Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Rest In ( Pieces ) Karma

"Apa kau tahu sesuatu tentang ini?"

Lelaki aneh yang entah siapa namanya muncul dari balik punggung Sasuke, buat diriku kaget hingga aku merasa bahwa nyawaku baru saja dicabut tapi belum lekas usai. Dia memiliki manik mata aneh bergaya seperti Pendeta Kuil, namun berkesan androgini.

Ia datar dan tak berekspresi, kulitnya kelewat putih dengan cat merah di dahi juga bagian bawah matanya. Ia berhelai putih sangat panjang dibiarkan terikat asal tak masuk akal.

Dengan penampilan begini, ia jadi terlihat pucat walau tak pasi. Manik indah miliknya mengorbit jernih bagai Uranus, entah berwarna hijau atau biru aku tak paham.

Sasuke tampak terganggu dengan kehadiran lelaki barusan yang malah tak mau menatap sama sekali sebab sensasi kecelakaan fatal barusan lebih menyenangkan barangkali. Tak dapat menyangkal, aku memang tertarik dengan kecelakaan barusan. Seperti seorang fanatik yang gila dan agak munafik.

Lelaki aneh itu masih menatap datar, ia menjinjit dan melihat apa yang terjadi. Tapi ia tak tertarik sama sekali pada pemandangan ini atau dia memiliki ketertarikan dengan hal lain.

"Siapa dia?" Dia menunjukku klasik. "Aku tak tahu kalau kau punya kembaran, Sasuke-san. Tapi anak ini lebih tampan ketimbang dirimu."

Sasuke memelotinya dan aku tertawa secara sembunyi-sembunyi. "Enak saja! Jangan membanding-bandingkan aku dengan orang lain, Kimimaro!"

Oh, jadi namanya Kimimaro. Suaranya halus, tenang dan ajaib. Bagai dibilas mata air dan kau kedinginan oleh maksud yang tak jelas.

"Dia kerabatku." Kata Sasuke pelan. "Namanya Uchiha Izuna."

"Wow! Salam kenal, namaku Kimimaro... aku tinggal di Panti Asuhan dekat sini. Kapan-kapan kau boleh main ke sana!"

Aku tersenyum walau sebenarnya malas. Tapi Kak Madara selalu mengajarkan kesopanan. "Salam kenal, Kimimaro."

"Ngomong-ngomong kejadian itu mengerikan ya, Izuna-san..." Kimimaro menunjuk asal jalanan. "Mariko-san yang malang..."

Aku berujar agak prihatin. "Ya, kasihan sekali dia. Apa mungkin dia terlindas sesuatu ya?"

Sasuke bergumam malas. "Aku rasa bukan begitu. Jika ini kecelakaan, seharusnya ada bekas ban di sekitar sini dan jika mayat Mariko seperti ini dia sepertinya di lindas oleh sesuatu yang lebih berat. Misalnya sebuah Truk atau Bak Terbuka."

Kimimaro mengangguk. "Sasuke-san benar. Aku sebenarnya seorang realist, tapi ini pasti ulah sesuatu yang mistis!"

Aku tak paham dengan penjelasannya, mungkin diriku terlalu kuno. Lalu aku bertanya bodoh. "Realist? Apa itu realist?"

"Realist adalah orang yang tak percaya dengan hal-hal mistis, gaib dan di luar nalar sebelum melihat atau membuktikan. Kebanyakan dari mereka bahkan tak percaya Tuhan, Malaikat, Jin atau Setan. Karena itu semua berhubungan dengan hal gaib dan mistis."

Aku tertawa. "Bukankah hal itu hanya ada di era Dark Age? Ini 'kan zaman modern! Lagi pula..."

Ucapanku terpotong, seseorang dari arah samping menabrak raga minimalisku dengan kasar. Aku hampir kehilangan keseimbangan tapi untung saja Kimimaro menahan tubuhku dan menautkan antara lenganku pada lenganya. Kimimaro ini memiliki aroma bunga yang asing, tapi wangi itu sangat mendebarkanku.

Si penabrak memberi salam tak sopan, ia memicingkan mata sombong. "Minggir bocah-bocah, biarkan kami bekerja!"

Sasuke menyindir. "Ah, sepertinya kasus ini cukup menghebohkan ya? Sampai-sampai menelepon Polisi yang tukang marah-marah!?"

