Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
.
.
.
Rest in Pieces (Karma)
Benar. Itu memang Naruto. Setidaknya itu yang Itachi katakan sebelum ia frustasi dan pingsan akibat kehabisan tenaga, Sasuke yang lemas menjadi bisu seperti Pejabat Negara yang ketahuan Korupsi dalam artian dia diam dalam pemikiran yang tak jelas, sementara Obito menenangkan situasi dari para tetangga yang ingin tahu tentang apa yang terjadi. Meski ucapannya kebanyakan tidak ada yang di dengar para tetangga.
Para tetangga aneh itu mulai membual soal tragedi ini dan mengaitkannya pada kematian Mariko. Aku tahu ini mungkin ada kaitannya dengan Mariko, tapi membuat lelucon sampah macam ini sungguh sangat tolol, meskipun kau membenci suatu individu, kau tak boleh membicarakan kejelekan mereka, Tuhan saja tidak melakukan itu.
Polisi yang datang berbeda dari sebelumnya, bukan lagi duo aneh yang tengkar hebat dengan Sasuke. Mereka hanya Polisi biasa yang tak banyak bicara, tapi masih muda di usia berkarirnya ini, jumlahnya ada 3 dan semuanya laki-laki, kecuali 1 orang yang agak kolot dengan muka serius.
Yang kutahu namanya Shimura Danzo, aku mendengar itu dari gadis pirang yang berdiri di sebelahku, kami sempat berkenalan dan katanya dia teman sekelas Sasuke. Yah, dia orang baik yang perhatian, alis matanya menyiratkan kalau dia hobi dandan dan anak orang kaya yang agak sombong soal fashion.
Dia banyak bercerita, tapi dia tidak kenal Naruto. Di sela-sela investigasi dia berkata kalau Ayahnya adalah seorang jurnalis dan menulis beberapa majalah misteri. Dia berkata dengan cepat kalau dirinya paham betul kenapa ini bisa terjadi. Dia tahu soal kutukan rawa dan soal Keluarga Hyuuga yang seluruhnya tewas.
Klaimnya terdengar acak-acakan dan investigasi atas kasus terdengar aneh, mungkin dia hanya mencuri dengar dari Ayahnya atau setengah-setengah membaca tulisan Ayahnya, tapi aku antusias untuk mendengar, aku ingin teman ngobrol.
Dalam sela cerita, aku terkesan bagaimana ia menyimpulkan di akhir atau kejutan tersohor yang dirinya pajang sebagai gertakan ala film hantu, jujur saja walau aneh aku senang mendengar setiap bait..
"Shion-san, kau tahu itu semua dari mana?"
Namanya Shion, dia tak memberitahu soal marga keluarganya, sama seperti Kimimaro
"Internet..."
"Hah?"
"Kau tak tahu internet, Izuna-kun?"
Aku memang orang dari masa lalu, mana tahu apa itu internet? Dan segala macam yang anak muda zaman sekarang katakan, sekarang aku menjadi sangat kolot dan kuno, seperti Kak Madara yang tak tahu apa-apa tapi bisa menjadi sok tahu karena dia memang selalu ingin ikut campur dengan urusanku.
"Ayahku, aku juga tahu sebagian dari Ayahku. Sebenarnya yang terkutuk itu tempat ini, bukan rawa yang sering di bicarakan."
"Kenapa kau berkata begitu?"
Gadis ini berbisik pelan, takut ketahuan seperti seekor ular, wajahnya sedikit mendekat dan bertumpu diantara kedua bahuku. Aku agak malu didekatnya, jujur dia gadis yang modern.
"Sejarah komplek ini kelam, banyak hal tak jelas dalam kurun waktu beberapa tahun sekali, seperti pemilihan Presiden, setidaknya itu penyelidikan Ayah dan Pamanku, for your information, Pamanku itu editor. Setiap kejadian aneh datang selalu bermula dari komplek ini, beberapa orang yang percaya tahayul menyangkut pautkan itu semua dengan Karma dan Rawa, tapi kurasa masalahnya bukan ada di sana. Kenapa harus Rawa saja? Apa karena banyak penemuan mayat di sana? Kurasa itu hanya picisan. Siapa tahu kalau komplek ini yang dikutuk, mereka juga membicarakan soal lelaki berbaju putih dan tak lama kemudian kejadian aneh berulang kembali."
Lelaki berbaju putih? Paman? Kutukan? Holy Cow!
Dengan perasaan tak menentu dan deru napas yang tertahan aku menantang balas. "Itu hanya spekulasi 'kan, Shion-san? Mana ada komplek terkutuk."
Aku jadi ragu kalau dia sedang membual, tapi cara dia bicara membuatku merinding, dia benar-benar menyeramkan, entahlah, auranya seperti anak setan atau anak monster yang hobi merokok, semacam itulah. Dia berbeda dari sejak tadi kami bertemu, maksudku dia sangat aneh dan susah untuk aku jelaskan.
