"Hei, lihat! Itu Hinata-san!"
"Cantik sekali, ya. Dia terlihat sangat anggun. Seperti seorang putri."
"Julukan 'hime' memang tepat untuk menggambarkan dirinya."
Pujian demi pujian terlontar dari murid-murid SMA Konoha yang terpesona pada Hyuuga Hinata, sang primadona sekolah. Kecantikan dan kelembutan hatinya tersiar seantero sekolah, membuat mata siapa pun akan teralih hanya untuk melihat sosoknya yang berjalan melewati mereka. Bahkan minggu kemarin, Hinata tertangkap banyak mata tengah mengobati Kiba, pemain andalan tim sepak bola, yang terluka di lutut setelah terjatuh. Atas kebaikan hati sang gadis, dia memperoleh julukan baru, yakni "bidadari".
"Hinata, bekalmu lucu sekali! Aku iri denganmu yang pandai memasak!" puji Tenten ketika menengok sekotak bekal di meja Hinata.
Sang gadis bercepol dua itu menarik kursi ke sisi meja Hinata seraya melahap roti yang barusan dia beli di kantin.
Sang gadis berambut panjang indigo tersipu, melemparkan senyuman tipis pada sang teman.
Beberapa gadis lain turut mengerubungi Hinata, berbagi obrolan di sekitar meja sang gadis, menunjukkan betapa sosok Hinata amat disenangi banyak murid.
Tentu saja. Siapa yang tidak menyukainya? Dia cantik, pintar, jago memasak, dan baik hati.
Namun, Hinata menyimpan rahasia.
Naruto © Masashi Kishimoto
(Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfik ini)
SasuHina
Onsehot/AU
Uso
"AH, CAPEK SEKALI!" Hinata menghempaskan tubuh ke sofa. Seharian ini Hinata membantu klub pecinta tumbuhan menghijaukan halaman samping sekolah. Setelahnya, Hinata diminta tolong guru untuk mengumpulkan dokumen. Dalam perjalanan pulang, Hinata melihat seorang pria dua puluh tahun tampak tidak enak badan dan nyaris muntah sehingga Hinata membawa sang pria ke klinik terdekat.
Sang sepupu, yang menempuh pendidikan di sekolah lain, hanya mengangkat alis seraya menyodorkan sebotol minuman dingin pada Hinata.
"Oh iya. Teman-temanku memuji bekal buatanmu, Neji-nii. Mereka bilang bekal buatanmu lucu."
Neji terkikik.
"Kau masih berakting seakan-akan kau pandai memasak, Hina-chan?" goda Neji sembari mendudukkan diri di sisi Hinata.
Hinata memiliki rahasia.
Hinata adalah seorang pembohong.
"Tentu saja! Mereka menyangka aku pandai memasak. Seingatku, terakhir kali aku mencoba memasak, kau dan Hanabi dilarikan ke rumah sakit karena keracunan, bukan?"
Hyuuga Hinata berbohong soal dirinya. Sesungguhnya, dia bukanlah gadis yang feminin, anggun, lembut, dan pandai memasak seperti yang orang-orang kira. Neji yang pemuda tulen justru memiliki kemampuan memasak jauh dari Hinata dan dialah yang membuatkan Hinata bekal setiap hari, menghancurkan perkiraan semula tentang Hinata.
Selain itu, Hinata tidaklah sefeminin yang orang duga. Ketika orang-orang menduga Hinata akan menghabiskan hari liburnya untuk membaca sembari ditemani secangkir teh, menulis puisi, atau bermain piano seharian, Hinata justru sibuk berlatih beladiri bersama Neji. Bahkan bisa dibilang, kemampuan beladiri Hinata jauh lebih unggul dari Neji.
Semua sikap yang Hinata tunjukkan selama berada di sekolah adalah akting belaka.
"Hinata, orang yang kau sukai datang!" teriak Sakura sembari menarik tangan Hinata mendekat ke jendela. Di luar kelas mereka, tampaklah dua pemuda yang tengah berjalan melewati lorong kelas. Satunya memiliki rambut pirang dan mata biru cerah, sementara satunya memiliki rambut dan mata sama hitam dengan langit malam. "Naruto datang!"