Polisi yang tadinya hendak mencatat sesuatu langsung berbalik untuk menatap keji Sasuke. Helainya ikut menari nakal seiiring dengan pergerakan tubuh yang akurat tanpa bimbang. Aku dapat melihat warna matanya yang biru seperti langit cerah di musim panas, dengan pupil hitam yang kecil. Ia memakai eyeliner yang terseret rapi di atas lipatan mata.

Polisi ini flamboyan. Rambutnya pirang dan halus, turun ke bawah serta merta menutupi punggung dan dada yang atletis. Beberapa helai dari rambutnya turun menutupi sebagian mata, tapi dirinya tak kesulitan sama sekali pada keadaan ini. Malah dia menikmatinya.

"Sudah tugas kami bocah! Aku memang sudah didedikasikan begini." Dia tertawa kasar menunjuk Sasuke dengan sebuah pulpen. "Kau bocah tak tahu diri, diam saja, karena ini urusan dewasa!"

Sasuke menyindir lagi. "Hey, kau tak perlu teriak begini. Lagi pula kau 'kan Polisi baru masuk. Belum ada pengalaman, jadi jangan sombong!"

Dari arah yang sama dari Polisi muda ini berkicau ria, seseorang berjalan dengan tenang. Datang menghampiri bagai ikut dalam ekspedisi, dia mengenakan pakaian yang sama seperti lelaki pirang itu tapi tubuhnya lebih kecil.

Helainya merah menyala dengan sorot mata rawan mengalihkan atensi. Dia tersenyum sejenak, melambai entah pada siapa. Lalu menepuk si Polisi muda tadi.

"Jangan menganggu jalannya Olah TKP.."

Kimimaro tersenyum, berbicara dengan nada terdengar seperti menyindir tapi menyiratkan fakta. "Wah, kau hanya seorang bawahan."

"Diam kau bocah Yin-Yang!"

"Eh, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Akasuna Sasori, aku yang memimpin Kasus ini. Kalian anak-anak sebaiknya diam di rumah."

Aku berkata logis. "Kupikir kau Paranormal atau kau Detektif?"

Ia menggidikan bahu. "Mungkin, tapi aku bukan Detektif sembarangan sih, soalnya aku tertarik dengan kasus ini, Mon Ami..."

Sasuke mendelik. "Dih, dia berbicara bahasa Perancis..."

Kimimaro berdiam durja. "Kurasa dia hanya bergumam..."

.

.

Detektif Akasuna bilang kasus aneh seperti ini kerap kali di temukan, tapi, hanya dia sendiri dan si pirang itu yang berani mengambinya. Karena seluruh rekan lama Detektif Akasuna berakhir dengan mengalami siklus aneh, beberapa diantara mereka bahkan ada yang mengalami depresi ringan.

Kupikir itu wajar, seluruh kejadian diluar nalar yang membuatmu takut dan menghantui, lama-lama akan membuatmu depresi ringan. Si pirang yang terus mencerca Sasuke, mengatakan bahwa namanya Katsuki Deidara. Mendengar frase "Katsu" aku jadi ingat seorang maniak di masa lalu yang hobi merampok toko kembang api.

Berbicara soal kejadian aneh di luar nalar seperti monopoli cinta, Detektif Akasuna menceritakan kisah itu dengan mata serius tanpa berkedip. Ia berbisik pelan sampai aku sendiri tak dapat mendengar dengan jelas apa yang ia katakan, Sasuke menjadi marah dan Kimimaro tetap seperti Kimimaro biasa.

Detektif itu kurang lebih bilang begini. "Sebelumnya ada kasus begini, mati dengan cara mengerikan tapi tak ada alibi yang menyatakan bagaimana dia mati. Terakhir aku menemukan ada mayat yang di mutilasi, potongannya rapi seperti mesin rumput dan kepalanya tidak ada. Rekan lamaku yang mendalami kasus ini tak mendeteksi adanya kejahatan, maksudnya tak dapat menemukan si tersangka. Aku sudah mewawancarai teman kerja korban, tetangga, keluarga dan bahkan mantan pacarnya... hanya saja, aku baru tahu hal mengejutkan ini. Sesuatu yang membuatku gila. Si korban itu pacarnya keluarga Hyuuga..."

