusnya menemani Cagalli sebagai 'Alex Dino', dia yang seharusnya berakting dan berperan sebagai 'Alex Dino', ternyata malah menunjukkan perannya sebagai Athrun Zala.
"Sejujurnya kami semua tahu tentangmu, Athrun Zala…"
Ucapan Lunamaria Hawke membuatnya berpikir. Sejauh apa orang mengetahui sosok yang justru ingin dia hilangkan itu? Dia? Pahlawan? Oh, sungguh memuakkan. Di aitu pengkhianat kelas kakap. Tidak hanya berkhianat kepada bangsa dan Negara, dia berkhianat kepada almamater militernya bahkan menjadi anak durhaka. Pahlawan seharusnya memberi contoh yang baik, bukan yang buruk. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Namun pertanyaan yang akhir-akhir Athrun coba untuk hilangkan muncul kembali. Siapa itu Athrun Zala? Seperti apa Athrun Zala itu? Mengapa harus Athrun Zala? Dimana keberadaan Athrun Zala? Dia bingung. Dirinya yang sebenarnya siapa. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah tidak bisa memakai topeng Alex dihadapan mereka.
Ketika dia meraih pistol itu, ketika dia menembaknya dan memberikan arahan pada Lunamaria mengenai teknik menembak perasaan itu kembali muncul. Perasaan rindu dan benar akan apa yang dia lakukan. "Athrun," panggilan Cagalli membuatnya melirik ke arah sumber suara. Athrun bisa lihat wajah lelah dan sedih gadis itu. Entah apa yang membuatnya menunjukkan ekspresi itu. Athrun pun memutuskan untuk menghampirinya.
Lunamaria mengatakan kalau pistol itu penting untuk melindungi. Athrun ingin tertawa. Dia adalah bukti nyata kalau pistol tidak dapat melindungi. Dia sudah memegang dan mengarahkan senjata api itu ke orang yang mengancamnya. Namun dia tidak memperoleh apa-apa dari kemampuannya dengan alat itu. Senjata api bukanlah solusi. "Musuh? Siapa?" tanya Athrun ketika Lunamaria bilang kalau pistol untuk melindungi diri dari musuh. Pernyataan yang bias bagi Athrun karena definisi musuh itu sendiri dia tidak tahu. Musuh dia? Musuh Lunamaria? Musuh ZAFT? Musuh PLANTs? Musuh Coordinators? Apa? Musuh itu apa? Musuh itu siapa? Terakhir orang yang dia anggap musuh adalah sahabatnya dan berakhir tragis.
"Kudengar Minerva akan mengarah ke ORB. Apakah kamu juga akan kembali ke ORB?" tanya Shinn, menahan langkah Athrun.
"Iya," jawab Athrun dan memang itu adalah hal yang harus dia lakukan.
"Kenapa? Apa yang kau lakukan disana?"
Athrun diam mematung. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan pemuda bernama Shinn Asuka itu yang ternyata masih dendam dengan ORB. Athrun tahu kalau dia menjawab justru akan memunculkan perdebatan. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak tahu apa-apa dan hanya diselimuti oleh kesedihan, amarah, kekesalan, dan kekecewaan. Athrun memutuskan tidak menjawabnya. Dia pun pergi meninggalkan para perwira ZAFT yang sedang berlatih itu.
Athrun lalu menghampiri Cagalli yang ternyata dari tadi menunggunya. "Cagalli," panggil Athrun.
Cagalli masih menunjukkan raut wajah yang sama, "Ah Athrun maaf, aku…,"
"Ada apa?"
"Mmm…kita akan menuju ORB, aku….," Cagalli terdengar resah. "….Aku meminta izin dan berhasil mengontak pemerintahan dan departemen pertahanan dan keamanan ORB. Maaf aku bergerak sendirian," tambahnya.
"Ah tidak apa-apa," ucap Athrun.
"Aku minta maaf karena sebelumnya aku mengatakan hal yang bodoh dan tidak tahu apa yang kau lalui dan pikirkan. Dia memberitahuku kalau teroris itu menyebutkan nama Ayahmu, Patrick Zala," ucap Cagalli yang mengucapkan nama Ayah Athrun dengan pelan seperti bisikan.
Athrun menghela napas. Shinn Asuka dan Cagalli Yula Athha kelihatannya bukan suatu kombinasi yang bagus untuk kesehatan mentalnya. Entah ujian apa yang sebenarnya diberikan kepadanya. Athrun lalu menggenggam tangan Cagalli. "Bukankah kita sudah tahu, kalau akan ada orang-orang seperti itu? Orang-orang yang tidak tahu apa yang kita alami dan mengatakan hal sesuka hati mereka," tidak menyangka kalimat yang dia ucapkan pada Cagalli beberapa waktu lalu ternyata juga dia ucapkan lagi untuk dirinya sendiri. Namun Athrun berbeda dengan Cagalli. Cagalli memilih menghadapinya. Dia menghadapi bayang-bayang dari Uzumi Nara Athha itu walau dia tersiksa. Sedangkan Athrun, dia memilih meninggalkannya dan membuangnya. Kalimat yang dia ucapkan mungkin membuat Cagalli tenang namun ketika dia mengatakannya dan lebih untuk dirinya sendiri dia merasa aneh. Aneh karena hatinya tetap tidak tenang. Padahal dia harusnya wajar kalau masih ada orang yang termanipulasi oleh Ayahnya. Iya, dia seharusnya wajar.
Athrun lalu tersenyum, "Untuk sekarang bagaimana kalau kita beristirahat? Aku tidak ingin kau terlihat lelah ketika kita sampai di ORB." Biasanya Athrun membiarkan Cagalli mengetahuinya. Membiarkan Cagalli membuka dan membaca lembaran hatinya dan perasaannya. Bahkan tanpa diminta Athrun akan mengungkapkannya. Namun sekarang dia urungkan. Dia merasa urusan itu bukan urusan Cagalli karena Cagalli sudah punya tanggung jawab lain dan sayangnya Athrun tidak masuk dalam tanggung jawab itu. Ralat. Athrun atau Alex? Athrun tidak tahu.
Melihat Yuuna Roma Seiran yang memeluk Cagalli memuakkan. Athrun tahu pemuda itu hanya berusaha memperlihatkan sosok 'tunangan baik' di hadapan media. Sebuah akting murahan yang dia tunjukkan dihadapan banyak orang kalau dia itu peduli dan khawatir pada Cagalli. Padahal kenyataannya sebaliknya. Pemuda itu terlalu pengecut, itu yang Athrun tahu dari cerita Cagalli ataupun Myrna. 'Cih, dasar pemuda bermuka dua', pikir Athrun. Tapi dia urung dan tidak bisa mengungkapkannya karena dia lebih hina dari Yuna. Kalau Yuna bermuka dua, maka Athrun pemuda dengan seratus wajah atau topeng. Dia sama seperti Yuuna yang pura-pura namun pura-puranya Athrun adalah dengan mengganti identitasnya. Di hadapan Yuna, dia hanyalah Alex Dino sang pengawal, bukan Athrun Zala sang….entahlah, Athrun sendiri tidak tahu.
"Ah, terima kasih untuk kerja kerasnya, Alex," ucap Yuuna sambil merangkul Cagalli. Suatu sikap yang tidak sopan bagi Athrun untuk seorang petinggi menunjukkan kemesraannya di depan umum. Bahkan dia dan Lacus dulu tidak seperti itu. Sudah jelas, kalau Yuuna hanya ingin mempermainkan perasaan Athrun dia tahu seberapa menyebalkannya Yuuna yang seakan-akan ingin mengambil Cagalli darinya. Athrun tahu dia tidak boleh gegabah atau terlalau protektif atau posesif karena itu hanya akan membuat Cagalli khawatir. "Sekali lagi terima kasih sudah menjaga Cagalli dengan baik," tambahnya.
'Kalau kau memang tunangan yang baik, maka tunjukkanlah kejantananmu, dasar bodoh!', umpat Athrun dalam hati. Ingin rasanya Athrun mengatakan hal itu namun dia hanya bisa menjawab, "Ah tidak apa-apa."
"Kau bisa memberikan laporanmu nanti, sekarang kau sebaiknya beristirahat," ucap Yuuna yang terdengar baik namun Athrun tahu kalau pemuda itu pasti punya rencana lain. Yuuna itu picik buat Athrun. "Mungkin kedepannya kami akan meminta bantuanmu sebagai perwakilan dari ORB untuk PLANTs," tambahnya.
"Ya," jawab Athrun dan hanya menghela napas, tubuhnya tegag dan kepalan tangannya menjadi keras dan kencang. Dia menaham emosinya. Emosi kesal dan marah yang sekali lagi dia ditampar oleh fakta kalau dia menjadi Alex maka dia tidak bisa apa-apa. Bahkan ketika Cagalli 'dibawa paksa' oleh Yuuna seakan-akan tidak boleh berkomunikasi dengan Athrun, dia tidak bisa. Dia bisa melihat wajah enggan Cagalli yang khawatir dengan kondisinya namun dia tidak bisa menarik gadis itu. Cagalli punya tugas. Tugas yang dimana jauh dari jangkauan Athrun.
Sepulang dari bertemu dengan Kira untuk menengok dan menyampaikan keluh kesahnya, Athrun kembali ke asrama tempat dia tinggal sebagai Alex Dino. Dia lalu membuka lemari pakaiannya dan melihat sebuah kotak kecil berisikan cincin. Cincin yang sebenarnya ingin dia berikan kepada Cagalli kalau memang saatnya tepat. Saat tepat itu apa? Athrun sendiri tidak bisa menjawabnya. Cincin yang secara hebatnya dia beli karena dia ingin 'membalas' Cagalli. Membalas apa? Athrun sendiri tidak tahu. Namun, dia membutuhkannya dan kelihatannya Cagalli membutuhkannya. Cincin itu dibutuhkan untuk menunjukkan kalau Cagalli ada untuk Athrun dan Athrun ada untuk Cagalli.
Cincin berbatu ruby itu terpaksa Athrun berikan. Sebuah cincin yang dia beli dengan alasan yang tidak masuk akal. Cincin yang dia beli karena perasaan cemburu dan iri dengan Cagalli dan orang sekitar Cagalli. Cemburu akan masa lalu Cagalli dan cemburu juga karena sosok bernama Cagalli Yula Athha itu sendiri. Berada di ORB menyiksanya. Berada di ORB sebagai Alex Dino menyiksanya. Dia tidak suka melihat orang disekitar Cagalli dan dia tidak suka Cagalli sedih juga karenanya. Dia tidak suka akan perhatian yang Cagalii berikan untuk ORB dan tidak suka juga dengan reaksi yang diberikan oleh ORB kepada gadis itu. Tidak adil. Tidak sepadan. Tidak sesuai. Apalagi dengan adanya sosok Seiran disana. Ditambah dengan situasi yang terjadi, Athrun tahu dia tidak bisa menginjak zona itu. Dia harus mencari zonanya sendiri sehingga bisa membantu Cagalli dengan aturannya. 'Walaupun kecil ataupun sedikit, aku ingin bisa melakukan sesuatu', batin Athrun. Konflik yang terjadi sekarang bisa membuat Cagalli terancam apalagi setelah kejadian Junius Seven. Cagalli yang memperjuangkan keharmonisan Coordinators dan Naturals di ORB, dengan kebusukan sistem ORB hal itu bisa kacau dan Athrun tidak mau.
Athrun memutuskan untuk pergi ke PLANTS, meninggalkan cahayanya dan rumahnya di ORB, di Cagalli. Dia terllihat ragu namun dia harus melakukannya. Athrun lalu menaruh kopernya dan membalikkan badannya dan berhadapan dengan Cagalli. "Aku tahu mengenai hubunganmu dengan Yuna," ucap Athrun.
"Eh?"
"Namun ternyata aku tidak menyukainya," ucap Athrun sambil merogoh sesuatu dari kantung jaketnya. Dia lalu mengambil tangan kiri Cagalli dan memasangkan sebuah cincin pada gadis itu. Dia lalu memalingkan wajahnya, dia bingung dan ragu apakah itu keputusan yang tepat dan mengapa Cagalli malah tidak mengatakan apa-apa? Jantungnya berdebar kencang. Ini pertama kalinya dia mengambil langkah seperti ini kepada orang yang disayanginya. Berbeda dengan Lacus yang dimana mereka dahulu terikat oleh sebuah 'data penelitian', untuk Cagalli ini baru untuknya. Mungkin almarhum ibunya akan menegurnya habis-habisan tapi, dia harus dia wajib melakukannya. Entah mengapa itu yang terlintas dipikirannya.
Cagalli adalah salah satu orang yang tahu seperti apa emosi dan ekspresi Athrun, namun sekarang diamnya Cagalli membuatnya was-was, dia yakin wajahnya sudah merah sekarang dan dia tidak suka. Dia lalu melirik wajah Cagalli yang masih terkejut. Cagalli yang tersadar dari apa yang terjadi pun bingung harus merespon apa untuk sikap Athrun. Sungguh, pemuda kelahirann akhir Oktober itu kadang sulit untuk ditebak. "Kamu pikir inikah caranya memberikan cincin pada seorang gadis!?" tegur Cagalli yang mungkin hanya itu yang terpikir di kepalanya.
Wajar namun sedikit tidak suka dengan reaksi Cagalli Athrun menjawab, "Ya, maaf soal itu." Sebuah pembicaraan singkat dan santai yang tidak melihat status mereka. Hanya sepasang kekasih, pria dan wanita yang saling menyayangi dan peduli. Cagalli lalu tertawa, seakan-akan sudah lama mereka tidak melepaskan ketegangan yang ada akibat pekerjaan dan Athrun tersenyum lega karena disaat dia pergi meninggalkan Cagalli untuk waktu yang tidak pasti, dia dapat melihat Cagalli yang dia kenal dulu. Semangat, terbuka, dan apa adanya, serta menyampaikan apapunn itu yang ada dikepalanya.
"Hati-hati ya," pinta Cagalli. "Jangan lupa untuk menghubungi," tambahnya.
"Cagalli juga, tetap semangat," balas Athrun.
Pelukan dan ciuman singkat yang diberikan sebagai penanda perpisahan sementara. Mereka tidak bisa bermesraan terlalu lama apalagi dengan kondisi bahwa Cagalli terikat akan sebuah perjanjian untuk menikah dengan bangsawan ORB yang lain. Athrun paham namun tidak suka. Cincin yang diberikan merupakan harapan kalau Cagalli akan berhati-hati dan mengingat bahwa Athrun ada. Itu pikir Athrun kala itu.
Meninggalkan ORB sebagai Alex Dino adalah suatu keputusan yang berat dan Athrun mempertanyakan sepanjang jalan. Dia perlahan-lahan menjauhi cahaya yang selama ini menusuk matanya dan hanya menerangi kegelapannya. 'Apakah Cagalli aman? Apakah ini keputusan tepat?', pikiran itu terus menerus muncul dan seperti mantra yang berulang-ulang kali Athrun pikirkan sambil seraya membantin, 'Cagalli aman, Cagalli aman, Cagalli aman, semua juga demi kami, semua juga demi kami,'. Athrun meraba kerah bajunya, mencoba mengontrol napasnya dan memegang tali dari kalung Haumea yang dia kenakan. Dia tidak tahu akankah dia kembali lagi ke Negara itu atau tidak. Dia tidak tenang. Cagalli aman ORB aman semua aman.
Tidak Athrun duga, Gilbert memberikan rasa tenang dan aman. Gilbert menyadarkannya untuk memilih. Athrun merasa ada kesempatan untuknya keluar dari kegelapan yang selama ini menyelimutinya serta 'aturan' yang membeku itu. Dia tidak perlu lagi sebuah topeng dia tidak perlu lagi terikat oleh sebuah identitas. Patrick Zala memang Ayahnya, namun bukan berarti Athrun harus menanggungnya, Athrun ada di dunia bukan untuk menebus kesalahan sang Ayah. Gilbert menawarkan kekuatan dan kesadaran akan suatu identitas bagi Athrun. Menyadarkannya dari suatu ilusi atau kegelapan bernama identitas dan nama. Selama ini dia tenggelam dalam kegelapan bernama Zala dan sekarang dia merasa bangkit dari kegelapan itu bersama nama Zala dibawah bimbingan Gilbert.
Awalnya dia ragu, karena topengnya sudah terlalu banyak. Dia halu mana yang nyata mana yang bukan. Mana yang fakta dan bukan. Mana yang harus dia hadapi dan mana yang harus dia hindari. Mana yang harus dia hapus mana yang harus dia tulis. Obrolan dengan rekan lama dan sosok bernama Meer Campbell membuatnya berpikir. Meer Campbell sosok seorang gadis lugu yang rela menjadi Lacus Clyne demi kedamaian dunia. Athrun melihat Meer sama seperti dirinya. Mereka seperti Marionette, Athrun sebagai Aex Dino dan Meer Campbell sebagai Lacus Clyne. Meer seperti boneka dengan tuan, yaitu Gilbert dan identitas Lacus Clyne sedangkan Athrun boneka tanpa tuan, karena siapa itu Alex Dino? Bahkan Cagalli Yula Athha jauh dijangkauan tangannya.
"Ah kamu," Athrun terkejut ketika dirinya dipeluk lagi oleh 'Lacus'. Namun, dia ragu harus bersikap bagaimana. Apa yang sedang terjadi sekarang dia tahu namun apakah gadis ini tahu?
"Meer, Meer Campbell," ucap gadis itu seakan-akan berasumsi kalau Athrun bingung memanggilnya apa. "Namun ketika ada orang lain tolong panggil aku Lacus," tambahnnya sambil mengedipkan matanya. Athrun agak terkejut karena dia tidak biasa dengan 'Lacus' yang ada dihadapannya. Ingin rasanya dia segera menuju kamarnya dan beristirahat namun gadis itu menariknya.
"Kamu belum makan bukan?" ucapnya. "Kelihatannya begitu, ayo kita makan bersama!" tambahnya yang kembali berasumsi mengenai Athrun.
"Eh tapi,"
"Athrun tunangan Lacus bukan?" tanyanya.
Sebuah kalimat pernyataan yang menimbulkan suatu rasa aneh sakit namun dia sebenarnya sudah tidak ingin mengingat rasa itu karena hubungan dia dengan Lacus ternyata faktanya bukan seperti itu. "Eh tapi hal itu sudah…"
Dengan pasrah tanpa memberikan perlawanan karena tidak ingin menolak langsung gadis itu, Athrun pun menerima tawaran untuk makan malam. Mungkin ada kesempatan untuk menjelaskan. "Lalu….Athrun mau memesan apa? Daging ataukah ikan?" ucap Meer yang lebih ke arah diri sendiri sambill melihat daftar makanan di menu.