Hinata pasrah saja digiring menengok ke luar jendela seperti remaja yang tengah kasmaran. Semuanya berawal ketika Ino menanyakan pemuda yang tengah menarik hati Hinata. Sejujurnya, Hinata tidak berminat untuk menaksir siapa pun. Dia menikmati kesendiriannya. Dia menikmati hari libur dengan berlatih beladiri ketimbang berpacaran. Namun, gadis populer sewajarnya memiliki tambatan hati, bukan?
Kala itu, Hinata menunjuk Naruto yang kebetulan saja tengah berdiri di dekat mesin minuman. Pemuda itu adalah murid kelas sebelah, yang merupakan wakil ketua klub basket dan sedikit berisik. Hinata tidak mengenalnya dan rasa suka adalah hal yang biasa saja, bukan?
Namun, Hinata keliru. Teman-teman Hinata sangat suportif dalam masalah percintaan Hinata. Tak jarang mereka berperan sebagai agen perjodohan dan mencomblangkan keduanya, membuat Hinata menahan malu karena acap kali sang gadis harus digiring ke depan sang pemuda hanya untuk mengucapkan sapaan!
Melalui serentetan upaya pendekatan oleh teman-temannya itulah, Hinata mengenal Sasuke, sahabat karib Naruto. Sasuke dan Hinata tidak pernah mengobrol. Sasuke selalu memandangi Hinata dalam diam ketika sang gadis dipaksa temannya memberikan dukungan untuk Naruto yang tengah bertanding.
Hinata ingin mengacak rambutnya sendiri saking jengahnya. Namun, Hinata sadar diri. Rambut lurus kemilaunya adalah hasil buah tangan Hanabi yang telaten menyisir rambut panjang Hinata dan sesekali menyematkan jepitan berbentuk bunga. Hinata tidak bisa merapikan rambut dan tidak mau mengambil risiko berada di sekolah dengan rambut berantakan.
"Hei, gadis cantik yang di sana!"
Hinata pulang sedikit lebih larut dari biasanya karena harus membantu guru membereskan gudang sekolah yang tak layak untuk menampung dokumen baru. Meski dalam hati mengeluh kesal, toh, Hinata harus tetap menjalankan tugasnya dan mempertahankan imej "anak baik-baik".
Sialnya, jam pulangnya berbarengan dengan jam pulang pegawai kantoran. Artinya, jika sedang sial seperti malam ini, Hinata akan berpapasan dengan segerombolan pria mabuk dengan kepala diikat dasi.
Ketika beberapa tangan menggapainya, Hinata tahu bahwa tidak lagi bisa menahan amarah. Dia ingin cepat kembali ke rumah, meminum segelas teh jagung dingin buatan Neji, dan menonton TV bersama sang pemuda dan Hanabi. Bisakah pria-pria itu tidak menghalangi perjalanan pulang dan menyia-nyiakan waktunya yang berharga?
Dalam satu gerakan, Hinata memilin lengan salah satu pria dan menguncinya di balik punggung. Satu kakinya dikibaskan, menendang punggung pria lain, sedangkan satu tangannya yang bebas menjatuhkan pukulan tepat di tengkuk pria satunya. Tiga pria berhasil ditundukkan hanya dalam waktu singkat. Dikendalikan mabuk, ketiganya pun tak lagi menunjukkan gelagat apa pun.
Hinata baru saja akan melangkah pergi ketika sebuah suara berat menghentikan langkahnya.
"Sebagai gadis yang dijuluki 'bidadari', kau kuat sekali, Hinata."
Hinata berbalik dan berdecak ketika menemukan Sasuke tengah berdiri di belakangnya. Sepertinya, sang pemuda baru saja pulang dari kursus.
"Kau melihatku? Kenapa tidak menolong?"
Sasuke berjalan maju, mendekati sang gadis sampai jarak antara dia dan Hinata terpisah satu langkah saja.
