Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Disebutkan ada rawa yang dapat mendengarkan kebencian. Para penggosip berkata, jika kau cukup beruntung, rawa tersebut akan melemparkan karma pada orang yang kau benci berupa kematian atau dilempar ke dimensi lain.

Rest In ( Pieces ) Karma.

Keluarga Hyuuga adalah keluarga bermahligai titah yang hebat dengan kebijaksanaan yang standar. Terawang bebas mereka soal uang, jerih payah, keberuntungan dan peluang bisnis lebih menawan dan jeli jika dibandingkan dengan seekor Rajawali.

Mereka sangat populer bahkan lebih dari spektakuler untuk ukuran manusia. Dari sini, aku dapat mengatakan kalau Hyuuga sangat "superior" di segala bidang yang ada hubungannya dengan manusia dan uang.

Dalam kisah dari yang menarik hati dan mendengki, Hyuuga memberi pandangan diri akan manusia itu dengan sangat rendah. Hingga, kau akan dibuat kesal oleh mereka.

Tersebutkan mereka memliki saingan yang banyak. Yang mana kau tak dapat dan tak akan pernah bisa menghitung saingan mereka sebanyak helai rambut di kepalamu. Jadi... kau sudah paham bukan, kenapa Hyuuga begitu dibenci hingga terlibat dalam pembunuhan?

Hyuuga itu terlalu sombong, bahkan sejak zaman keluarga itu mulai terbentuk. Tak tahu kenapa mereka memiliki tabiat kotor macam tanah yang dijatuhi daun basil busuk dan bau aneh.

Ya, menurutku mereka dibantai oleh saingan bisnis mereka, walau itu hanya opini kasar dalam perbincangan labil masyarakat pengkonsumsi berat akan gosip.

Kurasa... mereka juga kena karma sama seperti gosip mistis yang beredar. Sama halnya seperti kematian, semua yang terjadi di muka bumi ini selalu ada penjelasannya. Entah itu logis maupun tidak logis sama sekali.

Ditengah-tengah percakapan yang rumit bagai sembilu, Obito melihat atau mungkin memang sudah merasa bahwa diriku sejak tadi melakukan gerak-gerik aneh, terkesan mencurigakan dan patut di selidiki.

Aku sendiri memang sudah merasa tak nyaman dengan percapakan payah ini. Terlebih, Itachi mengaitkan ini semua dengan kematian manusia. Aku tak suka jika ada seseorang yang mengaitkan kematian dengan prediksi awal yang tak sempurna. Seperti gangguan makhluk halus, kena kutukan, Voodo atau semacamnya.

Itu mengangguku. Aku lebih suka membicarakan hal yang alami dan jauh dari prediksi ganjil yang tak logis.

"Apa aku terlihat aneh, Obito? Sepertinya kau senang menatap diriku dengan pandangan yang seolah mengatakan aku kurang waras."

Itachi mencemooh. "Kau bukan aneh, Izu. Kau itu lebih dari itu, coba kau tarik garis pada kisah Hyuuga itu dan dirimu, lalu garis apa yang kau dapatkan?"

Aku berpikir sejenak untuk mengemukakan suatu pendapat, mungkin akan terdengar rancu dan tolol. Seperti kau mencalonkan jadi Presiden tetapi gagal.

"Aku dan Hyuuga itu kena Karma?"

Itachi beradu pandang dengan hebohnya. "Kau itu jujur sekali ya, Izu... tapi maksudku adalah begini. Aku memprediksi kalau kau itu bukan manusia."

"HAA?" Aku menganga. Lalu mencaci demikian rupa. "Apa kau masih bisa logis, Itachi?"

"Bukan." Itachi tertawa renyah yang buatku marah. "Maksudku kau itu hantu... sebuah arwah penasaran lalu tersesat di dunia ini."

Aku tidak mengerti kenapa Itachi berpikiran begitu. Bolehlah dia menyangka kalau aku sudah mati. Itu memang logis, aku berasal dari waktu dan zaman lain hingga perubahan ini membuatku kaget setengah mati. Sebelum aku di sini, aku bertemu dengan makhluk berwajah rata, suara gadis, tenggelam dan tertimpa tongkat aneh.