Athrun memandang gadis yang ada dihadapannya. Sosok Lacus Clyne yang pernah dia kenal pun muncul dipikirannya. Sosok yang suci, putih, lembut, dan tulus namun bisa menjadi berbahaya, tajam, dan mematikan. Mawar putih yang berbahaya. Namun, gadis yang ada dihadapannya ini, jauh dari itu. Auranya berbeda. Untuk apa Chairman memilih gadis yang jelas jauh dari gambaran Lacus Clyne?
"Oh iya, apa kau melihat penampilan aktingku hari ini?" seru Meer yang langsung menyadarkan Athrun dari lamunannya.
"Eh?"
"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" tanya Meer. Namun Athrun yang tidak fokus dari awal tidak tahu harus berkomentar apa. "Kurang bagus ya?" Meer terdengar kecewa karena Athrun diam.
"Haro?" robot Haro yang bahkan Athrun tidak tahu bagaimana mereka dapat membuatnya pun merespon.
"Ah tidak, bukan seperti itu," Athrun mencoba untuk menghiburnya. Sungguh perbuatan yang tidak sopan karena dia baru bertemu pertama kali namun dia memang benar tidak tahu harus memberikan komentar apa dan seperti apa.
"Eh sungguh?" nada suara Meer berubah.
"Ya, kau mirip dengannya. Bahkan penampilan kalian terlalu mirip," ucap Athrun walau tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan.
"Wah aku sungguh senang! Aku benar-benar senang dan mendengarnya langsung dari Athrun!" ucap Meer yang langsung terlihat senang dan ceria.
"Aku selalu menjadi penggemar Nona Lacus," ucap Meer sambil memakan makan malamnya. "Aku menyukai lagu-lagunya dan bahkan orang-orang berkata suaraku mirip. Lalu suatu hari Chairman Dullindal menghubungiku."
"Lalu kau memulai semua ini?" tanya Athrun.
"Iya," ucap Meer mantap. "Dia memberitahuku kalau kekuatanku dibutuhkan untuk PLANTs, maka dari itu,"
"Bukan kekuatanmu, tapi kekuatan Lacus yang dia butuhkan," potong Athrun yang tanpa sadar dia mengungkapkan kenyataan yang mungkin membuat gadis itu sedih lagi. Athrun tidak habis pikir, mengapa gadis ini terlalu lugu. Dia tidak tahu kalau Lacus bukan sekedar 'media penghibur', Lacus bukan sekedar lambang hiburan di PLANTs. Lagu? Faktanya memang Lacus memiliki kelebihan dan daya tarik di suaranya yang lembut dan sekarang gadis yang ada dihadapannya hanya dengan alasan penggemar dan lagunya dia berasumsi kalau itu adalah Lacus Clyne, gadis ini salah besar. Namun Athrun tidak bisa mengatakan hal itu terang-terangan. Tidak, dengan situasi yang sedang kacau sekarang. Dia hanya berada di sebuah teater bernama 'Lacus Clyne' sekarang dan dia tidak tahu peran apa yang harus dia ambil.
"Aku tahu hal itu, namun untuk sekarang. Ah, bukan bukan hanya untuk sekarang namun dia selalu dibutuhkan semua orang," ucap Meer seakan-akan sudah menduga respon tersebut dari Athrun.
"Dia kuat baik dan cantik. Tidak ada yang membutuhkan Meer secara pribadi, makanya walaupun hanya sementara aku tidak keberatan. Jika aku bisa membantu Chairman dan semua orang untuk menggantikan Nona Lacus yang sekarang sedang tidak ada, maka aku senang! Bahkan aku berkesampatan bertemu denganmu aku bahagia," jelas Meer. Athrun yang mendengar hal itu tahu bagaimana perasaan Meer. Gadis itu hanya membutuhkan suatu tempat sama seperti dirinya. Tempat untuk bisa melakukan sesuatu. "Athrun tahu banyak hal tentang Nona Lacus bukan? Kalau begitu beritahu aku, apa yang dia suka apa yang dia tidak suka….," bertemu dengan sosok Meer justru membuatnya semakin kesal dan frustasi, hingga tanpa sadar dia menaruh gelas kaca wine nya dengan kasar.
Athrun kembali teringat dengan kata-kata yang dia dengar selama ini mengenai dirinya dan dirinya yang satu lagi, Alex Dino. Apa yang dilakukan Gilbert tidak masuk akal. Athrun seperti melihat cerminan dirinya dari diri Meer Campbell namun ada yang berbeda. Meer Campbell mengambil peran dari orang yang sosoknya nyata dan ada, yaitu Lacus Clyne dan peran itu sangat beresiko karena ada yang tahu tentang Lacus Clyne yang asli. Athrun kebalikannya, dia memilih sosok tanpa identitas, tidak ada yang tahu siapa itu Alex Dino dan seharusnya dia bisa tenang namun tidak. Karena banyak yang tahu sosok nyatanya, sosok yang ada dan bersembunyi di balik nama Alex Dino itu dan itu adalah Athrun Zala dan ada yang tahu tentang masa lalu Athrun Zala. Athrun muak, dia kesal, dia marah karena semua menjadi tidak nyata untuknya. Obrolan singkat dengan Meer dan juga obrolan dengan rekan lama memperkuat tekadnya, memperkuat tujuan awalnya dia datang kembali ke tanah kelahirannya. Dengan mengenakan dan menggenggam batu hauema yang dia harap merupakan restu dari sang Dewi dan sang kekasih, dia pun membuat sebuah keputusan.
Berita terbaru mengenai Cagalli merupakan hal yang tidak dia duga setelah bisa kembali ke bumi. Dia pikir dia bisa memberikan suatu peran sekembalinya dari ZAFT dan berencana bergabung dengan Minerva di ORB. Dia sudah siap apabila dia harus bertemu dengan Cagalli dan para petinggi ORB dengan statusnya sebagai Athrun Zala, tentara khusus ZAFT dan anggota FAITH. Bahkan mencoba membayangkan reaksi dari Yuna Roma Seiran ketika dia tahu kalau 'Alex Dino' adalah Athrun Zala. Kekanak-kanakan memang tapi itu adalah faktanya. Namun hal itu tidak terjadi karena dia terusir dari ORB dengan alasan ORB bergabung dengan Federasi Atlantik. Pernikahan Cagalli adalah buktinya. Namun, pernikahan dan hilangnya atau diculiknya Cagalli bukan suatu informasi yang bagus untuk didengar. Mungkin buat orang yang mendengarnya kabar buruknya hanya satu namun tidak bagi Athrun. Pernikahan adalah hal pertama yang dia khawatirkan. Kemudian, penculikan adalah hal yang tidak terbayangkan olehnya.
Keluh kesah Lunamaria yang terdengar seperti perempuan yang kesal dan seperti menyampaikan suatu gosip bukan menjadi fokus Athrun. Dia fokus kepada mengapa ORB menyerangnya dan mengapa Cagalli memutuskan pernikahan dengan Seiran. Apa yang sebenarnya terjadi selama dia pergi Athrun tidak tahu. Dia khawatir, pikirannya kosong. Hatinya sakit dan merasa terkhianati. Tidak menyangka kalau Cagalli mengambil keputusan itu dan tidak menyangka kalau cahayanya memilih menjauhi kegelapannya. Atau justru sebenarnya kegelapan itu yang menjauh dan enggan menerima cahaya itu? Athrun tidak tahu. Dia yang seharusnya tenang dan bisa mengontrol dirinya justru seakan-akan ingin meledak dan berteriak. Dia ingin segera mencari Cagalli karena dia tidak tahu mengapa dan oleh siapa Cagalli diculik. Selama menjadi Alex, Athrun tahu kalau keluarga Athha juga memiliki banyak musuh. Musuh yang entah itu merupakan rekannya namun memiliki mulut yang tajam dan manis, atau yang memang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Athrun kesal dan menyesal, kalau saja dia tidak pergi ke PLANTs, kalau saja dia memberikan protokol keamanan yang benar , dan kalau saja….sungguh banyak pemikiran 'kalau saja' itu muncul tapi Athrun bukan. Sayangnya dia bukan Aion ataupun Chronos, Dewa penguasa waktu dan ruang sehingga bisa dengan mudahnya memutarbalikkan waktu.
Dadanya sesak, sakit, dan napasnya tidak teratur hingga dia rasanya ingin muntah. Kesal, marah, sedih, kecewa, dia rasakan dan campur aduk menyatu sehingga dia hanya bisa berasumsi kalau dia sudah dikhianati dia hilang kepercayaan. Perkataan Talia menghiburnya walau dia kembali lagi terkejut. Cagalli ternyata diculik oleh Freedom Gundam, dan Athrun yakin pilotnya adalah san sahabat yang Athrun tahu sudah tidak ingin mengendalikan Mobile Suit lagi, Kira Yamato. Sekarang apa lagi yang dilakukanoleh Kira dan Lacus serta rekan-rekannya di Archangel. Apa yang sebenarnya terjadi? Berjuta-juta pertanyaan kembali muncul di kepala Athrun. Cahayanya menyebar, cahayanya pergi ke tempat yang dia tidak tahu. Lalu, sekarang apa yang ada di hadapan kegelapan Athrun? Setidaknya yang Athrun tahu, cahayanya masih berkumpul. Cagalli bersama Kira adalah salah satu kabar baik yang ingin Athrun dengar sebelum dia memukul dinding karena frustasi dan kesal.
Athrun merasa ada yang aneh. Kembalinya dia ke ZAFT tidak seperti ketika dia menjadi tentara ZAFT sebelumnya. Dia merasa ada yang ragu, entah itu fisiknya atau raganya. Namun, apa yang ditawarkan Gilbert adalah cahaya yang dia dapat raih. Kira dan Lacus memberikan cahaya yang berbeda dan Cagalli, cahayanya tidak bisa dia raih. Namun, Gilbert berbeda. Dari Gilbert, dia memperoleh apa yang dia inginkan. Kekuatan dan kemampuan untuk melindungi. Iya, kekuatan itu dia peroleh bukan untuk membalas dendam, bukan untuk membalas kekuatan dengan kekuatan. Dia menggunakannya untuk melindungi. Namun, mengapa langkah kaki ini menjadi berat. Padahal dia pernah ada di ZAFT dan dia tumbuh dengan lingkungan yang tidak jauh dari peran ZAFT di dalamnya. PLANTs dan ZAFT itu identitas aslinya, namun kenapa dia tidak senang dan dia ragu. Alasan dia kembali sekarang bukan untuk menjadikan rekan lamanya musuh. Justru karena dia ingin melindungi mereka, iya itu alasan dia bergabung sekarang.
Dia harus bisa tegas dan menunjukkan dirinya sebagai Athrun Zala tentara ZAFT dan anggota dari pasukan khusus FAITH. Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya bagaimana bisa dia yang mempunyai Riwayat karir yang buruk di ZAFT malah bisa terdaftar lagi, berseragam merah lagi, bahkan menjadi anggota FAITH. Seharusnya posisinya bisa dibawah Dearka. Namun, tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Segan, bingung, marah, sebal, kagum, senang, bangga, bahkan biasa-biasa saja adalah reaksi yang dia terima dari rekan-rekan barunya di Minerva, wajar. Lunamaria yang senang dengan keberadaannya sebagai salah satu pahlawan perang dan kelihatannya rasa kagumnya pada Athrun melebihi rasa kagum kepada seorang senior. Rey yang biasa-biasa saja. Yolan dan Vino yang bingung bersikap dengannya karena dia seorang pahlawan dan tunangan dari primadona mereka, Lacus Clyne. Serta Shinn yang sudah dari awal tidak suka pada Athrun karena Athrun 'memihak' ORB dan sekarang dia kembali ke ZAFT pemuda itu tetap menunjukkan sisi tidak Sukanya.
Athrun bingung dan tiba-tiba menjadi kikuk, dia harus bersikap bagaimana? Aturan seperti apa yang harus dia gunakan? 'Codex Hammurabi'nya yang lama terbuka kembali atau dia harus menggantinya? Dia harus menjadi orang seperti apa? Alasan dia bingung wajar. Dia sekarang berada di lingkungan yang berbeda. Sudah hampir tiga tahun dia tidak berada di ZAFT dan ternyata banyak yang berubah, khususnya setelah Gilbert Dullindal menjabat. Namun, ternyata kembalinya ke ZAFT tidak membuat dirinya tenang. Dia seperti anak pindahan dari sekolah lama ke sekolah baru. Dia bingung harus bagaimana, tapi Athrun sadar diri kalau dari awal dia bukan tipe yang gampang membuka diri.
"Siapapun yang pernah menangis karena mereka merasa lemah, dan tidak berdaya memiliki pikiran seperti itu, ya. Tapi saat kamu mendapatkan semua kekuatan yang kamu impikan, kamu menjadi orang yang menyebabkan orang lain menangis karena kehilangan. Cobalah untuk tidak melupakannya. Kita akan segera bertempur lagi. Jika kamu lupa bahwa saat kamu berada di luar sana dan melemparkan kekuatan kamu kepada orang lain karena rasa kebenaran Kamu sendiri, atau karena itu sesuai dengan tujuan kamu, maka kamu tidak akan lain adalah perusak. Dan itu bukan dirimu yang sebenarnya, bukan? Kami di sini untuk menjalankan misi kami sebagai tentara. Kami di sini bukan untuk berkelahi," tegur Athrun pada Shinn ketika pemuda itu bersikeras kalau dia melanggar perintah karena ingin menolong orang dan menganggap apa yang dia lakukan itu benar. Shinn terlalu naif, keputusannya yang tidak sesuai dan tidak mematuhi aturan bisa berdampak pada hal lain.
"Aku mengerti maksudmu, aku tahu itu!"
"Kita akhiri kalau kamu memahami dan tidak melupakan apa yang saya katakan, Kamu akan menjadi pilot yang hebat suatu hari nanti. Tapi jika kamu lupa, maka kamu tidak lebih dari seorangg idiot!" seru Athrun. Mencoba menjadi seorang senior tidaklah mudah baginya. Beda ketika dia berhadapan dengan Dearka, Yzak, ataupun Nicol. Mereka berasal dari almamter dan Angkatan yang sama, sayangnya sekarang berbeda. Situasi ini justru membuat kekhawatiran Athrun muncul dan dia kembali ragu.
Sosok Heine Westenfluss sempat membuat Athrun tenang. Sosok yang supel dan tahu perannya sebagai tentara dan Komandan harus seperti apa. Jujur, walaupun sebagai FAITH Athrun mendapatkan hak bebas untuk menentukan suatu aturan dia bingung aturan apa yang sebaiknya dia sampaikan dan terapkan dan Heine bisa menjadi contoh yang baik. Athrun banyak belajar darinya. Dia berharap bisa menjadi rekan yang baik dan berharap dapat berteman baik dengannya apalagi mereka sama-sama FAITH. Sayangnya, takdir berkata lain karena Heine tewas dan yang menyebabkannya adalah kemunculan Archangel di tengah medan perang dan hal itu diluar kendali Athrun. Kira dan Cagalli yang dia belum sempat mencari tahu keberadaannya, muncul tanpa diminta olehnya dan langsung menghasilkan keributan.
Kematian Heine tidak membuat Athrun serta merta berpikir akan balas dendam. Heine tewas ditangan unit Gundam milik Earth Alliances, Gaia. Sehingga faktor dari pihak ketiga tidak bisa langsung disalahkan. Tapi, fakta bahwa mereka membuat kacau suasana itu benar dan Athrun perlu memastikan dengan mata dan kepalanya sendiri kalau mereka yang Athrun lihat itu benar-benar mereka dan Athrun tahu tujuan mereka apa dan sebaiknya mereka melakukan apa.
'Kira, Cagalli, apa yang sebenarnya kalian rencanakan? Kenapa kalian ada disana?' pikir Athrun. Dia mendapat izin dari Kapten Talia Gladys untuk melakukan pencarian. Dia beralasan kalau pihak ketiga itu netral dan bukan merupakan ancaman bagi ZAFT. Pola pikir yang sungguh naif, tapi itulah hak istimewa yang Athrun dapatkan dari FAITH, dia dapat bergerak sesuai dengan keinginannya sendiri. Namun, dia sadar dia tidak bisa sembarangan mengontak. Terminals dan Skandinavia belum tentu mau memberikan Athrun akses dengan mudah, apalagi kalau mereka tahu Athrun kembali ke ZAFT. Sungguh, yang tahu hal itu hanya Dearka dan Yzak. Kemungkinan mereka mengontak Terminals pun kecil karena posisi dan pihak yang mereka ambil apa.
Seakan-akan dirinya diberkati oleh Dewi Haumea, dia bertemu dengan Miriallia Haww. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis yang setahu Athrun memutuskan untuk tidak kembali ke medan perang dan memilih menjadi fotografer. Alasannya sederhana, gadis itu ingin mengganti suasana hatinya akibat perang dan ingin mengingat kalau dunia, kehidupan, dan manusia itu berarti dan dia menunangkannya di dalam fotografi.
"Jadi, mengapa freelance photgrapher?" tanya Athrun.
Miriallia tidak percaya kalau seorang Athrun Zala akan menanyakan hal itu disela obrolan santainya disuatu kafe. "Hmmm, tidak disangka kau akan bertanya," kata Miriallia.
"Ah tidak, hanya saja…,"
"Alasannya karena ada kekuatan dalam sebuah foto. Ada yang bilang kalau apa yang ditangkap oleh lensa beda dengan apa yang kita lihat," ucap Miriallia sambil melihat kumpulan foto yang dia pegang. "There is one thing the photograph must contain, the humanity of the moment. Photography is a way of feeling, of touching, of loving. What you have caught on film is captured forever… It remembers little things, long after you have forgotten everything. Dan juga….. The best thing about a picture is that it never changes, even when the people in it do," ucap Miriallia. "Kutipan yang kubaca," tambahnya sambil mengangkat bahu.