"Aku penasaran ingin tahu dirimu yang sesungguhnya. Aku tahu kau berbohong soal dirimu sendiri. Aku tahu bekal buatanmu dibuatkan oleh kakak sepupumu. Kakakku adalah guru di sekolah sepupumu. Dia bilang sepupumu itu pandai sekali memasak. Selain itu, sepupumu yang seorang ketua klub karate bilang bahwa dia tidak sekuat saudaranya. Saudara yang sepupumu maksud adalah kau, bukan? Kalian berlatih bersama."
"Ada lagi?"
Sasuke menyeringai, mendekatkan kepalanya ke telinga Hinata.
"Senyumanmu terlihat sangat tidak tulus," bisik sang pemuda. "Aku berteman dengan Naruto sejak kecil dan pemuda itu adalah pemuda dengan senyuman paling tulus yang pernah kulihat, jadi aku bisa membedakan mana senyuman yang berasal dari hati dan bukan. Kau juga tidak benar-benar menyukai Naruto, 'kan? Pembohong."
Merasa topengnya telah terkuak dan tertantang dengan pernyataan Sasuke, Hinata balas menyeringai.
"Apa kau akan mengancamku akan membeberkan semua ini pada orang-orang di sekolah?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang menyusahkanmu."
"Kenapa? Kenapa kau tidak mengancamku? Aku berpura-pura baik di sekolah. Aku bahkan pura-pura menyukai sahabatmu sendiri."
Kali ini, tangan Sasuke meraih segenggam rambut Hinata.
"Jadi kau ingin aku mengancammu? Baiklah. Kalau begitu, aku tidak akan membeberkan rahasiamu, asalkan … asalkan kau mau berpacaran denganku, Hinata."
Kali ini, Hinata dibuat mundur beberapa langkah. Namun, Sasuke ikut maju mendekatinya. Ketika Hinata kembali mundur, Sasuke pun melangkah maju. Sampai akhirnya, dinding yang membentur punggung Hinata menghentikan aksi konyol keduanya.
"Kenapa kau ingin berpacaran denganku? Kau sudah gila, ya?! Aku digosipkan menyukai Naruto! Apa jadinya jika aku tiba-tiba berpacaran denganmu?!"
Sasuke mengusap rambutnya sendiri gusar. Seringkali orang di sekitarnya berkata bahwa Sasuke adalah pemuda bebal dan tidak peka. Tak pernah disangkanya bahwa ada orang yang jauh lebih bebal darinya.
"Kau benar-benar tidak peka, ya. Tentu saja aku ingin berpacaran denganmu karena aku menyukaimu. Gosip akan reda seiring waktu. Selain itu, Naruto selalu menyukai temanmu yang berambut pink itu."
Seumur hidup, ini kali pertama seseorang mengajaknya berpacaran. Setiap laki-laki yang mendekatinya di sekolah seakan sungkan untuk menyatakan perasaan dan menganggap diri mereka tidak pantas untuk Hinata, membuat sang gadis tak tahu seperti apa rasanya dinyatakan cinta oleh orang lain. Kini, orang yang mengungkapkan perasaan padanya justru bukanlah orang asing, melainkan sahabat dari Naruto.
Hinata menutup wajahnya yang memerah meredam rasa malu. Dia ingin mencoba memulai sebuah hubungan dengan orang lain dan di hadapannya Sasuke menanti jawabannya dengan sabar. Layaknya drama yang pernah dia tonton di TV ketika seorang pemuda menyatakan perasaan pada gadis dambaannya dan sang gadis terpatung terlebih dahulu sebelum akhirnya mengangguk mantap.
Hinata pun akhirnya menganggukkan kepala, meresmikan hubungan mereka berdua sebagai sepasang kekasih.
Ketika Sakura dan Ino silih berebut menarik tangan Hinata untuk memaksa sang gadis memberi salam pada Naruto seperti biasanya, kini dua gadis itu dibuat terkaget-kaget saat pemuda di sisi Naruto-lah yang justru berjalan ke ambang pintu dan menghampiri Hinata.
"Selamat pagi," sapa sang pemuda berambut hitam. "Nanti siang aku tunggu di halaman belakang. Kita makan siang sama-sama."
Ino dan Sakura saling tatap, kebingungan dengan pemandangan di depan mereka, sedangkan Naruto diam saja, seakan sang pemuda sudah mengetahui sesuatu di antara Sasuke dan Hinata.
