Naruto bukan milik saya. Mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
.
.
.
Rest In (Pieces) Karma
Setelah kecelakaan yang mencengangkan muncul di laman pemberitaan, kehebohan terjadi di mana-mana, banyak sekali yang merumorkan ini dengan kutukan angka 13, kelalaian penerbangan, diculik Alien, Konspirasi dan hal-hal tak masuk akal lainnya.
Bahkan ada media yang menyewa paranormal gadungan, berbicara sok pintar perihal mistis yang mempesona atau wara-wiri tak jelas di sekitaran TKP, terang saja itu mengganggu penyelidikan hingga terjadi kehebohan yang tak terelakan antara Kepolisian dan Media. Kupikir itu hal yang tak perlu dibesar-besarkan.
Aku menenggarai kecelakaan ini sebagai kejadian biasa yang masuk ke dalam hukum alam, seperti tersambar petir misalnya atau baling-baling pesawat yang di penuhi bangkai burung. Kau tahu? Burung sering mengalami stress, sama seperti hewan mamalia.
Sasuke bilang ia belum mendapat informasi soal Naruto, mungkin belum. Tentu saja Naruto yang aku maksud adalah temannya itu, para korban dari kecelakaan belum diinformasikan, karena berita-berita yang hadir masih rancu dan kurang jelas.
Team penyelamat masih dalam perjalanan mencari korban, mereka sepertinya lelah, beberapa ada yang termenung di atas sekoci. Gosipnya, kemungkinan pesawat itu terjatuh di sekitar laut setelah memasuki hutan lindung.
Sasuke tampak hancur saat ini, aku tak dapat menjelaskan secara detail, entah berapa kali ia menyeka air mata, menyumpah serapahi kejadian penuh emosi ini dengan kasar atau yang paling parah membanting pintu kamar dan diam di sana seperti hewan buruan yang tengah bersembunyi.
Beberapa jam kemudian aku mendapat kabar hambar dari Itachi, kupikir ini bagus walau tak melegakan sama sekali. Dia bilang beberapa korban sudah di temukan, ia tahu itu karena kebetulan salah satu dari kerabat Itachi adalah Polisi, aku lupa namanya siapa karena nama itu begitu sulit untuk aku eja.
"Izuna?" Hendak raga ini meneguk segelas air, Itachi menghentikan langkahku. Ia menoleh dari balik sofa dan menatap masam atas diriku, saat ini aku dan dia sedang menonton siaran Televisi.
"Ya?"
"Hm..." Itachi agak bingung untuk memulai dari mana.
"Aku haus, Itachi..." Aku bilang bahwa aku ingin pergi untuk mengambil minum, walau sepertinya aku tak perlu mengatakan itu padanya. Aku yang penasaran walau agak malas, menatap datar sebab bingung harus menunjukan emosi macam apa.
"Izuna, apa kau pernah atau merasa tak asing dengan kejadian ini? Maksudku, kecelakaan pesawat ini?"
Aku berpikir sejenak, berusaha menemukan secercah fakta dan informasi ajaib yang tersimpan di otak. Mungkin aku akan menemukan sesuatu yang akan Itachi mengerti atau tidak sama sekali. "Oh, aku tidak yakin kalau hal seperti ini pernah terjadi. Aku jarang membaca berita, kenapa?"
"Aku pernah merasa kalau Neji pernah bilang Ayahnya mati karena kecelakaan pesawat."
"Neji?" Aku mengurunkan niat untuk mengambil minum dan duduk kembali di sofa. Manik Itachi mengikutiku, ia memeluk kaki.
"Neji, sepupunya Hinata..."
"Oh, keluarga Hyuuga. Dia masih hidup?"
"Tidak tahu. Aku benci mengakui itu tapi dia bukan dari Keluarga Utama."
"Yah, aku juga malas membahas soal penataan Keluarga Hyuuga. Benar-benar Keluarga aneh, Ayah dari Neji ini kapan meninggal?"