Shion berkacak pinggang, wajahnya menjauh, aku sedikit lega. Gadis ini terlihat sangat berbahaya. "Seseorang mengirimkan karma pada komplek ini bukan pada satu individu, karena jumlah warga di sini semakin banyak, kejadiannya makin aneh, Rawa itu hanya kambing hitam atau bisa kukatakan perantara."
"Kalau soal karma yang diturunkan? Temanku bilang kau akan selamat dari itu jika kau menurunkan karma pada garis keturunanmu."
"Hah? Aku baru mendengar soal itu, memang sih Pamanku pernah menceritakan soal itu sebelum dia tewas tertimpa Tronton."
"Hentikan! Kau membuatku takut..."
Dasar psikopat! Bagaimana ia bisa sangat tenang menceritakan hal mengerikan semacam itu? Tidak waras!
Dengan cara aneh ia tertawa. "Baiklah, aku akan menghentikannya dan ngomong-ngomong kau ini siapanya Sasuke? Kau mirip dengannya hanya saja kau lebih friendly."
Benarkah? Aku ramah? Aku bukan anak ramah seperti yang kau pikirkan, aku tidak seperti ini dan aku tipe orang yang pilih-pilih jika berbicara dengan manusia terlebih orang asing. Jujur saja, aku tidak suka orang bodoh atau orang-orang yang terlalu mendominasi.
"Mau ke rumahku? Aku akan menunjukan sesuatu padamu, Izuna-kun!"
Tiba-tiba saja ia berkata begitu, ia sangat aneh dalam dominasi ini. Dia seperti sebuah adrenalin, apa dia pencandu? Aneh sekali.
"Itu tidak masuk akal, kau tahu?"
Shion mengkeryit, jelas dia tak suka dengan jawabanku. "Apa yang kau katakan? Jangan bilang kalau kau dilarang bicara dengan orang asing, kau bukan anak-anak!"
Itu dia maksudku, aku hanya waspada. Lagi pula, ini terlalu berisiko. Sejak aku melihat lelaki aneh itu, lelaki berbaju putih itu aku jadi lebih sedikit waspada pada segalanya, apalagi setelah Aria cerita soal Naruto yang aneh dan lelaki yang kurasa sama.
Bukanya aku mau mencurigai atau bersikap buruk pada Shion, tapi hatiku berkata lain dalam hal ini.
"Kau mau tidak?" Dia bertanya lagi, kali ini dengan sorot mata tajam dan agak mengancam.
"Maaf, aku harus menjaga rumah."
"Baiklah." Akhirnya ia mengalah, namun dari itu semua ada maksud lain yang terselubung aku tak tahu apa itu yang jelas aku harus waspada pada gadis asing ini.
Ia melanjutkan. "Asal kau tahu Izuna-kun, kau tak akan mengerti tentang apa yang terjadi. Jadi...aku katakan sekali lagi, kau harus keluar dari komplek ini, setidaknya."
Kepalaku mendadak pusing, ucapannya... ucapannya itu... Apa maksud dari ini semua? Apa maksud pertemuan ini?
"Kau sedang mengancamku?"
"Tidak. Aku hanya mengemukakan fakta, kau belum mendengar soal tempat ini di masa lalu, ya? Jika kau mendengarnya, kau pasti memilih kabur. Ngomong-ngomong tetap terjaga, aku tak mau kau gila gara-gara sebuah mimpi."
.
.
.
Beberapa hari lalu aku mengalami mimpi aneh, aku seperti menyaksikan pembunuhan ekstream. Aku tak tahu bagaimana merangkainya ke dalam cerita berbentuk klasik, yang jelas ini terlalu sulit kuutarakan.
Aku mendapatkan bekas luka lagi dan bekas luka sebelumnya masih membekas bagai kerak menempel. Kupikir itu akan hilang tapi semuanya bohong, aku mendapatkan luka baru seperti simbol lainnya. Luka itu menunjukkan sesuatu yang tak mau aku lihat dan aku temukan. Apakah ini pertanda lain?
Kembali pada mimpi, di sana aku menyaksikan pembunuhan, tapi aku merasa bahwa dirikulah yang sedang membunuh. Aku melihat sebuah paku...aku menyaksikan diriku mengambil paku itu sembari tertawa aneh dan berlari mengejar seseorang.
Dia takut, dia sangat takut dan aku menikmati ini semua. Aku menikmati apa yang aku lihat dan aku saksikan.
Ada banyak darah di sana, di tangaku, wajahku dan pakaianku! Semuanya seperti melodi dosa yang gaib. Aku mencintai permainan gila ini.
Aku membunuh!
Ya, aku membunuh seseorang menggunakan paku berkarat! Seperti mimpi kedua yang aku dapatkan! Pakunya mirip seperti yang ada di lukisan itu. Aku bahagia, aku senang melakukan ini di dalam mimpi setan itu.
Tapi sudahlah... Aku tidak akan bercerita soal mimpi itu. Itu terlalu aneh, terlalu jahanam. Aku telah melakukan dosa berat dengan hanya memikirkannya saja.