"Kenapa kalian berdua tiba-tiba jadi dekat?" Ino melontarkan tanya, ingin menyudahi kebingungannya.
Sasuke mengerling pada gadis dikuncir satu sebelum menjawab, "Karena aku dan Hinata berpacaran."
Teriakan kencang terdengar bukan hanya dari Ino dan Sakura, melainkan dari murid sekelas dan murid di lorong kelas yang sengaja dan tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan lima muda-mudi tersebut.
"Pernyataanmu yang terlalu jujur soal hubungan kita membuat keadaan menjadi rusuh saja!" protes Hinata sembari membuka bekalnya sendiri, yang seperti biasa, dibuatkan Neji.
Oniks melirik bekal lucu yang berada di depan tubuh kekasihnya itu. Meski lucu dan terlihat menggiurkan, toh, itu bukanlah bekal buatan Hinata. Jika ingin minta disuapi pun, makanan yang masuk buatannya adalah buatan Neji dan Sasuke memilih untuk mencicip masakan asli buatan Hinata lain kali.
Sasuke dan Hinata mengasingkan diri ke halaman belakang, ingin menikmati makan siang tanpa diganggu hiruk-pikuk keramaian sekolah. Terlebih, setelah gosip mereka berdua berpacaran telah menyebar ke seluruh penjuru sekolah jauh lebih cepat dari kekuatan cahaya.
Tentu saja tidak ada yang pernah menebak bahwa Hinata justru akan menjalin hubungan dengan Sasuke. Jika Hinata adalah sang primadona sekolah, maka Sasuke adalah pangeran sekolah. Pemuda itu digilai banyak gadis yang tertawan oleh ketampanan dan kegeniusannya. Tidak adil sekali bukan jika siswi paling sempurna di sekolah dan siswa paling sempurna di sekolah menjadi satu paket?
Meski sebagian orang merasa tidak setuju, tapi tak satu pun menyangkal bahwa mereka berdua terlihat begitu serasi. Pasangan yang sempurna. Ya, andai saja mereka melihat cara duduk Hinata yang sangat tidak feminin.
Hinata duduk menyilangkan kaki. Syukurlah, gadis itu mengenakan celana pendek di balik rok sekolahnya.
"Kau tidak menutupi kepribadian aslimu di depanku, ya." Sasuke menyumpitkan irisan ikan goreng dari kotak bekal buatan Itachi, sang kakak, ke mulutnya.
Oh, satu lagi alasan kenapa Sasuke tidak ingin mencicip bekal Hinata yang dibuat Neji. Selama ini, Sasuke selalu memakan bekal buatan kakak laki-lakinya. Oleh karena itulah, Sasuke berpikir bahwa dia tidak ingin hidup dengan terus-menerus memakan bekal buatan laki-laki.
"Untuk apa? Kau sudah tahu sifat asliku. Apa gunanya aku menyembunyikan diriku yang ini padamu?"
"Baguslah. Di depanku, kau tidak perlu berpura-pura, Hinata."
Dahi Hinata berkerut. Sumpitnya melayang di depan mulut. Mata lavandula sang gadis menilik wajah Sasuke dan menemukan setitik ekspresi lega dari sang pemuda.
Semakin lama berpacaran dengan Sasuke, Hinata semakin dibuat merasa familiar dengan sosok sang pemuda. Bukan hanya dia, Hinata juga familiar dengan sosok Naruto. Apakah Hinata pernah mengenal keduanya? Ketika kecil, Hinata pernah tinggal di kota ini sebelum akhirnya pindah ke luar kota selama SMP dan kembali lagi kemari saat SMA. Ah, ingatan Hinata tidak bisa menjangkau masa lalu yang sudah lama sekali.
Ketika SD, ibu Hinata meninggal dunia pasca melahirkan Hanabi dan Hinata yang syok sedikit banyak melupakan kenangan lamanya. Dia beserta keluarga bahkan pindah ke luar kota sementara waktu untuk menghapus masa-masa pahit itu sebelum akhirnya kembali setelah menjadi jauh lebih tegar.
Kenapa rasanya Hinata pernah bertemu dengan duo pirang-hitam itu?