Kupikir sejak saat itu seluruh sangkut paut keluarga Hyuuga akan membawamu pada asa dan pedih, jika begini, lebih baik tidak usah berhubungan dengan mereka. Bagusnya sih, seluruh keluarga Hyuuga telah musnah tapi orang-orang yang ada dalam jalur hidup keluarga Hyuuga ( mungkin ) mengalami kemalangan yang terdengar keren bagi penulis novel horor.

Sasuke sepertinya jengkel, dia membuat suara aneh dengan jemarinya itu. "Aku ingin kalian membereskan tempat ini dan... for a God shake! aku sudah memberitahu kalian 'kan? Jangan membawa sesuatu yang aneh saat penyelidikan!"

Aku mengkeryit. "Dari cara bicara Sasuke, sepertinya Detektif Akasuna dan Katsuki pernah kemari. Apa aku salah?"

"Memang, aku hanya lihat mereka sekilas. Dan aku bilang singkirkan benda itu!"

Detektif Akasuna dan Katsuki Deidara kebingungan, mereka seolah menemukan sesuatu yang tak masuk akal atau sebuah barang bukti yang setengah-setengah.

"Maksudmu apa, Uchiha yang sombong?"

"Seseorang yang berdiri di balik pohon dekat mayat itu rekanmu 'kan?"

Semua yang ada di sana menoleh ke arah yang Sasuke maksud. Ya, tentu saja aku dapat melihatnya, lelaki mengenakan kimono putih berambut panjang dengan tatapan kabur menantang.

Katsuki Deidara menatap heran kami. "Apa maksudmu, Bocah? Kami tidak punya rekan macam setan begitu! Iya 'kan, Master?"

"Eh, kurasa... bukan begitu." Sang Detektif resah.

"Kalian sebaiknya jangan mencari tahu, bocah-bocah..." Deidara menyalang. "Itu sesuatu yang lain."

Detektif itu hendak bicara tapi malah melongo ketika Kimimaro kabur dengan sepeda warna merah. Lalu Kimimaro menjerit. "HANTUUU!"

"Kimimaro!"

...dia kabur dengan terburu.

.

.

"Kalau lihat yang aneh, mending selidiki dulu, biar gak jadi bodoh!"

"Serius Kak, aku melihat seseorang di sana! Karena aku kesal pada orang-orang itu, makanya bilang begitu."

"Uncle Obi, kau percaya pada si Sintingsuke ini?"

Sembari meneguk segelas susu, aku berujar sok bijak, padahal sebenarnya ingin tertawa. "Aku juga melihatnya kok, Itachi..."

"Tuh!" Sasuke menuduh. "Apa aku bilang. Aku tidak gila seperti kau, Kak!"

"Eh, tapi itu siapa? Kau tahu?"

Sasuke melanjutkan, wajahnya memerah menahan desiran, entah dia takut atau terlalu bersemangat mengungkapkan. Dia memang memiliki kepribadian yang labil dan berubah-ubah.

Urat-urat di leher Sasuke muncul dengan halus, pertanda bahwa dia menikmati deburan atmosfer. Keadaan ini membuatnya tampak seperti tersulut amarah. Kuakui ia memang sering marah-marah, mengumpat atau meledek.

Masih berbicara dengan nada mencemooh yang kental, Sasuke semangat untuk menjelaskan. "Aku tidak tahu, Paman! Makanya aku bertanya pada para Polisi itu tapi mereka juga tidak tahu dan Kimimaro langsung kabur! Aku tak sempat tanya dia kenapa, dia ketakutan?"

"Siapa Kimimaro? Dia anak komplek mana?"

Dalam sekali tegukan, Sasuke menelan setengah susu cokelat yang ada di gelas, menarik kasar tiga lembar tissue dan melahap sepotong kue keju. Dia menatap Obito galak. "Anak Panti Asuhan Mentari-Mentari!"

"Apa aku mengenal dia?" Obito masih saja kebingungan, ia memang bekerja diperusahaan yang keren dengan gaji bak sekali jepret dari seorang supermodel, tapi untuk hal seperti ini dia tak akan paham dengan sekali serang.

Dia juga tak begitu mengerti dengan telaah macam apa yang Sasuke katakan, jelaskan, utarakan atau siapa yang sedang Sasuke bicarakan dalam kasus misteri ini. Obito agaknya berusaha mencaritahu dalam otak walau ia tak menemukan sepenggal namapun di dalam sana.

"Uh, sepertinya Uncle Obi tidak tahu dia siapa ya? Itu loh Uncle, anak lelaki yang seumuran dengan Sasuke, dia yang suka mengirimkan susu setiap pagi."

