Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Disebutkan ada rawa yang dapat mendengarkan kebencian. Para penggosip berkata, jika kau cukup beruntung, rawa tersebut akan melemparkan karma pada orang yang kau benci berupa kematian atau dilempar ke dimensi lain.

Rest In ( Pieces ) Karma.

Aku bangun lagi, tapi masih tidak mengerti. Orang-orang yang menolongku kala duniaku terjungkal tidak menjawab secara spesifik atas apa yang terjadi, tapi aku mulai sadar akan hal.

Itachi mungkin benar, aku kena Karma. Tak ingat dosa apa yang pernah aku lakukan, tak secuilpun rasa sadar akan hal itu. Jika memang terjadi dan aku melakukannya, aku telah berdosa sangat banyak dan mendapat Karma yang setimpal.

Beberapa hari yang lalu sebelum aku dipulangkan dan tinggal di kediaman para Uchiha ini, aku iseng berkeliling di Rumah Sakit. Memang, tidak ada yang spesial dari keliling tak berguna ini, tapi aku mendapat sedikit sandaran yang penting.

Orang-orang sini, terasa berbeda. Mereka berbicara dengan logat dan bahasan yang agaknya sulit aku mengerti, begitupun dengan Aria yang berbicara dengan nada yang bagiku terasa aneh.

Beberapa orang yang hendak menjenguk di sini terlihat aneh sekali dari cara mereka berdandan dan merapikan diri. Aku mungkin hanya tak terbiasa melihat hal seperti ini, terasa sangat baru dan bagiku tak masuk akal.

Aku sadar pada akhir dari pengamatan dan teringat perkataan Yuzuru Aria itu. Katanya, dia bilang, bahwa diriku berasal dari masa lalu. Awalnya aku tak percaya sama sekali, merasa anggapan gadis itu sangat bodoh plus aku mentertawakan gadis manis itu dalam hati, lekas itu juga, kulihat bagaimana ekspresi Sasuke itu. Dia tampak baik-baik saja dan percaya dengan mudahnya.

Jadi, aku memiliki anggapan apa yang dikatakan Aria itu benar dan dia bukan orang yang hobi menipu dan manipulatif seperti Kakak Madara.

Dekat resepsionis, ada sebuah televisi yang berbeda dari yang ada di rumah. Begitu besar dan datar, suaranya minta perang segera di laksanakan. Jadi, dengan melihat ini saja aku semakin yakin kalau diriku baru saja melintasi waktu.

Saat itu juga, di dalam televisi aku di suguhi sebuah tayangan pemberitaan tentang keadaan tak "efektif" dan "janggal" yang terjadi di kitaran Kota. Pembawa Berita itu memiliki helai hitam tipis sebatas telinga, dia bilang namanya Kato Shizune dan di sebelahnya bersanding lelaki berwatak terbalik, berkacamata bulat bernama Yakushi Kabuto.

Salah satu dari orang tersebut mengatakan hal yang membuatku shock. Dengan nada sedih, sok misterius dan diselubungi kabut tipis penuh misteri dia berkata.

"Bocah lelaki yang melayang di langit dan jatuh ke rawa, sampai saat ini belum di temukan. Saksi mengatakan kalau dia sempat berada di atas langit dan terbang rendah kemudian jatuh dengan kecepatan tinggi. Apakah dia Alien yang akan menginvasi bumi?"

Yang dia maksud adalah aku. Jadi, harus apa diriku sekarang?

.

.

Jalanan terlihat ramai, banyak serba-serbi lampu dan hiasan lokal berjibaku dengan panasnya musim ini. Aku duduk di jok belakang mobil, bersama dengan Sasuke yang sedang asyik mendengarkan musik. Sepertinya dia habis pualng Sekolah dan sangat kelelahan.

Kulihat, dia menunjukan nilai A+ pada Obito, buat lelaki berkacamata itu tersenyum walau tak komen sedang si Sasuke sendiri terlihat senang dan merona dengan hebatnya.