Hinata menggelengkan kepala. Berusaha fokus pada papan tulis di depan sana.
Hinata tidak suka kakak kelas yang seenaknya pada adik kelas. Mereka yang seringkali menyibakkan rok adik kelas mereka dan mengintimidasi junior laki-laki mereka dengan tingkatan. Persetan dengan kakak kelas, toh, tahun depan Hinata dan yang lain akan naik kelas dan mereka akan meninggalkan sekolah ini.
Tak ada yang berani menegur ketika mereka mulai mendekati para gadis dan mulai meraba gadis-gadis tersebut. Senior sialan itu seolah tahu waktu, akan pergi ke kelas di lantai satu dan dua ketika guru-guru tidak ada, juga ketika pentolan kelas dua (Sasuke, Naruto, Kiba, dan Shikamaru) dan kelas satu (Gaara dan Toneri) tengah tidak ada di lokasi. Walaupun kakak kelas, sebenarnya mereka hanya sekumpulan anak pengecut yang sok berani.
Ketika salah seorang siswa berusaha menasehati, pukulanlah yang diterimanya.
Pemuda malang bernama Chouji itu kini mengerang kesakitan dan dibantu Ino untuk berdiri.
"Kalian pengecut! Beraninya pada junior!" teriak Ino, membuat para senior menghentikan aksi dan menjatuhkan pandangan pada gadis cantik nomor tiga di sekolah itu.
"Hei, hei. Lihatlah. Ada gadis yang sangat cantik sedang berusaha memancing perhatian kita. Sepertinya dia ingin kita pegang."
"Aku tidak bermaksud seperti itu!" Ino berusaha menghindar ketika mereka mencoba menjamah tangannya.
Hinata yang kala itu baru saja turun dari lantai tiga mendekat dan mendapati Ino tengah dirayu beberapa pemuda.
"Hei, lihat! Itu gadis bidadari yang populer itu! Dia pasti akan memaafkan kita sekalipun kita menyentuhnya, bukan?"
Salah seorang pemuda berjalan mendekat. Namun, tak lama, lorong sekolah tampak berputar dan yang sang pemuda itu rasakan adalah tubuhnya mendarat ke lantai dengan keras. Entah sejak kapan, tubuh tingginya dibanting oleh tubuh Hinata yang jauh lebih mungil. Sontak orang-orang yang menyaksikan menahan napas.
Hinata berlari menyongsong tiga orang sisanya, menendangi mereka satu per satu dan bahkan mendorong seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka ke tembok seraya memberikan ancaman bernada sinis.
"Jangan pernah tunjukkan wajah kalian di hadapanku atau teman-temanku lagi atau kalian akan menanggung malu karena kalah dari perempuan sepertiku." Itulah ucapan Hinata sebelum menghadiahi tonjokan tepat ke arah perut sang pemuda.
Saat empat senior dibuat takluk, situasi di lorong menjadi hening. Tak seorang pun berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Hinata berbalik, menatap wajah temannya satu per satu sebelum akhirnya sorak-sorai kemenanganlah yang Hinata terima. Para gadis bertepuk tangan dan memuji aksi Hinata yang keren. Mata siswa yang sebelumnya tidak berani melawan dibuat berbinar.
Sampai akhirnya, Hinata yang tidak tahan dielu-elukan memilih kabur masuk ke dalam kelas.
Ketika sosok Hinata mulai menjauh, salah seorang siswa berceletuk.
"Hei, rasanya Hinata mengingatkanku pada seseorang ketika aku masih kecil …."
"Ada kejadian seperti itu tadi siang?" Sasuke yang berjalan beriringan dengan Hinata terkejut ketika dirinya tidak tahu-menahu soal senior yang selalu mengganggu junior perempuan dan menindas junior laki-laki.
"Ya, mereka selalu muncul saat kau, Naruto, Kiba, dan Shikamaru izin dispensasi untuk urusan klub."
"Kau bilang kau yang mengatasi mereka. Apa itu berarti kau menghajar mereka semua di hadapan murid lain?"
Hinata berhenti, membuat Sasuke ikut menghentikan langkah. Kepala sang gadis ditekuk.