1 minggu telah berlalu dan malam ini sepi sekali, Polisi menyarankan agar tidak keluar malam dan mereka mengadakan patroli di sekitaran komplek mengingat akan kejadian Mariko dan Naruto.
Kupikir itu bagus, tapi tidak seluruhnya benar. Hasil identifikasi menyatakan kalau penemuan mayat terbakar itu memanglah Naruto, tapi anehnya nama Naruto terdaftar di penerbangan study tour. Bukankah Naruto tidak jadi ikut? Mengapa dia ada di absen hadir?
Yang aku dengar dari Sasuke itu sepertinya sungguhan, Naruto tidak pernah bersama orangtuanya, maksudku, mereka sibuk bekerja. Ketika berita penerbangan mengalami kecelakaan, kedua orangtua Naruto langsung menyelidiki beberapa jenazah untuk di telusuri. Tapi mereka tidak menemukan Naruto selain murid-murid yang hangus tanpa sisa.
Untuk bukti lain takut ini adalah kesalahan, pihak sekolah membuat laporan pada jasa penerbangan dan mengecek apakah Naruto benar-benar hadir atau tidak. Jawabannya terlalu aneh, Naruto terdaftar dalam penerbangan, dia ikut dalam pengecekan barang dan naik ke pesawat. CCTV juga menunjukan hal yang sama.
Bukankah ini sangat rumit? Tidak ada yang bisa dimintai keterangan, seluruh siswa sudah tewas bagai sapuan debu.
Bicara soal kesialan dan kejadian aneh, lelaki berbaju putih yang aku, Sasuke dan Aria lihat tidak muncul kembali. Bukannya aku mendambakannya, dia pembawa sial! Kurasa dirinya ada di balik kejadian ini, dia adalah dalangnya, dia adalah superheronya!
Juga...
"Ngomong-ngomong..."
Ada yang memulai, aku tahu itu suara siapa. Itu Itachi, aku yang sedang menatap jendela mengalihkan fokusku pada Itachi. "Jangan bicara menggantung!"
"Kau kaget."
"Tidak, katakan saja."
"Menurutmu Izuna, apa yang membawamu dan apa yang akan membuatmu kembali?"
"Hah?"
"Dengar, kau datang secara tiba-tiba lalu rangkaian kejadian aneh datang! Kau menyebut soal karma dan kau dapat karma? aku setuju soal itu karena aku pernah mendengarnya juga. Tapi maksudku begini..."
"Kupikir kehadiranku di sini akan menjawab sesuatu yang tak terjawab, Itachi." Aku tertawa aneh. "Jika benar kalau aku kena karma, seharusnya kalian tidak dilahirkan karena aku sudah mati dan kalian tidak seharusnya ada karena tidak ada penerus. Kau bilang kalau aku dan kalian memiliki hubungan darah."
Jelas pembicaraan ini menjadi bermasalah.
"Nah! Itu dia, mungkin ada seseorang yang mengirimmu kemari dan berusaha mengubah sejarah?"
"Kau pikir orang-orang akan percaya pada ucapanmu?"
Hening. Dalam keheningan ini aku menyeruput secangkir teh dan tiduran di sofa, kemudian melanjutkan. "Kau kenal Shion?"
Sebenarnya aku ingin membicarakan hal lain tapi kenapa pembicaraan ini terus berlanjut?
"Shion? Anak jurnalis dari komplek sebelah. Memangnya dia kenapa?"
"Dia berbicara soal masa lalu komplek ini, dia berkata kalau aku tahu sejarahnya aku tidak akan mau tinggal di sini. Tapi aku sudah sejak lama tinggal di sini dan tak pernah mendengar desas-desus aneh soal tempat ini."
Itachi tampak berpikir, ia seperti Pangeran yang mabuk wine beracun. "Mungkin mereka tidak mengatakannya. Aku juga tidak diberi tahu soal ini. Kenapa? Kau penasaran? Sebaiknya kau jangan mencaritahu, penasaran melahirkan mala petaka."
Sejujurnya aku hanya takut...
"Oh ya, soal mimpi..."
Mendadak perasaanku tak enak, bulu romaku berdiri. Itachi mengatakan hal yang salah. "Apa?"
"Apa hari ini kau bermimpi aneh?"
Dengan perasaan bergetar seperti kerasukan hantu jahanam, aku mengangguk sok keren. "Y-ya..."
"Apa dalam mimpi itu kau sedang berusaha membunuh Uncle Obi dengan paku berkarat?"
A/N : HOLAAAAA akhirnya bisa update lagi, maaf ini lama sekali soalnya saya sibuk di duta, hehehe. Untuk chap selanjutnya saya gak janji bakal cepet karena duta emang kejam tapi tenang ini akan tetap berlanjut. Mungkin part ini cuma dikit jadi maaf kalau misal kependekan. Semoga tulisan saya gak berubah soalnya beberapa waktu ini kena Wb. Terima kasih kpd teman-teman yg sudah menyempatkan untuk membaca, see you!