Jika dipikir-pikir, aku sudah dipastikan mati akibat tetimpa tongkat berat semacam itu atau terjatuh dari langit dan cara yang tak masuk di akal. Untung saja aku di selamatkan oleh Sasuke dan Aria.

Padahal aku sebenarnya tidak mensyukuri itu semua. Aku kehilangan keluargaku dan aku tidak tahu statusku yang sekarang apa.

"Mungkin dia tahu soal ini." Tiba-tiba saja Itachi bilang begitu. Hal yang rancu.

Sasuke berujar sinis. "Siapa?"

Kukira Sasuke tak mengerti arah dengan pembicaraan ini. Ini terlihat dari mana dia diam saja seperti patung yang kurang laku. Sasuke itu memang tak terlihat seperti orang bodoh, dia hanya bicara terlampau sadis dan sering sekali gagal paham.

"Ugh... mungkin Paranormal?"

"Paranomal? Yang benar saja, Kak! Mereka hanya orang bodoh dengan komat-kamit tak jelas. Aku tak mau membawa orang semacam itu ke rumah ini! Awas saja!"

"Jangan marah begitu dong! Kalau begitu juga aku ta-"

Aku berpaling pada percakapan yang mulai terdengar tak masuk di akal, seringai tipis muncul, baru aku ingat sesuatu yang mengikat hati. Seperti menarik garis dari Virginia ke Atlanta.

"Tunggu Obito! Tadi kau bilang rumah ini bekas keluarga Hyuuga 'kan? Apa kau tak curiga dengan mimpi yang kita alami itu?"

Ia tak terusik malah menggidikan bahu sebab tak jelas. "Entahlah, mungkin itu hanya sugesti..."

"Eh, Izuna benar. Aku juga mengalami mimpi aneh... tapi aku tak tahu ini rumah bekas keluarga Hyuuga."

"Ini memang rumah bekas keluarga Hyuuga. Tapi bukan rumah pembantaian itu, ini rumah lama mereka..."

.

.

Menarik sebuah garis lurus dalam rentetan kejadian ajaib tak semudah kau persentasi dalam kelas. Meski kau pintar melebihi Einsten, hingga dirimu bisa menikahi ribuan perawan dan memenjarakan mereka dalam lubukmu, kau tak akan pernah bisa menjawab pertanyaan sadis bermakna mistis. Karena hal itu di luar kelogisan manusia.

Di jendela rumah, aku mengamati daun Oak yang berguguran, turun jatuh ke tanah tak mau menyudahi keindahan sama sekali.

Imajineriku berlayar jauh, pergi ke masa lalu yang agak runyam. Baru ingat sesuatu kala musim gugur. Kejadian kala aku masuk sekolah SMP. Bodoh memang sampai-sampai mengingat kembali hal itu. Padahal aku sengaja melupakannya, melupakan semua kejadian-kejadian dahulu.

Baru ingat, waktu itu Tobirama yang jelek itu mengajak untuk berburu Capung. Dia menceritakan soal kisah aneh bertabur rahasia dengan picisan mistis yang garing.

Sesuatu yang kuanggap tolol dari si kecil Tobirama, hal konyol yang merusak syaraf kewarasanmu sebab anggapan bodohnya. Dia memang kurang waras dan sedikit agresif, gampang marah juga dan berwatak bebal.

Lengkap sudah poin-poin atas kelakuan buruknya.

Dia berkata...

"Dulu sekali ada orang yang lepas dari Karma yang dialami, padahal itu suratan takdir dari Tuhan. Orang itu melakukan hal yang tak dapat kau prediksi! Yaitu menurunkan Karma pada tiap keturunan yang kau punyai..."

Lalu aku berujar. "Kalau aku punya Karma, tak usahlah aku punya anak..."

"Tidak bisa, Izuna! Hal seperti itu tak bisa dihindari, sebagai contoh ya dirimu ini! Bagaimana pun juga kau ada di sini. Dengan begitu, Kakek dari Kakek-Kakekmu itu melanggar peraturan jika mereka pernah berkata begitu, 'kan?"

"HA? Kakekku tak mungkin mempunyai Karma!"

"Siapa yang tahu, kita manusia punya dosa..."