Kepribadiannya aneh sekali, dia tampak manis dan hangat dalam suatu keadaan tapi bisa menjadi sangat diskriminatif dan kelam ketika menatapku. Entah dia jijik atau tak suka bertemu lelaki yang mirip denganku, tapi itu sepertinya menyakiti dirinya.

"Hey, Izuna..."

Aku yang tengah menyandar di jendela mobil langsung menoleh tapi tak tersenyum sama sekali. Sasuke menatap datar dan terlihat lebih kompetitif dibanding sebelumnya. "Kau mau makan?"

"Makan?"

"Ya, yang selalu dilakukan manusia agar tak lapar. Kau mau makan tidak? Kebetulan aku punya makanan yang banyak jadi aku akan membagikannya padamu."

Aku tertawa kecil dan dirinya yang keheranan akan sikapku tetap teguh pada pendirian yang misterius. Dia merebut tanganku secara kasar, menyimpan sebuah kotak makanan di sana. Aku tak kesakitan tapi spontanitas ini membuatku agak kaget.

"Wah, cookies!"

Dia terlihat agak penasaran dan berhati-hati. "Kau suka cookies, Izuna?"

"Tidak teralu."

"Oh, bagus kalau begitu."

"Kenapa?"

"Karena-"

"Anak-anak, kita sudah sampai."

Rumah yang bagus... kupikir, keluarga Uchiha ini tinggal di rumah kecil minimalis, melihat mereka itu tak sepandai dalam mengolah uang seperti keluarga Hyuuga yang macam ningrat.

Aku memperkirakan ada sebuah kebun di belakang sana tapi ternyata itu hanya taman biasa dengan pohon Oak yang sudah sangat tua. Di halaman depan, ada tanah yang sangat luas, bahkan kau bisa memarkirkan satu bus atau bermain sepak bola jika kau mau.

Ayah mereka, sekaligus Kakak Ipar dari Obito ini yang mengurus semua biaya rumah, meski Obito sudah kerja dan mendapatkan uang sendiri sebenarnya.

"Kau mau berdiri di sini seperti Badut Ulang Tahun atau masuk?"

Aku berputar, menatap Sasuke yang tengah melipat tangan dengan pandangan lurus ke depan. "Aku hanya suka suasana rumahmu, Sasuke."

"Tentu saja!" Sasuke menyindir, dia melewati bahuku dan menabrak kasar sembari berjalan ia bebalik untuk meledek. "Karena kau orang primitif, Izuna. Makanya langsung kaget hanya dengan melihat pemandangan semacam ini."

"Maafkan Sasuke ya? Dia memang begitu kalau bertemu orang yang di lihatnya sebagai saingan. Mungkin kau di anggap sebagai saingannya."

"Aku tidak punya apapun yang perlu dipamerkan, Obito."

"Hn, ya... ayo masuk, kita makan sesuatu dan lihat ada apa di dalam kulkas."

Sasuke ini benar-benar individu yang kurang masuk akal dan tak menyenangkan. Dalam sekejap, aku sudah tenggelam dalam kebencian. Tapi, itu semua tertutupi oleh sikap Pamannya yang begitu baik.

Di dalam, rumah ini terlihat agak berbeda dari ekspetasiku. Banyak interior janggal entah dari zaman apa, seperti sebuah patung tak jelas, relik aneh, lukisan yang sekelas dapat bergerak dan beberapa figur manusia seperti pemain skateboard.

Di ujung sana juga aku melihat papan skateboard, menepel di dinding dengan berbagai variasi. Lalu, Obito menjelaskan kalau ini adalah miliknya dan dia memang hobi bermain skateboard.

Semuanya tampak jelas, dari mulai tangga melingkar menuju lantai atas, lampu kristal putih di atas langit, sebuah dapur, ruangan keluarga yang penuh koleksi film dan tv yang lebih besar dari di RS.

Di sebelah sana, agak jauh dari tempatku berdiri ada perapian yang memungkinkanmu menggunakannya saat musim dingin.