"Saat itu Sasuke masih 6 tahun kalau tidak salah. Berita itu mengejutkanku, tapi Keluarga Hyuuga tampak biasa saja, bahkan menganggap Hizashi itu pantas untuk dilupakan."
Aku mengangguk antara paham dan miris, Keluarga Hyuuga memiliki pemahaman yang agak aneh. Mereka memiliki sistem terintegrasi antara Keluarga Utama dan "Buangan".
Yang superior di sini, tentu saja Keluarga Utama. Sepintar apapun dirimu, meski kau dari "Buangan" kau hanya biji jeruk yang busuk, yang pantas dibuang atau ditiadakan. Singkatnya, hanya Pembantu.
"Mungkin Neji itu hanya mengarang. Kau tahu? Keluarga Hyuuga itu aneh.."
"Izuna, apa kau yakin mereka juga membual soal kematian?"
Aku mengkeryit heran. "Apa maksudmu dengan ungkapan 'Juga'? Sepertinya mereka sering melakukan kebohongan."
...walau sebenarnya aku tahu mereka hobi membual dan beromong kosong.
"Yah, kau tahu? Menipu uang. Biasanya Keluarga 'Buangan' bertindak sebagai itu, hm, istilahnya semacam Debt Collector."
Aku tersedak. "HA? maksudmu mereka rentenir? Ini semakin aneh."
"Bukan. Aku pernah dengar anak-anak Panti Asuhan tempat Kimimaro itu adalah anak-anak yang pernah menghutang pada Keluarga Hyuuga, karena Orangtua mereka tidak bisa membayar, mereka hilang, maksudku dihilangkan."
Kepalaku menjadi pusing. Entah kejahatan macam apa yang sudah Keluarga Hyuuga buat. Setahuku mereka sangat Superior, Ningrat dan hebat dalam mengelola bisnis. Kupikir kejadian mengerikan yang terjadi pada Keluarga itu akibat kesombongan mereka.
AH! Mereka berevolusi menjadi Lintah Darat!
Aku diam, menepuk-nepuk bahuku dengan pelan merasakan sakit, mungkin aku masuk angin atau salah posisi tidur. Aku juga tidak tahu, aku sering merasakan sakit di bagian bahu akhir-akhir ini.
Itachi merasa terganggu oleh tindakanku menghentikan seluruh rangkaian cerita, ia menatapku aneh dan jijik, seolah tindakanku ini hina dimatanya. Aku diam saja walau sebenarnya tersinggung.
"Izuna, kau kenapa?"
"Bahuku. Bahuku sakit sekali..."
"Mana sini aku lihat"
Disibakkan kaus biru favoriteku olehnya, diamati bahu ini dengan seksama oleh Itachi. Jujur, aku merasakan perih yang luar biasa tak terhingga, seperti luka goresan yang sangat tipis namun dalam.
"ASTAGA! Siapa yang melukaimu? Lukanya dalam sekali, seperti di gores sebuah pisau bedah atau pahat, pisau kecil yang digunakan Seniman Buah."
Aku menggeleng, tak menjawab.
"Coba lepas kausmu, Izuna. Sepertinya luka itu bukan hanya itu saja."
Aku mengangguk pasrah, melihat Itachi yang serius dengan bibir kering pucat pasi buatku menurut, biasanya aku susah sekali untuk mematuhi orang lain, meskipun itu Kakakku sendiri.
"ASTAGA! Lihat dan berbalik pada cermin, kau akan menemukan sesuatu..."
Dari kepanikkan yang Itachi lontarkan, aku berlari kecil menuju cermin, melihat bayangku sendiri yang agak mengerikan. Seperti ada aura hitam yang menyelubungi atau sesuatu yang mustahil berdiri di sebelahku.