Jadi intinya... karma itu tak bisa di hilangkan, meski bertobat? Lalu... jika itu memang terjadi, kenapa aku harus menanggung ini semua? Serasa tak ada yang adil di dunia ini.

"Izuna..."

Seutas suara kelewat pelan dan ajaib lewat dari pendengaran. Sasuke muncul dari ruang santai. Dia mendekat secara perlahan setelah menatap diriku dengan cara kelewat misterius seperti seekor Kelelawar yang mengamuk.

"Ada apa, Sas?"

Dia bertolak sebelah pinggang, mengapit buku dengan sampul beledru marun. "Kau dari Uchiha juga 'kan? Lalu... kau itu siapanya kami?"

"Maksudnya?"

"Astaga! Apa kau tidak mengerti? Aku dan kau, Paman, Kakak dan Ayah memiliki nama keluarga yang sama!"

Aku mengabur tak jelas. "Intinya?"

Sasuke menyambar dengan penuh kehebohan, bingung aku dengan kepribadiannya. "Artinya kita itu memiliki darah yang sama! Kita berelasi, seperti si Hyuuga itu dan kau mengerti maksudku?"

Terperanjat diriku dalam aksi, setengah melayang akibat melompat dan mengudara, seperti tengah merajut perih yang kasih. Hampir aku terjatuh dari atas sofa, tapi tertahan akibat sadar diri.

Barulah aku sadar, kenapa aku bisa ada di sini. Mungkin... itu hanya prediksi kasarku saja.

Aku dan Sasuke memiliki hubungan darah. Aku kena karma dan menurunkannya?

Tapi, sejak kapan aku menikah? Apakah Kak Madara yang menikah ya? Kukira keluarga Uchiha bakal terputus dalam diri aku dan Kakak.

Aku bertanya setengah ragu. "Itu baru prediksi 'kan Sas?"

"Sejujurnya kita bisa melihatnya untuk hal yang lebih detail. Tapi sebenarnya aku tak yakin sampai seratus persen, karena itu anggapan bodoh. Sebaga bukti yang sempit, dulu kami punya buku Keluarga... tapi buku itu hilang."

"Hilang? Kok bisa?"

"Tentu saja bisa! Kau saja hampir kehilangan nyawamu... lantas kenapa hal sederhana seperti itu tak bisa?"

"...itu"

Sasuke menepuk dahi kasar. "Duh, sudahlah, lelah aku percaya padamu! Mari kita pergi ke suatu tempat."

"Apa?"

"Basement..."

.

.

"Ayahku senang sekali membaca buku..."

"Ya..."

"Makanya dia membuat ruangan ini. Khusus untuknya. Ini bukan basement sih sebenarnya, aku menyebutnya begitu karena tempat ini gelap sekali."

Memang tempat ini gelap, heran aku kenapa Fugaku bisa membaca dengan kelewat jelas di tempat seperti ini. Rak buku di sini sangat banyak, ada sekitar 4 macam dan berukuran besar seperti di Perpustakaan Negara.

Aku tak dapat melihat kejelasan di tempat ini, terlalu aneh bagiku untuk mengatakan seperti apa bentuk tempat ini. Terlihat nyata tapi agak egois.

Sasuke membawa 2 senter dan satu kamera ponsel untuk memotret. Dia tak berani membawa salah satu buku Ayahnya dari sini, atau dia akan berakhir sebagai abu Kermasi.

"Izuna..."

"Ya?"

"Jika anggapan Kak Itachi benar bahwa kau sudah mati. Lantas, aku itu apa?"

"Maksudnya?"

"Kau itu dari tadi bertanya maksudnya inilah, maksudnya apalah. Aku tak mengerti kenapa kau begitu..."

Aku bergidik sebab tersinggung. "Aku hanya tak paham kenapa kau bertanya begitu."

Jujur saja, pertanyaan Sasuke itu tak ada yang dapat aku mengerti meski aku bertindak masa bodoh atau mencari tahu atau pura-pura mengerti.

"Sudahlah! Kau memang sulit untuk kuajak bicara, jadi kau diam saja, Izuna. Dan bereaksilah setelah aku menyuruhmu."