"Ya, mereka melihatku yang menghajar senior itu secara brutal."
"Lalu, apa reaksi mereka?"
"Mereka justru memujiku. Mereka bilang, aku sangat keren."
"Kau memang keren, Hinata. Selalu keren. Sejak dulu, kau adalah idola anak laki-laki di daerah sini."
Kali ini, Hinata menarik kerah Sasuke, mengarahkan pandangan tajam, mendesak sang pemuda menjelaskan maksud ucapan sang pemuda.
"Apa maksudmu?!"
Alih-alih ketakutan, Sasuke justru tersenyum kecil dan menangkup tangan Hinata dengan tangannya.
"Kau ingat? Ketika kecil, kau tinggal di daerah sini, bukan? Rambutmu pendek dan kau selalu memakai jaket berwarna putih gading. Karena penampilanmu, aku, Naruto, dan banyak anak laki-laki sekitar sini yang salah mengenalimu sebagai laki-laki. Kau selalu muncul untuk melawan anak laki-laki yang suka mengganggu anak yang lemah. Sosokmu yang berani menghajar anak lelaki itu sangat keren dan kami semua mengidolakanmu. Aku baru tahu bahwa kau perempuan saat ibuku bercerita soal dirimu. Kemudian, kita bertemu lagi saat SMA. Saat itu, kau menjadi sosok yang sangat berbeda. Kau memanjangkan rambut dan menjadi sosok yang feminin. Namun, aku sadar bahwa kau masih sama seperti dulu dan hanya berpura-pura feminin. Aku merasa lega dan menyadari, bahwa aku menyukaimu."
Sasuke menarik kedua pipi Hinata, membuat Hinata fokus memandang wajah tampan Sasuke.
"Perhatikan wajahku. Apa kau ingat? Aku adalah bocah lelaki cengeng yang selalu kau tolong saat kita masih kecil. Setiap kali ditolong olehmu, aku dan Naruto akan meneriakkan terima kasih sambil menangis dan ingusan. Saat beranjak dewasa, aku dan Naruto termotivasi untuk menjadi sosok laki-laki yang bisa diandalkan."
"A-aku tidak percaya ini! Kaulah alasan kenapa aku menjadi feminin! Ketika kau salah mengira bahwa aku adalah laki-laki, aku merasa aku gagal sebagai perempuan. Apalagi, orang lain di sekelilingku mulai menganggapku laki-laki dan membandingkanku dengan anak perempuan yang sangat imut. Sejak saat itu, aku berupaya sebaik yang kubisa untuk menjadi sosok perempuan yang anggun."
"Akulah alasan kau berpura-pura seperti ini? Kalau begitu, kau bisa menyudahinya. Aku menyukai dirimu yang asli, Hinata. Sosokmu yang itu tidak perlu ditutup-tutupi. Kau tidak kalah mengesankan dengan sifat aslimu."
"Hei, lihat! Itu Hinata-san!"
"Dia keren sekali, ya. Kemarin dia membawakan perabotan berat untukku. Sangat maskulin melebihi laki-laki."
"Andai saja aku terlahir sebagai laki-laki, aku ingin menjadi pacar perempuan keren sepertinya."
"Dia mirip sosok ksatria perempuan yang ada di dalam novel!"
Kini, Hinata tidak lagi berpura-pura menjadi sosok perempuan yang feminin. Dia tidak ragu melipat lengan bajunya, tidak ragu menyilangkan kaki, dan tidak ragu mengakui bahwa bekal lucu buatannya adalah buatan Neji.
Di hadapan murid di kelas, Sasuke yang kala itu tengah mengunjungi Hinata, mengajukan sebuah permintaan.
"Aku ingin sekali mencicip masakan buatanmu, Hinata."
Keinginan Sasuke disambut dengan sahut-sahutan murid sekelas yang juga ingin mencicipi masakan buatan Hinata.
Esoknya, Hinata membawakan kue buatan sendiri dan membagikannya pada Sasuke serta murid sekelas, yang membuat mereka semua berakhir berbaring di UKS seharian karena dinyatakan keracunan.
Fin
Thank you for reading this fict.
(Grey Cho, 2020)