Kuteguk ludah dengan paksa, berbalik dan melihat apa yang terjadi dan memastikan semua ucapan Itachi bukanlah kebohongan belaka.
Lalu...
Aku melihat sebuah goresan kurang simetris di sana, berbentuk pola abstrak. Itu goresan merah melukis punggungku, dari bahu lurus ke bawah membentuk lingkaran dan spiral, semakin turun ke bawah, warna luka semakin merah.
Oh, Tuhan. Apa yang terjadi pada diriku? Aku tak tahu kapan detailnya aku mendapatkan ini dan bagaimana caranya.
Apa aku melukai diriku sendiri ketika tidur? Tapi itu tak mungkin.
"Ita-" Aku bebalik, memanggil Itachi. Tapi kepalaku pusing dan tubuhku limbung, semuanya menjadi tak masuk akal ketika sosok di ruangan membaca itu hadir kembali.
Dia berdiri di belakang Itachi. Dengan senyum misterius dan membawa lentera berwarna merah.
.
.
Siapa ini?
Ah, ya, ini aku. Hanya aku.
Lalu, aku siapa?
Kau adalah kau.
Oh. Aku tidak mengerti. Itu siapa?
Itu dirimu.
Kenapa aku begitu?
Suara itu menghilang...
Aku tidak begitu yakin dengan siapa aku bicara, apa aku bicara sendiri ya? Seluruh tubuh, raga dan jiwa ini terasa ringan.
Kali ini, aku berada di ruangan yang tak abadi dalam artian tak permanen. Semuanya gelap dan hanya ada satu penerangan. Itu sebuah lilin di dalam gelas kaca.
Anehnya sinar itu hanya mampu menyinari sebuah potret. Ya, potret, sebuah lukisan yang besar. Sangat besar, seperti foto Keluarga.
Disitu tergambar 5 orang lelaki dengan pakaian yang sama, hanya saja warna rambut yang berbeda, semakin ke sisi kanan, lelaki itu semakin terlihat tua, hingga menyisakan tulang berkulit.
Oh ya, mereka memiliki mata sama. Warnanya merah darah dan menyala tajam.
Satu kata.
Aneh.
Figur pertama adalah lelaki yang masih terlihat sangat muda, ia membawa korek api dalam keadaan sudah terbakar, artinya hitam. Di sebelah kaki kananya ada jerigen kecokelatan.
Aku beranjak dan melihat yang lain.
Figur kedua lelaki yang agak berusia matang, ia membawa sebuah paku berkarat yang besar dan panjang. Ia tersenyum aneh.
Figur ketiga... aku tak melihatnya dengan jelas, wajahnya tak terlihat. Wajahnya dipenuhi cat abu-abu, tapi tangannya keriput. Ia membawa sebuah lentera. Warnanya merah.
Dan juga...
"IZUNA! BANGUN!"
Semua bayangan itu sirna, ruangan disini tampak normal dan perlahan luntur.
Sadar dengan apa yang terjadi, aku terperanjat. Kaget. Lalu bangun.
Dadaku terasa sesak. Sakit sekali dan aku terbatuk sebanyak lima kali.
Seutas suara penuh keprihatinan menyahut damai. "Oh astaga. Kau tiba-tiba saja pingsan lalu mulai berbicara sendiri."
Berbicara sendiri?
Dengan jelas, aku melihat betapa ajaibnya diri ini. Di kelilingi 3 Uchiha yang panik bukan kepalang. Aku melongo, merasa tak sempurna sebab kejadian ini.
Punggungku terasa dingin sekali dan baru sadar kalau aku terjatuh di lantai, kepalaku sakit akibat benturan dan baru terasa sangat perih ketika aku berusaha bangkit.
Oh, luka goresan ini.
Obito berkomentar. "Aku sudah memanggilmu beberapa kali, hanya memastikan."
"Ya, tanganmu menggapai-gapai langit." Itachi menambahi. "Apa ucapanku membuatmu buruk, Izuna?"