"Dengan foto, aku bisa melihat dunia dari sudut pandang yang lain. Dunia itu tidak hanya sekedar perang dan kesedihan. Dengan foto pun aku bisa melihat hal yang dulu terekam ketika semua orang atau ketika tempat itu hilang. Foto itu kaku. Dia membekukan suatu momen, suatu kejadian, dan suatu keadaan. Dibalik kekakuannya itu, ada kenangan didalamnya ada kehidupan yang pernah ada didalamnya. Tanpa disadari ternyata foto itu juga dinamis karena ketika kita mencoba membuat kembali suatu momen dengan objek yang sama, maka kita akan sadar kalau yang ada di dalam foto itu hanyalah masa lalu. Ketika kita membuatnya ulang atau mengambil fotonya lagi, pasti ada yang berbeda," jelas Miriallia.
Athrun merasa dadanya sakit. Miriallia seperti mengibaratkan diri Athrun seperti lembaran foto itu. Dirinya yang terperangkap dan bingung harus melakukan apa, seperti sebuah foto yang gambarnya tidak bisa diambil untuk kedua kalinya. Apakah kesempatan Athrun hanya ada satu? Apakah Athrun seperti foto dalam kamera yang hanya merekam satu momen dan ketika akan mengambil momen dengan objek yang sama, justru hasilnya tidak akan 100% sama. Seperti Athrun, akankah dia kembali ke ZAFT semuanya akan 100% sama seperti dulu atau seperti yang dia inginkan? Athrun tidak tahu.
Ketika melihat sosok dua orang yang dia khawatirkan semenjak dia kembali ke bumi dengan seragam ZAFT, ada sedikit rasa lega. Dia hanya lega karena melihat mereka sehat dan tidak ada luka apapun. Kira Yamato dan Cagalli Yula Athha, mereka masih seperti yang Athrun kenal dan Athrun ingat. Namun, kekesalan dan kemarahan sudah banyak dia pendam. Mereka melakukan kesalahan bodoh, bahkan menyebabkan Athrun kehilangan seorang rekan yang dia pikir dapat membantunya untuk menyesuaikan diri lagi di ZAFT, rekan yang dia harapkan dapat menjadi teman diskusi karena dia hampir gila akibat tidak adanya orang yang memiliki latar belakang atau yang sepantaran dengannya.
"Aku sebenarnya tidak mau, aku sudah muak. Aku tidak ingin menarik pelatuk itu dan jangan buat aku menariknya," ucap Kira. Kata-kata itu justru membuat Athrun kesal, sungguh pikiran Kira sangat egois. Athrun juga berpikir demikian, apakah Kira tidak menyadarinya? Dia sebagai komandan memiliki tanggung jawab yang berat termasuk harus dapat mengurangi jumlah korban perang atau bahkan tidak ada sama sekali termasuk korban atau pengorbanan yang sia-sia. Apa yang Kira dan Cagalli lakukan justru mengacaukannya. Mengacaukan semua strategi dan rencana Athrun. Kalkulasinya meleset. Alasannya sederhana, perang yang terjadi hanya melibatkan dua pihak dan tidak ada pihak yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya. Athrun tidak mempersiapkan kondisi adanya pihak luar yang tiba-tiba muncul apalagi pihak itu adalah rekannya dulu. Morilnya sebagai seorang tentara langsung goyah. Mungkin ini perasaan yang dirasakan oleh para tentara ZAFT atau Ayahnya, ketika dia dan rekan-rekannya saat perang 71 CE melakukan intervensi di tengah perang. Perasaannya kacau dan ingin rasanya memukul sesuatu.
Kira mengatakan kalau Lacus Clyne yang asli hampir terbunuh dan itulah alasan Kira kembali menjadi pilot Freedom dan alasan mengapa dia terpaksa menculik Cagalli. Kira mengatakan ada yang aneh, ada yang 'memainkan' dunia ini menjadi suatu teater yang sudah direncanakan dan buat Kira PLANTs lah yang aneh. Gilbert Dullindal, menjadi salah satu faktor yang harus dipertanyakan apakah tujuan dan visi serta misi mereka sama atau tidak. Kira tidak mempercayai Gilbert, begitu juga dengan Cagalli. Athrun terdiam. Kira menyalahkan Gilbert, sedangkan bagi Athrun visi misi Gilbert jelas dan bahkan apa yang Gilbert arahkan untuknya justru ideal untuknya. Tapi, perkataan Kira untuk kali ini, seperti menamparnya namun dia ayal, dia menolak menerima tamparan itu. Athrun bersikeras kalau langkah Kira dan Cagalli salah, mereka tidak melihat apa yang dilakukan oleh Gilbert dan apa yang dilakukan oleh Athrun. Visi dan misi mereka sama. Mereka ingin menjaga, mereka ingin melindungi. Bahkan Athrun diawal bilang kalau kembalinya dia ke ZAFT itu demi ORB walau Cagalli tidak suka dengan ide tersebut.
"Apakah kamu berpikir bahwa jika kamu pergi ke sana saat itu, ORB akan mundur dengan patuh? Itu bukanlah hal yang harus kamu lakukan!" bentak Athrun pada Cagalli. "Sebelum kamu pergi ke medan perang dan mengatakan hal-hal itu, kamu seharusnya tidak pernah membiarkan ORB menandatangani perjanjian itu!"
Athrun tidak menyangka, kalau dia suatu hari akan membentak gadis itu. Padahal Athrun tahu, Cagalli juga sama seperti dirinya. Dia tersiksa dan Cagalli juga. Suaranya yang tinggi itu terhenti ketika dia melihat cincin yang dikenakan Cagalli. 'Ah cincin itu,' pikirnya dan Athrun lalu tersadar kalau dia sudah kelewatan. Cincin yang dia harapkan menjadi pengingat untuk gadis itu akan kepercayaan Athrun namun tidak diindahkan. Athrun ingin memukul dirinya sendiri. Dia sudah kelewatan namun apa yang Kira dan Cagalli lakukan terlalu nekat dan tidak masuk akal. Apakah mereka tidak sadar kalau Athrun sudah ingin memukul sesuatu dan sudah berusaha menahan diri untuk tidak memukul sahabatnya itu. Mau alasan Kira atau alasan Cagalli seperti apa, Athrun tidak bisa terima. Dia belum memberikan atau menunjukkan apa-apa dan sekarang rencananya dikacaukan.
"Ada hal yang tetap tidak bisa diterima, walau dia mengerti hal tersebut."
Hanya kalimat itu yang bisa Athrun katakan di akhir. Tujuan mereka sama, harapan mereka sama, namun ternyata mereka tidak memahami Athrun. Untuk kedua kalinya, Athrun kembali berpegang pada 'aturan'nya yaitu selama mereka patuh maka mereka menerima hasil yang sesuai dengan harapan. Untuk kasus Athrun, patuh sebagai tentara karena itu adalah jalan yang dia pilih. Namun, sayangnya Kira dan Cagalli tidak memahaminya. Dia sudah lelah karena dulu, mereka berakhir jadi musuh dan dia tidak ingin hal itu. Dia tetap keras pada pendiriannya kalau dia melakukan hal ini demi mereka dan Athrun akan menunjukkannya. Athrun akan menunjukkan kalau dia berada di jalan yang benar. Terlihat kekanak-kanakan namun dia tidak ingin berdebat lebih dalam lagi. Sekarang dia hanya ingin Kira dan Cagalli berada di luar zonanya dan berada di zona yang menurut Athrun aman.
Sayangnya, dengan mudahnya Kira membuatnya kacau. Dia menjadi goyah lagi. Ralat, semakin goyah. Dirinya kacau, keyakinannya kembali goyah, hatinya resah. Tidak hanya itu, cincin yang Cagalli ternyata masih kenakan pun adalah hal yang tidak dia duga juga. Dia pikir Cagalli 'melupakannya' namun ternyata tidak. Rasa cemburu itu kembali muncul. Rasa iri karena Cagalli serta orang sekitar Cagalli termasuk ORB. Dia kesal, dia tidak menyangka kalau benda yang dia berikan sekali lagi jadi mempermainkan perasaannya. Dia jadi tidak paham apa yang sebenarnya ada di benak Kira dan Cagalli. Athrun sedikit senang karena itu artinya Cagalli masih percaya tapi ada pikiran lain yang muncul. Dia berburuk sangka, apakah Cagalli mengenakan cincin itu untuk mempermainkannya? Untuk apa Cagalli memakainya lagi setelah dia sempat mengkhianati kepercayaan Athrun? Untuk apa Cagalli bertindak bodoh dengan menyetujui beraliansi dengan Federasi Atlantik kalau dirinya yakin dan percaya serta memegang kata-kata Athrun yang dibuktikan dari cincin itu? Apakah Cagalli mengira dirinya main-main? Apakah Cagalli meminta permintaan maafnya dengan 'kembali' mengenakan cincin itu? Untuk apa? Sedikit harapan Athrun, cincin itu memiliki arti yang sama ketika Cagalli memberikan kalung Haumea untuknya namun, Athrun salah. Cagalli tidak menerima tanda darinya dengan baik. Athrun sendiri tidak tahu apa yang harus mereka bicarakan lagi. Dia hanya ingin menyelesaikan masalah yang ternyata membuat dirinya goyah lagi. Dia ingin membuktikan kalau Kira dan Cagalli salah.
Namun, setelahnya Athrun merasa dirinya kembali tertampar. Tertamparnya diri Athrun Zala dapat dilihat dari sosok Shinn. Shinn Asuka, seorang perwira berseragam merah yang naif bagi Athrun. Tapi, Athrun bisa lihat apa yang Shinn inginkan dan harapkan. Bahwa tidak selamanya aturan itu dapat membawa apa yang membuat dirinya tenang dan puas. Shinn selalu melanggar walau disaat tertentu, Shinn mematuhi aturan. Sayangnya, kepatuhan Shinn disertai dengan kenaifannya akan dunia. Dia tidak tahu kalau konsekuensi dari pelanggarannya itu bisa berakibat fatal. Walau dia sempat bilang 'aku tidak menyesal', seperti saat pemuda bersurai hitam itu menolong tentara Aliansi yang ternyata seorang extended. Athrun ingat gadis itu, namun dia diam. Dia bungkam. Dia lebih memilih untuk tidak menyuarakan apa yang dia tahu. Alasannya? Karena tidak ada yang bertanya dan semua sudah memberikan tanda kalau gadis itu musuh. Namun Shinn berbeda, dia membela gadis itu habis-habisan walau dirinya dilukai.
Athrun tidak menyangka, kalau pertemuan dia dengan Kira justru bukan memantapkan dirinya. Tetapi menjatuhkan dirinya. Sungguh sahabat yang baik, di kala dia tenggelam dalam kegelapan, mereka bukan menolong dan menariknya justru semakin menjatuhkan dirinya. Namun dirinya melihat, melihat ketidak adilan. Ketidak adilan yang diakibatkan adanya hal yang anomali di dunia ini. Athrun melihat berbagai macam kiat dan aturan yang dibuat oleh manusia hanya untuk memenuhi tujuan mereka, dunia yang damai. Sayangnya cara itu salah. Extended Human Project adalah salah satunya. Mereka membuat sebuah situasi dimana 'wajar' manusia dijadikan suatu senjata biologis. Sesungguhnya Athrun tidak menyangka hanya karena keunggulan suatu gen, mereka berakhir membuat manusia normal menjadi senjata biologis. Sebegitu pelitnya kah para Coordinators sehingga mereka tidak ingin saling berbagi ilmu dengan para Naturals? Sebegitu kesal, marah, dan menyedihkannya kah para Naturals sehingga mereka memilih senjata biologis untuk menang? Padahal mereka tidak suka dengan rekayasa gen tapi mereka tetap 'membuat dan melatih' manusia menjadi Super Human untuk menghancurkan Coordinators.
Athrun melihat kalau dunia ini kacau. Semua manusia itu egois. Dia pun egois. Athrun ingin muntah, dia muak. Dia tidak suka. Dia ingin pulang. Dia ingin pulang ke tempat cahaya itu. Cahaya yang bisa menenangkan hidupnya. Cahaya hangat dan menenangkan yang bisa dia sebut rumah Sambil menggenggam kalung Haumea yang diberikan Cagalli, Athrun mencoba untuk berpikir jernih. Dia ingin sekali menjawab pertanyaan 'siapa musuh yang harus kulawan?' karena kalau dilihat musuhnya banyak sekali. Banyak orang yang ternyata 'busuk' buat dirinya. Mereka tidak sepaham, tidak satu visi dan misi dengan Athrun. Athrun masih mengharapkan keseragaman. Alasan Athrun kembali memihak salah satu sisi, karena dia ingin mengamankan satu pihak itu. Dia ingin mengontrol.
"Tapi Cagalli menangis sekarang! Dia menangis sekarang karena dia tidak ingin hal seperti ini terjadi. Kenapa kamu tidak bisa melihat itu ?! Namun, kamu mengatakan kalau pertempuran ini, korban ini, mau bagaimana lagi, semuanya terjadinya dan itu adalah kesalahan Orb dan Cagalli. Dan kau tembak apa yang dia coba lindungi sekarang!?" bentak Kira. Athrun mengigit bibir. Dia tidak ingin sebenarnya. Otak dan nuraninya beradu dan bertengkar. Dia ingin mengumpat. Salah Kira dan Cagalli adalah tidak bisa mengendalikan situasi dan Athrun mencoba itu. Dia sudah mencoba mengontrol itu bahkan dengan memberikan Cagalli sebuah cincin yang ternyata justru sekarang berakibat dia mempertanyakan hubungannya dengan sang putri.
Perbuatan Shinn yang kelewatan buat Athrun justru membuat Athrun berpikir. Apa yang Shinn kejar? Apa yang Shinn ingin raih? Dia tidak lebih sama seperti Athrun dulu. Bedanya, Shinn itu dari ORB. Dia memilih ZAFT karena dia tidak ingin trauma itu kembali dirasakan. Dia melangkah maju. Beda dengan Athrun yang dulu masuk ZAFT karena kematian Lenore Zala. Namun, sayangnya pemuda itu terlalu naif buktinya nekat berkomunikasi dengan pihak Earth Alliance demi gadis extended, bernama Stellar serta mengatakan kalau pihak Earth Alliance berjanji akan menjauhkan gadis itu dari bahaya. Athrun ingin tertawa, Shinn terlalu naif dan polos. Mempercayai orang semudah itu. Namun, sikap itu menunjukkan sisi manusiawi Shinn. Pemuda itu masih berharap akan hari esok yang cerah. Walau berakhir kematian gadis itu yang tidak disangka. Gadis itu dibunuh oleh Kira. Alasannya sederhana, gadis itu menjadi ancaman. Ancaman banyak warga sipil yang tidak tahu apa-apa. Untuk memperkecil kemungkinan perang semakin kacau dan konflik yang meluas, maka Kira memilih untuk menghancurkannya. Itu wajar, sangat wajar sekali. Athrun yakin Kira tidak langsung menghancurkan inti dari kokpit itu jadi kemungkinan gadis itu hidup sebenarnya masih ada 50% namun, takdir Tuhan berkata lain. Gadis itu ternyata tewas.
Tidak diduga, kejadian itu menyebabkan Archangel dianggap penghalang. Keberadaan mereka dianggap mengacaukan konflik perang sehingga mereka harus dihancurkan. Athrun tidak percaya. Padahal Kira sudah dengan jelas mengatakan kalau mereka akan muncul ketika ORB terlibat dan mereka selalu mencoba untuk tidak ikut campur dengan ZAFT walau Kira bilang PLANTs tidak bisa dipercaya. Athrun tidak terima. Apa yang dibilang Chairman Dullindal dan Rey tidak masuk akal. Archagel tidak sepaham. Archangel bukannya tidak sepaham namun, cara yang mereka gunakan beda, itu pikir Athrun. Namun, perintah sudah keluar dan Shinn menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan Kira. Apa yang Kira lakukan kepada Shinn tidak bisa dimaafkan tapi, Kira punya alasan. Athrun hanya bingung, selama ini dia mencoba membuat ZAFT tidak menyentuh mereka, Archangel. Dia coba ZAFT jangan menyentuh Kira, Cagalli, dan juga Lacus. Mereka itu cahaya Athrun dan Athrun tidak ingin cahaya itu sirna walau cahaya itu sekarang sedang mengacaukan ruangannya yang gelap.
"Kiraaa….!"
Cahaya Athrun hilang. Gilbert menghilangkan atau membunuh orang-orang yang penting bagi Athrun. Athrun tidak paham. Padahal Gilbert tahu benar loyalitas Athrun ada dimana. Apa yang dia ingin lindungi dan apa yang dia ingin jaga itu apa. Namun, mengapa Gilbert justru menghilangkannya? Kedamaian dunia? Kira dan Cagalli juga mengharapkan hal yang sama. Athrun berduka namun dia tidak menangis. Mengapa? Padahal Kira, Cagalli, dan Lacus adalah cahayanya. Tanpa mereka hidup Athrun tidak berarti. Athrun tidak menangis, bahkan ketika melihat laporan yang mengatakan tidak adanya jasad yang ditemukan Athrun tidak menangis. Kemungkinan mereka hidup 50:50. Kira Yamato dan Murrue Ramius bukan orang yang gegabah dan bodoh. Ada sedikit harapan yang Athrun pertahankan.
Namun, unuk sekarang apa yang dia masih harapkan dari sosok Gilbert hingga akhirnya air matanya gagal keluar? Atau sebenarnya dia tersadar akan sesuatu dan jadinya bisa memiliki keyakinan yang lain? Iya dia tersadar. Akhirnya dia paham apa yang harus dia lakukan selama ini. Athrun paham mengapa Kira tidak bisa menyetujui jalan atau pemikiran Athrun.
"Cepatlah kau mengoperasikan unitmu, kalau tidak Chairman akan menilaimu tidak baik!" tegur Meer - Lacus. Teguran itu menyadarkan Athrun. Menyadarkan kalau selama ini dia bodoh. Dia ternyata tidak sepaham dan tidak satu visi dan misi dengan orang yang dia kira bisa dia bilang rekan. Apa yang dikatakan Gilbert benar, namun sayangnya kebenaran itu hanya berlaku untuk dirinya dan orang yang setuju dengannya. Makanya Kira dan Lacus harus menghilang. Ketika orang itu sudah tidak setuju dengannya maka dia langsung memberikan keterangan kalau orang itu tidak berguna. Sistem Seleksi Alam, itu yang Gilbert gunakan. Sistem yang paling dasar dalam menentukan siapa yang kuat di alam semesta, suatu sistem yang kolot yang membawa manusia kepada sistem piramida yang bodoh bagaikan tingkatan kasta. Siapa yang kuat dia yang menang dan kau harus sadar dengan posisimu. Itulah sistem yang dibentuk oleh Gilbert.