"Oh! Aku baru ingat... aku memang lemah mengingat nama-nama orang. Lalu, siapa orang itu?"

"Mungkin orang gila. Jangan terlalu dipikirkan, Uncle. Soalnya Aria-chan pernah bilang akhir-akhir ini sering ada orang aneh di sekitaran komplek kita."

"Soal mayat, mayat itu bagaimana?"

Itachi bergidik. "Aku tidak mau tahu atau mencari tahu, tapi karena kecelakaan itu ada di depan rumah, aku harus membuat pertahanan ekstra di rumah, dan ughh... bau itu bukan main!"

Itachi benar, aku juga mencium bau aneh. Seperti obat keras yang sangat berat kemudian bercampur dengan darah dan kotoran. Yikes! Aku berani bertaruh, bau itu sama seperti kotoran Dinosaurus!

Dalam pembicaraan ini, komentar pedas keluar dari mulut Sasuke. "Padahal beberapa Polisi dan orang Kesehatan sudah menetralisi tempat ini, tapi bau aneh itu masih ada."

Entah bagaimana aku teringat akan sesuatu. "Itu bukan bau aneh. Itu bau kamper, sesuatu yang selalu digunakan pegawai rumah duka supaya mayat tidak bau."

Obito mengangguk polos. "Ya, aku juga mencium bau semacam itu. Itu kamper."

"Dan..." Obito diam sejenak, ia memainkan gantungan kunci wanita berambut hitam. Bentuknya seperti hantu, kulitnya pucat dengan gigi runcing yang tak masuk akal.

Aku diam saja melihat gantungan kunci aneh itu, padahal aku agak sedikit merinding. Aku tak asing dengan bentuk gantungan kunci itu, seperti pernah melihatnya di suatu tempat tapi tak ingat sama sekali.

Ah! Payah sekali! Kenapa aku harus mengingat hal yang tak penting dan aneh semacam ini?

Lantas, Obito melanjutkan dengan nada bicara yang agak terdesak seperti terbelit sesuatu yang menjijikan, sementara aku memperhatikan. "Sesuatu yang membuat Mariko-san begitu belum ditemukan, maksudnya alasan mengapa dia begitu. Aku heran kenapa Mariko-san bisa mati dengan cara aneh begitu."

Sasuke menyembur sadis. "Apa hubungannya dengan bau aneh itu?"

Aku tersenyum kecil, terkesan menyeramkan dengan senyum seperti ini, Sasuke yang ketakutan buru-buru memukul pucuk kepalaku dengan sendok dan Obito memelototi kami.

Disela-sela menahan sakit akibat pukulan, aku berujar pelan, masih diselingi senyum barusan. "Kau tak mengerti ya, Sas? Kurasa Mariko-san sudah mati sebelum dia ada di sana. Mungkin saja seseorang mengeksekusi Mariko-san dulu, menaburi dengan kamper lalu menyimpannya di sana."

"Mengerikan..."

"Memang." Aku mengiyakan, lalu teringat akan sesuatu. "Oh ya, teman-teman."

"Apa?"

"Tadi siang Sasuke bilang kalau aku dan kalian masih ada hubungan keluarga! Sasuke bilang kalian punya semacam buku Pohon Keluarga yang memungkinkan aku ada kaitannya dengan kejadian ini."

Obito heran. "Maksudnya?"

"Mungkinkah aku sudah mati? Apakah aku kena Karma? Apa aku masih memiliki hubungan kerabat dengan kalian? Jika itu benar dan fakta, berarti kalian harus waspada! Sebab Karma itu berkaitan dengan keluarga dan orang terdekat, seperti yang terjadi pada mayat itu. Maksudku, Mariko-san."

Itachi tertegun, memandangiku lekat-lekat lalu memainkan ujung rambut sok manis. Aku jadi jijik melihat dia begitu, tawa meledek keluar dari Itachi, kemudian dia bicara begini. "Izu, kau tahu dari mana kalau Mariko-san ada kaitannya dengan Karma? Kau terdengar seperti sedang mengaitkan kematian Mariko-san dengan Karma."

"Karena aku bilang padanya kalau Mariko itu selingkuhannya Hiyashi, Kak."

"HAA?"