"Kak, apa mungkin Izuna kena Anemia? Dia mungkin kurang darah makanya pingsan begitu."
Aku tidak yakin kalau aku kurang darah.
"Tidak, aku baik-baik saja..." Aku tersenyum dan meyakinkan. "Aku mendapat mimpi aneh..."
"Mimpi?"
Mendengar pertanyaan itu, kami semua yang ada di sana menoleh bersamaan, mengamati sang sumber suara yang datang dari pintu depan.
Itu Aria.
Dia memakai jas hujan, warnanya kuning. Pakaiannya setengah basah.
Oh, Tuhan.
"Mimpi apa?"
"Aku melihat lukisan."
Aria belum menjawab semua kebingungan ini juga keadaan ini. Kupikir dia tahu, terlihat dari wajahnya atau mungkin dia bisa menenangkan situasi ini.
Ketiga Uchiha ini mulai menceritakan soal tragedi demi tragedi yang terjadi beberapa hari ini, mereka memiliki keterangan yang berbeda-beda dari setiap cerita dan paragraf yang mereka ungkapkan. Aku sendiri tidak mau membicarakan soal apa yang terjadi atasku, aku merasa itu tak penting, aku tak ingin dia tahu soal ini.
Aria sendiri tidak kebingungan, merasa terganggu atau kesal seperti orang normal kebanyakan ketika dihujani pernyataan bodoh. Ia hanya mengamati lewat manik delima itu, berkaca pada diri kalau ia mengerti lalu melipat tangan di dada dan mengangguk-angguk paham.
Aria seperti sudah memprediksi dan tahu segala hal seperti ini akan terjadi. Itachi membalikan obrolan, ia menanyakan mengapa Aria menghilang akhir-akhir ini, tapi ia tak menjawab apapun selain menatapku datar.
"Kenapa?" Aku memulai, merasa risih ditatapi seperti itu dan semua obrolan yang labil ini terhenti begitu saja.
Aria memalingkan wajah. Ia menatap ke arah lain, tapi aku tahu ia sedang menyebutku. "Tidak apa-apa, aku hanya memastikan kalau kalian baik-baik saja. Aku mendapat telepon dari Fugaku-san katanya ada kecelakaan."
Itachi tertawa. "Yeah, kau benar Aria-chan. Mariko-san sudah mati dan mayatnya tercecer seperti sebuah Kornet kalengan! Kupikir dia terlindas sesuatu, tapi Uncle Obi bilang dia sudah mati sebelum ada di sana."
"Selera humormu macam sampah, Kak." Sasuke mendelik, bibirnya menjadi tajam tanpa ampun yang kemudian merajam obrolan.
"Oh begitu..." Aria tidak terkejut, ia menunjukan ekspresi tenang yang lazim bagiku. Lalu ia berkomentar begini. "Mariko-san? Oh, aku tahu soal itu. Aku ke sini bukan karena Mariko-san, tapi Fugaku-san bilang kalau di sini ada kebakaran dan Naruto juga bilang begitu."
Heran. Obito bertanya dengan nada tergesa-gesa. "Anaknya Namikaze?"
"Ya, Naruto yang itu, lalu siapa lagi? Dan Fugaku-san bilang di komplek ada kebakaran, makanya aku datang dan memastikan kalian."
"Naruto sedang study tour dan Pesawat yang mereka tumpangi terjatuh..."
"Bloody Hell! Aku bertemu dengan dia beberapa jam yang lalu, Obito! Kau mau mengatai kalau pikiranku tak stabil?"
"Aku tak bilang begitu, Aria. Aku hanya memberitahumu."
"Aria benar, mungkin aku yang salah..." Sasuke menjadi lesu mengingat kembali soal Naruto membuat penderitaannya semakin bertambah jelas. Aku tak tahu kalau dia akan terguncang dengan heboh seperti ini, tapi itu wajar, mereka sudah berteman lama.