Sekarang, Athrun menunjukkan taringnya. Dia menunjukkan ketidak sukaannya dan membuat Chairman memberikan 'catatan' untuk Athrun. Nyawanya diincar. Dia tidak terima. Dia baru berusia delapan belas tahun. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan dan sekarang dia dipermasalahkan hanya karena tidak sepemikiran. Sungguh konyol. Athrun tidak ingin mati sia-sia, tidak setelah Kira dan yang lainnya 'tiada'. Dia pun memutuskan untuk kabur. Dia berusaha mengajak Meer namun gadis itu menolaknya. Gadis itu terlena sangat dalam dengan perannya sebagai 'Lacus Clyne'. Athrun melihat Meer seperti saat dia menjadi Alex Dino walau akhirnya dia mempertanyakan apakah sebenarnya sosok Alex Dino itu dibutuhkan? Atau sosok Athrun Zala itu dibutuhkan?
Sungguh tidak masuk akal. Dia sudah muak dengan dunia yang penuh dengan peran dan sandiwara. Dia ingin hidup damai sebagai dirinya sendiri. Lalu, sekarang Gilbert ternyata memainkan sandiwara yang Athrun tidak suka. Athrun tidak mau. Dia protes. Dia memberontak. Tangannya sekarang gagal meraih Meer. Gadis itu tidak mau mengikutinya. Athrun hanya ingin orang awam seperti Meer selamat. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan konflik yang terjadi. Meer sama seperti Athrun dia hanya ingin berkontribusi, dia hanya ingin melakukan sesuatu, dia hanya ingin berguna, dia hanya ingin disadari keberadaannya. Namun sayangnya Meer memang sama sekali tidak dikenal sehingga memilih jadi 'Lacus', sedangkan Athrun justru menghindar karena riwayatnya sebagai Zala, sehingga dia memilih menjadi 'Alex Dino'.
"Apabila mati adalah yang ditetapkan maka ada baiknya kau segera pergi," ucap gadis yang tidak Athrun sangka justru membantunya, Meyrin Hawke. Athrun tidak habis pikir mengapa gadis itu membantunya. Gadis polos yang hanya ingin membantu kakaknya di tempat yang sama. Gadis yang memilih berada di posisi yang aman yang hanya mengamati. Iya, mengamati. Gadis itu hanya mengamati namun Athrun tidak pernah tahu apa yang gadis itu amati hingga dia mau melakukan 'kejahatan' yang sama dengan Athrun. Mungkin Meyrin berpikir dirinya hanya pemain pembantu atau figuran namun dia salah. Ketika dia sudah menginjak panggung utama bersama Athrun yang disinari oleh lampu teater yang menyala maka dia juga menjadi fokusnya. Ah ralat, justru karena dia seorang CIC maka dia tahu, dia seperti penonton yang tahu seluk beluk semua hal tentang para pemainnya.
Untuk kedua kalinya Athrun berkhianat. Dia kembali mengkhianati Negara yang dia pernah menarik sumpah militer didalamnya, UNTUK KEDUA KALINYA. Apakah ini artinya dia tidak cocok dengan ZAFT? Mengapa dia seakan-akan tidak pernah cocok dengan hal yang sudah ditakdirkan untuknya. Persetan dengan itu semua. Athrun tidak tahu kepada siapa dia harus mengumpat sekarang. Takdir ini seperti kutukan. Semuanya tidak memperlihatkan apa yang Athrun harapkan. Kontrak apa yang dia pernah buat sebelum lahir sehingga dia memiliki takdir yang buruk dan terkutuk ini.
Di kala sedang melarikan diri dan melawan Shinn dan Rey, Athrun ingin rasanya berdoa dan berharap akan keselamatan pada Tuhan. Tapi, Tuhan yang mana? Siapa yang dia yakini? Siapa yang selama ini menentukan atau mengarahkan skenarionya? Dia seperti dikutuk karena semua yang dia pilih itu salah. Kutukan dia yang bernama takdir yang dia sendiri tidak tahu harus menyampaikan keluh kesahnya ke siapa. Belum sempat dia menyampaikan keluh kesahnya pada Tuhan. Dia sudah harus meregang nyawa. Sempat terlintas di pikiran Athrun, kalau dia masih hidup maka hidupnya benar-benar dikutuk.
Kutukan bernama takdir itu nyata. Athrun masih hidup. Entah siapa yang menariknya sehingga Thanatos, Hel, Anubis, Scathatch, Izanami, dan Angra Mainyu para Dewa Kematian dari berbagai kepercayaan tidak tertarik dengan jiwanya bahkan Valkryie tidak mengambil jiwanya membuktikan bahwa hidupnya tidak dapat membuat dirinya atau jiwanya menjadi jiwa para pejuang untuk Ragnarok. Mungkin dirinya terlalu munafik, kotor, hina, busuk, dan menjijikan, sehingga tidak ada dari mereka yang mau mengambil nyawanya. Ketika membuka matanya, Kira dan tangis Cagalli lah yang dia lihat. Entah dia perlu bersyukur atau tidak, apakah ini merupakan hukuman karena pernah atau terus menyakiti mereka. Athrun tidak tahu. Dia hanya sudah lelah, dia lelah dengan semua yang terjadi. For God's Sake, he just want to be a normal human being with a normal life! Mungkin hal ini juga yang ada di kepala dam pikiran Kira Yamato, sahabatnya selama ini.
Sesungguhnya Athrun ingin berteriak. Ingin rasanya dia hsteris dan berteriak, mengapa Tuhan tidak adil padanya? Mengapa Tuhan masih 'mengasihinya'. Perasaan yang sama ketika dia ternyata masih hidup dan ditolong oleh Cagalli setelah menghancurkan Strike Gundam. Dia sudah muak dengan semua hal yang terjadi. Dia berbuat apa-apa dan tidak berbuat apa-apa semuanya sama saja. Hasilnya sama saja. Semua tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dia pemuda yang egois. Namun, kelihatannya hidupnya ini sebuah hukuman. Sebuah karma karena dia terlalu keras kepala dengan hidup. Tuhan, Dewa, Dewi, semua menghukumnya. Menghukum dirinya yang terlalu keras kepala sehingga meminta dia untuk terus hidup dan melihat kehidupan dan waktu yang berjalan yang ternyata itu menyiksa dirinya. Perlahan-lahan hal itu membunuhnya.
Cagalli senantiasa menemani Athrun ketika dia luka dan tidak meninggalkan pemuda itu, walaupun kadang-kadang dia mendapatkan panggilan dari Kisaka. Cagalli dengan setia menemani Athrun dan menjelaskan hal-hal serta masalah yang terjadi selama pemuda itu tidak sadarkan diri. Namun, karena banyak hal yang terjadi, mereka jadi bingung harus berkata apa.
"Kamu sudah bangun?" ucap Cagalli. Tatapannya yang lembut merupakan tatapan yang Athrun rindukan. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi dan duduk di sebelah tempat tidur Athrun.
"Ah ya, walau rasanya seperti ingin mati." Athrun berusaha bangun dan menahan rasa sakit. "Sayangnya, kelihatannya aku baik-baik saja," tambahnya. Dia memang ingin mengucapkan kata-kata sarkas karena sudah kesal dengan kondisinya.
"Jangan berkata seperti itu," tegur Cagalli. "Kau tidak membuat siapapun yang mendengarnya senang."
"Maaf," ucap Athrun.
"Bagaimana kondis Meyrin?" tanya Athrun.
Tahu Athrun akan menanyakan hal itu, "Sekarang dia sedang terkena demam namun selebihnya dia baik-baik saja. Miriallia bilang kalau dia sempat mengobrol sedikit dengannya."
"Oh begitu," ucap Athrun.
"Gadis itu…gadis yang menjadi CIC di Minerva kan?" tanya Cagalli.
"Ya, dia menolongku. Dia berkata daripada terbunuh lebih baik melarikan diri. Aku padahal jarang berbicara dengannya namun aku malah bergantung kepadanya dan melibatkannya," ucap Athrun dan dia merasa sangat menyesal karena berakhir seakan-akan menculik atau mempengaruhi gadis itu. Dia bukanlah orang yang seharusnya masuk dalam aturan Athrun. Tapi, Athrun harus bisa memahami kalau suatu kalkulasi tidak selamanya 100% tepat.
"Kelihatannya dia menyukaimu, aku yakin," ucap Cagalli yang tanpa sadar suaranya terdengar tercekat. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir mengenai kondisinya. Aku akan mengamati kondisinya secara personal," tambahnya.
Suasana hening menyelimuti keduanya. Tanpa sadar kalau ada telinga ketiga disana, Neo. Mereka tidak sempat memindahkan Athrun ataupun Neo. Lagipula, Neo bukanlah ancaman. "Lalu, apakah kau akan memaafkanku?" tanya Cagalli.
Athrun agak terkejut. Justru dialah yang salah. Dia harus mengaku kalau dia kalah dan dia salah. Buktinya sekarang dia terluka parah akibat sudah bersikap keras kepala. "Akulah yang seharusnya bertanya seperti itu kepadamu. Aku harus meminta maaf. Apa yang Kira katakan saat di Crete-"
"Namun aku memutuskan untuk menikah, tanpa membicarakannya denganmu!" potong Cagalli.
Athrun lalu melihat tangan Cagalli yang terkepal keras. Dia lalu melihat cincin yang dikenakan Cagalli. 'Ah cincin itu' batin Athrun. Tersadar kalau dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dia terlalu egois. Tidak ingin memahami Cagalli. Dia terlalu bodoh dan naif. "Kau ingin melindunginya bukan? ORB," tanya Athrun.
Athrun lupa kalau ORB adalah hal yang tidak bisa dimasukkan ke dalam lingkaran dan aturannya. Namun, ORB itu terikat dan mengikat dengan Cagalli. ORB lah yang membuat Cagalli hidup dan Athrun selama ini ternyata mencoba untuk mengambil dan menghapus faktor itu dari Cagalli. Bukan memahaminya dan menerimanya. "Mungkin aku sudah bersikap tidak sabaran saat itu," ucap Athrun.
"Aku… tidak sabar, kurasa. Aku tidak dapat menahannya sesungguhnya," ucap Athrun. Dia terdengar sangat frustasi. "Aku tidak suka bahwa nyatanya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Cagalli memikul tanggung jawab yang berat seperti memimpin negara dan bekerja keras setiap hari, namun aku hanya tidak dapat melakukan apa-apa. Tidak hanya tidak bisa melakukan apa-apa, seperti halnya saat insiden Junius Seven terjadi… aku ingin melakukan sesuatu. Sebenarnya aku ingin mencegah dan menghentikan perang, juga ... "
"Athrun?" Cagalli seakan-akan tidak percaya kalau Athrun merasakan beban seperti itu. Namun hal itu wajar, karena pada dasarnya Athrun hanya ingin memberikan sesuatu, dia ingin berkontribusi. Athrun adalah pemuda yang tulus. Cagalli tahu hal itu. "Aku paham akan hal itu namun, terlihat sulit bukan?" ucap Cagalli yang terdengar sedih dan kecewa.
"Cagalli?"
"Semua ingin menghentikannya dan mengatakan hal tersebut terus menerus. Namun mengapa hal itu tidak terjadi? Apakah ini benar-benar salah LOGOS? Atau hal ini memang tdak dapat dipungkiri harus terjadi?" ucap Cagalli. Nada suaranya terdengar kecewa dan frustasi.
Athrun kembali memikirkan akan kemungkinan yang ada. Apakah benar tidak ada masa depan yang bisa diperjuangkan? Masa depan mereka tidak akan pernah sama? Dia lalu teringat Shinn yang mirip dengan dirinya. "Tidak, aku tidak percaya hal tersebut,"
"Eh?"
"Tidak akan," ucap Athrun tegas.
Perkataan Kira, Lacus, dan Cagalli menghiburnya walau dia tidak suka. 'Jangan berkata seperti itu. Hal itu tidak membuat siapapun senang,' ucap Cagalli. 'Lebih baik melakukan sesuatu daripada berakhir tidak melakukan sesuatu. Tentunya itu lebih menyakitkan', ucap Kira. 'Dirimu memang seorang tentara, namun dibandingkan itu semua Athrun adalah Athrun bukan? Kaulah yang berhak untuk memutuskan,' ucap Lacus. Perkataan ketiganya seakan memberikan harapan dan cahaya dalam kegelapan Athrun yang kian gelap. Dirinya hampir terperangkap dalam konsep bernama takdir. Sekarang orang-orang kembali memberikan dirinya kepercayaan dia senang karena masih ada yang peduli namun dia tidak senang karena dia itu hina. Apalagi setelah dia dikutuk oleh takdir. Namun sekarang dia ingin melawan takdir itu, apabila memang takdir adalah hal yang perlu diikuti maka sekarang dia ingin melawannya. Persetan para Tuhan, Dewa, Dewi ingin menghukumnya lagi atau merestuinya atau tidak. Dia hanya ingin 'bebas' dari semua yang ternyata mengikatnya.
Dengan sebuah pedang keadilan, Athrun kembali ke medan perang. Dia akan melawannya sekarang. Melawan siapa saja yang menghalangi dirinya. Terpaksa melawan apa yang menghalanginya. Dia tidak akan ragu lagi. Kalau memang orang lain mengerti dirinya makan dia harus mengerti orang itu. Oke, Athrun akan mencoba namun untuk dirinya yang ingin dipahami orang lain, dia akan membalasnya dengan suatu sikap, mau itu yang disukai ataupun tidak disukai. Dirinya bersikap. Dirinya bersikap untuk meraih cahayanya akan hari esok.
Sudah banyak kejadian dimana dia hampir kehilangan cahayanya dan dia tidak ingin mengulanginya lagi. Dia lupa kalau cahaya itu sifatnya menyebar dan menghasilkan banyak warna dari pantulannya. Dia lupa kalau manusia itu memiliki banyak karakter dan pola pikir yang berbeda-beda. Dia tidak mungkin mengurung atau menyimpan cahaya itu karena justru cahaya itu yang mewarnai hidupnya. Dia salah dengan beranggapan kalau dia ingin menjaga cahayanya, karena cahaya itu tidak bisa dikontrol. Cagalli, Kira, dan Lacus semua memilih. Memilih hari esok yang memang artinya adalah suatu dari yang akan datang yang tidak bisa diprediksi. Apakah Athrun akan memilih jalan itu? Lalu apa fungsi aturan yang dia miliki? Dengan pedang keadilan yang baru dia sadar. Dia dihukum dengan bukti masih ada di muka bumi karena terlalu terlena dengan aturan bernama takdir. Terlena dengan 'mematuhi'. Padahal mereka semua patuh, iya patuh. Patuh dengan apa yang mereka yakini dan apa yang mereka percayai. Yang sama hanya satu, mereka 'patuh' demi hari esok. 'Patuh' demi masa depan. Berbeda? Tentu saja berbeda. Hal yang sama hanya harapan dan keinginan akan hari esok dan masa depan. Walau bukan hal yang bisa langusng dilihat atau dapat dipastikan namun mereka butuh yang namanya 'kemudian hari'.
Tidak mempedulikan teguran dari kru mekanik, dirinya kembali ke medan perag. Berbalut perban dan luka patah tulang yang dia tahan. Dia bukan sok heroik. Dia hanya ingin memastikan. Memastikan kalau masih ada kesempatan. Memastikan kalau apa yang dia lihat itu salah. Apa yang Gilbert lakukan salah, apa yang Shinn lakukan salah, apa yang Rey lakukan salah. Dia ingin memastikan dengan kepala dan matanya sendiri kalau semua itu nyata. Kalau dia mengikuti kata hatinya maka dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan dari dulu.
"Kau, lagi-lagi gegabah," tegur Cagalli.
Athrun menoleh ke gadis yang duduk di sisi tempat tidurnya. Athrun sedang dalam posisi duduk menyaksikan berita mengenai kondisi ORB ditemani Cagalli yang beberapa saat langsung ke Archangel ketika mendengar Athrun terluka lagi atau lebih tepatnya lukanya terbuka. "Hm?" tanya Athrun.
Cagalli lalu mengulurkan tangannya dan membelai lembut kepala Athrun yang diperban lagi. "Kau tidak lihat betapa khawatirnya Kira dan Meyrin, huh?" tegurnya. "Apakah kau tidak bisa sesekali berhati-hati dan tidak membuat orang khawatir?"
Athrun lalu meraih tangan itu dan membelainya. "Ah, maafkan aku," ucapnya.
"Lalu alasan kau turun ke medan perang dengan unit barumu itu?" tanya Cagalli. Dia sebenarnya senang dan tidak ketika melihat unit berwarna magenta itu. Namun unit itu menimbulkan perasaan takut dalam diri Cagalli. Dia seakan-akan melihat kejadian yang lalu. Ketika Athrun memutuskan untuk meledakkan unitnya dengan Genesis. Unit itu seakan-akan menunjukkan determinasi Athrun yang kadang nekat kadang tidak. Untuk kali ini Cagalli berharap alasannya bukan karena suatu hal yang nekat.
Athrun terdiam. Dia bingung bagaimana menjawabnya. Dia lalu melihat seragam tentara ORB yang tergantung rapi. Walau masih berposisi sebagai chief petty officer, nyatanya dia maju dengan seragam itu sebagai Athrun Zala bukan Alex Dino. Apakah dia yakin kalau jawaban yang selama ini di acari justru dia peroleh sebagai Athrun Zala bukan sebagai Alex Dino? Athrun lalu menggenggam kedua tangan Cagalli. "I'm in," ucap Athrun. "Aku akan berjuang. Aku akan mempertaruhkannya, aku akan memperjuangkannya. Aku tidak akan lari lagi. Bersama denganmu, aku akan berjuang. Aku tidak akan menutup telinga dan mataku ini."
Athrun melihat air mata kembali keluar dari bola mata amber itu. Tangan Cagalli bergetar. Athrun tahu, sebenarnya Cagalli takut dan khawatir sama seperti dirinya. Pilihan yang mereka putuskan itu sulit. Pilihan yang mereka pilih itu berat. "Sebagai Athrun Zala?" tanya Cagalli di sela isak tangisnya.