Kau malah terlihat sangat aneh kalau begitu, Sasuke. Bicara menggantung, diam seperti patung berjalan dan kemudian marah-marah tak jelas. Apakah dia pengidap Bipolar? Entahlah, padahal Itachi dan Obito terasa normal bagiku.

Aku diam saja setelahnya dan Sasuke terus menyusuri rak-rak buku layaknya Holmes dan aku ini mungkin akan terlihat seperti Lestrade. Ah, semacam itu lah.

Di sebelah kiri pada sebuah sudut yang gelap bersebelahan dengan rak buku, kulihat ada seberkas cahaya kuning yang runyam. Ada sosok yang kurang jelas berdiri monoton dan sangat tegap. Aku tertegun sejenak untuk meneliti, menyipitkan mata kemudian menyorotkan senter. Sosok itu masih ada di sana, wajahnya tak terlihat tapi dirinya tinggi sekali.

Aku mencoba mendekat satu langkah dan diam untuk membuat prediksi samar. Aku yakin sekali ada seseorang yang berdiri di sana. Sangat yakin. Tapi aku tak yakin dia manusia yang memiliki raga dan arwah atau sesuatu yang gelap tapi minim bicara.

Jika dipikir-pikir, tak ada orang yang dapat berdiri setegap itu, kecuali kau Tentara Kerajaan Inggris. Atau jangan-jangan itu sebuah patung?

Sasuke sadar kalau aku bergerak lamban langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh malas, tak berbicara tapi masih mengamati. Aku dapat merasakan aura sinis yang gemilang dari dalam diri Sasuke, mengintimidasi dan agak jahat.

"Sasuke?"

"Hm..."

Berpaling aku pada Sasuke. "Apa kau tak akan dimarahi pergi ke tempat ini? Sepertinya seseorang di sebelah sana tak suka dengan tingkahmu."

"Siapa yang bakal marah? Kakak Kuliah, Ayah dan Paman Kerja. Aku sedang libur Sekolah, makanya ada di rumah dan aku didaulat untuk menjagamu. Jadi... kau jangan banyak tingkah dan berlagak sok tahu!"

"Berarti kita ke sini cuma berdua 'kan? Maksudku di rumah ini?"

"Tentu S-A-J-A! Kau bicara apa, Izuna?"

"Kalau begitu... itu siapa?"

Kembali kusoroti sosok hitam yang kulihat beberapa detik yang lalu dengan cekatan dan telaten takut ada berkas penting yang tertinggal. Kumainkan senter ke kanan dan ke kiri, atas dan bawah.

"Lihat! Kau lihat itu 'kan Sasuke?"

Lelaki bergaya sok klasik itu mendekatiku, mengendus apakah ada kecurangan yang aku buat karena telah mengplokamirkan hal ganjil. Aku terkesima padanya sejenak karena dia mau mendengarkan diriku, biasanya dia bertingkah masa bodoh.

Lantas, setelah semuanya hampir usai Sasuke mengamatiku dalam diam. Aku menatapnya datar seperti para pesuruh idiot, sementara Sasuke masih saja diam dalam pandangan yang kabur.

Sasuke bertanya pelan. "Lihat pada apa?"

"Sebelah sana..."

Disorotkan lentera senter ke arah yang sama pada sudut di mana aku menunjuk, Sasuke menujukkan gestur tak sedap, dia diam sesaat lalu bergetar hebat.

Sebuah teriakan kecil dia lontarkan. "HAA?!"

Aku kaget tapi masih bijaksana. "Apanya?"

Ia menoleh cepat. "Hei, Izuna... bayangan hitam barusan bergerak!"

"Bergerak? Tentu saja, dia itu manusia. Lalu maksudmu apa membuat ekspresi aneh seperti itu?"

"Ti-tidak!" Dia berontak. "Tak mungkin dia manusia, satu-satunya jalan untuk masuk ke tempat ini ya lewat arah yang sama dengan kita, Izuna!"

"Lalu, kau mau bilang dia penyusup? Mari laporkan ini pada Polisi!"

Sasuke bergidik kaku, wajahnya sangat pucat. "Aku tak bilang dia penyusup! Dia sesuatu yang tak pernah bisa di tangani polisi. Ingat saat kejadian mati lampu? Dan Kak Itachi bilang apa waktu itu?"