Mungkin Naruto tak semengerikan dan seburuk Tobirama yang jelek itu. Bicara soal Tobirama, apa dia tewas ya?
Itachi mendadak tertawa dan sejujurnya aku kaget oleh tawa lepas itu, beberapa detik yang lalu atmosfer dingin menyelubungi ruangan ini dan dia meniup itu semua dengan mudahnya. "Ya, mungkin Naruto sudah membatalkan study tournya dan dia selamat dari tragedi ini, bukan begitu Uncle Obi?"
"Aku tidak tahu..." Obito mengerling, berpaling pada Aria dengan sorot misterius. "Tapi ngomong-ngomong apa kau tahu sesuatu soal Karma?"
"Pembalasan, atau kau sedang membicarakan tentang kepercayaan orang? Kenapa kau membahas hal aneh begitu? Itu tak ada hubungannya!"
"Maksudnya?"
"Ada kepercayaan mengatakan bahwa ketika kau lahir kau membawa Karma dari dirimu di kehidupan sebelumnya. Semacam itu, apa yang kau maksud adalah itu?"
"Bukan, Aria. Aku sedang membicarakan soal rawa itu."
"Jika kau membicarakan soal Karma yang itu..."
Aria membiarkan ucapannya menggantung, begitu penasaran aku dibuatnya, terpukau juga aku diperlakukan begini. Aku menunggu sebuah jawaban dan Aria menarik ucapan-ucapan itu dengan gerak-gerik yang setengah mempesona.
Ia memunggungi kami dan menatap lewat bahu. "Seharusnya kalian berhenti membicarakan soal itu, aku memberi saran. Hal itu tak perlu di bicarakan. Karena apa yang kau lakukan di dunia ini pasti ada balasannya..."
"Wow, sepertinya beberapa hari lalu ketika kau menemukan Izu kau tertarik dengan ini, Aria-chan?"
"Itu dulu, Itachi. Aku tak mau membahas ini terlalu dalam, ini mengerikan. Jika kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, kau akan tahu efek dominonya..."
Kupikir itu tak patut untuk Aria gambarkan, karena sejujurnya aku membenci ini. Aku terlalu takut.
"Apa kau mau mengatakannya, Aria-chan? Jika kau bersedia?"
"Tidak."
.
.
Soal kebakaran itu tidak pernah terjadi di sini. Kupikir Aria hanya membual karena terlalu gengsi datang kemari. Tapi Obito bilang Aria tidak pernah berbohong pada siapapun.
Beberapa tetangga di sini juga heboh, aku menguping dari balik jendela. Mereka menggosipkan soal kebakaran, beberapa Ambulance dan Pemadam Kebakaran mendapat telepon dari nomor yang sama dan bahkan di lakukan secara serempak.
Tapi mereka tidak menemukan apapun di lokasi dan warga sekitaran komplek menjadi bingung. Ketua Pemadam kebakaran mengamuk di buatnya, dia pikir warga komplek telah mempermainkan mereka.
Salah satu tetua di sini, Hiruzen kupikir itu namanya, menyatakan bahwa alamat yang ditujukan oleh Pemadam Kebakaran tidak tepat, tapi lokasinya memang ada di komplek ini. Hiruzen juga menyuruh untuk melacak nomor itu dan menghubunginya untuk dimintai keterangan, tapi Ketua tak menemukan apapun, hasilnya nihil dan nomor itu tak terdaftar sama sekali.
Ia berpikir itu mungkin nomor sekali pakai, tapi pihak yang menjual nomor itu tak pernah menjualnya dan nomor itu tak terdaftar!
Hah, sungguh mengerikan.
"Kau mau membahas soal kebakaran palsu itu atau Naruto?"
"Aku tidak mau membahas segalanya, Kak! Aku malas, aku ingin menghubungi Naruto tapi listrik mati lagi."