Athrun mengangguk, "Iya, sebagai Athrun Zala." Cagalli lalu memeluknya dan Athrun membalas pelukan itu. Alex Dino sudah tiada. Sudah tidak ada lagi pemuda bernama Alex Dino. MIA, itu yang terakhir ada di dalam catatan Riwayat kehidupannya yang terdaftar. Athrun bisa melihat wajah lega Cagalli. Ketika melihatnya Athrun tersadar, kalau selama ini Cagalli juga tersiksa. Dia tersiksa dan merasakan kesedihan Athrun, namun Athrun acuh. "Syukurlah…syukurlah…," bisik Cagalli di sela tangisnya. Athrun membalas pelukan Cagalli dan memeluknya dengan erat.
Sekarang dengan pihak yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Pihak yang dia pikir dia bisa hidup menjadi manusia normal didalamnya, namun dia salah. Dia kembali menjadi tentara di pihak tersebut dengan menyandang nama Zala. Nama dirinya yang sesungguhnya, Athrun Zala. Nama Zala itu dia pilih lagi. Zala yang terkenal kuat dan kolot. Zala yang dikenal menjungjung tinggi ras Coordinators sebagai ras yang unggul. Itulah gambaran sosok Zala yang terlihat di masayarakat. Persetan dengan itu. Athrun tidak peduli. Dia sudah muak dengan permainan peran dan tugas ini. Dia ada itu berkat sosok maha yang disebut Tuhan. Dia seperti ini juga karena Tuhan. Jadi, persetan orang-orang yang mengomentari hidupnya. Kalau ada yang patut disalahkan, justru Tuhan lah yang harus disalahkan. Dia memainkan orang-orang dengan berbagai hal yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa ditebak. Hukum 3 Newton, ada aksi maka ada reaksi adalah bukti yang terjadi ketika manusia mempertanyakan takdir dari Tuhan. Lalu sekarang ada orang yang ingin menjadi Tuhan. 'Oh give me a break', pikir Athrun. Dia hanya ingin menjadi satu individu yang waras yang ingin dunianya tenang dan damai. Dia ingin kembali menjadi Athrun Zala yang dikenal dirinya sendiri. Egois bukan?
"Kau yakin sekarang?" tanya Kisaka ketika menemui Athrun yang sedang merapikan seragamnya di hangar dan sedang memeriksa Justice.
"Kisaka," Athrun cukup terkejut. Tidak menyangka kalau Kisaka akan datang menghampirinya.
"Athrun Zala?" tanya Kisaka.
Athrun tersenyum miris. Dia tahu apa yang Kisaka maksudkan. Sungguh miris sesungguhnya, dia yang dulu dikenal sebagai Alex Dino sekarang justru muncul sebagai Athrun Zala dan langsung mendapat pangkat Commander. Sesuai dugaan Athrun banyak omongan yang timbul apalagi nama Zala yang menjadi marganya, tidak seperti Kira. Selama sebulan pertama dia pulih dan kembali beraktivitas banyak omongan yang timbul. Mengenai hilangnya Alex dan kemunculan Zala yang tiba-tiba. Ada yang suka namun ada yang tidak suka. Bagi beberapa orang yang pernah mengenal sosok Athrun di perang 71 CE mereka senang dan menyambut kembali rekannya itu namun tidak bagi yang baru. Wajar. Itu wajar, karena Athrun sempat menjadi orang yang pengecut. 'Zala, jadi selama ini Alex itu Athrun Zala?', 'Aku pernah melihat sosok Athrun Zala dan aku sempat berpikir Alex itu Athrun Zala', 'Zala ada di pihak ORB? Apakah Chief Representative Athha serius?' 'Ah, Lacus Clyne ada di pihak Athha, jadi wajar saja', 'Jadi, Lacus yang muncul di media ZAFT itu apa? Buktinya ada Athrun Zala disini', omongan-omongan negatif seperti itu harus dia terima dengan lapang. Dulu dia pengecut tidak berani menerima konsekuensi dari sebuah nama itu namun sekarang dia tidak ragu. Iya, dia harap begitu.
"Aku sudah melakukan kesalahan dulu dan aku tidak ingin mengulanginya," ucap Athrun. "Maaf sudah merepotkanmu dan juga Cagalli," tambahnya.
Kisaka hanya mengangguk. "Setidaknya, sekarang kau tidak akan membuatnya sedih lagi. Senang melihatmu kembali, Athrun Zala," ucap Kisaka.
"Terima kasih," ucap Athrun dan Kisaka tahu arti kata terima kasih yang Athrun ucapkan lebih dari sekedar ucapan untuk sambutan kembalinya ke ORB. Namun konsekuensi yang harus dia hadapi sebagai Athrun Zala adalah, kenyataan bahwa dia dan Cagalli memilih jalan yang berbeda. Dia sudah bukan Alex Dino yang harus selalu ada di sisi Cagalli sebagai personal bodyguard-nya. Cagalli sudah tidak memerlukan sosok Alex Dino. Salah. Sejak awal, Cagalli tidak membutuhkan sosok Alex Dino. Karena dari awal yang Cagalli kenal dan Cagalli butuhkan adalah Athrun Zala.
ORB berada di situasi terancam. Belum terlihat secara langsung, namun sangat besar kemungkinan ORB menjadi sasaran setelah dengan bodohnya membiarkan LOGOS dan Lord Djibril berada di tanah mereka dan dengan mudahnya kabur ke bulan. Mau Cagalli menyampaikan pernyataan kalau mereka tidak memihak Djibril dan tetap pada kenetralannya dan tidak menyetujui Destiny Plan, Athrun yakin pihak PLANTs tidak senaif dan selugu itu dan menerimanya bulat-bulat. Namun, keraguan Athrun yang terbesar bukan karena kesalahan ORB, dia ragu karena apakah dia pantas setelah dengan mudahnya terbuai dan menjadi boneka untuk permainan Gilbert Dullindal yang bernama Destiny Plan.
"Menurutku, di dunia seperti itu, mungkin semua orang dapat terbebas dari kekhawatiran karena tidak mengetahui diri atau masa depan yang sebenarnya, dan hidup tanpa kesusahan dan penderitaan," ucap Athrun.
"Mungkin tidak akan ada pertempuran di sana. Setiap orang akan hidup dengan mengetahui bahwa pertempuran itu sia-sia. Bahwa takdirmu mengatakan itu sia-sia.," tambah Lacus.
Destiny Plan terlihat sangat ideal. Pemilihan situasi, peran, dan kondisi manusia seperti DNA atau gen yang ada di dalam dirinya. Athrun dan Meer adalah contoh penerapan dari Destiny Plan itu. Meer memilih untuk tinggal sedangkan Athrun tidak karena hati nuraninya menolak. Namun, ketika Gilbert mendeklarasikan Destiny Plan Athrun kembali memikirkan mengenai peran dan aturan yang diberikan. Untungnya dia sudah yakin, kalau dia akan melawannya sekarang. Persetan dengan data dan kalkulasi atau perhitungan akan suatu peluan dan situasi. Takdir itu seharusnya dilawan dan diperjuangkan. Bukan dibuat dan diatur.
Neo lalu bertanya, "Kamu tidak akan melakukan sesuatu yang sia-sia, ya?"
Athrun menjawab, "Saya bukan tipe yang mudah menyerah begitu saja."
Kutukan Athrun yang kedua adalah Coordinators itu sendiri. Mungkin mereka bangga karena modifikasi DNA dan genom yang membuat mereka unggul dan memiliki kelebihan dibeberapa aspek. Iya, itu kutukan baginya. Dia harus mematuhi aturan sebagai Coordinators. Semua sudah terbuat, semua sudah tercatat, semua sudah terstruktur, sempurna tanpa catat. Itulah yang menjadi dasar dari Destiny Plan, melihat cocok atau tidaknya seseorang, mencari dan mengarahkan manusia sesuai potensinya. Sungguh suatu rencana yang indah. Namun, berakhir dengan mengeleminasi salah satu bagian yang tidak berguna. Itu salah. Kalau begitu, Coordinators itu salah, Coordinators itu tidak bisa dibanggakan karena tujuan mereka dibuat adalah untuk mencapai Destiny Plan. Untuk mencapai dunia yang sudah terstruktur, terencana, dan terarah. Makanya, bagi Athrun Coordinators seperti suatu kutukan karena dia harus melihat aturan yang sudah dibuat untuknya. Kutukan itulah yang digunakan oleh Gilbert untuk memanipulasi dirinya dan pikirannya.
She follows her way, and I have mine. Has nothing to do with fate or the role we have to play, we just take the way that we choose to borrow. So that our paths will cross again, I will protect that future. Athrun ragu ketika Kira mengajaknya untuk ke luar angkasa. Athrun setuju dengan apa yang Kira dan rekannya rencanakan, dengan harapan sekali lagi dirinya bisa tenang dan hidup normal. Namun sebenarnya dia resah, dia kesal, dia bingung. Dia tidak tahu apakah dia bisa pulang dengan selamat lagi? Dia akan berhdapan dengan orang yang pernah memanipulasinya. Bagaimana kalau ditengah perjalanan dia mengkhianati rekannya? Itu yang Athrun khawatirkan. Dia lalu memegang lehernya tempat pernah dikalungkannya kalung batu Haumea. Kalung itu hilang. Dia lupa menaruhnya dimana. Dia tidak tenang. Karena baginya, kalung itu semacam pengingat. Pengingat kalau cahayanya tidak sirna, ada harapan dan tempat pulang untuknya. Tetapi, mungkin lebih tepatnya, pantas saja dia tidak tenang karena dia sudah membuat Dewi Hauema marah karena menghilangkan kalung itu.
Alhasil, dia memeluk Cagalli sebelum dia dan Kira pergi ke medan perang. Bukan untuk menunjukkan kemesraan, namun aksi itu karena dia tidak tenang. Dia tidak tenang, dia sedih, dia kesal. Namun dia masih bisa menunjukkannya dengan wajah tenangnya. Dia hanya tidak ingin Cagalli khawatir. Ditengah ketidaktenangannya dia perlu satu momen untuk merasa tenang dan itu Cagalli. Setidaknya sekali lagi ada yang menjamin tempat pulangnya dan dia sudah tidak perlu merasa kesal atau sedih karena hal itu lumrah dirasakan.
Athrun berduka lagi. Namun kali ini dia menangis. Padahal selama ini dia tidak menangis, hatinya yang menangis. Namun ketika Meer tewas dihadapannya, pertama kali semenjak perang pertama berakhir dan perang kedua dimulai dia meneteskan air matanya. Air mata itu menunjukkan suatu penyesalan yang sangat besar. Iya, dalam batinnya dia menyesal. Kalau saja dia tidak berharap akan 'aturan' itu, aturan dimana semuanya harus berada pada posisi dan perannya masing-masing tanpa diganggu gugat. Dia yang sempat terperangkap dalam pola pikir itu yang ternyata dengan mudahnya termanipulasi dan terbuai oleh kata-kata Gilbert. Untuk kematian Meer, dia seharusnya dapat mencegahnya. Dia seharusnya dari awal bisa menegaskan pada gilbert bahwa tidak perlu simbol penyeimbang seperti Lacus karena sejak awal itu bukan peran Lacus. Lacus hanya menjadi Lacus yang berusaha menyuarakan suaranya. Buktinya masih saja ada yang tidak setuju dengan ucapan Lacus dulu. Padahal Athrun tahu benar akan hal itu, namun dia tetap membiarkan Gilbert dan Meer memainkan teater 'Lacus Clyne' itu. Namun nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang dia dan Lacus bisa perbuat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Athrun mendekati Lacus yang masih berada dalam pelukan Kira.
Lacus melihat Athrun dan kelihatannya gadis itu paham kalau Athrun juga merasakan rasa sedih yang sama. Athrun lebih dulu mengetahui sosok Meer dibandingkan Lacus. Lacus lalu menyeka air matanya. "Aku akan mencobanya Athrun, demi Meer kita harus menghentikan Chairman Dullindal," ucapnya.
Athrun setuju. Sekarang dia bukan Athrun Zala yang dulu, dia juga bukan Alex Dino. Dia adalah Athrun Zala yang menyakini akan sebuah 'keadilan' bukan sebuah 'aturan' yang harus dipatuhi dan ternyata tanpa dasar itu. Aturan bernama Codex Hammurabi pun memang ada untuk bisa mengontrol orang sekitarnya namun jauh sebelum aturan itu berdiri, apakah aturan itu adil? Apakah Raja Hammurabi mempertimbangkan aspek keadilan didalamnya. Untuk kasus Athrun sayangnya tidak. Dia melupakan aspek keadilan sehingga dirinya selalu tenggelam dalam sebuah kegelapan. Dosa yang dia perbuat, darah yang tumpah karenanya, nyawa yang dia ambil, sudah tidak bisa dihapus. Dia tidak masalah. Karena dia adalah seorang tentara, dia seorang prajurit yang siap menghunuskan pedang atau mengacungkan pistolnya. Dia sudah bersumpah untuk hal itu sehingga dia akan melakukannya demi 'keadilan' yang dia yakini.
Athrun sudah melakukan kesalahan dan kebodohan. Dia tidak sadar kalau dia tidak mau terikat dengan 'aturan'. Buktinya, dia selalu menolak ketika Meer mendekatinya sebagai 'Lacus Clyne' dan membawa status tunangan. Athrun tidak sadar kalau dari awal sebenarnya dirinya sudah menolak aturan itu namun dia tetap bersikeras akan 'aturan' yang dia ingin pertahankan , Meer adalah korban dari aturan tak berdasar itu, aturan yang disampaikan oleh Gilbert Dullindal dan Athrun sudah menduganya. Mulut manis Chairman Dullindal yang ternyata ingin 'mengatur' dunia bukanlah suatu solusi untuk dunia ini. Chairman akan melakukan apapun demi memperoleh dunia dan aturan yang dia inginkan. Persis seperti Athrun dulu, persis seperti Ayahnya, dan persis seperti apa yang diinginkan seluruh manusia di muka bumi. Namun, apakah perlu hingga akhirnya harus saling menyakiti, membunuh, dan menghancurkan satu sama lain? Dunia ini bukan tempat untuk satu individu. Dunia ini milik banyak orang dengan banyak pikiran dan perasaan yang membentuknya. Apakah mereka salah? Tidak. Karena manusia diciptakan untuk hidup saling berdampingan. Mereka sepatutnya saling melengkapi dan memahami.
"Athrun."
Panggilan sang sahabat menyadarkannya dari lamunannya di lounge Archangel. Selepas pemakaman Meer dia membutuhkan waktu cukup lama untuk membereskan dan menenangkan pikirannya. Athrun lalu menengok ke arah sumber suara itu. "Ah, Kira. Sudah selesai mengontak Cagalli?" tanyanya. Setahu Athrun, Kira sempat pamit sebentar untuk mengontak Cagalli setelah upacara pemakaman Meer.
"Yah, begitulah," ucap Kira sambil meraba leher belakangnya.
"Bagaimana ORB?" tanya Athrun. "…dan Cagalli," tambahnya, suaranya agak ragu dibagian akhir ketika menyebut nama Cagalli.
"Mereka baik-baik saja. Renovasi berjalan lancar. Perlahan perekonomian pulih, hal yang sama juga untuk keamanan dan pertahanan Negara. Semua stabil juga berkat Sahaku yang akhirnya turun juga bersama orang-orang yang mendukungnya. Yah, kau tahu lah…," ucap Kira sambil tersenyum dan mengangkat bahu sedikit. "Kelihatannya Cagalli benar-benar fokus dan sangat serius sekarang. Syukurlah dia bisa pulih dengan cepat," ucap Kira. Nada bicaranya terdengar lega dan tenang. "Kita harus cepat menyelesaikan situasi ini. Destiny Plan ini…..jangan sampai ORB terkena dampaknya," lanjutnya.
"Ah ya..," ucap Athrun. "Apakah Cagalli mengucapkan sesuatu?" tanya Athrun.
Kira kelihatannya tahu apa yang ingin Athrun tanyakan sebenarnya. Dia lalu menepuk bahu sahabatnya itu. "Pulanglah dengan selamat demi masa depan dan hari esok," ucap Kira. "Jangan gegabah dan jangan menyalahkan dirimu," tambah Kira sambil pergi keluar dari lounge setelah mengambil sebotol air minum.
Tangan Athrun lalu meraih area dadanya dimana pernah terkalungkan sebuah batu pemberian Cagalli. Batu yang sebenarnya sudah menjadi sebuah pengingat akan dirinya. Dirinya untuk lebih memperhatikan dirinya, dirinya untuk tidak pernah menghukum atau menyalahkan diri sendiri akan suatu hal. Dia lalu meremas seragamnya. Sekarang kalung itu tidak ada. Ada keresahan dan kekhawatiran dalam dirinya. Dia khawatir keadilan yang dia yakini tidak cukup kuat untuk menjamin hari esok dan masa depan mereka. Buktinya Meer tewas padahal dia sudah yakin dengan setiap rencana dan dampak yang akan ditimbulkan. Keyakinan akan hari esok yang dia yakini hanya berasal dari dekapan hangat sang putri bukan dari sebuah 'pedang' yang diwariskan atau diserahkan untuknya.
"Kamu harus berhenti bertarung apabila kamu masih terjebak di masa lalu kamu! Melakukan sesuatu seperti ini tidak akan membuat siapa pun kembali!"
"Beraninya kau !?"
"Lalu sekarang kamu akan menghancurkan masa depan itu ?! Kamu ingin kekuatan untuk membunuh masa depan ?! Kamu menginginkan dunia yang dapat kamu bunuh dengan kekuatan kamu?!" tegur Athrun lagi. Sungguh suatu kalimat dan perdebatan yang hipokrit. Apa yang Athrun lakukan sama. Dia masih merusak. Dia masih menghancurkan. Namun pembelaan dan pembenaran Athrun adalah, dia melakukannya demi hari esok, bukan untuk mengembalikan masa lalu atau mengembalikan apa yang semestinya dulu terjadi.
Ketika melihat sosok Gilbert, Talia, dan Rey Athrun merasakan kesesakan. Ada perasaan rindu dan nostalgia ketika dia melihat pemandangan itu. Keluarga. Hal yang sangat dia rindukan. Dia teringat ketika dia pertama kali memasuki ruang kerja Patrick bersama dengan Lenore dan masih dengan jelas mengingat rasa hangat yang ada di ruangan itu serta suara riang kedua orangtuanya. Ah atau mungkin dia hanya berandai-andai apabila mereka masih hidup akankah ada momen indah seperti itu? Mengingat masa kecilnya yang membahagiakan juga berada di saat perang mulai berkecamuk. Namun, sekarang bukanlah saat untuk memikirkan hal itu. Memang disayangkan mereka 'mengorbankan nyawa' demi manusia dan apakah hal itu pantas? Khususnya untuk Talia dan Rey. Nampaknya banyak hal yang harus dicari dan dibahas hingga akhirnya bisa mengetahui alasan mengenai keputusan Talia dan Rey.