Hm... rumah idaman. Berbeda sekali dengan keadaan rumahku. Ini sangat nyaman dan hangat.

"Izuna!"

Aku menoleh cepat, membalikan tubuh dan mencari di mana gerangan suara berada. Nada bicara sok asik dan penuh kebodohan menyemarak dan aku melihat lelaki muda tinggi yang menawan melompat juga meluncur dari pengangan tangga.

Dia tepat melompat enerjik, berdiri dengan senyum aneh yang tak dapat aku deskripsikan. Jelas, sikapnya berbanding terbalik dari waktu itu. Dia semacam memiliki kepribadian ganda.

"Ugh, Izuna... sebaiknya kau cepat ke kamarmu."

Aku heran. "Why?"

"Distrik kita sedang kebagian mati lampu."

"Kau tahu darimana Itachi?"

"Uncle Obi kuno sih! Aku membacanya dari Twitter dan pemadaman biasanya akan terjadi hal yang aneh..."

"Apa?"

"Dulu sekali waktu saat pemadaman ada keluarga yang di bantai."

"Kau tak perlu membuang-buang waktu untuk cerita aneh macam itu, Itachi!"

Itachi memutar bola mata untuk meledek, ia meneliti sesuatu pada persegi panjang yang disebut sebagai ponsel. Lalu, sebuah tulisan bernada serius seperti bahasa ala koran terpampang luas. Ada beberapa foto di-blur di sana dan aku mengkeryit heran melihat ini.

Di sana tertulis.

Pembunuhan Misterius Keluarga Ningrat. Dendam Atau Kutukan?

"Seluruh anggota keluarga, di temukan tersembelih dan kepala mereka di masukkan ke dalam Aquarium. Pembunuh belum di temukan."

"Nah, ini contoh pembunuhannya, Uncle..."

"Ugh... itu keluarga Hyuuga 'kan?"

"Kasihan sekali, si pembunuh hanya menyisakan satu yang hidup. Kudengar dari gosip sih si Istri saja yang tersisa, tapi dia jadi amnesia."

"Ugh, bahasan yang bagus." Aku berkomentar, lalu melanjutkan. "Tapi, dari yang kau katakan sepertinya pembunuhan itu sering terjadi."

Itachi bergidik. "Memang. Tapi aku tak menyebut itu sebagai pembunuhan, karena tidak ada bukti yang jelas. Mereka seperti kena kutukan."

Obito melanjutkan. "Karena Polisi tidak mau mengklaim ini sebagai kasus Supranatural, itu lumrah. Jadi mereka menyebut ini pembunuhan."

"Lalu-"

'Bip'

Lampu tiba-tiba saja padam.

Semua terasa hening.

"Nah, benar 'kan mati lampu?"

"Wait a minute... aku akan mencek sesuatu dulu, kalian tunggu di sini.."

.

.

"Ada yang pernah main Ouija?"

"Kau jangan sinting, Sasuke! Ayah belum pulang dan Uncle Obi masih belum datang dari misinya.."

Aku, Itachi dan Sasuke saat ini sedang duduk di ruangan keluarga mengelilingi meja dengan 2 batang lilin yang hampir habis. Sudah 3 jam pemadaman berlangsung, ini sangat mengerikan aku tak suka kegelapan.

"Aku hanya bertanya, Kak! Lagi pula aku tidak punya papan Ouija."

"Nah, sekarang kau menjadi sangat tolol, Sasuke! Aku ada saran, bagaimana kalau kita cerita soal setan? Kalian mau?"

Aku bergidik. "Bukankah itu sama saja?"

"Tidak, itu beda Izu. Main Ouija itu cari mati, cerita setan hanya berbagi pengalaman kau juga 'kan-"

Ucapan Itachi terpotong secara sakral begitu saja, sebongkah manik hitam mendistorsi waktu kala itu langsung gelapan. Sasuke tiba-tiba berdiri tegap, menoleh ke kanan dan kiri dengan cepat seperti sebuah aksi koboi.