Itachi yang masih kaget, berusaha untuk mencaritahu lebih, terlihat dari sinaran dan kilatan matanya yang terpancar bak menemukan berlian di padang rumput, tapi kau tidak tahu apa itu asli atau imitasi. "Kau tahu darimana? Dasar tukang gosip!"

Sasuke tertawa jernih, agak sombong tapi dia memang senang memperlakukan orang dengan cara yang kurang beres. Ia menyeringai nakal. "Lupa? Aku satu sekolah dengan Hinata. Hinata sering nangis di sekolah dan cerita kalau Ayahnya punya selingkuhan."

"Dia curhat padamu?"

Sasuke berpaling padaku. "Tidak!" Agaknya Sasuke tak suka dibicarakan begitu, ia begitu marah dan memprotes kasar.

Lalu, kala hatinya sudah agak tenang ia melanjutkan. "Itu dari Kimimaro, soalnya Kimimaro satu klub dengan Hinata, jadi sering curhat. Tapi... itu dulu, soalnya Hinata jadi aneh dan mulai dijauhi."

Aku meralat. "Bukannya kau pernah bilang kalau Hinata jadi aneh? Iya 'kan?"

"Ya." Sasuke mendelik. "Dia jadi aneh, sering bicara sendiri, jarang sekolah dan berperilaku menyimpang, sering ada di rawa dan seperti orang linglung. Pernah dia teriak-teriak di kelas seperti kesurupan! Aku kaget sekali."

Entah setan apa yang merasuki Itachi, tiba-tiba saja ia setengah berteriak dan terdengar agak membentak. "Eh, tapi tunggu!?"

"Apa, Kak? Kau membuat kami kaget, tahu! Jangan berteriak tiba-tiba begitu!"

"Bukan! Bukan begitu, coba kau pikir baik-baik deh, Sas. Sorry, ini diluar topik pembicaraan, oke? Dengarkan! Jika Mariko-san sudah mati sebab dia ada hubungannya dengan Hiyashi-san, lalu apa yang terjadi pada si Uzumaki itu? Bukannya teman Rubahmu itu pernah pacaran dengan Hinata? Dan kenapa Mariko-san mendapatkan kutukan itu sekarang? Padahal para Hyuuga sudah mati saat kau SMP."

"Uzuma-ASTAGA! Aku hampir lupa, Naruto itu 'kan? Aku terakhir mengkontak dia 3 hari yang lalu. Dia bilang sekolahnya ada study tour ke Korea Selatan."

Hening. Tidak ada yang bicara. Selama 5 detik kami dihentikan oleh mahligai yang tak stabil.

Jangka 5 detik berlalu, semua tergantikan oleh gemerisik samar berjarak lumayan dekat. Aku menatap basi sekitaran lalu mulai sadar suara apa yang barusan keluar.

Semua yang ada di ruang makan saling melirik, seolah mencari dan bertanya darimana sumber suara yang memecah obrolan di tengah malam itu berasal, walau dalam hati mereka sudah tahu darimana suara-suara itu berasal.

Takut salah terka dan sok tahu, aku bangkit dari kursi dan menimbulkan derit yang mencekam hingga sulit meneguk ludah. Sebagai tambahan, aku mengangguk entah pada siapa dan menelusuri.

Gemerisik pelan itu mulai terdengar jelas, kesan samar dan tak masuk akal mulai pudar, suara itu berasal dari wanita, wanita yang berbicara dengan bahasa logis dan formal.

...dan aku menemukan TV di ruangan tengah menyala dengan sendirinya. Memperlihatkan lintas berita sebuah pesawat terjatuh.

.

.

.

.

A/N : Terima kasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan diri untuk membaca Fanfic ini, Terima kasih juga buat favorite dan follownya! Ini buat saya jadi bersemangat.

Oh ya, waktu itu yang nanya apa ini ada hubungannya dengan fanfic sebelumnya? sepertinya tidak... tapi saya buat latar fanfik ini setelah kejadian Poltergeist Report, dimana Sasuke dan keluarganya belum pindah.

Soal nama Deidara, saya tambahin "Katsuki" karena dia sering bicara "Katsu!" dan dia sedikit ngingetin saya dgn anak fandom sebelah yang hobi meledak-ledak.

Inspirasi? Oh, saya suka sekali lagu Opening dan Ending dari sebuah anime. Anime lawas judulnya Requeim for Phantom. Disitu ada lagu judulnya "Karma" rekomen deh buat kalian yg suka lagu barok classical, neo classical.