Athrun tidak ingin memikirkan mengenai apakah ini keputusan baik atau tidak. Dia hanya perlu yakin akan hal yang dia lakukan, seperti sekarang menjamin kondisi Kira karena Kira memiliki posisi yang berbahaya sebagai 'orang luar' yang bertemu dengan Gilbert dan juga menolong Shinn dan Lunamaria karena dia merasa itu adalah hal yang lumrah untuk dilakukan. Shinn masih memiliki masa depan yang cerah tidak seperti dirinya dan dia bertanggung jawab juga untuk kondisi Lunamaria dan juga Meyrin.
Beberapa bulan setelahnya mereka kembali disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Pertemuan Shinn dengan Kira. Promosi Meyrin di ORB lalu ke ZAFT. Perdebatan antara Athrun dan Shinn dengan alasan mendamaikan mereka oleh Mwu yang gagal total. Surat permintaan Lacus Clyne mejadi Mediator. Hal-hal tersebut Athrun saksikan dan lalui dengan pasrah tanpa memaksakan pihak mana pun. Hingga akhirnya mereka berkesempatan untuk berkumpul di rumah atau villa milik Murrue Ramius. "Hey Ath," panggil Kira.
"Ah, Kira? Sudah selesai mengobrol dengan Ibumu?" tanyanya. Biasanya Athrun selalu ada ketika Kira sedang ada diskusi penting dengan Ibunya. Namun tidak untuk kali ini. Athrun melihat mereka butuh privasi apalagi sampai Ayahnya, Haruma juga hadir di rumah milik Murrue Ramius yang sudah menjadi tempat singgah Kira dan yang lainnya semenjak panti asuhan di Marshall Island tersapu ombak tsunami.
Kira hanya mengangguk mengiyakan. "Iya dan kelihatannya aku juga harus membicarakan beberapa hal denganmu juga Ath." Tatapan Kira lalu ke salah satu sudut jendela dimana Lacus dengan piawai memainkan piano dan anak-anak panti bernyanyi, sedangkan yang lain termasuk Cagalli hanya memperhatikan dengan wajah penuh senyum dan kebahagiaan. Tidak lupa the little Ryu yang sering 'nempel' di pangkuan Cagalli -satu-satunya anak panti yang membuat Cagalli luluh dan hal itu tidak diaku oleh Cagalli-.
"Hmm? Apakah ini berkaitan dengan Mum Caridad yang menangis?" tanya Athrun yang pertanyaannya terlalu straight ke topik utama.
Kira lalu menggaruk belakang lehernya, "Yah begitulah."
"Ada apa?"
"Kau ingat mengenai surat dari PLANTs yang meminta Lacus untuk kembali ke PLANTs dan menjadi Chairwoman atau Mediator disana?" tanya Kira dan Athrun hanya mengangguk mengiyakan. Beberapa waktu atau bulan setelah perang selesai Athrun mendapatkan informasi kalau Lacus diminta kembali ke PLANTs sebagai salah satu bentuk persetujuan perdamaian. Entah apa maksudnya namun Athrun berharap semuanya baik-baik saja karena Lacus tidak banyak menceritakannya sama halnya dengan Cagalli.
Kira lalu menghela napas, "Lacus sudah mantap dengan keputusannya dan sudah membicarakannya dengan Cagalli. Lacus akan menerima posisi tersebut dengan beberapa syarat dan disamping itu kami memutuskan untuk tidak akan lari lagi dan menghadapinya."
"Kami?"
"Iya, aku memutuskan untuk ikut dengannya Ath," ucap Kira. "Sebagai bagian dari ZAFT," lanjutnya sebelum Athrun dapat membalas atau memberikan komentar macam-macam karena jelas terlihat Athrun sangat terkejut. Bola mata emerald itu membulat sempurna.
"Kau!? Sebagai bagian dari ZAFT!?" Athrun tidak percaya. Apa yang Kira ucapkan itu tidak mudah. Kira sudah punya posisi penting di ORB sebagai High Admiral ditambah dia sebagai saudara kembar Cagalli tentunya semua berekspetasi Kira akan mengambil jalan yang sama seperti Cagalli. Mungkin yang terakhir ditolak mentah-mentah oleh Kira dan Cagalli karena mereka dibesarkan oleh dua keluarga yang berbeda dan tidak ada kaitannya dengan identitas sebagai saudara yang terikat. Tidak ada urusan siapa ikut siapa. Hubungan mereka sebagai saudara kembar cukup sebagai anak kembar Hibiki yang dimana mereka sudah tidak mau membahasnya lagi, hanya membuka luka lama. Tapi Athrun lebih khawatir terhadap situasi dimana Kira Yamato dulu adalah musuh ZAFT sebagaimana dirinya yang loyalitasnya dipertanyakan di ORB dari ZAFT ke ORB lalu ZAFT lalu ORB, oke mungkin untuk kasus Athrun berbeda.
"Bagaimana tanggapan Cagalli?" tanya Athrun selanjutnya. Dia tahu kalau Kira akhirnya berani mengobrol dengannya mengenai keputusan besarnya ini pasti karena dia sudah mengobrol dengan Cagalli.
"Teguran, pukulan ringan, dan air mata," ucap Kira. "Ditutup dengan pelukan. Tipikal Cagalli," tambahnya yang langsung menghasilkan gelak tawa diantara mereka.
"Kira….kau yakin?" pertanyaan yang sering Kira dengar dari mulut Athrun ketika Athrun meragukan pilihan Kira, menandakan Kira untuk memikirkan kembali pilihannya baik-baik.
Kira mengangguk, "Iya dan tidak pernah semantap ini. Mungkin apa yang kau khawatirkan sama seperti apa yang aku khawatirkan. Tanggapan dan pandangan orang-orang mengenai diriku, identitasku, serta masa laluku. Aku sudah tahu dan yakin akan ada beberapa pihak yang tidak mungkin langsung menyetujuinya, makanya mutasiku ke sana pun tidak semudah Lacus. Ada beberapa paper yang harus aku selesaikan. Lacus akan ke PLANTs mulai bulan depan, sedangkan aku menunggu keputusan dari pihak PLANTs dan juga ORB." Dia lalu memegang salah satu bahu Athrun, "Semua tidak mudah mengingat kau pernah menjadi musuh dan menanggung suatu kesalahan dan dosa besar terhadap mereka. Aku berhutang nyawa ke masyarakat PLANTs aku sadar betul hal itu namun yang kulakukan sekarang bukan untuk meminta maaf atau penebusan atas dosa-dosaku, Aku hanya mengikuti apa yang aku yakini, apa yang Tuhan arahkan untuk 'hari esok'," jelasnya. "Kudengar kau dapat promosi di Defense Force?" tanyanya pada Athrun. Jelas sekali kalau diamnya Athrun membuat Kira khawatir dan pertanyaan itu untuk memecahkan keheningan yang ada diantara mereka.
"Ah, ya sebagai Rear Admiral atau High Commander tapi kelihatannya banyak paper yang harus diselesaikan juga sama sepertimu," jawabnya.
Mereka lalu saling mengangkat bahu, tidak mudah memang keputusan mereka. Bahkan omongan kalau mereka dibela oleh Clyne dan Athha pun ada. Tapi mereka harus kuat, mereka berdua harus tangguh. Mereka sudah memutuskan untuk menjadi pedang dan perisai sang Dewi. "Mungkin tidak pantas aku mengucapkan ini tapi, aku titip dia dan ORB ya Ath? Tolong jaga mereka baik-baik" pinta Kira.
Athrun tahu arti kata mereka yang Kira maksud. Athrun lalu tersenyum, "Tentu sobat. Dengan seluruh jiwa dan ragaku ini," ucap Athrun mantap. "Akupun juga meminta hal yang sama, sobat. Aku titip dia dan PLANTs. Jaga mereka baik-baik" pintanya pada Kira.
"Sama sepertimu sobat. Dengan seluruh jiwa dan ragaku ini," jawab Kira mantap.
Mereka berdua tertawa. Tuhan memainkan takdir mereka dengan cara yang aneh. Entah itu berupa hukuman atau berkat tapi dulu mereka berbeda. Dulu Athrun memihak ZAFT dan Kira di Earth Alliances sebelum akhirnya mereka memihak ORB. Mungkin kalau yang dibahas mengenai tempat tinggal baru tepat apalagi setelah perang kedua. Athrun bersumpah untuk menjaga PLANTs dan Kira menjaga ORB awalnya. Namun sekarang mereka berkebalikan. Kira di PLANTs dan ZAFT, Athrun di United Emirates of ORB sebagai bagian dari ORB Military Defense Force. Dulu mereka memiliki cara pandang dan memihak ras yang berbeda. Kira Natural plus Coordinator dan Athrun Coordinator. Namun sekarang kebalikannya. Athrun ada di Negara para Natural plus Coordinator dan Kira berada di Negara para Coordinator. Mereka termakan oleh kata-kata mereka sendiri. Mungkin faktor wanita jadi alasan juga namun tidak mereka akui. Karena mereka berdua melihat dua putri itu tanpa melihat pihak apa yang ada dihadapan masing-masing.
"Aku tidak menyangkanya, sungguh. Rencana Tuhan sangat tidak bisa ditebak," ucap Athrun. "Kalau kau gagal aku tidak akan segan menghajarmu sobat," ancamnya.
"Kaupun juga. Kalau kau gagal maka kau harus menerima akibatnya dan jangan buat dia menangis lagi Ath," ucap Kira yang justru ancamannya jauh lebih berat dan serius.
Athrun tertawa kecil, dia lupa kalau janjinya pada sahabatnya itu sangatlah besar. Tidak hanya urusan menjaga negara namun juga menjaga seseorang yang pernah disakiti oleh dirinya. Sumpahnya mala mini menyangkut nyawa satu individu juga. "Tentu, aku bersumpah untuk hal itu juga. Aku berjanji akan membahagiakannya. Oleh karena itu kau juga harus bahagia dengannya. Kau juga berhak untuk bahagia, ingat itu." ucap Athrun. Bahagia? Sungguh suatu kata yang sangat hipokrit yang diucapkan oleh mereka berdua.
Bahagia. Kebahagiaan. You deserve your own happiness don't let the others take it from you. You have done a great job with a huge task and responsibility in your shoulder, now it is your turn to be selfish and get your own happiness. Baik Athrun dan Kira sebenarnya tidak yakin apakah orang-orang yang sudah menghalangi jalannya selama ini juga akan mendo'akan dirinya demikian? Mengharapkan kebahagiaan dirinya? Kira hanya mengangguk. "Bersumpah, demi hari esok?" tanya Kira sambil mengarahkan kepalan tangannya ke Athrun.
Athrun lalu tersenyum dan mengepalkan tangannya dan memukul pelan kepalan tangan sahabatnya itu kemudian membukanya dan saling menjabat tangan dengan erat dan kencang. "Demi hari esok, aku bersumpah," jawabnya mantap.
Pukulan ringan dan jabatan itu menjadi saksi akan sumpah mereka berdua. Masing-masing memiliki legacy di tanah asal masing-masing yang harus mereka jaga namun mereka sudah memutuskan untuk meraih jalan yang berbeda untuk 'hari esok', oleh karena itu sekarang mereka saling bertukar dan bersumpah untuk saling menjaga. Mereka bertukar tempat dan saling menitipkan legacy-nya. Seperti sumpah mengangkat saudara. Semuanya demi hari esok. Kira tahu kalau Negara saudara kembarnya sudah tidak membutuhkan 'pedang kebebasan' karena justru mereka sudah bebas dan mereka membutuhkan 'pedang keadilan' untuk mengaturnya yang tidak lain hal itu ada pada sosok Athrun Zala. Sedangkan Negara tempat Athrun dan Lacus berasal, sudah memiliki 'pedang keadilan' berdasarkan pada legacy pendahulunya dan sistem pemerintahan yang kolot dan tertutup. Kekurangan mereka adalah mereka membutuhkan 'pedang kebebasan' itu sekarang. Kebebasan untuk dapat membuka pikiran mereka dan menyejahterakan dunia mereka.
Obrolan terakhir dengan sahabat mengenai rencana masa depan yang tidak dia duga. Tubuh yang hina ini ternyata diharapkan banyak orang. Athrun ingin muntah rasanya ketika dia mengingat harapan-harapan yang ada dan menumpuk di alam bawah sadarnya. Mereka masih menganggap dia normal, wajar, waras. Mereka masih menganggap kesalahannya hal yang lumrah dan sepele. Namun dia ingat, semua orang tidak sempurna. Mereka punya salah dan tidak selamanya mereka dianggap baik. salah satunya Legacy-nya serta takdirnya sebagai Zala, dan hal itu adalah hal yang tidak bisa dia hapus dan menjadi hal yang harus dia terima dengan lapang walau dia tidak suka. Demi Dewi Haumea, dia tidak tahu siapa yang menulis skenario hidupnya ini sehingga dia dibayang-bayangi oleh takdir yang tidak menyenangkan ini.
Athrun Zala ternyata sosok yang hina dan munafik. Dia pikir kalau semuanya yang dia lakukan selama ini adalah demi orang lain, namun ternyata itu salah. Selama ini dia melakukannya demi dirinya sendiri. Dia hanya ingin perasaannya aman, tenang, dan damai. Ingin rasanya dia memukul dirinya sendiri. Dia yakin berjuta kata maaf tidak akan dapat memaafkan kesalahannya.
"Athrun Zala-kun?" suara panggilan yang Athrun cukup kenal dan menepuk pelan pundak pemuda itu. Seorang pria yang beberapa waktu lalu dia hormati sebagai wakil kapten untuk kapal tempur Minerva, Arthur Trine.
"Ah…vice-captain Trine..," ucap Athrun yang ragu-ragu dengan panggilannya ke pria juga merasa masih meninggalkan masalah dengan para kru Minerva karena sudah melarikan diri dan membawa Meyrin bersamanya.
Arthur lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu terlalu formal baik aku dan kau sekarang, tidak ada yang mengikat kita," ucap Arthur yang terlihat masih kaku padahal mereka sudah hampir kenal selama kurang lebih satu atau dua tahun. "Kau sudah…bukan bagian dari ZAFT, bukan?" ucap Arthur walau dia masih kurang yakin dengan bagian akhir kalimatnya. Setelah melihat Chariwoman Clyne berpelukan mesra dengan High Commander terbaru yang bernama Kira Yamato itu, Arthur jadi bingung dengan semua yang dia lihat dengan kepala dan matanya sendiri. Dia ingin bertanya mengenai hubungan Athrun karena dulu Athrun Zala dan Lacus Clyne adalah 'pasangan idola' di PLANTs, namun dia urungkan.
Athrun lalu melihat seragam yang dia kenakan. Seragam yang menunjukkan posisinya sebagai Commander ORB Defense Force. "Ah ya….," ucap Athrun entah harus bangga atau tidak dengan statusnya itu. Dia merasa masih ada hutang pernyataan maaf pada kru yang sempat menjadi rekan kerjanya itu.
"Apa kau sibuk?" tanya Arthur.
Athrun mengedipkan matanya beberapa kali, "Ah tidak."
"Kalau begitu bisa ikut aku sebentar?" ajak Arthur.
Athrun memasuki ruangan kerja Arthur. Ruangan yang tidak jauh berbeda dengan ruangan almarhum kapten Minerva, Talia Gladys. "Tunggu sebentar ya," ucap Arthur. Pria berambut coklat keabu-abuan itu berjalan ke salah satu sudut ruangan dan mengambil suatu kotak.
Kotak itu lalu dia taruh di atas meja kerjanya. "Ini….," ucap Athrun.
"Ini, barang-barang milikmu ketika kau masih berada di Minerva," ucap Arthur. "Ketika kau melarikan diri lalu dianggap tewas atau MIA atau…," Arthur terlihat enggan mengatakannya, "…berkhianat." Ingin rasanya Arthur memukul dirinya namun itu adalah fakta yang terjadi. Suka tidak suka Athrun Zala mengkhianati mereka dan ZAFT untuk kedua kalinya. Walau mungkin terdengar salah dan tidak pantas karena Athrun juga pada awalnya bukan anggota ZAFT ketika mereka pertama kali bertemu dan berkenalan. Pemuda itu menjadi pengawal pribadi Cagalli Yula Athha, Chief Representative ORB dan Arthur sungguh penasaran dengan hubungan keduanya. Namun kelihatannya pemuda berambut midnight blue itu tidak peduli Arthur ingin menganggapnya apa. Iya, dunia sudah damai untuk apa memunculkan masalah baru.
Athrun seakan-akan tidak percaya kalau barang-barang yang dia tinggalkan di ZAFT, di Minerva masih ada. Dia tidak sempat mengambil apa-apa setelah dirinya hampir akan ditangkap. Dia lalu mendekati kotak tersebut. "Bukalah dan coba kau lihat isinya. Awalnya kami diminta untuk membuangnya namun, aku entah mengapa merasa ada yang salah dengan langsung membuangnya tanpa memeriksanya terlebih dahulu," ucap Arthur. "Memeriksa kondisi dan situasi yang terjadi setelahnya, apalagi setelah kejadian itu Kapten Gladys sama sekali tidak banyak komentar. Saya meminta Vino dan Yolan merapikannya dan menyimpannya di area penyimpanan dan setelah Minerva hancur dan kami berkesampatan mengambil barang-barang yang bisa diambil setelah perang usai sungguh suatu keberuntungan dan keajaiban kotak barang milikmu masih ada. Yah, walau kotor dan ada yang rusak di beberapa bagian," tambahnya.
Athrun tidak berkomentar, tangannya meraih kotak tersebut. Tiba-tiba saja dia teringat akan suatu benda. Benda yang dia harapkan masih ada di ruangannya dulu dan mungkin tersimpan di dalam kotak yang ada di hadapannya. Dia lalu membukanya. Beberapa pakaian kasual, beberapa seragam ZAFT, senjata api dan pisau lipat, dokumen-dokumen yang sudah kotor dan sedikit terbakar, electronic pad dan notebook, serta beberapa disk data. Namun, tangan itu tetap mencarinya. Mencari benda yang memang sangat berarti baginya itu.