Aku mengingat-ngingat kembali. Ingatanku parah sebenarnya. "Dia bilang kau ada dua?"

"NAH!"

"Maksudmu yang tadi itu dirimu yang lain?"

Sasuke mengusap tengkuk dengan keras, wajah dengan brutal. Dalam sekali helaan napas yang tersendat, ia berujar dengan nada tersegal. "Bu-bukan. Aku tahu siapa bayangan itu. Kau mengerti 'kan artinya?"

Dengan tertatih aku bertanya klasik. "Dia... bukan manusia?"

Sasuke melirik ke kanan dan kiri, mendekatiku lebih dan lebih. Dengan setengah berbisik ia bersuara seperti ular derik yang sekarat. "Hiyashi..."

Aku mengulangi. "Hiyashi? Terdengar seperti nama Pria Tua."

"Yang benar itu Pria Mati. Dia itu Hyuuga Hiyashi yang mati di keluarga Hyuuga! Gosip beredar, Hiyashi kehilangan separuh bagian kepala."

"Itachi bilang kepala mereka di penggal, bukan?"

"Ya! Tapi lain judul dengan Hiyashi. Dan kepalanya itu..."

'BRAAAK'

Aku menoleh cepat ke belakang, begitupun dengan Sasuke. Kami saling beradu pandang dalam kebuntuan. Tak ada seorangpun yang bersuara akibat mendengar barusan.

Itu seperti suara tabrakan yang keras dan sesuatu yang tergilas dengan seketika namun cekatan. Seperti sebutir Apel yang dilindas mobil atau sebongkah plafon yang jatuh dari lantai 3.

Aku mengkhayal kalau itu sebuah distorsi tabrakan yang sangat besar dan cepat. Aku takut bukan main, takut malapetaka yang aku pikirkan memang begitu adanya.

Kulirik Sasuke saat itu, jelas dia menunjukan kepanikan yang khidmat. Aku hendak bicara, tapi mulutku menjadi kelu. Ada apa ini? Apakah ini pertanda buruk?

"Apa itu?"

Belum sempat menemukan jawaban atas pertanyaan yang sulit bagai mencari tahu asal-usul Bumi. Sasuke sudah berlari lebih dulu, meninggalkanku sendirian dengan sosok yang tertawa entah ada di mana.

Tertawa.

Ya, aku mendengar suara tawa yang gelap. Suara tawa menuntut balasan akan balas dendam, tawa yang sangat menyakitkan minta dibunuh saja.

Ketika aku menoleh pada sumber tawa, kepulan asap putih muncul begitu saja dan perlahan-lahan menghilang. Bersamaan dengan itu sembilu dari hati yang meradang, mendadak menyeruak aroma bangkai.

Aku akhirnya kabur karena ketakutan.

.

.

Dengan setengah terengah-engah aku berhasil menyusul Sasuke. Lari tunggang langgang akibat mendengar tawa lelaki dewasa buatku hampir mati. Aku tak mengatakan itu pada Sasuke karena aku yakin dia tak akan memercayai omong kosongku.

Kutemukan sosok Sasuke di sana, berdiri diantara kerumunan warga komplek yang saling berbisik-bisik ingin mencari tahu. Sasuke diam saja tak memberi respons, bahkan ketika aku menepuk bahunya beberapa kali. Dia terus fokus ke depan, mematung dan bermasa bodoh.

"Izuna! Jangan lihat!"

"Kenapa?"

"Mundur!"

Baru sadar dengan apa yang terjadi. Kulihat banjir cairan merah kental di depan sana. Sebuah kotoran yang sangat banyak dan kaku berserakan di tanah seperti bubur basi di pagi hari. Aku mencari lebih dekat lagi dan meneliti dari mana benda-benda itu berasal.

...saat itu baru aku sadar. Sebuah kepala yang pecah dengan isian yang terburai mesra hancur di tanah.

Dia seperti dilindas sesuatu...

...tapi mana pelakunya?

"Hei, Izuna... Kau tahu dia siapa?"

"Tidak. Memangnya dia siapa?"

"Mariko."

"Mariko?"

"Selingkuhannya Hiyashi. Kurasa... jika keluarga Hyuuga memang kena Karma. Karma itu akan merembet pada orang terdekatmu..."