Aku menjadi agak takut oleh aksi anehnya yang berantakan, tak mengerti apa kehendak dan atas dasar dan maksud apa dia melakukan ini.

Setelah berdiri monoton, dia berlari cepat seperti atlet, pada kegelapan total yang tak dapat aku lihat. Dia menabrak sesuatu di sebelah sana hingga terdengar suara pecah belah yang nyaring. Berbarengan dengan itu, suara alarm mobil memecah keheningan, menambah suasana tegang.

satu... dua ... tiga... alarm mobil dari arah lain yang sangat banyak mulai bersahutan satu sama lain. Beberapa mobil entah milik siapa menderukan bunyi yang sama. Anjing menyalak dan melolong tak karuan.

Itachi berjalan cepat dan sigap, mengambil satu batang lilin guna menerangi koridor. Aku mengikuti dari belakang seperti melakukan ekspedisi, lelaki itu berdiri berhenti di depan pintu dan diam.

"Itachi..." Aku memanggil. "Itachi ada apa?"

"Astaga! Pintunya terkunci."

"Apa?"

"Pintunya terkunci dari dalam!"

"HA?" Aku memekik kaget "Kenapa bisa? Lalu, kenapa Sasuke bisa keluar?"

"Mana aku tahu, apa dia baru saja menembus pintu?"

Itachi seperti hendak menanyakan sesuatu padaku, tapi di akhir dia malah menampakan wajah ketakutan penuh ketidakadilan. Diberikan lilin padaku dengan panik, bersamaan dengan itu alarm mobil mati dan Anjing nakal di sana meringkih ketakutan.

"Apa yang terjadi?"

"Mari kita cari tahu, Izu!" Disibakan gorden dengan pelan menampilkan sosok janggal berdiri dalam kegelapan dan memunggungi kami.

Itu adalah Sasuke.

"Itachi... Sasuke kenapa?"

"Memangnya aku kenapa?"

Kaget.

Berputar tubuh kami, kutemukan Sasuke dalam keadaan setengah mengantuk berdiri hebat. Di belakangnya dengan sangat pelan ada Obito yang memainkan senter, wajahnya suntuk dengan kekecewaan yang mendera.

"Ah, Itachi, gawat! Mesinnya rusak, akinya habis. Kalian sedang apa di sini? Kenapa membawa kunci mobil?"

Aku menyahut. "Tadi alarm mobil tiba-tiba menyala."

Obito menatap heran kami berdua, lalu dia tertawa. "Alarm apa? Tidak ada suara alarm kok!"

Itachi menyambar penuh curiga, ia menodong layaknya ahli. "Kau Sasuke 'kan? Kenapa kau ada di sini?"

"Kau itu kenapa? Aku tidur di sofa dan tiba-tiba kalian berlari tak karuan, aku mengikuti kalian. Kalian seperti mengejar sesuatu."

"Tunggu... kalau kau Sasuke. Berarti yang tadi itu... siapa?"

Kala itu pertanyaan itu terlontar yang terjadi selanjutnya hanya kekosongan. Aku kepusingan dan melihat sambaran petir menuju rumah.

Semuanya terasa samar, kecuali sebuah sosok...

.

.

Dimeja makan, kami mulai mendiskusikan tentang apa yang terjadi semalam. Dan aku mengalami mimpi buruk di sela-sela malamku. Sebelumnya aku tak pernah dan jarang menerima mimpi buruk.

Di mimpi itu, aku mengenggam korek api, bensin dan membakar sebuah kasur. Di dalam sana ada orang yang berteriak, suaranya mirip sepertiku apakah aku membakar diriku sendiri di mimpi itu?

"Astaga yang kemarin itu parah sekali!"

"Yeah dan rumah kita tersambar petir!"

"Duh, kalau Ayah sudah pulang pasti dia akan marah."