Melihat Athrun yang diam, Arthur pikir pemuda itu kesal atau marah. "Euh, tapi maaf bila ada barang yang rusak atau kotor…," ucapnya tapi kelihatannya Atrun tidak mendengarnya. Fokusnya masih pada benda-benda yang ada di dalam kotak itu. Seakan-akan dia mencari sesuatu. 'Apa yang dia cari?' pikir Arthur.
Tangan itu tetap mencari, mata itu tetap mengamati dengan teliti. Hati dan pikiran itu masih berharap. Hingga akhirnya tangan itu menggapai sebuah benda keras yang dingin dan berbentuk seperti batu atau bola sebesar ibu jari yang dengan mudahnya dia genggam. Dia lalu tersenyum dan memejamkan matanya. Arthur dapat melihat perubahan ekspresi pada wajah Athrun, dari tegang dan cemas kemudian tiba-tiba saja menjadi tenang dan lega serta…tersenyum, suatu pemandangan yang jarang dan mungkin pertama kali Arthur lihat selama mengenal pemuda Zala itu.
Suasana tiba-tiba menjadi sunyi tapi, hal itu menyebabkan Arthur menjadi penasaran. Rasa ingin tahunya kembali menggelitiknya. Ekspresi Athrun seperti anak kecil yang seakan-akan mendapat dan menemukan sesuatu yang dia suka dan dia simpan baik-baik, seperti saat mencari harta karun. Arthur melihat salah satu tangan Athrun menggenggam suatu benda bertali dengan erat dan mendekatkan tangan tersebut ke dadanya. Athrun mengatur napasnya dan memejamkan matanya, seakan akan sedang menenangkan dirinya.
"Euh, Athrun-kun?" panggil Arthur.
Athrun lalu tersadar dari pikirannya. Dia lalu mengdongakkan kepalanya dan tersadar kalau dia tidak sendirian. Dia merasa malu karena sudah bersikap tidak sopan. "Ah, maaf saya malah tenggelam dalam alam pikiran saya sendiri," ucap Athrun, Athrun segera memasukkan benda tersebut ke saku celananya dan merapikan kotaknya. "Terima kasih banyak atas kebaikan dan perhatian Anda," ucap Athrun. "Saya tidak menyangka akan memperoleh barang-barang saya kembali."
"Ah tidak apa-apa," ucap Arthur. "Bukan suatu masalah besar," tambahnya.
"Lalu, saya juga meminta maaf," ucap Athrun tiba-tiba. Athrun membungkukkan kepalanya sedikit ke arah Arthur. "Walau kita sempat bertemu ketika perang usai namun saya belum pernah mengucapkan kalimat maaf ini secara langsung. Mengenai apa yang terjadi selama ini, selama saya berada di ZAFT untuk kedua kalinya, berada di Minerva, dan juga hal yang terjadi pada Kapten Talia Gladys."
Justru sekarang Arthur yang menjadi tidak enak. Dia tidak menyangka kalau Athrun menyimpan perasaan dan pikiran seperti itu. Mereka ada di medan perang. Pastinya banyak pikiran dan perasaan yang berkecamuk dan itu bukan salah Athrun. Khususnya untuk Talia, Arthur sendiri bingung dengan kondisi dan keputusan kaptennya itu. Bahkan Arthur masih mempertimbangkan kapan dia harus membawa barang milik Talia ini ke William Gladys, anak semata wayang Talia Gladys. Tapi, inilah Athrun Zala, pemuda yang ternyata dan selalu memikirkan orang-orang sekitarnya tidak seperti yang Arthur duga selama ini. "Ah tidak perlu, aku pun juga meminta maaf karena bukan wakil yang baik dan hanya bisa menerima semuanya bulat-bulat."
Selama ini Arthur melihat Athrun sebagai sosok yang tegas dan selalu berhati-hati dalam berpikir. Mungkin lebih tepatnya Arthur bingung bagaimana memulai percakapan dan mendekati atau mengenal pemuda bermarga Zala itu. Riwayat pemuda itu serta riwayat Patrick Zala bukanlah suatu riwayat yang bagus. Jadi wajar apabila banyak yang dia ingin tanyakan kepada Athrun mengenai hal-hal yang terjadi selama ini karena apa yang terjadi seakan-akan ada kaitannya dengan Athrun atau lebih tepatnya Athrun tahu. Namun, ketika melihat ekspresi Athrun, Arthur sadar yang ada dihadapannya hanyalah seorang pemuda berusia delapan belas atau sembilan belas tahu yang masih harus belajar banyak mengenai kehidupan. Athrun tidak pernah terlihat tenang namun sekarang Arthur bisa lihat kalau pemuda itu sudah tenang dan sudah menemukan kehidupannya dan juga seragam yang dia kenakan, kelihatannya pemuda itu sudah mantap mengenai tujuan hidupnya. Arthur lalu menghela napas dan menggaruk belakang lehernya. "Kelihatannya, semua sudah sesuai pada tempatnya, huh?" tanya Arthur.
"Huh?"
"Apa yang kau cari selama ini," ucap Arthur. "Kau sudah menemukannya?"
"Ah ya, begitulah. Walau aku….,"
"Tidak perlu menyalahkan dirimu. Kita hanya perlu berjuang untuk kedepannya," ucap Arthur. "Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan tapi, mungkin lain kali saja. Sesungguhnya aku tidak percaya kau masih hidup dan aku berterima kasih karena sudah menjaga kru kami, Meyrin."
Athrun menggigit bibir bawahnya, walau begitu dia masih sedikit merasa resah.
"Barang itu, barang yang berharga untukmu bukan?" tanya Arthur.
"Eh?"
"Benda yang kau masukkan ke saku celanamu itu," ucap Arthur.
"Iya, sangat," jawab Athrun.
PLANTs selalu ada dipikirannya. Tempat dimana dia dilahirkan. Tempat dimana dia ada tempat yang disebut rumah serta dua orang yang dia panggil Ayah dan Ibu. Tempat dia bertemu dengan teman-temannya. Ketika mengantar Kira, sebenarnya perasaannya sudah tenang. Dia dan Kira sudah berjanji untuk tidak ragu lagi. Untuk tidak akan melupakan keputusan masing-masing yaitu untuk esok dan masa depan. Sekarang mereka berdua berdiri di tanah yang asing. Namun, ketika turun dari shuttle dan menginjakkan kakinya di 'tanah' PLANTs. Athrun merasa ada yang dia rindukan namun bukan resah atau bingung yang dia rasakan. Hanya sebuah perasaan nostalgia yang membuat hatinya tenang.
Setelah menerima kalung Haumea yang dia peroleh dari Arthur, Athrun semakin mantap. Awalnya dia tidak menyangka kalau akan ada seseorang yang menyimpan barang-barangnya. Namun setelah melihat kalung itu, batu itu, tekstur kasar dari tali yang sempat melingkar di lehernya dan dinginnya batu itu, Athrun merasa ada yang kembali ke dalam hidupnya. Dia mantap. Mantap kalau cerita hidupnya akan berakhir di sebuah tempat yang tidak dia duga. Sepertinya Sang Dewi benar-benar sudah mengutuknya dengan berbagai cara. Dia tidak tahu apa kesalahan dia di masa lalu sehingga Sang Dewi memainkan situasi dan kondisinya, khususnya kondisi hatinya. Kelihatannya dia harus bertanya pada Cagalli apakah batu itu dikutuk atau tidak. Dia lalu berdiri di lorong yang memperlihatkan seluruh kota PLANTs. Sebuah pemandangan yang sangat dia kagumi dahulu, pemandangan yang dulu merupakan rumahnya, tempatnya bersumpah untuk mengdedikasikan hidupnya. Dia kira itu adalah jawaban hidupnya, namun ternyata salah. Ternyata itu jawaban yang salah. Dia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan kalung Haumea yang dia sempat kira hilang sebelumnya. Dia tersenyum. Senyum yang memperlihatkan kalau dia sudah puas dan sudah tenang.
"Jadi ini jawabanmu?"
Athrun menoleh ke arah sumber suara. Yzak Joule lengkap dengan seragam putihnya, ditemani oleh Dearka yang mengenakan seragam mendekatinya. Kelihatannya Lacus benar-benar serius dengan kabinet yang dibentuknya. Promosi Dearka dari green coat menjadi black coat bukan suatu hal yang mudah mengingat Riwayat karir Dearka di ZAFT.
"Yzak?"
Yzak seperti biasa dengan gayanya yang angkuh dan tegas serta kata-katanya yang lugas dan judes untuk orang-orang yang tidak kenal dengannya. Kedua tangannya yeng menyilang di depan dadanya, khas dari Yzak. Dibelakangnya Dearka yang murah senyum dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dua rekan yang sama-sama mengetahui luka lama satu sama lain. Dua rekan yang memiliki dosa yang sama dengannya. Yzak lalu berdiri di sebelah Athrun dan arah pandangnya mengikuti Athrun, memandang pemandangan yang sama dan Dearka juga melihat pemandangan yang sama.
"Setelah terakhir kita bertemu, jadi ini jawaban akhirmu?" tanya Yzak. "Kau akan menggunakan kemampuanmu disana?"
"Iya," jawab Athrun.
"Lalu mengirim sahabatmu, Kira Yamato sebagai gantinya?"
Athrun merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Yzak. "Ah tidak begitu juga, namun…,"
"Aku sudah baca resume tentangnya, Kira Yamato baik dari Mediator Clyne dan juga Representative Athha. Aku paham," ucap Yzak. Yzak lalu menghela napasnya, suatu pemandangan yang jarang Athrun dan Dearka lihat. "Aku sudah tidak ada dendam dengannya. Semua sudah selesai, namun kau jangan sekali-kali malah membawa barang yang merepotkan! Kau ini selalu saja bertindak diluar dugaan dibalik sikapmu yang kata banyak orang itu tenang," tegur Yzak. "Aku tidak mau mengurus sampahmu tahu!"
"Haah?" Athrun semakin bingung. Yzak seakan-akan menyalahkan dan mengatakan Athrun adalah penyebab Kira berada di PLANTs.
"Kau harus lihat tadi Athrun. Kira terlihat takut pada Yzak," ucap Dearka dengan nada bercanda. "Kelihatannya aura intimidatif Yzak sungguh sangat terasa."
Yzak lalu sedikit mendelik kepada Dearka, "Aku bukan intimidatif tapi Yamato terlalu kaku dan lemah! Aku tidak ingin dia terlihat lembek, apalagi dia harus selalu ada di sebelah Mediator Clyne," ucap Yzak.
Athrun tertawa, Kira memang tidak terlihat gagah untuk seorang tentara. Dia terlalu baik. Entah bagaimana tanggapan Yzak kalau dia tahu Kira selalu menghindar dari pendidikan dasar atau diklat militer yang seharusnya wajib. "Awas kalau kalian berdua bergosip yang tidak-tidak ke Yamato!" ancam Yzak.
"Yzak kesal karena kau kabur dari ZAFT dan tidak menghubungi kami sama sekali. Bahkan Terminal pun tidak menginfokan apa-apa," ucap Dearka. "Tapi setidaknya hal itu tidak perlu kita permasalahkan lagi bukan?"
Athrun tersenyum. Dua rekannya ini memang unik namun tak diduga mereka juga 'berkhianat' lagi dengan cara mereka sendiri. "Aku meminta maaf karena hal itu. Namun, apa kalian baik-baik saja?" tanya Athrun. "Karena di pembicaraan lalu kalian…," Athrun ingat benar Yzak dan Dearka juga termasuk yang mengagumi Gilbert Dullindal dan ternyata yang terbuai oleh kata-katanya juga.
"Kami tidak menyesal," ucap Yzak. "Yah, walau kesal namun kami tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang dikatakan oleh Chairman Dullindal dulu tidak bisa kita elak bahwa apa yang dia katakan benar. Apabila kami saat itu dihukum dan disalahkan lalu terkena hukuman mati maka siapa yang meneruskan PLANTs? Aku setuju. Namun, aku tidak menyangka kalau selama ini baik aku dan Dearka ternyata sekedar alat untuk memenuhi ambisinya yang tidak masuk akal."
Athrun paham, Yzak sebagai tentara memiliki tujuan yang noble. Bahkan lebih noble daripada Athrun dan Gilbert. Yzak berusaha untuk tetap pada tujuan hidupnya dan dia hanya ingin melindungi dan menjaga PLANTs. Loyalitasnya pada ZAFT lebih tinggi dibandingkan Athrun. Hal itu termasuk dengan menjaga konflik. Apa yang dilakukan Gilbert berakhir menebar konflik, Yzak dan Dearka tahu benar hal itu dan apa yang mereka lakukan sebagai seorang tentara benar, loyalitas mereka ada pada Negara. Mereka harus menjaga Negara. Memang mirisnya, Negara itu dipegang atau dipimpin oleh seseorang namun bukan berarti mereka harus berpikir sempit. Mereka justru berusaha menjaga apa yang harus mereka jaga yaitu, masyarakat, Negara yaitu PLANTs dan juga sumpah, harkat, martabat mereka. Mereka memiliki sikap, mereka tahu mana yang keluar jalur mana yang tidak. Namun mereka tahu benar posisi dan kekuatan serta kemampuan mereka ada dan harus digunakan seperti apa. Intinya mereka menunjukkan sisi manusiawi mereka serta memanusiakan manusia. Hal yang sempat dilupakan oleh Gilbert dan mungkin Athrun pernah berpikir seperti itu.
Athrun iri. Iya, dia sesungguhnya iri dengan Yzak dan Athrun tahu kalau Athrun mengatakan itu, Yzak pasti dengan sombongnya akan menceramahinya dengan berbagai hal yang menunjukkan sisi bersaingnya dengan Athrun dan berhasil unggul dari dirinya. Tipikal Yzak. Athrun iri karena kedua rekannya itu atau mungkin lebih tepatnya mantan rekan, tahu apa yang mereka inginkan. Berbeda dengannya. Mereka bisa menerima dan melangkah maju dari masa lalu mereka. Masa lalu yang penuh dosa dan kelam itu. Mereka bertiga seperti para pejuang Trojan Wars dimana Athrun masih harus menempuh perjalanan pulang yang sangat panjang. Bahkan dalam perjalanan pulang itu, Athrun harus mengalami banyak hal hingga akhirnya dia berhasil memperoleh apa yang dia inginkan.
"Jadi, kau tidak akan kembali lagi sekarang?" tanya Yzak.
"Huh?"
"Seragam itu," Yzak melihat Athrun dari atas kepala hingga kaki. "Seragam yang kau kenakan itu, jadi kau akan menggunakan apa yang bisa kau lakukan disana? Apa kau yakin?"
Athrun tahu, Yzak meragukannya. ORB itu tidak seindah apa yang mereka lihat. Apalagi pada perang lalu mereka sama gilanya dengan Gilbert. Mengaku netral namun bergabung dengan Federasi Atlantik dan kemudian membantu Djibril, ketua LOGOS kabur. Sungguh, pemerintahan di ORB jauh lebih busuk dibandingkan PLANTs dan sekarang Athrun ingin berada di Negara yang penuh dengan pertanyaan itu. Bahkan situasinya tidak menguntungkan bagi Athrun. Apa yang dia perjuangkan, itulah yang Yzak tanyakan.
"Ah, ya…," ucap Athrun pelan. "Mungkin yang kucari sekarang bukanlah dimana aku bisa berkontribusi dengan kekuatanku tapi, aku sebagai aku dan apa yang ingin kulakukan. Kalau kalian mengatakan diriku sebagai Athrun Zala dan sudah semestinya aku ke PLANTs dan berada di ZAFT seperti kalian….mungkin aku yang dulu akan melakukan itu, Aku yang tidak tahu apa-apa, aku yang hanya mengikuti perintah Ayah dan Negara. Tidak salah, hal itu tidak salah sama sekali namun, yang salah adalah aku tidak sadar kalau manusia itu adalah manusia dan manusia itu berubah."
Yzak dan Dearka hanya diam saja mendengar penjelasan Athrun yang menurut mereka khas Athrun sekali. "Kemarin aku, terperangkap pada masa laluku yang dulu. Merasa tanpa arah setelah perang selesai. Tidak tahu harus melakukan apa. Melihat kalian, Cagalli, dan ternyata ada orang yang masih terbayang dengan sosok Ayahku, kupikir aku harus melakukan sesuatu sehingga semua bisa seperti yang kita harapkan. Namun ternyata aku salah, aku justru hampir mengulangi kesalahan yang sama dan aku hampir kehilangan semua yang penting bagiku." Athrun tidak bisa membayangkan kalau Destiny Plan berhasil terlaksanakan. Kira, Lacus, dan Cagalli pasti termasuk orang yang tidak lolos proyek tersebut dan eksekusi mati menjadi jalan akhir untuk mereka dan Athrun tidak mau hal itu. Manusia itu unik dan mereka punya perannya masing-masing.
Mungkin dia termasuk manusia hina. Dia yang sudah penuh dosa seperti Kira dan yang lainnya justru masih berharap akan adanya hari esok. Terlebih lagi, hari esok yang tidak dapat ditentukan dan diprediksi. Sungguh gila. Mereka seakan-akan berharap suatu saat akan adanya saat yang dimana bernama penebusan itu tiba. Berharap suatu saat akan dimaafkan. Dia seharusnya sudah mati ketika Shinn menghancurkan Gouf yang dia gunakan ketika kabur. Kelihatannya memang ada yang mengutuknya sehingga dia diberi kesempatan hidup yang entah mungkin…ketiga? Athrun Zala seharusnya sudah mati, dulu di perang 71 CE ketika dia menghancurkan Strike Gundam dan 'membunuh' Kira Yamato. Skenario itulah yang seharusnya terjadi ketika dia menjadi Athrun Zala yang dulu. Sekarang, dia malah mencari hari esok itu. Hari esok yang semestinya tidak ada untuknya dan gilanya dia mencarinya di tempat yang asing untuknya. Seharusnya sudah bukan tempat yang asing, namun dia dulu hadir sebagai Alex Dino dan sekarang dia hadir atau datang ke tempat itu sebagai Athrun Zala.