"Dasar Itachi dan Sasuke, kapan mereka bisa berhenti bertengkar?"
Aku tertawa kecil, menatap sang sumber suara sampai ia duduk di sofa, di sebelahku. "Hm, kurasa itu asyiknya menjadi Kakak dan Adik."
"Kau benar, Izuna. Ngomong-ngomong soal Naruto..."
"Apa?"
"Aku tak yakin kalau itu Naruto."
"Apa maksudmu?"
Ia berpaling kepadaku, menatap tajam seolah ada hal ganjil dari wajah. "Sebenarnya kejadiannya bukan aku bertemu dengan Naruto. Tapi ada orang yang bersama Naruto kemudian kami berbicara."
"Aku tak paham, Aria..."
"Kau ingat apa yang Itachi katakan? Mariko-san mati, tapi dia terlihat sudah mati sebelum Polisi menemukan Mariko-san. Maksudku ia sudah mati sebelumnya, sebelum ia ada di TKP."
Aku mengangguk, mengingat kembali detailnya. "Ya, aku ingat. Memangnya kenapa?"
"Naruto saat itu sedang berjalan bersama seorang pria, rambutnya hitam dan panjang. Ia memakai kimono putih dan soal Naruto, aku bingung bagaimana menjelaskannya, dia tampak aneh."
"Aneh? Aneh bagaimana?"
"Dia tampak seperti mayat yang kaku. Aku sempat menanyakan akan kabarnya tapi Naruto terus menjawab dengan kalimat yang sama."
Mendadak aku merinding, seluruh tubuh ini terasa dingin. "Aria, Lalu apa yang dia katakan?"
"Kebakaran..."
"Kebakaran... kebakaran..."
"Sasuke tolong kebakaran, awas.."
Aku mengsugesti diriku bahwa Naruto orang yang lucu dan hobi membual, tapi Aria berpikir kalau sesuatu seperti itu sangat salah dan tak lumrah. Ia terus berdalih bahwa Naruto terlihat sangat aneh dari sudut pandang Aria.
Pembicaraan ini terdengar dengan jelas oleh Obito, dia yang penasaran ikut berdendang dengan obrolan. Ada raut kesal dari wajah Aria, ia mungkin tak suka dikejutkan atau mereka memang sedang bermusuhan.
"Apa? Apa yang kau katakan barusan? Lelaki berkimono putih dan berambut panjang?"
"Ya, Obito. Aku melihat Naruto bersamanya."
"Bukannya aku ingin menakutimu, tapi lelaki itu juga yang dilihat Sasuke saat penemuan mayat Mariko-san."
"AAAAAAAAAA!"
Teriakan spektakuler menghancurkan suasana. Batinku menjerit ngeri akibat suasana tak masuk akal ini. Aku melihat Sasuke berlari cepat menuju pintu halaman depan begitupun dengan Itachi yang langsung menghubungi Polisi berserta rangkaian kalimat super cepat.
"Di luar!"
Aku bangun dan mencari dari mana sumber suara berasal, angin malam menyambutku dan bau plastik menggetarkan jiwa. Yang kulihat malam ini adalah laskar jingga dan kuning terlukis di langit hitam.
Asap tebal menghiasi, kelabu membutakan mata. Aku menyipitkan mata dan mencari tahu dan kebakaran ada di beberapa titik teracak.
Seluruh warga di landa panik.
"AAAAAAAA! APA ITU?"
Dari menatap langit aku menunduk, mengkoreksi apakah diriku salah lihat atau berhalusinasi. Aku melihat sebuah mayat tanpa kaki dan tangan tergeletak di tanah, tersulut sebuah api merah yang berani.
Seutas suara penuh keprihatinan terdengar sedih.
"Naruto?"
.
.
A/N : AAAAAAAAA... Makasih, beribu-ribu terima kasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan diri membaca ini, maaf atas telat update ny.