Rumah memang tersambar petir dan seluruh listrik mati total hingga butuh beberapa biaya tambahan untuk memperbaiki. Aku mendadak pingsan dan hanya aku sendiri yang begitu.

Itachi menceritakan lagi kronologi kejadian dan mendapat gelak tawa dari Obito dan Sasuke. Mereka berpendapat bahwa Itachi sudah sangat gila dan kehilangan seluruh kewarasannya. Lalu aku bilang cerita itu tak sepenuhnya salah. Aku bertemu Sasuke Palsu dan tentu saja itu membuat Obito dan Sasuke mengkeryit heran.

"Aku tidak bohong! Memang ada Sasuke Palsu... dan... dan... dia menembus pintu! Bagaimana mungkin dia bisa keluar tanpa membuka pintu?"

"Sasuke berubah jadi Jin!" Obito tertawa. "Dan dia mulai menakuti kami dan membakar kasur dan..."

Kuhentikan acaraku kala mengigit sepotong roti, aku bergumam pelan. "Aku bermimpi membakar sebuah kasur..."

Itachi menyahut malas. "Bermimpi membakar kasur? Aku juga mengalami mimpi itu."

"Aku juga!" Sasuke tergelak.

"Kenapa kita mengalami mimpi yang sama?"

"Kupikir aku tahu alasannya kenapa kita mengalami mimpi yang sama." Itachi mendadak serius.

Ia bertompang dagu lalu nada suaranya berubah kelam. "Pernah baca sebuah artikel di forum mistis?"

Sasuke mencemooh. "Aku tak pernah menghabiskan waktu untuk membaca hal tak berguna macam itu, Kak Itachi."

"Sejak lahir kau memang tolol, Sasuke sayang. Nah, di artikel itu mereka membicarakan soal keluarga yang mengalami mimpi buruk."

Itachi melanjutkan. "Ya, macam mimpi buruk yang menular. Dan kalian ingin tahu plot-twist nya?"

Diriku mendadak penasaran, lalu aku bertanya logis. "Apa?"

"Keluarga itu adalah keluarga Hyuuga. Keluarga yang mati akibat di bantai..."

Aku sebenarnya hampir tersedak mendengar itu dan Itachi yang mengimbangi cerita tampak serius, begitupun dengan ekspresi Obito dan Sasuke. Yang aku tak paham, apa hubungannya pembantaian itu dengan mimpi buruk? Lalu, apa hubungannya ini semua dengan diriku?

Aku sepantasnya tak boleh di kaitkan atas ini. Aku juga masih tak mengerti kenapa bisa terlempar ke masa ini.

"Ugh... kalau tidak salah sebelum pembantaian, keluarga Hyuuga pernah kena skandal 'kan?"

"Skandal?" Itachi melirik Sasuke. "Skandal macam apa?"

"Perebutan Tahta? Aku tidak terlalu paham, soalnya itu masalah politik. Saat aku kelas 1 SMP, aku sekelas dengan salah satu Hyuuga. Namanya Hinata... dia cantik, tapi aneh."

Aku menuntut. "Aneh? Coba jelaskan secara spesifik!"

"Ya, dia jarang sekolah dan perilakunya aneh bagiku. Para gadis bilang Hinata sering bicara sendiri di toilet menggunakan bahasa yang tidak mereka mengerti. Jadi, Hinata di jauhi..."

Aku menelan ludah. Lalu bertanya lagi. "Lalu?"

"Beberapa gadis di kelas dan anak lelaki pernah menemukan Hinata ada di rawa, rawa dimana aku menemukanmu, Izuna. Beberapa hari kemudian aku menemukan berita kalau keluarga Hyuuga di bantai."

Aku bergidik ngeri, mengusap tengkuk juga wajah. "Itu mengerikan..."

"Tapi sebelumnya..." Ucapan menggantung dari Obito membuat kami penasaran, dalam sekejap kami langsung memperhatikannya dan menunggu ia bicara.

"Keluarga Hyuuga dulu tinggal di sini 'kan? Di rumah ini..."