Hidupnya seperti Odyseuss, seorang pejuang perang Trojan dalam mitologi Yunani yang mencari cara untuk pulang ke tempatnya dalam Riwayat Odyssey. Bahkan perannya seperti arti dari nama Odysseus itu sendiri, 'to be wrought against, to be at odds with someone, to hate' - untuk melawan, berselisih dengan seseorang, membenci. Itulah Athrun. Dengan aturan yang dia buat dalam pikiran dan perasaannya yang menurut dia sudah sesuai dengan logika dan rasional, justru membuat dia jadi berselisih, dia melawan. Ternyata dia tidak seperti apa yang diajarkan orang tuanya – 'be a good and well behaved men'. Apakah dia menyesal? Dia sendiri tidak bisa menjawabnya. Dia melakukan itu untuk melindungi. Iya, melindungi perasaannya bukan orangnya itulah yang dia lakukan dulu.
Dia yang pada awalnya mempercayai aturan dan perintah, justru sekarang tidak. Bukan berarti dia ingin melanggarnya tapi, ketika logika serta kerasionalan yang dibawa ke dalam aturan tanpa membawa perasaan sebagai manusia untuk memanusiakan manusia aturan dan perintah itu terdengar dan terlihat salah. Itulah yang Athrun lihat. Kepercayaan dan keyakinan dalam hatinya menggelitiknya lagi kalau apa yang dia lakukan salah. Dia tidak adil saat itu. Dia tanpa sadar mengikat orang-orang yang penting baginya dengan sebuah benda. Sebuah robot bernama Torii, robot bernama haro, dan sebuah cincin berbatu ruby merah yang dia berikan dengan mencurahkan segala dan seluruh perasaannya. Benda yang dia sempat anggap dapat menjadi bukti kalau mereka memiliki visi misi yang sama ternyata justru dilanggar. Padahal di awal dia memberi benda tersebut bukan sebagai 'pengikat'. Iya, dia hanya butuh jaminan kalau perasaannya tenang dan benar, sayangnya dia justru jadi tidak adil. Bahkan mirisnya, tidak adil pada dirinya sendiri sehingga justru hampir menghancurkan dirinya yang sudah jatuh ke dalam lubang hitam justru semakin jatuh. Seperti Codex Hammurabi yang pernah dia pertanyakan. Justru aturan itu dipatuhi karena masyarakatnya paham dan sang raja pun bersikap adil. Iya, yang dibutuhkan Athrun bukanlah aturan atau perintah namun suatu keadilan yang kemudian terimplementasikan ke dalam suatu pola pikir dan pernyataan – pernyataan yang disebut aturan atau hukum.
Dirinya tetap kaku? Mungkin. Namun itulah Athrun. Setidaknya sekarang dia tidak mempermasalahkan tempat dimana dia berada karena sebenarnya rumahnya sudah tidak ada semenjak Ibunya meninggal. Dia sudah tidak punya tempat untuk bernaung. Seperti apa yang pernah dia dan Kira bicarakan, manusia itu rakus dan apa yang mereka cari itu demi kepuasan mereka sendiri, untuk mencapai rakuen masing-masing dan rakuen tiap individu itu berbeda. Rumahnya, ada dimana hatinya berada.
"Humph, terdengar melankolis dan sentimentil untuk ukuran Athrun Zala," ejek Yzak. Yzak lalu tersenyum, "Lalu apa kau sudah menemukan apa yang kata kamu itu penting?"
Athrun menghela napas, "Iya. Namun sayangnya itu tidak kutemukan di PLANTs ataupun di ZAFT." 'No finer, greater gift than that… when man and woman possess their home, two minds two hearts that work as one'. Kalau dia terang-terangan mengatakan dia ingin memenuhi janjinya pada seseorang di ORB, Yzak akan mengejek dan mempermainkannya habis-habisan didukung oleh Dearka. Jadi dia agak lama menjawab pertanyaan itu. "Tempat dimana aku bisa menjadi seorang Athrun Zala kah?" tanya Athrun ke Yzak namun Yzak hanya diam. Athrun mengangguk, "Iya."
Yzak menangkap sedikit keraguan dari suara Athrun. "Hey, kau tahu Athrun aku bisa saja memban-"
"Tidak perlu Yzak, aku jamin sekarang aku sudah tahu apa yang ingin kulakukan," potong Athrun.
"Tidak peduli tempatnya dimana. Selama kita menyadari diri kita ini ada dan hidup. Menghargai diri kita dan juga orang lain. Tidak peduli peran apa yang kau pilih maka kau bisa menjadi dirimu sendiri. Aku sudah menemukannya, tempat aku sebagai Athrun Zala" ucap Athrun sambil tertawa kecil. "Lucu bukan? Aku seperti orang yang tidak tahu apa-apa dan tidak tahu siapa diriku ini. Namun kelihatannya memang seperti itu. Hingga akhirnya ada yang mengarahkannya dan menyadarkan diriku ini," ucapnya lagi. Walau sungguh menyedihkan, tempat yang menerima pendosa seperti dirinya adalah Negara netral yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya dan dia mengambil resiko itu. Sebagai hiburan setidaknya dia bisa memperbaiki dirinya karena orang-orang yang penting baginya dan menerima dirinya apa adanya ada disana.
Dearka tahu maksud Athrun. Athrun sudah mantap dengan pilihannya. Walau dia masih ragu. Lagipula, siapa yang tidak ragu. Mereka penuh dengan dosa. Perang 71 CE jauh lebih keras dibandingkan perang di Messiah kemarin. Tujuan mereka sebagai tentara tidak seawam atau sepolos Shinn Asuka dan rekan-rekannya ketika mendaftar dan menjalani pendidikan militer di ZAFT. Tujuan mereka kala itu sempat diselimuti dengan kemarahan, kebencian, dan kesedihan. Wajar apabila banyak 'kesalahan' yang dihasilkan, ditimbulkan, dirasakan, dan dilihat. Walau akhirnya mereka jadi sadar apa yang seharusnya mereka lakukan, pilih, dan perjuangkan. "Sudahlah Yzak, setidaknya Athrun tahu kemana dia harus pulang bukan?" ucap Dearka sambil mengedipkan salah satu matanya lalu menunjuk kalung yang Athrun genggam. "Sebaiknya kau jaga baik-baik benda itu Ath," tambahnya. "Dan juga mereka yang disana. Mereka yang akan membantumu sekarang," ucap Dearka lagi. Dearka berubah. Semenjak tahu kalau Natural itu sama seperti mereka, semenjak sadar kalau nyawa itu bukan hanya sekedar nyawa. Ingin rasanya Athrun bertanya apakah Dearka mengatakan hal itu karena berkaitan dengan Miriallia Haww, namun dia urungkan.
Yzak yang tatapannya mengikuti arah tangan Dearka lalu tersenyum. "Yah setidaknya aku tidak dikutuk oleh sang Dewi. Sungguh kasihan sekali hidupmu Zala, kau dikutuk," ucap Yzak dan Dearka mulai tertawa. "Bahkan tanggung jawabmu tidak mudah disana. Hah, kau ini merepotkan diri sendiri. Akan kulaporkan kepada Chief Representative Athha kalau kau berbuat macam-macam disini. Ingat beberapa waktu lalu dia sempat mengirimkan Personal Message kepada Mediator Clyne dan Dearka, untuk…menjaga Commander yang akan ditugaskan?" tambahnya. Padahal isi pesan itu mengenai Kira, bukan Athrun.
"Hei!" tegur Athrun namun dia juga ikut tertawa. Mereka bertiga tertawa seakan-akan itu menjadi kesempatan terakhir mereka untuk menertawakan kesialan, kebodohan, atau penderitaaan masing-masing. "Apa kalian ada waktu kosong setelah ini?" tanya Athrun disela-sela tawanya.
"Hmm? Kenapa?"
"Bisa temani aku keluar sebentar?" pinta Athrun. "Kelihatannya aku tidak akan memiliki banyak kesempatan untuk ke PLANTs untuk kedepannya," tambahnya.
Seakan-akan tahu apa yang diminta oleh Athrun, Yzak dan Dearka hanya tersenyum dan mengangguk. "Humph," Yzak mendengus, "Kalau kau mengatakan ingin berbelanja aku tidak akan pernah menyetujuinya." Athrun dan Dearka hanya tertawa. Sungguh, pembicaraan seperti ini pernah terjadi beberapa waktu silam.
"Tidak," ucap Athrun di sela tawanya, "Temani aku, mengunjungi mereka sekali lagi dan berpamitan dengan mereka," ucapnya.
'But my heart breaks for Odysseus, That seasoned veteran cursed by fate so long— Far from his loved ones still, he suffers torments', ucap Athena pada Zeus untuk menolong Odysseus. Apabila Odysseus mendapatkan berkat atau restu atau belas kasihan dari Athena, maka Athrun mendapatkannya dari Dewi Haumea. Dia terikat dan terkutuk oleh takdir. Takdir yang dia kira sudah dapat direncanakan dengan indah sebagai 'Athrun Zala' namun ternyata sebagai Athrun Zala dia menginginkan takdir dan hari esok yang lain. Itu adalah kutukan bagi Athrun, takdir adalah kutukan untuknya karena dia harus bisa menerima ketidakpastian akan takdir yang dia jawab dengan berjuang dan keadilan.
Takdir. Tidak ada yang salah sebagai Zala. Didikan orang tuanya membentuk dirinya sebagai Athrun Zala dan dia bangga dengan hal itu walau ada hal yang menyedihkan diakibatkan kondisinya sebagai Zala. Codex Hammurabi Athrun berubah. Dia bukan Raja Hammurabi bahkan bukan Gilgamesh. Dia juga bukan Draco, seorang ahli hukum pada jaman Yunani kuno. Dia memang membutuhkan suatu aturan dan juga suatu hukum. Namun lebih jelasnya yang dia butuhkan adalah sebuah keadilan. Keadilan dimana dia dan orang-orang yang dia sayangi dapat hidup dalam kedamaian. Sayangnya dia tidak boleh bersikap kaku karena orang yang dia sayangi juga berbagi rasa sayang itu dengan orang lainnya. Dia tidak bisa dan tidak boleh egois.
Dia bukan Tristan ataupun Arjuna ataupun Lancelot ataupun Orpheus atau Perseus. Dia selama ini mencari tempatnya untuk pulang dengan berbagai halangan dan kendala yang dia hadapi termasuk dikutuk oleh Tuhan atau lebih tepatnya Dewi Haumea. Odysseus yang dalam cerita The Odyssey mencoba untuk pulang ke kampung halamannya setelah Trojan War karena kerinduan dan kesetiaannya pada Penelope dan bahkan sempat menyamarkan identitasnya. Bahkan ketika pulang dia tidak menyangka kalau banyak yang melamar Penelope karena mengira sang istri adalah janda yang ditinggal mati oleh Odysseus. Iya, dirinya cukup mirip. Perbedaannya, ketika dia pulang ke ORB sebagai Athrun Zala, dengan identitasnya yang asli justru banyak yang mempertanyakannya. Sedangkan Odysseus, ketika dia pulang tidak ada yang mengenalnya kecuali anjing peliharaan dan pelayan rumahnya. Disamping itu, dasarnya Odysseus adalah seorang raja, sedangkan Athrun berakhir menjadi seorang 'raja' atau pemimpin.
Athrun tersenyum. Memandang langit yang sudah menberikan oksigen pada paru-parunya lebih dari sepuluh tahun. Kalau dia percaya akan karma, mungkin kehidupan dia sekarang adalah suatu karma. Karma yang diberikan oleh Tuhan atau mungkin Dewi Haumea. Kehidupannya keluar dari aturan miliknya. Codex Hammurabi-nya berubah. Namun, bukan aturan itu yang dia perlukan. Dia memang memiliki title sebagai seorang 'raja'. Dia bisa dengan mudahnya menjatuhkan suatu hukuman atau memberikan keputusan. Namun, aturan itu tidak bisa berdiri sendiri. Aturan itu membutuhkan keadilannya. Keadilan yang bukan berupa suatu daftar aturan, keadilan yang bukan merupakan ucapan akan suatu keputusan. Terlebih lagi, yang dia butuhkan adalah tempat untuk pulang walau dia ragu akankah dia pantas berada di tempat ini sekarang. Dia seorang pendosa dan pembunuh tapi, dia pulang. Hatinya pulang dan raganya pun juga. Seperti halnya Odysseus yang dilirik oleh Dewi Athena, dirinya dilirik oleh Dewi Haumea. Odysseus tahu apa yang menjadi tujuannya sehingga Athena membantunya, namun dia tidak. Athrun tidak tahu apakah sebelum lahir dia mengikat sumpah dengan Dewi Haumea atau bukan. Sungguh, dirinya hanya percaya dengan apa yang diyakini. Sains? Mungkin. Namun sosok bernama Tuhan memang ada.
"Mungkin lebih tepatnya yang kucari bukanlah bumi, PLANTs, atau ORB Union. Tapi yang kucari adalah sebuah sanctuary sebuah tempat yang memang kita perlukan tempat dimana aku bisa hidup dan tinggal," ucap Athrun di suatu ketika, ketika dia sempat menghasilkan suatu keributan di suatu acara di ORB dan berakhir meninggalkan acara tersebut bersama Cagalli.
"Sebuah rakuen dunia?" tanya Cagalli sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Mungkin," ucap Athrun sambil menghela napas. "Kau ingat dengan cerita manusia terusir dari taman surga karena memakan buah terlarang akibat tipu muslihat ular?"
"Ya,"
"Thou may freely eat off every tree in the garden, but never touch the tree that grants the knowledge of good and evil. For the day that thou eatest thereof, thou shall surely die. But the serpent, who was the most cunning of all the creatures brought forth at that time, had this to say, "Ye shall not die, for God doth know that the day ye eat thereof, thine eye shall be opened. Ye will know of good and evil, and ye shall be as God is." And that God knows that fact. And so it is said that the first humans ate of the fruit."
Cagalli terdiam melihat Athrun yang ternyata memiliki sisi yang cukup melankolis dan bisa sedikit berfilsafat. "Dari cerita itu aku berpikir, pada akhirnya semua orang belajar. Seperti yang dilakukan orang pertama, tentang kebaikan dan kejahatan. Apa yang ditakutkan adalah, bahwa mereka meraih buah dari pohon kehidupan, dan hidup selamanya. Akibatnya, orang-orang dihukum, dan diasingkan dari surga dan kebahagiaan abadi. Mungkinkah ini alasan mengapa manusia selamanya mengulurkan tangan? Mencari kebun yang hilang di masa lalu, dilarang kembali ke sana? Tetapi waktu hanya mengalir satu arah, itu sebabnya aku percaya bahwa apa yang sebenarnya kita cari masih ada di depan. Di suatu tempat di masa depan kita, meskipun mungkin tidak ada pohon kehidupan, aku ingin berpikir bahwa suatu hari kita akan membuat taman dengan tangan kita sendiri. Satu tempat di mana kita bisa hidup damai dan bahagia," ucap Athrun.
Cagalli tersenyum dan meraih tangan Athrun lalu memainkan jari jemarinya. "Lalu, kalau begitu apa yang kau rasakan sekarang?"
"Rasa?"
"Kalau kau memang mencari tempat yang dimana kau memang diciptakan berada, mencari tempat dimana kau bisa menjadi dirimu seutuhnya, maka apa yang kau rasakan sekarang? Mengenai tempatmu berada sekarang dengan segala rasa yang kau rasakan dengan inderamu itu."
Athrun tahu maksud Cagalli. Bahwa dia tidak perlu menahan dirinya lagi. Dia sudah tidak perlu menutup wajahnya dengan berbagai topeng. Dia sudah tidak perlu mengkhawatirkan peran yang perlu dia mainkan. Dia tidak perlu menjadi sebuah boneka atau robot. Dia bukan si kucing dalam dongen Puss in Boots atau pemuda desa dalam berbagai dongeng yang berusaha menolong sang putri dan menjadi sang raja setelahnya. Dia sebagai dirinya sendiri untuk dirinya sendiri, sudah melalui semua perjalanan hidupnya untuk sampai di titik ini. Seperti Odysseus yang berusaha untuk pulang setelah Trojan War dan apa yang ada dihadapannya ternyata setimpal. Rumah serta teman-temannya yang memang menyambutnya sebagai dirinya dna juga kesetiaann akan seseorang yang sempat dia ragukan. Athrun lalu memeluk Cagalli, "Sesuai janjiku. Aku akan melindungimu," ucap Athrun lalu dia diam sebentar merekam semua hal yang dia rasakan. Napasnya dan napas Cagalli, detak jantungnya dan detak jantung Cagalli, wangi tubuhnya dan wangi tubuh Cagalli, sentuhannya dan sentuhan Cagalli. Semua nyata dan semua terasa benar. "….Aku pulang, Cagalli," ucapnya mantap.
'Nevertheless I long—I pine, all my days— to travel home and see the dawn of my return. And if a god will wreck me yet again on the wine-dark sea, I can bear that too, with a spirit tempered to endure. Much have I suffered, labored long and hard by now in the waves and wars. Add this to the total—bring the trial on!' itulah yang ada dipikiran Athrun, seperti kutipan Odysseus ketika banyak yang menghalanginya untuk pulang ke Ithaca tempat sang kekasih istri tercinta Penelope berada. Dirinya yang penuh akan dosa ini, masih berharap dan memiliki keinginan untuk berjuang. Tidak menyerah seperti Odysseus yang terus menerus tidak menyerah mencari jalan pulang ke rumahnya, ke tempat orang-orang yang penting baginya.
AT LAST! IT IS DONE!
I am really sorry for a long absence to finish this story. I got a writer block in the middle but then I realize that I have to finish this because I will return to my daily life again, my health is fine and I try to do my actual works and activities again.
Actually I stuck with, what kind of story that can described Athrun? So I decided to use Odysseus and his story The Odyssey. When I read the summary the story I sum up that Athrun's life just like Odysseus. So I decided to add some quotes from the story.
Here is some of the references that I used (especially for the quotes)
/2014/05/29/70-inspirational-quotes-photographers/
lit/odyssey/
So, I also want to say that I will be a silent reader for a while. Maybe this will be the last story for this year. But actually I have some ideas for Athrun and Cagalli's fics. Maybe someday I will write about it. Actually I have a plan to make this series to describe each characters in Gundam Seed and Gundam Seed Destiny but I think it is too much. So I decide to end it with our four favorites characters. After Athrun I have a plan to write about Yzak but, I don't think I can make it. So, sorry about that.
Anyway, please enjoy and don't forget to leave your review. It encourage me, you know. And about this Athrun's part is it dark enough?
Thank you! See you next time and please stay safe and keep healthy!
Regards,
FUYU AKI
